That's All About Us (series two: Lee Donghae)
Is Not Too Late
Lee Donghae
memandangi setiap sudut tempat berlangsungnya fashion show Hana─kekasih
Eunhyuk─yang sudah kosong dengan wajah bosan. Namja pemilik nick name
Fishy itu lantas mengembuskan napas secara perlahan sebelum melangkah ke
arah teman-temannya yang kini tengah tertawa-tawa di salah satu sudut gedung
tempat dilangsungkannya acara. Donghae mendudukkan dirinya di sebelah Siwon,
tangannya bergerak meraih segelas jus yang tersedia di atas meja, dia menyesap
sedikit dari isi jus di dalam gelas itu sambil menatapi teman-temannya yang
sedang heboh bercanda.
“Mari bersulang
untuk kesuksesan uri Hana!” kata Leeteuk tiba-tiba sambil mengangkat
gelasnya tinggi.
Semua member
Suju bersorak, mereka mengangkat gelas tinggi-tinggi. Donghae ikut bersorak
sambil tertawa kecil, larut dalam kebahagiaan malam itu. Gelas mereka baru saja
akan saling beradu saat ucapan Eunhyuk yang sarat kekesalan terdengar.
“Yak! Dia Hanaku
hyung, bukan Hana kalian!”
Semua orang
sontak menolehkan kepala pada Eunhyuk yang sekarang merangkul pundak Hana
dengan posesif, tawa mereka meledak kembali melihat sikap Eunhyuk.
“Aigo, aigo.
Lihat betapa posesifnya monkey ini kepada Hana, hyung!” seru
Donghae tiba-tiba, namja itu mengerling jail menatap sahabatnya yang
sedang melayangkan tatapan tajam. Donghae tertawa-tawa sebelum sebuah
seringaian menghiasi wajah tampannya. Sebuah ide jail untuk mengerjai Eunhyuk
melayang-layang di otak Donghae, membuat seringaian Donghae bertambah lebar.
Dengan
seringaian yang masih terpampang jelas, Donghae berjalan mendekati Hana, namja
itu kini tengah menampilkan ekspresi menggoda terbaik yang ia punya. Sedangkan
Eunhyuk yang melihat ekspresi Donghae malah semakin mengeratkan rangkulannya di
pundak Hana lalu memandang waspada pada Donghae.
“Hana-ya,
kau nyaman dengan sikap posesif Eunhyuk? Jadi kekasihku saja yuk, aku tidak
akan seposesif Eunhyuk kalau kau mau.”
Tawa kembali
meledak mendengar ucapan Donghae, Kyuhyun bahkan sampai terpingkal-pingkal
karena tak percaya Donghae dapat berbuat jail seperti itu. Hana juga ikut
tertawa, yeoja itu melirik wajah Eunhyuk yang langsung kesal.
“Mati kau! Lee
Donghae!”
Donghae segera
berlari menghindari amukan Eunhyuk. Jadilah kedua namja itu sekarang
berlarian ke setiap sudut ruangan. Eunhyuk yang mencoba menangkap Donghae
dengan wajah kesal, dan Donghae yang mencoba menghindari Eunhyuk dengan tawa
yang mengalun merdu.
“Kalau aku
berhasil menangkapmu, kau tidak akan bisa lolos, Lee Donghae!”
“Mianhae aku
terlambat Hana-ya..” suara seorang yeoja menginterupsi
perkelahian kecil yang terjadi di antara Donghae dan Eunhyuk.
Tawa semua orang
di ruangan itu sontak terhenti, mereka semua menolehkan kepala ke arah pintu
masuk dimana suara tadi terdengar. Di sana, berdiri seorang yeoja dengan
dress gadingnya yang membuat yeoja berwajah manis itu tampak
semakin manis. Senyum Hana terkembang lebar melihat kedatangan orang yang
sangat ditunggu-tunggunya.
“Gwaenchana,
Hye─”
“Han Hyerin.”
Donghae menyebutkan nama itu dengan nada tak percaya, matanya memandang Hyerin
dengan sorot yang tak bisa diartikan.
Yeoja
yang barusan dipanggil Hyerin itu menolehkan kepalanya pada Donghae, matanya
melebar seketika begitu melihat namja yang memanggil itu. “Donghae oppa..”
balasnya lirih.
Donghae dan
Hyerin saling melemparkan tatapan penuh arti tanpa mengindahkan wajah heran
yang lainnya. Keduanya seakan tersedot ke dalam dunia yang hanya ada mereka di
dalamnya, terlarut dalam euforia masa lalu.
Han Hyerin.
Donghae jelas
sangat mengenal yeoja yang bermarga Han tersebut. Dulu, sebelum debut
hari-harinya selalu terisi dengan senyum dan tawa Hyerin. Han Hyerin adalah
tetangganya dulu, yeoja kecil yang selalu ia ajak bermain setiap sorenya,
yeoja kecil yang selalu dia ajarkan pelajaran sekolah yang tak
dimengerti, dan yeoja kecil yang selalu membawakan dia makanan tiap
mereka bertemu.
Mereka berdua
sangat dekat, pulang dan pergi sekolah selalu bersama, jalan-jalan tiap minggu
bersama, keduanya selalu melakukan kegiatan bersama. Han Hyerin telah dianggap
anak oleh keluarga Donghae saking dekatnya mereka, begitupun Donghae yang telah
dianggap anak oleh keluarga Hyerin. Kebersamaan mereka selalu penuh tawa dan
kebahagiaan.
Tapi itu dulu.
Semenjak Donghae
debut menjadi artis, intensitas kebersamaan mereka tiap hari semakin berkurang
hingga tiba-tiba saja Hyerin dan keluarganya menghilang. Banyak orang yang
mengatakan Hyerin sekeluarga pindah ke Perancis untuk urusan bisnis. Donghae
sempat terpuruk karena kenyataan tersebut, satu-satunya yeoja yang
selama ini selalu menjadi penyemangatnya menghilang tanpa pamit. Namja
itu juga sangat menyesal karena dia belum sempat menyatakan perasaan pada
Hyerin.
Ya, Lee Donghae
mencintai Han Hyerin. Rasa itu muncul begitu saja seiring kebersamaan mereka
yang tampak tak terpisahkan.
6 tahun kini
telah berlalu, dan Hyerin muncul kembali di hadapan Donghae. Membuat perasaan
yang telah terkubur lama itu kembali menguap ke permukaan. Dan Lee Donghae
telah berjanji kepada dirinya sendiri bahwa dia tidak akan menyia-nyiakan
kesempatan ini lagi.
“Hyerin, kau
mengenal Donghae oppa?”
Euforia masa
lalu itu lebur seketika begitu Hana bersuara. Donghae dan Hyerin mengerjapkan
mata mereka beberapa kali sebelum akhirnya mengalihkan pandangan pada Hana.
Seulas senyum
kecil menghiasi bibir Hyerin sebelum yeoja itu mengangguk pada Hana, “Ne,
kami bertetangga dulu.”
“Appo!”
Donghae menjerit kecil saat tiba-tiba saja Eunhyuk memukul lengannya dengan
sadis, namja itu mendelik pada Eunhyuk yang sekarang sedang tersenyum
penuh kemenangan.
“Balasan untukmu
karena menggoda Hanaku!” seru Eunhyuk lalu menjulurkan lidahnya pada
Donghae dengan tampang meledek.
Tawa kembali
meledak melihat kejadian itu.
“Hyerin-ah,
ayo masuk. Jangan pedulikan Eunhyuk oppa dan Donghae oppa. Mereka
memang seperti itu.” Ajak Hana sambil menggamit tangan Hyerin mengajak yeoja
itu masuk ke dalam.
Hyerin terkekeh
kecil, dia mengikuti langkah Hana menuju member Suju yang masih setengah
terpana memandangnya.
“Oppadeul,
ini Hyerin. Sahabat baikku waktu di Perancis..” jelas Hana.
“Annyeong
haseyo oppadeul,” sapa Hyerin, kedua sudut bibir yeoja itu
melengkung membentuk senyum ramah. “Naega Han Hyerin imnida,
bangapseumnida.”
“Annyeong
Hyerin, urineun Super Junior imnida.” balas Leeteuk mewakili member
lainnya.
Hyerin
mengangguk kecil, senyum tak pernah lepas dari wajah manisnya. Yeoja itu
lantas kembali memaku pandangannya pada wajah Donghae─yang juga tengah
menatapnya tanpa kedip.
“Annyeong
Donghae oppa, lama tak bertemu.”
Mendengar sapaan
itu Donghae mengangguk kecil sebelum dengan gerakan tiba-tiba Donghae memeluk
Hyerin erat.
“Ne,
bogoshippo Hyerin-ah..”
Hyerin
mengerjapkan matanya tak percaya dengan gerakan tiba-tiba Donghae, tapi tak
urung yeoja itu juga balas memeluk Donghae dengan erat. Jujur saja, 6
tahun tak bertemu membuat Hyerin sangat merindukan sosok Donghae. Hyerin
tersenyum kecil begitu tahu aroma tubuh Donghae sama sekali tak berubah, ada
perasaan bahagia yang menyusup masuk ke dalam hatinya begitu sadar Donghae
tetap memakai parfum yang dipilihkannya dulu.
“Donghae-ya,
sampai kapan kau akan terus memeluk Hyerin, huh? Kami juga ingin berkenalan
dengannya.”
Donghae dan
Hyerin sama-sama salah tingkah mendengar teguran dari Sungmin, keduanya
melempar senyum kaku pada orang-orang di hadapan mereka.
***
“Mian
waktu itu aku langsung pergi tanpa pamit oppa,” Hyerin memecahkan
keheningan yang terjadi di antara keduanya.
Setelah
mengucapkan kalimat itu, Hyerin tak lantas memandang Donghae. Yeoja itu
malah mengalihkan pandangannya pada jalanan Seoul dari balik jendela mobil. Dia
diam-diam merasakan dadanya sesak mengingat perpisahan mereka 6 tahun lalu yang
dilakukan tanpa sepatah katapun. Hyerin sebenarnya sama sekali tak ingin pergi
waktu itu, akan tetapi dia benar-benar tak bisa menolak wajah memohon kedua
orangtuanya. Sebelum pergi, Hyerin sempat ingin pamit pada Donghae, tapi begitu
ingat bahwa Donghae sedang berada di luar Negeri untuk melakukan shownya
bersama member Suju lain, Hyerin terpaksa mengundurkan niatnya itu dan
pergi tanpa pamit.
“Kenapa kau
tidak menghubungiku lewat sms atau telepon, Hyerin-ah?” tanya Donghae
penasaran. Ekor mata Donghae sesekali melirik ke arah Eunhyuk dan Hana di kursi
depan─Donghae dan Hyerin masih ingin hidup, maka mereka memutuskan untuk
menumpang di mobil Eunhyuk─dan namja itu menghela napas lega saat
melihat Hana dan Eunhyuk sibuk dalam dunia mereka sendiri.
“Aku kehilangan
ponselku di bandara oppa, dan nomor teleponmu yang kuhapal adalah nomor
lamamu. Aku tak hapal nomor barumu..”
Hari itu,
sepertinya memang hari sial bagi Hyerin─setelah tidak bisa pamit secara
langsung pada Donghae─begitu tiba di Perancis Hyerin langsung kehilangan
ponselnya, padahal dia sama sekali tak hapal nomor baru Donghae. Dan karena hal
tersebutlah Hyerin kehilangan kontak dengan Donghae.
“Gwaenchana,
yang penting sekarang kau sudah kembali kan?” Donghae menatap Hyerin sambil
tersenyum manis, namja itu menggerakkan tangan kanannya lantas
menggenggam tangan kanan Hyerin dengan lembut.
Hyerin tersentak
kaget, dia memutar kepalanya agar menoleh ke arah Donghae dan lututnya langsung
terasa lemas melihat senyum dan tatapan Donghae yang begitu hangat. Hyerin
memaksakan bibirnya untuk menciptakan seulas senyuman walaupun rasanya sangat
susah sebab jantungnya berdetak abnormal.
“Ne.”
balas Hyerin.
Detik-detik
berikutnya berlalu dengan hening, baik Donghae maupun Hyerin sama-sama diam.
Bukan tidak ada topik yang harus dibicarakan, akan tetapi mereka berdua
menikmati keheningan itu karena keheningan kala itu terasa damai, ada
kehangatan yang menyusup secara perlahan lewat tautan jemari mereka.
***
“Hae-ya,
berhentilah tersenyum menjijikkan seperti itu.” desis Leeteuk saat mereka
berada di ruang latihan.
Donghae─yang
masih setia dengan senyum gilanya─menoleh ke arah Leeteuk, bibirnya mengerucut
seketika mendengar perkataan Leeteuk.
“Yak! Hyung,
senyumku manis, bukan menjijikkan.” sergah Donghae tak terima.
Leeteuk memutar
bola matanya kesal, leader Super Junior yang dijuluki Angel without
wings itu mencibir pada Donghae.
“Cepat nyatakan
perasaanmu sebelum kau gila Hae-ya..” saran Leeteuk sambil berlalu ke
arah member Suju lainnya yang tengah beristirahat sambil mendiskusikan
berbagai macam hal untuk perform mereka nanti.
Donghae hanya
memandang punggung Leeteuk dengan pandangan menerawang. Senyum kecil terkembang
di bibirnya saat tiba-tiba bayangan Hyerin menari-nari di kepalanya. Mata
Donghae berbinar bahagia mengingat yeoja yang sangat dikasihinya itu
telah kembali.
Bersama dengan
Hyerin, Donghae merasa separuh kebahagiaannya yang dulu sempat menghilang kini
kembali memenuhi relung hatinya. Melewati hari demi hari bersama Han Hyerin
membuat Donghae merasa hidupnya semakin penuh warna.
Donghae sangat
menyukai tujuh hari yang telah dilaluinya bersama Han Hyerin. Dia menyukai
senyum Hyerin setiap mereka bertemu, dia menyukai tawa yang mengalun merdu dari
bibir Hyerin saat dia membuat lelucon, dia menyukai rajukan Hyerin saat Donghae
bersikap menyebalkan, dia menyukai wajah tersipu Hyerin saat Donghae
melemparkan sebuah rayuan, dia menyukai wajah Hyerin yang berbinar bahagia saat
bersamanya, dia menyukai tatapan lembut yang selalu diberikan Hyerin saat
menatapnya, dan yang paling Lee Donghae sukai adalah saat ada kehangatan yang
menyusup lewat tautan jemari mereka setiap berjalan bersama.
Tanpa sadar,
Donghae kembali menyunggingkan sebuah senyuman di wajah tampannya. Namja
itu pasti akan terus melamun memikirkan Hyerin jika saja Kyuhyun tak menepuk
pundaknya dengan keras.
“Yak! Hyung!
Kau tidak mendengar Eunhyuk sudah bernyanyi dari tadi menanyakan pendapatmu?”
seru Kyuhyun kesal.
Donghae
meringis, tangan Donghae mengusap pundaknya yang terasa kebas saking kerasnya
tepukan Kyuhyun. Namja itu mendelik ke arah Kyuhyun dengan batin yang
terus menggerutu karena ketidaksopanan dongsaengnya itu.
Tanpa
mengucapkan sepatah kata pun, Donghae berdiri dan mengikuti langkah Kyuhyun ke
arah teman-temannya. Dalam hati Donghae berjanji akan segera mengungkapkan
perasaannya malam ini juga, dia tidak ingin benar-benar jadi gila sebab
perasaannya yang tak tersampaikan.
***
“Eonni
rapi sekali, mau kemana?” Han Saera mengamati detail penampilan kakaknya itu
dengan saksama. Manik kecoklatan miliknya
berpendar dari ujung kepala Hyerin sampai ujung kakinya.
Dalam kamus
Hyerin, berpenampilan rapi itu merupakan hal yang sangat jarang─kecuali jika
menghadiri acara-acara formal atau semi formal. Dan sekarang, Saera melihat
dengan mata kepalanya sendiri kalau sang kakak berpenampilan sangat rapi tanpa
alasan jelas─maksudnya tidak ada acara formal atau pun semi formal yang akan
dihadirinya.
Tak lama, begitu
melihat semburat merah tipis yang menghiasi pipi Hyerin, Saera menahan diri
untuk tidak tertawa.
“Bertemu Donghae
oppa, eh?” goda Saera.
Semburat merah
yang menghiasi pipi Hyerin semakin terlihat jelas. Salah tingkah, Hyerin
melempar bantal sofa di dekat tubuhnya ke arah Saera.
“Yak! Jangan
menggodaku!”"
Saera melepaskan
tawanya, “Eonni, pipimu..” seru Saera heboh, yeoja itu membekap
mulutnya dengan tangan agar tawanya tak semakin keras.
Hyerin
mengerucutkan bibirnya kesal, dia merapikan dress yang dikenakannya
sebelum duduk di sofa.
“Berhenti
tertawa sebelum aku membuang PSPmu, Han Saera.” nada suara Hyerin yang rendah
tapi penuh ancaman berhasil membuat Saera terdiam.
Saera buru-buru
mendekap erat PSP yang sedari tadi ia mainkan di dadanya, dilemparkannya
tatapan tajam pada Hyerin. “Yak! Eonni, jangan macam-macam dengan
PSPku!”
Hyerin langsung
tertawa melihat sikap protektif Saera pada benda persegi berwarna hitam itu,
sedangkan Saera sekarang malah mendengus kesal. Saera akhirnya memutuskan untuk
main game lagi daripada berurusan dengan Hyerin.
Jarum jam yang
berdetak teratur dan suara televisi yang menyala menjadi satu-satunya backsound
di ruang keluarga Han.
“Saera-ya,
menurutmu Donghae oppa itu orang seperti apa?” tanya Hyerin tiba-tiba.
Saera yang
sedang asyik dengan PSPnya melirik Hyerin sekilas, “Donghae oppa baik.”
jawabnya pelan, Saera lalu mempause gamenya secara tiba-tiba dan
memandang Hyerin serius. “Tapi seberapa baiknya pun Donghae oppa, aku
berharap eonni tetap di jalan yang sekarang dan tidak mengecewakan appa.”
Hyerin langsung
termangu mendengar kata-kata Saera yang begitu serius. Yeoja itu
terlarut dalam perang batin yang sedang berkecamuk di kepalanya sebelum
tiba-tiba saja bel rumah berbunyi. Hyerin terkesiap pelan lalu buru-buru
berdiri untuk menyambut tamu itu─dia yakin Donghae. Senyum Hyerin terkembang
secara perlahan.
“Eonni,
ingat kata-kataku tadi..” teriak Saera melihat Hyerin beranjak ke luar.
Hyerin menghela
napas lamat-lamat mendengar teriakan Saera, dia memandangi pintu utama di
hadapannya sebentar sebelum sebuah senyuman kembali menghiasi bibirnya.
“Annyeong
oppa...” sapa Hyerin begitu pintu yang dibukanya menampilkan wajah Donghae
yang penuh senyuman.
“Annyeong
Hyerin, siap?” tanya Donghae, matanya mengamati penampilan Hyerin dan senyum di
bibirnya terkembang makin lebar. Hyerin memang selalu cantik mengenakan apapun.
“Ne.”
jawab Hyerin bersemangat, dia menyambut uluran tangan Donghae yang selalu
menawarkan kehangatan.
Mereka berdua
berjalan beriringan menuju pasar malam yang tak jauh dari rumah Hyerin. Tawa
dan canda selalu menemani perjalanan keduanya. Mereka mengunjungi berbagai stand
permainan, mencoba berbagai barang atau baju, dan mencicipi berbagai
makanan yang dijual di sana.
Malam itu berlalu
dengan menyenangkan walaupun Donghae harus memakai kacamata dan masker untuk
menyamarkan penampilannya. Hyerin merasa sangat bahagia meskipun kata-kata Saera
selalu menampar pikirannya berulang-ulang.
Saat ini, Hyerin
dan Donghae telah berada di kedai ramyun, keduanya duduk di meja paling
pojok agar tidak terlihat mencolok.
“Mashita!
Ini ramyun terenyak yang pernah aku makan.” puji Hyerin senang. Dia
memakan ramyunnya dengan lahap.
Donghae hanya
terkekeh pelan melihat kelakuan Hyerin yang kekanakkan.
“Oppa,
kenapa kau terus menatapiku? Apa ada yang aneh di wajahku?” tanya Hyerin heran
melihat Donghae sama sekali tidak menyentuh makanannya dan malah sibuk menatapi
Hyerin.
Donghae kembali
terkekeh mendengar pertanyaan Hyerin, “Ne, memang ada yang aneh dengan
wajahmu Hyerin-ah.”
Mata Hyerin
membulat panik, dia meraba-raba pipinya, “Mwo? Aneh apa oppa?”
Donghae berdiri,
dia mencondongkan tubuhnya ke arah Hyerin hingga wajah mereka hanya berjarak 10
senti. Mata mereka bertemu, baik Donghae maupun Hyerin terpaku beberapa saat.
Mereka dapat merasakan desiran aneh di dalam diri mereka saat embusan napas
keduanya beradu.
Donghae adalah
orang yang pertama kali sadar dari keterpakuannya, namja itu
mengerjapkan mata dengan pelan, lalu senyum terukir di bibirnya. “Ne wajahmu
sangat aneh dengan kuah ramyun itu..” seru Donghae sebelum menyeka kuah ramyun
di sekitar bibir Hyerin dengan tisu yang diambilnya, setelah itu Donghae
kembali duduk.
Hyerin masih
terpaku, jantungnya berdebar menyalahi aturan. Sangat cepat sampai Hyerin
sendiri waswas jantungnya itu akan meloncat keluar. Pipi Hyerin memanas, dengan
segera yeoja itu menundukkan kepalanya setelah tersadar.
Biasanya melihat
pipi Hyerin semerah itu Donghae akan dengan senang hati menggodanya, tapi kali
ini Donghae hanya terdiam sambil menikmati pemandangan tersebut dengan senyum
di bibirnya.
***
Jam sudah
menunjukkan pukul 10 malam ketika Donghae mengantar Hyerin ke rumahnya. Mereka
berdua menghentikan langkah tepat di depan pagar Hyerin.
“Kau senang?”
Donghae mengayunkan tangan mereka yang masih bertautan, senyum manis
tersungging di bibirnya.
Hyerin ikut
tersenyum, “Ne, aku senang sekali malam ini. Gomawo oppa.”
“Cheonma.”
balas Donghae singkat.
Hyerin
mengangguk, dia memandang ke dalam rumahnya sebentar sebelum kembali memandang
Donghae.
“Aku masuk dulu
ya oppa..” pamit Hyerin, dia melepaskan tautan jemari mereka meskipun
sebenarnya tak ingin. Hyerin merasakan sebuah kekosongan sebab jemari hangat
Donghae tak lagi menggenggamnya. Hyerin memegang pagar rumahnya, sebelum masuk,
dia kembali menoleh ke belakang untuk menatap Donghae.
Hyerin tersenyum
lagi lalu melambaikan tangannya ke arah Donghae, “Annyeo─”
“Saranghae..”
Donghae menyela perkataan Hyerin dengan mengucapkan kata sakral tersebut, namja
itu melangkah mendekati Hyerin yang langsung terpaku dan berdiri setengah meter
di hadapannya. “Jeongmal saranghaeyo Hyerin-ah.” ulang Donghae,
tangannya kembali menggenggam tangan Hyerin dengan penuh perasaan. Mata Donghae
memenjara mata Hyerin dengan tatapan dalam yang penuh kasih. “Kau mau menjadi
kekasihku, kan?”
Hyerin terenyak,
sorot matanya berubah sendu ketika menatap mata Donghae. Yeoja itu
kembali melepaskan tautan jemari mereka dengan lembut.
“Oppa,
kau terlambat.” kata Hyerin lirih.
Donghae
mengernyit, “Apa maksudmu?”
“Kalau saja kau
mengatakan itu 6 atau 7 tahun yang lalu aku pasti tanpa ragu akan menerimamu,
tapi sekarang sudah terlambat oppa..”
Donghae
menyimpan tangannya di pundak Hyerin dengan tatapan semakin tak mengerti, “Kau
mencintai namja lain?”
Hyerin
menggeleng, kepalanya tertunduk dalam.
“Aniyo, aku
sebenarnya juga mencintaimu.”
“Lalu mengapa
kau bilang terlambat Hyerin-ah? Jelaskan padaku!”
Hyerin menepis
tangan Donghae di pundaknya, dia menatap mata Donghae dengan tatapan terluka.
Matanya berkaca-kaca.
“Aku akan
menjadi tunangan orang lain lusa nanti oppa..” setelah mengatakan itu
Hyerin segera membuka pagar dan berlari masuk ke rumahnya.
Donghae langsung
mencelos seketika mendengar perkataan Hyerin tadi. Tubuhnya lemas, dan dia
tidak bisa memikirkan apapun saat ini. Pikirannya terlalu penuh dengan
kata-kata Hyerin yang bagai bom atom, meledakkan hatinya hingga menjadi debu.
Desau angin yang
membelai wajahnyalah yang akhirnya menyadarkan Donghae, namja itu
melangkah dengan lunglai menapaki jalan yang entah kemana. Satu-satunya tempat
yang ingin dia tuju saat ini adalah tempat yang sepi, dan satu-satunya tempat
yang ingin dia hindari adalah dorm.
Lee Donghae
melangkah dengan kekosongan yang mengisi hatinya.
***
Brak!
“Eonni!”
Han Hyerin sama
sekali tak mempedulikan teriakan kesal adik pertamanya itu, yang dilakukannya
hanya membanting pintu kamar lantas merosot jatuh dibaliknya.
Beberapa saat
Hyerin hanya termangu dengan tubuh yang masih terduduk di lantai, tapi kemudian
Hyerin menyeret kakinya ke ranjang lantas membanting tubuhnya di atas busa
persegi itu, pikirannya sekarang benar-benar kacau.
Jujur, dia
hancur. Pengakuan Donghae dan ketidakberdayaannya untuk memperjuangkan
perasaannya telah mengiris lapis demi lapis hatinya dan mengoyak semua rasa
didalamnya. Dan di kamarnya ini, cairan bening itu tiba-tiba saja luruh dengan
sendirinya. Hyerin tak sanggup lagi menampung air itu dalam kelopak matanya,
dia tak sanggup lagi menahan semua beban yang serasa meremukan tubuhnya. Hyerin
rapuh, dia terlalu rapuh oleh perasaan yang tak mungkin bisa dia gapai bersama
Donghae.
“Oppa
mianhae, jeongmal mianhae.. Aku mencintaimu, tapi aku juga tak bisa mengecewakan
appa. Saranghaeyo, semoga kau bisa menemukan orang yang lebih baik dari
aku.” lirih Hyerin di dalam tangisnya.
Hyerin terisak
hebat, yeoja itu makin melesakkan kepalanya di bantal. Menangis
menyesali ketidakberdayaannya yang begitu payah dan… bodoh!
Hyerin tak
pernah tau bahwa rasanya mencintai tanpa bisa memiliki bisa sesakit ini, sangat
sakit hingga ia rasanya lebih baik menghilang dari muka bumi ini.
***
Donghae
memandangi permukaan air sungai Han yang tenang dengan tatapan kosong. Jejak
air mata yang tertinggal di pipinya seolah menjadi pertanda bahwa namja
itu telah lelah menangisi kisah cintanya yang sangat tragis.
Donghae menghela
napas perlahan, dia lalu mengusap sisa jejak air mata di pipinya itu dengan
kedua jarinya. Donghae tahu, seharusnya sebagai seorang namja ia tidak
bersikap cengeng seperti ini. Tapi dia juga manusia yang berhati lembut, dan
Donghae pikir menangis bukanlah hal buruk untuk meluapkan emosinya.
Termenung lagi,
Donghae merasa hidupnya benar-benar kosong sekarang. Setelah dia kehilangan
Hyerinn untuk 6 tahun lamanya, sekarang dia bahkan harus kehilangan Hyerin
untuk selamanya. Pikiran Donghae terlalu penuh diisi berbagai macam hal, dan
hati Donghae juga terlalu penuh dengan segala campuran perasaan yang
mengoyaknya secara perlahan.
Helaan napas
kembali lolos dari bibir Donghae, menciptakan uap akibat udara yang lebih
dingin dari suhu tubuhnya. Donghae mengeratkan jaket yang dipakainya, dia
memejamkan mata menikmati kesunyian yang menemaninya sejak ia menginjakkan kaki
di sini. Mungkin kesunyiaan inilah yang akan menemani ia untuk seterusnya.
Kesunyiaan itu
terpecahkan oleh ringtone I-phonenya yang berdering heboh. Donghae
terkesiap, dia merogoh saku jaketnya dan memandangi layar I-phonenya
dengan tatapan datar. Ini adalah telepon entah keberapa puluh kali dari member
Suju, Donghae tak berpikir untuk mengangkatnya, dia ingin sendiri saat ini,
jadi entah untuk keberapa puluh kalinya juga Donghae mengabaikan panggilan itu.
I-phonenya
berbunyi lagi. Donghae mendengus karena merasa ketenangannya terganggu, namja
itu kembali memandangi layar I-phonenya. Nama ‘Lee Hyukjae’ berserta
gambar mereka berdua terpampang di sana.
Donghae tampak
berpikir sejenak, ia lalu mengembuskan napasnya sebelum mengangkat panggilan
itu.
Baiklah, Donghae
juga butuh teman untuk berbagi.
“Yak! Lee
Donghae! Dimana kau sekarang? Kenapa kau tidak mengangkat telepon kami dari
tadi hah?”
Eunhyuk
tampaknya tak mau susah-susah untuk mengucapkan basa-basi telepon karena namja
itu langsung memberondong Donghae dengan berbagai pertanyaan yang terdengar
mengintimidasi.
Sadar tak ada
jawaban, Eunhyuk kembali bersuara. “Kau membuat semua orang di dorm
cemas, Hae-ya. Sekarang cepat katakan dimana kau!”
Donghae
menggigit bibirnya, “Sungai Han, Hyukie.”
“Tunggu aku
setengah jam lagi, jangan kemana-mana!” suara Eunhyuk berubah cemas, dia tahu
kalau Donghae sudah memanggilnya dengan akhiran ‘ie’, itu artinya Donghae
sedang membutuhkannya.
Sambungan
terputus. Donghae memandangi I-phonenya dengan tatapan kosong sebelum
kembali menyimpan I-phone itu di saku jaketnya. Matanya kembali
memandang lurus ke depan dengan sinar yang meredup.
“Donghae!”
Donghae
mengalihkan tatapannya pada asal suara, dia melempar senyum tipis pada orang
yang baru saja memanggil namanya.
“Kau bilang
setengah jam, sekarang baru 15 menit Hyukie.”
“Berhenti
tersenyum seperti itu, kau tampak menyedihkan.”
Eunhyuk duduk di
sebelah Donghae, raut wajahnya masih diselimuti kecemasan.
“Entahlah, aku
merasa kosong..” gumam Donghae, tangannya lalu meraba dada. “Di sini.”
Eunhyuk menghela
napas, dirangkulnya pundak Donghae. “Mianhae, aku tidak memberitahumu
sebelum kau nekat menyatakan perasaanmu kalau Hyerin akan bertunangan..”
Donghae
menggeleng, “Gwaenchana, ini bukan salahmu.” walau ada nada getir dalam
nada suaranya, Donghae tetap mencoba tersenyum.
Eunhyuk membalas
senyum Donghae dengan senyum tak kalah getirnya.
“Kau, tahu ini
sejak kapan?” tanya Donghae tiba-tiba.
“Tadi sore waktu
aku berkunjung ke apartemen Hana.”
Donghae meraup
udara di sekitarnya lamat-lamat, “Apa yang harus aku lakukan sekarang?”
Eunhyuk menatap
Donghae sebentar sebelum matanya memandang sungai Han lurus-lurus, “Entahlah
Hae-ya, tapi kurasa kau harus belajar melepaskannya.”
“6 tahun yang
lalu aku sudah melepasnya Hyuk!” Donghae tiba-tiba saja berteriak, air matanya
kembali tumpah. “Dan sekarang apa aku harus kembali melepasnya?!”
Eunhyuk mengeluh
dalam hati mendengar Donghae berteriak padanya.
“Hae-ya,
cukup, kendalikan emosimu.” seru Eunhyuk sambil memegang bahu Donghae yang
bergetar. “Aku tidak akan menyuruhmu melepasnya lagi, jadi kau mau apa
sekarang?”
Donghae mengusap
air matanya dengan kasar, “Bagaimana kalau aku merebutnya?”
“Donghae!” seru
Eunhyuk terkejut, “jangan nekat, bagaimana kalau Hyerin mencintai tunangannya?”
Donghae menatap
Eunhyuk tajam, “Tidak, Hyerin mencintaiku, tapi dia hanya tidak ingin
mengecewakan appanya.”
Eunhyuk kembali
terkejut, dia menatap Donghae sebentar sebelum memijit keningnya yang terasa
berdenyut memikirkan kisah Donghae yang rumit.
“Arraseo,
tapi jangan merebutnya secara paksa, minta izinlah pada tunangan dan appanya.
Kurasa itu lebih baik Hae-ya.”
Setitik kelegaan
merayap di hati Donghae mendengar saran Eunhyuk. Emosinya kembali surut dengan
perlahan.
“Ne,
lebih baik begitu. Aku akan bicara dengan mereka secepatnya.”
Eunhyuk
tersenyum mengejek, “Memang kau tahu siapa calon tunangan Hyerin?”
Donghae yang
sudah tersenyum percaya diri langsung membulatkan matanya.
“Aigo,
aku lupa. Kau tahu siapa Hyuk-ah?”
Eunhyuk
menyeringai, “Nde, tentu saja aku tahu..”
“Jeongmal?
Katakan padaku siapa!” pinta Donghae bersemangat.
“Tidak!” tolak
Eunhyuk membuat wajah Donghae langsung masam.
“Waeyo?”
“Aku akan
memberitahumu jika kau pulang ke dorm sekarang.” jawab Eunhyuk, “kau
membuat semua orang cemas Hae-ya. Jam berapa sekarang, huh?”
Donghae
meringis, dia melirik jam tangan yang melingkari tangannya. 02. 00 a.m. Donghae
benar-benar tak sadar dia sudah di sini selama 4 jam.
“Nde,
cepat katakan padaku siapa dia.”
Eunhyuk menghela
napas sebelum menjawab dengan suara pelan, “Byun Baekhyun, Exo-K..”
***
Hyerin menarikan
jarinya di pinggiran cangkir moccacino pesanannya. Sesekali, yeoja
itu mengembuskan napas berat mengingat kejadian kemarin malam. Saat dimana dia
harus menolak orang yang paling diinginkannya. Hyerin memandang keluar jendela
kafe, tatapannya berubah sendu begitu melihat banyak sekali pasangan kekasih
yang sedang bercanda di luar sana.
Tanpa sadar,
setetes air mata kembali menuruni pipinya. Hyerin mengerjap kaget lalu
buru-buru menghapus air matanya itu dengan lembut. Tidak. Dia tidak ingin
menangis lagi. Hyerin sudah lelah menangis, lagipula menangis tak akan mengubah
apapun selain membuat kantung matanya jadi hitam. Hyerin sudah memutuskan tidak
akan mengecewakan appanya dan tetap bertunangan dengan Baekhyun esok
hari meskipun dia harus mengorbankan hatinya sendiri─juga mungkin hati Donghae.
Byun Baekhyun
sudah seperti adik sendiri bagi Hyerin, namja itulah yang menemaninya
bermain selama 4 tahun di Perancis─Baekhyun pulang sendiri ke Korea di tahun kelima
Hyerin di Perancis untuk melakukan training SMent. Selama di Perancis
itu Hyerin sangat dekat dengan Baekhyun, mungkin karena kedekatan itulah kedua
orangtua Hyerin maupun Baekhyun salah paham. Kedua keluarga itu sepakat
menjodohkan Hyerin dan Baekhyun. Awalnya baik Hyerin maupun Baekhyun mencoba
menolak, namun lama-lama karena tak tega mengecewakan orangtua mereka
memutuskan untuk menerima.
Dan beginilah
hasilnya sekarang, kedua orangtua Hyerin dan Baekhyun ternyata serius dengan
perjodohan mereka 3 tahun lalu, bahkan orangtua Hyerin sampai rela kembali
menetap di Korea demi menyusul keluarga Baekhyun yang sudah lebih dulu menetap
di Korea sejak setahun lalu.
Hyerin
mengeluarkan udara yang sedari tadi ditahannya ketika ingatan bagaimana ia bisa
sampai dijodohkan dengan namja yang setahun lebih muda darinya itu
terputar ulang disusul bayangan Donghae dengan segala tingkah lakunya. Yeoja
itu meringis dalam hati menyadari bahwa bayangan Donghae tak pernah mau
bergeser dari kepalanya walau pun dia sudah berusaha sangat keras.
Hyerin menatap
cangkir moccacinonya sekali lagi sebelum mengangkat cangkir itu
mendekati mulutnya dan menyesap cairan kecokelatan itu perlahan, matanya
beralih memandang pintu masuk saat menyadari orang yang sedari tadi ia tunggu
akhirnya muncul─lengkap dengan penyamarannya.
“Mianhae,
noona pasti menunggu lama ya?” Tanya namja itu tak enak seraya
mengambil tempat di hadapan Hyerin.
Sambil mencoba
tersenyum, Hyerin menggeleng pelan. “Gwaenchana Hyun-ah, noona
juga baru tiba tadi.”
Baekhyun melirik
cangkir moccacino Hyerin yang sudah tak beruap, dan ia mendesah begitu
tahu bahwa Hyerin telah berbohong padanya. Yeoja itu pasti sudah
menunggu sangat lama.
“Kau baik-baik
saja noona?” Tanya Baekhyun pelan, tangannya terjulur menyentuh dahi
Hyerin dengan lembut.
“Nde, aku
baik-baik saja Hyun-ah..” jawab Hyerin, “bagaimana denganmu? Aku sudah
lama sekali tak melihatmu.” Hyerin balik bertanya, tangannya mengacak rambut
Baekhyun sambil tersenyum kecil.
“Kau sangat
merindukanku, eoh?” goda Baekhyun sambil tergelak, “bukankah kau melihatku
di tivi setiap hari?” Baekhyun memasang mimik serius, membuat Hyerin
mengerucutkan bibirnya dan meninju bahu Baekhyun pelan.
Pelayan datang
membawa pesanan Baekhyun setelah keduanya mengobrol cukup banyak. Baekhyun
mengucapkan terimakasih pada pelayan itu lalu kembali mendengarkan cerita
Hyerin dengan saksama.
Baekhyun
mengangguk pelan tanda ia mengerti, “Kau ingin membatalkan pertunangan kita noona?”
“Mwo?”
mata Hyerin membelalak dengan sendirinya, yeoja itu buru-buru
menggelengkan kepalanya mendengar pertanyaan Baekhyun. “Aniyo Hyun-ah,
aku hanya ingin bercerita padamu.”
Hyerin lantas
menghela napas dalam-dalam sebelum berkata, “Kau tahu sendiri aku paling tidak
ingin mengecewakan appa.” dengan nada sedih yang begitu kentara.
Baekhyun
memandangi wajah Hyerin yang nampak sedih secara menyeluruh, lantas namja
itu ikut menghela napas. Dia tak pernah tahu apa isi yang ada di kepala Hyerin,
yeoja itu selalu lebih mementingkan perasaan orang lain daripada
perasaannya sendiri. Han Hyerin selalu lebih memilih mengorbankan
kebahagiaannya demi melihat kebahagiaan orang lain. Baekhyun sendiri tak
mengerti mengapa Hyerin dapat bersifat seperti itu, yeoja itu terlalu
baik dan pengertian sampai-sampai mau menyiksa diri sendiri demi kebahagiaan
orang lain. Hyerin memang membingungkan, Baekhyun tak pernah bisa menebak
pikiran yeoja itu. Rumit dan membingungkan, membuat Baekhyun
kadang-kadang pusing sendiri.
“Jadi noona
akan tetap bertunangan denganku besok?” tanya Baekhyun, matanya memandang
Hyerin sekilas sebelum dia menundukkan pandangan pada makanan yang dipesannya, namja
itu mengangkat gelas jus mangganya lalu meminum isinya sedikit. Perhatiannya
kembali pada Hyerin yang tengah menggigit bibir bawahnya sembari memandang
Baekhyun dengan tatapan setengah ragu.
Tak lama, Hyerin
mengangguk pelan, “Ne, lagipula bertunangan denganmu tak buruk juga..”
Baekhyun
mendecak, sudah ia duga Hyerin akan menjawab seperti itu. “Jangan menyesali
keputusanmu ini noona, karena kalau besok kita sudah terikat aku tak
akan mau memutuskannya. Kau tahu aku.” peringat Baekhyun seraya mengedikkan
bahunya, bibir namja itu tersenyum sedikit dan tangannya mulai bergerak
menyendok hidangan yang dia pesan lalu memasukkannya ke mulut.
Hyerin
mengangguk lagi sambil mendesah, dia tahu Baekhyun memang tipe orang yang
seperti itu. Baekhyun mempunyai prinsip bahwa ‘apapun yang sudah terikat
dengannya tidak akan pernah ia lepaskan walaupun ia sendiri tidak menyukainya’
dan setahu Hyerin namja itu tak pernah mengingkari prinsipnya.
Selanjutnya
mereka berdua tak berkata apapun, Hyerin hanya memandangi Baekhyun yang sedang
makan dengan lahap─seperti tidak pernah makan sebelumnya─dan Baekhyun sendiri
sedang fokus pada makanannya. Dia sepertinya benar-benar lapar.
Getaran halus
yang berasal dari I-phone Hyerin membuat yeoja itu sedikit
tersentak dari lamunannya. Dengan segera Hyerin mengeluarkan ponselnya dan
membuka pesan yang baru saja masuk.
From: Hana-ya^^
Hyerin-ah,
cepat ke butikku sekarang. Bukankah kau harus mencoba gaun untuk pertunanganmu
besok?
Hyerin mengembuskan
napas membacanya. Lihatlah, semuanya sudah benar-benar dipersiapkan dengan
baik, bagaimana mungkin dia bisa mengecewakan kedua orangtuanya yang sudah
sangat excited ini?
Jemari Hyerin
menari di atas keypad untuk membalas pesan Hana.
To: Hana-ya^^
Nde, aku
sebentar lagi ke sana.
Setelah
menyimpan I-phonenya di tas tangan lagi, Hyerin melirik sejenak ke arah
Baekhyun yang telah selesai dengan makanannya.
“Hyun-ah,
aku pulang sendiri tak apa, kan? Aku harus ke butik Hana untuk mencoba gaun.”
Baekhyun yang
tengah meminum jus mangganya melirik Hyerin sekilas sebelum mengangguk pelan
tanda mengizinkan. Hyerin memberikan senyum tipisnya sebelum benar-benar
melangkah meninggalkan Baekhyun di kafe itu.
“Aish,
sebenarnya siapa namja yang Hyerin noona cintai? Apa dia cocok
untuk Hyerin noona?” gumam Baekhyun setengah menerawang. Matanya
mengikuti punggung Hyerin yang pelan-pelan menghilang.
Baekhyun
tercenung sebentar sebelum tangannya melambai untuk membayar makanannya. Namja
itu baru saja berdiri hendak meninggalkan kafe saat tiba-tiba saja ponselnya
berdering. Baekhyun mengangkat teleponnya dengan kening berkerut samar melihat
nama ‘Donghae sunbae’ sebagai id callernya.
“Yeoboseyo,
Baekhyun-ssi.”
“Yeoboseyo
sunbae. Waeyo? Kau ada perlu denganku?”
Donghae diam
sebentar sebelum menyahut, “Ne, aku ingin bertemu denganmu di taman
depan SMent, kau bisa?”
Baekhyun tampak
heran mendengar permintaan Donghae, selama ini mereka terbilang tak cukup
dekat. Jadi ada masalah apa sampai tiba-tiba Donghae memintanya bertemu? “Arraseo
sunbae, aku akan segera ke sana.”
“Nde, aku
menunggumu. Gomawo.”
Klik!
Baekhyun menatap
layar ponselnya masih dengan wajah bingung. Selama di perjalanan dia hanya
memikirkan apa yang sebenarnya ingin dibicarakan Donghae. Mobil Baekhyun sampai
di gedung SMent 10 menit kemudian, namja itu memarkir mobilnya di lahan
yang masih kosong lantas berjalan menuju taman depan.
Setibanya di
taman, Baekhyun memanjangkan lehernya untuk mencari keberadaan Donghae. Dia
tersenyum sedikit ketika melihat Donghae duduk di salah satu bangku sambil
memainkan ponselnya. Baekhyun melangkah tenang menghampiri Donghae.
“Annyeong
sunbae, ada perlu apa denganku?” tanyanya ketika sudah ada di hadapan
Donghae, Baekhyun memberikan senyum ramah yang dia punya.
Donghae
mengangkat wajah ketika mendengar suara seseorang, dia memandang datar ke arah
Baekhyun yang sedang menebar senyum ramah padanya.
“Annyeong
Baekhyun-ssi, duduklah dulu.”
Baekhyun
sebenarnya tidak terlalu menyukai reaksi Donghae yang sangat datar menyambut
kedatangannya (hei, bukankah Donghae yang memintanya bertemu?) tapi demi
menjaga kesopanan pada seniornya ini, Baekhyun akhirnya hanya mengangguk dan
menuruti kata-kata Donghae tadi.
Donghae melirik
Baekhyun, dihirupnya udara sebanyak-banyaknya sebelum dia memulai percakapan
dengan Baekhyun.
“Baekhyun-ssi,
kau benar-benar tunangan Hyerin?”
Baekhyun menoleh
menatap wajah Donghae, keningnya berkerut mendengar pertanyaan yang dilontarkan
Donghae. “Ne?”
Donghae
mendengus, memalingkan wajahnya dan menatap Baekhyun datar, “Aku bertanya
apakah kau benar-benar calon tunangan Han Hyerin anak dari Han Jaebyun?”
Kerutan di
kening Baekhyun menghilang sedikit demi sedikit, “Ne, itu benar. Ada apa
memangnya sunbae?”
“Bisakah kau
memberikan Hyerin padaku?” tanya Donghae tanpa basa-basi.
Baekhyun
terkesiap, dia balik menatap Donghae dengan tajam. Pikirannya melayang-layang
pada cerita Hyerin tadi. Apa Donghae sunbae orang yang diceritakan
Hyerin noona? Pikirnya dalam hati. Baekhyun tertegun sebentar sebelum
otaknya mencetuskan sesuatu.
“Apa maksud sunbae?”
Donghae memutar
bola matanya jengah, “Kau tidak mengerti perkataanku? Aku menginginkan Hyerin,
berikan dia padaku!”
“Memang kau
pikir Hyerin barang? Tidak, aku tidak akan melepaskannya.”
Tatapan Donghae
meredup, ada perasaan sedih dan luka di dalam matanya. “Jebal Baekhyun-ssi.
Batalkan pertunangan kalian, aku sangat mencintainya.”
“Tidak sunbae,
mianhae. Aku tidak ingin kehilangan mainanku.”
Mata Donghae
membelalak lebar mendengar ucapan Baekhyun, dia langsung menarik kerah kemeja yang
dikenakan Baekhyun dan memandang namja itu dengan tatapan membunuh
terbaik yang pernah ia miliki. Baekhyun hanya menatapnya datar.
“Yak! Apa maksud
kata-katamu barusan?!”
“Uh,” keluh
Baekhyun, “kau tak usah naif seperti itu sunbae. Kau tahu aku dan Hyerin
dijodohkan tanpa cinta, aku juga sudah memiliki kekasih sebenarnya. Tapi aku
tak ingin membatalkan pertunangan ini, Hyerin terlalu cantik untuk dilewatkan,
dia bisa menjadi mainanku yang menarik.”
Donghae tak bisa
lagi mengendalikan emosinya, dia melayangkan satu pukulan tepat ke wajah
Baekhyun.
“Brengsek! Aku
tak akan membiarkanmu melakukan itu!”
Dan tanpa bisa
cegah, pukulan bertubi-tubi kembali dilayangkan Donghae secara membabi buta.
***
“Neomu
kyeopta Hyerin-ah,” pekik Hana kagum melihat penampilan Hyerin.
Saat ini
keduanya sedang berada di ruangan khusus yang disediakan hotel tempat Hyerin
akan bertunangan. Hyerin sudah selesai didandani oleh perias, dia tampak sangat
cantik hari ini dengan dress selutut berwarna biru laut yang dirancang
Hana.
Hyerin tersenyum
tipis melihat kekaguman Hana, dia mengangkat kepalanya menghadap cermin dan
ikut mengamati refleksi dirinya yang terpantul sempurna di cermin itu. Hana benar,
Hyerin tampak sangat cantik dan menawan dengan tampilannya saat ini. Tapi Hyerin
sama sekali tak merasa senang, dia justru merasakan kekosongan menyelimuti
hatinya. Setelah acara ini berakhir, tidak akan ada lagi kesempatan Hyerin
untuk bersama Donghae. Hyerin harus belajar merelakan Donghae mulai sekarang,
sesakit apa pun dia nantinya, Hyerin harus bisa melupakan Donghae. Menghapus namja
itu dari pikiran dan hatinya.
Tanpa bisa
dicegah, Hyerin meneteskan air matanya menyadari kenyataan yang harus dia
hadapi setelah ini. Namun sebelum Hana melihatnya, Hyerin buru-buru menyeka air
mata itu dengan perlahan.
“Hyerin-ah,
nanti kau akan masuk saat Han ahjussi menyuruhmu masuk. Aku yang akan
memberikan kodenya, kau siapkan?” Tanya Hana riang, yeoja itu menggamit
tangan Hyerin lantas membawa Hyerin keluar dari ruangan itu.
“Mollayo
Hana-ya, aku tidak tahu aku siap atau tidak.” Jawab Hyerin ketika mereka
sudah sampai di pintu masuk ballroom tempat dilangsungkannya acara. Hyerin
dan Hana duduk di salah satu kursi yang ada di situ, menunggu sambutan Han
Jaebyun selesai dan Hyerin dipersilakan masuk─mereka bisa mendengar dengan
jelas sekali pun dari luar.
Hana tertawa kecil,
tangannya mengusap punggung Hyerin dengan lembut. “Percayalah, kau tidak akan
pernah menyesal.”
Hyerin menatap
Hana tak mengerti mendengar perkataan yeoja itu, tapi dia tak mau ambil
pusing dan hanya bisa mendesah pasrah pada apa yang akan dihadapinya setelah
ini. Hana membantu Hyerin berdiri saat mereka mendengar Han Jaebyun
mempersilakan Hyerin memasuuki ballroom.
Hana membukakan
pintu untuk Hyerin, sementara Hyerin menghela napas berkali-kali demi
menyiapkan dirinya sebelum masuk ke dalam. Hyerin berjalan menunduk ke arah
ayahnya, dia tak mempedulikan tatapan kagum para tamu undangan atas
penampilannya.
Hyerin menghentikan
langkahnya dia berhenti di hadapan ayahnya─sekaligus berada di samping calon
tunangannya karena Hyerin bisa melihat sepasang sepatu di sebelah kakinya. Hyerin
tetap menunduk, dia sama sekali tak punya keberanian untuk mengangkat kepalanya
dan menatap calon tunangannya.
Mata Hyerin
kembali terasa memanas saat ayahnya mempersilakan mereka untuk saling bertukar
cincin, Hyerin memejamkan matanya dengan erat saat merasakan jari manisnya
dilingkari oleh sebuah cincin.
“Nah, Hyerin,
sekarang pasangkan cincinnya pada pasanganmu.” Suara appanya kembali
terdengar.
Hyerin mencoba
menguatkan diri agar air matanya tak jatuh begitu saja, dia mengambil cincin
dari kotak yang disodorkan appanya.
Untuk pertama
kalinya sejak Hyerin menginjakkan kaki di ballroom ini, Hyerin
mengangkat wajah demi melihat tunangannya sekarang. Dan mulut Hyerin langsung
menganga lebar.
Di depannya,
Donghae berdiri sambil memasang senyum paling manis yang pernah ia punya. Namja
itu memakai tuksedo hitam yang membuatnya sungguh terlihat tampan.
“Oppa..
bagaimana bisa?” gumam Hyerin masih tak percaya, matanya mengerjap beberapa
kali untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa yang ada di hadapannya ini
benar-benar Donghae.
Donghae terkekeh
kecil melihat ekspresi Hyerin, “Kau tidak ingin bertunangan denganku, Hyerin-ah?”
“Aniyo,”
sela Hyerin cepat, walaupun masih bingung dengan apa yang terjadi, yeoja
itu memasangkan cincin di jari manis Donghae.
Hyerin tak bisa
membohongi hatinya yang langsung terasa sangat ringan saat Donghae menggandeng
tangannya dan membalikkan tubuh mereka menghadap seluruh tamu undangan─yang
masih riuh bertepuk tangan sejak Hyerin memasangkan cincin itu di jari manis
Donghae. Hyerin memandang ke sekeliling, dia menemukan Hana dan Saera yang
tersenyum manis padanya, Hyerin juga menemukan member Super Junior yang
asyik menyoraki dia dan Donghae, terakhir Hyerin menemukan Baekhyun yang sedang
tersenyum sambil menggerakkan bibirnya seolah berkata ‘dia yang terbaik untukmu
noona, chukkae.’
“Aku
menitipkannya padamu Donghae-ya.”
Perkataan yang
berasal dari appanya berhasil membuat Hyerin mengalihkan pandangan pada
sebelahnya, dia tersenyum kecil saat Donghae mengangguk mantap dan appanya
memeluk Hyerin dengan erat. Hyerin melepaskan gandengan tangan Donghae dan
membalas pelukan appanya dengan tak kalah erat. Hyerin membenamkan
wajahnya di pundak sang appa dengan rasa terharu yang begitu besar.
“Appa,
apa maksudnya ini? Bukankah tunanganku Baekhyun?” Tanya Hyerin lirih.
Appanya terkekeh
seraya mengelus rambut panjang Hyerin, dia kemudian melepaskan pelukannya dan
menyatukan jemari Donghae dan Hyerin hingga saling bertautan.
“Ne,
awalnya begitu Hyerin. Tapi kemarin Donghae dan Baekhyun datang menemui appa,
mereka menjelaskan berbagai hal pada appa dan meminta agar Donghae yang
menjadi tunanganmu. Mianhae appa tak peka pada perasaanmu. Mianhae
juga apa tak memberitahumu dari semalam, ini rencana Donghae, dia ingin memberi
kejutan padamu.”
Hyerin mengusap
air mata bahagianya dan menggeleng pelan, “Gomawo appa, jeongmal gomawo.”
Setelah mendapatkan anggukan dari appanya, mata Hyerin beralih memandang
Donghae.
“Oppa..”
“Sstt..” Donghae
meletakkan jari telunjuknya di bibir Hyerin, seakan menyuruh yeoja itu
untuk tak berkata apapun. “Kau pikir aku akan melepaskanmu lagi setelah 6 tahun
lalu aku terpaksa melepasmu? Tidak, terimakasih.”
Hyerin tertawa
kecil, pipinya bersemu merah mendengar perkataan terakhir Donghae, “Saranghae
oppa, jeongmal saranghaeyo..”
Donghae bersumpah
bahwa mendengar Hyerin mengatakan hal itu adalah kebahagiaan terbesar yang
pernah terjadi di hidupnya, “Nado saranghae, nae Hyerin.”
Donghae
mendekatkan dirinya dan memeluk Hyerin dengan lembut, beberapa saat keduanya
berpelukan hingga Donghae merasakan kepala Hyerin yang berada di dalam
pelukannya terangkat. Donghae menundukkan wajahnya demi melihat wajah Hyerin
yang tampak sangat bahagia.
“Oppa,
bagaimana kau dan Baekhyun bisa menemui appa?”
Donghae menyeringai
kecil mengingat kejadian kemarin sebelum Donghae pelan-pelan mulai memupus
jarak yang masih tersisa di antara mereka, hingga akhirnya Hyerin dapat
merasakan bibir Donghae yang mencium bibirnya dengan lembut.
***
“Uh,” keluh
Baekhyun, “kau tak usah naif seperti itu sunbae. Kau tahu aku dan Hyerin
dijodohkan tanpa cinta, aku juga sudah memiliki kekasih sebenarnya. Tapi aku
tak ingin membatalkan pertunangan ini, Hyerin terlalu cantik untuk dilewatkan,
dia bisa menjadi mainanku yang menarik.”
Donghae tak
bisa lagi mengendalikan emosinya, dia melayangkan satu pukulan tepat ke wajah
Baekhyun.
“Brengsek!
Aku tak akan membiarkanmu melakukan itu!”
Dan tanpa
bisa cegah, pukulan bertubi-tubi kembali dilayangkan Donghae secara membabi
buta.
“Yak! Yak, Lee
Donghae, apa yang kau lakukan?”
Eunhyuk datang
di saat yang tepat, namja itu segera melerai Donghae yang baru saja akan
melayangkan tinjunya lagi pada Baekhyun. Donghae meronta berusaha melepaskan
diri dari Eunhyuk, kemarahan meluap-luap di dalam dadanya. Dia ingin kembali
memukul Baekhyun sampai namja itu benar-benar puas.
“Lepas. Aku ingin
memukul namja brengsek itu lagi!” jerit Donghae membuat Eunhyuk
kepayahan.
Sementara Eunhyuk
masih berusaha menahan Donghae, Baekhyun berdiri. Namja itu menatap
Donghae sekilas sebelum ibu jarinya mengusap darah yang ada di sudut bibirnya
dengan pelan. Baekhyun kembali menatap ke arah Donghae─kali ini lebih lama dan
dalam─dan bibirnya menampilkan senyum tulus yang sangat menawan.
Baekhyun berjalan
menghampiri Donghae, membuat Eunhyuk panik.
“Baekhyun-ssi,
cepat pergi dari sini.”
“Aniyo
sunbae,” elak Baekhyun pada Eunhyuk, dia kembali melempar senyum tulus pada
Donghae, “Donghae sunbae, aku merasa kau orang yang tepat untuk Hyerin noona.
Ayo kita temui Han ahjussi, aku akan mendukungmu.”
Rontaan Donghae
melemah, melihat itu Eunhyuk menghela napas lega sambil melepaskan cekalan
tangannya di tangan Donghae, dia tahu Donghae tak akan meledak lagi. Eunhyuk diam
mengamati keduanya.
Meskipun ia
belum sepenuhnya mengerti tapi Donghae
merasakan kemarahan yang tadi meluap-luap di dadanya perlahan surut dengan
sendirinya saat Baekhyun mengatakan hal itu. Donghae menatap Baekhyun dengan
kening mengernyit, matanya meminta penjelasan lebih.
“Apa
maksudmu?”
Baekhyun terkekeh
kecil sambil merapikan rambutnya yang agak berantakan, “Mianhae sunbae,
aku tadi hanya ingin menguji kelayakanmu untuk Hyerin noona. Kau tahu Hyerin
noona sudah seperti kakakku sendiri, aku sangat menyayanginya, karena
itu aku ingin memastikan bahwa kau memang pantas untuk Hyerin noona. Dan
melihat reaksimu tadi aku merasa kau benar-benar pantas untuk Hyerin noona,
kau sangat mencintainya.”
“Kau, tidak
sedang bercandakan?” Tanya Donghae tak percaya, namun entah mengapa dia
merasakan kelegaan di hatinya mendengar perkataan Baekhyun tadi.
Baekhyun mengangguk
mantap, “Ayo ke kantor Han ahjussi, sunbae.”
END

