Pria
tua itu memandangi namja-namja yang duduk di hadapannya dengan wajah
dingin. Tangannya bergerak mengambil cangkir kopi lantas menyesap kopi itu
perlahan tanpa mengindahkan ekspresi putus asa namja-namja tampan di
depannya.
Setelah
menyimpan cangkirnya kembali di meja, barulah pria tua itu memfokuskan
tatapannya pada seorang namja yang duduk paling depan daripada namja-namja
lain. Wajahnya bertambah dingin─diam-diam ada kemarahan tersembunyi dari kedua
bola matanya yang memandangi namja itu dengan tajam.
Pria tua itu
mencoba menyembunyikan kemarahannya dengan melengkungkan kedua sudut bibirnya
membentuk sebuah senyuman miring tanpa mengacuhkan tatapan ngeri namja-namja
lainnya. Dia membiarkan beberapa detik terlewat dalam hening yang mencekam
sebelum akhirnya bertanya dengan nada peringatan.
“Jadi, apa yang
akan kau pilih? Karir? Atau gadismu?”
Namja
yang duduk tepat di depannya─hanya terpisah oleh sebuah meja─mendongak untuk
menatap wajah pria tua itu dengan raut wajah gamang. Pikirannya dipenuhi oleh
berbagai macam pilihan tentang karirnya bersama boyband Korea ternama
atau gadisnya. Gadis yang sudah lima tahun menemani ia saat susah dan senang.
Agak lama tak
bereaksi, namja itu akhirnya menghela napas panjang. Pilihannya terlalu
sulit. Dia sangat mencintai gadisnya, tapi dia juga mencintai teman-teman juga
pekerjaannya. Sekali lagi, ditatapnya mata pria tua di hadapannya, berharap
bahwa pria itu mau mengeluarkan pilihan lain yang lebih ringan. Tapi melihat
tatapan pria itu sama sekali tak berubah, namja itu kembali menghela
napas.
Dengan pelan,
dia berkata, “Sajangnim, tidak adakah pilihan─”
Pria tua itu
menyela dengan wajah mengeras, menandakan bahwa emosinya hampir tak terkendali.
“Jika kau memilih gadismu maka tidak akan ada lagi Super Junior di dunia ini,
tapi jika kau memilih Super Junior maka kau harus segera meninggalkannya. Aku
tidak memberimu pilihan lain!” ada nada otoritas dalam suara pria tua itu.
Tak terlintas
ekspresi terkejut dari namja di depannya, namja itu hanya dapat
menahan sesak di dadanya yang semakin menumpuk karena kata-kata tajam yang
dilontarkan oleh pimpinan tertinggi agensinya ini. Dia membiarkan hening
memonopoli keadaan selama beberapa saat sebelum akhirnya menyapu pandangan ke
sekeliling ruangan. Napas yang dikeluarkannya terasa makin berat melihat wajah
gelisah teman-temannya itu, tapi di tengah kegelisahan yang menyelimuti
kesepuluh namja lainnya itu, mereka masih bisa menyunggingkan seulas
senyum tipis seolah mengatakan ‘apa pun pilihanmu kami percaya itu yang
terbaik.’
Tangannya
mengepal menahan buncahan perasaan yang begitu banyak bergumul di dadanya, dia
kembali menatap pria tua itu dengan mata sayu yang menyala-nyala penuh
kemarahan. Ditelannya bulat-bulat semua kenangan tentang gadisnya yang sedari
tadi melintasi otaknya. Dia telah membulatkan pilihannya.
“Saya memilih
karir sajangnim..” katanya tegas, membiarkan hatinya hancur remuk detik
itu juga. Membiarkan senyum gadis yang selalu menemaninya lima tahun ini musnah
detik berikutnya.
Pria tua di
hadapannya itu tersenyum puas penuh kemenangan, “Pilihan yang tepat, Lee
Hyukjae, segera tinggalkan gadismu dan siapkan dirimu untuk konferensi pers
besok.”
***
Senyum palsu
yang terus dikulum Eunhyuk─nama panggung Lee Hyukjae─saat konferensi pers tadi
lenyap seketika begitu ia memasuki mobil van yang akan membawa mereka kembali
ke dorm Suju. Namja itu memilih duduk di bangku paling belakang
lantas menenggelamkan wajahnya yang sendu ke jaketnya. Dia segera memejamkan
mata berharap bayangan gadis yang tadi malam tersedu di hadapannya bisa lenyap
dengan matanya yang terpejam. Tapi alih-alih lenyap, bayangan itu malah semakin
jelas di pelupuk matanya, membuat ia merasa menjadi orang paling jahat sedunia.
Kalau boleh
jujur, tak pernah sedetik pun ia ingin meninggalkan gadis itu. Tapi pilihan
yang dibuat oleh Lee Sooman membuatnya harus memilih. Dan ia tak mungkin
membiarkan mimpi hyung dan dongsaengnya lenyap hanya karena dia
memilih gadisnya. Lee Hyukjae tahu dia tak boleh egois.
“Eunhyuk-ah,”
panggilan dari Leeteuk membuat fokus Eunhyuk kabur seketika. Eunhyuk semakin
memejamkan matanya rapat-rapat untuk berpura-pura tidur, saat ini dia tak ingin
berbicara dengan Leeteuk atau pun member Suju yang lainnya. Eunhyuk
hanya ingin menenangkan dirinya sendiri saat ini.
“Hyung,
biarkan Eunhyuk beristirahat, ini hari yang berat untuknya..” Eunhyuk dapat
mendengar suara Donghae menginterupsi panggilan Leeteuk padanya. Setelah itu
dia dapat merasakan seseorang─yang diyakininya Donghae─mengempaskan diri di
sebelahnya.
“Aku tahu
Donghae-ah, aku hanya ingin memastikan dia baik-baik saja..” tukas
Leeteuk pelan, Eunhyuk dapat merasakan tatapan beberapa pasang mata sedang
mengarah padanya walau pun wajahnya tertutup jaket. Dia mendesah dalam hati.
“Sudahlah Hyung,
aku rasa Donghae benar. Eunhyuk hyung perlu waktu untuk menenangkan
diri,” kali ini suara Siwon.
Leeteuk tampak
menyerah, “Baiklah..”
Setelah
perkataan Leeteuk barusan, member Suju yang lainnya segera memasuki
mobil hingga mobil pun meluncur dengan pelan menyusuri jalanan untuk kembali ke
dorm mereka. Eunhyuk ingin sekali tertidur agar ia tak merasa bersalah
karena telah membohongi teman-temannya, tapi matanya sama sekali tak bisa
terpejam. Semakin terpejam, bayangan akan gadis itu semakin menghantui
pikirannya. Hatinya yang sudah hancur makin menjadi kepingan debu mengingat itu
semua.
“Aku benar-benar
tidak tega melihat ekpresi Eunhyuk tadi,” kata Yesung memecah keheningan di dalam
mobil itu, diam-diam Eunhyuk menegang mendengarnya.
“Aku juga tidak
tega Hyung,” setuju Sungmin yang duduk di sebelahnya, “wajahnya
benar-benar menyedihkan dengan topeng senyuman.”
“Wajar saja
Eunhyuk bersikap seperti itu, dia dan Hana sudah lima tahun berpacaran.”
Tanggap Heechul dengan nada simpati yang begitu terasa.
“Kalau aku yang
ada diposisinya, aku pasti tidak tahu apa yang harus kulakukan..” kali ini
Shindong yang menanggapi, wajahnya menerawang membayangkan ia dan Nari harus
berpisah hanya gara-gara tertangkap media massa─Shindong sangat bersyukur sebab
sebelum debut ia dan Nari sudah bertunangan sehingga pihak agensi tak bisa
berbuat apa-apa, lagipula fansnya pun dapat menerima itu.
“Tapi aku sangat
bangga pada Eunhyuk hyung yang sangat tegar,” seru Ryeowook dengan seulas
senyum tipis.
Kyuhyun yang
biasanya asyik dengan PSP kali ini mengabaikan PSPnya dan ikut berkomentar,
“Ya, aku juga harus menyetujui pendapat kalian kali ini. Si monyet itu terlihat
lebih dewasa.”
Komentar Kyuhyun
barusan menuai pelototan yang disertai jitakan dari semua member, “Yak!
Sopanlah sedikit pada hyungmu Kyuhyun-ah!”
Dibalik jaketnya
Eunhyuk hanya dapat tersenyum tipis mendengar perkataan teman-temannya, bahkan
dia merasa sama sekali tak tersinggung Kyuhyun memanggilnya ‘monyet’. Eunhyuk
merasa sedikit tenang saat tahu dia masih memiliki teman-teman yang dapat
menguatkannya kelak saat ia merindukan Hananya, ah, maksudnya Kim Hana.
Akhirnya dengan pemikiran seperti itu Eunhyuk dapat mengistirahatkan matanya
yang sudah tak tidur hampir 24 jam itu.
***
Kim Hana
memandangi foto-foto yang memenuhi laptopnya dengan hati teriris. Cucuran air
mata mengaliri pipi mulusnya dengan sempurna tanpa ada niatan dalam dirinya
untuk menghapus air mata itu. Akhirnya apa yang ia takutkan terjadi, setelah
lima tahun bertahan menjadi kekasih diam-diam seorang Lee Hyukjae semuanya
harus berakhir karena kecerobohan mereka.
Hana sangat
mencintai Eunhyuk, berawal dari pertemuan mereka di restoran keluarganya, Hana
dan Eunhyuk mulai berhubungan diam-diam hingga mereka menjadi sepasang kekasih
lima tahun yang lalu. Eunhyuk benar-benar pria menyenangkan sekaligus
menyebalkan─ditambah fakta bahwa Eunhyuk menyukai vidio yadong. Namja
itu dapat membuat hari-harinya berwarna saat ada di sisinya, ada saja
tingkahnya yang membuat Hana mampu tersenyum bahkan tak jarang tertawa. Namja
itu konyol, tapi kekonyolannyalah yang berhasil mencuri hati Hana seutuhnya.
Maka saat
hubungan mereka berakhir Hana benar-benar merasa tak mempunyai hati lagi. Air
mata Hana mengalir semakin deras begitu mengingat bahwa hubungannya dan Eunhyuk
telah benar-benar berakhir tadi malam.
Hana
menggerakkan kursor di laptopnya lantas membuka sebuah folder yang berisi
vidio-vidionya dengan Eunhyuk. Yeoja itu membuka sebuah vidio dan
mengamatinya dengan saksama. Vidio yang dibukanya adalah ucapan selamat ulang
tahun dari Eunhyuk dan permintaan maaf karena namja itu tak bisa
mengucapkannya secara langsung setahun yang lalu sebab namja itu sedang
berada di Taiwan.
Seulas senyum
tersungging di bibir mungil Hana begitu Eunhyuk menyanyikan lagu yang dibuatnya
sendiri untuk Hana.
“Uljima
Hana-ya, aku tahu pasti kau menangis menonton vidio ini, kan?” sapa
Eunhyuk di dalam vidio sana sambil memamerkan senyum gusinya yang menjadi
favorit Hana, “Haha, dasar yeoja cengeng. Ingatlah umurmu sudah 22
tahun, jangan menjadi yeoja cengeng lagi, arraseo? Hana-ya,
mianhae, jeongmal mianhae karena aku tak ada di sisimu saat hari
ulang tahunmu ini. Bukannya aku tak mau, tapi ini tuntutan pekerjaanku. Aku
harap kau mengerti.”
Hana membekap
mulutnya menahan isakan yang akan keluar, pipinya semakin basah oleh air mata
tapi ia sama sekali tak berniat menghentikan ucapan Eunhyuk di dalam vidio itu.
“Sebagai
gantinya, begitu pulang nanti aku akan menghabiskan satu hari penuh bersamamu, ne?
Kita akan berkencan seharian penuh, haha. Aku benar-benar tak sabar
menunggunya, bagaimana denganmu? Ah, ah biar kutebak, kau juga pasti sangat
senang kan mendengarnya?”
Pertahanan Hana
runtuh, isak tangis akhirnya keluar dari mulutnya.
“Hana-ya,
lagu tadi adalah lagu yang aku ciptakan khusus untukmu. Kau harus menyukainya
ya? Aku akan marah kalau kau tak suka, itu kubuat tiga hari penuh!” bibir
Eunhyuk mengerucut di dalam vidio, lantas senyum gusinya terkembang lagi. “Sepertinya
aku hanya dapat mengatakan itu saja Hana-ya, aku hanya punya waktu
sedikit untuk membuat vidio ini karena sebentar lagi akan ada acara. Saengil
Chukkae nae Hana, aku ingin kau tetap mencintaiku seperti ini selamanya. Saranghae..”
“Nado
saranghae Lee Hyukjae,” lirih Hana sambil menenggelamkan wajahnya di
bantal, yeoja itu semakin larut dalam tangisnya mengingat apa yang sudah
ia dan Eunhyuk lalui selama ini.
Hati Hana sudah
hancur berkeping-keping dan tak bersisa lagi, ia bahkan tak yakin bisa
mencintai namja lain setelah ini, baginya hanya Lee Hyukjae satu-satunya
namja yang bisa mengambil hatinya. Hana tak pernah menyalahkan Eunhyuk
karena telah membuatnya merasakan sakit hati yang begitu dalam, yang ia
salahkan adalah dirinya sendiri. Dia yang terlalu mencintai Eunhyuk begitu
dalam tanpa memedulikan fakta bahwa kekasihnya itu─mantan, maksudnya─adalah
seorang idola yang tak seharusnya memiliki seorang kekasih.
Dari sorot
matanya tadi malam, Hana tahu bahwa Eunhyuk juga masih sangat mencintainya.
Tapi Eunhyuk harus memilih antara dirinya atau karir dan Super Junior. Meski
pun sakit, Hana tahu Eunhyuk telah memilih pilihan yang benar.
“Aigo~”
Hana segera mengangkat wajah begitu mendengar suara eonninya, yeoja
itu tanpa basa-basi langsung menghambur ke pelukan sang eonni. Hana
menangis tersedu-sedu di bahunya eonninya, menumpahkan segala rasa perih
yang menghimpit dadanya tanpa peduli bahwa dia sudah menangis sejak semalaman
penuh tanpa tidur sedikit pun.
“Eonni..”
“Ssst,” bisik
Haneul, “kau tampak sangat kacau saeng-ah. Uljima..”
Tangis Hana
semakin pecah, “Aku sangat mencintainya eonni, mengapa harus berakhir
seperti ini?”
Tangan Haneul
membelai rambut adiknya itu dengan penuh kasih sayang. “Hana-ah, saat
kau memperkenalkan Eunhyuk pada eonni, eonni sudah
memperingatkanmu bahwa cepat atau lambat kalian akan berakhir seperti ini.”
Haneul mengembuskan napas lelah, “ini pilihanmu, saeng.”
“Aku mengerti
eonni, tapi mengapa rasanya harus sesakit ini?”
Haneul tak
menyahut, dia membiarkan adiknya itu menumpahkan perasaanya sekarang. Haneul
sangat paham seberapa besar rasa sayang yang dimiliki oleh adiknya ini untuk
Eunhyuk. Saat ini Haneul tak bisa berbuat apa-apa kecuali menunggu sampai Hana
merasa puas.
Satu jam
kemudian, Hana mulai bisa menenangkan diri. Yeoja itu mengusap air
matanya seraya melepaskan diri dari pelukan Haneul. Perasaannya saat ini jauh lebih
tenang daripada tadi, eonninya memang orang yang benar-benar pengertian,
dia selalu tahu bagaimana caranya menghadapi Hana yang sedang kalut.
“Eonni, mianhae
telah membuat bajumu basah,” gumam Hana kecil pada Haneul.
Haneul tersenyum
lembut, dia mengulurkan tangannya lantas mengusap puncak kepala Hana dengan
pelan.
“Itu bukan
masalah untuk eonni, asalkan kau merasa lebih baik.”
“Aku merasa
lebih baik sekarang eonni, gomawo..”
“Cheonmaneyo
saeng-ah.” Haneul diam sebentar, tampak menimbang-nimbang untuk mengatakan
sesuatu. Setelah yakin barulah dia berkata, “Hana-ah, mungkin ini
kesannya terlalu mendadak, tapi eonni harus mengatakannya sekarang.”
Hana mengusap
sisa-sisa air mata di wajahnya dengan perlahan, “Tak apa eonni,
katakanlah.”
“Eonni
mendapatkan pekerjaan di Paris, berangkat lusa. Kau mau ikut dengan eonni?
Kau bisa menyelesaikan kuliahmu di sana Hana-ah.”
Hana berpikir
sebentar. Orangtua Hana dan Haneul selama ini selalu sibuk bekerja, sebab
itulah Hana merasa hanya Haneul satu-satunya keluarga yang ia miliki. Dan
sekarang saat ia menghadapi cobaan yang berat eonninya mendapatkan
pekerjaan di Paris. Jika dia tidak ikut itu berarti Hana akan sendirian di
apartemen mewah mereka. Kalau saja Eunhyuk masih berstatus kekasihnya, Hana
pasti tak akan ragu untuk tinggal sendiri di sini. Tapi saat hubungan mereka berakhir
Hana pikir lebih baik ia ikut dengan eonninya, setidaknya di sana sangat
jauh dengan Lee Hyukjae, dan semoga saja di sana Hana bisa melupakan namja
itu─meski terdengar sulit mengingat hal apa saja yang telah mereka lalui
bersama selama ini.
Hana akhirnya
menganggukkan kepala sekali pertanda ia setuju. Saat Haneul tersenyum, Hana
berharap pilihannya tidak salah. Hana berharap di Paris sana dia dapat
melupakan namja bernama Lee Hyukjae yang selama ini bertahta di hatinya.
***
“Ya! Lee
Hyukjae! Apa yang kau lakukan, hah?!”
Eunhyuk
menghentikan dancenya mendengar teriakan Leeteuk─yang entah sudah
keberapa kali dalam sehari ini. Saat ini mereka memang sedang berada di ruang
latihan dan berlatih dance terbaru mereka di lagu opera, tapi pikiran
Eunhyuk yang bercabang kemana-mana menyebabkan namja itu tidak fokus
pada dancenya hingga dia seringkali melakukan kesalahan, itulah sebabnya
mengapa Leeteuk hobi berteriak padanya.
Sebenarnya bukan
hari ini saja Eunhyuk dimarahi karena hal ini, sudah sejak dua minggu yang lalu
namja itu menjadi tidak fokus lagi pada pekerjaannya─meski pun jika
tampil di umum Eunhyuk masih bisa bersikap cukup normal dan fokus, tapi jika
sedang berlatih di ruang Suju seperti ini Eunhyuk benar-benar menjadi orang
aneh.
“Apalagi
kesalahanku hyung?” Tanya Eunhyuk sambil menolehkan kepalanya ke
belakang dimana Leeteuk berdiri.
“Kau lupa
tarianmu, bodoh! Bagaimana mungkin seorang lead dancer lupa pada gerakan
menarinya hah?” teriak Leeteuk lagi kesal, member Suju lainnya hanya
dapat memandang Leeteuk dan Eunhyuk bergantian dengan ekpresi jengah, mereka
sudah sangat terbiasa mendengar omelan atau teriakan Leeteuk dua minggu
belakangan.
Yang diteriaki
hanya memutar bola matanya dengan ekpresi malas, “Aku juga manusia hyung,
aku bisa melupakan sesuatu juga.” elak Eunhyuk.
Saat Leeteuk
sudah akan berteriak untuk memarahi Eunhyuk lagi, Ryeowook menyela. “Leeteuk hyung
benar, akhir-akhir ini gerakan menarimu sangat kacau hyung, bahkan lebih
kacau daripada Yesung hyung.” Yesung buru-buru menjitak kepala Ryeowook
mendengar perkataannya.
Eunhyuk hanya
mendengus mendengarnya, dia memandangi ke seluruh ruangan hingga matanya
berhenti di satu titik. Sepasang sepatu berwarna putih susu di sudut ruangan. Namja
itu langsung terpaku, jantungnya langsung mencelos begitu otaknya memikirkan
sang pemberi sepatu tanpa diminta. Eunhyuk menahan napas selama beberapa detik
lantas mengembuskannya dengan gusar.
Lagi-lagi yeoja
itu berhasil memonopoli pikirannya. Semenjak malam dimana terakhir kalinya dia
melihat Hana─dengan air mata yang bercuucuran─Eunhyuk tak pernah lagi melihat yeoja
itu. Dia juga tak menghubunginya lewat sms ataupun telepon sebab sudah
bertekad untuk melepaskan Hana. Eunhyuk tadinya juga ingin segera melupakan
Hana dan benar-benar fokus pada karirnya bersama Suju untuk sementara ini.
Namun bayangan Hana yang selalu muncul tanpa diminta itu selalu membuat Eunhyuk
ragu untuk melupakannya. Senyum, tawa, dan tingkah Hana selalu dapat dengan
jelas dilihatnya walau itu hanya bayangan semata.
Hal itulah yang
selama dua minggu ini selalu menghantui pikiran Eunhyuk dan menyebabkan ia tak
pernah fokus saat latihan. Eunhyuk sadar bahwa ia tidak bisa melupakan Hana, ia
terlalu mencintai yeoja itu. Eunhyuk ingin selalu ada di samping yeoja
itu, tapi sekarang semuanya jelas-jelas telah berakhir. Dia telah memilih
karirnya dan Hana pun menghilang entah kemana dua hari setelah berpisahnya
mereka berdua.
Pikiran Eunhyuk
mungkin akan semakin melanglang buana kemana-mana kalau saja omelan Leeteuk tak
terdengar, “Kau, seriuslah sedikit Eunhyuk-ah. Dua minggu aku rasa waktu
yang cukup untuk melupakan Hana.”
Eunhyuk
tersentak mendengar nada dingin dalam suara Leeteuk saat menyebutkan nama Hana,
mendadak saja amarah menyelimuti hatinya. Namja itu lalu menatap Leeteuk dengan
tajam.
“Seumur hidup
pun aku takkan bisa melupakan dia, kau harusnya tahu itu hyung.” Desis
Eunhyuk sinis lalu langsung mengambil langkah lebar-lebar untuk keluar ruangan
diikuti Donghae yang sebelumnya sempat menatap Leeteuk dengan tatapan ‘biar aku
yang menenangkannya hyung’.
“Sudah kuduga,”
suara Heechul memecah keheningan, “si bodoh itu memang tak akan pernah bisa
melupakan Hana.”
“Hyung,
mereka baru dua minggu berpisah. Harusnya hyung mengerti sedikit bahwa
melupakan lima tahun itu tak akan cukup hanya dengan dua minggu.”
“Aku mengerti
Sungmin-ah, aku hanya ingin Eunhyuk bersikap profesional dengan tidak
melibatkan perasaannya dengan pekerjaan.”
“Setidaknya dia
masih bersikap profesional saat di depan umum hyung, justru kita harus
bersyukur karena Eunhyuk hanya bersikap seperti ini di hadapan kita saja.” Kata
Sungmin lagi, kata-katanya memang terdengar sangat masuk akal sehingga sebagian member hanya bisa diam.
“Ah, baiklah.
Kita latihan saja lagi tanpa Eunhyuk dan Donghae kalau begitu.” Instruksi
Leeteuk setelah merenungkan perkataan Sungmin.
Sementara di
luar Eunhyuk dan Donghae tampak sedang menatap langit malam yang hitam pekat
dengan taburan bintang yang tak berapa banyak. Donghae tak mengucapkan sepatah
kata pun sejak dia mengikuti Eunhyuk sampai ke sini. Namja itu hanya diam
menunggu emosi Eunhyuk surut dengan sendirinya. Donghae cukup tahu diri bahwa
ia sebaiknya tak perlu ikut campur jika Eunhyuk tak ingin bercerita apa pun
padanya.
Sekian lama
hening tanpa menunjukkan tanda-tanda kehidupan, Eunhyuk akhirnya mengembuskan
napas gusar, membuat Donghae menoleh saat itu juga.
Donghae
menaikkan alisnya, “Waeyo Eunhyuk-ah?”
Eunhyuk menutupi
wajahnya dengan tangan, “Aku tak bisa melupakan Hana, Hae-ah. Dia tak
pernah hilang dari pikiranku sedetik pun, semakin aku berusaha keras
melupakannya dia semakin terlihat nyata Hae-ah..”
Donghae
mendekati tubuh sahabatnya itu dengan sigap lantas menepuk-nepuk punggungnya
mencoba menyalurkan kekuatan, “Hyuk, semua itu butuh proses, butuh waktu.” kata
Donghae bijak yang disambut gelengan kuat-kuat oleh Eunhyuk.
“Hae-ah,
saat melepasnya aku pikir akan mudah saja melupakannya, tapi akhir-akhir ini
aku baru sadar kalau aku sangat mencintainya Hae. Dia sudah menjadi bagian dari
hidupku. Aku merasa hampa saat dia benar-benar menghilang dari hidupku, aku
merindukannya Hae, setiap detik.” cerita Eunhyuk dengan mata berkaca-kaca, tak
lama namja itu benar-benar telah menangis pelan dengan punggung yang
ditepuk halus oleh Donghae.
Donghae ikut
merasa sedih melihat Eunhyuk tampak sangat kehilangan seperti ini, Donghae
mengulur napasnya dengan perlahan.
Kim Hana. Nama
itu mencuat di permukaan otaknya, Donghae masih ingat saat Eunhyuk pertama kali
mengenalkan Hana padanya sebagai kekasih. Mereka berdua tampak bahagia dan
serasi, Eunhyuk bahkan tak pernah melepaskan tautan tangan mereka lebih dari
lima menit, benar-benar membuat iri. Hana sosok yeoja yang manis dan
ramah. Dia tipikal orang yang benar-benar menyenangkan, jadi tak heran kalau
Eunhyuk sampai jatuh hati pada yeoja itu.
Pikiran Donghae
lalu terempas pada dua minggu yang lalu saat seluruh member Suju
dipanggil oleh Lee Sooman karena skandal yang dibuat oleh Eunhyuk─foto-foto
Eunhyuk dan Hana tiba-tiba saja memenuhi majalah-majalah ternama dengan headline
besar-besar “Eunhyuk Super Junior mempunyai kekasih?”. Dan di sanalah Eunhyuk
disuruh memilih karirnya dan Suju atau Hana, saat itu Eunhyuk memilih Suju.
Tapi melihat kenyataannya sekarang? Donghae beramsumsi bahwa Eunhyuk sebaiknya
memilih Hana saja waktu itu.
“Eunhyuk-ah,
kalau kau memang sangat mencintai Hana mengapa waktu itu kau memilih karir dan
Suju?”
Eunhyuk mengusap
air matanya sambil mencoba menguatkan hati menjawab pertanyaan Donghae.
“Kalau saja saat
itu sajangnim hanya akan mengeluarkanku, aku pasti akan memilih Hana,
tapi sajangnim waktu itu bukan hanya akan mengeluarkanku saja melainkan
membubarkan Suju. Aku tak bisa menghancurkan mimpi kalian hanya demi
kebahagianku Hae-ah..”
Donghae terenyuh
mendengar penjelasan Eunhyuk, dia memeluk sahabatnya itu dan ikut menangis.
“Alasanmu sungguh
mulia Hyuk, aku yakin Tuhan pasti akan menyatukan kalian suatu saat nanti.”
Eunhyuk membalas
pelukan Donghae dengan hangat, kata-kata Donghae barusan seperti suntikan
semangat untuknya. Ya, suatu saat nanti mereka pasti akan bertemu lagi, dan
saat itu Eunhyuk benar-benar tahu apa yang harus ia pilih.
***
Seorang yeoja
sedang sibuk menyoret-nyoret kertas di hadapannya dengan sketsa gaun atau jas.
Tangannya yang memegang pensil menari dengan lincah di atas permukaan kertas.
Beberapa menit kemudian yeoja itu selesai dengan sketsanya, dia
mengangkat kertasnya hingga sejajar dengan kepala dan mendesah. Yeoja
itu meremas kertas yang dipegangnya hingga menjadi gumpalan lantas membuang ke
sudut, bergabung bersama gumpalan kertas lainnya di sudut ruangan.
Yeoja
itu, Kim Hana.
Dua tahun telah
berlalu dengan cepat dan Hana sekarang bekerja sebagai desainer di butik
temannya. Tahun lalu dia berhasil menyelesaikan kuliahnya di jurusan design
dengan gemilang, lantas temannya yang punya butik sendiri menawarkan agar dia
bekerja di butiknya. Hana setuju, karena itulah sekarang ia bisa di sini.
Sketsanya hari ini tidak ada yang bagus, mungkin gara-gara namja itu
kembali memenuhi otaknya dari tadi.
Hana mendesah
lagi, ah, namja itu. Yeoja itu mengangkat tangannya ke atas memperlihatkan
sebuah gelang cantik dengan inisial HaJae. Bahkan, dua tahun pun tak pernah
cukup untuk melupakan seorang Lee Hyukjae─padahal dia sudah menyibukkan dirinya
sesibuk mungkin dua tahun belakangan. Lee Hyukjae tak pernah lepas dari
ingatannya, dia tak pernah bisa melupakan Eunhyuk selamanya. Lee Hyukjae
benar-benar sudah tertempel kuat diingatannya. Kadang Hana kesal sendiri dengan
kenyataan itu. Kesal dan tak berdaya. Dia masih sangat mencintai namja
itu, dua tahun ini habis sia-sia karena nyatanya Hana sama sekali tak bisa
melepaskan Lee Hyukjae dalam hidupnya.
Hana kali ini
mendesah keras, lalu menenggelamkan wajahnya dalam meja. Namja itu
selalu berhasil membuat pikirannya tak keruan.
Hana
mendongakkan kepalanya begitu mendengar pintu ruangan terbuka, dia menatap
malas pada teman sekaligus bosnya yang melongokkan kepala.
“Kau masih moody
Hana?” tanyanya dalam bahasa Prancis yang begitu fasih, jelas sekali namja
itu benar-benar orang Prancis asli.
Hana mendecak
tidak sabar, membalas ucapan Vinct dalam bahasa Prancis juga. “Kau bisa lihat
sendiri Vinct..”
Namja itu
mengangguk dengan senyuman meledek di bibirnya. Dibukanya pintu lebar-lebar
lantas dia masuk dan menyandarkan tubuhnya di pintu.
“Well,
kau harus menunda sikap moody-mu itu Hana. Ada tamu yang harus kau
tangani hari ini.” jelas Vinct dengan nada memerintah, Hana mendengus sebal.
“Kenapa harus
aku?” tanyanya sebal, “hei, desainer di sini bukan hanya aku kan?”
“Mereka
orang Korea Hana─lagipula kau desainer terbaik di sini, dan kau satu-satunya
yang bisa berbahasa Korea. Pergilah jika kau tak ingin gajimu kupotong bulan
ini.” ancam Vinct sambil memperlihatkan seringaiannya.
Hana mendengus
lagi tapi langsung menyambar tasnya yang tergeletak pasrah di meja.
“Kau benar-benar
menyebalkan Vinct,” desisnya lalu berdiri. “Siapa yang harus kutemui? Dan
dimana?”
“Pergilah ke
kafe di seberang, mereka sudah menunggumu.”
Hana mengangguk
kecil, lalu mulai melangkah keluar ruangan. Sebelum benar-benar menghilang dari
pandangannya, Vinct berteriak keras. “Aku akan menyusulmu segera Hana!”
Hana sama sekali
tak acuh dengan teriakan Vinct.
***
Tubuh Hana
langsung mengejang saat melihat tamu yang harus ditemuinya hari ini. Suaranya
tersangkut di tenggorokan saat itu juga. Hana tak menyangka dunia bisa sesempit
ini, mengapa dia harus dipertemukan dengan mereka lagi?
Kakinya hampir
saja melangkah mundur kalau dia tidak ingat bahwa dia harus bersikap
profesional kali ini. Setelah meyakinkan bahwa dirinya akan baik-baik saja
setelah ini, Hana melangkah dengan penuh wibawa ke arah namja-namja itu.
Super Junior.
“Annyeong
haseyo..” sapa Hana ramah begitu berdiri di meja mereka, mereka semua
langsung menatapnya dengan wajah kaget yang tidak bisa disembunyikan.
“Hana-ssi,”
gumam Donghae lirih, Hana membalasnya dengan senyuman ramah─yang setengah
terpaksa.
“Ne, aku
dari Vinct Boutique yang akan menangani kalian dalam busana selama di sini.”
Jelas Hana tanpa menatap namja-namja di depannya. Sedikit pertanyaan
melintas dipikiran Hana, jika Super Junior ada di sini, kemana Lee Hyukjae?
Hana sama sekali tak melihatnya ada di kumpulan namja-namja itu walau
pun dia baru sekali melihat.
Hana merasakan
sesuatu mendesak hatinya, perasaan rindu ingin melihat namja itu, meski
hanya sekilas. Namun Hana juga merasakan suatu perasaan takut kalau ia
benar-benar melihat Lee Hyukjae walau hanya sekali, Hana takut dia tak bisa
menahan diri. Hana tak mau itu terjadi, Eunhyuk tak boleh bersamanya karena ia
akan menghancurkan Suju dan karir namja yang sangat dicintainya itu jika
sampai mereka bersama.
“Duduklah,”
suruh Leeteuk setelah bisa mengendalikan kekagetannya.
Hana menurut
tanpa menginterupsi perkataan Leeteuk sama sekali.
“Bagaimana
kabarmu?” Tanya Leeteuk kemudian setelah Hana duduk di kursinya.
Yeoja di
hadapannya tak langsung menjawab, melainkan mengangkat wajah dan menatap wajah
Leeteuk sebentar.
“Leeteuk-ssi,
bisakah kita akhiri pertanyaan basa-basi ini dan langsung mendiskusikan
pekerjaan?”
Leeteuk
mengerjap kaget mendengar pertanyaan Hana yang tanpa basa-basi, tapi Donghae
langsung menyela dengan sebuah pertanyaan.
“Hana-ssi,
apa tak ada yang ingin kau ketahui terlebih dahulu?” tanya Donghae pelan, Hana
memandangnya dengan alis terangkat satu. Sementara yang lain segera menatap
Hana dengan mimik penasaran.
“Ne?”
balas Hana.
Donghae menghela
napas sebelum berkata, “Misalnya dimana Lee Hyukjae sekarang?”
Tak ada yang
menyadari bahwa Hana langsung menahan napas mendengar nama itu disebutkan, Hana
sangat pintar menyembunyikan ekspresinya. Setelah diam beberapa detik, Hana
langsung menyunggingkan senyuman tipis.
“Ah, mianhae.
Aku benar-benar tak sopan karena tak sadar bahwa ada satu orang di antara
kalian yang hilang.” member Suju terlongo tak percaya, “dimana Eunhyuk-ssi?”
setelah menyebutkan nama itu, Hana diam-diam menyembunyikan tangannya ke bawah
meja lantas segera melepaskan gelang perak pemberian Eunhyuk─yang tak pernah ia
lepas sebelumnya─dan buru-buru memasukkannya ke dalam saku baju.
Kyuhyun yang
pertama kali menyudahi acara melongonya langsung menjawab, “Hyung baru
tiba di Paris satu jam yang lalu karena harus menyelesaikan pekerjaannya dulu,
dia akan menyusul beberapa menit lagi.”
Hana mengangguk
perlahan, “Baiklah, jadi apa kita akan menunggu Eunhyuk-ssi datang dulu
atau langsung membahas perihal pekerjaan sekarang?”
Walau Hana
berbicara dengan nada yang sangat datar, di dalam hatinya ia merasa sangat
cemas akan bertemu dengan Eunhyuk. Dia belum siap, tak akan pernah siap jika
harus bertemu Eunhyuk lagi dalam keadaan seperti ini.
Leeteuk menatap
wajah datar Hana sekali lagi sebelum menghela napas dan menyerukan
keputusannya, “Kita bisa membicarakannya sekarang, silakan Hana-ssi.”
Hana menarik
kedua sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman lega, dia lalu segera
membicarakan masalah pekerjaan agar bisa cepat-cepat pergi dari tempat ini
tanpa harus bertemu dengan Eunhyuk.
***
Eunhyuk menguap
sepanjang perjalanan ke kafe tempat dimana ia dan anggota Suju lainnya rapat
dengan salah satu desainer Vinct Boutique untuk membicarakan busana yang akan
mereka pakai selama SuShow di sini. Sebenarnya ia ingin sekali tidur seharian
ini tanpa harus pergi kemana-mana, perjalanan dari Korea ke Paris telah
menghabiskan banyak tenaganya, apalagi dia langsung lepas landas setelah pulang
dari drama musikalnya tanpa sempat istirahat terlebih dahulu.
Sampai di depan
kafe, Eunhyuk merapatkan topi yang dipakainya melihat beberapa yeoja
mulai berbisik-bisik sambil menatap ke arahnya. Namja itu menelan ludah
lalu buru-buru masuk ke dalam kafe, setelah menanyakan kepada resepsionis
dimana teman-temannya menunggu, seorang pelayan mengantarkannya ke lantai dua,
ke sebuah ruangan VIP yang tampak sunyi. Namja itu melepas topinya, lalu
menguap lebar sekali lagi sebelum akhirnya membuka pintu tanpa mengetuk.
Mata Eunhyuk
yang sipit langsung membelalak sempurna melihat seorang yeoja yang
selama ini sangat dirindukannya ada di sana, yeoja itu juga sedang
menatapnya, tapi tatapannya terlalu abstrak untuk diartikan.
Eunhyuk menahan
napas, rasa kantuknya hilang seketika begitu melihat Hana di sana. Jantung
berdetak sangat kencang, sama seperti dua tahun lalu, jantungnya juga akan
berulah seperti ini setiap Hana ada dalam jarak pandangnya. Secuil rasa
bersalah sekaligus bahagia langsung berlomba-lomba merangsek masuk ke dalam
sukmanya.
Tatapan Eunhyuk
langsung meredup seketika, “Hana-ya..” gumamnya lirih, nyaris tak
bersuara.
Hana segera
mengalihkan pandangannya ke bawah begitu mendengar gumaman Eunhyuk barusan.
Jantungnya langsung bertalu-talu dengan heboh, namun perasaannya langsung
berubah tak keruan. Itu benar-benar Eunhyuk. Lee Hyukjae. Namja yang sangat dirindukannya
tapi tak pernah mau ia temui, Hana memang belum siap bertemu Eunhyuk lagi, tak
akan pernah siap kalau rasa itu masih saja bercokol di hatinya. Ini terlalu
cepat bagi Hana.
Keduanya hanya
diam sambil menundukkan kepala masing-masing dengan perasaan kacau. Suara
Leeteuklah yang akhirnya membuat Hana dan Eunhyuk tersedot ke alam nyata lagi.
“Eunhyuk-ah,
kau sudah datang.” Nada suara Leeteuk yang sama sekali bukan merupakan
pertanyaan melainkan pernyataan membuat Eunhyuk hanya bisa tersenyum tipis.
Sadar bahwa dia
harus professional, Hana segera berdiri untuk menyapa Eunhyuk. Dia
membungkukkan badannya 90° sambil tersenyum kaku. “Annyeong haseyo Eunhyuk-ssi,
aku Kim Hana yang akan mengurusi masalah busana kalian.”
Eunhyuk
menggeram mendengar nada suara Hana yang begitu formal, dia mengambil langkah
lebar-lebar hingga sampai tepat di hadapan Hana. Ditatapnya mata yeoja itu
lekat-lekat.
“Kita perlu
bicara..” kata Eunhyuk tajam tanpa basa-basi.
“Hyuk-ah,
duduklah dulu, kau baru datang, tidak sopan bersikap seperti itu pada Hana-ssi.”
Tegur Yesung sambil menarik tangan Eunhyuk untuk duduk, Eunhyuk langsung
menepisnya.
“Hana-ya,
kita perlu bicara.”
Hana
memberanikan diri menatap Eunhyuk walau rasanya ia ingin menangis saat ini
juga, “Mianhae Eunhyuk-ssi, aku baru saja selesai. Kau bisa
menanyakan apa yang tadi kami bahas kepada Leeteuk-ssi.”
Eunhyuk
bergeming.
Hana membalikkan
badan dan membungkuk sekali lagi pada kesembilan namja lainnya, “Kamsahamnida
atas waktunya, besok pegawai kami akan mengantarkan pesanan kalian ke langsung
ke hotel.” Jelas Hana sebelum kakinya melangkah untuk keluar dari ruangan.
Langkah Hana
terhenti begitu Eunhyuk mencekal tangannya, “Kau tak akan kemana-mana sebelum
kita bicara..”
Aliran darah
Hana serasa membeku begitu hidungnya mencium aroma parfum Eunhyuk yang sudah
sangat dikenalnya. Dengan berusaha mempertahankan kesadaran atas kendali
dirinya, Hana berusaha melepaskan cekalan tangan Eunhyuk walau sia-sia karena namja
itu menggenggam tangannya begitu erat.
Hana memutar
otaknya berusaha mencari alasan agar ia bisa melepaskan diri dari Eunhyuk.
“Mianhae
Eunhyuk-ssi, tunanganku sudah menunggu di parkiran.” Akhirnya alasan
itulah yang terlintas di benak Hana, Hana langsung memaki dirinya sendiri
begitu kata-kata tersebut meluncur dengan mulus dari bibirnya. Tunangan? Pacaran
saja Hana tak pernah lagi! Bagaimana kalau Eunhyuk menanyakan siapa
tunangannya? Mati dia! Kim Hana babo!
Dugaan Hana sama
sekali tak meleset, namja di depannya ini malah memicing ke arahnya seolah ia
berbohong─well, Hana memang berbohong.
“Hana, kau sudah
selesai?” panggilan seorang namja─yang berbicara dalam bahasa
Prancis─berhasil membuat seluruh orang di ruangan itu menatap ke arah pintu. Di
sana Vinct sedang berjalan ke arahnya juga Suju.
Vinct tersenyum
ramah setibanya di hadapan member Suju, “Good Morning..” sapanya
dalam bahasa Inggris, dia lalu menoleh pada Hana dengan dengan kening mengerut.
“Hana, kau kenal dengan Eunhyuk?”
Eunhyuk
mengernyit mendengar namanya dibawa-bawa, tapi dia sama sekali tak mengerti
ucapan Vinct sebab Vinct berkata dalam bahasa Prancis saat berbicara dengan
Hana.
Seperti tersadar
akan sesuatu, Hana buru-buru melepaskan cekalan tangan Eunhyuk dan berpindah ke
samping Vinct. Dia menggandeng tangan Vinct dengan mimik yang langsung berubah
ceria─Hana hanya berpura-pura, tapi aktingnya sangat bagus hingga semua orang
tertipu.
Melihat Eunhyuk
menatap tajam ke arah Vinct, Hana segera menatap Vinct dengan pandangan mesra,
membuat kerutan di kening Vinct semakin bertambah banyak. “Vinct, bantu aku..”
bisik Hana dalam bahasa Prancis agar tak seorang pun mengerti pembicaraan
mereka.
“Apa maksudmu?”
balas Vinct.
“Ikuti saja apa
mauku, setuju? Nanti kujelaskan di luar.”
Karena bingung,
Vinct akhirnya hanya bisa mengangguk, dibiarkannya Hana menggandeng tangannya
walau pun dia sedikit risi melihat tatapan member Suju yang seperti
mendakwanya. Sebenarnya apa hubungan Hana dan Suju?
“Leeteuk, how
is the result? I don't wrong choose Hana as responsible person above Suju, isn’t
it? She is the best designer in my boutique..” kata Vinct sambil tersenyum
pada Leeteuk.
Leeteuk balas
tersenyum walau dia canggung dengan tatapan Eunhyuk yang begitu menusuk pada
Vinct, “Well done, Mr. Vinct. She is really a good designer.”
“Kau tunangannya
Hana?” Tanya Eunhyuk spontan karena benar-benar tak tahan melihat Hana
menggandeng tangan namja itu, saking spontannya dia sampai lupa menggunakan
bahasa Inggris dan malah bicara dalam bahasa Korea.
Mendengar Eunhyuk
berbahasa Korea, Vinct jelas saja bingung, dia baru saja akan menanyakan apa
maksud perkataan Eunhyuk barusan saat Hana tiba-tiba saja mencubit lengannya
kecil, isyarat yang berarti dia harus diam.
Hana lantas
menyahuti ucapan Eunhyuk dalam bahasa Korea juga, membuat Vinct diam karena
sama sekali tak mengerti apa yang sedang mereka bicarakan. “Ne, Eunhyuk-ssi.
Dia adalah namja yang kubilang sebagai tunanganku, 3 bulan lagi kami
akan menikah.”
Eunhyuk langsung
mencelos saat itu juga. Tubuhnya serasa dilolosi tulang belulang yang membuat
lututnya lemas dan hampir tak bisa berdiri, Eunhyuk segera mengempaskan
tubuhnya di kursi yang tadi Hana duduki dan meringis sakit dalam hati. Jadi
selama ini hanya dia sendiri yang masih mencintai Hana? Hanya dia sendiri yang
mati-matian mengusir Hana dari pikirannya? Sedangkan Hana di sini sama sekali
tak seperti dirinya, Hana malah menemukan namja lain, menggantikan
posisi Eunhyuk dengan mudah. Untuk kedua kalinya, Eunhyuk harus sakit hati lagi
di hari pertama pertemuannya dengan Hana. Namja itu hanya dapat
mengepalkan tangan kuat-kuat agar emosinya stabil dan dia tak langsung memukuli
Vinct saat ini juga.
Donghae yang
duduk di sebelahnya menggenggam tangan Eunhyuk kuat-kuat saat melihat ekspresi namja
itu. Donghae mengerti perasaan Eunhyuk, dia pasti sangat sakit hati karena
penantiannya selama ini sia-sia saja.
“Kuatkan dirimu
Hyuk-ah,” bisik Donghae lirih.
Hana menahan
hasrat dalam dirinya untuk melirik ke arah Eunhyuk, tapi hasratnya kalah oleh
perasaannya. Lewat ekor matanya yeoja itu melirik ke arah Eunhyuk, dan dia
langsung menyesal mengapa kalah oleh perasaannya. Hana melihat Eunhyuk sedang
menundukkan kepalanya, menatap tangan. Ekspresinya tak dapat dilukiskan, tapi
yang pasti Eunhyuk terluka. Dalam hati Hana bersorak senang begitu tahu bahwa
Eunhyuk masih mempunyai rasa yang sama dengannya. Hana menggigit bibirnya,
menahan diri.
Hana menyapu
pandangan pada semua member Suju yang memandanginya dengan tatapan
yang─entahlah, Hana hampir tak bisa mendefinisikannya. Ada campuran simpati,
kesal, putus asa, juga perasaan lain yang berebutan memancar dari bola mata namja-namja
itu.
“Aku dan Vinct
harus segera pergi, annyeong..” pamit Hana, dia buru-buru menarik tangan
Vinct cepat-cepat─membuat Vinct menggerutu sepanjang jalan.
Setelah Hana dan
Vinct menghilang dari pandangan, semua member Suju segera menatap ke
arah Eunhyuk simpati.
“Kau harus
segera melupakannya hyung,” kata Kyuhyun yang diamini anggukan mantap
semua member.
Eunhyuk
bergeming, dia tetap memandangi tangannya tanpa berucap sepatah kata pun.
***
“Kau gila?!”
hardik Vinct saat Hana memberitahu tentang sandiwara yang tadi mereka mainkan
setibanya di ruang kerja Vinct.
Vinct mengurut
pelipisnya yang tiba-tiba saja berdenyut mendengar cerita Hana, namja
itu lalu duduk di sofa dengan tangan tak lepas dari pelipisnya. Melihat Vinct
yang tampak begitu frustasi, Hana merasa sedikit menyesal telah menyeret namja
itu dalam masalahnya.
“Maaf Vinct,
saat itu aku tidak punya pilihan lain selain berbohong. Dan satu-satunya orang
yang terlintas di otakku hanya kau.” kata Hana jujur, yeoja itu meremas
tali tasnya dengan gundah. “Aku tak mau dia kembali Vinct, aku tak mau
menghancurkan hidupnya lagi. Aku mohon bantu aku..” imbuhnya kemudian dengan
suara bergetar menahan tangis.
Vinct
mendongakkan kepalanya, lantas mendesah. Dia paling tidak suka melihat Hana
sudah bereskpresi seperti itu. Bagaimana pun ia sangat menyayangi Hana. Hana sahabat
sekaligus adik terbaik yang pernah ia miliki.
“Huh, kau ini..”
seru Vinct kemudian seraya menghampiri Hana, diacaknya rambut yeoja itu
lembut. “Aku hanya takut Fleuri marah, kau tahu kan dia sangat pecemburu?”
tanya Vinct, Fleuri adalah tunangannya─lebih tepatnya calon istri karena bulan
depan mereka akan menikah.
Hana mengangkat
wajah, menatap Vinct dengan tatapan yang super memelas─Vinct mendengus dalam
hati, tahu ia akan kalah.
“Aku yang akan
bicara pada Fleuri, bagaimana? Mereka di sini hanya seminggu kok, aku yakin
Fleuri akan mengerti. Dia juga temanku.” kata Hana panjang lebar, “bantu aku ya
Vinct? Sekaliii saja.” sambung Hana memperlihatkan puppy eyesnya.
Vinct memutar
bola matanya malas, “Jelaskan hari ini juga atau gadis itu akan membunuhku
sesegera mungkin..”
Senyum Hana
terkembang, “Ah, kau memang sahabatku yang paling baik Vinct. Merci..”
***
Sudah sehari
Eunhyuk berdiam diri di kamar hotelnya. Dia tidak melakukan apa pun padahal
manajernya sudah memaki ia habis-habisan agar ia mau berlatih bersama yang
lainnya untuk Super Show 4 hari mendatang. Kali ini Eunhyuk benar-benar
bersikap keras kepala, membuat Leeteuk terpaksa memohon pada manajer mereka
agar Eunhyuk diizinkan istirahat dua hari─usul ini juga disetujui oleh member
lain dan Eunhyuk sendiri yang berjanji setelah dua hari ia benar-benar akan
kembali seperti semula.
Karena itulah,
Eunhyuk sekarang ada di kamarnya, sedang menatap foto di tangannya dengan nanar.
Dulu, tawa dan senyum itu hanya untuknya, miliknya. Tapi sekarang Kim Hana
sudah memiliki orang lain, tawa dan senyum itu bukan untuknya lagi.
Eunhyuk mendesah
galau, dia menenggelamkan wajahnya dalam bantal. Menyesal mengapa takdir begitu
tak adil padanya. Saat dia dipertemukan lagi dengan Hana, mengapa Hana sudah
melupakannya?─bahkan memiliki kekasih lain─sementara ia sama sekali tak bisa
menghapus Hana dari otaknya. Hana begitu kuat tertempel di otaknya, seperti
kertas yang di tempel dengan lem super.
Tadinya, Eunhyuk
pikir saat mereka bertemu lagi semua dapat kembali seperti semula. Hana masih
mencintainya, begitu pun dia. Namun keadaan berkata lain, Hana sekarang tak
lagi mencintainya. Eunhyuk sempat berpikir bahwa kebersamaan mereka selama lima
tahun tak akan mudah dilupakan begitu saja, namun Hana ternyata melupakannya. Kenangan
lima tahun bukan apa-apa untuknya.
Kejadian di kafe
kemarin kembali terputar dalam otak Eunhyuk secara tiba-tiba. Eunhyuk merasakan
hatinya terkikis secara perlahan─namun pasti─apalagi saat bayangan Hana yang
menggandeng namja itu menari-nari dalam benaknya.
Karena tak ingin
semakin larut dalam perasaan tak tentunya, Eunhyuk beranjak dari kasur lalu
duduk di jendela kamar hotelnya. Ditatapnya langit malam tanpa bintang di atas
sana. Langit sangat gelap, seolah tahu isi hatinya saat ini. Eunhyuk termenung.
Setelah menit
demi menit berlalu tanpa ada kegiatan lain, Eunhyuk akhirnya memutuskan untuk
jalan-jalan mencari udara segar di luar hotel.
“Hyung,
kau mau kemana?” tanya Siwon saat berpapasan dengan Eunhyuk di lobi hotel.
Eunhyuk hanya
menatap Siwon sekilas tanpa menjawab pertanyaannya. Namja itu tetap
melanjutkan langkah, meninggalkan Siwon dengan kening berkerut samar.
Udara malam
terasa begitu segar. Eunhyuk berjalan di sekitar daerah hotel dengan langkah
pendek-pendek, dia mencoba menikmati jalan-jalannya kali ini. Setelah hampir 30
menit berputar-putar tak jelas, namja itu mulai merasakan lelah. Eunhyuk
berjalan menuju ke arah taman tak jauh dari tempatnya berdiri sekarang, dia
mengedarkan pandangan ke sekeliling taman hingga matanya tak sengaja menangkap
adegan ciuman sepasang kekasih.
Mula-mula,
Eunhyuk sama sekali tak peduli, tapi begitu melihat dengan jelas siapa namja
yang sedang berciuman itu dia langsung membelalakkan mata maksimal. Sebuah
amarah langsung meluap-luap di dadanya, Eunhyuk langsung berlari menerjang namja
itu. Dilayangkannya satu pukulan mentah tepat ke wajah.
“Berani-beraninya
kau!” hardik Eunhyuk lalu kembali menyerang secara membabi-buta.
***
Kim Hana sedang
menatap menara eiffel dari balkon apartemennya. Pemandangan menara eiffel di
malam hari sangat indah, namun Hana tak bisa menikmatinya kali ini. Dia merasa
hampa─juga rindu. Semenjak pertemuannya dengan Eunhyuk kemarin, wajah namja
itu selalu berputar dalam benaknya. Hatinya mengaum-ngaum menggumamkan kata
rindu ingin memeluk. Tapi Hana menahannya, dia tahu dia tak boleh egois.
Hana mengulur
napas dengan lamat, berharap sesak yang menghimpit dadanya dapat menguap
seiring dengan embusan napasnya.
Esok dia harus
bertemu Suju lagi untuk memastikan bahwa apa yang ia kerjakan benar atau tidak.
Itu berarti dia harus melihat Eunhyuk lagi, orang yang paling tidak ingin ia temui
saat ini. Hana benar-benar merasa dilema dengan hidupnya saat ini.
Lee Hyukjae.
Nama itu menari-nari di otaknya, membuat ia mundur ke dua tahun yang lalu saat
mereka masih bersama. Kenangannya dengan namja itu benar-benar banyak.
Dan tak ada satu pun dari kenangan itu yang tak indah─kecuali saat mereka
berpisah.
Hana mendongak
menatap langit, lalu mendesah putus asa. Pertanyaan-pertanyaan yang diawali
dengan apa─seperti; apa yang sedang dilakukan Eunhyuk sekarang?, apa Eunhyuk baik-baik saja?, apa Eunhyuk
memikirkannya seperti ia memikirkan Eunhyuk?, apa Eunhyuk merasa sakit hati
atas kejadian kemarin?, juga apa-apa lainnya─berseliweran di otaknya, membuat
ia merasa frustasi.
Hana menutupi
wajahnya dengan tangan, menyesal mengapa ia tak bisa menghilangkan bayangan namja
itu dari otaknya. Detik berikutnya Hana mengisi pasokan oksigen dengan rakus
saat mendengar bel apartemennya berbunyi. Dia melangkah untuk membukakan pintu
tanpa melihat siapa tamunya terlebih dahulu melalui interkom.
Saat pintu
terbuka sempurna, Hana langsung membeku karena tubuhnya didekap seseorang
dengan erat. Dan Hana jelas tahu siapa namja yang sedang memeluknya ini
jika dicium dari baunya. Lee Hyukjae.
Hana sempat
terlena beberapa saat, dia begitu menikmati pelukan Eunhyuk tanpa sepatah kata
pun terucap sampai kesadaran menampar otaknya. Hana langsung mendorong tubuh
Eunhyuk. Dia berusaha menyembunyikan debaran jantungnya yang menggila dengan
wajah datar.
“Eunhyuk-ssi?
Sedang apa kau di sini?”
Eunhyuk
mendengus, dia memegang pundak Hana dengan lembut, ditatapnya mata Hana
dalam-dalam.
“Kau berbohong
padaku, Kim Hana.” kata Eunhyuk tajam.
Sambil berusaha
menepis tangan Eunhyuk dari bahunya, Hana mengernyit. Badannya mulai panas
dingin membayangkan apa yang akan Eunhyuk katakan.
“Vinct bukan
tunanganmu,” tandas Eunhyuk, bibirnya membentuk seringaian yang membuat bulu
kuduk Hana berdiri.
“Kau jangan asal
menyimpulkan, Eunhyuk-ssi.” balas Hana, matanya berpendar ke kiri dan
kanan menghindari tatapan Eunhyuk.
Satu tangan
Eunhyuk memegang dagu Hana, membuat yeoja itu mau tak mau menatap
matanya.
“Tidak, itu
benar. Vinct sendiri yang mengatakannya padaku, dia bahkan sudah punya
tunangan, dan itu jelas bukan kau.” seringaian di bibir Eunhyuk tambah lebar.
Sial!
Bagaimana Vinct bisa membocorkan hal seperti itu? Fleuri bahkan tak keberatan,
tapi mengapa Vinct tega menghianatinya? Hana meringis dalam hati.
“Baik, baik. Aku
memang tidak ada hubungan apa-apa dengan Vinct, tapi aku sudah melupakanmu.
Jadi, tolong jangan muncul lagi di hadapanku.” aku Hana sambil mundur, tangan
Eunhyuk berhasil lepas dari bahunya dengan hentakan kuat.
Hana berbalik
masuk, mencoba tak menghiraukan Eunhyuk yang ternyata malah mengikuti
langkahnya. Sampai di ruang tamu, Hana berhenti. Dia membalikkan badan lalu
menatap Eunhyuk tajam.
“Sudah kubilang
untuk menjauhiku, Eunhyuk-ssi.” desis Hana, mulai tak sabar karena
jantungnya terus bertalu-talu tak tentu. Hana masih sangat mencintai Eunhyuk,
sebab itulah dia tak mau lagi berdekatan dengan Eunhyuk atau tekadnya utuk
melepas namja itu bisa goyah seketika. Berdekatan dengan Eunhyuk dapat
membuat sistem sarafnya rusak seketika.
“Mianhae
Hana-ya, aku tak percaya dengan ucapanmu.” tukas Eunhyuk lantang, “aku
masih sangat mencintaimu, dan Vinct juga bilang kau tak pernah bisa melupakanku.
Kembalilah Hana-ya, kita mulai semuanya dari awal.” bujuk Eunhyuk, dia
mulai memupus jarak di antara mereka hingga berhenti satu meter di depan Hana
yang mematung.
“Eunhyuk-ssi.
Itu, tidak benar.” elak Hana dengan suara pelan, Hana menundukkan kepalanya
dalam-dalam, sekeras mungkin menghindari mata Eunhyuk.
“Yang tidak
benar adalah penyangkalanmu barusan,” sergah Eunhyuk, nada suaranya mulai
meninggi. Eunhyuk kembali mempersempit jarak di antara mereka, kembali
diangkatnya wajah Hana agar yeoja itu mau menatapnya.
“Sudah cukup kau
membohongi dirimu sendiri. Lihat mataku.” perintah Eunhyuk.
Pelan, Hana
menatap mata namja di depannya. Diselaminya bola mata Eunhyuk hingga ia
merasa tertampar karena menemukan cinta yang masih seperti dulu─tanpa berkurang
kadarnya─di dalam bola mata Eunhyuk.
“Kita mulai
semuanya dari awal, arraseo?”
Hana baru saja
akan mengangguk ketika bayangan Super Junior yang hancur melintas di benaknya. Yeoja
itu langsung menunduk, menggeleng kuat-kuat.
“Tidak Eunhyuk-ssi,
meski pun kau benar─kalau aku masih sangat mencintaimu─aku tak akan pernah
kembali padamu.” kata Hana dengan suara bergetar.
Eunhyuk tak bisa menyembunyikan
raut kecewanya, “Waeyo?”
“Aku tidak ingin
menghancurkan karirmu, terlebih Suju.”
Seketika, tawa
Eunhyuk pecah. Hana mengangkat wajah sambil mengernyit memandangi Eunhyuk yang
terpingkal-pingkal.
“Ada yang salah?”
“Ya, tentu saja.”
sahut Eunhyuk sambil berusaha berhenti tertawa, “aku sudah memikirkan itu, baboya!”
tukas Eunhyuk kemudian, dia menarik pinggang Hana mendekat hingga Hana harus
menahan napas karena jarak mereka yang terlalu dekat.
“Apa maksudmu?”
“Aku akan
mengundurkan diri dari Suju setelah Super Show ini berakhir, membuka toko,
melamarmu, lalu kita akan hidup bahagia.”
Hana menatap
Eunhyuk dengan kaget, “Bagaimana bisa kau memutuskan hal seperti itu? Babo,
bagaimana dengan fansmu?”
Eunhyuk memutar
bola matanya tak acuh, “Kau yang babo. Panggil aku oppa, dan aku tidak
menerima protes.”
Hana baru saja
akan melayangkan protes saat bibir Eunhyuk tiba-tiba saja menempel di bibirnya.
Mata Hana terbelalak, apalagi dia bisa melihat seringaian Eunhyuk sebelum
bibirnya bergerak di atas bibir Hana.
Sial! Dia
benar-benar kalah kali ini.
Hana akhirnya
menyerah, dia melingkarkan kedua tangannya di leher Eunhyuk dan membalas ciuman
pria yang sangat dicintainya ini dengan penuh kerinduan.
***
“Kau gila, Hyuk?
Bagaimana dengan jewels dan elfs? Kau akan mengabaikan mereka begitu saja?”
hardik Leeteuk saat Eunhyuk mengutarakan niatnya keluar dari Suju.
Semua tatapan
tajam member Suju sekarang terarah pada Eunhyuk. Eunhyuk hanya menggaruk
tengkuknya sambil memamerkan cengiran lebar.
“Mianhae
Hyung, aku hanya berpikir ini yang terbaik bagi semuanya. Kehilangan Hana dua
tahun cukup membuat aku sadar bahwa Hana sangat berarti bagiku, karena itu aku
memutuskan untuk keluar daripada Suju harus bubar gara-gara paparazzi
menangkap basah aku dan Hana lagi. Kau tahu Lee Sooman tak pernah main-main
dengan ancamannya, makanya aku ingin mengundurkan diri daripada harus membuat
skandal dan disuruh memilih kalian atau Hana lagi.” jelas Eunhyuk panjang
lebar.
Member Suju
sempat terpana mendengar penjelasan Eunhyuk sebelum mereka menghela napas
secara bersamaan.
“Suju tak akan
lengkap tanpamu hyung,” ujar Kyuhyun membuat semua member menatapnya
takjub, ditatap seperti itu Kyuhyun tersenyum evil lalu melanjutkan. “Meski
pun kau mirip monyet.”
“Yak!” pekik
Eunhyuk tak terima, member Suju pun bisa sedikit tertawa karenanya.
“Hyuk, kau sudah
yakin dengan keputusanmu?” tanya Donghae sungguh-sungguh.
Eunhyuk
memandang sahabatnya itu sebelum mengangguk yakin.
“Kau sudah
berbicara dengan manajer hyung?” Leeteuk kembali mengambil alih
pertanyaan.
Eunhyuk
lagi-lagi mengangguk, “Manajer hyung bilang dia tidak bisa mendebat
keputusanku dan menyuruhku untuk berbicara langsung pada Lee Sooman.”
Ryeowook yang
paling pertama bereaksi dengan jawaban Eunhyuk, dia langsung memeluk tubuh
Eunhyuk sambil menangis. Eunhyuk juga langsung menangis begitu Ryeowook
memeluknya. Tak berapa lama semua member Suju langsung menangis sambil memeluk
Eunhyuk.
“Semoga kau
bahagia dengan pilihanmu kali ini.” kata Yesung di tengah-tengah tangisnya,
diangguki yang lainnya dengan serempak. Bahkan Kyuhyun yang biasanya anti
menangis pun ikut menangis mengetahui mereka akan berpisah sebentar lagi.
***
Eunhyuk Super Junior keluar dari Suju?
Dikabarkan bahwa salah satu member Suju yang dijuluki dancing
machine Rabu kemarin menemui Lee Sooman untuk mengundurkan diri dari
Super Junior.
Sejauh ini, Lee Sooman mau pun Eunhyuk sendiri telah membenarkan bahwa
Eunhyuk benar-benar akan keluar dari Super Junior.
“Aku keluar karena tidak ingin salah memilih lagi,” jelas Eunhyuk
begitu diwawancarai.
Disinyalir bahwa keluarnya Eunhyuk berhubungan erat dengan yeoja
yang digosipkan dua tahun lalu dengannya─Kim Hana. Kabar burung menyebutkan
bahwa keduanya akan segera menikah dalam kurun waktu dekat. Pihak Suju
belum membenarkan soal pernikahan ini. Objek terkait─Eunhyuk─belum
mengonfirmasi mengenai ini sama sekali.
|
Sungmin melempar
tabloid di tangannya ke arah sofa, lalu mengerang.
“Berita Eunhyuk
benar-benar menjadi headline utama semua tabloid.” gerutunya pada member
Suju yang sedang ada di dorm. Mereka sudah kembali ke Korea sejak 3 hari
yang lalu, dan kemarin Eunhyuk telah membicarakan masalah pengunduran dirinya
pada Lee Sooman. Lee Sooman benar-benar marah besar─seperti dugaan Eunhyuk
sebelumnya─karena itulah ia langsung menyetujui pengunduran diri Eunhyuk tanpa
pikir panjang.
Eunhyuk juga ada
di sana, sedang cengar-cengir sambil menatap ponselnya, dia benar-benar akan
keluar dari dorm setelah konferensi pers seminggu lagi, pengeluarannya
secara resmi.
“Hyung,
jangan cengar-cengir seperti itu! Kau tidak lihat semua majalah gosip sedang
membicarakanmu?” hardik Siwon yang baru keluar dari dapur.
Eunhyuk hanya
melirik Siwon sekilas sebelum kembali menatap ponselnya. “Lalu aku harus
bagaimana? Biarkan saja mereka bicara sesuka hati.”
“Kau sudah
meminta maaf pada elfs dan jewels, Hyuk?” tanya Heechul yang sedang bermain PS
dengan Kyuhyun.
Pertanyaan
Heechul itu berhasil menghentikan senyum gila Eunhyuk, namja itu
akhirnya menyimpan ponselnya di samping tubuh.
“Aku sudah minta
maaf hyung, tapi mereka sepertinya sangat kecewa.” desah Eunhyuk putus
asa.
“Jangan
menyesalinya Hyuk, itu pilihanmu.” tegur Donghae yang baru saja keluar dari
kamar, namja itu menguap, terlihat jelas bahwa dia baru bangun tidur.
“Arra..”
balas Eunhyuk, “tapi aku sedih melihat mereka menangis.”
“Mereka hanya
belum terbiasa, Hyuk.” hibur Yesung, tangannya mengelus ttangkoma yang ada
dipangkuannya.
Saat itulah bel dorm
mereka berbunyi, wajah Eunhyuk langsung sumringah. Dia langsung berlari ke arah
pintu dorm dan membukanya. Senyumnya melebar melihat Hana berdiri dengan
banyak kantong di tangannya.
“Annyeong
oppa.” sapa Hana pada Eunhyuk, dia membungkukkan tubuhnya 90°.
Eunhyuk baru
saja akan memeluk Hana ketika hyung dan dongsaengnya datang.
“Annyeong
Hana-ah.” sapa member Suju serempak, Hana tersenyum manis lalu
kembali membungkuk sopan.
“Ayo masuk,”
ajak Eunhyuk.
Hana duduk di
sofa dekat Eunhyuk setelah sebelumnya memberikan kantong plastik yang dibawanya
pada Ryeowook.
“Aku kira kau
tak jadi ke sini.” Eunhyuk mengaitkan jemarinya dan Hana hingga bertautan, lalu
memainkan jemari mereka yang ada dalam genggamannya.
Hana terkekeh
pelan, “Kalau bukan eomma yang menyuruh aku juga tak akan ke sini, oppa.”
belanya.
Mata Eunhyuk
langsung mendelik, “Mwo? Jadi kau tak merindukanku?”
Tangan Hana yang
bebas mencubit pipi kiri Eunhyuk gemas, “Ayolah oppa, kemarin kau baru
saja ke apartemenku, kan?”
“Itu sudah lama
bagiku,” rajuk Eunhyuk memasang tampang sok imut, Hana tertawa lagi.
“Hyung,
berhenti memasang wajah sok imutmu itu, kau makin mirip monyet!” sahut Kyuhyun
di sela-sela main gamenya.
Eunhyuk melotot,
sedangkan tawa Hana makin lebar.
“Sopanlah
sedikit padaku, dasar evil!” umpat Eunhyuk tapi tak diindahkan Kyuhyun.
“Eommonim
sudah pulang?” tanya Eunhyuk mengalihkan pembicaraan, Hana mengangguk sambil
berusaha mengendalikan tawanya.
“Dia
menanyakanmu, makanya menyuruhku ke sini.” jawab Hana, “aku rasa eomma
sangat menyukaimu..” lanjut Hana setengah merajuk.
Gantian Eunhyuk
yang tertawa sekarang, diacaknya rambut Hana dengan lembut. “Berarti eommonim
benar-benar ingin aku yang menjadi menantunya.”
Hana mendengus
dengan tampang mengejek.
Tangan Eunhyuk
baru saja akan mencubit hidung Hana saat pintu masuk dorm terbuka dengan
bunyi dentuman yang keras, semua yang ada di sana langsung menoleh ke arah
pintu, mengernyit melihat Leeteuk dan manajer hyung berdiri di sana
dengan wajah cemas.
“Elfs dan jewels
di bawah, sedang memprotes keluarnya kau.” terang Leeteuk.
“Cepat ke bawah
Hyuk, Lee Sooman sajangnim juga ada di sana─sedang berusaha menenangkan.”
Mata Eunhyuk dan
yang lainnya membelalak, “Hyung, tapi Hana─”
“Bawa dia turun ke
bawah, sekarang!” tegas manajer hyung.
***
Hana memandangi
ratusan─atau ribuan─elfs dan jewels yang berkumpul di luar gedung SM sambil menyerukan
protes keras-keras karena keluarnya Eunhyuk dari Super Junior. Beberapa bahkan
menangis histeris, membuat Hana merasakan kecemasan─sekaligus takut─yang luar
biasa di hatinya. Hana mengeratkan genggaman tangan mereka, hatinya berdebar
tak keruan menyaksikan begitu banyak orang yang menyayangi kekasihnya ini.
“Oppa,
aku takut.” bisik Hana lirih saat mereka berdua berjalan ke arah Lee Sooman
yang sedang memasang wajah sebal.
Eunhyuk segera
menoleh pada Hana, saat itulah dia sadar bahwa Hana benar-benar ketakutan.
Dengan sekali gerakan, tangan Eunhyuk meraih pinggang Hana dan mendekapnya,
membuat jarak di antara keduanya makin sempit.
“Ada aku, Hana-ya.
Kau tak perlu merasa takut.”
Tatapan para elfs
dan jewels yang semula menatap ke arah Lee Sooman langsung mengarah pada
Eunhyuk dan juga Hana yang sedang berjalan ke arah mereka. Seketika, jerit
histeris terdengar riuh menyerukan nama Eunhyuk.
“Eunhyuk oppa..”
jerit mereka histeris.
Salah satu dari fans
itu maju ke depan─sepertinya otak dari protes kali ini─lantas berseru dengan
lantang ditengah seruan yang lainnya. “Eunhyuk oppa, mianhae
karena kami sempat mengecammu karena masalah ini. Kami benar-benar egois karena
tak memikirkan bagaimana tertekannya kau.” Katanya lalu mulai menangis lagi,
mata Eunhyuk sudah berkaca-kaca mendengarnya.
Seorang fans
lagi maju ke depan, menatap Eunhyuk dengan tatapan memelas disertai air mata
yang dibiarkan mengalir. “Eunhyuk oppa, kami lebih rela kau memiliki
seorang kekasih─bahkan istri─daripada harus membayangkan Super Junior tanpamu,
sudah cukup kami kehilangan Hankyung oppa, kami tak ingin kehilanganmu. Jangan
keluar, jebal.”
Para fans
mulai mengatakan ‘jebal’ dengan serempak, Eunhyuk sangat terenyuh. Air matanya
mengalir tanpa bisa ia cegah. Hana juga merasa sangat tersentuh dengan
pengorbanan fans Eunhyuk yang begitu besar, dia mengusap punggung
Eunhyuk lembut. Member Suju tak kalah tersentuh, mereka hanya dapat
menatap fans yang sangat mereka cintai itu dengan mata berkaca-kaca.
Fans yang
pertama maju tadi kini menatap Hana dalam-dalam, membuat Hana merasa kikuk. “Kim
Hana-ssi, kami benar-benar rela jika seandainya Eunhyuk oppa
menikah denganmu, tapi tolong jangan biarkan dia meninggalkan Super Junior.”
Hana benar-benar
tak bisa berkata apa-apa, dia hanya menatap fans itu simpati.
Eunhyuk akhirnya
berhasil mengatasi emosinya, namja itu mengusap air matanya dengan cepat
lalu memandang seluruh fans di hadapannya dengan ekspresi terharu yang
begitu kentara.
Dia lalu
membungkuk 90° berulang-ulang sebelum mengatakan, “Kamsahamnida
untuk semuanya, tapi aku─”
“Eunhyuk-ssi,”
panggilan Lee Sooman menginterupsi perkataan Eunhyuk. Pria tua itu akhirnya
membuka mulut, dia berjalan ke arah Eunhyuk. Berhenti di sebelahnya lalu
menatap orang-orang yang juga tengah menatapnya kini.
Pria tua itu
menatap Eunhyuk sekilas sebelum matanya kembali menyapu halaman SM yang kini
dipenuhi ratusan─bahkan ribuan, entahlah─fans Super Junior terlebih
jewels.
“Biar aku yang
bicara.”
***
Seorang yeoja
SMA menutup tabloid yang baru saja dibacanya dengan wajah berbinar, dia
mengalihkan tatapan pada teman di sampingnya lantas berujar dengan nada ceria. “Aku
benar-benar senang karena Lee Sooman akhirnya memutuskan untuk tetap
mempertahankan Eunhyuk oppa di Super Junior, perjuangan elfs dan jewels
minggu kemarin benar-benar hebat.”
Temannya ikut
mengangguk membenarkan, “Ne. Aku juga sangat senang karena Suju tidak
kehilangan satu anggota lagi. Lagipula apa salahnya jika oppadeul
memiliki kekasih? Toh menurutku mereka sudah dewasa.”
“Arraseo.
Ah, kau sudah lihat foto kekasih Eunhyuk oppa, kan? Dia benar-benar
cantik, pantas saja Eunhyuk oppa sangat mencintainya.”
Temannya hanya
mengangguk-anggukan kepala setuju sebelum kembali melahap es krim yang sudah
agak mencair di depannya.
Tak jauh dari
meja tempat kedua yeoja SMA tadi berbincang, Eunhyuk dan Hana─dengan
penyamaran lengkap─duduk sambil menikmati es krim strawberry mereka. Keduanya
saling melempar tatapan senang begitu mendengar berita bahwa hubungan mereka
direstui oleh Lee Sooman─tanpa Eunhyuk harus keluar dari Super Junior─dibicarakan
masyarakat luas.
Restu Lee Sooman
memang benar-benar di luar dugaan semua orang, apalagi mengingat begitu keras
kepalanya seorang Lee Sooman. Tapi keputusan Lee Sooman hari itu memang
benar-benar kabar bahagia untuk semua orang, apalagi Eunhyuk.
Setelah membayar
es krim, keduanya beranjak keluar kedai es krim tersebut sambil bergandengan
tangan. Kaki mereka melangkah menyusuri jalan menuju parkiran mobil.
Hana melirik jam
tangan yang melingkar di pergelangan tangannya, jam 9 malam. Yeoja itu
lalu melirik namja yang sedang berjalan berdampingan dengannya, sudut
bibirnya melengkung membentuk sebuah senyum manis mengingat bahwa namja
ini benar-benar miliknya sekarang. Senyumnya melebar mengingat fakta bahwa tak akan
ada lagi yang menghalangi hubungan keduanya mulai sekarang.
“Apa aku begitu
tampan sampai-sampai kau tak bisa berhenti menatapku?” goda Eunhyuk tiba-tiba
sambil menengokkan kepalanya menatap Hana.
Sadar tertangkap
basah, Hana buru-buru memalingkan wajahnya ke arah lain dengan pipi bersemu
merah. “Kau sangat percaya diri, Lee Hyukjae-ssi.” Desisnya.
Eunhyuk melebarkan
bola matanya sambil menatap Hana tak percaya, “Aigo. Jauhi Kyuhyun,
lama-lama kau makin mirip dengannya.” Gerutunya kesal.
“Yak! Kenapa kau
menyamakanku dengan bocah evil itu?” balas Hana tak terima.
“Karena kau
sudah berlaku tak sopan padaku,” jawab Eunhyuk sungguh-sungguh, ditatapnya mata
Hana dengan lekat. “Panggil aku oppa, aku sudah mengulang itu berapa
kali sih?”
Hana mengangkat
bahu dengan wajah santai, “Kau sensitif sekali oppa. Aku kan tadi hanya
bercanda,” gerutu Hana kemudian.
“Haha, aku juga hanya bercanda tadi. Kau sensitif
sekali Hana-ya.” Eunhyuk mengutip kata-kata Hana lalu tergelak
setelahnya.
Hana langsung
memandangi Eunhyuk dengan kesal, “Yak! Itu tidak lucu.” Pekik Hana lalu
menginjak kaki Eunhyuk keras-keras, yeoja itu segera berjalan
cepat-cepat menjauhi Eunhyuk sambil mengomel panjang-pendek karena sikap jail
Eunhyuk barusan.
Eunhyuk langsung
meringis memegangi kakinya yang diinjak Hana barusan, “Aish, yeoja itu.”
Desis Eunhyuk disela-sela ringisannya. Namja itu lalu berlari mengejar
Hana hingga langkah mereka sejajar.
“Mianhae
Hana-ya, jangan marah seperti itu. Aku tadi benar-benar hanya bercanda.”
Kata Eunhyuk sungguh-sungguh.
Hana hanya
memutar bola matanya sekilas dengan malas, sama sekali tak mengindahkan
permohonan maaf Eunhyuk.
Kesal terus
dianggap tak ada, Eunhyuk akhirnya menahan tangan Hana dan membalikkan tubuh yeoja
itu hingga mereka saling menatap.
“Wae?” Tanya
Hana tanpa minat, matanya melirik kanan-kiri mengamati orang-orang yang sedang
berlalu-lalang. Beberapa di antara orang-orang itu menatap mereka sekilas,
seolah tahu siapa mereka padahal Hana yakin syal, hoodie, juga kacamata
hitam yang mereka pakai sudah cukup untuk menutupi penyamaran mereka.
“Lihat aku saat
aku bicara Lee Hana.” Ujar Eunhyuk, tangannya bergerak cepat menarik wajah Hana
hingga yeoja itu mau tak mau menatapnya.
“Mwo? Lee
Hana?” mata Hana hampir meloncat keluar mendengar Eunhyuk memanggilnya begitu. “Sejak
kapan aku berganti marga?”
Seringain
mendadak muncul di wajah Eunhyuk, Hana menggerutu dalam hati, tahu bahwa
sebentar lagi sesuatu yang buruk akan menimpanya.
“Sejak kau
bertunangan denganku kemarin,” jawab Eunhyuk santai, “apa salahnya dengan marga
Lee? Toh sebentar lagi kau akan menyandang marga itu.” Imbuhnya.
“Tapi kita baru
bertunangan oppa, belum menikah. Aku tak akan berganti marga kalau
benar-benar belum menikah,” tukas Hana tajam.
Seringaian di
bibir Eunhyuk tambah lebar, namja itu mendekatkan wajahnya ke wajah Hana
hingga hanya terpaut 5 cm, ditatapnya mata Hana lekat-lekat dengan tatapan
menggoda. “Jadi kau ingin kita menikah sekarang juga, hm?”
Wajah Hana
memerah tanpa sadar, “Apa maumu?” sergahnya pelan, Hana semakin memundurkan
wajahnya saat wajah Eunhyuk mendekat.
“Mau menebak?”
goda Eunhyuk lagi, wajahnya terus mendekat hingga hidung mereka bersentuhan.
Bulu kuduk Hana
merinding merasakan terpaan napas Eunhyuk di kulitnya, dia menutup matanya
rapat-rapat.
Eunhyuk tertawa
terpingkal-pingkal melihat ekspresi Hana, namja itu segera menjauhkan
wajahnya dari wajah Hana sambil tetap tertawa.
“Apa yang kau
harapkan, Lee Hana?” ejeknya lalu berjalan sambil masih tertawa-tawa.
Hana buru-buru
membuka mata, ditatapnya punggung Eunhyuk di depan sana dengan jengkel. Wajahnya
memerah─malu, jantungnya pun sudah berdebar sangat heboh tadi. Tapi apa yang
terjadi? Eunhyuk mengerjainya! Ya, mengerjainya!
“Yak! Lee
Hyukjae!” teriak Hana keras lalu langsung mengejar Eunhyuk yang masih
tertawa-tawa.
Awas saja namja
itu!