Entri yang Diunggulkan

Series Recommendations! 🎥

Hi, happy Wednesday all! So decided to post my own personal series. I usually dont like watching movie, so because i watched those series ...

Jumat, 11 Februari 2011

HAL TERINDAH YANG PERNAH KUMILIKI

“Lintar kamu kenapa Lint?” Tanya Ozy khawatir sambil mengguncang-guncang tubuh Lintar yang sedang melamun.

Lintar menoleh, ia terlihat putus asa. Sinar di mata beningnya yang biasanya terlihat bercahaya kini perlahan-lahan redup, Lintar kembali melamun. Ozy semakin bingung melihat sikap sahabatnya sebulan belakangan ini, Lintar jadi sering melamun. Tak lama Alvin dan Rio datang membawa minuman kaleng

“Lintar belum mau ngomong Zy?” Tanya Rio sambil melempar sekaleng cola kearah Ozy, Ozy menangkapnya dan mengangguk kecil.

Alvin mendekati Lintar dan menyentuh dahinya, ia takut Lintar memang benar-benar sedang sakit “Kamu gak panas kok Lint. Jangan bengong terus dong, kamu sakit apa sih?” Tanya Alvin sambil menyodorkan sekaleng cola kearah Lintar. Lintar menoleh dan menatap teman-temannya sendu

“Yo, Vin, Zy gimana kalau aku mati?” Tanya Lintar tiba-tiba, pertanyaan Lintar membuat Alvin, Rio, dan Ozy kaget.

“Kamu ngomong apa sih Lint? Jangan ngaco deh” seru Rio tidak ingin menjawab pertanyaan Lintar yang menurutnya sangat bodoh.

“Aku serius” ujar Lintar dengan nada serius sambil memandang sedih teman-temannya, Alvin, Rio dan Ozy merenung, mereka tampak sedang berpikir.

“Kamu sahabat terbaik yang pernah kami miliki Lint, kami akan selamanya mengingatmu. Kamu akan terus hidup dihati kami” ujar Alvin mewakili Rio dan Ozy, Lintar tersenyum tulus ia memeluk sahabat-sahabatnya itu.

Setelah puas ia melepaskan pelukannya dia mengambil cola yang dari tadi dipegang Alvin dan segera meneguk isinya. Alvin, Rio dan Ozy menatap Lintar bingung karena sikapnya yang terus berubah-ubah.

Waktu pulang telah tiba tapi Lintar segera berlari menuju toilet, teman-temannya khawatir dan mengikutinya dari belakang.

UHUK…UHUK…….

Di dalam toilet itu Lintar terbatuk, ia menutup mulutnya dengan sapu tangan. Ketika ia membalikkan sapu tangannya ia melihat darah segar mengotori sapu tangannya itu.

Lintar bergumam sendiri “darah lagi, darah lagi” gumamnya pilu. Ia lalu keluar dari toilet itu dengan senyum yang di buat-buat, bibirnya pucat bukan main. Di luar sudah menanti sahabat-sahabatnya dan sang pacar yang selama ini menemaninya, siapa lagi kalau bukan Alvin,Rio, Ozy dan Nova, mereka menatap Lintar khawatir.

“Kamu sakit ya?” Tanya Nova cemas melihat bibir Lintar yang begitu pucat

“Enggak kok, aku cuman batuk dikit. Pulang aja yuk” sanggah Lintar sambil berjalan pergi menuju tempat parkir mobilnya.

Alvin, Rio, Ozy dan Nova mengikuti Lintar dari belakang. Dalam hati mereka terus bertanya-tanya, apa yang sebenarnya terjadi pada Lintar dan apa sebenarnya yang disembunyikan Lintar sebulan belakangan ini. Itu menjadi misteri bagi mereka karena Lintar tak pernah mau jujur.

Sepanjang perjalanan pulang mereka tidak banyak mengobrol, hanya sesekali Lintar menatap sahabat-sahabatnya itu sambil tersenyum. ‘Mungkin ini adalah hari terakhirku bisa melihat kalian’ kata Lintar dalam hati.

Sementara Alvin, Rio, Ozy dan Nova benar-benar tidak mengerti maksud dari tatapan dan senyuman Lintar tapi mereka benar-benar enggan untuk bertanya karena mereka tahu jawaban dari Lintar pasti akan seperti ini “Enggak kok, pengen aja liat kalian” atau “Iseng aja, gak boleh ya?”. Begitulah kira-kira tanggapan yang pasti akan di berikan Lintar, semua menghela nafas berat melihat sikap Lintar.

***

Hari demi hari berlalu dan hari ini adalah hari 2 semenjak Lintar tidak masuk sekolah, tidak ada keterangan sama sekali. Alvin, Rio dan Ozy tidak diberi tahu apapun, mereka sudah mencoba menghubungi Lintar tapi nomornya tidak aktif. Bahkan Nova yang notabene adalah pacar Lintar tidak tahu apapun, mereka tidak tahu apa yang terjadi pada Lintar, mereka benar-benar khawatir.

“Yo, Vin, Nov. hari ini kita ke rumah Lintar yah. aku bener-bener khawatir sama dia” ujar Ozy pada Alvin, Rio dan Nova dikantin ketika istirahat

“Aku juga Zy, aku takut tebakan aku bener. Aku takut kalau Lintar emang lagi sakit” ucap Nova khawatir, merekapun setuju dan akan menjenguk Lintar sepulang sekolah.

***

Sepulang sekolah mereka pergi kerumah Lintar bersama-sama.

“Permisi”kata Nova sopan sambil mengetuk pintu rumah Lintar. Pintu terbuka, terlihat seorang anak kecil yang tidak asing lagi bagi mereka, Najwa adik Lintar

“Ada apa?” Tanya Najwa dengan suara parau dan matanya terlihat sembab.

“De, abang Lintarnya ada?” Tanya Nova lembut sambil membelai rambut Najwa, Najwa memperhatikan Nova sebentar lalu kemudian memeluk Nova erat tanpa berkata sepatah katapun. Air mata perlahan mengaliri pipinya yang mulus, Najwa menangis. Nova kaget bercampur khawatir, perasaannya tak karuan. Nova takut kalau benar-benar terjadi sesuatu pada Lintar, tapi ia mencoba tenang agar Najwa juga tenang.

Alvin, Rio dan Ozy merasa ada yang tidak beres, mereka khawatir tampaknya memang ada sesuatu yang terjadi pada Lintar yang tidak mereka ketahui.

“De, abangnya mana?” Tanya Alvin setelah Najwa melepaskan pelukannya pada Nova, Najwa masih sesenggukan. Kemudian Najwa menatap mereka pilu

“A…ba…ng…. Abang Lintar….di…rumah..sakit” jawab Najwa terbata-bata.

Mata Alvin, Rio, Ozy dan Nova terbelalak, mereka benar-benar kaget, khawatir sudah tentu. Alvin, Rio, dan Ozy yang tadinya berdiri langsung berlutut saking lemasnya, perasaan mereka kini tak menentu

“Me…mang…nya Lin..tar sa…kit apa de…?” Tanya Rio yang kini terbata-bata, yang lain tidak bisa berkata-kata mereka benar-benar cemas. Najwa tampak enggan untuk memberitahu, tapi ketika melihat wajah teman-teman kakaknya Najwa kembali menangis sambil berkata

“Kak Lintar kena kanker” katanya sedikit menjerit lalu berlari ke rumah dengan berlinangan air mata. Nova, Alvin, Rio dan Ozy merasakan seluruh tubuh mereka melemas. Perasaan mereka kini telah bercampur aduk antara tak percaya, sedih, khawatir, bingung, dan kecewa karena Lintar menyembunyikan hal sebesar ini dari mereka.

***

Mereka segera pergi ke rumah sakit, sesampainya disana mereka berlari menyusuri koridor rumah sakit, raut kecemasan terlihat di wajah mereka. Dengan perasaan yang tak tentu mereka berlari mencari-cari tempat dimana Lintar dirawat. Mata mereka sudah berkaca-kaca semenjak sampai dirumah sakit, bahkan tangis Nova sudah meledak sejak ia sampai. Nova benar-benar tidak bisa membayangkan bahwa nasib orang yang sangat disayanginya begitu tragis.

Ozy ,Rio dan Alvin mencoba tegar tapi mereka tak kuasa menahan air mata ketika melihat Lintar terbaring lemah tak berdaya, ia sedang berjuang dengan nafasnya beberapa kali terlihat bahwa Lintar kesulitan bernafas. Nova histeris ia berlari dan memeluk Lintar erat, ia tidak ingin kehilangan orang yang ia sayangi. Lintar tersenyum pahit kearah Nova, dengan tenaganya yang tersisa ia berusaha menenangkan
Nova dan membelai rambutnya halus,Nova menangis dipelukan Lintar. Ozy, Rio, dan Alvin memandang Lintar dengan air mata mengalir dari mata menuju pipi mereka, mereka berjalan gontai kearah Lintar. Bunda Lintar tampak sudah pasrah pada takdir, ia hanya duduk di sofa sambil memandang kearah Lintar, tatapannya kosong. Bunda Lintar hanya menunggu, menunggu Lintar menghembuskan nafasnya yang terakhir.

“Lint jangan pergi. Aku sayang kamu, aku gak mau kehilangan kamu” ucap Nova dengan suara bergetar, ia melepaskan pelukannya dan memandang Lintar pilu. Lintar tersenyum getir, mata beningnya tampak tak bercahaya lagi cahaya itu seakan-akan sudah lenyap.

“Lintar…..” kata Ozy, Rio dan Alvin bersamaan, mereka memeluk Lintar.

“Kami sayang kamu Lint, kamu sahabat terbaik yang pernah kami miliki” ucap Ozy dengan suara parau.

“Lint jangan pergi aku masih ingin bersama kamu” timpal Alvin kemudian.

“Kami mohon Lint, berjuanglah untuk hidup. Pasti masih ada jalan” sambung Rio mencoba memberi semangat walaupun matanya tidak menunjukkan semangatnya itu.

Alvin, Rio dan Ozy menyeka air mata mereka, mereka berusaha tegar walaupun kesedihan terlihat jelas diwajah mereka. Sementara Nova yang berdiri disamping Lintar membiarkan air matanya mengalir deras melewati pipinya, Lintar menatap Nova lalu beralih pada sahabat-sahabatnya.

“Kalian juga sahabat terbaik yang pernah kumiliki, aku sangat sedih harus meninggalkan kalian. Tapi ini takdirku dan tidak ada cara lain untuk mengatasi ini. Tapi percayalah, suatu saat nanti kita pastikan bertemu lagi walaupun di dunia yang berbeda” Nafas Lintar tersenggal, ia berjuang dengan nafasnya. Lintar merasa dadanya semakin sesak tapi ia terus mencoba bertahan, Nova, Alvin, Rio dan Ozy sudah menjerit-jerit histeris melihat keadaan Lintar. Dengan susah payah Lintar berhasil mengendalikan nafasnya dan kembali melanjutkan ucapannya.

“Nov, aku juga sayang kamu. Sampai kapanpun rasa sayang aku gak akan berubah, jangan tangisi aku seperti itu. Aku sudah bilang ini takdirku” ucap Lintar seraya menyeka air mata Nova, Nova menatap Lintar yang tersenyum tulus kearahnya.

“Ozy, Rio. Alvin, kalian akan selalu menjadi sahabatku untuk selamanya. Aku sayang kalian, terimakasih atas semua kenangan indah yang telah kalian berikan. Selamat tinggal”

Nova, Alvin, Ozy dan Rio menatap Lintar pilu, air mata mereka terus mengalir tak terbendung. Lintar sedang berjuang dengan nafasnya yang semakin tersenggal hingga akhirnya ia menghembuskan nafasnya yang terakhir. Mereka berteriak dan menangisi kepergian Lintar, mereka terus mengguncang-guncang tubuh Lintar yang sekarang tak bernyawa.

***

Lintar sudah tidak ada dan sudah setengah jam yang lalu juga Nova, Rio, Alvin dan Ozy memandangi sebuah kuburan baru, kuburan itu masih penuh dengan bunga segar yang baru setengah jam lalu ditaburkan disitu. Mata mereka sembab dan berkantung karena menangisi orang yang dikubur disana. Nova membelai lembut nisan dihadapannya yang bertuliskan ‘HALILINTAR MAHAPUTRA EDI MORGEN’. Alvin, Rio dan Ozy memegang pundak Nova dari belakang, Nova menoleh dan tersenyum kecut. Mereka menatap kuburan itu sambil mengingat hal terakhir yang diucapkan Lintar sebelum malaikat pencabut nyawa benar-benar mencabut nyawanya.

***

Mereka masih ingat kejadian itu, saat itu mereka menjerit-jerit meminta Lintar supaya tidak berkata seperti itu.

“Lintar jangan bilang gitu”Teriak mereka histeris sambil terus menangis, Lintar menatap mereka satu persatu senyum. Menjelang kematian, mata beningnya menampakkan cahaya kembali walaupun cahaya itu sangat kecil.

“Aku harus pergi sekarang, tolong jagain Nova yah!”ucapnya sambil menatap Nova, sejenak ia tidak tega melihat raut muka Nova. Alvin, Rio dan Ozy hanya bisa mengangguk lesu, Lintar bernafas panjang untuk melanjutkan ucapannya

“Sekali lagi kalian harus tahu kalau aku benar-benar sayang kalian, lebih dari apapun.Semuanya tolong ingatlah satu hal, bagiku kalian adalah HAL TERINDAH YANG PERNAH KUMILIKI”

bersamaan dengan kata-kata terakhirnya Lintar menutup matanya perlahan-lahan, senyuman manis di bibirnya mengantar kepergian Lintar. Mereka menangis histeris sambil mengguncang-guncang tubuh Lintar yang benar-benar sudah tak bernyawa.


Walaupun kini sosoknya tidak dapat terlihat lagi tapi bagi mereka Lintar akan terus berada dihati mereka selamanya. Lintar tak akan pernah mati bagi mereka, karena Lintar akan tetap hidup di hati mereka untuk selamanya.


selesai


Ini cerpen pertama saya, sumpah ancur banget. Wkwk
Berharap kalian mau baca cerpen jelek ini aja deh XD

Tidak ada komentar:

Posting Komentar