Entri yang Diunggulkan

Series Recommendations! đŸŽ„

Hi, happy Wednesday all! So decided to post my own personal series. I usually dont like watching movie, so because i watched those series ...

Minggu, 20 Mei 2012

Senja

Goresan kuas Tuhan di langit sana terlihat indah
Putih dan biru dengan bias warna jingga
Terbaur satu menjadi gradasi warna
Menyatu hingga menjadi alam senja yang memesona

Senja itu..
Memukau setiap mata yang memandang
Menarik kedua sudut bibir tuk melengkungkan senyuman
Membungkus rasa kagum dalam setiap tarikan napas

Angin berdesau lirih di atas sana
Menyapa para burung yang sedang menari ceria
Sesekali terdengar nyanyian mereka
Membisikkan rasa kagum pada sang Maha Pencipta
Atas langit senjanya yang begitu memukau

Melihat indahnya senja ini
Terlintas satu pertanyaan dalam benakku
Bagaimana Tuhan bisa menciptakan senja seindah ini?
Dengan pulasan warna yang begitu beragam

Tapi lantas aku merasa tertampar
Menciptakan senja seindah ini bukan sebuah masalah bagi-Nya
Karena Tuhan adalah Sang Maha Kuasa

Jumat, 11 Mei 2012

A Choice


       Pria tua itu memandangi namja-namja yang duduk di hadapannya dengan wajah dingin. Tangannya bergerak mengambil cangkir kopi lantas menyesap kopi itu perlahan tanpa mengindahkan ekspresi putus asa namja-namja tampan di depannya.
Setelah menyimpan cangkirnya kembali di meja, barulah pria tua itu memfokuskan tatapannya pada seorang namja yang duduk paling depan daripada namja-namja lain. Wajahnya bertambah dingin─diam-diam ada kemarahan tersembunyi dari kedua bola matanya yang memandangi namja itu dengan tajam.
Pria tua itu mencoba menyembunyikan kemarahannya dengan melengkungkan kedua sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman miring tanpa mengacuhkan tatapan ngeri namja-namja lainnya. Dia membiarkan beberapa detik terlewat dalam hening yang mencekam sebelum akhirnya bertanya dengan nada peringatan.
“Jadi, apa yang akan kau pilih? Karir? Atau gadismu?”
Namja yang duduk tepat di depannya─hanya terpisah oleh sebuah meja─mendongak untuk menatap wajah pria tua itu dengan raut wajah gamang. Pikirannya dipenuhi oleh berbagai macam pilihan tentang karirnya bersama boyband Korea ternama atau gadisnya. Gadis yang sudah lima tahun menemani ia saat susah dan senang.
Agak lama tak bereaksi, namja itu akhirnya menghela napas panjang. Pilihannya terlalu sulit. Dia sangat mencintai gadisnya, tapi dia juga mencintai teman-teman juga pekerjaannya. Sekali lagi, ditatapnya mata pria tua di hadapannya, berharap bahwa pria itu mau mengeluarkan pilihan lain yang lebih ringan. Tapi melihat tatapan pria itu sama sekali tak berubah, namja itu kembali menghela napas.
Dengan pelan, dia berkata, “Sajangnim, tidak adakah pilihan─”
Pria tua itu menyela dengan wajah mengeras, menandakan bahwa emosinya hampir tak terkendali. “Jika kau memilih gadismu maka tidak akan ada lagi Super Junior di dunia ini, tapi jika kau memilih Super Junior maka kau harus segera meninggalkannya. Aku tidak memberimu pilihan lain!” ada nada otoritas dalam suara pria tua itu.
Tak terlintas ekspresi terkejut dari namja di depannya, namja itu hanya dapat menahan sesak di dadanya yang semakin menumpuk karena kata-kata tajam yang dilontarkan oleh pimpinan tertinggi agensinya ini. Dia membiarkan hening memonopoli keadaan selama beberapa saat sebelum akhirnya menyapu pandangan ke sekeliling ruangan. Napas yang dikeluarkannya terasa makin berat melihat wajah gelisah teman-temannya itu, tapi di tengah kegelisahan yang menyelimuti kesepuluh namja lainnya itu, mereka masih bisa menyunggingkan seulas senyum tipis seolah mengatakan ‘apa pun pilihanmu kami percaya itu yang terbaik.’
Tangannya mengepal menahan buncahan perasaan yang begitu banyak bergumul di dadanya, dia kembali menatap pria tua itu dengan mata sayu yang menyala-nyala penuh kemarahan. Ditelannya bulat-bulat semua kenangan tentang gadisnya yang sedari tadi melintasi otaknya. Dia telah membulatkan pilihannya.
“Saya memilih karir sajangnim..” katanya tegas, membiarkan hatinya hancur remuk detik itu juga. Membiarkan senyum gadis yang selalu menemaninya lima tahun ini musnah detik berikutnya.
Pria tua di hadapannya itu tersenyum puas penuh kemenangan, “Pilihan yang tepat, Lee Hyukjae, segera tinggalkan gadismu dan siapkan dirimu untuk konferensi pers besok.”
***
Senyum palsu yang terus dikulum Eunhyuk─nama panggung Lee Hyukjae─saat konferensi pers tadi lenyap seketika begitu ia memasuki mobil van yang akan membawa mereka kembali ke dorm Suju. Namja itu memilih duduk di bangku paling belakang lantas menenggelamkan wajahnya yang sendu ke jaketnya. Dia segera memejamkan mata berharap bayangan gadis yang tadi malam tersedu di hadapannya bisa lenyap dengan matanya yang terpejam. Tapi alih-alih lenyap, bayangan itu malah semakin jelas di pelupuk matanya, membuat ia merasa menjadi orang paling jahat sedunia.
Kalau boleh jujur, tak pernah sedetik pun ia ingin meninggalkan gadis itu. Tapi pilihan yang dibuat oleh Lee Sooman membuatnya harus memilih. Dan ia tak mungkin membiarkan mimpi hyung dan dongsaengnya lenyap hanya karena dia memilih gadisnya. Lee Hyukjae tahu dia tak boleh egois.
“Eunhyuk-ah,” panggilan dari Leeteuk membuat fokus Eunhyuk kabur seketika. Eunhyuk semakin memejamkan matanya rapat-rapat untuk berpura-pura tidur, saat ini dia tak ingin berbicara dengan Leeteuk atau pun member Suju yang lainnya. Eunhyuk hanya ingin menenangkan dirinya sendiri saat ini.
Hyung, biarkan Eunhyuk beristirahat, ini hari yang berat untuknya..” Eunhyuk dapat mendengar suara Donghae menginterupsi panggilan Leeteuk padanya. Setelah itu dia dapat merasakan seseorang─yang diyakininya Donghae─mengempaskan diri di sebelahnya.
“Aku tahu Donghae-ah, aku hanya ingin memastikan dia baik-baik saja..” tukas Leeteuk pelan, Eunhyuk dapat merasakan tatapan beberapa pasang mata sedang mengarah padanya walau pun wajahnya tertutup jaket. Dia mendesah dalam hati.
“Sudahlah Hyung, aku rasa Donghae benar. Eunhyuk hyung perlu waktu untuk menenangkan diri,” kali ini suara Siwon.
Leeteuk tampak menyerah, “Baiklah..”
Setelah perkataan Leeteuk barusan, member Suju yang lainnya segera memasuki mobil hingga mobil pun meluncur dengan pelan menyusuri jalanan untuk kembali ke dorm mereka. Eunhyuk ingin sekali tertidur agar ia tak merasa bersalah karena telah membohongi teman-temannya, tapi matanya sama sekali tak bisa terpejam. Semakin terpejam, bayangan akan gadis itu semakin menghantui pikirannya. Hatinya yang sudah hancur makin menjadi kepingan debu mengingat itu semua.
“Aku benar-benar tidak tega melihat ekpresi Eunhyuk tadi,” kata Yesung memecah keheningan di dalam mobil itu, diam-diam Eunhyuk menegang mendengarnya.
“Aku juga tidak tega Hyung,” setuju Sungmin yang duduk di sebelahnya, “wajahnya benar-benar menyedihkan dengan topeng senyuman.”
“Wajar saja Eunhyuk bersikap seperti itu, dia dan Hana sudah lima tahun berpacaran.” Tanggap Heechul dengan nada simpati yang begitu terasa.
“Kalau aku yang ada diposisinya, aku pasti tidak tahu apa yang harus kulakukan..” kali ini Shindong yang menanggapi, wajahnya menerawang membayangkan ia dan Nari harus berpisah hanya gara-gara tertangkap media massa─Shindong sangat bersyukur sebab sebelum debut ia dan Nari sudah bertunangan sehingga pihak agensi tak bisa berbuat apa-apa, lagipula fansnya pun dapat menerima itu.
“Tapi aku sangat bangga pada Eunhyuk hyung yang sangat tegar,” seru Ryeowook dengan seulas senyum tipis.
Kyuhyun yang biasanya asyik dengan PSP kali ini mengabaikan PSPnya dan ikut berkomentar, “Ya, aku juga harus menyetujui pendapat kalian kali ini. Si monyet itu terlihat lebih dewasa.”
Komentar Kyuhyun barusan menuai pelototan yang disertai jitakan dari semua member, “Yak! Sopanlah sedikit pada hyungmu Kyuhyun-ah!”
Dibalik jaketnya Eunhyuk hanya dapat tersenyum tipis mendengar perkataan teman-temannya, bahkan dia merasa sama sekali tak tersinggung Kyuhyun memanggilnya ‘monyet’. Eunhyuk merasa sedikit tenang saat tahu dia masih memiliki teman-teman yang dapat menguatkannya kelak saat ia merindukan Hananya, ah, maksudnya Kim Hana. Akhirnya dengan pemikiran seperti itu Eunhyuk dapat mengistirahatkan matanya yang sudah tak tidur hampir 24 jam itu.
***
Kim Hana memandangi foto-foto yang memenuhi laptopnya dengan hati teriris. Cucuran air mata mengaliri pipi mulusnya dengan sempurna tanpa ada niatan dalam dirinya untuk menghapus air mata itu. Akhirnya apa yang ia takutkan terjadi, setelah lima tahun bertahan menjadi kekasih diam-diam seorang Lee Hyukjae semuanya harus berakhir karena kecerobohan mereka.
Hana sangat mencintai Eunhyuk, berawal dari pertemuan mereka di restoran keluarganya, Hana dan Eunhyuk mulai berhubungan diam-diam hingga mereka menjadi sepasang kekasih lima tahun yang lalu. Eunhyuk benar-benar pria menyenangkan sekaligus menyebalkan─ditambah fakta bahwa Eunhyuk menyukai vidio yadong. Namja itu dapat membuat hari-harinya berwarna saat ada di sisinya, ada saja tingkahnya yang membuat Hana mampu tersenyum bahkan tak jarang tertawa. Namja itu konyol, tapi kekonyolannyalah yang berhasil mencuri hati Hana seutuhnya.
Maka saat hubungan mereka berakhir Hana benar-benar merasa tak mempunyai hati lagi. Air mata Hana mengalir semakin deras begitu mengingat bahwa hubungannya dan Eunhyuk telah benar-benar berakhir tadi malam.
Hana menggerakkan kursor di laptopnya lantas membuka sebuah folder yang berisi vidio-vidionya dengan Eunhyuk. Yeoja itu membuka sebuah vidio dan mengamatinya dengan saksama. Vidio yang dibukanya adalah ucapan selamat ulang tahun dari Eunhyuk dan permintaan maaf karena namja itu tak bisa mengucapkannya secara langsung setahun yang lalu sebab namja itu sedang berada di Taiwan.
Seulas senyum tersungging di bibir mungil Hana begitu Eunhyuk menyanyikan lagu yang dibuatnya sendiri untuk Hana.
Uljima Hana-ya, aku tahu pasti kau menangis menonton vidio ini, kan?” sapa Eunhyuk di dalam vidio sana sambil memamerkan senyum gusinya yang menjadi favorit Hana, “Haha, dasar yeoja cengeng. Ingatlah umurmu sudah 22 tahun, jangan menjadi yeoja cengeng lagi, arraseo? Hana-ya, mianhae, jeongmal mianhae karena aku tak ada di sisimu saat hari ulang tahunmu ini. Bukannya aku tak mau, tapi ini tuntutan pekerjaanku. Aku harap kau mengerti.”
Hana membekap mulutnya menahan isakan yang akan keluar, pipinya semakin basah oleh air mata tapi ia sama sekali tak berniat menghentikan ucapan Eunhyuk di dalam vidio itu.
“Sebagai gantinya, begitu pulang nanti aku akan menghabiskan satu hari penuh bersamamu, ne? Kita akan berkencan seharian penuh, haha. Aku benar-benar tak sabar menunggunya, bagaimana denganmu? Ah, ah biar kutebak, kau juga pasti sangat senang kan mendengarnya?”
Pertahanan Hana runtuh, isak tangis akhirnya keluar dari mulutnya.
“Hana-ya, lagu tadi adalah lagu yang aku ciptakan khusus untukmu. Kau harus menyukainya ya? Aku akan marah kalau kau tak suka, itu kubuat tiga hari penuh!” bibir Eunhyuk mengerucut di dalam vidio, lantas senyum gusinya terkembang lagi. “Sepertinya aku hanya dapat mengatakan itu saja Hana-ya, aku hanya punya waktu sedikit untuk membuat vidio ini karena sebentar lagi akan ada acara. Saengil Chukkae nae Hana, aku ingin kau tetap mencintaiku seperti ini selamanya. Saranghae..”
Nado saranghae Lee Hyukjae,” lirih Hana sambil menenggelamkan wajahnya di bantal, yeoja itu semakin larut dalam tangisnya mengingat apa yang sudah ia dan Eunhyuk lalui selama ini.
Hati Hana sudah hancur berkeping-keping dan tak bersisa lagi, ia bahkan tak yakin bisa mencintai namja lain setelah ini, baginya hanya Lee Hyukjae satu-satunya namja yang bisa mengambil hatinya. Hana tak pernah menyalahkan Eunhyuk karena telah membuatnya merasakan sakit hati yang begitu dalam, yang ia salahkan adalah dirinya sendiri. Dia yang terlalu mencintai Eunhyuk begitu dalam tanpa memedulikan fakta bahwa kekasihnya itu─mantan, maksudnya─adalah seorang idola yang tak seharusnya memiliki seorang kekasih.
Dari sorot matanya tadi malam, Hana tahu bahwa Eunhyuk juga masih sangat mencintainya. Tapi Eunhyuk harus memilih antara dirinya atau karir dan Super Junior. Meski pun sakit, Hana tahu Eunhyuk telah memilih pilihan yang benar.
Aigo~” Hana segera mengangkat wajah begitu mendengar suara eonninya, yeoja itu tanpa basa-basi langsung menghambur ke pelukan sang eonni. Hana menangis tersedu-sedu di bahunya eonninya, menumpahkan segala rasa perih yang menghimpit dadanya tanpa peduli bahwa dia sudah menangis sejak semalaman penuh tanpa tidur sedikit pun.
Eonni..”
“Ssst,” bisik Haneul, “kau tampak sangat kacau saeng-ah. Uljima..”
Tangis Hana semakin pecah, “Aku sangat mencintainya eonni, mengapa harus berakhir seperti ini?”
Tangan Haneul membelai rambut adiknya itu dengan penuh kasih sayang. “Hana-ah, saat kau memperkenalkan Eunhyuk pada eonni, eonni sudah memperingatkanmu bahwa cepat atau lambat kalian akan berakhir seperti ini.” Haneul mengembuskan napas lelah, “ini pilihanmu, saeng.”
“Aku mengerti eonni, tapi mengapa rasanya harus sesakit ini?”
Haneul tak menyahut, dia membiarkan adiknya itu menumpahkan perasaanya sekarang. Haneul sangat paham seberapa besar rasa sayang yang dimiliki oleh adiknya ini untuk Eunhyuk. Saat ini Haneul tak bisa berbuat apa-apa kecuali menunggu sampai Hana merasa puas.
Satu jam kemudian, Hana mulai bisa menenangkan diri. Yeoja itu mengusap air matanya seraya melepaskan diri dari pelukan Haneul. Perasaannya saat ini jauh lebih tenang daripada tadi, eonninya memang orang yang benar-benar pengertian, dia selalu tahu bagaimana caranya menghadapi Hana yang sedang kalut.
Eonni, mianhae telah membuat bajumu basah,” gumam Hana kecil pada Haneul.
Haneul tersenyum lembut, dia mengulurkan tangannya lantas mengusap puncak kepala Hana dengan pelan.
“Itu bukan masalah untuk eonni, asalkan kau merasa lebih baik.”
“Aku merasa lebih baik sekarang eonni, gomawo..”
Cheonmaneyo saeng-ah.” Haneul diam sebentar, tampak menimbang-nimbang untuk mengatakan sesuatu. Setelah yakin barulah dia berkata, “Hana-ah, mungkin ini kesannya terlalu mendadak, tapi eonni harus mengatakannya sekarang.”
Hana mengusap sisa-sisa air mata di wajahnya dengan perlahan, “Tak apa eonni, katakanlah.”
Eonni mendapatkan pekerjaan di Paris, berangkat lusa. Kau mau ikut dengan eonni? Kau bisa menyelesaikan kuliahmu di sana Hana-ah.”
Hana berpikir sebentar. Orangtua Hana dan Haneul selama ini selalu sibuk bekerja, sebab itulah Hana merasa hanya Haneul satu-satunya keluarga yang ia miliki. Dan sekarang saat ia menghadapi cobaan yang berat eonninya mendapatkan pekerjaan di Paris. Jika dia tidak ikut itu berarti Hana akan sendirian di apartemen mewah mereka. Kalau saja Eunhyuk masih berstatus kekasihnya, Hana pasti tak akan ragu untuk tinggal sendiri di sini. Tapi saat hubungan mereka berakhir Hana pikir lebih baik ia ikut dengan eonninya, setidaknya di sana sangat jauh dengan Lee Hyukjae, dan semoga saja di sana Hana bisa melupakan namja itu─meski terdengar sulit mengingat hal apa saja yang telah mereka lalui bersama selama ini.
Hana akhirnya menganggukkan kepala sekali pertanda ia setuju. Saat Haneul tersenyum, Hana berharap pilihannya tidak salah. Hana berharap di Paris sana dia dapat melupakan namja bernama Lee Hyukjae yang selama ini bertahta di hatinya.
***
“Ya! Lee Hyukjae! Apa yang kau lakukan, hah?!”
Eunhyuk menghentikan dancenya mendengar teriakan Leeteuk─yang entah sudah keberapa kali dalam sehari ini. Saat ini mereka memang sedang berada di ruang latihan dan berlatih dance terbaru mereka di lagu opera, tapi pikiran Eunhyuk yang bercabang kemana-mana menyebabkan namja itu tidak fokus pada dancenya hingga dia seringkali melakukan kesalahan, itulah sebabnya mengapa Leeteuk hobi berteriak padanya.
Sebenarnya bukan hari ini saja Eunhyuk dimarahi karena hal ini, sudah sejak dua minggu yang lalu namja itu menjadi tidak fokus lagi pada pekerjaannya─meski pun jika tampil di umum Eunhyuk masih bisa bersikap cukup normal dan fokus, tapi jika sedang berlatih di ruang Suju seperti ini Eunhyuk benar-benar menjadi orang aneh.
“Apalagi kesalahanku hyung?” Tanya Eunhyuk sambil menolehkan kepalanya ke belakang dimana Leeteuk berdiri.
“Kau lupa tarianmu, bodoh! Bagaimana mungkin seorang lead dancer lupa pada gerakan menarinya hah?” teriak Leeteuk lagi kesal, member Suju lainnya hanya dapat memandang Leeteuk dan Eunhyuk bergantian dengan ekpresi jengah, mereka sudah sangat terbiasa mendengar omelan atau teriakan Leeteuk dua minggu belakangan.
Yang diteriaki hanya memutar bola matanya dengan ekpresi malas, “Aku juga manusia hyung, aku bisa melupakan sesuatu juga.” elak Eunhyuk.
Saat Leeteuk sudah akan berteriak untuk memarahi Eunhyuk lagi, Ryeowook menyela. “Leeteuk hyung benar, akhir-akhir ini gerakan menarimu sangat kacau hyung, bahkan lebih kacau daripada Yesung hyung.” Yesung buru-buru menjitak kepala Ryeowook mendengar perkataannya.
Eunhyuk hanya mendengus mendengarnya, dia memandangi ke seluruh ruangan hingga matanya berhenti di satu titik. Sepasang sepatu berwarna putih susu di sudut ruangan. Namja itu langsung terpaku, jantungnya langsung mencelos begitu otaknya memikirkan sang pemberi sepatu tanpa diminta. Eunhyuk menahan napas selama beberapa detik lantas mengembuskannya dengan gusar.
Lagi-lagi yeoja itu berhasil memonopoli pikirannya. Semenjak malam dimana terakhir kalinya dia melihat Hana─dengan air mata yang bercuucuran─Eunhyuk tak pernah lagi melihat yeoja itu. Dia juga tak menghubunginya lewat sms ataupun telepon sebab sudah bertekad untuk melepaskan Hana. Eunhyuk tadinya juga ingin segera melupakan Hana dan benar-benar fokus pada karirnya bersama Suju untuk sementara ini. Namun bayangan Hana yang selalu muncul tanpa diminta itu selalu membuat Eunhyuk ragu untuk melupakannya. Senyum, tawa, dan tingkah Hana selalu dapat dengan jelas dilihatnya walau itu hanya bayangan semata.
Hal itulah yang selama dua minggu ini selalu menghantui pikiran Eunhyuk dan menyebabkan ia tak pernah fokus saat latihan. Eunhyuk sadar bahwa ia tidak bisa melupakan Hana, ia terlalu mencintai yeoja itu. Eunhyuk ingin selalu ada di samping yeoja itu, tapi sekarang semuanya jelas-jelas telah berakhir. Dia telah memilih karirnya dan Hana pun menghilang entah kemana dua hari setelah berpisahnya mereka berdua.
Pikiran Eunhyuk mungkin akan semakin melanglang buana kemana-mana kalau saja omelan Leeteuk tak terdengar, “Kau, seriuslah sedikit Eunhyuk-ah. Dua minggu aku rasa waktu yang cukup untuk melupakan Hana.”
Eunhyuk tersentak mendengar nada dingin dalam suara Leeteuk saat menyebutkan nama Hana, mendadak saja amarah menyelimuti hatinya. Namja itu lalu menatap Leeteuk dengan tajam.
“Seumur hidup pun aku takkan bisa melupakan dia, kau harusnya tahu itu hyung.” Desis Eunhyuk sinis lalu langsung mengambil langkah lebar-lebar untuk keluar ruangan diikuti Donghae yang sebelumnya sempat menatap Leeteuk dengan tatapan ‘biar aku yang menenangkannya hyung’.
“Sudah kuduga,” suara Heechul memecah keheningan, “si bodoh itu memang tak akan pernah bisa melupakan Hana.”
Hyung, mereka baru dua minggu berpisah. Harusnya hyung mengerti sedikit bahwa melupakan lima tahun itu tak akan cukup hanya dengan dua minggu.”
“Aku mengerti Sungmin-ah, aku hanya ingin Eunhyuk bersikap profesional dengan tidak melibatkan perasaannya dengan pekerjaan.”
“Setidaknya dia masih bersikap profesional saat di depan umum hyung, justru kita harus bersyukur karena Eunhyuk hanya bersikap seperti ini di hadapan kita saja.” Kata Sungmin lagi, kata-katanya memang terdengar sangat masuk akal sehingga sebagian member hanya bisa diam.
“Ah, baiklah. Kita latihan saja lagi tanpa Eunhyuk dan Donghae kalau begitu.” Instruksi Leeteuk setelah merenungkan perkataan Sungmin.
Sementara di luar Eunhyuk dan Donghae tampak sedang menatap langit malam yang hitam pekat dengan taburan bintang yang tak berapa banyak. Donghae tak mengucapkan sepatah kata pun sejak dia mengikuti Eunhyuk sampai ke sini. Namja itu hanya diam menunggu emosi Eunhyuk surut dengan sendirinya. Donghae cukup tahu diri bahwa ia sebaiknya tak perlu ikut campur jika Eunhyuk tak ingin bercerita apa pun padanya.
Sekian lama hening tanpa menunjukkan tanda-tanda kehidupan, Eunhyuk akhirnya mengembuskan napas gusar, membuat Donghae menoleh saat itu juga.
Donghae menaikkan alisnya, “Waeyo Eunhyuk-ah?”
Eunhyuk menutupi wajahnya dengan tangan, “Aku tak bisa melupakan Hana, Hae-ah. Dia tak pernah hilang dari pikiranku sedetik pun, semakin aku berusaha keras melupakannya dia semakin terlihat nyata Hae-ah..”
Donghae mendekati tubuh sahabatnya itu dengan sigap lantas menepuk-nepuk punggungnya mencoba menyalurkan kekuatan, “Hyuk, semua itu butuh proses, butuh waktu.” kata Donghae bijak yang disambut gelengan kuat-kuat oleh Eunhyuk.
“Hae-ah, saat melepasnya aku pikir akan mudah saja melupakannya, tapi akhir-akhir ini aku baru sadar kalau aku sangat mencintainya Hae. Dia sudah menjadi bagian dari hidupku. Aku merasa hampa saat dia benar-benar menghilang dari hidupku, aku merindukannya Hae, setiap detik.” cerita Eunhyuk dengan mata berkaca-kaca, tak lama namja itu benar-benar telah menangis pelan dengan punggung yang ditepuk halus oleh Donghae.
Donghae ikut merasa sedih melihat Eunhyuk tampak sangat kehilangan seperti ini, Donghae mengulur napasnya dengan perlahan.
Kim Hana. Nama itu mencuat di permukaan otaknya, Donghae masih ingat saat Eunhyuk pertama kali mengenalkan Hana padanya sebagai kekasih. Mereka berdua tampak bahagia dan serasi, Eunhyuk bahkan tak pernah melepaskan tautan tangan mereka lebih dari lima menit, benar-benar membuat iri. Hana sosok yeoja yang manis dan ramah. Dia tipikal orang yang benar-benar menyenangkan, jadi tak heran kalau Eunhyuk sampai jatuh hati pada yeoja itu.
Pikiran Donghae lalu terempas pada dua minggu yang lalu saat seluruh member Suju dipanggil oleh Lee Sooman karena skandal yang dibuat oleh Eunhyuk─foto-foto Eunhyuk dan Hana tiba-tiba saja memenuhi majalah-majalah ternama dengan headline besar-besar “Eunhyuk Super Junior mempunyai kekasih?”. Dan di sanalah Eunhyuk disuruh memilih karirnya dan Suju atau Hana, saat itu Eunhyuk memilih Suju. Tapi melihat kenyataannya sekarang? Donghae beramsumsi bahwa Eunhyuk sebaiknya memilih Hana saja waktu itu.
“Eunhyuk-ah, kalau kau memang sangat mencintai Hana mengapa waktu itu kau memilih karir dan Suju?”
Eunhyuk mengusap air matanya sambil mencoba menguatkan hati menjawab pertanyaan Donghae.
“Kalau saja saat itu sajangnim hanya akan mengeluarkanku, aku pasti akan memilih Hana, tapi sajangnim waktu itu bukan hanya akan mengeluarkanku saja melainkan membubarkan Suju. Aku tak bisa menghancurkan mimpi kalian hanya demi kebahagianku Hae-ah..”
Donghae terenyuh mendengar penjelasan Eunhyuk, dia memeluk sahabatnya itu dan ikut menangis.
“Alasanmu sungguh mulia Hyuk, aku yakin Tuhan pasti akan menyatukan kalian suatu saat nanti.”
Eunhyuk membalas pelukan Donghae dengan hangat, kata-kata Donghae barusan seperti suntikan semangat untuknya. Ya, suatu saat nanti mereka pasti akan bertemu lagi, dan saat itu Eunhyuk benar-benar tahu apa yang harus ia pilih.
***
Seorang yeoja sedang sibuk menyoret-nyoret kertas di hadapannya dengan sketsa gaun atau jas. Tangannya yang memegang pensil menari dengan lincah di atas permukaan kertas. Beberapa menit kemudian yeoja itu selesai dengan sketsanya, dia mengangkat kertasnya hingga sejajar dengan kepala dan mendesah. Yeoja itu meremas kertas yang dipegangnya hingga menjadi gumpalan lantas membuang ke sudut, bergabung bersama gumpalan kertas lainnya di sudut ruangan.
Yeoja itu, Kim Hana.
Dua tahun telah berlalu dengan cepat dan Hana sekarang bekerja sebagai desainer di butik temannya. Tahun lalu dia berhasil menyelesaikan kuliahnya di jurusan design dengan gemilang, lantas temannya yang punya butik sendiri menawarkan agar dia bekerja di butiknya. Hana setuju, karena itulah sekarang ia bisa di sini. Sketsanya hari ini tidak ada yang bagus, mungkin gara-gara namja itu kembali memenuhi otaknya dari tadi.
Hana mendesah lagi, ah, namja itu. Yeoja itu mengangkat tangannya ke atas memperlihatkan sebuah gelang cantik dengan inisial HaJae. Bahkan, dua tahun pun tak pernah cukup untuk melupakan seorang Lee Hyukjae─padahal dia sudah menyibukkan dirinya sesibuk mungkin dua tahun belakangan. Lee Hyukjae tak pernah lepas dari ingatannya, dia tak pernah bisa melupakan Eunhyuk selamanya. Lee Hyukjae benar-benar sudah tertempel kuat diingatannya. Kadang Hana kesal sendiri dengan kenyataan itu. Kesal dan tak berdaya. Dia masih sangat mencintai namja itu, dua tahun ini habis sia-sia karena nyatanya Hana sama sekali tak bisa melepaskan Lee Hyukjae dalam hidupnya.
Hana kali ini mendesah keras, lalu menenggelamkan wajahnya dalam meja. Namja itu selalu berhasil membuat pikirannya tak keruan.
Hana mendongakkan kepalanya begitu mendengar pintu ruangan terbuka, dia menatap malas pada teman sekaligus bosnya yang melongokkan kepala.
“Kau masih moody Hana?” tanyanya dalam bahasa Prancis yang begitu fasih, jelas sekali namja itu benar-benar orang Prancis asli.
Hana mendecak tidak sabar, membalas ucapan Vinct dalam bahasa Prancis juga. “Kau bisa lihat sendiri Vinct..”
Namja itu mengangguk dengan senyuman meledek di bibirnya. Dibukanya pintu lebar-lebar lantas dia masuk dan menyandarkan tubuhnya di pintu.
Well, kau harus menunda sikap moody-mu itu Hana. Ada tamu yang harus kau tangani hari ini.” jelas Vinct dengan nada memerintah, Hana mendengus sebal.
“Kenapa harus aku?” tanyanya sebal, “hei, desainer di sini bukan hanya aku kan?”
“Mereka orang Korea Hana─lagipula kau desainer terbaik di sini, dan kau satu-satunya yang bisa berbahasa Korea. Pergilah jika kau tak ingin gajimu kupotong bulan ini.” ancam Vinct sambil memperlihatkan seringaiannya.
Hana mendengus lagi tapi langsung menyambar tasnya yang tergeletak pasrah di meja.
“Kau benar-benar menyebalkan Vinct,” desisnya lalu berdiri. “Siapa yang harus kutemui? Dan dimana?”
“Pergilah ke kafe di seberang, mereka sudah menunggumu.”
Hana mengangguk kecil, lalu mulai melangkah keluar ruangan. Sebelum benar-benar menghilang dari pandangannya, Vinct berteriak keras. “Aku akan menyusulmu segera Hana!”
Hana sama sekali tak acuh dengan teriakan Vinct.
***
Tubuh Hana langsung mengejang saat melihat tamu yang harus ditemuinya hari ini. Suaranya tersangkut di tenggorokan saat itu juga. Hana tak menyangka dunia bisa sesempit ini, mengapa dia harus dipertemukan dengan mereka lagi?
Kakinya hampir saja melangkah mundur kalau dia tidak ingat bahwa dia harus bersikap profesional kali ini. Setelah meyakinkan bahwa dirinya akan baik-baik saja setelah ini, Hana melangkah dengan penuh wibawa ke arah namja-namja itu. Super Junior.
Annyeong haseyo..” sapa Hana ramah begitu berdiri di meja mereka, mereka semua langsung menatapnya dengan wajah kaget yang tidak bisa disembunyikan.
“Hana-ssi,” gumam Donghae lirih, Hana membalasnya dengan senyuman ramah─yang setengah terpaksa.
Ne, aku dari Vinct Boutique yang akan menangani kalian dalam busana selama di sini.” Jelas Hana tanpa menatap namja-namja di depannya. Sedikit pertanyaan melintas dipikiran Hana, jika Super Junior ada di sini, kemana Lee Hyukjae? Hana sama sekali tak melihatnya ada di kumpulan namja-namja itu walau pun dia baru sekali melihat.
Hana merasakan sesuatu mendesak hatinya, perasaan rindu ingin melihat namja itu, meski hanya sekilas. Namun Hana juga merasakan suatu perasaan takut kalau ia benar-benar melihat Lee Hyukjae walau hanya sekali, Hana takut dia tak bisa menahan diri. Hana tak mau itu terjadi, Eunhyuk tak boleh bersamanya karena ia akan menghancurkan Suju dan karir namja yang sangat dicintainya itu jika sampai mereka bersama.
“Duduklah,” suruh Leeteuk setelah bisa mengendalikan kekagetannya.
Hana menurut tanpa menginterupsi perkataan Leeteuk sama sekali.
“Bagaimana kabarmu?” Tanya Leeteuk kemudian setelah Hana duduk di kursinya.
Yeoja di hadapannya tak langsung menjawab, melainkan mengangkat wajah dan menatap wajah Leeteuk sebentar.
“Leeteuk-ssi, bisakah kita akhiri pertanyaan basa-basi ini dan langsung mendiskusikan pekerjaan?”
Leeteuk mengerjap kaget mendengar pertanyaan Hana yang tanpa basa-basi, tapi Donghae langsung menyela dengan sebuah pertanyaan.
“Hana-ssi, apa tak ada yang ingin kau ketahui terlebih dahulu?” tanya Donghae pelan, Hana memandangnya dengan alis terangkat satu. Sementara yang lain segera menatap Hana dengan mimik penasaran.
Ne?” balas Hana.
Donghae menghela napas sebelum berkata, “Misalnya dimana Lee Hyukjae sekarang?”
Tak ada yang menyadari bahwa Hana langsung menahan napas mendengar nama itu disebutkan, Hana sangat pintar menyembunyikan ekspresinya. Setelah diam beberapa detik, Hana langsung menyunggingkan senyuman tipis.
“Ah, mianhae. Aku benar-benar tak sopan karena tak sadar bahwa ada satu orang di antara kalian yang hilang.” member Suju terlongo tak percaya, “dimana Eunhyuk-ssi?” setelah menyebutkan nama itu, Hana diam-diam menyembunyikan tangannya ke bawah meja lantas segera melepaskan gelang perak pemberian Eunhyuk─yang tak pernah ia lepas sebelumnya─dan buru-buru memasukkannya ke dalam saku baju.
Kyuhyun yang pertama kali menyudahi acara melongonya langsung menjawab, “Hyung baru tiba di Paris satu jam yang lalu karena harus menyelesaikan pekerjaannya dulu, dia akan menyusul beberapa menit lagi.”
Hana mengangguk perlahan, “Baiklah, jadi apa kita akan menunggu Eunhyuk-ssi datang dulu atau langsung membahas perihal pekerjaan sekarang?”
Walau Hana berbicara dengan nada yang sangat datar, di dalam hatinya ia merasa sangat cemas akan bertemu dengan Eunhyuk. Dia belum siap, tak akan pernah siap jika harus bertemu Eunhyuk lagi dalam keadaan seperti ini.
Leeteuk menatap wajah datar Hana sekali lagi sebelum menghela napas dan menyerukan keputusannya, “Kita bisa membicarakannya sekarang, silakan Hana-ssi.”
Hana menarik kedua sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman lega, dia lalu segera membicarakan masalah pekerjaan agar bisa cepat-cepat pergi dari tempat ini tanpa harus bertemu dengan Eunhyuk.
***
Eunhyuk menguap sepanjang perjalanan ke kafe tempat dimana ia dan anggota Suju lainnya rapat dengan salah satu desainer Vinct Boutique untuk membicarakan busana yang akan mereka pakai selama SuShow di sini. Sebenarnya ia ingin sekali tidur seharian ini tanpa harus pergi kemana-mana, perjalanan dari Korea ke Paris telah menghabiskan banyak tenaganya, apalagi dia langsung lepas landas setelah pulang dari drama musikalnya tanpa sempat istirahat terlebih dahulu.
Sampai di depan kafe, Eunhyuk merapatkan topi yang dipakainya melihat beberapa yeoja mulai berbisik-bisik sambil menatap ke arahnya. Namja itu menelan ludah lalu buru-buru masuk ke dalam kafe, setelah menanyakan kepada resepsionis dimana teman-temannya menunggu, seorang pelayan mengantarkannya ke lantai dua, ke sebuah ruangan VIP yang tampak sunyi. Namja itu melepas topinya, lalu menguap lebar sekali lagi sebelum akhirnya membuka pintu tanpa mengetuk.
Mata Eunhyuk yang sipit langsung membelalak sempurna melihat seorang yeoja yang selama ini sangat dirindukannya ada di sana, yeoja itu juga sedang menatapnya, tapi tatapannya terlalu abstrak untuk diartikan.
Eunhyuk menahan napas, rasa kantuknya hilang seketika begitu melihat Hana di sana. Jantung berdetak sangat kencang, sama seperti dua tahun lalu, jantungnya juga akan berulah seperti ini setiap Hana ada dalam jarak pandangnya. Secuil rasa bersalah sekaligus bahagia langsung berlomba-lomba merangsek masuk ke dalam sukmanya.
Tatapan Eunhyuk langsung meredup seketika, “Hana-ya..” gumamnya lirih, nyaris tak bersuara.
Hana segera mengalihkan pandangannya ke bawah begitu mendengar gumaman Eunhyuk barusan. Jantungnya langsung bertalu-talu dengan heboh, namun perasaannya langsung berubah tak keruan. Itu benar-benar Eunhyuk. Lee Hyukjae. Namja yang sangat dirindukannya tapi tak pernah mau ia temui, Hana memang belum siap bertemu Eunhyuk lagi, tak akan pernah siap kalau rasa itu masih saja bercokol di hatinya. Ini terlalu cepat bagi Hana.
Keduanya hanya diam sambil menundukkan kepala masing-masing dengan perasaan kacau. Suara Leeteuklah yang akhirnya membuat Hana dan Eunhyuk tersedot ke alam nyata lagi.
“Eunhyuk-ah, kau sudah datang.” Nada suara Leeteuk yang sama sekali bukan merupakan pertanyaan melainkan pernyataan membuat Eunhyuk hanya bisa tersenyum tipis.
Sadar bahwa dia harus professional, Hana segera berdiri untuk menyapa Eunhyuk. Dia membungkukkan badannya 90° sambil tersenyum kaku. “Annyeong haseyo Eunhyuk-ssi, aku Kim Hana yang akan mengurusi masalah busana kalian.”
Eunhyuk menggeram mendengar nada suara Hana yang begitu formal, dia mengambil langkah lebar-lebar hingga sampai tepat di hadapan Hana. Ditatapnya mata yeoja itu lekat-lekat.
“Kita perlu bicara..” kata Eunhyuk tajam tanpa basa-basi.
“Hyuk-ah, duduklah dulu, kau baru datang, tidak sopan bersikap seperti itu pada Hana-ssi.” Tegur Yesung sambil menarik tangan Eunhyuk untuk duduk, Eunhyuk langsung menepisnya.
“Hana-ya, kita perlu bicara.”
Hana memberanikan diri menatap Eunhyuk walau rasanya ia ingin menangis saat ini juga, “Mianhae Eunhyuk-ssi, aku baru saja selesai. Kau bisa menanyakan apa yang tadi kami bahas kepada Leeteuk-ssi.”
Eunhyuk bergeming.
Hana membalikkan badan dan membungkuk sekali lagi pada kesembilan namja lainnya, “Kamsahamnida atas waktunya, besok pegawai kami akan mengantarkan pesanan kalian ke langsung ke hotel.” Jelas Hana sebelum kakinya melangkah untuk keluar dari ruangan.
Langkah Hana terhenti begitu Eunhyuk mencekal tangannya, “Kau tak akan kemana-mana sebelum kita bicara..”
Aliran darah Hana serasa membeku begitu hidungnya mencium aroma parfum Eunhyuk yang sudah sangat dikenalnya. Dengan berusaha mempertahankan kesadaran atas kendali dirinya, Hana berusaha melepaskan cekalan tangan Eunhyuk walau sia-sia karena namja itu menggenggam tangannya begitu erat.
Hana memutar otaknya berusaha mencari alasan agar ia bisa melepaskan diri dari Eunhyuk.
Mianhae Eunhyuk-ssi, tunanganku sudah menunggu di parkiran.” Akhirnya alasan itulah yang terlintas di benak Hana, Hana langsung memaki dirinya sendiri begitu kata-kata tersebut meluncur dengan mulus dari bibirnya. Tunangan? Pacaran saja Hana tak pernah lagi! Bagaimana kalau Eunhyuk menanyakan siapa tunangannya? Mati dia! Kim Hana babo!
Dugaan Hana sama sekali tak meleset, namja di depannya ini malah memicing ke arahnya seolah ia berbohong─well, Hana memang berbohong.
“Hana, kau sudah selesai?” panggilan seorang namja─yang berbicara dalam bahasa Prancis─berhasil membuat seluruh orang di ruangan itu menatap ke arah pintu. Di sana Vinct sedang berjalan ke arahnya juga Suju.
Vinct tersenyum ramah setibanya di hadapan member Suju, “Good Morning..” sapanya dalam bahasa Inggris, dia lalu menoleh pada Hana dengan dengan kening mengerut. “Hana, kau kenal dengan Eunhyuk?”
Eunhyuk mengernyit mendengar namanya dibawa-bawa, tapi dia sama sekali tak mengerti ucapan Vinct sebab Vinct berkata dalam bahasa Prancis saat berbicara dengan Hana.
Seperti tersadar akan sesuatu, Hana buru-buru melepaskan cekalan tangan Eunhyuk dan berpindah ke samping Vinct. Dia menggandeng tangan Vinct dengan mimik yang langsung berubah ceria─Hana hanya berpura-pura, tapi aktingnya sangat bagus hingga semua orang tertipu.
Melihat Eunhyuk menatap tajam ke arah Vinct, Hana segera menatap Vinct dengan pandangan mesra, membuat kerutan di kening Vinct semakin bertambah banyak. “Vinct, bantu aku..” bisik Hana dalam bahasa Prancis agar tak seorang pun mengerti pembicaraan mereka.
“Apa maksudmu?” balas Vinct.
“Ikuti saja apa mauku, setuju? Nanti kujelaskan di luar.”
Karena bingung, Vinct akhirnya hanya bisa mengangguk, dibiarkannya Hana menggandeng tangannya walau pun dia sedikit risi melihat tatapan member Suju yang seperti mendakwanya. Sebenarnya apa hubungan Hana dan Suju?
“Leeteuk, how is the result? I don't wrong choose Hana as responsible person above Suju, isn’t it? She is the best designer in my boutique..” kata Vinct sambil tersenyum pada Leeteuk.
Leeteuk balas tersenyum walau dia canggung dengan tatapan Eunhyuk yang begitu menusuk pada Vinct, “Well done, Mr. Vinct. She is really a good designer.
“Kau tunangannya Hana?” Tanya Eunhyuk spontan karena benar-benar tak tahan melihat Hana menggandeng tangan namja itu, saking spontannya dia sampai lupa menggunakan bahasa Inggris dan malah bicara dalam bahasa Korea.
Mendengar Eunhyuk berbahasa Korea, Vinct jelas saja bingung, dia baru saja akan menanyakan apa maksud perkataan Eunhyuk barusan saat Hana tiba-tiba saja mencubit lengannya kecil, isyarat yang berarti dia harus diam.
Hana lantas menyahuti ucapan Eunhyuk dalam bahasa Korea juga, membuat Vinct diam karena sama sekali tak mengerti apa yang sedang mereka bicarakan. “Ne, Eunhyuk-ssi. Dia adalah namja yang kubilang sebagai tunanganku, 3 bulan lagi kami akan menikah.”
Eunhyuk langsung mencelos saat itu juga. Tubuhnya serasa dilolosi tulang belulang yang membuat lututnya lemas dan hampir tak bisa berdiri, Eunhyuk segera mengempaskan tubuhnya di kursi yang tadi Hana duduki dan meringis sakit dalam hati. Jadi selama ini hanya dia sendiri yang masih mencintai Hana? Hanya dia sendiri yang mati-matian mengusir Hana dari pikirannya? Sedangkan Hana di sini sama sekali tak seperti dirinya, Hana malah menemukan namja lain, menggantikan posisi Eunhyuk dengan mudah. Untuk kedua kalinya, Eunhyuk harus sakit hati lagi di hari pertama pertemuannya dengan Hana. Namja itu hanya dapat mengepalkan tangan kuat-kuat agar emosinya stabil dan dia tak langsung memukuli Vinct saat ini juga.
Donghae yang duduk di sebelahnya menggenggam tangan Eunhyuk kuat-kuat saat melihat ekspresi namja itu. Donghae mengerti perasaan Eunhyuk, dia pasti sangat sakit hati karena penantiannya selama ini sia-sia saja.
“Kuatkan dirimu Hyuk-ah,” bisik Donghae lirih.
Hana menahan hasrat dalam dirinya untuk melirik ke arah Eunhyuk, tapi hasratnya kalah oleh perasaannya. Lewat ekor matanya yeoja itu melirik ke arah Eunhyuk, dan dia langsung menyesal mengapa kalah oleh perasaannya. Hana melihat Eunhyuk sedang menundukkan kepalanya, menatap tangan. Ekspresinya tak dapat dilukiskan, tapi yang pasti Eunhyuk terluka. Dalam hati Hana bersorak senang begitu tahu bahwa Eunhyuk masih mempunyai rasa yang sama dengannya. Hana menggigit bibirnya, menahan diri.
Hana menyapu pandangan pada semua member Suju yang memandanginya dengan tatapan yang─entahlah, Hana hampir tak bisa mendefinisikannya. Ada campuran simpati, kesal, putus asa, juga perasaan lain yang berebutan memancar dari bola mata namja-namja itu.
“Aku dan Vinct harus segera pergi, annyeong..” pamit Hana, dia buru-buru menarik tangan Vinct cepat-cepat─membuat Vinct menggerutu sepanjang jalan.
Setelah Hana dan Vinct menghilang dari pandangan, semua member Suju segera menatap ke arah Eunhyuk simpati.
“Kau harus segera melupakannya hyung,” kata Kyuhyun yang diamini anggukan mantap semua member.
Eunhyuk bergeming, dia tetap memandangi tangannya tanpa berucap sepatah kata pun.
***
“Kau gila?!” hardik Vinct saat Hana memberitahu tentang sandiwara yang tadi mereka mainkan setibanya di ruang kerja Vinct.
Vinct mengurut pelipisnya yang tiba-tiba saja berdenyut mendengar cerita Hana, namja itu lalu duduk di sofa dengan tangan tak lepas dari pelipisnya. Melihat Vinct yang tampak begitu frustasi, Hana merasa sedikit menyesal telah menyeret namja itu dalam masalahnya.
“Maaf Vinct, saat itu aku tidak punya pilihan lain selain berbohong. Dan satu-satunya orang yang terlintas di otakku hanya kau.” kata Hana jujur, yeoja itu meremas tali tasnya dengan gundah. “Aku tak mau dia kembali Vinct, aku tak mau menghancurkan hidupnya lagi. Aku mohon bantu aku..” imbuhnya kemudian dengan suara bergetar menahan tangis.
Vinct mendongakkan kepalanya, lantas mendesah. Dia paling tidak suka melihat Hana sudah bereskpresi seperti itu. Bagaimana pun ia sangat menyayangi Hana. Hana sahabat sekaligus adik terbaik yang pernah ia miliki.
“Huh, kau ini..” seru Vinct kemudian seraya menghampiri Hana, diacaknya rambut yeoja itu lembut. “Aku hanya takut Fleuri marah, kau tahu kan dia sangat pecemburu?” tanya Vinct, Fleuri adalah tunangannya─lebih tepatnya calon istri karena bulan depan mereka akan menikah.
Hana mengangkat wajah, menatap Vinct dengan tatapan yang super memelas─Vinct mendengus dalam hati, tahu ia akan kalah.
“Aku yang akan bicara pada Fleuri, bagaimana? Mereka di sini hanya seminggu kok, aku yakin Fleuri akan mengerti. Dia juga temanku.” kata Hana panjang lebar, “bantu aku ya Vinct? Sekaliii saja.” sambung Hana memperlihatkan puppy eyesnya.
Vinct memutar bola matanya malas, “Jelaskan hari ini juga atau gadis itu akan membunuhku sesegera mungkin..”
Senyum Hana terkembang, “Ah, kau memang sahabatku yang paling baik Vinct. Merci..”
***
Sudah sehari Eunhyuk berdiam diri di kamar hotelnya. Dia tidak melakukan apa pun padahal manajernya sudah memaki ia habis-habisan agar ia mau berlatih bersama yang lainnya untuk Super Show 4 hari mendatang. Kali ini Eunhyuk benar-benar bersikap keras kepala, membuat Leeteuk terpaksa memohon pada manajer mereka agar Eunhyuk diizinkan istirahat dua hari─usul ini juga disetujui oleh member lain dan Eunhyuk sendiri yang berjanji setelah dua hari ia benar-benar akan kembali seperti semula.
Karena itulah, Eunhyuk sekarang ada di kamarnya, sedang menatap foto di tangannya dengan nanar. Dulu, tawa dan senyum itu hanya untuknya, miliknya. Tapi sekarang Kim Hana sudah memiliki orang lain, tawa dan senyum itu bukan untuknya lagi.
Eunhyuk mendesah galau, dia menenggelamkan wajahnya dalam bantal. Menyesal mengapa takdir begitu tak adil padanya. Saat dia dipertemukan lagi dengan Hana, mengapa Hana sudah melupakannya?─bahkan memiliki kekasih lain─sementara ia sama sekali tak bisa menghapus Hana dari otaknya. Hana begitu kuat tertempel di otaknya, seperti kertas yang di tempel dengan lem super.
Tadinya, Eunhyuk pikir saat mereka bertemu lagi semua dapat kembali seperti semula. Hana masih mencintainya, begitu pun dia. Namun keadaan berkata lain, Hana sekarang tak lagi mencintainya. Eunhyuk sempat berpikir bahwa kebersamaan mereka selama lima tahun tak akan mudah dilupakan begitu saja, namun Hana ternyata melupakannya. Kenangan lima tahun bukan apa-apa untuknya.
Kejadian di kafe kemarin kembali terputar dalam otak Eunhyuk secara tiba-tiba. Eunhyuk merasakan hatinya terkikis secara perlahan─namun pasti─apalagi saat bayangan Hana yang menggandeng namja itu menari-nari dalam benaknya.
Karena tak ingin semakin larut dalam perasaan tak tentunya, Eunhyuk beranjak dari kasur lalu duduk di jendela kamar hotelnya. Ditatapnya langit malam tanpa bintang di atas sana. Langit sangat gelap, seolah tahu isi hatinya saat ini. Eunhyuk termenung.
Setelah menit demi menit berlalu tanpa ada kegiatan lain, Eunhyuk akhirnya memutuskan untuk jalan-jalan mencari udara segar di luar hotel.
Hyung, kau mau kemana?” tanya Siwon saat berpapasan dengan Eunhyuk di lobi hotel.
Eunhyuk hanya menatap Siwon sekilas tanpa menjawab pertanyaannya. Namja itu tetap melanjutkan langkah, meninggalkan Siwon dengan kening berkerut samar.
Udara malam terasa begitu segar. Eunhyuk berjalan di sekitar daerah hotel dengan langkah pendek-pendek, dia mencoba menikmati jalan-jalannya kali ini. Setelah hampir 30 menit berputar-putar tak jelas, namja itu mulai merasakan lelah. Eunhyuk berjalan menuju ke arah taman tak jauh dari tempatnya berdiri sekarang, dia mengedarkan pandangan ke sekeliling taman hingga matanya tak sengaja menangkap adegan ciuman sepasang kekasih.
Mula-mula, Eunhyuk sama sekali tak peduli, tapi begitu melihat dengan jelas siapa namja yang sedang berciuman itu dia langsung membelalakkan mata maksimal. Sebuah amarah langsung meluap-luap di dadanya, Eunhyuk langsung berlari menerjang namja itu. Dilayangkannya satu pukulan mentah tepat ke wajah.
“Berani-beraninya kau!” hardik Eunhyuk lalu kembali menyerang secara membabi-buta.
***
Kim Hana sedang menatap menara eiffel dari balkon apartemennya. Pemandangan menara eiffel di malam hari sangat indah, namun Hana tak bisa menikmatinya kali ini. Dia merasa hampa─juga rindu. Semenjak pertemuannya dengan Eunhyuk kemarin, wajah namja itu selalu berputar dalam benaknya. Hatinya mengaum-ngaum menggumamkan kata rindu ingin memeluk. Tapi Hana menahannya, dia tahu dia tak boleh egois.
Hana mengulur napas dengan lamat, berharap sesak yang menghimpit dadanya dapat menguap seiring dengan embusan napasnya.
Esok dia harus bertemu Suju lagi untuk memastikan bahwa apa yang ia kerjakan benar atau tidak. Itu berarti dia harus melihat Eunhyuk lagi, orang yang paling tidak ingin ia temui saat ini. Hana benar-benar merasa dilema dengan hidupnya saat ini.
Lee Hyukjae. Nama itu menari-nari di otaknya, membuat ia mundur ke dua tahun yang lalu saat mereka masih bersama. Kenangannya dengan namja itu benar-benar banyak. Dan tak ada satu pun dari kenangan itu yang tak indah─kecuali saat mereka berpisah.
Hana mendongak menatap langit, lalu mendesah putus asa. Pertanyaan-pertanyaan yang diawali dengan apa─seperti; apa yang sedang dilakukan Eunhyuk sekarang?,  apa Eunhyuk baik-baik saja?, apa Eunhyuk memikirkannya seperti ia memikirkan Eunhyuk?, apa Eunhyuk merasa sakit hati atas kejadian kemarin?, juga apa-apa lainnya─berseliweran di otaknya, membuat ia merasa frustasi.
Hana menutupi wajahnya dengan tangan, menyesal mengapa ia tak bisa menghilangkan bayangan namja itu dari otaknya. Detik berikutnya Hana mengisi pasokan oksigen dengan rakus saat mendengar bel apartemennya berbunyi. Dia melangkah untuk membukakan pintu tanpa melihat siapa tamunya terlebih dahulu melalui interkom.
Saat pintu terbuka sempurna, Hana langsung membeku karena tubuhnya didekap seseorang dengan erat. Dan Hana jelas tahu siapa namja yang sedang memeluknya ini jika dicium dari baunya. Lee Hyukjae.
Hana sempat terlena beberapa saat, dia begitu menikmati pelukan Eunhyuk tanpa sepatah kata pun terucap sampai kesadaran menampar otaknya. Hana langsung mendorong tubuh Eunhyuk. Dia berusaha menyembunyikan debaran jantungnya yang menggila dengan wajah datar.
“Eunhyuk-ssi? Sedang apa kau di sini?”
Eunhyuk mendengus, dia memegang pundak Hana dengan lembut, ditatapnya mata Hana dalam-dalam.
“Kau berbohong padaku, Kim Hana.” kata Eunhyuk tajam.
Sambil berusaha menepis tangan Eunhyuk dari bahunya, Hana mengernyit. Badannya mulai panas dingin membayangkan apa yang akan Eunhyuk katakan.
“Vinct bukan tunanganmu,” tandas Eunhyuk, bibirnya membentuk seringaian yang membuat bulu kuduk Hana berdiri.
“Kau jangan asal menyimpulkan, Eunhyuk-ssi.” balas Hana, matanya berpendar ke kiri dan kanan menghindari tatapan Eunhyuk.
Satu tangan Eunhyuk memegang dagu Hana, membuat yeoja itu mau tak mau menatap matanya.
“Tidak, itu benar. Vinct sendiri yang mengatakannya padaku, dia bahkan sudah punya tunangan, dan itu jelas bukan kau.” seringaian di bibir Eunhyuk tambah lebar.
Sial! Bagaimana Vinct bisa membocorkan hal seperti itu? Fleuri bahkan tak keberatan, tapi mengapa Vinct tega menghianatinya? Hana meringis dalam hati.
“Baik, baik. Aku memang tidak ada hubungan apa-apa dengan Vinct, tapi aku sudah melupakanmu. Jadi, tolong jangan muncul lagi di hadapanku.” aku Hana sambil mundur, tangan Eunhyuk berhasil lepas dari bahunya dengan hentakan kuat.
Hana berbalik masuk, mencoba tak menghiraukan Eunhyuk yang ternyata malah mengikuti langkahnya. Sampai di ruang tamu, Hana berhenti. Dia membalikkan badan lalu menatap Eunhyuk tajam.
“Sudah kubilang untuk menjauhiku, Eunhyuk-ssi.” desis Hana, mulai tak sabar karena jantungnya terus bertalu-talu tak tentu. Hana masih sangat mencintai Eunhyuk, sebab itulah dia tak mau lagi berdekatan dengan Eunhyuk atau tekadnya utuk melepas namja itu bisa goyah seketika. Berdekatan dengan Eunhyuk dapat membuat sistem sarafnya rusak seketika.
Mianhae Hana-ya, aku tak percaya dengan ucapanmu.” tukas Eunhyuk lantang, “aku masih sangat mencintaimu, dan Vinct juga bilang kau tak pernah bisa melupakanku. Kembalilah Hana-ya, kita mulai semuanya dari awal.” bujuk Eunhyuk, dia mulai memupus jarak di antara mereka hingga berhenti satu meter di depan Hana yang mematung.
“Eunhyuk-ssi. Itu, tidak benar.” elak Hana dengan suara pelan, Hana menundukkan kepalanya dalam-dalam, sekeras mungkin menghindari mata Eunhyuk.
“Yang tidak benar adalah penyangkalanmu barusan,” sergah Eunhyuk, nada suaranya mulai meninggi. Eunhyuk kembali mempersempit jarak di antara mereka, kembali diangkatnya wajah Hana agar yeoja itu mau menatapnya.
“Sudah cukup kau membohongi dirimu sendiri. Lihat mataku.” perintah Eunhyuk.
Pelan, Hana menatap mata namja di depannya. Diselaminya bola mata Eunhyuk hingga ia merasa tertampar karena menemukan cinta yang masih seperti dulu─tanpa berkurang kadarnya─di dalam bola mata Eunhyuk.
“Kita mulai semuanya dari awal, arraseo?”
Hana baru saja akan mengangguk ketika bayangan Super Junior yang hancur melintas di benaknya. Yeoja itu langsung menunduk, menggeleng kuat-kuat.
“Tidak Eunhyuk-ssi, meski pun kau benar─kalau aku masih sangat mencintaimu─aku tak akan pernah kembali padamu.” kata Hana dengan suara bergetar.
Eunhyuk tak bisa menyembunyikan raut kecewanya, “Waeyo?
“Aku tidak ingin menghancurkan karirmu, terlebih Suju.”
Seketika, tawa Eunhyuk pecah. Hana mengangkat wajah sambil mengernyit memandangi Eunhyuk yang terpingkal-pingkal.
“Ada yang salah?”
“Ya, tentu saja.” sahut Eunhyuk sambil berusaha berhenti tertawa, “aku sudah memikirkan itu, baboya!” tukas Eunhyuk kemudian, dia menarik pinggang Hana mendekat hingga Hana harus menahan napas karena jarak mereka yang terlalu dekat.
“Apa maksudmu?”
“Aku akan mengundurkan diri dari Suju setelah Super Show ini berakhir, membuka toko, melamarmu, lalu kita akan hidup bahagia.”
Hana menatap Eunhyuk dengan kaget, “Bagaimana bisa kau memutuskan hal seperti itu? Babo, bagaimana dengan fansmu?”
Eunhyuk memutar bola matanya tak acuh, “Kau yang babo. Panggil aku oppa, dan aku tidak menerima protes.”
Hana baru saja akan melayangkan protes saat bibir Eunhyuk tiba-tiba saja menempel di bibirnya. Mata Hana terbelalak, apalagi dia bisa melihat seringaian Eunhyuk sebelum bibirnya bergerak di atas bibir Hana.
Sial! Dia benar-benar kalah kali ini.
Hana akhirnya menyerah, dia melingkarkan kedua tangannya di leher Eunhyuk dan membalas ciuman pria yang sangat dicintainya ini dengan penuh kerinduan.
***
“Kau gila, Hyuk? Bagaimana dengan jewels dan elfs? Kau akan mengabaikan mereka begitu saja?” hardik Leeteuk saat Eunhyuk mengutarakan niatnya keluar dari Suju.
Semua tatapan tajam member Suju sekarang terarah pada Eunhyuk. Eunhyuk hanya menggaruk tengkuknya sambil memamerkan cengiran lebar.
Mianhae Hyung, aku hanya berpikir ini yang terbaik bagi semuanya. Kehilangan Hana dua tahun cukup membuat aku sadar bahwa Hana sangat berarti bagiku, karena itu aku memutuskan untuk keluar daripada Suju harus bubar gara-gara paparazzi menangkap basah aku dan Hana lagi. Kau tahu Lee Sooman tak pernah main-main dengan ancamannya, makanya aku ingin mengundurkan diri daripada harus membuat skandal dan disuruh memilih kalian atau Hana lagi.” jelas Eunhyuk panjang lebar.
Member Suju sempat terpana mendengar penjelasan Eunhyuk sebelum mereka menghela napas secara bersamaan.
“Suju tak akan lengkap tanpamu hyung,” ujar Kyuhyun membuat semua member menatapnya takjub, ditatap seperti itu Kyuhyun tersenyum evil lalu melanjutkan. “Meski pun kau mirip monyet.”
“Yak!” pekik Eunhyuk tak terima, member Suju pun bisa sedikit tertawa karenanya.
“Hyuk, kau sudah yakin dengan keputusanmu?” tanya Donghae sungguh-sungguh.
Eunhyuk memandang sahabatnya itu sebelum mengangguk yakin.
“Kau sudah berbicara dengan manajer hyung?” Leeteuk kembali mengambil alih pertanyaan.
Eunhyuk lagi-lagi mengangguk, “Manajer hyung bilang dia tidak bisa mendebat keputusanku dan menyuruhku untuk berbicara langsung pada Lee Sooman.”
Ryeowook yang paling pertama bereaksi dengan jawaban Eunhyuk, dia langsung memeluk tubuh Eunhyuk sambil menangis. Eunhyuk juga langsung menangis begitu Ryeowook memeluknya. Tak berapa lama semua member Suju langsung menangis sambil memeluk Eunhyuk.
“Semoga kau bahagia dengan pilihanmu kali ini.” kata Yesung di tengah-tengah tangisnya, diangguki yang lainnya dengan serempak. Bahkan Kyuhyun yang biasanya anti menangis pun ikut menangis mengetahui mereka akan berpisah sebentar lagi.
***
Eunhyuk Super Junior keluar dari Suju?

Dikabarkan bahwa salah satu member Suju yang dijuluki dancing machine Rabu kemarin menemui Lee Sooman untuk mengundurkan diri dari Super Junior.
Sejauh ini, Lee Sooman mau pun Eunhyuk sendiri telah membenarkan bahwa Eunhyuk benar-benar akan keluar dari Super Junior.
“Aku keluar karena tidak ingin salah memilih lagi,” jelas Eunhyuk begitu diwawancarai.
Disinyalir bahwa keluarnya Eunhyuk berhubungan erat dengan yeoja yang digosipkan dua tahun lalu dengannya─Kim Hana. Kabar burung menyebutkan bahwa keduanya akan segera menikah dalam kurun waktu dekat. Pihak Suju belum membenarkan soal pernikahan ini. Objek terkait─Eunhyuk─belum mengonfirmasi mengenai ini sama sekali.

Sungmin melempar tabloid di tangannya ke arah sofa, lalu mengerang.
“Berita Eunhyuk benar-benar menjadi headline utama semua tabloid.” gerutunya pada member Suju yang sedang ada di dorm. Mereka sudah kembali ke Korea sejak 3 hari yang lalu, dan kemarin Eunhyuk telah membicarakan masalah pengunduran dirinya pada Lee Sooman. Lee Sooman benar-benar marah besar─seperti dugaan Eunhyuk sebelumnya─karena itulah ia langsung menyetujui pengunduran diri Eunhyuk tanpa pikir panjang.
Eunhyuk juga ada di sana, sedang cengar-cengir sambil menatap ponselnya, dia benar-benar akan keluar dari dorm setelah konferensi pers seminggu lagi, pengeluarannya secara resmi.
Hyung, jangan cengar-cengir seperti itu! Kau tidak lihat semua majalah gosip sedang membicarakanmu?” hardik Siwon yang baru keluar dari dapur.
Eunhyuk hanya melirik Siwon sekilas sebelum kembali menatap ponselnya. “Lalu aku harus bagaimana? Biarkan saja mereka bicara sesuka hati.”
“Kau sudah meminta maaf pada elfs dan jewels, Hyuk?” tanya Heechul yang sedang bermain PS dengan Kyuhyun.
Pertanyaan Heechul itu berhasil menghentikan senyum gila Eunhyuk, namja itu akhirnya menyimpan ponselnya di samping tubuh.
“Aku sudah minta maaf hyung, tapi mereka sepertinya sangat kecewa.” desah Eunhyuk putus asa.
“Jangan menyesalinya Hyuk, itu pilihanmu.” tegur Donghae yang baru saja keluar dari kamar, namja itu menguap, terlihat jelas bahwa dia baru bangun tidur.
Arra..” balas Eunhyuk, “tapi aku sedih melihat mereka menangis.”
“Mereka hanya belum terbiasa, Hyuk.” hibur Yesung, tangannya mengelus ttangkoma yang ada dipangkuannya.
Saat itulah bel dorm mereka berbunyi, wajah Eunhyuk langsung sumringah. Dia langsung berlari ke arah pintu dorm dan membukanya. Senyumnya melebar melihat Hana berdiri dengan banyak kantong di tangannya.
Annyeong oppa.” sapa Hana pada Eunhyuk, dia membungkukkan tubuhnya 90°.
Eunhyuk baru saja akan memeluk Hana ketika hyung dan dongsaengnya datang.
Annyeong Hana-ah.” sapa member Suju serempak, Hana tersenyum manis lalu kembali membungkuk sopan.
“Ayo masuk,” ajak Eunhyuk.
Hana duduk di sofa dekat Eunhyuk setelah sebelumnya memberikan kantong plastik yang dibawanya pada Ryeowook.
“Aku kira kau tak jadi ke sini.” Eunhyuk mengaitkan jemarinya dan Hana hingga bertautan, lalu memainkan jemari mereka yang ada dalam genggamannya.
Hana terkekeh pelan, “Kalau bukan eomma yang menyuruh aku juga tak akan ke sini, oppa.” belanya.
Mata Eunhyuk langsung mendelik, “Mwo? Jadi kau tak merindukanku?”
Tangan Hana yang bebas mencubit pipi kiri Eunhyuk gemas, “Ayolah oppa, kemarin kau baru saja ke apartemenku, kan?”
“Itu sudah lama bagiku,” rajuk Eunhyuk memasang tampang sok imut, Hana tertawa lagi.
Hyung, berhenti memasang wajah sok imutmu itu, kau makin mirip monyet!” sahut Kyuhyun di sela-sela main gamenya.
Eunhyuk melotot, sedangkan tawa Hana makin lebar.
“Sopanlah sedikit padaku, dasar evil!” umpat Eunhyuk tapi tak diindahkan Kyuhyun.
Eommonim sudah pulang?” tanya Eunhyuk mengalihkan pembicaraan, Hana mengangguk sambil berusaha mengendalikan tawanya.
“Dia menanyakanmu, makanya menyuruhku ke sini.” jawab Hana, “aku rasa eomma sangat menyukaimu..” lanjut Hana setengah merajuk.
Gantian Eunhyuk yang tertawa sekarang, diacaknya rambut Hana dengan lembut. “Berarti eommonim benar-benar ingin aku yang menjadi menantunya.”
Hana mendengus dengan tampang mengejek.
Tangan Eunhyuk baru saja akan mencubit hidung Hana saat pintu masuk dorm terbuka dengan bunyi dentuman yang keras, semua yang ada di sana langsung menoleh ke arah pintu, mengernyit melihat Leeteuk dan manajer hyung berdiri di sana dengan wajah cemas.
“Elfs dan jewels di bawah, sedang memprotes keluarnya kau.” terang Leeteuk.
“Cepat ke bawah Hyuk, Lee Sooman sajangnim juga ada di sana─sedang berusaha menenangkan.”
Mata Eunhyuk dan yang lainnya membelalak, “Hyung, tapi Hana─”
“Bawa dia turun ke bawah, sekarang!” tegas manajer hyung.
***
Hana memandangi ratusan─atau ribuan─elfs dan jewels yang berkumpul di luar gedung SM sambil menyerukan protes keras-keras karena keluarnya Eunhyuk dari Super Junior. Beberapa bahkan menangis histeris, membuat Hana merasakan kecemasan─sekaligus takut─yang luar biasa di hatinya. Hana mengeratkan genggaman tangan mereka, hatinya berdebar tak keruan menyaksikan begitu banyak orang yang menyayangi kekasihnya ini.
Oppa, aku takut.” bisik Hana lirih saat mereka berdua berjalan ke arah Lee Sooman yang sedang memasang wajah sebal.
Eunhyuk segera menoleh pada Hana, saat itulah dia sadar bahwa Hana benar-benar ketakutan. Dengan sekali gerakan, tangan Eunhyuk meraih pinggang Hana dan mendekapnya, membuat jarak di antara keduanya makin sempit.
“Ada aku, Hana-ya. Kau tak perlu merasa takut.”
Tatapan para elfs dan jewels yang semula menatap ke arah Lee Sooman langsung mengarah pada Eunhyuk dan juga Hana yang sedang berjalan ke arah mereka. Seketika, jerit histeris terdengar riuh menyerukan nama Eunhyuk.
“Eunhyuk oppa..” jerit mereka histeris.
Salah satu dari fans itu maju ke depan─sepertinya otak dari protes kali ini─lantas berseru dengan lantang ditengah seruan yang lainnya. “Eunhyuk oppa, mianhae karena kami sempat mengecammu karena masalah ini. Kami benar-benar egois karena tak memikirkan bagaimana tertekannya kau.” Katanya lalu mulai menangis lagi, mata Eunhyuk sudah berkaca-kaca mendengarnya.
Seorang fans lagi maju ke depan, menatap Eunhyuk dengan tatapan memelas disertai air mata yang dibiarkan mengalir. “Eunhyuk oppa, kami lebih rela kau memiliki seorang kekasih─bahkan istri─daripada harus membayangkan Super Junior tanpamu, sudah cukup kami kehilangan Hankyung oppa, kami tak ingin kehilanganmu. Jangan keluar, jebal.”
Para fans mulai mengatakan ‘jebal’ dengan serempak, Eunhyuk sangat terenyuh. Air matanya mengalir tanpa bisa ia cegah. Hana juga merasa sangat tersentuh dengan pengorbanan fans Eunhyuk yang begitu besar, dia mengusap punggung Eunhyuk lembut. Member Suju tak kalah tersentuh, mereka hanya dapat menatap fans yang sangat mereka cintai itu dengan mata berkaca-kaca.
Fans yang pertama maju tadi kini menatap Hana dalam-dalam, membuat Hana merasa kikuk. “Kim Hana-ssi, kami benar-benar rela jika seandainya Eunhyuk oppa menikah denganmu, tapi tolong jangan biarkan dia meninggalkan Super Junior.”
Hana benar-benar tak bisa berkata apa-apa, dia hanya menatap fans itu simpati.
Eunhyuk akhirnya berhasil mengatasi emosinya, namja itu mengusap air matanya dengan cepat lalu memandang seluruh fans di hadapannya dengan ekspresi terharu yang begitu kentara.
Dia lalu membungkuk 90° berulang-ulang sebelum mengatakan, “Kamsahamnida untuk semuanya, tapi aku─”
“Eunhyuk-ssi,” panggilan Lee Sooman menginterupsi perkataan Eunhyuk. Pria tua itu akhirnya membuka mulut, dia berjalan ke arah Eunhyuk. Berhenti di sebelahnya lalu menatap orang-orang yang juga tengah menatapnya kini.
Pria tua itu menatap Eunhyuk sekilas sebelum matanya kembali menyapu halaman SM yang kini dipenuhi ratusan─bahkan ribuan, entahlah─fans Super Junior terlebih jewels.
“Biar aku yang bicara.”
***
Seorang yeoja SMA menutup tabloid yang baru saja dibacanya dengan wajah berbinar, dia mengalihkan tatapan pada teman di sampingnya lantas berujar dengan nada ceria. “Aku benar-benar senang karena Lee Sooman akhirnya memutuskan untuk tetap mempertahankan Eunhyuk oppa di Super Junior, perjuangan elfs dan jewels minggu kemarin benar-benar hebat.”
Temannya ikut mengangguk membenarkan, “Ne. Aku juga sangat senang karena Suju tidak kehilangan satu anggota lagi. Lagipula apa salahnya jika oppadeul memiliki kekasih? Toh menurutku mereka sudah dewasa.”
Arraseo. Ah, kau sudah lihat foto kekasih Eunhyuk oppa, kan? Dia benar-benar cantik, pantas saja Eunhyuk oppa sangat mencintainya.”
Temannya hanya mengangguk-anggukan kepala setuju sebelum kembali melahap es krim yang sudah agak mencair di depannya.
Tak jauh dari meja tempat kedua yeoja SMA tadi berbincang, Eunhyuk dan Hana─dengan penyamaran lengkap─duduk sambil menikmati es krim strawberry mereka. Keduanya saling melempar tatapan senang begitu mendengar berita bahwa hubungan mereka direstui oleh Lee Sooman─tanpa Eunhyuk harus keluar dari Super Junior─dibicarakan masyarakat luas.
Restu Lee Sooman memang benar-benar di luar dugaan semua orang, apalagi mengingat begitu keras kepalanya seorang Lee Sooman. Tapi keputusan Lee Sooman hari itu memang benar-benar kabar bahagia untuk semua orang, apalagi Eunhyuk.
Setelah membayar es krim, keduanya beranjak keluar kedai es krim tersebut sambil bergandengan tangan. Kaki mereka melangkah menyusuri jalan menuju parkiran mobil.
Hana melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya, jam 9 malam. Yeoja itu lalu melirik namja yang sedang berjalan berdampingan dengannya, sudut bibirnya melengkung membentuk sebuah senyum manis mengingat bahwa namja ini benar-benar miliknya sekarang. Senyumnya melebar mengingat fakta bahwa tak akan ada lagi yang menghalangi hubungan keduanya mulai sekarang.
“Apa aku begitu tampan sampai-sampai kau tak bisa berhenti menatapku?” goda Eunhyuk tiba-tiba sambil menengokkan kepalanya menatap Hana.
Sadar tertangkap basah, Hana buru-buru memalingkan wajahnya ke arah lain dengan pipi bersemu merah. “Kau sangat percaya diri, Lee Hyukjae-ssi.” Desisnya.
Eunhyuk melebarkan bola matanya sambil menatap Hana tak percaya, “Aigo. Jauhi Kyuhyun, lama-lama kau makin mirip dengannya.” Gerutunya kesal.
“Yak! Kenapa kau menyamakanku dengan bocah evil itu?” balas Hana tak terima.
“Karena kau sudah berlaku tak sopan padaku,” jawab Eunhyuk sungguh-sungguh, ditatapnya mata Hana dengan lekat. “Panggil aku oppa, aku sudah mengulang itu berapa kali sih?”
Hana mengangkat bahu dengan wajah santai, “Kau sensitif sekali oppa. Aku kan tadi hanya bercanda,” gerutu Hana kemudian.
 “Haha, aku juga hanya bercanda tadi. Kau sensitif sekali Hana-ya.” Eunhyuk mengutip kata-kata Hana lalu tergelak setelahnya.
Hana langsung memandangi Eunhyuk dengan kesal, “Yak! Itu tidak lucu.” Pekik Hana lalu menginjak kaki Eunhyuk keras-keras, yeoja itu segera berjalan cepat-cepat menjauhi Eunhyuk sambil mengomel panjang-pendek karena sikap jail Eunhyuk barusan.
Eunhyuk langsung meringis memegangi kakinya yang diinjak Hana barusan, “Aish, yeoja itu.” Desis Eunhyuk disela-sela ringisannya. Namja itu lalu berlari mengejar Hana hingga langkah mereka sejajar.
Mianhae Hana-ya, jangan marah seperti itu. Aku tadi benar-benar hanya bercanda.” Kata Eunhyuk sungguh-sungguh.
Hana hanya memutar bola matanya sekilas dengan malas, sama sekali tak mengindahkan permohonan maaf Eunhyuk.
Kesal terus dianggap tak ada, Eunhyuk akhirnya menahan tangan Hana dan membalikkan tubuh yeoja itu hingga mereka saling menatap.
Wae?” Tanya Hana tanpa minat, matanya melirik kanan-kiri mengamati orang-orang yang sedang berlalu-lalang. Beberapa di antara orang-orang itu menatap mereka sekilas, seolah tahu siapa mereka padahal Hana yakin syal, hoodie, juga kacamata hitam yang mereka pakai sudah cukup untuk menutupi penyamaran mereka.
“Lihat aku saat aku bicara Lee Hana.” Ujar Eunhyuk, tangannya bergerak cepat menarik wajah Hana hingga yeoja itu mau tak mau menatapnya.
Mwo? Lee Hana?” mata Hana hampir meloncat keluar mendengar Eunhyuk memanggilnya begitu. “Sejak kapan aku berganti marga?”
Seringain mendadak muncul di wajah Eunhyuk, Hana menggerutu dalam hati, tahu bahwa sebentar lagi sesuatu yang buruk akan menimpanya.
“Sejak kau bertunangan denganku kemarin,” jawab Eunhyuk santai, “apa salahnya dengan marga Lee? Toh sebentar lagi kau akan menyandang marga itu.” Imbuhnya.
“Tapi kita baru bertunangan oppa, belum menikah. Aku tak akan berganti marga kalau benar-benar belum menikah,” tukas Hana tajam.
Seringaian di bibir Eunhyuk tambah lebar, namja itu mendekatkan wajahnya ke wajah Hana hingga hanya terpaut 5 cm, ditatapnya mata Hana lekat-lekat dengan tatapan menggoda. “Jadi kau ingin kita menikah sekarang juga, hm?”
Wajah Hana memerah tanpa sadar, “Apa maumu?” sergahnya pelan, Hana semakin memundurkan wajahnya saat wajah Eunhyuk mendekat.
“Mau menebak?” goda Eunhyuk lagi, wajahnya terus mendekat hingga hidung mereka bersentuhan.
Bulu kuduk Hana merinding merasakan terpaan napas Eunhyuk di kulitnya, dia menutup matanya rapat-rapat.
Eunhyuk tertawa terpingkal-pingkal melihat ekspresi Hana, namja itu segera menjauhkan wajahnya dari wajah Hana sambil tetap tertawa.
“Apa yang kau harapkan, Lee Hana?” ejeknya lalu berjalan sambil masih tertawa-tawa.
Hana buru-buru membuka mata, ditatapnya punggung Eunhyuk di depan sana dengan jengkel. Wajahnya memerah─malu, jantungnya pun sudah berdebar sangat heboh tadi. Tapi apa yang terjadi? Eunhyuk mengerjainya! Ya, mengerjainya!
“Yak! Lee Hyukjae!” teriak Hana keras lalu langsung mengejar Eunhyuk yang masih tertawa-tawa.
Awas saja namja itu!