FOUR
“L
|
AMA sekali,
Hyukjae!” desis Kyuhyun menyambut kedatangan Hyukjae dan Hyunmi di ruang tengah
mansion yang mereka tempati.
Jongwoon,
Donghae, dan Kyuhyun memang sudah sampai hampir satu jam yang lalu. Bahkan
Taeyoung, Hyerin, dan Saera pun sekarang tengah beristirahat untuk persiapan
hari esok. Hanya Hyukjae dan Hyunmi yang belum datang hingga ketiga namja
itu terpaksa menunda rapat mereka.
Membalas
penyambutan Kyuhyun, Hyukjae hanya mendelik sebelum mengempaskan pantatnya di
sofa, meninggalkan Hyunmi yang menatap bingung ke arah mereka berempat. “Mianhae,
ada sedikit masalah untuk membawa yeoja itu.”
Jongwoon
menjentikkan jari hingga sebatang lilin yang menyala di meja melayang mendekati
Hyunmi. “Kau, ikuti lilin itu. Dia akan membawamu ke kamar. Kalau kau ingin
bertanya, tanyakan saja pada lilin itu.”
Tanpa banyak
bertanya atau merasa ketakutan, Hyunmi mulai menaiki tangga mengikuti lilin itu
ditemani tatapan empat pasang mata dengan sinar berbeda.
“Black.”
seru Donghae tiba-tiba begitu Hyunmi menghilang. “Sihir yeoja itu black,
kau harus hati-hati, Hyuk-ah.” imbuhnya sambil menatap mata Hyukjae
tajam.
Hyukjae
mengedikkan bahunya santai. “Aku tahu, Kang Hyunmi memang mempunyai sihir black.
Tipe pembunuh dan pembangkit.” tuturnya. “Bagaimana dengan hisami kalian?”
Kyuhyun
mendengus, dia menggerakkan tangannya membawa segelas anggur merah dari meja. “Hisamaku
bernama Han Saera, sihirnya dark blue.” katanya tak acuh sambil menyesap
anggur merah itu sesekali. “Melindungi dan menyerang.”
“Han Taeyoung, dark
red.” sahut Jongwoon, jemarinya memainkan bola api dengan santai sebelum
melempar bola api itu ke perapian hingga perapian menyala. “Penghancur dan pembangun.”
Donghae
tersenyum tipis saat mata saudara-saudaranya menatap ke arahnya, penasaran. “Well,
Han Hyerin tipe dark green. Sihir penyembuh dan perusak..” ujarnya tenang
lantas menatap satu persatu saudaranya dengan tatapan penuh makna. “Dan apa
kalian tidak menyadari sesuatu?”
Mendengus, Kyuhyun
menyimpan anggur merahnya kembali lalu memainkan PSP hitamnya. “Geurae.
Tipe sihir mereka sangat berlawanan dengan sihir kita dan sihir aspagus
sepertinya memang membutuhkan keseimbangan antara pengguna sihir berlawanan.
Ini konsep yin dan yang.” jawabnya yakin. “Aku ke kamar, butuh mental untuk menghadapi
bocah itu esok pagi.” tambahnya kemudian lalu melenggang pergi dari ruangan.
“Yin dan
yang, ini akan sulit. Kita harus benar-benar menyatu dengan para hisami itu,”
keluh Jongwoon, “Donghae-ya, Hyukjae-ya, Hyung istirahat
duluan, ne?”
Tanpa menunggu
anggukan dari dua dongsaengnya, Jongwoon beranjak meninggalkan kedua
orang itu yang kini terdiam dengan pikiran masing-masing.
“Hae, kau
merasakannya?” tanya Hyukjae tiba-tiba dengan nada ambigu.
“Nde,
para hisami itu berbahaya. Mereka bisa menjadi musuh dalam selimut kalau
mereka sampai menyadari sesuatu.” balas Donghae, nada bicaranya serius. Berbeda
dengan Donghae yang biasanya tenang dan terkesan kekanak-kanakan.
Hyukjae
mengangguk, bola mata cokelat pekatnya memancarkan sinar gelisah. “Kalau kita
gagal mengendalikan para hisami, sihir aspagus ini akan
menghancurkan segalanya. Termasuk… dunia manusia.”
“Mungkin karena
alasan inilah sihir aspagus sangat terlarang.”
Yang terjadi
selanjutnya di ruangan itu hanya hening. Keheningan yang lama-lama terasa
seperti mencekik begitu perkiraan demi perkiraan mampir ke otak mereka.
***
“Annyeong
haseyo.” sapa Hyunmi begitu mendapati bahwa di kamar yang sangat luas ini
ada 3 yeoja lain yang tengah sibuk dengan kegiatan masing-masing.
Ketiga yeoja
itu sontak menoleh ke arah pintu begitu mendengar suara Hyunmi, ekspresi
berbeda-beda terpeta di wajah ketiganya. Ada Saera yang hanya memandang Hyunmi
sekilas lalu kembali sibuk dengan ponselnya─menghubungi Hyoseo, ada Taeyoung yang
melirik Hyunmi sebentar dan kembali larut dalam dunia imajinasi kecilnya, dan
ada Hyerin yang agak memperhatikan Hyunmi─yeoja itu tersenyum tipis
sebelum kembali melihat ke luar jendela.
Hyunmi menelan
ludah melihat reaksi yeoja-yeoja itu, dia melirik ke arah lilin yang
masih setia mengikutinya, bertanya segala sesuatu dengan nada pelan. Setelah
merasa pertanyaannya terjawab semua, Hyunmi masuk ke dalam kamar. Dia duduk di
satu-satunya ranjang yang tersisa.
“Eum, kalian
berasal dari mana?” tanya Hyunmi mencoba memulai percakapan.
Hening. Astaga!
Hyunmi ingin sekali menggelamkan kepalanya ke dalam air melihat teman
sekamarnya yang kelewat cuek seperti ini. Sambil menahan jengkel, Hyunmi maju
ke tengah-tengah kamar.
“YAK! Bisakah
kalian lebih sopan sedikit dengan menjawab pertanyaanku? Aku lebih tua dari
kalian!” pekiknya kesal yang kali ini sukses mendapat perhatian penuh dari
ketiga yeoja itu.
“Yak! Eonni,
tidak usah memekik seperti itu,” balas Taeyoung kesal, “kau menghancurkan
imajinasi indahku Eonni.” keluhnya lagi sebelum berjalan menghampiri
Hyunmi dan menjabat tangannya. “Han Taeyoung imnida, dari Seoul, dibawa
oleh Jongwoon Oppa yang memiliki ekspresi paling sedikit.”
Hyerin yang ada
di belakang Taeyoung tertawa mendengar perkataan yeoja itu tentang
Jongwoon. “Hyerin imnida eonni, Tokyo, aku dipaksa ikut oleh Donghae Oppa
yang mirip ikan.” katanya sambil terkikik lalu berhigh five ria bersama
Taeyoung.
“Wajahmu lucu
sekali Eonni,” celetuk Saera tiba-tiba melihat Hyunmi yang menganga.
“Saera imnida, dari Italia, diseret Raja neraka Kyuhyun ke sini.”
“Yak! Kalian
mengerjaiku, eo?” tanya Hyunmi sambil merengut kesal setelah mengatupkan
mulutnya.
Ketiga yeoja
di hadapannya tertawa-tawa, bahkan Taeyoung nyaris tersedak saking kerasnya
tertawa.
“Mianhae Eonni,
awalnya kami memang canggung, apalagi aku yang sangat sulit beradaptasi. Tapi
setelah hampir satu jam, kami jadi menyadari persamaan nasib dan tiba-tiba saja
akrab.” jelas Saera lalu menunjukkan senyum jailnya, “kami bosan, saat tahu
akan ada seorang lagi hisami kami.. berinisiatif mengerjainya.”
Hyunmi menutup
kedua telinga begitu disoraki ucapan selamat datang dari ketiga yeoja
yang ‘agak ajaib’ di hadapannya. Tak lama, mereka berempat sudah tertawa-tawa
sambil mengobrol panjang lebar tentang namja-namja aneh dari Negeri
sihir juga tentang sihir di tubuh mereka yang sama sekali tak pernah terduga.
Pikiran
keempatnya polos. Mereka hanya berpikir bahwa dengan melakukan semua permintaan
keempat namja itu, mereka akan mendapatkan apa yang mereka inginkan.
Tidak pernah terlintas risiko yang akan terjadi nantinya dipikiran keempat yeoja
itu. Mereka juga tak pernah tahu bahwa ada kekuatan sangat besar yang terpendam
di dalam diri mereka.
Dan tanpa
mereka sadari, sepasang mata berwarna merah sedang memantau aktivitas mereka
dari balik cermin yang ada di tangannya. Sosok yang menggunakan jubah serba
hitam dengan baluran darah hampir di seluruh tubuhnya itu menyeringai.
***
Hyerin mengikat
rambutnya dengan tidak sabaran, yeoja itu melirik ke segala penjuru
ruangan yang telah kosong. Dia bangun kesiangan, dan tampaknya semua roommate
Hyerin telah diculik oleh namja-namja yang mengaku penyihir. Sambil
menggerutu, Hyerin berjalan cepat-cepat ke arah pintu. Tangannya meraih gagang
pintu lantas memutarnya ke bawah, yeoja itu langsung mengeluh dalam hati
mendapati Donghae tengah bersandar di tembok dengan tatapan lembut namun
menusuk ke arahnya.
Kaku, Hyerin
melangkah mendekati Donghae. Dia meringis sebentar lalu melempar cengiran pada
Donghae.
Donghae
bergeming, alisnya terangkat ke atas melihat cengiran Hyerin. “Kemari.” perintahnya
dengan nada datar, tangan namja itu melambai ke arah Hyerin membuat
Hyerin mendengus namun tak ayal menuruti perintah namja itu dan
mendekat. Donghae mengulurkan tangannya dan disambut oleh Hyerin sebelum dalam
sekali kedip, kedua orang itu telah menghilang menuju sebuah tempat.
Saat merasa
kakinya telah berpijak di tempat lain, Hyerin membuka mata dan mengamati
sekitar. Senyum terkembang di bibirnya melihat mereka berdua sekarang berdiri
di bibir pantai yang sepi─tidak ada orang sama sekali. Yeoja itu memutar
kepala ke belakang dan menemukan Donghae yang menatap lurus ke arah laut lepas.
Hyerin perlahan
mengayunkan kaki hingga sampai di hadapan DOnghae. “Kita akan belajar apa, Oppa?”
tanyanya sambil memasang mimik penasaran.
Donghae
menoleh, senyum kecil terukir di bibirnya melihat Hyerin yang tampak semangat.
“Sihir dasar. Telepati dan teleportasi, kau siap?”
“Geurae,”
jawab Hyerin mengangguk. “Tapi Oppa, setelah ini semua berakhir Baekhyun
Oppa akan benar-benar menjadi milikku, kan?”
Donghae
menghentikan langkahnya ke arah air pasang lalu memutar kepala pada Hyerin,
menatap yeoja itu tajam. “Kau tidak percaya padaku, eo?” tanyanya
sinis. Meski pun Donghae playboy, Donghae orang yang tidak pernah ingkar
janji. Tidak dipercaya oleh orang lain adalah hal yang paling Donghae benci.
Hyerin
terkekeh, sama sekali tak takut dengan tatapan yang diberikan Donghae. Namja
itu terlalu kekanakan untuk memasang wajah sangar. “Mianhae, aku hanya
memastikan.” balasnya santai lalu berdiri di samping Donghae dan menatap laut
lepas. “Jadi, bagaimana caranya berteleportasi dan telepati itu?”
“Kita mulai
dengan telepati, karena teleportasi itu akan mudah dikuasai jika telepati sudah
kaukuasai.” putus Donghae lantas duduk di atas pasir. Namja itu menyuruh
Hyerin duduk di hadapannya dengan isyarat mata. “Pikirkan orang yang ingin
kauhubungi, lantas konsentrasilah terhadap apa yang ingin kaubicarakan. Untuk
kali ini pikirkan aku. Jika kau berhasil, kau akan mendengar balasan suaraku. Arraseo?”
jelas Donghae panjang lebar yang disambut anggukan oleh Hyerin.
Hyerin menarik
napas sebelum memejamkan mata mencoba mengikuti semua petunjuk Donghae. Dia
mencoba memusatkan pikirannya pada satu hal. Donghae.
Donghae yang
ada di hadapan Hyerin tersenyum kecil. Diamatinya lekuk wajah Hyerin dengan
saksama. Tangan Donghae terjulur namun langsung terempas begitu saja sebelum
sempat menyentuh pipi Hyerin. Namja itu memaki dalam hati menyadari apa
yang ingin dia lakukan barusannya. Dia juga memperingatkan dirinya mati-matian
agar sampai tak jatuh hati pada yeoja di hadapannya. Tidak. Itu tidak
boleh terjadi. Meski pun Aboeji tidak melarang mereka berhubungan dengan
manusia biasa─well, Hyukjae pernah menjalin kasih dengan seorang manusia
dan itu sama sekali tak masalah di mata Aboejinya─tapi hubungannya
dengan Hyerin? Donghae tidak bisa. Dia tidak ingin terjebak. Bagaimana pun yeoja
di hadapannya ini bisa menjadi orang yang sangat berbahaya untuknya. Lagipula
Hyerin sudah mempunyai orang yang dicintainya, dan Donghae tidak ingin
merasakan yang namanya sakit hati di kali pertama dia jatuh cinta.
Tenggelam dalam
lamunannya tentang Hyerin, Donghae sampai tak menyadari bahwa ada secercah
sinar berwarna dark green yang pelan-pelan menyelubungi tubuh yeoja
itu. Saat Donghae terjaga, dia mengumpat dalam hati mengetahui Hyerin telah
lepas kendali. Alam bawah sadarnya dikendalikan oleh kekuatannya.
Donghae
menyentuh tubuh Hyerin sambil menyalurkan sihir calsm. “Hyerin-ah,”
panggilnya kemudian membuat Hyerin sontak membuka mata dan memandang Donghae
aneh.
“Waeyo Oppa?”
“Jangan gunakan
emosimu.” titah Donghae tegas, Hyerin mengkerut, dia menggumamkan ‘mianhae,’
yang dibalas Donghae dengan uluran napas sebelum melempar senyum lembut. “Gwaenchana.
Ayo lanjutkan latihanmu.” imbuhnya lagi.
Mereka melalui
latihan itu dengan tenang, meski kecemasan dan kekalutan menguasai hati Donghae
entah karena apa.
***
“Yak! Kaubilang
latihan sihir, kenapa kau malah menyuruhku beryoga?!” teriak Hyunmi sambil
berkacak pinggang di ruangan kosong dalam mansion yang mereka tempati.
Hyukjae pagi-pagi
sekali mengganggu tidurnya untuk latihan, tapi setelah sampai di tempat ini
namja itu hanya menyuruhnya beryoga. Sudah lewat beberapa jam, dan namja
itu sama sekali tak menyuruhnya berhenti beryoga. Menyebalkan sekali bukan
namja bermarga Park itu?
“Tidak usah
berteriak padaku,” desis Hyukjae tajam, “emosimu sangat labil, Mi-ya.
Karena itu kau harus belajar mengendalikan emosimu sebelum belajar ilmu sihir.”
kata Hyukjae tajam.
Hyunmi memutar
bola matanya lalu mendengus kasar.
“Sekarang
kembali ke tempatmu dan lanjutkan yogamu!” suruh Hyukjae sambil menatap Hyunmi
tajam.
Hyunmi membalas
tatapan Hyukjae dengan tak kalah tajam sebelum kembali mendengus dan duduk di
tempatnya semula. “Aish! Kalau saja bukan demi eonni, aku tak akan mau menuruti
perintah monyet itu!” omel yeoja itu lalu duduk menyilang dan memejamkan
mata.
Hyukjae yang
berdiri di depan yeoja itu mengembuskan napas panjang lantas ikut duduk
di hadapannya. Namja itu mengamati wajah Hyunmi yang tengah mencoba merilekskan
diri dengan rahang terkatup rapat. Wajah Hyunmi benar-benar─arrrgh! Hyukjae
langsung menampar batinnya sendiri mengingat apa yang baru saja akan dicetuskan
batinnya.
Hyukjae
menolehkan kepala ke arah lain sembari mengambil napas banyak-banyak.
“Hyukjae Hyung?”
Hyukjae tersentak mendengar suara Kibum di kepalanya. Kibum menghubunginya
lewat telepati.
“Nde? Waeyo
Kibum-ah?” tanya Hyukjae tenang.
“Iblis
kegelapan itu melancarkan aksinya lagi Hyung. Sepuluh Desa sudah musnah dalam
beberapa menit, dia juga sudah membangkitkan para pengikutnya dulu.” beritahu
Kibum dengan nada yang tak bisa dibilang tenang.
Hyukjae merasa
oksigen di sekitarnya mendadak menghilang. Napasnya tercekat. “Lalu bagaimana
rencana Aboeji selanjutnya? Dan apakah dia juga tahu tentang... hisami?”
“Ini alasanku
menghubungimu Hyung, dia sudah tahu dan aku takut kalau iblis itu sampai
mengirim pengikutnya ke dunia manusia untuk membunuh hisami kalian.”
ujar Kibum, ada nada cemas yang terselip dalam kalimatnya. “Hyukjae Hyung,
peringatkan kepada yang lain untuk berhati-hati. Lindungi hisami kalian
baik-baik sampai waktu penyerangan tiba.”
Ekpresi Hyukjae
mengeras, dia melirik Hyunmi yang masih asyik dengan yoganya sekilas. “Arraseo.
Aku akan berusaha Kibum-ah.”
“Dan Hyukjae Hyung,”
Hyukjae yang baru saja akan memutus sambungan telepati itu mengerutkan alisnya
menunggu kelanjutan ucapan Kibum. “Kemarin aku ke perpustakaan rahasia dan
menemukan sedikit penjelasan tentang sihir aspagus.”
Tubuh Hyukjae
menegang, “Apa yang kaudapat?”
Diam beberapa
saat sebelum Kibum akhirnya kembali bersuara. “Sihir aspagus meminta
tumbal Hyung, salah satu di antara kalian harus ikut mati menemani si
iblis.”
Hyukjae
tercekat, napasnya terasa tertahan di tenggorokan. “Nu.. nugu?”
“Aku tidak
tahu, itu terjadi saat semuanya telah berakhir.” balas Kibum ragu-ragu.
Hyukjae
mendesah. Berton-ton batu serasa menghimpit hatinya mendengar penjelasan namja
yang merupakan adik Siwon itu. Dadanya sesak.
“Tapi Hyung,
karena kau mempunyai tipe sihir putih, saat sihir aspagus meminta
tumbal, kau akan tahu siapa orangnya. Jadi─”
“Arrachi,
gomawo Kibum-ah.” sela Hyukjae lalu memutus telepati mereka. Namja
itu mengusap wajah kasar sambil memikirkan percakapannya dengan Kibum barusan.
Hyukjae
tercenung, berpikir bahwa sihir aspagus memang tidak mungkin tidak
berisiko. Namja itu menghela napas lantas menenggelamkan kepalanya di
lutut. Dari awal ini salahnya, tapi kenapa harus ada yang menjadi korban?
Hyukjae
menggigit bibir bawah begitu merasa hatinya seolah diremas-remas tangan tak
berwujud. Hyukjae memasukkan tangannya ke dalam saku jins lantas menggenggam
sebuah benda di dalam sana dengan erat. Dia membutuhkan seseorang untuk menjadi
tempat sandarannya saat ini. Hyukjae membutuhkan yeojanya agar ia bisa
berkeluh-kesah tentang keadaannya saat ini. Hyukjae butuh dia.
Pelampiasan,
Hyukjae meremas benda di dalam saku jinsnya perlahan. Aku membutuhkanmu
sekarang bear, bisiknya dalam hati dengan nada perih.
***
“Han Taeyoung,
bangun sekarang!” desis Jongwoon kesal melihat Taeyoung yang tengah tertidur
pulas dengan posisi telentang menghadap langit di bukit tak jauh dari mansion
mereka.
Tadinya
Jongwoon berpikir membawa Taeyoung latihan di tempat ini akan lebih efektif dan
membuat Taeyoung yang terlihat sangat mengantuk tadi pagi menjadi segar bugar
sebab melihat pemandangan indah dari atas bukit sini, tapi nyatanya? Yeoja
itu malah khusuk tertidur setelah mendengarkan penjelasan panjang-lebar
darinya. Padahal Jongwoon bersumpah itu adalah kata-kata terpanjang yang pernah
diucapkannya selama hidup!
“Eung, sebentar
lagi Oppa!” tukas Taeyoung yang menjadikan tangannya sebagai bantal
tanpa membuka mata sedikit pun.
Jongwoon
berdecak kesal melihat kelakuan Taeyoung. Namja itu menghela napas
panjang lalu mengalihkan tatapannya pada langit yang terlihat sangat cerah saat
ini sebelum beranjak mendekati tubuh Taeyoung. Namja itu berjongkok di
dekat wajah Taeyoung, mengamati wajah pulas yeoja itu dengan kekesalan
yang tidak berubah.
“Young, kalau
kau tidak bangun kau akan tertinggal oleh teman-temanmu.” kata Jongwoon mulai
putus asa.
Setengah sadar,
Taeyoung membalas dengan tak acuh. “Siapa suruh membangunkanku pagi-pagi
sekali.”
Jongwoon
menahan dirinya untuk tidak mengikat tubuh Taeyoung dengan tali haski*
lantas menyihirnya menjadi kentang selama sehari penuh. Jongwoon juga
mengatakan kata sabar berulang-ulang dalam hatinya, cara kasar tak akan mempan
pada Taeyoung.
Seringaian
terlukis di wajah Jongwoon saat sebuah ide ampuh untuk membuat Taeyoung
terbangun melintas di otaknya. Namja itu lantas merendahkan wajahnya
hingga sejajar dengan wajah Taeyoung. Pelan, dia mulai mengeksekusi sedikit demi
sedikit jarak di antara mereka berdua hingga hidung keduanya hampir
bersentuhan.
Jongwoon
mengembuskan napasnya dengan sengaja di depan wajah Taeyoung dengan seringaian
yang masih terlukis di bibirnya.
Merasakan ada
yang bernapas di hadapan wajahnya, Taeyoung spontan mengernyit. Perasaan tak
enak mulai merayap ke dalam hatinya saat embusan napas itu semakin terasa
dekat. Taeyoung membuka matanya dengan perlahan.
“Aaaaaa!”
jeritnya secara refleks sambil mendorong tubuh Jongwoon hingga namja itu
terjatuh ke belakang. Taeyoung langsung berdiri dengan tatapan nyalang. “YAK!
PARK JONGWOON! Apa yang kaulakukan, hah?!”
Jongwoon
menggerutu tak jelas merasakan sakit di pantatnya akibat berciuman dengan
tanah. Wajahnya mendongak dan bertemu dengan wajah marah bercampur kesal milik
Taeyoung. Seringaian mau tak mau kembali terpasang secara otomatis di bibirnya
begitu tahu rencananya sukses. Bahkan double sukses. Pertama karena
Taeyoung akhirnya bangun─dan terlihat sangat segar sekarang. Kedua, karena
Taeyoung terlihat lebih kesal daripada dia tadi.
“Aku
membangunkanmu babo!” balas Jongwoon sarkatis begitu dia berdiri.
Taeyoung
mengepalkan tangan menahan emosi dan memalingkan wajah agar tak melihat wajah
menyebalkan Jongwoon. Namja itu memang sudah sangat menyebalkan dari
awal. Kalau saja penawaran Jongwoon tak semenggiurkan itu, dia pasti sekarang
tak akan ada di sini dan mengikuti semua perkataan bodoh namja itu!
“Sekarang duduk
di sana.” titah Jongwoon kemudian, tangannya menunjuk rumput hijau tak jauh
dari tempat Taeyoung berdiri sekarang. “Dan jangan coba-coba untuk tidur lagi
atau aku tidak segan-segan menciummu.” ancam Jongwoon kemudian yang membuat
Taeyoung langsung menolehkan wajah ke arahnya dengan mata melotot sempurna.
“Aku akan
membunuhmu kalau kau berani.” Taeyoung balik mengancam dengan nada serius.
Jongwoon
mencibir. “Lakukan apa yang kuperintahkan sekarang kalau kau tidak mau itu
terjadi.” ujar Jongwoon sambil memutar bola matanya jengah. Percakapan antara
dia dan Taeyoung benar-benar membosankan.
Merasa bahwa
percakapannya dengan Jongwoon semakin tak jelas, Taeyoung akhirnya memutuskan
untuk mengikuti ‘kemauan’ Jongwoon meski pun hatinya sangat enggan.
Yeoja itu
menyilangkan kaki di rumput hijau lantas mendongak menatap Jongwoon yang masih
berdiri. “Apalagi?” tanyanya ketus.
Jongwoon meraup
udara di sekitarnya dengan rakus sebelum mendudukkan dirinya tepat di hadapan
Taeyoung yang masih setia dengan wajah cemberutnya.
“Mari mulai
dengan telepati.” putus Jongwoon sebelum menjelaskan segala hal yang berkaitan
dengan telepati sejelas-jelasnya walau pun ekspresi wajah Taeyoung seolah
berkata ‘entahlah-kita-lihat-saja-nanti’.
***
“Astaga Park
Kyuhyun! Aku tidak bisa melakukannya kalau kau terus mengejekku!” hardik Saera dengan
wajah memerah menahan amarah.
Park Kyuhyun
memang benar-benar menyebalkan. Namja itu tak berhenti memasang wajah
meledek─atau wajahnya memang begitu?─padanya karena dia belum bisa menguasai
telepati yang diajarkan Kyuhyun. Hell! Memang Kyuhyun harus meledek
dengan wajah kelewat evil begitu kalau Saera belum bisa menguasainya?
Tidak, kan? Lagipula ini bukan salah Saera sepenuhnya, Kyuhyun juga ikut
mengambil bagian dalam hal ini. Kenapa? Karena telepati itu memerlukan
konsentrasi sementara Saera sejak tadi tidak bisa berkonsentrasi sama sekali
melihat wajah menyebalkan Kyuhyun. Bahkan meski dia sudah menutup mata,
bayangan Kyuhyun yang sedang meledek pun selalu terlihat!
“Babo.
Aku hanya meledekmu, bagaimana mungkin itu menganggu konsentrasimu?” tukas
Kyuhyun kesal dengan alasan tidak masuk akal Saera.
Tangan Saera
refleks tergerak ke depan dan memukul kepala Kyuhyun dengan keras. “Yak! Jangan
panggil aku babo!” teriaknya marah. “Tentu saja bisa! Wajah
menyebalkanmu itu sangat terekat kuat di otak!” sergahnya kemudian.
“Aish, beraninya
kau!” balas Kyuhyun yang emosinya langsung terpancing melihat kelakuan Saera.
Tangan Kyuhyun balas memukul kepala Saera dengan tak kalah kejam. “Alasanmu
tetap tidak masuk akal nona Han. Satu lagi, panggil aku Oppa!” desisnya
kemudian dengan nada marah yang begitu pekat.
Mata Saera
membelalak merasakan pukulan Kyuhyun. Kalau saja dia tak ingat bahwa nasib
Sungmin ada di tangan Kyuhyun dan Kyuhyun adalah penyihir, yeoja itu pasti
tak akan segan-segan untuk mengambil batu dan melemparkannya ke kepala Kyuhyun
sampai bocor. Se-ka-ra-ng ju-ga!
“Kau ingin aku
membantumu atau tidak?” tanya Saera memutuskan untuk mengeluarkan kartu As yang
dimilikinya.
Kyuhyun
menjulingkan mata mendengar ancaman Saera. Berbagai cacian dan makian yang
sudah tersusun di otaknya untuk disemburkan pada Saera terpaksa ia tekan ke
dasar lagi. “Kau gila? Tentu saja aku mau!” tukas Kyuhyun sambil mengurangi
kadar ketus dalam nada suaranya.
Saera
menyunggingkan senyum penuh kemenangan. “Kalau begitu, berhenti memasang wajah
menyebalkan di depanku.”
“Aku tidak
memasang wajah menyebalkan!” tandas Kyuhyun tidak terima. Berhadapan dengan
Saera benar-benar menghabiskan energinya. Yeoja itu selalu punya cara
membuat Kyuhyun ingin memakannya bulat-bulat.
Saera mendengus
dan memutuskan untuk tidak menjawab. Matanya kembali terpejam mencoba
berkonsentrasi untuk melakukan telepati. Meladeni Kyuhyun lebih lama akan
membuat stres yang dimilikinya bertambah besar tiap detik. Menurut Saera
Kyuhyun itu tidak bisa didefinisikan seperti apa. Wajahnya memang tampan,
sangat malah. Namun sifatnya yang seperti raja setan membuat Saera berpikir
bahwa Kyuhyun itu makhluk paling tidak normal di antara saudara-saudaranya yang
lain─walau sebenarnya Saera juga tidak tahu sifat saudara-saudara Kyuhyun
seperti apa, dia kan hanya mendengar dari cerita teman-temannya.
Lapangan rumput
hijau di tengah hutan itu selanjutnya diisi keheningan karena kedua makhluk
berbeda jenis tapi beremosi sejenis ini sedang sama-sama membisu.
Kyuhyun
mengamati Saera dari atas ke bawah dengan rahang terkatup rapat begitu yeoja
itu menutup mata. Dia tak pernah berpikir bahwa mengajari ilmu sihir pada Saera
akan terasa seperti mengajari bocah setan dari neraka. Saera benar-benar
menyebalkan, bahkan lebih menyebalkan daripada Victoria yang biasa merengek
manja padanya. Oke, tipe menyebalkan kedua yeoja itu mungkin berbeda.
Tapi judulnya tetap saja sama, menyebalkan!
“Aku bilang
berhenti memasang wajah menyebalkan.” desis Saera dengan mata yang perlahan
terbuka. Konsentrasinya kembali berceceran entah kemana karena merasakan mata
seseorang yang mengamatinya dengan tajam.
Kyuhyun
tersentak, namja itu buru-buru membuang pandangan ke samping meski dia
tak menyangka bahwa Saera lagi-lagi bisa merasakan tatapannya. Kyuhyun mencoba
mengamati sekitar hutan yang dikelilingi pohon pinus. Matanya mengedar tak
tentu arah, sama sekali tak tertarik.
Saat Kyuhyun
kembali melirik ke arah Saera, yeoja itu telah kembali menutup matanya
dengan rapat. Kyuhyun langsung terpaku melihat wajah Saera yang kali ini
terlihat begitu damai.
Angin berdesau
di sekitar mereka. Rambut Saera terbawa ke belakang akibat ajakan angin. Dan
seutas senyum perlahan terkembang di bibir Kyuhyun melihat pemandangan di
hadapannya.
Bocah neraka
ini terlihat… cantik.
***
Hyunmi
menghirup dan mengulur napas dengan lamat-lamat. Mencoba meresapi ketenangan
yang sedari tadi di bangunnya. Saat tiba-tiba bayangan wajah Ahna melintas di
kepalanya, ketenangan yang Hyunmi bangun runtuh seketika. Yeoja itu
mengepalkan tangan dengan tangis yang terancam pecah saat masa-masa bahagia
yang dia lewati bersama Ahna berputar bagai kaset rusak di kepalanya.
Kerinduan yang
bersemayan di hatinya untuk sang kakak tercinta lambat-laut bertambah besar,
menyesakkan hatinya yang sudah sesak tiap bayangan kelam itu memenuhi
kepalanya.
Ahna yang
sedang tersenyum sangat manis padanya, Ahna yang sedang tertawa, Ahna yang
memeluknya sambil menggumamkan kata ‘hwaiting’ saat dia resah akan ujian
sekolahnya, Ahna yang selalu memasakkan makanan enak-enak untuknya, dan Ahna
yang melindunginya dari anak-anak berandalan dengan bermodal sabuk hitam taekwondo.
Hyunmi mencapai
titik akhir, air mata perlahan meleleh melewati sela-sela matanya yang tertutup
rapat saat bayangan itu semakin membuncah tak terkendalli. Yeoja itu
menggigit bibir, mencoba menekan perih. Namun saat dendam tentang namja
itu mencuat ke permukaan, tangisnya berhenti digantikan dengan emosi yang
berlomba-lomba untuk menggunung.
Dendam itu
membara, meluap hingga Hyunmi perlahan tenggelam. Pelan-pelan, dia mulai tidak
bisa merasakan apa-apa lagi selain hening.
“AKH!”
Hyukjae yang
sedang melamun memikirkan risiko sihir aspagus tersentak saat tiba-tiba
saja sinar berwarna hitam menyerangnya. Namja itu terpental hingga
membentur dinding lantas memandangi Hyunmi yang tengah melayang dengan mata
tertutup dan di kelilingi sinar hitam.
Dia mengumpat
dalam hati mengetahui bahwa ia terlambat menekan kekuatan Hyunmi, Hyukjae
bangkit sambil memegang ulu hatinya yang berdenyut nyeri. Dia harus segera
menekan kekuatan Hyunmi kembali jika ingin dirinya baik-baik saja.
Pelan, namja
itu menggerakkan tangannya hingga cahaya putih susu keluar mengelilingi
tubuhnya dan dia terangkat hingga sejajar dengan Hyunmi. Saat Hyukjae baru saja
akan maju untuk menekan kekuatan Hyunmi menggunakan sihir calsm, namja
itu terpental ke dinding sebab Hyunmi menyerang kembali.
Hyukjae
mengerang, merasakan tulang di punggungnya remuk. Dia lantas kembali
mengeluarkan cahaya putih dari tangannya, cahaya putih itu pelan-pelan
membangun dinding kaca tipis yang bisa melindunginya sementara waktu sebab
Hyukjae perlu merekatkan kembali tulang-tulangnya yang patah.
“Sial!” desis
Hyukjae merasa perih yang menggerogotinya hingga ke jantung saat sihir heavy*
bekerja. Hyukjae sesekali menatap ke arah Hyunmi yang masih mencoba memecahkan
dinding pelindungnya. Matanya membulat melihat retakan-retakan kecil yang mulai
terbentuk akibat kekuatan Hyunmi sementara dia sendiri belum merekatkan semua
tulangnya. Dan saat itulah percakapannya dengan Kibum kembali terngiang membuat
Hyukjae─tanpa memikirkan apa-apa lagi─segera menghubungi ketiga saudaranya
untuk memberitahukan kabar tersebut.
“Hyung,
Hae, Kyu, jaga hisami kalian baik-baik. Iblis itu mengirimkan
pengikutnya untuk membunuh para hisami. Aku─” telepati Hyukjae
terputus saat tubuhnya melayang ke udara dengan Hyunmi beberapa meter di
depannya.
Hyunmi melayang
mendekatinya hingga wajah mereka hanya terpaut beberapa senti, senyum
mengerikan terukir di bibir yeoja itu saat perlahan dia membuka mata dan
mendapati Hyukjae dalam keadaan tidak berdaya. Mata Hyunmi gelap total. Hitam.
Tak ada setitik cahaya pun di dalamnya, yeoja itu sepenuhnya dikuasai
oleh sihirnya.
“He-llo
Pa-rk Hyuk-Jae!” desis Hyunmi sembari mengembuskan napasnya di depan wajah
Hyukjae dengan sengaja.
Hyukjae
bergidik begitu merasakan aura jahat yang keluar lewat embusan napas Hyunmi. Namja
itu menatap tajam yeoja di depannya mencoba menggertak.
“Kembalikan
Hyunmi sekarang.” seru Hyukjae tajam.
Hyunmi tertawa,
kembali melayang-layang di sekitar Hyukjae. Setelah berputar beberapa kali, yeoja
itu mengangkat dagu Hyukjae dengan tangan kanannya hingga Hyukjae mendongak
menatap mata kelamnya yang penuh aura hitam.
“Memerintahku, eo,
Pangeran?” ejeknya sebelum sebuah sinar merah menyelimuti tangan kanannya yang
tengah memegang dagu Hyukjae. Sinar itu lamat-lamat merambat dan menjilat dagu
Hyukjae membuat namja itu mengerang kesakitan begitu merasakan kulitnya
terkelupas.
“Le-pas-kan!”
rintih Hyukjae di sela-sela kesakitannya, dia mencengkeram tangan Hyunmi lantas
mengeluarkan sinar biru air untuk melawan sinar merah Hyunmi.
Tanpa belas
kasihan Hyunmi membanting tubuh Hyukjae ke lantai begitu sinar biru Hyukjae
merambat di tangannya. Yeoja itu mengibas-ngibaskan tangannya yang penuh
dengan sinar biru sebelum tersenyum lebar melihat Hyukjae terbatuk-batuk mengeluarkan
darah merah di bawah sana dengan dibaluri darah di sekitar bajunya.
Hyunmi turun ke
bawah lantai, 5 meter dari tempat Hyukjae bersimpuh dengan senyum lebar yang
setia menghiasi bibirnya. Dia berjalan perlahan-lahan mendekati Hyukjae
seolah-olah Hyukjae memang tak akan bisa pergi kemana-mana lagi─dan faktanya
Hyukjae memang tidak akan bisa meloloskan diri dengan luka separah itu.
“Sakit?” tanya Hyunmi
dengan nada kasihan yang dibuat-buat saat dia membuat Hyukjae berdiri dan
kembali memegang dagu namja itu hingga Hyukjae tak bisa menatap kemana
pun selain dirinya.
Hyukjae menatap
Hyunmi benci. Kesakitan yang dirasakan tubuhnya akibat bantingan juga sinar
merah tadi─yang membuat dagunya terkelupas dan beberapa organ dalamnya
mengalami kerusakan─membuat dia kesulitan menggerakkan tangannya untuk membuat
sihir pelindung. Hyukjae mencoba mengingat-ngingat cara lain menekan sihir yang
tidak bisa dikendalikan, satu cara melintas di otaknya tapi Hyukjae menepis
dengan cepat sebelum sebuah suara menginterupsi kegiatan berpikirnya.
“Tidak
menjawab?!” bentak Hyunmi. “Baiklah selamat menjalani hidup baru bersama─”
Hyukjae segera
mencium bibir Hyunmi sebelum yeoja itu menyelesaikan kalimatnya.
Perlahan dia menyerap semua aura hitam yang mengelilingi tubuh Hyunmi lewat
tautan bibir mereka hingga aura itu menghilang dan Hyunmi pingsan menimpa
tubuhnya.
Sambil
menyandarkan tubuhnya dan tubuh Hyunmi di dinding, Hyukjae mengumpat dalam hati
begitu sadar dia menggunakan cara ‘itu’ untuk mengusir sihir Hyunmi secara
paksa.
Cara kedua
menekan kekuatan penyihir yang kehilangan kendali: menyerap semua energi
sihirnya lewat mulut.
***
Hyerin
berlarian di pinggir pantai dengan kaki telanjang. Senyum tak henti terpasang
di wajahnya. Yeoja itu menikmati momen yang ada di hadapannya saat ini.
Dia menikmati semilir angin yang tercium asin, menikmati butiran pasir halus
yang menyentuh kakinya, juga menikmati lambaian ombak yang bergelombang kecil.
Selama di Jepang, Hyerin tak pernah pergi ke pantai sekali pun─berarti itu sudah
hampir tiga tahun. Dia di Jepang untuk menyelesaikan kuliahnya, dan kerjaannya
selain bekerja di kafe tentu saja belajar. Hyerin hanya pergi keluar bersama
sahabat baiknya sesekali, Hyerin bahkan dapat menghitung dengan jari saking
jarangnya dia bepergian.
Jadi untuk
sekarang, berhubung dia sudah bisa menguasai telepati dan Donghae
mengizinkannya beristirahat sejenak, Hyerin memutuskan untuk menikmati suasana
pantai ini. Hyerin berhenti saat berlari saat melihat sesuatu di dekat pohon
bakau tak jauh dari tempatnya sekarang. Penasaran, Hyerin berjalan mendekat
lalu memungut benda itu. Senyumnya langsung melebar melihat cangkang kerang
besar─namun sangat cantik─lah yang ia temukan.
“Oppa!
Lihat apa yang aku temukan..” seru Hyerin riang ketika dia membalikkan badan
untuk melihat Donghae.
Di kejauhan
sana, Donghae tersenyum kecil melihat tingkah Hyerin. Dia merasakan hatinya
menghangat melihat ekspresi ceria yang terpasang di wajah Hyerin. Menggunakan
teleportasi, Donghae dalam sekejap sudah ada di hadapan Hyerin membuat yeoja
itu cemberut.
“Yak! Oppa!
Kau curang! Jangan membuatku iri dengan teleportasimu.” rajuk Hyerin.
Donghae
tertawa. Senang melihat air muka Hyerin yang dapat berubah dalam hitungan
detik. Dia mengulurkan tangannya dan mengacak rambut Hyerin halus. “Belajarlah
lebih giat.” balas Donghae dengan nada meledek.
Bibir Hyerin
semakin maju, “Aku tidak mau bicara lagi denganmu.” katanya ketus lalu
membalikkan badan ke arah air laut.
Donghae
terkekeh pelan, “Padahal tadinya aku ingin memberikan ini padamu lho. Sayang
sekali ya..” sahut Donghae dengan nada yang dibuat sedih. Tangannya yang
mengepal terlihat menggelembung, mengidentifikasikan ada sesuatu di dalam sana.
Hyerin mau tak
mau penasaran juga dengan perkataan Donghae, dia melirik kepalan tangan Donghae
lewat ekor matanya. “Apa itu?” tanyanya dengan nada yang dibuat setak acuh
mungkin.
Donghae
menyeringai mengetahui Hyerin menangkap umpannya. “Mollayo, karena kau
tidak mau bicara padaku, akan aku berikan benda ini pada yang lain saja.”
tukasnya kemudian memasukkan kepalan tangannya ke saku jaket dengan
lamat-lamat.
“ANIYO!”
teriak Hyerin. Dia segera merebut benda yang ada di tangan Donghae.
Kalung dari
kerang. Terlihat sederhana tapi luarbiasa indah. Hyerin mengatupkan mulutnya
yang menganga melihat keindahan kalung itu. Dia refleks memeluk Donghae dengan
senyum lebar di wajahnya.
“Ini indah
sekali Oppa, gomawo..” Donghae membeku dengan pelukan tiba-tiba Hyerin,
dia bahkan tak bisa berkata-kata saking terkejutnya.
Seakan
tersadar, Hyerin segera melepaskan pelukannya dengan semburat merah yang
menyembul tipis di pipinya. Yeoja itu tertunduk. “Mianhae, itu
refleks Oppa.” mohonnya gugup.
Tersadar,
Donghae langsung memasang senyum geli di wajahnya. “Cheonmaneyo, Hyerin-ah.”
Setelah itu
tidak ada percakapan lagi di antara keduanya. Hyerin sibuk memandangi kalung
itu dengan ekspresi kagum─seakan-akan itu benda terindah yang pernah diberikan
seseorang kepadanya─sedangkan Donghae sibuk menenangkan pikirannya dengan
menatap ke arah laut lepas.
“Hyung,
Hae, Kyu, jaga hisami kalian baik-baik. Iblis itu mengirimkan
pengikutnya untuk membunuh para hisami. Aku─”
“Hyukjae?”
Donghae berseru panik memanggil nama saudaranya itu ketika sambungan telepati
terputus tiba-tiba. “Hyukjae? Hyuk? Jawab aku?! Kau baik-baik saja?! Hyuk?!”
“HYERIN!”
Donghae berteriak sambil menarik Hyerin ke dalam pelukannya saat gulungan ombak
besar melaju dengan sengaja ke arah Hyerin. Donghae melindungi dirinya dan
Hyerin dengan membuat perisai pasir hingga membuat mereka berada dalam gua
pasir.
Gulungan ombak
yang seakan memusnahkan terdengar dari dalam gua membuat Hyerin mengeratkan
pelukannya pada Donghae. Kalau saja Donghae tidak menariknya, Hyerin pasti
sudah mati tersapu ombak. Membayangkannya saja sudah membuat Hyerin bergidik
ngeri.
Wajah Donghae
mengeras, rahangnya terkatup rapat dengan kejadian yang baru saja mereka alami.
Sedetik saja dia telat menarik Hyerin dan membangun perisai pasir ini, yeoja
itu pasti tinggal nama sekarang.
Perkataan
Hyukjae lewat telepati tadi benar-benar terbukti kebenarannya. Donghae
menajamkan telinga untuk mendengarkan gulungan ombak yang seakan mencoba
meruntuhkan perisai pasirnya dengan waspada.
“Mwoya igeo,
Oppa?” bisik Hyerin.
“Gwaenchana,
Hyerin-ah. Aku di sini untuk melindungimu.” bisik Donghae lembut.
Dada Hyerin
bergemuruh mendengar kalimat Donghae yang begitu manis ditambah dengan nada
suaranya yang juga begitu lembut, namun yeoja itu segera menepis segala
pemikiran yang ada di otaknya tentang gemuruh kecil itu. Hyerin hanya dapat
mengangguk sambil membenamkan wajahnya lebih dalam ke dada Donghae. Tangan
Hyerin menggenggam kalung pemberian Donghae dengan erat sementara batinnya
pelan-pelan menjadi tenang akibat kehangatan yang disalurkan tubuh Donghae yang
tengah mendekapnya erat.
Donghae
menggeram dalam hati begitu merasakan perisai pasir yang dibuatnya mulai
bergetar, dia mengeratkan dekapannya di tubuh Hyerin dan kembali berkata pada yeoja
itu setelah mengambil keputusan. “Kita pulang sekarang.”
Lima detik
berikutnya, sinar berwarna light blue mengelilingi tubuh Donghae dan
Hyerin.
Bersamaan
dengan hancurnya perisai pasir yang melindungi mereka, Donghae dan Hyerin
menghilang meninggalkan sepasang mata kelam yang menatap perisai pasir yang
telah hancur dengan tatapan tajam─seakan tatapan itu bisa menghancurkan apa
saja di hadapannya.
***
“Aish, kau
tidak bisa memasak? Mengapa rasa semua makanan ini hambar?” keluh Kyuhyun
sambil meletakkan semua bekal makan siang yang tadi pagi dibuat oleh Saera
sebelum mereka berdua berangkat.
Mereka
berdua─maksudnya Kyuhyun dan Saera─memang memutuskan untuk istirahat sejenak
setelah Saera berhasil menguasai telepatinya. Dan karena hari sudah beranjak
siang, Saera memutuskan untuk membuka bekal makan siang yang dia buat tadi
pagi.
“Yak! Seenaknya
saja mengatai makananku hambar, ini enak!” sergah Saera sinis.
Kyuhyun
tersenyum sinis sambil menatap mata Saera tajam. “Jeongmalyo? Lalu
mengapa kau tak menghabiskan makananmu dengan lahap seperti kemarin malam?”
Wajah sinis
Saera perlahan-lahan berubah menjadi wajah panik. Yeoja itu menyimpan
bekalnya di meja kayu buatan Kyuhyun─dengan sihir tentu saja─lantas mencoba
menutupi kepanikannya dengan bersedekap di depan dada.
“Aku sedang
diet, Tuan. Dan aturan pertama orang diet adalah tidak boleh makan terlalu
banyak.” elaknya sambil mengembangkan senyum kemenangan pelan-pelan.
Kyuhyun tertawa
terbahak-bahak sampai berguling di atas rumput mendengar alasan Saera. Kalau
sudah mau kalah yeoja itu memang punya seribu satu alasan untuk mengelak
meski pun alasannya kadang di luar nalar. Walau baru tadi malam membawa Saera,
Kyuhyun sudah bisa menebak karakter yeoja itu seperti apa.
“YAK! YAK! Kau
menyebalkan! Berhenti tertawa!” teriak Saera tak terima ditertawakan Kyuhyun.
Wajahnya sudah memerah sampai ke telinga.
Kyuhyun benar,
rasa makanan yang dibuat Saera tidak enak sama sekali. Hambar.
Baik, Saera
memang tidak pandai memasak. Namun mengakui hal itu di depan Kyuhyun sama saja
dengan membunuh harga dirinya yang setinggi langit itu. Cih, sampai kapan pun
Saera tak akan pernah mau mengakui kelemahannya di depan Park Kyuhyun sang devil
sejati. Dia pasti jadi bahan olokan setiap pertemuan mereka.
Sementara
Kyuhyun sama sekali tak mengindahkan teriakan Saera. Namja itu terlalu
larut dalam tawanya. Sebelum bertemu Saera, Kyuhyun memang jarang sekali
tertawa, tapi semenjak yeoja itu hadir di kehidupannya, Kyuhyun selalu
punya hal untuk ditertawakan. Sadar tidak sadar Saera memang membawa warna
tersendiri untuk kehidupannya.
“Aish!” keluh
Saera tak terima sebab Kyuhyun tak berhenti tertawa, yeoja itu menendang
kaki Kyuhyun keras lalu berjalan ke arah Barat dengan bibir maju sempurna.
Meninggalkan Kyuhyun yang masih asyik dengan dunia kecilnya.
Saat Saera
sudah berjalan jauh, barulah tawa Kyuhyun mereda. Namja itu duduk di
atas rumput sambil berusaha meredam tawanya yang masih ingin menyembur keluar.
“Hyung,
Hae, Kyu, jaga hisami kalian baik-baik. Iblis itu mengirimkan
pengikutnya untuk membunuh para hisami. Aku─”
Kyuhyun
tersentak saat Hyukjae melakukan telepati secara tiba-tiba dengannya. “Hyukjae,
Hyukjae!” panggil Kyuhyun begitu merasa telepati keduanya terputus secara
sepihak. Kyuhyun merasakan firasat buruk terhadap Saera dan juga Hyukjae. Namja
itu berkali-kali mencoba menghubungi Hyukjae kembali untuk meminta penjelasan
lebih lanjut─juga memastikan bahwa Hyukjae baik-baik saja─tapi mereka tak
pernah tersambung kembali. Kyuhyun melirik sekitarnya, kepanikan merambati
hatinya dengan cepat saat tak melihat Saera di mana pun, namja itu
segera berlari ke arah Barat Saera belum terlalu jauh dari sini. Jika apa yang
dikatakan Hyukjae tadi benar makan saat ini Saera ada dalam bahaya.
Sementara di
sisi lain, Saera berjalan makin masuk ke dalam hutan pinus dengan gerutuan yang
setia lolos dari bibirnya memikirkan sikap Kyuhyun tadi. Dia terus merutuki namja
bernama Kyuhyun itu yang sama sekali tak ada manis-manisnya saat berbicara
dengan dia.
Kaki Saera
berhenti melangkah di depan sebuah pohon besar yang tampak sangat tua dan
rindang. Saera menatap pohon di depannya lantas mengenyit saat merasa batang
pohon itu bergerak.
“Saera AWAS!”
Saera menatap horor pohon di depannnya yang tiba-tiba saja akan tumbang saat
suara Kyuhyun terdengar, dipejamkannya mata rapat-rapat tak ingin melihat apa
yang akan terjadi padanya.
Saera
mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali melihat pohon besar itu tumbang
beberapa senti di hadapannya, yeoja itu melirik ke kiri dan jantungnya
langsung melompat melihat wajah Kyuhyun sangat dekat dengannya. Dia
memperingatkan dirinya sendiri agar tak lupa bernapas.
“Shit!
Telat satu detik saja nyawamu bisa melayang.” kata Kyuhyun kesal. “Dengar!
Jangan pernah menghilang dari pandangan mataku, arraseo?” tanyanya penuh
penekanan.
Saera
mengangguk tak mengerti, dia memandang ngeri pada pohon di hadapannya. Saat itulah sesosok bayangan
hitam muncul dari atas langit membuat Kyuhyun sontak mengeratkan rangkulannya
pada pinggang Saera hingga tak ada jarak yang tersisa di antara mereka. Dari
tangannya keluar cahaya light blue yang pelan-pelan membentuk kaca
tipis. Sihir pelindung.
Kyuhyun
memandang tajam sosok hitam di hadapannya. “Pergi!” bentak Kyuhyun, tangannya
yang tak merangkul pinggang Saera ia angkat hingga memperlihatkan kobaran api
di sana.
Sosok itu
menyunggingkan senyum sinis. Lantas menyerang kaca tipis yang dibuat Kyuhyun
berulang-ulang dengan cahaya cokelatnya. Kyuhyun tentu saja tak tinggal diam, namja
itu juga mencoba menyerang sosok hitam itu dengan api yang telah dibuatnya.
Sayang sosok itu selalu bisa menghindar. Gerakan Kyuhyun juga jadi terbatas
sebab harus melindungi Saera.
“Kyu, ada apa?”
Saera berbisik lirih di tengah ketakutan yang membelenggunya.
Kyuhyun menatap
Saera sekilas sebelum sebuah ide melintas di otaknya. “Dengar, aku akan
membekukan waktu selama dua detik dan seranglah sosok itu, ne?”
Kyuhyun
melepaskan rangkulannya dari pinggang Saera lantas merentangkan kedua tangannya
untuk melakukan sihir stipo*, dia berkonsentrasi penuh untuk menggunakan
sihir itu sementara Saera sama sekali tak mengerti dengan ucapanya tadi.
Kyuhyun gila?
Saera bahkan tidak tahu bagaimana caranya mengeluarkan kekuatannya.
“Kyu, aku
tidak─”
“SEKARANG!”
teriak Kyuhyun saat sosok bayangan itu membeku. Saera tak tahu apa yang
terjadi, akan tetapi mendengar teriakan Kyuhyun membuat dia secara spontan
memejamkan mata hingga sinar berwarna dark blue melesat dari tubuhnya
dan langsung membakar sosok hitam di sana. Kesadaran Saera langsung menghilang
begitu dia selesai menggunakan kekuatannya. Yeoja itu pingsan dalam
dekapan Kyuhyun.
***
Jongwoon
melirik Taeyoung yang sedang asyik melamun─setelah menyelesaikan pelajaran
pertama mereka tentang telepati─dengan jengah. Namja itu memang memberi
waktu istirahat sebelum mereka melanjutkan ke teleportasi, akan tetapi yang
Jongwoon maksud bukan seperti ini. Taeyoung terlalu banyak berimajinasi, ia tak
pernah berhenti untuk bermimpi.
Setelah menarik
napas panjang sekali, Jongwoon mengarahkan pandangannya pada awan putih di atas
sana yang terlihat tenang. Lambat laun pikirannya menerawang memikirkan tentang
bagaimana nasib Negerinya saat ini.
Di antara
saudara-saudaranya yang lain, tentu dialah yang memikul beban paling berat atas
kejadian ini. Jongwoon Putera Mahkota. Dari kecil ia sudah dipersiapkan dengan
matang untuk memimpin dan melindungi Negerinya, namun pada kenyataannya apa
yang telah dia pelajari sedari kecil hanya sia-sia belaka sebab Jongwoon kini
gagal.
Jongwoon
tersedot kembali ke alam nyata saat mendengar lengkingan histeris disertai
lompatan tubuh Taeyoung ke belakang tubuhnya. Namja itu tersentak pelan
saat terjaga dari lamunan panjang tentang Negerinya lantas menatap aneh pada
Taeyoung yang sedang bersembunyi di tubuhnya sembari memegangi ujung kausnya
erat-erat.
“Wae?” tanya
Jongwoon kelewat datar, balas dendam atas perlakuan tak acuh Taeyoung sedari
tadi.
Tak peduli pada
Jongwoon yang terlihat sangat tak acuh, Taeyoung mengarahkan telunjuknya ke arah
rerumputan tak jauh dari Jongwoon dengan ketakutan yang bersinar terang di bola
matanya. “Itu… ad.. ada.. ulat.. Oppa.” jawab Taeyoung yang nyaris
terdengar seperti bisikan.
Terperangah
beberapa saat, gelak tawa akhirnya meluncur dari sela-sela bibir Jongwoon
mendengar alasan Taeyoung. Namja itu mengurai pegangan tangan Taeyoung
di kausnya sambil beranjak mendekati ulat bulu yang jadi pokok permasalahan
Taeyoung. Tawa Jongwoon makin terdengar keras saat dia mengacungkan ulat bulu
itu ke hadapan wajah Taeyoung dan melihat mata Taeyoung berair.
“OPPA!
SINGKIRKAN ITU!” teriak Taeyoung histeris. Dia menyembunyikan wajah di balik
tangan. Bagi Taeyoung, ini-sama-sekali-tidak-lucu!
“Aniyo,
aku tidak mau.” elak Jongwoon dengan senyum jail di wajahnya, Jongwoon sadar
ini kali pertama dia merasakan bagaimana tertawa selepas ini di hadapan orang
lain, tapi toh Jongwoon menikmatinya. Dia sangat senang mengetahui kalau yeoja
segalak Taeyoung sangat takut pada ulat bulu. That’s weird!
“Oppa..
aku tidak mau. Hiks..” air mata menetes dengan sendirinya saat Taeyoung melihat
Jongwoon makin mendekatkan hewan menjijikkan itu padanya. Yeoja itu
berjongkok lantas terisak-isak saking takutnya.
Tak dinyana,
Jongwoon merasa kasihan juga melihat Taeyoung menangis. Namja itu
menyingkirkan ulat bulu di tangannya dan ikut berjongkok di hadapan Taeyoung.
“Stt. Mianhae Young-ah. Uljima, ne?” bujuk Jongwoon sambil
mengelus punggung Taeyoung hati-hati. Tak mendapat respons apa pun yang berarti
dari Taeyoung, Jongwoon berdecak─benar-benar tak mengerti mengapa yeoja
seperti Taeyoung takut pada ulat bulu. “Young, itu hanya hewan kecil. Kau tidak
perlu takut, sungguh.”
Taeyoung
mengusap air matanya dengan kasar, sejurus kemudian yeoja itu telah
memandang Jongwoon dengan amarah yang tergambar jelas di bola matanya. Jongwoon
bergidik merasakan aura buruk dari Taeyoung. “Tapi hewan kecil itu membuat─”
“Geurae,”
sela Jongwoon cepat-cepat sebelum aura buruk itu bertambah pekat. “Mianhae,
ne? Aku janji tidak akan mengulanginya lagi.”
Taeyoung baru
saja akan membuka mulut untuk membalas perkataan Jongwoon saat angin dingin
tiba-tiba saja berembus ke arah mereka. Yeoja itu tersentak merasakan
angin dingin yang membelai kulitnya terasa lebih dingin daripada es di musim
dingin sekali pun. Taeyoung mengusap tengkuknya yang bergidik.
Jongwoon
menggertakkan gigi merasakan angin itu. Sebagai seorang penyihir, dia tahu
jelas bahwa angin yang baru saja berembus itu tidak normal. Jongwoon tak tahu
apa yang sebenarnya tengah mengintai mereka, tapi dia tahu benar bahwa itu
sesuatu yang tidak baik.
Jongwoon
berdiri, memandang sekitar dengan waspada. “Young, sembunyi di belakang
punggungku.” titah Jongwoon tegas.
Walau masih ada
kesal yang tertanam, Taeyoung tak dapat mengelak bahwa ada takut yang menyelip
ke hatinya. Taeyoung tak bodoh, walau pun dia tak tahu apa-apa mengenai sihir,
Taeyoung tahu bahwa angin yang baru saja berembus bukan angin biasa. Maka tanpa
banyak berdebat, Taeyoung berdiri dan bersembunyi di belakang punggung
Jongwoon.
“Siapa pun di
sana, keluar!” teriak Jongwoon lantang yang dibalas dengan desauan angin
semakin kencang. Jongwoon menyelipkan tangannya di sela-sela jari Taeyoung dan
menariknya ke depan─untuk mengantisipasi hal apa pun yang akan terjadi nanti─hingga
wajah yeoja itu menempel di punggungnya.
Sesaat sebelum
cahaya abu-abu menyerang mereka, Jongwoon membangun pelindung berwarna light
red di sekeliling tubuhnya dan Taeyoung. Dan saat itulah dia mendengar
suara Hyukjae di kepalanya.
“Hyung,
Hae, Kyu, jaga hisami kalian baik-baik. Iblis itu mengirimkan
pengikutnya untuk membunuh para hisami. Aku─”
“Hyuk?!”
Jongwoon mencoba memanggil Hyukjae, namun tak ada balasan. Kecemasan
menyelimuti hatinya tapi Jongwoon berusaha keras berpikir bahwa Hyukjae
baik-baik saja dan dia harus fokus pada keadaannya dan Taeyoung saat ini.
SRET!
Belasan kilat menyerang pelindung yang dibuat Jongwoon. Tubuh Taeyoung
bergetar, ketakutan merajai hatinya hingga ia nyaris jatuh karena lemas kalau
saja Jongwoon tak menggenggam erat jemarinya.
“Tenanglah
Young, aku di sini menjagamu.” kata Jongwoon lembut berusaha menenangkan
Taeyoung yang bergetar ketakutan di belakangnya, dia pelan mengalirkan kekuatan
menenangkan yang dimilikinya ke tubuh Taeyoung hingga tubuh yeoja itu
berhenti bergetar dan merileks. Mata Jongwoon mencari-cari sesosok bayangan di
antara pepohonan.
Ketika Jongwoon
menemukannya, namja itu tak segan-segan meluncurkan aksi balasan dengan
mengirimkan sihir delks* hingga sesosok bayangan itu hancur menjadi debu
dalam sekejap. Taeyoung terpana menyaksikan bagaimana debu itu berterbangan tertiup
angin dari balik punggung Jongwoon.
Saat Jongwoon
berbalik ke arahnya tanpa melepaskan tautan tangan mereka dan mata keduanya
bertemu dalam kesunyian, Taeyoung bisa merasakan sesuatu di dalam dirinya
bergetar. Mata Jongwoon seakan menyurungnya, membuat yeoja itu bergeming
sedikit pun. Jongwoon merasakan hal yang sama, namun namja itu cepat
mengendalikan diri setelah menghela napas sekali. Jongwoon mendekat, menarik
Taeyoung hingga pipi yeoja itu menyentuh dadanya lantas menghilang dalam
sekian detik untuk kembali ke mansion.
TBC
cuap-cuapnya, gatau kapan di post lagi. Sibuk :P
yg ga ngerti arti sihirnya tanyain aja sama aku, sori ga sempet bikin note :D
Tidak ada komentar:
Posting Komentar