SIX
P
|
ara
menteri-menteri sihir Negeri Shappire Blue kini tengah mengadakan rapat
dadakan. Ekspresi tegang tercetak jelas di wajah masing-masing, ruang rapat pun
sejenak hening setelah perdebatan panjang yang terjadi di antara mereka.
Beberapa
menteri yang tampak tak puas dengan pembicaraan terakhir mereka saling
berbisik-bisik, membuahkan suara gaduh kecil di beberapa kerumunan.
Suara ketukan
palu yang terdengar menggema sampai ke ujung ruangan berhasil menginterupsi
semua kegaduhan. Ruangan itu kembali sunyi dalam sekejap.
Jungsoo yang
baru saja mengetukkan palunya menghela napas frustasi. Masalah yang mereka
bahas seolah tak ada solusinya karena masing-masing orang selalu kukuh
mempertahankan pendapat.
“Tenanglah,
masalah ini tidak akan bisa selesai kalau kita tidak mencapai kesepakatan.” ujar
Jungsoo mengawali. Semua menteri diam, tak berani berkata-kata lagi setelah
mendengar tiap penekanan yang terselip diucapan Jungsoo.
Kim
Heechul─menteri Pendidikan sihir─mengacungkan tangan membuat semua mata menatap
ke arahnya, termasuk Jungsoo.
“Kau punya
solusi lain, Heechul?”
“Percepat waktu
penyerangan, Yang Mulia. Aku rasa menunggu 4 jam lagi akan membuat lebih banyak
Desa musnah.” saran Heechul dengan nada yang terdengar datar─bahkan cenderung
dingin.
Ruangan rapat
kembali gaduh karena saran yang diberikan Heechul.
Menteri Perekonomian,
Kim Ryeowook, mengacungkan tangan setelah mendengar saran Heechul. “Yang Mulia,
aku pikir akan sangat berisiko jika kita mempercepat waktu penyerangan.
Lagipula kita juga butuh menunggu kesiapan Para Pangeran dan hisami mereka
untuk memusnahkan iblis itu dengan sihir aspagus.”
“Lalu kaupikir
kita harus menunggu para hisami itu sampai Negeri terlanjur musnah?”
cecar Heechul kembali dengan nada sarkatis.
Berbagai
komentar terdengar dari sana-sini begitu perkataan Heechul selesai.
DUAR! Sebuah
cahaya ungu meledak di langit ruangan.
“DIAM!” teriak
Jungsoo marah, api ungu yang berkobar di tangannya semakin menyala-nyala membuat
ruangan rapat seakan membeku, ketakutan pelan-pelan terlintas di wajah mereka.
Melihat ketakutan
dari menteri-menteri utamanya, Jungsoo mengembuskan napas sambil mencoba
mengatur emosinya agar stabil. Api ungu yang menyala-nyala di tangannya
pelan-pelan padam. Jungsoo menolehkan kepalanya ke samping, pada Siwon yang
berdiri tegak di sebelahnya dengan wajah mengeras.
“Apa pendapatmu
Siwon?”
Siwon
mengepalkan tangannya sebelum menjawab, “Aku setuju dengan saran Heechul, Yang
Mulia, kita harus mempercepat penyerangan dan memanggil para Pangeran kembali
sebelum semakin banyak Desa yang musnah.”
Beberapa
menteri terlihat menahan sorakan kemenangan─terutama Heechul─begitu mendengar
pendapat Siwon, sedangkan sisanya hanya menahan napas mendengar kalimat yang
meluncur mulus dari bibir Siwon.
Jungsoo memutar
kepalanya kembali pada menteri-menteri, otaknya berputar keras memikirkan apa
yang terbaik untuk Negerinya kini. Jungsoo tertegun beberapa saat sebelum
mengembuskan napas panjang yang terlihat mengandung beban batin.
“Baik, siapkan
pasukan sekarang. Setengah jam lagi kita akan mengepung Gua Disho tempat iblis
itu bersembunyi.” titah Jungsoo tegas, semua menteri mengangguk patuh. “Dan
Kibum, tolong panggilkan para Pangeran, mereka harus tiba dalam 15 menit.”
Setelah
pengumuman terakhir Jungsoo, rapat berakhir. Menteri-menteri segera keluar
ruangan untuk melaksanakan apa yang Jungsoo perintahkan tadi, sementara
Kibum─dengan keringat dingin yang keluar dari pelipisnya─segera berlari mencari
tempat sepi untuk menghubungi keempat Pangeran yang masih berada di dunia
manusia. Kibum sebenarnya kurang setuju dengan keputusan Jungsoo, ini terlalu
terburu-buru menurutnya.
Namun Kibum tak
punya pilihan lain selain menuruti keputusan Rajanya.
***
Hyerin tertawa
riang bersama Baekhyun sepanjang perjalanan menuju salah satu kafe yang ada di
taman hiburan. Mereka baru saja memutuskan untuk beristirahat karena kelelahan
menaiki beberapa wahana.
Senyum tak
pernah pudar dari wajah Hyerin sepanjang dia berjalan bersama Baekhyun. Seperti
yang semua orang kenal selama ini, Baekhyun memang orang yang sangat ramah dan
mudah sekali bergaul. Namja itu bisa mencairkan kecanggungan yang
terjadi di antara mereka dalam hitungan detik, ucapannya juga sangat santun dan
manis, tak heran selama ini banyak sekali yeoja yang mengejar-ngejarnya─termasuk
Hyerin walau tidak secara terang-terangan.
“Teman-temanmu
memang unik Oppa.” komentar Hyerin begitu Baekhyun selesai bercerita
mengenai teman-temannya, tawa renyah keluar begitu saja dari mulut Hyerin.
Baekhyun ikut
terkekeh, “Bagaimana dengan teman-temanmu?” tanya namja itu penasaran di
sela-sela perjalanan mereka.
Raut wajah
Hyerin langsung berubah, “Sebenarnya Oppa, temanku hanya Heesun.” akunya
dengan suara pelan.
Baekhyun sontak
menghentikan langkah, memutar badan hingga menghadap Hyerin lantas memegang
pundak yeoja itu dengan ekspresi tak percaya. “Kau serius?” Hyerin hanya
menatap Baekhyun bingung, apa perkataannya sangat tidak bisa dipercaya?
“Tentu saja,
kenapa Oppa tak percaya padaku?”
Baekhyun
melepaskan tangannya dari pundak Hyerin, menggeleng. “Aniyo, aku hanya
tidak percaya kalau yeoja menyenangkan sepertimu hanya punya satu
teman.” ungkapnya sambil melanjutkan langkah kembali. Hyerin tersipu.
Keduanya duduk
saling berhadapan di dalam kafe, obrolan ringan kembali terjadi diselingi tawa
beberapa kali saat mereka tengah menunggu makanan siap.
Meski pun
Hyerin terlihat ceria sepanjang hari ini, jauh di dalam hatinya yeoja
itu tak bisa memungkiri bahwa ada rasa ganjil yang mendesaknya mengingat
sesuatu. Sesuatu yang sangat penting yang telah ia lupakan. Namun sayangnya,
seberapa keras pun usaha Hyerin untuk mengingat, yeoja itu tak pernah
bisa menemukan hal apa yang telah dilupakannya.
Seberapa seringpun
ia membuka laci memori di otaknya sepanjang hari ini, hal yang terlupakan itu
tak pernah bisa ia ingat.
“Arigato..”
ucap Baekhyun pada pelayan kafe saat beberapa menit kemudian makanan yang
mereka pesan datang. Baekhyun dan Hyerin mulai menyantap hidangan di depan
mereka dengan tenang, mata Baekhyun sesekali melirik ke arah Hyerin, sedangkan
Hyerin tampak terpekur.
Perasaan
tentang melupakan sesuatu benar-benar mengganggu pikirannya. Yeoja itu
tanpa sadar mengembuskan napas dengan berat.
“Wae?
Ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?”
Hyerin
tersentak mendengar pertanyaan Baekhyun, yeoja itu mendongak, lantas
cepat-cepat menggeleng untuk merespons pertanyaan Baekhyun. Segaris senyum
dihadiahkannya untuk Baekhyun.
Baekhyun
meminum cappuchino lattenya sebelum menyingkirkan beberapa piring yang
masih terisi ke pinggir, ditatapnya Hyerin lurus-lurus. “Kau tidak senang
bersamaku hari ini?”
Baekhyun
Oppa tersinggung, cetus hati Hyerin langsung begitu mendengar pertanyaan Baekhyun
kali ini. “Tentu saja aku senang Oppa.” sangkalnya, lantas menghela
napas sekali, “aku hanya merasa melupakan sesuatu, makanya aku melamun tadi.”
imbuhnya sambil menundukkan kepala.
Baekhyun
terdiam beberapa saat sebelum tersenyum ke arah Hyerin. “Sudahlah Hyerin-ah,
jangan terlalu dipikirkan, nanti kau juga akan ingat jika itu benar-benar
penting.”
Hyerin
tersenyum lalu mengangguk, “Arraseo..”
Baekhyun
mengecek ponselnya saat merasakan benda itu bergetar, setelah itu dia menyimpan
ponselnya kembali di saku dan mengamati Hyerin yang sedang makan. “Omong-omong
Hyerin-ah, namja yang tadi bersamamu siapa?”
Deg!
Ingatan Hyerin
langsung berputar cepat layaknya laju kereta api, matanya membulat. Hal yang
terlupakan itu akhirnya dia ingat. Park Donghae, ditinggalnya sendirian tanpa
pamit. Jantung Hyerin berpacu cepat, sesal merambati hatinya secepat angin
bertiup.
Hyerin membatu
beberapa saat sebelum akhirnya berdiri, membuahkan kerutan heran di kening
Baekhyun. “Oppa, aku baru ingat kalau aku ada janji dengan Heesun. Aku
duluan, ne, Oppa?” tanpa menunggu jawaban Baekhyun, Hyerin
membungkukkan badannya lantas berlari keluar kafe.
Perasaannya
terlalu kacau saat ini, Hyerin benar-benar merasa bodoh karena telah melupakan
Donghae yang mengajaknya ke sini. Yang ingin Hyerin lakukan saat ini hanyalah
menemukan Donghae secepatnya lantas meminta maaf, saking kacaunya pikiran
Hyerin, dia bahkan lupa bahwa ia bisa bertelepati untuk menanyakan dimana
Donghae sekarang.
Di sisi lain..
Donghae
menendang kerikil-kerikil kecil di sekitar kakinya selama ia berjalan, desahan
sesekali terdengar dari bibir namja itu. Berkali-kali ia meyakinkan
dirinya sendiri bahwa tidak ada rasa kecewa yang bersarang di hatinya akibat
ditinggal Hyerin begitu saja.
Sudah
berjam-jam dia hanya berjalan tak tentu arah memutari taman hiburan ini untuk
menunggu Hyerin selesai dengan acara dadakannya bersama Baekhyun, sudah
berbagai cara pula dilakukannya demi menghilangkan bosan, namun semuanya tetap
tak mempan.
Donghae
memasukkan tangannya ke saku celana sebelum akhirnya memutuskan untuk duduk di
bangku yang tersedia di taman hiburan itu sebagai tempat beristirahat. Matanya
mengedar ke sekitar begitu ia duduk, Donghae mendecak heran melihat begitu
banyaknya pasangan yang tengah berkencan di sini. Benar-benar pemandangan yang
menyebalkan..
Tak berselang
lama, Donghae sudah termenung memikirkan bagaimana Hyerin meninggalkannya tadi.
Hyerin adalah yeoja pertama yang berani meninggalkan Donghae sendirian
saat mereka sedang jalan-jalan bersama, berbeda sekali dengan para yeoja
yang selama ini dikencaninya.
“Oppa!”
Suara itu...,
Donghae memicingkan mata lurus-lurus ke arah datangnya suara. Secercah bahagia
merasuk ke dalam hatinya melihat bayangan Hyerin yang tengah berlari-lari ke
arahnya. Perasaan hangat itu kembali menjalari hatinya dengan cepat, tapi
begitu akalnya mengingatkan, Donghae segera membuang jauh-jauh perasaan itu.
Wajahnya sangat
datar saat Hyerin sudah berdiri di hadapannya dengan kedua tangan bertumpu pada
lutut, mengatur napasnya yang tak beraturan.
Setelah merasa
napasnya agak teratur, Hyerin mengangkat wajah guna melihat Donghae. Hatinya
mencelos melihat ekspresi Donghae yang sangat biasa─berkebalikan dengan dirinya
yang sangat panik dan menyesal.
Entah untuk
alasan apa, Hyerin merasa sudut hatinya tergores.
“Mianhae
karena meninggalkanmu sendirian Oppa..” tutur Hyerin yang ditanggapi
Donghae dengan senyum kering. “Mianhae kalau aku membuatmu marah.”
“Gwaenchana,
kau tidak perlu minta maaf padaku.” elak Donghae, Hyerin memberanikan diri
untuk melihat wajah Donghae, dia langsung menyesali keputusannya melihat raut
wajah Donghae yang terlihat dingin.
Rahang Donghae
mengeras melihat pancaran mata Hyerin ke arahnya yang menyiratkan banyak emosi,
“Aku justru ikut senang untukmu, tadi itu Baekhyun, kan? Kencan kalian
menyenangkan?”
Hyerin tergugu,
tak mampu menjawab pertanyaan Donghae yang terdengar sarkatis.
Senyum tipis
tanpa makna terpasang di bibir Donghae, “Lagipula Hyerin-ah, aku tak
berhak marah karena aku.. bukan siapa-siapamu.”
Plak...
Hyerin merasakan hatinya tertampar keras mendengar ucapan terakhir Donghae, yeoja
itu kembali tergugu, tak tahu harus merespons apa.
Ujung hatinya
diam-diam, meretak.
***
Sungai Han
mungkin bukan tempat yang luar biasa untuk dikunjungi banyak orang di siang
hari, tapi saat menjelang malam, sungai Han akan menjadi sangat luar biasa.
Pesona sungai Han sangat indah dan memikat. Jembatan di tengah-tengahnya yang
berlatar kilauan lampu dari gedung-gedung pencakar langit mampu membuat setiap
orang larut dalam kesunyian yang damai.
Indah dan
tenang..
Kira-kira
seperti itulah gambarannya, hampir sama dengan perasaan Taeyoung sekarang. Yeoja
yang sedang duduk di salah satu bangku panjang pinggir sungai Han itu menghirup
udara dengan lamat, senyum senantiasa bertengger di wajahnya yang manis.
Hari ini
berlalu dengan sangat menyenangkan. Taeyoung dan Jongwoon menghabiskan waktu
seharian penuh mengunjungi tempat-tempat wisata yang ada di Korea. Dan yang
terpenting adalah, sikap Jongwoon hari ini sangat berbeda.
Namja yang
biasanya hanya mampu membuat Taeyoung mengepalkan tangan menahan kesal itu hari
ini mampu membuatnya merasa melayang karena perlakuan manisnya. Ekspresi yang
Jongwoon miliki hari inipun tidak hanya datar, namja itu full
ekspresi.
Tapi yang
paling Taeyoung sukai tentu saja senyum manisnya.
Taeyoung
menggenggam kedua tangannya lantas kembali tersenyum, matanya menatap lurus ke
arah air sungai yang memantulkan cahaya lampu. Yeoja itu melirik
kiri-kanan beberapa saat kemudian, lantas tiba-tiba saja terpekur melihat
banyaknya pasangan kekasih yang tengah berkencan di sini.
Ingatan
Taeyoung mundur ke belakang, pada hari-hari dimana Sungkyo masih menjadi
kekasihnya. Mereka pernah berkencan beberapa kali ke sini, mengobrol
panjang-lebar mengenai hari yang mereka lalui, lalu pulang saat hari sudah larut.
Tapi sekarang? Namja
itu pergi, mencampakkannya untuk yeoja lain.
Emosi dan
dendam di hati Taeyoung mendadak menyala-nyala. Namun perasaan itu berakhir
saat tiba-tiba saja seseorang memegang pundaknya. Taeyoung menengok ke
belakang, menemukan Jongwoon dengan senyum tipis, dan tanpa perlu diberitahu
lagi, Taeyoung yakin kalau Jongwoonlah yang baru saja membuatnya tenang.
“Kau lama Oppa..”
ujar Taeyoung setengah merajuk.
Jongwoon
terkekeh sebelum duduk, “Mianhae Young, kau tahu? Aku harus mengantri
untuk mendapatkan ini.” balasnya sambil menyodorkan secup kopi hangat ke
hadapan Taeyoung.
Taeyoung
menerima cup kopi itu dengan senang hati.
“Hati-hati,
jangan sampai tanganmu terluka seperti tadi. Mau Oppa tiupkan agar tidak
terlalu panas?” tawar Jongwoon khawatir saat Taeyoung mendekatkan kopi panas
itu ke bibirnya.
Taeyoung
cepat-cepat menggeleng dengan pipi bersemu merah, “Tidak usah Oppa, aku
akan berhati-hati kali ini.”
Jongwoon
terkekeh melihat tingkah Taeyoung, namja itu mengangguk singkat sebelum
ikut memandang lurus-lurus ke arah sungai Han.
Mereka terdiam
ditemani keheningan.
Dulu, Taeyoung
biasanya sangat membenci keheningan. Namun sejak mengenal Jongwoon, dia mulai
menyukai saat-saat diam seperti ini. Bersama Jongwoon, keheningan yang terjadi
terasa.. damai.
Awal
pertemuannya dengan Jongwoon memang sangat tidak menyenangkan. Pertemuan
pertama mereka terkesan buruk, bahkan Taeyoung sama sekali tak menyukai
Jongwoon di awal-awal, dia bahkan sempat
berpikir bahwa lebih baik menjadi hisami dari Donghae─yang saat itu
terlihat paling ramah jika dibandingkan dengan yang lain─daripada menjadi hisami
dari manusia berwajah datar seperti Jongwoon.
Namun seiring
berjalannya waktu─meski pun mereka baru 3 hari kenal, Taeyoung mulai merasa
nyaman berada di dekat Jongwoon.
Namja itu
mungkin terkesan sangat angkuh dan tak peduli, namun dia diam-diam juga bisa
bersikap baik dan perhatian. Jongwoon mungkin mempunyai aura aneh di
sekelilingnya, namun saat Taeyoung berhasil masuk ke dalam dunianya pelan-pelan,
aura aneh itu akan menghilang dengan sendirinya. Tergantikan aura lain, aura
ketenangan.
Entah untuk
alasan apa, Taeyoung tersenyum memikirkan awal pertemuannya sampai saat ini
dengan Jongwoon.
“Ada tempat
yang ingin kaukunjungi lagi, Young?” Jongwoon mengusir keheningan di antara
mereka dengan melontarkan pertanyaan, ekor matanya yang sudah bosan menatap
riak air beralih melirik Taeyoung diam-diam.
Wajah Taeyoung selalu
lebih menarik jutaan kali dibanding pemandangan seindah apapun menurut Jongwoon.
Jongwoon sendiri tahu bahwa yeoja-yeoja di Negerinya memang berkali-kali
lipat lebih cantik dari Taeyoung, namun Taeyoung tetap saja berbeda.
Yeoja itu
punya pesona sendiri yang dapat membuat semua orang tertarik kepadanya. Pesona
yang tak dapat dijelaskan dengan kata-kata dan hanya akan terlihat saat sudah
mengenal Taeyoung beberapa lama.
Sementara yang
ditanya tertegun beberapa saat, tampak memikirkan jawaban yang sesuai untuk
pertanyaan Jongwoon sebelum menggeleng pelan. “Aku rasa cukup Oppa, terimakasih
untuk hari ini. Sangat menyenangkan.” jawabnya sambil menolehkan kepala pada
Jongwoon.
Jongwoon
menyunggingkan senyum manis lantas mengangguk. “Cheonmaneyo, Oppa
juga sangat menikmati hari ini.”
Jongwoon tak
sedikitpun berbohong dengan perkataannya tadi. Ini juga hari yang menyenangkan
untuk Jongwoon. Dia tak pernah merasa sesenang ini saat berkencan dengan yeoja
kecuali Taeyoung.
Sejurus
kemudian, Jongwoon tiba-tiba saja tersentak dengan pemikirannya tadi.
Berkencan? Apa ia memang menganggap jalan-jalan ini sebagai kencan? Apa ia
benar-benar mulai jatuh pada Taeyoung? Apa Taeyoung benar-benar sudah mulai
mengukir nama di hatinya? Apa mungkin waktu sesingkat ini dapat melelehkan
hatinya?
Shit!
Jongwoon langsung menampar pikirannya sendiri. Terlalu banyak pertanyaan
diawali kata apa yang berlomba-lomba memengaruhi pikirannya.
Namja itu
tanpa sadar menggeleng-gelengkan kepala, menolak gagasannya tadi. Tidak
Jongwoon, kau tidak boleh. peringat Jongwoon kepada dirinya sendiri.
Taeyoung
mengerutkan kening melihat Jongwoon, dia menyimpan cup kopinya di
sebelah cup kopi Jongwoon sebelum meletakkan tangannya di dahi Jongwoon,
sekadar mengecek kalau-kalau Jongwoon sedang demam sampai berperilaku aneh.
“Gwaenchanayo?”
tanyanya lembut.
Jongwoon
menoleh, tersihir oleh sentuhan tiba-tiba Taeyoung.
“Hm, kau tidak
demam Oppa. Jangan melamun lagi.” tegur Taeyoung sambil menurunkan
tangannya dari dahi Jongwoon, namun secepat kilat Jongwoon tiba-tiba saja
menahan tangannya.
Taeyoung menatap
namja itu heran, tapi tatapan Jongwoon yang sarat makna berhasil
membuatnya terdiam. Sibuk menerka-nerka isi pikiran Jongwoon lewat matanya.
“Ani,
aku memang demam Young,” tukas Jongwoon tiba-tiba, suaranya merendah sebelum
mengatakan, “di sini..” sambil membawa tangan Taeyoung ke dadanya, tepat ke
jantungnya yang tengah berpacu dengan kencang.
Taeyoung tahu
Jongwoon tak sedang menyihirnya, namun dia benar-benar merasa tersihir oleh
kata dan tatapan Jongwoon yang semakin melembut setiap saatnya. Saat Jongwoon
menarik tubuhnya dan mendekatkan wajah mereka, Taeyoung tak bisa berkutik
selain memejamkan mata. Yeoja itu tahu dia bisa saja menolak, namun
hatinya tak ingin.
Jongwoon juga sadar
betul bahwa apa yang akan dilakukannya saat ini adalah salah, dia seharusnya
tak terjebak dalam perasaan abstrak yang tengah dirasakannya untuk
Taeyoung. Namun untuk sekarang, Jongwoon tak bisa mengelak lagi dari
perasaannya, jadi biarlah kali ini dia menunjukkan perasaannya. Untuk pertama
dan terakhir kalinya.
Biarkan
Jongwoon merasakan kebahagiaan kecil di hatinya yang sudah membeku selama
bertahun-tahun sebelum ia mengakhiri semuanya dengan cepat.
Biarkan
Jongwoon merasakan kehangatan di hatinya sebelum organ vital itu kembali
membeku dengan sendirinya.
Taeyoung sendiri
hanya dapat meletakkan tangannya di dada Jongwoon sementara namja itu
terus bergerak untuk mengeliminasi jarak yang tersisa di antara mereka.
***
Saera
memandangi restoran Italia di depan matanya dengan wajah tak percaya. Yeoja
itu mengernyit sementara perutnya bernyanyi kelaparan.
Saera memang
baru saja menyelesaikan acara jalan-jalannya bersama Kyuhyun. Seperti keinginan
Saera, mereka pertama-tama pergi ke taman gantung; menikmati keindahan yang
tersaji, mengunjungi Sungmin; Saera sempat tidak ingin pergi beberapa saat
sebelum Hyoseo akhirnya datang dan menyuruh yeoja itu kembali mengikuti
Kyuhyun, tempat terakhir yang mereka kunjungi adalah Disney Land di Hongkong;
mereka bermain sepuasnya dengan tawa yang terus terdengar. Saat mereka selesai,
siang sudah berganti menjadi malam.
Tuntutan perut
yang minta diisi pun memaksa mereka mengakhiri acara jalan-jalan dan pergi ke
restoran. Saera tadi memaksa Kyuhyun kembali ke Italia sebab yeoja itu
merindukan makanan khas Italia.
Namun yang
Saera tidak duga-duga adalah, Kyuhyun membawanya ke restoran Italia paling
mewah dengan dekorasi romantis─yang dari luar saja sudah terlihat jelas.
Orang-orang yang keluar-masuk restoran ini jelas berpasangan dan mereka pun
terlihat sangat berkelas.
Yang namja
memakai tuksedo, jas, atau kemeja, sedangkan yang yeoja jelas memakai
gaun anggun yang terlihat mahal. Tidak seperti..
Saera mengamati
penampilannya dari atas ke bawah. Rambut dikuncir kuda ke belakang, tantop
putih dengan luaran kemeja kotak-kotak, jins biru ketat, juga sepatu sneakers.
Mata Saera lantas melirik ke arah namja sebelahnya.
Kaus biru laut
berlengan pendek dengan tulisan I AM, celana jins hitam yang terlihat belel,
juga sneakers. Penampilan Kyuhyun jelas tak berbeda jauh dengannnya,
mereka berdua seperti dua orang remaja yang salah tempat.
“Waeyo?”
tanya Kyuhyun melihat pandangan Saera ke arahnya, risi juga diamati penuh
selidik oleh yeoja itu.
Saera menelan
ludah, melempar pandangannya pada restoran kembali. “Kau yakin kita akan makan
di sini Oppa?”
Bersyukurlah
Kyuhyun mempunyai otak yang jenius sehingga dia tidak perlu bertanya mengapa
Saera berkata seperti itu, “Tentu saja. Kau ingin makan masakan Italia, bukan?”
Saera mengangguk, “kalau begitu ayo masuk.” lanjut Kyuhyun sambil menggenggam
tangan Saera menuju ke dalam restoran.
Saera menatap
Kyuhyun dan restoran itu bergantian dengan tatapan horor saat keduanya sudah
berada di dekat pintu masuk restoran. “Oppa, kau serius kita akan masuk
dengan penampilan seperti ini?”
“Astaga..”
keluh Kyuhyun menghentikan langkahnya karena Saera ternyata masih
mempermasalahkan penampilan mereka berdua. Kyuhyun membalikkan badannya dan
menatap tepat ke mata Saera. “Memangnya kenapa kalau kita berpenampilan seperti
ini?”
Saera menunduk,
tak berani menantang mata Kyuhyun secara langsung. Bukan karena dia takut atau
apa, Saera hanya cemas kalau akal sehatnya akan pelan-pelan menghilang jika menatap
Kyuhyun terlalu lama. Mata Kyuhyun dapat memerangkap Saera dalam sebuah
perasaan tak menentu.
“Ani,
aku hanya merasa ini sangat tidak sesuai.”
Kyuhyun
menghela napas, setelah melirik kiri-kanan yang nampak sepi, tangan namja
itu bergerak menuju dagu Saera lantas mengangkatnya hingga mata mereka bertemu.
“Arraseo, aku akan merubah penampilan kita kalau itu yang kau mau.”
Kyuhyun
menggunakan sihir mirakey, secercah sinar berwarna light blue
mengelilingi tubuh mereka, dan dalam beberapa detik, kedua orang itu telah
berganti pakaian. Kyuhyun memakai tuksedo hitam─yang menurut penglihatan Saera
membuat namja itu jutaan kali lipat lebih tampan─sementara Saera memakai
gaun selutut berwarna pink lembut yang tampak sangat indah.
Kyuhyun
melepaskan tangannya dari dagu Saera, tersenyum tipis. “Selesai bukan? Nah, ayo
masuk.” ajak namja itu kembali, dia mengeratkan genggaman tangannya pada
Saera hingga tangan keduanya terlepas begitu mereka duduk di kursi.
Kedatangan
mereka disambut oleh alunan nada dari piano yang dimainkan seorang pianis di
atas panggung sana. Saera hampir tak bisa berkedip melihat sekeliling restoran,
terpesona. Bibirnya melengkung membentuk senyum tipis saat melihat banyaknya
pasangan yang tengah berdansa di lantai dansa sana dengan iringan nada piano,
semuanya terlihat serasi dan bahagia.
Kyuhyun
mengangguk pada setelah pelayan restoran itu menyebutkan pesanannya sekali
lagi. Saat pelayan itu pergi dari hadapannya, pandangan Kyuhyun jatuh pada
Saera. Tatapannya yang semula dingin langsung menghangat begitu melihat wajah
bahagia Saera. Kyuhyun lantas mengikuti arah pandangan Saera, seringaian
tiba-tiba saja terpasang otomatis di bibirnya begitu melihat Saera tengah
mengamati pasangan dansa di sana juga permainan pianis di atas panggung.
Dia punya
rencana.
“Kau
menyukainya?” tanya Kyuhyun setelah makanan yang dipesannya datang.
Pertanyaan
Kyuhyun sukses membuat Saera terperanjat, yeoja itu cepat-cepat menengok
ke arah Kyuhyun. Mengangguk dengan antusias sebelum mulai memakan hidangan yang
tersaji di atas meja.
Setelah
beberapa saat mengamati cara makan Saera, Kyuhyun berdiri dari duduknya yang
berhasil mendapat tatapan heran dari Saera.
“Tunggu di
sini,” kata Kyuhyun tanpa menjelaskan apapun.
Saera mengikuti
langkah Kyuhyun dengan ekor matanya. Yeoja itu membulatkan saat melihat
Kyuhyun berjalan membelah kerumunan para pedansa lantas naik ke atas panggung. Namja
itu duduk di kursi piano setelah berbicara beberapa saat dengan pianisnya.
Kyuhyun
mendekatkan mulutnya pada mic kecil di samping piano, “Mohon
perhatiannya,” tutur namja itu dalam bahasa Italia yang fasih.
Orang-orang yang tengah berdansa maupun orang-orang yang sedang makan sambil
berbincang sontak menghentikan kegiatan mereka dan menatap ke arah Kyuhyun.
Kyuhyun tersenyum begitu melihat semua perhatian kini terpusat padanya, mata namja
itu pelan-pelan mencari mata Saera di antara kerumunan lantas memagut mata yeoja
itu begitu dia menemukannya. “Lagu ini dipersembahkan untuk seorang yeoja
cantik yang hari ini bersedia menemaniku, selamat menikmati..”
Setelah
mengatakan hal itu, nada piano mulai terdengar disusul suara merdu Kyuhyun.
Seluruh pengunjung langsung terdiam, terhipnotis oleh permainan Kyuhyun. Mata
Kyuhyun tak pernah meninggalkan mata Saera sedetik pun, tatapannya sangat
lembut dan meluluhkan.
Saera menahan
napas, tersedot oleh pesona Kyuhyun. Saat lagu selesai dimainkan dan Kyuhyun
berdiri dari duduknya, tepuk tangan membahana di ruangan itu. Kyuhyun membungkuk
sekali seraya mengucapkan terimakasih lalu kembali berjalan ke arah Saera. Namja
itu tersenyum tipis melihat tatapan kagum Saera sebelum duduk di tempatnya
semula.
“Siapa yeoja
yang kaumaksud, Oppa?” tanya Saera setelah terjaga dari kekagumannya. Alunan
nada piano yang lembut kembali terdengar, pianis itu mulai menjalankan tugasnya
lagi dan orang-orang melanjutkan dansa mereka kembali.
Kyuhyun
berdecak, meraih tangan Saera dengan senyum yang semakin melebar. “Memangnya
ada berapa yeoja yang kuajak jalan-jalan hari ini?”
Saera tak dapat
mencegah rona merah yang langsung menjalari pipinya dengan cepat, yeoja
itu menolehkan kepalanya ke arah lain, merapal doa dalam hati agar jantungnya
baik-baik saja.
Kyuhyun bukan
tipe orang yang suka mengumbar senyum, tapi melihat tingkah Saera yang sangat
menggemaskan hari ini membuat dia mau tak mau banyak mengumbar senyum.
Kyuhyun
melepaskan tangan Saera sebelum berdiri dari duduknya. Namja itu
berjalan memutari meja dan mengulurkan tangannya ke arah Saera.
Saera menatap
tangan Kyuhyun bingung, “Mau berdansa denganku?”
Saera menggigit
bibir, menahan senyum lebar yang pasti akan terpasang di wajahnya mendengar
ajakan Kyuhyun. Ragu-ragu, yeoja itu menyambut tangan Kyuhyun lantas
mengikuti langkah Kyuhyun ke arah lantai dansa.
Kyuhyun
membimbing tangan Saera untuk bertengger di pundaknya sementara tangannya
berada di pinggang Saera. Mereka berdansa mengikuti alunan nada yang terdengar
dengan khidmat. Mata keduanya saling bertatapan dengan lembut sebelum Kyuhyun akhirnya
menarik Saera ke dalam pelukannya.
Saera
tersentak, namun tak berapa lama dia menyandarkan kepalanya di dada Kyuhyun
sambil terus berdansa. Mereka berdansa sambil berpelukan sepanjang sisa waktu.
***
BUG!
“Aw..”
Hyukjae
menghentikan seluncuran kakinya di atas es yang telah membeku begitu mendengar
suara jatuh disusul pekikan Hyunmi, wajahnya langsung berubah panik. Namja
itu secepat mungkin memutar tubuhnya kembali ke arah Hyunmi, terkejut setengah
mati mendapati Hyunmi tangah meringis kesakitan sambil memegang pergelangan
kakinya.
Semua orang
yang ada di area Ice Skating itu sempat menatap ke arah Hyunmi, beberapa
terlihat ingin membantu namun langsung kembali sibuk dengan acara mereka
sendiri begitu Hyukjae sudah berjongkok di depan Hyunmi.
“Sudah kubilang
untuk berhati-hati bukan, Mi-ya?” tanya Hyukjae cemas saat menyampirkan
lengan Hyunmi ke pundaknya dan membantu yeoja itu berjalan ke luar area Ice
Skating.
Hyunmi
menggigit bibir merasakan pergelangan kakinya perih, dia mengeratkan rangkulan
tangannnya di pundak Hyukjae. “Mianhae Oppa, aku ceroboh tadi.”
Hyukjae
menolehkan kepalanya ke arah Hyunmi, cemas merambati hatinya begitu ia
mendapati Hyunmi meringis menahan sakit beberapa kali. Namja itu
menghentikan langkahnya tiba-tiba, dia lantas meraih Hyunmi ke dalam gendongan
tangannya dalam sekali gerakan. Saat merasakan posisi Hyunmi sudah nyaman di
dalam gendongannya, namja itu kembali melangkah.
Sementara di
lain sisi, Hyunmi tersentak dengan gerakan tiba-tiba Hyukjae, yeoja itu
refleks mendongak, darahnya berdesir dengan cepat begitu menemukan wajah
Hyukjae lebih tinggi beberapa senti dari wajahnya. Wajah Hyunmi memanas, dia
tak pernah berpose sedekat ini dengan namja manapun.
Hyunmi memang
tidak seperti Ahna yang berpengalaman dalam menjalin kasih. Meskipun dia
mempunyai beberapa teman namja yang bisa dibilang dekat, tak ada yang
pernah berada sedekat ini dengan Hyunmi.
Rasa sakit yang
menyerang Hyunmi akibat kakinya yang terluka membuat dia sadar dari
keterkejutannya. Yeoja itu mengerang keras dan spontan melingkarkan
tangannya di leher Hyukjae erat berharap dapat mengurangi rasa sakitnya dengan
cara seperti itu. Mata Hyunmi mulai berair merasakan kakinya berdenyut-denyut
perih.
“Sstt, gwaenchana,
kau akan baik-baik saja.” bisik Hyukjae berusaha menenangkan, tidak tega
melihat raut kesakitan yang tergambar jelas di wajah Hyunmi.
Dalam hati,
Hyukjae mengutuki kebodohannya yang telah menyebabkan Hyunmi terjatuh.
Seharusnya tadi dia tak membiarkan Hyunmi berseluncur di belakangnya sendirian,
Hyukjae seharusnya ada di samping Hyunmi untuk menghindari terjadinya hal-hal
seperti ini, namja itu seharusnya lebih berhati-hati dalam menjaga
Hyunmi agar kejadian seperti ini tidak terjadi dan Hyunmi tidak perlu terluka.
Hyukjae
mendesah, dia tahu jika pernyataan yang diawali kata ‘seharusnya’ itu akan
semakin bertambah banyak menyesaki kepala Hyukjae kalau dia tak menghentikannya
sekarang. Penyesalan memang selalu datang di akhir dan sama sekali tak berguna.
Hyukjae
mengeratkan gendongannya di tubuh Hyunmi sambil mempercepat langkah, yang
diinginkannya saat ini hanya cepat-cepat sampai di bangku panjang yang ada di
pinggir lantas mengobati kaki Hyunmi.
Setelah sampai
di pinggir area Ice Skating yang terbuka, Hyukjae mendudukkan tubuh Hyunmi
di atas bangku panjang, dia berjongkok di hadapan Hyunmi lalu membuka sepatu Ice
Skating Hyunmi dengan hati-hati seolah jika dia ceroboh sedikit saja,
Hyunmi akan merasakan sakit yang luar biasa.
“Sshh..” Hyunmi
mendesis merasakan perih yang kembali menyengatnya saat Hyukjae membuka sepatu Ice
Skatingnya. Yeoja itu memejamkan mata, berusaha menenangkan diri
sekaligus mengusir perih yang masih bersemayam di kakinya.
Hyukjae semakin
hati-hati saat membuka sepatu yang dikenakan Hyunmi. Ketika sepatu itu sudah
terlepas, mata namja itu terbelalak mendapati darah di pergelangan kaki
Hyunmi.
Kepala Hyukjae
spontan terdongak ke atas untuk menatap wajah Hyunmi, “Perih?” tanyanya dengan
nada khawatir yang begitu kentara.
Hyunmi
pelan-pelan membuka mata mendengar suara Hyukjae. Saat matanya bertubrukan
dengan mata milik Hyukjae, sesuatu di dalam diri Hyunmi bergetar.
Melihat tatapan
Hyukjae padanya yang menyiratkan berjuta-juta rasa khawatir mau tak mau membuat
Hyunmi terenyuh, hatinya tersentuh. Sekian lama hidup di dunia, hanya ada dua
orang yang pernah menatapnya dengan cemas seperti itu. Pertama Ahna, dan kedua
Hyukjae.
“Gwaenchana
Oppa, aku hanya butuh istirahat.” sahut Hyunmi berusaha menenangkan Hyukjae
sembari memberikan seulas senyum untuk namja itu.
Hyukjae tahu
Hyunmi berbohong, namun namja itu memutuskan untuk tak berkomentar
apapun. Hyukjae menundukkan kepalanya kembali, mengamati pergelangan kaki
Hyunmi yang lecet dan mengeluarkan darah sambil membayangkan seberapa besar
rasa sakit yang tengah dirasakan Hyunmi.
Dalam diam,
Hyukjae kali ini mengutuk kenyataan tentang tidak adanya sihir yang mampu
mengobati luka kecil seperti ini.
“Tunggu di
sini, aku akan membeli obat merah dan perban.” titah Hyukjae sambil berdiri
dari posisi jongkoknya. Setelah mendapatkan anggukan dari Hyunmi, namja
itu mengganti sepatu Ice Skating dengan sepatu biasa terlebih
dahulu lantas beranjak meninggalkan area Ice Skating.
Mata Hyunmi
mengikuti tubuh Hyukjae yang perlahan menghilang dengan tatapan kalut. Sejak
pertama kali Hyukjae meminta bantuannya dengan imbalan yang menggiurkan, yeoja
itu sudah bertekad dalam hati untuk tak terlibat perasaan apapun dengan namja
itu. Namun perhatian yang Hyukjae berikan padanya pelan-pelan mengikis tekad
yang sudah terbentuk sejak awal. Hyunmi benar-benar kalut, pikirannya menyuruh
ia untuk mengusir rasa yang masih sebesar biji jagung itu, namun hatinya
menyuruh ia membiarkannya tumbuh subur.
“Ah, mianhae,
aku lupa sesuatu..” suara Hyukjae berhasil membuat Hyunmi tersentak kaget. Yeoja
itu buru-buru mendongak dan menemukan Hyukjae telah kembali ke hadapannya
dengan wajah menyesal. “Pakai ini, cuaca sangat dingin Mi-ya. Jangan
sampai kau sakit.” kata Hyukjae beberapa saat kemudian, dia memakaikan jaketnya
ke badan Hyunmi sambil melempar senyum lembut untuk yeoja itu.
Hyukjae
langsung memeluk dirinya sendiri begitu angin malam yang terasa sangat menusuk
kulit berembus, kakinya terayun meninggalkan Hyunmi yang mematung tak percaya
sebab Hyukjae kembali hanya untuk memberikan jaketnya. Membiarkan dirinya
sendiri ditusuk-tusuk oleh hawa dingin.
Sejak malam
dimana dia dan ketiga saudaranya yang lain memutuskan untuk mengubah strategi
dan berupaya bersikap manis pada para Hisami, Hyukjae tahu dia sangat wajar
untuk berpura-pura cemas pada setiap hal yang menimpa Hyunmi.
Namun kecemasan
yang ditunjukkannya tadi bukan pura-pura. Itu benar-benar murni sebab entah
untuk alasan apa, Hyukjae tak ingin melihat Hyunmi terluka sedikitpun. Hyukjae
tahu perasaan yang dimilikinya saat ini masih belum jelas, namun dia tetap saja
takut jika suatu saat dia terjatuh kepada Hyunmi dan mengulangi kesalahan untuk
yang kedua kalinya.
Saat angin
malam kembali berembus dan tubuh Hyukjae benar-benar sudah tak terlihat, Hyunmi
mengerjap, yeoja itu lantas mengeratkan jaket yang Hyukjae pakaikan
kepadanya. Pikiran Hyunmi mendadak penuh seketika, perlakuan Hyukjae sejak tadi
pagi benar-benar membuatnya kacau.
Aroma Hyukjae
tertinggal di jaketnya. Seulas senyum terkembang di bibir Hyunmi dengan
sendirinya, dia menghirup aroma tubuh Hyukjae dalam-dalam sebelum keningnya
berkerut saat menemukan selembar kertas keras─yang Hyunmi duga sebagai foto─di
dalam saku jaket Hyukjae.
Hyunmi
mengeluarkan foto itu dengan perlahan dari saku jaket Hyukjae, matanya terbuka
lebar melihat potret siapa yang ada di dalam foto itu. Air mata pelan-pelan
mengalir dengan sendirinya, Hyunmi langsung menutup mulut dengan sebelah tangan
untuk menahan isakan yang akan keluar.
“Mi-ya, mianhae
Oppa lama, Oppa─” Hyukjae langsung menghentikan ucapannya saat
melihat Hyunmi tengah menangis sambil menatap matanya tajam, giginya langsung
bergemeretak begitu melihat selembar foto yang ada di tangan Hyunmi.
Hyunmi
mengacungkan foto itu ke wajah Hyukjae, menatap Hyukjae dengan tatapan marah,
“Kenapa kau tidak pernah bercerita kalau kau adalah namja yang dimaksud Eonniku?”
Hyukjae
tergugu, tak mampu menjawab.
TBC...
Mian baru post, karena telat aku post dua part sekaligus.. Komentar ditunggu^^
Semoga chapter ini memuaskan.
PS: aku gatau mau post kapan lagi :P