FIVE
“O
|
PPA,
apa yang terjadi pada mereka berdua?” Taeyoung dan Hyerin yang baru saja tiba
di ruang tengah mansion langsung berteriak kompak melihat Hyunmi dan
Saera tertidur di sofa. Keduanya berlari secepat yang mereka bisa untuk sampai
di dekat Hyunmi dan Saera, tak memedulikan Kyuhyun juga Hyukjae sama sekali
yang duduk di samping Hyunmi dan Saera.
“Hanya kecelakaan
kecil saat latihan.” Kyuhyun yang menjawab pertanyaan kedua yeoja itu
meski pun jawabannya tampak tak digubris sama sekali sebab Taeyoung dan Hyerin
sudah sibuk untuk membangunkan keduanya.
Donghae dan
Jongwoon yang ditinggalkan begitu saja oleh hisaminya berjalan mendekat,
keduanya menatap Hyunmi dan Saera bergantian sebelum memfokuskan pandangannya
pada Kyuhyun dan Hyukjae. Dengan isyarat mata, Hyukjae dan Kyuhyun berjalan
mendekat lantas keempat namja itu menghilang menuju sebuah ruangan.
“Eung..” Saera
mengerang saat kepalanya berdenyut nyeri ketika dia membuka mata. Setelah
mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali untuk memfokuskan bayangan, yeoja
itu mengernyit melihat wajah Hyerin dan Taeyoung yang sangat dekat dengannya.
Menatap Saera dengan wajah panik campur khawatir yang begitu kentara.
“Aigo Eonni,
jauhkan wajah kalian.” kata Saera kesal sambil berusaha duduk di sofa, yeoja
itu mengurut keningnya pelan seraya mencoba mengingat-ingat apa yang telah
terjadi sampai dia bisa pingsan seperti ini.
Jantungnya
langsung berdebar cepat begitu kilasan kejadian dengan sosok hitam tadi
melayang di kepalanya. Aku, membunuh bayangan itu? bisiknya dalam hati
tak percaya.
“Saera-ya,
apa yang terjadi padamu dan Hyunmi Eonni?”
Saera meminum
air yang disodorkan Taeyoung lantas menggeleng kepada Hyerin, pikirannya
terlalu penuh dengan kejadian tadi membuat Saera tak mampu mengatakan apapun. “Mollayo,
Eonni-ya.”
Taeyoung dan
Hyerin mengangguk mengerti, sangat mengerti bahwa Saera belum mau berbagi apapun
dengan mereka. Setelah melirik Hyunmi yang masih belum sadarkan diri sekilas,
ketiga yeoja itu duduk di atas sofa dalam keheningan, bergelut dengan
pikiran masing-masing.
Hyerin membuka
mulut, ingin mengatakan sesuatu. Namun belum sempat sepatah kata pun keluar
dari bibirnya, suara erangan dari Hyunmi terdengar. Ketiga pasang mata itu
segera duduk di hadapan Hyunmi, memandang yeoja itu cemas.
“Eonni,
gwaenchanayo?” tanya Taeyoung sembari mengelus lengan Hyunmi.
Hyunmi
mengerjapkan mata, menatap Taeyoung dan yang lainnya bingung. “Gwaenchana,
memang aku kenapa?”
Hyerin
mengembuskan napas lega lantas menyodorkan air putih untuk diminum Hyunmi, “Syukurlah.
Kau dan Saera tadi pingsan, apa yang kauingat Eonni?”
Mata Hyunmi
beralih pada Saera, menatap yeoja itu seolah bertanya “Kau pingsan
kenapa?”, Saera menjawab dengan senyum tipis disertai gelengan kepala. Hyunmi
tak ingin memaksa, karena itu dia mencoba memutar ulang apa-apa saja yang
terjadi di ruang latihan tadi.
Seingatnya,
Hyukjae masih menyuruh ia beryoga ketika tiba-tiba saja dia tak mengingat
apa-apa lagi. Hyunmi tersentak, apa ia kehilangan kontrol seperti saat membunuh
penyihir itu? Matanya langsung membulat panik. “Hyukjae Oppa tidak
apa-apa, kan, Saeng?”
Kening ketiga yeoja
di hadapannya mengernyit mendengar pertanyaan Hyunmi. Bukannya yeoja ini
tak peduli pada Hyukjae?
“Ehm, lupakan
pertanyaanku tadi!” imbuh Hyunmi tiba-tiba. Kesadaran baru saja mendatangi
otaknya membuat ia sendiri heran mengapa ia bisa peduli pada Hyukjae. “Bagaimana
hari kalian? Sudah belajar sesuatu?” tanya Hyunmi kemudian mengalihkan topik
pembicaraan.
Wajah ketiga yeoja
di hadapannya langsung berubah. Berbagai macam ekspresi terukir di wajah
masing-masing.
“Ehm, aku sudah
belajar telepati dengan Jongwoon Oppa. Tapi ketika kami akan melanjutkan
ke teleportasi, sesuatu mengganggu kami.” cerita Taeyoung sambil menerawang
ingatannya.
“MWO?”
pekik Hyerin dan Saera bersamaan. Taeyoung dan Hyunmi memandang keduanya heran.
“Kenapa?”
“Kejadiannya
sama seperti yang aku alami hari ini.” tutur Hyerin, Saera langsung menatapnya
bingung.
“Aku juga
mengalami kejadian serupa Eonni.” sahut Saera. Ketiga yeoja itu
saling berpandangan bingung.
“Jadi intinya
kalian mengalami kejadian serupa? Sesuatu apa yang kaumaksud Youngie?” tanya
Hyunmi, dalam hati kesal juga karena hari ini dia tidak belajar apa-apa─tentu
saja mengatur napas sambil duduk berjam-jam dihitung tidak belajar apa-apa!─sedangkan
yang lain sudah melewati satu tahap dalam ilmu sihir. Tidak diragukan lagi,
Park Hyukjae memang menyebalkan!
Taeyoung diam
beberapa saat, tampak memikirkan sesuatu sebelum menjawab. “Ada bayangan hitam
yang berusaha mencelaiku, Eonni.”
“Tapi kau tidak
apa-apa, kan?” Pertanyaan Hyunmi disambut anggukan Taeyoung dan tatapan setuju
Hyerin juga Saera.
“Eonni,
kalian tahu? Setelah kejadian ini aku jadi memikirkan sesuatu.” cetus Saera
tiba-tiba membuat ketiga yeoja yang lain menatapnya bingung. “Semenjak
kita setuju untuk membantu mereka, nyawa kita berada dalam taruhan..”
Keempatnya
berpandangan, mencoba memahami apa yang sebenarnya tengah terjadi di antara
mereka.
Hyerin menghela
napas panjang, menggenggam erat kalung pemberian Donghae yang ada di sakunya. “Jadi
artinya, kematian mengintai kita setiap saat?”
Tidak ada satu
pun dari Hyunmi, Taeyoung maupun Saera yang menjawab pertanyaan Hyerin. Namun
dalam hati, semua pun tahu jawaban pasti dari pertanyaan Hyerin.
Ya, setiap saat
mereka ditemani maut.
***
“Hyerin juga
sempat lepas kendali.” tanggap Donghae begitu Hyukjae selesai menceritakan
kronologi mengapa sambungan telepati mereka terputus tiba-tiba, “tapi beruntung
aku berhasil menekannya sebelum hal seperti yang kaualami terjadi.”
“Bagaimana
rasanya?” tanya Jongwoon penasaran.
Hyukjae
meringis, “Seperti malaikat pencabut nyawa ada di hadapanmu Hyung,
tinggal menunggu dia menebaskan pedang saja maka nyawamu melayang.”
Jujur, biarpun
tulang-tulang Hyukjae sudah melekat ke tempat semula dan luka-luka di tubuhnya
sudah menghilang dengan sihir, sakit yang dialaminya tadi masih terasa sebab
sihir seperti itu membutuhkan waktu 24 jam untuk sembuh total. Tak seperti
sihir penyembuh yang dimiliki Hyerin, sihir penyembuh yang dimiliki Hyerin
bahkan bisa memusnahkan segala macam rasa sakit dan penyakit hanya dalam
hitungan detik, sayang saja Hyerin belum bisa menggunakannya.
“Intinya kau
baik-baik saja, kan?” tanya Kyuhyun datar yang disambut anggukan Hyukjae,
Kyuhyun menipiskan bibir sebelum berkata, “dan terimakasih sudah memberitahuku
mengenai pengikut iblis itu.”
Hyukjae
tersenyum kecil, “Ne, itu sudah tugasku karena semua ini juga salahku
Kyu.” Ketiga saudaranya diam, tak berani mengomentari perkataan Hyukjae, “Dengar,
aku merasa kita perlu mengubah strategi..”
Perkataan Hyukjae
disambut kernyitan dahi ketiga saudaranya, “Apa maksudmu, Hyuk-ah?”
tanya Donghae mewakili yang lain.
Hyukjae
menghela napas, hal ini sudah dipikirkannya baik-baik sejak Hyunmi lepas
kendali. Mereka tak butuh para hisami itu bisa menguasai sihir, yang
mereka butuhkan adalah kepercayaan para hisami itu untuk meminjamkan
sihir mereka untuk sihir aspagus nanti.
“Mulai besok,
bagaimana kalau kita ubah misinya menjadi membuat para hisami itu
mencintai kita?” Jadi ya, kepercayaan seutuhnya dapat mereka miliki jika para hisami
itu jatuh cinta pada mereka. Cinta itu buta, apapun akan para hisami itu
lakukan kalau mencintai mereka, benar?
“Aku mengerti,
kau ingin mendapatkan kekuatan mereka lewat sebuah kepercayaan. Begitu, Hyuk?”
tanya Jongwoon setelah memutar otak beberapa lama, Hyukjae menjawab dengan
anggukan. Walaupun ada ragu yang menyelip saat memikirkan rencana ini, Jongwoon
merasa dia tak punya pilihan lain selain setuju.
Donghae dan
Kyuhyun tak langsung merespons, ada yang mengganjal di hati keduanya memikirkan
rencana yang ini. Jika dipikir-pikir, mereka merasa rencana kali ini terdengar
agak kejam. Tidak adakah cara lain?
Kyuhyun
menjilat sudut bibirnya setelah memutuskan, “Baik, aku setuju. Mari kita
lakukan.”
Dan dengan
persetujuan Kyuhyun, Donghae dan Jongwoon pun hanya bisa mengangguk mengiyakan.
Bagaimanapun ini demi Negeri mereka tercinta. Lagipula, mereka tidak akan
mungkin sampai jatuh cinta pada para hisami itu hanya karena misi
seperti ini.
***
Matahari belum
menampakkan dirinya ketika Hyunmi terbangun dengan napas terengah-engah. Mata
Hyunmi berpendar ke sekitar ruangan, helaan napas lega lolos dari celah-celah
bibirnya saat sadar dia masih berada di kamar mansion bersama
teman-temannya yang lain─bukan di tanah gersang penuh mayat seperti yang dia
mimpikan barusan.
Berusaha
menenangkan diri, Hyunmi berulang kali menghirup dan mengembuskan napas secara
perlahan. Setelah merasa agak tenang, yeoja itu memakai sandalnya lantas
beranjak dari ranjang. Saat melongok ke arah jam dinding tua di sudut kamar
yang menunjukkan pukul 5 pagi, Hyunmi memutuskan untuk keluar kamar dan
mengambil segelas air dingin.
Kakinya
melangkah menuruni anak tangga satu persatu. Dia berhenti saat melihat bayangan
seseorang di dapur. Hyunmi mempercepat langkahnya ketika merasa mengenali orang
itu.
“Hyukjae Oppa?”
Hyukjae
mendongak, tersenyum tipis melihat kedatangan Hyunmi. Namja itu
melambaikan tangan menyuruh Hyunmi mendekat. “Kenapa kaubangun sepagi ini?”
tanyanya setelah Hyunmi duduk di kursi sebelah.
Hyunmi
menuangkan air putih pada gelas yang diambilnya sebelum menjawab, “Mimpi
buruk!” lantas meneguk air putihnya sementara Hyukjae tak membalas.
“Omong-omong Oppa, apa yang terjadi kemarin? Dan mengapa aku tak belajar
telepati seperti yang lain?” Nada bicara Hyunmi mendingin.
Hyukjae
memainkan gelas yang kini melayang-layang di depan wajahnya. “Kau lepas
kendali.” jawabnya datar, “lagipula telepati itu mudah sekali Mi-ya, kau
hanya perlu konsentrasi dan memikirkan seseorang maka semuanya beres. Tanpa
kuajaripun kau akan bisa sendiri.”
Berdebat dengan
Hyukjae memang tak akan ada habisnya, dan yang terpenting, Hyunmi tak akan
menang. “Aku lepas kendali?” tanya Hyunmi terkejut begitu sadar bahwa
tebakannya kemarin benar, melihat Hyukjae mengangguk, Hyunmi merasakan
jantungnya berdebar cepat, dipandanginya Hyukjae dari atas ke bawah dengan
cemas, “tapi kau terlihat baik-baik saja?”
Ada rasa senang
yang menjalari Hyukjae mengetahui bahwa Hyunmi ternyata peduli padanya, namja
itu tersenyum lembut sembari menatap mata Hyunmi dalam-dalam. “Aku hampir
mati.” akunya membuat wajah Hyunmi pucat seketika.
Yeoja itu
menunduk, walaupun dia sudah berulang kali mencoba tak peduli pada Hyukjae, hati
kecilnya selalu cemas memikirkan keadaan Hyukjae saat tahu dia lepas kendali
kemarin. Hyunmi tahu sihir yang dia punya bukanlah sihir lemah. “Mianhae..”
gumamnya merasa bersalah.
Helaan napas
lolos dari bibir Hyukjae, “Gwaenchana, itu bukan salahmu.” tukasnya sembari
mengelus lengan Hyunmi yang ada di atas meja.
Hyunmi
terenyak, kepalanya terdongak dengan cepat. Darahnya serasa berlomba-lomba
berkumpul di pipi hingga ia merasa wajahnya memanas. Hyunmi sangat yakin kalau
saat ini wajahnya pasti sudah merah, untunglah cahaya sangat temaram.
Sebenarnya, ingin sekali Hyunmi menepis tangan Hyukjae yang masih mengelus
tangannya, namun tubuhnya berkhianat hingga ia membiarkan hal itu terjadi.
Lagipula diam-diam dia juga menikmati kehangatan dan rasa aman yang diberikan
Hyukjae lewat elusan tangannya.
Mencoba
menetralkan perasaannya, Hyunmi bertanya, “Lalu sekarang kita akan belajar
apa?”
Hyukjae
melebarkan senyum di wajahnya hingga matanya nyaris menghilang, dan entah untuk
alasan apa, Hyunmi sangat menyukai senyum namja itu sekarang. Terlihat
manis. “Ehm, bagaimana kalau hari ini kita jalan-jalan?”
Apa
ini seperti kencan? batin Hyunmi bertanya-tanya, senyum perlahan teretas di bibirnya,
namun hanya beberapa detik karena senyum itu langsung memudar kembali begitu
sadar apa yang baru saja dipikirkannnya. Kencan? Hei, ini hanya jalan-jalan
biasa.
“Baiklah, tapi
aku mandi dulu, ne?” Hyunmi menarik tangannya yang masih dielus Hyukjae
lantas berlari menuju anak tangga, meninggalkan Hyukjae yang menatap kepergiannya
dengan ekspresi tak terbaca.
***
“Kyu?” gumam
Saera setengah sadar. Pasalnya, saat membuka mata, orang pertama yang
dilihatnya adalah Kyuhyun. Sedang apa namja itu di kamarnya?
Kyuhyun
mendengus, duduk di tepi ranjang Saera. “Panggil aku Oppa!” serunya
jengkel, “dan cepatlah bangun, teman-temanmu yang lain juga sudah tidak ada.”
Mata Saera yang
tadinya masih rapat segera terbuka, yeoja itu duduk di ranjangnya dengan
mata melotot. Dipandanginya seluruh sudut kamar yang telah kosong─hanya tersisa
ia dan Kyuhyun─dengan muram.
“Aigo,
apa aku kesiangan?” tanyanya sambil menoleh pada Kyuhyun yang juga tengah
menatapnya intens.
Kyuhyun
menggeleng. “Ani, sekarang baru jam 6. Kau tidak terlambat, hanya saja
teman-temanmu sepertinya bangun lebih cepat.”
“Lalu kenapa
mereka tak membangunkanku?” keluh Saera sambil merengut.
Kyuhyun
mengangkat bahu tanda tak tahu, lantas menjulurkan tangannya mengacak rambut
Saera yang sebenarnya sudah kusut. “Mandilah, kita akan pergi ke luar hari
ini.” beritahu Kyuhyun. Seulas senyum terukir di bibirnya hingga Saera untuk
beberapa saat merasa terhipnotis. Itu bukan senyum evil Kyuhyun yang
biasanya, senyumnya sangat manis.
Saera tersadar,
dia langsung menggigit bibir bawahnya keras-keras sambil mengucap “Kau tidak
boleh jatuh pada evil ini!” berulang-ulang dalam hati.
“Ehm, arraseo.
Aku akan mandi sekarang.” sahut Saera mencoba menyangkal debaran pelan di
hatinya. Yeoja itu turun dari ranjang lantas membawa beberapa helai
pakaian sebelum masuk ke kamar mandi.
Kyuhyun
memandangi siluet Saera sampai benar-benar menghilang di kamar mandi, namja
itu diam-diam mendesah. Shit! Dia mungkin memang dijuluki evil
oleh yang lainnya, tapi mempermainkan perasaan Saera hanya untuk kepercayaan,
Kyuhyun tak yakin dia sanggup.
Karena terlalu
lama berdebat dalam pikiran, Kyuhyun sampai tak menyadari bahwa Saera baru saja
keluar dari kamar mandi. Kening yeoja itu mengerut melihat Kyuhyun
terpekur di ranjangnya. Batin Saera bertanya-tanya, tapi mulutnya enggan
mengeluarkan suara.
Akhirnya,
sambil pura-pura tak acuh, Saera berjalan menuju meja hias di samping
ranjangnya. Yeoja mengamati pantulannya di cermin sebelum mengambil
sehelai handuk lantas mengeringkan rambutnya yang masih basah.
“Eh?” Saera
terkejut saat tiba-tiba saja handuk yang dia gunakan untuk mengeringkan rambut
dirampas Kyuhyun. Namja itu tanpa sepengetahuan Saera tiba-tiba saja ada
di belakangnya dan mengambil alih pekerjaan Saera, dia mengusap rambut basah
Saera menggunakan handuk rampasannya dengan lembut.
“Akan butuh
waktu satu tahun kalau kau yang melakukannya.” tandas Kyuhyun menjawab raut
bingung Saera yang terpantul di cermin.
Saera tahu
kata-kata Kyuhyun mungkin terdengar kasar, namun dia tetap tidak bisa mencegah
aliran darahnya yang berdesir sangat keras akibat perlakuan Kyuhyun ini. Saera
berdeham sekali, mencoba menghilangkan kegugupan yang tengah dirasakannya.
“Tumben sekali kau baik.”
Kyuhyun
mendengus, “Kau ingin jalan-jalan kemana?” tanyanya mengabaikan perkataan
Saera.
Saera tertegun
beberapa lama sebelum menjawab, “Taman gantung Babilonia, boleh?”
Merasa rambut
Saera sudah cukup kering, Kyuhyun menyampirkan handuk itu lantas mendekatkan
wajahnya ke telinga Saera, senyum lembut kembali terpasang di bibirnya membuat
Saera membeku. “Tentu, tapi kau harus memanggilku Oppa mulai sekarang, ne?”
Saera tak tahu apakah Kyuhyun menghipnotisnya atau tidak karena dia mengangguk.
***
“Gomawo
sudah mengajakku ke sini Oppa..” Hyerin tersenyum sumringah sambil
menjilat es krim cokelatnya.
Mereka berdua
memang sedang berada di salah satu taman hiburan paling terkenal di Tokyo. Saat
Donghae membangunkannya dan menawarkan ia untuk jalan-jalan, maka yang ada di
benak Hyerin saat itu hanya Tokyo, dia rindu segala hal yang ada di Tokyo.
Jadilah mereka berdua pergi ke Tokyo, tepatnya ke taman hiburan di Tokyo.
Jam sekarang
sudah menunjukkan pukul 10 pagi, itu artinya sudah hampir 4, 5 jam mereka ada
di sini. Dan selama itu, setengah dari wahana sudah mereka naiki. Hah, hari ini
sepertinya mereka akan full menghabiskan wahana-wahana itu.
“Cheonmaneyo,
Hyerin-ah. Asal kau senang aku juga ikut senang.” balas Donghae sambil
melirik ke arah Hyerin yang ada di sampingnya, segaris senyum terpeta di bibir
Donghae melihat kalung yang dia berikan kemarin ternyata dipakai oleh Hyerin.
Diam-diam,
Hyerin juga ikut melirik ke arah Donghae. Dia tak bisa menahan bunga musim semi
yang bermekaran di hatinya setiap melihat Donghae. Entahlah, sejak Donghae
memberikan kalung dan melindunginya kemarin, dia jadi tak bisa berhenti
memikirkan Donghae. Dan senyum pasti selalu mampir di bibirnya tiap memikirkan
Donghae.
Mereka berdua
berjalan dalam kebisuan. Hingga akhirnya Hyerin tersentak karena merasakan
tangan seseorang menggenggam tangan kirinya, yeoja itu menengok ke arah
tangannya, menemukan tangan Donghae di sana. Saat itulah ada desiran aneh yang
merayap ke dalam hatinya begitu ia mengangkat kepala untuk melihat wajah
Donghae─yang masih memandang lurus ke depan.
“Aku memegangmu
supaya kau tak hilang. Di sini banyak sekali orang.” kata Donghae tiba-tiba
begitu sadar Hyerin sedang menatapnya. Namja itu segera memalingkan
wajah ke arah lain, menghindari mata Hyerin.
Hati Donghae
menghangat. Selama belasan tahun dikelilingi berbagai macam yeoja,
Donghae tak pernah merasa hatinya sehangat ini. Dan jujur, dia takut terjatuh.
Donghae tak ingin jatuh untuk Hyerin. Tidak yeoja itu. Semenjak bertemu
Hyerin, Donghae tahu cepat atau lambat yeoja itu pasti bisa menembus
hatinya, karena hal itulah Donghae selalu menebalkan dinding hatinya agar tak
mudah ditembus Hyerin, namun yeoja itu seperti selalu punya cara sendiri
untuk menyusup. Dan mengingat bahwa ia melakukan ini hanya untuk mendapat
kepercayaan, Donghae merasa sangat jahat.
“Arra,
aku mengerti.” balas Hyerin sambil tersenyum kecil dan kembali menatap lurus ke
depan.
“Hyerin-ssi?”
Donghae dan Hyerin sama-sama menoleh ke arah sumber suara, mereka menemukan
Baekhyun yang sedang berjalan ke arah mereka dengan senyum sejuta wattnya.
Seakan tersadar
sesuatu, Hyerin segera melepaskan tangannya dari genggaman tangan Donghae lantas
berjalan ke arah Baekhyun. Meninggalkan Donghae yang hanya dapat menatap
tangannya yang kini sudah kosong dengan ekspresi terluka. Mata Donghae menatap
lurus ke arah Hyerin dan Baekhyun dengan wajah mengeras.
“Oppa
sedang apa di sini?” tanya Hyerin, meskipun mereka tinggal di Jepang, Baekhyun
orang Korea. Setidaknya sekali-kali Hyerin memang seharusnya mengucapkan
terimakasih pada Heesun sebab karena yeoja itulah dia dan Baekhyun
saling mengenal─meskipun masih sebatas nama.
Baekhyun
terkekeh, manis sekali. “Sedang jalan-jalan bersama teman, tapi tampaknya aku
ditinggalkan.” jawabnya lalu menggaruk tengkuk, “ehm, kau mau menemaniku?”
“Ne,
tentu saja aku mau Oppa.” kata Hyerin tanpa pikir panjang. Keduanya
segera berjalan berdampingan meninggalkan tempat itu. Dalam hati Hyerin merasa
ada yang mengganjal, ada yang terlupa, namun dia benar-benar tak tahu apa itu.
Hyerin memutuskan untuk tak memedulikan perasaan ganjil itu.
***
Sunrise.
Taeyoung
menatap tanpa kedip keindahan alam yang terbentang di depan matanya. Seumur
hidup, memang baru kali ini Taeyoung melihat sunrise dari atas Namsan
Tower. Hasilnya benar-benar indah, membuat ia sama sekali tak menyesal harus
mandi pagi-pagi dan mengikuti Jongwoon ke sini.
Tadinya,
Taeyoung berpikir bahwa Jongwoon akan kembali melatihnya ilmu sihir saat jam
setengah 6 pagi namja itu sudah ada di depan ranjangnya. Namun dugaan
Taeyoung ternyata salah, Jongwoon justru mengajaknya jalan-jalan hari ini. Taeyoung
tentu saja tak bisa menolak, dia butuh refreshing untuk berhenti
memikirkan tentang maut yang setiap saat mengintainya.
“Katupkan
mulutmu Young, nanti ada lalat yang masuk.” Suara Jongwoon menarik Taeyoung ke
alam nyata lagi, yeoja itu menatap Jongwoon dengan bibir cemberut.
Jongwoon
terkekeh melihat ekspresi Taeyoung, tangannya tergerak ke wajah Taeyoung lantas
menyelipkan sejumput rambut Taeyoung ke belakang telinga membuat Taeyoung
mematung mendapatkan perlakuan lembut seperti ini dari Jongwoon.
“Ini,
minumlah.” tawar Jongwoon kemudian setelah selesai dengan rambut Taeyoung, diangsurkannya
secup kopi panas ke arah Taeyoung.
Setengah
terkesiap, Taeyoung lekas mengambil kopi itu sambil menggumamkan kata “Gomawo”
sebelum dia kembali berbalik untuk menatap sunrise yang belum muncul
sepenuhnya.
Jongwoon
mengamati Taeyoung sejenak sebelum akhirnya ikut menyandarkan tubuh di pembatas
menara, menatap lurus-lurus ke arah timur. Benar, sunrise memang selalu
terlihat indah, namun..─Jongwoon melirik ke arah Taeyoung, tersenyum kecil─ekspresi
bahagia di wajah Taeyoung jauh lebih indah dari pemandangan di depannya.
Sadar ada yang
mengamatinya, Taeyoung memutar kepala ke arah Jongwoon. “Ada yang salah dengan
wajahku, Oppa?” tanyanya heran.
Jongwoon menggeleng,
tersenyum lembut. Matanya memandang tepat ke mata Taeyoung, menyedotnya masuk
ke dalam. “Ani, aku hanya baru sadar kalau kau ternyata manis.”
Deg!
Taeyoung tahu
dia seharusnya tak terbuai dengan kata-kata yang dilontarkan Jongwoon (hei, dia
di sini karena sebuah perjanjian!), namun dia juga tak ingin bersikap munafik,
hatinya senang mendengar pujian dari Jongwoon. Detakan di jantungnya bertambah
cepat seiring dengan tatapan Jongwoon yang semakin dalam.
Tak ingin
terlarut semakin jauh, Taeyoung buru-buru melepaskan kontak mata dengan
Jongwoon dan kembali menatap sunrise. Pipinya tanpa sadar merona.
Jongwoon
kembali tersenyum melihat tingkah Taeyoung, tahu betul kalau dia bersikap
seperti ini karena misi yang mereka bicarakan kemarin, namun dia tak bisa
mengelak bahwa dia juga menikmati semua tingkah Taeyoung.
Sadar tidak
sadar, semua tingkah Taeyoung juga pelan-pelan mengubah tingkah Jongwoon. Entah
bagaimana caranya, Taeyoung berhasil mengikis kebekuan yang selama ini
menyelimuti hatinya. Melihat wajah bahagia Taeyoung bisa membuat Jongwoon
tersenyum. Untuk pertama kalinya dalam hidup, ada seorang yeoja yang
berhasil membuat dia merasakan kehangatan. Tapi begitu teringat bahwa semua ini
dilakukan hanya untuk mendapatkan kepercayaan, Jongwoon merasa dia tak lebih
dari seorang pecundang.
“Aw!” Jongwoon
langsung terjaga dari lamunannya begitu mendengar suara Taeyoung. Namja itu
membulatkan matanya melihat Taeyoung mengibas-ngibaskan tangannya yang tersiram
kopi panas.
Cemas merambati
hati Jongwoon melihatnya. Tanpa bicara sepatah katapun, Jongwoon meraih tangan
Taeyoung lantas meniupnya dengan hati-hati. Taeyoung melihat aksi Jongwoon
dengan mata membelalak.
Jongwoon
benar-benar memerhatikannya, dan itu membuat Taeyoung diam-diam menyimpan
debaran untuknya.
TBC...
yeah!!! gue reader dan penjejak pertama! hahaha. Ok, Good. cuman gue kurang suka sama part Saera. sekian.
BalasHapushaha, oke cukup. Syirik? Maaf yee :P
BalasHapus