Entri yang Diunggulkan

Series Recommendations! 🎥

Hi, happy Wednesday all! So decided to post my own personal series. I usually dont like watching movie, so because i watched those series ...

Jumat, 21 September 2012

That’s All About Us (series seven: Lee Hyukjae-END)


That’s All About Us (series seven: Lee Hyukjae-END)


Unpredictable Destiny

Suara pintu yang terbuka terdengar, Hana keluar dari kamar mandi di kamarnya dengan senandung kecil yang keluar lewat celah-celah bibir. Sambil menatap bayangannya di cermin, tangan yeoja itu bergerak mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk kecil.
Sejurus kemudian, deringan nada pesan masuk terdengar. Hana menghentikan kegiatan mengeringkan rambutnya lantas menyampirkan handuk itu di gantungan kecil, kakinya terayun menuju ranjang tempat di mana Hana menyimpan ponselnya.

From: Nae monkey Oppa
Chagi, jam 7 malam ini aku menunggumu di taman tempat pertama kali kita bertemu, ne? Jangan terlambat..
Saranghae^^

Sebuah senyum langsung terpasang secara otomatis di bibir Hana begitu mengetahui bahwa Eunhyuklah yang mengiriminya pesan. Hubungan mereka akhir-akhir ini berjalan dengan sangat baik. Meskipun Eunhyuk masih sangat sibuk dengan kegiatannya bersama Super Junior, namja itu tak pernah absen untuk menemuinya setiap pulang kerja─minimal mengabari lewat telepon. Sikap Eunhyuk juga jadi manis akhir-akhir ini. Entah apa yang membuatnya berubah, namun yang pasti Hana menikmati perubahan itu.

Sambil tersenyum membayangkan apa yang akan mereka lakukan nanti, Hana kembali menyenandungkan lagu cinta sembari menyambar handuk dan mengeringkan rambutnya lagi. Matahari yang bersinar cerah dan awan yang terlihat jarang di langit sana seolah ikut menyenandungkan lagu bahagia di hati Hana.

***

Setelah mengecek penampilannya di cermin sekali lagi, Hana menyemprotkan parfum di gaunnya lantas tersenyum puas. Yeoja itu mengambil tas tangan yang tergeletak di meja rias lalu mengayunkan kaki ke luar rumah.

Jalanan kota Seoul terlihat gelap saat Hana mengemudikan mobilnya ke taman tempat pertama kali dia dan Eunhyuk bertemu, lampu-lampu di pinggir jalan juga terlihat redup, namun bulan yang bersinar cerah cukup membuat malam ini terlihat indah di mata Hana.

Mobil yang Hana kendarai berhenti tepat di samping pintu masuk taman, yeoja itu mengernyit melihat taman yang terlihat gelap gulita tanpa penerangan satu lampu pun─padahal Hana yakin setiap jam 6 lampu di taman ini sudah dinyalakan. Menekan keheranan dan rasa takut yang perlahan menyelip, Hana melangkah mendekati pintu masuk.

“Kangin Oppa?” Hana bertanya heran ketika mendapati Kangin tak jauh dari pintu masuk, sedang berdiri tegap dengan kemeja putih serta memegang setangkai mawar merah.

Kangin tersenyum kecil melihat Hana, tanpa memedulikan ekspresi heran yang tergambar jelas di mata Hana, namja itu berjalan mendekati Hana dan menyodorkan setangkai mawar merah itu ke hadapan Hana. Hana menganga memandangi tangkai mawar merah yang diangsurkan Kangin, namun tak lama Hana menerima mawar itu dengan keheranan yang tak berkurang sedikitpun.

Oppa, ini untuk a─”

“Itu bukan dariku.” sela Kangin cepat, “kau akan tahu jawabannya nanti Hana-ya, jalan lurus 10 langkah dari sini.” Setelah mengatakan itu Kangin berjalan menjauh, lantas menghilang di kegelapan malam.

Hana memandangi tangkai mawar merah di tangannya dengan rahang terjatuh. Tak mau semakin jauh ditelan keheranan, Hana memutuskan untuk mengikuti petunjuk yang diberikan Kangin. Dia berjalan lurus 10 langkah hingga akhirnya menemukan Leeteuk di langkahnya yang ke 10.

Setangkai mawar merah kembali diterimanya dari Leeteuk. “Belok kiri lalu jalan 15 langkah.” kata Leeteuk memberi petunjuk sambil memberikan senyum angelnya.

Dan begitulah selanjutnya, Hana terus menerima bunga serta petunjuk yang membimbingnya ke orang selanjutnya. Shindong, Siwon, Yesung, Ryeowook, Sungmin, Kyu─

“Demi Tuhan, aku sebenarnya tidak mau melakukan ini.” Kyuhyun menggerutu saat Hana tiba di hadapannya, tapi tak urung namja itu memberikan tangkai mawar merah pada Hana, menghela napas memandangi wajah Hana yang terlihat menahan tawa akibat gerutuannya. “Belok kanan 15 langkah, Hana-ya.”

Oppa gomawo..” seru Hana sebelum Kyuhyun menghilang, Kyuhyun membalas dengan mengacungkan jempolnya tanpa berbalik.

Hana tersenyum mengamati bunga yang kini ada di tangannya, dalam hati yeoja itu menghitung ada berapa bunga yang sudah didapatnya. 8. Senyum Hana terkembang lebar meskipun dia tak mengerti untuk apa bunga-bunga ini.

The last,” kata Donghae sambil menyodorkan bunga mawar merah di tangannya begitu Hana tiba. Hana tersenyum kecil lantas mengambil bunga di tangan Donghae.

“Jadi aku sekarang harus kemana lagi Oppa?”

Donghae menggeleng seraya mengeluarkan penutup mata dari saku celananya. “Matamu harus ditutup sebelum pergi ke tempat terakhir.” kata Donghae sambil tersenyum tipis.

Ani, aku tidak mau. Bilang pada Eunhyuk Oppa untuk menghentikan permainan ini sebelum aku pulang.” balas Hana merengut.

Tanpa memedulikan protes Hana sama sekali, Donghae memasangkan penutup mata itu sambil terkekeh. “Kau akan menyesal jika tak melihat yang terakhir ini Hana.”

Hana menghela napas pasrah, dia membiarkan tubuhnya dituntun oleh Donghae ke suatu tempat. Saat merasa bahwa Donghae tak lagi menuntunnya, yeoja itu menahan napas penasaran.

“Kau boleh membuka mata saat tak mendengar langkahku lagi, Hana.” kata Donghae yang seperti bisikan lirih.

Hana menajamkan pendengaran, napasnya semakin terasa berat saat langkah Donghae semakin memelan hingga pelan-pelan... hilang. Tangannya yang tak memegang bunga mawar terangkat, perlahan melepaskan kain yang menutupi pandangannya.

Hana mengerjap-ngerjapkan mata untuk menyesuaikan penglihatannya, dan mulutnya langsung menganga lebar melihat pemandangan yang kini terhampar di hadapannya.

Hana diam di tengah-tengah nyala lilin berpola hati, dan di depannya, di pohon akasia sana─yang dihiasi lampu kecil berwarna-warni dan berkelap-kelip, tergantung ratusan foto Hana dan Eunhyuk. Dimulai dari kencan pertama mereka, malam natal di Namsan Tower tahun pertama, malam tahun baru, malam anniversary pertama mereka, dan foto lainnya yang mengandung makna berarti bagi mereka berdua. Mata Hana terpaku pada foto-foto itu, diamatinya satu persatu hingga ia tak dapat menahan air mata harunya lebih lama lagi, dia membekap mulutnya dengan satu tangan sementara tangan satunya menggenggam bunga di tangannya erat-erat.

“Berbaliklah..”

Lee Hyukjae berdiri tepat 10 meter di belakangnya. Dengan ditemani sebuket mawar merah di tangan, namja itu menyunggingkan senyum lembut penuh makna ke arah Hana.

Hana merasa melayang, setengah sadar, yeoja itu berjalan mendekati Eunhyuk. Berhenti satu meter dari tempat Eunhyuk berdiri. Pandangannya yang berkabut menyulitkan ia melihat wajah Eunhyuk dengan jelas. Hana membuka mulut, ingin menanyakan apa yang sebenarnya tengah terjadi pada Eunhyuk, namun tidak ada satu suara pun yang keluar dari mulutnya.

Eunhyuk menyodorkan buket bunga itu ke hadapan Hana, menghela napas sekali sebelum bersuara, “Will you marry me, Kim Hana?”

BLASH!

Hana menahan isakannya dengan sekuat tenaga begitu kalimat yang Eunhyuk ucapkan tadi─will you marry me─dilihatnya ada di belakang kepala Eunhyuk. Besar. Tergantung di antara pepohonan dan terbentuk dari lampu hias berwarna-warni yang menyala berkedip-kedip.

Tanpa bisa menahan diri, Hana menjatuhkan bunga mawar yang dipegangnya lantas menghambur ke pelukan Eunhyuk sambil terus bergumam “I do”.

***

Hyung, berhenti menghela napas berlebihan seperti itu.” kata Kyuhyun pada Leeteuk, jengah melihat aksi Leeteuk yang tampak begitu frustasi sejak tadi.

Semua member Suju memang diberi jatah liburan satu minggu oleh SM, oleh karena itu hari pertama liburan ini mereka memutuskan untuk bersantai di dorm sebelum pergi liburan sendiri-sendiri, apalagi mereka juga butuh istirahat akibat mempersiapkan rencana gila Eunhyuk tadi malam. Dan sekarang semua member Suju tengah berada di ruang tengah, menikmati film horor barat yang telah disepakati tadi dengan berbagai snack terhidang di meja.

“Aish, aku hanya tidak percaya kalau aku benar-benar dilangkahi dongsaengku sendiri.” sahut Leeteuk membalas perkataan Kyuhyun tadi. Semua member memutar bola mata jengah, termasuk Eunhyuk yang menjadi alasan utama mood buruk Leeteuk.

“Sudahlah Hyung, suatu hari kau juga akan menikah.” tukas Eunhyuk santai.

“Yah, suatu saat nanti.” balas Leeteuk muram membuat semua member tertawa tertahan. Semuanya tahu kalau Leeteuk paling tidak ingin di dahului oleh dongsaengnya jika menikah nanti, namun kali ini namja itu harus rela di dahului Eunhyuk.

“Omong-omong, persiapan pernikahan kalian sudah sampai mana, Hyung?” Siwon mengalihkan pertanyaan, menatap Eunhyuk sambil mengunyah kripik kentangnya. Semua member menatap Eunhyuk tertarik─kecuali Leeteuk yang tampak semakin muram─setidaknya ingin tahu kelanjutan kisah keduanya setelah semalam mereka membantu Eunhyuk melamar Hana.

Eunhyuk memandangi satu persatu wajah member Suju di hadapannya dengan senyum lebar. Namja itu menyimpan ponsel di samping tubuhnya sebelum menjawab pertanyaan Siwon dengan nada riang. “Hana bilang dia sudah mulai merancang baju,” mata berbinar Eunhyuk mau tak mau membuat semua member luluh dan ikut tersenyum, Leeteuk pun akhirnya menanggalkan wajah muramnya dan memasang senyum kecil. Iri di saat seperti ini mungkin tidak begitu cocok.

“Bagaimana dengan cincin pernikahan?”

Dan jadilah pagi itu dihabiskan seluruh member Suju untuk membicarakan tentang pernikahan Eunhyuk, dimulai dari undangan pernikahan sampai gedung tempat acara akan dilangsungkan.

***

Kim Hana mengangkat sketsa gaun yang dibuatnya hingga sejajar dengan kepala, desahan lolos dari bibirnya begitu merasa bahwa sketsa yang digambarnya kurang memuaskan. Hana menyimpan buku sketsa dan pensilnya di atas meja lantas meneguk jus jeruk yang sedari tadi diabaikannya saking seriusnya ia menggambar.

Setelah mengamati sketsa itu sekali lagi, Hana mengedarkan pandangan ke sekeliling kamar lantas tersenyum samar. Sudah sejak dua minggu yang lalu dia pulang ke rumah, eommanya meminta dia tinggal di rumah daripada di apartemen, dan Hana tak kuasa menolak sebab dia juga merindukan kehangatan keluarga. Haneul─eonninya─juga akan segera pulang ke Korea lusa nanti.

Tanpa sadar, senyum Hana terkembang lebar begitu teringat bagaimana reaksi sang eonni saat dia mengabarkan bahwa Eunhyuk melamarnya tadi malam lewat telepon, Haneul terdengar sangat excited, yeoja itu bahkan berencana untuk mempercepat kepulangannya kalau saja tak dilarang Hana. Reaksi yang tak kalah baik juga Hana dapatkan dari kedua orang tuanya. Eomma dan appanya bahkan mengatakan bahwa mereka tak sabar untuk menimang cucu─yang mengakibatkan wajah Hana bersemu merah saat itu.

Nada dering tanda ada telepon yang masuk dari ponsel Hana berhasil menghancurkan imajinasi yeoja itu. Setengah terkesiap, Hana menyambar ponselnya dari atas nakas lantas menempelkannya ke telinga.

MWORAGO?!” pekik Hana panic mendengar penjelasan dari salah satu karyawannya di butik,  Arraseo, aku ke sana dalam 15 menit.” sambung Hana masih dengan nada panik lalu memutus sambungan telepon. Salah satu pegawainya terkena musibah di tempat kerja, tertimbun patung untuk pajangan dan mengakibatkan tulang-tulangnya patah. Hana harus segera sampai di sana, dia tak mau sesuatu terjadi pada pegawainya.

Hana memasukkan semua keperluannya ke dalam tas lantas menyambar kunci mobil yang tergantung di dinding dengan cepat. Yeoja itu berlari menuju tangga tanpa memerhatikan keadaan sekitar. Dia bahkan tak sadar bahwa dia sedang mengenakan sepatu yang sangat licin.

Hana baru saja akan menginjak anak tangga yang kedua saat kakinya tiba-tiba tergelincir hingga tubuhnya condong ke depan, dan tanpa terhitung detik, Hana kehilangan keseimbangan.

Waktu seakan berhenti berdetik saat tubuhnya terempas dan berguling-guling di tangga.

BUG! Kepala Hana membentur lantai dengan keras, darah mengucur dengan deras dari kepalanya yang bocor. Satu-satunya yang Hana ingat saat itu adalah Eunhyuk, orang yang paling dicintainya, kekasih sekaligus calon suami yang satu-satunya dia inginkan untuk menjadi Appa dari anak-anaknya kelak.

Setetes air mata jatuh begitu saja dari mata Hana yang setengah terpejam, yeoja itu menggumamkan kata “Mianhae” dan “Saranghae” sebelum semuanya berubah menjadi gelap.

***

Berlari. Hanya itulah yang ada di pikiran Eunhyuk saat ini. Namja itu makin memacu langkahnya menyusuri lorong rumah sakit yang lengang. Perasaan cemas dan takut berlomba-lomba mengisi hatinya. Napas Eunhyuk memburu akibat berlari tanpa henti, tapi Eunhyuk tak peduli. Hanya keadaan Hana yang Eunhyuk pedulikan saat ini, ia hanya ingin cepat sampai dan memastikan bahwa Hana baik-baik saja. Namja itu terus berlari dengan pikiran penuh, dia bahkan tak peduli pada semua member Suju yang ikut berlari di belakangnya.

Mendapat telepon dari Nyonya Kim yang mengabarkan bahwa Hana jatuh dari tangga sama saja bagai terkena bom nuklir dari Amerika bagi Eunhyuk, telak menghancurkan semuanya, telak membuat dia merasa kehilangan oksigen yang biasa dihirupnya, dan telak membuat separuh jiwanya melayang.

Eunhyuk memelankan langkahnya begitu melihat kedua orang tua Hana di dekat pintu ruang operasi, tanpa memedulikan paru-parunya yang membutuhkan oksigen, namja itu bertanya dengan nada kelewat khawatir. “B-bagai-bagaimana ke-adaan Ha-na?”

Tuan Kim menggeleng pelan, sementara Nyonya Kim tak bisa berkata apa-apa selain terisak di dada suaminya. Eunhyuk merasakan tubuhnya lemas, seakan semua tulang yang selama ini menyangga tubuhnya dilolosi satu persatu. Dia bersandar pada dinding sambil memejamkan matanya yang terasa sangat perih. Cairan hangat sudah mendesak untuk keluar, namun Eunhyuk berusaha menahannya sekuat tenaga.

Gwaenchana, Hana akan baik-baik saja Hyuk.” hibur Donghae yang diamini anggukan member Suju lainnya.

Eunhyuk tak menjawab, dia hanya dapat termenung dengan pikiran penuh. Matanya menatap ke arah pintu ruang operasi dengan kosong.

Cklek!

Mianhae, kami sudah─”

Tanpa mendengarkan penjelasan Dokter lebih lanjut, Eunhyuk segera berlari ke dalam ruang operasi dengan jantung berdebar tak keruan. Tubuhnya langsung membeku saat mendapati wajah pucat Hana yang sudah tak bernapas, Eunhyuk berjalan tertatih menghampiri ranjang Hana, diguncangnya tubuh yeoja itu keras dengan air mata yang menganak sungai di pipinya.

ANDWAE!” jerit Eunhyuk lirih, “chagi, ireona, palli ireona. Ini bukan bulan April, kau tidak boleh mengerjaiku seperti ini. Ireona chagi, ireona..” racau Eunhyuk berulang-ulang, dia menepis tangan-tangan member Suju yang berusaha menenangkannya.

“Kau sudah setuju menikah denganku Hana, aku mohon bangunlah.. Bukankah kau ingin mempunyai anak yang lucu-lucu denganku, Hana? Hana, aku sudah membeli rumah di dekat butikmu. Nanti kita bisa belanja keperluan rumah tangga bersama. Aku juga janji akan selalu pulang kerja lebih cepat. Jebal Hana, ireona..”

“Eunhyukkie, sudahlah, relakan Hana..” bisik Leeteuk di samping telinganya, Eunhyuk langsung mendorong tubuh Leeteuk dengan keras lalu memeluk tubuh kaku Hana dengan posesif. Semua member Suju hanya dapat melihat Eunhyuk simpati, tak berani mendekat. Beberapa ikut menangis.

“Jangan bicara sembarangan Hyung! Hana hanya tidur, dia akan bangun sebentar lagi.”

“Eunhyuk, sudah, eommonim mohon jangan seperti ini..”

Air mata Eunhyuk mengucur semakin deras mendengar perkataan Nyonya Kim, tubuhnya merosot jatuh ke lantai begitu saja. Kenangannya bersama Hana berputar, membuat Eunhyuk ingin sekali berteriak melampiaskan seluruh emosinya.

Tak lama, Eunhyuk bangkit, menatapi wajah pias Hana selama beberapa detik sebelum akhirnya menempelkan bibirnya pada bibir Hana yang beku dan dingin─lama. Ciuman selamat tinggal, yang diberikan Eunhyuk untuk Hana hingga air matanya perlahan jatuh membasahi wajah pias yeoja yang paling dikasihinya itu.

***
Naege ireoke semyeodeulgo itseotdaneun geol molratseotseo (Aku tidak menyadari perpisahaan semakin mendekati ku seperti itu). Dasi dwedolril su itdamyeon (Betapa bahagianya kalau mengembalikan hubungan kita). Ani han beonman dasi useojundamyeon (Kalau kamu tersenyum sekali lagi kepadaku). Honjaseo jichin ne mameul anji motangeon (Aku tidak memeluk hatimu yang sudah lelah). Eoriseogeun jajonsimingeol, mianhae, my love (Akibat rasa percaya diri ku yang bodoh, maaf, cintaku). Chagawojin neoreul bomyeo ibyeori beonjyeoganeun (Sambil melihatmu yang menjadi dingin). Sunganeul ijeneun eojjeol su ebsemeul nan aljiman (Aku sudah menyadari tidak bisa berbuat apa-apa untuk menghalangi perpisahaan yang semakin dekat). Sarangiran ireumero seoseohi muldeul techeorum (Sebagaimana cinta semakin menyelimuti kita). Naege sarangi teonagago itseotdaneun geol molratseoseo (aku tidak menyadari cinta pun pergi seperti itu). Mianhadaneun mal jochado (Ungkapan maaf pun). Ireokena mianhande (Aku tidak bisa lontarkan karena merasa bersalah). Ireon naega museun mareul eoteoke haeya halka (Ungkapan apa yang aku harus lontarkan?). Sumjocha shil su eobseulmankeum eojireowo (Aku pusing sampai-sampai susah bernapas). Nocheoburin sigan sogeul seodulreo hemaeo bwado (Meskipun aku mencoba mengelilingi waktu yang sudah terlepas dengan tergesa-gesa). Ijewa hal su itneun geon eobdaneun geoseul (Namun tidak ada apa-apa yang dapat aku perbuat). {She’s Gone-Super Junior}
***

Satu bulan kemudian..

Seorang yeoja dengan rambut panjang yang diikat kuda ke belakang tampak meremas kaus yang digunakannya dengan gelisah. Koper hitam besar yang ada di samping tubuhnya dia abaikan, hatinya terlalu cemas memikirkan reaksi yang akan diterimanya nanti dari para penghuni dorm ini.

Oppa, benar tidak apa-apa?” tanya yeoja itu tiba-tiba sambil memutar kepalanya ke samping, pada seorang namja berkacamata hitam yang sedang mengamati pintu di hadapannya dengan wajah datar.

Namja itu balas memandang yeoja di sampingnya sebelum mengulas sebuah senyum. “Gwaenchana, Hyunmi-ssi. Sooman sajangnim sendiri bahkan sudah memberitahukan Leeteuk mengenai kedatanganmu. Lagipula hanya seminggu bukan?”

Kang Hyunmi, sepupu dari Lee Sooman, sekaligus mahasiswa akhir salah satu universitas terkenal di Jepang itu mengangguk ragu pada Youngmin. Dia memang meminta bantuan pamannya─Lee Sooman─untuk mengizinkan ia tinggal di salah satu dorm boyband untuk melakukan penelitian demi skripsinya, beruntunglah Lee Sooman mengizinkan, meskipun Hyunmi jauh di dalam lubuk hatinya Hyunmi merasa begitu gugup mengetahui bahwa Super Junior adalah pilihan Lee Sooman.

“Nah, kalau begitu ayo masuk. Mereka hari ini kebetulan tidak mempunyai jadwal.”

Hyunmi menarik kopernya dan mengikuti Youngmin masuk ke dalam dorm dari belakang. Kedatangan keduanya disambut tatapan heran para member Suju kecuali Leeteuk yang langsung tersenyum ramah dan menghampiri Hyunmi sambil membungkuk 45°, Hyunmi membalas senyum Leeteuk dengan ramah kemudian ikut membungkuk.

“Leeteuk-ah, aku titipkan Hyunmi padamu. Kau sudah tahu apa akibatnya kalau sesuatu terjadi padanya bukan?” ujar Youngmin tiba-tiba sambil menatap mata Leeteuk tajam, Leeteuk mengangguk paham. “Geurae,” sambung Youngmin puas lalu menatap ke arah Hyunmi yang masih terlihat kikuk. “Hyunmi-ssi, aku masih ada urusan, aku tinggal sekarang, ne? Semoga penelitianmu berjalan lancar.”

“Ah, ne. Gomawo atas bantuannya Oppa.” sahut Hyunmi lantas membungkuk pada Youngmin sebelum namja itu keluar.

Hyung, siapa yeoja itu?” celetuk Kyuhyun tiba-tiba.

Leeteuk membalikkan tubuhnya hingga berhadapan dengan semua dongsaengnya dan tersenyum kecil. “Dia Kang Hyunmi, sepupu Sooman sajangnim yang pernah aku ceritakan. Dia akan tinggal di sini selama satu minggu ke depan, bersikaplah baik padanya, ne?” Pertanyaan Leeteuk disambut koor setuju dari member Suju yang sekarang mengamati Hyunmi dengan penasaran.

Seakan tersadar, Hyunmi buru-buru membungkuk ke arah member Suju lainnya sebelum memperkenalkan diri dengan gugup. “Annyeong haseyo Oppadeul, choneun Kang Hyunmi imnida, mohon bantuannya selama seminggu ke depan.”

Member Suju berdiri, balas membungkuk pada Hyunmi dengan senyum ramah di bibir masing-masing sebelum memperkenalkan diri mereka satu persatu. Dalam hati Hyunmi menghitung jumlah total semua member yang ada. Dia mendesah diam-diam saat menyadari hanya ada 9 namja di ruangan ini.

***

Eunhyuk mengamati makam yang dikunjunginya selama sebulan terakhir dengan ekspresi penuh luka. Setelah meyakinkan sekali lagi bahwa orang yang tertidur di sini akan baik-baik saja, namja itu beranjak berdiri dan berjalan ke arah mobilnya terparkir.

Hari sudah beranjak malam ketika Eunhyuk sampai di dormnya. Mengembuskan napas panjang, tangan Eunhyuk akhirnya bergerak membuka pintu dorm. Keningnya langsung mengernyit begitu melihat ada sepasang sepatu milik perempuan di rak sepatu, namun tak mengindahkan hal itu, Eunhyuk berjalan masuk. Tanpa senyum, tanpa sapaan, tubuhnya melenggang begitu saja menuju kamar.

“Eunhyuk Hyung, sudah makan?” Pertanyaan Ryeowook berhasil menginterupsi langkah Eunhyuk.

Eunhyuk berbalik, berniat menjawab pertanyaan Ryeowook. Namun wajahnya langsung mengeras secara tiba-tiba begitu melihat seorang yeoja di antara member Suju lainnya. Eunhyuk mengatupkan rahangnya rapat-rapat, berusaha keras menahan letupan amarah di dadanya yang muncul secara tiba-tiba.

Dengan nada sinis, namja itu mendesis. “Kenapa kau kembali?”

Semua member Suju mengikuti arah pandangan Eunhyuk, mereka mengerutkan kening bingung melihat bahwa Hyunmilah yang dipandangi dengan begitu tajam oleh Eunhyuk.

Hyunmi sendiri hanya bisa menggigit bibir bawahnya keras melihat tatapan Eunhyuk yang begitu menusuk, hatinya teriris kecil-kecil sebelum akhirnya sebuah kata keluar lewat celah bibirnya dengan begitu lirih. “Mianhae..” Dan sayangnya, Eunhyuk sama sekali tak menggubris, namja itu secepat angin berlalu dari hadapan semuanya. Dibantingnya pintu kamar dengan keras membuat air mata menetes dari mata Hyunmi yang berkaca-kaca.

***

Eunhyuk memejamkan mata, mencoba untuk pergi ke alam mimpi sesegera mungkin. Namun tak lama, matanya terbuka kembali. Bayangan wajah yeoja yang tadi ditemuinya berputar di pelupuk matanya membuat Eunhyuk meringis keras-keras. Yeoja itu bukan orang asing baginya. Jelas, meskipun sudah hampir 8 tahun tak bertemu, Eunhyuk tak akan bisa melupakan bagaimana rupa yeoja itu. Bukannya ia tak mau, namun segala hal tentang yeoja itu terlalu melekat kuat di memori otaknya.

Kang Hyunmi, keponakan dari Lee Sooman sekaligus cinta pertamanya sewaktu Senior High School dulu. Eunhyuk tak tahu bagaimana asal-mulanya mereka sampai bisa menjadi sepasang kekasih, tapi yang ia tahu, dulu mereka bahagia dengan hubungan mereka. Walau pada kenyataannya Hyunmi lebih muda 4 tahun darinya─yang artinya yeoja itu dulu masih Junior High School─tapi dia sudah bisa bersikap dewasa, sebab itulah Eunhyuk merasa nyaman meskipun berpacaran dengan ‘bocah’.

Sayangnya, itu dulu. Dulu sebelum Eunhyuk tiba-tiba saja  menemukan Hyunmi sedang berpelukan mesra dengan seorang namja─yang Eunhyuk kenal merupakan teman sekelasnya. Tanpa harus memiliki otak yang jenius, Eunhyuk tentu tahu bahwa Hyunmi selama ini ternyata berselingkuh di belakangnya. Jujur saja, Eunhyuk hancur saat itu. Maka seberapa cintanya pun ia pada Hyunmi, Eunhyuk memutuskan hubungan mereka saat itu juga. Hyunmi waktu itu berulang kali mencoba menjelaskan, namun Eunhyuk selalu mengelak, dia tak pernah mau menemui Hyunmi lagi hingga Hyunmi tiba-tiba saja menghilang saat hari kelulusannya.

Dan saat itulah Hana datang, mengobati sakit hatinya hingga Eunhyuk jatuh begitu jauh dalam kasih yang diberikan Hana. Hana memberikan warna lain dalam hidupnya, senang maupun susah Hana selalu ada untuknya, mengulurkan tangan agar ia tak jatuh terpuruk. Tanpa sadar, air mata perlahan mulai melewati sela-sela mata Eunhyuk, Hana akhirnya juga pergi, bahkan yeoja itu pergi di saat-saat mereka akan menjemput kebahagiaan bersama.

Dan sekarang, di saat Eunhyuk sudah tidak memiliki Hana lagi di sampingnya, mengapa Hyunmi harus datang lagi di hidupnya? Mengapa yeoja itu harus kembali? Lukanya karena ditinggal Hana belum sembuh, kini luka lama karena dikhianati Hyunmi harus terbuka kembali. Eunhyuk berpikir, dosa apa dia perbuat sampai Tuhan begitu membencinya?

Eunhyuk tak tahu mengapa Hyunmi kembali lagi, namun ia takut jika kehadiran Hyunmi bisa menggeser posisi Hana. Seberapa sakit hatinya pun ia sebab pengkhianatan Hyunmi, perasaannya tidak bisa berbohong. Kalau ditanya apakah masih ada secuil perasaan untuk Hyunmi, Eunhyuk tak bisa berbohong dengan menjawab tidak. Bagaimanapun cinta pertama itu sulit dilupakan, bukan?

Dengan sisa kesadaran yang masih dimilikinya, tangan Eunhyuk bergerak secepat yang ia bisa lantas menyeka air mata di pipinya. Setelah itu, dia beranjak ke arah pintu karena seseorang telah mengetuk pintu itu berulang kali.

Eunhyuk baru saja akan menutup pintu itu kembali begitu melihat wajah Hyunmi, namun sayang, tangannya kalah cepat dari kaki Hyunmi, membuat Eunhyuk menatap wajah yeoja itu malas. “Wae?”

“Sudah 8 tahun Oppa, kau harus mendengarkan penjelasanku kali ini.” kata Hyunmi yang lebih terdengar seperti bisikan.

Darah Eunhyuk berdesir mendengar suara Hyunmi, namun sekuat tenaga dia menolak segala macam perasaan yang ingin menyelinap masuk ke dalam hatinya. “Tentang apalagi, Hyunmi-ssi? Bukankah pembicaraan kita sudah berakhir 8 tahun yang lalu?”

Namja itu Yongsuk,” tutur Hyunmi tanpa memedulikan perkataan Eunhyuk tadi, dia mengangkat wajah dan memandang lurus ke mata Eunhyuk, mengisyaratkan banyak kata maaf. Eunhyuk diam, dia memalingkan mata agar tidak luluh begitu saja oleh permintaan maaf Hyunmi. “Mianhae, aku tidak pernah bermaksud menduakanmu Oppa, itu terjadi begitu saja. Yongsuk sahabatku, aku benar-benar tidak tega jika harus menolak perasaannya.”

Namja itu tahu kau saat itu bersamaku, bukan?” tanya Eunhyuk dengan nada rendah yang menusuk.

Hyunmi menghela napas, tak sedetikpun matanya berpaling dari wajah Eunhyuk walaupun namja itu tak menatapnya sama sekali. “Ne, dia rela menjadi yang kedua, dan fakta bahwa orangtuanya akan bercerai membuat aku semakin tak tega untuk menolaknya saat itu Oppa, mianhae. Aku ke sini hanya ingin mendapatkan maafmu Oppa.”

Eunhyuk menyingkirkan kaki Hyunmi yang menghalangi pintu kamarnya, namja itu balas menatap Hyunmi dengan tajam. “Itu bukan alasan yang kuat untuk berselingkuh, nona Kang. Lagipula aku benar-benar sudah tidak peduli denganmu. Kita hanya masa lalu.”

Pintu sudah benar-benar hampir tertutup saat suara Hyunmi kembali terdengar, “Aku juga turut berduka atas kematian calon istrimu, Oppa.”

BRAK!

Hyunmi menatap sedih pintu kamar yang tertutup di depan wajahnya. Yeoja itu memandangi ujung sepatunya dengan gamang. Hyunmi tahu dia dulu salah, sangat malah. Karena itu dia menyesal. Selain karena skripsi, Hyunmi juga kemari untuk mendapatkan maaf Eunhyuk. 8 tahun yang lalu, dia belum sempat mendapatkan maaf dari namja itu sebab terpaksa harus ikut pindah ke Jepang karena pekerjaan Appanya.

Hyunmi mendesah diam-diam begitu dia berbalik dan mulai melangkah ke kamarnya. Hati kecilnya berbisik bahwa dia juga ke sini untuk mendapatkan cinta Eunhyuk kembali. Walaupun 8 tahun bukan waktu yang sebentar, Hyunmi tidak bisa sekali pun memandang namja lain. Nama Lee Hyukjae selalu terukir di sana, jelas, hampir menyerupai permanen.

***

Oppa sudah makan?”

Eunhyuk mendelik sekilas kepada Hyunmi sebelum berlalu meninggalkan yeoja itu seorang diri di ruang tengah. Dia baru saja pulang dari salah satu program TV, dan begitu masuk harus di hadapkan pada pertanyaan-pertanyaan Hyunmi. Selalu begitu selama lima hari belakangan, meskipun Eunhyuk tak pernah menggubris atau malah bersikap tak peduli, Hyunmi tak pernah menyerah. Yeoja itu sangat keras kepala. Bahkan sekarang Eunhyuklah yang hampir menyerah karena benar-benar tak bisa mengusir yeoja itu dari kehidupannya.

Eunhyuk membantingkan tubuhnya ke atas ranjang. Saat matanya mulai terpejam dan pikirannya mulai berkelana membayangkan saat-saat dia bersama Hana, bayangan Hyunmi melintas. Berbaur dengan bayangan Hana, berbaur dengan segala kenangannya dengan Hana. Eunhyuk memukul bantal di dekatnya dengan geram, hatinya memaki mati-matian menyadari Hana pelan-pelan memudar dari pikirannya. Sekuat apapun dia berusaha mengabaikan Hyunmi, alam bawah sadarnya justru pelan-pelan mulai menerima yeoja itu kembali.

Mata Eunhyuk beralih pada meja di sampingnya, tepat pada potret dirinya dan Hana yang terbingkai oleh pigura biru berhiaskan hati. Sudut bibir Eunhyuk terangkat membentuk sneyum getir saat pelan-pelan dia mengambil pigura itu lantas mengamatinya dalam jarak dekat.

Mianhae..” bisik Eunhyuk sambil mengelus wajah Hana di dalam foto, tatapannya melembut seiring dengan suaranya yang semakin melirih. “aku juga tak menginginkan ini terjadi Hana-ya, sebisa mungkin aku mempertahankan perasaanku untukmu. Tapi semakin lama ini semakin sulit. Yeoja itu.. orang yang pernah aku ceritakan padamu pelan-pelan menyusup, mencoba menumbuhkan lagi perasaan yang sudah lama terkubur mati dalam hatiku. Aku tidak pernah ingin jatuh dalam jeratannya lagi, aku takut masa lalu terulang Hana. Takut sekali..” Eunhyuk menjeda kalimatnya, matanya yang sudah mulai berkabut menyiratkan seberapa takut ia jatuh kembali. “Saat ini, aku mungkin masih bisa bersembunyi dalam kepalsuan, tapi jika dia bertahan lebih lama, aku tidak bisa menjamin kalau aku tidak jatuh lagi. Mianhae chagi, jeongmal mianhae. Nan neomu saranghaeyo..”

Pelan, Eunhyuk mendekatkan pigura itu lantas mendekapnya di dada. Mencoba menenangkan hatinya yang bergumuruh dengan perasaan terombang-ambing tak jelas.

Kembalinya Hyunmi memang bisa merubah segala hal yang sudah lama tertanam kokoh di hati Eunhyuk, bahkan kalaupun Hyunmi kembali saat Hana masih ada, ia ragu bahwa hatinya tak akan berpaling.

Hati memang sesuatu yang sulit dimengerti, sulit dipahami, dan sulit dijelaskan dengan kata-kata. Bahkan kita tidak bisa mengontrol hati sesuai keinginan kita, sebab itulah cinta bisa tumbuh kapan saja, dimana saja, dan.. pada siapa saja.

***

Jam menunjukkan pukul 11.00 p.m saat pintu dorm terbuka. Menampilkan wajah lelah Shindong, Donghae, dan Leeteuk yang memang baru saja pulang dari sebuah acara. Mereka pulang paling telat karena member lain ternyata sudah ada di ruang tengah, sedang melakukan kegiatan masing-masing dengan tivi menyala. Ketiga namja itu langsung mengempaskan diri di sofa, mengembuskan napas lega berlebihan saat sadar mereka akhirnya bisa beristirahat.

“Minuman datang..” seru Hyunmi tiba-tiba saat dia masuk ke ruang tengah. Ketiga member yang baru datang langsung bersorak melihat apa yang dibawa Hyunmi, tanpa basa-basi mereka semua menyambar jus jeruk itu hingga dalam hitungan detik, nampan yang dibawa Hyunmi sudah kosong.

Hyunmi tertawa kecil melihat kelakuan member Suju yang seperti anak kecil. Setelah menyimpan nampan itu di dapur, Hyunmi kembali ke ruang tengah lantas mengerjakan bagian akhir skripsinya kembali. Tanpa terasa, dia sudah 5 hari di sini, dan skripsinya pun sudah hampir selesai. Hyunmi senang sekaligus sedih mengetahui fakta itu. Senang karena skripsi yang susah-payah dia buat akhirnya sampai pada tahap akhir, dan sedih karena sampai sekarang pun ia bahkan tak bisa mendapatkan maaf dari Eunhyuk.

Menghela napas saat teringat Eunhyuk, Hyunmi mencoba memfokuskan pikirannya kembali pada skripsinya.

“Skripsimu sudah sampai dimana, Hyunmi-ya?” tanya Yesung tiba-tiba.

“Sudah bagian akhir Oppa.” jawab Hyunmi cepat sambil melempar senyum pada Yesung, Yesung balas tersenyum.

“Jadi kau tinggal dua hari lagi ada di sini?”

Hyunmi mengalihkan tatapannya pada Sungmin yang baru saja bertanya, tanpa bisa dicegah, senyumnya perlahan menghilang sebelum dia mengangguk pelan.

“Ah, sedih sekali. Nanti tidak ada yang bisa membantuku menyiapkan makanan lagi,” keluh Ryeowook tiba-tiba.

“Aku hanya membantu mengambilkan bahan-bahan dan menata piring, Oppa, bukan membantu memasak.” tukas Hyunmi diiringi tawa renyah.

“Setidaknya kau mau membantu, tidak seperti namja-namja di sini yang tahunya hanya makan.” sahut Ryeowook menyindir. Perkataan Ryeowook disambut ‘huu’ panjang dari para member.

“Omong-omong, kau sudah berbaikan dengan Hyukjae, Hyun?”

Pertanyaan Donghae menggores sudut hati Hyunmi. Demi seluruh nemo yang ada di dunia, mengapa Donghae harus menanyakan hal seperti ini?

Aniyo. Hyukjae Oppa sepertinya benar-benar membenciku. Lihat saja sekarang, semenjak aku di sini dia tak pernah keluar kamar untuk bergabung bersama kalian, bukan?”

“Ugh, aku mungkin jarang berkata seperti ini, tapi, jangan menyerah Hyunmi.” Kyuhyun bersuara, membutakan matanya dari tatapan tak percaya member Suju. “Aku yakin Eunhyuk Hyung sudah memaafkanmu, hanya masalah waktu saja sampai dia mengakuinya.”

“Aw, aku tak menyangka Kyuhyun Oppa bisa sebijak ini.” seru Hyunmi polos sambil menahan haru mendengar perkataan Kyuhyun. Sontak saja perkataan polos Hyunmi berhasil membuat yang lainnya tertawa, wajah Kyuhyun langsung masam.

“Tapi gomawo atas sarannya Oppa.” kata Hyunmi lagi menghentikan tawa member Suju, “walau sepertinya mendapatkan maaf langsung dari mulut Hyukjae Oppa hampir mustahil, apalagi aku di sini hanya tinggal dua hari lagi.”

“Tapi kau masih mencintainya, kan?” celetuk Sungmin tak berdosa.

Dada Hyunmi berdenyut, sekeras mungkin dia berusaha memasang senyum di wajahnya. “Ne..”

“Sstt, kenapa suasananya jadi mellow seperti ini?” tegur Leeteuk tiba-tiba melihat ekspresi mendung di wajah Hyunmi, semua member terdiam. Mereka memang sudah tahu cerita masa lalu Eunhyuk dan Hyunmi dari mulut Hyunmi sendiri, mereka juga sudah berusaha membujuk Eunhyuk agar mau memaafkan Hyunmi, tapi hanya penolakan yang selalu mereka dapatkan.

Mereka memang tak bisa menyalahkan Eunhyuk karena dalam hal ini, Hyunmi yang salah. Tapi mereka juga tak tega untuk melihat Hyunmi terus-terusan meminta maaf dari Eunhyuk, apalagi dengan fakta kejadian itu sudah berlalu selama 8 tahun. Sayangnya mereka tidak bisa berbuat apapun untuk membantu Hyunmi karena kekeras-kepalaan Eunhyuk.

Suara pintu kamar dibuka terdengar.

“Hae, kau melihat Ipod yang aku sim─kenapa kalian menatapku seperti itu?” Eunhyuk langsung mengalihkan pertanyaan begitu mendapati mata semua member terarah padanya, ditambah mata Hyunmi yang memancarkan ekspresi sedih─Eunhyuk diam-diam merasa hatinya bagai tertusuk pisau melihat ekspresi Hyunmi.

Hyunmi buru-buru mengubah ekspresi wajahnya dan memasang senyum lembut pada Eunhyuk, “Apa Ipod ini yang kaumaksud, Oppa?” tanyanya sambil mengacungkan Ipod putih yang diambilnya dari saku baju.

Tatapan Eunhyuk menajam melihat Ipodnya ada di tangan Hyunmi, tanpa bisa dicegah, namja itu refleks merebut Ipodnya dengan kasar dari tangan Hyunmi. “Sudah aku bilang berapa kali untuk tidak menyentuh barang-barangku?” teriak Eunhyuk marah, “aku tak peduli apa yang sudah kauperbuat sampai semua member menyukaimu, tapi bisakah kau berhenti mengganggu hidupku?”

Hyunmi membeku. Merasa terhina dengan semua teriakan Eunhyuk. Air mata keluar dengan sendirinya tanpa sempat dia tahan. Hyunmi berusaha menahan semua luka yang tercipta karena perkataan Eunhyuk, namun dia tak bisa. Hatinya serasa dirobek menjadi dua hingga ia merasa dadanya sesak. Untuk sekejap, Hyunmi bahkan lupa caranya bernapas.

Mianhae, aku tahu ini salahku. Aku benar-benar minta maaf Oppa, mianhae.” kata Hyunmi sambil membungkuk berkali-kali pada Eunhyuk dengan mata berlinang. Tanpa membuang waktu, yeoja itu menyambar laptopnya di meja lantas pergi ke kamar dan mengurung dirinya di sana.

“Kau keterlaluan, Hyuk.”

Seruan Sungmin berhasil membuat Eunhyuk terjaga dari keterkejutannya akan reaksi Hyunmi. Perih yang sangat menyiksa menampar hati Eunhyuk berkali-kali, sekeras mungkin namja itu berusaha mengabaikannya dengan mengangkat bahu dan memasang wajah tak peduli lalu kembali ke kamar. Membuat member Suju menahan napas melihat sikap Eunhyuk.

***

Hyunmi menatap kopernya yang sudah penuh dengan barang-barang lantas mendesah saru. Dua hari berlalu dengan cepat. Hari ini adalah hari terakhirnya tinggal di dorm Suju, besok Hyunmi sudah harus ada di Jepang untuk menyerahkan skripsinya pada Dosen.

Mata Hyunmi lalu beralih menatap keluar jendela, helaan napas panjang lolos dari bibirnya melihat hujan deras tengah mengguyur kota Seoul. Udara pasti sangat dingin di luar sana, tebaknya dalam hati sebelum menyeret kopernya keluar kamar.

“Hyunmi, apa kau tidak bisa menunda kepergianmu? Hujan di luar sangat deras.” kata Kangin khawatir begitu Hyunmi berpamitan dengan semua member Suju di depan dorm mereka.

Hyunmi tersenyum, lalu menggeleng. “Gwaenchana Oppa, lagipula aku memakai payung.” balasnya sambil mencoba bercanda, tapi tidak ada satupun member Suju yang tertawa. Hyunmi mendesah, ah dia jadi berat meninggalkan mereka.

“Hati-hatilah di jalan..” pesan Shindong membuat Hyunmi mengangguk pelan.

“Terimakasih atas bantuan Oppadeul selama aku di sini, aku pasti tidak akan bisa melupakan kebaikan kalian.” tutur Hyunmi sembari menghela napas beberapa kali. “Tolong maafkan kesalahanku selama di sini, juga tolong sampaikan permintaan maafku untuk Hyukjae Oppa.” Semua member terdiam mendengar perkataan terakhir Hyunmi, mereka hanya bisa mengekor bayangan Hyunmi yang pelan-pelan menghilang.

“Dia benar-benar yeoja yang kuat.” kata Siwon memecahkan keheningan.

“Aish, Lee Hyukjae bodoh!” maki Donghae, “biar aku bicara padanya. Jangan ada yang ikut campur apapun yang terjadi nanti.” peringat Donghae pada semua member Suju sebelum dia berjalan ke dalam dorm dan masuk ke dalam kamar Eunhyuk diiringi bantingan pintu yang keras.

***

Kota Seoul benar-benar dingin. Hyunmi berjalan di tengah hujan dengan payung hitam yang melindungi tubuhnya. Yeoja itu mengeratkan mantel untuk mencari kehangatan. Kakinya berhenti melangkah di pinggir jalan untuk menunggu taksi lewat. Lee Sooman sebenarnya menawarkan diri untuk mengantar Hyunmi ke bandara, tapi yeoja itu menolak dengan alasan tidak ingin merepotkan.

Selagi menunggu taksi, Hyunmi termenung. Otaknya mereka ulang semua kejadian yang terjadi selama seminggu ini. Tentang bagaimana perjuangannya untuk mendapatkan maaf dari Eunhyuk yang sayangnya sama sekali tak berhasil. Tentang bagaimana perasaannya yang jatuh-bangun berulang kali karena ucapan namja itu. Juga tentang segala hal manis yang dia perbuat untuk menunjukkan perasaannya pada Eunhyuk. Lubang yang menganga di hatinya serasa disiram air cuka teringat bagaimana Eunhyuk menanggapi semua perhatiannya. Dingin dan kasar. Tidak ada satu pun harapan yang Hyunmi dapat dari perlakuannya.

Selama seminggu penuh dia selalu bertahan, meski pun kepingan hatinya telah hancur berkeping-keping hingga menjadi serpihan yang tak bisa digapai, Hyunmi tak pernah putus asa sebab ia ingin memperlihatkan kesungguhannya pada Eunhyuk. Namun dua hari kemarin adalah puncak dari kesabarannya. Hyunmi tak bisa bertahan lebih lama lagi, dia akhirnya harus menyerah pada kenyataan bahwa Eunhyuk tak akan memaafkannya sama sekali. Dia juga harus menyerah dengan perih yang menyayat karena cintanya yang tak terbalas.

8 tahun tanpa bisa berpaling pada namja lain, pada akhirnya Hyunmi tetap tak bisa mengecap bahagia. Perjuangannya berakhir tanpa hasil.

Senyum kecut terukir di bibir Hyunmi dengan sendirinya. Kalau bisa, dia ingin sekali memutar waktu ke 8 tahun yang lalu agar ia tak melakukan kesalahan bodoh. Kalau bisa, ia tak akan pernah mengkhianati Eunhyuk, dia akan menjaga hubungan mereka baik-baik, bahkan Hyunmi mungkin akan lebih memilih tinggal di apartemen daripada ikut ke Jepang. Tapi itu hanya perandaian. Waktu itu tak akan bisa terulang, kesalahan yang terjadi di masa lalu tak pernah bisa kita perbaiki. Yang bisa kita lakukan saat ini adalah menata masa depan dengan tidak mengulangi kesalahan yang terjadi di masa lalu.

Hyunmi meraup udara dengan rakus begitu tersadar dari pikirannya, tangan yeoja itu melambai untuk menyetop sebuah taksi tapi sayangnya taksi itu berlalu.

Dibawah guyuran hujan yang bertambah lebat tiap saat, Hyunmi terdiam menunggu taksi dengan hati tak berbentuk lagi.

***

Eunhyuk menyusuri lorong gedung apartemennya dengan berlari-lari, tujuan hanya satu saat ini, menemukan Hyunmi.

“Jangan jadi pengecut, Hyuk! Kau hanya takut mengakui kalau kau sudah memaafkan Hyunmi dan jatuh cinta padanya lagi, kau hanya takut menyadari kalau Hana pelan-pelan menghilang dari pikiranmu, kau hanya takut Hyuk. Kau takut sampai-sampai memperlakukan Hyunmi seperti itu. Ayolah Hyuk, jangan jadi pengecut seperti ini. Kau tahu? Hana pasti akan sangat sedih melihatmu seperti ini. Kau juga perlu bahagia, Hana pasti mengerti. Selagi masih bisa, kejarlah ia Hyuk. Sebelum kau kehilangan untuk kedua kalinya..”

Kata-kata Donghae─yang dibarengi perdebatan singkat dengannya─berdengung di telinga Eunhyuk, menyebabkan kaki namja itu melangkah lebih cepat dari sebelumnya.

Dinginnya udara dan lebatnya hujan tak menjadi hambatan bagi Eunhyuk, namja itu tetap menerobos hujan untuk sampai di pinggir jalan. Saat dia melihat bayangan Hyunmi, Eunhyuk tanpa ragu memeluk tubuh yeoja itu dari belakang.

Hyunmi langsung tersentak ketika sepasang lengan memeluknya dari belakang. Yeoja itu memutar kepala ke belakang, petir seakan menyambar tubuhnya saat menemukan kepala Eunhyuk di sana. Jantungnya langsung berdebar sangat heboh saat itu juga.

Oppa..” bisik Hyunmi lirih.

“Aku memaafkanmu, jangan pergi.”

Untuk sedetik, Hyunmi membeku, berusaha menelaah kata yang baru saja keluar dari mulut Eunhyuk. Payung yang dipegangnya jatuh begitu saja membuat tubuhnya basah, namun Hyunmi tak mengacuhkan hal itu sebab terlalu terkejut dengan pelukan tiba-tiba Eunhyuk.
“Apa maksudmu?”

Eunhyuk terkekeh kecil lantas membalikkan tubuh Hyunmi hingga mereka berhadapan. “Donghae benar, aku hanya terlalu takut mengakui kalau aku jatuh cinta padamu lagi Mi-ya, aku hanya takut kalau Hana benar-benar tersingkir karena kehadiranmu. Maafkan aku karena bertindak egois dengan mementingkan perasaanku sendiri tanpa memikirkan perasaanmu.” jelas Eunhyuk panjang-lebar.

Hati Hyunmi menghangat, bibirnya melengkung menciptakan segaris senyum yang membuat matanya nyaris tak terlihat. Beban di hatinya berkurang─bahkan menghilang─mendengar perkataan yang dilontarkan Eunhyuk. “Jadi artinya?”

Eunhyuk memutar bola matanya jengah, “Tunggu, kau tidak akan selingkuh lagi, kan?” tanyanya tiba-tiba.

Hyunmi mengerucutkan bibirnya, “Ani. Kali ini, percayalah padaku Oppa..” pintanya dengan nada merajuk, Eunhyuk menahan diir untuk tidak tertawa melihatnya. Sungguh, dia merindukan saat-saat seperti ini bersama Hyunmi.

“Tidak akan kembali ke Jepang?”

“Aniy─Yak! Aku kan harus menyerahkan skripsiku, tentu saja aku harus kembali ke Jepang.” pekik Hyunmi tak terima.

Eunhyuk terkekeh, “Saranghaeyo..” katanya lirih sambil mendekap Hyunmi erat.

Nado Oppa,” balas Hyunmi, dia membenamkan wajahnya di dada Eunhyuk berusaha mencari kehangatan. “Bagaimana dengan Hanamu?” tanya Hyunmi tiba-tiba tanpa mengangkat wajah.

Eunhyuk tertegun, wajahnya terdongak ke atas langit seolah sedang mencari sesuatu. Tak lama, senyum teretas di bibirnya sebelum ia mengangkat wajah Hyunmi hingga yeoja itu menatap matanya. “Dia punya tempat sendiri, kau tak keberatan, kan?” Eunhyuk menundukkan kepala untuk melihat wajah Hyunmi, sayangnya yeoja itu malah menundukkan kepalanya dalam-dalam. Pelan, diangkatnya dagu Hyunmi hingga mata mereka bertatapan. Berusaha saling menyelami emosi yang terpancar dari bias mata masing-masing.

Hyunmi terdiam beberapa saat, ada secuil rasa egois yang mendorongnya untuk mengatakan bahwa ia keberatan. Menghela napas panjang, Hyunmi menepis semua rasa egois itu lantas menganggukkan kepalanya sekali. “Ne, tentu saja tidak. Aku tidak akan memaksa Oppa melupakan seseorang yang berharga bagi Oppa..”

Senyum hangat terukir di bibir Eunhyuk mendengar perkataan Hyunmi. “Gomawo..” bisiknya lirih sebelum mencium bibir Hyunmi dan membawa yeoja itu dalam pagutan lembut penuh kasih di tengah hujan.

END

Yey finaaaaaal, akhirnya ini end juga :D karena ini udh end aku mau fokus ke BML haha.. Kritik dan saran ditunggu :D
Sampai jumpa di BML ceman :D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar