Entri yang Diunggulkan

Series Recommendations! 🎥

Hi, happy Wednesday all! So decided to post my own personal series. I usually dont like watching movie, so because i watched those series ...

Minggu, 09 September 2012

Brotherhood, Magic, and... Love (Four)


FOUR


“L
AMA sekali, Hyukjae!” desis Kyuhyun menyambut kedatangan Hyukjae dan Hyunmi di ruang tengah mansion yang mereka tempati.

Jongwoon, Donghae, dan Kyuhyun memang sudah sampai hampir satu jam yang lalu. Bahkan Taeyoung, Hyerin, dan Saera pun sekarang tengah beristirahat untuk persiapan hari esok. Hanya Hyukjae dan Hyunmi yang belum datang hingga ketiga namja itu terpaksa menunda rapat mereka.

Membalas penyambutan Kyuhyun, Hyukjae hanya mendelik sebelum mengempaskan pantatnya di sofa, meninggalkan Hyunmi yang menatap bingung ke arah mereka berempat. “Mianhae, ada sedikit masalah untuk membawa yeoja itu.”

Jongwoon menjentikkan jari hingga sebatang lilin yang menyala di meja melayang mendekati Hyunmi. “Kau, ikuti lilin itu. Dia akan membawamu ke kamar. Kalau kau ingin bertanya, tanyakan saja pada lilin itu.”

Tanpa banyak bertanya atau merasa ketakutan, Hyunmi mulai menaiki tangga mengikuti lilin itu ditemani tatapan empat pasang mata dengan sinar berbeda.

Black.” seru Donghae tiba-tiba begitu Hyunmi menghilang. “Sihir yeoja itu black, kau harus hati-hati, Hyuk-ah.” imbuhnya sambil menatap mata Hyukjae tajam.

Hyukjae mengedikkan bahunya santai. “Aku tahu, Kang Hyunmi memang mempunyai sihir black. Tipe pembunuh dan pembangkit.” tuturnya. “Bagaimana dengan hisami kalian?”

Kyuhyun mendengus, dia menggerakkan tangannya membawa segelas anggur merah dari meja. “Hisamaku bernama Han Saera, sihirnya dark blue.” katanya tak acuh sambil menyesap anggur merah itu sesekali. “Melindungi dan menyerang.”

“Han Taeyoung, dark red.” sahut Jongwoon, jemarinya memainkan bola api dengan santai sebelum melempar bola api itu ke perapian hingga perapian menyala. “Penghancur dan pembangun.”

Donghae tersenyum tipis saat mata saudara-saudaranya menatap ke arahnya, penasaran. “Well, Han Hyerin tipe dark green. Sihir penyembuh dan perusak..” ujarnya tenang lantas menatap satu persatu saudaranya dengan tatapan penuh makna. “Dan apa kalian tidak menyadari sesuatu?”

Mendengus, Kyuhyun menyimpan anggur merahnya kembali lalu memainkan PSP hitamnya. “Geurae. Tipe sihir mereka sangat berlawanan dengan sihir kita dan sihir aspagus sepertinya memang membutuhkan keseimbangan antara pengguna sihir berlawanan. Ini konsep yin dan yang.” jawabnya yakin.  “Aku ke kamar, butuh mental untuk menghadapi bocah itu esok pagi.” tambahnya kemudian lalu melenggang pergi dari ruangan.

Yin dan yang, ini akan sulit. Kita harus benar-benar menyatu dengan para hisami itu,” keluh Jongwoon, “Donghae-ya, Hyukjae-ya, Hyung istirahat duluan, ne?”

Tanpa menunggu anggukan dari dua dongsaengnya, Jongwoon beranjak meninggalkan kedua orang itu yang kini terdiam dengan pikiran masing-masing.

“Hae, kau merasakannya?” tanya Hyukjae tiba-tiba dengan nada ambigu.

Nde, para hisami itu berbahaya. Mereka bisa menjadi musuh dalam selimut kalau mereka sampai menyadari sesuatu.” balas Donghae, nada bicaranya serius. Berbeda dengan Donghae yang biasanya tenang dan terkesan kekanak-kanakan.

Hyukjae mengangguk, bola mata cokelat pekatnya memancarkan sinar gelisah. “Kalau kita gagal mengendalikan para hisami, sihir aspagus ini akan menghancurkan segalanya. Termasuk… dunia manusia.”

“Mungkin karena alasan inilah sihir aspagus sangat terlarang.”

Yang terjadi selanjutnya di ruangan itu hanya hening. Keheningan yang lama-lama terasa seperti mencekik begitu perkiraan demi perkiraan mampir ke otak mereka.

***

Annyeong haseyo.” sapa Hyunmi begitu mendapati bahwa di kamar yang sangat luas ini ada 3 yeoja lain yang tengah sibuk dengan kegiatan masing-masing.

Ketiga yeoja itu sontak menoleh ke arah pintu begitu mendengar suara Hyunmi, ekspresi berbeda-beda terpeta di wajah ketiganya. Ada Saera yang hanya memandang Hyunmi sekilas lalu kembali sibuk dengan ponselnya─menghubungi Hyoseo, ada Taeyoung yang melirik Hyunmi sebentar dan kembali larut dalam dunia imajinasi kecilnya, dan ada Hyerin yang agak memperhatikan Hyunmi─yeoja itu tersenyum tipis sebelum kembali melihat ke luar jendela.

Hyunmi menelan ludah melihat reaksi yeoja-yeoja itu, dia melirik ke arah lilin yang masih setia mengikutinya, bertanya segala sesuatu dengan nada pelan. Setelah merasa pertanyaannya terjawab semua, Hyunmi masuk ke dalam kamar. Dia duduk di satu-satunya ranjang yang tersisa.

“Eum, kalian berasal dari mana?” tanya Hyunmi mencoba memulai percakapan.

Hening. Astaga! Hyunmi ingin sekali menggelamkan kepalanya ke dalam air melihat teman sekamarnya yang kelewat cuek seperti ini. Sambil menahan jengkel, Hyunmi maju ke tengah-tengah kamar.

“YAK! Bisakah kalian lebih sopan sedikit dengan menjawab pertanyaanku? Aku lebih tua dari kalian!” pekiknya kesal yang kali ini sukses mendapat perhatian penuh dari ketiga yeoja itu.

“Yak! Eonni, tidak usah memekik seperti itu,” balas Taeyoung kesal, “kau menghancurkan imajinasi indahku Eonni.” keluhnya lagi sebelum berjalan menghampiri Hyunmi dan menjabat tangannya. “Han Taeyoung imnida, dari Seoul, dibawa oleh Jongwoon Oppa yang memiliki ekspresi paling sedikit.”

Hyerin yang ada di belakang Taeyoung tertawa mendengar perkataan yeoja itu tentang Jongwoon. “Hyerin imnida eonni, Tokyo, aku dipaksa ikut oleh Donghae Oppa yang mirip ikan.” katanya sambil terkikik lalu berhigh five ria bersama Taeyoung.

“Wajahmu lucu sekali Eonni,” celetuk Saera tiba-tiba melihat Hyunmi yang menganga. “Saera imnida, dari Italia, diseret Raja neraka Kyuhyun ke sini.”

“Yak! Kalian mengerjaiku, eo?” tanya Hyunmi sambil merengut kesal setelah mengatupkan mulutnya.

Ketiga yeoja di hadapannya tertawa-tawa, bahkan Taeyoung nyaris tersedak saking kerasnya tertawa.

Mianhae Eonni, awalnya kami memang canggung, apalagi aku yang sangat sulit beradaptasi. Tapi setelah hampir satu jam, kami jadi menyadari persamaan nasib dan tiba-tiba saja akrab.” jelas Saera lalu menunjukkan senyum jailnya, “kami bosan, saat tahu akan ada seorang lagi hisami kami.. berinisiatif mengerjainya.”

Hyunmi menutup kedua telinga begitu disoraki ucapan selamat datang dari ketiga yeoja yang ‘agak ajaib’ di hadapannya. Tak lama, mereka berempat sudah tertawa-tawa sambil mengobrol panjang lebar tentang namja-namja aneh dari Negeri sihir juga tentang sihir di tubuh mereka yang sama sekali tak pernah terduga.

Pikiran keempatnya polos. Mereka hanya berpikir bahwa dengan melakukan semua permintaan keempat namja itu, mereka akan mendapatkan apa yang mereka inginkan. Tidak pernah terlintas risiko yang akan terjadi nantinya dipikiran keempat yeoja itu. Mereka juga tak pernah tahu bahwa ada kekuatan sangat besar yang terpendam di dalam diri mereka.

Dan tanpa mereka sadari, sepasang mata berwarna merah sedang memantau aktivitas mereka dari balik cermin yang ada di tangannya. Sosok yang menggunakan jubah serba hitam dengan baluran darah hampir di seluruh tubuhnya itu menyeringai.

***

Hyerin mengikat rambutnya dengan tidak sabaran, yeoja itu melirik ke segala penjuru ruangan yang telah kosong. Dia bangun kesiangan, dan tampaknya semua roommate Hyerin telah diculik oleh namja-namja yang mengaku penyihir. Sambil menggerutu, Hyerin berjalan cepat-cepat ke arah pintu. Tangannya meraih gagang pintu lantas memutarnya ke bawah, yeoja itu langsung mengeluh dalam hati mendapati Donghae tengah bersandar di tembok dengan tatapan lembut namun menusuk ke arahnya.

Kaku, Hyerin melangkah mendekati Donghae. Dia meringis sebentar lalu melempar cengiran pada Donghae.

Donghae bergeming, alisnya terangkat ke atas melihat cengiran Hyerin. “Kemari.” perintahnya dengan nada datar, tangan namja itu melambai ke arah Hyerin membuat Hyerin mendengus namun tak ayal menuruti perintah namja itu dan mendekat. Donghae mengulurkan tangannya dan disambut oleh Hyerin sebelum dalam sekali kedip, kedua orang itu telah menghilang menuju sebuah tempat.

Saat merasa kakinya telah berpijak di tempat lain, Hyerin membuka mata dan mengamati sekitar. Senyum terkembang di bibirnya melihat mereka berdua sekarang berdiri di bibir pantai yang sepi─tidak ada orang sama sekali. Yeoja itu memutar kepala ke belakang dan menemukan Donghae yang menatap lurus ke arah laut lepas.

Hyerin perlahan mengayunkan kaki hingga sampai di hadapan DOnghae. “Kita akan belajar apa, Oppa?” tanyanya sambil memasang mimik penasaran.

Donghae menoleh, senyum kecil terukir di bibirnya melihat Hyerin yang tampak semangat. “Sihir dasar. Telepati dan teleportasi, kau siap?”

Geurae,” jawab Hyerin mengangguk. “Tapi Oppa, setelah ini semua berakhir Baekhyun Oppa akan benar-benar menjadi milikku, kan?”

Donghae menghentikan langkahnya ke arah air pasang lalu memutar kepala pada Hyerin, menatap yeoja itu tajam. “Kau tidak percaya padaku, eo?” tanyanya sinis. Meski pun Donghae playboy, Donghae orang yang tidak pernah ingkar janji. Tidak dipercaya oleh orang lain adalah hal yang paling Donghae benci.

Hyerin terkekeh, sama sekali tak takut dengan tatapan yang diberikan Donghae. Namja itu terlalu kekanakan untuk memasang wajah sangar. “Mianhae, aku hanya memastikan.” balasnya santai lalu berdiri di samping Donghae dan menatap laut lepas. “Jadi, bagaimana caranya berteleportasi dan telepati itu?”

“Kita mulai dengan telepati, karena teleportasi itu akan mudah dikuasai jika telepati sudah kaukuasai.” putus Donghae lantas duduk di atas pasir. Namja itu menyuruh Hyerin duduk di hadapannya dengan isyarat mata. “Pikirkan orang yang ingin kauhubungi, lantas konsentrasilah terhadap apa yang ingin kaubicarakan. Untuk kali ini pikirkan aku. Jika kau berhasil, kau akan mendengar balasan suaraku. Arraseo?” jelas Donghae panjang lebar yang disambut anggukan oleh Hyerin.

Hyerin menarik napas sebelum memejamkan mata mencoba mengikuti semua petunjuk Donghae. Dia mencoba memusatkan pikirannya pada satu hal. Donghae.

Donghae yang ada di hadapan Hyerin tersenyum kecil. Diamatinya lekuk wajah Hyerin dengan saksama. Tangan Donghae terjulur namun langsung terempas begitu saja sebelum sempat menyentuh pipi Hyerin. Namja itu memaki dalam hati menyadari apa yang ingin dia lakukan barusannya. Dia juga memperingatkan dirinya mati-matian agar sampai tak jatuh hati pada yeoja di hadapannya. Tidak. Itu tidak boleh terjadi. Meski pun Aboeji tidak melarang mereka berhubungan dengan manusia biasa─well, Hyukjae pernah menjalin kasih dengan seorang manusia dan itu sama sekali tak masalah di mata Aboejinya─tapi hubungannya dengan Hyerin? Donghae tidak bisa. Dia tidak ingin terjebak. Bagaimana pun yeoja di hadapannya ini bisa menjadi orang yang sangat berbahaya untuknya. Lagipula Hyerin sudah mempunyai orang yang dicintainya, dan Donghae tidak ingin merasakan yang namanya sakit hati di kali pertama dia jatuh cinta.

Tenggelam dalam lamunannya tentang Hyerin, Donghae sampai tak menyadari bahwa ada secercah sinar berwarna dark green yang pelan-pelan menyelubungi tubuh yeoja itu. Saat Donghae terjaga, dia mengumpat dalam hati mengetahui Hyerin telah lepas kendali. Alam bawah sadarnya dikendalikan oleh kekuatannya.

Donghae menyentuh tubuh Hyerin sambil menyalurkan sihir calsm. “Hyerin-ah,” panggilnya kemudian membuat Hyerin sontak membuka mata dan memandang Donghae aneh.

Waeyo Oppa?”

“Jangan gunakan emosimu.” titah Donghae tegas, Hyerin mengkerut, dia menggumamkan ‘mianhae,’ yang dibalas Donghae dengan uluran napas sebelum melempar senyum lembut. “Gwaenchana. Ayo lanjutkan latihanmu.” imbuhnya lagi.

Mereka melalui latihan itu dengan tenang, meski kecemasan dan kekalutan menguasai hati Donghae entah karena apa.

***

“Yak! Kaubilang latihan sihir, kenapa kau malah menyuruhku beryoga?!” teriak Hyunmi sambil berkacak pinggang di ruangan kosong dalam mansion yang mereka tempati.

Hyukjae pagi-pagi sekali mengganggu tidurnya untuk latihan, tapi setelah sampai di tempat ini namja itu hanya menyuruhnya beryoga. Sudah lewat beberapa jam, dan namja itu sama sekali tak menyuruhnya berhenti beryoga. Menyebalkan sekali bukan namja bermarga Park itu?

“Tidak usah berteriak padaku,” desis Hyukjae tajam, “emosimu sangat labil, Mi-ya. Karena itu kau harus belajar mengendalikan emosimu sebelum belajar ilmu sihir.” kata Hyukjae tajam.

Hyunmi memutar bola matanya lalu mendengus kasar.

“Sekarang kembali ke tempatmu dan lanjutkan yogamu!” suruh Hyukjae sambil menatap Hyunmi tajam.

Hyunmi membalas tatapan Hyukjae dengan tak kalah tajam sebelum kembali mendengus dan duduk di tempatnya semula. “Aish! Kalau saja bukan demi eonni, aku tak akan mau menuruti perintah monyet itu!” omel yeoja itu lalu duduk menyilang dan memejamkan mata.

Hyukjae yang berdiri di depan yeoja itu mengembuskan napas panjang lantas ikut duduk di hadapannya. Namja itu mengamati wajah Hyunmi yang tengah mencoba merilekskan diri dengan rahang terkatup rapat. Wajah Hyunmi benar-benar─arrrgh! Hyukjae langsung menampar batinnya sendiri mengingat apa yang baru saja akan dicetuskan batinnya.

Hyukjae menolehkan kepala ke arah lain sembari mengambil napas banyak-banyak.

“Hyukjae Hyung?” Hyukjae tersentak mendengar suara Kibum di kepalanya. Kibum menghubunginya lewat telepati.

Nde? Waeyo Kibum-ah?” tanya Hyukjae tenang.

“Iblis kegelapan itu melancarkan aksinya lagi Hyung. Sepuluh Desa sudah musnah dalam beberapa menit, dia juga sudah membangkitkan para pengikutnya dulu.” beritahu Kibum dengan nada yang tak bisa dibilang tenang.

Hyukjae merasa oksigen di sekitarnya mendadak menghilang. Napasnya tercekat. “Lalu bagaimana rencana Aboeji selanjutnya? Dan apakah dia juga tahu tentang... hisami?”

“Ini alasanku menghubungimu Hyung, dia sudah tahu dan aku takut kalau iblis itu sampai mengirim pengikutnya ke dunia manusia untuk membunuh hisami kalian.” ujar Kibum, ada nada cemas yang terselip dalam kalimatnya. “Hyukjae Hyung, peringatkan kepada yang lain untuk berhati-hati. Lindungi hisami kalian baik-baik sampai waktu penyerangan tiba.”

Ekpresi Hyukjae mengeras, dia melirik Hyunmi yang masih asyik dengan yoganya sekilas. “Arraseo. Aku akan berusaha Kibum-ah.”

“Dan Hyukjae Hyung,” Hyukjae yang baru saja akan memutus sambungan telepati itu mengerutkan alisnya menunggu kelanjutan ucapan Kibum. “Kemarin aku ke perpustakaan rahasia dan menemukan sedikit penjelasan tentang sihir aspagus.”

Tubuh Hyukjae menegang, “Apa yang kaudapat?”

Diam beberapa saat sebelum Kibum akhirnya kembali bersuara. “Sihir aspagus meminta tumbal Hyung, salah satu di antara kalian harus ikut mati menemani si iblis.”

Hyukjae tercekat, napasnya terasa tertahan di tenggorokan. “Nu.. nugu?”

“Aku tidak tahu, itu terjadi saat semuanya telah berakhir.” balas Kibum ragu-ragu.

Hyukjae mendesah. Berton-ton batu serasa menghimpit hatinya mendengar penjelasan namja yang merupakan adik Siwon itu. Dadanya sesak.

“Tapi Hyung, karena kau mempunyai tipe sihir putih, saat sihir aspagus meminta tumbal, kau akan tahu siapa orangnya. Jadi─”

Arrachi, gomawo Kibum-ah.” sela Hyukjae lalu memutus telepati mereka. Namja itu mengusap wajah kasar sambil memikirkan percakapannya dengan Kibum barusan.

Hyukjae tercenung, berpikir bahwa sihir aspagus memang tidak mungkin tidak berisiko. Namja itu menghela napas lantas menenggelamkan kepalanya di lutut. Dari awal ini salahnya, tapi kenapa harus ada yang menjadi korban?

Hyukjae menggigit bibir bawah begitu merasa hatinya seolah diremas-remas tangan tak berwujud. Hyukjae memasukkan tangannya ke dalam saku jins lantas menggenggam sebuah benda di dalam sana dengan erat. Dia membutuhkan seseorang untuk menjadi tempat sandarannya saat ini. Hyukjae membutuhkan yeojanya agar ia bisa berkeluh-kesah tentang keadaannya saat ini. Hyukjae butuh dia.

Pelampiasan, Hyukjae meremas benda di dalam saku jinsnya perlahan. Aku membutuhkanmu sekarang bear, bisiknya dalam hati dengan nada perih.

***

“Han Taeyoung, bangun sekarang!” desis Jongwoon kesal melihat Taeyoung yang tengah tertidur pulas dengan posisi telentang menghadap langit di bukit tak jauh dari mansion mereka.

Tadinya Jongwoon berpikir membawa Taeyoung latihan di tempat ini akan lebih efektif dan membuat Taeyoung yang terlihat sangat mengantuk tadi pagi menjadi segar bugar sebab melihat pemandangan indah dari atas bukit sini, tapi nyatanya? Yeoja itu malah khusuk tertidur setelah mendengarkan penjelasan panjang-lebar darinya. Padahal Jongwoon bersumpah itu adalah kata-kata terpanjang yang pernah diucapkannya selama hidup!

“Eung, sebentar lagi Oppa!” tukas Taeyoung yang menjadikan tangannya sebagai bantal tanpa membuka mata sedikit pun.

Jongwoon berdecak kesal melihat kelakuan Taeyoung. Namja itu menghela napas panjang lalu mengalihkan tatapannya pada langit yang terlihat sangat cerah saat ini sebelum beranjak mendekati tubuh Taeyoung. Namja itu berjongkok di dekat wajah Taeyoung, mengamati wajah pulas yeoja itu dengan kekesalan yang tidak berubah.

“Young, kalau kau tidak bangun kau akan tertinggal oleh teman-temanmu.” kata Jongwoon mulai putus asa.

Setengah sadar, Taeyoung membalas dengan tak acuh. “Siapa suruh membangunkanku pagi-pagi sekali.”

Jongwoon menahan dirinya untuk tidak mengikat tubuh Taeyoung dengan tali haski* lantas menyihirnya menjadi kentang selama sehari penuh. Jongwoon juga mengatakan kata sabar berulang-ulang dalam hatinya, cara kasar tak akan mempan pada Taeyoung.

Seringaian terlukis di wajah Jongwoon saat sebuah ide ampuh untuk membuat Taeyoung terbangun melintas di otaknya. Namja itu lantas merendahkan wajahnya hingga sejajar dengan wajah Taeyoung. Pelan, dia mulai mengeksekusi sedikit demi sedikit jarak di antara mereka berdua hingga hidung keduanya hampir bersentuhan.

Jongwoon mengembuskan napasnya dengan sengaja di depan wajah Taeyoung dengan seringaian yang masih terlukis di bibirnya.

Merasakan ada yang bernapas di hadapan wajahnya, Taeyoung spontan mengernyit. Perasaan tak enak mulai merayap ke dalam hatinya saat embusan napas itu semakin terasa dekat. Taeyoung membuka matanya dengan perlahan.

“Aaaaaa!” jeritnya secara refleks sambil mendorong tubuh Jongwoon hingga namja itu terjatuh ke belakang. Taeyoung langsung berdiri dengan tatapan nyalang. “YAK! PARK JONGWOON! Apa yang kaulakukan, hah?!”

Jongwoon menggerutu tak jelas merasakan sakit di pantatnya akibat berciuman dengan tanah. Wajahnya mendongak dan bertemu dengan wajah marah bercampur kesal milik Taeyoung. Seringaian mau tak mau kembali terpasang secara otomatis di bibirnya begitu tahu rencananya sukses. Bahkan double sukses. Pertama karena Taeyoung akhirnya bangun─dan terlihat sangat segar sekarang. Kedua, karena Taeyoung terlihat lebih kesal daripada dia tadi.

“Aku membangunkanmu babo!” balas Jongwoon sarkatis begitu dia berdiri.

Taeyoung mengepalkan tangan menahan emosi dan memalingkan wajah agar tak melihat wajah menyebalkan Jongwoon. Namja itu memang sudah sangat menyebalkan dari awal. Kalau saja penawaran Jongwoon tak semenggiurkan itu, dia pasti sekarang tak akan ada di sini dan mengikuti semua perkataan bodoh namja itu!

“Sekarang duduk di sana.” titah Jongwoon kemudian, tangannya menunjuk rumput hijau tak jauh dari tempat Taeyoung berdiri sekarang. “Dan jangan coba-coba untuk tidur lagi atau aku tidak segan-segan menciummu.” ancam Jongwoon kemudian yang membuat Taeyoung langsung menolehkan wajah ke arahnya dengan mata melotot sempurna.

“Aku akan membunuhmu kalau kau berani.” Taeyoung balik mengancam dengan nada serius.

Jongwoon mencibir. “Lakukan apa yang kuperintahkan sekarang kalau kau tidak mau itu terjadi.” ujar Jongwoon sambil memutar bola matanya jengah. Percakapan antara dia dan Taeyoung benar-benar membosankan.

Merasa bahwa percakapannya dengan Jongwoon semakin tak jelas, Taeyoung akhirnya memutuskan untuk mengikuti ‘kemauan’ Jongwoon meski pun hatinya sangat enggan.

Yeoja itu menyilangkan kaki di rumput hijau lantas mendongak menatap Jongwoon yang masih berdiri. “Apalagi?” tanyanya ketus.

Jongwoon meraup udara di sekitarnya dengan rakus sebelum mendudukkan dirinya tepat di hadapan Taeyoung yang masih setia dengan wajah cemberutnya.

“Mari mulai dengan telepati.” putus Jongwoon sebelum menjelaskan segala hal yang berkaitan dengan telepati sejelas-jelasnya walau pun ekspresi wajah Taeyoung seolah berkata ‘entahlah-kita-lihat-saja-nanti’.

***

“Astaga Park Kyuhyun! Aku tidak bisa melakukannya kalau kau terus mengejekku!” hardik Saera dengan wajah memerah menahan amarah.

Park Kyuhyun memang benar-benar menyebalkan. Namja itu tak berhenti memasang wajah meledek─atau wajahnya memang begitu?─padanya karena dia belum bisa menguasai telepati yang diajarkan Kyuhyun. Hell! Memang Kyuhyun harus meledek dengan wajah kelewat evil begitu kalau Saera belum bisa menguasainya? Tidak, kan? Lagipula ini bukan salah Saera sepenuhnya, Kyuhyun juga ikut mengambil bagian dalam hal ini. Kenapa? Karena telepati itu memerlukan konsentrasi sementara Saera sejak tadi tidak bisa berkonsentrasi sama sekali melihat wajah menyebalkan Kyuhyun. Bahkan meski dia sudah menutup mata, bayangan Kyuhyun yang sedang meledek pun selalu terlihat!

Babo. Aku hanya meledekmu, bagaimana mungkin itu menganggu konsentrasimu?” tukas Kyuhyun kesal dengan alasan tidak masuk akal Saera.

Tangan Saera refleks tergerak ke depan dan memukul kepala Kyuhyun dengan keras. “Yak! Jangan panggil aku babo!” teriaknya marah. “Tentu saja bisa! Wajah menyebalkanmu itu sangat terekat kuat di otak!” sergahnya kemudian.

“Aish, beraninya kau!” balas Kyuhyun yang emosinya langsung terpancing melihat kelakuan Saera. Tangan Kyuhyun balas memukul kepala Saera dengan tak kalah kejam. “Alasanmu tetap tidak masuk akal nona Han. Satu lagi, panggil aku Oppa!” desisnya kemudian dengan nada marah yang begitu pekat.

Mata Saera membelalak merasakan pukulan Kyuhyun. Kalau saja dia tak ingat bahwa nasib Sungmin ada di tangan Kyuhyun dan Kyuhyun adalah penyihir, yeoja itu pasti tak akan segan-segan untuk mengambil batu dan melemparkannya ke kepala Kyuhyun sampai bocor. Se-ka-ra-ng ju-ga!

“Kau ingin aku membantumu atau tidak?” tanya Saera memutuskan untuk mengeluarkan kartu As yang dimilikinya.

Kyuhyun menjulingkan mata mendengar ancaman Saera. Berbagai cacian dan makian yang sudah tersusun di otaknya untuk disemburkan pada Saera terpaksa ia tekan ke dasar lagi. “Kau gila? Tentu saja aku mau!” tukas Kyuhyun sambil mengurangi kadar ketus dalam nada suaranya.

Saera menyunggingkan senyum penuh kemenangan. “Kalau begitu, berhenti memasang wajah menyebalkan di depanku.”

“Aku tidak memasang wajah menyebalkan!” tandas Kyuhyun tidak terima. Berhadapan dengan Saera benar-benar menghabiskan energinya. Yeoja itu selalu punya cara membuat Kyuhyun ingin memakannya bulat-bulat.

Saera mendengus dan memutuskan untuk tidak menjawab. Matanya kembali terpejam mencoba berkonsentrasi untuk melakukan telepati. Meladeni Kyuhyun lebih lama akan membuat stres yang dimilikinya bertambah besar tiap detik. Menurut Saera Kyuhyun itu tidak bisa didefinisikan seperti apa. Wajahnya memang tampan, sangat malah. Namun sifatnya yang seperti raja setan membuat Saera berpikir bahwa Kyuhyun itu makhluk paling tidak normal di antara saudara-saudaranya yang lain─walau sebenarnya Saera juga tidak tahu sifat saudara-saudara Kyuhyun seperti apa, dia kan hanya mendengar dari cerita teman-temannya.

Lapangan rumput hijau di tengah hutan itu selanjutnya diisi keheningan karena kedua makhluk berbeda jenis tapi beremosi sejenis ini sedang sama-sama membisu.

Kyuhyun mengamati Saera dari atas ke bawah dengan rahang terkatup rapat begitu yeoja itu menutup mata. Dia tak pernah berpikir bahwa mengajari ilmu sihir pada Saera akan terasa seperti mengajari bocah setan dari neraka. Saera benar-benar menyebalkan, bahkan lebih menyebalkan daripada Victoria yang biasa merengek manja padanya. Oke, tipe menyebalkan kedua yeoja itu mungkin berbeda. Tapi judulnya tetap saja sama, menyebalkan!

“Aku bilang berhenti memasang wajah menyebalkan.” desis Saera dengan mata yang perlahan terbuka. Konsentrasinya kembali berceceran entah kemana karena merasakan mata seseorang yang mengamatinya dengan tajam.

Kyuhyun tersentak, namja itu buru-buru membuang pandangan ke samping meski dia tak menyangka bahwa Saera lagi-lagi bisa merasakan tatapannya. Kyuhyun mencoba mengamati sekitar hutan yang dikelilingi pohon pinus. Matanya mengedar tak tentu arah, sama sekali tak tertarik.

Saat Kyuhyun kembali melirik ke arah Saera, yeoja itu telah kembali menutup matanya dengan rapat. Kyuhyun langsung terpaku melihat wajah Saera yang kali ini terlihat begitu damai.

Angin berdesau di sekitar mereka. Rambut Saera terbawa ke belakang akibat ajakan angin. Dan seutas senyum perlahan terkembang di bibir Kyuhyun melihat pemandangan di hadapannya.

Bocah neraka ini terlihat… cantik.

***

Hyunmi menghirup dan mengulur napas dengan lamat-lamat. Mencoba meresapi ketenangan yang sedari tadi di bangunnya. Saat tiba-tiba bayangan wajah Ahna melintas di kepalanya, ketenangan yang Hyunmi bangun runtuh seketika. Yeoja itu mengepalkan tangan dengan tangis yang terancam pecah saat masa-masa bahagia yang dia lewati bersama Ahna berputar bagai kaset rusak di kepalanya.

Kerinduan yang bersemayan di hatinya untuk sang kakak tercinta lambat-laut bertambah besar, menyesakkan hatinya yang sudah sesak tiap bayangan kelam itu memenuhi kepalanya.

Ahna yang sedang tersenyum sangat manis padanya, Ahna yang sedang tertawa, Ahna yang memeluknya sambil menggumamkan kata ‘hwaiting’ saat dia resah akan ujian sekolahnya, Ahna yang selalu memasakkan makanan enak-enak untuknya, dan Ahna yang melindunginya dari anak-anak berandalan dengan bermodal sabuk hitam taekwondo.

Hyunmi mencapai titik akhir, air mata perlahan meleleh melewati sela-sela matanya yang tertutup rapat saat bayangan itu semakin membuncah tak terkendalli. Yeoja itu menggigit bibir, mencoba menekan perih. Namun saat dendam tentang namja itu mencuat ke permukaan, tangisnya berhenti digantikan dengan emosi yang berlomba-lomba untuk menggunung.

Dendam itu membara, meluap hingga Hyunmi perlahan tenggelam. Pelan-pelan, dia mulai tidak bisa merasakan apa-apa lagi selain hening.

“AKH!”

Hyukjae yang sedang melamun memikirkan risiko sihir aspagus tersentak saat tiba-tiba saja sinar berwarna hitam menyerangnya. Namja itu terpental hingga membentur dinding lantas memandangi Hyunmi yang tengah melayang dengan mata tertutup dan di kelilingi sinar hitam.

Dia mengumpat dalam hati mengetahui bahwa ia terlambat menekan kekuatan Hyunmi, Hyukjae bangkit sambil memegang ulu hatinya yang berdenyut nyeri. Dia harus segera menekan kekuatan Hyunmi kembali jika ingin dirinya baik-baik saja.

Pelan, namja itu menggerakkan tangannya hingga cahaya putih susu keluar mengelilingi tubuhnya dan dia terangkat hingga sejajar dengan Hyunmi. Saat Hyukjae baru saja akan maju untuk menekan kekuatan Hyunmi menggunakan sihir calsm, namja itu terpental ke dinding sebab Hyunmi menyerang kembali.

Hyukjae mengerang, merasakan tulang di punggungnya remuk. Dia lantas kembali mengeluarkan cahaya putih dari tangannya, cahaya putih itu pelan-pelan membangun dinding kaca tipis yang bisa melindunginya sementara waktu sebab Hyukjae perlu merekatkan kembali tulang-tulangnya yang patah.

“Sial!” desis Hyukjae merasa perih yang menggerogotinya hingga ke jantung saat sihir heavy* bekerja. Hyukjae sesekali menatap ke arah Hyunmi yang masih mencoba memecahkan dinding pelindungnya. Matanya membulat melihat retakan-retakan kecil yang mulai terbentuk akibat kekuatan Hyunmi sementara dia sendiri belum merekatkan semua tulangnya. Dan saat itulah percakapannya dengan Kibum kembali terngiang membuat Hyukjae─tanpa memikirkan apa-apa lagi─segera menghubungi ketiga saudaranya untuk memberitahukan kabar tersebut.

Hyung, Hae, Kyu, jaga hisami kalian baik-baik. Iblis itu mengirimkan pengikutnya untuk membunuh para hisami. Aku─” telepati Hyukjae terputus saat tubuhnya melayang ke udara dengan Hyunmi beberapa meter di depannya.

Hyunmi melayang mendekatinya hingga wajah mereka hanya terpaut beberapa senti, senyum mengerikan terukir di bibir yeoja itu saat perlahan dia membuka mata dan mendapati Hyukjae dalam keadaan tidak berdaya. Mata Hyunmi gelap total. Hitam. Tak ada setitik cahaya pun di dalamnya, yeoja itu sepenuhnya dikuasai oleh sihirnya.

He-llo Pa-rk Hyuk-Jae!” desis Hyunmi sembari mengembuskan napasnya di depan wajah Hyukjae dengan sengaja.

Hyukjae bergidik begitu merasakan aura jahat yang keluar lewat embusan napas Hyunmi. Namja itu menatap tajam yeoja di depannya mencoba menggertak.

“Kembalikan Hyunmi sekarang.” seru Hyukjae tajam.

Hyunmi tertawa, kembali melayang-layang di sekitar Hyukjae. Setelah berputar beberapa kali, yeoja itu mengangkat dagu Hyukjae dengan tangan kanannya hingga Hyukjae mendongak menatap mata kelamnya yang penuh aura hitam.

“Memerintahku, eo, Pangeran?” ejeknya sebelum sebuah sinar merah menyelimuti tangan kanannya yang tengah memegang dagu Hyukjae. Sinar itu lamat-lamat merambat dan menjilat dagu Hyukjae membuat namja itu mengerang kesakitan begitu merasakan kulitnya terkelupas.

“Le-pas-kan!” rintih Hyukjae di sela-sela kesakitannya, dia mencengkeram tangan Hyunmi lantas mengeluarkan sinar biru air untuk melawan sinar merah Hyunmi.

Tanpa belas kasihan Hyunmi membanting tubuh Hyukjae ke lantai begitu sinar biru Hyukjae merambat di tangannya. Yeoja itu mengibas-ngibaskan tangannya yang penuh dengan sinar biru sebelum tersenyum lebar melihat Hyukjae terbatuk-batuk mengeluarkan darah merah di bawah sana dengan dibaluri darah di sekitar bajunya.

Hyunmi turun ke bawah lantai, 5 meter dari tempat Hyukjae bersimpuh dengan senyum lebar yang setia menghiasi bibirnya. Dia berjalan perlahan-lahan mendekati Hyukjae seolah-olah Hyukjae memang tak akan bisa pergi kemana-mana lagi─dan faktanya Hyukjae memang tidak akan bisa meloloskan diri dengan luka separah itu.

“Sakit?” tanya Hyunmi dengan nada kasihan yang dibuat-buat saat dia membuat Hyukjae berdiri dan kembali memegang dagu namja itu hingga Hyukjae tak bisa menatap kemana pun selain dirinya.

Hyukjae menatap Hyunmi benci. Kesakitan yang dirasakan tubuhnya akibat bantingan juga sinar merah tadi─yang membuat dagunya terkelupas dan beberapa organ dalamnya mengalami kerusakan─membuat dia kesulitan menggerakkan tangannya untuk membuat sihir pelindung. Hyukjae mencoba mengingat-ngingat cara lain menekan sihir yang tidak bisa dikendalikan, satu cara melintas di otaknya tapi Hyukjae menepis dengan cepat sebelum sebuah suara menginterupsi kegiatan berpikirnya.

“Tidak menjawab?!” bentak Hyunmi. “Baiklah selamat menjalani hidup baru bersama─”

Hyukjae segera mencium bibir Hyunmi sebelum yeoja itu menyelesaikan kalimatnya. Perlahan dia menyerap semua aura hitam yang mengelilingi tubuh Hyunmi lewat tautan bibir mereka hingga aura itu menghilang dan Hyunmi pingsan menimpa tubuhnya.

Sambil menyandarkan tubuhnya dan tubuh Hyunmi di dinding, Hyukjae mengumpat dalam hati begitu sadar dia menggunakan cara ‘itu’ untuk mengusir sihir Hyunmi secara paksa.

Cara kedua menekan kekuatan penyihir yang kehilangan kendali: menyerap semua energi sihirnya lewat mulut.

***

Hyerin berlarian di pinggir pantai dengan kaki telanjang. Senyum tak henti terpasang di wajahnya. Yeoja itu menikmati momen yang ada di hadapannya saat ini. Dia menikmati semilir angin yang tercium asin, menikmati butiran pasir halus yang menyentuh kakinya, juga menikmati lambaian ombak yang bergelombang kecil. Selama di Jepang, Hyerin tak pernah pergi ke pantai sekali pun─berarti itu sudah hampir tiga tahun. Dia di Jepang untuk menyelesaikan kuliahnya, dan kerjaannya selain bekerja di kafe tentu saja belajar. Hyerin hanya pergi keluar bersama sahabat baiknya sesekali, Hyerin bahkan dapat menghitung dengan jari saking jarangnya dia bepergian.

Jadi untuk sekarang, berhubung dia sudah bisa menguasai telepati dan Donghae mengizinkannya beristirahat sejenak, Hyerin memutuskan untuk menikmati suasana pantai ini. Hyerin berhenti saat berlari saat melihat sesuatu di dekat pohon bakau tak jauh dari tempatnya sekarang. Penasaran, Hyerin berjalan mendekat lalu memungut benda itu. Senyumnya langsung melebar melihat cangkang kerang besar─namun sangat cantik─lah yang ia temukan.

Oppa! Lihat apa yang aku temukan..” seru Hyerin riang ketika dia membalikkan badan untuk melihat Donghae.

Di kejauhan sana, Donghae tersenyum kecil melihat tingkah Hyerin. Dia merasakan hatinya menghangat melihat ekspresi ceria yang terpasang di wajah Hyerin. Menggunakan teleportasi, Donghae dalam sekejap sudah ada di hadapan Hyerin membuat yeoja itu cemberut.

“Yak! Oppa! Kau curang! Jangan membuatku iri dengan teleportasimu.” rajuk Hyerin.

Donghae tertawa. Senang melihat air muka Hyerin yang dapat berubah dalam hitungan detik. Dia mengulurkan tangannya dan mengacak rambut Hyerin halus. “Belajarlah lebih giat.” balas Donghae dengan nada meledek.

Bibir Hyerin semakin maju, “Aku tidak mau bicara lagi denganmu.” katanya ketus lalu membalikkan badan ke arah air laut.

Donghae terkekeh pelan, “Padahal tadinya aku ingin memberikan ini padamu lho. Sayang sekali ya..” sahut Donghae dengan nada yang dibuat sedih. Tangannya yang mengepal terlihat menggelembung, mengidentifikasikan ada sesuatu di dalam sana.

Hyerin mau tak mau penasaran juga dengan perkataan Donghae, dia melirik kepalan tangan Donghae lewat ekor matanya. “Apa itu?” tanyanya dengan nada yang dibuat setak acuh mungkin.

Donghae menyeringai mengetahui Hyerin menangkap umpannya. “Mollayo, karena kau tidak mau bicara padaku, akan aku berikan benda ini pada yang lain saja.” tukasnya kemudian memasukkan kepalan tangannya ke saku jaket dengan lamat-lamat.

ANIYO!” teriak Hyerin. Dia segera merebut benda yang ada di tangan Donghae.

Kalung dari kerang. Terlihat sederhana tapi luarbiasa indah. Hyerin mengatupkan mulutnya yang menganga melihat keindahan kalung itu. Dia refleks memeluk Donghae dengan senyum lebar di wajahnya.

“Ini indah sekali Oppa, gomawo..” Donghae membeku dengan pelukan tiba-tiba Hyerin, dia bahkan tak bisa berkata-kata saking terkejutnya.

Seakan tersadar, Hyerin segera melepaskan pelukannya dengan semburat merah yang menyembul tipis di pipinya. Yeoja itu tertunduk. “Mianhae, itu refleks Oppa.” mohonnya gugup.

Tersadar, Donghae langsung memasang senyum geli di wajahnya. “Cheonmaneyo, Hyerin-ah.”

Setelah itu tidak ada percakapan lagi di antara keduanya. Hyerin sibuk memandangi kalung itu dengan ekspresi kagum─seakan-akan itu benda terindah yang pernah diberikan seseorang kepadanya─sedangkan Donghae sibuk menenangkan pikirannya dengan menatap ke arah laut lepas.

Hyung, Hae, Kyu, jaga hisami kalian baik-baik. Iblis itu mengirimkan pengikutnya untuk membunuh para hisami. Aku─”

“Hyukjae?” Donghae berseru panik memanggil nama saudaranya itu ketika sambungan telepati terputus tiba-tiba. “Hyukjae? Hyuk? Jawab aku?! Kau baik-baik saja?! Hyuk?!”

“HYERIN!” Donghae berteriak sambil menarik Hyerin ke dalam pelukannya saat gulungan ombak besar melaju dengan sengaja ke arah Hyerin. Donghae melindungi dirinya dan Hyerin dengan membuat perisai pasir hingga membuat mereka berada dalam gua pasir.

Gulungan ombak yang seakan memusnahkan terdengar dari dalam gua membuat Hyerin mengeratkan pelukannya pada Donghae. Kalau saja Donghae tidak menariknya, Hyerin pasti sudah mati tersapu ombak. Membayangkannya saja sudah membuat Hyerin bergidik ngeri.

Wajah Donghae mengeras, rahangnya terkatup rapat dengan kejadian yang baru saja mereka alami. Sedetik saja dia telat menarik Hyerin dan membangun perisai pasir ini, yeoja itu pasti tinggal nama sekarang.

Perkataan Hyukjae lewat telepati tadi benar-benar terbukti kebenarannya. Donghae menajamkan telinga untuk mendengarkan gulungan ombak yang seakan mencoba meruntuhkan perisai pasirnya dengan waspada.

Mwoya igeo, Oppa?” bisik Hyerin.

Gwaenchana, Hyerin-ah. Aku di sini untuk melindungimu.” bisik Donghae lembut.

Dada Hyerin bergemuruh mendengar kalimat Donghae yang begitu manis ditambah dengan nada suaranya yang juga begitu lembut, namun yeoja itu segera menepis segala pemikiran yang ada di otaknya tentang gemuruh kecil itu. Hyerin hanya dapat mengangguk sambil membenamkan wajahnya lebih dalam ke dada Donghae. Tangan Hyerin menggenggam kalung pemberian Donghae dengan erat sementara batinnya pelan-pelan menjadi tenang akibat kehangatan yang disalurkan tubuh Donghae yang tengah mendekapnya erat.

Donghae menggeram dalam hati begitu merasakan perisai pasir yang dibuatnya mulai bergetar, dia mengeratkan dekapannya di tubuh Hyerin dan kembali berkata pada yeoja itu setelah mengambil keputusan. “Kita pulang sekarang.”

Lima detik berikutnya, sinar berwarna light blue mengelilingi tubuh Donghae dan Hyerin.

Bersamaan dengan hancurnya perisai pasir yang melindungi mereka, Donghae dan Hyerin menghilang meninggalkan sepasang mata kelam yang menatap perisai pasir yang telah hancur dengan tatapan tajam─seakan tatapan itu bisa menghancurkan apa saja di hadapannya.

***

“Aish, kau tidak bisa memasak? Mengapa rasa semua makanan ini hambar?” keluh Kyuhyun sambil meletakkan semua bekal makan siang yang tadi pagi dibuat oleh Saera sebelum mereka berdua berangkat.

Mereka berdua─maksudnya Kyuhyun dan Saera─memang memutuskan untuk istirahat sejenak setelah Saera berhasil menguasai telepatinya. Dan karena hari sudah beranjak siang, Saera memutuskan untuk membuka bekal makan siang yang dia buat tadi pagi.

“Yak! Seenaknya saja mengatai makananku hambar, ini enak!” sergah Saera sinis.

Kyuhyun tersenyum sinis sambil menatap mata Saera tajam. “Jeongmalyo? Lalu mengapa kau tak menghabiskan makananmu dengan lahap seperti kemarin malam?”

Wajah sinis Saera perlahan-lahan berubah menjadi wajah panik. Yeoja itu menyimpan bekalnya di meja kayu buatan Kyuhyun─dengan sihir tentu saja─lantas mencoba menutupi kepanikannya dengan bersedekap di depan dada.

“Aku sedang diet, Tuan. Dan aturan pertama orang diet adalah tidak boleh makan terlalu banyak.” elaknya sambil mengembangkan senyum kemenangan pelan-pelan.

Kyuhyun tertawa terbahak-bahak sampai berguling di atas rumput mendengar alasan Saera. Kalau sudah mau kalah yeoja itu memang punya seribu satu alasan untuk mengelak meski pun alasannya kadang di luar nalar. Walau baru tadi malam membawa Saera, Kyuhyun sudah bisa menebak karakter yeoja itu seperti apa.

“YAK! YAK! Kau menyebalkan! Berhenti tertawa!” teriak Saera tak terima ditertawakan Kyuhyun. Wajahnya sudah memerah sampai ke telinga.

Kyuhyun benar, rasa makanan yang dibuat Saera tidak enak sama sekali. Hambar.

Baik, Saera memang tidak pandai memasak. Namun mengakui hal itu di depan Kyuhyun sama saja dengan membunuh harga dirinya yang setinggi langit itu. Cih, sampai kapan pun Saera tak akan pernah mau mengakui kelemahannya di depan Park Kyuhyun sang devil sejati. Dia pasti jadi bahan olokan setiap pertemuan mereka.

Sementara Kyuhyun sama sekali tak mengindahkan teriakan Saera. Namja itu terlalu larut dalam tawanya. Sebelum bertemu Saera, Kyuhyun memang jarang sekali tertawa, tapi semenjak yeoja itu hadir di kehidupannya, Kyuhyun selalu punya hal untuk ditertawakan. Sadar tidak sadar Saera memang membawa warna tersendiri untuk kehidupannya.

“Aish!” keluh Saera tak terima sebab Kyuhyun tak berhenti tertawa, yeoja itu menendang kaki Kyuhyun keras lalu berjalan ke arah Barat dengan bibir maju sempurna. Meninggalkan Kyuhyun yang masih asyik dengan dunia kecilnya.

Saat Saera sudah berjalan jauh, barulah tawa Kyuhyun mereda. Namja itu duduk di atas rumput sambil berusaha meredam tawanya yang masih ingin menyembur keluar.

Hyung, Hae, Kyu, jaga hisami kalian baik-baik. Iblis itu mengirimkan pengikutnya untuk membunuh para hisami. Aku─”

Kyuhyun tersentak saat Hyukjae melakukan telepati secara tiba-tiba dengannya. “Hyukjae, Hyukjae!” panggil Kyuhyun begitu merasa telepati keduanya terputus secara sepihak. Kyuhyun merasakan firasat buruk terhadap Saera dan juga Hyukjae. Namja itu berkali-kali mencoba menghubungi Hyukjae kembali untuk meminta penjelasan lebih lanjut─juga memastikan bahwa Hyukjae baik-baik saja─tapi mereka tak pernah tersambung kembali. Kyuhyun melirik sekitarnya, kepanikan merambati hatinya dengan cepat saat tak melihat Saera di mana pun, namja itu segera berlari ke arah Barat Saera belum terlalu jauh dari sini. Jika apa yang dikatakan Hyukjae tadi benar makan saat ini Saera ada dalam bahaya.

Sementara di sisi lain, Saera berjalan makin masuk ke dalam hutan pinus dengan gerutuan yang setia lolos dari bibirnya memikirkan sikap Kyuhyun tadi. Dia terus merutuki namja bernama Kyuhyun itu yang sama sekali tak ada manis-manisnya saat berbicara dengan dia.

Kaki Saera berhenti melangkah di depan sebuah pohon besar yang tampak sangat tua dan rindang. Saera menatap pohon di depannya lantas mengenyit saat merasa batang pohon itu bergerak.

“Saera AWAS!” Saera menatap horor pohon di depannnya yang tiba-tiba saja akan tumbang saat suara Kyuhyun terdengar, dipejamkannya mata rapat-rapat tak ingin melihat apa yang akan terjadi padanya.

Saera mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali melihat pohon besar itu tumbang beberapa senti di hadapannya, yeoja itu melirik ke kiri dan jantungnya langsung melompat melihat wajah Kyuhyun sangat dekat dengannya. Dia memperingatkan dirinya sendiri agar tak lupa bernapas.

Shit! Telat satu detik saja nyawamu bisa melayang.” kata Kyuhyun kesal. “Dengar! Jangan pernah menghilang dari pandangan mataku, arraseo?” tanyanya penuh penekanan.

Saera mengangguk tak mengerti, dia memandang ngeri pada pohon di  hadapannya. Saat itulah sesosok bayangan hitam muncul dari atas langit membuat Kyuhyun sontak mengeratkan rangkulannya pada pinggang Saera hingga tak ada jarak yang tersisa di antara mereka. Dari tangannya keluar cahaya light blue yang pelan-pelan membentuk kaca tipis. Sihir pelindung.

Kyuhyun memandang tajam sosok hitam di hadapannya. “Pergi!” bentak Kyuhyun, tangannya yang tak merangkul pinggang Saera ia angkat hingga memperlihatkan kobaran api di sana.

Sosok itu menyunggingkan senyum sinis. Lantas menyerang kaca tipis yang dibuat Kyuhyun berulang-ulang dengan cahaya cokelatnya. Kyuhyun tentu saja tak tinggal diam, namja itu juga mencoba menyerang sosok hitam itu dengan api yang telah dibuatnya. Sayang sosok itu selalu bisa menghindar. Gerakan Kyuhyun juga jadi terbatas sebab harus melindungi Saera.

“Kyu, ada apa?” Saera berbisik lirih di tengah ketakutan yang membelenggunya.

Kyuhyun menatap Saera sekilas sebelum sebuah ide melintas di otaknya. “Dengar, aku akan membekukan waktu selama dua detik dan seranglah sosok itu, ne?”

Kyuhyun melepaskan rangkulannya dari pinggang Saera lantas merentangkan kedua tangannya untuk melakukan sihir stipo*, dia berkonsentrasi penuh untuk menggunakan sihir itu sementara Saera sama sekali tak mengerti dengan ucapanya tadi.

Kyuhyun gila? Saera bahkan tidak tahu bagaimana caranya mengeluarkan kekuatannya.

“Kyu, aku tidak─”

“SEKARANG!” teriak Kyuhyun saat sosok bayangan itu membeku. Saera tak tahu apa yang terjadi, akan tetapi mendengar teriakan Kyuhyun membuat dia secara spontan memejamkan mata hingga sinar berwarna dark blue melesat dari tubuhnya dan langsung membakar sosok hitam di sana. Kesadaran Saera langsung menghilang begitu dia selesai menggunakan kekuatannya. Yeoja itu pingsan dalam dekapan Kyuhyun.

***

Jongwoon melirik Taeyoung yang sedang asyik melamun─setelah menyelesaikan pelajaran pertama mereka tentang telepati─dengan jengah. Namja itu memang memberi waktu istirahat sebelum mereka melanjutkan ke teleportasi, akan tetapi yang Jongwoon maksud bukan seperti ini. Taeyoung terlalu banyak berimajinasi, ia tak pernah berhenti untuk bermimpi.

Setelah menarik napas panjang sekali, Jongwoon mengarahkan pandangannya pada awan putih di atas sana yang terlihat tenang. Lambat laun pikirannya menerawang memikirkan tentang bagaimana nasib Negerinya saat ini.

Di antara saudara-saudaranya yang lain, tentu dialah yang memikul beban paling berat atas kejadian ini. Jongwoon Putera Mahkota. Dari kecil ia sudah dipersiapkan dengan matang untuk memimpin dan melindungi Negerinya, namun pada kenyataannya apa yang telah dia pelajari sedari kecil hanya sia-sia belaka sebab Jongwoon kini gagal.

Jongwoon tersedot kembali ke alam nyata saat mendengar lengkingan histeris disertai lompatan tubuh Taeyoung ke belakang tubuhnya. Namja itu tersentak pelan saat terjaga dari lamunan panjang tentang Negerinya lantas menatap aneh pada Taeyoung yang sedang bersembunyi di tubuhnya sembari memegangi ujung kausnya erat-erat.

Wae?” tanya Jongwoon kelewat datar, balas dendam atas perlakuan tak acuh Taeyoung sedari tadi.

Tak peduli pada Jongwoon yang terlihat sangat tak acuh, Taeyoung mengarahkan telunjuknya ke arah rerumputan tak jauh dari Jongwoon dengan ketakutan yang bersinar terang di bola matanya. “Itu… ad.. ada.. ulat.. Oppa.” jawab Taeyoung yang nyaris terdengar seperti bisikan.

Terperangah beberapa saat, gelak tawa akhirnya meluncur dari sela-sela bibir Jongwoon mendengar alasan Taeyoung. Namja itu mengurai pegangan tangan Taeyoung di kausnya sambil beranjak mendekati ulat bulu yang jadi pokok permasalahan Taeyoung. Tawa Jongwoon makin terdengar keras saat dia mengacungkan ulat bulu itu ke hadapan wajah Taeyoung dan melihat mata Taeyoung berair.

OPPA! SINGKIRKAN ITU!” teriak Taeyoung histeris. Dia menyembunyikan wajah di balik tangan. Bagi Taeyoung, ini-sama-sekali-tidak-lucu!

Aniyo, aku tidak mau.” elak Jongwoon dengan senyum jail di wajahnya, Jongwoon sadar ini kali pertama dia merasakan bagaimana tertawa selepas ini di hadapan orang lain, tapi toh Jongwoon menikmatinya. Dia sangat senang mengetahui kalau yeoja segalak Taeyoung sangat takut pada ulat bulu. That’s weird!

Oppa.. aku tidak mau. Hiks..” air mata menetes dengan sendirinya saat Taeyoung melihat Jongwoon makin mendekatkan hewan menjijikkan itu padanya. Yeoja itu berjongkok lantas terisak-isak saking takutnya.

Tak dinyana, Jongwoon merasa kasihan juga melihat Taeyoung menangis. Namja itu menyingkirkan ulat bulu di tangannya dan ikut berjongkok di hadapan Taeyoung. “Stt. Mianhae Young-ah. Uljima, ne?” bujuk Jongwoon sambil mengelus punggung Taeyoung hati-hati. Tak mendapat respons apa pun yang berarti dari Taeyoung, Jongwoon berdecak─benar-benar tak mengerti mengapa yeoja seperti Taeyoung takut pada ulat bulu. “Young, itu hanya hewan kecil. Kau tidak perlu takut, sungguh.”

Taeyoung mengusap air matanya dengan kasar, sejurus kemudian yeoja itu telah memandang Jongwoon dengan amarah yang tergambar jelas di bola matanya. Jongwoon bergidik merasakan aura buruk dari Taeyoung. “Tapi hewan kecil itu membuat─”

Geurae,” sela Jongwoon cepat-cepat sebelum aura buruk itu bertambah pekat. “Mianhae, ne? Aku janji tidak akan mengulanginya lagi.”

Taeyoung baru saja akan membuka mulut untuk membalas perkataan Jongwoon saat angin dingin tiba-tiba saja berembus ke arah mereka. Yeoja itu tersentak merasakan angin dingin yang membelai kulitnya terasa lebih dingin daripada es di musim dingin sekali pun. Taeyoung mengusap tengkuknya yang bergidik.

Jongwoon menggertakkan gigi merasakan angin itu. Sebagai seorang penyihir, dia tahu jelas bahwa angin yang baru saja berembus itu tidak normal. Jongwoon tak tahu apa yang sebenarnya tengah mengintai mereka, tapi dia tahu benar bahwa itu sesuatu yang tidak baik.

Jongwoon berdiri, memandang sekitar dengan waspada. “Young, sembunyi di belakang punggungku.” titah Jongwoon tegas.

Walau masih ada kesal yang tertanam, Taeyoung tak dapat mengelak bahwa ada takut yang menyelip ke hatinya. Taeyoung tak bodoh, walau pun dia tak tahu apa-apa mengenai sihir, Taeyoung tahu bahwa angin yang baru saja berembus bukan angin biasa. Maka tanpa banyak berdebat, Taeyoung berdiri dan bersembunyi di belakang punggung Jongwoon.

“Siapa pun di sana, keluar!” teriak Jongwoon lantang yang dibalas dengan desauan angin semakin kencang. Jongwoon menyelipkan tangannya di sela-sela jari Taeyoung dan menariknya ke depan─untuk mengantisipasi hal apa pun yang akan terjadi nanti─hingga wajah yeoja itu menempel di punggungnya.

Sesaat sebelum cahaya abu-abu menyerang mereka, Jongwoon membangun pelindung berwarna light red di sekeliling tubuhnya dan Taeyoung. Dan saat itulah dia mendengar suara Hyukjae di kepalanya.

Hyung, Hae, Kyu, jaga hisami kalian baik-baik. Iblis itu mengirimkan pengikutnya untuk membunuh para hisami. Aku─”

“Hyuk?!” Jongwoon mencoba memanggil Hyukjae, namun tak ada balasan. Kecemasan menyelimuti hatinya tapi Jongwoon berusaha keras berpikir bahwa Hyukjae baik-baik saja dan dia harus fokus pada keadaannya dan Taeyoung saat ini.

SRET! Belasan kilat menyerang pelindung yang dibuat Jongwoon. Tubuh Taeyoung bergetar, ketakutan merajai hatinya hingga ia nyaris jatuh karena lemas kalau saja Jongwoon tak menggenggam erat jemarinya.

“Tenanglah Young, aku di sini menjagamu.” kata Jongwoon lembut berusaha menenangkan Taeyoung yang bergetar ketakutan di belakangnya, dia pelan mengalirkan kekuatan menenangkan yang dimilikinya ke tubuh Taeyoung hingga tubuh yeoja itu berhenti bergetar dan merileks. Mata Jongwoon mencari-cari sesosok bayangan di antara pepohonan.

Ketika Jongwoon menemukannya, namja itu tak segan-segan meluncurkan aksi balasan dengan mengirimkan sihir delks* hingga sesosok bayangan itu hancur menjadi debu dalam sekejap. Taeyoung terpana menyaksikan bagaimana debu itu berterbangan tertiup angin dari balik punggung Jongwoon.

Saat Jongwoon berbalik ke arahnya tanpa melepaskan tautan tangan mereka dan mata keduanya bertemu dalam kesunyian, Taeyoung bisa merasakan sesuatu di dalam dirinya bergetar. Mata Jongwoon seakan menyurungnya, membuat yeoja itu bergeming sedikit pun. Jongwoon merasakan hal yang sama, namun namja itu cepat mengendalikan diri setelah menghela napas sekali. Jongwoon mendekat, menarik Taeyoung hingga pipi yeoja itu menyentuh dadanya lantas menghilang dalam sekian detik untuk kembali ke mansion.

TBC

cuap-cuapnya, gatau kapan di post lagi. Sibuk :P
yg ga ngerti arti sihirnya tanyain aja sama aku, sori ga sempet bikin note :D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar