Sudah setengah jam lamanya Zevana menunggu seseorang di sebuah taman kota yang tak jauh dari kompleks rumahnya. Dia menarik nafas lalu menghembuskannya dengan gelisah, rasanya sudah sangat lama dia menunggu tapi orang yang ditunggu belum juga menampakkan diri, atau mungkin lebih tepatnya tidak ada tanda-tanda dari orang itu untuk datang. Zevana menunggu seseorang, tepatnya seorang lelaki, sebut saja dia Alvin, kekasih Zevana yang sangat amat Zevana sayangi. Kekasih yang hampir setahun ini selalu menghiasi mimpi-mimpi serta membuat hatinya selalu bahagia dikala mengingatnya. Alvin adalah sosok lelaki yang begitu sempurna di mata Zevana, dia baik, care, dan sangat sabar menghadapi sikap Zevana yang begitu dingin. Dia, cinta pertama bagi Zevana dan Zevana harap bisa menjadi cinta terakhirnya, satu-satunya lelaki yang mampu membuatnya terbuai dengan apa yang namanya cinta.
“Ish, Kak Alvin beneran dateng gak sih?” gumam Zevana kesal, ia melirik jam tangan yang melingkar manis di pergelangan tangan kanannya yang kini menunjukkan pukul 16.00 tepat.
Zevana mendengus, lalu menyapukan pandangannya pada setiap sudut taman berharap Alvin sudah datang. Tapi harapannya sirna begitu ia tak mendapati tanda-tanda keberadaan Alvin. Wajah Zevana berubah murung, dalam hati ia bertanya-tanya tentang apakah yang menyebabkan Alvin sampai lupa akan janjinya, padahal sebelumnya Alvin tak pernah lupa pada janji mereka, bahkan Alvin selalu datang lebih awal.
Sesaat kemudian Zevana merogoh ponsel di dalam saku celananya. Dengan cepat jari-jarinya menari di atas keypad ponsel mengetikkan beberapa angka yang sudah ia ingat di luar kepala. Setelah selesai, Zevana menekan tombol hijau di ponselnya.
‘Rinai hujan basahi aku, temani sepi yang mengendap. Kala aku mengingatmu, dan semua saat manis itu’ sebaris lagu hujan milik Utopia menemani Zevana menunggu sang pemilik ponsel mengangkat panggilannya. Lama Zevana menunggu tapi hanya deringan lagu yang terdengar, karena kesal diapun memutuskan panggilannya.
“Ya, ampun. Kak Alvin kamu kemana sih?” Zevana kembali bergumam menahan rasa kesal dan khawatir yang bercampur di hatinya. Panggilan barusan merupakan panggilan ke 18 yang Zevana lakukan tapi tak kunjung di angkat oleh Alvin. Jangan-jangan Kak Alvin kenapa-napa lagi, batin Zevana khawatir.
Zevana memandangi LCD ponselnya yang bergambarkan dirinya dan Alvin, dan setelah cukup lama ke-khawatiran Zevana memuncak. Dengan tidak sabar jarinya kembali mengetikkan beberapa angka yang sejak tadi mencoba dia hubungi. Deringan nada tunggu kembali terdengar di telinga Zevana, tapi kali ini Zevana tak dapat menikmatinya, dia sudah terlalu khawatir dengan keadaan Alvin saat ini.
“Halo? Kak, Kak Alvin dimana? kok gak kesini? Kakak baik-baikkan aja kan?” pertanyaan Zevana yang bertubi-tubi langsung dia lemparkan ketika panggilannya kali ini di angkat.
Sebersit kelegaan melintas di hatinya karena ternyata Alvin masih bisa mengangkat panggilannya. Zevana tersenyum sambil menajamkan telinganya karena orang di sebrang tampak menghela nafas panjang dan sesaat kemudian senyum Zevana memudar berganti dengan gurat kesedihan, Zevana menahan nafas mendengar penuturan Ray, adik Alvin yang kini berada di rumah sakit. Ada apa ini? firasat Zevana tak enak.
“Lo, serius Ray? Kenapa bisa? Kak Alvin dimana?” Zevana merasa aliran darahnya terhenti seketika, tangannya bergetar. Ia merasa sangat tak berdaya, bahkan untuk mempertahankan ponselnya pun ia tak sanggup, ponsel itu jatuh begitu saja di samping tubuhnya. Nafasnya tercekat, dia duduk mematung di taman itu.
+++
Zevana berlari-lari di sepanjang lorong rumah sakit itu dengan butiran-butiran bening yang menyeruak di sudut matanya, berlomba-lomba ingin segera keluar tapi Zevana masih bisa menahannya sebelum dia benar-benar memastikan apa yang Ray katakan adalah benar. Langkah Zevana melambat ketika dirinya sudah sampai di depan sebuah ruang ICU dan melihat banyak orang yang dikenalinya berdiri gelisah di depan kamar sambil sesekali menengok orang yang berada di ruang ICU itu lewat jendela di samping.
“Kak Zeva” Acha yang notabene adalah adik Alvin paling kecil langsung menghambur ke dalam pelukan Zevana begitu menyadari bahwa Zevana telah datang.
Zevana memeluk Acha erat menyadari tubuh gadis kecil itu bergetar hebat, dia mengelus rambutnya pelan mencoba menenangkan walaupun hatinya sendiri tak tenang dengan keadaan seperti ini.
“Kak Alvin kak, Kak Alvin” Acha menangis terisak dibahu Zevana dengan suaranya yang amat menyayat hati, terdengar begitu miris di telinga Zevana.
“Tenang Cha, tenang” bisik Zevana halus sambil membawa Acha pada tempat duduk panjang di sepanjang koridor.
“Ray, Kak Alvin baik-baik aja kan?” tanya Zevana sambil tersenyum kecut, matanya kini mengarah pada Ray.
Ray tak menjawab dia malah memandang kedua orangtuanya, dan Rio secara bergantian, berusaha meminta pendapat. Akhirnya Rio maju, dia berjongkok di depan Zevana dan menyibakkan sehelai rambut yang menutupi wajah Zevana. Rio tersenyum lembut sambil memandang lekat-lekat wajah adik semata wayangnya tersebut, tapi entah mengapa Zevana merasa bahwa senyum kakaknya mengandung arti menyakitkan. Pelukannya pada Acha mulai mengendur, Acha pun mengerti. Dia melepas pelukannya dan duduk menyandar pada dinding rumah sakit dengan tangan yang menutupi wajahnya. Zevana balik menatap mata Rio lekat-lekat, dia berusaha sekuat tenaga menahan air matanya agar tidak tumpah.
“Lo yang sabar ya Ze. Alvin kecelakaan, waktu dia mau nemuin lo di taman. Mobilnya di tabrak truk sehingga ketika Alvin mencoba menghindar dia menabrak pohon dan akhirnya Alvin masuk rumah sakit ini Ze. Dia mengalami banyak pendarahan dan..koma”
Nafas Zevana tercekat mendengar dua kata terakhir dari Rio, dia menggigit bibir bawahnya dan seketika air matanya tumpah. Rio merangkul Zevana dan membiarkannya menangis sepuasnya. Zevana menangis terisak-isak di bahu kakaknya, dia meluapkan semua emosinya yang sejak tadi terus di pendam. Rio hanya bisa membelai rambut Zevana mencoba menenangkan perasaan gadis tersebut.
“Udah Ze. Alvin pasti sembuh” hibur Rio terdengar lembut di telinga Zevana, tapi tetap tak bisa menenangkan hati Zevana.
Gadis itu semakin membenamkan wajahnya di bahu Rio. Yang lainnya hanya bisa memandangi Zevana dengan tatapan sendu dan sayu, bukan hanya Zevana saja yang sedih, tapi semuanya pun merasakan hal yang sama.
+++
Zevana memandangi tubuh Alvin yang terbaring kaku dengan hati miris. Tak pernah sedetik pun dia berpikir bahwa keadaan Alvin akan seperti sekarang, terbaring lemah dengan segala alat kedokteran yang menempel di tubuhnya. Di sebelah kanannya terdapat monitor pendeteksi detak jantung yang saat ini menunjukkan garis naik-turun membentuk gunung, Zevana mendesah pelan sambil meraih tangan Alvin dan menggenggamnya, dia membawa tangan Alvin ke pipinya dan terus mengelus tangan itu dengan lembut. Butiran bening kembali meleleh di pipinya membentuk segurat sungai kecil.
“Kak, tolong jangan tinggalin Zeva kak. Zeva sayang sama kakak, kakak udah janjikan kalau kita akan hidup bersama selamanya. Sehidup semati” lirih Zevana sambil menekan dua kata terakhirnya membuat satu-satunya orang yang berada di ruangan itu memandang Zevana tajam dari balik novel yang di bacanya.
“Ze, apaan sih? Lo ngomong seolah-olah lo juga mau bernasib kayak Kak Alvin. Sadar Ze, omongan lo udah kelewat batas, lo pikir pake logika dong” sergah Ray emosi, dia tak habis pikir dengan pikiran Zevana yang begitu pendek. Zevana menaruh tangan Alvin kembali di samping badannya dan menoleh pada Ray yang sedang menatapnya tajam, Zevana tersenyum tipis dengan bola matanya yang tak bercahaya.
“Apa urusan lo? Lagipula itu janji gue sama Kak Alvin. Jika dia mati, gue juga ikut” nada bicara Zevana terdengar begitu menusuk, sangat tajam dan pedas.
“Ze, udah deh. Gue yakin kak Alvin pasti sembuh”
“Gue bukan anak kecil Ray, gue denger kata-kata dokter itu. Cuma 20% Ray, gak lebih” suara Zevana kembali bergetar, air mata semakin deras mengalir di pipinya. Dengan kasar Zevana menyeka air matanya dan berjalan kearah pintu yang tertutup, dia lebih baik menghindari Ray, pikirannya memang sedang kacau.
“Ze, lo mau kemana?” seru Ray setengah berteriak melihat Zevana menarik kenop pintu, sebelum menghilang Zevana melempar senyum sinisnya pada Ray.
“Cari angin, buat nenangin pikiran gue yang kata lo gak pake logika” dan pintu pun tertutup rapat, menyisakan Ray seorang diri di kamar ICU tersebut.
Kedua orangtua serta Acha dan Rio memutuskan untuk pulang dan kembali nanti malam. Ray mendesah panjang melihat sikap Zevana, sudah dia duga sebelumnya bahwa Zevana akan bersikap seperti ini. Kemudian Ray memandang sosok Alvin yang masih tak bergerak, hatinya terasa perih melihat keadaan Alvin yang begitu menyedihkan. Apalagi di tambah dengan pernyataan dokter bahwa kemungkinan Alvin bertahan hanya sekitar 20%, tak lebih.
+++
Di balik pintu ruang ICU, Zevana menyandarkan tubuhnya dengan lemas. Bahunya terkulai dan tulangnya seolah melunak menyebabkan ia merasa tak dapat berdiri dengan tegak, perlahan tubuh Zevana meringsut hingga akhirnya jatuh terduduk di depan pintu. Zevana memegang dadanya yang terasa begitu sakit sesaat setelah meninggalkan ruangan ICU tersebut, dia merasakan sakit yang teramat, seolah-seolah ribuan pisau tengah menikam jantungnya. Zevana meringis pelan, dia memejamkan matanya mencoba mengendalikan dirinya. Dan dia berhasil, perlahan sakit di dalam tubuhnya mulai berkurang dan tenaganya mulai kembali seiring dengan teriakan seseorang yang lamat-lamat di dengarnya.‘Tuk..Tuk..Tuk’ Zevana mendengar bunyi langkah kaki yang mendekatinya, dia membuka mata dan melempar senyum kecut begitu mengetahui siapa yang datang menghampirinya, Acha.
“Kak Zeva kenapa? Kakak sakit?” tanya Acha panic begitu melihat posisi tubuh Zevana yang tak enak di lihat, Acha berjongkok menyeimbangkan posisi tubuhnya dengan Zevana. Dia sedikit memiringkan kepalanya untuk dapat melihat jelas sosok Zevana di depannya, mata bulatnya memandang Zevana khawatir.
Zevana menggeleng sambil terus mempertahankan senyuman kecutnya, tangannya yang sedari tadi berada di dadanya ia turunkan, “Gak pa-pa kok Cha” tuturnya pelan.
Acha menegakkan kepalanya, berdiri lalu mengulurkan tangan pada Zevana. “Jangan sedih terus Kak, Acha yakin kok, Kak Alvin pasti sembuh. Acha aja bisa senyum lagi” kata-kata polos Acha yang penuh dengan pikiran positif seolah mengiris hati Zevana, dia menerima uluran tangan Acha dan berdiri.
“Kakak juga yakin” kata Zevana pelan dengan nada yang sama sekali tak terdengar yakin, dia menatap bola mata Acha dengan lembut. “ke taman yuk”
Acha mengernyit bingung dengan sikap Zevana, dia ingin bertanya tapi niatnya itu dia urungkan dan dengan semangat Acha pun mengangguk.
Mereka berdua berjalan beriringan menuju taman di samping rumah sakit dalam hening, bahkan ketika keduanya sudah duduk di salah satu bangku panjang pun tak ada yang berani bersuara, mereka tetap bungkam sambil memandang indahnya langit yang berwarna jingga. Matahari mulai kembali ke peradauannya, berarak perlahan kearah barat. Burung-burung beterbangan dengan teratur, mengikuti satu sama lainnya. Angin berhembus sepoi-sepoi di area taman yang terlihat lengang itu sehingga membuat rasa nyaman bercampur ngeri menjalar di tubuh Acha dan Zevana, mereka bergidik.
“Kak, udah mau maghrib. Balik ke ruang ICU yuk” ajak Acha memecah keheningan, dia benar-benar sudah tak tahan dengan suasana ngeri yang sedari tadi menjalari tubuhnya.
Zevana tak mengindahkan perkataan Acha, dia tetap memandang langit yang mulai berubah menjadi hitam dengan tatapan datar. Walaupun dia juga merasa ngeri tapi tak ada niat meninggalkan taman tersebut, ada sesuatu yang membuatnya merasa betah berlama-lama disana dari pada harus melihat pemandangan yang mengiris hati.
“Kak?” panggil Acha putus asa, dia menyapukan pandangannya pada taman yang terlihat semakin gelap lalu berhenti di satu titik, wajah cantik Zevana yang remang-remang dilihatnya.
“Gimana kalau Kak Alvin gak selamat Cha?” pertanyaan tiba-tiba dari Zevana membuat Acha tersentak, Acha menatap lekat-lekat wajah Zevana yang sama sekali tak menatapnya.
Acha terdiam, dia tak pernah memikirkan sampai sejauh itu. Acha menunduk, diam-diam hatinya merutuki pertanyaan yang di lemparkan Zevana. Berbagai argumentasi pun kini berkecamuk di pikirannya, saling berdebat mengenai yang benar dan yang salah. Akhirnya setelah merenungi kata-kata yang akan Acha keluarkan dia menarik nafas panjang.
“Acha gak tahu, tapi Acha akan coba ikhlas. Mungkin Tuhan punya rencana lain untuk Kak Alvin, Kak Ray juga pernah bilang kalau seandainya Kak Alvin pergi Acha harus sabar. Mama dan papa juga berkata seperti itu”
“Hmm, kalau Kak Zeva juga nyusul Kak Alvin? Terus kami mati berdua di hari yang sama gimana?”
Acha kembali tersentak mendengar penuturan Zevana, dia diam, selain karena lidahnya yang terasa kelu diapun bingung untuk menjawab apa. Zevana tersenyum tipis begitu menyadari bahwa pertanyaan terakhirnya tak mampu di jawab Acha, dia mengalihkan pandangannya pada Acha dan menatap bola mata Acha dengan tatapan tak terbaca.
"Berhubung kakak suka sama romeo dan Juliet, Will we be Romeo and Juliet part 2? Cha?”
Acha diam seribu bahasa, dia benar-benar tak tahu harus menjawab apa. Satu pertanyaan yang tadi di lontarkan Zevana pun belum berhasil dia jawab, di tambah lagi dengan pertanyaan Zevana barusan membuat pikiran Acha buntu, dia memandang Zevana dengan tatapan menerawang. Apa yang dipikirkan Kak Zeva hingga mampu berkata seperti itu? batin Acha bingung.
Zevana kembali tersenyum tipis, bahkan lebih tipis dari yang sebelumnya. Tapi tiba-tiba dadanya kembali bergemuruh, dia merasakan jantungnya kembali sakit seolah di tikam ribuan pisau. Nafas Zevana tercekat, wajahnya kini memucat tapi semua tersamarkan oleh gelap hari yang mulai malam. Pandangan Zevana berputar-putar, pusing yang sangat teramat kini bersarang di kepalanya. Jantungnya semakin berdetak tak karuan membuat Zevana terpaksa membalikkan tubuhnya membelakangi Acha, dia kembali memejamkan matanya mencoba meredam sakit. Berharap cara yang sama akan berhasil untuk ke puluhan kalinya.
"Sudahlah, lupakan. Ayo kembali ke ruang ICU” Zevana bergegas bangkit dan berjalan mendahului Acha meninggalkan taman itu setelah jantungnya kembali berdetak normal dan pusing di kepalanya berkurang, Acha yang masih menerawang segera bangkit dan mensejajarkan langkahnya dengan Zevana.
“Apa maksud kakak?” tanyanya begitu dia berhasil mensejajari langkah Zevana. Zevana menghentikan langkahnya, dan memandang Acha dengan tatapan misterius.
“Suatu saat nanti Acha bakal ngerti”
+++
“Ze, kakak mohon kamu jangan terlalu stress mikirin Alvin. Entar penyakit kamu kambuh Ze, kakak gak mau kehilangan kamu” mohon Rio pada suatu hari setelah seminggu lamanya Alvin terbaring koma di rumah sakit. Keluarga Alvin sudah menyerahkan semuanya pada Tuhan, mereka akan menerima setiap keputusan apapun yang Tuhan berikan melihat tak ada perkembangan dari Alvin sama sekali.
Mereka sudah benar-benar ikhlas, tapi Zevana? Semakin hari Zevana pun terlihat semakin lemah. Tulang di pipinya kini terlihat menonjol akibat mengurus karena jarang makan, matanya juga sayu setiap hari, seperti ada kabut tebal di matanya. Pekerjaan Zevana sehari-hari kini hanya diam menemani Alvin diruang rawatnya, sambil sesekali bercerita panjang lebar walau ia tahu Alvin tak mendengarkannya. Zevana sudah seperti kehilangan akal sehatnya dan itu membuat Rio sangat khawatir dengan keadaan Zevana, mengingat penyakit Zevana yang bisa kambuh setiap saat apabila Zevana stress berlebihan.
Zevana yang sedang mengaduk-ngaduk buburnya menoleh pada Rio lalu tersenyum tipis tanpa mengeluarkan sepatah katapun, tatapannya tetap sama, kosong dan hampa, seolah jiwa yang selama ini berada di dalamnya sedang melayang keluar dari tubuhnya.
Rio menatap Zevana putus asa lalu beralih pada Alvin yang masih terbaring di ranjangnya yang cukup jauh dari sofa tempat sekarang mereka duduk.
“Ze, lo gak boleh gini terus. Alvin juga pasti gak mau liat lo kayak gini” Rio kembali menatap adiknya itu lekat-lekat, memandangi setiap lekuk wajah Zevana dengan tatapan nanar.
Sorot mata Zevana berubah tajam, dia balik memandang kakaknya tersebut tepat di manik mata Rio. “Jangan bawa-bawa Kak Alvin, dia bakal lebih seneng kalau gue nemenin dia mati”
Rio tercekat mendengar penuturan Zevana yang dikatakan dengan dua tarikan nafas. “Zeva, please. Balik kayak dulu” gumam Rio pelan, tapi Zevana tak menggubrisnya. Dadanya kembali sesak akibat berteriak tadi, tapi bukan Zevana namanya jika dia tidak bisa menutupi semuanya. Zevana menarik ujung-ujung bibirnya membentuk sebuah senyum manis, dia menggenggam tangan Rio dengan lembut.
“Ngertiin Zeva kak, jika semuanya harus berakhir biarkan Zevana menjadi seperti Juliet yang menemani Romeonya sampai akhir. Ini keinginan Zevana” nada suara Zevana terdengar begitu lembut tapi sukses membuat Rio menganga. Zevana melepas genggamannya dan berjalan menuju ranjang Alvin, dia menarik kursi dan merapatkannya di samping ranjang Alvin, memandang wajah pucat Alvin yang semakin hari semakin pucat, bahkan seluruh tubuhnya kini sudah seperti es.
Beberapa saat kemudian Ray dan Acha memasuki ruangan tempat Alvin dirawat, sekilas mereka melirik Zevana lalu beralih pada Rio yang masih menganga tak percaya. Karena penasaran Ray dan Acha berjalan kearah sofa dan duduk di samping Rio.
“Kakak, lo kenapa?” tanya Ray bingung, dia mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah Rio membuat Rio tersentak kaget. Rio segera mengalihkan pandangannya pada Ray dan Acha lalu melempar senyuman kakunya.
“Apa Ray? Lo ngomong apa?” tanya Rio kaget, dia gelagapan. Ray dan Acha saling bertatapan, dan pertanyaan dari Rio barusan cukup membuktikan bahwa Rio memang sedang memikirkan sesuatu.
“Kakak lagi mikirin apa? Sampe gak focus gitu?” tanya Acha penasaran, dia memperhatikan wajah Rio yang terlihat begitu kusut. Rio menggeleng pelan.
“Soal Zeva, makin hari tu anak ngomongnya makin ngelantur aja, masa tadi dia bilang mau jadi kayak Romeo dan Juliet” Rio menatap jauh pada Zevana.
Acha tersentak mendengar penuturan Rio, rasanya Zevana juga pernah mengatakan hal yang sama padanya.
Hening, semuanya larut dalam pikiran masing-masing. Acha masih memikirkan perkataan Zevana tempo hari, sementara Ray dan Rio pikiran mereka melayang entah kemana.
Zevana masih tak beranjak sedikit pun dari kursi yang didudukinya meskipun dadanya kembali bergemuruh setelah tiga hari lebih penyakitnya itu tak pernah kambuh, sakit di dadanya semakin menjadi membuat Zevana meringis pelan dengan tangan kanannya yang memegang dada dan tangan kirinya yang meremas tangan Alvin erat. Tahukah kalian, Zevana mengidap penyakit jantung!
Di tengah kesakitan yang menderanya entah kenapa pikiran Zevana malah melayang jauh menembus di mensi waktu menuju beberapa bulan yang lalu sebelum Alvin terbaring di rumah sakit.
+++
Siang itu matahari bersinar dengan teriknya, sampai-sampai membuat kulit terasa terbakar. Orang-orang berlalu lalang kesana kemari mencari tempat yang teduh untuk menghindari sinar matahari yang begitu menyengat kulit. Zevana dan Alvin yang baru saja keluar dari toko buku memutuskan untuk pergi ke sebuah café ber-AC yang tak jauh dari toko buku untuk menghilangkan gerah di tubuh mereka. Dengan langkah-langkah besar keduanya berjalan menuju café dan duduk di meja nomer 6 yang terletak di dekat jendela. Alvin tampak mengibas-ngibaskan bajunya akibat kepanasan
“Gerah ya kak?” tanya Zevana penuh perhatian pada sosok Alvin.
Dengan cepat Alvin menoleh pada Zevana yang duduk disampingnya lalu melempar senyum.
“Hehe, iya nih Ze. Abis di luar panas banget sih” jawab Alvin malu-malu, dia paling tak ingin terlihat lemah di depan Zevana.
Zevana mengangguk setuju dengan pendapat Alvin, dia merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah sapu tangan berwarna biru tosca dari dalamnya lalu sesaat kemudian tangannya sibuk menyeka peluh di wajah tampan Alvin dengan gesitnya. Alvin diam menikmati belaian kasih sayang Zevana yang dia rasakan, dia mengamati setiap lekuk wajah Zevana dengan seksama. Wajah cantik Zevana yang akhir-akhir ini selalu memenuhi otaknya, gadis yang selalu menemaninya setiap saat. Ah, entah kenapa Alvin begitu menyayangi gadis di sampingnya itu, dia benar-benar tak ingin kehilangan Zevana, sekalipun maut yang memisahkan mereka. Alvin ingin bisa abadi bersama Zevana, tak peduli dengan takdir dan kematian. Mungkin terdengar seperti egois, tapi itulah isi pikiran Alvin sekarang.
Zevana yang sadar di perhatikan segera mendongak dan mendorong pelan wajah Alvin yang terlihat begitu serius memandangi wajahnya, dia terkekeh pelan.
“Ngeliat apa sih kak, serius amat” canda Zevana masih terkekeh. Alvin tak menyahut, dia masih bergulat dengan pemikirannya yang entah kenapa terasa begitu egois.
Zevana mengernyit menyadari bahwa candaannnya tak di respon oleh Alvin, lalu matanya ia alihkan pada panggung yang mulai diisi oleh sebuah band. Merasa tertarik Zevana, memfokuskan pandangannya pada band di atas sana, penasaran dengan lagu apa yang akan mereka bawakan.
Alunan musik mulai terdengar dengan irama yang teratur membuat Zevana menajamkan telinganya.
I have a dream, a song to sing
To help me cope with anything
If you see the wonder of a fairy tale
You can take the future even in you fail
Zevana tersenyum mendengar 4 bait pertama lagu tersebut, dia amat mengenali lagu tersebut karena bagaimanapun itu lagu kesukaannya, I have a dream dari westlife. Dia merilekskan tubuhnya dan bersandar pada kursi sembari menunggu pesanan yang tadi dia pesan. Matanya di pejamkan guna menghayati lagu itu lebih dalam membuat Alvin yang sedari tadi memperhatikannya tersenyum tipis melihat tingkah Zevana yang menurutnya lucu. Tapi sedetik kemudian senyum di wajah Alvin memudar menyadari bahwa tak selamanya dia akan berada di sisi Zevana, suatu saat nanti mereka akan berpisah. Cepat atau lambat, tapi semua itu pasti terjadi. Alvin mendesah, apapun alasannya itu tapi mereka pasti akan berpisah. Walau bukan karena masalah tapi suatu saat maut juga akan memisahkan mereka.
“Ze, gimana ya kalau kita pisah?” tanya Alvin tiba-tiba dengan suara yang sangat pelan, nyaris tak terdengar. Tapi seolah mendengar pertanyaan Alvin, Zevana membuka matanya dan melotot tajam pada Alvin. Zevana tak habis pikir bahwa Alvin mampu melontarkan pertanyaan semacam itu.
“Apa maksud kakak? Kakak udah bosen sama Zeva?” tanya Zevana dengan nada tinggi, lebih tepatnya membentak. Amarahnya memuncak dan dia lebih memilih untuk menghindari mata Alvin.
Alvin kaget mendengar bentakan Zevana, dia tak bermaksud berkata seperti itu. “Bukan Ze, maksud kakak kita gak selamanya bersama kan? Suatu saat kita juga akan berpisah”
“Jadi, kakak gak mau hidup sama aku?”
“Bukan begitu, kakak sayang sama kamu dan gak akan pernah bosen. Maksud kakak gimana kalau kita terpisahkan oleh maut? Gimana kalau sesuatu terjadi pada Kakak sehingga kakak pergi?” suara Alvin terdengar lirih menyebutkannya. Sedangkan Zevana hanya bisa diam membisu mendengar pertanyaan Alvin, pertanyaan yang mungkin terdengar sedikit ‘ajaib’. Dia memandang wajah Alvin lekat-lekat, mencari-cari apa gerangan yang membuat Alvin mampu melontarkan pertanyaan seperti itu. Dan dia mendesah begitu menemukan setitik kegalauan di mata Alvin. Kegalauan yang tak berujung tentang kemungkinan akan takdir Tuhan memisahkan mereka.
Hening, keduanya sama-sama diam. Alvin menunggu jawaban Zevana dan Zevana berpikir untuk memberikan sebuah jawaban. Alunan lagu westlife kembali terdengar di telinga mereka.
I have a dream, a fantasy
To help me through reality
And my destination makes it worh the while
Pushing through the darkess still anothermile
I believe in angels
When I know the time is right for me
I will cross the stream
I have a dream
“Well, kalau itu terjadi mungkin aku juga akan nyusul kakak karena Zeva juga sayang kakak” Zevana akhirnya menyahut setelah lagu westlife yang menemani kehingan dari tadi usai, berganti dengan lagu lain yang sama sekali tak ia kenali. Alvin mendongak, memandang wajah Zevana lekat-lekat. Matanya melotot tak percaya, tapi tetap tak bisa menyembunyikan sorot rasa senang di matanya.
“Kok kamu ngomongnya gitu Ze, kamu mau mati bareng aku?”
“Hmm, kalau itu perlu. Kenapa enggak?” Zevana melempar cengirannya pada Alvin,
“Siapa tahu aja kisah kita bisa sama kayak Romeo dan Juliet” Zevana tampak menerawang begitu membayangkan film tentang Romeo dan Juliet yang sangat dia sukai.
Alvin terkekeh, dia mengacak rambut Zevana penuh sayang. “Bisa aja kamu Ze. Setiap ucapan itu doa lho” gumamnya dengan nada menyindir, Zevana ikut terkekeh. Selang beberapa lama kemudian makanan yang mereka pesan datang menyebabkan keduanya kini sibuk melahap makanan di meja. Alvin tertawa riang menyaksikan aksi Zevana yang begitu rakus melahap makanannya.
+++
Seulas senyum tersungging di bibir Zevana mengingat kejadian beberapa bulan yang lalu walaupun jantungnya sudah benar-benar tak bisa di ajak kompromi, semakin lama jantungnya semakin sakit, sakit melebihi apapun. Lebih dari sebelum-sebelumnya yang sempat dia rasakan. Dia meremas dadanya kuat, sambil memandangi wajah Alvin yang tampak tenang dalam komanya. Remasannya pada tangan Alvin semakin lama semakin kuat.
“Kak Alvin, aku gak sanggup” gumam Zevana lirih.
Sekarang dirinya seakan di tindih ribuan truk besar yang tak bercela sedikitpun agar Zevana bisa keluar. Zevana meringis sangat pelan, berusaha agar ringisannya tak di dengar oleh seorang pun. Dia baru menyadari bahwa ucapannya beberapa bulan yang lalu kini mulai menjadi kenyataan, perkataan Alvinpun terngiang-ngiang kembali di benaknya ‘Setiap ucapan itu doa, lho’. Alvin benar, dan kini dia merasakan sebuah karma akibat ucapannya. Zevana mencoba menahan semua kesakitannya dalam diam. Merasa sudah tak kuat, Zevana berdiri sekuat tenaga dan mengecup kening Alvin cukup lama-tanpa ada yang mengamati karena semua sibuk dalam pikiran mereka masing-masing. Setelah itu dia kembali duduk, memejamkan matanya sambil menggigit bibir bawahnya hingga mengeluarkan darah karena sakit yang semakin menjadi. Kini tubuhnya mati rasa.
Tolong Tuhan, sebentar lagi. Dalam hati Zevana terus berdo’a agar Tuhan mau mengabulkan doanya, yang mungkin menjadi doa terakhirnya. Zevana melipat kedua tangannya di samping tangan Alvin, dia membenamkan wajahnya di dalam tangannya.
Beberapa saat kemudian Zevana mendongakkan wajahnya, dia menatap wajah Alvin untuk terakhir kalinya. Senyum kembali tersungging di bibirnya.
“Aku, sayang Kak Alvin. Kak Alvin Romeoku” Zevana kembali bergumam bersamaan dengan wajahnya yang kembali terbenam dalam tangannya. Jantungnya kembali bergemuruh, kepalanya berputar-putar serta terasa begitu berat. Sakit menjalari seluruh tubuhnya dan Zevana sudah pasrah menerima takdirnya. “We always together, forever” gumam Zevana di dalam tangannya.
Teeettttttttt……….. monitor pendeteksi detak jantung yang berada di samping ranjang Alvin mulai menunjukkan garis lurus seiring dengan Zevana yang memejamkan matanya. Nafas kedua orang itu berhenti di saat yang bersamaan, dan entah mengapa mereka berdua tampak tenang.
“Kak Alvin” teriak Acha histeris begitu mendengar bunyi monitor, membuat Ray dan Rio yang juga berada di ruangan itu terbangun dari lamunan mereka. Mereka bertiga berlari menghampiri ranjang Alvin. Acha mengguncang-guncang tubuh Alvin sementara Ray mendekatkan tangannya pada leher Alvin, seketika wajahnya memucat.
“Ze, Ze.. bangun. Alvin, Ze” Rio berusaha menahan tangisnya melihat tubuh Zevana yang sama sekali tak bergerak, dia mengguncang-guncang tubuh Zevana pelan. Rio membalikkan tubuh Zevana dan seketika tangisnya pecah melihat wajah pucat Zevana di sertai darah yang mulai mengering di bibirnya. Rio menyambar tangan Zevana dan memeriksa denyut nadi Zevana, tak ada denyut nadi sedikitpun disana, hanya tangan dingin yang kini Rio rasakan.
“Inna lilahi wainna lilahi roji’un” Ray bergumam pelan dengan air matanya yang mengalir deras. Dia menutupi seluruh tubuh Alvin dengan selimut, lalu memeluk Acha erat, mencoba menenangkan adiknya yang kini terguncang. Rio memeluk tubuh -atau tepatnya mayat- Zevana erat-erat masih tak percaya Zevana akan pergi secepat ini. Baru saja beberapa menit yang lalu Rio berbicara dengan Zevana, tapi sekarang Zevana sudah tak ada. Bukan hanya Zevana, tapi juga Alvin, mereka sudah sama-sama tenang di alam lain.
+++
Langit sore yang berwarna jingga kini tak tampak akibat gumpalan awan hitam yang menghalangi langit. Hujan mengguyur bumi dengan amat derasnya seolah ikut berduka cita dengan kematian Zevana dan Alvin, dua orang yang baru setengah jam lalu terbaring di dalam tanah. Pusara mereka yang berwarna merah tanah di taburi oleh berbagai macam bunga di atasnya. Makam mereka bersebelahan, sengaja karena semua orang tahu bahwa Zevana dan Alvin pasti tak ingin dipisahkan.
“Kak Alvin, baik-baik disana ya Kak. Lo juga Ze, temenin kak Alvin yah. Gue sayang kalian berdua” ujar Ray lirih, dia berdiri di tengah-tengah pusara antara Zevana dan Alvin dengan payung yang melindungi tubuhnya dari hujan.
Di pemakaman itu hanya bersisa Ray, Acha dan Rio yang masih berat melepas kepergian Zevana dan Alvin. Yang lain sudah mencoba membujuk mereka untuk pulang dan mengikhlaskan kepergian Alvin dan Zevana, tapi ketiga anak itu menolak dan meumutuskan untuk tetap tinggal sampai hati mereka benar-benar tenang. Rio mengelus-ngelus nisan Zevana dengan lembut.
“Selamat jalan Ze, keinginan lo udah tercapai. Moga lo bahagia disana. Vin, tolong jagain adik gue” Rio berbicara sambil memandang nisan Alvin-Zevana secara bergantian seolah-olah dia sedang berbicara langsung pada mereka, bukan pada pusara berwarna merah tanah di depannya.
Acha terus diam sejak pemakaman di mulai, bahkan sampai sekarang pun dia masih bungkam. Hanya saja air mata tak henti-hentinya mengalir, membuat mata Acha kini terlihat sembab dan sayu. Dia masih tak bisa menerima kepergian dua orang yang disayanginya, dan pikirannya juga terus terngiang-ngiang oleh ucapan Zevana beberapa hari yang lalu ‘Hmm, kalau Kak Zeva juga nyusul Kak Alvin? Terus kami mati berdua di hari yang sama gimana’. Kata-kata itu membuat Acha merasa perih, dia tak menyangka bahwa Zevana benar-benar pergi bersama Alvin. Acha menggigit bibir bawahnya pelan, lalu menyapukan pandangannya pada area pemakaman yang terlihat sepi. Matanya kemudian terhenti di dua titik, pusara Alvin dan Zevana.
“Aku gak nyangka kalian bener-bener pergi” gumam Acha pelan, mencoba agar suaranya tak terdengar oleh Rio dan Ray yang masih sibuk dengan pikiran masing-masing. Acha memejamkan matanya merasakan sesak didadanya setiap mengingat tentang Zevana dan Alvin lalu tiba-tiba dia teringat akan pertanyaan Zevana yang dulu tak tahu harus ia jawab apa. Pertanyaan itu kini menari-nari di otak Acha berulang-ulang ‘Will we be Romeo and Juliet part 2?’, Acha membuka matanya. Dia tersenyum kecut karena kini ia telah dapat menjawab dari pertanyaan Zevana. Tangannya kembali mengambil segenggam bunga dan di taburkannya di pusara Alvin-Zevana secara bergantian.
“Kak, Acha sekarang ngerti kak. Acha bisa jawab” ujar Acha terdengar bergetar membuat Ray dan Rio memandang Acha bingung.
“Ngerti apa Cha?” tanya Ray penasaran, Acha tersenyum lalu menunjuk pusara Alvin dan Zevana dengan dagunya. Jawaban aku ‘ya’ kak, Kak Zeva sama Kak Alvin pantes di sebut sebagai Romeo dan Juliet kedua, batin Acha sambil tersenyum.
“Mereka, kayak Romeo dan Juliet ya Kak? Mati sama-sama” Acha tersenyum tenang mengucapkan kalimat terakhirnya yang di sambut dengan senyum tipis oleh Rio dan Ray.
“Ya, Cha. Gue setuju” sahut Rio dan Ray sependapat.
“Kak Zeva dan Kak Alvin, hiduplah dengan damai di sana. Kami menyayangi kalian, selamanya”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar