Entri yang Diunggulkan

Series Recommendations! đŸŽ„

Hi, happy Wednesday all! So decided to post my own personal series. I usually dont like watching movie, so because i watched those series ...

Jumat, 20 Mei 2011

Guardian Angel


Seorang lelaki tengah menatap gadis yang sekarang berstatus sebagai kekasihnya jengah, lelaki itu menghela nafas lantas menatap gadis itu sekilas.

“Kita PUTUS” ucapnya kemudian, nada bicaranya  terkesan ketus tanpa penyesalan dan beban sama sekali.

Bahkan ia terkesan sangat tidak peduli telah mengucapkan dua kata yang sukses membuat gadis di hadapannya mematung kaku setelah mendengar apa yang baru saja di ucapkan kekasihnya. Tangannya meremas jaket bagian bawah yang di kenakannya dan lapisan kaca tipispun mulai terbentuk di kedua bola matanya yang indah, sekuat tenaga ia berusaha menahan lapisan kaca itu agar tidak pecah. Gadis itu menelan ludah dan memberanikan diri menatap mata sang kekasih yang tengah berdiri santai di hadapannya. Mencoba untuk tegar dan berpikir jernih bahwa mungkin saja yang di katakan kekasihnya barusan hanyalah sebuah lelucon, dia menatap mata sang kekasih dengan tatapan tak percaya.

“Lintar, kamu bohongkan Tar?” Tanya sang gadis hati-hati dengan nada bicara yang dibuat senormal mungkin, dia berusaha meredam getaran dalam nada suaranya.

Gadis itu tersenyum pahit mencoba menyembunyikan guncangan hebat yang kini menyeruak di dadanya. Lelaki yang ternyata bernama Lintar tersebut melengos, tak mempedulikan pertanyaan sang gadis, dia malah membuang wajah dengan cueknya. Gadis itu semakin bimbang, perasaan takut semakin menguasai dirinya. Dia takut kehilangan lelaki yang sudah dua bulan ini menemaninya. Tapi lagi-lagi sekuat tenaga ia berusaha meredam pikiran buruknya, berusaha berpikir positif.

Dia menghirup udara sebanyak-banyaknya sebelum kembali bertanya, “Kamu lagi bercandakan?”

Kaca tipis yang menyelimuti matanya kini semakin tipis saja melihat sikap Lintar, seolah tak kuat lagi menahan tetesan air yang berada di dalamnya. Seluruh tubuhnya bergetar ketika Lintar mengalihkan pandangannya dan balas menatap mata sang gadis dingin, gadis itu diam, menunggu Lintar mengeluarkan sepatah kata atau dua patah kata. Menunggu kepastian.

“Aku gak bohong Ify” ketus Lintar keki di perhatikan Ify seperti itu.

Ify shock mendengar pengakuan Lintar barusan, tangannya mengguncang bahu Lintar tak percaya. Dan kaca tipis itu pun akhirnya pecah, berganti dengan tetesan-tetesan bening yang mulai mengaliri pipi mulus Ify.

Ify terisak, “Please Tar, jangan putusin aku. Aku sayang banet sama kamu”

Lintar mengangkat sebelah alisnya menatap Ify, lalu tersenyum sinis. “Sorry ya, fy. Tapi sayangnya, gue yang udah gak cinta lagi sama lo” serunya semakin ketus, dia mendorong tubuh Ify kasar membuat gadis itu mundur beberapa langkah.

Ify semakin larut dalam tangisnya di perlakukan seperti itu oleh Lintar, dia memegang dadanya yang terasa semakin sesak akibat perlakuan Lintar. “Apa aku buat kesalahan sampai kamu gak sayang sama aku lagi Tar?” ucap Ify di sela-sela tangisnya, suaranya bergetar hebat. Walaupun sakit, dia kembali mendekati Lintar dan menatap matanya sekali lagi. Ify meraih tangan Lintar, tapi dengan cepat Lintar menepis tangannya kasar.

“Kamu gak salah apa-apa Ify, cuman aku udah bilangkan? Aku gak sayang lagi sama kamu. Aku bosen sama kamu”

Dada Ify bertambah sesak, hatinya sakit. Tangisnya semakin menjadi mendengar pengakuan Lintar, hatinya yang sakit benar-benar seolah di iris pisau tipis-tipis. Ingin sekali Ify menampar wajah Lintar mendengar pengakuannya, tapi dia tak bisa, Ify terlalu menyayangi Lintar. Dan alhasil ia pun hanya bisa mendorong tubuh Lintar keras menyebabkan tubuh Lintar jatuh tersungkur.

“Kamu jahat Lintar” teriak Ify parau dan dengan sisa-sisa tenaganya dia pun segera berlari pergi, meninggalkan taman itu dengan perasaan hancur. Dia tak memedulikan tatapan aneh anak-anak yang melihatnya menangis, ia terus berlari. Berlari sekencang-kencangnya menerobos semua orang dan pergi entah kemana.

Sedangkan Lintar yang melihat Ify menangis hanya menghela nafas kecil dan segera berdiri. Dia memandang kepergian Ify dengan ekspresi datar. Sebenarnya, Lintar memang tak pernah menyukai Ify. Bahkan sejak dulu, dia berpacaran dengan Ify pun hanya karena taruhan dengan teman-temannya. Baginya Ify hanya mainan, mainan yang mengantarkannya pada beberapa juta uang milik Alvin, sahabatnya yang berani bertaruh dengannya.

“Wisss, gak kasian lo ngeliat Ify sampe nangis segitunya?” seseorang menepuk pundak Lintar dari belakang membuat Lintar agak terlonjak kaget dan dengan cepat menoleh pada asal suara.

Di belakangnya Ozy berdiri dengan wajahnya yang selalu ceria, sedangkan Alvin di belakang Ozy terlihat menekuk wajahnya dan memandang Lintar sebal, dan Rio sendiri hanya memandang mereka sambil menggelengkan kepalanya tak mengerti dengan tingkah sahabatnya yang masih saja suka taruhan, apalagi taruhan wanita, menurut Rio mereka seperti anak kecil.

“Ah, gue kalah. Nih ambil” seru Alvin sedikit tak rela, dia melempar sebuah amplop tebal ke arah Lintar dan dengan sigap Lintar menangkapnya.

Alvin mencak-mencak tak jelas, untuk kedua kalinya dia kalah taruhan dari Lintar. Padahal menurutnya Ify adalah wanita yang tak akan segampang itu terjerumus pada jeratan Lintar, tapi seperti kata Bondan ‘Ya sudahlah’. Nasi sudah menjadi bubur, dan kini Alvin hanya bisa merelakan beberapa juta uang miliknya berpindah pemilik.

Wajah Lintar langsung sumringah begitu mendapatkan amplop dari Alvin yang berisi sejumlah uang di atas satu juta, “Hehe, thanks Vin. Lo kalah sih itu derita lo”

“Alvin, Alvin. Udah tahu lo bakal kalah, masih aja mau taruhan sama Lintar”  ledek Rio sambil berlagak prihatin, walau sebenarnya ia memang prihatin. Wajahnya di buat se-sedih mungkin sehingga menimbulkan kesan aneh bagi yang melihatnya. Lintar dan Ozy tertawa melihat ekspresi Rio, sedangkan Alvin memajukan bibirnya beberapa centi, kesal di ledek Rio.

“Daripada lo, gak berani taruhan sama sekali” sindir Alvin dengan tatapan menantang, bibirnya yang sedari tadi cemberut akhirnya bisa tersenyum tipis pada Rio yang masih dengan ekspresi anehnya.

Rio tersentak mendengar ucapan Alvin dan balas menatap Alvin dengan tatapan yang sulit di tebak. Selama ini memang hanya Rio yang tak pernah bertaruh hal yang menurutnya konyol dengan Lintar, bukannya dia takut, hanya saja dia merasa hal itu sangat konyol karena bagaimana pun mereka akan beranjak dewasa.

Ozy dan Lintar berhenti tertawa mendengar ucapan Alvin.

“Eh, iya ya. Rio belum pernah taruhan sama Lintar, gue aja udah 2 kali” sahut Ozy sambil tertegun, mengingat-ingat sudah berapa kali ia taruhan dengan Lintar.

Lintar tersenyum penuh kemenangan sebelum berseru, “Lo takut kalah dari gue ya?” yang membuat Rio mendelik tak terima.

“Enak aja, gue berani” Rio tersulut emosi, ia menatap satu persatu temannya dingin.

Alvin, Ozy dan Lintar saling berpandangan dan tersenyum, sepertinya Rio mulai terpancing dengan ucapan mereka.

“Oke, kalau gitu lo mau taruhan apa sama gue?

“Motor cagiva kuning gue yang elo pengen. Tapi kalau lo kalah gue pengen jazz merah lo”

Lintar tampak berpikir sebentar. Jazznya harus berpindah tangan kalau dia kalah. Ah, tapi kapan sih dia pernah kalah? Senyum di bibir Lintar mengembang, “Bolehlah. Ceweknya terserah gue atau lo?”

“Gue aja. Gue maunya Nova”

Kening Lintar mengkerut, “Maksud lo Nova Cyintia Sinaga? Kutu buku itu?” tanyanya dengan nada meremehkan.

Rio tersenyum miring, “Kalau lo berani sih”

“Ya udahlah, dua minggu juga bisa gue dapetin”

“Pede gila lo. Terserah kalau lo maunya dua minggu, tapi lo harus bertahan sama Nova minimal 3 bulan, baru gue ngaku kalah”

Lintar mendelik, “Gila, lama banget? Bisa keriting gue kalau selama itu sama Nova. Pasti kerjaannya tiap hari ngajarin gue”

“Yeee, nawar lagi lo. mau gak?” tanya Rio sambil mengulurkan tangannya

“Iye, iye” Lintar menjabat tangan Rio malas.

Kalau saja bukan cagiva kuning Rio yang di pertaruhkan, mana mau ia berurusan dengan Nova. Nova adalah anak paling pintar di kelasnya, bahkan mungkin satu sekolahan. Anaknya lumayan cantik, manis. Tapi ya itu dia, hobinya baca buku. Kemana-mana pasti bawa buku, beda banget sama Lintar. Kalau Lintar sih boro-boro bawa buku kemana-mana, baca aja malas kalau gak di suruh guru. Dia juga agak risi deket-deket Nova, di pikirannya gadis tipikal Nova itu paling ngomongin pelajaran. Seumur-umur Lintar juga belum pernah ngobrol panjang lebar sama Nova, tapi karena taruhannya bagus dia sanggup ajalah.
+++
Lintar menyapu pandangannya ke setiap sudut kelas, beharap menemukan sosok yang sedang dicarinya, Nova. Sudah 5 menit semenjak bel berbunyi, tapi gadis itu tak menunjukkan batang hidungnya, padahal biasanya dia paling rajin.

Di depan kelas Bu Winda sang guru Fisika sedang menerangkan materi sumber arus listrik yang sukses membuat semua muridnya hanya melongo tak mengerti. Tapi mengerti tak mengerti murid-murid tetap memperhatikan Bu Winda yang terkenal killer jika murid-murid tak memerhatikannya. Lintar menatap Bu Winda ogah-ogahan, lalu pandangannya kembali tertuju pada pintu masuk. Berharap Nova akan segera muncul dari balik pintu itu, jika dia terlambat, Lintar  berharap Nova segera datang karena Bu Winda hanya mentolerir sekitar 10 menit bagi muridnya yang terlambat. Dan seolah harapannya terkabul, 3 menit kemudian seseorang mengetuk pintu kelas hati-hati.

“TOK..TOK…TOK” bunyi pintu yang di ketuk menyebabkan semua pandangan kini tertuju pada arah pintu. Bu Winda pun ikut memandang ke arah pintu, menanti siapa yang akan muncul dari balik pintu. Perlahan pintu pun terbuka lebar, menampilkan sosok Nova yang berdiri menunduk disana. Perasaannya bercampur aduk antara menyesal, takut dan malu.

Nova menunduk, lantas berkata. “Maaf saya terlambat Bu” Bu Winda melirik jam dinding di kelas, Nova terlambat 8 menit.

“Duduk” seru Bu Winda datar.

Nova menghela nafas lega dan segera berjalan menuju bangkunya tanpa sadar sejak kedatangannya ada sepasang mata yang terus memperhatikan Nova.

Satu setengah jam kemudian…

“Sejauh ini apa ada yang mau di tanyakan?” Tanya Bu Winda di akhir penjelasannya, murid-murid saling bertatapan lalu menggeleng dengan kompaknya walaupun sebenarnya hampir semua tidak mengerti kecuali Nova, mungkin. “Baiklah kalau begitu Ibu akan membagi kelompok untuk berdiskusi” seru Bu Winda lalu mengambil buku absent untuk membagi kelompok.

“Karena disini ada 21 siswa ibu akan bagi kedalam 7 kelompok, jadi setiap kelompok terdapat 3 orang. Kelompok pertama: Nyopon, Daud dan Olivia. Kelompok kedua: Zevana, Alvin, Sivia. Kelompok 3: Ozy, Acha, Shilla. Kelompok 4: Ray, Deva dan Keke. Kelompok 5: Dea, Rio, Ify. Dan Kelompok 6: Lintar, Nova, Irsyad” terang Bu Winda lalu menutup buku absensinya.

Wajah Lintar langsung berseri-seri begitu mengetahui siapa yang akan jadi teman sekelompoknya, Nova. Dan itu artinya kesempatannya untuk berduaan dengan Nova lebih besar walau pun ada Irsyad. Lintar membalikkan tubuhnya menghadap Rio dan Alvin yang duduk di belakangnya lalu memeletkan lidahnya pada Rio, meledek.

“Just see, Mario. I will be the winner”

Rio tersenyum miring, “I’m not sure that you can. Oke, I will see”

“Silakan diskusikan tentang sumber arus listrik dengan kelompok kalian. Minggu depan Ibu ingin kalian mengumpulkan hasil diskusi tersebut” kata Bu Winda lalu berlalu pergi karena bel pergantian pelajaran baru saja berbunyi.

“Ckckck, kayaknya Tuhan mulusin jalan lo deh Lin. Belum apa-apa kesempatan lo berdua sama Nova udah gede aja” decak Ozy tak habis pikir dengan keberuntungan sahabatnya yang satu ini, Lintar hanya tersenyum lebar.

“Beruntung banget lo Lin” tambah Alvin yang mendengar pembicaraan Ozy dan Lintar

“Beruntung sih boleh, tapi belum tentu Nova mau. Gue yakin gak salah pilih” sahut Rio percaya diri, tepatnya mencoba memercayai pilihannya.

Lintar mengangkat alisnya meremehkan lalu kembali membalikkan tubuhnya ke depan karena guru yang akan mengajar pelajaran selanjutnya baru saja masuk kelas.

+++
Bel istirahat berbunyi dengan nyaring, menyebabkan ratusan siswa/I saling berebut keluar kelas untuk ke kantin. Mengisi perut yang sudah memainkan musik keroncong.

“Lin, kantin yuk. Laper gue” ajak Ozy kemudian berdiri sambil memegangi perutnya yang memang sudah terasa lapar sejak pelajaran berlangsung, Rio dan Alvin sudah pergi ke kantin terlebih dahulu karena bosan menunggu mereka berdua yang kata Alvin ‘ngaretnya minta ampun’.

Lintar yang masih sibuk membereskan buku-bukunya menoleh pada Ozy sekilas lalu matanya melirik Nova yang masih bergulat dengan buku pelajarannya, ia tersenyum simpul lalu kembali focus pada Ozy.

“Mmmmm, gimana ya Zy? Lo duluan aja deh, gue gak laper”

Ozy mengernyit bingung dengan jawaban Lintar, biasanya Lintar yang paling semangat jika di ajak kekantin. Dan kebingungan Ozy pun terpecahkan setelah dia memergoki Lintar tengah curi-curi pandang kepada seorang gadis di kelas ini, Ozy hanya mendengus pelan. Si Lintar kayaknya niat banget pengen motor Rio.

Ozy menepuk pundak Lintar dua kali sebelum berkata, “Yah, dasar lo. Ya udah gue duluan yah, moga sukses bro”

Lelaki itu pun berlalu pergi menyusul Alvin dan Rio yang –mungkin- sudah ada di kantin. Lintar tersenyum tipis seraya memerhatikan punggung Ozy yang semakin menjauh. Setelah Ozy benar-benar hilang dari pandnagannya, Lintar segera berdiri dan duduk di bangku depan Nova yang kini kosong, di tinggalkan pemiliknya ke kantin mungkin. Nova yang sadar ada seseorang di depannya mendongak, dan gurat kekagetan pun terlihat jelas di wajahnya begitu mengetahui siapa yang kini tengah duduk berhadapan dengannya.

Lintar mengernyit melihat ekspresi Nova, lalu menebar senyumnya. “Kenapa Va? Ngeliatin aku kayak ngeliat setan aja” gurau Lintar

“Eh..” Nova tersadar bahwa ia telah memerhatikan Lintar dengan tatapan aneh, dengan segera gadis itu berusaha merubah mimic wajahnya dengan senyuman yang terlihat sedikit di paksakan. “Ada apa?” sambung Nova terdengar datar. Lintar terlihat tak suka dengan nada bicara Nova yang begitu datar, tapi dia berusaha menyembunyikannya.

Lintar cengengesan, sedikit kewalahan pada pertanyaan Nova yang tanpa basa-basi. “Eumm…” lelaki itu menggaruk belakang tengkuknya bingung, sebelum akhirnya tersenyum. “Aku mau nanyain soal tugas kelompok kita. Gimana?”

“Oh, itu. Aku udah pikirin kok. Nanti kita kerjain bareng-bareng. Eh, Irsyadnya mana?”

“Si Irsyad kan izin, Va. Kemarin dia bilang mau ke rumah sodaranya, aku gak tahu kapan sekolah lagi”

Nova tersenyum jengah, lalu kembali menekuni bukunya. “Ya udahlah, nanti sore kamu dulu aja ke rumah aku. Irsyad nyusul aja”

Senyum Lintar melebar, “Oke”
+++
“Eh, Lin. Tadi gimana? Sukses?” Tanya Ozy di parkiran sepulang sekolah, Lintar yang di tanya hanya senyum-senyum tak jelas.

Rio mengernyit, bingung dengan arah pembicaraan teman-temannya lalu memilih untuk bertanya, “Emang tadi ada apaan?” Alvin pun hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan pertanyaan Rio.

“Gak, gak ada apa-apa kok” jawab Lintar berbohong

“Yeh, aneh lo” seru Alvin lalu mengenakan helm fullfacenya di ikuti Rio dan Ozy.

“Kita duluan yah, bye Lintar” seru Ozy lalu mulai menjalankan motornya meninggalkan lapangan parkir sekolah di ikuti Alvin dan Rio.

Lintar kemudian memakai helmnya dan mulai menstarter motornya.

“Eh, Nova. Kok kamu belum pulang?” Tanya Lintar menghentikan motornya begitu melihat Nova yang sedang berdiri gelisah di depan gerbang, dia membuka helmnya lalu menatap wajah Nova penasaran. Nova menoleh dan tersenyum simpul melihat siapa yang datang sambil sesekali menyeka peluh di wajah manisnya.

“Aku lagi nunggu jemputan Lin, daritadi gak dateng-dateng” keluh Nova lalu kembali mengedarkan pandangannya pada jalanan yang telihat sepi.

Lintar menyeringai. Eh, kesempatan bagus nih. Gue bisa tambah deket sama Nova, batin Lintar senang.

“Emm, bareng aku aja Va. Dari pada nungguin jemputan kamu yang belum tentu dateng” tawar Lintar menepuk-nepuk jok belakang motornya yang masih cukup untuk satu orang.

Nova tampak sedang mempertimbangkan tawaran Lintar. “Gak usah, ntar ngerepotin lagi. Aku naik taksi aja” tolak Nova halus lalu kakinya mulai melangkah menjauhi motor Lintar.

Seketika tangan Lintar menahannya membuat keseimbangan Nova agak sedikit oleng tapi dia berhasil mengendalikannya dan berbalik menghadap Lintar kesal.

“Apaan sih?” tukas Nova kesal dan menghentakkan tangan Lintar cukup keras

“Sori Va. Tapi kayaknya di daerah ini gak ada taksi deh. Udah kamu pulang sama aku aja, sekalian ngerjain tugasnya sekarang” paksa Lintar tanpa memberi kesempatan Nova untuk melawan karena tangannya kembali di tarik hingga akhirnya ia duduk di motor Lintar dan pasrah mengikuti kemauan Lintar.

Dalam perjalanan mereka sama-sama diam, hanya deru mesin kendaraan yang terdengar. Keduanya sama-sama bingung untuk membicarakan apa karena mereka tak akrab sebelumnya, bahkan Lintar yang jago merayu pun kali ini kebingungan harus mengatakan apa pada Nova mengingat Nova bukan cewek yang seperti mantan-mantannya.

“Ini rumah kamu Va?” Tanya Lintar begitu motornya memasuki pekarangan sebuah rumah yang cukup besar.

Nova mengangguk sekilas dan turun dari motor Lintar menuju kerumahnya, Lintar mengikuti dari belakang.

“Bi, tolong buatin minuman buat temen Nova ya” kata Nova begitu melihat pembantunya melewati ruang tamu yang kini di tempati mereka, Lintar sedang duduk santai di sofa. Bibi itu pun mengangguk sopan dan berlalu menuju dapur.

“Eh, mulai dari mana nih?” Tanya Lintar mendekati Nova yang duduk bersebrangan dengannya,

Nova menoleh lalu kembali sibuk dengan laptopnnya. Mencari informasi seputar sumber arus listrik. Nova kembali menoleh dan kali ini membiarkan Lintar sedikit merapatkan tubuhnya dan ikut mencari materi sama-sama. Awalnya Nova sedikit risi berdekatan dengan Lintar, tapi setelah cukup lama dia merasa Lintar orangnya asyik dan baik. Kedua anak itu pun kini larut dalam dunia maya, sesekali mereka tertawa jika melihat sesuatu yang lucu. Mereka sungguh terlihat akrab satu sama lain layaknya sahabat lama walau sebenarnya baru beberapa menit yang lalu mereka dekat.

“Haha, kok jadi nyasar ke situs ini sih Lin. Kamu sih” sikut Nova menyalahkan Lintar karena mereka membuka situs yang salah.

“Yeee, kok jadi nyalahin aku sih. Kamu yang salah juga” Lintar tak mau kalah dan balas menyalahkan Nova, dia mengacak rambut Nova perlahan.

Nova terdiam seketika, dia merasa ada desiran hangat yang baru saja mengisi rongga hatinya. Sedang Lintar sendiri merasa sangat menikmati ekspresi Nova barusan yang terkesan seperti anak kecil, entah mengapa dia merasa nyaman ada di dekat Nova. Karena menurutnya Nova berbeda dengan gadis yang lain. Dan keakraban antara mereka pun terus berlanjut, kegiatan mereka yang semula serius belajar kini diselangi dengan candaan-candaan ringan yang sesekali terlontar dari mulut Lintar.
+++
“Pagi semua” sapa Lintar begitu ceria pada teman-temannya yang kini tengah duduk santai di kantin, menikmati minuman mereka sebelum bel masuk berbunyi. Mereka yang ditanya hanya bisa menatap Lintar dengan tatapan heran, heran dengan sikap Lintar yang begitu ceria seminggu belakangan ini.

“Kenapa lo Lin?” Ozy akhirnya buka suara karena tak tahan lagi untuk tidak bertanya.

Lintar tersenyum dan mengambil tempat duduk di sebelah Ozy, menyeruput jus Ozy sebelum sang pemilik mengizinkan. Ozy yang telat hanya bisa pasrah melihat jusnya habis di minum Lintar yang baru saja datang.
“Hehehe, gue minta Zy” cengir Lintar begitu melihat ekspresi Ozy yang agak manyun, Ozy mengangguk pasrah-dan sedikit tak ikhlas.

“Ngomong-ngomong gimana kabarnya Nova?” 

Wajah Lintar semakin ceria begitu mendengar Alvin menanyakan tentang Nova. Gadis yang sudah seminggu di dekatinya, dan sejauh ini Nova menunjukkan reaksi yang cukup baik terhadap Lintar.

“Baik dong, Nova kayaknya juga suka sama gue” jawab Lintar dengan pedenya membuat Ozy, Alvin dan Rio kompak meneriaki ‘Huuuuuu…..’ padanya. Lagi-lagi Lintar hanya nyengir kuda melihat reaksi teman-temannya.

“Pede lo, belum tentu Nova suka sama lo. Siapa tahu dia cuma kasihan sama lo” cibir Rio disertai anggukan setuju dari Alvin dan Ozy.

Lintar cemberut, “Ya udah kalau gak percaya, gue gak maksa”

“Ih, lo ngambek lucu juga ya Lin” goda Ozy dengan mimic genit yang di buat-buat, Alvin dan Rio tertawa ngakak sementara Lintar bergidik ngeri. Dan gelak tawa pun terus terdengar di kantin yang cukup lengang itu, di sebabkan oleh candaan Ozy yang sukses membuat Lintar menekuk wajahnya kesal.

“Ish, rese banget sih” marah Lintar karena bosan di ejek teman-temannya

“Yah, si Lintar marah beneran tuh Zy”

“Eh, kok nyalahin gue sih Vin. Ya udah maaf deh Lin, guekan cuma bercanda” kata Ozy bersungguh-sungguh

“Udah jangan ngambek-ngambekan gini deh, kaya anak kecil aja” lerai Rio mencoba bijaksana dan membuat kedua temannya itu akhirnya saling bermaafan tulus.

“Eh, gimana kalau entar malem kita jalan-jalan? Udah lama gak kumpul bareng nih” usul Lintar. Ozy, Rio dan Alvin saling berpandangan lalu mengangguk setuju atas usul Lintar. Beberapa saat kemudian bel masukpun berbunyi menyebabkan Lintar, Ozy, Rio dan Alvin harus menghentikan candaan mereka dan pergi ke kelas.
+++
Lintar tersenyum kemudian segera masuk ke mobilnya setelah tadi dia puas jalan-jalan bersama teman-temannya dan di akhiri dengan makan malam yang begitu menyenangkan. Teman-temannya sudah pulang terlebih dahulu karena katanya mereka ada acara lain setelah ini. Lelaki itu memutar kunci mobilnya lalu menginjak gas secara perlahan menyebabkan mobil Porsche berwarna biru itu kini meluncur perlahan di jalanan yang cukup ramai.

“Eh, itu kayak Nova” gumam Lintar ketika mobilnya melewati jalan yang cukup kecil dan sepi. Samar-samar dia melihat seorang gadis yang mirip Nova tengah di cegat preman. Lintar yang penasaran segera menepikan mobilnya dan turun dari mobil. Dia berjalan perlahan mendekati gadis yang di yakininya adalah Nova.

“Nova?” teriak Lintar kaget melihat Nova yang sedang menangis , di kiri kanannya ada dua orang preman yang tampak sangar sedang mencoba mengambil tas Nova.

Mereka semua pun menoleh, Nova tampak kaget melihat Lintar, tapi terbersit rasa senang di hatinya. Kedua preman itu tampak tidak suka dengan kehadiran Lintar, mereka memandang Lintar dengan tatapan tajam. Lintar tidak gentar sedikit pun, dia malah membalas tatapan tajam kedua preman itu dengan santainya seolah tak merasa takut dengan tatapan preman-preman yang ada didepannya. Hal itu membuat kedua preman yang menghimpit Nova geram, satu orang preman maju dan satunya lagi mencengkram kedua tangan Nova kasar. Nova merintih kesakitan karena tangannya di pelintir sampai belakang, preman itu menyeringai kejam melihat Nova merintih.

“Heh, lepasin Nova” bentak Lintar geram melihat Nova merintih, dia maju beberapa langkah hendak menuju Nova. Tapi langkahnya tertahan karena di tahan seorang preman lagi yang memang tidak menjaga Nova.

“Mau kemana lo? Lawan lo itu gua” kata sang preman yang menghadangnya. Lintar tak menjawab hanya memandang preman itu dengan tatapan menantang. “Heh, lo nantang gua?” sang preman semakin naik pitam melihat sikap Lintar yang seolah ingin menantangnya, tanpa basa-basi dia pun menghampiri Lintar.

‘BUGG’ satu pukulan keras tepat mendarat di perut Lintar membuatnya mundur beberapa langkah, Lintar mengerang. Perutnya serasa remuk di pukul preman. Tak puas preman itu kembali mendekati Lintar dan pukulan demi pukulan pun kembali menghantam tubuh Lintar, Lintar tak berdaya untuk melawan karena setiap ingin melawan tubuhnya kembali di hantam dengan pukulan keras hingga akhirnya ia tersungkur di tanah, sudut bibirnya mengeluarkan darah.

“Lintar…” jerit Nova tertahan, air matanya mengalir dengan deras melihat Lintar tak berdaya. Tanpa pikir panjang Nova menggigit tangan preman yang memegangnya dan segera berlari menghampiri Lintar.

“Aww, sialan” dumel preman itu sambil memegangi tangannya yang di gigit Nova.
“Lintar, kamu gak papa kan?” Tanya Nova begitu sampai di hadapan Lintar, ia berjongkok, menyeimbangkan posisi tubuhnya dengan Lintar.

Lintar mendongak, tersenyum tipis. Kedua preman itu tidak terima, mereka kembali menghampiri Lintar. Menjauhkannya dari Nova lalu menendang-nendang tubuh Lintar yang sudah lebam-lebam. Nova menjerit, tak kuasa melihat tubuh Lintar yang seolah boneka di mata kedua preman itu. Air mata tak berhenti mengalir dari kedua matanya yang indah. Bermodal nekat, Nova berjalan sempoyongan mendekati kedua preman tersebut. Tangan kanannya menggenggam sebuah balok kayu yang dia temukan di dekat kakinya. Dan ‘BUGG’ dua pukulan keras mengenai pundak kedua preman, membuat pandangan mereka berubah muram hingga akhirnya kedua preman itu jatuh ke tanah.

“Lintar” Nova berlari, memeluk tubuh Lintar yang sudah tak berdaya.

“Kamu gak papakan?” Tanya Lintar lirih sambil berusaha melepaskan pelukan Nova yang begitu erat menempel di tubuhnya, tapi tak bisa, tangan Nova terlalu kuat. “Udah jangan nangis Va, aku gak papa kok” seru Lintar halus menyadari bajunya basah karena air mata. Lintar mengelus rambut panjang Nova lembut, berusaha menenangkan Nova yang masih shock. Nova terdiam, dia merasa aman dan nyaman dalam pelukan Lintar, hatinya tenang setiap lelaki dihadapannya itu melontarkan kalimat-kalimat halus untuknya.

“Udah enakan Va?” Tanya Lintar begitu Nova melepaskan pelukannya.

Nova menyeka air matanya dengan tangan dan sejurus kemudian dia tersenyum manis. Lintar ikut tersenyum menyaksikan gadis dihadapannya kini tersenyum walaupun seluruh tubuhnya terasa sakit, ada rasa senang dihatinya mengetahui Nova baik-baik saja. Dan merekapun bangkit dari tempat itu, meninggalkan kedua preman yang masih pingsan. Nova membantu Lintar berjalan menuju mobilnya, memapah Lintar hati-hati.

“Maaf ya Lin, gara-gara aku kamu jadi gini” sesal Nova ketika ia mengobati luka Lintar di dalam mobil. Lintar hanya bisa tersenyum sambil sesekali meringis kesakitan. Dia tak pernah menyesali apa yang telah di lakukannya untuk Nova, Lintar begitu tulus ingin melindungi Nova dari orang-orang yang jahat padanya. Entah kenapa, perasaan ingin melindungi itu muncul begitu saja di benak Lintar ketika ia menemukan Nova diantara 2 preman tadi.

“Lin, kok bengong?” Nova terheran-heran dengan sikap Lintar yang malah melamun ketika di ajak bicara. Lintar tersadar dari lamunannya, dia menatap Nova dan kembali tersenyum.

“No Problem Va, I will always be your guardian angel” seru Lintar kemudian mengusap puncak kepala Nova. Nova tersenyum, desiran hangat itu kembali merayap perlahan menyelimuti hatinya. Dan kini ia mengerti apa arti kehangatan yang selama ini ia rasakan bila berada di dekat Lintar.
+++
Bulan bersinar begitu cerah di langit malam yang gelap membuat malam itu terlihat begitu indah, dan hamparan bintang-bintang yang berkelap kelip menambah keindahan malam itu. dua pasang mata terlihat begitu menikmati indahnya malam, mereka duduk di sebuah bangku taman yang tak jauh dari kafe tempat mereka makan malam. Ya, mereka adalah Nova dan Lintar. Dua sejoli yang semakin dekat setelah kejadian seminggu yang lalu.

Nggg, Va?” panggil Lintar ragu-ragu, ia mengalihkan pandangannya dari langit kepada Nova.

Nova tak menyahut, hanya balas menatap Lintar dan menunggu kelanjutan ucapannya. Lintar tampak menghela nafas berat lalu ia merubah posisi duduknya hingga menghadap Nova. Nova yang bingung dengan sikap Lintar yang menurutnya aneh ikut merubah posisi duduknya hingga kini mereka duduk berhadapan. Setelah sepersekian detik Lintar tak kunjung bicara juga, membuat Nova semakin penasaran dengan apa yang sebenarnya akan Lintar katakan.

“Nov, aku tahu kita baru deket 2 minggu belakangan ini tapi….” Lintar akhirnya buka suara, tapi ia kembali menggantung kalimatnya dan menatap Nova ragu.

Nova menaikkan alisnya, tak mengerti dengan ucapan Lintar yang menurutnya setengah-setengah. “Tapi?” Nova balas menatap Lintar dengan matanya yang berbinar terang.

Lintar terlihat sangat gugup, baru kali ini dia merasa nervous saat hendak mengutarakan perasaannya pada seorang gadis. Lelaki itu kembali menghela nafas lalu meraih tangan Nova dan menggenggamnya. Nova tersentak kaget, dia jadi gugup sendiri melihat tingkah Lintar. Apakah Lintar akan menyatakan perasaannya? Hmmm, entahlah, itu hanya pemikiran Nova. Jantung Nova berdetak kencang, aliran darahnya seakan mengalir dengan deras ke kepalanya saking gugupnya.

“Va, aku sayang sama kamu. Lebih dari rasa sayang seorang sahabat, aku cinta kamu” Lintar menggigit bibirnya sekejap sebelum kembali bersuara. “Kamu mau gak jadi pacar aku?” Nova menatap Lintar dengan tatapan tak percaya. Benarkah atau hanya ilusinya? Waktu seakan berhenti berdetik.
“Nova” panggil Lintar mulai risi dengan sikap Nova yang malah melamun “Kamu mau gak?” lanjut Lintar mulai putus asa. Nova tersadar dari lamunannya dan sekarang matanya menatap mata Lintar lekat, mencari suatu keseriusan dari ucapannya. “Nova, kamu mau kan?” dan kali ini Nova mengangguk senang dengan bibirnya yang tersenyum. Dia telah menemukan keseriusan di mata Lintar. Refleks, Lintarpun memeluk Nova karena bahagia, jujur dia tak pernah merasa sebahagia ini jika perempuan yang sudah jadi incarannya mau menerimanya. Nova mengusap lembut punggung Lintar yang kini tengah memeluknya, hari ini dia sangat bahagia karena akhirnya sang pujaan mengungkapkan perasaannya.

“Makasih ya Va, aku sayang kamu” Lintar melepaskan pelukannya dan memandang gadis di hadapannya dengan mata berbinar, entah kenapa semenjak bertemu Nova, Lintar merasa bahwa sebagian jiwanya yang telah lama hampa kini mulai terisi lagi. Dan entah sadar atau tidak Lintar tak berbohong ketika dia mengucapkan kata-kata sayang untuk Nova, dia tulus.

Nova mengangguk kecil, senyum di bibirnya mengembang semakin lebar mendengar ucapan Lintar yang simple tapi menurutnya penuh arti. Lintar gemas melihat ekspresi Nova dan alhasil diapun mengacak lembut puncak kepala Nova. Nova merengut, dia segera merapikan rambutnya yang baru saja di acak Lintar membuat Lintar tertawa renyah.

“Aku janji akan selalu jadi malaikat penjaga kamu Va” ucap Lintar di sela-sela tertawanya

“Ih, gombal” Nova merengek manja mendengar ucapan Lintar dan iapun memukul lengan Lintar pelan membuat Lintar semakin cekikikan sampai akhirnya keduanya pun tertawa bersama. Lintar merangkul Nova dan kini mereka larut dalam indahnya malam, menikmati kenahagiaan yang baru saja mereka rajut.
+++
Tiga bulanpun berlalu, dan sejauh ini hubungan Nova-Lintar sangat baik. Tak pernah ada keributan sekecil apapun diantara mereka berdua, bahkan satu sekolahan pun sempat merasa heran ketika baru pertama mengetahui bahwa mereka berpacaran. Banyak orang yang merasa aneh atas hubungan mereka, tapi banyak juga yang cuek tak peduli. Sejauh ini pula Lintar mulai merasakan perasaan lain dihatinya. Lintar merasa nyaman berada di dekat Nova, dan entah kenapa Lintar selalu ingin melindungi Nova. Mereka berdua sangat menikmati kebersamaan mereka di sela-sela waktu mereka yang senggang.

“Eh, hari ini tepat 3 bulan lo jadian sama Nova ya?” Tanya Ozy pada Lintar di sela-sela makannya, Lintar menoleh dan menyunggingkan senyum termanisnya.

Mereka berempat-Lintar, Ozy, Rio, Alvin- kini tengah berada di kantin, menikmati makan siang mereka. Bel pulang sudah berbunyi sejak 3 menit yang lalu, tapi entah mengapa mereka lebih memilih untuk pergi kekantin karena panggilan perut yang sudah meminta di isi sejak tadi.

“Iya dong, dan itu artinya gue menang” jawab Lintar antusias dengan ekor  matanya yang melirik Rio penuh arti. Rio yang sadar di lirik memajukan bibirnya dan merogoh sesuatu dari saku celananya. Lintar, Ozy dan Alvin memerhatikan Rio dengan seksama membuat Rio agak sedikit risi dan menarik dengan kasar sesuatu di balik sakunya.

“Nih, gue ngaku kalah. Tapi jangan liatin gue kayak gitu risi tahu. Gue tahu gue ganteng tapi biasa aja dong” cerocos Rio diakhiri dengan kalimat narsis yang langsung membuat Lintar, Ozy dan Alvin berpura-pura muntah di tempat. Rio kembali cemberut sambil menyodorkan kunci motornya di atas meja.

“Yeyy, thanks ya Rio… tapi bibir lo jangan manyun dong, jelek tahu” seru Lintar kegirangan dan langsung menyambar kunci itu sebelum Ozy dan Alvin yang mendapatkannya terlebih dahulu.

“Iye Yo, muka lo jelek kayak bebek kalau manyun” timpal Alvin ikut meledek Rio

“Ish…” desah Rio kesal, bibirnya semakin manyun karena kesal. Lintar, Alvin dan Ozy ngakak melihat ekspresi Rio.

“Eh, udah dong jangan di gangguin Rionya. Kasian tahu. Lagian Rio gak kayak bebek kok kalau manyun” tiba-tiba saja Ozy membela Rio, Rio langsung tersenyum bahagia karena ada yang membelanya. Sementara Lintar dan Alvin hanya mangap tak percaya. “Ih, kok pada mangap. Maksud gue Rio gak kayak bebek tapi kayak kodok, wkakaka” Mereka kembali tertawa mendengar sambungan dari ucapan Ozy, sedangkan Rio kembali memajukan bibirnya tak terima.

“Yaelah, selow Yo. Kita kan cuma bercanda” Lintar menepuk-nepuk pundak Rio mencoba membuatnya bersabar

“Yeee, makanya jangan ledekin gue mulu”

“Iye, Mario. Mangap deh” seru Alvin dan Ozy berbarengan

“Maaf bego, ketahuan banget gak ikhlasnya” Rio kembali mencak-mencak tapi kali ini semuanya sudah tak peduli.

“Udahan ah ketawanya, gue capek tahu” Alvin menghentikan aksi tertawanya dan memasang wajah prihatin pada Rio.

“Iye gue juga capek” tambah Lintar dan menyeruput jusnya yang nganggur karena mereka yang terus tertawa. Suasana pun hening, semua larut dengan makanan mereka sampai akhirnya Ozy membuka pembicaraan.

“Eh, malem ini lo mau putusin Nova ya?” Tanya Ozy tiba-tiba yang langsung membuat Lintar tersedak makanan yang dimakannya, Rio menyodor kan segelas air putih yang langsung habis dalam satu tegukan oleh Lintar.

“Eh, kenapa lo kaget gitu. Biasanya juga lo langsung putusinkan?” Alvin heran melihat tingkah Lintar yang tak biasanya

“Iya, gak biasa lo kaget pas ngomongin cewek yang mau lo putusin” Rio menimpali dan ikut mengernyit heran, Lintar tak bergeming. Dia tetap focus dengan pikirannya yang menerawang, entah kenapa ia tak tega jika harus membuat Nova terluka. Lintar tak tega jika harus melihat Nova menangis, dia tak ingin menyakiti Nova, sedikit pun.

“Atau jangan-jangan…” Ozy menggantung kalimatnya dan memandang Lintar tak percaya “jangan bilang lo suka Nova” sambung Ozy yang sontak membuat semuanya kaget, terutama Lintar. Dia menunduk, tak mengerti dengan perasaannnya yang sekarang sangat aneh. Dan semuanya pun memandang tajam kearah Lintar meminta penjelasan.
+++
“Va, sebenernya kamu sama Lintar serius gak?” Tanya Acha, sahabat Nova ketika di kelas.

Mereka baru saja selesai mengerjakan pr Matematika yang di berikan di akhir jam tadi, kelas sudah sangat kosong. Nova yang sedang membereskan buku-bukunya menoleh dan menyunggingkan sebuah senyuman manis pada Acha.

“Seriuslah Cha, aku sayang sama dia. Dia juga sayang sama aku” tukas Nova dengan suara yang terdengar begitu yakin. Karena ia memang yakin akan ketulusan Lintar, tak pernah sedetikpun ia memikirkan hal negative tentang orang yang disayanginya itu.

Acha yang juga sedang membereskan bukunya menghela nafas lalu tersenyum kecut pada Nova, ia tidak yakin Lintar benar-benar menyayangi Nova karena bagaimana pun Ozy pernah bercerita padanya bahwa terkadang Lintar berpacaran hanya untuk taruhan, dan Acha, dia takut kalau Nova salah satu taruhannya.

“Kamu yakin Lintar beneran sayang sama kamu?” Acha kembali bertanya. Di dalam lubuk hatinya ia ingin sekali Nova menjawabnya dengan jawaban ragu.

Nova menghentikan aktifitasnya sejenak dan memandang Acha aneh, dari tatapan matanya Nova merasa bahwa Acha meragukan ketulusan Lintar. “Kamu kok nanyanya gitu sih Cha? Aku yakin kok sama Lintar, dia gak mungkin mainin aku” tegas Nova yang tetap keukeuh dengan pikirannya. Acha menghela nafas, tak habis pikir dengan sikap keras kepalanya Nova.

“Bukannya aku ragu Va, tapi aku pernah denger dari Ozy kalau Lintar gak pernah serius sama satu cewe. Dia cuma taruhan” dengan sabar Acha berusaha memperingatkan Nova membuat  Nova agak risi mendengarnya.

“Kamu kenapa sih Cha, selalu aja bawa-bawa pacar kamu itu. Siapa tahu aja dia yang gak tulus” elak Nova dingin, Acha termangu mendengar ucapan dingin Nova, dan baru saja Acha akan membuka suara Nova sudah memotongnya. “Udah deh, aku gak ada waktu dengerin pendapat kamu yang selalu mojokin Lintar. Aku duluan, Lintar udah nunggu di kantin” sambar Nova cepat tanpa memberi kesempatan Acha untuk berbicara lagi. Dengan cepat Nova pun segera melangkahkan kakinya keluar dari kelas. Acha mendengus melihat sikap Nova, sebegitu berartinyakah Lintar bagi Nova?

Sepanjang perjalanan ke kantin Nova terus di sibukkan dengan pikirannya. Kata-kata Acha terus terngiang-ngiang jelas di telinganya. Selama ini dia memang sering mendengar gossip tentang Lintar yang berpacaran jika taruhan, tapi dia selalu menganggap itu semua hanya gossip belaka. Nova tak pernah menanggapi gossip itu dengan serius, ia tak pernah peduli karena toh menurutnya semua itu bohong. Selama ini ia tak pernah merasakan kejanggalan dari sikap Lintar. Dia tak pernah merasakan hal itu sedikit pun. Bagaimana mungkin Lintar yang selalu bersikap manis padanya seperti itu, bagaimana mungkin Lintar yang selama ini memerlakukannya penuh sayang hanya mempermainkannya, dan bagaimana mungkin Lintar yang selama ini melindunginya berani menyakiti hatinya. Dan pertanyaan-pertanyaan itupun terus berkecamuk di pikirannya, menimbulkan berbagai reaksi dalam otaknya hingga tak sadar ia sekarang sudah berada di ambang pintu masuk kantin, tapi langkah Nova segera terhenti melihat pemandangan di hadapannya.
+++
“Lintar, lo jangan gila dong. Nova itu cuma taruhan lo, kenapa sikap lo jdi lembek kayak gini sih?” maki Alvin kesal atas jawaban Lintar barusan. Mengapa bisa Lintar jatuh cinta pada Nova?

Alvin bener, Lintar yang selama ini taruhan sama gue gak kayak gini” Ozy ikut menghardik Lintar, mereka berdua bangkit dan memojokan Lintar dengan tatapan penuh amarah.

“Pokoknya lo harus nepatin janji lo Lin, lo harus mutusin Nova hari ini juga” kata Rio yang ikut berdiri, mereka semua menatap Lintar tajam. Lintar mengangkat wajahnya dan memandang teman-temannya tanpa ekspresi.

“Gue tahu kalo selama ini gue cuma mainin Nova dan dia taruhan antara gue dan elo tapi…”  kata-kata Lintar terputus. Matanya tanpa sengaja terfokus pada seseorang yang masih berada di ambang pintu masuk. Mematung memandang Lintar dengan deraian air mata yang entah sejak kapan sudah mengaliri pipinya. Lintar tercengang memandang siapa yang berada di situ. Dan ketika orang itu sadar di perhatikan Lintar ia segera berbalik dan berlari sekencang-kencangnya meninggalkan tempat itu. Alvin, Ozy dan Rio yang penasaran akhirnya mengikuti arah pandangan Lintar dan sama-sama tercengang melihat siapa yang kini tengah berlari menjauh.

“Nova” gumam Lintar pelan, Lintar tahu Nova baru saja mendengarkan semua yang dia katakan. “Semua gara-gara kalian” ucap Lintar memandang sinis teman-temannya.

Emosi Lintar memuncak, dia merogoh saku celananya dan mengeluarkan kunci motor Rio lantas melemparkan ke arah Rio sambil berseru, “Gue gak butuh taruhan ini” lalu tanpa menunggu jawaban teman-temannya ia segera berlari menyusul Nova yang sudah jauh di depan.

Alvin, Rio dan Ozy saling berpandangan sejurus kemudian mereka meunduk sedih, mereka sadar bahwa yang mereka perbuat tadi adalah salah.

“Nova…Nova” Lintar terus mengejar Nova dan kini mereka sudah keluar dari area sekolah, berlari-lari di pinggir jalan yang terlihat sepi. Nova tak menoleh, hatinya begitu sakit ketika mendengar obrolan Lintar tadi. Ternyata apa yang dikatakan Acha tadi adalah sebuah kenyataan, ia tak pernah berpikir bahwa Lintar bisa setega itu pada dirinya.

“Nova, tunggu. Dengerin penjelasan aku” lagi-lagi Lintar berteriak keras tapi Nova sama sekali tak memperdulikannya, ia terus berlari lurus di jalanan.

Ozy, Alvin dan Rio yang tadi merasa bersalah ikut mengejar Nova dan Lintar, mungkin dengan kehadiran mereka bisa sedikit meyakinkan Nova bahwa Lintar memang tulus menyayanginya.

“Nova, dengerin aku” Lintar berhasil mengejar Nova dan menggapai tangannya. Dia membawa Nova dalam pelukannya, gadis itu meronta-ronta ingin melepaskan diri, tapi tak bisa. “Dengerin aku” lirih Lintar memeluk Nova erat. Nova tak bereaksi, ia terus memukul-mukul dada Lintar emosi.

“Aku sayang kamu Va, mungkin dulu aku cuma taruhan tapi sekarang aku bener-bener sayang sama kamu. Kamu harus percaya sama aku Va, kamu harus percaya” jelas Lintar lirih. Nova menggeleng kuat mendengar penjelasan Lintar dan mendorong tubuh Lintar cukup kuat hingga Lintar jatuh.

“Kamu bohong, aku gak percaya”  hardik Nova dengan suaranya yang bergetar, Nova membalikkan badannya dan kembali berlari. Kali ini dia berlari di tengah jalan, Nova terus berlari tanpa memperdulikan sebuah mobil pengangkut tangki minyak yang datang dari depannya. Mobil itu melaju dengan kecepatan tinggi, seolah kehilangan kendali.

“Nova awas…” teriak Lintar khawatir karena mobil pengangkut itu semakin dekat mendekati tubuh Nova.

“Awass……” Alvin, Rio dan Ozy ikut berteriak histeris melihat mobil pengangkut yang semakin mendekati tubuh Nova. Nova terhenti mendengar semua teriakan teman-temannya dan menoleh pada jalan yang lurus. Bola matanya terbelalak kaget melihat mobil itu hanya kurang dari 10 langkah ke arahnya, Nova ingin berlari tapi seluruh tubuhnya terasa kaku.

“Aaaaaaaa……………”

Nova membuka matanya karena tak merasakan apa-apa, dan di lihatnya sekarang dia berada di dalam dekapan Lintar di pinggir jalan. Lelaki itu menyelamatkannya. Nova kembali terisak.

“Ngapain kamu nyelametin aku, hah?”

“Va” Lintar mengusap pelan air mata di pipi Nova. “Masih inget? Aku akan selalu jadi guardian angel kamu. Aku gak bakal biarin sesuatu terjadi sama kamu meskipun kamu benci sama aku. Karena aku sayang sama kamu”

Nova menatap LIntar dalam, dan merasa sedikit lega begitu tahu ada ketulusan di mata itu. “Tapi taruhan itu..” Lintar meletakkan telunjuknya di bibir Nova, tersenyum menenangkan.

“Maaf,” bisiknya lirih.

Nova tak bisa melawan kata hatinya, akhirnya gadis itu hanya mengangguk perlahan sambil membenamkan wajahnya di dada Lintar.

“Sori ganggu”

Lintar dan Nova menoleh. Lintar langsung melengos melihat teman-temannya.

“Va, lo jangan raguin Lintar yah. Gue tahu dia tulus banget sama lo. Dia bahkan ngebatalin taruhannya cuma demi lo” Rio tersenyum pada LIntar yang menatapnya heran.

“Rio bener, lo gak boleh raguin apa pun lagi dari Lintar” timpal Alvin

Lintar benar-benar tak tahu harus mengatakan apa pada teman-temannya. Jujur, ia terharu. Mereka begitu tulus membantunya. Lintar tersenyum, menggumamkan kata “thanks” tanpa suara pada teman-temannya sebelum ketiga orang itu berlalu pergi.

“Jadi, kamu maafin aku kan?” tanya Lintar

Nova mendongak, tersenyum tipis. “Maunya?”

“Yeh, ya di maafin lah” seru Lintar gemas lalu mengusap kepala Nova lembut.

Senyum Nova melebar, dia mendekatkan mulutnya ke telinga Lintar lalu berbisik, “Jangan lakuin lagi, my guardian angel” yang di balas Lintar dengan kecupan kilat di pipi kanan gadis itu.

“Iya sayang, haha” katanya lalu berlari sebelum Nova mengejarnya karena telah mencium gadis itu tanpa izin.

selesai

2 komentar: