That’s All About Us (series one: Lee Hyukjae)
Kim Hana
memandangi vidio yang sedang diputar di layar laptopnya dengan mata membulat
maksimal. Yeoja itu berkali-kali mereplay vidio tersebut, dan itu
berarti Hana juga berkali-kali mendengus tiap objek bergerak di dalam vidio itu
memperlihatkan apa yang seharusnya tidak boleh diperlihatkan.
Wajah Hana
memerah menahan perasaan kesal dan marah yang bergumul di hatinya, yeoja
itu lantas mengklik tanda silang merah di sebelah kiri layar laptopnya.
Setelah itu Hana mengembuskan napas keras-keras berharap campuran perasaan di
hatinya dapat menguap─atau minimal berkurang. Yeoja itu mendengus sekali
lagi begitu tahu usahanya sia-sia, dia lantas mengambil I-phonenya yang
tergeletak pasrah di nakas. Kekesalan dan amarahnya semakin meluap melihat
layar I-phonenya yang bersih─tidak ada satu pun sms atau misscall.
Hana bangkit
dari ranjangnya, dia menghentakkan kaki dengan kesal sebelum mengambil tas
tangan, mantel, dan kunci mobilnya. Hana sekali lagi memandangi layar I-phonenya
yang berwallpaper ia dan seorang namja yang tengah merangkulnya
sambil tersenyum ceria.
Hana mendesis
sinis melihat wallpaper itu, “Mati kau, Lee Hyukjae!”
***
Teng nong..
Sungmin yang
baru saja akan mendudukkan dirinya di sofa ruang tivi mendesah malas mendengar
bunyi bel dorm. Namja yang dijuluki King of Aegyo Super
Junior itu melirik ke arah pintu dorm sekilas, lantas melirik ke segala
penjuru dorm berharap menemukan orang yang bisa dia suruh untuk
membukakan pintu. Sadar tak ada seorang pun yang bisa dia suruh, Sungmin
terpaksa menyeret kakinya ke arah pintu. Tanpa melihat sang tamu lewat interkom
terlebih dahulu, Sungmin langsung membukakan pintu dorm. Alisnya
berkerut melihat Hana yang bertamu─dengan wajah masam yang menyeramkan.
“Annyeong
oppa..” sapa Hana datar, tanpa senyum sama sekali.
Alis Sungmin
sekarang hampir menyatu mendengar nada bicara Hana yang kelewat datar, apalagi
melihat tak ada seulas senyum yang biasanya Hana tampilkan untuk semua member
Suju. Tapi namja itu mencoba berpikir positif bahwa Hana─mungkin─sedang
datang bulan.
Sungmin akhirnya
menyunggingkan senyum kelinci miliknya dengan wajah ramah meski pun kentara
sekali ia sangat lelah hari ini.
“Annyeong
Hana-ya, kau muram sekali hari ini.”
Hana mendengus
mendengar candaan Sungmin yang sama sekali tak lucu, yeoja itu memutar
bola matanya dengan wajah bertambah masam.
“Dimana Lee
Hyukjae, oppa?” tanya Hana kemudian tanpa basa-basi.
Sungmin meneguk
ludahnya dengan susah payah mendengar nada suara Hana, namja itu kini
paham mengapa Hana datang dengan wajah masam seperti ini.
“Akan
kupanggilkan, sepertinya dia masih tidur di kamarnya. Duduklah dulu, Hana-ya.”
ujar Sungmin pelan, dia menggeser tubuhnya mempersilakan Hana masuk.
Sebelum melewati
tubuh Sungmin, Hana sempat melemparkan tatapan dinginnya selama beberapa detik
dan itu cukup membuat Sungmin bergidik ngeri.
Kau cari
mati, Hyukie. Batin Sungmin ngeri, namja itu bergegas menuju ke
kamar Eunhyuk dan masuk ke dalamnya.
Sungmin berdecak
heran melihat Eunhyuk yang masih pulas sementara sebentar lagi akan ada gempa
besar melanda dorm. Namja itu mengguncang-guncang badan
Eunhyuk─yang masih terbungkus selimut rapat─dengan keras.
“Eunhyuk-ah,
bangun!” seru Sungmin keras.
Eunhyuk
menggeliat di atas ranjangnya, namja itu membuka mata sedikit lalu
kembali menutupnya. Tangannya meraih ujung selimut lantas menariknya hingga
menutupi kepala.
“Ugh, aku masih
ingin tidur, hyung!” gerutunya dengan suara parau.
Sungmin kembali
berdecak, diambilnya bantal di sebelah Eunhyuk dan memukulkan bantal itu ke
badan Eunhyuk secara barbar.
“Bangun pemalas!
Hana datang!”
“Mwo?!”
Eunhyuk langsung duduk di ranjangnya begitu Sungmin menyebutkan nama Hana. Namja
itu mengerjap-ngerjapkan mata dengan tampang kelewat polos─atau bodoh?
Kepala Eunhyuk
menoleh ke arah Sungmin begitu ia sadar sepenuhnya. “Hana di sini, hyung?”
tanyanya dengan wajah yang mendadak berbinar.
Sungmin
mengangguk dengan wajah frustasi, Eunhyuk ini sebenarnya memang terlalu polos
atau bodoh sih? Masih bisa-bisanya ia berwajah seperti itu padahal Hana akan
mengamuk sebentar lagi.
“Ah, ia pasti
merindukanku..” gumam Eunhyuk percaya diri sambil buru-buru melenggang ke kamar
mandi, mengabaikan Sungmin yang menatapnya cemas.
Sungmin hanya
menggeleng-gelengkan kepalanya heran, namja itu lalu bergegas keluar
dari kamar Eunhyuk dan masuk ke kamarnya untuk menghindari ledakan kemarahan
Hana secara langsung.
Semoga kau
selamat Hyukie, doa Sungmin dalam hati.
***
“Chagi-ya,
bogoshippo..” seru Eunhyuk begitu melihat Hana sedang duduk tenang di sofa,
namja itu menghampiri Hana sambil merentangkan tangannya lebar-lebar
untuk memeluk Hana.
Kening Eunhyuk
seketika mengernyit saat sadar Hana sama sekali bergeming dari posisinya, yeoja
itu malah menatap Eunhyuk dengan wajah datar─yang terkesan dingin. Eunhyuk
langsung meringis dalam hati, pantas saja tadi ekspresi Sungmin saat
membangunkannya terlihat cemas. Hana sedang marah ternyata.
Apa lagi
kesalahannya kali ini sampai bisa mendapatkan tatapan seperti itu dari Hananya?
Eunhyuk duduk di
sebelah Hana dengan hati-hati, “Chagi-ya, waeyo?” tanyanya pelan sambil
menggenggam tangan Hana.
Hana tak
bereaksi sama sekali, dia masih setia dengan tatapan dinginnya yang begitu
menusuk. Melihat Hana yang seperti ini, siapa pun pasti akan langsung merasa
bulu kuduknya berdiri. Eunhyuk saja yang sudah sering mendapatkan tatapan
seperti ini masih ngeri sendiri.
Hana benar-benar
menyeramkan!
1 menit.. Hana
masih tak menjawab, bergerak sedikitpun tidak. Tatapan dinginnya masih mengarah
lurus ke arah Eunhyuk. Eunhyuk menghela napas, memutuskan menunggu.
2 menit...
Eunhyuk mendesah, tapi dia menyabarkan hati untuk tetap menunggu hingga
beberapa waktu lagi.
5 menit...
Eunhyuk benar-benar sudah tak tahan dengan sikap diam Hana.
“Chagi-ya,
apa aku berbuat salah lagi?” Eunhyuk kembali bertanya sambil memasang wajah
polos anak kecil yang sedang merengek meminta permen. Dia menggoyang-goyangkan
tangannya dan tangan Hana yang bertautan dengan lembut.
Kali ini Hana akhirnya
bereaksi, mata bulat yeoja itu menyipit ke arah Eunhyuk dengan tatapan
menuduh.
“Kau bahkan
tidak tahu kesalahanmu kali ini?” tanyanya dengan nada meremehkan yang sedingin
es kutub. Hana langsung melepaskan kaitan tangannya dengan Eunhyuk.
Eunhyuk
mengernyit, dia tahu Hana sedang marah padanya, tapi yang dia tak tahu adalah
kesalahan apa yang telah ia perbuat hingga Hana bersikap marah.
“Chagi-ya,
jebal..” pinta Eunhyuk sambil memasang wajah polos lagi. “Aku tahu kau
sedang marah padaku, tapi aku benar-benar tak tahu kesalahan apa yang kuperbuat
kali ini.”
Hana mendengus,
dia memalingkan wajah ke arah lain untuk menghindari tatapan Eunhyuk─Hana takut
luluh jika terus ditatap dengan tatapan memohon seperti itu.
“Kesalahan
sendiri kau tidak tahu, huh?!” ujar Hana dengan dinginnya.
Eunhyuk
lagi-lagi meringis, dia memandangi wajah kesal Hana sambil memasang wajah khawatir.
Hana selalu susah untuk dibujuk kalau sudah marah seperti ini.
“Hana-ya,
aku benar-benar tak tahu..” balas Eunhyuk pelan.
Hana menghela
napas panjang sebelum memberanikan diri menatap mata Eunhyuk lurus-lurus. “Kau
punya dua kesalahan padaku tuan Lee Hyukjae!” desis Hana dengan nada tajam yang
menusuk.
Du-dua?
Eunhyuk menelan ludahnya susah payah.
Hana berdecak
melihat Eunhyuk yang hanya diam, setelah membiarkan beberapa saat berlalu
dengan hening, yeoja itu mulai kembali bersuara.
“Pertama..” Hana
memberi jeda sebentar, menimbulkan efek tegang berlebihan dalam diri Eunhyuk.
“Kau tiga hari tidak menghubungiku sama sekali. Kemana saja kau, huh?”
“Itu─” Eunhyuk
gelagapan harus menjawab apa, tapi belum selesai dia menjawab Hana sudah
terlebih dahulu memotongnya.
“Baiklah, yang
pertama masih bisa kutolerir karena belakangan ini jadwalmu padat─mungkin.”
sedikit senyum tersungging di bibir Eunhyuk, tapi senyum itu langsung lenyap
begitu Hana kembali berbicara.
“Tapi kesalahan
keduamu yang paling parah, Lee Hyukjae-ssi.” tatapan Hana beribu kali
lebih tajam dari yang tadi-tadi, membuat Eunhyuk menggigit bibirnya cemas. “Apa
maksud penampilan solomu di SS4 Tokyo Dome dan Seoul Encore, hm?” walau pun
Hana mengatakannya dengan nada datar, tapi ekspresi wajahnya jauh lebih menusuk
dari sekadar nada bicara.
Sedangkan
Eunhyuk? Namja itu kini malah mengerutkan kening dengan wajah tak
mengerti. Penampilan solonya di SS4 Tokyo Dome dan Seoul Encore?
“Oh, itu..”
gumam Eunhyuk kemudian setengah sadar. “MWO?” teriak Eunhyuk beberapa
detik kemudian saat dia sudah benar-benar ingat.
Eunhyuk segera
menatap Hana dengan pandangan horor. “Chagi-ya, kau paham itu hanya pekerjaan,
kan?”
Hana menghela
napas panjang. “Kalau saja kau memberitahukan tentang ini terlebih dahulu
padaku, aku pasti akan mengerti..”
Eunhyuk
menggigit bibirnya, dia menundukkan kepalanya sedetik kemudian, “Mianhae..”
“Aku lelah..”
kata Hana kemudian, sama sekali tak menanggapi permintaan maaf Eunhyuk. “Kau
selalu berbuat sesuka hatimu tanpa memikirkan perasaanku.”
Mendengar
perkataan Hana, raut wajah Eunhyuk berubah panik. “Hana-ya, bukan
begitu. Aku─”
“Kau seperti tak
menganggapku sebagai tunanganmu.” sela Hana, gejolak amarah dan kesal yang
bercokol di hatinya menguap, digantikan sebuah rasa kecewa dan sakit hati yang
sangat dalam. Mata Hana memandang Eunhyuk sendu, tatapan dalamnya penuh luka.
Eunhyuk
menggeleng-geleng panik, “Hana-ya, jangan beranggapan seperti itu.”
“Aku ingin kita break,
seminggu.” kata Hana lirih, tak dipedulikannya mata sipit Eunhyuk yang hampir
meloncat keluar.
Hana berdiri,
merapikan dress yang dipakainya lalu menggamit tas tangan.
“Aku tidak mau!”
kata-kata tegas Eunhyuk menghentikan langkah Hana.
“Aku perlu
menenangkan pikiran, dan kita perlu intropeksi diri masing-masing untuk
sementara waktu.” sahut Hana tanpa susah-susah berbalik.
“Kau ingin
membatalkan pertunangan kita, Kim Hana? Lagipula kenapa kau baru protes
sekarang sementara kemarin-kemarin kau diam saja?” Eunhyuk mulai tidak bisa
mengendalikan emosinya. Kesal tiba-tiba saja menggerogoti hatinya.
“Aku sibuk
dengan fashion showku untuk minggu depan,” jawab Hana, “kau berlebihan,
aku hanya ingin break.”
Hana mengatakan
hal yang sebenarnya. Semenjak ia kembali bersama Eunhyuk, Hana memutuskan untuk
kembali ke Korea dan membangun usahanya sendiri. Dia berhasil mendirikan sebuah
butik tiga bulan yang lalu─tentu saja dengan bantuan modal dari orangtuanya─dan
butik Hana itu langsung populer di kalangan masyarakat kelas atas karena
rancangan-rancangan Hana yang begitu memikat. Banyak pelanggan Hana yang
mengusulkan dia untuk menggelar fashion show dan mempertunjukkan
rancangannya yang mengagumkan pada masyarakat luas. Hana tertarik hingga
sebulan ini perhatiannya tersita pada fashion show itu dan dia bahkan
tak sempat untuk mengetahui berita entertainment mengenai kekasihnya.
“Hana,
berhentilah bersikap seperti anak kecil!” teriak Eunhyuk yang lagi-lagi
menghentikan langkah Hana. Wajah Eunhyuk memerah menahan perasaan kesalnya.
Mendengar
teriakan Eunhyuk, Hana mendadak merasa emosinya kembali terkumpul di kepala.
Darah Hana berkumpul di wajahnya hingga ia merasa wajahnya memanas─bukan karena
malu atau tersipu, tapi marah! Yeoja itu lantas membalikkan tubuhnya dan
memandang Eunhyuk yang berdiri dua meter di depannya dengan tatapan membunuh.
“Siapa di sini
yang bersikap kekanakan sebenarnya? Aku atau kau?” Hana balas berteriak,
tangannya mengepal penuh emosi.
“YAK! KIM HANA!
MANA SOPAN SANTUNMU, MENGAPA KAU BERTERIAK PADAKU?” Eunhyuk benar-benar
terbakar emosi, dia tidak bisa lagi mengendalikan dirinya hingga tanpa sadar
sekarang ia malah membentak Hana.
Wajah Hana
langsung menampilkan ekspresi tersentak. Yeoja itu merasakan
kemarahannya tambah melonjak-lonjak mendengar bentakan Eunhyuk─walaupun matanya
juga memanas ingin menangis.
“KAU YANG DULUAN
BERTERIAK, HYUKJAE-SSI!” marah Hana.
Cklek!
Bunyi kunci yang diputar menginterupsi pertengkaran Hana dan Eunhyuk. Keduanya
sama-sama menolehkan kepala ke asal suara, dan dari sanalah muncul kepala
Ryeowook yang tampak masih sangat mengantuk.
“Hyung,
Hana-ya mengapa kalian berteriak pagi-pagi begini?” Tanya namja
itu setengah sadar, tapi begitu melihat tatapan Eunhyuk dan Hana yang sangat
tajam, Ryeowook langsung menyesal mengapa ia menginterupsi kegiatan mereka
berdua. Ryeowook memandang keduanya horor, dia buru-buru kembali berkata
melihat keduanya masih memandangi dirinya dengan tajam. “Uh-oh, aku hanya
bertanya. Aku mau melanjutkan tidurku lagi, annyeong!”
Blam!
Pintu tertutup rapat lagi. Hana dan Eunhyuk kembali saling melemparkan
pandangan tajam.
“Kau benar-benar
menyebalkan, Hyukjae-ssi. Aku membencimu!”
Setelah
mengatakan hal itu, Hana bergegas pergi dari hadapan Eunhyuk dengan air mata
yang tiba-tiba saja mengalir.
Lihat, dia
bahkan tidak mengejarku! Jerit Hana dalam hati dengan air mata yang masih
mengalir deras, yeoja itu mempercepat langkahnya menuju parkiran tanpa
mempedulikan tatapan heran semua staf SMent.
Sementara
Eunhyuk sendiri masih mematung di tempatnya, terkejut menyadari bahwa dia
benar-benar membentak Hana tadi. Eunhyuk ingin sekali mengejar Hana, tapi
emosinya masih belum stabil, dia takut dia akan kembali membentak Hana jika
emosi masih menguasai dirinya seperti ini. Eunhyuk mendudukkan dirinya di sofa
dengan lunglai, menyesali perbuatannya yang─Eunhyuk sangat yakin jika melihat
pundak Hana yang tadi bergetar─lagi-lagi membuat Hana menangis.
Tak berselang
lama setelah kepergian Hana, Sungmin, Ryeowook, Kyuhyun, dan Yesung keluar dari
kamar mereka. Mereka berempat menghampiri Eunhyuk lalu duduk tak jauh dari namja
itu.
“Bertengkar?”
Tanya Yesung hati-hati.
Eunhyuk
menengadah melihat hyung dan dongsaengnya itu, dia lantas
mengangguk dengan wajah tertunduk lesu.
“Kenapa bisa, hyung?
Bukankah kemarin-kemarin kalian masih baik-baik saja?” sekarang giliran
Ryeowook yang bertanya.
Kepala Eunhyuk
semakin menunduk ke bawah. Namja itu menggigit bibir bawahnya ragu-ragu.
“Dia marah karena penampilan soloku, Ryeowook-ah.” Jawab Eunhyuk
akhirnya.
Mereka semua
tampak mengerutkan kening tak mengerti dengan jawaban Eunhyuk, “Penampilan
solomu yang mana, Hyuk-ah?”
Eunhyuk menoleh
ke arah Sungmin dengan wajah memelas, “Sorry sorry answer kemarin hyung.”
Mata Ryeowook,
Yesung, Sungmin, dan Kyuhyun melebar seketika.
“Yang itu hyung?”
kata Kyuhyun yang akhirnya bertanya dan dijawab anggukan Eunhyuk, ekspresi
terkejut masih mendominasi wajah Kyuhyun sebelum namja itu menampilkan
seringaian setan miliknya. “Apa kubilang hyung, penampilanmu waktu itu
terlalu frontal!”
“Aish, appo
hyung.” Kata Kyuhyun kemudian sambil meringis mengusap kepalanya yang dipukul
pelan oleh Yesung.
“Kyuhyun, jaga
sopan santunmu.”
Eunhyuk yang
memang sudah muram tambah muram mendengar perkataan Kyuhyun, tapi mau tak mau
ia membenarkan ucapan Kyuhyun tersebut. “Arraseo, Kyuhyun-ah.
Kurasa kau benar kali ini.”
Seringaian setan
Kyuhyun lenyap. Kenapa Eunhyuk malah membenarkan? Tidak menyenangkan sama
sekali! Dengan tak acuh, Kyuhyun merogoh saku celananya dan mengambil PSP
tercinta miliknya.
Yang lain
langsung sweatdrop melihat tingkah Kyuhyun itu.
“Kenapa kau
tidak mengejar Hana, hyung?” Tanya Ryeowook kemudian dengan nada
penasaran.
Eunhyuk tampak
berpikir sebentar sebelum menjawab, “Aku ingin menenangkan diri dulu sebentar,
Ryeowook-ah. Mungkin jam 9 nanti aku akan meminta maaf padanya.”
Setelah
mengatakan itu, yang lainnya mengangguk mengerti lalu mulai melakukan aktivitas
masing-masing seperti biasanya.
***
Sudahlah
Hana, sampai kapan kau mau menangisi namja babo itu? Fashion show
menantimu!
Hana menghapus
air matanya dengan kasar setelah batinnya berucap demikian, yeoja itu
lalu memutuskan untuk keluar dari ruangannya di butik untuk memeriksa
busana-busana yang akan dipamerkan nanti.
Hana menghela
napas dalam-dalam sebelum tangannya bergerak untuk memutar kenop pintu. Yeoja
itu mengamati karyawan-karyawannya yang tengah sibuk ini-itu, seulas senyum
tersungging di bibirnya sebelum Hana memutuskan untuk ikut bergabung dengan
mereka semua. Setidaknya pekerjaan pasti akan membuat Hana melupakan Eunhyuk
untuk sementara waktu.
Satu jam
berkeliling mengecek kesiapan, Hana merasa lelah mulai menyergap tubuhnya. Yeoja
itu berjalan ke taman di depan butiknya untuk sekadar mengistirahatkan tubuh
sambil menghirup udara pagi yang segar.
Tiba di taman,
Hana menghirup udara sebanyak-banyaknya lantas menyesap susu stroberi dari
kotak yang ia bawa.
Susu stroberi?
Terdengar kekanakkankah jika mengingat umurnya sekarang 24 tahun? Entahlah,
Hana sendiri tak tahu sejak kapan minuman itu menjadi favoritnya. Yang ia tahu,
Eunhyuklah yang telah membuat yeoja itu menyukai susu stroberi.
Hana tercenung
lagi begitu tanpa sadar memikirkan Eunhyuk dan kebiasaannya. Yeoja itu
tiba-tiba saja merasakan matanya memanas kembali, tapi tidak ada setetes pun
air mata yang keluar dari matanya karena ia sudah terlalu lelah.
Mungkin dalam
kasus ini Hana juga mengambil peran sebagai orang yang salah, ia telah cemburu
berlebihan pada Eunhyuk. Tapi, bukankah itu wajar? Hana juga yeoja
normal yang pasti akan marah dan cemburu melihat kekasihnya menari skriptis
dengan lima dancer yeoja sekaligus. Bayangkan, lima orang dancer
yeoja sekaligus menyentuh tubuh kekasihnya yang tidak memakai atasan. Tentu
saja Hana marah, dia justru tak normal kalau sampai tak marah. Tapi mungkin
penyampaian marahnya tampak tidak begitu tepat hingga Eunhyuk sampai tega
membentaknya.
Lee Hyukjae.
Nama itu memang selalu berhasil membuat perasaannya tak keruan.
Hana
mengembuskan napas panjang, tak lama yeoja itu menggelengkan kepalanya sendiri.
“Berhenti memikirkan dia, Hana!” rutuknya pada diri sendiri.
“Dia siapa, noona?”
Hana terkesiap
mendengar suara di belakangnya, yeoja itu membalikkan tubuh dan melihat
Kim Hyunsun sedang menatapnya bingung.
“Aniyo,
bukan siapa-siapa.” Jawab Hana cepat, mengabaikan tatapan penasaran Hyunsun.
“Sedang apa kau di sini?” Tanya Hana kemudian sambil menggeser tubuh ke samping
agar Hyunsun bisa duduk.
Hyunsun duduk,
wajahnya berubah muram mendengar pertanyaan Hana. “Aku sedang bertengkar dengan
kekasihku, noona.” Gumam Hyunsun pelan.
Hana menoleh,
diusapnya punggung Hyunsun dengan lembut. “Kenapa kau bertengkar dengan
kekasihmu itu?”
“Dia cemburu
karena aku ditempel yeoja-yeoja genit terus selama di kampus.” Keluh
Hyunsun sambil mengembuskan napas berat, “yeoja itu kenapa sensitif
sekali sih?”
Hana meringis,
entah mengapa kasus Hyunsun tampak tak berbeda jauh dengan kasusnya. “Itu
berarti dia menyayangimu, Hyun-ah.” Sahut Hana yang entah mengapa tampak
membela diri sendiri.
Hyunsun menatap
Hana, “Benarkah? Tapi aku pikir dia terlalu berlebihan. Mengapa dia tidak bisa
percaya bahwa yeoja yang aku cintai itu hanya dia?”
Deg! Hana
kembali meringis. Percaya yah? Apakah selama ini Hana memang meragukan Eunhyuk
sehingga dia tidak bisa mempercayai namja itu?
“Ah, sudahlah.”
Tukas Hyunsun tiba-tiba, “aku nanti bisa menyelesaikannya dengan segera.
Bagaimana dengan noona sendiri? Noona juga bertengkar dengan
Eunhyuk hyung?”
Malu-malu, Hana
menganggukkan kepalanya. “Sepertinya ini salahku, entahlah Hyun-ah. Aku
sendiri bingung..”
Hyunsun menatap
Hana simpati, dia diam sebentar untuk berpikir. Mendadak senyum konyol
menghiasi wajahnya yang tampan. “Noona, jangan bersedih seperti itu.”
Hana mendongak,
menatap Hyunsun dengan alis berkerut. Senyum konyol di bibir Hyunsun semakin
lebar.
“Saranghae
noona.. Jadilah kekasihku dan aku tak akan membuat wajahmu tampak muram
seperti ini..” Hyunsun bepura-pura memasang wajah serius, matanya menatap Hana
dalam sedangkan tangannya menggenggam tangan Hana erat.
Hana tercengang
menatap tingkah Hyunsun, tapi tak lama kemudian yeoja itu malah tertawa
kecil sambil mengangguk-angguk senang. “Ne, ne, arraseo Hyun-ah. Nado
saranghae..”
Keduanya tertawa
kecil tanpa menyadari ada seseorang tak jauh dari taman itu sedang memandangnya
dengan miris. Tangan namja itu terkepal kuat sebelum dia akhirnya
berlalu dengan membanting pintu mobilnya. Mobil namja itu pun berlalu
dengan kecepatan di atas rata-rata.
***
Brak!
Donghae yang
sedang ada di lantai 11 dorm mereka menoleh seketika ke arah suara
bantingan pintu. Keningnya berkerut samar melihat wajah Eunhyuk yang tampak
menahan marah dan tangis secara bersamaan.
Bukan hanya
Donghae saja yang menatap Eunhyuk dengan kening berkerut, semua member
Suju─yang sudah pulang dari aktivitas masing-masing─juga kini tengah menatap
Eunhyuk dengan keheranan sama.
“Eunhyuk-ah,
kau kena─” pertanyaan Leeteuk yang belum selesai dijawab Eunhyuk dengan
membanting pintu kamarnya.
Leeteuk menelan
ludah, lalu menoleh menatap dongsaengnya satu-persatu untuk meminta
penjelasan.
Sungminlah yang
akhirnya menjawab keheranan Leeteuk, “Dia sedang bertengkar dengan Hana hyung,
Hana mungkin tak memaafkannya.”
Semuanya
mengangguk mengerti sementara Donghae langsung berdiri dari duduknya.
“Biar aku yang
menghiburnya.”
Donghae berjalan
ke arah kamar Eunhyuk, dia meraih kenop pintu lantas memutarnya ke bawah.
Donghae langsung mendengus saat merasakan pintu itu sama sekali tak bergerak,
Eunhyuk menguncinya dari dalam. Tak mau menyerah, Donghae akhirnya mengetuk
pintu kamar Eunhyuk dengan irama tak sabar.
“Eunhyuk-ah,
kau punya masalah? Ayo keluar, ceritakan padaku!” teriak Donghae sambil tetap
mengetuk-ngetuk pintu kamar Eunhyuk.
Hening. Tak
terdengar suara apa pun dari dalam, Donghae kembali mendengus.
“Kalau dalam
hitungan ketiga kau tidak juga keluar─atau membiarkanku masuk, aku tidak akan
mau bicara padamu selama setahun! Kau dengar itu?!” ancam Donghae dengan nada
serius yang kentara.
Donghae
mengambil napas sebelum memulai hitungannya.
“Satu...” tetap
hening, sepertinya Eunhyuk cukup keras kepala kali ini, “dua...” Donghae
mengucapkannya dengan lamat-lamat untuk memberi Eunhyuk waktu lebih lama, namja
itu lantas mendesah melihat pintu tak bergerak sedikitpun.
Donghae membuka
mulutnya, bersiap memberikan tenggat hitungan. “Ti─”
Cklek!
Senyum penuh kemenangan tersungging di bibir Donghae begitu melihat Eunhyuk
membuka pintu, senyumnya langsung lenyap melihat Eunhyuk yang tampak kacau
dengan rambutnya yang tampak acak-acakan.
“Hyuk─”
“Jangan ganggu
aku dulu Hae-ya, aku ingin sendirian saat ini. Mianhae..”
Blam!
Eunhyuk kembali mengunci pintu kamarnya membuat Donghae menghela napas panjang.
Dari dulu Eunhyuk memang selalu lebih suka menyimpan masalahnya sendiri, dan
kadang Donghae sebagai sahabat paling dekat dengannya selalu merasa tidak
berguna untuk Eunhyuk.
Donghae
lagi-lagi menghela napas. Dia mencoba meyakinkan hatinya bahwa Eunhyuk memang
perlu sendiri untuk sementara waktu ini.
***
Kim Hana
memandangi layar I-phonenya sambil tercenung. Yeoja yang sedang
menopangkan dagu di meja resepsionis butiknya itu sekarang tengah dirundung
berbagai macam perasaan yang menyiksa batinnya. Dia sedang gelisah dan
merindukan seorang namja yang entah bagaimana kabarnya sekarang.
Namja itu
jelas adalah seorang Lee Hyukjae atau Eunhyuk Super Junior. Sekarang sudah
terhitung tiga hari sejak pertengkaran mereka dan selama tiga hari pula Hana
dan Eunhyuk sama sekali tak berhubungan. Eunhyuk tak pernah lagi
menghubunginya─dan Hana terlalu mementingkan harga dirinya jika harus
menghubungi Eunhyuk duluan─padahal jika mereka bertengkar seperti ini
Eunhyuklah yang pasti akan meminta maaf duluan, entah yang sebenarnya salah
Eunhyuk ataupun Hana sendiri.
Sekian lama tak
menunjukkan tanda-tanda kehidupan, Hana akhirnya bergerak juga. Dia menyimpan I-phone
yang sedari tadi ditatapinya ke dalam tas tangan, lantas matanya mengedar ke
sekeliling melihat karyawan-karyawannya yang semakin sibuk mempersiapkan fashion
show untuk 4 hari mendatang. Sekarang di butiknya banyak sekali berkeliaran
model-model untuk fashion shownya nanti. Hana tersenyum kecil
melihatnya, setidaknya dia yakin fashion shownya akan sukses hingga ia
merasa sedikit bebannya terangkat.
“Hah..” Hana
mengeluarkan napas dari hidungnya dengan berat, “aku merindukanmu oppa..”
Padahal kalau
Eunhyuk langsung mengejarnya dan meminta maaf hari itu juga, Hana yakin dia
sendiri pasti akan memaafkannya walau tak begitu ikhlas. Tapi mengapa Eunhyuk
waktu itu tidak mengejarnya? Apa namja itu sudah tidak peduli lagi
padanya?
Tidak. Tidak.
Hana buru-buru menggelengkan kepalanya, dia tidak boleh berpikiran negatif
seperti itu. Eunhyuk sangat mencintainya, seperti ia yang juga sangat mencintai
namja itu.
“Ugh, apa
sebaiknya aku minta maaf duluan ya?” gumam Hana setengah melamun, Hana langsung
memanyunkan bibirnya beberapa saat kemudian. “Tidak, harga diriku bisa jatuh
kalau begitu! Kita lihat saja sampai kapan namja babo itu bertahan..”
rutuk Hana kemudian, tangannya mengentak-ngentak mengetuk meja dengan wajah
tertekuk.
Hana kembali
termenung dengan segala pemikiran yang berkecamuk.
Lee Hyukjae
kadang-kadang memang bisa sangat menyebalkan!
Beberapa detik
berlalu dan Hana langsung terkesiap pelan mendengar I-phonenya yang
tiba-tiba saja menjerit dari dalam tas, yeoja itu bergegas merogoh
tasnya. Keningnya langsung berkerut samar melihat id callernya yang
bertuliskan “Ryeowook oppa”. Kerutan di kening Hana semakin bertambah
banyak, setahunya Ryewook adalah member Suju yang paling jarang
berhubungan dengannya. Lalu kenapa sekarang namja yang gemar memasak itu
meneleponnya?
Ragu-ragu, Hana
menekan tombol untuk menghubungkan sambungan.
“Yeoboseyo..”
sapa Hana.
“Yeoboseyo
Hana-ya..” Ryeowook di seberang sana balas menyapa, nada suara namja
itu terdengar sangat lega mengetahui Hana mengangkat teleponnya.
“Ada apa oppa?”
tanya Hana kemudian.
“Kau sudah tidak
marah Hana-ya?”
Hana mengerutkan
kening mendengar pertanyaan Ryeowook, “Marah kenapa oppa?”
Ryeowook kembali
mengembuskan napas lega dari mulutnya.
“Aniyo.
Hana-ya, kau bisa ke dorm sekarang?”
Jantung Hana
berdebar keras mendengarnya, “U-untuk apa, oppa?”
“Eunhyuk hyung
sakit Hana-ya, dia tidak mau makan dan minum obat.”
Deg!
Jantung Hana
berpacu lebih cepat mendengar kata-kata yang diucapkan eternal magnae
Super Junior itu.
“Hana-ya,
kau mau ke sini kan? Aku pikir hanya kau yang bisa membujuk hyung. Jebal..”
Hana merasa
tubuhnya seolah dilolosi tulang belulang saat itu juga. Eunhyuk sakit? Kenapa
bisa? Apakah namja itu tidak pernah memperhatikan pola makannya lagi
setelah pertengkaran mereka? Hana menggigit bibir bawahnya dengan perasaan khawatir
dan cemas yang langsung mengisi penuh ruang hatinya.
“Oppa
tidak sedang bercanda, kan?” tanya Hana dengan suara bergetar.
“Ne, mana
mungkin aku bercanda dalam situasi seperti ini Hana-ya?” Ryeowook
memberi jeda di kalimatnya, lalu tiba-tiba saja nada suaranya seperti
tersentak. “Kalian masih belum baikan?”
Hana menggigit
bibirnya mendengar perkataan Ryeowook, “Mm.. Itu, sebenarnya...”
“Omo! Mianhae
Hana-ya, aku tak tahu kalian masih bertengkar. Kalau kau tak mau kami
bisa memakluminya, jangan memaksakan di─”
“Aniyo, aniyo
oppa..” sela Hana cepat. “Aku akan datang setengah jam lagi..”
Terdengar suara
hembusan napas dari ujung sana, sepertinya Ryeowook sedari tadi menahan napas
demi mendengar kelanjutan ucapan Hana. “Arraseo. Kami menunggumu, gomawo..”
Begitu sambungan
terputus, Hana cepat-cepat menyambar kunci mobilnya yang ada di dalam laci, yeoja
itu setengah berlari menuju parkiran. Saat ini yang ada di otaknya hanya
bagaimana caranya untuk sampai secepat mungkin ke dorm Super Junior. Ia
terlalu khawatir dan cemas sampai-sampai tidak mempedulikan laju mobilnya yang
di atas rata-rata.
***
Donghae segera
berlari kecil begitu bel dorm berbunyi. Namja itu segera membuka
pintu dorm dan tersenyum senang melihat Hana berdiri di depannya dengan
wajah cemas.
“Annyeong
Hana-ya..” sapa Donghae sambil mempersilakan Hana masuk ke dalam.
“Annyeong
oppa..” Hana menyempatkan diri untuk tersenyum ramah pada Donghae, “bagaimana
keadaannya sekarang, oppa?” tanya Hana kemudian tanpa susah-susah
menjelaskan arti kata ‘nya’ yang sebenarnya merupakan kalimat ambigu.
“Eunhyuk masih
tertidur, demamnya sudah mulai turun tapi dia tidak mau makan dari kemarin..”
jelas Donghae membuat Hana menahan napas.
Hana berjalan
mengikuti langkah Donghae ke ruang tivi─dimana saat itu semua member
Suju sedang berkumpul. Kedatangan Hana disambut wajah gembira member
Suju yang lainnya, mereka langsung menyuruh Hana masuk ke kamar Eunhyuk dan
membekali yeoja itu makanan yang harus Eunhyuk makan.
Hana memandangi
pintu jati di hadapannya dengan napas tertahan. Yeoja itu termenung
sebentar di depan pintu sebelum tangannya bergerak membuka pintu. Matanya
berpendar ke sekeliling kamar begitu pintu terbuka sempurna, Hana memandangi
setiap sudut kamar namja yang begitu dicintainya. Hana sempat tersenyum
kecil melihat begitu rapinya kamar Eunhyuk, bahkan ini terlalu rapi untuk
ukuran seorang namja. Namun senyumnya langsung memudar begitu matanya
berhenti di satu objek yang tengah membungkus tubuhnya dengan selimut tebal.
Hana merasa dadanya tiba-tiba saja sesak melihat keadaan Eunhyuk.
Hana menutup
pintu kamar Eunhyuk dengan sabelah tangannya yang tidak memegang piring makanan.
Setelah pintu tertutup, yeoja itu bergerak menghampiri ranjang.
Ditariknya sebuah kursi lalu duduk di sebelah ranjang tempat Eunhyuk berbaring.
Hana menyimpan piring makanan di atas nakas lantas yeoja itu terlarut
memandangi wajah Eunhyuk yang begitu pucat.
Kim Hana
menggigit bibir bawahnya dengan perasaan miris, dia merasa sangat bodoh karena
tidak bisa mengurus Eunhyuk dengan baik. Hana mengulurkan tangannya perlahan ke
arah dahi Eunhyuk, disibaknya poni yang menutupi dahi namja itu dengan
lembut. Suhu badan Eunhyuk memang tidak normal, tapi setidaknya tidak sepanas
yang dia bayangkan.
Tangan Hana
bergerak ke bawah wajah Eunhyuk dan mengusap pipi namja itu dengan
sangat hati-hati.
“Dasar bodoh,
apa yang kaulakukan sampai bisa sakit seperti ini?” omel Hana pelan.
“Apa pedulimu?”
suara parau Eunhyuk tiba-tiba saja terdengar, namja itu membuka mata
sayunya dan langsung menatap Hana tajam.
Sementara Hana
sendiri buru-buru menarik tangannya yang tadi mengusap pipi Eunhyuk. “Apa
maksud kata-katamu?” Tanya Hana dengan wajah heran.
Bukannya segera
menjawab, Eunhyuk malah mendengus dan memalingkan wajahnya ke arah lain. “Kau
pasti cukup pintar untuk mengetahui maksudku Kim Hana.” Eunhyuk mengucapkan
nama Hana dengan penekanan.
Eunhyuk marah
padanya? Pikir Hana melihat sikap Eunhyuk barusan, mengapa jadi namja ini
yang marah? Bukankah seharusnya ia yang marah?
“Ada apa denganmu
oppa?” Hana mencoba bicara baik-baik dengan namja ini, “kau tidak
mau aku peduli padamu lagi, begitukah?”
“Memang kau
masih peduli padaku, eh?” Tanya Eunhyuk yang tiba-tiba saja jadi sinis.
Hana menghela
napas panjang melihatnya, kalau saja Eunhyuk sedang tidak sakit, namja
itu pasti sudah ia marahi karena bersikap seperti ini padanya.
“Aku sangat
mengkhawatirkanmu begitu mendengar dari Ryeowook oppa kalau kau sakit.
Tapi kenapa kau malah bersikap seperti ini?”
Eunhyuk
bergeming, “Berhentilah bersikap peduli padaku Hana, urusi saja kekasihmu yang
masih kecil itu!”
Hana yang baru
saja akan menyalak marah langsung terdiam begitu mendengar perkataan Eunhyuk. Yeoja
itu tercenung beberapa lama sambil memasang wajah berpikir. Kekasih, Eunhyuk
bilang? Kekasihnya yang mana? Seingat Hana dia hanya mempunyai satu kekasih,
dan kekasihnya itu adalah namja yang tengah terbaring sakit di
hadapannya kini.
“Yak! Kau
menuduhku selingkuh, huh?” kesal Hana, matanya memicing memandang Eunhyuk
tajam. “Aku hanya punya kekasih, dan orang itu adalah orang bodoh yang sedang
menuduhku selingkuh sekarang!” sambung Hana sekaligus menyindir.
Disindir seperti
itu tentu saja membuat Eunhyuk kesal, dia tak mempedulikan lagi kondisi
tubuhnya yang memang tidak begitu sehat. “Berhenti bersandiwara Kim Hana! Aku
sudah tahu kau punya kekasih lain, dan karena itu juga kau ingin break
denganku kan? Agar kau bisa leluasa pergi bersama kekasihmu yang lain?!” nada
sinis yang menusuk terdengar dari setiap kata yang dilontarkan oleh Eunhyuk.
Hana mencelat
dari duduknya, “Aku semakin tidak mengerti dengan apa yang kau bicarakan oppa..”
“Berhenti
mengelak!” kesal Eunhyuk, “aku melihat dan mendengarnya sendiri kemarin!
Seorang bocah menyatakan cintanya padamu dan kau menerimanya!”
Eunhyuk
mengembuskan napas panjang setelahnya, akhirnya dia dapat mengungkapkan beban
pikirannya selama ini langsung pada orangnya. Kepalanya yang sedari tadi
berdenyut karena stres kini sudah mulai mereda saking leganya.
Lewat ekor
matanya, Eunhyuk melirik Hana sekilas. Sungguh, dia merindukan yeoja itu
lebih dari apapun, bahkan dia sakit seperti ini pun tak sepenuhnya karena
terlalu lelah dengan pekerjaannya. Tentu saja Hana mengambil peranan besar
dalam sakitnya ini. Eunhyuk buru-buru memalingkan wajahnya ke arah lain sebelum
keinginan untuk memeluk Hana semakin kuat.
Sedangkan Hana
sendiri kini malah mengernyit, yeoja itu mencoba memutar memori lamanya
untuk mencari apa yang baru saja Eunhyuk katakan. Tak berapa lama, mata Hana
melebar tak percaya begitu suatu ingatan berlarian di otaknya. Jangan-jangan…
“Kapan?”
Eunhyuk menjawab
malas, “Apakah itu penting?”
“Jawab saja,
kapan kau melihatnya?” balas Hana sengit, matanya berputar tak sabar.
Kecurigaan Hana semakin besar melihat gelagat Eunhyuk.
“Tiga hari yang
lalu di taman depan butikmu saat aku ingin meminta maaf..”
Tawa Hana
meledak seketika, yeoja itu sukses membuat Eunhyuk menatapnya kesal.
Hana sendiri berusaha mengendalikan diri untuk berhenti tertawa walau perutnya
selalu tergelitik tiap mengingat kesalahpahaman Eunhyuk ini.
“Apa kau
mendengarkan percakapan kami dari awal?”
Eunhyuk dengan
wajah bingung menggeleng.
“Apa kau hanya
mendengar bagian dimana namja itu mengatakan ‘saranghae’ dan aku
menjawab ‘nado saranghae’ sambil tertawa saja?”
Kali ini, masih
dengan raut bingung Eunhyuk mengangguk.
“Apa kau
langsung pergi setelah itu tanpa mendengar percakapan kami selanjutnya?”
Eunhyuk kembali
mengangguk, tapi wajahnya langsung berubah masam melihat Hana kembali
tertawa-tawa dengan wajah bahagia.
“Kau bodoh
sekali oppa..” olok Hana dengan sisa-sisa tawanya. Wajah Eunhyuk yang
pucat langsung memerah kesal.
“Yak! Kau ini─”
“Hei, makanya
kalau kau ingin menguping dengarkanlah pembicaraan itu dari awal sampai akhir.”
sela Hana cepat begitu melihat reaksi Eunhyuk, mendengar itu kekesalan Eunhyuk
sedikit mereda, sekarang keningnya berkerut samar tanda ia tak paham.
“Apa maksudmu?”
“Kau..” Hana
diam sebentar, dia terlihat sangat geli untuk kembali berkata-kata, “salah
paham. Mana mungkin aku pacaran dengan adik sepupuku, oppa. Dia Hyunsun,
adik sepupu sekaligus model fashion showku. Masa kau tidak ingat padanya
oppa?”
Mata Eunhyuk
membelalak tak percaya, “Jadi maksudmu aku..” Eunhyuk langsung menyesali
ingatannya yang begitu lemah. Pantas saja ia merasa tak asing dengan wajah namja
itu, ternyata dia memang pernah bertemu dengannya di salah satu acara keluarga
Hana.
“Ne,
waktu itu dia hanya menghiburku. Candaannya memang bisa disalahartikan jika
tidak didengar sampai akhir.” jelas Hana, seulas senyum terpasang di wajah
manisnya.
“Aigo..”
keluh Eunhyuk dengan wajah kembali memerah─kali ini malu, namja itu
menutupi wajahnya dengan kedua tangan seperti kebiasaannya kalau sedang malu.
Hana terkekeh
kembali melihat kelakuan namjachingunya itu yang tampak sangat
menggemaskan. Tiba-tiba saja pikiran jail melintas di benak Hana, yeoja
itu menyeringai kecil lantas berdiri di depan ranjang Eunhyuk sambil berkacak
pinggang.
“Cemburu buta, eoh?”
godanya yang sontak membuat Eunhyuk mendelik dari balik tangannya.
“Yak! Kim Hana,
jangan menggodaku!” seru Eunhyuk tak terima.
“Arraseo,
arraseo..” kata Hana mengalah, yeoja itu lalu duduk di tempatnya
semula. “Sekarang cepat makan dan minum obat oppa. Kau ini
benar-benar... bagaimana bisa sampai jatuh sakit? Bodoh..”
Sebelum Hana
meraih piring makanan yang ada di atas nakas, Eunhyuk terlebih dahulu menarik
tubuh Hana ke dalam pelukannya dan sukses membuat Hana tersentak, darahnya
langsung berdesir seketika.
Sejak kapan
dia duduk? Batin Hana heran.
“Sebenarnya
siapa yang bodoh di sini? Aku sakit begini juga karenamu..”
“Terserah oppa
sajalah. Sekarang lepaskan aku, kau harus makan lalu minum obat..” balas Hana
sambil mencoba melepaskan pelukan Eunhyuk. Tapi Eunhyuk bukannya melepaskan
malah semakin mengeratkan pelukannya, namja itu membenamkan kepalanya di
rambut Hana, dihirupnya aroma stroberi yang menguar dari rambut Hana itu.
“Aish, kau
ini..” kata Hana pasrah
“Hana-ya,
kau sudah memaafkanku, kan? Aku benar-benar minta maaf soal penampilan soloku
itu. Jeongmal mianhae..” kata Eunhyuk sungguh-sungguh.
Hana menghela
napas lamat-lamat, tangannya bergerak melingkari punggung Eunhyuk untuk
membalas pelukan namja yang sangat dikasihinya itu.
“Arraseo oppa.
Sebenarnya aku masih sedikit kesal karena kau sama sekali tak mengatakan
apa-apa padaku, tapi sudahlah, lagipula kau juga sudah merasakan yang namanya
cemburu buta kan?” Hana terkekeh di ujung kalimatnya, tapi Eunhyuk sama sekali
tak begitu peduli dengan ujung kalimat Hana yang sebenarnya menyindir.
“Gomawo,
aku janji tidak akan mengulanginya lagi, tapi kau juga harus berjanji satu hal
padaku.”
Alis Hana
terangkat bingung, “Berjanji apa?”
“Jangan
mengucapkan ‘saranghae’ pada namja lain sekalipun itu bercanda, ne?”
Mata Hana
membulat tak percaya, “Mwo?! Oppa, kau masih mempermasalahkan hal itu?”
Eunhyuk tak
menjawab, tapi pelukannya yang semakin mengerat seolah menjadi jawaban ‘iya’.
“Kau milikku,
hanya milikku.” gumam Eunhyuk kemudian.
“Arraseo,
aku tidak akan mengulanginya.” jawab Hana pasrah, “nah sekarang ayo makan lalu
minum obat, kau ingin cepat sembuh kan?”
Hana lagi-lagi
berusaha melepaskan pelukan Eunhyuk yang begitu erat, tapi namja
tersebut lagi-lagi bergeming. Tampak cukup nyaman dengan posisinya saat itu.
Hana menggerutu dalam hati, namja ini lagi-lagi bersikap begini. Tak
tahukah dia bahwa Hana bisa saja mati karena serangan jantung jika lama-lama
berada dalam dekapannya?
“Chagi,
bogoshippo..” bisik Eunhyuk lirih.
“Nado
bogoshippo oppa.”
***
“Kau lapar atau
memang rakus, Eunhyuk-ah?” tanya Leeteuk heran melihat 3 piring nasi di
depan Eunhyuk yang sudah kosong, sedangkan sekarang Eunhyuk tengah menekuni
piring keempatnya.
Eunhyuk hanya
melirik Leeteuk sekilas sebelum kembali hanyut dalam acara makannya.
“Tsk!” Donghae
mendecakkan lidahnya tak percaya melihat selera makan Eunhyuk, member
yang lain juga ikut menggeleng-geleng.
Selama tiga hari
Eunhyuk tak pernah makan apapun dan hanya tahu bekerja saja, tapi sekalinya
makan? Astaga.. 10 piring pun sepertinya akan habis. Benar-benar menakjubkan.
“Kau ingin
menghabiskan persediaan makanan di dorm untuk sebulan, hyung?”
tanya Kyuhyun tak percaya.
Eunhyuk
menyimpan sumpitnya di sebelah piring, lalu menatap hyung dan dongsaengnya
dengan sebal.
“Chagi-ya,
mereka melarangku makan.” teriak Eunhyuk keras-keras yang langsung membuat
wajah namja-namja di depannya pucat.
Eunhyuk
menyeringai puas lalu kembali melanjutkan acara makannya.
“Yak! Oppadeul,
jangan melarang Eunhyuk oppa makan, dia perlu banyak energi.” Hana yang
baru saja kembali dari dapur langsung melayangkan tatapan membunuh pada member
Suju lainnya, membuat mereka semua menelan ludah bersamaan.
“An-aniyo
Hana-ya, kami tidak melarang Eunhyuk makan. Itu hanya akal-akalan dia
saja.” bela Siwon yang diamini anggukan member yang lain.
Tatapan Hana
langsung beralih pada Eunhyuk.
“Mereka
mengganggu acara makanku dengan menanyakan ini-itu, jadi kusimpulkan mereka
melarangku makan, chagi.” adu Eunhyuk sambil memasang wajah paling polos
yang ia punya, member Suju langsung memberikan deathglare pada
Eunhyuk.
Fitnah macam apa
itu?
Hana kembali
mengalihkan tatapannya pada member Suju yang lain, lalu yeoja itu
menghela napas panjang.
“Jangan
mengganggu Eunhyuk oppa.” katanya dengan penekanan di setiap kata.
“Ne.”
jawab member Suju kompak, membuat Hana tersenyum puas dan Eunhyuk
tersenyum penuh kemenangan.
Hana lalu duduk
di sebelah Eunhyuk, “Oppa, kau mau hadir di fashion showku Senin
malam nanti?” tanyanya penuh harap.
Eunhyuk
menghentikan acara makannya, tangan namja itu bergerak mengelus rambut
panjang Hana sambil menampilkan senyum gusi lebar andalannya. “Ne, mana
mungkin aku tidak datang chagi? Aku akan mengosongkan jadwalku nanti.”
Perkataan
Eunhyuk membuat member Suju merasa ingin muntah saat itu juga. Sedangkan
Hana yang polos malah menyunggingkan senyum bahagianya.
“Gomawo oppa,”
Hana lalu kembali mengalihkan pandangannya ke arah member Suju yang
lain, “oppadeul juga akan hadir, kan? Jebal, aku sangat
mengharapkan kehadiran kalian.”
“Ne, kami
akan mengusahakannya Hana-ya.” kata Leeteuk mewakili semua member.
“Gomawo..”
balas Hana tulus sambil memasang senyum paling manis yang ia punya.
“Kau ingin
tambah lagi, oppa?” tanya Hana melihat piring keempat Eunhyuk telah
tandas tak bersisa.
Mata member
Suju langsung memandang Eunhyuk waspada dan mereka sontak mendesah lega begitu
Eunhyuk menggelengkan kepalanya.
Hana tersenyum lembut,
“Makan obat lalu istirahat, ne?”
Eunhyuk menjawab
dengan anggukan, senyum kecil terkembang di bibirnya. “Kau mau menemaniku
istirahatkan chagi?”
“Yak! Aku tidak
mengizinkan kalian berduaan di dalam kamar.” seru Leeteuk tiba-tiba sambil
memasang tatapan tajam.
“Kau curiga
padaku, hyung?” balas Eunhyuk tak terima.
“Mana mungkin
aku tidak curiga pada namja yang gemar menonton vidio yadong
Eunhyuk-ah,” Leeteuk menyahut ucapan Eunhyuk dengan santai, dan
ucapannya sontak disambut tawa member Suju lainnya.
“Aish, hyung
kau ini!”
“Sudahlah oppa,”
lerai Hana melihat tatapan perang Eunhyuk, “lagipula aku pikir Leeteuk oppa
ada benarnya..” sambung Hana dengan nada polos.
Tawa member
Suju semakin menjadi, sementara Eunhyuk memanyunkan bibirnya dengan tampang kesal.
“Kajja,
aku akan menemanimu istirahat di ruang tivi.” ajak Hana sambil tersenyum manis
begitu Eunhyuk selesai meminum obatnya.
Dengan patuh
Eunhyuk mengangguk, digenggamnya tangan Hana lantas berlalu ke ruang tivi tanpa
mengindahkan tatapan kesal yang dilayangkan para member Suju kepadanya.
“Monyet itu,
masalahnya dan Hana selesai langsung bertingkah.” gerutu Shindong, matanya
memandang miris 4 piring makan yang telah kosong tak bersisa.
“Tapi setidaknya
dia sudah sembuh hyung, kita tidak perlu repot-repot mengkhawatirkannya
lagi.”
“Ne,
kurasa kau benar Sungmin-ah.”
***
“Oppa mianhae..”
gumam Hana sambil mengusap rambut Eunhyuk dengan lembut.
Saat ini keduanya
sudah berada di ruang tivi dengan Eunhyuk yang berbaring di paha Hana.
Eunhyuk yang
sedang memejamkan mata sontak membuka mata dan memandang Hana heran. “Kenapa
minta maaf chagi?”
Hana menundukkan
wajahnya untuk menatap Eunhyuk, “Aku minta maaf karena sudah marah-marah padamu
soal penampilan solomu itu. Kau tahu, aku hanya kesal dan cemburu saat itu. Aku
juga jadi berpikir yang tidak-tidak padamu, mianhae aku tidak
mempercayaimu oppa..”
Eunhyuk
tersenyum kecil, dia mengangkat tangan kanannya untuk membelai pipi Hana.
“Gwaenchana
chagi. Mm, aku sebenarnya tidak memberitahumu karena perintah manajer hyung,
dia curiga kau akan melarangku.” Eunhyuk setengah berbisik di akhir kalimatnya,
membuat Hana tertawa kecil. “Dan soal aku tidak menghubungimu 3 hari terakhir
itu karena ponselku rusak, Coco tak sengaja mengencinginya.”
Hana lagi-lagi
tertawa mendengar nada suara Eunhyuk yang lucu. Eunhyuk diam-diam tersenyum
melihat tawa Hana. Ah, dia benar-benar merindukan yeoja ini. Senyum,
tawa, aroma, dan tingkah Hana.
“Kalau begitu
aku juga harus minta maaf padamu karena tidak mempercayaimu dan menuduhmu
selingkuh Hana-ya.” kata Eunhyuk kemudian sungguh-sungguh.
Hana
menghentikan tawanya dan mengangguk. “Ne, berarti kita impas ya oppa.”
Hening sejenak.
Baik Hana maupun Eunhyuk sama-sama menikmati keheningan yang kini tercipta di
antara mereka. Hening ini terasa damai, seperti biasanya saat mereka saling
memandang tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
“Chagi,
aku baru sadar kalau kepercayaan itu sangat penting untuk hubungan kita. Karena
itu, ayo kita saling percaya mulai sekarang.” kata-kata Eunhyuk memecah
keheningan mereka.
Eunhyuk menatap
bola mata Hana dengan lembut, seulas senyum manis tersungging di bibirnya
membuat Hana ikut tersenyum.
“Ne oppa.
Aku akan percaya padamu mulai sekarang─sekalipun kau menari skriptis dengan 10 yeoja
sekaligus─dan kau juga harus percaya kalau aku hanya mencintaimu, arraseo?”
“Arraseo..”
janji Eunhyuk walaupun dia sedikit jengkel karena Hana mengungkit-ungkit
tentang dance skriptisnya lagi. “Dan Lee Hana, berhentilah
mengungkit-ungkit tentang dance skriptisku lagi.”
Hana mengernyit,
“Kau mengubah margaku seenaknya lagi oppa,”
“Aish, kau akan
jadi istriku sebentar lagi.” seru Eunhyuk, namja itu langsung memasang
wajah merengut.
Hana terkekeh
melihat wajah merengut Eunhyuk. Kembali, diusapnya rambut Eunhyuk dengan lembut.
“Aku paham, saranghae oppa.”
Wajah merengut
Eunhyuk langsung tergantikan wajah senang mendengar ujung kalimat Hana, “Nado
saranghae chagi.” balas Eunhyuk mesra.
Tangan Eunhyuk
bergerak meraih tengkuk Hana, dan dalam sekejap bibirnya telah mencium bibir
Hana dengan lembut.
END

Tidak ada komentar:
Posting Komentar