sebelumnya saya nyoba-nyoba bikin cerpen gantung hehe *tapi ini nggak tau ngantung nggak tau nggak__-*, happy reading ya #itupun kalo ada yang mau baca :D
*
Hanya dia yang mampu membuat jantungku berdebar. Hanya dia yang mampu membuatku melupakannya─pangeran kuda putihku. Dan hanya dia yang selalu kupikirkan, mengganggu setiap hariku.
Tapi dia terlalu sempurna untuk kugapai. Aku menyadarinya, dan tak akan pernah berharap lebih (selain jika aku bisa berteman dengannya). Bagiku, hanya dengan melihatnya dan tahu ia baik-baik saja bisa membuatku merasa senang.
catatanku, Ashilla Zahrantiara.
Shilla menggigit bibir bagian bawahnya, meringis sambil membaca ulang semua kata demi kata yang telah ia tuangkan dalam catatannya. Well, baginya semua yang ia tulis terasa benar─bukan hanya terasa, tapi memang benar terjadi. Mungkin sebagian orang akan menganggapnya menyedihkan, karena ia mencintai seseorang yang tak mungkin ia raih dan tak pernah berhenti mencintai orang itu walau kenyataan jelas-jelas telah membungbungkan sebuah fakta ia takkan pernah sanggup bersanding dengan cowok itu.
Cowok itu bernama Cakka, lengkapnya Cakka Kawekas Nuraga. Cowok paling populer di sekolahnya. Juara umum di tingkatan, pewaris tunggal perusahaan besar, dan seorang cowok yang benar-benar memesona di mata kaum hawa.
Shilla menghela napas mengingatnya. Ya, benar-benar sempurna. Apalagi yang kurang dari seorang Cakka? Setelah menambah beberapa kalimat lagi di catatannya, cewek itu menutup bukunya dan menyapu pandangan ke sekeliling taman sekolah. Matanya terhenti di satu titik yang tengah terpekur dengan bukunya. Shilla menarik ujung bibirnya membentuk sebuah lengkungan tipis, lantas berdiri dengan buku catatannya di tangan kiri. Ada sebuah perasaan ingin mengenal sosok itu lebih jauh lagi, yang tiba-tiba saja menggelitik hatinya. Cewek itu tercenung sesaat, sebelum akhirnya sebuah senyum kembali tersungging di bibir manisnya.
Hei, tak ada salahnya mencoba berteman kan? Lagipula mereka sekelas (walau Shilla sendiri ragu apakah Cakka mengenal dia, atau bahkan, cewek itu juga ragu Cakka tahu namanya). Dengan langkah tegap, Shilla berjalan ke arah bangku taman tempat Cakka berada.
"Hei, Kka." Shilla menghentikan langkahnya lima meter di hadapan Cakka saat melihat Ify─seorang gadis populer yang kabarnya naksir Cakka─merangkul bahu cowok itu dengan akrab. Setelah itu Shilla melihat Cakka menoleh ke arah Ify dengan senyuman manis di bibirnya.
"Kenapa Fy?"
Shilla tak mendengarkan percakapan selanjutnya karena ia sudah terlebih dulu melangkah pergi meninggalkan taman, sambil mendekap buku catatannya erat-erat. Shilla harus bisa menelan kenyataan pahit, karena ia memang takkan pernah bisa bisa mendekati Cakka. Sekalipun untuk sekadar berteman. Ia, tak mampu meraih Cakka, seperti ia tak mampu meraih pangeran kuda putihnya.
*
Cakka mendengus jengkel melihat beberapa cewek genit yang sedang nangkring di depan kelasnya. Cowok itu mendumel dalam hati tapi tak berani untuk bertindak kurang ajar pada perempuan (karena ajaran Bundanya yang selalu mengatakan bahwa ia harus menghormati seorang perempuan).
Mereka mau apasih? Nggak bosen apa godain gue tiap hari? batin Cakka sarkatis, tapi berhubung bel masuk 5 menit lagi, cowok itu tidak punya pilihan lain untuk terus melangkah masuk. Mengabaikan dampaknya nanti saja.
"Hai Cakka," sapa salah satu dari cewek-cewek itu ketika Cakka sudah hampir masuk ke dalam kelas. Wajahnya berseri-seri senang.
Cakka memaksakan diri untuk tersenyum, "Hai juga," balasnya sopan. "Permisi ya, gue mau lewat."
Cakka berusaha menerobos masuk tapi gagal karena seorang cewek menghalangi jalannya dengan senyum genit di bibirnya, membuat Cakka jengah sendiri.
"Mau apa sih? Buru-buru amat?" seru cewek lainnya lalu menggamit lengan Cakka, Cakka berusaha menepis tapi gagal. "Bel masuk juga lima menit lagi kali Kka, udah disini aja. Seneng-seneng sama kita." sambungnya dengan nada genit yang tak berubah.
Cakka mendengus samar, tapi sejurus kemudian senyumnya merekah melihat Agni di kejauhan.
"Ag, Agni!" panggil Cakka keras. Cewek-cewek di sekeliling Cakka otomatis mundur melihat Agni berjalan ke arah mereka.
Siapa pula cewek yang tak takut pada Agni si preman sekolah? Semua cewek waras tahu bahwa lebih baik menghindari Agni jika ingin hidup tenang di sekolah ini.
"Kenapa Kka?" tanya Agni kalem. Penampilannya benar-benar cuek (atau slengean?). Rambut pendek sebahu, wajah tanpa make up apa pun─bahkan aksesoris, dan baju seragam yang lengannya di gulung sampai ke atas.
Cakka tersenyum penuh arti seraya mengedipkan sebelah matanya, membuat Agni mendengus. Cewek tomboy itu sudah terbiasa dengan isyarat Cakka yang demikian.
"Cih, dasar payah lo." cibir cewek tomboy itu sambil berjalan bersisian dengan Cakka.
Di sebelahnya, Cakka hanya tertawa kecil, membuat Agni diam-diam tersenyum. Cakka melenggang masuk tanpa di halang-halangi lagi oleh cewek-cewek genit itu.
"Thanks ya Ag. You are my heroooo," ucap Cakka sungguh-sungguh begitu tiba di bangkunya. Agni tergelak mendengarnya, cewek itu lalu duduk di bangku kosong depan bangkunya juga bangku Cakka.
"Ur well Prof," seru Agni bercanda. "Tapi nggak gratisss yaaa." imbuh gadis itu sambil cengengesan.
Cakka memutar bola matanya mendengar ucapan Agni. Dasar! seru cowok itu dalam hati. Cakka kemudian menatap Agni. Agni ini, sahabat sebangkunya sejak kelas X. Sangat di segani di kalangan cewek (penyebabnya adalah, karena sewaktu di gencet kakak kelas dulu, Agni malah membuat kakak kelas yang menggencetnya itu babak belur, sejak saat itulah Agni terkenal sebagai preman. Penampilannya yang slengean juga menambah citra preman dalam diri Agni). Tapi karena citra preman Agni lah Cakka selalu untung jika bersamanya, ia tak pernah di ganggu cewek!
Cakka mendecakkan lidah sambil mendengus. "Dasar itungan!" serunya lalu mengacak rambut Agni gemas membuat sang empunya rambut menggerutu kesal.
"Eh, jangan acak-acak rambut gueeee." Agni melotot tajam, "Gue tonjok baru tahu rasa lo!" ancam cewek itu kemudian sambil menunjukkan kepalan tangannya di depan wajah Cakka. Cakka hanya cengengesan seraya mengangkat kedua jarinya membentuk huruf V.
"Soriiiii Agni. Yaudah, lo maunya apa?"
Agni tersenyum sumringah, bergegas duduk di mejanya dan mengaduk isi tasnya. "Pr kimia donggg." pinta Agni memelas sambil mendekap buku kimianya erat-erat.
Cakka tertawa-tawa lalu mengambil buku kimianya dari dalam tas dan menyodorkannya ke hadapan Agni. Dengan sigap, Agni mengambil buku kimia Cakka dan menyalin isinya. Cakka memerhatikan sambil geleng-geleng kepala melihat tingkah Agni.
"Kka, makanya lo tuh mesti punya pacar biar cewek-cewek ganjen itu nggak deketin lo lagi." celetuk Agni di sela-sela menconteknya. Nada bicara Agni datar, walau hatinya diam-diam menyimpan suatu harapan.
Cakka bergeming, wajahnya berubah mendung.
"Woy Kka!" panggil Agni jengkel melihat Cakka malah melamun.
Cakka terkesiap, lalu tersenyum sekenanya. "Gue nggak bisa Ag,"
Agni tersenyum mengejek. "Masih nungguin peri kecil lo alias Ricil yang nggak tahu dimana itu?" Cakka mengangguk sambil tersenyum.
"Gue yakin kalau selama ini dia deket sama gue,"
"Terus kenapa lo nggak cari?"
Cakka menghembuskan napas panjang dan mendesah, "Gue udah nyari, tapi belum ketemu."
"Ya ampun, lo ini emang payah ya!" sahut Agni datar dengan nada sedikit bersemangat, tapi tanpa sedetikpun mengalihkan pandangannya dari buku di hadapannya.
Cakka merengut sebal melihat Agni─yang menurutnya─acuh tak acuh berbicara dengannya. Cowok tampan itu menyapu pandangan pada seisi kelas.
Di saat yang bersamaan, Shilla mengangkat wajahnya, pegal karena sedari tadi terus menunduk untuk membaca novel di pangkuannya. Tepat ketika gadis itu menatap lurus ke depan, matanya bertemu dengan mata Cakka. Beberapa saat keduanya hanya saling pandnag dalam diam, sebelum akhirnya di detik berikutnya Shilla segera menunduk dengan pipi memerah dan jantung yang berdegup kencang.
Cakka tersadar setelah cewek yang─secara tak sengaja─beradu pandang dengannya menunduk. Ada perasaan aneh yang melesak masuk ke dalam hatinya melihat mata cewek itu. Cakka tercenung, mencoba mengingat mata siapa yang memiliki cahaya seperti mata cewek itu. Hingga akhirnya, ia tersentak sendiri. Mata itu....
Cakka segera berdiri sambil memandang Shilla di pojok dengan tatapan penuh rindu. Dadanya bergemuruh hebat. Ketika hendak melangkah, tangannya di cekal oleh Agni. Dengan heran, cewek itu bertanya,
"Mau kemana lo?" Cakka tak menggubris pertanyaan Agni, cowok itu menyentakkan tangan Agni lantas berlalu menghampiri Shilla.
Agni mengernyit bingung melihat sikap aneh Cakka, dan cewek itu tambah melihat Cakka duduk di bangku kosong depan Shilla. Cewek yang─bahkan Agni yakin, boro-boro Cakka kenal, tahu namanya saja tidak. Cowok itukan cuek sekali, saking cueknya, meski sudah hampir satu semester di kelas yang sama, Cakka baru tahu dan mengenal beberapa orang saja yang lumayan populer. Dan karena itulah Agni sangat bingung sekarang, bahkan anak-anak sekelas pun ikut bingung dan memerhatikan Cakka.
"It's you?" tanya Cakka lirih sambil memandang Shilla lekat.
Perasaan Shilla semakin tak keruan begitu sadar Cakka ada di dekatnya, tapi di lain sisi gadis itu juga bingung mendengar ucapan Cakka. Apa maksudnya? Akhirnya, Shilla hanya diam hingga tak sadar bahwa Cakka telah berjongkok di depannya.
Cakka tersenyum kecil, merogoh sesuatu dari saku celananya dan membiarkannya jatuh di sela-sela jemarinya.
Shilla ternganga. Tanpa sadar, air mata telah mengalir di sela-sela matanya. Shilla menangis, mengenal betul kalung bintang berwarna biru di tangan Cakka. Sejurus kemudian, cewek itu sudah terisak di pelukan Cakka, tak lagi peduli bagaimana pandangan teman-teman sekelasnya yang sedang menatap ke arah mereka.
Cakka memeluk Shilla erat, melepaskan semua kerinduan yang selama beberapa tahun terakhir ini menggelayuti hatinya.
"Gue nepatin janji gue kan? Gue nemuin lo, Ricil." bisik Cakka di telinga Shilla.
Hati Shilla bergetar mendengarnya. Bodoh! Maki Shilla pada dirinya sendiri dalam hati. Kenapa selama ini dia tak pernah sadar kalau selama ini pangeran kuda putihnya selalu dekat dengannya? Mengapa ia tak pernah sadar bahwa selama ini ia mencintai cowok yang sama?
"It's oke. I'am here,"
"Jahat!" raung Shilla parau sambil melepaskan diri dari dekapan Cakka, membuat Cakka mengernyit.
"Kenapa selama ini lo nggak pernah cari gue?" tuntut cewek itu tajam, "Kenapa selama ini lo nyuekin gue?"
Cakka cengengesan, tanpa aba-aba cowok itu segera menyeka sisa-sisa air mata di pipi Shilla dengan wajah gemas.
"Siapa suruh jadi cewek nggak populer?" cibir Cakka tanpa dosa. "Gue kan jadi susah nyarinya," Shilla memajukan bibirnya beberapa senti.
"Apaan sih?" tanya Shilla galak seraya menepis tangan Cakka yang masih bersarang di pipinya. Cewek itu mendelik dengan mata tajam melihat Cakka masih cengengesan.
Yang di delik akhirnya berhenti cengengesan juga. Cowok itu mendesah pelan, mengangkat tangannya sebatas wajah Shilla lalu kembali memegang kedua pipi cewek itu dengan pandangan menyesal.
"Yang penting sekarang, gue udah nemuin lo kan?" Shilla mengangguk sekali, membiarkan jemari Cakka kembali menyeka sisa-sisa air matanya dengan lembut.
"Jangan tinggalin gue lagi," pinta Shilla, menahan tangan Cakka yang baru saja akan turun dari wajahnya. Cakka mengangguk sekali, dan untuk kedua kalinya dia merengkuh tubuh Shilla ke dalam dekapannya.
Mereka berdua larut dalam sebuah euforia masa lalu tanpa mengindahkan tatapan-tatapan yang sedang mengarah pada mereka.
Di jajaran kedua dari pintu dan di bangku pertama paling depan, Agni menghela napas panjang. Ada yang di mengertinya sekarang. Cakka telah menemukan peri kecilnya kembali secara kebetulan. Agni termangu, merasakan sakit bak di godam puluhan kali dalam hatinya. Akhirnya, semua berakhir dengan ia yang takkan pernah sanggup mengatakan "Gue cinta lo," pada Cakka.
Jadi, begini rasanya sakit hati? tanya Agni dalam hati. Ya, benar-benar sakit. Kenyataannya, hanya sebagai sahabatlah ia bisa bertahan di sisi Cakka, tak lebih.
"Any wrong with them?" tanya Agni dengan nada tak suka melihat anak-anak sekelas menatap Shilla dengan pandangan sinis yang mencela.
Semua anak menengok ke arah Agni, lalu langsung kembali pada kegiatan masing-masing tanpa menoleh lagi pada Shilla.
Agni kembali menengok ke arah Cakka dan Shilla yang masih berpelukan dengan tatapan terluka, sejurus kemudian ia tersenyum pahit.
"Selamat berbahagia, Cakka."
Tamat
toeng, panjang juga ternyata. haha. Any comment to me? If yes, lets tell to me, oke? I'm waiting for that :D
*
Hanya dia yang mampu membuat jantungku berdebar. Hanya dia yang mampu membuatku melupakannya─pangeran kuda putihku. Dan hanya dia yang selalu kupikirkan, mengganggu setiap hariku.
Tapi dia terlalu sempurna untuk kugapai. Aku menyadarinya, dan tak akan pernah berharap lebih (selain jika aku bisa berteman dengannya). Bagiku, hanya dengan melihatnya dan tahu ia baik-baik saja bisa membuatku merasa senang.
catatanku, Ashilla Zahrantiara.
Shilla menggigit bibir bagian bawahnya, meringis sambil membaca ulang semua kata demi kata yang telah ia tuangkan dalam catatannya. Well, baginya semua yang ia tulis terasa benar─bukan hanya terasa, tapi memang benar terjadi. Mungkin sebagian orang akan menganggapnya menyedihkan, karena ia mencintai seseorang yang tak mungkin ia raih dan tak pernah berhenti mencintai orang itu walau kenyataan jelas-jelas telah membungbungkan sebuah fakta ia takkan pernah sanggup bersanding dengan cowok itu.
Cowok itu bernama Cakka, lengkapnya Cakka Kawekas Nuraga. Cowok paling populer di sekolahnya. Juara umum di tingkatan, pewaris tunggal perusahaan besar, dan seorang cowok yang benar-benar memesona di mata kaum hawa.
Shilla menghela napas mengingatnya. Ya, benar-benar sempurna. Apalagi yang kurang dari seorang Cakka? Setelah menambah beberapa kalimat lagi di catatannya, cewek itu menutup bukunya dan menyapu pandangan ke sekeliling taman sekolah. Matanya terhenti di satu titik yang tengah terpekur dengan bukunya. Shilla menarik ujung bibirnya membentuk sebuah lengkungan tipis, lantas berdiri dengan buku catatannya di tangan kiri. Ada sebuah perasaan ingin mengenal sosok itu lebih jauh lagi, yang tiba-tiba saja menggelitik hatinya. Cewek itu tercenung sesaat, sebelum akhirnya sebuah senyum kembali tersungging di bibir manisnya.
Hei, tak ada salahnya mencoba berteman kan? Lagipula mereka sekelas (walau Shilla sendiri ragu apakah Cakka mengenal dia, atau bahkan, cewek itu juga ragu Cakka tahu namanya). Dengan langkah tegap, Shilla berjalan ke arah bangku taman tempat Cakka berada.
"Hei, Kka." Shilla menghentikan langkahnya lima meter di hadapan Cakka saat melihat Ify─seorang gadis populer yang kabarnya naksir Cakka─merangkul bahu cowok itu dengan akrab. Setelah itu Shilla melihat Cakka menoleh ke arah Ify dengan senyuman manis di bibirnya.
"Kenapa Fy?"
Shilla tak mendengarkan percakapan selanjutnya karena ia sudah terlebih dulu melangkah pergi meninggalkan taman, sambil mendekap buku catatannya erat-erat. Shilla harus bisa menelan kenyataan pahit, karena ia memang takkan pernah bisa bisa mendekati Cakka. Sekalipun untuk sekadar berteman. Ia, tak mampu meraih Cakka, seperti ia tak mampu meraih pangeran kuda putihnya.
*
Cakka mendengus jengkel melihat beberapa cewek genit yang sedang nangkring di depan kelasnya. Cowok itu mendumel dalam hati tapi tak berani untuk bertindak kurang ajar pada perempuan (karena ajaran Bundanya yang selalu mengatakan bahwa ia harus menghormati seorang perempuan).
Mereka mau apasih? Nggak bosen apa godain gue tiap hari? batin Cakka sarkatis, tapi berhubung bel masuk 5 menit lagi, cowok itu tidak punya pilihan lain untuk terus melangkah masuk. Mengabaikan dampaknya nanti saja.
"Hai Cakka," sapa salah satu dari cewek-cewek itu ketika Cakka sudah hampir masuk ke dalam kelas. Wajahnya berseri-seri senang.
Cakka memaksakan diri untuk tersenyum, "Hai juga," balasnya sopan. "Permisi ya, gue mau lewat."
Cakka berusaha menerobos masuk tapi gagal karena seorang cewek menghalangi jalannya dengan senyum genit di bibirnya, membuat Cakka jengah sendiri.
"Mau apa sih? Buru-buru amat?" seru cewek lainnya lalu menggamit lengan Cakka, Cakka berusaha menepis tapi gagal. "Bel masuk juga lima menit lagi kali Kka, udah disini aja. Seneng-seneng sama kita." sambungnya dengan nada genit yang tak berubah.
Cakka mendengus samar, tapi sejurus kemudian senyumnya merekah melihat Agni di kejauhan.
"Ag, Agni!" panggil Cakka keras. Cewek-cewek di sekeliling Cakka otomatis mundur melihat Agni berjalan ke arah mereka.
Siapa pula cewek yang tak takut pada Agni si preman sekolah? Semua cewek waras tahu bahwa lebih baik menghindari Agni jika ingin hidup tenang di sekolah ini.
"Kenapa Kka?" tanya Agni kalem. Penampilannya benar-benar cuek (atau slengean?). Rambut pendek sebahu, wajah tanpa make up apa pun─bahkan aksesoris, dan baju seragam yang lengannya di gulung sampai ke atas.
Cakka tersenyum penuh arti seraya mengedipkan sebelah matanya, membuat Agni mendengus. Cewek tomboy itu sudah terbiasa dengan isyarat Cakka yang demikian.
"Cih, dasar payah lo." cibir cewek tomboy itu sambil berjalan bersisian dengan Cakka.
Di sebelahnya, Cakka hanya tertawa kecil, membuat Agni diam-diam tersenyum. Cakka melenggang masuk tanpa di halang-halangi lagi oleh cewek-cewek genit itu.
"Thanks ya Ag. You are my heroooo," ucap Cakka sungguh-sungguh begitu tiba di bangkunya. Agni tergelak mendengarnya, cewek itu lalu duduk di bangku kosong depan bangkunya juga bangku Cakka.
"Ur well Prof," seru Agni bercanda. "Tapi nggak gratisss yaaa." imbuh gadis itu sambil cengengesan.
Cakka memutar bola matanya mendengar ucapan Agni. Dasar! seru cowok itu dalam hati. Cakka kemudian menatap Agni. Agni ini, sahabat sebangkunya sejak kelas X. Sangat di segani di kalangan cewek (penyebabnya adalah, karena sewaktu di gencet kakak kelas dulu, Agni malah membuat kakak kelas yang menggencetnya itu babak belur, sejak saat itulah Agni terkenal sebagai preman. Penampilannya yang slengean juga menambah citra preman dalam diri Agni). Tapi karena citra preman Agni lah Cakka selalu untung jika bersamanya, ia tak pernah di ganggu cewek!
Cakka mendecakkan lidah sambil mendengus. "Dasar itungan!" serunya lalu mengacak rambut Agni gemas membuat sang empunya rambut menggerutu kesal.
"Eh, jangan acak-acak rambut gueeee." Agni melotot tajam, "Gue tonjok baru tahu rasa lo!" ancam cewek itu kemudian sambil menunjukkan kepalan tangannya di depan wajah Cakka. Cakka hanya cengengesan seraya mengangkat kedua jarinya membentuk huruf V.
"Soriiiii Agni. Yaudah, lo maunya apa?"
Agni tersenyum sumringah, bergegas duduk di mejanya dan mengaduk isi tasnya. "Pr kimia donggg." pinta Agni memelas sambil mendekap buku kimianya erat-erat.
Cakka tertawa-tawa lalu mengambil buku kimianya dari dalam tas dan menyodorkannya ke hadapan Agni. Dengan sigap, Agni mengambil buku kimia Cakka dan menyalin isinya. Cakka memerhatikan sambil geleng-geleng kepala melihat tingkah Agni.
"Kka, makanya lo tuh mesti punya pacar biar cewek-cewek ganjen itu nggak deketin lo lagi." celetuk Agni di sela-sela menconteknya. Nada bicara Agni datar, walau hatinya diam-diam menyimpan suatu harapan.
Cakka bergeming, wajahnya berubah mendung.
"Woy Kka!" panggil Agni jengkel melihat Cakka malah melamun.
Cakka terkesiap, lalu tersenyum sekenanya. "Gue nggak bisa Ag,"
Agni tersenyum mengejek. "Masih nungguin peri kecil lo alias Ricil yang nggak tahu dimana itu?" Cakka mengangguk sambil tersenyum.
"Gue yakin kalau selama ini dia deket sama gue,"
"Terus kenapa lo nggak cari?"
Cakka menghembuskan napas panjang dan mendesah, "Gue udah nyari, tapi belum ketemu."
"Ya ampun, lo ini emang payah ya!" sahut Agni datar dengan nada sedikit bersemangat, tapi tanpa sedetikpun mengalihkan pandangannya dari buku di hadapannya.
Cakka merengut sebal melihat Agni─yang menurutnya─acuh tak acuh berbicara dengannya. Cowok tampan itu menyapu pandangan pada seisi kelas.
Di saat yang bersamaan, Shilla mengangkat wajahnya, pegal karena sedari tadi terus menunduk untuk membaca novel di pangkuannya. Tepat ketika gadis itu menatap lurus ke depan, matanya bertemu dengan mata Cakka. Beberapa saat keduanya hanya saling pandnag dalam diam, sebelum akhirnya di detik berikutnya Shilla segera menunduk dengan pipi memerah dan jantung yang berdegup kencang.
Cakka tersadar setelah cewek yang─secara tak sengaja─beradu pandang dengannya menunduk. Ada perasaan aneh yang melesak masuk ke dalam hatinya melihat mata cewek itu. Cakka tercenung, mencoba mengingat mata siapa yang memiliki cahaya seperti mata cewek itu. Hingga akhirnya, ia tersentak sendiri. Mata itu....
Cakka segera berdiri sambil memandang Shilla di pojok dengan tatapan penuh rindu. Dadanya bergemuruh hebat. Ketika hendak melangkah, tangannya di cekal oleh Agni. Dengan heran, cewek itu bertanya,
"Mau kemana lo?" Cakka tak menggubris pertanyaan Agni, cowok itu menyentakkan tangan Agni lantas berlalu menghampiri Shilla.
Agni mengernyit bingung melihat sikap aneh Cakka, dan cewek itu tambah melihat Cakka duduk di bangku kosong depan Shilla. Cewek yang─bahkan Agni yakin, boro-boro Cakka kenal, tahu namanya saja tidak. Cowok itukan cuek sekali, saking cueknya, meski sudah hampir satu semester di kelas yang sama, Cakka baru tahu dan mengenal beberapa orang saja yang lumayan populer. Dan karena itulah Agni sangat bingung sekarang, bahkan anak-anak sekelas pun ikut bingung dan memerhatikan Cakka.
"It's you?" tanya Cakka lirih sambil memandang Shilla lekat.
Perasaan Shilla semakin tak keruan begitu sadar Cakka ada di dekatnya, tapi di lain sisi gadis itu juga bingung mendengar ucapan Cakka. Apa maksudnya? Akhirnya, Shilla hanya diam hingga tak sadar bahwa Cakka telah berjongkok di depannya.
Cakka tersenyum kecil, merogoh sesuatu dari saku celananya dan membiarkannya jatuh di sela-sela jemarinya.
Shilla ternganga. Tanpa sadar, air mata telah mengalir di sela-sela matanya. Shilla menangis, mengenal betul kalung bintang berwarna biru di tangan Cakka. Sejurus kemudian, cewek itu sudah terisak di pelukan Cakka, tak lagi peduli bagaimana pandangan teman-teman sekelasnya yang sedang menatap ke arah mereka.
Cakka memeluk Shilla erat, melepaskan semua kerinduan yang selama beberapa tahun terakhir ini menggelayuti hatinya.
"Gue nepatin janji gue kan? Gue nemuin lo, Ricil." bisik Cakka di telinga Shilla.
Hati Shilla bergetar mendengarnya. Bodoh! Maki Shilla pada dirinya sendiri dalam hati. Kenapa selama ini dia tak pernah sadar kalau selama ini pangeran kuda putihnya selalu dekat dengannya? Mengapa ia tak pernah sadar bahwa selama ini ia mencintai cowok yang sama?
"It's oke. I'am here,"
"Jahat!" raung Shilla parau sambil melepaskan diri dari dekapan Cakka, membuat Cakka mengernyit.
"Kenapa selama ini lo nggak pernah cari gue?" tuntut cewek itu tajam, "Kenapa selama ini lo nyuekin gue?"
Cakka cengengesan, tanpa aba-aba cowok itu segera menyeka sisa-sisa air mata di pipi Shilla dengan wajah gemas.
"Siapa suruh jadi cewek nggak populer?" cibir Cakka tanpa dosa. "Gue kan jadi susah nyarinya," Shilla memajukan bibirnya beberapa senti.
"Apaan sih?" tanya Shilla galak seraya menepis tangan Cakka yang masih bersarang di pipinya. Cewek itu mendelik dengan mata tajam melihat Cakka masih cengengesan.
Yang di delik akhirnya berhenti cengengesan juga. Cowok itu mendesah pelan, mengangkat tangannya sebatas wajah Shilla lalu kembali memegang kedua pipi cewek itu dengan pandangan menyesal.
"Yang penting sekarang, gue udah nemuin lo kan?" Shilla mengangguk sekali, membiarkan jemari Cakka kembali menyeka sisa-sisa air matanya dengan lembut.
"Jangan tinggalin gue lagi," pinta Shilla, menahan tangan Cakka yang baru saja akan turun dari wajahnya. Cakka mengangguk sekali, dan untuk kedua kalinya dia merengkuh tubuh Shilla ke dalam dekapannya.
Mereka berdua larut dalam sebuah euforia masa lalu tanpa mengindahkan tatapan-tatapan yang sedang mengarah pada mereka.
Di jajaran kedua dari pintu dan di bangku pertama paling depan, Agni menghela napas panjang. Ada yang di mengertinya sekarang. Cakka telah menemukan peri kecilnya kembali secara kebetulan. Agni termangu, merasakan sakit bak di godam puluhan kali dalam hatinya. Akhirnya, semua berakhir dengan ia yang takkan pernah sanggup mengatakan "Gue cinta lo," pada Cakka.
Jadi, begini rasanya sakit hati? tanya Agni dalam hati. Ya, benar-benar sakit. Kenyataannya, hanya sebagai sahabatlah ia bisa bertahan di sisi Cakka, tak lebih.
"Any wrong with them?" tanya Agni dengan nada tak suka melihat anak-anak sekelas menatap Shilla dengan pandangan sinis yang mencela.
Semua anak menengok ke arah Agni, lalu langsung kembali pada kegiatan masing-masing tanpa menoleh lagi pada Shilla.
Agni kembali menengok ke arah Cakka dan Shilla yang masih berpelukan dengan tatapan terluka, sejurus kemudian ia tersenyum pahit.
"Selamat berbahagia, Cakka."
Tamat
toeng, panjang juga ternyata. haha. Any comment to me? If yes, lets tell to me, oke? I'm waiting for that :D
Tidak ada komentar:
Posting Komentar