Entri yang Diunggulkan

Series Recommendations! đŸŽ„

Hi, happy Wednesday all! So decided to post my own personal series. I usually dont like watching movie, so because i watched those series ...

Sabtu, 23 Juli 2011

He found her

sebelumnya saya nyoba-nyoba bikin cerpen gantung hehe *tapi ini nggak tau ngantung nggak tau nggak__-*, happy reading ya #itupun kalo ada yang mau baca :D


*
Hanya dia yang mampu membuat jantungku berdebar. Hanya dia yang mampu membuatku melupakannya─pangeran kuda putihku.  Dan hanya dia yang selalu kupikirkan, mengganggu setiap hariku.

Tapi dia terlalu sempurna untuk kugapai. Aku menyadarinya, dan tak akan pernah berharap lebih (selain jika aku bisa berteman dengannya). Bagiku, hanya dengan melihatnya dan tahu ia baik-baik saja bisa membuatku merasa senang.

catatanku, Ashilla Zahrantiara.


Shilla menggigit bibir bagian bawahnya, meringis sambil membaca ulang semua kata demi kata yang telah ia tuangkan dalam catatannya. Well, baginya semua yang ia tulis terasa benar─bukan hanya terasa, tapi memang benar terjadi. Mungkin sebagian orang akan menganggapnya menyedihkan, karena ia mencintai seseorang yang tak mungkin ia raih dan tak pernah berhenti mencintai orang itu walau kenyataan jelas-jelas telah membungbungkan sebuah fakta ia takkan pernah sanggup bersanding dengan cowok itu.


Cowok itu bernama Cakka, lengkapnya Cakka Kawekas Nuraga. Cowok paling populer di sekolahnya. Juara umum di tingkatan, pewaris tunggal perusahaan besar, dan seorang cowok yang benar-benar memesona di mata kaum hawa.


Shilla menghela napas mengingatnya. Ya, benar-benar sempurna. Apalagi yang kurang dari seorang Cakka? Setelah menambah beberapa kalimat lagi di catatannya, cewek itu menutup bukunya dan menyapu pandangan ke sekeliling taman sekolah. Matanya terhenti di satu titik yang tengah terpekur dengan bukunya. Shilla menarik ujung bibirnya membentuk sebuah lengkungan tipis, lantas berdiri dengan buku catatannya di tangan kiri. Ada sebuah perasaan ingin mengenal sosok itu lebih jauh lagi, yang tiba-tiba saja menggelitik hatinya. Cewek itu tercenung sesaat, sebelum akhirnya sebuah senyum kembali tersungging di bibir manisnya.


Hei, tak ada salahnya mencoba berteman kan? Lagipula mereka sekelas (walau Shilla sendiri ragu apakah Cakka mengenal dia, atau bahkan, cewek itu juga ragu Cakka tahu namanya). Dengan langkah tegap, Shilla berjalan ke arah bangku taman tempat Cakka berada.


"Hei, Kka." Shilla menghentikan langkahnya lima meter di hadapan Cakka saat melihat Ify─seorang gadis populer yang kabarnya naksir Cakka─merangkul bahu cowok itu dengan akrab. Setelah itu Shilla melihat Cakka menoleh ke arah Ify dengan senyuman manis di bibirnya.


"Kenapa Fy?"


Shilla tak mendengarkan percakapan selanjutnya karena ia sudah terlebih dulu melangkah pergi meninggalkan taman, sambil mendekap buku catatannya erat-erat. Shilla harus bisa menelan kenyataan pahit, karena ia memang takkan pernah bisa bisa mendekati Cakka. Sekalipun untuk sekadar berteman. Ia, tak mampu meraih Cakka, seperti ia tak mampu meraih pangeran kuda putihnya.

*
Cakka mendengus jengkel melihat beberapa cewek genit yang sedang nangkring di depan kelasnya. Cowok itu mendumel dalam hati tapi tak berani untuk bertindak kurang ajar pada perempuan (karena ajaran Bundanya yang selalu mengatakan bahwa ia harus menghormati seorang perempuan).


Mereka mau apasih? Nggak bosen apa godain gue tiap hari? batin Cakka sarkatis, tapi berhubung bel masuk 5 menit lagi, cowok itu tidak punya pilihan lain untuk terus melangkah masuk. Mengabaikan dampaknya nanti saja.


"Hai Cakka," sapa salah satu dari cewek-cewek itu ketika Cakka sudah hampir masuk ke dalam kelas. Wajahnya berseri-seri senang.


Cakka memaksakan diri untuk tersenyum, "Hai juga," balasnya sopan. "Permisi ya, gue mau lewat."


Cakka berusaha menerobos masuk tapi gagal karena seorang cewek  menghalangi jalannya dengan senyum genit di bibirnya, membuat Cakka jengah sendiri.


"Mau apa sih? Buru-buru amat?" seru cewek lainnya lalu menggamit lengan Cakka, Cakka berusaha menepis tapi gagal. "Bel masuk juga lima menit lagi kali Kka, udah disini aja. Seneng-seneng sama kita." sambungnya dengan nada genit yang tak berubah.


Cakka mendengus samar, tapi sejurus kemudian senyumnya merekah melihat Agni di kejauhan.


"Ag, Agni!" panggil Cakka keras. Cewek-cewek di sekeliling Cakka otomatis mundur melihat Agni berjalan ke arah mereka.


Siapa pula cewek yang tak takut pada Agni si preman sekolah? Semua cewek waras tahu bahwa lebih baik menghindari Agni jika ingin hidup tenang di sekolah ini.


"Kenapa Kka?" tanya Agni kalem. Penampilannya benar-benar cuek (atau slengean?). Rambut pendek sebahu, wajah tanpa make up apa pun─bahkan aksesoris, dan baju seragam yang lengannya di gulung sampai ke atas.


Cakka tersenyum penuh arti seraya mengedipkan sebelah matanya, membuat Agni mendengus. Cewek tomboy itu sudah terbiasa dengan isyarat Cakka yang demikian.


"Cih, dasar payah lo." cibir cewek tomboy itu sambil berjalan bersisian dengan Cakka.


Di sebelahnya, Cakka hanya tertawa kecil, membuat Agni diam-diam tersenyum. Cakka melenggang masuk tanpa di halang-halangi lagi oleh cewek-cewek genit itu.


"Thanks ya Ag. You are my heroooo," ucap Cakka sungguh-sungguh begitu tiba di bangkunya. Agni tergelak mendengarnya, cewek itu lalu duduk di bangku kosong depan bangkunya juga bangku Cakka.


"Ur well Prof," seru Agni bercanda. "Tapi nggak gratisss yaaa." imbuh gadis itu sambil cengengesan.


Cakka memutar bola matanya mendengar ucapan Agni. Dasar! seru cowok itu dalam hati. Cakka kemudian menatap Agni. Agni ini, sahabat sebangkunya sejak kelas X. Sangat di segani di kalangan cewek (penyebabnya adalah, karena sewaktu di gencet kakak kelas dulu, Agni malah membuat kakak kelas yang menggencetnya itu babak belur, sejak saat itulah Agni terkenal sebagai preman. Penampilannya yang slengean juga menambah citra preman dalam diri Agni). Tapi karena citra preman Agni lah Cakka selalu untung jika bersamanya, ia tak pernah di ganggu cewek!


Cakka mendecakkan lidah sambil mendengus. "Dasar itungan!" serunya lalu mengacak rambut Agni gemas membuat sang empunya rambut menggerutu kesal.


"Eh, jangan acak-acak rambut gueeee." Agni melotot tajam, "Gue tonjok baru tahu rasa lo!" ancam cewek itu kemudian sambil menunjukkan kepalan tangannya di depan wajah Cakka. Cakka hanya cengengesan seraya mengangkat kedua jarinya membentuk huruf V.


"Soriiiii Agni. Yaudah, lo maunya apa?"


Agni tersenyum sumringah, bergegas duduk di mejanya dan mengaduk isi tasnya. "Pr kimia donggg." pinta Agni memelas sambil mendekap buku kimianya erat-erat.


Cakka tertawa-tawa lalu mengambil buku kimianya dari dalam tas dan menyodorkannya ke hadapan Agni. Dengan sigap, Agni mengambil buku kimia Cakka dan menyalin isinya. Cakka memerhatikan sambil geleng-geleng kepala melihat tingkah Agni.


"Kka, makanya lo tuh mesti punya pacar biar cewek-cewek ganjen itu nggak deketin lo lagi." celetuk Agni di sela-sela menconteknya. Nada bicara Agni datar, walau hatinya diam-diam menyimpan suatu harapan.


Cakka bergeming, wajahnya berubah mendung.


"Woy Kka!" panggil Agni jengkel melihat Cakka malah melamun.


Cakka terkesiap, lalu tersenyum sekenanya. "Gue nggak bisa Ag,"


Agni tersenyum mengejek. "Masih nungguin peri kecil lo alias Ricil yang nggak tahu dimana itu?" Cakka mengangguk sambil tersenyum.


"Gue yakin kalau selama ini dia deket sama gue,"


"Terus kenapa lo nggak cari?"


Cakka menghembuskan napas panjang dan mendesah, "Gue udah nyari, tapi belum ketemu."


"Ya ampun, lo ini emang payah ya!" sahut Agni datar dengan nada sedikit bersemangat, tapi tanpa sedetikpun mengalihkan pandangannya dari buku di hadapannya.


Cakka merengut sebal melihat Agni─yang menurutnya─acuh tak acuh berbicara dengannya. Cowok tampan itu menyapu pandangan pada seisi kelas.


Di saat yang bersamaan,  Shilla mengangkat wajahnya, pegal karena sedari tadi terus menunduk untuk membaca novel di pangkuannya. Tepat ketika gadis itu menatap lurus ke depan, matanya bertemu dengan mata Cakka. Beberapa saat keduanya hanya saling pandnag dalam diam, sebelum akhirnya di detik berikutnya Shilla segera menunduk dengan pipi memerah dan jantung yang berdegup kencang.


Cakka tersadar setelah cewek yang─secara tak sengajaberadu pandang dengannya menunduk. Ada perasaan aneh yang melesak masuk ke dalam hatinya melihat mata cewek itu. Cakka tercenung, mencoba mengingat mata siapa yang memiliki cahaya seperti mata cewek itu. Hingga akhirnya, ia tersentak sendiri. Mata itu....


Cakka segera berdiri sambil memandang Shilla di pojok dengan tatapan penuh rindu. Dadanya bergemuruh hebat. Ketika hendak melangkah, tangannya di cekal oleh Agni. Dengan heran, cewek itu bertanya,


"Mau kemana lo?" Cakka tak menggubris pertanyaan Agni, cowok itu menyentakkan tangan Agni lantas berlalu menghampiri Shilla.


Agni mengernyit bingung melihat sikap aneh Cakka, dan cewek itu tambah melihat Cakka duduk di bangku kosong depan Shilla. Cewek yang─bahkan Agni yakin, boro-boro Cakka kenal, tahu namanya saja tidak. Cowok itukan cuek sekali, saking cueknya, meski sudah hampir satu semester di kelas yang sama, Cakka baru tahu dan mengenal beberapa orang saja yang lumayan populer. Dan karena itulah Agni sangat bingung sekarang, bahkan anak-anak sekelas pun ikut bingung dan memerhatikan Cakka.


"It's you?" tanya Cakka lirih sambil memandang Shilla lekat.


Perasaan Shilla semakin tak keruan begitu sadar Cakka ada di dekatnya, tapi di lain sisi gadis itu juga bingung mendengar ucapan Cakka. Apa maksudnya? Akhirnya, Shilla hanya diam hingga tak sadar bahwa Cakka telah berjongkok di depannya.


Cakka tersenyum kecil, merogoh sesuatu dari saku celananya dan membiarkannya jatuh di sela-sela jemarinya.


Shilla ternganga. Tanpa sadar, air mata telah mengalir di sela-sela matanya. Shilla menangis, mengenal betul kalung bintang berwarna biru di tangan Cakka. Sejurus kemudian, cewek itu sudah terisak di pelukan Cakka, tak lagi peduli bagaimana pandangan teman-teman sekelasnya yang sedang menatap ke arah mereka.


Cakka memeluk Shilla erat, melepaskan semua kerinduan yang selama beberapa tahun terakhir ini menggelayuti hatinya. 


"Gue nepatin janji gue kan? Gue nemuin lo, Ricil." bisik Cakka di telinga Shilla.


Hati Shilla bergetar mendengarnya. Bodoh! Maki Shilla pada dirinya sendiri dalam hati. Kenapa selama ini dia tak pernah sadar kalau selama ini pangeran kuda putihnya selalu dekat dengannya? Mengapa ia tak pernah sadar bahwa selama ini ia mencintai cowok yang sama?


"It's oke. I'am here,"


"Jahat!" raung Shilla parau sambil melepaskan diri dari dekapan Cakka, membuat Cakka mengernyit.


"Kenapa selama ini lo nggak pernah cari gue?" tuntut cewek itu tajam, "Kenapa selama ini lo nyuekin gue?"


Cakka cengengesan, tanpa aba-aba cowok itu segera menyeka sisa-sisa air mata di pipi Shilla dengan wajah gemas.


"Siapa suruh jadi cewek nggak populer?" cibir Cakka tanpa dosa. "Gue kan jadi susah nyarinya," Shilla memajukan bibirnya beberapa senti.


"Apaan sih?" tanya Shilla galak seraya menepis tangan Cakka yang masih bersarang di pipinya. Cewek itu mendelik dengan mata tajam melihat Cakka masih cengengesan.


Yang di delik akhirnya berhenti cengengesan juga. Cowok itu mendesah pelan, mengangkat tangannya sebatas wajah Shilla lalu kembali memegang kedua pipi cewek itu dengan pandangan menyesal.


"Yang penting sekarang, gue udah nemuin lo kan?" Shilla mengangguk sekali, membiarkan jemari Cakka kembali menyeka sisa-sisa air matanya dengan lembut.


"Jangan tinggalin gue lagi," pinta Shilla, menahan tangan Cakka yang baru saja akan turun dari wajahnya. Cakka mengangguk sekali, dan untuk kedua kalinya dia merengkuh tubuh Shilla ke dalam dekapannya.


Mereka berdua larut dalam sebuah euforia masa lalu tanpa mengindahkan tatapan-tatapan yang sedang mengarah pada mereka.


Di jajaran kedua dari pintu dan di bangku pertama paling depan, Agni menghela napas panjang. Ada yang di mengertinya sekarang. Cakka telah menemukan peri kecilnya kembali secara kebetulan. Agni termangu, merasakan sakit bak di godam puluhan kali dalam hatinya. Akhirnya, semua berakhir dengan ia yang takkan pernah sanggup mengatakan "Gue cinta lo," pada Cakka.


Jadi, begini rasanya sakit hati? tanya Agni dalam hati. Ya, benar-benar sakit. Kenyataannya, hanya sebagai sahabatlah ia bisa bertahan di sisi Cakka, tak lebih.


"Any wrong with them?" tanya Agni dengan nada tak suka melihat anak-anak sekelas menatap Shilla dengan pandangan sinis yang mencela.


Semua anak menengok ke arah Agni, lalu langsung kembali pada kegiatan masing-masing tanpa menoleh lagi pada Shilla.


Agni kembali menengok ke arah Cakka dan Shilla yang masih berpelukan dengan tatapan terluka, sejurus kemudian ia tersenyum pahit.


"Selamat berbahagia, Cakka."


Tamat


toeng, panjang juga ternyata. haha. Any comment to me? If yes, lets tell to me, oke? I'm waiting for that :D

Minggu, 22 Mei 2011

Will we be Romeo and Juliet Part 2?

Sudah setengah jam lamanya Zevana menunggu seseorang di sebuah taman kota yang tak jauh dari kompleks rumahnya. Dia menarik nafas lalu menghembuskannya dengan gelisah, rasanya sudah sangat lama dia menunggu tapi orang yang ditunggu belum juga menampakkan diri, atau mungkin lebih tepatnya tidak ada tanda-tanda dari orang itu untuk datang. Zevana menunggu seseorang, tepatnya seorang lelaki, sebut saja dia Alvin, kekasih Zevana yang sangat amat Zevana sayangi. Kekasih yang hampir setahun ini selalu menghiasi mimpi-mimpi serta membuat hatinya selalu bahagia dikala mengingatnya. Alvin adalah sosok lelaki yang begitu sempurna di mata Zevana, dia baik, care, dan sangat sabar menghadapi sikap Zevana yang begitu dingin. Dia, cinta pertama bagi Zevana dan Zevana harap bisa menjadi cinta terakhirnya, satu-satunya lelaki yang mampu membuatnya terbuai dengan apa yang namanya cinta.

“Ish, Kak Alvin beneran dateng gak sih?” gumam Zevana kesal, ia melirik jam tangan yang melingkar manis di pergelangan tangan kanannya yang kini menunjukkan pukul 16.00 tepat.

Zevana mendengus, lalu menyapukan pandangannya pada setiap sudut taman berharap Alvin sudah datang. Tapi harapannya sirna begitu ia tak mendapati tanda-tanda keberadaan Alvin. Wajah Zevana berubah murung, dalam hati ia bertanya-tanya tentang apakah yang menyebabkan Alvin sampai lupa akan janjinya, padahal sebelumnya Alvin tak pernah lupa pada janji mereka, bahkan Alvin selalu datang lebih awal.

Sesaat kemudian Zevana merogoh ponsel di dalam saku celananya. Dengan cepat jari-jarinya menari di atas keypad ponsel mengetikkan beberapa angka yang sudah ia ingat di luar kepala. Setelah selesai, Zevana menekan tombol hijau di ponselnya.

‘Rinai hujan basahi aku, temani sepi yang mengendap. Kala aku mengingatmu, dan semua saat manis itu’ sebaris lagu hujan milik Utopia menemani Zevana menunggu sang pemilik ponsel mengangkat panggilannya. Lama Zevana menunggu tapi hanya deringan lagu yang terdengar, karena kesal diapun memutuskan panggilannya.

“Ya, ampun. Kak Alvin kamu kemana sih?” Zevana kembali bergumam menahan rasa kesal dan khawatir yang bercampur di hatinya. Panggilan barusan merupakan panggilan ke 18 yang Zevana lakukan tapi tak kunjung di angkat oleh Alvin. Jangan-jangan Kak Alvin kenapa-napa lagi, batin Zevana khawatir.

Zevana memandangi LCD ponselnya yang bergambarkan dirinya dan Alvin, dan setelah cukup lama ke-khawatiran Zevana memuncak. Dengan tidak sabar jarinya kembali mengetikkan beberapa angka yang sejak tadi mencoba dia hubungi. Deringan nada tunggu kembali terdengar di telinga Zevana, tapi kali ini Zevana tak dapat menikmatinya, dia sudah terlalu khawatir dengan keadaan Alvin saat ini.

“Halo? Kak, Kak Alvin dimana? kok gak kesini? Kakak baik-baikkan aja kan?” pertanyaan Zevana yang bertubi-tubi langsung dia lemparkan ketika panggilannya kali ini di angkat.

Sebersit kelegaan melintas di hatinya karena ternyata Alvin masih bisa mengangkat panggilannya. Zevana tersenyum sambil menajamkan telinganya karena orang di sebrang tampak menghela nafas panjang dan sesaat kemudian senyum Zevana memudar berganti dengan gurat kesedihan, Zevana menahan nafas mendengar penuturan Ray, adik Alvin yang kini berada di rumah sakit. Ada apa ini? firasat Zevana tak enak.

“Lo, serius Ray? Kenapa bisa? Kak Alvin dimana?” Zevana merasa aliran darahnya terhenti seketika, tangannya bergetar. Ia merasa sangat tak berdaya, bahkan untuk mempertahankan ponselnya pun ia tak sanggup, ponsel itu jatuh begitu saja di samping tubuhnya. Nafasnya tercekat, dia duduk mematung di taman itu.
+++
Zevana berlari-lari di sepanjang lorong rumah sakit itu dengan butiran-butiran bening yang menyeruak di sudut matanya, berlomba-lomba ingin segera keluar tapi Zevana masih bisa menahannya sebelum dia benar-benar memastikan apa yang Ray katakan adalah benar. Langkah Zevana melambat ketika dirinya sudah sampai di depan sebuah ruang ICU dan melihat banyak orang yang dikenalinya berdiri gelisah di depan kamar sambil sesekali menengok orang yang berada di ruang ICU itu lewat jendela di samping.

“Kak Zeva” Acha yang notabene adalah adik Alvin paling kecil langsung menghambur ke dalam pelukan Zevana begitu menyadari bahwa Zevana telah datang.

Zevana memeluk Acha erat menyadari tubuh gadis kecil itu bergetar hebat, dia mengelus rambutnya pelan mencoba menenangkan walaupun hatinya sendiri tak tenang dengan keadaan seperti ini.

“Kak Alvin kak, Kak Alvin” Acha menangis terisak dibahu Zevana dengan suaranya yang amat menyayat hati, terdengar begitu miris di telinga Zevana.

“Tenang Cha, tenang” bisik Zevana halus sambil membawa Acha pada tempat duduk panjang di sepanjang koridor.

“Ray, Kak Alvin baik-baik aja kan?” tanya Zevana sambil tersenyum kecut, matanya kini mengarah pada Ray.

Ray tak menjawab dia malah memandang kedua orangtuanya, dan Rio secara bergantian, berusaha meminta pendapat. Akhirnya Rio maju, dia berjongkok di depan Zevana dan menyibakkan sehelai rambut yang menutupi wajah Zevana. Rio tersenyum lembut sambil memandang lekat-lekat wajah adik semata wayangnya tersebut, tapi entah mengapa Zevana merasa bahwa senyum kakaknya mengandung arti menyakitkan. Pelukannya pada Acha mulai mengendur, Acha pun mengerti. Dia melepas pelukannya dan duduk menyandar pada dinding rumah sakit dengan tangan yang menutupi wajahnya. Zevana balik menatap mata Rio lekat-lekat, dia berusaha sekuat tenaga menahan air matanya agar tidak tumpah.

“Lo yang sabar ya Ze. Alvin kecelakaan, waktu dia mau nemuin lo di taman. Mobilnya di tabrak truk sehingga ketika Alvin mencoba menghindar dia menabrak pohon dan akhirnya Alvin masuk rumah sakit ini Ze. Dia mengalami banyak pendarahan dan..koma”

Nafas Zevana tercekat mendengar dua kata terakhir dari Rio, dia menggigit bibir bawahnya dan seketika air matanya tumpah. Rio merangkul Zevana dan membiarkannya menangis sepuasnya. Zevana menangis terisak-isak di bahu kakaknya, dia meluapkan semua emosinya yang sejak tadi terus di pendam. Rio hanya bisa membelai rambut Zevana mencoba menenangkan perasaan gadis tersebut.

“Udah Ze. Alvin pasti sembuh” hibur Rio terdengar lembut di telinga Zevana, tapi tetap tak bisa menenangkan hati Zevana.

Gadis itu semakin membenamkan wajahnya di bahu Rio. Yang lainnya hanya bisa memandangi Zevana dengan tatapan sendu dan sayu, bukan hanya Zevana saja yang sedih, tapi semuanya pun merasakan hal yang sama.
+++
Zevana memandangi tubuh Alvin yang terbaring kaku dengan hati miris. Tak pernah sedetik pun dia berpikir bahwa keadaan Alvin akan seperti sekarang, terbaring lemah dengan segala alat kedokteran yang menempel di tubuhnya. Di sebelah kanannya terdapat monitor pendeteksi detak jantung yang saat ini menunjukkan garis naik-turun membentuk gunung, Zevana mendesah pelan sambil meraih tangan Alvin dan menggenggamnya, dia membawa tangan Alvin ke pipinya dan terus mengelus tangan itu dengan lembut. Butiran bening kembali meleleh di pipinya membentuk segurat sungai kecil.

“Kak, tolong jangan tinggalin Zeva kak. Zeva sayang sama kakak, kakak udah janjikan kalau kita akan hidup bersama selamanya. Sehidup semati” lirih Zevana sambil menekan dua kata terakhirnya membuat satu-satunya orang yang berada di ruangan itu memandang Zevana tajam dari balik novel yang di bacanya.

“Ze, apaan sih? Lo ngomong seolah-olah lo juga mau bernasib kayak Kak Alvin. Sadar Ze, omongan lo udah kelewat batas, lo pikir pake logika dong” sergah Ray emosi, dia tak habis pikir dengan pikiran Zevana yang begitu pendek. Zevana menaruh tangan Alvin kembali di samping badannya dan menoleh pada Ray yang sedang menatapnya tajam, Zevana tersenyum tipis dengan bola matanya yang tak bercahaya.

“Apa urusan lo? Lagipula itu janji gue sama Kak Alvin. Jika dia mati, gue juga ikut” nada bicara Zevana terdengar begitu menusuk, sangat tajam dan pedas.

“Ze, udah deh. Gue yakin kak Alvin pasti sembuh”

“Gue bukan anak kecil Ray, gue denger kata-kata dokter itu. Cuma 20% Ray, gak lebih” suara Zevana kembali bergetar, air mata semakin deras mengalir di pipinya. Dengan kasar Zevana menyeka air matanya dan berjalan kearah pintu yang tertutup, dia lebih baik menghindari Ray, pikirannya memang sedang kacau.

“Ze, lo mau kemana?” seru Ray setengah berteriak melihat Zevana menarik kenop pintu, sebelum menghilang Zevana melempar senyum sinisnya pada Ray.

“Cari angin, buat nenangin pikiran gue yang kata lo gak pake logika” dan pintu pun tertutup rapat, menyisakan Ray seorang diri di kamar ICU tersebut.

Kedua orangtua serta Acha dan Rio memutuskan untuk pulang dan kembali nanti malam. Ray mendesah panjang melihat sikap Zevana, sudah dia duga sebelumnya bahwa Zevana akan bersikap seperti ini. Kemudian Ray memandang sosok Alvin yang masih tak bergerak, hatinya terasa perih melihat keadaan Alvin yang begitu menyedihkan. Apalagi di tambah dengan pernyataan dokter bahwa kemungkinan Alvin bertahan hanya sekitar 20%, tak lebih.
+++
Di balik pintu ruang ICU, Zevana menyandarkan tubuhnya dengan lemas. Bahunya terkulai dan tulangnya seolah melunak menyebabkan ia merasa tak dapat berdiri dengan tegak, perlahan tubuh Zevana meringsut hingga akhirnya jatuh terduduk di depan pintu. Zevana memegang dadanya yang terasa begitu sakit sesaat setelah meninggalkan ruangan ICU tersebut, dia merasakan sakit yang teramat, seolah-seolah ribuan pisau tengah menikam jantungnya. Zevana meringis pelan, dia memejamkan matanya mencoba mengendalikan dirinya. Dan dia berhasil, perlahan sakit di dalam tubuhnya mulai berkurang dan tenaganya mulai kembali seiring dengan teriakan seseorang yang lamat-lamat di dengarnya.‘Tuk..Tuk..Tuk’ Zevana mendengar bunyi langkah kaki yang mendekatinya, dia membuka mata dan melempar senyum kecut begitu mengetahui siapa yang datang menghampirinya, Acha.

“Kak Zeva kenapa? Kakak sakit?” tanya Acha panic begitu melihat posisi tubuh Zevana yang tak enak di lihat, Acha berjongkok menyeimbangkan posisi tubuhnya dengan Zevana. Dia sedikit memiringkan kepalanya untuk dapat melihat jelas sosok Zevana di depannya, mata bulatnya memandang Zevana khawatir.

Zevana menggeleng sambil terus mempertahankan senyuman kecutnya, tangannya yang sedari tadi berada di dadanya ia turunkan, “Gak pa-pa kok Cha” tuturnya pelan.

Acha menegakkan kepalanya, berdiri lalu mengulurkan tangan pada Zevana. “Jangan sedih terus Kak, Acha yakin kok, Kak Alvin pasti sembuh. Acha aja bisa senyum lagi” kata-kata polos Acha yang penuh dengan pikiran positif seolah mengiris hati Zevana, dia menerima uluran tangan Acha dan berdiri.

“Kakak juga yakin” kata Zevana pelan dengan nada yang sama sekali tak terdengar yakin, dia menatap bola mata Acha dengan lembut. “ke taman yuk”

Acha mengernyit bingung dengan sikap Zevana, dia ingin bertanya tapi niatnya itu dia urungkan dan dengan semangat Acha pun mengangguk.

Mereka berdua berjalan beriringan menuju taman di samping rumah sakit dalam hening, bahkan ketika keduanya sudah duduk di salah satu bangku panjang pun tak ada yang berani bersuara, mereka tetap bungkam sambil memandang indahnya langit yang berwarna jingga. Matahari mulai kembali ke peradauannya, berarak perlahan kearah barat. Burung-burung beterbangan dengan teratur, mengikuti satu sama lainnya. Angin berhembus sepoi-sepoi di area taman yang terlihat lengang itu sehingga membuat rasa nyaman bercampur ngeri menjalar di tubuh Acha dan Zevana, mereka bergidik.

“Kak, udah mau maghrib. Balik ke ruang ICU yuk” ajak Acha memecah keheningan, dia benar-benar sudah tak tahan dengan suasana ngeri yang sedari tadi menjalari tubuhnya.

Zevana tak mengindahkan perkataan Acha, dia tetap memandang langit yang mulai berubah menjadi hitam dengan tatapan datar. Walaupun dia juga merasa ngeri tapi tak ada niat meninggalkan taman tersebut, ada sesuatu yang membuatnya merasa betah berlama-lama disana dari pada harus melihat pemandangan yang mengiris hati.

“Kak?” panggil Acha putus asa, dia menyapukan pandangannya pada taman yang terlihat semakin gelap lalu berhenti di satu titik, wajah cantik Zevana yang remang-remang dilihatnya.

“Gimana kalau Kak Alvin gak selamat Cha?” pertanyaan tiba-tiba dari Zevana membuat Acha tersentak, Acha menatap lekat-lekat wajah Zevana yang sama sekali tak menatapnya.

Acha terdiam, dia tak pernah memikirkan sampai sejauh itu. Acha menunduk, diam-diam hatinya merutuki pertanyaan yang di lemparkan Zevana. Berbagai argumentasi pun kini berkecamuk di pikirannya, saling berdebat mengenai yang benar dan yang salah. Akhirnya setelah merenungi kata-kata yang akan Acha keluarkan dia menarik nafas panjang.

“Acha gak tahu, tapi Acha akan coba ikhlas. Mungkin Tuhan punya rencana lain untuk Kak Alvin, Kak Ray juga pernah bilang kalau seandainya Kak Alvin pergi Acha harus sabar. Mama dan papa juga berkata seperti itu”

“Hmm, kalau Kak Zeva juga nyusul Kak Alvin? Terus kami mati berdua di hari yang sama gimana?”

Acha kembali tersentak mendengar penuturan Zevana, dia diam, selain karena lidahnya yang terasa kelu diapun bingung untuk menjawab apa. Zevana tersenyum tipis begitu menyadari bahwa pertanyaan terakhirnya tak mampu di jawab Acha, dia mengalihkan pandangannya pada Acha dan menatap bola mata Acha dengan tatapan tak terbaca.

"Berhubung kakak suka sama romeo dan Juliet, Will we be Romeo and Juliet part 2? Cha?”

Acha diam seribu bahasa, dia benar-benar tak tahu harus menjawab apa. Satu pertanyaan yang tadi di lontarkan Zevana pun belum berhasil dia jawab, di tambah lagi dengan pertanyaan Zevana barusan membuat pikiran Acha buntu, dia memandang Zevana dengan tatapan menerawang. Apa yang dipikirkan Kak Zeva hingga mampu berkata seperti itu? batin Acha bingung.

Zevana kembali tersenyum tipis, bahkan lebih tipis dari yang sebelumnya. Tapi tiba-tiba dadanya kembali bergemuruh, dia merasakan jantungnya kembali sakit seolah di tikam ribuan pisau. Nafas Zevana tercekat, wajahnya kini memucat tapi semua tersamarkan oleh gelap hari yang mulai malam. Pandangan Zevana berputar-putar, pusing yang sangat teramat kini bersarang di kepalanya. Jantungnya semakin berdetak tak karuan membuat Zevana terpaksa membalikkan tubuhnya membelakangi Acha, dia kembali memejamkan matanya mencoba meredam sakit. Berharap cara yang sama akan berhasil untuk ke puluhan kalinya.

"Sudahlah, lupakan. Ayo kembali ke ruang ICU” Zevana bergegas bangkit dan berjalan mendahului Acha meninggalkan taman itu setelah jantungnya kembali berdetak normal dan pusing di kepalanya berkurang, Acha yang masih menerawang segera bangkit dan mensejajarkan langkahnya dengan Zevana.

“Apa maksud kakak?” tanyanya begitu dia berhasil mensejajari langkah Zevana. Zevana menghentikan langkahnya, dan memandang Acha dengan tatapan misterius.

“Suatu saat nanti Acha bakal ngerti”
+++
“Ze, kakak mohon kamu jangan terlalu stress mikirin Alvin. Entar penyakit kamu kambuh Ze, kakak gak mau kehilangan kamu” mohon Rio pada suatu hari setelah seminggu lamanya Alvin terbaring koma di rumah sakit. Keluarga Alvin sudah menyerahkan semuanya pada Tuhan, mereka akan menerima setiap keputusan apapun yang Tuhan berikan melihat tak ada perkembangan dari Alvin sama sekali.

Mereka sudah benar-benar ikhlas, tapi Zevana? Semakin hari Zevana pun terlihat semakin lemah. Tulang di pipinya kini terlihat menonjol akibat mengurus karena jarang makan, matanya juga sayu setiap hari, seperti ada kabut tebal di matanya. Pekerjaan Zevana sehari-hari kini hanya diam menemani Alvin diruang rawatnya, sambil sesekali bercerita panjang lebar walau ia tahu Alvin tak mendengarkannya. Zevana sudah seperti kehilangan akal sehatnya dan itu membuat Rio sangat khawatir dengan keadaan Zevana, mengingat penyakit Zevana yang bisa kambuh setiap saat apabila Zevana stress berlebihan.

Zevana yang sedang mengaduk-ngaduk buburnya menoleh pada Rio lalu tersenyum tipis tanpa mengeluarkan sepatah katapun, tatapannya tetap sama, kosong dan hampa, seolah jiwa yang selama ini berada di dalamnya sedang melayang keluar dari tubuhnya.
Rio menatap Zevana putus asa lalu beralih pada Alvin yang masih terbaring di ranjangnya yang cukup jauh dari sofa tempat sekarang mereka duduk.

“Ze, lo gak boleh gini terus. Alvin juga pasti gak mau liat lo kayak gini” Rio kembali menatap adiknya itu lekat-lekat, memandangi setiap lekuk wajah Zevana dengan tatapan nanar.

Sorot mata Zevana berubah tajam, dia balik memandang kakaknya tersebut tepat di manik mata Rio. “Jangan bawa-bawa Kak Alvin, dia bakal lebih seneng kalau gue nemenin dia mati”

Rio tercekat mendengar penuturan Zevana yang dikatakan dengan dua tarikan nafas. “Zeva, please. Balik kayak dulu” gumam Rio pelan, tapi Zevana tak menggubrisnya. Dadanya kembali sesak akibat berteriak tadi, tapi bukan Zevana namanya jika dia tidak bisa menutupi semuanya. Zevana menarik ujung-ujung bibirnya membentuk sebuah senyum manis, dia menggenggam tangan Rio dengan lembut.

“Ngertiin Zeva kak, jika semuanya harus berakhir biarkan Zevana menjadi seperti Juliet yang menemani Romeonya sampai akhir. Ini keinginan Zevana” nada suara Zevana terdengar begitu lembut tapi sukses membuat Rio menganga. Zevana melepas genggamannya dan berjalan menuju ranjang Alvin, dia menarik kursi dan merapatkannya di samping ranjang Alvin, memandang wajah pucat Alvin yang semakin hari semakin pucat, bahkan seluruh tubuhnya kini sudah seperti es.

Beberapa saat kemudian Ray dan Acha memasuki ruangan tempat Alvin dirawat, sekilas mereka melirik Zevana lalu beralih pada Rio yang masih menganga tak percaya. Karena penasaran Ray dan Acha berjalan kearah sofa dan duduk di samping Rio.

“Kakak, lo kenapa?” tanya Ray bingung, dia mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah Rio membuat Rio tersentak kaget. Rio segera mengalihkan pandangannya pada Ray dan Acha lalu melempar senyuman kakunya.

“Apa Ray? Lo ngomong apa?” tanya Rio kaget, dia gelagapan. Ray dan Acha saling bertatapan, dan pertanyaan dari Rio barusan cukup membuktikan bahwa Rio memang sedang memikirkan sesuatu.

“Kakak lagi mikirin apa? Sampe gak focus gitu?” tanya Acha penasaran, dia memperhatikan wajah Rio yang terlihat begitu kusut. Rio menggeleng pelan.

“Soal Zeva, makin hari tu anak ngomongnya makin ngelantur aja, masa tadi dia bilang mau jadi kayak Romeo dan Juliet” Rio menatap jauh pada Zevana.

Acha tersentak mendengar penuturan Rio, rasanya Zevana juga pernah mengatakan hal yang sama padanya.

Hening, semuanya larut dalam pikiran masing-masing. Acha masih memikirkan perkataan Zevana tempo hari, sementara Ray dan Rio pikiran mereka melayang entah kemana.

Zevana masih tak beranjak sedikit pun dari kursi yang didudukinya meskipun dadanya kembali bergemuruh setelah tiga hari lebih penyakitnya itu tak pernah kambuh, sakit di dadanya semakin menjadi membuat Zevana meringis pelan dengan tangan kanannya yang memegang dada dan tangan kirinya yang meremas tangan Alvin erat. Tahukah kalian, Zevana mengidap penyakit jantung!

Di tengah kesakitan yang menderanya entah kenapa pikiran Zevana malah melayang jauh menembus di mensi waktu menuju beberapa bulan yang lalu sebelum Alvin terbaring di rumah sakit.
+++

Siang itu matahari bersinar dengan teriknya, sampai-sampai membuat kulit terasa terbakar. Orang-orang berlalu lalang kesana kemari mencari tempat yang teduh untuk menghindari sinar matahari yang begitu menyengat kulit. Zevana dan Alvin yang baru saja keluar dari toko buku memutuskan untuk pergi ke sebuah café ber-AC yang tak jauh dari toko buku untuk menghilangkan gerah di tubuh mereka. Dengan langkah-langkah besar keduanya berjalan menuju café dan duduk di meja nomer 6 yang terletak di dekat jendela. Alvin tampak mengibas-ngibaskan bajunya akibat kepanasan

“Gerah ya kak?” tanya Zevana penuh perhatian pada sosok Alvin.
Dengan cepat Alvin menoleh pada Zevana yang duduk disampingnya lalu melempar senyum.

“Hehe, iya nih Ze. Abis di luar panas banget sih” jawab Alvin malu-malu, dia paling tak ingin terlihat lemah di depan Zevana.

Zevana mengangguk setuju dengan pendapat Alvin, dia merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah sapu tangan berwarna biru tosca dari dalamnya lalu sesaat kemudian tangannya sibuk menyeka peluh di wajah tampan Alvin dengan gesitnya. Alvin diam menikmati belaian kasih sayang Zevana yang dia rasakan, dia mengamati setiap lekuk wajah Zevana dengan seksama. Wajah cantik Zevana yang akhir-akhir ini selalu memenuhi otaknya, gadis yang selalu menemaninya setiap saat. Ah, entah kenapa Alvin begitu menyayangi gadis di sampingnya itu, dia benar-benar tak ingin kehilangan Zevana, sekalipun maut yang memisahkan mereka. Alvin ingin bisa abadi bersama Zevana, tak peduli dengan takdir dan kematian. Mungkin terdengar seperti egois, tapi itulah isi pikiran Alvin sekarang.

Zevana yang sadar di perhatikan segera mendongak dan mendorong pelan wajah Alvin yang terlihat begitu serius memandangi wajahnya, dia terkekeh pelan.

“Ngeliat apa sih kak, serius amat” canda Zevana masih terkekeh. Alvin tak menyahut, dia masih bergulat dengan pemikirannya yang entah kenapa terasa begitu egois.

Zevana mengernyit menyadari bahwa candaannnya tak di respon oleh Alvin, lalu matanya ia alihkan pada panggung yang mulai diisi oleh sebuah band. Merasa tertarik Zevana, memfokuskan pandangannya pada band di atas sana, penasaran dengan lagu apa yang akan mereka bawakan.

Alunan musik mulai terdengar dengan irama yang teratur membuat Zevana menajamkan telinganya.

I have a dream, a song to sing
To help me cope with anything
If you see the wonder of a fairy tale
You can take the future even in you fail

Zevana tersenyum mendengar 4 bait pertama lagu tersebut, dia amat mengenali lagu tersebut karena bagaimanapun itu lagu kesukaannya, I have a dream dari westlife. Dia merilekskan tubuhnya dan bersandar pada kursi sembari menunggu pesanan yang tadi dia pesan. Matanya di pejamkan guna menghayati lagu itu lebih dalam membuat Alvin yang sedari tadi memperhatikannya tersenyum tipis melihat tingkah Zevana yang menurutnya lucu. Tapi sedetik kemudian senyum di wajah Alvin memudar menyadari bahwa tak selamanya dia akan berada di sisi Zevana, suatu saat nanti mereka akan berpisah. Cepat atau lambat, tapi semua itu pasti terjadi. Alvin mendesah, apapun alasannya itu tapi mereka pasti akan berpisah. Walau bukan karena masalah tapi suatu saat maut juga akan memisahkan mereka.

“Ze, gimana ya kalau kita pisah?” tanya Alvin tiba-tiba dengan suara yang sangat pelan, nyaris tak terdengar. Tapi seolah mendengar pertanyaan Alvin, Zevana membuka matanya dan melotot tajam pada Alvin. Zevana tak habis pikir bahwa Alvin mampu melontarkan pertanyaan semacam itu.

“Apa maksud kakak? Kakak udah bosen sama Zeva?” tanya Zevana dengan nada tinggi, lebih tepatnya membentak. Amarahnya memuncak dan dia lebih memilih untuk menghindari mata Alvin.

Alvin kaget mendengar bentakan Zevana, dia tak bermaksud berkata seperti itu. “Bukan Ze, maksud kakak kita gak selamanya bersama kan? Suatu saat kita juga akan berpisah”

“Jadi, kakak gak mau hidup sama aku?”

“Bukan begitu, kakak sayang sama kamu dan gak akan pernah bosen. Maksud kakak gimana kalau kita terpisahkan oleh maut? Gimana kalau sesuatu terjadi pada Kakak sehingga kakak pergi?” suara Alvin terdengar lirih menyebutkannya. Sedangkan Zevana hanya bisa diam membisu mendengar pertanyaan Alvin, pertanyaan yang mungkin terdengar sedikit ‘ajaib’. Dia memandang wajah Alvin lekat-lekat, mencari-cari apa gerangan yang membuat Alvin mampu melontarkan pertanyaan seperti itu. Dan dia mendesah begitu menemukan setitik kegalauan di mata Alvin. Kegalauan yang tak berujung tentang kemungkinan akan takdir Tuhan memisahkan mereka.

Hening, keduanya sama-sama diam. Alvin menunggu jawaban Zevana dan Zevana berpikir untuk memberikan sebuah jawaban. Alunan lagu westlife kembali terdengar di telinga mereka.

I have a dream, a fantasy
To help me through reality
And my destination makes it worh the while
Pushing through the darkess still anothermile
I believe in angels
When I know the time is right for me
I will cross the stream
I have a dream

“Well, kalau itu terjadi mungkin aku juga akan nyusul kakak karena Zeva juga sayang kakak” Zevana akhirnya menyahut setelah lagu westlife yang menemani kehingan dari tadi usai, berganti dengan lagu lain yang sama sekali tak ia kenali. Alvin mendongak, memandang wajah Zevana lekat-lekat. Matanya melotot tak percaya, tapi tetap tak bisa menyembunyikan sorot rasa senang di matanya.

“Kok kamu ngomongnya gitu Ze, kamu mau mati bareng aku?”

“Hmm, kalau itu perlu. Kenapa enggak?” Zevana melempar cengirannya pada Alvin,

“Siapa tahu aja kisah kita bisa sama kayak Romeo dan Juliet” Zevana tampak menerawang begitu membayangkan film tentang Romeo dan Juliet yang sangat dia sukai.

Alvin terkekeh, dia mengacak rambut Zevana penuh sayang. “Bisa aja kamu Ze. Setiap ucapan itu doa lho” gumamnya dengan nada menyindir, Zevana ikut terkekeh. Selang beberapa lama kemudian makanan yang mereka pesan datang menyebabkan keduanya kini sibuk melahap makanan di meja. Alvin tertawa riang menyaksikan aksi Zevana yang begitu rakus melahap makanannya.
+++
Seulas senyum tersungging di bibir Zevana mengingat kejadian beberapa bulan yang lalu walaupun jantungnya sudah benar-benar tak bisa di ajak kompromi, semakin lama jantungnya semakin sakit, sakit melebihi apapun. Lebih dari sebelum-sebelumnya yang sempat dia rasakan. Dia meremas dadanya kuat, sambil memandangi wajah Alvin yang tampak tenang dalam komanya. Remasannya pada tangan Alvin semakin lama semakin kuat.

“Kak Alvin, aku gak sanggup” gumam Zevana lirih.
Sekarang dirinya seakan di tindih ribuan truk besar yang tak bercela sedikitpun agar Zevana bisa keluar. Zevana meringis sangat pelan, berusaha agar ringisannya tak di dengar oleh seorang pun. Dia baru menyadari bahwa ucapannya beberapa bulan yang lalu kini mulai menjadi kenyataan, perkataan Alvinpun terngiang-ngiang kembali di benaknya ‘Setiap ucapan itu doa, lho’. Alvin benar, dan kini dia merasakan sebuah karma akibat ucapannya. Zevana mencoba menahan semua kesakitannya dalam diam. Merasa sudah tak kuat, Zevana berdiri sekuat tenaga dan mengecup kening Alvin cukup lama-tanpa ada yang mengamati karena semua sibuk dalam pikiran mereka masing-masing. Setelah itu dia kembali duduk, memejamkan matanya sambil menggigit bibir bawahnya hingga mengeluarkan darah karena sakit yang semakin menjadi. Kini tubuhnya mati rasa.

Tolong Tuhan, sebentar lagi. Dalam hati Zevana terus berdo’a agar Tuhan mau mengabulkan doanya, yang mungkin menjadi doa terakhirnya. Zevana melipat kedua tangannya di samping tangan Alvin, dia membenamkan wajahnya di dalam tangannya.
Beberapa saat kemudian Zevana mendongakkan wajahnya, dia menatap wajah Alvin untuk terakhir kalinya. Senyum kembali tersungging di bibirnya.

“Aku, sayang Kak Alvin. Kak Alvin Romeoku” Zevana kembali bergumam bersamaan dengan wajahnya yang kembali terbenam dalam tangannya. Jantungnya kembali bergemuruh, kepalanya berputar-putar serta terasa begitu berat. Sakit menjalari seluruh tubuhnya dan Zevana sudah pasrah menerima takdirnya. “We always together, forever” gumam Zevana di dalam tangannya.

Teeettttttttt……….. monitor pendeteksi detak jantung yang berada di samping ranjang Alvin mulai menunjukkan garis lurus seiring dengan Zevana yang memejamkan matanya. Nafas kedua orang itu berhenti di saat yang bersamaan, dan entah mengapa mereka berdua tampak tenang.

“Kak Alvin” teriak Acha histeris begitu mendengar bunyi monitor, membuat Ray dan Rio yang juga berada di ruangan itu terbangun dari lamunan mereka. Mereka bertiga berlari menghampiri ranjang Alvin. Acha mengguncang-guncang tubuh Alvin sementara Ray mendekatkan tangannya pada leher Alvin, seketika wajahnya memucat.

“Ze, Ze.. bangun. Alvin, Ze” Rio berusaha menahan tangisnya melihat tubuh Zevana yang sama sekali tak bergerak, dia mengguncang-guncang tubuh Zevana pelan. Rio membalikkan tubuh Zevana dan seketika tangisnya pecah melihat wajah pucat Zevana di sertai darah yang mulai mengering di bibirnya. Rio menyambar tangan Zevana dan memeriksa denyut nadi Zevana, tak ada denyut nadi sedikitpun disana, hanya tangan dingin yang kini Rio rasakan.

“Inna lilahi wainna lilahi roji’un” Ray bergumam pelan dengan air matanya yang mengalir deras. Dia menutupi seluruh tubuh Alvin dengan selimut, lalu memeluk Acha erat, mencoba menenangkan adiknya yang kini terguncang. Rio memeluk tubuh -atau tepatnya mayat- Zevana erat-erat masih tak percaya Zevana akan pergi secepat ini. Baru saja beberapa menit yang lalu Rio berbicara dengan Zevana, tapi sekarang Zevana sudah tak ada. Bukan hanya Zevana, tapi juga Alvin, mereka sudah sama-sama tenang di alam lain.
+++
Langit sore yang berwarna jingga kini tak tampak akibat gumpalan awan hitam yang menghalangi langit. Hujan mengguyur bumi dengan amat derasnya seolah ikut berduka cita dengan kematian Zevana dan Alvin, dua orang yang baru setengah jam lalu terbaring di dalam tanah. Pusara mereka yang berwarna merah tanah di taburi oleh berbagai macam bunga di atasnya. Makam mereka bersebelahan, sengaja karena semua orang tahu bahwa Zevana dan Alvin pasti tak ingin dipisahkan.

“Kak Alvin, baik-baik disana ya Kak. Lo juga Ze, temenin kak Alvin yah. Gue sayang kalian berdua” ujar Ray lirih, dia berdiri di tengah-tengah pusara antara Zevana dan Alvin dengan payung yang melindungi tubuhnya dari hujan.

Di pemakaman itu hanya bersisa Ray, Acha dan Rio yang masih berat melepas kepergian Zevana dan Alvin. Yang lain sudah mencoba membujuk mereka untuk pulang dan mengikhlaskan kepergian Alvin dan Zevana, tapi ketiga anak itu menolak dan meumutuskan untuk tetap tinggal sampai hati mereka benar-benar tenang. Rio mengelus-ngelus nisan Zevana dengan lembut.

“Selamat jalan Ze, keinginan lo udah tercapai. Moga lo bahagia disana. Vin, tolong jagain adik gue” Rio berbicara sambil memandang nisan Alvin-Zevana secara bergantian seolah-olah dia sedang berbicara langsung pada mereka, bukan pada pusara berwarna merah tanah di depannya.

Acha terus diam sejak pemakaman di mulai, bahkan sampai sekarang pun dia masih bungkam. Hanya saja air mata tak henti-hentinya mengalir, membuat mata Acha kini terlihat sembab dan sayu. Dia masih tak bisa menerima kepergian dua orang yang disayanginya, dan pikirannya juga terus terngiang-ngiang oleh ucapan Zevana beberapa hari yang lalu ‘Hmm, kalau Kak Zeva juga nyusul Kak Alvin? Terus kami mati berdua di hari yang sama gimana’. Kata-kata itu membuat Acha merasa perih, dia tak menyangka bahwa Zevana benar-benar pergi bersama Alvin. Acha menggigit bibir bawahnya pelan, lalu menyapukan pandangannya pada area pemakaman yang terlihat sepi. Matanya kemudian terhenti di dua titik, pusara Alvin dan Zevana.

“Aku gak nyangka kalian bener-bener pergi” gumam Acha pelan, mencoba agar suaranya tak terdengar oleh Rio dan Ray yang masih sibuk dengan pikiran masing-masing. Acha memejamkan matanya merasakan sesak didadanya setiap mengingat tentang Zevana dan Alvin lalu tiba-tiba dia teringat akan pertanyaan Zevana yang dulu tak tahu harus ia jawab apa. Pertanyaan itu kini menari-nari di otak Acha berulang-ulang ‘Will we be Romeo and Juliet part 2?’, Acha membuka matanya. Dia tersenyum kecut karena kini ia telah dapat menjawab dari pertanyaan Zevana. Tangannya kembali mengambil segenggam bunga dan di taburkannya di pusara Alvin-Zevana secara bergantian.

“Kak, Acha sekarang ngerti kak. Acha bisa jawab” ujar Acha terdengar bergetar membuat Ray dan Rio memandang Acha bingung.

“Ngerti apa Cha?” tanya Ray penasaran, Acha tersenyum lalu menunjuk pusara Alvin dan Zevana dengan dagunya. Jawaban aku ‘ya’ kak, Kak Zeva sama Kak Alvin pantes di sebut sebagai Romeo dan Juliet kedua, batin Acha sambil tersenyum.

“Mereka, kayak Romeo dan Juliet ya Kak? Mati sama-sama” Acha tersenyum tenang mengucapkan kalimat terakhirnya yang di sambut dengan senyum tipis oleh Rio dan Ray.

“Ya, Cha. Gue setuju” sahut Rio dan Ray sependapat.

“Kak Zeva dan Kak Alvin, hiduplah dengan damai di sana. Kami menyayangi kalian, selamanya”

Jumat, 20 Mei 2011

Guardian Angel


Seorang lelaki tengah menatap gadis yang sekarang berstatus sebagai kekasihnya jengah, lelaki itu menghela nafas lantas menatap gadis itu sekilas.

“Kita PUTUS” ucapnya kemudian, nada bicaranya  terkesan ketus tanpa penyesalan dan beban sama sekali.

Bahkan ia terkesan sangat tidak peduli telah mengucapkan dua kata yang sukses membuat gadis di hadapannya mematung kaku setelah mendengar apa yang baru saja di ucapkan kekasihnya. Tangannya meremas jaket bagian bawah yang di kenakannya dan lapisan kaca tipispun mulai terbentuk di kedua bola matanya yang indah, sekuat tenaga ia berusaha menahan lapisan kaca itu agar tidak pecah. Gadis itu menelan ludah dan memberanikan diri menatap mata sang kekasih yang tengah berdiri santai di hadapannya. Mencoba untuk tegar dan berpikir jernih bahwa mungkin saja yang di katakan kekasihnya barusan hanyalah sebuah lelucon, dia menatap mata sang kekasih dengan tatapan tak percaya.

“Lintar, kamu bohongkan Tar?” Tanya sang gadis hati-hati dengan nada bicara yang dibuat senormal mungkin, dia berusaha meredam getaran dalam nada suaranya.

Gadis itu tersenyum pahit mencoba menyembunyikan guncangan hebat yang kini menyeruak di dadanya. Lelaki yang ternyata bernama Lintar tersebut melengos, tak mempedulikan pertanyaan sang gadis, dia malah membuang wajah dengan cueknya. Gadis itu semakin bimbang, perasaan takut semakin menguasai dirinya. Dia takut kehilangan lelaki yang sudah dua bulan ini menemaninya. Tapi lagi-lagi sekuat tenaga ia berusaha meredam pikiran buruknya, berusaha berpikir positif.

Dia menghirup udara sebanyak-banyaknya sebelum kembali bertanya, “Kamu lagi bercandakan?”

Kaca tipis yang menyelimuti matanya kini semakin tipis saja melihat sikap Lintar, seolah tak kuat lagi menahan tetesan air yang berada di dalamnya. Seluruh tubuhnya bergetar ketika Lintar mengalihkan pandangannya dan balas menatap mata sang gadis dingin, gadis itu diam, menunggu Lintar mengeluarkan sepatah kata atau dua patah kata. Menunggu kepastian.

“Aku gak bohong Ify” ketus Lintar keki di perhatikan Ify seperti itu.

Ify shock mendengar pengakuan Lintar barusan, tangannya mengguncang bahu Lintar tak percaya. Dan kaca tipis itu pun akhirnya pecah, berganti dengan tetesan-tetesan bening yang mulai mengaliri pipi mulus Ify.

Ify terisak, “Please Tar, jangan putusin aku. Aku sayang banet sama kamu”

Lintar mengangkat sebelah alisnya menatap Ify, lalu tersenyum sinis. “Sorry ya, fy. Tapi sayangnya, gue yang udah gak cinta lagi sama lo” serunya semakin ketus, dia mendorong tubuh Ify kasar membuat gadis itu mundur beberapa langkah.

Ify semakin larut dalam tangisnya di perlakukan seperti itu oleh Lintar, dia memegang dadanya yang terasa semakin sesak akibat perlakuan Lintar. “Apa aku buat kesalahan sampai kamu gak sayang sama aku lagi Tar?” ucap Ify di sela-sela tangisnya, suaranya bergetar hebat. Walaupun sakit, dia kembali mendekati Lintar dan menatap matanya sekali lagi. Ify meraih tangan Lintar, tapi dengan cepat Lintar menepis tangannya kasar.

“Kamu gak salah apa-apa Ify, cuman aku udah bilangkan? Aku gak sayang lagi sama kamu. Aku bosen sama kamu”

Dada Ify bertambah sesak, hatinya sakit. Tangisnya semakin menjadi mendengar pengakuan Lintar, hatinya yang sakit benar-benar seolah di iris pisau tipis-tipis. Ingin sekali Ify menampar wajah Lintar mendengar pengakuannya, tapi dia tak bisa, Ify terlalu menyayangi Lintar. Dan alhasil ia pun hanya bisa mendorong tubuh Lintar keras menyebabkan tubuh Lintar jatuh tersungkur.

“Kamu jahat Lintar” teriak Ify parau dan dengan sisa-sisa tenaganya dia pun segera berlari pergi, meninggalkan taman itu dengan perasaan hancur. Dia tak memedulikan tatapan aneh anak-anak yang melihatnya menangis, ia terus berlari. Berlari sekencang-kencangnya menerobos semua orang dan pergi entah kemana.

Sedangkan Lintar yang melihat Ify menangis hanya menghela nafas kecil dan segera berdiri. Dia memandang kepergian Ify dengan ekspresi datar. Sebenarnya, Lintar memang tak pernah menyukai Ify. Bahkan sejak dulu, dia berpacaran dengan Ify pun hanya karena taruhan dengan teman-temannya. Baginya Ify hanya mainan, mainan yang mengantarkannya pada beberapa juta uang milik Alvin, sahabatnya yang berani bertaruh dengannya.

“Wisss, gak kasian lo ngeliat Ify sampe nangis segitunya?” seseorang menepuk pundak Lintar dari belakang membuat Lintar agak terlonjak kaget dan dengan cepat menoleh pada asal suara.

Di belakangnya Ozy berdiri dengan wajahnya yang selalu ceria, sedangkan Alvin di belakang Ozy terlihat menekuk wajahnya dan memandang Lintar sebal, dan Rio sendiri hanya memandang mereka sambil menggelengkan kepalanya tak mengerti dengan tingkah sahabatnya yang masih saja suka taruhan, apalagi taruhan wanita, menurut Rio mereka seperti anak kecil.

“Ah, gue kalah. Nih ambil” seru Alvin sedikit tak rela, dia melempar sebuah amplop tebal ke arah Lintar dan dengan sigap Lintar menangkapnya.

Alvin mencak-mencak tak jelas, untuk kedua kalinya dia kalah taruhan dari Lintar. Padahal menurutnya Ify adalah wanita yang tak akan segampang itu terjerumus pada jeratan Lintar, tapi seperti kata Bondan ‘Ya sudahlah’. Nasi sudah menjadi bubur, dan kini Alvin hanya bisa merelakan beberapa juta uang miliknya berpindah pemilik.

Wajah Lintar langsung sumringah begitu mendapatkan amplop dari Alvin yang berisi sejumlah uang di atas satu juta, “Hehe, thanks Vin. Lo kalah sih itu derita lo”

“Alvin, Alvin. Udah tahu lo bakal kalah, masih aja mau taruhan sama Lintar”  ledek Rio sambil berlagak prihatin, walau sebenarnya ia memang prihatin. Wajahnya di buat se-sedih mungkin sehingga menimbulkan kesan aneh bagi yang melihatnya. Lintar dan Ozy tertawa melihat ekspresi Rio, sedangkan Alvin memajukan bibirnya beberapa centi, kesal di ledek Rio.

“Daripada lo, gak berani taruhan sama sekali” sindir Alvin dengan tatapan menantang, bibirnya yang sedari tadi cemberut akhirnya bisa tersenyum tipis pada Rio yang masih dengan ekspresi anehnya.

Rio tersentak mendengar ucapan Alvin dan balas menatap Alvin dengan tatapan yang sulit di tebak. Selama ini memang hanya Rio yang tak pernah bertaruh hal yang menurutnya konyol dengan Lintar, bukannya dia takut, hanya saja dia merasa hal itu sangat konyol karena bagaimana pun mereka akan beranjak dewasa.

Ozy dan Lintar berhenti tertawa mendengar ucapan Alvin.

“Eh, iya ya. Rio belum pernah taruhan sama Lintar, gue aja udah 2 kali” sahut Ozy sambil tertegun, mengingat-ingat sudah berapa kali ia taruhan dengan Lintar.

Lintar tersenyum penuh kemenangan sebelum berseru, “Lo takut kalah dari gue ya?” yang membuat Rio mendelik tak terima.

“Enak aja, gue berani” Rio tersulut emosi, ia menatap satu persatu temannya dingin.

Alvin, Ozy dan Lintar saling berpandangan dan tersenyum, sepertinya Rio mulai terpancing dengan ucapan mereka.

“Oke, kalau gitu lo mau taruhan apa sama gue?

“Motor cagiva kuning gue yang elo pengen. Tapi kalau lo kalah gue pengen jazz merah lo”

Lintar tampak berpikir sebentar. Jazznya harus berpindah tangan kalau dia kalah. Ah, tapi kapan sih dia pernah kalah? Senyum di bibir Lintar mengembang, “Bolehlah. Ceweknya terserah gue atau lo?”

“Gue aja. Gue maunya Nova”

Kening Lintar mengkerut, “Maksud lo Nova Cyintia Sinaga? Kutu buku itu?” tanyanya dengan nada meremehkan.

Rio tersenyum miring, “Kalau lo berani sih”

“Ya udahlah, dua minggu juga bisa gue dapetin”

“Pede gila lo. Terserah kalau lo maunya dua minggu, tapi lo harus bertahan sama Nova minimal 3 bulan, baru gue ngaku kalah”

Lintar mendelik, “Gila, lama banget? Bisa keriting gue kalau selama itu sama Nova. Pasti kerjaannya tiap hari ngajarin gue”

“Yeee, nawar lagi lo. mau gak?” tanya Rio sambil mengulurkan tangannya

“Iye, iye” Lintar menjabat tangan Rio malas.

Kalau saja bukan cagiva kuning Rio yang di pertaruhkan, mana mau ia berurusan dengan Nova. Nova adalah anak paling pintar di kelasnya, bahkan mungkin satu sekolahan. Anaknya lumayan cantik, manis. Tapi ya itu dia, hobinya baca buku. Kemana-mana pasti bawa buku, beda banget sama Lintar. Kalau Lintar sih boro-boro bawa buku kemana-mana, baca aja malas kalau gak di suruh guru. Dia juga agak risi deket-deket Nova, di pikirannya gadis tipikal Nova itu paling ngomongin pelajaran. Seumur-umur Lintar juga belum pernah ngobrol panjang lebar sama Nova, tapi karena taruhannya bagus dia sanggup ajalah.
+++
Lintar menyapu pandangannya ke setiap sudut kelas, beharap menemukan sosok yang sedang dicarinya, Nova. Sudah 5 menit semenjak bel berbunyi, tapi gadis itu tak menunjukkan batang hidungnya, padahal biasanya dia paling rajin.

Di depan kelas Bu Winda sang guru Fisika sedang menerangkan materi sumber arus listrik yang sukses membuat semua muridnya hanya melongo tak mengerti. Tapi mengerti tak mengerti murid-murid tetap memperhatikan Bu Winda yang terkenal killer jika murid-murid tak memerhatikannya. Lintar menatap Bu Winda ogah-ogahan, lalu pandangannya kembali tertuju pada pintu masuk. Berharap Nova akan segera muncul dari balik pintu itu, jika dia terlambat, Lintar  berharap Nova segera datang karena Bu Winda hanya mentolerir sekitar 10 menit bagi muridnya yang terlambat. Dan seolah harapannya terkabul, 3 menit kemudian seseorang mengetuk pintu kelas hati-hati.

“TOK..TOK…TOK” bunyi pintu yang di ketuk menyebabkan semua pandangan kini tertuju pada arah pintu. Bu Winda pun ikut memandang ke arah pintu, menanti siapa yang akan muncul dari balik pintu. Perlahan pintu pun terbuka lebar, menampilkan sosok Nova yang berdiri menunduk disana. Perasaannya bercampur aduk antara menyesal, takut dan malu.

Nova menunduk, lantas berkata. “Maaf saya terlambat Bu” Bu Winda melirik jam dinding di kelas, Nova terlambat 8 menit.

“Duduk” seru Bu Winda datar.

Nova menghela nafas lega dan segera berjalan menuju bangkunya tanpa sadar sejak kedatangannya ada sepasang mata yang terus memperhatikan Nova.

Satu setengah jam kemudian…

“Sejauh ini apa ada yang mau di tanyakan?” Tanya Bu Winda di akhir penjelasannya, murid-murid saling bertatapan lalu menggeleng dengan kompaknya walaupun sebenarnya hampir semua tidak mengerti kecuali Nova, mungkin. “Baiklah kalau begitu Ibu akan membagi kelompok untuk berdiskusi” seru Bu Winda lalu mengambil buku absent untuk membagi kelompok.

“Karena disini ada 21 siswa ibu akan bagi kedalam 7 kelompok, jadi setiap kelompok terdapat 3 orang. Kelompok pertama: Nyopon, Daud dan Olivia. Kelompok kedua: Zevana, Alvin, Sivia. Kelompok 3: Ozy, Acha, Shilla. Kelompok 4: Ray, Deva dan Keke. Kelompok 5: Dea, Rio, Ify. Dan Kelompok 6: Lintar, Nova, Irsyad” terang Bu Winda lalu menutup buku absensinya.

Wajah Lintar langsung berseri-seri begitu mengetahui siapa yang akan jadi teman sekelompoknya, Nova. Dan itu artinya kesempatannya untuk berduaan dengan Nova lebih besar walau pun ada Irsyad. Lintar membalikkan tubuhnya menghadap Rio dan Alvin yang duduk di belakangnya lalu memeletkan lidahnya pada Rio, meledek.

“Just see, Mario. I will be the winner”

Rio tersenyum miring, “I’m not sure that you can. Oke, I will see”

“Silakan diskusikan tentang sumber arus listrik dengan kelompok kalian. Minggu depan Ibu ingin kalian mengumpulkan hasil diskusi tersebut” kata Bu Winda lalu berlalu pergi karena bel pergantian pelajaran baru saja berbunyi.

“Ckckck, kayaknya Tuhan mulusin jalan lo deh Lin. Belum apa-apa kesempatan lo berdua sama Nova udah gede aja” decak Ozy tak habis pikir dengan keberuntungan sahabatnya yang satu ini, Lintar hanya tersenyum lebar.

“Beruntung banget lo Lin” tambah Alvin yang mendengar pembicaraan Ozy dan Lintar

“Beruntung sih boleh, tapi belum tentu Nova mau. Gue yakin gak salah pilih” sahut Rio percaya diri, tepatnya mencoba memercayai pilihannya.

Lintar mengangkat alisnya meremehkan lalu kembali membalikkan tubuhnya ke depan karena guru yang akan mengajar pelajaran selanjutnya baru saja masuk kelas.

+++
Bel istirahat berbunyi dengan nyaring, menyebabkan ratusan siswa/I saling berebut keluar kelas untuk ke kantin. Mengisi perut yang sudah memainkan musik keroncong.

“Lin, kantin yuk. Laper gue” ajak Ozy kemudian berdiri sambil memegangi perutnya yang memang sudah terasa lapar sejak pelajaran berlangsung, Rio dan Alvin sudah pergi ke kantin terlebih dahulu karena bosan menunggu mereka berdua yang kata Alvin ‘ngaretnya minta ampun’.

Lintar yang masih sibuk membereskan buku-bukunya menoleh pada Ozy sekilas lalu matanya melirik Nova yang masih bergulat dengan buku pelajarannya, ia tersenyum simpul lalu kembali focus pada Ozy.

“Mmmmm, gimana ya Zy? Lo duluan aja deh, gue gak laper”

Ozy mengernyit bingung dengan jawaban Lintar, biasanya Lintar yang paling semangat jika di ajak kekantin. Dan kebingungan Ozy pun terpecahkan setelah dia memergoki Lintar tengah curi-curi pandang kepada seorang gadis di kelas ini, Ozy hanya mendengus pelan. Si Lintar kayaknya niat banget pengen motor Rio.

Ozy menepuk pundak Lintar dua kali sebelum berkata, “Yah, dasar lo. Ya udah gue duluan yah, moga sukses bro”

Lelaki itu pun berlalu pergi menyusul Alvin dan Rio yang –mungkin- sudah ada di kantin. Lintar tersenyum tipis seraya memerhatikan punggung Ozy yang semakin menjauh. Setelah Ozy benar-benar hilang dari pandnagannya, Lintar segera berdiri dan duduk di bangku depan Nova yang kini kosong, di tinggalkan pemiliknya ke kantin mungkin. Nova yang sadar ada seseorang di depannya mendongak, dan gurat kekagetan pun terlihat jelas di wajahnya begitu mengetahui siapa yang kini tengah duduk berhadapan dengannya.

Lintar mengernyit melihat ekspresi Nova, lalu menebar senyumnya. “Kenapa Va? Ngeliatin aku kayak ngeliat setan aja” gurau Lintar

“Eh..” Nova tersadar bahwa ia telah memerhatikan Lintar dengan tatapan aneh, dengan segera gadis itu berusaha merubah mimic wajahnya dengan senyuman yang terlihat sedikit di paksakan. “Ada apa?” sambung Nova terdengar datar. Lintar terlihat tak suka dengan nada bicara Nova yang begitu datar, tapi dia berusaha menyembunyikannya.

Lintar cengengesan, sedikit kewalahan pada pertanyaan Nova yang tanpa basa-basi. “Eumm…” lelaki itu menggaruk belakang tengkuknya bingung, sebelum akhirnya tersenyum. “Aku mau nanyain soal tugas kelompok kita. Gimana?”

“Oh, itu. Aku udah pikirin kok. Nanti kita kerjain bareng-bareng. Eh, Irsyadnya mana?”

“Si Irsyad kan izin, Va. Kemarin dia bilang mau ke rumah sodaranya, aku gak tahu kapan sekolah lagi”

Nova tersenyum jengah, lalu kembali menekuni bukunya. “Ya udahlah, nanti sore kamu dulu aja ke rumah aku. Irsyad nyusul aja”

Senyum Lintar melebar, “Oke”
+++
“Eh, Lin. Tadi gimana? Sukses?” Tanya Ozy di parkiran sepulang sekolah, Lintar yang di tanya hanya senyum-senyum tak jelas.

Rio mengernyit, bingung dengan arah pembicaraan teman-temannya lalu memilih untuk bertanya, “Emang tadi ada apaan?” Alvin pun hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan pertanyaan Rio.

“Gak, gak ada apa-apa kok” jawab Lintar berbohong

“Yeh, aneh lo” seru Alvin lalu mengenakan helm fullfacenya di ikuti Rio dan Ozy.

“Kita duluan yah, bye Lintar” seru Ozy lalu mulai menjalankan motornya meninggalkan lapangan parkir sekolah di ikuti Alvin dan Rio.

Lintar kemudian memakai helmnya dan mulai menstarter motornya.

“Eh, Nova. Kok kamu belum pulang?” Tanya Lintar menghentikan motornya begitu melihat Nova yang sedang berdiri gelisah di depan gerbang, dia membuka helmnya lalu menatap wajah Nova penasaran. Nova menoleh dan tersenyum simpul melihat siapa yang datang sambil sesekali menyeka peluh di wajah manisnya.

“Aku lagi nunggu jemputan Lin, daritadi gak dateng-dateng” keluh Nova lalu kembali mengedarkan pandangannya pada jalanan yang telihat sepi.

Lintar menyeringai. Eh, kesempatan bagus nih. Gue bisa tambah deket sama Nova, batin Lintar senang.

“Emm, bareng aku aja Va. Dari pada nungguin jemputan kamu yang belum tentu dateng” tawar Lintar menepuk-nepuk jok belakang motornya yang masih cukup untuk satu orang.

Nova tampak sedang mempertimbangkan tawaran Lintar. “Gak usah, ntar ngerepotin lagi. Aku naik taksi aja” tolak Nova halus lalu kakinya mulai melangkah menjauhi motor Lintar.

Seketika tangan Lintar menahannya membuat keseimbangan Nova agak sedikit oleng tapi dia berhasil mengendalikannya dan berbalik menghadap Lintar kesal.

“Apaan sih?” tukas Nova kesal dan menghentakkan tangan Lintar cukup keras

“Sori Va. Tapi kayaknya di daerah ini gak ada taksi deh. Udah kamu pulang sama aku aja, sekalian ngerjain tugasnya sekarang” paksa Lintar tanpa memberi kesempatan Nova untuk melawan karena tangannya kembali di tarik hingga akhirnya ia duduk di motor Lintar dan pasrah mengikuti kemauan Lintar.

Dalam perjalanan mereka sama-sama diam, hanya deru mesin kendaraan yang terdengar. Keduanya sama-sama bingung untuk membicarakan apa karena mereka tak akrab sebelumnya, bahkan Lintar yang jago merayu pun kali ini kebingungan harus mengatakan apa pada Nova mengingat Nova bukan cewek yang seperti mantan-mantannya.

“Ini rumah kamu Va?” Tanya Lintar begitu motornya memasuki pekarangan sebuah rumah yang cukup besar.

Nova mengangguk sekilas dan turun dari motor Lintar menuju kerumahnya, Lintar mengikuti dari belakang.

“Bi, tolong buatin minuman buat temen Nova ya” kata Nova begitu melihat pembantunya melewati ruang tamu yang kini di tempati mereka, Lintar sedang duduk santai di sofa. Bibi itu pun mengangguk sopan dan berlalu menuju dapur.

“Eh, mulai dari mana nih?” Tanya Lintar mendekati Nova yang duduk bersebrangan dengannya,

Nova menoleh lalu kembali sibuk dengan laptopnnya. Mencari informasi seputar sumber arus listrik. Nova kembali menoleh dan kali ini membiarkan Lintar sedikit merapatkan tubuhnya dan ikut mencari materi sama-sama. Awalnya Nova sedikit risi berdekatan dengan Lintar, tapi setelah cukup lama dia merasa Lintar orangnya asyik dan baik. Kedua anak itu pun kini larut dalam dunia maya, sesekali mereka tertawa jika melihat sesuatu yang lucu. Mereka sungguh terlihat akrab satu sama lain layaknya sahabat lama walau sebenarnya baru beberapa menit yang lalu mereka dekat.

“Haha, kok jadi nyasar ke situs ini sih Lin. Kamu sih” sikut Nova menyalahkan Lintar karena mereka membuka situs yang salah.

“Yeee, kok jadi nyalahin aku sih. Kamu yang salah juga” Lintar tak mau kalah dan balas menyalahkan Nova, dia mengacak rambut Nova perlahan.

Nova terdiam seketika, dia merasa ada desiran hangat yang baru saja mengisi rongga hatinya. Sedang Lintar sendiri merasa sangat menikmati ekspresi Nova barusan yang terkesan seperti anak kecil, entah mengapa dia merasa nyaman ada di dekat Nova. Karena menurutnya Nova berbeda dengan gadis yang lain. Dan keakraban antara mereka pun terus berlanjut, kegiatan mereka yang semula serius belajar kini diselangi dengan candaan-candaan ringan yang sesekali terlontar dari mulut Lintar.
+++
“Pagi semua” sapa Lintar begitu ceria pada teman-temannya yang kini tengah duduk santai di kantin, menikmati minuman mereka sebelum bel masuk berbunyi. Mereka yang ditanya hanya bisa menatap Lintar dengan tatapan heran, heran dengan sikap Lintar yang begitu ceria seminggu belakangan ini.

“Kenapa lo Lin?” Ozy akhirnya buka suara karena tak tahan lagi untuk tidak bertanya.

Lintar tersenyum dan mengambil tempat duduk di sebelah Ozy, menyeruput jus Ozy sebelum sang pemilik mengizinkan. Ozy yang telat hanya bisa pasrah melihat jusnya habis di minum Lintar yang baru saja datang.
“Hehehe, gue minta Zy” cengir Lintar begitu melihat ekspresi Ozy yang agak manyun, Ozy mengangguk pasrah-dan sedikit tak ikhlas.

“Ngomong-ngomong gimana kabarnya Nova?” 

Wajah Lintar semakin ceria begitu mendengar Alvin menanyakan tentang Nova. Gadis yang sudah seminggu di dekatinya, dan sejauh ini Nova menunjukkan reaksi yang cukup baik terhadap Lintar.

“Baik dong, Nova kayaknya juga suka sama gue” jawab Lintar dengan pedenya membuat Ozy, Alvin dan Rio kompak meneriaki ‘Huuuuuu…..’ padanya. Lagi-lagi Lintar hanya nyengir kuda melihat reaksi teman-temannya.

“Pede lo, belum tentu Nova suka sama lo. Siapa tahu dia cuma kasihan sama lo” cibir Rio disertai anggukan setuju dari Alvin dan Ozy.

Lintar cemberut, “Ya udah kalau gak percaya, gue gak maksa”

“Ih, lo ngambek lucu juga ya Lin” goda Ozy dengan mimic genit yang di buat-buat, Alvin dan Rio tertawa ngakak sementara Lintar bergidik ngeri. Dan gelak tawa pun terus terdengar di kantin yang cukup lengang itu, di sebabkan oleh candaan Ozy yang sukses membuat Lintar menekuk wajahnya kesal.

“Ish, rese banget sih” marah Lintar karena bosan di ejek teman-temannya

“Yah, si Lintar marah beneran tuh Zy”

“Eh, kok nyalahin gue sih Vin. Ya udah maaf deh Lin, guekan cuma bercanda” kata Ozy bersungguh-sungguh

“Udah jangan ngambek-ngambekan gini deh, kaya anak kecil aja” lerai Rio mencoba bijaksana dan membuat kedua temannya itu akhirnya saling bermaafan tulus.

“Eh, gimana kalau entar malem kita jalan-jalan? Udah lama gak kumpul bareng nih” usul Lintar. Ozy, Rio dan Alvin saling berpandangan lalu mengangguk setuju atas usul Lintar. Beberapa saat kemudian bel masukpun berbunyi menyebabkan Lintar, Ozy, Rio dan Alvin harus menghentikan candaan mereka dan pergi ke kelas.
+++
Lintar tersenyum kemudian segera masuk ke mobilnya setelah tadi dia puas jalan-jalan bersama teman-temannya dan di akhiri dengan makan malam yang begitu menyenangkan. Teman-temannya sudah pulang terlebih dahulu karena katanya mereka ada acara lain setelah ini. Lelaki itu memutar kunci mobilnya lalu menginjak gas secara perlahan menyebabkan mobil Porsche berwarna biru itu kini meluncur perlahan di jalanan yang cukup ramai.

“Eh, itu kayak Nova” gumam Lintar ketika mobilnya melewati jalan yang cukup kecil dan sepi. Samar-samar dia melihat seorang gadis yang mirip Nova tengah di cegat preman. Lintar yang penasaran segera menepikan mobilnya dan turun dari mobil. Dia berjalan perlahan mendekati gadis yang di yakininya adalah Nova.

“Nova?” teriak Lintar kaget melihat Nova yang sedang menangis , di kiri kanannya ada dua orang preman yang tampak sangar sedang mencoba mengambil tas Nova.

Mereka semua pun menoleh, Nova tampak kaget melihat Lintar, tapi terbersit rasa senang di hatinya. Kedua preman itu tampak tidak suka dengan kehadiran Lintar, mereka memandang Lintar dengan tatapan tajam. Lintar tidak gentar sedikit pun, dia malah membalas tatapan tajam kedua preman itu dengan santainya seolah tak merasa takut dengan tatapan preman-preman yang ada didepannya. Hal itu membuat kedua preman yang menghimpit Nova geram, satu orang preman maju dan satunya lagi mencengkram kedua tangan Nova kasar. Nova merintih kesakitan karena tangannya di pelintir sampai belakang, preman itu menyeringai kejam melihat Nova merintih.

“Heh, lepasin Nova” bentak Lintar geram melihat Nova merintih, dia maju beberapa langkah hendak menuju Nova. Tapi langkahnya tertahan karena di tahan seorang preman lagi yang memang tidak menjaga Nova.

“Mau kemana lo? Lawan lo itu gua” kata sang preman yang menghadangnya. Lintar tak menjawab hanya memandang preman itu dengan tatapan menantang. “Heh, lo nantang gua?” sang preman semakin naik pitam melihat sikap Lintar yang seolah ingin menantangnya, tanpa basa-basi dia pun menghampiri Lintar.

‘BUGG’ satu pukulan keras tepat mendarat di perut Lintar membuatnya mundur beberapa langkah, Lintar mengerang. Perutnya serasa remuk di pukul preman. Tak puas preman itu kembali mendekati Lintar dan pukulan demi pukulan pun kembali menghantam tubuh Lintar, Lintar tak berdaya untuk melawan karena setiap ingin melawan tubuhnya kembali di hantam dengan pukulan keras hingga akhirnya ia tersungkur di tanah, sudut bibirnya mengeluarkan darah.

“Lintar…” jerit Nova tertahan, air matanya mengalir dengan deras melihat Lintar tak berdaya. Tanpa pikir panjang Nova menggigit tangan preman yang memegangnya dan segera berlari menghampiri Lintar.

“Aww, sialan” dumel preman itu sambil memegangi tangannya yang di gigit Nova.
“Lintar, kamu gak papa kan?” Tanya Nova begitu sampai di hadapan Lintar, ia berjongkok, menyeimbangkan posisi tubuhnya dengan Lintar.

Lintar mendongak, tersenyum tipis. Kedua preman itu tidak terima, mereka kembali menghampiri Lintar. Menjauhkannya dari Nova lalu menendang-nendang tubuh Lintar yang sudah lebam-lebam. Nova menjerit, tak kuasa melihat tubuh Lintar yang seolah boneka di mata kedua preman itu. Air mata tak berhenti mengalir dari kedua matanya yang indah. Bermodal nekat, Nova berjalan sempoyongan mendekati kedua preman tersebut. Tangan kanannya menggenggam sebuah balok kayu yang dia temukan di dekat kakinya. Dan ‘BUGG’ dua pukulan keras mengenai pundak kedua preman, membuat pandangan mereka berubah muram hingga akhirnya kedua preman itu jatuh ke tanah.

“Lintar” Nova berlari, memeluk tubuh Lintar yang sudah tak berdaya.

“Kamu gak papakan?” Tanya Lintar lirih sambil berusaha melepaskan pelukan Nova yang begitu erat menempel di tubuhnya, tapi tak bisa, tangan Nova terlalu kuat. “Udah jangan nangis Va, aku gak papa kok” seru Lintar halus menyadari bajunya basah karena air mata. Lintar mengelus rambut panjang Nova lembut, berusaha menenangkan Nova yang masih shock. Nova terdiam, dia merasa aman dan nyaman dalam pelukan Lintar, hatinya tenang setiap lelaki dihadapannya itu melontarkan kalimat-kalimat halus untuknya.

“Udah enakan Va?” Tanya Lintar begitu Nova melepaskan pelukannya.

Nova menyeka air matanya dengan tangan dan sejurus kemudian dia tersenyum manis. Lintar ikut tersenyum menyaksikan gadis dihadapannya kini tersenyum walaupun seluruh tubuhnya terasa sakit, ada rasa senang dihatinya mengetahui Nova baik-baik saja. Dan merekapun bangkit dari tempat itu, meninggalkan kedua preman yang masih pingsan. Nova membantu Lintar berjalan menuju mobilnya, memapah Lintar hati-hati.

“Maaf ya Lin, gara-gara aku kamu jadi gini” sesal Nova ketika ia mengobati luka Lintar di dalam mobil. Lintar hanya bisa tersenyum sambil sesekali meringis kesakitan. Dia tak pernah menyesali apa yang telah di lakukannya untuk Nova, Lintar begitu tulus ingin melindungi Nova dari orang-orang yang jahat padanya. Entah kenapa, perasaan ingin melindungi itu muncul begitu saja di benak Lintar ketika ia menemukan Nova diantara 2 preman tadi.

“Lin, kok bengong?” Nova terheran-heran dengan sikap Lintar yang malah melamun ketika di ajak bicara. Lintar tersadar dari lamunannya, dia menatap Nova dan kembali tersenyum.

“No Problem Va, I will always be your guardian angel” seru Lintar kemudian mengusap puncak kepala Nova. Nova tersenyum, desiran hangat itu kembali merayap perlahan menyelimuti hatinya. Dan kini ia mengerti apa arti kehangatan yang selama ini ia rasakan bila berada di dekat Lintar.
+++
Bulan bersinar begitu cerah di langit malam yang gelap membuat malam itu terlihat begitu indah, dan hamparan bintang-bintang yang berkelap kelip menambah keindahan malam itu. dua pasang mata terlihat begitu menikmati indahnya malam, mereka duduk di sebuah bangku taman yang tak jauh dari kafe tempat mereka makan malam. Ya, mereka adalah Nova dan Lintar. Dua sejoli yang semakin dekat setelah kejadian seminggu yang lalu.

Nggg, Va?” panggil Lintar ragu-ragu, ia mengalihkan pandangannya dari langit kepada Nova.

Nova tak menyahut, hanya balas menatap Lintar dan menunggu kelanjutan ucapannya. Lintar tampak menghela nafas berat lalu ia merubah posisi duduknya hingga menghadap Nova. Nova yang bingung dengan sikap Lintar yang menurutnya aneh ikut merubah posisi duduknya hingga kini mereka duduk berhadapan. Setelah sepersekian detik Lintar tak kunjung bicara juga, membuat Nova semakin penasaran dengan apa yang sebenarnya akan Lintar katakan.

“Nov, aku tahu kita baru deket 2 minggu belakangan ini tapi….” Lintar akhirnya buka suara, tapi ia kembali menggantung kalimatnya dan menatap Nova ragu.

Nova menaikkan alisnya, tak mengerti dengan ucapan Lintar yang menurutnya setengah-setengah. “Tapi?” Nova balas menatap Lintar dengan matanya yang berbinar terang.

Lintar terlihat sangat gugup, baru kali ini dia merasa nervous saat hendak mengutarakan perasaannya pada seorang gadis. Lelaki itu kembali menghela nafas lalu meraih tangan Nova dan menggenggamnya. Nova tersentak kaget, dia jadi gugup sendiri melihat tingkah Lintar. Apakah Lintar akan menyatakan perasaannya? Hmmm, entahlah, itu hanya pemikiran Nova. Jantung Nova berdetak kencang, aliran darahnya seakan mengalir dengan deras ke kepalanya saking gugupnya.

“Va, aku sayang sama kamu. Lebih dari rasa sayang seorang sahabat, aku cinta kamu” Lintar menggigit bibirnya sekejap sebelum kembali bersuara. “Kamu mau gak jadi pacar aku?” Nova menatap Lintar dengan tatapan tak percaya. Benarkah atau hanya ilusinya? Waktu seakan berhenti berdetik.
“Nova” panggil Lintar mulai risi dengan sikap Nova yang malah melamun “Kamu mau gak?” lanjut Lintar mulai putus asa. Nova tersadar dari lamunannya dan sekarang matanya menatap mata Lintar lekat, mencari suatu keseriusan dari ucapannya. “Nova, kamu mau kan?” dan kali ini Nova mengangguk senang dengan bibirnya yang tersenyum. Dia telah menemukan keseriusan di mata Lintar. Refleks, Lintarpun memeluk Nova karena bahagia, jujur dia tak pernah merasa sebahagia ini jika perempuan yang sudah jadi incarannya mau menerimanya. Nova mengusap lembut punggung Lintar yang kini tengah memeluknya, hari ini dia sangat bahagia karena akhirnya sang pujaan mengungkapkan perasaannya.

“Makasih ya Va, aku sayang kamu” Lintar melepaskan pelukannya dan memandang gadis di hadapannya dengan mata berbinar, entah kenapa semenjak bertemu Nova, Lintar merasa bahwa sebagian jiwanya yang telah lama hampa kini mulai terisi lagi. Dan entah sadar atau tidak Lintar tak berbohong ketika dia mengucapkan kata-kata sayang untuk Nova, dia tulus.

Nova mengangguk kecil, senyum di bibirnya mengembang semakin lebar mendengar ucapan Lintar yang simple tapi menurutnya penuh arti. Lintar gemas melihat ekspresi Nova dan alhasil diapun mengacak lembut puncak kepala Nova. Nova merengut, dia segera merapikan rambutnya yang baru saja di acak Lintar membuat Lintar tertawa renyah.

“Aku janji akan selalu jadi malaikat penjaga kamu Va” ucap Lintar di sela-sela tertawanya

“Ih, gombal” Nova merengek manja mendengar ucapan Lintar dan iapun memukul lengan Lintar pelan membuat Lintar semakin cekikikan sampai akhirnya keduanya pun tertawa bersama. Lintar merangkul Nova dan kini mereka larut dalam indahnya malam, menikmati kenahagiaan yang baru saja mereka rajut.
+++
Tiga bulanpun berlalu, dan sejauh ini hubungan Nova-Lintar sangat baik. Tak pernah ada keributan sekecil apapun diantara mereka berdua, bahkan satu sekolahan pun sempat merasa heran ketika baru pertama mengetahui bahwa mereka berpacaran. Banyak orang yang merasa aneh atas hubungan mereka, tapi banyak juga yang cuek tak peduli. Sejauh ini pula Lintar mulai merasakan perasaan lain dihatinya. Lintar merasa nyaman berada di dekat Nova, dan entah kenapa Lintar selalu ingin melindungi Nova. Mereka berdua sangat menikmati kebersamaan mereka di sela-sela waktu mereka yang senggang.

“Eh, hari ini tepat 3 bulan lo jadian sama Nova ya?” Tanya Ozy pada Lintar di sela-sela makannya, Lintar menoleh dan menyunggingkan senyum termanisnya.

Mereka berempat-Lintar, Ozy, Rio, Alvin- kini tengah berada di kantin, menikmati makan siang mereka. Bel pulang sudah berbunyi sejak 3 menit yang lalu, tapi entah mengapa mereka lebih memilih untuk pergi kekantin karena panggilan perut yang sudah meminta di isi sejak tadi.

“Iya dong, dan itu artinya gue menang” jawab Lintar antusias dengan ekor  matanya yang melirik Rio penuh arti. Rio yang sadar di lirik memajukan bibirnya dan merogoh sesuatu dari saku celananya. Lintar, Ozy dan Alvin memerhatikan Rio dengan seksama membuat Rio agak sedikit risi dan menarik dengan kasar sesuatu di balik sakunya.

“Nih, gue ngaku kalah. Tapi jangan liatin gue kayak gitu risi tahu. Gue tahu gue ganteng tapi biasa aja dong” cerocos Rio diakhiri dengan kalimat narsis yang langsung membuat Lintar, Ozy dan Alvin berpura-pura muntah di tempat. Rio kembali cemberut sambil menyodorkan kunci motornya di atas meja.

“Yeyy, thanks ya Rio… tapi bibir lo jangan manyun dong, jelek tahu” seru Lintar kegirangan dan langsung menyambar kunci itu sebelum Ozy dan Alvin yang mendapatkannya terlebih dahulu.

“Iye Yo, muka lo jelek kayak bebek kalau manyun” timpal Alvin ikut meledek Rio

“Ish…” desah Rio kesal, bibirnya semakin manyun karena kesal. Lintar, Alvin dan Ozy ngakak melihat ekspresi Rio.

“Eh, udah dong jangan di gangguin Rionya. Kasian tahu. Lagian Rio gak kayak bebek kok kalau manyun” tiba-tiba saja Ozy membela Rio, Rio langsung tersenyum bahagia karena ada yang membelanya. Sementara Lintar dan Alvin hanya mangap tak percaya. “Ih, kok pada mangap. Maksud gue Rio gak kayak bebek tapi kayak kodok, wkakaka” Mereka kembali tertawa mendengar sambungan dari ucapan Ozy, sedangkan Rio kembali memajukan bibirnya tak terima.

“Yaelah, selow Yo. Kita kan cuma bercanda” Lintar menepuk-nepuk pundak Rio mencoba membuatnya bersabar

“Yeee, makanya jangan ledekin gue mulu”

“Iye, Mario. Mangap deh” seru Alvin dan Ozy berbarengan

“Maaf bego, ketahuan banget gak ikhlasnya” Rio kembali mencak-mencak tapi kali ini semuanya sudah tak peduli.

“Udahan ah ketawanya, gue capek tahu” Alvin menghentikan aksi tertawanya dan memasang wajah prihatin pada Rio.

“Iye gue juga capek” tambah Lintar dan menyeruput jusnya yang nganggur karena mereka yang terus tertawa. Suasana pun hening, semua larut dengan makanan mereka sampai akhirnya Ozy membuka pembicaraan.

“Eh, malem ini lo mau putusin Nova ya?” Tanya Ozy tiba-tiba yang langsung membuat Lintar tersedak makanan yang dimakannya, Rio menyodor kan segelas air putih yang langsung habis dalam satu tegukan oleh Lintar.

“Eh, kenapa lo kaget gitu. Biasanya juga lo langsung putusinkan?” Alvin heran melihat tingkah Lintar yang tak biasanya

“Iya, gak biasa lo kaget pas ngomongin cewek yang mau lo putusin” Rio menimpali dan ikut mengernyit heran, Lintar tak bergeming. Dia tetap focus dengan pikirannya yang menerawang, entah kenapa ia tak tega jika harus membuat Nova terluka. Lintar tak tega jika harus melihat Nova menangis, dia tak ingin menyakiti Nova, sedikit pun.

“Atau jangan-jangan…” Ozy menggantung kalimatnya dan memandang Lintar tak percaya “jangan bilang lo suka Nova” sambung Ozy yang sontak membuat semuanya kaget, terutama Lintar. Dia menunduk, tak mengerti dengan perasaannnya yang sekarang sangat aneh. Dan semuanya pun memandang tajam kearah Lintar meminta penjelasan.
+++
“Va, sebenernya kamu sama Lintar serius gak?” Tanya Acha, sahabat Nova ketika di kelas.

Mereka baru saja selesai mengerjakan pr Matematika yang di berikan di akhir jam tadi, kelas sudah sangat kosong. Nova yang sedang membereskan buku-bukunya menoleh dan menyunggingkan sebuah senyuman manis pada Acha.

“Seriuslah Cha, aku sayang sama dia. Dia juga sayang sama aku” tukas Nova dengan suara yang terdengar begitu yakin. Karena ia memang yakin akan ketulusan Lintar, tak pernah sedetikpun ia memikirkan hal negative tentang orang yang disayanginya itu.

Acha yang juga sedang membereskan bukunya menghela nafas lalu tersenyum kecut pada Nova, ia tidak yakin Lintar benar-benar menyayangi Nova karena bagaimana pun Ozy pernah bercerita padanya bahwa terkadang Lintar berpacaran hanya untuk taruhan, dan Acha, dia takut kalau Nova salah satu taruhannya.

“Kamu yakin Lintar beneran sayang sama kamu?” Acha kembali bertanya. Di dalam lubuk hatinya ia ingin sekali Nova menjawabnya dengan jawaban ragu.

Nova menghentikan aktifitasnya sejenak dan memandang Acha aneh, dari tatapan matanya Nova merasa bahwa Acha meragukan ketulusan Lintar. “Kamu kok nanyanya gitu sih Cha? Aku yakin kok sama Lintar, dia gak mungkin mainin aku” tegas Nova yang tetap keukeuh dengan pikirannya. Acha menghela nafas, tak habis pikir dengan sikap keras kepalanya Nova.

“Bukannya aku ragu Va, tapi aku pernah denger dari Ozy kalau Lintar gak pernah serius sama satu cewe. Dia cuma taruhan” dengan sabar Acha berusaha memperingatkan Nova membuat  Nova agak risi mendengarnya.

“Kamu kenapa sih Cha, selalu aja bawa-bawa pacar kamu itu. Siapa tahu aja dia yang gak tulus” elak Nova dingin, Acha termangu mendengar ucapan dingin Nova, dan baru saja Acha akan membuka suara Nova sudah memotongnya. “Udah deh, aku gak ada waktu dengerin pendapat kamu yang selalu mojokin Lintar. Aku duluan, Lintar udah nunggu di kantin” sambar Nova cepat tanpa memberi kesempatan Acha untuk berbicara lagi. Dengan cepat Nova pun segera melangkahkan kakinya keluar dari kelas. Acha mendengus melihat sikap Nova, sebegitu berartinyakah Lintar bagi Nova?

Sepanjang perjalanan ke kantin Nova terus di sibukkan dengan pikirannya. Kata-kata Acha terus terngiang-ngiang jelas di telinganya. Selama ini dia memang sering mendengar gossip tentang Lintar yang berpacaran jika taruhan, tapi dia selalu menganggap itu semua hanya gossip belaka. Nova tak pernah menanggapi gossip itu dengan serius, ia tak pernah peduli karena toh menurutnya semua itu bohong. Selama ini ia tak pernah merasakan kejanggalan dari sikap Lintar. Dia tak pernah merasakan hal itu sedikit pun. Bagaimana mungkin Lintar yang selalu bersikap manis padanya seperti itu, bagaimana mungkin Lintar yang selama ini memerlakukannya penuh sayang hanya mempermainkannya, dan bagaimana mungkin Lintar yang selama ini melindunginya berani menyakiti hatinya. Dan pertanyaan-pertanyaan itupun terus berkecamuk di pikirannya, menimbulkan berbagai reaksi dalam otaknya hingga tak sadar ia sekarang sudah berada di ambang pintu masuk kantin, tapi langkah Nova segera terhenti melihat pemandangan di hadapannya.
+++
“Lintar, lo jangan gila dong. Nova itu cuma taruhan lo, kenapa sikap lo jdi lembek kayak gini sih?” maki Alvin kesal atas jawaban Lintar barusan. Mengapa bisa Lintar jatuh cinta pada Nova?

Alvin bener, Lintar yang selama ini taruhan sama gue gak kayak gini” Ozy ikut menghardik Lintar, mereka berdua bangkit dan memojokan Lintar dengan tatapan penuh amarah.

“Pokoknya lo harus nepatin janji lo Lin, lo harus mutusin Nova hari ini juga” kata Rio yang ikut berdiri, mereka semua menatap Lintar tajam. Lintar mengangkat wajahnya dan memandang teman-temannya tanpa ekspresi.

“Gue tahu kalo selama ini gue cuma mainin Nova dan dia taruhan antara gue dan elo tapi…”  kata-kata Lintar terputus. Matanya tanpa sengaja terfokus pada seseorang yang masih berada di ambang pintu masuk. Mematung memandang Lintar dengan deraian air mata yang entah sejak kapan sudah mengaliri pipinya. Lintar tercengang memandang siapa yang berada di situ. Dan ketika orang itu sadar di perhatikan Lintar ia segera berbalik dan berlari sekencang-kencangnya meninggalkan tempat itu. Alvin, Ozy dan Rio yang penasaran akhirnya mengikuti arah pandangan Lintar dan sama-sama tercengang melihat siapa yang kini tengah berlari menjauh.

“Nova” gumam Lintar pelan, Lintar tahu Nova baru saja mendengarkan semua yang dia katakan. “Semua gara-gara kalian” ucap Lintar memandang sinis teman-temannya.

Emosi Lintar memuncak, dia merogoh saku celananya dan mengeluarkan kunci motor Rio lantas melemparkan ke arah Rio sambil berseru, “Gue gak butuh taruhan ini” lalu tanpa menunggu jawaban teman-temannya ia segera berlari menyusul Nova yang sudah jauh di depan.

Alvin, Rio dan Ozy saling berpandangan sejurus kemudian mereka meunduk sedih, mereka sadar bahwa yang mereka perbuat tadi adalah salah.

“Nova…Nova” Lintar terus mengejar Nova dan kini mereka sudah keluar dari area sekolah, berlari-lari di pinggir jalan yang terlihat sepi. Nova tak menoleh, hatinya begitu sakit ketika mendengar obrolan Lintar tadi. Ternyata apa yang dikatakan Acha tadi adalah sebuah kenyataan, ia tak pernah berpikir bahwa Lintar bisa setega itu pada dirinya.

“Nova, tunggu. Dengerin penjelasan aku” lagi-lagi Lintar berteriak keras tapi Nova sama sekali tak memperdulikannya, ia terus berlari lurus di jalanan.

Ozy, Alvin dan Rio yang tadi merasa bersalah ikut mengejar Nova dan Lintar, mungkin dengan kehadiran mereka bisa sedikit meyakinkan Nova bahwa Lintar memang tulus menyayanginya.

“Nova, dengerin aku” Lintar berhasil mengejar Nova dan menggapai tangannya. Dia membawa Nova dalam pelukannya, gadis itu meronta-ronta ingin melepaskan diri, tapi tak bisa. “Dengerin aku” lirih Lintar memeluk Nova erat. Nova tak bereaksi, ia terus memukul-mukul dada Lintar emosi.

“Aku sayang kamu Va, mungkin dulu aku cuma taruhan tapi sekarang aku bener-bener sayang sama kamu. Kamu harus percaya sama aku Va, kamu harus percaya” jelas Lintar lirih. Nova menggeleng kuat mendengar penjelasan Lintar dan mendorong tubuh Lintar cukup kuat hingga Lintar jatuh.

“Kamu bohong, aku gak percaya”  hardik Nova dengan suaranya yang bergetar, Nova membalikkan badannya dan kembali berlari. Kali ini dia berlari di tengah jalan, Nova terus berlari tanpa memperdulikan sebuah mobil pengangkut tangki minyak yang datang dari depannya. Mobil itu melaju dengan kecepatan tinggi, seolah kehilangan kendali.

“Nova awas…” teriak Lintar khawatir karena mobil pengangkut itu semakin dekat mendekati tubuh Nova.

“Awass……” Alvin, Rio dan Ozy ikut berteriak histeris melihat mobil pengangkut yang semakin mendekati tubuh Nova. Nova terhenti mendengar semua teriakan teman-temannya dan menoleh pada jalan yang lurus. Bola matanya terbelalak kaget melihat mobil itu hanya kurang dari 10 langkah ke arahnya, Nova ingin berlari tapi seluruh tubuhnya terasa kaku.

“Aaaaaaaa……………”

Nova membuka matanya karena tak merasakan apa-apa, dan di lihatnya sekarang dia berada di dalam dekapan Lintar di pinggir jalan. Lelaki itu menyelamatkannya. Nova kembali terisak.

“Ngapain kamu nyelametin aku, hah?”

“Va” Lintar mengusap pelan air mata di pipi Nova. “Masih inget? Aku akan selalu jadi guardian angel kamu. Aku gak bakal biarin sesuatu terjadi sama kamu meskipun kamu benci sama aku. Karena aku sayang sama kamu”

Nova menatap LIntar dalam, dan merasa sedikit lega begitu tahu ada ketulusan di mata itu. “Tapi taruhan itu..” Lintar meletakkan telunjuknya di bibir Nova, tersenyum menenangkan.

“Maaf,” bisiknya lirih.

Nova tak bisa melawan kata hatinya, akhirnya gadis itu hanya mengangguk perlahan sambil membenamkan wajahnya di dada Lintar.

“Sori ganggu”

Lintar dan Nova menoleh. Lintar langsung melengos melihat teman-temannya.

“Va, lo jangan raguin Lintar yah. Gue tahu dia tulus banget sama lo. Dia bahkan ngebatalin taruhannya cuma demi lo” Rio tersenyum pada LIntar yang menatapnya heran.

“Rio bener, lo gak boleh raguin apa pun lagi dari Lintar” timpal Alvin

Lintar benar-benar tak tahu harus mengatakan apa pada teman-temannya. Jujur, ia terharu. Mereka begitu tulus membantunya. Lintar tersenyum, menggumamkan kata “thanks” tanpa suara pada teman-temannya sebelum ketiga orang itu berlalu pergi.

“Jadi, kamu maafin aku kan?” tanya Lintar

Nova mendongak, tersenyum tipis. “Maunya?”

“Yeh, ya di maafin lah” seru Lintar gemas lalu mengusap kepala Nova lembut.

Senyum Nova melebar, dia mendekatkan mulutnya ke telinga Lintar lalu berbisik, “Jangan lakuin lagi, my guardian angel” yang di balas Lintar dengan kecupan kilat di pipi kanan gadis itu.

“Iya sayang, haha” katanya lalu berlari sebelum Nova mengejarnya karena telah mencium gadis itu tanpa izin.

selesai