Gadis itu membantingkan dirinya diatas kasur, lalu menelungkupkan wajahnya di bantal merah jambu miliknya. Tak berselang lama, isak tangis telah keluar dari sela-sela bibirnya yang mungil. Pertama pelan, hingga semakin kesini semakin keras. Isak tangis gadis itu terdengar begitu memilukan bagi siapa pun yang mendengarnya.
Namanya Shilla, gadis berumur 15 tahun yang baru masuk SMA dan untuk pertama kalinya mengalami yang namanya patah hati. Ya, patah hati. Beberapa menit lalu, gadis itu baru saja melihat kekasihnya─yang bernama Cakka, sedang bergandengan mesra dengan seorang gadis dari sekolah lain yang sama sekali tak Shilla kenal. Dan saat Shilla menghampiri Cakka serta gadis itu guna meminta penjelasan, Cakka malah membentaknya, berlagak sama sekali tak mengenalinya. Bahkan, dengan tega lelaki itu mendorong tubuh Shilla menjauh, lantas dia pun pergi dengan gadis yang hanya menatapi Shilla heran.
Sakit hati! Shilla jelas-jelas sakit hati. Seumur hidup ia tak pernah diperlakukan seperti ini, apalagi oleh seorang lelaki. Lelaki yang naasnya adalah lelaki yang benar-benar ia sayangi dan cintai dengan sepenuh hati.
Dasar cowok brengsek! maki Shilla dalam hati, mendadak ia menyesal telah mengabaikan nasihat Ibunya begitu saja. Ibu yang sangat menyayanginya dengan tulus dan telah ia bentak-bentak hanya demi lelaki brengsek macam Cakka. Shilla teringat saat pertama kali ia mengenalkan Cakka pada Ibunya dan juga bagaimana reaksi beliau saat Cakka telah pulang.
“Shilla, sebaiknya kamu pikirkan baik-baik untuk berhubungan dengan Cakka. Ibu lihat dia itu tidak cukup baik untuk kamu, sayang.”
Dan saat itu, Shilla malah mendelik tajam ke arah Ibunya. Kata-kata bijak yang keluar dari mulut Ibunya itu sama saja bagai belati yang menusuk ulu hatinya menurut Shilla. “Yang nentuin baik atau nggaknya itu Shilla, Bu. Bukan Ibu!” tukas Shilla dengan nada tinggi, tidak sopan. Tapi Ibunya hanya tersenyum, sama sekali tak tersinggung.
“Ibu hanya menasihati kamu Shilla, sama sekali tak bermaksud mengatur hidup kamu.” tutur Ibunya lembut dengan sorot matanya yang penuh kasih sayang. Tapi Shilla sama sekali tak peduli, gadis itu malah semakin geram mendengar omongan Ibunya. Ibunya lalu berjalan menghampiri Shilla, wanita paruh baya itu menyentuh pundak Shilla lalu kembali berujar, “Ibu sayang sama kamu Shilla, Ibu cuma pengen yang terbaik buat kamu.” Perkataan Ibunya yang sarat kasih sayang itu malah membuat amarah Shilla semakin menggelegak, dengan kasar ditepisnya tangan sang ibu dari pundaknya. Shilla melayangkan tatapan paling sinis yang dimilikinya pada Ibunya itu. Ibunya tersentak melihat tatapan Shilla, kaca tipis pun terbentuk di sudut matanya.
“Heh Bu! Ibu. Nggak. Usah. Ngurusin. Shilla!” katanya penuh penekanan, “Shilla itu udah gede!” bentak Shilla kemudian, gadis itu melengos kedalam kamar dan membanting pintu kamarnya dengan kasar. Tepat saat itu jugalah, setetes air mata meluncur menuruni pipi mulus Ibunya.
Shilla semakin menenggelamkan wajahnya di bantal teringat kejadian itu, dan juga seraut wajah ayu Ibunya yang terlihat sangat sedih. Dulu, Shilla sama sekali tak percaya dengan istilah yang mengatakan bahwa “penyesalan selalu datang belakangan.” tapi kini ia percaya. Rasa bersalah yang begitu menyakitkan itu tiba-tiba saja melesak masuk menusuk sanubarinya, mengetuk-ngetuk hatinya agar terbuka. Shilla menyesal, benar-benar menyesal. Andai saja ia mendengarkan nasihat Ibunya dari awal, ia pasti takkan sesakit ini sekarang. Andai saja ia lebih memercayai Ibunya. Andai saja.. andai saja…
Argh! Shilla memukul bantalnya dengan frustasi, ia telah bersikap durhaka pada wanita yang telah melahirkannya ke dunia. Ia telah membuat wanita yang paling mengasihinya di dunia ini menangis. Tangis Shilla semakin menjadi, seiring dengan sesalnya yang tiada terkira.
Tok… tok.. tok.. Shilla bergeming diposisinya, mengabaikan bunyi ketukan pintu. Dia tak ingin seorang pun melihatnya dalam keadaan seperti ini. Tapi detik berikutnya, bunyi derit dari pintu yang di buka terdengar. Ibunya berhambur masuk dengan wajah cemas.
“Shilla, kamu kenapa sayang?” Shilla sama sekali tak mengangkat wajahnya, ia sudah terlalu malu untuk bicara dengan Ibunya. Terlalu banyak dosa yang ia perbuat.
Ibunya duduk si tepi ranjang Shilla, mengelus rambut Shilla dengan pelan. Beliau hanya terdiam, membiarkan Shilla menenangkan dirinya sendiri. Setelah beberapa waktu terlewat, Shilla langsung menghambur kepelukan Ibunya dengan berurai air mata. Ibunya kaget, tapi dengan hangat beliau membalas pelukan Shilla seraya tersenyum prihatin.
“Shilla minta maaf Bu, maafin Shilla.” Racau Shilla kacau.
Ibunya semakin mengeratkan pelukannya, “Maaf buat apa sayang?” tanyanya lembut.
“Maaf karena Shilla nggak dengerin omongan Ibu, maaf karena Shilla nggak nurut. Maafin Shilla Bu, maafin Shilla.” Isak tangis mulai terdengar kembali dari bibir mungil Shilla, membuat Ibunya semakin mengeratkan pelukannya. Tanpa terasa, setitik air mata mulai keluar dari sudut mata beliau.
“Ibu sudah memaafkan kamu jauh sebelum kamu minta maaf sama Ibu, Shilla.”
Kata-kata Ibunya membuat Shilla lebih lega dan tenang. Sebuah lengkungan tipis terukir di bibirnya, gadis itu menghentikan isakan tangisnya dan mencoba meredam getaran tubuhnya serta deru napasnya yang memburu. Setelah agak tenang, Shilla berujar lirih, “Makasih Bu, Ibu adalah matahari dalam hidup Shilla,”─Ibunya tersenyum mendengar penuturan Shilla ─“ Shilla sayang Ibu…”
Selesai