Entri yang Diunggulkan

Series Recommendations! đŸŽ„

Hi, happy Wednesday all! So decided to post my own personal series. I usually dont like watching movie, so because i watched those series ...

Senin, 29 Oktober 2012

Brotherhood, Magic, and.. Love (Seven: Part B)

kenapa lama? Alesannya karena ini tuh puncak fantasinya, dan ide fantasi aku tiba-tiba stuck. Aih, kapok bikin ff fantasi, imajinasinya harus bener-bener kuat, pendeskripsiannya juga harus ngena jadi kebayang. Yah, jadi, gitulah pokoknya, haha..

gatau gagal gatau engga sih, tapi seengganya aku udh ada niatan namatin ini ff gaje-__- mudah-mudahan ga terlalu ancur+ngecewain deh yaa :D

akhir kata, happy reading^^



SEVEN: Part B

Sulit mengubah takdir yang telah Tuhan gariskan untuk manusia, karena takdir itu mutlak. Namun jika kita percaya keajaiban Tuhan, bukan hal tak mungkin garis takdir akan berubah.

Dan sekarang, yang jadi pertanyaan adalah, percayakah kita pada keajaiban Tuhan?

***
D
 EBARAN jantung di dalam diri mereka semakin menggila seiring semakin dekatnya mereka dengan bukit suci. Bukit itu hanya berjarak satu kilometer lagi, begitu dekat, dekat menuju hal-hal tak terduga yang menanti mereka.

“Turun.” desis Kyuhyun lirih pada saudara-saudaranya. Atmosfer udara terasa aneh, dan Kyuhyun jelas tahu udara telah dimantrai oleh iblis itu.

Ketiga saudaranya mengangguk, mengerti dengan perkataan Kyuhyun karena mereka juga merasakan hal yang sama. 4 pegasus itu turun perlahan hingga menginjak tanah, mereka turun di tengah-tengah hutan.

“Kenapa berhenti?” tanya Hyerin begitu ia turun dibantu Donghae.

Jongwoon menggertakkan giginya sebelum menjawab, “Iblis itu sedang berusaha melacak keberadaan kita. Udara telah dimantrai.”

Empat yeoja itu diam, ketakutan yang mereka miliki semakin bertambah besar setiap saatnya mendengar perkataan Jongwoon. Rasanya sangat menyebalkan, seperti kau tengah dicekik sesuatu tak berwujud.

“Kita akan melanjutkan dengan berjalan, hanya ini cara yang aman bagi kita untuk sekarang.” imbuh Donghae, lantas mulai memimpin jalan memasuki hutan belantara yang terlihat sangat lebat. Kyuhyun dan Saera dibelakang, disusul Jongwoon dan Taeyoung, lalu Hyukjae juga Hyunmi yang sama-sama membisu.

Kesan pertama yang para yeoja tangkap saat memasuki hutan adalah, hutan ini seram; pohon-pohon tua yang besar dan menjulang tinggi terlihat di mana-mana, rerumputan liar saling membelit, kabut tipis yang menghalangi pemandangan di mana-mana, juga jangan lupakan suara burung hantu yang saling bersahutan.

Taeyoung mengedarkan pandangan ke sekeliling hutan, bulu kuduknya sesekali berdiri saat melihat keanehan yang ada di hutan ini. Yeoja itu makin mengeratkan cengkeraman tangannya pada baju Jongwoon saat matanya tanpa sengaja melihat sesuatu bergerak-gerak di balik semak-semak.

Oppa, apa itu?” tanya Taeyoung takut sambil menarik-narik jubah Jongwoon.

Jongwoon mengikuti arah pandangan Taeyoung, matanya seketika membulat saat sekelebat cahaya kuning terlihat dari celah-celah semak itu, menjalar menuju pohon besar yang tak jauh dari tempat Donghae dan Hyerin berjalan.

“Hae! Sihir discate!”

Semua sontak menoleh pada Jongwoon yang baru saja berteriak─termasuk Donghae. Donghae baru saja akan melakukan perintah Jongwoon saat tiba-tiba saja pohon besar di belakang Donghae bergerak, dan namja itu terbanting oleh dahan kayu besar yang terayun padanya.

Para yeoja memekik kaget melihat pohon itu hidup dan menyerang mereka, Kyuhyun dengan cekatan segera menyuruh para yeoja berlindung di belakang mereka.

Setelah membantu Donghae berdiri, keempat namja itu menyerang pohon─yang sekarang menjadi monster─bergantian dengan pedang glemor.

“Tak berhasil! Kita akan menghabiskan banyak waktu jika seperti ini terus.” teriak Hyukjae di sela-sela lompatannya guna menghindari serangan pohon itu.

Ketiga namja lainnya membenarkan ucapan Hyukjae dalam hati. Sambil menghindari serangan monster itu, mereka berpikir keras untuk menghancurkan monster ini.

Pohon besar itu jelas diberi sihir agar menjelma menjadi monster. Sejak Taeyoung melihat semak-semak bergoyang, itu adalah aliran sihir arosa, sihir pemberi roh, pemberi jiwa─dalam artian negatif─semua yang diberi sihir ini akan menjadi monster dan menyerang siapa saja yang ada di hadapannya.

Satu-satunya cara menangkis sihir ini adalah dengan sihir discate. Namun sihir itu pun harus dilakukan sebelum sihir arosa bereaksi, terlambat sedikit saja, maka satu-satunya cara menghadapi monster ini dengan bertarung tanpa ilmu sihir. Sihir discate pun harus dilakukan dalam jarak dekat, karena itu Jongwoon menyuruh Donghae.

Namun semuanya terlambat, dan mereka harus menghadapi monster itu dengan cara seperti ini. Kecuali jika ada pemilik sihir dark red.

Tunggu. Dark red? Bukankah─

“Han Taeyoung. Hancurkan monster ini sekarang!” teriak Kyuhyun tiba-tiba.

Taeyoung tersentak, dan ketiga yeoja lainnya otomatis menatap ke arahnya. Yeoja itu menggigit bibir, bingung dengan apa yang harus dia lakukan untuk menghancurkan monster itu juga takut karena mendapat tatapan memaksa dari keempat namja yang masih bertarung di sana.

“Taeyoung, cepatlah!” perintah Donghae dengan napas tersengal-sengal, butuh tenaga banyak untuk menghadapi monster ini!

“Apa yang harus aku lakukan?” tanya Taeyoung panik pada ketiga yeoja lainnya.

Eonni cukup memokuskan pikiran pada satu hal.” balas Saera tak yakin.

Taeyoung mencoba mengikuti saran Saera. Sial! Kenapa tak bisa fokus? maki Taeyoung dalam hati, matanya mengamati namja-namja itu sementara ia masih mencoba memokuskan pikiran guna menghancurkan monster tersebut.

Jongwoon kembali menghindar setelah berhasil menebas dahan pohon itu sekali, dia mengumpat kesal begitu melihat dahan yang ditebasnya tumbuh kembali dengan cepat. Ekor mata Jongwoon kemudian melirik ke arah Taeyoung, berharap yeoja itu bisa mengeluarkan sihirnya.

“Young, cepat─AKH!” Lengah, tubuh Jongwoon terangkat ke atas hingga tak menapak tanah. Dan dalam beberapa detik, namja itu bisa merasakan napasnya menyesak sebab cekikan yang terlalu kuat di lehernya.

Hyung!”
Oppa!”

Semuanya berteriak panik melihat Jongwoon yang tampak kesakitan. Para namja berusaha memotong dahan yang mencekik Jongwoon, namun semakin mereka berusaha, semakin dahan itu naik ke atas.

“Taeyoung, cepatlah! Kau ingin membunuh Hyungku?!” bentak Donghae emosi.

Taeyoung menggigit bibir bawah semakin kencang hingga asin darah terasa sambil memejamkan mata erat-erat, suara orang-orang sahut-menyahut di telinganya─menyuruhnya segera mengeluarkan kekuatannya, namun tak dia hiraukan sama sekali.

Taeyoung mungkin hanya sekali melihat Jongwoon dicekik di atas tanah, namun efek yang dirasakan tubuhnya sangatlah hebat. Taeyoung merasakan emosi terkumpul di dadanya, meluap-luap hingga ia merasa akan meledak. Tidak boleh ada yang melukai Jongwoon, bagaimana pun, namja itu pernah menyelamatkannya dari kematian. Dan sebenci apa pun akal Taeyoung pada Jongwoon karena telah membuat perasaannya terombang-ambing tak jelas, Taeyoung tetap tak bisa memungkiri bahwa nuraninya tak membenci Jongwoon sama sekali. Di dalam nuraninya, nama Jongwoon malah samar-samar tercetak.

Sinar dark red lambat-laun menyelubungi tubuh Taeyoung, dan dalam sekali waktu, Taeyoung sempat merasa rohnya keluar dari tubuh.

“ARGH!”

Jongwoon benar-benar merasakan napasnya sudah berada di ujung tanduk saat tiba-tiba saja tubuhnya terempas ke bawah dan monster itu hancur dalam sekali kedip. Namja itu mengerang saat punggungnya membentur tanah dengan sangat keras, dia menerima uluran tangan saudara-saudaranya yang membantu ia berdiri.

Di sisi lain, Taeyoung merasa energi yang dimilikinya terkuras habis hanya karena dia melakukan sihir itu. Lututnya terasa lemas hingga Taeyoung kehilangan keseimbangan. Beruntung, Hyerin dengan sigap menangkap tubuh yeoja itu sebelum benar-benar membentur tanah.

“Kau berhasil, Young..” bisik Hyerin senang.

Hyunmi dan Saera memberikan senyum bangga pada Taeyoung yang dibalas yeoja itu dengan senyum tipis sebelum matanya tiba-tiba saja membulat panik saat melihat Jongwoon yang tengah dipapah. Taeyoung segera menepis tangan Hyerin dari bahunya, dia merasa mendapatkan energi kembali hanya karena melihat keadaan Jongwoon yang tampak menyedihkan.

Kepergian Taeyoung diikuti oleh pandangan aneh ketiga yeoja yang tersisa, namun tak lama, ketiga yeoja itu mengerjap lalu mendesah samar.

Oppa, gwaenchana?” tanya Taeyoung panik ketika sudah sampai di hadapan Jongwoon.

Jongwoon tak bisa menahan segaris senyum yang dilengkungkan bibirnya melihat kepanikan Taeyoung. Namja itu melepaskan tangannya dari bahu Hyukjae dan Kyuhyun lantas merengkuh Taeyoung ke dalam pelukannya dengan sekali gerakan.

Gomawo, kau hebat.” bisik Jongwoon lirih sembari mengeratkan pelukannya. Namja itu menghirup aroma rambut Taeyoung sesekali, meresapi perasaan nyaman yang selalu menyelip ke dalam hatinya saat Taeyoung berada dalam dekapannya.

Jongwoon menempelkan bibirnya di pelipis Taeyoung, tersenyum dalam hati. Jika saja waktu bisa dibekukan untuk selamanya, dia akan bahagia sebab Taeyoung berada dalam lengannya.

Taeyoung bisa merasakan jantungnya berdebar menyalahi aturan saat merasakan bibir Jongwoon di pelipisnya. Tangannya bergerak membalas pelukan Jongwoon dengan tak kalah erat. Taeyoung memejamkan mata, dan dia merasakan ketenangan mengalir ke dalam darahnya hanya karena berada dalam pelukan Jongwoon.

Perang, iblis, kesakitan, dan segala macam yang berhubungan dengan kematian serasa lenyap dari pikirannya untuk sesaat. Hanya ada Jongwoon dalam pikirannya sekarang.

Saat lengan Jongwoon yang melingkar di pinggangnya semakin erat, Taeyoung tersenyum dan balas melingkarkan lengannya semakin erat hingga udara pun tak bisa masuk karena tak ada sedikit pun celah yang tersisa di antara mereka.

***

“Aish, kenapa aku harus melihat drama seperti ini di depan mataku..” keluh Kyuhyun sembari mengalihkan pandangannya dari Jongwoon dan Taeyoung. Donghae dan Hyukjae terkesiap dari lamunan mereka mendengar keluhan Kyuhyun, keduanya menoleh ke arah namja itu. Donghae mengangkat bahu, sedangkan Hyukjae hanya menghela napas sekali.

Donghae tertegun di tempatnya beberapa saat sebelum menghampiri Hyerin yang masih memandangi Jongwoon dan Taeyoung, namja itu menepuk bahu Hyerin dengan pelan. Saat Hyerin menoleh, Donghae menanyakan keadaannya lewat isyarat mata. Hyerin tersenyum untuk menjawab bahwa dia baik-baik saja, dan Donghae hanya dapat mengangguk lalu membalas senyum Hyerin.

Saera mengembuskan napas jengah melihat sekarang Donghae dan Hyerin sedang saling memandang dengan lembut, matanya mengedar ke sekeliling. Mata Saera berhenti di satu titik, kernyitan sempat mampir di keningnya begitu mendapati Kyuhyun tengah menatapnya intens. Saera terdiam, mau tak mau larut dalam tatapan dalam Kyuhyun yang serasa menariknya masuk ke dalam. Mengundangnya untuk menyelami perasaan Kyuhyun lebih jauh, mengundangnya untuk memecahkan teka-teki mengenai perasaan abstrak yang tengah mereka rasakan saat ini.

Hyukjae juga tengah memandangi  Hyunmi sekarang, dia tak perlu merasa takut Hyunmi akan membalasnya dengan tatapan membunuh sebab yeoja itu sedang menatap ke arah langit dengan pandangan menerawang. Ada ngilu di hatinya saat teringat bagaimana ekspresi terluka Hyunmi mengetahui bahwa Hyukjaelah kekasih Ahna dulu.

Hyunmi tahu Hyukjae sedang memandanginya, namun Hyunmi enggan menoleh. Egonya masih sangat besar. Hyunmi menghela napas, lalu berdeham─membuat 7 orang yang sedang sibuk dengan dunia masing-masing terperanjat, Jongwoon dan Taeyoung bahkan sampai buru-buru menjauhkan diri satu sama lain dengan gerakan canggung.

“Bisakah kita lanjutkan perjalanan sekarang? Bukankah iblis itu harus segera dilenyapkan?”

***

“Iblis itu sudah mengawasi kita sejak kita ada di bumi.” jelas Kyuhyun selama mereka melanjutkan perjalanan.

Perjalanan kali ini dipimpin oleh Kyuhyun dan Saera, keduanya berada paling depan daripada yang lain. Berjaga-jaga jika terjadi serangan mendadak lagi seperti tadi. Jarak ke bukit sudah semakin dekat, bahkan sekarang mereka hampir mencapai kaki bukit.

Donghae dan Hyerin berjalan paling belakang dalam kesunyian, keduanya menatap lurus ke depan. Pikiran Hyerin penuh dengan kejadian yang baru saja mereka alami tadi, sedangkan pikiran Donghae penuh dengan keselamatan Hyerin. Untuk pertama kalinya dalam hidup Donghae takut ia tidak bisa menjaga seorang yeojawell, Donghae biasanya tidak terlalu peduli pada yeoja manapun.

“Kejadian tadi...” Donghae menolehkan kepala pada Hyerin yang berkata gantung, menatapnya lekat menunggu kelanjutan ucapan Hyerin. Hyerin balas menatap Donghae, “apa kita akan mengalaminya lagi Oppa?”

Donghae menghela napas, lantas meraih tangan Hyerin, “Gwaenchana, aku akan melindungimu.” katanya sambil tersenyum menenangkan, “Lagipula bukitnya sudah dekat, kita akan baik-baik saja.”

Ucapan Donghae membuat Hyerin merasa sedikit tenang, dia mengangguk dan tersenyum. Hyerin melirik ke arah tangannya dan tangan Donghae yang saling bertautan, ingatan tentang Yoona tiba-tiba saja melintas di kepalanya membuat Hyerin perlahan melepaskan tangannya dari tangan Donghae. Donghae menatapnya heran─ada sedikit luka yang tergores di hatinya menyadari Hyerin menolaknya─namun Hyerin sama sekali tak memedulikan tatapan Donghae.

Hyerin mengembuskan napas diam-diam begitu merasa Donghae tak lagi menatap ke arahnya, yeoja itu memalingkan wajah ke arah lain, lantas langkahnya tiba-tiba saja berhenti melihat bunga lily di sebelah kanannya. Bunga lily itu sangat indah. Hyerin melirik teman-temannya sekilas sebelum akhirnya berjalan ke arah bunga lily itu, dia hanya perlu mengambilnya tanpa diketahui siapa pun.

“Hyukjae-ya, apa ada berita mengenai peperangan dari Kibum?” tanya Donghae pada Hyukjae yang berjalan beberapa langkah di depannya.

Hyukjae menengok ke belakang tanpa menghentikan langkahnya. “Aniyo, Hae-ya. Aku khawatir dengan keadaan mereka semua,” jawabnya dengan nada muram, “omong-omong ke mana Hyerin?” tanyanya kemudian ketika tak melihat Hyerin berjalan di samping Donghae.

Donghae mengernyit. Hyerin? Saat dia memutar kepala ke belakang untuk melihat apakah Hyerin tertinggal, matanya sontak membulat panik saat tangan Hyerin akan menyentuh kelopak bunga lily.

“Ya! Han Hyerin! Jangan disentuh!” teriak Donghae sambil cepat-cepat berlari ke arah Hyerin.

Semua yang kaget mendengar teriakan Donghae sontak berhenti melangkah dan menatap ke arahnya. Para namja refleks menghela napas lega melihat Donghae berhasil menggagalkan rencana Hyerin mengambil bunga itu, sementara para yeoja hanya mencebik, tak mengerti mengapa masalah bunga saja sampai dilebih-lebihkan. Mereka akhirnya hanya berdiri di masing-masing tempat, menunggu Donghae dan Hyerin berada dalam jarak jangkauan mereka lagi.

“Aish Oppa, apa-apaan kau!” marah Hyerin sambil menyentakkan tangan Donghae dan mengerucutkan bibir, “aku hanya ingin memetik bunga lily ini!”

“Kau harusnya berterimakasih padaku. Bunga ini akan memakanmu jika tadi kau petik.” balas Donghae kesal.

MWO?!” Mata Hyerin melebar tak percaya, namun ekspresinya terlalu menggemaskan hingga Donghae tak tahan untuk tak mencubit pipi yeoja itu.

Aigo, kau in─”

Ucapan Donghae terhenti begitu saja ketika sesuatu menggigit kakinya. Namja itu merasakan tubuhnya bagai disengat listrik jutaan volt, lantas saraf-saraf yang ada ditubuhnya serasa membeku sebelum perih yang menyengat menjalar ke semua bagian tubuhnya. Donghae terjatuh tiba-tiba, lalu mengerang kesakitan membuat semua orang yang sebelumnya terpaku─karena kejadian yang terlalu cepat itu─berlari ke arah Donghae. Kyuhyun segera membunuh ular yang baru saja menggigit Donghae dengan sihir detch.

Shit! Ini ular kiriman, bisanya membunuh.” gumam Jongwoon yang terdengar cukup keras. Dengan sakit yang tak ada duanya, bahkan akan lebih baik mati sekaligus daripada mati perlahan-lahan dengan cara seperti ini. lanjut para namja dalam hati, kepanikan menguasai pikiran mereka.

“Donghae, Donghae! Kau mendengarku? Jawab! Donghae!” seru Hyukjae panik sambil memukul-mukul pipi Donghae pelan, Donghae hanya mengerang sebagai respons, kesadaran yang dimilikinya tinggal setengah. Dia terlalu sibuk dengan rasa sakit yang dirasakannya.

Semuanya sibuk berbicara pada Donghae, mencoba membuat Donghae tetap sadar. Bahkan Hyunmi, Taeyoung, dan Saera pun ikut mengguncang-guncang tubuh Donghae, meninggalkan Hyerin yang terpaku sendirian karena kejadian yang terlalu cepat terjadi di depan matanya.

OPPA!” teriak Hyerin setelah sadar dari keterkejutannya, yeoja itu menerobos tubuh teman-temannya. “Oppa, kau mendengarku? Aku mohon bertahanlah Oppa..” pinta Hyerin dengan mata berkaca-kaca, yeoja itu menggenggam tangan Donghae sambil mengguncangkannya dengan lembut.

“Apa tidak ada sihir yang bisa menyembuhkan Donghae Oppa?” tanya Saera pada siapa pun yang mau menjawab.

Kyuhyun menatap ke arahnya, menghela napas. “Sihir seperti itu tidak ada, yang ada hanya obat untuk menyembuhkannya. Dan itu pun berarti kita harus kembali ke istana untuk menemui Yeonhee dan Kihwang, hanya mereka yang tahu bagaimana meracik obat untuk menyembuhkan seseorang dari sengatan bisa.”

“Ayo kita kembali ke istana kalau begitu..” sela Hyerin yang mendengar percakapan mereka.

Para namja menatap Hyerin tajam, “Dan membiarkan lebih banyak orang mati karena kelambatan kita?” tanya Jongwoon tegas.

Sebulir air mata jatuh membasahi pipi Hyerin mendengar perkataan Jongwoon. “Lalu kita akan membiarkan Donghae Oppa mati, begitu?” tanyanya dengan nada menajam.

“Tidak, kau kira aku akan membiarkan saudaraku mati?” balas Hyukjae sengit.

“LANTAS MENGAPA KALIAN TIDAK MAU MEMBAWA DONGHAE OPPA KE ISTANA, HAH?!” bentak Hyerin emosi, dia tak akan membiarkan Donghaenya mati begitu saja. Kini Hyerin tak lagi menyangkal isi hatinya yang menginginkan Donghae, dia telah jatuh cinta pada namja ini.

“Kami sedang berpikir Hyerin-ah, bisakah kau tenang?” tanya Kyuhyun kasar.

“Lembutkan suaramu saat berbicara pada dongsaengku, Oppa.” desis Hyunmi tak terima.

Suasana menjadi memanas setelah perdebatan singkat itu. Masing-masing dari mereka saling menatap tajam satu sama lain.

“ARGH!”

“Donghae!”
Oppa!”

Suara tawa jahat tiba-tiba saja menggema di udara saat semuanya semakin panik dengan keadaan Donghae.

“Menyerahlah sekarang atau satu persatu dari kalian akan mati di tanganku..” nadanya terdengar berat dan dalam, bergema beberapa lama sebelum menghilang.

“Apa sihir yang aku punya?” tanya Hyerin begitu mereka terdiam dalam hening yang cukup lama.

Para namja seolah tersentak dari pemikiran mereka, dan para yeoja menatap Hyerin dengan bingung.

“Tsk! Aku lupa kalau kita punya pengguna sihir dark green.” decak Kyuhyun, raut khawatir di wajahnya memudar dan wajahnya terlihat lebih cerah dengan senyum manis. “Hyerin-ah, kau bisa menyembuhkan Donghae kalau kau tahu cara mengeluarkan sihirmu.”

Hyerin mematung, sebelum akhirnya mendekatkan diri dan mencium Donghae tepat di bibir. Mereka terangkat ke udara untuk beberapa saat dengan cahaya dark green yang menyelimuti tubuh keduanya sebelum kembali ke bawah.

Semuanya terperangah atas kejadian yang baru saja terjadi di depan mereka, shock.

“I-itu uri Hyerin yang manis dan polos?” bisik Taeyoung shock.

Donghae membuka mata, tersenyum saat melihat wajah Hyerin pertama kali─beberapa senti dari wajahnya. Tangan Donghae terangkat untuk mengelus pipi Hyerin, senyumnya bertambah manis.

Gomawo..”

Jongwoon berdeham melihat Donghae mendekatkan wajahnya pada Hyerin. “Hae, kita perlu melanjutkan perjalanan kalau kau ingat.”

Hyerin dan Donghae langsung salah tingkah. Hyerin bergegas berdiri di dekat teman-temannya dengan wajah memerah, begitu pun Donghae.

“Uh, uri Hyerin sudah berani mencium namja ternyata..” goda Hyunmi yang mau tak mau membuat semua orang tergelak melihat wajah Hyerin yang sudah memerah maksimal.

Sedikit tawa mereka bagi di tengah-tengah kebimbangan.

***

“O-ow, Eonnideul, Oppadeul, lihatlah ke arah selatan.”

Suara terkejut Saera menghentikan gema tawa di antara mereka, serentak, semuanya langsung memutar kepala ke arah selatan. Rahang mereka langsung terjatuh ke bawah melihat banyaknya bayangan abu-abu yang menunggangi pegasus di sana, dilengkapi tombak, pedang, dan berbagai senjata tajam lainnya untuk menyerang.

“Mereka mengejar kita ke sini..” bisik Hyukjae sambil mengatupkan rahangnya kembali.

Belum sempat keterkejutan mereka berakhir, suara pegasus yang mendarat di sebelah kanan terdengar. Mereka kembali memutar kepala ke kanan, mengembuskan napas melihat Kibum dan beberapa pasukan perang mendarat di sana.

“Pergilah, biar kami yang menahan mereka. Kalian harus segera menyelesaikan semua ini.” titah Kibum tegas.

Lalu suara pedang saling menyambar, tombak, panah, terdengar. Semua pasukan istana maju ke depan untuk melindungi para pangeran, mereka berperang dengan segala pengabdian yang mereka miliki.

Para yeoja menutup mulut mereka rapat-rapat melihat banyaknya nyawa berjatuhan di hadapan mereka, terbunuh dengan darah yang mengalir deras dari setiap bagian tubuh mereka.

“Ayo pergi!” Para namja tak menyia-nyiakan kedatangan Kibum dan pasukan istana, mereka segera meraih tangan yeoja masing-masing dan membawa mereka berlari menuju bukit, tak memedulikan ekspresi tersentak para yeoja.

Mereka semua berlari dalam kecemasan, dan otak Hyunmi tak berhenti memikirkan mimpinya. Dia bahkan tak menolak untuk berlari bersama Hyukjae sambil berpegangan tangan saking kalutnya dengan keadaan sekarang.

***

“Ah, aku tidak kuat lagi. Ini melelahkan, tidak bisakah kita berhenti sebentar?” keluh Hyunmi sambil menopang tangannya di lutut, napasnya terengah-engah karena tak berhenti berlari hingga hampir di puncak bukit.

“Keadaan sedang seperti ini dan kau meminta istirahat?” tanya Kyuhyun tak percaya, Hyunmi mendelik padanya.

Oppa, kenapa kita tidak berteleportasi saja? Kurasa, aku juga lelah..” imbuh Hyerin lalu terduduk di rumput, dia meluruskan kakinya dengan keringat bercucuran.

“Kita tidak bisa melakukan teleportasi di bukit suci, Hyerin-ah. Bangunlah, sebentar lagi kita sampai.” balas Donghae sembari mengulurkan tangannya pada Hyerin. Hyerin menatap tangan Donghae sekilas, lalu menerimanya dengan rona merah samar ketika ingatan beberapa menit lalu menghantui kepalanya.

Taeyoung dan Saera mendekati Hyunmi, masing-masing mengulurkan sebelah tangan mereka, tersenyum. “Eonni, ayo. Sebentar lagi semuanya akan berakhir..”

Hyunmi menatap tangan keduanya bergantian, hatinya menghangat. Dia merasa disayangi lagi seperti saat Ahna masih ada. “Ayo, maaf sudah mengeluh..”

10 menit kemudian mereka telah sampai di sebuah lapangan yang sangat luas. Lapangan itu berbentuk segiempat dengan garis putih di pinggirnya, seolah menjadi pembatas. Semuanya menatap tegang ke arah lapangan, jantung mereka berdegupan tak terkendali.

“Ayo masuk.” titah Jongwoon setelah menenangkan diri sebelumnya. Dia melangkahkan kakinya melewati garis putih, namun tiba-tiba saja Jongwoon terlempar keluar lagi.

Hyung, kau tidak apa-apa?” tanya Kyuhyun terkejut.

“HAHA, kalian pikir semudah itu menghancurkanku?!” suara dalam dan berat ini lagi.

Semuanya menatap horor ke arah sumber suara, napas mereka mereka tercekat ditenggorokan melihat mata merah yang menatap mereka tajam dibalik tudung jubah yang dikenakannya. Tubuhnya melayang, dan yang terlihat hanya asap hitam di bagian paling bawah tubuhnya, tidak ada kaki. Dan meskipun namja-namja itu tidak mengatakan apa pun pada para hisami sebelumnya, para hisami tentu tahu bahwa sosok di depan mereka adalah sang iblis yang lepas.

“Kami akan mengirimmu kembali ke Neraka, percayalah.” balas Hyukjae. Rahangnya terkatup rapat hingga suara gertakkan giginya terdengar.

Iblis itu melirik Hyukjae lewat sudut matanya, tersenyum mengerikan─bahkan lebih mengerikan daripada senyum setan yang dimiliki Kyuhyun. “Ah, kau. Terimakasih telah melepaskan segel bodoh itu!”

“Kau..” Hyukjae mengepalkan tangan, sinar putih sudah menyelimuti tubuhnya perlahan-lahan saat Jongwoon mencengkeram bahunya.

“Tenang Hyuk, dia tidak nyata.”

“Apa maksudmu dengan tidak nyata Oppa? Jelas-jelas iblis itu ada di hadapan kita!” seru Taeyoung dengan suara bergetar.

“Tidak ada roh jahat yang bisa memasuki bukit ini Taeyoung.” balas Donghae, “Ini hanya ilusi kita.” sambungnya sambil memejamkan mata.

Suara tawa iblis itu semakin keras, namun nyatanya, iblis itu memang tak berbuat apapun pada mereka.

“Hati kita diselimuti perasaan buruk, itu sebabnya kita tidak bisa memasuki lapangan itu.” lanjut Kyuhyun, dia menjeda perkataannya sebentar untuk menarik napas. “Kita harus menghilangkan semua perasaan buruk itu. Saera, kemarilah, ulurkan tanganmu.” perintah Kyuhyun kemudian, meski tak mengerti, Saera menurutinya.

Donghae, Hyukjae, dan Jongwoon mengerti. Mereka berdelapan membentuk lingkaran kecil di pinggir lapangan dengan tangan saling menggenggam tangan satu sama lain.

“Pejamkan mata kalian, rilekslah dan buang semua perasaan buruk yang kalian miliki.”

“Hyunmi, maafkan aku, untuk sementara, singkirkan dendammu padaku.” Hyukjae berbisik di pikiran Hyunmi, Hyunmi menarik napas, menjawab “ne..” tanpa gairah.

Mereka tiba-tiba saja sudah berada di lapangan, berada pada masing-masing posisi. Jongwoon dan Taeyoung berada di sudut utara sebelah kanan sementara Hyukjae dan Hyunmi berada di sudut utara sebelah kiri, Donghae dan Hyerin berada di sudut selatan sebelah kiri sedangkan Kyuhyun dan Saera berada di sudut selatan sebelah kanan.

“Ayo kita mulai.” kata Jongwoon, dia menggenggam tangan Taeyoung erat dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya ia arahkan ke langit. Pelan-pelan, dari tangan kiri Jongwoon keluar sinar light red bercampur dark red, sinar itu melaju ke udara, membelah langit hingga belahan Negeri paling selatan pun pasti bisa melihat sinarnya.

Yang lain mengikuti hingga delapan warna bersatu di langit, angin di sekitar mereka bertiup dengan kencang, daun-daun berterbangan ke mana-mana, tanah yang mereka pijak bergetar, dan delapan warna yang membelah langit pelan-pelan membentuk lubang hitam. Lubang itu gelap, seolah tak berdasar.

Para namja memperkuat genggaman tangan pada yeoja masing-masing hingga mereka dapat melihat iblis itu datang terseret cahaya yang membelitnya, berteriak marah dan bersumpah akan menuntut dendam. Iblis itu berusaha melawan saat cahaya yang membelitnya membawanya pada lubang hitam, dia mengeluarkan suara nyaring yang bisa menghancurkan gendang telinga.

“Saera, tetap konsentrasi..” ujar Kyuhyun saat merasakan cahaya yang Saera keluarkan menipis, membuat iblis itu bertahan di permukaan lubang.

Oppa, sakit.” Saera membalas perkataan Kyuhyun dengan lirih, matanya berkaca-kaca menahan rasa sakit yang ditimbulkan oleh suara nyaring tadi. Kyuhyun memang terlambat mengeluarkan sihir penangkalnya hingga mereka berdua merasa gendang telinga mereka seakan mau pecah, Kyuhyun tentu saja bisa bertahan sebab dia namja, efek yang diterimanya bisa ia tahan. Namun Saera?

Kyuhyun menggigit bibir, tak tega melihat keadaan Saera. “Bertahanlah sebentar lagi, kau pasti bisa. Aku percaya padamu..”

Kyuhyun percaya padamu, hatinya Saera berbisik. Dia membangun tenaganya kembali mendengar perkataan Kyuhyun, menekan rasa sakit yang menyelimutinya hingga ke tingkat paling rendah. Dan Saera berhasil, cahaya miliknya kembali menebal, mendorong iblis itu masuk ke dalam hingga sumpah-serapah yang di keluarkannya tak lagi terdengar.

Semuanya jatuh terduduk begitu lubang itu menutup dengan segera, tanah berhenti bergetar, dan angin kembali berembus dengan normal. Napas mereka terengah-engah atas sihir yang mereka baru saja lakukan. Setengah tak percaya mereka dapat melakukan sihir ini, sihir yang para tetua bilang merupakan sihir paling sulit untuk dikuasai.

“Kita berhasil?” bisik Hyerin lega. Donghae menganggukkan kepala, tersenyum sambil menggoyangkan tangan Hyerin.

Namun saat itulah Hyukjae melihat sosok transparan muncul dari langit lubang hitam tadi muncul, dan sosok itu menuju ke arah─

“KYU!” Hyukjae melebarkan mata, bergegas bangkit dari duduk dan berlari secepatnya kearah Kyuhyun.

Kyuhyun beserta yang lainnya menoleh pada Hyukjae, dan waktu seakan berhenti berdetik ketika seseorang terbanting keluar lapangan. Mata mereka mengerjap, terlalu terkejut dengan kejadian sangat cepat itu sebelum akhirnya mata mereka membulat akibat terjaga.

“ANDWAE!”

***


Lutut Hyukjae jatuh ke tanah melihat tubuh Kyuhyun sudah tergeletak tak bernyawa di bawah pohon sana. Air matanya jatuh begitu saja saat dia perlahan-lahan menghampiri tubuh kaku Kyuhyun yang dalam sekejap sudah di kelilingi oleh yang lainnya.

Saera menyimpan kepala Kyuhyun di pangkuannya sambil menepuk-nepuk pipi namja itu lembut, air matanya mengalir saat Jongwoon─yang meletakkan tangannya di hidung Kyuhyun untuk mengecek apakah dia masih hidup atau tidak─menggeleng pelan, tanda Kyuhyun sudah pergi.

Oppa, bangunlah. Jangan mengerjai kami di saat seperti ini..” kata Saera sambil terisak, Hyerin dan Taeyoung memeluk yeoja itu dari samping, mata mereka juga sudah mengeluarkan air mata semenjak tahu bahwa Kyuhyun meninggal. Kejadiannya sangat cepat, dan kejadian ini benar-benar tak terduga. Walau mereka tak begitu mengenal sosok Kyuhyun, namun kehilangan orang yang sama-sama berjuang dengan mereka tentu saja menyakitkan.

Jongwoon memukul tanah dengan air mata yang berjatuhan, menyesal karena lagi-lagi dia lalai dalam menjaga dongsaengnya. Dongsaeng yang dia sayangi harus pergi. Sementara Donghae hanya menunduk. Kaca tipis di matanya pecah begitu saja. Dulu ia memang sering sekali berharap Kyuhyun tak ada karena sifatnya yang evil, namun kini, Donghae sungguh tak mau kehilangan dongsaengnya itu. Dia menyayangi dongsaengnya.

Mereka ingin melihat Kyuhyun bangun, tersenyum evil seperti biasa sambil meneriakkan kata bercanda pada mereka. Namun melihat keadaan sekarang, apakah Kyuhyun akan bangun dan melakukan harapan mereka? Semuanya menunduk, terisak di depan jasad Kyuhyun.

Hyunmi buru-buru menyusap setitik air mata yang jatuh dari kelopak matanya melihat keadaan semua orang, dia bergegas mengalihkan pandangan ke arah lain saat wajah Hyukjae tiba-tiba saja sudah ada di depannya. Menarik ia sedikit jauh dari orang-orang.

“Aku mohon kembalikan Kyuhyun.” kata Hyukjae dengan mata memerah.

Hyunmi menyerngit, lalu tersenyum sinis. “Apa yang bisa aku lakukan? Dia sudah mati.”

Hyukjae mengepalkan tangan menahan amarah, “Sekali ini saja Mi-ya, kau bisa memanggil roh seseorang untuk kembali ke tubuhnya jika orang itu belum genap sehari meninggal.”

Hyunmi diam, tampak menimbang-nimbang. Saat matanya melirik ke arah Saera juga yang lainnya─yang begitu kentara bahwa mereka menginginkan Kyuhyun kembali hidup─dia menghela napas panjang. Hatinya bergetar. “Kenapa yang meninggal Kyuhyun, bukan kau?”

Hyukjae menatap simbol naga berantai di tangannya yang mulai bercahaya sedikit demi sedikit, “Aku akan pergi sebentar lagi, selamatkanlah Kyuhyun, dia tidak bersalah dalam hal apa pun.”

Hyunmi ikut melirik simbol di tangan Hyukjae, ketakutan sedikit demi sedikit merambati hatinya melihat simbol itu bercahaya. “Bagaimana caranya?”

Hyukjae tersenyum, “Kau akan tahu saat kau ada di depannya, pergilah.”

Hyunmi mengangguk, memutar tubuh hingga membelakangi Hyukjae dengan ketakutan yang semakin besar lalu mulai melangkah ke arah orang-orang yang masih berduka.

Hyunmi menegang saat Hyukjae tiba-tiba saja memeluknya dari belakang, bernapas di atas kepalanya. “Aku tahu hatimu lembut, gomawo sudah mau mengabulkan permintaanku.” Dan Hyukjae melepaskan Hyunmi dari dekapannya, memamerkan senyum gusinya lalu menyuruh yeoja itu pergi.

“Aku tahu Kyuhyun Oppa sangat menyebalkan, tapi aku benar-benar tak mau kehilangannya.” raung Saera dipelukan Hyerin dan Taeyoung.

Hyunmi menghela napas sebelum ikut menghambur ke pelukan mereka, “Uljima Saera-ya..”

“Ak-aku tak mau kehilangan dia Eonni.” balas Saera.

Hyunmi memejamkan mata, beberapa saat mencoba berkonsentrasi. Dan hasilnya, dia melihat Kyuhyun di langit sana, ada ratusan roh orang lain yang juga sedang berkeliaran, napas Hyunmi menyesak, itu adalah roh para prajurit.

Kyuhyun sedang menatap mereka dengan pandangan sedih. Dalam benaknya, Hyunmi melihat dia menghampiri Kyuhyun, membuat Kyuhyun terkejut.

“Kembali ke tubuhmu sekarang Oppa.” titah Hyunmi. “Kau membuat dongsaengku menangis.”

Kyuhyun berusaha memasang senyum saat mengatakan, “Aku sudah mati seperti yang kaukatakan.”

“Tsk. Monyet itu bilang aku bisa membawamu kembali!” gerutu Hyunmi, Kyuhyun terkekeh.

“Tentu saja kau bisa Hyunmi, tapi ini hanya satu kali seumur hidup. Kau yakin memberikannya untukku?─Oh, dan jangan panggil Hyungku monyet.”

Hyunmi tertegun beberapa saat sebelum mendecak, “Aku yakin. Ayo.” Hyunmi mengulurkan tangan. Kyuhyun menerimanya dan ikut menghilang bersama Hyunmi.

***

“Eung..” Kyuhyun mengerang saat merasakan kepalanya berputar hebat. Dan saat ingatannya mulai pulih perlahan-lahan, hal yang pertama diingatnya adalah wajah Saera yang sedang menangis. “Saera-ya?” panggil Kyuhyun linglung.

“Hiks, hiks. Lihatlah Eonni, aku terlalu menginginkan evil itu hidup sampai mendengar suaranya seperti itu.”

Saera menepis pelukan Eonnideulnya dan menutup mata dengan tangan begitu mendengar suara Kyuhyun. Taeyoung dan Hyerin sempat terperangah begitu melihat Kyuhyun sedang menatap ke arah Saera, dan yang terpenting, dia bernapas. Hyunmi hanya tersenyum tipis.

“KYU!” Donghae dan Jongwoon melompat kegirangan begitu melihat Kyuhyun membuka mata. Dan teriakan kedua namja itu berhasil membuat Taeyoung dan Hyerin tersadar.

“Kau hidup kembali?” tanya Donghae semangat sambil mengusap air matanya.

“YA! Ini benar-benar kau Oppa?!” tanya Taeyoung setengah berteriak.

Kyuhyun berdecak, mengabaikan ekspresi kelewat semangat dua Hyung dan hisami mereka lantas menatap lurus ke arah Saera yang tengah terperangah─yah, Saera akhirnya menatap ke arah pangkuannya karena mendengar jeritan kelewat histeris dari Jongwoon dan Donghae. Mulutnya terbuka, dan Kyuhyun mendapati dirinya senang melihat ekspresi Saera yang menggemaskan.

Kyuhyun tertawa, bangkit dari pangkuan Saera. “YA! Jangan pasang ekspresi babo seperti itu.” serunya main-main sambil menusuk-nusuk pipi Saera gemas.

Saera masih diam mencerna apa yang sebenarnya sedang terjadi di hadapannya sebelum menubruk tubuh Kyuhyun dan membenamkan wajahnya di dada namja itu. “Jangan mati Cho Kyuhyun, aku tak mau kehilanganmu..” bisik Saera sambil kembali terisak.

Kyuhyun sempat terpekur beberapa saat begitu tahu respons Saera, namun tak lama dia tersenyum dan melingkarkan tangannya di punggung Saera. “Aku tidak akan kemana-mana, uljima..” Saat mata Kyuhyun tanpa sengaja bertatapan dengan Hyunmi, namja itu menggumamkan kata “Gomawo..” tanpa suara yang dibalas Hyunmi dengan anggukan singkat.

Semua─kecuali Kyuhyun dan Saera─menatap Hyunmi meminta penjelasan.

“Ini... sihir Eonni?” tanya Hyerin hati-hati, nada suaranya sangat pelan.

Hyunmi mengangkat bahu sambil tersenyum tipis. “Eum, aku rasa seperti itu.”

Dan semuanya melemparkan senyum atas jawaban Hyunmi. Mereka hanya diam memandangi Saera dan Kyuhyun yang tenggelam dalam dunia kecil mereka.

***

Saera melepaskan pelukannya saat dia sudah berhenti menangis, kepalanya tertunduk begitu sadar ada 5─oh, 6 jika ditambah milik Kyuhyun─pasang mata yang tengah mengamatinya dengan intens.

“Puas memeluk Kyuhyun Oppa, Saera?” ledek Taeyoung.

Saera mendelik, membuat yang lain tertawa keras dan Kyuhyun tersenyum tipis. Senang melihat ekspresi tersipu─aneh─yang dikeluarkan yeoja galak seperti Saera. “Bukan urusanmu Eonni.” sergah Saera sambil memalingkan wajah ke arah lain, pipinya memanas.

“Omong-omong, dimana Hyukjae? Kenapa aku tidak melihatnya menyambutku seperti kalian?” tanya Kyuhyun begitu selesai tertawa.

Semuanya merasa tertampar dengan pertanyaan Kyuhyun. Benar-benar baru sadar kalau Hyukjae tidak ada di sekitar mereka. Lalu dimana namja itu?

Hyunmi diam-diam menggigit bibir, merasa resah tiba-tiba.

“Entahlah Kyu, aku baru sadar Hyukjae tak ada.” gumam Donghae. Jongwoon mengangguk menyetujui perkataan Donghae.

“Kami tadi terlalu cemas mengkhawatirkanmu Oppa..” imbuh Hyerin sambil mencoba mengingat-ingat terakhir kali ia bertemu Hyukjae.

Hyunmi baru saja akan membuka mulut untuk mengakui bahwa ia orang terakhir yang melihat Hyukjae saat teriakan “HYUNG!” terdengar keras dari arah selatan. Dan hatinya langsung bergemuruh saat semua orang berlari ke sumber suara, termasuk dirinya yang tanpa sadar berlari paling depan.

Kaki mereka terpaku di tanah begitu melihat pemandangan seperti apa yang tersaji di hadapan mereka. Kibum, dengan luka di beberapa bagian tubuhnya tengah menangisi seseorang yang tak lain adalah Hyukjae.

“Kau! Perjanjian apa yang kaubuat dengan Hyukjae Hyung?” todong Kibum saat melihat Hyunmi, namja itu berdiri, menatap Hyunmi tepat di mata dengan tatapan membunuh yang dimilikinya.

“Ak.. aku hanya.. kami..” ucapan Hyunmi tak beraturan, yeoja itu menghela napas panjang untuk menenangkan dirinya. Keping hatinya terasa meretak saat melihat Hyukjae terbaring di sana. Benar bahwa dia ingin kekasih Eonninya mati, namun saat melihat Hyukjaelah orangnya, dia merasa ini sudah tidak benar lagi. “Hyukjae berjanji akan membunuh kekasih Eonniku..” kata Hyunmi kemudian dengan suara bergetar.

“Kang Ahna yang kaumaksud?” tanya Jongwoon tiba-tiba, nadanya terdengar menusuk.

Hyunmi menelan ludah, lantas segera menundukkan kepala setelah mengangguk.

“Kau tahu Hyunmi?” Donghae memulai, namja itu memejamkan mata dan berusaha tak melihat ke arah Hyukjae atau dia akan menangis. “Aku mengenal Ahna, dia yeoja yang baik dan lembut, sangat mencintai Hyukjae. Dia pasti akan sedih mengetahui dongsaeng kandungnya telah membunuh kekasih yang paling diinginkannya untuk hidup.”

Hyunmi tak tahu mengapa hatinya terasa sangat sakit mendengar perkataan Donghae, yang dia tahu, dia kini telah berlutut di hadapan Hyukjae dengan air mata mengalir. Penyesalan berlomba-lomba menyesaki hatinya saat ini juga.

Mianhae..”

Saat semuanya tak kuasa menahan tangis mereka melihat keadaan Hyukjae, keajaiban itu datang. Secercah sinar emas mengangkat tubuh Hyukjae hingga ke langit, dan saat Hyukjae kembali ke posisi awal, jantungnya berdetak lemah.

***

“Aish, pesta ini benar-benar bising.” Kyuhyun menggerutu sambil menusuk-nusuk bulgoginya dengan tidak bersemangat.

Saera yang ada di hadapan Kyuhyun mendecak, jengah dengan gerutuan Kyuhyun yang sama sejak satu jam lalu. Sedangkan tiga yeoja lainnya tampak tak peduli, mereka sibuk melihat atraksi sihir yang ditampilkan oleh beberapa orang di depan sana dengan wajah kagum.

Yah, satu hari memang sudah berlalu sejak kejadian itu, dan malam ini Jungsoo memutuskan untuk mengadakan pesta besar-besaran untuk merayakan kemenangan mereka.

Para hisami diminta untuk tinggal selama 4 hari di istana. Sebenarnya mereka sudah ingin pulang, namun karena Jungsoo yang meminta mereka secara khusus, mereka akhirnya setuju. Sangat tidak sopan menolak permintaan Raja, bukan?

“Kyuhyun-ah, diamlah. Aku bosan mendengar gerutuanmu yang sama daritadi.” gertak Jongwoon sambil mendelik.

Kyuhyun balas mendelik hingga keduanya saling menatap tajam sebelum Donghae memutuskan tatapan keduanya dengan memukulkan dua sendok di garis tatapan mereka. “YA! Jangan bertengkar di sini, lihatlah semua rakyat yang tengah bersenang-senang!”

“Em, aku sebaiknya pergi.” Hyunmi memundurkan kursi tiba-tiba membuat perhatian keenam orang itu tertuju padanya.

“Mau kemana Eonni? Perlu aku temani?”

Hyunmi tak menjawab, hanya menggeleng sambil memberikan cengiran pada Taeyoung.

“Aish, biarkan dia pergi Youngie. Hyunmi pasti ingin merawat Hyukjaenya..” sela Jongwoon setengah menggoda, Hyunmi hanya melemparkan tatapan sok polos pada Jongwoon lalu pergi begitu saja dari hadapan mereka. Membuat mereka mendecak heran.

Hyukjae memang tidak mati, tapi dia harus beristirahat total di ruangannya untuk sehari. Keajaiban dan kehendak Tuhan yang menginginkannya tetap hidup, bukit suci memang gudang dimana keajaiban bisa terjadi dan semua tentu senang karena mereka tidak harus kehilangan siapapun.

“Oh, omong-omong, kemana kekasih kalian Oppa? Mengapa mereka tak datang ke sini?” tanya Saera dengan nada suara yang aneh, dia sebenarnya benci menanyakan hal ini, namun rasa penasarannya ternyata jauh lebih kuat hingga ia berani bertanya.

Ketiga namja itu menelan ludah mendengar pertanyaan Saera, mata mereka bergerak-gerak gelisah begitu tiga yeoja di hadapan mereka menajamkan pandangan.

“Eum, entahlah, mereka berbicara tentang rencana lusa dan gaun pesta yang─hell! Kenapa kau menanyakan mereka?” balas Kyuhyun sebal.

Suara lonceng berbunyi di depan, meminta perhatian. Dan itu sukses membuat Jongwoon juga Donghae menghela napas lega, selamat dari pertanyaan terkutuk Saera.

Mereka menatap lurus ke depan, menemukan Jungsoo yang tengah berdiri di tengah-tengah panggung seorang diri.

“Aku tahu kalian sedang bersenang-senang di sini, tapi aku hanya ingin menyampaikan sebuah pengumuman.” Jungsoo tampak menghela napas lalu menatap ke arah anak-anaknya berada sambil melemparkan senyum, “Melihat bagaimana Jongwoon berhasil menjaga Negeri kita, aku berencana mempercepat penurunan tahta pada Jongwoon menjadi tiga hari ke depan..” Sorakan riuh terdengar di sana-sini, Jongwoon tak bisa menahan senyumnya saat Donghae dan Kyuhyun menghadiahinya dengan ucapan selamat sementara ketiga yeoja di hadapan mereka ikut tersenyum bahagia.

Taeyoung menatap Jongwoon sambil diam-diam tersenyum lembut. Ah jadi karena alasan ini Raja meminta mereka tinggal, pikirnya dalam hati. Jongwoon juga segera menatap ke arah Taeyoung begitu selesai mengucapkan terimakasih pada setiap orang yang memberikannya selamat. Keduanya bertatapan dengan lembut, seolah hanya ada mereka berdua di sana hingga─

“Karena hal itu, pernikahan Jongwoon dan Sooyoung juga akan dimajukan menjadi lusa. Para hisami yang berperan penting untuk Negeri kita akan hadir di sana untuk menyaksikan ikatan suci calon Raja dengan Ratunya..”

Dan taman-taman penuh bunga yang Jongwoon juga Taeyoung bangun runtuh seketika, dunia serasa rubuh menimpa badan mereka hingga terhimpit. Sementara keempat yang lain hanya bisa menatap mereka iba.

TBC..

3 komentar:

  1. like a good job :D !!! cheer up!

    BalasHapus
  2. HEY! Kenapa Kyuhyun mati? Kenapa diidupin laginya sama hyunmi? Kenapa kyuhyun saera ga dapet part so sweet ==' aish ini authornya ga adil nh..
    At least semuanya bagus, fantasinya ada so sweetnya BANYAK tp sayang BUKAN KYUHYUN *nangis di pojokan* heh ahjuma, part 8 jgn lama2 oke? O,O

    BalasHapus
  3. Amin ya Put, maacih :''
    Sarah, feeling gue benerkan haha.. Jatah happy kalian udh berakhir kemarin :D
    ini ga janji lama yaa, lagi jrg pegang laptop akunya -__-

    BalasHapus