Entri yang Diunggulkan

Series Recommendations! đŸŽ„

Hi, happy Wednesday all! So decided to post my own personal series. I usually dont like watching movie, so because i watched those series ...

Rabu, 20 Juni 2012

That's All About Us (series two: Lee Donghae)

That's All About Us (series two: Lee Donghae)



Is Not Too Late

Lee Donghae memandangi setiap sudut tempat berlangsungnya fashion show Hana─kekasih Eunhyuk─yang sudah kosong dengan wajah bosan. Namja pemilik nick name Fishy itu lantas mengembuskan napas secara perlahan sebelum melangkah ke arah teman-temannya yang kini tengah tertawa-tawa di salah satu sudut gedung tempat dilangsungkannya acara. Donghae mendudukkan dirinya di sebelah Siwon, tangannya bergerak meraih segelas jus yang tersedia di atas meja, dia menyesap sedikit dari isi jus di dalam gelas itu sambil menatapi teman-temannya yang sedang heboh bercanda.
“Mari bersulang untuk kesuksesan uri Hana!” kata Leeteuk tiba-tiba sambil mengangkat gelasnya tinggi.
Semua member Suju bersorak, mereka mengangkat gelas tinggi-tinggi. Donghae ikut bersorak sambil tertawa kecil, larut dalam kebahagiaan malam itu. Gelas mereka baru saja akan saling beradu saat ucapan Eunhyuk yang sarat kekesalan terdengar.
“Yak! Dia Hanaku hyung, bukan Hana kalian!”
Semua orang sontak menolehkan kepala pada Eunhyuk yang sekarang merangkul pundak Hana dengan posesif, tawa mereka meledak kembali melihat sikap Eunhyuk.
Aigo, aigo. Lihat betapa posesifnya monkey ini kepada Hana, hyung!” seru Donghae tiba-tiba, namja itu mengerling jail menatap sahabatnya yang sedang melayangkan tatapan tajam. Donghae tertawa-tawa sebelum sebuah seringaian menghiasi wajah tampannya. Sebuah ide jail untuk mengerjai Eunhyuk melayang-layang di otak Donghae, membuat seringaian Donghae bertambah lebar.
Dengan seringaian yang masih terpampang jelas, Donghae berjalan mendekati Hana, namja itu kini tengah menampilkan ekspresi menggoda terbaik yang ia punya. Sedangkan Eunhyuk yang melihat ekspresi Donghae malah semakin mengeratkan rangkulannya di pundak Hana lalu memandang waspada pada Donghae.
“Hana-ya, kau nyaman dengan sikap posesif Eunhyuk? Jadi kekasihku saja yuk, aku tidak akan seposesif Eunhyuk kalau kau mau.”
Tawa kembali meledak mendengar ucapan Donghae, Kyuhyun bahkan sampai terpingkal-pingkal karena tak percaya Donghae dapat berbuat jail seperti itu. Hana juga ikut tertawa, yeoja itu melirik wajah Eunhyuk yang langsung kesal.
“Mati kau! Lee Donghae!”
Donghae segera berlari menghindari amukan Eunhyuk. Jadilah kedua namja itu sekarang berlarian ke setiap sudut ruangan. Eunhyuk yang mencoba menangkap Donghae dengan wajah kesal, dan Donghae yang mencoba menghindari Eunhyuk dengan tawa yang mengalun merdu.
“Kalau aku berhasil menangkapmu, kau tidak akan bisa lolos, Lee Donghae!”
Mianhae aku terlambat Hana-ya..” suara seorang yeoja menginterupsi perkelahian kecil yang terjadi di antara Donghae dan Eunhyuk.
Tawa semua orang di ruangan itu sontak terhenti, mereka semua menolehkan kepala ke arah pintu masuk dimana suara tadi terdengar. Di sana, berdiri seorang yeoja dengan dress gadingnya yang membuat yeoja berwajah manis itu tampak semakin manis. Senyum Hana terkembang lebar melihat kedatangan orang yang sangat ditunggu-tunggunya.
Gwaenchana, Hye─”
“Han Hyerin.” Donghae menyebutkan nama itu dengan nada tak percaya, matanya memandang Hyerin dengan sorot yang tak bisa diartikan.
Yeoja yang barusan dipanggil Hyerin itu menolehkan kepalanya pada Donghae, matanya melebar seketika begitu melihat namja yang memanggil itu. “Donghae oppa..” balasnya lirih.
Donghae dan Hyerin saling melemparkan tatapan penuh arti tanpa mengindahkan wajah heran yang lainnya. Keduanya seakan tersedot ke dalam dunia yang hanya ada mereka di dalamnya, terlarut dalam euforia masa lalu.
Han Hyerin.
Donghae jelas sangat mengenal yeoja yang bermarga Han tersebut. Dulu, sebelum debut hari-harinya selalu terisi dengan senyum dan tawa Hyerin. Han Hyerin adalah tetangganya dulu, yeoja kecil yang selalu ia ajak bermain setiap sorenya, yeoja kecil yang selalu dia ajarkan pelajaran sekolah yang tak dimengerti, dan yeoja kecil yang selalu membawakan dia makanan tiap mereka bertemu.
Mereka berdua sangat dekat, pulang dan pergi sekolah selalu bersama, jalan-jalan tiap minggu bersama, keduanya selalu melakukan kegiatan bersama. Han Hyerin telah dianggap anak oleh keluarga Donghae saking dekatnya mereka, begitupun Donghae yang telah dianggap anak oleh keluarga Hyerin. Kebersamaan mereka selalu penuh tawa dan kebahagiaan.
Tapi itu dulu.
Semenjak Donghae debut menjadi artis, intensitas kebersamaan mereka tiap hari semakin berkurang hingga tiba-tiba saja Hyerin dan keluarganya menghilang. Banyak orang yang mengatakan Hyerin sekeluarga pindah ke Perancis untuk urusan bisnis. Donghae sempat terpuruk karena kenyataan tersebut, satu-satunya yeoja yang selama ini selalu menjadi penyemangatnya menghilang tanpa pamit. Namja itu juga sangat menyesal karena dia belum sempat menyatakan perasaan pada Hyerin.
Ya, Lee Donghae mencintai Han Hyerin. Rasa itu muncul begitu saja seiring kebersamaan mereka yang tampak tak terpisahkan.
6 tahun kini telah berlalu, dan Hyerin muncul kembali di hadapan Donghae. Membuat perasaan yang telah terkubur lama itu kembali menguap ke permukaan. Dan Lee Donghae telah berjanji kepada dirinya sendiri bahwa dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini lagi.
“Hyerin, kau mengenal Donghae oppa?”
Euforia masa lalu itu lebur seketika begitu Hana bersuara. Donghae dan Hyerin mengerjapkan mata mereka beberapa kali sebelum akhirnya mengalihkan pandangan pada Hana.
Seulas senyum kecil menghiasi bibir Hyerin sebelum yeoja itu mengangguk pada Hana, “Ne, kami bertetangga dulu.”
Appo!” Donghae menjerit kecil saat tiba-tiba saja Eunhyuk memukul lengannya dengan sadis, namja itu mendelik pada Eunhyuk yang sekarang sedang tersenyum penuh kemenangan.
“Balasan untukmu karena menggoda Hanaku!” seru Eunhyuk lalu menjulurkan lidahnya pada Donghae dengan tampang meledek.
Tawa kembali meledak melihat kejadian itu.
“Hyerin-ah, ayo masuk. Jangan pedulikan Eunhyuk oppa dan Donghae oppa. Mereka memang seperti itu.” Ajak Hana sambil menggamit tangan Hyerin mengajak yeoja itu masuk ke dalam.
Hyerin terkekeh kecil, dia mengikuti langkah Hana menuju member Suju yang masih setengah terpana memandangnya.
Oppadeul, ini Hyerin. Sahabat baikku waktu di Perancis..” jelas Hana.
Annyeong haseyo oppadeul,” sapa Hyerin, kedua sudut bibir yeoja itu melengkung membentuk senyum ramah. “Naega Han Hyerin imnida, bangapseumnida.”
Annyeong Hyerin, urineun Super Junior imnida.” balas Leeteuk mewakili member lainnya.
Hyerin mengangguk kecil, senyum tak pernah lepas dari wajah manisnya. Yeoja itu lantas kembali memaku pandangannya pada wajah Donghae─yang juga tengah menatapnya tanpa kedip.
Annyeong Donghae oppa, lama tak bertemu.”
Mendengar sapaan itu Donghae mengangguk kecil sebelum dengan gerakan tiba-tiba Donghae memeluk Hyerin erat.
Ne, bogoshippo Hyerin-ah..”
Hyerin mengerjapkan matanya tak percaya dengan gerakan tiba-tiba Donghae, tapi tak urung yeoja itu juga balas memeluk Donghae dengan erat. Jujur saja, 6 tahun tak bertemu membuat Hyerin sangat merindukan sosok Donghae. Hyerin tersenyum kecil begitu tahu aroma tubuh Donghae sama sekali tak berubah, ada perasaan bahagia yang menyusup masuk ke dalam hatinya begitu sadar Donghae tetap memakai parfum yang dipilihkannya dulu.
“Donghae-ya, sampai kapan kau akan terus memeluk Hyerin, huh? Kami juga ingin berkenalan dengannya.”
Donghae dan Hyerin sama-sama salah tingkah mendengar teguran dari Sungmin, keduanya melempar senyum kaku pada orang-orang di hadapan mereka.
***
Mian waktu itu aku langsung pergi tanpa pamit oppa,” Hyerin memecahkan keheningan yang terjadi di antara keduanya.
Setelah mengucapkan kalimat itu, Hyerin tak lantas memandang Donghae. Yeoja itu malah mengalihkan pandangannya pada jalanan Seoul dari balik jendela mobil. Dia diam-diam merasakan dadanya sesak mengingat perpisahan mereka 6 tahun lalu yang dilakukan tanpa sepatah katapun. Hyerin sebenarnya sama sekali tak ingin pergi waktu itu, akan tetapi dia benar-benar tak bisa menolak wajah memohon kedua orangtuanya. Sebelum pergi, Hyerin sempat ingin pamit pada Donghae, tapi begitu ingat bahwa Donghae sedang berada di luar Negeri untuk melakukan shownya bersama member Suju lain, Hyerin terpaksa mengundurkan niatnya itu dan pergi tanpa pamit.
“Kenapa kau tidak menghubungiku lewat sms atau telepon, Hyerin-ah?” tanya Donghae penasaran. Ekor mata Donghae sesekali melirik ke arah Eunhyuk dan Hana di kursi depan─Donghae dan Hyerin masih ingin hidup, maka mereka memutuskan untuk menumpang di mobil Eunhyuk─dan namja itu menghela napas lega saat melihat Hana dan Eunhyuk sibuk dalam dunia mereka sendiri.
“Aku kehilangan ponselku di bandara oppa, dan nomor teleponmu yang kuhapal adalah nomor lamamu. Aku tak hapal nomor barumu..”
Hari itu, sepertinya memang hari sial bagi Hyerin─setelah tidak bisa pamit secara langsung pada Donghae─begitu tiba di Perancis Hyerin langsung kehilangan ponselnya, padahal dia sama sekali tak hapal nomor baru Donghae. Dan karena hal tersebutlah Hyerin kehilangan kontak dengan Donghae.
Gwaenchana, yang penting sekarang kau sudah kembali kan?” Donghae menatap Hyerin sambil tersenyum manis, namja itu menggerakkan tangan kanannya lantas menggenggam tangan kanan Hyerin dengan lembut.
Hyerin tersentak kaget, dia memutar kepalanya agar menoleh ke arah Donghae dan lututnya langsung terasa lemas melihat senyum dan tatapan Donghae yang begitu hangat. Hyerin memaksakan bibirnya untuk menciptakan seulas senyuman walaupun rasanya sangat susah sebab jantungnya berdetak abnormal.
Ne.” balas Hyerin.
Detik-detik berikutnya berlalu dengan hening, baik Donghae maupun Hyerin sama-sama diam. Bukan tidak ada topik yang harus dibicarakan, akan tetapi mereka berdua menikmati keheningan itu karena keheningan kala itu terasa damai, ada kehangatan yang menyusup secara perlahan lewat tautan jemari mereka.
***
“Hae-ya, berhentilah tersenyum menjijikkan seperti itu.” desis Leeteuk saat mereka berada di ruang latihan.
Donghae─yang masih setia dengan senyum gilanya─menoleh ke arah Leeteuk, bibirnya mengerucut seketika mendengar perkataan Leeteuk.
“Yak! Hyung, senyumku manis, bukan menjijikkan.” sergah Donghae tak terima.
Leeteuk memutar bola matanya kesal, leader Super Junior yang dijuluki Angel without wings itu mencibir pada Donghae.
“Cepat nyatakan perasaanmu sebelum kau gila Hae-ya..” saran Leeteuk sambil berlalu ke arah member Suju lainnya yang tengah beristirahat sambil mendiskusikan berbagai macam hal untuk perform mereka nanti.
Donghae hanya memandang punggung Leeteuk dengan pandangan menerawang. Senyum kecil terkembang di bibirnya saat tiba-tiba bayangan Hyerin menari-nari di kepalanya. Mata Donghae berbinar bahagia mengingat yeoja yang sangat dikasihinya itu telah kembali.
Bersama dengan Hyerin, Donghae merasa separuh kebahagiaannya yang dulu sempat menghilang kini kembali memenuhi relung hatinya. Melewati hari demi hari bersama Han Hyerin membuat Donghae merasa hidupnya semakin penuh warna.
Donghae sangat menyukai tujuh hari yang telah dilaluinya bersama Han Hyerin. Dia menyukai senyum Hyerin setiap mereka bertemu, dia menyukai tawa yang mengalun merdu dari bibir Hyerin saat dia membuat lelucon, dia menyukai rajukan Hyerin saat Donghae bersikap menyebalkan, dia menyukai wajah tersipu Hyerin saat Donghae melemparkan sebuah rayuan, dia menyukai wajah Hyerin yang berbinar bahagia saat bersamanya, dia menyukai tatapan lembut yang selalu diberikan Hyerin saat menatapnya, dan yang paling Lee Donghae sukai adalah saat ada kehangatan yang menyusup lewat tautan jemari mereka setiap berjalan bersama.
Tanpa sadar, Donghae kembali menyunggingkan sebuah senyuman di wajah tampannya. Namja itu pasti akan terus melamun memikirkan Hyerin jika saja Kyuhyun tak menepuk pundaknya dengan keras.
“Yak! Hyung! Kau tidak mendengar Eunhyuk sudah bernyanyi dari tadi menanyakan pendapatmu?” seru Kyuhyun kesal.
Donghae meringis, tangan Donghae mengusap pundaknya yang terasa kebas saking kerasnya tepukan Kyuhyun. Namja itu mendelik ke arah Kyuhyun dengan batin yang terus menggerutu karena ketidaksopanan dongsaengnya itu.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Donghae berdiri dan mengikuti langkah Kyuhyun ke arah teman-temannya. Dalam hati Donghae berjanji akan segera mengungkapkan perasaannya malam ini juga, dia tidak ingin benar-benar jadi gila sebab perasaannya yang tak tersampaikan.
***
Eonni rapi sekali, mau kemana?” Han Saera mengamati detail penampilan kakaknya itu dengan saksama. Manik kecoklatan miliknya  berpendar dari ujung kepala Hyerin sampai ujung kakinya.
Dalam kamus Hyerin, berpenampilan rapi itu merupakan hal yang sangat jarang─kecuali jika menghadiri acara-acara formal atau semi formal. Dan sekarang, Saera melihat dengan mata kepalanya sendiri kalau sang kakak berpenampilan sangat rapi tanpa alasan jelas─maksudnya tidak ada acara formal atau pun semi formal yang akan dihadirinya.
Tak lama, begitu melihat semburat merah tipis yang menghiasi pipi Hyerin, Saera menahan diri untuk tidak tertawa.
“Bertemu Donghae oppa, eh?” goda Saera.
Semburat merah yang menghiasi pipi Hyerin semakin terlihat jelas. Salah tingkah, Hyerin melempar bantal sofa di dekat tubuhnya ke arah Saera.
“Yak! Jangan menggodaku!”"
Saera melepaskan tawanya, “Eonni, pipimu..” seru Saera heboh, yeoja itu membekap mulutnya dengan tangan agar tawanya tak semakin keras.
Hyerin mengerucutkan bibirnya kesal, dia merapikan dress yang dikenakannya sebelum duduk di sofa.
“Berhenti tertawa sebelum aku membuang PSPmu, Han Saera.” nada suara Hyerin yang rendah tapi penuh ancaman berhasil membuat Saera terdiam.
Saera buru-buru mendekap erat PSP yang sedari tadi ia mainkan di dadanya, dilemparkannya tatapan tajam pada Hyerin. “Yak! Eonni, jangan macam-macam dengan PSPku!”
Hyerin langsung tertawa melihat sikap protektif Saera pada benda persegi berwarna hitam itu, sedangkan Saera sekarang malah mendengus kesal. Saera akhirnya memutuskan untuk main game lagi daripada berurusan dengan Hyerin.
Jarum jam yang berdetak teratur dan suara televisi yang menyala menjadi satu-satunya backsound di ruang keluarga Han.
“Saera-ya, menurutmu Donghae oppa itu orang seperti apa?” tanya Hyerin tiba-tiba.
Saera yang sedang asyik dengan PSPnya melirik Hyerin sekilas, “Donghae oppa baik.” jawabnya pelan, Saera lalu mempause gamenya secara tiba-tiba dan memandang Hyerin serius. “Tapi seberapa baiknya pun Donghae oppa, aku berharap eonni tetap di jalan yang sekarang dan tidak mengecewakan appa.”
Hyerin langsung termangu mendengar kata-kata Saera yang begitu serius. Yeoja itu terlarut dalam perang batin yang sedang berkecamuk di kepalanya sebelum tiba-tiba saja bel rumah berbunyi. Hyerin terkesiap pelan lalu buru-buru berdiri untuk menyambut tamu itu─dia yakin Donghae. Senyum Hyerin terkembang secara perlahan.
Eonni, ingat kata-kataku tadi..” teriak Saera melihat Hyerin beranjak ke luar.
Hyerin menghela napas lamat-lamat mendengar teriakan Saera, dia memandangi pintu utama di hadapannya sebentar sebelum sebuah senyuman kembali menghiasi bibirnya.
Annyeong oppa...” sapa Hyerin begitu pintu yang dibukanya menampilkan wajah Donghae yang penuh senyuman.
Annyeong Hyerin, siap?” tanya Donghae, matanya mengamati penampilan Hyerin dan senyum di bibirnya terkembang makin lebar. Hyerin memang selalu cantik mengenakan apapun.
Ne.” jawab Hyerin bersemangat, dia menyambut uluran tangan Donghae yang selalu menawarkan kehangatan.
Mereka berdua berjalan beriringan menuju pasar malam yang tak jauh dari rumah Hyerin. Tawa dan canda selalu menemani perjalanan keduanya. Mereka mengunjungi berbagai stand permainan, mencoba berbagai barang atau baju, dan mencicipi berbagai makanan yang dijual di sana.
Malam itu berlalu dengan menyenangkan walaupun Donghae harus memakai kacamata dan masker untuk menyamarkan penampilannya. Hyerin merasa sangat bahagia meskipun kata-kata Saera selalu menampar pikirannya berulang-ulang.
Saat ini, Hyerin dan Donghae telah berada di kedai ramyun, keduanya duduk di meja paling pojok agar tidak terlihat mencolok.
Mashita! Ini ramyun terenyak yang pernah aku makan.” puji Hyerin senang. Dia memakan ramyunnya dengan lahap.
Donghae hanya terkekeh pelan melihat kelakuan Hyerin yang kekanakkan.
Oppa, kenapa kau terus menatapiku? Apa ada yang aneh di wajahku?” tanya Hyerin heran melihat Donghae sama sekali tidak menyentuh makanannya dan malah sibuk menatapi Hyerin.
Donghae kembali terkekeh mendengar pertanyaan Hyerin, “Ne, memang ada yang aneh dengan wajahmu Hyerin-ah.”
Mata Hyerin membulat panik, dia meraba-raba pipinya, “Mwo? Aneh apa oppa?”
Donghae berdiri, dia mencondongkan tubuhnya ke arah Hyerin hingga wajah mereka hanya berjarak 10 senti. Mata mereka bertemu, baik Donghae maupun Hyerin terpaku beberapa saat. Mereka dapat merasakan desiran aneh di dalam diri mereka saat embusan napas keduanya beradu.
Donghae adalah orang yang pertama kali sadar dari keterpakuannya, namja itu mengerjapkan mata dengan pelan, lalu senyum terukir di bibirnya. “Ne wajahmu sangat aneh dengan kuah ramyun itu..” seru Donghae sebelum menyeka kuah ramyun di sekitar bibir Hyerin dengan tisu yang diambilnya, setelah itu Donghae kembali duduk.
Hyerin masih terpaku, jantungnya berdebar menyalahi aturan. Sangat cepat sampai Hyerin sendiri waswas jantungnya itu akan meloncat keluar. Pipi Hyerin memanas, dengan segera yeoja itu menundukkan kepalanya setelah tersadar.
Biasanya melihat pipi Hyerin semerah itu Donghae akan dengan senang hati menggodanya, tapi kali ini Donghae hanya terdiam sambil menikmati pemandangan tersebut dengan senyum di bibirnya.
***
Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam ketika Donghae mengantar Hyerin ke rumahnya. Mereka berdua menghentikan langkah tepat di depan pagar Hyerin.
“Kau senang?” Donghae mengayunkan tangan mereka yang masih bertautan, senyum manis tersungging di bibirnya.
Hyerin ikut tersenyum, “Ne, aku senang sekali malam ini. Gomawo oppa.”
Cheonma.” balas Donghae singkat.
Hyerin mengangguk, dia memandang ke dalam rumahnya sebentar sebelum kembali memandang Donghae.
“Aku masuk dulu ya oppa..” pamit Hyerin, dia melepaskan tautan jemari mereka meskipun sebenarnya tak ingin. Hyerin merasakan sebuah kekosongan sebab jemari hangat Donghae tak lagi menggenggamnya. Hyerin memegang pagar rumahnya, sebelum masuk, dia kembali menoleh ke belakang untuk menatap Donghae.
Hyerin tersenyum lagi lalu melambaikan tangannya ke arah Donghae, “Annyeo─”
Saranghae..” Donghae menyela perkataan Hyerin dengan mengucapkan kata sakral tersebut, namja itu melangkah mendekati Hyerin yang langsung terpaku dan berdiri setengah meter di hadapannya. “Jeongmal saranghaeyo Hyerin-ah.” ulang Donghae, tangannya kembali menggenggam tangan Hyerin dengan penuh perasaan. Mata Donghae memenjara mata Hyerin dengan tatapan dalam yang penuh kasih. “Kau mau menjadi kekasihku, kan?”
Hyerin terenyak, sorot matanya berubah sendu ketika menatap mata Donghae. Yeoja itu kembali melepaskan tautan jemari mereka dengan lembut.
Oppa, kau terlambat.” kata Hyerin lirih.
Donghae mengernyit, “Apa maksudmu?”
“Kalau saja kau mengatakan itu 6 atau 7 tahun yang lalu aku pasti tanpa ragu akan menerimamu, tapi sekarang sudah terlambat oppa..”
Donghae menyimpan tangannya di pundak Hyerin dengan tatapan semakin tak mengerti, “Kau mencintai namja lain?”
Hyerin menggeleng, kepalanya tertunduk dalam.
“Aniyo, aku sebenarnya juga mencintaimu.”
“Lalu mengapa kau bilang terlambat Hyerin-ah? Jelaskan padaku!”
Hyerin menepis tangan Donghae di pundaknya, dia menatap mata Donghae dengan tatapan terluka. Matanya berkaca-kaca.
“Aku akan menjadi tunangan orang lain lusa nanti oppa..” setelah mengatakan itu Hyerin segera membuka pagar dan berlari masuk ke rumahnya.
Donghae langsung mencelos seketika mendengar perkataan Hyerin tadi. Tubuhnya lemas, dan dia tidak bisa memikirkan apapun saat ini. Pikirannya terlalu penuh dengan kata-kata Hyerin yang bagai bom atom, meledakkan hatinya hingga menjadi debu.
Desau angin yang membelai wajahnyalah yang akhirnya menyadarkan Donghae, namja itu melangkah dengan lunglai menapaki jalan yang entah kemana. Satu-satunya tempat yang ingin dia tuju saat ini adalah tempat yang sepi, dan satu-satunya tempat yang ingin dia hindari adalah dorm.
Lee Donghae melangkah dengan kekosongan yang mengisi hatinya.
***
Brak!
Eonni!”
Han Hyerin sama sekali tak mempedulikan teriakan kesal adik pertamanya itu, yang dilakukannya hanya membanting pintu kamar lantas merosot jatuh dibaliknya.
Beberapa saat Hyerin hanya termangu dengan tubuh yang masih terduduk di lantai, tapi kemudian Hyerin menyeret kakinya ke ranjang lantas membanting tubuhnya di atas busa persegi itu, pikirannya sekarang benar-benar kacau.
Jujur, dia hancur. Pengakuan Donghae dan ketidakberdayaannya untuk memperjuangkan perasaannya telah mengiris lapis demi lapis hatinya dan mengoyak semua rasa didalamnya. Dan di kamarnya ini, cairan bening itu tiba-tiba saja luruh dengan sendirinya. Hyerin tak sanggup lagi menampung air itu dalam kelopak matanya, dia tak sanggup lagi menahan semua beban yang serasa meremukan tubuhnya. Hyerin rapuh, dia terlalu rapuh oleh perasaan yang tak mungkin bisa dia gapai bersama Donghae.
Oppa mianhae, jeongmal mianhae.. Aku mencintaimu, tapi aku juga tak bisa mengecewakan appa. Saranghaeyo, semoga kau bisa menemukan orang yang lebih baik dari aku.” lirih Hyerin di dalam tangisnya.
Hyerin terisak hebat, yeoja itu makin melesakkan kepalanya di bantal. Menangis menyesali ketidakberdayaannya yang begitu payah dan… bodoh!
Hyerin tak pernah tau bahwa rasanya mencintai tanpa bisa memiliki bisa sesakit ini, sangat sakit hingga ia rasanya lebih baik menghilang dari muka bumi ini.
***
Donghae memandangi permukaan air sungai Han yang tenang dengan tatapan kosong. Jejak air mata yang tertinggal di pipinya seolah menjadi pertanda bahwa namja itu telah lelah menangisi kisah cintanya yang sangat tragis.
Donghae menghela napas perlahan, dia lalu mengusap sisa jejak air mata di pipinya itu dengan kedua jarinya. Donghae tahu, seharusnya sebagai seorang namja ia tidak bersikap cengeng seperti ini. Tapi dia juga manusia yang berhati lembut, dan Donghae pikir menangis bukanlah hal buruk untuk meluapkan emosinya.
Termenung lagi, Donghae merasa hidupnya benar-benar kosong sekarang. Setelah dia kehilangan Hyerinn untuk 6 tahun lamanya, sekarang dia bahkan harus kehilangan Hyerin untuk selamanya. Pikiran Donghae terlalu penuh diisi berbagai macam hal, dan hati Donghae juga terlalu penuh dengan segala campuran perasaan yang mengoyaknya secara perlahan.
Helaan napas kembali lolos dari bibir Donghae, menciptakan uap akibat udara yang lebih dingin dari suhu tubuhnya. Donghae mengeratkan jaket yang dipakainya, dia memejamkan mata menikmati kesunyian yang menemaninya sejak ia menginjakkan kaki di sini. Mungkin kesunyiaan inilah yang akan menemani ia untuk seterusnya.
Kesunyiaan itu terpecahkan oleh ringtone I-phonenya yang berdering heboh. Donghae terkesiap, dia merogoh saku jaketnya dan memandangi layar I-phonenya dengan tatapan datar. Ini adalah telepon entah keberapa puluh kali dari member Suju, Donghae tak berpikir untuk mengangkatnya, dia ingin sendiri saat ini, jadi entah untuk keberapa puluh kalinya juga Donghae mengabaikan panggilan itu.
I-phonenya berbunyi lagi. Donghae mendengus karena merasa ketenangannya terganggu, namja itu kembali memandangi layar I-phonenya. Nama ‘Lee Hyukjae’ berserta gambar mereka berdua terpampang di sana.
Donghae tampak berpikir sejenak, ia lalu mengembuskan napasnya sebelum mengangkat panggilan itu.
Baiklah, Donghae juga butuh teman untuk berbagi.
“Yak! Lee Donghae! Dimana kau sekarang? Kenapa kau tidak mengangkat telepon kami dari tadi hah?”
Eunhyuk tampaknya tak mau susah-susah untuk mengucapkan basa-basi telepon karena namja itu langsung memberondong Donghae dengan berbagai pertanyaan yang terdengar mengintimidasi.
Sadar tak ada jawaban, Eunhyuk kembali bersuara. “Kau membuat semua orang di dorm cemas, Hae-ya. Sekarang cepat katakan dimana kau!”
Donghae menggigit bibirnya, “Sungai Han, Hyukie.”
“Tunggu aku setengah jam lagi, jangan kemana-mana!” suara Eunhyuk berubah cemas, dia tahu kalau Donghae sudah memanggilnya dengan akhiran ‘ie’, itu artinya Donghae sedang membutuhkannya.
Sambungan terputus. Donghae memandangi I-phonenya dengan tatapan kosong sebelum kembali menyimpan I-phone itu di saku jaketnya. Matanya kembali memandang lurus ke depan dengan sinar yang meredup.
“Donghae!”
Donghae mengalihkan tatapannya pada asal suara, dia melempar senyum tipis pada orang yang baru saja memanggil namanya.
“Kau bilang setengah jam, sekarang baru 15 menit Hyukie.”
“Berhenti tersenyum seperti itu, kau tampak menyedihkan.”
Eunhyuk duduk di sebelah Donghae, raut wajahnya masih diselimuti kecemasan.
“Entahlah, aku merasa kosong..” gumam Donghae, tangannya lalu meraba dada. “Di sini.”
Eunhyuk menghela napas, dirangkulnya pundak Donghae. “Mianhae, aku tidak memberitahumu sebelum kau nekat menyatakan perasaanmu kalau Hyerin akan bertunangan..”
Donghae menggeleng, “Gwaenchana, ini bukan salahmu.” walau ada nada getir dalam nada suaranya, Donghae tetap mencoba tersenyum.
Eunhyuk membalas senyum Donghae dengan senyum tak kalah getirnya.
“Kau, tahu ini sejak kapan?” tanya Donghae tiba-tiba.
“Tadi sore waktu aku berkunjung ke apartemen Hana.”
Donghae meraup udara di sekitarnya lamat-lamat, “Apa yang harus aku lakukan sekarang?”
Eunhyuk menatap Donghae sebentar sebelum matanya memandang sungai Han lurus-lurus, “Entahlah Hae-ya, tapi kurasa kau harus belajar melepaskannya.”
“6 tahun yang lalu aku sudah melepasnya Hyuk!” Donghae tiba-tiba saja berteriak, air matanya kembali tumpah. “Dan sekarang apa aku harus kembali melepasnya?!”
Eunhyuk mengeluh dalam hati mendengar Donghae berteriak padanya.
“Hae-ya, cukup, kendalikan emosimu.” seru Eunhyuk sambil memegang bahu Donghae yang bergetar. “Aku tidak akan menyuruhmu melepasnya lagi, jadi kau mau apa sekarang?”
Donghae mengusap air matanya dengan kasar, “Bagaimana kalau aku merebutnya?”
“Donghae!” seru Eunhyuk terkejut, “jangan nekat, bagaimana kalau Hyerin mencintai tunangannya?”
Donghae menatap Eunhyuk tajam, “Tidak, Hyerin mencintaiku, tapi dia hanya tidak ingin mengecewakan appanya.”
Eunhyuk kembali terkejut, dia menatap Donghae sebentar sebelum memijit keningnya yang terasa berdenyut memikirkan kisah Donghae yang rumit.
Arraseo, tapi jangan merebutnya secara paksa, minta izinlah pada tunangan dan appanya. Kurasa itu lebih baik Hae-ya.”
Setitik kelegaan merayap di hati Donghae mendengar saran Eunhyuk. Emosinya kembali surut dengan perlahan.
Ne, lebih baik begitu. Aku akan bicara dengan mereka secepatnya.”
Eunhyuk tersenyum mengejek, “Memang kau tahu siapa calon tunangan Hyerin?”
Donghae yang sudah tersenyum percaya diri langsung membulatkan matanya.
Aigo, aku lupa. Kau tahu siapa Hyuk-ah?”
Eunhyuk menyeringai, “Nde, tentu saja aku tahu..”
Jeongmal? Katakan padaku siapa!” pinta Donghae bersemangat.
“Tidak!” tolak Eunhyuk membuat wajah Donghae langsung masam.
Waeyo?”
“Aku akan memberitahumu jika kau pulang ke dorm sekarang.” jawab Eunhyuk, “kau membuat semua orang cemas Hae-ya. Jam berapa sekarang, huh?”
Donghae meringis, dia melirik jam tangan yang melingkari tangannya. 02. 00 a.m. Donghae benar-benar tak sadar dia sudah di sini selama 4 jam.
Nde, cepat katakan padaku siapa dia.”
Eunhyuk menghela napas sebelum menjawab dengan suara pelan, “Byun Baekhyun, Exo-K..”
***
Hyerin menarikan jarinya di pinggiran cangkir moccacino pesanannya. Sesekali, yeoja itu mengembuskan napas berat mengingat kejadian kemarin malam. Saat dimana dia harus menolak orang yang paling diinginkannya. Hyerin memandang keluar jendela kafe, tatapannya berubah sendu begitu melihat banyak sekali pasangan kekasih yang sedang bercanda di luar sana.
Tanpa sadar, setetes air mata kembali menuruni pipinya. Hyerin mengerjap kaget lalu buru-buru menghapus air matanya itu dengan lembut. Tidak. Dia tidak ingin menangis lagi. Hyerin sudah lelah menangis, lagipula menangis tak akan mengubah apapun selain membuat kantung matanya jadi hitam. Hyerin sudah memutuskan tidak akan mengecewakan appanya dan tetap bertunangan dengan Baekhyun esok hari meskipun dia harus mengorbankan hatinya sendiri─juga mungkin hati Donghae.
Byun Baekhyun sudah seperti adik sendiri bagi Hyerin, namja itulah yang menemaninya bermain selama 4 tahun di Perancis─Baekhyun pulang sendiri ke Korea di tahun kelima Hyerin di Perancis untuk melakukan training SMent. Selama di Perancis itu Hyerin sangat dekat dengan Baekhyun, mungkin karena kedekatan itulah kedua orangtua Hyerin maupun Baekhyun salah paham. Kedua keluarga itu sepakat menjodohkan Hyerin dan Baekhyun. Awalnya baik Hyerin maupun Baekhyun mencoba menolak, namun lama-lama karena tak tega mengecewakan orangtua mereka memutuskan untuk menerima.
Dan beginilah hasilnya sekarang, kedua orangtua Hyerin dan Baekhyun ternyata serius dengan perjodohan mereka 3 tahun lalu, bahkan orangtua Hyerin sampai rela kembali menetap di Korea demi menyusul keluarga Baekhyun yang sudah lebih dulu menetap di Korea sejak setahun lalu.
Hyerin mengeluarkan udara yang sedari tadi ditahannya ketika ingatan bagaimana ia bisa sampai dijodohkan dengan namja yang setahun lebih muda darinya itu terputar ulang disusul bayangan Donghae dengan segala tingkah lakunya. Yeoja itu meringis dalam hati menyadari bahwa bayangan Donghae tak pernah mau bergeser dari kepalanya walau pun dia sudah berusaha sangat keras.
Hyerin menatap cangkir moccacinonya sekali lagi sebelum mengangkat cangkir itu mendekati mulutnya dan menyesap cairan kecokelatan itu perlahan, matanya beralih memandang pintu masuk saat menyadari orang yang sedari tadi ia tunggu akhirnya muncul─lengkap dengan penyamarannya.
Mianhae, noona pasti menunggu lama ya?” Tanya namja itu tak enak seraya mengambil tempat di hadapan Hyerin.
Sambil mencoba tersenyum, Hyerin menggeleng pelan. “Gwaenchana Hyun-ah, noona juga baru tiba tadi.”
Baekhyun melirik cangkir moccacino Hyerin yang sudah tak beruap, dan ia mendesah begitu tahu bahwa Hyerin telah berbohong padanya. Yeoja itu pasti sudah menunggu sangat lama.
“Kau baik-baik saja noona?” Tanya Baekhyun pelan, tangannya terjulur menyentuh dahi Hyerin dengan lembut.
Nde, aku baik-baik saja Hyun-ah..” jawab Hyerin, “bagaimana denganmu? Aku sudah lama sekali tak melihatmu.” Hyerin balik bertanya, tangannya mengacak rambut Baekhyun sambil tersenyum kecil.
“Kau sangat merindukanku, eoh?” goda Baekhyun sambil tergelak, “bukankah kau melihatku di tivi setiap hari?” Baekhyun memasang mimik serius, membuat Hyerin mengerucutkan bibirnya dan meninju bahu Baekhyun pelan.
Pelayan datang membawa pesanan Baekhyun setelah keduanya mengobrol cukup banyak. Baekhyun mengucapkan terimakasih pada pelayan itu lalu kembali mendengarkan cerita Hyerin dengan saksama.
Baekhyun mengangguk pelan tanda ia mengerti, “Kau ingin membatalkan pertunangan kita noona?”
Mwo?” mata Hyerin membelalak dengan sendirinya, yeoja itu buru-buru menggelengkan kepalanya mendengar pertanyaan Baekhyun. “Aniyo Hyun-ah, aku hanya ingin bercerita padamu.”
Hyerin lantas menghela napas dalam-dalam sebelum berkata, “Kau tahu sendiri aku paling tidak ingin mengecewakan appa.” dengan nada sedih yang begitu kentara.
Baekhyun memandangi wajah Hyerin yang nampak sedih secara menyeluruh, lantas namja itu ikut menghela napas. Dia tak pernah tahu apa isi yang ada di kepala Hyerin, yeoja itu selalu lebih mementingkan perasaan orang lain daripada perasaannya sendiri. Han Hyerin selalu lebih memilih mengorbankan kebahagiaannya demi melihat kebahagiaan orang lain. Baekhyun sendiri tak mengerti mengapa Hyerin dapat bersifat seperti itu, yeoja itu terlalu baik dan pengertian sampai-sampai mau menyiksa diri sendiri demi kebahagiaan orang lain. Hyerin memang membingungkan, Baekhyun tak pernah bisa menebak pikiran yeoja itu. Rumit dan membingungkan, membuat Baekhyun kadang-kadang pusing sendiri.
“Jadi noona akan tetap bertunangan denganku besok?” tanya Baekhyun, matanya memandang Hyerin sekilas sebelum dia menundukkan pandangan pada makanan yang dipesannya, namja itu mengangkat gelas jus mangganya lalu meminum isinya sedikit. Perhatiannya kembali pada Hyerin yang tengah menggigit bibir bawahnya sembari memandang Baekhyun dengan tatapan setengah ragu.
Tak lama, Hyerin mengangguk pelan, “Ne, lagipula bertunangan denganmu tak buruk juga..”
Baekhyun mendecak, sudah ia duga Hyerin akan menjawab seperti itu. “Jangan menyesali keputusanmu ini noona, karena kalau besok kita sudah terikat aku tak akan mau memutuskannya. Kau tahu aku.” peringat Baekhyun seraya mengedikkan bahunya, bibir namja itu tersenyum sedikit dan tangannya mulai bergerak menyendok hidangan yang dia pesan lalu memasukkannya ke mulut.
Hyerin mengangguk lagi sambil mendesah, dia tahu Baekhyun memang tipe orang yang seperti itu. Baekhyun mempunyai prinsip bahwa ‘apapun yang sudah terikat dengannya tidak akan pernah ia lepaskan walaupun ia sendiri tidak menyukainya’ dan setahu Hyerin namja itu tak pernah mengingkari prinsipnya.
Selanjutnya mereka berdua tak berkata apapun, Hyerin hanya memandangi Baekhyun yang sedang makan dengan lahap─seperti tidak pernah makan sebelumnya─dan Baekhyun sendiri sedang fokus pada makanannya. Dia sepertinya benar-benar lapar.
Getaran halus yang berasal dari I-phone Hyerin membuat yeoja itu sedikit tersentak dari lamunannya. Dengan segera Hyerin mengeluarkan ponselnya dan membuka pesan yang baru saja masuk.
From: Hana-ya^^
Hyerin-ah, cepat ke butikku sekarang. Bukankah kau harus mencoba gaun untuk pertunanganmu besok?
Hyerin mengembuskan napas membacanya. Lihatlah, semuanya sudah benar-benar dipersiapkan dengan baik, bagaimana mungkin dia bisa mengecewakan kedua orangtuanya yang sudah sangat excited ini?
Jemari Hyerin menari di atas keypad untuk membalas pesan Hana.
To: Hana-ya^^
Nde, aku sebentar lagi ke sana.
Setelah menyimpan I-phonenya di tas tangan lagi, Hyerin melirik sejenak ke arah Baekhyun yang telah selesai dengan makanannya.
“Hyun-ah, aku pulang sendiri tak apa, kan? Aku harus ke butik Hana untuk mencoba gaun.”
Baekhyun yang tengah meminum jus mangganya melirik Hyerin sekilas sebelum mengangguk pelan tanda mengizinkan. Hyerin memberikan senyum tipisnya sebelum benar-benar melangkah meninggalkan Baekhyun di kafe itu.
“Aish, sebenarnya siapa namja yang Hyerin noona cintai? Apa dia cocok untuk Hyerin noona?” gumam Baekhyun setengah menerawang. Matanya mengikuti punggung Hyerin yang pelan-pelan menghilang.
Baekhyun tercenung sebentar sebelum tangannya melambai untuk membayar makanannya. Namja itu baru saja berdiri hendak meninggalkan kafe saat tiba-tiba saja ponselnya berdering. Baekhyun mengangkat teleponnya dengan kening berkerut samar melihat nama ‘Donghae sunbae’ sebagai id callernya.
Yeoboseyo, Baekhyun-ssi.”
Yeoboseyo sunbae. Waeyo? Kau ada perlu denganku?”
Donghae diam sebentar sebelum menyahut, “Ne, aku ingin bertemu denganmu di taman depan SMent, kau bisa?”
Baekhyun tampak heran mendengar permintaan Donghae, selama ini mereka terbilang tak cukup dekat. Jadi ada masalah apa sampai tiba-tiba Donghae memintanya bertemu? “Arraseo sunbae, aku akan segera ke sana.”
Nde, aku menunggumu. Gomawo.
Klik!
Baekhyun menatap layar ponselnya masih dengan wajah bingung. Selama di perjalanan dia hanya memikirkan apa yang sebenarnya ingin dibicarakan Donghae. Mobil Baekhyun sampai di gedung SMent 10 menit kemudian, namja itu memarkir mobilnya di lahan yang masih kosong lantas berjalan menuju taman depan.
Setibanya di taman, Baekhyun memanjangkan lehernya untuk mencari keberadaan Donghae. Dia tersenyum sedikit ketika melihat Donghae duduk di salah satu bangku sambil memainkan ponselnya. Baekhyun melangkah tenang menghampiri Donghae.
Annyeong sunbae, ada perlu apa denganku?” tanyanya ketika sudah ada di hadapan Donghae, Baekhyun memberikan senyum ramah yang dia punya.
Donghae mengangkat wajah ketika mendengar suara seseorang, dia memandang datar ke arah Baekhyun yang sedang menebar senyum ramah padanya.
Annyeong Baekhyun-ssi, duduklah dulu.”
Baekhyun sebenarnya tidak terlalu menyukai reaksi Donghae yang sangat datar menyambut kedatangannya (hei, bukankah Donghae yang memintanya bertemu?) tapi demi menjaga kesopanan pada seniornya ini, Baekhyun akhirnya hanya mengangguk dan menuruti kata-kata Donghae tadi.
Donghae melirik Baekhyun, dihirupnya udara sebanyak-banyaknya sebelum dia memulai percakapan dengan Baekhyun.
“Baekhyun-ssi, kau benar-benar tunangan Hyerin?”
Baekhyun menoleh menatap wajah Donghae, keningnya berkerut mendengar pertanyaan yang dilontarkan Donghae. “Ne?”
Donghae mendengus, memalingkan wajahnya dan menatap Baekhyun datar, “Aku bertanya apakah kau benar-benar calon tunangan Han Hyerin anak dari Han Jaebyun?”
Kerutan di kening Baekhyun menghilang sedikit demi sedikit, “Ne, itu benar. Ada apa memangnya sunbae?”
“Bisakah kau memberikan Hyerin padaku?” tanya Donghae tanpa basa-basi.
Baekhyun terkesiap, dia balik menatap Donghae dengan tajam. Pikirannya melayang-layang pada cerita Hyerin tadi. Apa Donghae sunbae orang yang diceritakan Hyerin noona? Pikirnya dalam hati. Baekhyun tertegun sebentar sebelum otaknya mencetuskan sesuatu.
“Apa maksud sunbae?”
Donghae memutar bola matanya jengah, “Kau tidak mengerti perkataanku? Aku menginginkan Hyerin, berikan dia padaku!”
“Memang kau pikir Hyerin barang? Tidak, aku tidak akan melepaskannya.”
Tatapan Donghae meredup, ada perasaan sedih dan luka di dalam matanya. “Jebal Baekhyun-ssi. Batalkan pertunangan kalian, aku sangat mencintainya.”
“Tidak sunbae, mianhae. Aku tidak ingin kehilangan mainanku.”
Mata Donghae membelalak lebar mendengar ucapan Baekhyun, dia langsung menarik kerah kemeja yang dikenakan Baekhyun dan memandang namja itu dengan tatapan membunuh terbaik yang pernah ia miliki. Baekhyun hanya menatapnya datar.
“Yak! Apa maksud kata-katamu barusan?!”
“Uh,” keluh Baekhyun, “kau tak usah naif seperti itu sunbae. Kau tahu aku dan Hyerin dijodohkan tanpa cinta, aku juga sudah memiliki kekasih sebenarnya. Tapi aku tak ingin membatalkan pertunangan ini, Hyerin terlalu cantik untuk dilewatkan, dia bisa menjadi mainanku yang menarik.”
Donghae tak bisa lagi mengendalikan emosinya, dia melayangkan satu pukulan tepat ke wajah Baekhyun.
“Brengsek! Aku tak akan membiarkanmu melakukan itu!”
Dan tanpa bisa cegah, pukulan bertubi-tubi kembali dilayangkan Donghae secara membabi buta.
***
Neomu kyeopta Hyerin-ah,” pekik Hana kagum melihat penampilan Hyerin.
Saat ini keduanya sedang berada di ruangan khusus yang disediakan hotel tempat Hyerin akan bertunangan. Hyerin sudah selesai didandani oleh perias, dia tampak sangat cantik hari ini dengan dress selutut berwarna biru laut yang dirancang Hana.
Hyerin tersenyum tipis melihat kekaguman Hana, dia mengangkat kepalanya menghadap cermin dan ikut mengamati refleksi dirinya yang terpantul sempurna di cermin itu. Hana benar, Hyerin tampak sangat cantik dan menawan dengan tampilannya saat ini. Tapi Hyerin sama sekali tak merasa senang, dia justru merasakan kekosongan menyelimuti hatinya. Setelah acara ini berakhir, tidak akan ada lagi kesempatan Hyerin untuk bersama Donghae. Hyerin harus belajar merelakan Donghae mulai sekarang, sesakit apa pun dia nantinya, Hyerin harus bisa melupakan Donghae. Menghapus namja itu dari pikiran dan hatinya.
Tanpa bisa dicegah, Hyerin meneteskan air matanya menyadari kenyataan yang harus dia hadapi setelah ini. Namun sebelum Hana melihatnya, Hyerin buru-buru menyeka air mata itu dengan perlahan.
“Hyerin-ah, nanti kau akan masuk saat Han ahjussi menyuruhmu masuk. Aku yang akan memberikan kodenya, kau siapkan?” Tanya Hana riang, yeoja itu menggamit tangan Hyerin lantas membawa Hyerin keluar dari ruangan itu.
Mollayo Hana-ya, aku tidak tahu aku siap atau tidak.” Jawab Hyerin ketika mereka sudah sampai di pintu masuk ballroom tempat dilangsungkannya acara. Hyerin dan Hana duduk di salah satu kursi yang ada di situ, menunggu sambutan Han Jaebyun selesai dan Hyerin dipersilakan masuk─mereka bisa mendengar dengan jelas sekali pun dari luar.
Hana tertawa kecil, tangannya mengusap punggung Hyerin dengan lembut. “Percayalah, kau tidak akan pernah menyesal.”
Hyerin menatap Hana tak mengerti mendengar perkataan yeoja itu, tapi dia tak mau ambil pusing dan hanya bisa mendesah pasrah pada apa yang akan dihadapinya setelah ini. Hana membantu Hyerin berdiri saat mereka mendengar Han Jaebyun mempersilakan Hyerin memasuuki ballroom.
Hana membukakan pintu untuk Hyerin, sementara Hyerin menghela napas berkali-kali demi menyiapkan dirinya sebelum masuk ke dalam. Hyerin berjalan menunduk ke arah ayahnya, dia tak mempedulikan tatapan kagum para tamu undangan atas penampilannya.
Hyerin menghentikan langkahnya dia berhenti di hadapan ayahnya─sekaligus berada di samping calon tunangannya karena Hyerin bisa melihat sepasang sepatu di sebelah kakinya. Hyerin tetap menunduk, dia sama sekali tak punya keberanian untuk mengangkat kepalanya dan menatap calon tunangannya.
Mata Hyerin kembali terasa memanas saat ayahnya mempersilakan mereka untuk saling bertukar cincin, Hyerin memejamkan matanya dengan erat saat merasakan jari manisnya dilingkari oleh sebuah cincin.
“Nah, Hyerin, sekarang pasangkan cincinnya pada pasanganmu.” Suara appanya kembali terdengar.
Hyerin mencoba menguatkan diri agar air matanya tak jatuh begitu saja, dia mengambil cincin dari kotak yang disodorkan appanya.
Untuk pertama kalinya sejak Hyerin menginjakkan kaki di ballroom ini, Hyerin mengangkat wajah demi melihat tunangannya sekarang. Dan mulut Hyerin langsung menganga lebar.
Di depannya, Donghae berdiri sambil memasang senyum paling manis yang pernah ia punya. Namja itu memakai tuksedo hitam yang membuatnya sungguh terlihat tampan.
Oppa.. bagaimana bisa?” gumam Hyerin masih tak percaya, matanya mengerjap beberapa kali untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa yang ada di hadapannya ini benar-benar Donghae.
Donghae terkekeh kecil melihat ekspresi Hyerin, “Kau tidak ingin bertunangan denganku, Hyerin-ah?”
Aniyo,” sela Hyerin cepat, walaupun masih bingung dengan apa yang terjadi, yeoja itu memasangkan cincin di jari manis Donghae.
Hyerin tak bisa membohongi hatinya yang langsung terasa sangat ringan saat Donghae menggandeng tangannya dan membalikkan tubuh mereka menghadap seluruh tamu undangan─yang masih riuh bertepuk tangan sejak Hyerin memasangkan cincin itu di jari manis Donghae. Hyerin memandang ke sekeliling, dia menemukan Hana dan Saera yang tersenyum manis padanya, Hyerin juga menemukan member Super Junior yang asyik menyoraki dia dan Donghae, terakhir Hyerin menemukan Baekhyun yang sedang tersenyum sambil menggerakkan bibirnya seolah berkata ‘dia yang terbaik untukmu noona, chukkae.’
“Aku menitipkannya padamu Donghae-ya.”
Perkataan yang berasal dari appanya berhasil membuat Hyerin mengalihkan pandangan pada sebelahnya, dia tersenyum kecil saat Donghae mengangguk mantap dan appanya memeluk Hyerin dengan erat. Hyerin melepaskan gandengan tangan Donghae dan membalas pelukan appanya dengan tak kalah erat. Hyerin membenamkan wajahnya di pundak sang appa dengan rasa terharu yang begitu besar.
Appa, apa maksudnya ini? Bukankah tunanganku Baekhyun?” Tanya Hyerin lirih.
Appanya terkekeh seraya mengelus rambut panjang Hyerin, dia kemudian melepaskan pelukannya dan menyatukan jemari Donghae dan Hyerin hingga saling bertautan.
Ne, awalnya begitu Hyerin. Tapi kemarin Donghae dan Baekhyun datang menemui appa, mereka menjelaskan berbagai hal pada appa dan meminta agar Donghae yang menjadi tunanganmu. Mianhae appa tak peka pada perasaanmu. Mianhae juga apa tak memberitahumu dari semalam, ini rencana Donghae, dia ingin memberi kejutan padamu.”
Hyerin mengusap air mata bahagianya dan menggeleng pelan, “Gomawo appa, jeongmal gomawo.” Setelah mendapatkan anggukan dari appanya, mata Hyerin beralih memandang Donghae.
Oppa..”
“Sstt..” Donghae meletakkan jari telunjuknya di bibir Hyerin, seakan menyuruh yeoja itu untuk tak berkata apapun. “Kau pikir aku akan melepaskanmu lagi setelah 6 tahun lalu aku terpaksa melepasmu? Tidak, terimakasih.”
Hyerin tertawa kecil, pipinya bersemu merah mendengar perkataan terakhir Donghae, “Saranghae oppa, jeongmal saranghaeyo..
Donghae bersumpah bahwa mendengar Hyerin mengatakan hal itu adalah kebahagiaan terbesar yang pernah terjadi di hidupnya, “Nado saranghae, nae Hyerin.”
Donghae mendekatkan dirinya dan memeluk Hyerin dengan lembut, beberapa saat keduanya berpelukan hingga Donghae merasakan kepala Hyerin yang berada di dalam pelukannya terangkat. Donghae menundukkan wajahnya demi melihat wajah Hyerin yang tampak sangat bahagia.
Oppa, bagaimana kau dan Baekhyun bisa menemui appa?”
Donghae menyeringai kecil mengingat kejadian kemarin sebelum Donghae pelan-pelan mulai memupus jarak yang masih tersisa di antara mereka, hingga akhirnya Hyerin dapat merasakan bibir Donghae yang mencium bibirnya dengan lembut.
***
“Uh,” keluh Baekhyun, “kau tak usah naif seperti itu sunbae. Kau tahu aku dan Hyerin dijodohkan tanpa cinta, aku juga sudah memiliki kekasih sebenarnya. Tapi aku tak ingin membatalkan pertunangan ini, Hyerin terlalu cantik untuk dilewatkan, dia bisa menjadi mainanku yang menarik.”
Donghae tak bisa lagi mengendalikan emosinya, dia melayangkan satu pukulan tepat ke wajah Baekhyun.
“Brengsek! Aku tak akan membiarkanmu melakukan itu!”
Dan tanpa bisa cegah, pukulan bertubi-tubi kembali dilayangkan Donghae secara membabi buta.
“Yak! Yak, Lee Donghae, apa yang kau lakukan?”
Eunhyuk datang di saat yang tepat, namja itu segera melerai Donghae yang baru saja akan melayangkan tinjunya lagi pada Baekhyun. Donghae meronta berusaha melepaskan diri dari Eunhyuk, kemarahan meluap-luap di dalam dadanya. Dia ingin kembali memukul Baekhyun sampai namja itu benar-benar puas.
“Lepas. Aku ingin memukul namja brengsek itu lagi!” jerit Donghae membuat Eunhyuk kepayahan.
Sementara Eunhyuk masih berusaha menahan Donghae, Baekhyun berdiri. Namja itu menatap Donghae sekilas sebelum ibu jarinya mengusap darah yang ada di sudut bibirnya dengan pelan. Baekhyun kembali menatap ke arah Donghae─kali ini lebih lama dan dalam─dan bibirnya menampilkan senyum tulus yang sangat menawan.
Baekhyun berjalan menghampiri Donghae, membuat Eunhyuk panik.
“Baekhyun-ssi, cepat pergi dari sini.”
Aniyo sunbae,” elak Baekhyun pada Eunhyuk, dia kembali melempar senyum tulus pada Donghae, “Donghae sunbae, aku merasa kau orang yang tepat untuk Hyerin noona. Ayo kita temui Han ahjussi, aku akan mendukungmu.”
Rontaan Donghae melemah, melihat itu Eunhyuk menghela napas lega sambil melepaskan cekalan tangannya di tangan Donghae, dia tahu Donghae tak akan meledak lagi. Eunhyuk diam mengamati keduanya.
Meskipun ia belum sepenuhnya mengerti tapi  Donghae merasakan kemarahan yang tadi meluap-luap di dadanya perlahan surut dengan sendirinya saat Baekhyun mengatakan hal itu. Donghae menatap Baekhyun dengan kening mengernyit, matanya meminta penjelasan lebih.
“Apa maksudmu?”
Baekhyun terkekeh kecil sambil merapikan rambutnya yang agak berantakan, “Mianhae sunbae, aku tadi hanya ingin menguji kelayakanmu untuk Hyerin noona. Kau tahu Hyerin noona sudah seperti kakakku sendiri, aku sangat menyayanginya, karena itu aku ingin memastikan bahwa kau memang pantas untuk Hyerin noona. Dan melihat reaksimu tadi aku merasa kau benar-benar pantas untuk Hyerin noona, kau sangat mencintainya.”
“Kau, tidak sedang bercandakan?” Tanya Donghae tak percaya, namun entah mengapa dia merasakan kelegaan di hatinya mendengar perkataan Baekhyun tadi.
Baekhyun mengangguk mantap, “Ayo ke kantor Han ahjussi, sunbae.”

END

Jumat, 15 Juni 2012

That’s All About Us (series one: Lee Hyukjae)

That’s All About Us (series one: Lee Hyukjae)



Believe

Kim Hana memandangi vidio yang sedang diputar di layar laptopnya dengan mata membulat maksimal. Yeoja itu berkali-kali mereplay vidio tersebut, dan itu berarti Hana juga berkali-kali mendengus tiap objek bergerak di dalam vidio itu memperlihatkan apa yang seharusnya tidak boleh diperlihatkan.
Wajah Hana memerah menahan perasaan kesal dan marah yang bergumul di hatinya, yeoja itu lantas mengklik tanda silang merah di sebelah kiri layar laptopnya. Setelah itu Hana mengembuskan napas keras-keras berharap campuran perasaan di hatinya dapat menguap─atau minimal berkurang. Yeoja itu mendengus sekali lagi begitu tahu usahanya sia-sia, dia lantas mengambil I-phonenya yang tergeletak pasrah di nakas. Kekesalan dan amarahnya semakin meluap melihat layar I-phonenya yang bersih─tidak ada satu pun sms atau misscall.
Hana bangkit dari ranjangnya, dia menghentakkan kaki dengan kesal sebelum mengambil tas tangan, mantel, dan kunci mobilnya. Hana sekali lagi memandangi layar I-phonenya yang berwallpaper ia dan seorang namja yang tengah merangkulnya sambil tersenyum ceria.
Hana mendesis sinis melihat wallpaper itu, “Mati kau, Lee Hyukjae!”
***
Teng nong..
Sungmin yang baru saja akan mendudukkan dirinya di sofa ruang tivi mendesah malas mendengar bunyi bel dorm. Namja yang dijuluki King of Aegyo Super Junior itu melirik ke arah pintu dorm sekilas, lantas melirik ke segala penjuru dorm berharap menemukan orang yang bisa dia suruh untuk membukakan pintu. Sadar tak ada seorang pun yang bisa dia suruh, Sungmin terpaksa menyeret kakinya ke arah pintu. Tanpa melihat sang tamu lewat interkom terlebih dahulu, Sungmin langsung membukakan pintu dorm. Alisnya berkerut melihat Hana yang bertamu─dengan wajah masam yang menyeramkan.
Annyeong oppa..” sapa Hana datar, tanpa senyum sama sekali.
Alis Sungmin sekarang hampir menyatu mendengar nada bicara Hana yang kelewat datar, apalagi melihat tak ada seulas senyum yang biasanya Hana tampilkan untuk semua member Suju. Tapi namja itu mencoba berpikir positif bahwa Hana─mungkin─sedang datang bulan.
Sungmin akhirnya menyunggingkan senyum kelinci miliknya dengan wajah ramah meski pun kentara sekali ia sangat lelah hari ini.
Annyeong Hana-ya, kau muram sekali hari ini.”
Hana mendengus mendengar candaan Sungmin yang sama sekali tak lucu, yeoja itu memutar bola matanya dengan wajah bertambah masam.
“Dimana Lee Hyukjae, oppa?” tanya Hana kemudian tanpa basa-basi.
Sungmin meneguk ludahnya dengan susah payah mendengar nada suara Hana, namja itu kini paham mengapa Hana datang dengan wajah masam seperti ini.
“Akan kupanggilkan, sepertinya dia masih tidur di kamarnya. Duduklah dulu, Hana-ya.” ujar Sungmin pelan, dia menggeser tubuhnya mempersilakan Hana masuk.
Sebelum melewati tubuh Sungmin, Hana sempat melemparkan tatapan dinginnya selama beberapa detik dan itu cukup membuat Sungmin bergidik ngeri.
Kau cari mati, Hyukie. Batin Sungmin ngeri, namja itu bergegas menuju ke kamar Eunhyuk dan masuk ke dalamnya.
Sungmin berdecak heran melihat Eunhyuk yang masih pulas sementara sebentar lagi akan ada gempa besar melanda dorm. Namja itu mengguncang-guncang badan Eunhyuk─yang masih terbungkus selimut rapat─dengan keras.
“Eunhyuk-ah, bangun!” seru Sungmin keras.
Eunhyuk menggeliat di atas ranjangnya, namja itu membuka mata sedikit lalu kembali menutupnya. Tangannya meraih ujung selimut lantas menariknya hingga menutupi kepala.
“Ugh, aku masih ingin tidur, hyung!” gerutunya dengan suara parau.
Sungmin kembali berdecak, diambilnya bantal di sebelah Eunhyuk dan memukulkan bantal itu ke badan Eunhyuk secara barbar.
“Bangun pemalas! Hana datang!”
Mwo?!” Eunhyuk langsung duduk di ranjangnya begitu Sungmin menyebutkan nama Hana. Namja itu mengerjap-ngerjapkan mata dengan tampang kelewat polos─atau bodoh?
Kepala Eunhyuk menoleh ke arah Sungmin begitu ia sadar sepenuhnya. “Hana di sini, hyung?” tanyanya dengan wajah yang mendadak berbinar.
Sungmin mengangguk dengan wajah frustasi, Eunhyuk ini sebenarnya memang terlalu polos atau bodoh sih? Masih bisa-bisanya ia berwajah seperti itu padahal Hana akan mengamuk sebentar lagi.
“Ah, ia pasti merindukanku..” gumam Eunhyuk percaya diri sambil buru-buru melenggang ke kamar mandi, mengabaikan Sungmin yang menatapnya cemas.
Sungmin hanya menggeleng-gelengkan kepalanya heran, namja itu lalu bergegas keluar dari kamar Eunhyuk dan masuk ke kamarnya untuk menghindari ledakan kemarahan Hana secara langsung.
Semoga kau selamat Hyukie, doa Sungmin dalam hati.
***
Chagi-ya, bogoshippo..” seru Eunhyuk begitu melihat Hana sedang duduk tenang di sofa, namja itu menghampiri Hana sambil merentangkan tangannya lebar-lebar untuk memeluk Hana.
Kening Eunhyuk seketika mengernyit saat sadar Hana sama sekali bergeming dari posisinya, yeoja itu malah menatap Eunhyuk dengan wajah datar─yang terkesan dingin. Eunhyuk langsung meringis dalam hati, pantas saja tadi ekspresi Sungmin saat membangunkannya terlihat cemas. Hana sedang marah ternyata.
Apa lagi kesalahannya kali ini sampai bisa mendapatkan tatapan seperti itu dari Hananya?
Eunhyuk duduk di sebelah Hana dengan hati-hati, “Chagi-ya, waeyo?” tanyanya pelan sambil menggenggam tangan Hana.
Hana tak bereaksi sama sekali, dia masih setia dengan tatapan dinginnya yang begitu menusuk. Melihat Hana yang seperti ini, siapa pun pasti akan langsung merasa bulu kuduknya berdiri. Eunhyuk saja yang sudah sering mendapatkan tatapan seperti ini masih ngeri sendiri.
Hana benar-benar menyeramkan!
1 menit.. Hana masih tak menjawab, bergerak sedikitpun tidak. Tatapan dinginnya masih mengarah lurus ke arah Eunhyuk. Eunhyuk menghela napas, memutuskan menunggu.
2 menit... Eunhyuk mendesah, tapi dia menyabarkan hati untuk tetap menunggu hingga beberapa waktu lagi.
5 menit... Eunhyuk benar-benar sudah tak tahan dengan sikap diam Hana.
Chagi-ya, apa aku berbuat salah lagi?” Eunhyuk kembali bertanya sambil memasang wajah polos anak kecil yang sedang merengek meminta permen. Dia menggoyang-goyangkan tangannya dan tangan Hana yang bertautan dengan lembut.
Kali ini Hana akhirnya bereaksi, mata bulat yeoja itu menyipit ke arah Eunhyuk dengan tatapan menuduh.
“Kau bahkan tidak tahu kesalahanmu kali ini?” tanyanya dengan nada meremehkan yang sedingin es kutub. Hana langsung melepaskan kaitan tangannya dengan Eunhyuk.
Eunhyuk mengernyit, dia tahu Hana sedang marah padanya, tapi yang dia tak tahu adalah kesalahan apa yang telah ia perbuat hingga Hana bersikap marah.
Chagi-ya, jebal..” pinta Eunhyuk sambil memasang wajah polos lagi. “Aku tahu kau sedang marah padaku, tapi aku benar-benar tak tahu kesalahan apa yang kuperbuat kali ini.”
Hana mendengus, dia memalingkan wajah ke arah lain untuk menghindari tatapan Eunhyuk─Hana takut luluh jika terus ditatap dengan tatapan memohon seperti itu.
“Kesalahan sendiri kau tidak tahu, huh?!” ujar Hana dengan dinginnya.
Eunhyuk lagi-lagi meringis, dia memandangi wajah kesal Hana sambil memasang wajah khawatir. Hana selalu susah untuk dibujuk kalau sudah marah seperti ini.
“Hana-ya, aku benar-benar tak tahu..” balas Eunhyuk pelan.
Hana menghela napas panjang sebelum memberanikan diri menatap mata Eunhyuk lurus-lurus. “Kau punya dua kesalahan padaku tuan Lee Hyukjae!” desis Hana dengan nada tajam yang menusuk.
Du-dua? Eunhyuk menelan ludahnya susah payah.
Hana berdecak melihat Eunhyuk yang hanya diam, setelah membiarkan beberapa saat berlalu dengan hening, yeoja itu mulai kembali bersuara.
“Pertama..” Hana memberi jeda sebentar, menimbulkan efek tegang berlebihan dalam diri Eunhyuk. “Kau tiga hari tidak menghubungiku sama sekali. Kemana saja kau, huh?”
“Itu─” Eunhyuk gelagapan harus menjawab apa, tapi belum selesai dia menjawab Hana sudah terlebih dahulu memotongnya.
“Baiklah, yang pertama masih bisa kutolerir karena belakangan ini jadwalmu padat─mungkin.” sedikit senyum tersungging di bibir Eunhyuk, tapi senyum itu langsung lenyap begitu Hana kembali berbicara.
“Tapi kesalahan keduamu yang paling parah, Lee Hyukjae-ssi.” tatapan Hana beribu kali lebih tajam dari yang tadi-tadi, membuat Eunhyuk menggigit bibirnya cemas. “Apa maksud penampilan solomu di SS4 Tokyo Dome dan Seoul Encore, hm?” walau pun Hana mengatakannya dengan nada datar, tapi ekspresi wajahnya jauh lebih menusuk dari sekadar nada bicara.
Sedangkan Eunhyuk? Namja itu kini malah mengerutkan kening dengan wajah tak mengerti. Penampilan solonya di SS4 Tokyo Dome dan Seoul Encore?
“Oh, itu..” gumam Eunhyuk kemudian setengah sadar. “MWO?” teriak Eunhyuk beberapa detik kemudian saat dia sudah benar-benar ingat.
Eunhyuk segera menatap Hana dengan pandangan horor. “Chagi-ya, kau paham itu hanya pekerjaan, kan?”
Hana menghela napas panjang. “Kalau saja kau memberitahukan tentang ini terlebih dahulu padaku, aku pasti akan mengerti..”
Eunhyuk menggigit bibirnya, dia menundukkan kepalanya sedetik kemudian, “Mianhae..”
“Aku lelah..” kata Hana kemudian, sama sekali tak menanggapi permintaan maaf Eunhyuk. “Kau selalu berbuat sesuka hatimu tanpa memikirkan perasaanku.”
Mendengar perkataan Hana, raut wajah Eunhyuk berubah panik. “Hana-ya, bukan begitu. Aku─”
“Kau seperti tak menganggapku sebagai tunanganmu.” sela Hana, gejolak amarah dan kesal yang bercokol di hatinya menguap, digantikan sebuah rasa kecewa dan sakit hati yang sangat dalam. Mata Hana memandang Eunhyuk sendu, tatapan dalamnya penuh luka.
Eunhyuk menggeleng-geleng panik, “Hana-ya, jangan beranggapan seperti itu.”
“Aku ingin kita break, seminggu.” kata Hana lirih, tak dipedulikannya mata sipit Eunhyuk yang hampir meloncat keluar.
Hana berdiri, merapikan dress yang dipakainya lalu menggamit tas tangan.
“Aku tidak mau!” kata-kata tegas Eunhyuk menghentikan langkah Hana.
“Aku perlu menenangkan pikiran, dan kita perlu intropeksi diri masing-masing untuk sementara waktu.” sahut Hana tanpa susah-susah berbalik.
“Kau ingin membatalkan pertunangan kita, Kim Hana? Lagipula kenapa kau baru protes sekarang sementara kemarin-kemarin kau diam saja?” Eunhyuk mulai tidak bisa mengendalikan emosinya. Kesal tiba-tiba saja menggerogoti hatinya.
“Aku sibuk dengan fashion showku untuk minggu depan,” jawab Hana, “kau berlebihan, aku hanya ingin break.”
Hana mengatakan hal yang sebenarnya. Semenjak ia kembali bersama Eunhyuk, Hana memutuskan untuk kembali ke Korea dan membangun usahanya sendiri. Dia berhasil mendirikan sebuah butik tiga bulan yang lalu─tentu saja dengan bantuan modal dari orangtuanya─dan butik Hana itu langsung populer di kalangan masyarakat kelas atas karena rancangan-rancangan Hana yang begitu memikat. Banyak pelanggan Hana yang mengusulkan dia untuk menggelar fashion show dan mempertunjukkan rancangannya yang mengagumkan pada masyarakat luas. Hana tertarik hingga sebulan ini perhatiannya tersita pada fashion show itu dan dia bahkan tak sempat untuk mengetahui berita entertainment mengenai kekasihnya.
“Hana, berhentilah bersikap seperti anak kecil!” teriak Eunhyuk yang lagi-lagi menghentikan langkah Hana. Wajah Eunhyuk memerah menahan perasaan kesalnya.
Mendengar teriakan Eunhyuk, Hana mendadak merasa emosinya kembali terkumpul di kepala. Darah Hana berkumpul di wajahnya hingga ia merasa wajahnya memanas─bukan karena malu atau tersipu, tapi marah! Yeoja itu lantas membalikkan tubuhnya dan memandang Eunhyuk yang berdiri dua meter di depannya dengan tatapan membunuh.
“Siapa di sini yang bersikap kekanakan sebenarnya? Aku atau kau?” Hana balas berteriak, tangannya mengepal penuh emosi.
“YAK! KIM HANA! MANA SOPAN SANTUNMU, MENGAPA KAU BERTERIAK PADAKU?” Eunhyuk benar-benar terbakar emosi, dia tidak bisa lagi mengendalikan dirinya hingga tanpa sadar sekarang ia malah membentak Hana.
Wajah Hana langsung menampilkan ekspresi tersentak. Yeoja itu merasakan kemarahannya tambah melonjak-lonjak mendengar bentakan Eunhyuk─walaupun matanya juga memanas ingin menangis.
“KAU YANG DULUAN BERTERIAK, HYUKJAE-SSI!” marah Hana.
Cklek! Bunyi kunci yang diputar menginterupsi pertengkaran Hana dan Eunhyuk. Keduanya sama-sama menolehkan kepala ke asal suara, dan dari sanalah muncul kepala Ryeowook yang tampak masih sangat mengantuk.
Hyung, Hana-ya mengapa kalian berteriak pagi-pagi begini?” Tanya namja itu setengah sadar, tapi begitu melihat tatapan Eunhyuk dan Hana yang sangat tajam, Ryeowook langsung menyesal mengapa ia menginterupsi kegiatan mereka berdua. Ryeowook memandang keduanya horor, dia buru-buru kembali berkata melihat keduanya masih memandangi dirinya dengan tajam. “Uh-oh, aku hanya bertanya. Aku mau melanjutkan tidurku lagi, annyeong!”
Blam! Pintu tertutup rapat lagi. Hana dan Eunhyuk kembali saling melemparkan pandangan tajam.
“Kau benar-benar menyebalkan, Hyukjae-ssi. Aku membencimu!”
Setelah mengatakan hal itu, Hana bergegas pergi dari hadapan Eunhyuk dengan air mata yang tiba-tiba saja mengalir.
Lihat, dia bahkan tidak mengejarku! Jerit Hana dalam hati dengan air mata yang masih mengalir deras, yeoja itu mempercepat langkahnya menuju parkiran tanpa mempedulikan tatapan heran semua staf SMent.
Sementara Eunhyuk sendiri masih mematung di tempatnya, terkejut menyadari bahwa dia benar-benar membentak Hana tadi. Eunhyuk ingin sekali mengejar Hana, tapi emosinya masih belum stabil, dia takut dia akan kembali membentak Hana jika emosi masih menguasai dirinya seperti ini. Eunhyuk mendudukkan dirinya di sofa dengan lunglai, menyesali perbuatannya yang─Eunhyuk sangat yakin jika melihat pundak Hana yang tadi bergetar─lagi-lagi membuat Hana menangis.
Tak berselang lama setelah kepergian Hana, Sungmin, Ryeowook, Kyuhyun, dan Yesung keluar dari kamar mereka. Mereka berempat menghampiri Eunhyuk lalu duduk tak jauh dari namja itu.
“Bertengkar?” Tanya Yesung hati-hati.
Eunhyuk menengadah melihat hyung dan dongsaengnya itu, dia lantas mengangguk dengan wajah tertunduk lesu.
“Kenapa bisa, hyung? Bukankah kemarin-kemarin kalian masih baik-baik saja?” sekarang giliran Ryeowook yang bertanya.
Kepala Eunhyuk semakin menunduk ke bawah. Namja itu menggigit bibir bawahnya ragu-ragu. “Dia marah karena penampilan soloku, Ryeowook-ah.” Jawab Eunhyuk akhirnya.
Mereka semua tampak mengerutkan kening tak mengerti dengan jawaban Eunhyuk, “Penampilan solomu yang mana, Hyuk-ah?”
Eunhyuk menoleh ke arah Sungmin dengan wajah memelas, “Sorry sorry answer kemarin hyung.”
Mata Ryeowook, Yesung, Sungmin, dan Kyuhyun melebar seketika.
“Yang itu hyung?” kata Kyuhyun yang akhirnya bertanya dan dijawab anggukan Eunhyuk, ekspresi terkejut masih mendominasi wajah Kyuhyun sebelum namja itu menampilkan seringaian setan miliknya. “Apa kubilang hyung, penampilanmu waktu itu terlalu frontal!”
“Aish, appo hyung.” Kata Kyuhyun kemudian sambil meringis mengusap kepalanya yang dipukul pelan oleh Yesung.
“Kyuhyun, jaga sopan santunmu.”
Eunhyuk yang memang sudah muram tambah muram mendengar perkataan Kyuhyun, tapi mau tak mau ia membenarkan ucapan Kyuhyun tersebut. “Arraseo, Kyuhyun-ah. Kurasa kau benar kali ini.”
Seringaian setan Kyuhyun lenyap. Kenapa Eunhyuk malah membenarkan? Tidak menyenangkan sama sekali! Dengan tak acuh, Kyuhyun merogoh saku celananya dan mengambil PSP tercinta miliknya.
Yang lain langsung sweatdrop melihat tingkah Kyuhyun itu.
“Kenapa kau tidak mengejar Hana, hyung?” Tanya Ryeowook kemudian dengan nada penasaran.
Eunhyuk tampak berpikir sebentar sebelum menjawab, “Aku ingin menenangkan diri dulu sebentar, Ryeowook-ah. Mungkin jam 9 nanti aku akan meminta maaf padanya.”
Setelah mengatakan itu, yang lainnya mengangguk mengerti lalu mulai melakukan aktivitas masing-masing seperti biasanya.
***
Sudahlah Hana, sampai kapan kau mau menangisi namja babo itu? Fashion show menantimu!
Hana menghapus air matanya dengan kasar setelah batinnya berucap demikian, yeoja itu lalu memutuskan untuk keluar dari ruangannya di butik untuk memeriksa busana-busana yang akan dipamerkan nanti.
Hana menghela napas dalam-dalam sebelum tangannya bergerak untuk memutar kenop pintu. Yeoja itu mengamati karyawan-karyawannya yang tengah sibuk ini-itu, seulas senyum tersungging di bibirnya sebelum Hana memutuskan untuk ikut bergabung dengan mereka semua. Setidaknya pekerjaan pasti akan membuat Hana melupakan Eunhyuk untuk sementara waktu.
Satu jam berkeliling mengecek kesiapan, Hana merasa lelah mulai menyergap tubuhnya. Yeoja itu berjalan ke taman di depan butiknya untuk sekadar mengistirahatkan tubuh sambil menghirup udara pagi yang segar.
Tiba di taman, Hana menghirup udara sebanyak-banyaknya lantas menyesap susu stroberi dari kotak yang ia bawa.
Susu stroberi? Terdengar kekanakkankah jika mengingat umurnya sekarang 24 tahun? Entahlah, Hana sendiri tak tahu sejak kapan minuman itu menjadi favoritnya. Yang ia tahu, Eunhyuklah yang telah membuat yeoja itu menyukai susu stroberi.
Hana tercenung lagi begitu tanpa sadar memikirkan Eunhyuk dan kebiasaannya. Yeoja itu tiba-tiba saja merasakan matanya memanas kembali, tapi tidak ada setetes pun air mata yang keluar dari matanya karena ia sudah terlalu lelah.
Mungkin dalam kasus ini Hana juga mengambil peran sebagai orang yang salah, ia telah cemburu berlebihan pada Eunhyuk. Tapi, bukankah itu wajar? Hana juga yeoja normal yang pasti akan marah dan cemburu melihat kekasihnya menari skriptis dengan lima dancer yeoja sekaligus. Bayangkan, lima orang dancer yeoja sekaligus menyentuh tubuh kekasihnya yang tidak memakai atasan. Tentu saja Hana marah, dia justru tak normal kalau sampai tak marah. Tapi mungkin penyampaian marahnya tampak tidak begitu tepat hingga Eunhyuk sampai tega membentaknya.
Lee Hyukjae. Nama itu memang selalu berhasil membuat perasaannya tak keruan.
Hana mengembuskan napas panjang, tak lama yeoja itu menggelengkan kepalanya sendiri. “Berhenti memikirkan dia, Hana!” rutuknya pada diri sendiri.
“Dia siapa, noona?”
Hana terkesiap mendengar suara di belakangnya, yeoja itu membalikkan tubuh dan melihat Kim Hyunsun sedang menatapnya bingung.
Aniyo, bukan siapa-siapa.” Jawab Hana cepat, mengabaikan tatapan penasaran Hyunsun. “Sedang apa kau di sini?” Tanya Hana kemudian sambil menggeser tubuh ke samping agar Hyunsun bisa duduk.
Hyunsun duduk, wajahnya berubah muram mendengar pertanyaan Hana. “Aku sedang bertengkar dengan kekasihku, noona.” Gumam Hyunsun pelan.
Hana menoleh, diusapnya punggung Hyunsun dengan lembut. “Kenapa kau bertengkar dengan kekasihmu itu?”
“Dia cemburu karena aku ditempel yeoja-yeoja genit terus selama di kampus.” Keluh Hyunsun sambil mengembuskan napas berat, “yeoja itu kenapa sensitif sekali sih?”
Hana meringis, entah mengapa kasus Hyunsun tampak tak berbeda jauh dengan kasusnya. “Itu berarti dia menyayangimu, Hyun-ah.” Sahut Hana yang entah mengapa tampak membela diri sendiri.
Hyunsun menatap Hana, “Benarkah? Tapi aku pikir dia terlalu berlebihan. Mengapa dia tidak bisa percaya bahwa yeoja yang aku cintai itu hanya dia?”
Deg! Hana kembali meringis. Percaya yah? Apakah selama ini Hana memang meragukan Eunhyuk sehingga dia tidak bisa mempercayai namja itu?
“Ah, sudahlah.” Tukas Hyunsun tiba-tiba, “aku nanti bisa menyelesaikannya dengan segera. Bagaimana dengan noona sendiri? Noona juga bertengkar dengan Eunhyuk hyung?”
Malu-malu, Hana menganggukkan kepalanya. “Sepertinya ini salahku, entahlah Hyun-ah. Aku sendiri bingung..”
Hyunsun menatap Hana simpati, dia diam sebentar untuk berpikir. Mendadak senyum konyol menghiasi wajahnya yang tampan. “Noona, jangan bersedih seperti itu.”
Hana mendongak, menatap Hyunsun dengan alis berkerut. Senyum konyol di bibir Hyunsun semakin lebar.
Saranghae noona.. Jadilah kekasihku dan aku tak akan membuat wajahmu tampak muram seperti ini..” Hyunsun bepura-pura memasang wajah serius, matanya menatap Hana dalam sedangkan tangannya menggenggam tangan Hana erat.
Hana tercengang menatap tingkah Hyunsun, tapi tak lama kemudian yeoja itu malah tertawa kecil sambil mengangguk-angguk senang. “Ne, ne, arraseo Hyun-ah. Nado saranghae..”
Keduanya tertawa kecil tanpa menyadari ada seseorang tak jauh dari taman itu sedang memandangnya dengan miris. Tangan namja itu terkepal kuat sebelum dia akhirnya berlalu dengan membanting pintu mobilnya. Mobil namja itu pun berlalu dengan kecepatan di atas rata-rata.
***
Brak!
Donghae yang sedang ada di lantai 11 dorm mereka menoleh seketika ke arah suara bantingan pintu. Keningnya berkerut samar melihat wajah Eunhyuk yang tampak menahan marah dan tangis secara bersamaan.
Bukan hanya Donghae saja yang menatap Eunhyuk dengan kening berkerut, semua member Suju─yang sudah pulang dari aktivitas masing-masing─juga kini tengah menatap Eunhyuk dengan keheranan sama.
“Eunhyuk-ah, kau kena─” pertanyaan Leeteuk yang belum selesai dijawab Eunhyuk dengan membanting pintu kamarnya.
Leeteuk menelan ludah, lalu menoleh menatap dongsaengnya satu-persatu untuk meminta penjelasan.
Sungminlah yang akhirnya menjawab keheranan Leeteuk, “Dia sedang bertengkar dengan Hana hyung, Hana mungkin tak memaafkannya.”
Semuanya mengangguk mengerti sementara Donghae langsung berdiri dari duduknya.
“Biar aku yang menghiburnya.”
Donghae berjalan ke arah kamar Eunhyuk, dia meraih kenop pintu lantas memutarnya ke bawah. Donghae langsung mendengus saat merasakan pintu itu sama sekali tak bergerak, Eunhyuk menguncinya dari dalam. Tak mau menyerah, Donghae akhirnya mengetuk pintu kamar Eunhyuk dengan irama tak sabar.
“Eunhyuk-ah, kau punya masalah? Ayo keluar, ceritakan padaku!” teriak Donghae sambil tetap mengetuk-ngetuk pintu kamar Eunhyuk.
Hening. Tak terdengar suara apa pun dari dalam, Donghae kembali mendengus.
“Kalau dalam hitungan ketiga kau tidak juga keluar─atau membiarkanku masuk, aku tidak akan mau bicara padamu selama setahun! Kau dengar itu?!” ancam Donghae dengan nada serius yang kentara.
Donghae mengambil napas sebelum memulai hitungannya.
“Satu...” tetap hening, sepertinya Eunhyuk cukup keras kepala kali ini, “dua...” Donghae mengucapkannya dengan lamat-lamat untuk memberi Eunhyuk waktu lebih lama, namja itu lantas mendesah melihat pintu tak bergerak sedikitpun.
Donghae membuka mulutnya, bersiap memberikan tenggat hitungan. “Ti─”
Cklek! Senyum penuh kemenangan tersungging di bibir Donghae begitu melihat Eunhyuk membuka pintu, senyumnya langsung lenyap melihat Eunhyuk yang tampak kacau dengan rambutnya yang tampak acak-acakan.
“Hyuk─”
“Jangan ganggu aku dulu Hae-ya, aku ingin sendirian saat ini. Mianhae..
Blam! Eunhyuk kembali mengunci pintu kamarnya membuat Donghae menghela napas panjang. Dari dulu Eunhyuk memang selalu lebih suka menyimpan masalahnya sendiri, dan kadang Donghae sebagai sahabat paling dekat dengannya selalu merasa tidak berguna untuk Eunhyuk.
Donghae lagi-lagi menghela napas. Dia mencoba meyakinkan hatinya bahwa Eunhyuk memang perlu sendiri untuk sementara waktu ini.
***
Kim Hana memandangi layar I-phonenya sambil tercenung. Yeoja yang sedang menopangkan dagu di meja resepsionis butiknya itu sekarang tengah dirundung berbagai macam perasaan yang menyiksa batinnya. Dia sedang gelisah dan merindukan seorang namja yang entah bagaimana kabarnya sekarang.
Namja itu jelas adalah seorang Lee Hyukjae atau Eunhyuk Super Junior. Sekarang sudah terhitung tiga hari sejak pertengkaran mereka dan selama tiga hari pula Hana dan Eunhyuk sama sekali tak berhubungan. Eunhyuk tak pernah lagi menghubunginya─dan Hana terlalu mementingkan harga dirinya jika harus menghubungi Eunhyuk duluan─padahal jika mereka bertengkar seperti ini Eunhyuklah yang pasti akan meminta maaf duluan, entah yang sebenarnya salah Eunhyuk ataupun Hana sendiri.
Sekian lama tak menunjukkan tanda-tanda kehidupan, Hana akhirnya bergerak juga. Dia menyimpan I-phone yang sedari tadi ditatapinya ke dalam tas tangan, lantas matanya mengedar ke sekeliling melihat karyawan-karyawannya yang semakin sibuk mempersiapkan fashion show untuk 4 hari mendatang. Sekarang di butiknya banyak sekali berkeliaran model-model untuk fashion shownya nanti. Hana tersenyum kecil melihatnya, setidaknya dia yakin fashion shownya akan sukses hingga ia merasa sedikit bebannya terangkat.
“Hah..” Hana mengeluarkan napas dari hidungnya dengan berat, “aku merindukanmu oppa..”
Padahal kalau Eunhyuk langsung mengejarnya dan meminta maaf hari itu juga, Hana yakin dia sendiri pasti akan memaafkannya walau tak begitu ikhlas. Tapi mengapa Eunhyuk waktu itu tidak mengejarnya? Apa namja itu sudah tidak peduli lagi padanya?
Tidak. Tidak. Hana buru-buru menggelengkan kepalanya, dia tidak boleh berpikiran negatif seperti itu. Eunhyuk sangat mencintainya, seperti ia yang juga sangat mencintai namja itu.
“Ugh, apa sebaiknya aku minta maaf duluan ya?” gumam Hana setengah melamun, Hana langsung memanyunkan bibirnya beberapa saat kemudian. “Tidak, harga diriku bisa jatuh kalau begitu! Kita lihat saja sampai kapan namja babo itu bertahan..” rutuk Hana kemudian, tangannya mengentak-ngentak mengetuk meja dengan wajah tertekuk.
Hana kembali termenung dengan segala pemikiran yang berkecamuk.
Lee Hyukjae kadang-kadang memang bisa sangat menyebalkan!
Beberapa detik berlalu dan Hana langsung terkesiap pelan mendengar I-phonenya yang tiba-tiba saja menjerit dari dalam tas, yeoja itu bergegas merogoh tasnya. Keningnya langsung berkerut samar melihat id callernya yang bertuliskan “Ryeowook oppa”. Kerutan di kening Hana semakin bertambah banyak, setahunya Ryewook adalah member Suju yang paling jarang berhubungan dengannya. Lalu kenapa sekarang namja yang gemar memasak itu meneleponnya?
Ragu-ragu, Hana menekan tombol untuk menghubungkan sambungan.
Yeoboseyo..” sapa Hana.
Yeoboseyo Hana-ya..” Ryeowook di seberang sana balas menyapa, nada suara namja itu terdengar sangat lega mengetahui Hana mengangkat teleponnya.
“Ada apa oppa?” tanya Hana kemudian.
“Kau sudah tidak marah Hana-ya?”
Hana mengerutkan kening mendengar pertanyaan Ryeowook, “Marah kenapa oppa?”
Ryeowook kembali mengembuskan napas lega dari mulutnya.
Aniyo. Hana-ya, kau bisa ke dorm sekarang?”
Jantung Hana berdebar keras mendengarnya, “U-untuk apa, oppa?”
“Eunhyuk hyung sakit Hana-ya, dia tidak mau makan dan minum obat.”
Deg!
Jantung Hana berpacu lebih cepat mendengar kata-kata yang diucapkan eternal magnae Super Junior itu.
“Hana-ya, kau mau ke sini kan? Aku pikir hanya kau yang bisa membujuk hyung. Jebal..”
Hana merasa tubuhnya seolah dilolosi tulang belulang saat itu juga. Eunhyuk sakit? Kenapa bisa? Apakah namja itu tidak pernah memperhatikan pola makannya lagi setelah pertengkaran mereka? Hana menggigit bibir bawahnya dengan perasaan khawatir dan cemas yang langsung mengisi penuh ruang hatinya.
Oppa tidak sedang bercanda, kan?” tanya Hana dengan suara bergetar.
Ne, mana mungkin aku bercanda dalam situasi seperti ini Hana-ya?” Ryeowook memberi jeda di kalimatnya, lalu tiba-tiba saja nada suaranya seperti tersentak. “Kalian masih belum baikan?”
Hana menggigit bibirnya mendengar perkataan Ryeowook, “Mm.. Itu, sebenarnya...”
Omo! Mianhae Hana-ya, aku tak tahu kalian masih bertengkar. Kalau kau tak mau kami bisa memakluminya, jangan memaksakan di─”
Aniyo, aniyo oppa..” sela Hana cepat. “Aku akan datang setengah jam lagi..”
Terdengar suara hembusan napas dari ujung sana, sepertinya Ryeowook sedari tadi menahan napas demi mendengar kelanjutan ucapan Hana. “Arraseo. Kami menunggumu, gomawo..”
Begitu sambungan terputus, Hana cepat-cepat menyambar kunci mobilnya yang ada di dalam laci, yeoja itu setengah berlari menuju parkiran. Saat ini yang ada di otaknya hanya bagaimana caranya untuk sampai secepat mungkin ke dorm Super Junior. Ia terlalu khawatir dan cemas sampai-sampai tidak mempedulikan laju mobilnya yang di atas rata-rata.
***
Donghae segera berlari kecil begitu bel dorm berbunyi. Namja itu segera membuka pintu dorm dan tersenyum senang melihat Hana berdiri di depannya dengan wajah cemas.
Annyeong Hana-ya..” sapa Donghae sambil mempersilakan Hana masuk ke dalam.
Annyeong oppa..” Hana menyempatkan diri untuk tersenyum ramah pada Donghae, “bagaimana keadaannya sekarang, oppa?” tanya Hana kemudian tanpa susah-susah menjelaskan arti kata ‘nya’ yang sebenarnya merupakan kalimat ambigu.
“Eunhyuk masih tertidur, demamnya sudah mulai turun tapi dia tidak mau makan dari kemarin..” jelas Donghae membuat Hana menahan napas.
Hana berjalan mengikuti langkah Donghae ke ruang tivi─dimana saat itu semua member Suju sedang berkumpul. Kedatangan Hana disambut wajah gembira member Suju yang lainnya, mereka langsung menyuruh Hana masuk ke kamar Eunhyuk dan membekali yeoja itu makanan yang harus Eunhyuk makan.
Hana memandangi pintu jati di hadapannya dengan napas tertahan. Yeoja itu termenung sebentar di depan pintu sebelum tangannya bergerak membuka pintu. Matanya berpendar ke sekeliling kamar begitu pintu terbuka sempurna, Hana memandangi setiap sudut kamar namja yang begitu dicintainya. Hana sempat tersenyum kecil melihat begitu rapinya kamar Eunhyuk, bahkan ini terlalu rapi untuk ukuran seorang namja. Namun senyumnya langsung memudar begitu matanya berhenti di satu objek yang tengah membungkus tubuhnya dengan selimut tebal. Hana merasa dadanya tiba-tiba saja sesak melihat keadaan Eunhyuk.
Hana menutup pintu kamar Eunhyuk dengan sabelah tangannya yang tidak memegang piring makanan. Setelah pintu tertutup, yeoja itu bergerak menghampiri ranjang. Ditariknya sebuah kursi lalu duduk di sebelah ranjang tempat Eunhyuk berbaring. Hana menyimpan piring makanan di atas nakas lantas yeoja itu terlarut memandangi wajah Eunhyuk yang begitu pucat.
Kim Hana menggigit bibir bawahnya dengan perasaan miris, dia merasa sangat bodoh karena tidak bisa mengurus Eunhyuk dengan baik. Hana mengulurkan tangannya perlahan ke arah dahi Eunhyuk, disibaknya poni yang menutupi dahi namja itu dengan lembut. Suhu badan Eunhyuk memang tidak normal, tapi setidaknya tidak sepanas yang dia bayangkan.
Tangan Hana bergerak ke bawah wajah Eunhyuk dan mengusap pipi namja itu dengan sangat hati-hati.
“Dasar bodoh, apa yang kaulakukan sampai bisa sakit seperti ini?” omel Hana pelan.
“Apa pedulimu?” suara parau Eunhyuk tiba-tiba saja terdengar, namja itu membuka mata sayunya dan langsung menatap Hana tajam.
Sementara Hana sendiri buru-buru menarik tangannya yang tadi mengusap pipi Eunhyuk. “Apa maksud kata-katamu?” Tanya Hana dengan wajah heran.
Bukannya segera menjawab, Eunhyuk malah mendengus dan memalingkan wajahnya ke arah lain. “Kau pasti cukup pintar untuk mengetahui maksudku Kim Hana.” Eunhyuk mengucapkan nama Hana dengan penekanan.
Eunhyuk marah padanya? Pikir Hana melihat sikap Eunhyuk barusan, mengapa jadi namja ini yang marah? Bukankah seharusnya ia yang marah?
“Ada apa denganmu oppa?” Hana mencoba bicara baik-baik dengan namja ini, “kau tidak mau aku peduli padamu lagi, begitukah?”
“Memang kau masih peduli padaku, eh?” Tanya Eunhyuk yang tiba-tiba saja jadi sinis.
Hana menghela napas panjang melihatnya, kalau saja Eunhyuk sedang tidak sakit, namja itu pasti sudah ia marahi karena bersikap seperti ini padanya.
“Aku sangat mengkhawatirkanmu begitu mendengar dari Ryeowook oppa kalau kau sakit. Tapi kenapa kau malah bersikap seperti ini?”
Eunhyuk bergeming, “Berhentilah bersikap peduli padaku Hana, urusi saja kekasihmu yang masih kecil itu!”
Hana yang baru saja akan menyalak marah langsung terdiam begitu mendengar perkataan Eunhyuk. Yeoja itu tercenung beberapa lama sambil memasang wajah berpikir. Kekasih, Eunhyuk bilang? Kekasihnya yang mana? Seingat Hana dia hanya mempunyai satu kekasih, dan kekasihnya itu adalah namja yang tengah terbaring sakit di hadapannya kini.
“Yak! Kau menuduhku selingkuh, huh?” kesal Hana, matanya memicing memandang Eunhyuk tajam. “Aku hanya punya kekasih, dan orang itu adalah orang bodoh yang sedang menuduhku selingkuh sekarang!” sambung Hana sekaligus menyindir.
Disindir seperti itu tentu saja membuat Eunhyuk kesal, dia tak mempedulikan lagi kondisi tubuhnya yang memang tidak begitu sehat. “Berhenti bersandiwara Kim Hana! Aku sudah tahu kau punya kekasih lain, dan karena itu juga kau ingin break denganku kan? Agar kau bisa leluasa pergi bersama kekasihmu yang lain?!” nada sinis yang menusuk terdengar dari setiap kata yang dilontarkan oleh Eunhyuk.
Hana mencelat dari duduknya, “Aku semakin tidak mengerti dengan apa yang kau bicarakan oppa..”
“Berhenti mengelak!” kesal Eunhyuk, “aku melihat dan mendengarnya sendiri kemarin! Seorang bocah menyatakan cintanya padamu dan kau menerimanya!”
Eunhyuk mengembuskan napas panjang setelahnya, akhirnya dia dapat mengungkapkan beban pikirannya selama ini langsung pada orangnya. Kepalanya yang sedari tadi berdenyut karena stres kini sudah mulai mereda saking leganya.
Lewat ekor matanya, Eunhyuk melirik Hana sekilas. Sungguh, dia merindukan yeoja itu lebih dari apapun, bahkan dia sakit seperti ini pun tak sepenuhnya karena terlalu lelah dengan pekerjaannya. Tentu saja Hana mengambil peranan besar dalam sakitnya ini. Eunhyuk buru-buru memalingkan wajahnya ke arah lain sebelum keinginan untuk memeluk Hana semakin kuat.
Sedangkan Hana sendiri kini malah mengernyit, yeoja itu mencoba memutar memori lamanya untuk mencari apa yang baru saja Eunhyuk katakan. Tak berapa lama, mata Hana melebar tak percaya begitu suatu ingatan berlarian di otaknya. Jangan-jangan…
“Kapan?”
Eunhyuk menjawab malas, “Apakah itu penting?”
“Jawab saja, kapan kau melihatnya?” balas Hana sengit, matanya berputar tak sabar. Kecurigaan Hana semakin besar melihat gelagat Eunhyuk.
“Tiga hari yang lalu di taman depan butikmu saat aku ingin meminta maaf..”
Tawa Hana meledak seketika, yeoja itu sukses membuat Eunhyuk menatapnya kesal. Hana sendiri berusaha mengendalikan diri untuk berhenti tertawa walau perutnya selalu tergelitik tiap mengingat kesalahpahaman Eunhyuk ini.
“Apa kau mendengarkan percakapan kami dari awal?”
Eunhyuk dengan wajah bingung menggeleng.
“Apa kau hanya mendengar bagian dimana namja itu mengatakan ‘saranghae’ dan aku menjawab ‘nado saranghae’ sambil tertawa saja?”
Kali ini, masih dengan raut bingung Eunhyuk mengangguk.
“Apa kau langsung pergi setelah itu tanpa mendengar percakapan kami selanjutnya?”
Eunhyuk kembali mengangguk, tapi wajahnya langsung berubah masam melihat Hana kembali tertawa-tawa dengan wajah bahagia.
“Kau bodoh sekali oppa..” olok Hana dengan sisa-sisa tawanya. Wajah Eunhyuk yang pucat langsung memerah kesal.
“Yak! Kau ini─”
“Hei, makanya kalau kau ingin menguping dengarkanlah pembicaraan itu dari awal sampai akhir.” sela Hana cepat begitu melihat reaksi Eunhyuk, mendengar itu kekesalan Eunhyuk sedikit mereda, sekarang keningnya berkerut samar tanda ia tak paham.
“Apa maksudmu?”
“Kau..” Hana diam sebentar, dia terlihat sangat geli untuk kembali berkata-kata, “salah paham. Mana mungkin aku pacaran dengan adik sepupuku, oppa. Dia Hyunsun, adik sepupu sekaligus model fashion showku. Masa kau tidak ingat padanya oppa?”
Mata Eunhyuk membelalak tak percaya, “Jadi maksudmu aku..” Eunhyuk langsung menyesali ingatannya yang begitu lemah. Pantas saja ia merasa tak asing dengan wajah namja itu, ternyata dia memang pernah bertemu dengannya di salah satu acara keluarga Hana.
Ne, waktu itu dia hanya menghiburku. Candaannya memang bisa disalahartikan jika tidak didengar sampai akhir.” jelas Hana, seulas senyum terpasang di wajah manisnya.
Aigo..” keluh Eunhyuk dengan wajah kembali memerah─kali ini malu, namja itu menutupi wajahnya dengan kedua tangan seperti kebiasaannya kalau sedang malu.
Hana terkekeh kembali melihat kelakuan namjachingunya itu yang tampak sangat menggemaskan. Tiba-tiba saja pikiran jail melintas di benak Hana, yeoja itu menyeringai kecil lantas berdiri di depan ranjang Eunhyuk sambil berkacak pinggang.
“Cemburu buta, eoh?” godanya yang sontak membuat Eunhyuk mendelik dari balik tangannya.
“Yak! Kim Hana, jangan menggodaku!” seru Eunhyuk tak terima.
Arraseo, arraseo..” kata Hana mengalah, yeoja itu lalu duduk di tempatnya semula. “Sekarang cepat makan dan minum obat oppa. Kau ini benar-benar... bagaimana bisa sampai jatuh sakit? Bodoh..”
Sebelum Hana meraih piring makanan yang ada di atas nakas, Eunhyuk terlebih dahulu menarik tubuh Hana ke dalam pelukannya dan sukses membuat Hana tersentak, darahnya langsung berdesir seketika.
Sejak kapan dia duduk? Batin Hana heran.
“Sebenarnya siapa yang bodoh di sini? Aku sakit begini juga karenamu..”
“Terserah oppa sajalah. Sekarang lepaskan aku, kau harus makan lalu minum obat..” balas Hana sambil mencoba melepaskan pelukan Eunhyuk. Tapi Eunhyuk bukannya melepaskan malah semakin mengeratkan pelukannya, namja itu membenamkan kepalanya di rambut Hana, dihirupnya aroma stroberi yang menguar dari rambut Hana itu.
“Aish, kau ini..” kata Hana pasrah
“Hana-ya, kau sudah memaafkanku, kan? Aku benar-benar minta maaf soal penampilan soloku itu. Jeongmal mianhae..” kata Eunhyuk sungguh-sungguh.
Hana menghela napas lamat-lamat, tangannya bergerak melingkari punggung Eunhyuk untuk membalas pelukan namja yang sangat dikasihinya itu.
Arraseo oppa. Sebenarnya aku masih sedikit kesal karena kau sama sekali tak mengatakan apa-apa padaku, tapi sudahlah, lagipula kau juga sudah merasakan yang namanya cemburu buta kan?” Hana terkekeh di ujung kalimatnya, tapi Eunhyuk sama sekali tak begitu peduli dengan ujung kalimat Hana yang sebenarnya menyindir.
Gomawo, aku janji tidak akan mengulanginya lagi, tapi kau juga harus berjanji satu hal padaku.”
Alis Hana terangkat bingung, “Berjanji apa?”
“Jangan mengucapkan ‘saranghae’ pada namja lain sekalipun itu bercanda, ne?”
Mata Hana membulat tak percaya, “Mwo?! Oppa, kau masih mempermasalahkan hal itu?”
Eunhyuk tak menjawab, tapi pelukannya yang semakin mengerat seolah menjadi jawaban ‘iya’.
“Kau milikku, hanya milikku.” gumam Eunhyuk kemudian.
Arraseo, aku tidak akan mengulanginya.” jawab Hana pasrah, “nah sekarang ayo makan lalu minum obat, kau ingin cepat sembuh kan?”
Hana lagi-lagi berusaha melepaskan pelukan Eunhyuk yang begitu erat, tapi namja tersebut lagi-lagi bergeming. Tampak cukup nyaman dengan posisinya saat itu. Hana menggerutu dalam hati, namja ini lagi-lagi bersikap begini. Tak tahukah dia bahwa Hana bisa saja mati karena serangan jantung jika lama-lama berada dalam dekapannya?
Chagi, bogoshippo..” bisik Eunhyuk lirih.
Nado bogoshippo oppa.”
***
“Kau lapar atau memang rakus, Eunhyuk-ah?” tanya Leeteuk heran melihat 3 piring nasi di depan Eunhyuk yang sudah kosong, sedangkan sekarang Eunhyuk tengah menekuni piring keempatnya.
Eunhyuk hanya melirik Leeteuk sekilas sebelum kembali hanyut dalam acara makannya.
“Tsk!” Donghae mendecakkan lidahnya tak percaya melihat selera makan Eunhyuk, member yang lain juga ikut menggeleng-geleng.
Selama tiga hari Eunhyuk tak pernah makan apapun dan hanya tahu bekerja saja, tapi sekalinya makan? Astaga.. 10 piring pun sepertinya akan habis. Benar-benar menakjubkan.
“Kau ingin menghabiskan persediaan makanan di dorm untuk sebulan, hyung?” tanya Kyuhyun tak percaya.
Eunhyuk menyimpan sumpitnya di sebelah piring, lalu menatap hyung dan dongsaengnya dengan sebal.
Chagi-ya, mereka melarangku makan.” teriak Eunhyuk keras-keras yang langsung membuat wajah namja-namja di depannya pucat.
Eunhyuk menyeringai puas lalu kembali melanjutkan acara makannya.
“Yak! Oppadeul, jangan melarang Eunhyuk oppa makan, dia perlu banyak energi.” Hana yang baru saja kembali dari dapur langsung melayangkan tatapan membunuh pada member Suju lainnya, membuat mereka semua menelan ludah bersamaan.
An-aniyo Hana-ya, kami tidak melarang Eunhyuk makan. Itu hanya akal-akalan dia saja.” bela Siwon yang diamini anggukan member yang lain.
Tatapan Hana langsung beralih pada Eunhyuk.
“Mereka mengganggu acara makanku dengan menanyakan ini-itu, jadi kusimpulkan mereka melarangku makan, chagi.” adu Eunhyuk sambil memasang wajah paling polos yang ia punya, member Suju langsung memberikan deathglare pada Eunhyuk.
Fitnah macam apa itu?
Hana kembali mengalihkan tatapannya pada member Suju yang lain, lalu yeoja itu menghela napas panjang.
“Jangan mengganggu Eunhyuk oppa.” katanya dengan penekanan di setiap kata.
Ne.” jawab member Suju kompak, membuat Hana tersenyum puas dan Eunhyuk tersenyum penuh kemenangan.
Hana lalu duduk di sebelah Eunhyuk, “Oppa, kau mau hadir di fashion showku Senin malam nanti?” tanyanya penuh harap.
Eunhyuk menghentikan acara makannya, tangan namja itu bergerak mengelus rambut panjang Hana sambil menampilkan senyum gusi lebar andalannya. “Ne, mana mungkin aku tidak datang chagi? Aku akan mengosongkan jadwalku nanti.”
Perkataan Eunhyuk membuat member Suju merasa ingin muntah saat itu juga. Sedangkan Hana yang polos malah menyunggingkan senyum bahagianya.
Gomawo oppa,” Hana lalu kembali mengalihkan pandangannya ke arah member Suju yang lain, “oppadeul juga akan hadir, kan? Jebal, aku sangat mengharapkan kehadiran kalian.”
Ne, kami akan mengusahakannya Hana-ya.” kata Leeteuk mewakili semua member.
Gomawo..” balas Hana tulus sambil memasang senyum paling manis yang ia punya.
“Kau ingin tambah lagi, oppa?” tanya Hana melihat piring keempat Eunhyuk telah tandas tak bersisa.
Mata member Suju langsung memandang Eunhyuk waspada dan mereka sontak mendesah lega begitu Eunhyuk menggelengkan kepalanya.
Hana tersenyum lembut, “Makan obat lalu istirahat, ne?”
Eunhyuk menjawab dengan anggukan, senyum kecil terkembang di bibirnya. “Kau mau menemaniku istirahatkan chagi?”
“Yak! Aku tidak mengizinkan kalian berduaan di dalam kamar.” seru Leeteuk tiba-tiba sambil memasang tatapan tajam.
“Kau curiga padaku, hyung?” balas Eunhyuk tak terima.
“Mana mungkin aku tidak curiga pada namja yang gemar menonton vidio yadong Eunhyuk-ah,” Leeteuk menyahut ucapan Eunhyuk dengan santai, dan ucapannya sontak disambut tawa member Suju lainnya.
“Aish, hyung kau ini!”
“Sudahlah oppa,” lerai Hana melihat tatapan perang Eunhyuk, “lagipula aku pikir Leeteuk oppa ada benarnya..” sambung Hana dengan nada polos.
Tawa member Suju semakin menjadi, sementara Eunhyuk memanyunkan bibirnya dengan tampang kesal.
Kajja, aku akan menemanimu istirahat di ruang tivi.” ajak Hana sambil tersenyum manis begitu Eunhyuk selesai meminum obatnya.
Dengan patuh Eunhyuk mengangguk, digenggamnya tangan Hana lantas berlalu ke ruang tivi tanpa mengindahkan tatapan kesal yang dilayangkan para member Suju kepadanya.
“Monyet itu, masalahnya dan Hana selesai langsung bertingkah.” gerutu Shindong, matanya memandang miris 4 piring makan yang telah kosong tak bersisa.
“Tapi setidaknya dia sudah sembuh hyung, kita tidak perlu repot-repot mengkhawatirkannya lagi.”
Ne, kurasa kau benar Sungmin-ah.”
***
Oppa mianhae..” gumam Hana sambil mengusap rambut Eunhyuk dengan lembut.
Saat ini keduanya sudah berada di ruang tivi dengan Eunhyuk yang berbaring di paha Hana.
Eunhyuk yang sedang memejamkan mata sontak membuka mata dan memandang Hana heran. “Kenapa minta maaf chagi?”
Hana menundukkan wajahnya untuk menatap Eunhyuk, “Aku minta maaf karena sudah marah-marah padamu soal penampilan solomu itu. Kau tahu, aku hanya kesal dan cemburu saat itu. Aku juga jadi berpikir yang tidak-tidak padamu, mianhae aku tidak mempercayaimu oppa..”
Eunhyuk tersenyum kecil, dia mengangkat tangan kanannya untuk membelai pipi Hana.
Gwaenchana chagi. Mm, aku sebenarnya tidak memberitahumu karena perintah manajer hyung, dia curiga kau akan melarangku.” Eunhyuk setengah berbisik di akhir kalimatnya, membuat Hana tertawa kecil. “Dan soal aku tidak menghubungimu 3 hari terakhir itu karena ponselku rusak, Coco tak sengaja mengencinginya.”
Hana lagi-lagi tertawa mendengar nada suara Eunhyuk yang lucu. Eunhyuk diam-diam tersenyum melihat tawa Hana. Ah, dia benar-benar merindukan yeoja ini. Senyum, tawa, aroma, dan tingkah Hana.
“Kalau begitu aku juga harus minta maaf padamu karena tidak mempercayaimu dan menuduhmu selingkuh Hana-ya.” kata Eunhyuk kemudian sungguh-sungguh.
Hana menghentikan tawanya dan mengangguk. “Ne, berarti kita impas ya oppa.”
Hening sejenak. Baik Hana maupun Eunhyuk sama-sama menikmati keheningan yang kini tercipta di antara mereka. Hening ini terasa damai, seperti biasanya saat mereka saling memandang tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Chagi, aku baru sadar kalau kepercayaan itu sangat penting untuk hubungan kita. Karena itu, ayo kita saling percaya mulai sekarang.” kata-kata Eunhyuk memecah keheningan mereka.
Eunhyuk menatap bola mata Hana dengan lembut, seulas senyum manis tersungging di bibirnya membuat Hana ikut tersenyum.
Ne oppa. Aku akan percaya padamu mulai sekarang─sekalipun kau menari skriptis dengan 10 yeoja sekaligus─dan kau juga harus percaya kalau aku hanya mencintaimu, arraseo?”
Arraseo..” janji Eunhyuk walaupun dia sedikit jengkel karena Hana mengungkit-ungkit tentang dance skriptisnya lagi. “Dan Lee Hana, berhentilah mengungkit-ungkit tentang dance skriptisku lagi.”
Hana mengernyit, “Kau mengubah margaku seenaknya lagi oppa,”
“Aish, kau akan jadi istriku sebentar lagi.” seru Eunhyuk, namja itu langsung memasang wajah merengut.
Hana terkekeh melihat wajah merengut Eunhyuk. Kembali, diusapnya rambut Eunhyuk dengan lembut. “Aku paham, saranghae oppa.”
Wajah merengut Eunhyuk langsung tergantikan wajah senang mendengar ujung kalimat Hana, “Nado saranghae chagi.” balas Eunhyuk mesra.
Tangan Eunhyuk bergerak meraih tengkuk Hana, dan dalam sekejap bibirnya telah mencium bibir Hana dengan lembut.

END