That’s All About Us (series seven: Lee Hyukjae-END)
Unpredictable Destiny
Suara pintu yang terbuka terdengar,
Hana keluar dari kamar mandi di kamarnya dengan senandung kecil yang keluar
lewat celah-celah bibir. Sambil menatap bayangannya di cermin, tangan yeoja
itu bergerak mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk kecil.
Sejurus kemudian, deringan nada
pesan masuk terdengar. Hana menghentikan kegiatan mengeringkan rambutnya lantas
menyampirkan handuk itu di gantungan kecil, kakinya terayun menuju ranjang
tempat di mana Hana menyimpan ponselnya.
From: Nae monkey Oppa
Chagi, jam 7 malam ini aku
menunggumu di taman tempat pertama kali kita bertemu, ne? Jangan terlambat..
Saranghae^^
Sebuah senyum langsung terpasang
secara otomatis di bibir Hana begitu mengetahui bahwa Eunhyuklah yang
mengiriminya pesan. Hubungan mereka akhir-akhir ini berjalan dengan sangat
baik. Meskipun Eunhyuk masih sangat sibuk dengan kegiatannya bersama Super
Junior, namja itu tak pernah absen untuk menemuinya setiap pulang
kerja─minimal mengabari lewat telepon. Sikap Eunhyuk juga jadi manis
akhir-akhir ini. Entah apa yang membuatnya berubah, namun yang pasti Hana
menikmati perubahan itu.
Sambil tersenyum membayangkan apa
yang akan mereka lakukan nanti, Hana kembali menyenandungkan lagu cinta sembari
menyambar handuk dan mengeringkan rambutnya lagi. Matahari yang bersinar cerah
dan awan yang terlihat jarang di langit sana seolah ikut menyenandungkan lagu
bahagia di hati Hana.
***
Setelah mengecek penampilannya di
cermin sekali lagi, Hana menyemprotkan parfum di gaunnya lantas tersenyum puas.
Yeoja itu mengambil tas tangan yang tergeletak di meja rias lalu
mengayunkan kaki ke luar rumah.
Jalanan kota Seoul terlihat gelap
saat Hana mengemudikan mobilnya ke taman tempat pertama kali dia dan Eunhyuk
bertemu, lampu-lampu di pinggir jalan juga terlihat redup, namun bulan yang
bersinar cerah cukup membuat malam ini terlihat indah di mata Hana.
Mobil yang Hana kendarai berhenti
tepat di samping pintu masuk taman, yeoja itu mengernyit melihat taman
yang terlihat gelap gulita tanpa penerangan satu lampu pun─padahal Hana yakin
setiap jam 6 lampu di taman ini sudah dinyalakan. Menekan keheranan dan rasa
takut yang perlahan menyelip, Hana melangkah mendekati pintu masuk.
“Kangin Oppa?” Hana bertanya
heran ketika mendapati Kangin tak jauh dari pintu masuk, sedang berdiri tegap
dengan kemeja putih serta memegang setangkai mawar merah.
Kangin tersenyum kecil melihat
Hana, tanpa memedulikan ekspresi heran yang tergambar jelas di mata Hana, namja
itu berjalan mendekati Hana dan menyodorkan setangkai mawar merah itu ke
hadapan Hana. Hana menganga memandangi tangkai mawar merah yang diangsurkan
Kangin, namun tak lama Hana menerima mawar itu dengan keheranan yang tak
berkurang sedikitpun.
“Oppa, ini untuk a─”
“Itu bukan dariku.” sela Kangin
cepat, “kau akan tahu jawabannya nanti Hana-ya, jalan lurus 10 langkah
dari sini.” Setelah mengatakan itu Kangin berjalan menjauh, lantas menghilang
di kegelapan malam.
Hana memandangi tangkai mawar merah
di tangannya dengan rahang terjatuh. Tak mau semakin jauh ditelan keheranan,
Hana memutuskan untuk mengikuti petunjuk yang diberikan Kangin. Dia berjalan
lurus 10 langkah hingga akhirnya menemukan Leeteuk di langkahnya yang ke 10.
Setangkai mawar merah kembali
diterimanya dari Leeteuk. “Belok kiri lalu jalan 15 langkah.” kata Leeteuk
memberi petunjuk sambil memberikan senyum angelnya.
Dan begitulah selanjutnya, Hana
terus menerima bunga serta petunjuk yang membimbingnya ke orang selanjutnya.
Shindong, Siwon, Yesung, Ryeowook, Sungmin, Kyu─
“Demi Tuhan, aku sebenarnya tidak
mau melakukan ini.” Kyuhyun menggerutu saat Hana tiba di hadapannya, tapi tak
urung namja itu memberikan tangkai mawar merah pada Hana, menghela napas
memandangi wajah Hana yang terlihat menahan tawa akibat gerutuannya. “Belok
kanan 15 langkah, Hana-ya.”
“Oppa gomawo..” seru Hana
sebelum Kyuhyun menghilang, Kyuhyun membalas dengan mengacungkan jempolnya
tanpa berbalik.
Hana tersenyum mengamati bunga yang
kini ada di tangannya, dalam hati yeoja itu menghitung ada berapa bunga
yang sudah didapatnya. 8. Senyum Hana terkembang lebar meskipun dia tak
mengerti untuk apa bunga-bunga ini.
“The last,” kata Donghae
sambil menyodorkan bunga mawar merah di tangannya begitu Hana tiba. Hana
tersenyum kecil lantas mengambil bunga di tangan Donghae.
“Jadi aku sekarang harus kemana
lagi Oppa?”
Donghae menggeleng seraya
mengeluarkan penutup mata dari saku celananya. “Matamu harus ditutup sebelum
pergi ke tempat terakhir.” kata Donghae sambil tersenyum tipis.
“Ani, aku tidak mau. Bilang
pada Eunhyuk Oppa untuk menghentikan permainan ini sebelum aku pulang.”
balas Hana merengut.
Tanpa memedulikan protes Hana sama
sekali, Donghae memasangkan penutup mata itu sambil terkekeh. “Kau akan
menyesal jika tak melihat yang terakhir ini Hana.”
Hana menghela napas pasrah, dia
membiarkan tubuhnya dituntun oleh Donghae ke suatu tempat. Saat merasa bahwa
Donghae tak lagi menuntunnya, yeoja itu menahan napas penasaran.
“Kau boleh membuka mata saat tak
mendengar langkahku lagi, Hana.” kata Donghae yang seperti bisikan lirih.
Hana menajamkan pendengaran,
napasnya semakin terasa berat saat langkah Donghae semakin memelan hingga
pelan-pelan... hilang. Tangannya yang tak memegang bunga mawar terangkat,
perlahan melepaskan kain yang menutupi pandangannya.
Hana mengerjap-ngerjapkan mata
untuk menyesuaikan penglihatannya, dan mulutnya langsung menganga lebar melihat
pemandangan yang kini terhampar di hadapannya.
Hana diam di tengah-tengah nyala
lilin berpola hati, dan di depannya, di pohon akasia sana─yang dihiasi lampu
kecil berwarna-warni dan berkelap-kelip, tergantung ratusan foto Hana dan
Eunhyuk. Dimulai dari kencan pertama mereka, malam natal di Namsan Tower tahun
pertama, malam tahun baru, malam anniversary pertama mereka, dan foto lainnya
yang mengandung makna berarti bagi mereka berdua. Mata Hana terpaku pada
foto-foto itu, diamatinya satu persatu hingga ia tak dapat menahan air mata
harunya lebih lama lagi, dia membekap mulutnya dengan satu tangan sementara
tangan satunya menggenggam bunga di tangannya erat-erat.
“Berbaliklah..”
Lee Hyukjae berdiri tepat 10 meter
di belakangnya. Dengan ditemani sebuket mawar merah di tangan, namja itu
menyunggingkan senyum lembut penuh makna ke arah Hana.
Hana merasa melayang, setengah
sadar, yeoja itu berjalan mendekati Eunhyuk. Berhenti satu meter dari
tempat Eunhyuk berdiri. Pandangannya yang berkabut menyulitkan ia melihat wajah
Eunhyuk dengan jelas. Hana membuka mulut, ingin menanyakan apa yang sebenarnya
tengah terjadi pada Eunhyuk, namun tidak ada satu suara pun yang keluar dari
mulutnya.
Eunhyuk menyodorkan buket bunga itu
ke hadapan Hana, menghela napas sekali sebelum bersuara, “Will you marry me,
Kim Hana?”
BLASH!
Hana menahan isakannya dengan
sekuat tenaga begitu kalimat yang Eunhyuk ucapkan tadi─will you marry me─dilihatnya
ada di belakang kepala Eunhyuk. Besar. Tergantung di antara pepohonan dan
terbentuk dari lampu hias berwarna-warni yang menyala berkedip-kedip.
Tanpa bisa menahan diri, Hana
menjatuhkan bunga mawar yang dipegangnya lantas menghambur ke pelukan Eunhyuk
sambil terus bergumam “I do”.
***
“Hyung, berhenti menghela
napas berlebihan seperti itu.” kata Kyuhyun pada Leeteuk, jengah melihat aksi
Leeteuk yang tampak begitu frustasi sejak tadi.
Semua member Suju memang
diberi jatah liburan satu minggu oleh SM, oleh karena itu hari pertama liburan
ini mereka memutuskan untuk bersantai di dorm sebelum pergi liburan
sendiri-sendiri, apalagi mereka juga butuh istirahat akibat mempersiapkan
rencana gila Eunhyuk tadi malam. Dan sekarang semua member Suju tengah
berada di ruang tengah, menikmati film horor barat yang telah disepakati tadi
dengan berbagai snack terhidang di meja.
“Aish, aku hanya tidak percaya
kalau aku benar-benar dilangkahi dongsaengku sendiri.” sahut Leeteuk
membalas perkataan Kyuhyun tadi. Semua member memutar bola mata jengah,
termasuk Eunhyuk yang menjadi alasan utama mood buruk Leeteuk.
“Sudahlah Hyung, suatu hari
kau juga akan menikah.” tukas Eunhyuk santai.
“Yah, suatu saat nanti.” balas Leeteuk
muram membuat semua member tertawa tertahan. Semuanya tahu kalau Leeteuk paling
tidak ingin di dahului oleh dongsaengnya jika menikah nanti, namun kali
ini namja itu harus rela di dahului Eunhyuk.
“Omong-omong, persiapan pernikahan
kalian sudah sampai mana, Hyung?” Siwon mengalihkan pertanyaan, menatap
Eunhyuk sambil mengunyah kripik kentangnya. Semua member menatap Eunhyuk
tertarik─kecuali Leeteuk yang tampak semakin muram─setidaknya ingin tahu
kelanjutan kisah keduanya setelah semalam mereka membantu Eunhyuk melamar Hana.
Eunhyuk memandangi satu persatu
wajah member Suju di hadapannya dengan senyum lebar. Namja itu
menyimpan ponsel di samping tubuhnya sebelum menjawab pertanyaan Siwon dengan
nada riang. “Hana bilang dia sudah mulai merancang baju,” mata berbinar Eunhyuk
mau tak mau membuat semua member luluh dan ikut tersenyum, Leeteuk pun
akhirnya menanggalkan wajah muramnya dan memasang senyum kecil. Iri di saat
seperti ini mungkin tidak begitu cocok.
“Bagaimana dengan cincin
pernikahan?”
Dan jadilah pagi itu dihabiskan
seluruh member Suju untuk membicarakan tentang pernikahan Eunhyuk,
dimulai dari undangan pernikahan sampai gedung tempat acara akan dilangsungkan.
***
Kim Hana mengangkat sketsa gaun
yang dibuatnya hingga sejajar dengan kepala, desahan lolos dari bibirnya begitu
merasa bahwa sketsa yang digambarnya kurang memuaskan. Hana menyimpan buku sketsa
dan pensilnya di atas meja lantas meneguk jus jeruk yang sedari tadi
diabaikannya saking seriusnya ia menggambar.
Setelah mengamati sketsa itu sekali
lagi, Hana mengedarkan pandangan ke sekeliling kamar lantas tersenyum samar.
Sudah sejak dua minggu yang lalu dia pulang ke rumah, eommanya meminta
dia tinggal di rumah daripada di apartemen, dan Hana tak kuasa menolak sebab
dia juga merindukan kehangatan keluarga. Haneul─eonninya─juga akan
segera pulang ke Korea lusa nanti.
Tanpa sadar, senyum Hana terkembang
lebar begitu teringat bagaimana reaksi sang eonni saat dia mengabarkan
bahwa Eunhyuk melamarnya tadi malam lewat telepon, Haneul terdengar sangat excited,
yeoja itu bahkan berencana untuk mempercepat kepulangannya kalau saja
tak dilarang Hana. Reaksi yang tak kalah baik juga Hana dapatkan dari kedua
orang tuanya. Eomma dan appanya bahkan mengatakan bahwa mereka
tak sabar untuk menimang cucu─yang mengakibatkan wajah Hana bersemu merah saat
itu.
Nada dering tanda ada telepon yang
masuk dari ponsel Hana berhasil menghancurkan imajinasi yeoja itu.
Setengah terkesiap, Hana menyambar ponselnya dari atas nakas lantas
menempelkannya ke telinga.
“MWORAGO?!” pekik Hana panic
mendengar penjelasan dari salah satu karyawannya di butik, “Arraseo, aku ke sana dalam 15 menit.” sambung
Hana masih dengan nada panik lalu memutus sambungan telepon. Salah satu
pegawainya terkena musibah di tempat kerja, tertimbun patung untuk pajangan dan
mengakibatkan tulang-tulangnya patah. Hana harus segera sampai di sana, dia tak
mau sesuatu terjadi pada pegawainya.
Hana memasukkan semua keperluannya
ke dalam tas lantas menyambar kunci mobil yang tergantung di dinding dengan
cepat. Yeoja itu berlari menuju tangga tanpa memerhatikan keadaan
sekitar. Dia bahkan tak sadar bahwa dia sedang mengenakan sepatu yang sangat
licin.
Hana baru saja akan menginjak anak
tangga yang kedua saat kakinya tiba-tiba tergelincir hingga tubuhnya condong ke
depan, dan tanpa terhitung detik, Hana kehilangan keseimbangan.
Waktu seakan berhenti berdetik saat
tubuhnya terempas dan berguling-guling di tangga.
BUG! Kepala Hana membentur
lantai dengan keras, darah mengucur dengan deras dari kepalanya yang bocor.
Satu-satunya yang Hana ingat saat itu adalah Eunhyuk, orang yang paling
dicintainya, kekasih sekaligus calon suami yang satu-satunya dia inginkan untuk
menjadi Appa dari anak-anaknya kelak.
Setetes air mata jatuh begitu saja
dari mata Hana yang setengah terpejam, yeoja itu menggumamkan kata “Mianhae”
dan “Saranghae” sebelum semuanya berubah menjadi gelap.
***
Berlari. Hanya itulah yang ada di
pikiran Eunhyuk saat ini. Namja itu makin memacu langkahnya menyusuri
lorong rumah sakit yang lengang. Perasaan cemas dan takut berlomba-lomba
mengisi hatinya. Napas Eunhyuk memburu akibat berlari tanpa henti, tapi Eunhyuk
tak peduli. Hanya keadaan Hana yang Eunhyuk pedulikan saat ini, ia hanya ingin
cepat sampai dan memastikan bahwa Hana baik-baik saja. Namja itu terus
berlari dengan pikiran penuh, dia bahkan tak peduli pada semua member Suju
yang ikut berlari di belakangnya.
Mendapat telepon dari Nyonya Kim
yang mengabarkan bahwa Hana jatuh dari tangga sama saja bagai terkena bom
nuklir dari Amerika bagi Eunhyuk, telak menghancurkan semuanya, telak membuat
dia merasa kehilangan oksigen yang biasa dihirupnya, dan telak membuat separuh
jiwanya melayang.
Eunhyuk memelankan langkahnya
begitu melihat kedua orang tua Hana di dekat pintu ruang operasi, tanpa
memedulikan paru-parunya yang membutuhkan oksigen, namja itu bertanya
dengan nada kelewat khawatir. “B-bagai-bagaimana ke-adaan Ha-na?”
Tuan Kim menggeleng pelan,
sementara Nyonya Kim tak bisa berkata apa-apa selain terisak di dada suaminya.
Eunhyuk merasakan tubuhnya lemas, seakan semua tulang yang selama ini menyangga
tubuhnya dilolosi satu persatu. Dia bersandar pada dinding sambil memejamkan
matanya yang terasa sangat perih. Cairan hangat sudah mendesak untuk keluar,
namun Eunhyuk berusaha menahannya sekuat tenaga.
“Gwaenchana, Hana akan
baik-baik saja Hyuk.” hibur Donghae yang diamini anggukan member Suju
lainnya.
Eunhyuk tak menjawab, dia hanya
dapat termenung dengan pikiran penuh. Matanya menatap ke arah pintu ruang
operasi dengan kosong.
Cklek!
“Mianhae, kami sudah─”
Tanpa mendengarkan penjelasan Dokter
lebih lanjut, Eunhyuk segera berlari ke dalam ruang operasi dengan jantung
berdebar tak keruan. Tubuhnya langsung membeku saat mendapati wajah pucat Hana
yang sudah tak bernapas, Eunhyuk berjalan tertatih menghampiri ranjang Hana,
diguncangnya tubuh yeoja itu keras dengan air mata yang menganak sungai
di pipinya.
“ANDWAE!” jerit Eunhyuk
lirih, “chagi, ireona, palli ireona. Ini bukan bulan April, kau tidak
boleh mengerjaiku seperti ini. Ireona chagi, ireona..” racau Eunhyuk berulang-ulang,
dia menepis tangan-tangan member Suju yang berusaha menenangkannya.
“Kau sudah setuju menikah denganku
Hana, aku mohon bangunlah.. Bukankah kau ingin mempunyai anak yang lucu-lucu
denganku, Hana? Hana, aku sudah membeli rumah di dekat butikmu. Nanti kita bisa
belanja keperluan rumah tangga bersama. Aku juga janji akan selalu pulang kerja
lebih cepat. Jebal Hana, ireona..”
“Eunhyukkie, sudahlah, relakan
Hana..” bisik Leeteuk di samping telinganya, Eunhyuk langsung mendorong tubuh
Leeteuk dengan keras lalu memeluk tubuh kaku Hana dengan posesif. Semua member
Suju hanya dapat melihat Eunhyuk simpati, tak berani mendekat. Beberapa ikut
menangis.
“Jangan bicara sembarangan Hyung!
Hana hanya tidur, dia akan bangun sebentar lagi.”
“Eunhyuk, sudah, eommonim
mohon jangan seperti ini..”
Air mata Eunhyuk mengucur semakin
deras mendengar perkataan Nyonya Kim, tubuhnya merosot jatuh ke lantai begitu
saja. Kenangannya bersama Hana berputar, membuat Eunhyuk ingin sekali berteriak
melampiaskan seluruh emosinya.
Tak lama, Eunhyuk bangkit, menatapi
wajah pias Hana selama beberapa detik sebelum akhirnya menempelkan bibirnya
pada bibir Hana yang beku dan dingin─lama. Ciuman selamat tinggal, yang
diberikan Eunhyuk untuk Hana hingga air matanya perlahan jatuh membasahi wajah
pias yeoja yang paling dikasihinya itu.
***
Naege ireoke semyeodeulgo itseotdaneun geol
molratseotseo (Aku tidak menyadari perpisahaan semakin mendekati ku seperti itu).
Dasi dwedolril su itdamyeon (Betapa bahagianya kalau mengembalikan hubungan
kita). Ani han beonman dasi useojundamyeon (Kalau kamu tersenyum sekali lagi kepadaku).
Honjaseo jichin ne mameul anji motangeon (Aku tidak memeluk hatimu yang sudah
lelah). Eoriseogeun jajonsimingeol, mianhae, my love (Akibat rasa percaya diri
ku yang bodoh, maaf, cintaku). Chagawojin neoreul bomyeo ibyeori beonjyeoganeun
(Sambil melihatmu yang menjadi dingin). Sunganeul ijeneun eojjeol su ebsemeul nan
aljiman (Aku sudah menyadari tidak bisa berbuat apa-apa untuk menghalangi
perpisahaan yang semakin dekat). Sarangiran ireumero seoseohi muldeul techeorum
(Sebagaimana cinta semakin menyelimuti kita). Naege sarangi teonagago
itseotdaneun geol molratseoseo (aku tidak menyadari cinta pun pergi seperti itu).
Mianhadaneun mal jochado (Ungkapan maaf pun). Ireokena mianhande (Aku tidak
bisa lontarkan karena merasa bersalah). Ireon naega museun mareul eoteoke haeya
halka (Ungkapan apa yang aku harus lontarkan?). Sumjocha shil su eobseulmankeum
eojireowo (Aku pusing sampai-sampai susah bernapas). Nocheoburin sigan sogeul
seodulreo hemaeo bwado (Meskipun aku mencoba mengelilingi waktu yang sudah
terlepas dengan tergesa-gesa). Ijewa hal su itneun geon eobdaneun geoseul
(Namun tidak ada apa-apa yang dapat aku perbuat). {She’s Gone-Super
Junior}
***
Satu bulan kemudian..
Seorang yeoja
dengan rambut panjang yang diikat kuda ke belakang tampak meremas kaus yang
digunakannya dengan gelisah. Koper hitam besar yang ada di samping tubuhnya dia
abaikan, hatinya terlalu cemas memikirkan reaksi yang akan diterimanya nanti
dari para penghuni dorm ini.
“Oppa, benar
tidak apa-apa?” tanya yeoja itu tiba-tiba sambil memutar kepalanya ke
samping, pada seorang namja berkacamata hitam yang sedang mengamati
pintu di hadapannya dengan wajah datar.
Namja itu balas
memandang yeoja di sampingnya sebelum mengulas sebuah senyum. “Gwaenchana,
Hyunmi-ssi. Sooman sajangnim sendiri bahkan sudah memberitahukan
Leeteuk mengenai kedatanganmu. Lagipula hanya seminggu bukan?”
Kang Hyunmi, sepupu
dari Lee Sooman, sekaligus mahasiswa akhir salah satu universitas terkenal di
Jepang itu mengangguk ragu pada Youngmin. Dia memang meminta bantuan
pamannya─Lee Sooman─untuk mengizinkan ia tinggal di salah satu dorm boyband
untuk melakukan penelitian demi skripsinya, beruntunglah Lee Sooman
mengizinkan, meskipun Hyunmi jauh di dalam lubuk hatinya Hyunmi merasa begitu
gugup mengetahui bahwa Super Junior adalah pilihan Lee Sooman.
“Nah, kalau begitu ayo
masuk. Mereka hari ini kebetulan tidak mempunyai jadwal.”
Hyunmi menarik kopernya
dan mengikuti Youngmin masuk ke dalam dorm dari belakang. Kedatangan
keduanya disambut tatapan heran para member Suju kecuali Leeteuk yang
langsung tersenyum ramah dan menghampiri Hyunmi sambil membungkuk 45°, Hyunmi
membalas senyum Leeteuk dengan ramah kemudian ikut membungkuk.
“Leeteuk-ah, aku
titipkan Hyunmi padamu. Kau sudah tahu apa akibatnya kalau sesuatu terjadi
padanya bukan?” ujar Youngmin tiba-tiba sambil menatap mata Leeteuk tajam, Leeteuk
mengangguk paham. “Geurae,” sambung Youngmin puas lalu menatap ke arah
Hyunmi yang masih terlihat kikuk. “Hyunmi-ssi, aku masih ada urusan, aku
tinggal sekarang, ne? Semoga penelitianmu berjalan lancar.”
“Ah, ne. Gomawo atas
bantuannya Oppa.” sahut Hyunmi lantas membungkuk pada Youngmin sebelum namja
itu keluar.
“Hyung, siapa yeoja
itu?” celetuk Kyuhyun tiba-tiba.
Leeteuk membalikkan
tubuhnya hingga berhadapan dengan semua dongsaengnya dan tersenyum
kecil. “Dia Kang Hyunmi, sepupu Sooman sajangnim yang pernah aku
ceritakan. Dia akan tinggal di sini selama satu minggu ke depan, bersikaplah
baik padanya, ne?” Pertanyaan Leeteuk disambut koor setuju dari member
Suju yang sekarang mengamati Hyunmi dengan penasaran.
Seakan tersadar, Hyunmi
buru-buru membungkuk ke arah member Suju lainnya sebelum memperkenalkan
diri dengan gugup. “Annyeong haseyo Oppadeul, choneun Kang Hyunmi imnida,
mohon bantuannya selama seminggu ke depan.”
Member Suju
berdiri, balas membungkuk pada Hyunmi dengan senyum ramah di bibir
masing-masing sebelum memperkenalkan diri mereka satu persatu. Dalam hati
Hyunmi menghitung jumlah total semua member yang ada. Dia mendesah diam-diam
saat menyadari hanya ada 9 namja di ruangan ini.
***
Eunhyuk mengamati makam
yang dikunjunginya selama sebulan terakhir dengan ekspresi penuh luka. Setelah
meyakinkan sekali lagi bahwa orang yang tertidur di sini akan baik-baik saja, namja
itu beranjak berdiri dan berjalan ke arah mobilnya terparkir.
Hari sudah beranjak
malam ketika Eunhyuk sampai di dormnya. Mengembuskan napas panjang,
tangan Eunhyuk akhirnya bergerak membuka pintu dorm. Keningnya langsung
mengernyit begitu melihat ada sepasang sepatu milik perempuan di rak sepatu,
namun tak mengindahkan hal itu, Eunhyuk berjalan masuk. Tanpa senyum, tanpa
sapaan, tubuhnya melenggang begitu saja menuju kamar.
“Eunhyuk Hyung,
sudah makan?” Pertanyaan Ryeowook berhasil menginterupsi langkah Eunhyuk.
Eunhyuk berbalik,
berniat menjawab pertanyaan Ryeowook. Namun wajahnya langsung mengeras secara
tiba-tiba begitu melihat seorang yeoja di antara member Suju
lainnya. Eunhyuk mengatupkan rahangnya rapat-rapat, berusaha keras menahan
letupan amarah di dadanya yang muncul secara tiba-tiba.
Dengan nada sinis, namja
itu mendesis. “Kenapa kau kembali?”
Semua member Suju
mengikuti arah pandangan Eunhyuk, mereka mengerutkan kening bingung melihat
bahwa Hyunmilah yang dipandangi dengan begitu tajam oleh Eunhyuk.
Hyunmi sendiri hanya
bisa menggigit bibir bawahnya keras melihat tatapan Eunhyuk yang begitu
menusuk, hatinya teriris kecil-kecil sebelum akhirnya sebuah kata keluar lewat
celah bibirnya dengan begitu lirih. “Mianhae..” Dan sayangnya, Eunhyuk
sama sekali tak menggubris, namja itu secepat angin berlalu dari hadapan
semuanya. Dibantingnya pintu kamar dengan keras membuat air mata menetes dari
mata Hyunmi yang berkaca-kaca.
***
Eunhyuk memejamkan
mata, mencoba untuk pergi ke alam mimpi sesegera mungkin. Namun tak lama,
matanya terbuka kembali. Bayangan wajah yeoja yang tadi ditemuinya
berputar di pelupuk matanya membuat Eunhyuk meringis keras-keras. Yeoja
itu bukan orang asing baginya. Jelas, meskipun sudah hampir 8 tahun tak
bertemu, Eunhyuk tak akan bisa melupakan bagaimana rupa yeoja itu.
Bukannya ia tak mau, namun segala hal tentang yeoja itu terlalu melekat
kuat di memori otaknya.
Kang Hyunmi, keponakan
dari Lee Sooman sekaligus cinta pertamanya sewaktu Senior High School dulu.
Eunhyuk tak tahu bagaimana asal-mulanya mereka sampai bisa menjadi sepasang
kekasih, tapi yang ia tahu, dulu mereka bahagia dengan hubungan mereka. Walau
pada kenyataannya Hyunmi lebih muda 4 tahun darinya─yang artinya yeoja itu dulu
masih Junior High School─tapi dia sudah bisa bersikap dewasa, sebab
itulah Eunhyuk merasa nyaman meskipun berpacaran dengan ‘bocah’.
Sayangnya, itu dulu.
Dulu sebelum Eunhyuk tiba-tiba saja
menemukan Hyunmi sedang berpelukan mesra dengan seorang namja─yang
Eunhyuk kenal merupakan teman sekelasnya. Tanpa harus memiliki otak yang
jenius, Eunhyuk tentu tahu bahwa Hyunmi selama ini ternyata berselingkuh di
belakangnya. Jujur saja, Eunhyuk hancur saat itu. Maka seberapa cintanya pun ia
pada Hyunmi, Eunhyuk memutuskan hubungan mereka saat itu juga. Hyunmi waktu itu
berulang kali mencoba menjelaskan, namun Eunhyuk selalu mengelak, dia tak
pernah mau menemui Hyunmi lagi hingga Hyunmi tiba-tiba saja menghilang saat
hari kelulusannya.
Dan saat itulah Hana
datang, mengobati sakit hatinya hingga Eunhyuk jatuh begitu jauh dalam kasih
yang diberikan Hana. Hana memberikan warna lain dalam hidupnya, senang maupun
susah Hana selalu ada untuknya, mengulurkan tangan agar ia tak jatuh terpuruk.
Tanpa sadar, air mata perlahan mulai melewati sela-sela mata Eunhyuk, Hana
akhirnya juga pergi, bahkan yeoja itu pergi di saat-saat mereka akan
menjemput kebahagiaan bersama.
Dan sekarang, di saat
Eunhyuk sudah tidak memiliki Hana lagi di sampingnya, mengapa Hyunmi harus
datang lagi di hidupnya? Mengapa yeoja itu harus kembali? Lukanya karena
ditinggal Hana belum sembuh, kini luka lama karena dikhianati Hyunmi harus
terbuka kembali. Eunhyuk berpikir, dosa apa dia perbuat sampai Tuhan begitu
membencinya?
Eunhyuk tak tahu
mengapa Hyunmi kembali lagi, namun ia takut jika kehadiran Hyunmi bisa
menggeser posisi Hana. Seberapa sakit hatinya pun ia sebab pengkhianatan
Hyunmi, perasaannya tidak bisa berbohong. Kalau ditanya apakah masih ada secuil
perasaan untuk Hyunmi, Eunhyuk tak bisa berbohong dengan menjawab tidak.
Bagaimanapun cinta pertama itu sulit dilupakan, bukan?
Dengan sisa kesadaran
yang masih dimilikinya, tangan Eunhyuk bergerak secepat yang ia bisa lantas
menyeka air mata di pipinya. Setelah itu, dia beranjak ke arah pintu karena
seseorang telah mengetuk pintu itu berulang kali.
Eunhyuk baru saja akan
menutup pintu itu kembali begitu melihat wajah Hyunmi, namun sayang, tangannya
kalah cepat dari kaki Hyunmi, membuat Eunhyuk menatap wajah yeoja itu
malas. “Wae?”
“Sudah 8 tahun Oppa,
kau harus mendengarkan penjelasanku kali ini.” kata Hyunmi yang lebih terdengar
seperti bisikan.
Darah Eunhyuk berdesir
mendengar suara Hyunmi, namun sekuat tenaga dia menolak segala macam perasaan
yang ingin menyelinap masuk ke dalam hatinya. “Tentang apalagi, Hyunmi-ssi?
Bukankah pembicaraan kita sudah berakhir 8 tahun yang lalu?”
“Namja itu
Yongsuk,” tutur Hyunmi tanpa memedulikan perkataan Eunhyuk tadi, dia mengangkat
wajah dan memandang lurus ke mata Eunhyuk, mengisyaratkan banyak kata maaf.
Eunhyuk diam, dia memalingkan mata agar tidak luluh begitu saja oleh permintaan
maaf Hyunmi. “Mianhae, aku tidak pernah bermaksud menduakanmu Oppa, itu
terjadi begitu saja. Yongsuk sahabatku, aku benar-benar tidak tega jika harus
menolak perasaannya.”
“Namja itu tahu
kau saat itu bersamaku, bukan?” tanya Eunhyuk dengan nada rendah yang menusuk.
Hyunmi menghela napas,
tak sedetikpun matanya berpaling dari wajah Eunhyuk walaupun namja itu
tak menatapnya sama sekali. “Ne, dia rela menjadi yang kedua, dan fakta bahwa
orangtuanya akan bercerai membuat aku semakin tak tega untuk menolaknya saat
itu Oppa, mianhae. Aku ke sini hanya ingin mendapatkan maafmu Oppa.”
Eunhyuk menyingkirkan
kaki Hyunmi yang menghalangi pintu kamarnya, namja itu balas menatap
Hyunmi dengan tajam. “Itu bukan alasan yang kuat untuk berselingkuh, nona Kang.
Lagipula aku benar-benar sudah tidak peduli denganmu. Kita hanya masa lalu.”
Pintu sudah benar-benar
hampir tertutup saat suara Hyunmi kembali terdengar, “Aku juga turut berduka
atas kematian calon istrimu, Oppa.”
BRAK!
Hyunmi menatap sedih
pintu kamar yang tertutup di depan wajahnya. Yeoja itu memandangi ujung
sepatunya dengan gamang. Hyunmi tahu dia dulu salah, sangat malah. Karena itu
dia menyesal. Selain karena skripsi, Hyunmi juga kemari untuk mendapatkan maaf
Eunhyuk. 8 tahun yang lalu, dia belum sempat mendapatkan maaf dari namja
itu sebab terpaksa harus ikut pindah ke Jepang karena pekerjaan Appanya.
Hyunmi mendesah
diam-diam begitu dia berbalik dan mulai melangkah ke kamarnya. Hati kecilnya
berbisik bahwa dia juga ke sini untuk mendapatkan cinta Eunhyuk kembali. Walaupun
8 tahun bukan waktu yang sebentar, Hyunmi tidak bisa sekali pun memandang namja
lain. Nama Lee Hyukjae selalu terukir di sana, jelas, hampir menyerupai
permanen.
***
“Oppa sudah
makan?”
Eunhyuk mendelik
sekilas kepada Hyunmi sebelum berlalu meninggalkan yeoja itu seorang
diri di ruang tengah. Dia baru saja pulang dari salah satu program TV, dan
begitu masuk harus di hadapkan pada pertanyaan-pertanyaan Hyunmi. Selalu begitu
selama lima hari belakangan, meskipun Eunhyuk tak pernah menggubris atau malah
bersikap tak peduli, Hyunmi tak pernah menyerah. Yeoja itu sangat keras
kepala. Bahkan sekarang Eunhyuklah yang hampir menyerah karena benar-benar tak
bisa mengusir yeoja itu dari kehidupannya.
Eunhyuk membantingkan
tubuhnya ke atas ranjang. Saat matanya mulai terpejam dan pikirannya mulai
berkelana membayangkan saat-saat dia bersama Hana, bayangan Hyunmi melintas.
Berbaur dengan bayangan Hana, berbaur dengan segala kenangannya dengan Hana.
Eunhyuk memukul bantal di dekatnya dengan geram, hatinya memaki mati-matian
menyadari Hana pelan-pelan memudar dari pikirannya. Sekuat apapun dia berusaha
mengabaikan Hyunmi, alam bawah sadarnya justru pelan-pelan mulai menerima yeoja
itu kembali.
Mata Eunhyuk beralih
pada meja di sampingnya, tepat pada potret dirinya dan Hana yang terbingkai
oleh pigura biru berhiaskan hati. Sudut bibir Eunhyuk terangkat membentuk
sneyum getir saat pelan-pelan dia mengambil pigura itu lantas mengamatinya
dalam jarak dekat.
“Mianhae..”
bisik Eunhyuk sambil mengelus wajah Hana di dalam foto, tatapannya melembut
seiring dengan suaranya yang semakin melirih. “aku juga tak menginginkan ini
terjadi Hana-ya, sebisa mungkin aku mempertahankan perasaanku untukmu.
Tapi semakin lama ini semakin sulit. Yeoja itu.. orang yang pernah aku
ceritakan padamu pelan-pelan menyusup, mencoba menumbuhkan lagi perasaan yang
sudah lama terkubur mati dalam hatiku. Aku tidak pernah ingin jatuh dalam
jeratannya lagi, aku takut masa lalu terulang Hana. Takut sekali..” Eunhyuk
menjeda kalimatnya, matanya yang sudah mulai berkabut menyiratkan seberapa
takut ia jatuh kembali. “Saat ini, aku mungkin masih bisa bersembunyi dalam
kepalsuan, tapi jika dia bertahan lebih lama, aku tidak bisa menjamin kalau aku
tidak jatuh lagi. Mianhae chagi, jeongmal mianhae. Nan neomu saranghaeyo..”
Pelan, Eunhyuk
mendekatkan pigura itu lantas mendekapnya di dada. Mencoba menenangkan hatinya
yang bergumuruh dengan perasaan terombang-ambing tak jelas.
Kembalinya Hyunmi
memang bisa merubah segala hal yang sudah lama tertanam kokoh di hati Eunhyuk,
bahkan kalaupun Hyunmi kembali saat Hana masih ada, ia ragu bahwa hatinya tak
akan berpaling.
Hati memang sesuatu
yang sulit dimengerti, sulit dipahami, dan sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Bahkan kita tidak bisa mengontrol hati sesuai keinginan kita, sebab itulah
cinta bisa tumbuh kapan saja, dimana saja, dan.. pada siapa saja.
***
Jam menunjukkan pukul 11.00
p.m saat pintu dorm terbuka. Menampilkan wajah lelah Shindong, Donghae,
dan Leeteuk yang memang baru saja pulang dari sebuah acara. Mereka pulang
paling telat karena member lain ternyata sudah ada di ruang tengah,
sedang melakukan kegiatan masing-masing dengan tivi menyala. Ketiga namja
itu langsung mengempaskan diri di sofa, mengembuskan napas lega berlebihan saat
sadar mereka akhirnya bisa beristirahat.
“Minuman datang..” seru
Hyunmi tiba-tiba saat dia masuk ke ruang tengah. Ketiga member yang baru
datang langsung bersorak melihat apa yang dibawa Hyunmi, tanpa basa-basi mereka
semua menyambar jus jeruk itu hingga dalam hitungan detik, nampan yang dibawa
Hyunmi sudah kosong.
Hyunmi tertawa kecil
melihat kelakuan member Suju yang seperti anak kecil. Setelah menyimpan
nampan itu di dapur, Hyunmi kembali ke ruang tengah lantas mengerjakan bagian
akhir skripsinya kembali. Tanpa terasa, dia sudah 5 hari di sini, dan
skripsinya pun sudah hampir selesai. Hyunmi senang sekaligus sedih mengetahui
fakta itu. Senang karena skripsi yang susah-payah dia buat akhirnya sampai pada
tahap akhir, dan sedih karena sampai sekarang pun ia bahkan tak bisa
mendapatkan maaf dari Eunhyuk.
Menghela napas saat
teringat Eunhyuk, Hyunmi mencoba memfokuskan pikirannya kembali pada
skripsinya.
“Skripsimu sudah sampai
dimana, Hyunmi-ya?” tanya Yesung tiba-tiba.
“Sudah bagian akhir Oppa.”
jawab Hyunmi cepat sambil melempar senyum pada Yesung, Yesung balas tersenyum.
“Jadi kau tinggal dua
hari lagi ada di sini?”
Hyunmi mengalihkan tatapannya
pada Sungmin yang baru saja bertanya, tanpa bisa dicegah, senyumnya perlahan
menghilang sebelum dia mengangguk pelan.
“Ah, sedih sekali.
Nanti tidak ada yang bisa membantuku menyiapkan makanan lagi,” keluh Ryeowook
tiba-tiba.
“Aku hanya membantu
mengambilkan bahan-bahan dan menata piring, Oppa, bukan membantu
memasak.” tukas Hyunmi diiringi tawa renyah.
“Setidaknya kau mau
membantu, tidak seperti namja-namja di sini yang tahunya hanya makan.”
sahut Ryeowook menyindir. Perkataan Ryeowook disambut ‘huu’ panjang dari para member.
“Omong-omong, kau sudah
berbaikan dengan Hyukjae, Hyun?”
Pertanyaan Donghae
menggores sudut hati Hyunmi. Demi seluruh nemo yang ada di dunia, mengapa
Donghae harus menanyakan hal seperti ini?
“Aniyo. Hyukjae Oppa
sepertinya benar-benar membenciku. Lihat saja sekarang, semenjak aku di sini
dia tak pernah keluar kamar untuk bergabung bersama kalian, bukan?”
“Ugh, aku mungkin
jarang berkata seperti ini, tapi, jangan menyerah Hyunmi.” Kyuhyun bersuara,
membutakan matanya dari tatapan tak percaya member Suju. “Aku yakin
Eunhyuk Hyung sudah memaafkanmu, hanya masalah waktu saja sampai dia
mengakuinya.”
“Aw, aku tak menyangka
Kyuhyun Oppa bisa sebijak ini.” seru Hyunmi polos sambil menahan haru
mendengar perkataan Kyuhyun. Sontak saja perkataan polos Hyunmi berhasil
membuat yang lainnya tertawa, wajah Kyuhyun langsung masam.
“Tapi gomawo
atas sarannya Oppa.” kata Hyunmi lagi menghentikan tawa member
Suju, “walau sepertinya mendapatkan maaf langsung dari mulut Hyukjae Oppa
hampir mustahil, apalagi aku di sini hanya tinggal dua hari lagi.”
“Tapi kau masih
mencintainya, kan?” celetuk Sungmin tak berdosa.
Dada Hyunmi berdenyut,
sekeras mungkin dia berusaha memasang senyum di wajahnya. “Ne..”
“Sstt, kenapa
suasananya jadi mellow seperti ini?” tegur Leeteuk tiba-tiba melihat
ekspresi mendung di wajah Hyunmi, semua member terdiam. Mereka memang
sudah tahu cerita masa lalu Eunhyuk dan Hyunmi dari mulut Hyunmi sendiri,
mereka juga sudah berusaha membujuk Eunhyuk agar mau memaafkan Hyunmi, tapi
hanya penolakan yang selalu mereka dapatkan.
Mereka memang tak bisa
menyalahkan Eunhyuk karena dalam hal ini, Hyunmi yang salah. Tapi mereka juga
tak tega untuk melihat Hyunmi terus-terusan meminta maaf dari Eunhyuk, apalagi
dengan fakta kejadian itu sudah berlalu selama 8 tahun. Sayangnya mereka tidak
bisa berbuat apapun untuk membantu Hyunmi karena kekeras-kepalaan Eunhyuk.
Suara pintu kamar
dibuka terdengar.
“Hae, kau melihat Ipod
yang aku sim─kenapa kalian menatapku seperti itu?” Eunhyuk langsung mengalihkan
pertanyaan begitu mendapati mata semua member terarah padanya, ditambah
mata Hyunmi yang memancarkan ekspresi sedih─Eunhyuk diam-diam merasa hatinya
bagai tertusuk pisau melihat ekspresi Hyunmi.
Hyunmi buru-buru
mengubah ekspresi wajahnya dan memasang senyum lembut pada Eunhyuk, “Apa Ipod
ini yang kaumaksud, Oppa?” tanyanya sambil mengacungkan Ipod
putih yang diambilnya dari saku baju.
Tatapan Eunhyuk menajam
melihat Ipodnya ada di tangan Hyunmi, tanpa bisa dicegah, namja
itu refleks merebut Ipodnya dengan kasar dari tangan Hyunmi. “Sudah aku
bilang berapa kali untuk tidak menyentuh barang-barangku?” teriak Eunhyuk
marah, “aku tak peduli apa yang sudah kauperbuat sampai semua member menyukaimu,
tapi bisakah kau berhenti mengganggu hidupku?”
Hyunmi membeku. Merasa
terhina dengan semua teriakan Eunhyuk. Air mata keluar dengan sendirinya tanpa
sempat dia tahan. Hyunmi berusaha menahan semua luka yang tercipta karena
perkataan Eunhyuk, namun dia tak bisa. Hatinya serasa dirobek menjadi dua
hingga ia merasa dadanya sesak. Untuk sekejap, Hyunmi bahkan lupa caranya
bernapas.
“Mianhae, aku
tahu ini salahku. Aku benar-benar minta maaf Oppa, mianhae.” kata Hyunmi
sambil membungkuk berkali-kali pada Eunhyuk dengan mata berlinang. Tanpa
membuang waktu, yeoja itu menyambar laptopnya di meja lantas pergi ke
kamar dan mengurung dirinya di sana.
“Kau keterlaluan,
Hyuk.”
Seruan Sungmin berhasil
membuat Eunhyuk terjaga dari keterkejutannya akan reaksi Hyunmi. Perih yang
sangat menyiksa menampar hati Eunhyuk berkali-kali, sekeras mungkin namja
itu berusaha mengabaikannya dengan mengangkat bahu dan memasang wajah tak
peduli lalu kembali ke kamar. Membuat member Suju menahan napas melihat
sikap Eunhyuk.
***
Hyunmi menatap kopernya
yang sudah penuh dengan barang-barang lantas mendesah saru. Dua hari berlalu
dengan cepat. Hari ini adalah hari terakhirnya tinggal di dorm Suju,
besok Hyunmi sudah harus ada di Jepang untuk menyerahkan skripsinya pada Dosen.
Mata Hyunmi lalu
beralih menatap keluar jendela, helaan napas panjang lolos dari bibirnya
melihat hujan deras tengah mengguyur kota Seoul. Udara pasti sangat dingin di
luar sana, tebaknya dalam hati sebelum menyeret kopernya keluar kamar.
“Hyunmi, apa kau tidak
bisa menunda kepergianmu? Hujan di luar sangat deras.” kata Kangin khawatir
begitu Hyunmi berpamitan dengan semua member Suju di depan dorm
mereka.
Hyunmi tersenyum, lalu
menggeleng. “Gwaenchana Oppa, lagipula aku memakai payung.” balasnya
sambil mencoba bercanda, tapi tidak ada satupun member Suju yang
tertawa. Hyunmi mendesah, ah dia jadi berat meninggalkan mereka.
“Hati-hatilah di
jalan..” pesan Shindong membuat Hyunmi mengangguk pelan.
“Terimakasih atas
bantuan Oppadeul selama aku di sini, aku pasti tidak akan bisa melupakan
kebaikan kalian.” tutur Hyunmi sembari menghela napas beberapa kali. “Tolong
maafkan kesalahanku selama di sini, juga tolong sampaikan permintaan maafku
untuk Hyukjae Oppa.” Semua member terdiam mendengar perkataan
terakhir Hyunmi, mereka hanya bisa mengekor bayangan Hyunmi yang pelan-pelan
menghilang.
“Dia benar-benar yeoja
yang kuat.” kata Siwon memecahkan keheningan.
“Aish, Lee Hyukjae
bodoh!” maki Donghae, “biar aku bicara padanya. Jangan ada yang ikut campur
apapun yang terjadi nanti.” peringat Donghae pada semua member Suju
sebelum dia berjalan ke dalam dorm dan masuk ke dalam kamar Eunhyuk diiringi
bantingan pintu yang keras.
***
Kota Seoul benar-benar
dingin. Hyunmi berjalan di tengah hujan dengan payung hitam yang melindungi
tubuhnya. Yeoja itu mengeratkan mantel untuk mencari kehangatan. Kakinya
berhenti melangkah di pinggir jalan untuk menunggu taksi lewat. Lee Sooman
sebenarnya menawarkan diri untuk mengantar Hyunmi ke bandara, tapi yeoja
itu menolak dengan alasan tidak ingin merepotkan.
Selagi menunggu taksi,
Hyunmi termenung. Otaknya mereka ulang semua kejadian yang terjadi selama
seminggu ini. Tentang bagaimana perjuangannya untuk mendapatkan maaf dari
Eunhyuk yang sayangnya sama sekali tak berhasil. Tentang bagaimana perasaannya yang
jatuh-bangun berulang kali karena ucapan namja itu. Juga tentang segala
hal manis yang dia perbuat untuk menunjukkan perasaannya pada Eunhyuk. Lubang
yang menganga di hatinya serasa disiram air cuka teringat bagaimana Eunhyuk
menanggapi semua perhatiannya. Dingin dan kasar. Tidak ada satu pun harapan
yang Hyunmi dapat dari perlakuannya.
Selama seminggu penuh
dia selalu bertahan, meski pun kepingan hatinya telah hancur berkeping-keping
hingga menjadi serpihan yang tak bisa digapai, Hyunmi tak pernah putus asa
sebab ia ingin memperlihatkan kesungguhannya pada Eunhyuk. Namun dua hari
kemarin adalah puncak dari kesabarannya. Hyunmi tak bisa bertahan lebih lama
lagi, dia akhirnya harus menyerah pada kenyataan bahwa Eunhyuk tak akan
memaafkannya sama sekali. Dia juga harus menyerah dengan perih yang menyayat
karena cintanya yang tak terbalas.
8 tahun tanpa bisa
berpaling pada namja lain, pada akhirnya Hyunmi tetap tak bisa mengecap
bahagia. Perjuangannya berakhir tanpa hasil.
Senyum kecut terukir di
bibir Hyunmi dengan sendirinya. Kalau bisa, dia ingin sekali memutar waktu ke 8
tahun yang lalu agar ia tak melakukan kesalahan bodoh. Kalau bisa, ia tak akan
pernah mengkhianati Eunhyuk, dia akan menjaga hubungan mereka baik-baik, bahkan
Hyunmi mungkin akan lebih memilih tinggal di apartemen daripada ikut ke Jepang.
Tapi itu hanya perandaian. Waktu itu tak akan bisa terulang, kesalahan yang
terjadi di masa lalu tak pernah bisa kita perbaiki. Yang bisa kita lakukan saat
ini adalah menata masa depan dengan tidak mengulangi kesalahan yang terjadi di
masa lalu.
Hyunmi meraup udara
dengan rakus begitu tersadar dari pikirannya, tangan yeoja itu melambai
untuk menyetop sebuah taksi tapi sayangnya taksi itu berlalu.
Dibawah guyuran hujan
yang bertambah lebat tiap saat, Hyunmi terdiam menunggu taksi dengan hati tak
berbentuk lagi.
***
Eunhyuk menyusuri
lorong gedung apartemennya dengan berlari-lari, tujuan hanya satu saat ini,
menemukan Hyunmi.
“Jangan jadi
pengecut, Hyuk! Kau hanya takut mengakui kalau kau sudah memaafkan Hyunmi dan
jatuh cinta padanya lagi, kau hanya takut menyadari kalau Hana pelan-pelan
menghilang dari pikiranmu, kau hanya takut Hyuk. Kau takut sampai-sampai memperlakukan
Hyunmi seperti itu. Ayolah Hyuk, jangan jadi pengecut seperti ini. Kau tahu?
Hana pasti akan sangat sedih melihatmu seperti ini. Kau juga perlu bahagia,
Hana pasti mengerti. Selagi masih bisa, kejarlah ia Hyuk. Sebelum kau
kehilangan untuk kedua kalinya..”
Kata-kata Donghae─yang
dibarengi perdebatan singkat dengannya─berdengung di telinga Eunhyuk,
menyebabkan kaki namja itu melangkah lebih cepat dari sebelumnya.
Dinginnya udara dan
lebatnya hujan tak menjadi hambatan bagi Eunhyuk, namja itu tetap
menerobos hujan untuk sampai di pinggir jalan. Saat dia melihat bayangan
Hyunmi, Eunhyuk tanpa ragu memeluk tubuh yeoja itu dari belakang.
Hyunmi langsung
tersentak ketika sepasang lengan memeluknya dari belakang. Yeoja itu
memutar kepala ke belakang, petir seakan menyambar tubuhnya saat menemukan
kepala Eunhyuk di sana. Jantungnya langsung berdebar sangat heboh saat itu
juga.
“Oppa..” bisik
Hyunmi lirih.
“Aku memaafkanmu,
jangan pergi.”
Untuk sedetik, Hyunmi
membeku, berusaha menelaah kata yang baru saja keluar dari mulut Eunhyuk.
Payung yang dipegangnya jatuh begitu saja membuat tubuhnya basah, namun Hyunmi
tak mengacuhkan hal itu sebab terlalu terkejut dengan pelukan tiba-tiba
Eunhyuk.
“Apa maksudmu?”
Eunhyuk terkekeh kecil
lantas membalikkan tubuh Hyunmi hingga mereka berhadapan. “Donghae benar, aku
hanya terlalu takut mengakui kalau aku jatuh cinta padamu lagi Mi-ya,
aku hanya takut kalau Hana benar-benar tersingkir karena kehadiranmu. Maafkan
aku karena bertindak egois dengan mementingkan perasaanku sendiri tanpa
memikirkan perasaanmu.” jelas Eunhyuk panjang-lebar.
Hati Hyunmi menghangat,
bibirnya melengkung menciptakan segaris senyum yang membuat matanya nyaris tak
terlihat. Beban di hatinya berkurang─bahkan menghilang─mendengar perkataan yang
dilontarkan Eunhyuk. “Jadi artinya?”
Eunhyuk memutar bola
matanya jengah, “Tunggu, kau tidak akan selingkuh lagi, kan?” tanyanya tiba-tiba.
Hyunmi mengerucutkan
bibirnya, “Ani. Kali ini, percayalah padaku Oppa..” pintanya
dengan nada merajuk, Eunhyuk menahan diir untuk tidak tertawa melihatnya.
Sungguh, dia merindukan saat-saat seperti ini bersama Hyunmi.
“Tidak akan kembali ke
Jepang?”
“Aniy─Yak! Aku kan
harus menyerahkan skripsiku, tentu saja aku harus kembali ke Jepang.” pekik
Hyunmi tak terima.
Eunhyuk terkekeh, “Saranghaeyo..”
katanya lirih sambil mendekap Hyunmi erat.
“Nado Oppa,”
balas Hyunmi, dia membenamkan wajahnya di dada Eunhyuk berusaha mencari
kehangatan. “Bagaimana dengan Hanamu?” tanya Hyunmi tiba-tiba tanpa
mengangkat wajah.
Eunhyuk tertegun,
wajahnya terdongak ke atas langit seolah sedang mencari sesuatu. Tak lama,
senyum teretas di bibirnya sebelum ia mengangkat wajah Hyunmi hingga yeoja
itu menatap matanya. “Dia punya tempat sendiri, kau tak keberatan, kan?”
Eunhyuk menundukkan kepala untuk melihat wajah Hyunmi, sayangnya yeoja
itu malah menundukkan kepalanya dalam-dalam. Pelan, diangkatnya dagu Hyunmi
hingga mata mereka bertatapan. Berusaha saling menyelami emosi yang terpancar
dari bias mata masing-masing.
Hyunmi terdiam beberapa
saat, ada secuil rasa egois yang mendorongnya untuk mengatakan bahwa ia
keberatan. Menghela napas panjang, Hyunmi menepis semua rasa egois itu lantas
menganggukkan kepalanya sekali. “Ne, tentu saja tidak. Aku tidak akan
memaksa Oppa melupakan seseorang yang berharga bagi Oppa..”
Senyum hangat terukir
di bibir Eunhyuk mendengar perkataan Hyunmi. “Gomawo..” bisiknya lirih
sebelum mencium bibir Hyunmi dan membawa yeoja itu dalam pagutan lembut
penuh kasih di tengah hujan.
END
Yey finaaaaaal, akhirnya ini end juga :D karena ini udh end aku mau fokus ke BML haha.. Kritik dan saran ditunggu :D
Sampai jumpa di BML ceman :D

Tidak ada komentar:
Posting Komentar