kenapa lama? Alesannya karena ini tuh puncak fantasinya, dan ide fantasi aku tiba-tiba stuck. Aih, kapok bikin ff fantasi, imajinasinya harus bener-bener kuat, pendeskripsiannya juga harus ngena jadi kebayang. Yah, jadi, gitulah pokoknya, haha..
gatau gagal gatau engga sih, tapi seengganya aku udh ada niatan namatin ini ff gaje-__- mudah-mudahan ga terlalu ancur+ngecewain deh yaa :D
akhir kata, happy reading^^
gatau gagal gatau engga sih, tapi seengganya aku udh ada niatan namatin ini ff gaje-__- mudah-mudahan ga terlalu ancur+ngecewain deh yaa :D
akhir kata, happy reading^^
SEVEN: Part B
Sulit
mengubah takdir yang telah Tuhan gariskan untuk manusia, karena takdir itu
mutlak. Namun jika kita percaya keajaiban Tuhan, bukan hal tak mungkin garis
takdir akan berubah.
Dan
sekarang, yang jadi pertanyaan adalah, percayakah kita pada keajaiban Tuhan?
***
D
|
EBARAN jantung
di dalam diri mereka semakin menggila seiring semakin dekatnya mereka dengan
bukit suci. Bukit itu hanya berjarak satu kilometer lagi, begitu dekat, dekat
menuju hal-hal tak terduga yang menanti mereka.
“Turun.” desis
Kyuhyun lirih pada saudara-saudaranya. Atmosfer udara terasa aneh, dan Kyuhyun
jelas tahu udara telah dimantrai oleh iblis itu.
Ketiga
saudaranya mengangguk, mengerti dengan perkataan Kyuhyun karena mereka juga
merasakan hal yang sama. 4 pegasus itu turun perlahan hingga menginjak tanah,
mereka turun di tengah-tengah hutan.
“Kenapa
berhenti?” tanya Hyerin begitu ia turun dibantu Donghae.
Jongwoon
menggertakkan giginya sebelum menjawab, “Iblis itu sedang berusaha melacak
keberadaan kita. Udara telah dimantrai.”
Empat yeoja
itu diam, ketakutan yang mereka miliki semakin bertambah besar setiap saatnya
mendengar perkataan Jongwoon. Rasanya sangat menyebalkan, seperti kau tengah
dicekik sesuatu tak berwujud.
“Kita akan
melanjutkan dengan berjalan, hanya ini cara yang aman bagi kita untuk
sekarang.” imbuh Donghae, lantas mulai memimpin jalan memasuki hutan belantara
yang terlihat sangat lebat. Kyuhyun dan Saera dibelakang, disusul Jongwoon dan
Taeyoung, lalu Hyukjae juga Hyunmi yang sama-sama membisu.
Kesan pertama
yang para yeoja tangkap saat memasuki hutan adalah, hutan ini seram;
pohon-pohon tua yang besar dan menjulang tinggi terlihat di mana-mana,
rerumputan liar saling membelit, kabut tipis yang menghalangi pemandangan di
mana-mana, juga jangan lupakan suara burung hantu yang saling bersahutan.
Taeyoung
mengedarkan pandangan ke sekeliling hutan, bulu kuduknya sesekali berdiri saat
melihat keanehan yang ada di hutan ini. Yeoja itu makin mengeratkan
cengkeraman tangannya pada baju Jongwoon saat matanya tanpa sengaja melihat sesuatu
bergerak-gerak di balik semak-semak.
“Oppa,
apa itu?” tanya Taeyoung takut sambil menarik-narik jubah Jongwoon.
Jongwoon
mengikuti arah pandangan Taeyoung, matanya seketika membulat saat sekelebat
cahaya kuning terlihat dari celah-celah semak itu, menjalar menuju pohon besar
yang tak jauh dari tempat Donghae dan Hyerin berjalan.
“Hae! Sihir discate!”
Semua sontak
menoleh pada Jongwoon yang baru saja berteriak─termasuk Donghae. Donghae baru
saja akan melakukan perintah Jongwoon saat tiba-tiba saja pohon besar di
belakang Donghae bergerak, dan namja itu terbanting oleh dahan kayu
besar yang terayun padanya.
Para yeoja
memekik kaget melihat pohon itu hidup dan menyerang mereka, Kyuhyun dengan
cekatan segera menyuruh para yeoja berlindung di belakang mereka.
Setelah
membantu Donghae berdiri, keempat namja itu menyerang pohon─yang
sekarang menjadi monster─bergantian dengan pedang glemor.
“Tak berhasil!
Kita akan menghabiskan banyak waktu jika seperti ini terus.” teriak Hyukjae di
sela-sela lompatannya guna menghindari serangan pohon itu.
Ketiga namja
lainnya membenarkan ucapan Hyukjae dalam hati. Sambil menghindari serangan
monster itu, mereka berpikir keras untuk menghancurkan monster ini.
Pohon besar itu
jelas diberi sihir agar menjelma menjadi monster. Sejak Taeyoung melihat
semak-semak bergoyang, itu adalah aliran sihir arosa, sihir pemberi roh,
pemberi jiwa─dalam artian negatif─semua yang diberi sihir ini akan menjadi
monster dan menyerang siapa saja yang ada di hadapannya.
Satu-satunya cara
menangkis sihir ini adalah dengan sihir discate. Namun sihir itu pun
harus dilakukan sebelum sihir arosa bereaksi, terlambat sedikit saja, maka
satu-satunya cara menghadapi monster ini dengan bertarung tanpa ilmu sihir.
Sihir discate pun harus dilakukan dalam jarak dekat, karena itu Jongwoon
menyuruh Donghae.
Namun semuanya
terlambat, dan mereka harus menghadapi monster itu dengan cara seperti ini.
Kecuali jika ada pemilik sihir dark red.
Tunggu. Dark
red? Bukankah─
“Han Taeyoung.
Hancurkan monster ini sekarang!” teriak Kyuhyun tiba-tiba.
Taeyoung
tersentak, dan ketiga yeoja lainnya otomatis menatap ke arahnya. Yeoja
itu menggigit bibir, bingung dengan apa yang harus dia lakukan untuk
menghancurkan monster itu juga takut karena mendapat tatapan memaksa dari
keempat namja yang masih bertarung di sana.
“Taeyoung,
cepatlah!” perintah Donghae dengan napas tersengal-sengal, butuh tenaga banyak
untuk menghadapi monster ini!
“Apa yang harus
aku lakukan?” tanya Taeyoung panik pada ketiga yeoja lainnya.
“Eonni cukup
memokuskan pikiran pada satu hal.” balas Saera tak yakin.
Taeyoung
mencoba mengikuti saran Saera. Sial! Kenapa tak bisa fokus? maki Taeyoung dalam
hati, matanya mengamati namja-namja itu sementara ia masih mencoba
memokuskan pikiran guna menghancurkan monster tersebut.
Jongwoon
kembali menghindar setelah berhasil menebas dahan pohon itu sekali, dia
mengumpat kesal begitu melihat dahan yang ditebasnya tumbuh kembali dengan
cepat. Ekor mata Jongwoon kemudian melirik ke arah Taeyoung, berharap yeoja
itu bisa mengeluarkan sihirnya.
“Young,
cepat─AKH!” Lengah, tubuh Jongwoon terangkat ke atas hingga tak menapak tanah.
Dan dalam beberapa detik, namja itu bisa merasakan napasnya menyesak
sebab cekikan yang terlalu kuat di lehernya.
“Hyung!”
“Oppa!”
Semuanya
berteriak panik melihat Jongwoon yang tampak kesakitan. Para namja
berusaha memotong dahan yang mencekik Jongwoon, namun semakin mereka berusaha,
semakin dahan itu naik ke atas.
“Taeyoung,
cepatlah! Kau ingin membunuh Hyungku?!” bentak Donghae emosi.
Taeyoung
menggigit bibir bawah semakin kencang hingga asin darah terasa sambil
memejamkan mata erat-erat, suara orang-orang sahut-menyahut di
telinganya─menyuruhnya segera mengeluarkan kekuatannya, namun tak dia hiraukan
sama sekali.
Taeyoung mungkin
hanya sekali melihat Jongwoon dicekik di atas tanah, namun efek yang dirasakan
tubuhnya sangatlah hebat. Taeyoung merasakan emosi terkumpul di dadanya,
meluap-luap hingga ia merasa akan meledak. Tidak boleh ada yang melukai
Jongwoon, bagaimana pun, namja itu pernah menyelamatkannya dari
kematian. Dan sebenci apa pun akal Taeyoung pada Jongwoon karena telah membuat
perasaannya terombang-ambing tak jelas, Taeyoung tetap tak bisa memungkiri
bahwa nuraninya tak membenci Jongwoon sama sekali. Di dalam nuraninya, nama
Jongwoon malah samar-samar tercetak.
Sinar dark
red lambat-laun menyelubungi tubuh Taeyoung, dan dalam sekali waktu,
Taeyoung sempat merasa rohnya keluar dari tubuh.
“ARGH!”
Jongwoon
benar-benar merasakan napasnya sudah berada di ujung tanduk saat tiba-tiba saja
tubuhnya terempas ke bawah dan monster itu hancur dalam sekali kedip. Namja
itu mengerang saat punggungnya membentur tanah dengan sangat keras, dia
menerima uluran tangan saudara-saudaranya yang membantu ia berdiri.
Di sisi lain,
Taeyoung merasa energi yang dimilikinya terkuras habis hanya karena dia
melakukan sihir itu. Lututnya terasa lemas hingga Taeyoung kehilangan
keseimbangan. Beruntung, Hyerin dengan sigap menangkap tubuh yeoja itu sebelum
benar-benar membentur tanah.
“Kau berhasil,
Young..” bisik Hyerin senang.
Hyunmi dan
Saera memberikan senyum bangga pada Taeyoung yang dibalas yeoja itu
dengan senyum tipis sebelum matanya tiba-tiba saja membulat panik saat melihat
Jongwoon yang tengah dipapah. Taeyoung segera menepis tangan Hyerin dari
bahunya, dia merasa mendapatkan energi kembali hanya karena melihat keadaan
Jongwoon yang tampak menyedihkan.
Kepergian
Taeyoung diikuti oleh pandangan aneh ketiga yeoja yang tersisa, namun
tak lama, ketiga yeoja itu mengerjap lalu mendesah samar.
“Oppa, gwaenchana?”
tanya Taeyoung panik ketika sudah sampai di hadapan Jongwoon.
Jongwoon tak
bisa menahan segaris senyum yang dilengkungkan bibirnya melihat kepanikan
Taeyoung. Namja itu melepaskan tangannya dari bahu Hyukjae dan Kyuhyun
lantas merengkuh Taeyoung ke dalam pelukannya dengan sekali gerakan.
“Gomawo,
kau hebat.” bisik Jongwoon lirih sembari mengeratkan pelukannya. Namja
itu menghirup aroma rambut Taeyoung sesekali, meresapi perasaan nyaman yang
selalu menyelip ke dalam hatinya saat Taeyoung berada dalam dekapannya.
Jongwoon
menempelkan bibirnya di pelipis Taeyoung, tersenyum dalam hati. Jika saja waktu
bisa dibekukan untuk selamanya, dia akan bahagia sebab Taeyoung berada dalam
lengannya.
Taeyoung bisa
merasakan jantungnya berdebar menyalahi aturan saat merasakan bibir Jongwoon di
pelipisnya. Tangannya bergerak membalas pelukan Jongwoon dengan tak kalah erat.
Taeyoung memejamkan mata, dan dia merasakan ketenangan mengalir ke dalam
darahnya hanya karena berada dalam pelukan Jongwoon.
Perang, iblis,
kesakitan, dan segala macam yang berhubungan dengan kematian serasa lenyap dari
pikirannya untuk sesaat. Hanya ada Jongwoon dalam pikirannya sekarang.
Saat lengan
Jongwoon yang melingkar di pinggangnya semakin erat, Taeyoung tersenyum dan
balas melingkarkan lengannya semakin erat hingga udara pun tak bisa masuk
karena tak ada sedikit pun celah yang tersisa di antara mereka.
***
“Aish, kenapa
aku harus melihat drama seperti ini di depan mataku..” keluh Kyuhyun sembari
mengalihkan pandangannya dari Jongwoon dan Taeyoung. Donghae dan Hyukjae
terkesiap dari lamunan mereka mendengar keluhan Kyuhyun, keduanya menoleh ke
arah namja itu. Donghae mengangkat bahu, sedangkan Hyukjae hanya
menghela napas sekali.
Donghae
tertegun di tempatnya beberapa saat sebelum menghampiri Hyerin yang masih
memandangi Jongwoon dan Taeyoung, namja itu menepuk bahu Hyerin dengan
pelan. Saat Hyerin menoleh, Donghae menanyakan keadaannya lewat isyarat mata.
Hyerin tersenyum untuk menjawab bahwa dia baik-baik saja, dan Donghae hanya
dapat mengangguk lalu membalas senyum Hyerin.
Saera
mengembuskan napas jengah melihat sekarang Donghae dan Hyerin sedang saling
memandang dengan lembut, matanya mengedar ke sekeliling. Mata Saera berhenti di
satu titik, kernyitan sempat mampir di keningnya begitu mendapati Kyuhyun
tengah menatapnya intens. Saera terdiam, mau tak mau larut dalam tatapan dalam
Kyuhyun yang serasa menariknya masuk ke dalam. Mengundangnya untuk menyelami
perasaan Kyuhyun lebih jauh, mengundangnya untuk memecahkan teka-teki mengenai
perasaan abstrak yang tengah mereka rasakan saat ini.
Hyukjae juga
tengah memandangi Hyunmi sekarang, dia
tak perlu merasa takut Hyunmi akan membalasnya dengan tatapan membunuh sebab yeoja
itu sedang menatap ke arah langit dengan pandangan menerawang. Ada ngilu di
hatinya saat teringat bagaimana ekspresi terluka Hyunmi mengetahui bahwa
Hyukjaelah kekasih Ahna dulu.
Hyunmi tahu
Hyukjae sedang memandanginya, namun Hyunmi enggan menoleh. Egonya masih sangat
besar. Hyunmi menghela napas, lalu berdeham─membuat 7 orang yang sedang sibuk
dengan dunia masing-masing terperanjat, Jongwoon dan Taeyoung bahkan sampai
buru-buru menjauhkan diri satu sama lain dengan gerakan canggung.
“Bisakah kita
lanjutkan perjalanan sekarang? Bukankah iblis itu harus segera dilenyapkan?”
***
“Iblis itu
sudah mengawasi kita sejak kita ada di bumi.” jelas Kyuhyun selama mereka
melanjutkan perjalanan.
Perjalanan kali
ini dipimpin oleh Kyuhyun dan Saera, keduanya berada paling depan daripada yang
lain. Berjaga-jaga jika terjadi serangan mendadak lagi seperti tadi. Jarak ke
bukit sudah semakin dekat, bahkan sekarang mereka hampir mencapai kaki bukit.
Donghae dan
Hyerin berjalan paling belakang dalam kesunyian, keduanya menatap lurus ke
depan. Pikiran Hyerin penuh dengan kejadian yang baru saja mereka alami tadi,
sedangkan pikiran Donghae penuh dengan keselamatan Hyerin. Untuk pertama
kalinya dalam hidup Donghae takut ia tidak bisa menjaga seorang yeoja─well,
Donghae biasanya tidak terlalu peduli pada yeoja manapun.
“Kejadian
tadi...” Donghae menolehkan kepala pada Hyerin yang berkata gantung, menatapnya
lekat menunggu kelanjutan ucapan Hyerin. Hyerin balas menatap Donghae, “apa
kita akan mengalaminya lagi Oppa?”
Donghae
menghela napas, lantas meraih tangan Hyerin, “Gwaenchana, aku akan
melindungimu.” katanya sambil tersenyum menenangkan, “Lagipula bukitnya sudah
dekat, kita akan baik-baik saja.”
Ucapan Donghae
membuat Hyerin merasa sedikit tenang, dia mengangguk dan tersenyum. Hyerin
melirik ke arah tangannya dan tangan Donghae yang saling bertautan, ingatan
tentang Yoona tiba-tiba saja melintas di kepalanya membuat Hyerin perlahan
melepaskan tangannya dari tangan Donghae. Donghae menatapnya heran─ada sedikit
luka yang tergores di hatinya menyadari Hyerin menolaknya─namun Hyerin sama
sekali tak memedulikan tatapan Donghae.
Hyerin
mengembuskan napas diam-diam begitu merasa Donghae tak lagi menatap ke arahnya,
yeoja itu memalingkan wajah ke arah lain, lantas langkahnya tiba-tiba
saja berhenti melihat bunga lily di sebelah kanannya. Bunga lily itu sangat
indah. Hyerin melirik teman-temannya sekilas sebelum akhirnya berjalan ke arah
bunga lily itu, dia hanya perlu mengambilnya tanpa diketahui siapa pun.
“Hyukjae-ya,
apa ada berita mengenai peperangan dari Kibum?” tanya Donghae pada Hyukjae yang
berjalan beberapa langkah di depannya.
Hyukjae
menengok ke belakang tanpa menghentikan langkahnya. “Aniyo, Hae-ya.
Aku khawatir dengan keadaan mereka semua,” jawabnya dengan nada muram,
“omong-omong ke mana Hyerin?” tanyanya kemudian ketika tak melihat Hyerin
berjalan di samping Donghae.
Donghae
mengernyit. Hyerin? Saat dia memutar kepala ke belakang untuk melihat apakah
Hyerin tertinggal, matanya sontak membulat panik saat tangan Hyerin akan
menyentuh kelopak bunga lily.
“Ya! Han
Hyerin! Jangan disentuh!” teriak Donghae sambil cepat-cepat berlari ke arah
Hyerin.
Semua yang
kaget mendengar teriakan Donghae sontak berhenti melangkah dan menatap ke
arahnya. Para namja refleks menghela napas lega melihat Donghae berhasil
menggagalkan rencana Hyerin mengambil bunga itu, sementara para yeoja
hanya mencebik, tak mengerti mengapa masalah bunga saja sampai
dilebih-lebihkan. Mereka akhirnya hanya berdiri di masing-masing tempat,
menunggu Donghae dan Hyerin berada dalam jarak jangkauan mereka lagi.
“Aish Oppa,
apa-apaan kau!” marah Hyerin sambil menyentakkan tangan Donghae dan
mengerucutkan bibir, “aku hanya ingin memetik bunga lily ini!”
“Kau harusnya
berterimakasih padaku. Bunga ini akan memakanmu jika tadi kau petik.” balas
Donghae kesal.
“MWO?!”
Mata Hyerin melebar tak percaya, namun ekspresinya terlalu menggemaskan hingga
Donghae tak tahan untuk tak mencubit pipi yeoja itu.
“Aigo,
kau in─”
Ucapan Donghae
terhenti begitu saja ketika sesuatu menggigit kakinya. Namja itu
merasakan tubuhnya bagai disengat listrik jutaan volt, lantas
saraf-saraf yang ada ditubuhnya serasa membeku sebelum perih yang menyengat
menjalar ke semua bagian tubuhnya. Donghae terjatuh tiba-tiba, lalu mengerang
kesakitan membuat semua orang yang sebelumnya terpaku─karena kejadian yang
terlalu cepat itu─berlari ke arah Donghae. Kyuhyun segera membunuh ular yang
baru saja menggigit Donghae dengan sihir detch.
“Shit!
Ini ular kiriman, bisanya membunuh.” gumam Jongwoon yang terdengar cukup keras.
Dengan sakit yang tak ada duanya, bahkan akan lebih baik mati sekaligus
daripada mati perlahan-lahan dengan cara seperti ini. lanjut para namja
dalam hati, kepanikan menguasai pikiran mereka.
“Donghae,
Donghae! Kau mendengarku? Jawab! Donghae!” seru Hyukjae panik sambil memukul-mukul
pipi Donghae pelan, Donghae hanya mengerang sebagai respons, kesadaran yang
dimilikinya tinggal setengah. Dia terlalu sibuk dengan rasa sakit yang
dirasakannya.
Semuanya sibuk
berbicara pada Donghae, mencoba membuat Donghae tetap sadar. Bahkan Hyunmi,
Taeyoung, dan Saera pun ikut mengguncang-guncang tubuh Donghae, meninggalkan
Hyerin yang terpaku sendirian karena kejadian yang terlalu cepat terjadi di
depan matanya.
“OPPA!”
teriak Hyerin setelah sadar dari keterkejutannya, yeoja itu menerobos
tubuh teman-temannya. “Oppa, kau mendengarku? Aku mohon bertahanlah Oppa..”
pinta Hyerin dengan mata berkaca-kaca, yeoja itu menggenggam tangan
Donghae sambil mengguncangkannya dengan lembut.
“Apa tidak ada
sihir yang bisa menyembuhkan Donghae Oppa?” tanya Saera pada siapa pun
yang mau menjawab.
Kyuhyun menatap
ke arahnya, menghela napas. “Sihir seperti itu tidak ada, yang ada hanya obat
untuk menyembuhkannya. Dan itu pun berarti kita harus kembali ke istana untuk
menemui Yeonhee dan Kihwang, hanya mereka yang tahu bagaimana meracik obat
untuk menyembuhkan seseorang dari sengatan bisa.”
“Ayo kita
kembali ke istana kalau begitu..” sela Hyerin yang mendengar percakapan mereka.
Para namja
menatap Hyerin tajam, “Dan membiarkan lebih banyak orang mati karena kelambatan
kita?” tanya Jongwoon tegas.
Sebulir air
mata jatuh membasahi pipi Hyerin mendengar perkataan Jongwoon. “Lalu kita akan
membiarkan Donghae Oppa mati, begitu?” tanyanya dengan nada menajam.
“Tidak, kau
kira aku akan membiarkan saudaraku mati?” balas Hyukjae sengit.
“LANTAS MENGAPA
KALIAN TIDAK MAU MEMBAWA DONGHAE OPPA KE ISTANA, HAH?!” bentak Hyerin
emosi, dia tak akan membiarkan Donghaenya mati begitu saja. Kini Hyerin tak
lagi menyangkal isi hatinya yang menginginkan Donghae, dia telah jatuh cinta
pada namja ini.
“Kami sedang
berpikir Hyerin-ah, bisakah kau tenang?” tanya Kyuhyun kasar.
“Lembutkan
suaramu saat berbicara pada dongsaengku, Oppa.” desis Hyunmi tak
terima.
Suasana menjadi
memanas setelah perdebatan singkat itu. Masing-masing dari mereka saling
menatap tajam satu sama lain.
“ARGH!”
“Donghae!”
“Oppa!”
Suara tawa
jahat tiba-tiba saja menggema di udara saat semuanya semakin panik dengan
keadaan Donghae.
“Menyerahlah
sekarang atau satu persatu dari kalian akan mati di tanganku..” nadanya
terdengar berat dan dalam, bergema beberapa lama sebelum menghilang.
“Apa sihir yang
aku punya?” tanya Hyerin begitu mereka terdiam dalam hening yang cukup lama.
Para namja
seolah tersentak dari pemikiran mereka, dan para yeoja menatap Hyerin
dengan bingung.
“Tsk! Aku lupa
kalau kita punya pengguna sihir dark green.” decak Kyuhyun, raut
khawatir di wajahnya memudar dan wajahnya terlihat lebih cerah dengan senyum
manis. “Hyerin-ah, kau bisa menyembuhkan Donghae kalau kau tahu cara
mengeluarkan sihirmu.”
Hyerin
mematung, sebelum akhirnya mendekatkan diri dan mencium Donghae tepat di bibir.
Mereka terangkat ke udara untuk beberapa saat dengan cahaya dark green
yang menyelimuti tubuh keduanya sebelum kembali ke bawah.
Semuanya terperangah
atas kejadian yang baru saja terjadi di depan mereka, shock.
“I-itu uri
Hyerin yang manis dan polos?” bisik Taeyoung shock.
Donghae membuka
mata, tersenyum saat melihat wajah Hyerin pertama kali─beberapa senti dari
wajahnya. Tangan Donghae terangkat untuk mengelus pipi Hyerin, senyumnya
bertambah manis.
“Gomawo..”
Jongwoon
berdeham melihat Donghae mendekatkan wajahnya pada Hyerin. “Hae, kita perlu
melanjutkan perjalanan kalau kau ingat.”
Hyerin dan
Donghae langsung salah tingkah. Hyerin bergegas berdiri di dekat teman-temannya
dengan wajah memerah, begitu pun Donghae.
“Uh, uri
Hyerin sudah berani mencium namja ternyata..” goda Hyunmi yang mau tak
mau membuat semua orang tergelak melihat wajah Hyerin yang sudah memerah
maksimal.
Sedikit tawa mereka
bagi di tengah-tengah kebimbangan.
***
“O-ow, Eonnideul,
Oppadeul, lihatlah ke arah selatan.”
Suara terkejut
Saera menghentikan gema tawa di antara mereka, serentak, semuanya langsung
memutar kepala ke arah selatan. Rahang mereka langsung terjatuh ke bawah
melihat banyaknya bayangan abu-abu yang menunggangi pegasus di sana, dilengkapi
tombak, pedang, dan berbagai senjata tajam lainnya untuk menyerang.
“Mereka
mengejar kita ke sini..” bisik Hyukjae sambil mengatupkan rahangnya kembali.
Belum sempat
keterkejutan mereka berakhir, suara pegasus yang mendarat di sebelah kanan
terdengar. Mereka kembali memutar kepala ke kanan, mengembuskan napas melihat
Kibum dan beberapa pasukan perang mendarat di sana.
“Pergilah, biar
kami yang menahan mereka. Kalian harus segera menyelesaikan semua ini.” titah
Kibum tegas.
Lalu suara
pedang saling menyambar, tombak, panah, terdengar. Semua pasukan istana maju ke
depan untuk melindungi para pangeran, mereka berperang dengan segala pengabdian
yang mereka miliki.
Para yeoja
menutup mulut mereka rapat-rapat melihat banyaknya nyawa berjatuhan di hadapan
mereka, terbunuh dengan darah yang mengalir deras dari setiap bagian tubuh
mereka.
“Ayo pergi!”
Para namja tak menyia-nyiakan kedatangan Kibum dan pasukan istana,
mereka segera meraih tangan yeoja masing-masing dan membawa mereka
berlari menuju bukit, tak memedulikan ekspresi tersentak para yeoja.
Mereka semua
berlari dalam kecemasan, dan otak Hyunmi tak berhenti memikirkan mimpinya. Dia
bahkan tak menolak untuk berlari bersama Hyukjae sambil berpegangan tangan
saking kalutnya dengan keadaan sekarang.
***
“Ah, aku tidak
kuat lagi. Ini melelahkan, tidak bisakah kita berhenti sebentar?” keluh Hyunmi
sambil menopang tangannya di lutut, napasnya terengah-engah karena tak berhenti
berlari hingga hampir di puncak bukit.
“Keadaan sedang
seperti ini dan kau meminta istirahat?” tanya Kyuhyun tak percaya, Hyunmi
mendelik padanya.
“Oppa,
kenapa kita tidak berteleportasi saja? Kurasa, aku juga lelah..” imbuh Hyerin
lalu terduduk di rumput, dia meluruskan kakinya dengan keringat bercucuran.
“Kita tidak
bisa melakukan teleportasi di bukit suci, Hyerin-ah. Bangunlah, sebentar
lagi kita sampai.” balas Donghae sembari mengulurkan tangannya pada Hyerin.
Hyerin menatap tangan Donghae sekilas, lalu menerimanya dengan rona merah samar
ketika ingatan beberapa menit lalu menghantui kepalanya.
Taeyoung dan
Saera mendekati Hyunmi, masing-masing mengulurkan sebelah tangan mereka,
tersenyum. “Eonni, ayo. Sebentar lagi semuanya akan berakhir..”
Hyunmi menatap
tangan keduanya bergantian, hatinya menghangat. Dia merasa disayangi lagi
seperti saat Ahna masih ada. “Ayo, maaf sudah mengeluh..”
10 menit
kemudian mereka telah sampai di sebuah lapangan yang sangat luas. Lapangan itu
berbentuk segiempat dengan garis putih di pinggirnya, seolah menjadi pembatas.
Semuanya menatap tegang ke arah lapangan, jantung mereka berdegupan tak
terkendali.
“Ayo masuk.” titah
Jongwoon setelah menenangkan diri sebelumnya. Dia melangkahkan kakinya melewati
garis putih, namun tiba-tiba saja Jongwoon terlempar keluar lagi.
“Hyung,
kau tidak apa-apa?” tanya Kyuhyun terkejut.
“HAHA, kalian
pikir semudah itu menghancurkanku?!” suara dalam dan berat ini lagi.
Semuanya
menatap horor ke arah sumber suara, napas mereka mereka tercekat ditenggorokan
melihat mata merah yang menatap mereka tajam dibalik tudung jubah yang
dikenakannya. Tubuhnya melayang, dan yang terlihat hanya asap hitam di bagian
paling bawah tubuhnya, tidak ada kaki. Dan meskipun namja-namja itu tidak
mengatakan apa pun pada para hisami sebelumnya, para hisami tentu
tahu bahwa sosok di depan mereka adalah sang iblis yang lepas.
“Kami akan
mengirimmu kembali ke Neraka, percayalah.” balas Hyukjae. Rahangnya terkatup
rapat hingga suara gertakkan giginya terdengar.
Iblis itu
melirik Hyukjae lewat sudut matanya, tersenyum mengerikan─bahkan lebih
mengerikan daripada senyum setan yang dimiliki Kyuhyun. “Ah, kau. Terimakasih
telah melepaskan segel bodoh itu!”
“Kau..” Hyukjae
mengepalkan tangan, sinar putih sudah menyelimuti tubuhnya perlahan-lahan saat
Jongwoon mencengkeram bahunya.
“Tenang Hyuk,
dia tidak nyata.”
“Apa maksudmu
dengan tidak nyata Oppa? Jelas-jelas iblis itu ada di hadapan kita!”
seru Taeyoung dengan suara bergetar.
“Tidak ada roh
jahat yang bisa memasuki bukit ini Taeyoung.” balas Donghae, “Ini hanya ilusi
kita.” sambungnya sambil memejamkan mata.
Suara tawa
iblis itu semakin keras, namun nyatanya, iblis itu memang tak berbuat apapun
pada mereka.
“Hati kita
diselimuti perasaan buruk, itu sebabnya kita tidak bisa memasuki lapangan itu.”
lanjut Kyuhyun, dia menjeda perkataannya sebentar untuk menarik napas. “Kita
harus menghilangkan semua perasaan buruk itu. Saera, kemarilah, ulurkan
tanganmu.” perintah Kyuhyun kemudian, meski tak mengerti, Saera menurutinya.
Donghae,
Hyukjae, dan Jongwoon mengerti. Mereka berdelapan membentuk lingkaran kecil di
pinggir lapangan dengan tangan saling menggenggam tangan satu sama lain.
“Pejamkan mata
kalian, rilekslah dan buang semua perasaan buruk yang kalian miliki.”
“Hyunmi,
maafkan aku, untuk sementara, singkirkan dendammu padaku.” Hyukjae berbisik di
pikiran Hyunmi, Hyunmi menarik napas, menjawab “ne..”
tanpa gairah.
Mereka
tiba-tiba saja sudah berada di lapangan, berada pada masing-masing posisi.
Jongwoon dan Taeyoung berada di sudut utara sebelah kanan sementara Hyukjae dan
Hyunmi berada di sudut utara sebelah kiri, Donghae dan Hyerin berada di sudut
selatan sebelah kiri sedangkan Kyuhyun dan Saera berada di sudut selatan sebelah
kanan.
“Ayo kita
mulai.” kata Jongwoon, dia menggenggam tangan Taeyoung erat dengan tangan
kanannya, sementara tangan kirinya ia arahkan ke langit. Pelan-pelan, dari
tangan kiri Jongwoon keluar sinar light red bercampur dark red,
sinar itu melaju ke udara, membelah langit hingga belahan Negeri paling selatan
pun pasti bisa melihat sinarnya.
Yang lain
mengikuti hingga delapan warna bersatu di langit, angin di sekitar mereka
bertiup dengan kencang, daun-daun berterbangan ke mana-mana, tanah yang mereka
pijak bergetar, dan delapan warna yang membelah langit pelan-pelan membentuk
lubang hitam. Lubang itu gelap, seolah tak berdasar.
Para namja
memperkuat genggaman tangan pada yeoja masing-masing hingga mereka dapat
melihat iblis itu datang terseret cahaya yang membelitnya, berteriak marah dan
bersumpah akan menuntut dendam. Iblis itu berusaha melawan saat cahaya yang
membelitnya membawanya pada lubang hitam, dia mengeluarkan suara nyaring yang
bisa menghancurkan gendang telinga.
“Saera, tetap
konsentrasi..” ujar Kyuhyun saat merasakan cahaya yang Saera keluarkan menipis,
membuat iblis itu bertahan di permukaan lubang.
“Oppa,
sakit.” Saera membalas perkataan Kyuhyun dengan lirih, matanya berkaca-kaca
menahan rasa sakit yang ditimbulkan oleh suara nyaring tadi. Kyuhyun memang
terlambat mengeluarkan sihir penangkalnya hingga mereka berdua merasa gendang telinga
mereka seakan mau pecah, Kyuhyun tentu saja bisa bertahan sebab dia namja,
efek yang diterimanya bisa ia tahan. Namun Saera?
Kyuhyun
menggigit bibir, tak tega melihat keadaan Saera. “Bertahanlah sebentar lagi,
kau pasti bisa. Aku percaya padamu..”
Kyuhyun percaya
padamu, hatinya Saera berbisik. Dia membangun tenaganya kembali mendengar
perkataan Kyuhyun, menekan rasa sakit yang menyelimutinya hingga ke tingkat
paling rendah. Dan Saera berhasil, cahaya miliknya kembali menebal, mendorong
iblis itu masuk ke dalam hingga sumpah-serapah yang di keluarkannya tak lagi
terdengar.
Semuanya jatuh
terduduk begitu lubang itu menutup dengan segera, tanah berhenti bergetar, dan
angin kembali berembus dengan normal. Napas mereka terengah-engah atas sihir
yang mereka baru saja lakukan. Setengah tak percaya mereka dapat melakukan
sihir ini, sihir yang para tetua bilang merupakan sihir paling sulit untuk
dikuasai.
“Kita
berhasil?” bisik Hyerin lega. Donghae menganggukkan kepala, tersenyum sambil
menggoyangkan tangan Hyerin.
Namun saat
itulah Hyukjae melihat sosok transparan muncul dari langit lubang hitam tadi muncul,
dan sosok itu menuju ke arah─
“KYU!” Hyukjae
melebarkan mata, bergegas bangkit dari duduk dan berlari secepatnya kearah
Kyuhyun.
Kyuhyun beserta
yang lainnya menoleh pada Hyukjae, dan waktu seakan berhenti berdetik ketika
seseorang terbanting keluar lapangan. Mata mereka mengerjap, terlalu terkejut
dengan kejadian sangat cepat itu sebelum akhirnya mata mereka membulat akibat
terjaga.
“ANDWAE!”
***
Lutut Hyukjae
jatuh ke tanah melihat tubuh Kyuhyun sudah tergeletak tak bernyawa di bawah
pohon sana. Air matanya jatuh begitu saja saat dia perlahan-lahan menghampiri
tubuh kaku Kyuhyun yang dalam sekejap sudah di kelilingi oleh yang lainnya.
Saera menyimpan
kepala Kyuhyun di pangkuannya sambil menepuk-nepuk pipi namja itu
lembut, air matanya mengalir saat Jongwoon─yang meletakkan tangannya di hidung
Kyuhyun untuk mengecek apakah dia masih hidup atau tidak─menggeleng pelan,
tanda Kyuhyun sudah pergi.
“Oppa,
bangunlah. Jangan mengerjai kami di saat seperti ini..” kata Saera sambil
terisak, Hyerin dan Taeyoung memeluk yeoja itu dari samping, mata mereka
juga sudah mengeluarkan air mata semenjak tahu bahwa Kyuhyun meninggal.
Kejadiannya sangat cepat, dan kejadian ini benar-benar tak terduga. Walau
mereka tak begitu mengenal sosok Kyuhyun, namun kehilangan orang yang sama-sama
berjuang dengan mereka tentu saja menyakitkan.
Jongwoon
memukul tanah dengan air mata yang berjatuhan, menyesal karena lagi-lagi dia
lalai dalam menjaga dongsaengnya. Dongsaeng yang dia sayangi
harus pergi. Sementara Donghae hanya menunduk. Kaca tipis di matanya pecah
begitu saja. Dulu ia memang sering sekali berharap Kyuhyun tak ada karena
sifatnya yang evil, namun kini, Donghae sungguh tak mau kehilangan dongsaengnya
itu. Dia menyayangi dongsaengnya.
Mereka ingin
melihat Kyuhyun bangun, tersenyum evil seperti biasa sambil meneriakkan kata
bercanda pada mereka. Namun melihat keadaan sekarang, apakah Kyuhyun akan
bangun dan melakukan harapan mereka? Semuanya menunduk, terisak di depan jasad
Kyuhyun.
Hyunmi
buru-buru menyusap setitik air mata yang jatuh dari kelopak matanya melihat
keadaan semua orang, dia bergegas mengalihkan pandangan ke arah lain saat wajah
Hyukjae tiba-tiba saja sudah ada di depannya. Menarik ia sedikit jauh dari
orang-orang.
“Aku mohon
kembalikan Kyuhyun.” kata Hyukjae dengan mata memerah.
Hyunmi
menyerngit, lalu tersenyum sinis. “Apa yang bisa aku lakukan? Dia sudah mati.”
Hyukjae mengepalkan
tangan menahan amarah, “Sekali ini saja Mi-ya, kau bisa memanggil roh
seseorang untuk kembali ke tubuhnya jika orang itu belum genap sehari
meninggal.”
Hyunmi diam,
tampak menimbang-nimbang. Saat matanya melirik ke arah Saera juga yang
lainnya─yang begitu kentara bahwa mereka menginginkan Kyuhyun kembali hidup─dia
menghela napas panjang. Hatinya bergetar. “Kenapa yang meninggal Kyuhyun, bukan
kau?”
Hyukjae menatap
simbol naga berantai di tangannya yang mulai bercahaya sedikit demi sedikit,
“Aku akan pergi sebentar lagi, selamatkanlah Kyuhyun, dia tidak bersalah dalam
hal apa pun.”
Hyunmi ikut
melirik simbol di tangan Hyukjae, ketakutan sedikit demi sedikit merambati
hatinya melihat simbol itu bercahaya. “Bagaimana caranya?”
Hyukjae
tersenyum, “Kau akan tahu saat kau ada di depannya, pergilah.”
Hyunmi
mengangguk, memutar tubuh hingga membelakangi Hyukjae dengan ketakutan yang
semakin besar lalu mulai melangkah ke arah orang-orang yang masih berduka.
Hyunmi menegang
saat Hyukjae tiba-tiba saja memeluknya dari belakang, bernapas di atas
kepalanya. “Aku tahu hatimu lembut, gomawo sudah mau mengabulkan
permintaanku.” Dan Hyukjae melepaskan Hyunmi dari dekapannya, memamerkan senyum
gusinya lalu menyuruh yeoja itu pergi.
“Aku tahu
Kyuhyun Oppa sangat menyebalkan, tapi aku benar-benar tak mau
kehilangannya.” raung Saera dipelukan Hyerin dan Taeyoung.
Hyunmi menghela
napas sebelum ikut menghambur ke pelukan mereka, “Uljima Saera-ya..”
“Ak-aku tak mau
kehilangan dia Eonni.” balas Saera.
Hyunmi memejamkan
mata, beberapa saat mencoba berkonsentrasi. Dan hasilnya, dia melihat Kyuhyun
di langit sana, ada ratusan roh orang lain yang juga sedang berkeliaran, napas
Hyunmi menyesak, itu adalah roh para prajurit.
Kyuhyun sedang
menatap mereka dengan pandangan sedih. Dalam benaknya, Hyunmi melihat dia
menghampiri Kyuhyun, membuat Kyuhyun terkejut.
“Kembali ke
tubuhmu sekarang Oppa.” titah Hyunmi. “Kau membuat dongsaengku
menangis.”
Kyuhyun
berusaha memasang senyum saat mengatakan, “Aku sudah mati seperti yang
kaukatakan.”
“Tsk. Monyet
itu bilang aku bisa membawamu kembali!” gerutu Hyunmi, Kyuhyun terkekeh.
“Tentu saja kau
bisa Hyunmi, tapi ini hanya satu kali seumur hidup. Kau yakin memberikannya
untukku?─Oh, dan jangan panggil Hyungku monyet.”
Hyunmi tertegun
beberapa saat sebelum mendecak, “Aku yakin. Ayo.” Hyunmi mengulurkan tangan.
Kyuhyun menerimanya dan ikut menghilang bersama Hyunmi.
***
“Eung..”
Kyuhyun mengerang saat merasakan kepalanya berputar hebat. Dan saat ingatannya
mulai pulih perlahan-lahan, hal yang pertama diingatnya adalah wajah Saera yang
sedang menangis. “Saera-ya?” panggil Kyuhyun linglung.
“Hiks, hiks.
Lihatlah Eonni, aku terlalu menginginkan evil itu hidup sampai
mendengar suaranya seperti itu.”
Saera menepis
pelukan Eonnideulnya dan menutup mata dengan tangan begitu mendengar
suara Kyuhyun. Taeyoung dan Hyerin sempat terperangah begitu melihat Kyuhyun
sedang menatap ke arah Saera, dan yang terpenting, dia bernapas. Hyunmi hanya
tersenyum tipis.
“KYU!” Donghae
dan Jongwoon melompat kegirangan begitu melihat Kyuhyun membuka mata. Dan
teriakan kedua namja itu berhasil membuat Taeyoung dan Hyerin tersadar.
“Kau hidup
kembali?” tanya Donghae semangat sambil mengusap air matanya.
“YA! Ini
benar-benar kau Oppa?!” tanya Taeyoung setengah berteriak.
Kyuhyun
berdecak, mengabaikan ekspresi kelewat semangat dua Hyung dan hisami
mereka lantas menatap lurus ke arah Saera yang tengah terperangah─yah, Saera
akhirnya menatap ke arah pangkuannya karena mendengar jeritan kelewat histeris
dari Jongwoon dan Donghae. Mulutnya terbuka, dan Kyuhyun mendapati dirinya
senang melihat ekspresi Saera yang menggemaskan.
Kyuhyun
tertawa, bangkit dari pangkuan Saera. “YA! Jangan pasang ekspresi babo
seperti itu.” serunya main-main sambil menusuk-nusuk pipi Saera gemas.
Saera masih
diam mencerna apa yang sebenarnya sedang terjadi di hadapannya sebelum menubruk
tubuh Kyuhyun dan membenamkan wajahnya di dada namja itu. “Jangan mati Cho
Kyuhyun, aku tak mau kehilanganmu..” bisik Saera sambil kembali terisak.
Kyuhyun sempat
terpekur beberapa saat begitu tahu respons Saera, namun tak lama dia tersenyum
dan melingkarkan tangannya di punggung Saera. “Aku tidak akan kemana-mana, uljima..”
Saat mata Kyuhyun tanpa sengaja bertatapan dengan Hyunmi, namja itu
menggumamkan kata “Gomawo..” tanpa suara yang dibalas Hyunmi dengan
anggukan singkat.
Semua─kecuali
Kyuhyun dan Saera─menatap Hyunmi meminta penjelasan.
“Ini... sihir Eonni?”
tanya Hyerin hati-hati, nada suaranya sangat pelan.
Hyunmi
mengangkat bahu sambil tersenyum tipis. “Eum, aku rasa seperti itu.”
Dan semuanya
melemparkan senyum atas jawaban Hyunmi. Mereka hanya diam memandangi Saera dan
Kyuhyun yang tenggelam dalam dunia kecil mereka.
***
Saera
melepaskan pelukannya saat dia sudah berhenti menangis, kepalanya tertunduk
begitu sadar ada 5─oh, 6 jika ditambah milik Kyuhyun─pasang mata yang tengah
mengamatinya dengan intens.
“Puas memeluk
Kyuhyun Oppa, Saera?” ledek Taeyoung.
Saera mendelik,
membuat yang lain tertawa keras dan Kyuhyun tersenyum tipis. Senang melihat
ekspresi tersipu─aneh─yang dikeluarkan yeoja galak seperti Saera. “Bukan
urusanmu Eonni.” sergah Saera sambil memalingkan wajah ke arah lain,
pipinya memanas.
“Omong-omong,
dimana Hyukjae? Kenapa aku tidak melihatnya menyambutku seperti kalian?” tanya
Kyuhyun begitu selesai tertawa.
Semuanya merasa
tertampar dengan pertanyaan Kyuhyun. Benar-benar baru sadar kalau Hyukjae tidak
ada di sekitar mereka. Lalu dimana namja itu?
Hyunmi
diam-diam menggigit bibir, merasa resah tiba-tiba.
“Entahlah Kyu,
aku baru sadar Hyukjae tak ada.” gumam Donghae. Jongwoon mengangguk menyetujui
perkataan Donghae.
“Kami tadi
terlalu cemas mengkhawatirkanmu Oppa..” imbuh Hyerin sambil mencoba
mengingat-ingat terakhir kali ia bertemu Hyukjae.
Hyunmi baru
saja akan membuka mulut untuk mengakui bahwa ia orang terakhir yang melihat
Hyukjae saat teriakan “HYUNG!” terdengar keras dari arah selatan. Dan
hatinya langsung bergemuruh saat semua orang berlari ke sumber suara, termasuk
dirinya yang tanpa sadar berlari paling depan.
Kaki mereka
terpaku di tanah begitu melihat pemandangan seperti apa yang tersaji di hadapan
mereka. Kibum, dengan luka di beberapa bagian tubuhnya tengah menangisi
seseorang yang tak lain adalah Hyukjae.
“Kau!
Perjanjian apa yang kaubuat dengan Hyukjae Hyung?” todong Kibum saat
melihat Hyunmi, namja itu berdiri, menatap Hyunmi tepat di mata dengan
tatapan membunuh yang dimilikinya.
“Ak.. aku
hanya.. kami..” ucapan Hyunmi tak beraturan, yeoja itu menghela napas
panjang untuk menenangkan dirinya. Keping hatinya terasa meretak saat melihat
Hyukjae terbaring di sana. Benar bahwa dia ingin kekasih Eonninya mati,
namun saat melihat Hyukjaelah orangnya, dia merasa ini sudah tidak benar lagi.
“Hyukjae berjanji akan membunuh kekasih Eonniku..” kata Hyunmi kemudian
dengan suara bergetar.
“Kang Ahna yang
kaumaksud?” tanya Jongwoon tiba-tiba, nadanya terdengar menusuk.
Hyunmi menelan
ludah, lantas segera menundukkan kepala setelah mengangguk.
“Kau tahu
Hyunmi?” Donghae memulai, namja itu memejamkan mata dan berusaha tak
melihat ke arah Hyukjae atau dia akan menangis. “Aku mengenal Ahna, dia yeoja
yang baik dan lembut, sangat mencintai Hyukjae. Dia pasti akan sedih mengetahui
dongsaeng kandungnya telah membunuh kekasih yang paling diinginkannya
untuk hidup.”
Hyunmi tak tahu
mengapa hatinya terasa sangat sakit mendengar perkataan Donghae, yang dia tahu,
dia kini telah berlutut di hadapan Hyukjae dengan air mata mengalir. Penyesalan
berlomba-lomba menyesaki hatinya saat ini juga.
“Mianhae..”
Saat semuanya
tak kuasa menahan tangis mereka melihat keadaan Hyukjae, keajaiban itu datang.
Secercah sinar emas mengangkat tubuh Hyukjae hingga ke langit, dan saat Hyukjae
kembali ke posisi awal, jantungnya berdetak lemah.
***
“Aish, pesta
ini benar-benar bising.” Kyuhyun menggerutu sambil menusuk-nusuk bulgoginya
dengan tidak bersemangat.
Saera yang ada
di hadapan Kyuhyun mendecak, jengah dengan gerutuan Kyuhyun yang sama sejak
satu jam lalu. Sedangkan tiga yeoja lainnya tampak tak peduli, mereka
sibuk melihat atraksi sihir yang ditampilkan oleh beberapa orang di depan sana
dengan wajah kagum.
Yah, satu hari
memang sudah berlalu sejak kejadian itu, dan malam ini Jungsoo memutuskan untuk
mengadakan pesta besar-besaran untuk merayakan kemenangan mereka.
Para hisami
diminta untuk tinggal selama 4 hari di istana. Sebenarnya mereka sudah ingin
pulang, namun karena Jungsoo yang meminta mereka secara khusus, mereka akhirnya
setuju. Sangat tidak sopan menolak permintaan Raja, bukan?
“Kyuhyun-ah,
diamlah. Aku bosan mendengar gerutuanmu yang sama daritadi.” gertak Jongwoon
sambil mendelik.
Kyuhyun balas
mendelik hingga keduanya saling menatap tajam sebelum Donghae memutuskan
tatapan keduanya dengan memukulkan dua sendok di garis tatapan mereka. “YA!
Jangan bertengkar di sini, lihatlah semua rakyat yang tengah bersenang-senang!”
“Em, aku
sebaiknya pergi.” Hyunmi memundurkan kursi tiba-tiba membuat perhatian keenam
orang itu tertuju padanya.
“Mau kemana Eonni?
Perlu aku temani?”
Hyunmi tak
menjawab, hanya menggeleng sambil memberikan cengiran pada Taeyoung.
“Aish, biarkan
dia pergi Youngie. Hyunmi pasti ingin merawat Hyukjaenya..” sela
Jongwoon setengah menggoda, Hyunmi hanya melemparkan tatapan sok polos pada
Jongwoon lalu pergi begitu saja dari hadapan mereka. Membuat mereka mendecak
heran.
Hyukjae memang
tidak mati, tapi dia harus beristirahat total di ruangannya untuk sehari.
Keajaiban dan kehendak Tuhan yang menginginkannya tetap hidup, bukit suci
memang gudang dimana keajaiban bisa terjadi dan semua tentu senang karena
mereka tidak harus kehilangan siapapun.
“Oh,
omong-omong, kemana kekasih kalian Oppa? Mengapa mereka tak datang ke
sini?” tanya Saera dengan nada suara yang aneh, dia sebenarnya benci menanyakan
hal ini, namun rasa penasarannya ternyata jauh lebih kuat hingga ia berani
bertanya.
Ketiga namja
itu menelan ludah mendengar pertanyaan Saera, mata mereka bergerak-gerak
gelisah begitu tiga yeoja di hadapan mereka menajamkan pandangan.
“Eum, entahlah,
mereka berbicara tentang rencana lusa dan gaun pesta yang─hell! Kenapa
kau menanyakan mereka?” balas Kyuhyun sebal.
Suara lonceng
berbunyi di depan, meminta perhatian. Dan itu sukses membuat Jongwoon juga
Donghae menghela napas lega, selamat dari pertanyaan terkutuk Saera.
Mereka menatap
lurus ke depan, menemukan Jungsoo yang tengah berdiri di tengah-tengah panggung
seorang diri.
“Aku tahu
kalian sedang bersenang-senang di sini, tapi aku hanya ingin menyampaikan
sebuah pengumuman.” Jungsoo tampak menghela napas lalu menatap ke arah
anak-anaknya berada sambil melemparkan senyum, “Melihat bagaimana Jongwoon
berhasil menjaga Negeri kita, aku berencana mempercepat penurunan tahta pada
Jongwoon menjadi tiga hari ke depan..” Sorakan riuh terdengar di sana-sini,
Jongwoon tak bisa menahan senyumnya saat Donghae dan Kyuhyun menghadiahinya
dengan ucapan selamat sementara ketiga yeoja di hadapan mereka ikut
tersenyum bahagia.
Taeyoung
menatap Jongwoon sambil diam-diam tersenyum lembut. Ah jadi karena alasan ini
Raja meminta mereka tinggal, pikirnya dalam hati. Jongwoon juga segera menatap
ke arah Taeyoung begitu selesai mengucapkan terimakasih pada setiap orang yang
memberikannya selamat. Keduanya bertatapan dengan lembut, seolah hanya ada
mereka berdua di sana hingga─
“Karena hal
itu, pernikahan Jongwoon dan Sooyoung juga akan dimajukan menjadi lusa. Para hisami
yang berperan penting untuk Negeri kita akan hadir di sana untuk menyaksikan
ikatan suci calon Raja dengan Ratunya..”
Dan taman-taman
penuh bunga yang Jongwoon juga Taeyoung bangun runtuh seketika, dunia serasa
rubuh menimpa badan mereka hingga terhimpit. Sementara keempat yang lain hanya
bisa menatap mereka iba.
TBC..