Entri yang Diunggulkan

Series Recommendations! đŸŽ„

Hi, happy Wednesday all! So decided to post my own personal series. I usually dont like watching movie, so because i watched those series ...

Sabtu, 06 Oktober 2012

Brotherhood, Magic, and.. Love (Seven: Part A)


SEVEN: Part A

T
AP. Tap. Tap.

Suara langkah kaki saling bersahutan menggema di sepanjang lorong kerajaan Shappire Blue. Para prajurit perang, menteri-menteri juga para rakyat─sebenarnya hanya para namja yang telah menyelesaikan ilmu sihir minimal tingkat delapannya, sedangkan yang lain akan dievaluasi ke suatu tempat dan diamankan─sedang sibuk mempersiapkan penyerangan untuk melindungi Negeri dari iblis kegelapan yang akan dilakukan limabelas menit lagi.

Kim Youngwoon tampak tengah mengarahkan prajurit-prajurit perangnya, pedang yang terbuat dari cahaya warna-warni di tangan para prajurit berkilau, seolah menegaskan seberapa tajam pedang itu meskipun terbuat dari cahaya. Beberapa prajurit pemanah juga tampak telah siap dengan panah runcing mereka yang terbuat dari tanduk rusa disertai lapisan sihir mereka sendiri.

Beribu-ribu pegasus telah di siapkan di depan istana, siap untuk mengangkut para pejuang ke medan perang. Tinggal menunggu perintah dari Jungsoo, maka perang pun tak bisa terhindarkan lagi.

Di sisi lain, Kibum menunggu kedatangan keempat Pangeran yang telah dihubunginya dengan cemas. Namja itu berdiri di pinggir lorong, kakinya tak diam di tempat. Namja itu mondar-mandir sebab waktu yang semakin menipis sementara para Pangeran dan hisami mereka belum terlihat batang hidungnya sama sekali.

“Donghae Hyung!” teriak Kibum senang begitu melihat Donghae dan seorang yeoja─yang Kibum tafsir sebagai hisami Donghae (Hyerin kalau tak salah)─masuk ke dalam istana. Namja itu segera menghampiri Donghae dengan langkah cepat-cepat. “Mana yang lain?” tanya Kibum begitu berhadapan dengan Donghae. Kibum mengamati Hyerin sekilas, dia jelas tahu nama-nama hisami keempat Pangeran itu sebab beberapa kali bertukar cerita dengan Hyukjae selagi namja itu di bumi.

Tak sadar diamati, Hyerin yang ada di samping Donghae tampak menatap sekeliling istana dengan bingung.

Donghae mengangkat bahu tanda tak tahu, dia melirik Hyerin sekilas sebelum bertanya pada Kibum, “Mengapa penyerangan dipercepat Kibum-ah?”

Kibum memusatkan pandangannya kembali pada Donghae dan mendesah, tampak frustasi. “Rapat dadakan Hyung, iblis itu juga semakin gencar memusnahkan satu-persatu Desa kita. Karena itu Yang Mulia memutuskan untuk melakukan penyerangan sekarang.”

“Pe-penyerangan?” Hyerin akhirnya mengeluarkan suara dengan raut ketakutan di wajahnya, dia menjatuhkan pandangan pada Kibum.

Saat itulah kedua namja di dekatnya memberikan perhatian penuh pada Hyerin, “Ne. Kau sudah siap, bukan Hyerin-ssi?” tanya Kibum lirih.

Mata Hyerin membeku. Percakapan dengan Taeyoung, Saera, dan Hyunmi kemarin kembali berputar-putar di pikirannya. Membuat ketakutan merayap dengan pasti dan membungkus dinding hatinya seketika. Bagaimana kalau dia mati sebelum tugasnya selesai?

Donghae, yang menyadari ketakutan di mata Hyerin, segera meraih tangan Hyerin dan menggoyangkannya, menyadarkan Hyerin bahwa Donghae ada di sini untuk melindunginya. “Tenanglah, kau akan baik-baik saja.”

“Kibum, Donghae!”

Kedua orang yang tengah memerhatikan Hyerin itu refleks memutar kepala ke belakang, helaan napas lega lolos dari bibir Kibum begitu melihat Kyuhyun dan Saera berlari ke arah mereka sambil berpegangan tangan. Mereka bahkan lupa untuk memarahi Kyuhyun karena teriakan tidak sopannya sebab terlalu lega.

“Penyerangan dipercepat?” tanya Kyuhyun dengan napas terengah-engah begitu ia sampai, “Aish, kenapa tidak ada yang memberitahuku untuk mengatur strategi?” rutuk Kyuhyun kemudian tanpa menunggu jawaban dari Kibum atau pun Donghae.

Kibum menghela melihat Kyuhyun yang tampak tak berubah meski pun berada di bumi hampir 3 jam. “Karena kami tidak ingin merepotkanmu, Kyu. Kau cukup konsentrasi dengan tugas intimu.”

Saera tiba-tiba saja tersentak mendengar perkataan Kibum, dia mencari-cari mata Hyerin lantas kedua yeoja itu saling menatap dalam ketakutan. Bayangan mengenai sosok-sosok yang mencoba mencelakai mereka kembali terbayang. Saera ingin sekali lari sekarang juga, sosok-sosok itu tampak kuat. Sedangkan ia? Ilmu sihir yang dikuasainya hanya telepati. Bagaimana mungkin ia bisa melawan sosok-sosok menyeramkan itu?

Kyuhyun mencebik, baru ingat mengenai kenyataan itu. “Tenanglah, tidak akan ada yang menyakitimu, Saera-ya.” ujarnya pada Saera, Kyuhyun tahu yeoja itu ketakutan sekarang, tak berbeda jauh dengan Hyerin.

“Aku berharap seperti itu.” sahut Saera, dia balas meremas tangan Kyuhyun yang baru saja meremas tangannya dengan lembut.

“Hyukjae Hyung!” Kibum kembali berseru lega saat melihat Hyukjae dan Hyunmi berjalan ke arah mereka, namun keningnya langsung mengerut heran melihat keadaan Hyukjae, ada darah kering juga di sudut bibir Hyukjae─yang Kibum duga bekas tamparan keras atau pukulan.

Hyukjae membalas sapaan Kibum dengan senyum sekenanya sambil melambaikan tangan, sementara Hyunmi yang berjalan beberapa langkah di belakangnya memasang wajah dingin, sama sekali bergeming dengan kericuhan yang tengah terjadi di istana.

“Sudah saatnya ne?” tanya Hyukjae santai, berbeda jauh dengan hatinya yang tengah dilema hebat memikirkan nyawa siapa yang akan menjadi tumbal untuk sihir aspagus ini.

Eonni!” Hyerin dan Saera berseru nyaring ketika Hyunmi sudah berada beberapa langkah di dekat mereka, keduanya spontan melepaskan genggaman tangan pada Donghae dan Kyuhyun lantas menghambur untuk memeluk Hyunmi.

Eonni, aku takut.” bisik Hyerin dengan mata berkaca-kaca, Saera mengangguk setuju. Bayangan tentang kematian yang semakin dekat mengintai mereka membuat keinginan untuk pergi dari sini semakin kuat. Namun janji yang telah mereka buat berhasil menahan mereka.

Hyunmi tertegun beberapa saat begitu mendapat pelukan dari kedua yeoja yang sudah dia anggap sebagai dongsaeng sendiri sebelum menyunggingkan senyum tipis di bibirnya dan membalas pelukan keduanya. “Kita berempat akan hidup, percayalah padaku.” kata Hyunmi lirih, karena satu-satunya yang akan mati adalah namja itu. sambung Hyunmi kemudian dalam hati sambil memberikan death glare pada Hyukjae yang membisu.

“Mana Jongwoon Hyung?” tanya Kibum kemudian, matanya meninggalkan ketiga yeoja yang masih berpelukan dan kembali menatap satu-persatu pada ketiga namja di dekatnya.

“Aku bukan babysisternya, tentu saja aku tak tahu.” Jawaban Kyuhyun seperti biasa terdengar menyebalkan. Mereka hanya mendecak mendengar perkataan dari bibir Kyuhyun.

“Hyuk, kenapa dengan bibirmu?” tanya Donghae tiba-tiba begitu ia menyadari bibir Hyukjae terluka.

Hyukjae terkesiap namun langsung memasang wajah datar, tangannya menyentuh sudut bibir yang masih sedikit berdenyut. “Hanya kecelakaan kecil, tidak usah dihiraukan.”

“Maaf telambat, belum dimulai, bukan?” tanya Jongwoon yang tiba-tiba saja sudah ada di samping keempat namja itu, dia melepaskan genggaman tangannya pada Taeyoung lantas merapat ke arah namja-namja itu.

Taeyoung menggigit bibir melihat sikap Jongwoon sebelum menghampiri ketiga yeoja di dekat pilar besar berjarak lima langkah darinya.

“Kenapa baru sampai Eonni?” tanya Saera begitu menyadari kedatangan Taeyoung.

“Tidak apa-apa, hanya ada yang harus diurus sedikit.” sergah Taeyoung lalu ikut menghambur dalam pelukan teletubies ketiganya, berharap kalau yang dirasakannya bisa sedikit berkurang dengan cara seperti itu.

Hyunmi mengurai pelukan mereka berempat perlahan, ekor matanya melirik kelima namja yang nampak tengah berdiskusi lantas menatap satu-persatu mata ketiga yeoja di dekatnya dengan tajam.

Hyunmi mengembuskan napas sekali sebelum mulai berkata, “Aku tahu Oppadeul hari ini bersikap sangat manis pada kalian, tapi jangan sampai terjebak. Jangan sampai jatuh cinta pada mereka, ne?” Hyerin, Taeyoung, dan Saera menutup mulut mereka rapat-rapat, tak yakin mereka bisa mengiyakan. Gigi Hyunmi bergemeletuk melihat ia tak mendapat respons apa pun, “aku sudah mengingatkan kalian. Mereka hanya ingin memanfaatkan kita.”

“Bukankah kita saling memanfaatkan, Eonni?” seru Taeyoung tiba-tiba, tangannya mengepal, menahan rasa sakit yang membuncah di dadanya mendengar perkataan Hyunmi. Yeoja itu benar, namun dia tak ingin mengakuinya, dia tak ingin mengakui bahwa Jongwoon baik padanya hanya demi memanfaatkan.

“Kendalikan emosimu Young,” tutur Hyerin sambil menyentuh pundak Taeyoung.

Kemarahan di mata Taeyoung meredup, yeoja itu menunduk seketika. “Mianhae...”

“Bukan salahmu.” tukas Hyunmi datar.

Setelah itu, keempatnya hanya menatap dalam diam suasana istana yang semakin ricuh. Lambat-laun pikiran mereka mulai tersedot pada saat-saat sebelum mereka berada di sini.

***

Taman Hiburan, Tokyo.

Matahari sudah terbenam sejak sejam yang lalu, namun tak ada pergerakan apa pun yang dilakukan oleh Donghae dan Hyerin.

Hanya desiran angin malam yang menemani mereka menjelajahi jauh ke dalam hati masing-masing.

Hyerin mengerti dengan sangat jelas kalau Donghae mungkin membencinya sekarang. Dia telah melupakan Donghae begitu saja karena Baekhyun. Tapi apa salah? Dari awal tujuannya membantu Donghae adalah untuk mendapatkan Baekhyun, bukan? Dan mengapa ia harus merasa sakit saat Donghae mengatakan hal itu?

Hyerin mendesah diam-diam sambil melepaskan kalung kerang pemberian Donghae dari lehernya, dia menyimpan kalung itu di saku sambil bertanya-tanya dalam hati mengapa ia harus kabur dari kencannya bersama Baekhyun hanya karena mengingat Donghae. Bukankah namja itu juga tak peduli padanya? Lalu mengapa ia harus peduli pada perasaan Donghae? Apa Hyerin mulai berpaling dari Baekhyun?

Hyerin jelas ingin menjawab pertanyaan di hatinya itu dengan kata tidak, namun ada sesuatu yang menahannya untuk membiarkan pertanyaan itu menggantung tanpa jawaban.

Donghae tahu kata-kata yang dilontarkannya beberapa jam lalu─tentang ia bukan siapa-siapa Hyerin─pasti terdengar sangat menyakitkan bagi yeoja itu─karena dia sendiri pun merasa sakit mengatakannya. Namun Donghae tahu apa yang dikatakannya adalah benar, tidak boleh ada rasa yang tumbuh di hati mereka. Sebab dari awal, tujuan Donghae hanya satu; membuat Hyerin meminjamkan sihirnya untuk membantu dia.

Dan hari ini pun, dia membawa Hyerin ke sini atas dasar hal itu. Tapi sesuatu yang tak terduga berhasil mengacaukan rencananya, dan Donghae membenci fakta bahwa dia ingin sekali memukul Baekhyun karena membuat Hyerin melupakannya.

Donghae bisa mendengar Hyerin menghela napas sebelum suaranya terdengar, “Tiga hari lagi dan semuanya selesai, kan Oppa?”

Suara Kibum yang tiba-tiba saja melintas di kepalanya membuat Donghae termenung beberapa saat. Tak lama kemudian Donghae tertawa, terdengar sinis. “Sepertinya hari ini pun semuanya akan selesai, kau akan mendapatkan Baekhyunmu besok.”

Donghae tak sadar bahwa perkataannya baru saja membuat dua hati terluka. Hati Hyerin dan hatinya.

Arena Ice Skating, Paris.

Melihat mata Hyunmi yang pelan-pelan berubah menjadi gelap, Hyukjae tak berpikir dua kali untuk segera berlari ke arah yeoja itu. Digenggamnya tangan yeoja itu erat-erat sementara mata Hyunmi berubah menjadi cokelat kembali.

“Aku tak akan mengingkari janji. Saat semuanya selesai, kau bisa membunuhku.” tegas Hyukjae begitu mata Hyunmi menatapnya.

Hyunmi tertawa sinis lantas menyentakkan tangan Hyukjae dari tangannya dengan kasar, hatinya terluka. Orang yang diam-diam Hyunmi mulai percayai ternyata tak lebih dari seorang pembohong. “Bagaimana aku bisa percaya seorang pembunuh sepertimu?”

Godam raksasa menimpa Hyukjae saat itu juga, namja itu menunduk, tak berani menatap mata Hyunmi langsung. Pembunuh. Yah, nyatanya, Hyukjae memang pembunuh. Dialah yang membunuh Ahna secara tak langsung. Kalau saja dulu dia tidak terlambat datang dan melindungi Ahna baik-baik dari yeoja sialan yang merupakan sahabatnya sejak kecil─sangat terobsesi padanya, Ahna pasti sekarang masih ada di sini, menemaninya, menemani Hyunmi.

“Aku memang yang menyebabkan Ahna terbunuh, tapi aku tak menginginkan itu. Aku mencintainya.” balas Hyukjae lirih.

Hati Hyunmi sudah terlanjur diselimuti kebencian untuk mendengarkan perkataan Hyukjae. “Baik, tunjukkan aku bukti kalau kau benar-benar akan mati setelah ini.”

Suara Kibum sudah berdengung di pikirannya sedari tadi, tapi Hyukjae tak mau menyahut. Hyukjae memejamkan mata sekejap, bayangan wajah Ahna menari-nari di matanya, namun bayangan itu perlahan menghilang tergantikan bayangan Hyunmi.

“Lihat.” kata Hyukjae, mengulurkan telepak tangan kanannya ke arah Hyunmi. Tangan kiri Hyukjae lantas mengeluarkan cahaya putih susu yang langsung membentuk gambar naga berantai di telapak tangan kanannya. Gambar itu bercahaya beberapa detik sebelum akhirnya meredup.

Hyunmi menatap kejadian itu bingung, “Disvolre, sihir pengikat janji. Selama gambar ini masih ada di tanganku, aku akan mati dengan sendirinya saat semua sudah berakhir.”

Hyunmi menatap gambar itu dengan saksama sebelum beralih menatap Hyukjae dingin, tangannya melayang ke wajah Hyukjae. Dan dalam sekali ayunan kuat, Hyukjae dapat merasakan sudut bibirnya berdarah.

Plak!

Senyum dingin Hyunmi terkembang. “Itu tanda bahwa aku memegang janjimu.” Yang ditanggapi Hyukjae dengan tatapan datar tanpa sepatah kata pun sambil mengusap sudut bibirnya.

Restoran Itali, Roma.

Kyuhyun melepaskan pelukannya saat mendengar suara Kibum dengan tiba-tiba. Rahang namja itu mengeras, dia langsung meninggalkan Saera sendirian di lantai dansa lantas kembali ke meja.

Setelah mengatakan dia akan pergi sebentar lagi pada Kibum, namja itu mencoba menghubungi saudara-saudaranya yang lain. Namun dia mengurungkan niatnya, tahu tak akan ada respons yang berarti dari orang-orang itu.

Saera yang masih berdiri di lantai dansa sendirian langsung memberengut. Sambil menggerutu dalam hati karena tingkah Kyuhyun yang bisa berubah kapan saja, yeoja itu menyentakkan kaki dan berjalan ke arah meja mereka.

Yeoja itu menjatuhkan dirinya dengan bunyi ‘bug’ cukup keras di kursi, sukses membuat Kyuhyun berpaling dari acara termenungnya.

Kyuhyun mengerutkan kening, menatap Saera bingung, “Wae?”

Menggeleng, Saera menyambar Jus Alpukat di atas meja sambil cemberut. Moodnya sudah hancur berantakan gara-gara Kyuhyun. Namja itu sukses sentosa menghancurkan hari indahnya hanya karena satu tindakan, benar-benar namja tak peka!

Kyuhyun menajamkan pandangan ke arah Saera, membuat yeoja itu menghentikan aksi merajuknya dan menelan ludah gugup.

Wae? Kenapa kau menatapku seperti itu?”

Kyuhyun mendengus. “Kita harus pergi dari sini.” katanya sambil berdiri.

MWO?!” pekik Saera terkejut, “aku bahkan belum menghabiskan makanan ini! Setidaknya biarkan aku menghabiskan ini dulu.”

Tatapan Kyuhyun beralih pada makanan yang masih terhidang di atas meja, “Kerajaanku lebih penting daripada makanan itu.” Tegas, Kyuhyun menyelipkan perintah tersirat kepada Saera.

Saera diam. Merasa disiram air es mendengar kata-kata Kyuhyun. Apa dia memang terlalu egois?

Lalu bayang-bayang tentang kematian menghampirinya, membuat Saera meremas kedua tangannya kuat-kuat. Pemikiran mengenai kematian yang semakin dekat dengannya membuat Saera meragu. Haruskah ia ikut bersama Kyuhyun?

Belum sempat Saera mengeluarkan pendapat, Kyuhyun sudah terlanjur menarik tangannya keluar restoran terlebih dahulu.

Sungai Han, Seoul.

Duar! Duar!

Deg!
Jongwoon dan Taeyoung terkesiap dari euforia yang mereka buat begitu mendengar suara letusan kembang api terdengar. Refleks, keduanya langsung memundurkan tubuh mereka masing-masing dengan gerakan kaku.

Taeyoung menyelipkan sejumput rambut ke belakang telinga dengan gugup, dia menundukkan kepala dalam-dalam, menatap ujung sepatu yang dikenakannya dengan gamang. Batinnya menjerit keras, bertanya tentang apa yang─akan─ia dan Jongwoon lakukan barusan. Apa akal sehatnya sudah hilang?

Jongwoon terenyak dalam diam. Kesadaran langsung menamparnya berulang-ulang. Batinnya berteriak menyuruh ia mengendalikan diri.

Keduanya terdiam dalam kesunyian yang canggung, hanya letusan kembang api yang terdengar di atas langit sana. Jongwoon dan Taeyoung sibuk dengan pikiran masing-masing, berusaha mengingatkan diri sendiri untuk tidak jatuh. Mereka berusaha mengingat tujuan awal bersama, berusaha memupus rasa aneh yang pelan-pelan menyelinap. Terutama Jongwoon, dia harus membekukan hatinya kembali secepat mungkin.

Mianhaeyo Young, Oppa tadi terbawa suasana.” gumam Jongwoon beberapa menit kemudian, dia sama sekali tak berani melirik ke arah Taeyoung, karena itulah dia lebih memilih menatap langit yang bertabur kembang api.

Merasa tersentak mendengar perkataan Jongwoon, Taeyoung tak urung menahan napas beberapa detik guna menghilangkan sesak di hatinya. “Gwaenchana, tidak usah dipikirkan. Kita sama-sama terbawa suasana Oppa.” kilah Taeyoung, ikut memfokuskan pandangan pada letusan kembang api di langit sana.

Jongwoon berusaha menahan hatinya yang pelan-pelan meretak saat Kibum melakukan telepati dengannya. Mata namja itu membulat, tangannya terkepal keras mendengar informasi yang dikatakan oleh Kibum. Tidak. Tidak sekarang. Jongwoon bergumam dalam hati, pikirannya langsung suram begitu memikirkan mengenai Negerinya saat ini.

“Kita harus pergi sekarang.” titah Jongwoon dingin, berdiri, lalu menarik tangan Taeyoung tanpa memedulikan ekspresi bingung yang terpancar dari wajah yeoja itu.

***

4 ekor pegasus berbulu putih cemerlang berjejer dengan rapi di depan Kerajaan, dan tak jauh dari 4 pegasus itu─tepatnya 20 meter di depan 4 pegasus itu─juga berjejer ribuan pegasus lain, lengkap dengan prajurit sihir lainnya. Rakyat-rakyat dengan sihir biasa sudah diamankan oleh pengawal kerajaan. Semuanya sudah siap, awan hitam yang menyelimuti langit Negeri Shappire Blue pun seolah mengabarkan bahwa sang iblis kegelapan siap menghadapi serangan prajurit Shappire Blue.

Tinggal menghitung menit, dan perang akan dimulai.

“Jadi, yang perlu kalian lakukan hanya pergi ke bukit suci, pergi ke puncak tertinggi dan kalian akan menemukan lapangan luas di sana. Satukan kekuatan kalian dan buatlah pola ziguari di sana, di dalam perkamen ini, semua cara-cara melakukan pemanggilan tertulis.” Jungsoo memberikan segulung perkamen di tangan kanannya pada Jongwoon setelah menghela napas panjang. Tangan Jongwoon bergetar saat mengambil perkamen itu dari Jungsoo. Cemas dan takut berkumpul di hatinya dalam sekejap.

Hening. Semuanya larut dalam kegelisahan masing-masing.

Bukan hanya Jongwoon yang memiliki perasaan cemas dan takut, tapi 3 namja lain juga 4 yeoja lain yang berdiri mengelilingi Jungsoo dan Jongwoon juga merasakan hal yang sama. Tubuh mereka mulai terasa mati rasa karena ditekan ketakutan tak berdasar.

Bukit suci, keempat Pangeran itu mendesah dalam hati. Yang semua rakyat Shappire Blue tahu, tak ada seorang pun yang pernah benar-benar pergi ke sana. Bukit suci memiliki pelindung tersendiri, tak ada seorang pun yang pernah mencapai puncak bukit. Paling jauh hanya tengah, sebab sebelum mereka melangkah lebih jauh, bukit suci telah melempar tubuh orang itu keluar. Mitos mengatakan bahwa hanya benar-benar orang yang mempunyai keinginan kuat dan ketulusan hati untuk melindungi orang lain yang bisa sampai ke atas bukit.

“Yang Mulia, semua prajurit telah siap. Kami tinggal menunggu perintah Anda.” Menteri Youngmin membungkuk hormat pada Jungsoo dan yang lainnya sebelum menginformasikan hal itu.

Semua yang terpekur mengerjapkan mata mereka sekali, serentak menatap kearah Youngmin yang berdiri tegak dengan wajah datar.

Jungsoo mengangguk pada Youngmin, senyum getir yang terlihat menyedihkan terukir di bibirnya. “10 menit lagi kita akan berangkat.”

Youngmin balas mengangguk patuh lantas meninggalkan 9 orang itu setelah sekali lagi mengangguk. Mata Jungsoo kembali jatuh pada ke 8 orang yang kini ada di hadapannya, namja paruh baya itu memandangi wajah mereka satu-persatu, sesak menyusup dengan cepat ke dalam benaknya.

“Tolong, kembalilah dengan utuh dan selamat. Negeri ini membutuhkan kalian.” kata Jungsoo, setengah berbisik. Semuanya menelan ludah, tak yakin dengan jawaban apa yang harus mereka berikan.

Aboeji juga harus berjanji akan baik-baik saja.” Donghae akhirnya bersuara setelah terpekur lama, namja itu memaksakan senyum di bibirnya. Senyum yang terlihat pasrah.

Jungsoo menahan air matanya agar tidak mengalir, dia kali ini tersenyum tulus, namja itu beranjak kearah putra-putranya dan memeluk mereka satu-persatu. Jungsoo tak ingin kehilangan siapa pun, tidak di antara keempat putranya. Mereka adalah satu-satunya yang tersisa, satu-satunya yang diberikan Sora untuknya sebelum yeoja itu meninggalkan dia mempimpin kerajaan sendirian. Mereka berempat adalah amanat Sora.

“Jongwoon, jaga dongsaengmu baik-baik. Kau paling dewasa di antara mereka, tolong kembali. Negeri membutuhkanmu dan Aboeji menyayangimu..” kata Jungsoo saat memeluk Jongwoon. Jongwoon mengangguk, balas memeluk ayahnya tercinta.

“Donghae, walau pun kau sering sekali membuat Aboeji pusing karena sikap playboymu, Aboeji menyayangimu, kembalilah dengan selamat.” Donghae mengangguk, menahan air matanya agar tidak jatuh saat mereka berpelukan.

“Kyuhyun, kau adalah ahli strategi paling hebat yang pernah Aboeji temuimu. Meski pun sikapmu sangat evil, Aboeji sungguh menyayangimu. Kembalilah dengan selamat.” Kyuhyun tak tahu harus bereaksi apalagi selain mengangguk dan balas memeluk Jungsoo dengan erat. Batinnya menjerit, tak menyangka dia akan mengalami hal seperti ini. Terancam kehilangan semua yang disayanginya.

Jungsoo berhenti sebentar di depan Hyukjae, lantas memeluknya dengan erat. “Sora mewariskan penguasaan ilmu sihir  yang cepat dan keingintahuan yang besar padamu, mianhae Aboeji sempat menyalahkamu. Kembalilah dengan selamat Hyukjae, Aboeji menyayangimu.” Hyukjae memejamkan mata, membalas pelukan Jungsoo erat, seolah tak ingin kehilangan.

Jungsoo mengusap sudut matanya yang sedikit berair sebelum melepaskan pelukannya dari Hyukjae dan beralih menatap keempat yeoja yang berdiri mematung. Jungsoo tersenyum, “Untuk kalian, terimakasih sudah mau membantu kami. Kembalilah dengan selamat.” Menghela napas sekali, Jungsoo kembali berkata, “Kami akan berangkat terlebih dahulu.” Dan berjalan menuju prajurit-prajurit lain tanpa menoleh lagi pada anak-anaknya.

Semuanya membeku. Menatap kalut hingga ribuan pegasus itu melesat tinggi. Pelan menjauh sampai hilang ditelan awan.

“Kita juga harus berangkat sekarang.” Jongwoon membuka mulut, memberanikan diri menatap satu-persatu wajah yang lainnya, matanya berhenti sebentar saat menatap Taeyoung, tatapannya mendalam, namun Jongwoon langsung berjalan ke arah pegasusnya setelah itu, tahu ini saatnya. Dan tidak boleh ada hati yang dilibatkan saat perang ini berlangsung.

Tak sepatah kata pun keluar dari mulut masing-masing, mereka semua menurut. Berjalan mendekati pegasus masing-masing bersama para hisami.

Para hisami baru saja akan naik ke pegasus masing-masing namja yang saat ini merupakan partnernya saat suara pekikan yeoja terdengar dari belakang. Keempatnya spontan menghentikan usaha untuk menaiki pegasus itu lantas menengok ke belakang dan menemukan wajah cantik 4 yeoja yang langsung menggeser mereka ke pinggir dan memeluk masing-masing namja yang sudah ada di atas pegasusnya.

Keempat yeoja yang tersingkir memekik, berseru kesal dalam hati. Mata mereka menatap tajam yeoja-yeoja itu, tak suka, namun juga tak bisa berkata apa pun. Mereka tentu saja tak punya hak untuk memarahi yeoja-yeoja itu bukan?

***

“Ugh, Vic. Jangan terlalu erat, kau membuatku sesak!” erang Kyuhyun sambil melepaskan pelukan yeoja bernama Victoria itu dari lehernya secara paksa, ditatapnya Victoria sebentar sebelum menghela napas panjang. Saat ekor matanya tanpa sengaja menangkap bayangan Saera, Kyuhyun merasa paru-parunya terganjal melihat tatapan tajam yeoja itu padanya dan Victoria.

Victoria tersenyum tanpa dosa, memeluk lengan Kyuhyun manja dengan mengabaikan tatapan mematikan yang seolah menembus punggungnya. “Mianhae, Oppa. Aku hanya terlalu merindukanmu.”

“Astaga, Vic. Kita hanya tidak bertemu selama beberapa jam.” keluh Kyuhyun dengan nada jengah.

Meski pun sangat enggan mengakui, tapi Saera tak bisa memungkiri bahwa Victoria terlihat sangat cantik. Wajahnya terlihat seperti putri-putri yang sering diceritakan hanya ada di Negeri dongeng. Dan Kyuhyun, mata Saera mengamati Kyuhyun sekilas. Namja itu jelas punya ketampanan dan aura Pangeran yang kuat. Saera menggigit bibir, merasakan hatinya memanas untuk alasan tak jelas ketika berpikir bahwa keduanya memang cocok disandingkan sebagai pasangan.

“Bisakah kita berangkat sekarang?” Suara Saera menyela Victoria yang baru saja akan berbicara kembali.

Victoria mengerjap, menatap ke arah Saera seolah baru sadar bahwa yeoja itu sedari tadi berdiri satu langkah di sampingnya. Senyum manis yang terlihat memuakkan di mata Saera langsung terpasang otomatis di wajah Victoria. “Annyeong, kau pasti hisami yang ditemukan Kyuhyun Oppa.” sapanya sok akrab sembari mengulurkan tangan, Saera menjabatnya dengan enggan.

“Victoria imnida, yeojachingu Kyuhyun Oppa. Kuharap Kyuhyun Oppa tidak merepotkanmu selama di bumi.” sambungnya kemudian dengan nada semanis mungkin.

Saera menahan diri untuk tidak mendengus di depan wajah Victoria. Entah untuk alasan apa, Saera membenci yeoja ini sejak pertama kali dia memeluk Kyuhyun. Saera berusaha menaiki pegasus itu tanpa membalas perkataan Victoria, dia tersenyum tipis saat Kyuhyun mengulurkan tangan dan membantunya naik.

Kyuhyun menatap Victoria setelah memastikan Saera duduk nyaman di belakangnya. “Vic, kami harus pergi sekarang.”

“Pastikan kau kembali tanpa luka sedikit pun, Aboejiku sudah menyusun rencana untuk pertunangan kita.”

Kyuhyun baru saja akan membuka mulut untuk menyela perkataan Victoria saat tiba-tiba saja yeoja itu berjinjit dan menciumnya di depan Saera.

Saera mematung, dan Kyuhyun merasakan tubuhnya menegang saat sadar dia berciuman di depan mata Saera.

***

Bodoh, kenapa kau harus bersikap-sikap seolah pemandangan di hadapanmu sangat mengerikan?!

Taeyoung mengutuk dirinya sendiri dalam hati. Sejak yeoja cantik itu berlari ke arah Jongwoon dengan menyenggolnya tanpa perasaan lantas memeluk namja itu dengan begitu erat, Taeyoung mendapati dirinya sendiri langsung memalingkan wajah ke arah lain, seolah menolak melihat pemandangan itu. Dia bisa merasakan ada sesuatu di dalam dirinya yang menjerit, menyuruh ia menyeret yeoja itu dari hadapan Jongwoon sekarang jua.

Namun Taeyoung tentu saja harus memikirkan usul itu ribuan kali, bukan? Pertama, dia ada di sini karena suatu perjanjian dengan Jongwoon, hanya 5 hari─well, sekarang hanya tiga hari─dengan janji di dalam diri untuk tidak terjatuh. Kedua, Taeyoung bukan siapa-siapa Jongwoon, dia tak punya hak untuk melakukan hal itu.

Taeyoung menatap ujung sepatunya yang dikenakannya dengan gamang, kembali mencaci dirinya sendiri begitu tersadar dengan semua pemikirannya. Mengapa Jongwoon selalu ada di pikirannya beberapa jam terakhir ini? Taeyoung yakin ada sesuatu yang salah terjadi di otaknya.

Mata Jongwoon sendiri tampak mengamati Taeyoung dari balik rambut yeoja di pelukannya, diam-diam mengembuskan napas berat saat melihat bagaimana Taeyoung sama sekali tak mau menatapnya karena kehadiran yeoja ini. Namun sejurus kemudian, Jongwoon terenyak. Dan lagi-lagi, namja itu bertanya-tanya dalam hati mengapa ia harus mencemaskan pendapat Taeyoung mengenai dirinya.

“Kau membuatku cemas Oppa.” bisik yeoja itu di telinga Jongwoon, mengeratkan kalungan lengannya di leher Jongwoon.

Jongwoon terjaga dari pikirannya, namja itu buru-buru melepaskan pelukan yeoja di depannya sambil mencoba memberikan senyuman lembut. “Aku baik-baik saja,” tukas Jongwoon, “kembalilah ke ruang perlindungan, Eommamu pasti sangat mencemaskanmu sekarang, Sooyoung-ah.” imbuh Jongwoon kemudian.

Sooyoung mau tak mau melepaskan kalungan lengannya di leher Jongwoon, yeoja itu menatap mata Jongwoon lurus-lurus dengan tatapan lembut. Sudut bibirnya terangkat membentuk sebuah senyuman. “Aku akan segera kembali ke sana.” katanya, Jongwoon mengangguk, balas tersenyum, setengah mati berusaha mengabaikan keinginan untuk menatap Taeyoung. “Pastikan kau selamat Oppa, agar kita bisa menikah bulan depan sesuai rencana.”

Sret!
Taeyoung praktis menatap tajam ke arah Jongwoon dan Sooyoung begitu mendengar perkataannya. Yeoja itu mengatupkan mulutnya rapat-rapat, menahan teriakan yang akan lepas keluar dari bibirnya.  Namja itu akan menikah di sini, sedangkan di Bumi dia bersikap sangat manis pada Taeyoung. Apa itu semua hanya palsu? Apa Jongwoon benar-benar bersikap manis hanya untuk mendapatkan kepercayaannya?

Sial! Taeyoung buru-buru membuang wajah saat Jongwoon tanpa sengaja menatap ke arahnya, dia mengulur napas, mencoba mengendalikan emosinya yang mendadak seperti ingin meledak-ledak.

“Aku harus pergi sekarang, Soo,” sergah Jongwoon tak mau menjawab, “Taeyoung, ayo naik.” katanya kemudian pada Taeyoung. Jongwoon menolak gagasan bahwa ia sangat tak nyaman Sooyoung mengatakan hal itu di depan Taeyoung.

***

Bogoshippoyo Oppa..”

Seperti Barbie, Hyerin bergumam dalam hati begitu melihat wajah yeoja yang baru saja melepaskan pelukannya pada Donghae. Yeoja itu meremas bajunya pelan, menahan perasaan aneh entah-apa-itu yang menghimpit dadanya.

Tidak lagi, desah Hyerin kembali dalam hati, memperingatkan dirinya untuk tidak peduli pada Donghae. Namja itu sudah menegaskan, dan Baekhyunmu sudah menunggu. lanjut Hyerin kemudian saat menyaksikan Donghae tengah membelai pipi yeoja di hadapannya.

Saat mata Donghae tanpa sengaja menatap ke arahnya, Hyerin segera memalingkan wajah. Tak ingin Donghae melihatnya, Hyerin tak sanggup menatap mata Donghae untuk saat ini. Donghae tanpa sadar malah terpekur melihat Hyerin yang memalingkan wajah darinya. Tangannya menggantung di udara, tak lagi mengelus pipi yeoja di depannya.

Sang yeoja mengernyit, mengayunkan tangannya di depan wajah Donghae hingga namja itu terkesiap pelan. “Waeyo Oppa?” tanyanya khawatir, lalu wajahnya berubah sedih beberapa detik kemudian, “Kau tidak merindukanku?”

Donghae langsung berusaha menenangkan hatinya yang mulai kacau lagi dengan memasang senyum manis, “Aniyo, Yoona-ya, tentu saja Oppa juga merindukanmu.” elak Donghae sambil membawa Yoona ke dalam pelukannya selama beberapa detik.

Senyum cerah tersungging di bibir Yoona mendapat pelukan Donghae, “Syukurlah, aku pikir Oppa sudah melupakanku.” katanya lega, Yoona lantas menengok ke samping, senyumnya memudar digantikan raut penyesalan begitu melihat Hyerin. Dia membungkuk, “Ah, mianhae mendorongmu tadi, aku hanya terlalu senang saat mendengar Donghae Oppa sudah kembali.” Yoona berdiri tegak kembali dengan senyum manisnya, dan Hyerin bersikap kikuk dengan mengangguk kaku. “Aku─”

“Yoona yeojachinguku, Hyerin-ah.” sela Donghae, melirik sekilas ke arah Hyerin sebelum memusatkan pandangannya pada wajah cantik Yoona lagi. “Apa yang kaulakukan di sini chagi? Kembalilah ke ruang perlindungan. Aku tidak ingin sesuatu terjadi padamu.”

Jujur, dulu Donghae mungkin sangat menyukai melemparkan kata-kata manis untuk yeojachingunya, namun sekarang, saat Hyerin ada di hadapannya dan menonton mereka berdua, Donghae merasakan perasaan aneh menyelimuti hatinya. Dan perasaan aneh itu benar-benar tak menyenangkan, sangat mengganggu, juga sangat menuntut. Menuntut Donghae mengakui Entah-Apa-Itu yang kini bersemayam di hatinya.

Pipi Yoona bersemu, dan Hyerin hampir lupa cara bagaimana caranya bernapas saat kedua orang itu berciuman di depan matanya. “Aku menunggumu, pastikan kau kembali dengan selamat.”

Donghae tak menjawab, hanya tersenyum ke arah Yoona sebelum mengelus helai pegasusnya dan berkata pada Hyerin tanpa meliriknya sama sekali. “Naiklah sekarang Hyerin-ah, kita harus berangkat.”

Hyerin mendapati dirinya mematuhi apa yang Donghae katakana dengan hati tersayat.

***

“Demi Tuhan, Oppa! Apa yang terjadi pada bibirmu?!”

Hyunmi memutar bola mata malas sembari memalingkan wajah ke arah lain saat mendengar yeoja─yang baru saja melepaskan pelukannya dari Hyukjae─itu memekik hebat begitu matanya menatap wajah Hyukjae lekat-lekat.

Hyukjae melirik ke arah Hyunmi sekilas sebelum menurunkan tangan yeoja yang resmi dijodohkan dengannya sejak setahun lalu itu dari pipinya, “Gwaenchana Jina-ya, ini hanya kecelakaan kecil, tak perlu dicemaskan.” tukasnya menenangkan.

Yeoja bernama Jina itu spontan menyunggingkan senyum manis, “Syukurlah, aku hanya terlalu khawatir pada Oppa.” balasnya, meraih tangan Hyukjae dan menggenggamnya erat.

Hyukjae membalas senyum manis Jina dengan tak kalah manis, dia sama sekali tak berani melirik ke arah Hyunmi lagi. Yeoja itu pasti berpikir dia telah berbohong tentang perkataannya beberapa waktu yang lalu sebab kenyataannya, Hyukjae sudah memiliki yeoja di sini. “Aku akan baik-baik saja Jina, percayalah.”

Gigi Hyunmi bergemeletuk begitu menyaksikan bagaimana keduanya saling memandang satu sama lain. Api kecil menjalar di hatinya perlahan, dan Hyunmi takut api itu akan berkembang lantas membara.

Masih mencintainya Ahna katanya? Hyunmi mengejek dalam hati. Cih, namja itu benar-benar pandai berbohong. Mana ada namja yang masih mencintai yeoja lain namun sudah mempunyai kekasih yang baru? Lucu sekali. Namun lebih lucu lagi sebab Hyunmi masih saja mempercayai perkataan namja itu tadi. Seharusnya Hyukjae tidak mempunyai siapa-siapa di sini agar Hyunmi dapat mempertimbangkan mengenai kematian itu, seharusnya Hyukjae bisa membuat Hyunmi percaya bahwa namja itu tulus, seharusnya…. Tunggu! Tunggu! Kenapa ia harus peduli pada Hyukjae?!

“Bisakah kita pergi sekarang?” desis Hyunmi dingin membuat kedua orang yang masih seru bertatapan itu serentak menoleh padanya, Hyunmi membalas pandangan keduanya dengan tajam. “Kau tidak lihat pegasus ketiga saudaramu sudah melesat?” imbuhnya terdengar sinis.

Hyukjae tersentak, “Jina-ya, Oppa sepertinya harus pergi sekarang. Kembalilah ke tempat perlindungan, jangan biarkan dirimu terluka.” katanya pada Jina.

Arraseo.” angguk Jina, “Jaga diri Oppa baik-baik.” bisiknya sebelum mencium pipi Hyukjae kilat dan berlari ke dalam istana bersama ketiga yeoja lainnya. Amarah melonjak-lonjak di hati Hyunmi, namun bukan amarah karena merasa Hyukjae mengkhianati Ahna lagi, ada sesuatu yang lain, yang mati-matian berusaha Hyunmi ingkari.

Hyukjae menelan ludah gugup saat Hyunmi naik ke pegasusnya tanpa bicara sepatah kata pun. Rasa cemas menyelinap masuk ke dalam hatinya melihat tatapan tajam Hyunmi, dia cemas yeoja itu salah paham padanya, padahal dia tahu perasaan cemas seperti itu seharusnya tak ada.

***

Keempat pegasus itu mengepakkan sayap mereka, terbang tinggi membelah awan gelap Negeri Shappire Blue dengan pasti. Menuju sebuah tempat bernama bukit suci. Tempat di mana semua yang ada benar-benar murni, tempat di mana semua keyakinan bisa menjadi kenyataan, dan tempat di mana, sebuah keajaiban kadang kala tercipta.

8 orang yang menunggangi pegasus itu terdiam dalam hening, sibuk dalam pikiran masing-masing yang kian lama kian tak jelas, kian memburam, kian membuat mereka sibuk melongok ke dalam hati masing-masing untuk mencari tahu kenyataannya.

Namun meskipun begitu, keempat namja itu sama sekali tetap berpegang teguh pada tujuan awal mereka. Menyelamatkan Negeri tercinta.

Mereka mungkin tak pernah tahu apa yang akan menghadang mereka di tengah jalan, namun satu tekad untuk menyelamatkan Negerinya membuat mereka terus melangkah, tak gentar, tak peduli pada kematian. Juga susah-payah mencoba tak peduli pada kekalutan di hati masing-masing, kekalutan yang bukan hanya disebabkan oleh keselamatan Negeri mereka, tapi juga kekalutan akan kepastian perasaan yang mereka miliki untuk masing-masing yeoja yang duduk di belakang mereka.


TBC..
cepet ya cepet? iyadoong :P
komen di nanti^^

1 komentar:

  1. kece demi Allah maak >//< kereeeenn!!! :'D buruan lanjut. ^o^)/ post juga di wp ih... keyeeen

    BalasHapus