Entri yang Diunggulkan

Series Recommendations! đŸŽ„

Hi, happy Wednesday all! So decided to post my own personal series. I usually dont like watching movie, so because i watched those series ...

Rabu, 20 Juni 2012

That's All About Us (series two: Lee Donghae)

That's All About Us (series two: Lee Donghae)



Is Not Too Late

Lee Donghae memandangi setiap sudut tempat berlangsungnya fashion show Hana─kekasih Eunhyuk─yang sudah kosong dengan wajah bosan. Namja pemilik nick name Fishy itu lantas mengembuskan napas secara perlahan sebelum melangkah ke arah teman-temannya yang kini tengah tertawa-tawa di salah satu sudut gedung tempat dilangsungkannya acara. Donghae mendudukkan dirinya di sebelah Siwon, tangannya bergerak meraih segelas jus yang tersedia di atas meja, dia menyesap sedikit dari isi jus di dalam gelas itu sambil menatapi teman-temannya yang sedang heboh bercanda.
“Mari bersulang untuk kesuksesan uri Hana!” kata Leeteuk tiba-tiba sambil mengangkat gelasnya tinggi.
Semua member Suju bersorak, mereka mengangkat gelas tinggi-tinggi. Donghae ikut bersorak sambil tertawa kecil, larut dalam kebahagiaan malam itu. Gelas mereka baru saja akan saling beradu saat ucapan Eunhyuk yang sarat kekesalan terdengar.
“Yak! Dia Hanaku hyung, bukan Hana kalian!”
Semua orang sontak menolehkan kepala pada Eunhyuk yang sekarang merangkul pundak Hana dengan posesif, tawa mereka meledak kembali melihat sikap Eunhyuk.
Aigo, aigo. Lihat betapa posesifnya monkey ini kepada Hana, hyung!” seru Donghae tiba-tiba, namja itu mengerling jail menatap sahabatnya yang sedang melayangkan tatapan tajam. Donghae tertawa-tawa sebelum sebuah seringaian menghiasi wajah tampannya. Sebuah ide jail untuk mengerjai Eunhyuk melayang-layang di otak Donghae, membuat seringaian Donghae bertambah lebar.
Dengan seringaian yang masih terpampang jelas, Donghae berjalan mendekati Hana, namja itu kini tengah menampilkan ekspresi menggoda terbaik yang ia punya. Sedangkan Eunhyuk yang melihat ekspresi Donghae malah semakin mengeratkan rangkulannya di pundak Hana lalu memandang waspada pada Donghae.
“Hana-ya, kau nyaman dengan sikap posesif Eunhyuk? Jadi kekasihku saja yuk, aku tidak akan seposesif Eunhyuk kalau kau mau.”
Tawa kembali meledak mendengar ucapan Donghae, Kyuhyun bahkan sampai terpingkal-pingkal karena tak percaya Donghae dapat berbuat jail seperti itu. Hana juga ikut tertawa, yeoja itu melirik wajah Eunhyuk yang langsung kesal.
“Mati kau! Lee Donghae!”
Donghae segera berlari menghindari amukan Eunhyuk. Jadilah kedua namja itu sekarang berlarian ke setiap sudut ruangan. Eunhyuk yang mencoba menangkap Donghae dengan wajah kesal, dan Donghae yang mencoba menghindari Eunhyuk dengan tawa yang mengalun merdu.
“Kalau aku berhasil menangkapmu, kau tidak akan bisa lolos, Lee Donghae!”
Mianhae aku terlambat Hana-ya..” suara seorang yeoja menginterupsi perkelahian kecil yang terjadi di antara Donghae dan Eunhyuk.
Tawa semua orang di ruangan itu sontak terhenti, mereka semua menolehkan kepala ke arah pintu masuk dimana suara tadi terdengar. Di sana, berdiri seorang yeoja dengan dress gadingnya yang membuat yeoja berwajah manis itu tampak semakin manis. Senyum Hana terkembang lebar melihat kedatangan orang yang sangat ditunggu-tunggunya.
Gwaenchana, Hye─”
“Han Hyerin.” Donghae menyebutkan nama itu dengan nada tak percaya, matanya memandang Hyerin dengan sorot yang tak bisa diartikan.
Yeoja yang barusan dipanggil Hyerin itu menolehkan kepalanya pada Donghae, matanya melebar seketika begitu melihat namja yang memanggil itu. “Donghae oppa..” balasnya lirih.
Donghae dan Hyerin saling melemparkan tatapan penuh arti tanpa mengindahkan wajah heran yang lainnya. Keduanya seakan tersedot ke dalam dunia yang hanya ada mereka di dalamnya, terlarut dalam euforia masa lalu.
Han Hyerin.
Donghae jelas sangat mengenal yeoja yang bermarga Han tersebut. Dulu, sebelum debut hari-harinya selalu terisi dengan senyum dan tawa Hyerin. Han Hyerin adalah tetangganya dulu, yeoja kecil yang selalu ia ajak bermain setiap sorenya, yeoja kecil yang selalu dia ajarkan pelajaran sekolah yang tak dimengerti, dan yeoja kecil yang selalu membawakan dia makanan tiap mereka bertemu.
Mereka berdua sangat dekat, pulang dan pergi sekolah selalu bersama, jalan-jalan tiap minggu bersama, keduanya selalu melakukan kegiatan bersama. Han Hyerin telah dianggap anak oleh keluarga Donghae saking dekatnya mereka, begitupun Donghae yang telah dianggap anak oleh keluarga Hyerin. Kebersamaan mereka selalu penuh tawa dan kebahagiaan.
Tapi itu dulu.
Semenjak Donghae debut menjadi artis, intensitas kebersamaan mereka tiap hari semakin berkurang hingga tiba-tiba saja Hyerin dan keluarganya menghilang. Banyak orang yang mengatakan Hyerin sekeluarga pindah ke Perancis untuk urusan bisnis. Donghae sempat terpuruk karena kenyataan tersebut, satu-satunya yeoja yang selama ini selalu menjadi penyemangatnya menghilang tanpa pamit. Namja itu juga sangat menyesal karena dia belum sempat menyatakan perasaan pada Hyerin.
Ya, Lee Donghae mencintai Han Hyerin. Rasa itu muncul begitu saja seiring kebersamaan mereka yang tampak tak terpisahkan.
6 tahun kini telah berlalu, dan Hyerin muncul kembali di hadapan Donghae. Membuat perasaan yang telah terkubur lama itu kembali menguap ke permukaan. Dan Lee Donghae telah berjanji kepada dirinya sendiri bahwa dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini lagi.
“Hyerin, kau mengenal Donghae oppa?”
Euforia masa lalu itu lebur seketika begitu Hana bersuara. Donghae dan Hyerin mengerjapkan mata mereka beberapa kali sebelum akhirnya mengalihkan pandangan pada Hana.
Seulas senyum kecil menghiasi bibir Hyerin sebelum yeoja itu mengangguk pada Hana, “Ne, kami bertetangga dulu.”
Appo!” Donghae menjerit kecil saat tiba-tiba saja Eunhyuk memukul lengannya dengan sadis, namja itu mendelik pada Eunhyuk yang sekarang sedang tersenyum penuh kemenangan.
“Balasan untukmu karena menggoda Hanaku!” seru Eunhyuk lalu menjulurkan lidahnya pada Donghae dengan tampang meledek.
Tawa kembali meledak melihat kejadian itu.
“Hyerin-ah, ayo masuk. Jangan pedulikan Eunhyuk oppa dan Donghae oppa. Mereka memang seperti itu.” Ajak Hana sambil menggamit tangan Hyerin mengajak yeoja itu masuk ke dalam.
Hyerin terkekeh kecil, dia mengikuti langkah Hana menuju member Suju yang masih setengah terpana memandangnya.
Oppadeul, ini Hyerin. Sahabat baikku waktu di Perancis..” jelas Hana.
Annyeong haseyo oppadeul,” sapa Hyerin, kedua sudut bibir yeoja itu melengkung membentuk senyum ramah. “Naega Han Hyerin imnida, bangapseumnida.”
Annyeong Hyerin, urineun Super Junior imnida.” balas Leeteuk mewakili member lainnya.
Hyerin mengangguk kecil, senyum tak pernah lepas dari wajah manisnya. Yeoja itu lantas kembali memaku pandangannya pada wajah Donghae─yang juga tengah menatapnya tanpa kedip.
Annyeong Donghae oppa, lama tak bertemu.”
Mendengar sapaan itu Donghae mengangguk kecil sebelum dengan gerakan tiba-tiba Donghae memeluk Hyerin erat.
Ne, bogoshippo Hyerin-ah..”
Hyerin mengerjapkan matanya tak percaya dengan gerakan tiba-tiba Donghae, tapi tak urung yeoja itu juga balas memeluk Donghae dengan erat. Jujur saja, 6 tahun tak bertemu membuat Hyerin sangat merindukan sosok Donghae. Hyerin tersenyum kecil begitu tahu aroma tubuh Donghae sama sekali tak berubah, ada perasaan bahagia yang menyusup masuk ke dalam hatinya begitu sadar Donghae tetap memakai parfum yang dipilihkannya dulu.
“Donghae-ya, sampai kapan kau akan terus memeluk Hyerin, huh? Kami juga ingin berkenalan dengannya.”
Donghae dan Hyerin sama-sama salah tingkah mendengar teguran dari Sungmin, keduanya melempar senyum kaku pada orang-orang di hadapan mereka.
***
Mian waktu itu aku langsung pergi tanpa pamit oppa,” Hyerin memecahkan keheningan yang terjadi di antara keduanya.
Setelah mengucapkan kalimat itu, Hyerin tak lantas memandang Donghae. Yeoja itu malah mengalihkan pandangannya pada jalanan Seoul dari balik jendela mobil. Dia diam-diam merasakan dadanya sesak mengingat perpisahan mereka 6 tahun lalu yang dilakukan tanpa sepatah katapun. Hyerin sebenarnya sama sekali tak ingin pergi waktu itu, akan tetapi dia benar-benar tak bisa menolak wajah memohon kedua orangtuanya. Sebelum pergi, Hyerin sempat ingin pamit pada Donghae, tapi begitu ingat bahwa Donghae sedang berada di luar Negeri untuk melakukan shownya bersama member Suju lain, Hyerin terpaksa mengundurkan niatnya itu dan pergi tanpa pamit.
“Kenapa kau tidak menghubungiku lewat sms atau telepon, Hyerin-ah?” tanya Donghae penasaran. Ekor mata Donghae sesekali melirik ke arah Eunhyuk dan Hana di kursi depan─Donghae dan Hyerin masih ingin hidup, maka mereka memutuskan untuk menumpang di mobil Eunhyuk─dan namja itu menghela napas lega saat melihat Hana dan Eunhyuk sibuk dalam dunia mereka sendiri.
“Aku kehilangan ponselku di bandara oppa, dan nomor teleponmu yang kuhapal adalah nomor lamamu. Aku tak hapal nomor barumu..”
Hari itu, sepertinya memang hari sial bagi Hyerin─setelah tidak bisa pamit secara langsung pada Donghae─begitu tiba di Perancis Hyerin langsung kehilangan ponselnya, padahal dia sama sekali tak hapal nomor baru Donghae. Dan karena hal tersebutlah Hyerin kehilangan kontak dengan Donghae.
Gwaenchana, yang penting sekarang kau sudah kembali kan?” Donghae menatap Hyerin sambil tersenyum manis, namja itu menggerakkan tangan kanannya lantas menggenggam tangan kanan Hyerin dengan lembut.
Hyerin tersentak kaget, dia memutar kepalanya agar menoleh ke arah Donghae dan lututnya langsung terasa lemas melihat senyum dan tatapan Donghae yang begitu hangat. Hyerin memaksakan bibirnya untuk menciptakan seulas senyuman walaupun rasanya sangat susah sebab jantungnya berdetak abnormal.
Ne.” balas Hyerin.
Detik-detik berikutnya berlalu dengan hening, baik Donghae maupun Hyerin sama-sama diam. Bukan tidak ada topik yang harus dibicarakan, akan tetapi mereka berdua menikmati keheningan itu karena keheningan kala itu terasa damai, ada kehangatan yang menyusup secara perlahan lewat tautan jemari mereka.
***
“Hae-ya, berhentilah tersenyum menjijikkan seperti itu.” desis Leeteuk saat mereka berada di ruang latihan.
Donghae─yang masih setia dengan senyum gilanya─menoleh ke arah Leeteuk, bibirnya mengerucut seketika mendengar perkataan Leeteuk.
“Yak! Hyung, senyumku manis, bukan menjijikkan.” sergah Donghae tak terima.
Leeteuk memutar bola matanya kesal, leader Super Junior yang dijuluki Angel without wings itu mencibir pada Donghae.
“Cepat nyatakan perasaanmu sebelum kau gila Hae-ya..” saran Leeteuk sambil berlalu ke arah member Suju lainnya yang tengah beristirahat sambil mendiskusikan berbagai macam hal untuk perform mereka nanti.
Donghae hanya memandang punggung Leeteuk dengan pandangan menerawang. Senyum kecil terkembang di bibirnya saat tiba-tiba bayangan Hyerin menari-nari di kepalanya. Mata Donghae berbinar bahagia mengingat yeoja yang sangat dikasihinya itu telah kembali.
Bersama dengan Hyerin, Donghae merasa separuh kebahagiaannya yang dulu sempat menghilang kini kembali memenuhi relung hatinya. Melewati hari demi hari bersama Han Hyerin membuat Donghae merasa hidupnya semakin penuh warna.
Donghae sangat menyukai tujuh hari yang telah dilaluinya bersama Han Hyerin. Dia menyukai senyum Hyerin setiap mereka bertemu, dia menyukai tawa yang mengalun merdu dari bibir Hyerin saat dia membuat lelucon, dia menyukai rajukan Hyerin saat Donghae bersikap menyebalkan, dia menyukai wajah tersipu Hyerin saat Donghae melemparkan sebuah rayuan, dia menyukai wajah Hyerin yang berbinar bahagia saat bersamanya, dia menyukai tatapan lembut yang selalu diberikan Hyerin saat menatapnya, dan yang paling Lee Donghae sukai adalah saat ada kehangatan yang menyusup lewat tautan jemari mereka setiap berjalan bersama.
Tanpa sadar, Donghae kembali menyunggingkan sebuah senyuman di wajah tampannya. Namja itu pasti akan terus melamun memikirkan Hyerin jika saja Kyuhyun tak menepuk pundaknya dengan keras.
“Yak! Hyung! Kau tidak mendengar Eunhyuk sudah bernyanyi dari tadi menanyakan pendapatmu?” seru Kyuhyun kesal.
Donghae meringis, tangan Donghae mengusap pundaknya yang terasa kebas saking kerasnya tepukan Kyuhyun. Namja itu mendelik ke arah Kyuhyun dengan batin yang terus menggerutu karena ketidaksopanan dongsaengnya itu.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Donghae berdiri dan mengikuti langkah Kyuhyun ke arah teman-temannya. Dalam hati Donghae berjanji akan segera mengungkapkan perasaannya malam ini juga, dia tidak ingin benar-benar jadi gila sebab perasaannya yang tak tersampaikan.
***
Eonni rapi sekali, mau kemana?” Han Saera mengamati detail penampilan kakaknya itu dengan saksama. Manik kecoklatan miliknya  berpendar dari ujung kepala Hyerin sampai ujung kakinya.
Dalam kamus Hyerin, berpenampilan rapi itu merupakan hal yang sangat jarang─kecuali jika menghadiri acara-acara formal atau semi formal. Dan sekarang, Saera melihat dengan mata kepalanya sendiri kalau sang kakak berpenampilan sangat rapi tanpa alasan jelas─maksudnya tidak ada acara formal atau pun semi formal yang akan dihadirinya.
Tak lama, begitu melihat semburat merah tipis yang menghiasi pipi Hyerin, Saera menahan diri untuk tidak tertawa.
“Bertemu Donghae oppa, eh?” goda Saera.
Semburat merah yang menghiasi pipi Hyerin semakin terlihat jelas. Salah tingkah, Hyerin melempar bantal sofa di dekat tubuhnya ke arah Saera.
“Yak! Jangan menggodaku!”"
Saera melepaskan tawanya, “Eonni, pipimu..” seru Saera heboh, yeoja itu membekap mulutnya dengan tangan agar tawanya tak semakin keras.
Hyerin mengerucutkan bibirnya kesal, dia merapikan dress yang dikenakannya sebelum duduk di sofa.
“Berhenti tertawa sebelum aku membuang PSPmu, Han Saera.” nada suara Hyerin yang rendah tapi penuh ancaman berhasil membuat Saera terdiam.
Saera buru-buru mendekap erat PSP yang sedari tadi ia mainkan di dadanya, dilemparkannya tatapan tajam pada Hyerin. “Yak! Eonni, jangan macam-macam dengan PSPku!”
Hyerin langsung tertawa melihat sikap protektif Saera pada benda persegi berwarna hitam itu, sedangkan Saera sekarang malah mendengus kesal. Saera akhirnya memutuskan untuk main game lagi daripada berurusan dengan Hyerin.
Jarum jam yang berdetak teratur dan suara televisi yang menyala menjadi satu-satunya backsound di ruang keluarga Han.
“Saera-ya, menurutmu Donghae oppa itu orang seperti apa?” tanya Hyerin tiba-tiba.
Saera yang sedang asyik dengan PSPnya melirik Hyerin sekilas, “Donghae oppa baik.” jawabnya pelan, Saera lalu mempause gamenya secara tiba-tiba dan memandang Hyerin serius. “Tapi seberapa baiknya pun Donghae oppa, aku berharap eonni tetap di jalan yang sekarang dan tidak mengecewakan appa.”
Hyerin langsung termangu mendengar kata-kata Saera yang begitu serius. Yeoja itu terlarut dalam perang batin yang sedang berkecamuk di kepalanya sebelum tiba-tiba saja bel rumah berbunyi. Hyerin terkesiap pelan lalu buru-buru berdiri untuk menyambut tamu itu─dia yakin Donghae. Senyum Hyerin terkembang secara perlahan.
Eonni, ingat kata-kataku tadi..” teriak Saera melihat Hyerin beranjak ke luar.
Hyerin menghela napas lamat-lamat mendengar teriakan Saera, dia memandangi pintu utama di hadapannya sebentar sebelum sebuah senyuman kembali menghiasi bibirnya.
Annyeong oppa...” sapa Hyerin begitu pintu yang dibukanya menampilkan wajah Donghae yang penuh senyuman.
Annyeong Hyerin, siap?” tanya Donghae, matanya mengamati penampilan Hyerin dan senyum di bibirnya terkembang makin lebar. Hyerin memang selalu cantik mengenakan apapun.
Ne.” jawab Hyerin bersemangat, dia menyambut uluran tangan Donghae yang selalu menawarkan kehangatan.
Mereka berdua berjalan beriringan menuju pasar malam yang tak jauh dari rumah Hyerin. Tawa dan canda selalu menemani perjalanan keduanya. Mereka mengunjungi berbagai stand permainan, mencoba berbagai barang atau baju, dan mencicipi berbagai makanan yang dijual di sana.
Malam itu berlalu dengan menyenangkan walaupun Donghae harus memakai kacamata dan masker untuk menyamarkan penampilannya. Hyerin merasa sangat bahagia meskipun kata-kata Saera selalu menampar pikirannya berulang-ulang.
Saat ini, Hyerin dan Donghae telah berada di kedai ramyun, keduanya duduk di meja paling pojok agar tidak terlihat mencolok.
Mashita! Ini ramyun terenyak yang pernah aku makan.” puji Hyerin senang. Dia memakan ramyunnya dengan lahap.
Donghae hanya terkekeh pelan melihat kelakuan Hyerin yang kekanakkan.
Oppa, kenapa kau terus menatapiku? Apa ada yang aneh di wajahku?” tanya Hyerin heran melihat Donghae sama sekali tidak menyentuh makanannya dan malah sibuk menatapi Hyerin.
Donghae kembali terkekeh mendengar pertanyaan Hyerin, “Ne, memang ada yang aneh dengan wajahmu Hyerin-ah.”
Mata Hyerin membulat panik, dia meraba-raba pipinya, “Mwo? Aneh apa oppa?”
Donghae berdiri, dia mencondongkan tubuhnya ke arah Hyerin hingga wajah mereka hanya berjarak 10 senti. Mata mereka bertemu, baik Donghae maupun Hyerin terpaku beberapa saat. Mereka dapat merasakan desiran aneh di dalam diri mereka saat embusan napas keduanya beradu.
Donghae adalah orang yang pertama kali sadar dari keterpakuannya, namja itu mengerjapkan mata dengan pelan, lalu senyum terukir di bibirnya. “Ne wajahmu sangat aneh dengan kuah ramyun itu..” seru Donghae sebelum menyeka kuah ramyun di sekitar bibir Hyerin dengan tisu yang diambilnya, setelah itu Donghae kembali duduk.
Hyerin masih terpaku, jantungnya berdebar menyalahi aturan. Sangat cepat sampai Hyerin sendiri waswas jantungnya itu akan meloncat keluar. Pipi Hyerin memanas, dengan segera yeoja itu menundukkan kepalanya setelah tersadar.
Biasanya melihat pipi Hyerin semerah itu Donghae akan dengan senang hati menggodanya, tapi kali ini Donghae hanya terdiam sambil menikmati pemandangan tersebut dengan senyum di bibirnya.
***
Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam ketika Donghae mengantar Hyerin ke rumahnya. Mereka berdua menghentikan langkah tepat di depan pagar Hyerin.
“Kau senang?” Donghae mengayunkan tangan mereka yang masih bertautan, senyum manis tersungging di bibirnya.
Hyerin ikut tersenyum, “Ne, aku senang sekali malam ini. Gomawo oppa.”
Cheonma.” balas Donghae singkat.
Hyerin mengangguk, dia memandang ke dalam rumahnya sebentar sebelum kembali memandang Donghae.
“Aku masuk dulu ya oppa..” pamit Hyerin, dia melepaskan tautan jemari mereka meskipun sebenarnya tak ingin. Hyerin merasakan sebuah kekosongan sebab jemari hangat Donghae tak lagi menggenggamnya. Hyerin memegang pagar rumahnya, sebelum masuk, dia kembali menoleh ke belakang untuk menatap Donghae.
Hyerin tersenyum lagi lalu melambaikan tangannya ke arah Donghae, “Annyeo─”
Saranghae..” Donghae menyela perkataan Hyerin dengan mengucapkan kata sakral tersebut, namja itu melangkah mendekati Hyerin yang langsung terpaku dan berdiri setengah meter di hadapannya. “Jeongmal saranghaeyo Hyerin-ah.” ulang Donghae, tangannya kembali menggenggam tangan Hyerin dengan penuh perasaan. Mata Donghae memenjara mata Hyerin dengan tatapan dalam yang penuh kasih. “Kau mau menjadi kekasihku, kan?”
Hyerin terenyak, sorot matanya berubah sendu ketika menatap mata Donghae. Yeoja itu kembali melepaskan tautan jemari mereka dengan lembut.
Oppa, kau terlambat.” kata Hyerin lirih.
Donghae mengernyit, “Apa maksudmu?”
“Kalau saja kau mengatakan itu 6 atau 7 tahun yang lalu aku pasti tanpa ragu akan menerimamu, tapi sekarang sudah terlambat oppa..”
Donghae menyimpan tangannya di pundak Hyerin dengan tatapan semakin tak mengerti, “Kau mencintai namja lain?”
Hyerin menggeleng, kepalanya tertunduk dalam.
“Aniyo, aku sebenarnya juga mencintaimu.”
“Lalu mengapa kau bilang terlambat Hyerin-ah? Jelaskan padaku!”
Hyerin menepis tangan Donghae di pundaknya, dia menatap mata Donghae dengan tatapan terluka. Matanya berkaca-kaca.
“Aku akan menjadi tunangan orang lain lusa nanti oppa..” setelah mengatakan itu Hyerin segera membuka pagar dan berlari masuk ke rumahnya.
Donghae langsung mencelos seketika mendengar perkataan Hyerin tadi. Tubuhnya lemas, dan dia tidak bisa memikirkan apapun saat ini. Pikirannya terlalu penuh dengan kata-kata Hyerin yang bagai bom atom, meledakkan hatinya hingga menjadi debu.
Desau angin yang membelai wajahnyalah yang akhirnya menyadarkan Donghae, namja itu melangkah dengan lunglai menapaki jalan yang entah kemana. Satu-satunya tempat yang ingin dia tuju saat ini adalah tempat yang sepi, dan satu-satunya tempat yang ingin dia hindari adalah dorm.
Lee Donghae melangkah dengan kekosongan yang mengisi hatinya.
***
Brak!
Eonni!”
Han Hyerin sama sekali tak mempedulikan teriakan kesal adik pertamanya itu, yang dilakukannya hanya membanting pintu kamar lantas merosot jatuh dibaliknya.
Beberapa saat Hyerin hanya termangu dengan tubuh yang masih terduduk di lantai, tapi kemudian Hyerin menyeret kakinya ke ranjang lantas membanting tubuhnya di atas busa persegi itu, pikirannya sekarang benar-benar kacau.
Jujur, dia hancur. Pengakuan Donghae dan ketidakberdayaannya untuk memperjuangkan perasaannya telah mengiris lapis demi lapis hatinya dan mengoyak semua rasa didalamnya. Dan di kamarnya ini, cairan bening itu tiba-tiba saja luruh dengan sendirinya. Hyerin tak sanggup lagi menampung air itu dalam kelopak matanya, dia tak sanggup lagi menahan semua beban yang serasa meremukan tubuhnya. Hyerin rapuh, dia terlalu rapuh oleh perasaan yang tak mungkin bisa dia gapai bersama Donghae.
Oppa mianhae, jeongmal mianhae.. Aku mencintaimu, tapi aku juga tak bisa mengecewakan appa. Saranghaeyo, semoga kau bisa menemukan orang yang lebih baik dari aku.” lirih Hyerin di dalam tangisnya.
Hyerin terisak hebat, yeoja itu makin melesakkan kepalanya di bantal. Menangis menyesali ketidakberdayaannya yang begitu payah dan… bodoh!
Hyerin tak pernah tau bahwa rasanya mencintai tanpa bisa memiliki bisa sesakit ini, sangat sakit hingga ia rasanya lebih baik menghilang dari muka bumi ini.
***
Donghae memandangi permukaan air sungai Han yang tenang dengan tatapan kosong. Jejak air mata yang tertinggal di pipinya seolah menjadi pertanda bahwa namja itu telah lelah menangisi kisah cintanya yang sangat tragis.
Donghae menghela napas perlahan, dia lalu mengusap sisa jejak air mata di pipinya itu dengan kedua jarinya. Donghae tahu, seharusnya sebagai seorang namja ia tidak bersikap cengeng seperti ini. Tapi dia juga manusia yang berhati lembut, dan Donghae pikir menangis bukanlah hal buruk untuk meluapkan emosinya.
Termenung lagi, Donghae merasa hidupnya benar-benar kosong sekarang. Setelah dia kehilangan Hyerinn untuk 6 tahun lamanya, sekarang dia bahkan harus kehilangan Hyerin untuk selamanya. Pikiran Donghae terlalu penuh diisi berbagai macam hal, dan hati Donghae juga terlalu penuh dengan segala campuran perasaan yang mengoyaknya secara perlahan.
Helaan napas kembali lolos dari bibir Donghae, menciptakan uap akibat udara yang lebih dingin dari suhu tubuhnya. Donghae mengeratkan jaket yang dipakainya, dia memejamkan mata menikmati kesunyian yang menemaninya sejak ia menginjakkan kaki di sini. Mungkin kesunyiaan inilah yang akan menemani ia untuk seterusnya.
Kesunyiaan itu terpecahkan oleh ringtone I-phonenya yang berdering heboh. Donghae terkesiap, dia merogoh saku jaketnya dan memandangi layar I-phonenya dengan tatapan datar. Ini adalah telepon entah keberapa puluh kali dari member Suju, Donghae tak berpikir untuk mengangkatnya, dia ingin sendiri saat ini, jadi entah untuk keberapa puluh kalinya juga Donghae mengabaikan panggilan itu.
I-phonenya berbunyi lagi. Donghae mendengus karena merasa ketenangannya terganggu, namja itu kembali memandangi layar I-phonenya. Nama ‘Lee Hyukjae’ berserta gambar mereka berdua terpampang di sana.
Donghae tampak berpikir sejenak, ia lalu mengembuskan napasnya sebelum mengangkat panggilan itu.
Baiklah, Donghae juga butuh teman untuk berbagi.
“Yak! Lee Donghae! Dimana kau sekarang? Kenapa kau tidak mengangkat telepon kami dari tadi hah?”
Eunhyuk tampaknya tak mau susah-susah untuk mengucapkan basa-basi telepon karena namja itu langsung memberondong Donghae dengan berbagai pertanyaan yang terdengar mengintimidasi.
Sadar tak ada jawaban, Eunhyuk kembali bersuara. “Kau membuat semua orang di dorm cemas, Hae-ya. Sekarang cepat katakan dimana kau!”
Donghae menggigit bibirnya, “Sungai Han, Hyukie.”
“Tunggu aku setengah jam lagi, jangan kemana-mana!” suara Eunhyuk berubah cemas, dia tahu kalau Donghae sudah memanggilnya dengan akhiran ‘ie’, itu artinya Donghae sedang membutuhkannya.
Sambungan terputus. Donghae memandangi I-phonenya dengan tatapan kosong sebelum kembali menyimpan I-phone itu di saku jaketnya. Matanya kembali memandang lurus ke depan dengan sinar yang meredup.
“Donghae!”
Donghae mengalihkan tatapannya pada asal suara, dia melempar senyum tipis pada orang yang baru saja memanggil namanya.
“Kau bilang setengah jam, sekarang baru 15 menit Hyukie.”
“Berhenti tersenyum seperti itu, kau tampak menyedihkan.”
Eunhyuk duduk di sebelah Donghae, raut wajahnya masih diselimuti kecemasan.
“Entahlah, aku merasa kosong..” gumam Donghae, tangannya lalu meraba dada. “Di sini.”
Eunhyuk menghela napas, dirangkulnya pundak Donghae. “Mianhae, aku tidak memberitahumu sebelum kau nekat menyatakan perasaanmu kalau Hyerin akan bertunangan..”
Donghae menggeleng, “Gwaenchana, ini bukan salahmu.” walau ada nada getir dalam nada suaranya, Donghae tetap mencoba tersenyum.
Eunhyuk membalas senyum Donghae dengan senyum tak kalah getirnya.
“Kau, tahu ini sejak kapan?” tanya Donghae tiba-tiba.
“Tadi sore waktu aku berkunjung ke apartemen Hana.”
Donghae meraup udara di sekitarnya lamat-lamat, “Apa yang harus aku lakukan sekarang?”
Eunhyuk menatap Donghae sebentar sebelum matanya memandang sungai Han lurus-lurus, “Entahlah Hae-ya, tapi kurasa kau harus belajar melepaskannya.”
“6 tahun yang lalu aku sudah melepasnya Hyuk!” Donghae tiba-tiba saja berteriak, air matanya kembali tumpah. “Dan sekarang apa aku harus kembali melepasnya?!”
Eunhyuk mengeluh dalam hati mendengar Donghae berteriak padanya.
“Hae-ya, cukup, kendalikan emosimu.” seru Eunhyuk sambil memegang bahu Donghae yang bergetar. “Aku tidak akan menyuruhmu melepasnya lagi, jadi kau mau apa sekarang?”
Donghae mengusap air matanya dengan kasar, “Bagaimana kalau aku merebutnya?”
“Donghae!” seru Eunhyuk terkejut, “jangan nekat, bagaimana kalau Hyerin mencintai tunangannya?”
Donghae menatap Eunhyuk tajam, “Tidak, Hyerin mencintaiku, tapi dia hanya tidak ingin mengecewakan appanya.”
Eunhyuk kembali terkejut, dia menatap Donghae sebentar sebelum memijit keningnya yang terasa berdenyut memikirkan kisah Donghae yang rumit.
Arraseo, tapi jangan merebutnya secara paksa, minta izinlah pada tunangan dan appanya. Kurasa itu lebih baik Hae-ya.”
Setitik kelegaan merayap di hati Donghae mendengar saran Eunhyuk. Emosinya kembali surut dengan perlahan.
Ne, lebih baik begitu. Aku akan bicara dengan mereka secepatnya.”
Eunhyuk tersenyum mengejek, “Memang kau tahu siapa calon tunangan Hyerin?”
Donghae yang sudah tersenyum percaya diri langsung membulatkan matanya.
Aigo, aku lupa. Kau tahu siapa Hyuk-ah?”
Eunhyuk menyeringai, “Nde, tentu saja aku tahu..”
Jeongmal? Katakan padaku siapa!” pinta Donghae bersemangat.
“Tidak!” tolak Eunhyuk membuat wajah Donghae langsung masam.
Waeyo?”
“Aku akan memberitahumu jika kau pulang ke dorm sekarang.” jawab Eunhyuk, “kau membuat semua orang cemas Hae-ya. Jam berapa sekarang, huh?”
Donghae meringis, dia melirik jam tangan yang melingkari tangannya. 02. 00 a.m. Donghae benar-benar tak sadar dia sudah di sini selama 4 jam.
Nde, cepat katakan padaku siapa dia.”
Eunhyuk menghela napas sebelum menjawab dengan suara pelan, “Byun Baekhyun, Exo-K..”
***
Hyerin menarikan jarinya di pinggiran cangkir moccacino pesanannya. Sesekali, yeoja itu mengembuskan napas berat mengingat kejadian kemarin malam. Saat dimana dia harus menolak orang yang paling diinginkannya. Hyerin memandang keluar jendela kafe, tatapannya berubah sendu begitu melihat banyak sekali pasangan kekasih yang sedang bercanda di luar sana.
Tanpa sadar, setetes air mata kembali menuruni pipinya. Hyerin mengerjap kaget lalu buru-buru menghapus air matanya itu dengan lembut. Tidak. Dia tidak ingin menangis lagi. Hyerin sudah lelah menangis, lagipula menangis tak akan mengubah apapun selain membuat kantung matanya jadi hitam. Hyerin sudah memutuskan tidak akan mengecewakan appanya dan tetap bertunangan dengan Baekhyun esok hari meskipun dia harus mengorbankan hatinya sendiri─juga mungkin hati Donghae.
Byun Baekhyun sudah seperti adik sendiri bagi Hyerin, namja itulah yang menemaninya bermain selama 4 tahun di Perancis─Baekhyun pulang sendiri ke Korea di tahun kelima Hyerin di Perancis untuk melakukan training SMent. Selama di Perancis itu Hyerin sangat dekat dengan Baekhyun, mungkin karena kedekatan itulah kedua orangtua Hyerin maupun Baekhyun salah paham. Kedua keluarga itu sepakat menjodohkan Hyerin dan Baekhyun. Awalnya baik Hyerin maupun Baekhyun mencoba menolak, namun lama-lama karena tak tega mengecewakan orangtua mereka memutuskan untuk menerima.
Dan beginilah hasilnya sekarang, kedua orangtua Hyerin dan Baekhyun ternyata serius dengan perjodohan mereka 3 tahun lalu, bahkan orangtua Hyerin sampai rela kembali menetap di Korea demi menyusul keluarga Baekhyun yang sudah lebih dulu menetap di Korea sejak setahun lalu.
Hyerin mengeluarkan udara yang sedari tadi ditahannya ketika ingatan bagaimana ia bisa sampai dijodohkan dengan namja yang setahun lebih muda darinya itu terputar ulang disusul bayangan Donghae dengan segala tingkah lakunya. Yeoja itu meringis dalam hati menyadari bahwa bayangan Donghae tak pernah mau bergeser dari kepalanya walau pun dia sudah berusaha sangat keras.
Hyerin menatap cangkir moccacinonya sekali lagi sebelum mengangkat cangkir itu mendekati mulutnya dan menyesap cairan kecokelatan itu perlahan, matanya beralih memandang pintu masuk saat menyadari orang yang sedari tadi ia tunggu akhirnya muncul─lengkap dengan penyamarannya.
Mianhae, noona pasti menunggu lama ya?” Tanya namja itu tak enak seraya mengambil tempat di hadapan Hyerin.
Sambil mencoba tersenyum, Hyerin menggeleng pelan. “Gwaenchana Hyun-ah, noona juga baru tiba tadi.”
Baekhyun melirik cangkir moccacino Hyerin yang sudah tak beruap, dan ia mendesah begitu tahu bahwa Hyerin telah berbohong padanya. Yeoja itu pasti sudah menunggu sangat lama.
“Kau baik-baik saja noona?” Tanya Baekhyun pelan, tangannya terjulur menyentuh dahi Hyerin dengan lembut.
Nde, aku baik-baik saja Hyun-ah..” jawab Hyerin, “bagaimana denganmu? Aku sudah lama sekali tak melihatmu.” Hyerin balik bertanya, tangannya mengacak rambut Baekhyun sambil tersenyum kecil.
“Kau sangat merindukanku, eoh?” goda Baekhyun sambil tergelak, “bukankah kau melihatku di tivi setiap hari?” Baekhyun memasang mimik serius, membuat Hyerin mengerucutkan bibirnya dan meninju bahu Baekhyun pelan.
Pelayan datang membawa pesanan Baekhyun setelah keduanya mengobrol cukup banyak. Baekhyun mengucapkan terimakasih pada pelayan itu lalu kembali mendengarkan cerita Hyerin dengan saksama.
Baekhyun mengangguk pelan tanda ia mengerti, “Kau ingin membatalkan pertunangan kita noona?”
Mwo?” mata Hyerin membelalak dengan sendirinya, yeoja itu buru-buru menggelengkan kepalanya mendengar pertanyaan Baekhyun. “Aniyo Hyun-ah, aku hanya ingin bercerita padamu.”
Hyerin lantas menghela napas dalam-dalam sebelum berkata, “Kau tahu sendiri aku paling tidak ingin mengecewakan appa.” dengan nada sedih yang begitu kentara.
Baekhyun memandangi wajah Hyerin yang nampak sedih secara menyeluruh, lantas namja itu ikut menghela napas. Dia tak pernah tahu apa isi yang ada di kepala Hyerin, yeoja itu selalu lebih mementingkan perasaan orang lain daripada perasaannya sendiri. Han Hyerin selalu lebih memilih mengorbankan kebahagiaannya demi melihat kebahagiaan orang lain. Baekhyun sendiri tak mengerti mengapa Hyerin dapat bersifat seperti itu, yeoja itu terlalu baik dan pengertian sampai-sampai mau menyiksa diri sendiri demi kebahagiaan orang lain. Hyerin memang membingungkan, Baekhyun tak pernah bisa menebak pikiran yeoja itu. Rumit dan membingungkan, membuat Baekhyun kadang-kadang pusing sendiri.
“Jadi noona akan tetap bertunangan denganku besok?” tanya Baekhyun, matanya memandang Hyerin sekilas sebelum dia menundukkan pandangan pada makanan yang dipesannya, namja itu mengangkat gelas jus mangganya lalu meminum isinya sedikit. Perhatiannya kembali pada Hyerin yang tengah menggigit bibir bawahnya sembari memandang Baekhyun dengan tatapan setengah ragu.
Tak lama, Hyerin mengangguk pelan, “Ne, lagipula bertunangan denganmu tak buruk juga..”
Baekhyun mendecak, sudah ia duga Hyerin akan menjawab seperti itu. “Jangan menyesali keputusanmu ini noona, karena kalau besok kita sudah terikat aku tak akan mau memutuskannya. Kau tahu aku.” peringat Baekhyun seraya mengedikkan bahunya, bibir namja itu tersenyum sedikit dan tangannya mulai bergerak menyendok hidangan yang dia pesan lalu memasukkannya ke mulut.
Hyerin mengangguk lagi sambil mendesah, dia tahu Baekhyun memang tipe orang yang seperti itu. Baekhyun mempunyai prinsip bahwa ‘apapun yang sudah terikat dengannya tidak akan pernah ia lepaskan walaupun ia sendiri tidak menyukainya’ dan setahu Hyerin namja itu tak pernah mengingkari prinsipnya.
Selanjutnya mereka berdua tak berkata apapun, Hyerin hanya memandangi Baekhyun yang sedang makan dengan lahap─seperti tidak pernah makan sebelumnya─dan Baekhyun sendiri sedang fokus pada makanannya. Dia sepertinya benar-benar lapar.
Getaran halus yang berasal dari I-phone Hyerin membuat yeoja itu sedikit tersentak dari lamunannya. Dengan segera Hyerin mengeluarkan ponselnya dan membuka pesan yang baru saja masuk.
From: Hana-ya^^
Hyerin-ah, cepat ke butikku sekarang. Bukankah kau harus mencoba gaun untuk pertunanganmu besok?
Hyerin mengembuskan napas membacanya. Lihatlah, semuanya sudah benar-benar dipersiapkan dengan baik, bagaimana mungkin dia bisa mengecewakan kedua orangtuanya yang sudah sangat excited ini?
Jemari Hyerin menari di atas keypad untuk membalas pesan Hana.
To: Hana-ya^^
Nde, aku sebentar lagi ke sana.
Setelah menyimpan I-phonenya di tas tangan lagi, Hyerin melirik sejenak ke arah Baekhyun yang telah selesai dengan makanannya.
“Hyun-ah, aku pulang sendiri tak apa, kan? Aku harus ke butik Hana untuk mencoba gaun.”
Baekhyun yang tengah meminum jus mangganya melirik Hyerin sekilas sebelum mengangguk pelan tanda mengizinkan. Hyerin memberikan senyum tipisnya sebelum benar-benar melangkah meninggalkan Baekhyun di kafe itu.
“Aish, sebenarnya siapa namja yang Hyerin noona cintai? Apa dia cocok untuk Hyerin noona?” gumam Baekhyun setengah menerawang. Matanya mengikuti punggung Hyerin yang pelan-pelan menghilang.
Baekhyun tercenung sebentar sebelum tangannya melambai untuk membayar makanannya. Namja itu baru saja berdiri hendak meninggalkan kafe saat tiba-tiba saja ponselnya berdering. Baekhyun mengangkat teleponnya dengan kening berkerut samar melihat nama ‘Donghae sunbae’ sebagai id callernya.
Yeoboseyo, Baekhyun-ssi.”
Yeoboseyo sunbae. Waeyo? Kau ada perlu denganku?”
Donghae diam sebentar sebelum menyahut, “Ne, aku ingin bertemu denganmu di taman depan SMent, kau bisa?”
Baekhyun tampak heran mendengar permintaan Donghae, selama ini mereka terbilang tak cukup dekat. Jadi ada masalah apa sampai tiba-tiba Donghae memintanya bertemu? “Arraseo sunbae, aku akan segera ke sana.”
Nde, aku menunggumu. Gomawo.
Klik!
Baekhyun menatap layar ponselnya masih dengan wajah bingung. Selama di perjalanan dia hanya memikirkan apa yang sebenarnya ingin dibicarakan Donghae. Mobil Baekhyun sampai di gedung SMent 10 menit kemudian, namja itu memarkir mobilnya di lahan yang masih kosong lantas berjalan menuju taman depan.
Setibanya di taman, Baekhyun memanjangkan lehernya untuk mencari keberadaan Donghae. Dia tersenyum sedikit ketika melihat Donghae duduk di salah satu bangku sambil memainkan ponselnya. Baekhyun melangkah tenang menghampiri Donghae.
Annyeong sunbae, ada perlu apa denganku?” tanyanya ketika sudah ada di hadapan Donghae, Baekhyun memberikan senyum ramah yang dia punya.
Donghae mengangkat wajah ketika mendengar suara seseorang, dia memandang datar ke arah Baekhyun yang sedang menebar senyum ramah padanya.
Annyeong Baekhyun-ssi, duduklah dulu.”
Baekhyun sebenarnya tidak terlalu menyukai reaksi Donghae yang sangat datar menyambut kedatangannya (hei, bukankah Donghae yang memintanya bertemu?) tapi demi menjaga kesopanan pada seniornya ini, Baekhyun akhirnya hanya mengangguk dan menuruti kata-kata Donghae tadi.
Donghae melirik Baekhyun, dihirupnya udara sebanyak-banyaknya sebelum dia memulai percakapan dengan Baekhyun.
“Baekhyun-ssi, kau benar-benar tunangan Hyerin?”
Baekhyun menoleh menatap wajah Donghae, keningnya berkerut mendengar pertanyaan yang dilontarkan Donghae. “Ne?”
Donghae mendengus, memalingkan wajahnya dan menatap Baekhyun datar, “Aku bertanya apakah kau benar-benar calon tunangan Han Hyerin anak dari Han Jaebyun?”
Kerutan di kening Baekhyun menghilang sedikit demi sedikit, “Ne, itu benar. Ada apa memangnya sunbae?”
“Bisakah kau memberikan Hyerin padaku?” tanya Donghae tanpa basa-basi.
Baekhyun terkesiap, dia balik menatap Donghae dengan tajam. Pikirannya melayang-layang pada cerita Hyerin tadi. Apa Donghae sunbae orang yang diceritakan Hyerin noona? Pikirnya dalam hati. Baekhyun tertegun sebentar sebelum otaknya mencetuskan sesuatu.
“Apa maksud sunbae?”
Donghae memutar bola matanya jengah, “Kau tidak mengerti perkataanku? Aku menginginkan Hyerin, berikan dia padaku!”
“Memang kau pikir Hyerin barang? Tidak, aku tidak akan melepaskannya.”
Tatapan Donghae meredup, ada perasaan sedih dan luka di dalam matanya. “Jebal Baekhyun-ssi. Batalkan pertunangan kalian, aku sangat mencintainya.”
“Tidak sunbae, mianhae. Aku tidak ingin kehilangan mainanku.”
Mata Donghae membelalak lebar mendengar ucapan Baekhyun, dia langsung menarik kerah kemeja yang dikenakan Baekhyun dan memandang namja itu dengan tatapan membunuh terbaik yang pernah ia miliki. Baekhyun hanya menatapnya datar.
“Yak! Apa maksud kata-katamu barusan?!”
“Uh,” keluh Baekhyun, “kau tak usah naif seperti itu sunbae. Kau tahu aku dan Hyerin dijodohkan tanpa cinta, aku juga sudah memiliki kekasih sebenarnya. Tapi aku tak ingin membatalkan pertunangan ini, Hyerin terlalu cantik untuk dilewatkan, dia bisa menjadi mainanku yang menarik.”
Donghae tak bisa lagi mengendalikan emosinya, dia melayangkan satu pukulan tepat ke wajah Baekhyun.
“Brengsek! Aku tak akan membiarkanmu melakukan itu!”
Dan tanpa bisa cegah, pukulan bertubi-tubi kembali dilayangkan Donghae secara membabi buta.
***
Neomu kyeopta Hyerin-ah,” pekik Hana kagum melihat penampilan Hyerin.
Saat ini keduanya sedang berada di ruangan khusus yang disediakan hotel tempat Hyerin akan bertunangan. Hyerin sudah selesai didandani oleh perias, dia tampak sangat cantik hari ini dengan dress selutut berwarna biru laut yang dirancang Hana.
Hyerin tersenyum tipis melihat kekaguman Hana, dia mengangkat kepalanya menghadap cermin dan ikut mengamati refleksi dirinya yang terpantul sempurna di cermin itu. Hana benar, Hyerin tampak sangat cantik dan menawan dengan tampilannya saat ini. Tapi Hyerin sama sekali tak merasa senang, dia justru merasakan kekosongan menyelimuti hatinya. Setelah acara ini berakhir, tidak akan ada lagi kesempatan Hyerin untuk bersama Donghae. Hyerin harus belajar merelakan Donghae mulai sekarang, sesakit apa pun dia nantinya, Hyerin harus bisa melupakan Donghae. Menghapus namja itu dari pikiran dan hatinya.
Tanpa bisa dicegah, Hyerin meneteskan air matanya menyadari kenyataan yang harus dia hadapi setelah ini. Namun sebelum Hana melihatnya, Hyerin buru-buru menyeka air mata itu dengan perlahan.
“Hyerin-ah, nanti kau akan masuk saat Han ahjussi menyuruhmu masuk. Aku yang akan memberikan kodenya, kau siapkan?” Tanya Hana riang, yeoja itu menggamit tangan Hyerin lantas membawa Hyerin keluar dari ruangan itu.
Mollayo Hana-ya, aku tidak tahu aku siap atau tidak.” Jawab Hyerin ketika mereka sudah sampai di pintu masuk ballroom tempat dilangsungkannya acara. Hyerin dan Hana duduk di salah satu kursi yang ada di situ, menunggu sambutan Han Jaebyun selesai dan Hyerin dipersilakan masuk─mereka bisa mendengar dengan jelas sekali pun dari luar.
Hana tertawa kecil, tangannya mengusap punggung Hyerin dengan lembut. “Percayalah, kau tidak akan pernah menyesal.”
Hyerin menatap Hana tak mengerti mendengar perkataan yeoja itu, tapi dia tak mau ambil pusing dan hanya bisa mendesah pasrah pada apa yang akan dihadapinya setelah ini. Hana membantu Hyerin berdiri saat mereka mendengar Han Jaebyun mempersilakan Hyerin memasuuki ballroom.
Hana membukakan pintu untuk Hyerin, sementara Hyerin menghela napas berkali-kali demi menyiapkan dirinya sebelum masuk ke dalam. Hyerin berjalan menunduk ke arah ayahnya, dia tak mempedulikan tatapan kagum para tamu undangan atas penampilannya.
Hyerin menghentikan langkahnya dia berhenti di hadapan ayahnya─sekaligus berada di samping calon tunangannya karena Hyerin bisa melihat sepasang sepatu di sebelah kakinya. Hyerin tetap menunduk, dia sama sekali tak punya keberanian untuk mengangkat kepalanya dan menatap calon tunangannya.
Mata Hyerin kembali terasa memanas saat ayahnya mempersilakan mereka untuk saling bertukar cincin, Hyerin memejamkan matanya dengan erat saat merasakan jari manisnya dilingkari oleh sebuah cincin.
“Nah, Hyerin, sekarang pasangkan cincinnya pada pasanganmu.” Suara appanya kembali terdengar.
Hyerin mencoba menguatkan diri agar air matanya tak jatuh begitu saja, dia mengambil cincin dari kotak yang disodorkan appanya.
Untuk pertama kalinya sejak Hyerin menginjakkan kaki di ballroom ini, Hyerin mengangkat wajah demi melihat tunangannya sekarang. Dan mulut Hyerin langsung menganga lebar.
Di depannya, Donghae berdiri sambil memasang senyum paling manis yang pernah ia punya. Namja itu memakai tuksedo hitam yang membuatnya sungguh terlihat tampan.
Oppa.. bagaimana bisa?” gumam Hyerin masih tak percaya, matanya mengerjap beberapa kali untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa yang ada di hadapannya ini benar-benar Donghae.
Donghae terkekeh kecil melihat ekspresi Hyerin, “Kau tidak ingin bertunangan denganku, Hyerin-ah?”
Aniyo,” sela Hyerin cepat, walaupun masih bingung dengan apa yang terjadi, yeoja itu memasangkan cincin di jari manis Donghae.
Hyerin tak bisa membohongi hatinya yang langsung terasa sangat ringan saat Donghae menggandeng tangannya dan membalikkan tubuh mereka menghadap seluruh tamu undangan─yang masih riuh bertepuk tangan sejak Hyerin memasangkan cincin itu di jari manis Donghae. Hyerin memandang ke sekeliling, dia menemukan Hana dan Saera yang tersenyum manis padanya, Hyerin juga menemukan member Super Junior yang asyik menyoraki dia dan Donghae, terakhir Hyerin menemukan Baekhyun yang sedang tersenyum sambil menggerakkan bibirnya seolah berkata ‘dia yang terbaik untukmu noona, chukkae.’
“Aku menitipkannya padamu Donghae-ya.”
Perkataan yang berasal dari appanya berhasil membuat Hyerin mengalihkan pandangan pada sebelahnya, dia tersenyum kecil saat Donghae mengangguk mantap dan appanya memeluk Hyerin dengan erat. Hyerin melepaskan gandengan tangan Donghae dan membalas pelukan appanya dengan tak kalah erat. Hyerin membenamkan wajahnya di pundak sang appa dengan rasa terharu yang begitu besar.
Appa, apa maksudnya ini? Bukankah tunanganku Baekhyun?” Tanya Hyerin lirih.
Appanya terkekeh seraya mengelus rambut panjang Hyerin, dia kemudian melepaskan pelukannya dan menyatukan jemari Donghae dan Hyerin hingga saling bertautan.
Ne, awalnya begitu Hyerin. Tapi kemarin Donghae dan Baekhyun datang menemui appa, mereka menjelaskan berbagai hal pada appa dan meminta agar Donghae yang menjadi tunanganmu. Mianhae appa tak peka pada perasaanmu. Mianhae juga apa tak memberitahumu dari semalam, ini rencana Donghae, dia ingin memberi kejutan padamu.”
Hyerin mengusap air mata bahagianya dan menggeleng pelan, “Gomawo appa, jeongmal gomawo.” Setelah mendapatkan anggukan dari appanya, mata Hyerin beralih memandang Donghae.
Oppa..”
“Sstt..” Donghae meletakkan jari telunjuknya di bibir Hyerin, seakan menyuruh yeoja itu untuk tak berkata apapun. “Kau pikir aku akan melepaskanmu lagi setelah 6 tahun lalu aku terpaksa melepasmu? Tidak, terimakasih.”
Hyerin tertawa kecil, pipinya bersemu merah mendengar perkataan terakhir Donghae, “Saranghae oppa, jeongmal saranghaeyo..
Donghae bersumpah bahwa mendengar Hyerin mengatakan hal itu adalah kebahagiaan terbesar yang pernah terjadi di hidupnya, “Nado saranghae, nae Hyerin.”
Donghae mendekatkan dirinya dan memeluk Hyerin dengan lembut, beberapa saat keduanya berpelukan hingga Donghae merasakan kepala Hyerin yang berada di dalam pelukannya terangkat. Donghae menundukkan wajahnya demi melihat wajah Hyerin yang tampak sangat bahagia.
Oppa, bagaimana kau dan Baekhyun bisa menemui appa?”
Donghae menyeringai kecil mengingat kejadian kemarin sebelum Donghae pelan-pelan mulai memupus jarak yang masih tersisa di antara mereka, hingga akhirnya Hyerin dapat merasakan bibir Donghae yang mencium bibirnya dengan lembut.
***
“Uh,” keluh Baekhyun, “kau tak usah naif seperti itu sunbae. Kau tahu aku dan Hyerin dijodohkan tanpa cinta, aku juga sudah memiliki kekasih sebenarnya. Tapi aku tak ingin membatalkan pertunangan ini, Hyerin terlalu cantik untuk dilewatkan, dia bisa menjadi mainanku yang menarik.”
Donghae tak bisa lagi mengendalikan emosinya, dia melayangkan satu pukulan tepat ke wajah Baekhyun.
“Brengsek! Aku tak akan membiarkanmu melakukan itu!”
Dan tanpa bisa cegah, pukulan bertubi-tubi kembali dilayangkan Donghae secara membabi buta.
“Yak! Yak, Lee Donghae, apa yang kau lakukan?”
Eunhyuk datang di saat yang tepat, namja itu segera melerai Donghae yang baru saja akan melayangkan tinjunya lagi pada Baekhyun. Donghae meronta berusaha melepaskan diri dari Eunhyuk, kemarahan meluap-luap di dalam dadanya. Dia ingin kembali memukul Baekhyun sampai namja itu benar-benar puas.
“Lepas. Aku ingin memukul namja brengsek itu lagi!” jerit Donghae membuat Eunhyuk kepayahan.
Sementara Eunhyuk masih berusaha menahan Donghae, Baekhyun berdiri. Namja itu menatap Donghae sekilas sebelum ibu jarinya mengusap darah yang ada di sudut bibirnya dengan pelan. Baekhyun kembali menatap ke arah Donghae─kali ini lebih lama dan dalam─dan bibirnya menampilkan senyum tulus yang sangat menawan.
Baekhyun berjalan menghampiri Donghae, membuat Eunhyuk panik.
“Baekhyun-ssi, cepat pergi dari sini.”
Aniyo sunbae,” elak Baekhyun pada Eunhyuk, dia kembali melempar senyum tulus pada Donghae, “Donghae sunbae, aku merasa kau orang yang tepat untuk Hyerin noona. Ayo kita temui Han ahjussi, aku akan mendukungmu.”
Rontaan Donghae melemah, melihat itu Eunhyuk menghela napas lega sambil melepaskan cekalan tangannya di tangan Donghae, dia tahu Donghae tak akan meledak lagi. Eunhyuk diam mengamati keduanya.
Meskipun ia belum sepenuhnya mengerti tapi  Donghae merasakan kemarahan yang tadi meluap-luap di dadanya perlahan surut dengan sendirinya saat Baekhyun mengatakan hal itu. Donghae menatap Baekhyun dengan kening mengernyit, matanya meminta penjelasan lebih.
“Apa maksudmu?”
Baekhyun terkekeh kecil sambil merapikan rambutnya yang agak berantakan, “Mianhae sunbae, aku tadi hanya ingin menguji kelayakanmu untuk Hyerin noona. Kau tahu Hyerin noona sudah seperti kakakku sendiri, aku sangat menyayanginya, karena itu aku ingin memastikan bahwa kau memang pantas untuk Hyerin noona. Dan melihat reaksimu tadi aku merasa kau benar-benar pantas untuk Hyerin noona, kau sangat mencintainya.”
“Kau, tidak sedang bercandakan?” Tanya Donghae tak percaya, namun entah mengapa dia merasakan kelegaan di hatinya mendengar perkataan Baekhyun tadi.
Baekhyun mengangguk mantap, “Ayo ke kantor Han ahjussi, sunbae.”

END

Tidak ada komentar:

Posting Komentar