Entri yang Diunggulkan

Series Recommendations! 🎥

Hi, happy Wednesday all! So decided to post my own personal series. I usually dont like watching movie, so because i watched those series ...

Jumat, 28 September 2012

Brotherhood, Magic, and.. Love (Five)


FIVE
O

PPA, apa yang terjadi pada mereka berdua?” Taeyoung dan Hyerin yang baru saja tiba di ruang tengah mansion langsung berteriak kompak melihat Hyunmi dan Saera tertidur di sofa. Keduanya berlari secepat yang mereka bisa untuk sampai di dekat Hyunmi dan Saera, tak memedulikan Kyuhyun juga Hyukjae sama sekali yang duduk di samping Hyunmi dan Saera.

“Hanya kecelakaan kecil saat latihan.” Kyuhyun yang menjawab pertanyaan kedua yeoja itu meski pun jawabannya tampak tak digubris sama sekali sebab Taeyoung dan Hyerin sudah sibuk untuk membangunkan keduanya.

Donghae dan Jongwoon yang ditinggalkan begitu saja oleh hisaminya berjalan mendekat, keduanya menatap Hyunmi dan Saera bergantian sebelum memfokuskan pandangannya pada Kyuhyun dan Hyukjae. Dengan isyarat mata, Hyukjae dan Kyuhyun berjalan mendekat lantas keempat namja itu menghilang menuju sebuah ruangan.

“Eung..” Saera mengerang saat kepalanya berdenyut nyeri ketika dia membuka mata. Setelah mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali untuk memfokuskan bayangan, yeoja itu mengernyit melihat wajah Hyerin dan Taeyoung yang sangat dekat dengannya. Menatap Saera dengan wajah panik campur khawatir yang begitu kentara.

Aigo Eonni, jauhkan wajah kalian.” kata Saera kesal sambil berusaha duduk di sofa, yeoja itu mengurut keningnya pelan seraya mencoba mengingat-ingat apa yang telah terjadi sampai dia bisa pingsan seperti ini.

Jantungnya langsung berdebar cepat begitu kilasan kejadian dengan sosok hitam tadi melayang di kepalanya. Aku, membunuh bayangan itu? bisiknya dalam hati tak percaya.

“Saera-ya, apa yang terjadi padamu dan Hyunmi Eonni?”

Saera meminum air yang disodorkan Taeyoung lantas menggeleng kepada Hyerin, pikirannya terlalu penuh dengan kejadian tadi membuat Saera tak mampu mengatakan apapun. “Mollayo, Eonni-ya.”

Taeyoung dan Hyerin mengangguk mengerti, sangat mengerti bahwa Saera belum mau berbagi apapun dengan mereka. Setelah melirik Hyunmi yang masih belum sadarkan diri sekilas, ketiga yeoja itu duduk di atas sofa dalam keheningan, bergelut dengan pikiran masing-masing.

Hyerin membuka mulut, ingin mengatakan sesuatu. Namun belum sempat sepatah kata pun keluar dari bibirnya, suara erangan dari Hyunmi terdengar. Ketiga pasang mata itu segera duduk di hadapan Hyunmi, memandang yeoja itu cemas.

Eonni, gwaenchanayo?” tanya Taeyoung sembari mengelus lengan Hyunmi.

Hyunmi mengerjapkan mata, menatap Taeyoung dan yang lainnya bingung. “Gwaenchana, memang aku kenapa?”

Hyerin mengembuskan napas lega lantas menyodorkan air putih untuk diminum Hyunmi, “Syukurlah. Kau dan Saera tadi pingsan, apa yang kauingat Eonni?”

Mata Hyunmi beralih pada Saera, menatap yeoja itu seolah bertanya “Kau pingsan kenapa?”, Saera menjawab dengan senyum tipis disertai gelengan kepala. Hyunmi tak ingin memaksa, karena itu dia mencoba memutar ulang apa-apa saja yang terjadi di ruang latihan tadi.

Seingatnya, Hyukjae masih menyuruh ia beryoga ketika tiba-tiba saja dia tak mengingat apa-apa lagi. Hyunmi tersentak, apa ia kehilangan kontrol seperti saat membunuh penyihir itu? Matanya langsung membulat panik. “Hyukjae Oppa tidak apa-apa, kan, Saeng?”

Kening ketiga yeoja di hadapannya mengernyit mendengar pertanyaan Hyunmi. Bukannya yeoja ini tak peduli pada Hyukjae?

“Ehm, lupakan pertanyaanku tadi!” imbuh Hyunmi tiba-tiba. Kesadaran baru saja mendatangi otaknya membuat ia sendiri heran mengapa ia bisa peduli pada Hyukjae. “Bagaimana hari kalian? Sudah belajar sesuatu?” tanya Hyunmi kemudian mengalihkan topik pembicaraan.

Wajah ketiga yeoja di hadapannya langsung berubah. Berbagai macam ekspresi terukir di wajah masing-masing.

“Ehm, aku sudah belajar telepati dengan Jongwoon Oppa. Tapi ketika kami akan melanjutkan ke teleportasi, sesuatu mengganggu kami.” cerita Taeyoung sambil menerawang ingatannya.

MWO?” pekik Hyerin dan Saera bersamaan. Taeyoung dan Hyunmi memandang keduanya heran.

“Kenapa?”

“Kejadiannya sama seperti yang aku alami hari ini.” tutur Hyerin, Saera langsung menatapnya bingung.

“Aku juga mengalami kejadian serupa Eonni.” sahut Saera. Ketiga yeoja itu saling berpandangan bingung.

“Jadi intinya kalian mengalami kejadian serupa? Sesuatu apa yang kaumaksud Youngie?” tanya Hyunmi, dalam hati kesal juga karena hari ini dia tidak belajar apa-apa─tentu saja mengatur napas sambil duduk berjam-jam dihitung tidak belajar apa-apa!─sedangkan yang lain sudah melewati satu tahap dalam ilmu sihir. Tidak diragukan lagi, Park Hyukjae memang menyebalkan!

Taeyoung diam beberapa saat, tampak memikirkan sesuatu sebelum menjawab. “Ada bayangan hitam yang berusaha mencelaiku, Eonni.”

“Tapi kau tidak apa-apa, kan?” Pertanyaan Hyunmi disambut anggukan Taeyoung dan tatapan setuju Hyerin juga Saera.

Eonni, kalian tahu? Setelah kejadian ini aku jadi memikirkan sesuatu.” cetus Saera tiba-tiba membuat ketiga yeoja yang lain menatapnya bingung. “Semenjak kita setuju untuk membantu mereka, nyawa kita berada dalam taruhan..”

Keempatnya berpandangan, mencoba memahami apa yang sebenarnya tengah terjadi di antara mereka.

Hyerin menghela napas panjang, menggenggam erat kalung pemberian Donghae yang ada di sakunya. “Jadi artinya, kematian mengintai kita setiap saat?”

Tidak ada satu pun dari Hyunmi, Taeyoung maupun Saera yang menjawab pertanyaan Hyerin. Namun dalam hati, semua pun tahu jawaban pasti dari pertanyaan Hyerin.

Ya, setiap saat mereka ditemani maut.

***

“Hyerin juga sempat lepas kendali.” tanggap Donghae begitu Hyukjae selesai menceritakan kronologi mengapa sambungan telepati mereka terputus tiba-tiba, “tapi beruntung aku berhasil menekannya sebelum hal seperti yang kaualami terjadi.”

“Bagaimana rasanya?” tanya Jongwoon penasaran.

Hyukjae meringis, “Seperti malaikat pencabut nyawa ada di hadapanmu Hyung, tinggal menunggu dia menebaskan pedang saja maka nyawamu melayang.”

Jujur, biarpun tulang-tulang Hyukjae sudah melekat ke tempat semula dan luka-luka di tubuhnya sudah menghilang dengan sihir, sakit yang dialaminya tadi masih terasa sebab sihir seperti itu membutuhkan waktu 24 jam untuk sembuh total. Tak seperti sihir penyembuh yang dimiliki Hyerin, sihir penyembuh yang dimiliki Hyerin bahkan bisa memusnahkan segala macam rasa sakit dan penyakit hanya dalam hitungan detik, sayang saja Hyerin belum bisa menggunakannya.

“Intinya kau baik-baik saja, kan?” tanya Kyuhyun datar yang disambut anggukan Hyukjae, Kyuhyun menipiskan bibir sebelum berkata, “dan terimakasih sudah memberitahuku mengenai pengikut iblis itu.”

Hyukjae tersenyum kecil, “Ne, itu sudah tugasku karena semua ini juga salahku Kyu.” Ketiga saudaranya diam, tak berani mengomentari perkataan Hyukjae, “Dengar, aku merasa kita perlu mengubah strategi..”

Perkataan Hyukjae disambut kernyitan dahi ketiga saudaranya, “Apa maksudmu, Hyuk-ah?” tanya Donghae mewakili yang lain.

Hyukjae menghela napas, hal ini sudah dipikirkannya baik-baik sejak Hyunmi lepas kendali. Mereka tak butuh para hisami itu bisa menguasai sihir, yang mereka butuhkan adalah kepercayaan para hisami itu untuk meminjamkan sihir mereka untuk sihir aspagus nanti.

“Mulai besok, bagaimana kalau kita ubah misinya menjadi membuat para hisami itu mencintai kita?” Jadi ya, kepercayaan seutuhnya dapat mereka miliki jika para hisami itu jatuh cinta pada mereka. Cinta itu buta, apapun akan para hisami itu lakukan kalau mencintai mereka, benar?

“Aku mengerti, kau ingin mendapatkan kekuatan mereka lewat sebuah kepercayaan. Begitu, Hyuk?” tanya Jongwoon setelah memutar otak beberapa lama, Hyukjae menjawab dengan anggukan. Walaupun ada ragu yang menyelip saat memikirkan rencana ini, Jongwoon merasa dia tak punya pilihan lain selain setuju.

Donghae dan Kyuhyun tak langsung merespons, ada yang mengganjal di hati keduanya memikirkan rencana yang ini. Jika dipikir-pikir, mereka merasa rencana kali ini terdengar agak kejam. Tidak adakah cara lain?

Kyuhyun menjilat sudut bibirnya setelah memutuskan, “Baik, aku setuju. Mari kita lakukan.”

Dan dengan persetujuan Kyuhyun, Donghae dan Jongwoon pun hanya bisa mengangguk mengiyakan. Bagaimanapun ini demi Negeri mereka tercinta. Lagipula, mereka tidak akan mungkin sampai jatuh cinta pada para hisami itu hanya karena misi seperti ini.

***

Matahari belum menampakkan dirinya ketika Hyunmi terbangun dengan napas terengah-engah. Mata Hyunmi berpendar ke sekitar ruangan, helaan napas lega lolos dari celah-celah bibirnya saat sadar dia masih berada di kamar mansion bersama teman-temannya yang lain─bukan di tanah gersang penuh mayat seperti yang dia mimpikan barusan.

Berusaha menenangkan diri, Hyunmi berulang kali menghirup dan mengembuskan napas secara perlahan. Setelah merasa agak tenang, yeoja itu memakai sandalnya lantas beranjak dari ranjang. Saat melongok ke arah jam dinding tua di sudut kamar yang menunjukkan pukul 5 pagi, Hyunmi memutuskan untuk keluar kamar dan mengambil segelas air dingin.

Kakinya melangkah menuruni anak tangga satu persatu. Dia berhenti saat melihat bayangan seseorang di dapur. Hyunmi mempercepat langkahnya ketika merasa mengenali orang itu.

“Hyukjae Oppa?”

Hyukjae mendongak, tersenyum tipis melihat kedatangan Hyunmi. Namja itu melambaikan tangan menyuruh Hyunmi mendekat. “Kenapa kaubangun sepagi ini?” tanyanya setelah Hyunmi duduk di kursi sebelah.

Hyunmi menuangkan air putih pada gelas yang diambilnya sebelum menjawab, “Mimpi buruk!” lantas meneguk air putihnya sementara Hyukjae tak membalas. “Omong-omong Oppa, apa yang terjadi kemarin? Dan mengapa aku tak belajar telepati seperti yang lain?” Nada bicara Hyunmi mendingin.

Hyukjae memainkan gelas yang kini melayang-layang di depan wajahnya. “Kau lepas kendali.” jawabnya datar, “lagipula telepati itu mudah sekali Mi-ya, kau hanya perlu konsentrasi dan memikirkan seseorang maka semuanya beres. Tanpa kuajaripun kau akan bisa sendiri.”

Berdebat dengan Hyukjae memang tak akan ada habisnya, dan yang terpenting, Hyunmi tak akan menang. “Aku lepas kendali?” tanya Hyunmi terkejut begitu sadar bahwa tebakannya kemarin benar, melihat Hyukjae mengangguk, Hyunmi merasakan jantungnya berdebar cepat, dipandanginya Hyukjae dari atas ke bawah dengan cemas, “tapi kau terlihat baik-baik saja?”

Ada rasa senang yang menjalari Hyukjae mengetahui bahwa Hyunmi ternyata peduli padanya, namja itu tersenyum lembut sembari menatap mata Hyunmi dalam-dalam. “Aku hampir mati.” akunya membuat wajah Hyunmi pucat seketika.

Yeoja itu menunduk, walaupun dia sudah berulang kali mencoba tak peduli pada Hyukjae, hati kecilnya selalu cemas memikirkan keadaan Hyukjae saat tahu dia lepas kendali kemarin. Hyunmi tahu sihir yang dia punya bukanlah sihir lemah. “Mianhae..” gumamnya merasa bersalah.

Helaan napas lolos dari bibir Hyukjae, “Gwaenchana, itu bukan salahmu.” tukasnya sembari mengelus lengan Hyunmi yang ada di atas meja.

Hyunmi terenyak, kepalanya terdongak dengan cepat. Darahnya serasa berlomba-lomba berkumpul di pipi hingga ia merasa wajahnya memanas. Hyunmi sangat yakin kalau saat ini wajahnya pasti sudah merah, untunglah cahaya sangat temaram. Sebenarnya, ingin sekali Hyunmi menepis tangan Hyukjae yang masih mengelus tangannya, namun tubuhnya berkhianat hingga ia membiarkan hal itu terjadi. Lagipula diam-diam dia juga menikmati kehangatan dan rasa aman yang diberikan Hyukjae lewat elusan tangannya.

Mencoba menetralkan perasaannya, Hyunmi bertanya, “Lalu sekarang kita akan belajar apa?”

Hyukjae melebarkan senyum di wajahnya hingga matanya nyaris menghilang, dan entah untuk alasan apa, Hyunmi sangat menyukai senyum namja itu sekarang. Terlihat manis. “Ehm, bagaimana kalau hari ini kita jalan-jalan?”

Apa ini seperti kencan? batin Hyunmi bertanya-tanya, senyum perlahan teretas di bibirnya, namun hanya beberapa detik karena senyum itu langsung memudar kembali begitu sadar apa yang baru saja dipikirkannnya. Kencan? Hei, ini hanya jalan-jalan biasa.

“Baiklah, tapi aku mandi dulu, ne?” Hyunmi menarik tangannya yang masih dielus Hyukjae lantas berlari menuju anak tangga, meninggalkan Hyukjae yang menatap kepergiannya dengan ekspresi tak terbaca.

***

“Kyu?” gumam Saera setengah sadar. Pasalnya, saat membuka mata, orang pertama yang dilihatnya adalah Kyuhyun. Sedang apa namja itu di kamarnya?

Kyuhyun mendengus, duduk di tepi ranjang Saera. “Panggil aku Oppa!” serunya jengkel, “dan cepatlah bangun, teman-temanmu yang lain juga sudah tidak ada.”

Mata Saera yang tadinya masih rapat segera terbuka, yeoja itu duduk di ranjangnya dengan mata melotot. Dipandanginya seluruh sudut kamar yang telah kosong─hanya tersisa ia dan Kyuhyun─dengan muram.

Aigo, apa aku kesiangan?” tanyanya sambil menoleh pada Kyuhyun yang juga tengah menatapnya intens.

Kyuhyun menggeleng. “Ani, sekarang baru jam 6. Kau tidak terlambat, hanya saja teman-temanmu sepertinya bangun lebih cepat.”

“Lalu kenapa mereka tak membangunkanku?” keluh Saera sambil merengut.

Kyuhyun mengangkat bahu tanda tak tahu, lantas menjulurkan tangannya mengacak rambut Saera yang sebenarnya sudah kusut. “Mandilah, kita akan pergi ke luar hari ini.” beritahu Kyuhyun. Seulas senyum terukir di bibirnya hingga Saera untuk beberapa saat merasa terhipnotis. Itu bukan senyum evil Kyuhyun yang biasanya, senyumnya sangat manis.

Saera tersadar, dia langsung menggigit bibir bawahnya keras-keras sambil mengucap “Kau tidak boleh jatuh pada evil ini!” berulang-ulang dalam hati.

“Ehm, arraseo. Aku akan mandi sekarang.” sahut Saera mencoba menyangkal debaran pelan di hatinya. Yeoja itu turun dari ranjang lantas membawa beberapa helai pakaian sebelum masuk ke kamar mandi.

Kyuhyun memandangi siluet Saera sampai benar-benar menghilang di kamar mandi, namja itu diam-diam mendesah. Shit! Dia mungkin memang dijuluki evil oleh yang lainnya, tapi mempermainkan perasaan Saera hanya untuk kepercayaan, Kyuhyun tak yakin dia sanggup.

Karena terlalu lama berdebat dalam pikiran, Kyuhyun sampai tak menyadari bahwa Saera baru saja keluar dari kamar mandi. Kening yeoja itu mengerut melihat Kyuhyun terpekur di ranjangnya. Batin Saera bertanya-tanya, tapi mulutnya enggan mengeluarkan suara.

Akhirnya, sambil pura-pura tak acuh, Saera berjalan menuju meja hias di samping ranjangnya. Yeoja mengamati pantulannya di cermin sebelum mengambil sehelai handuk lantas mengeringkan rambutnya yang masih basah.

“Eh?” Saera terkejut saat tiba-tiba saja handuk yang dia gunakan untuk mengeringkan rambut dirampas Kyuhyun. Namja itu tanpa sepengetahuan Saera tiba-tiba saja ada di belakangnya dan mengambil alih pekerjaan Saera, dia mengusap rambut basah Saera menggunakan handuk rampasannya dengan lembut.

“Akan butuh waktu satu tahun kalau kau yang melakukannya.” tandas Kyuhyun menjawab raut bingung Saera yang terpantul di cermin.

Saera tahu kata-kata Kyuhyun mungkin terdengar kasar, namun dia tetap tidak bisa mencegah aliran darahnya yang berdesir sangat keras akibat perlakuan Kyuhyun ini. Saera berdeham sekali, mencoba menghilangkan kegugupan yang tengah dirasakannya. “Tumben sekali kau baik.”

Kyuhyun mendengus, “Kau ingin jalan-jalan kemana?” tanyanya mengabaikan perkataan Saera.

Saera tertegun beberapa lama sebelum menjawab, “Taman gantung Babilonia, boleh?”

Merasa rambut Saera sudah cukup kering, Kyuhyun menyampirkan handuk itu lantas mendekatkan wajahnya ke telinga Saera, senyum lembut kembali terpasang di bibirnya membuat Saera membeku. “Tentu, tapi kau harus memanggilku Oppa mulai sekarang, ne?” Saera tak tahu apakah Kyuhyun menghipnotisnya atau tidak karena dia mengangguk.

***

Gomawo sudah mengajakku ke sini Oppa..” Hyerin tersenyum sumringah sambil menjilat es krim cokelatnya.

Mereka berdua memang sedang berada di salah satu taman hiburan paling terkenal di Tokyo. Saat Donghae membangunkannya dan menawarkan ia untuk jalan-jalan, maka yang ada di benak Hyerin saat itu hanya Tokyo, dia rindu segala hal yang ada di Tokyo. Jadilah mereka berdua pergi ke Tokyo, tepatnya ke taman hiburan di Tokyo.

Jam sekarang sudah menunjukkan pukul 10 pagi, itu artinya sudah hampir 4, 5 jam mereka ada di sini. Dan selama itu, setengah dari wahana sudah mereka naiki. Hah, hari ini sepertinya mereka akan full menghabiskan wahana-wahana itu.

Cheonmaneyo, Hyerin-ah. Asal kau senang aku juga ikut senang.” balas Donghae sambil melirik ke arah Hyerin yang ada di sampingnya, segaris senyum terpeta di bibir Donghae melihat kalung yang dia berikan kemarin ternyata dipakai oleh Hyerin.

Diam-diam, Hyerin juga ikut melirik ke arah Donghae. Dia tak bisa menahan bunga musim semi yang bermekaran di hatinya setiap melihat Donghae. Entahlah, sejak Donghae memberikan kalung dan melindunginya kemarin, dia jadi tak bisa berhenti memikirkan Donghae. Dan senyum pasti selalu mampir di bibirnya tiap memikirkan Donghae.

Mereka berdua berjalan dalam kebisuan. Hingga akhirnya Hyerin tersentak karena merasakan tangan seseorang menggenggam tangan kirinya, yeoja itu menengok ke arah tangannya, menemukan tangan Donghae di sana. Saat itulah ada desiran aneh yang merayap ke dalam hatinya begitu ia mengangkat kepala untuk melihat wajah Donghae─yang masih memandang lurus ke depan.

“Aku memegangmu supaya kau tak hilang. Di sini banyak sekali orang.” kata Donghae tiba-tiba begitu sadar Hyerin sedang menatapnya. Namja itu segera memalingkan wajah ke arah lain, menghindari mata Hyerin.

Hati Donghae menghangat. Selama belasan tahun dikelilingi berbagai macam yeoja, Donghae tak pernah merasa hatinya sehangat ini. Dan jujur, dia takut terjatuh. Donghae tak ingin jatuh untuk Hyerin. Tidak yeoja itu. Semenjak bertemu Hyerin, Donghae tahu cepat atau lambat yeoja itu pasti bisa menembus hatinya, karena hal itulah Donghae selalu menebalkan dinding hatinya agar tak mudah ditembus Hyerin, namun yeoja itu seperti selalu punya cara sendiri untuk menyusup. Dan mengingat bahwa ia melakukan ini hanya untuk mendapat kepercayaan, Donghae merasa sangat jahat.

Arra, aku mengerti.” balas Hyerin sambil tersenyum kecil dan kembali menatap lurus ke depan.

“Hyerin-ssi?” Donghae dan Hyerin sama-sama menoleh ke arah sumber suara, mereka menemukan Baekhyun yang sedang berjalan ke arah mereka dengan senyum sejuta wattnya.

Seakan tersadar sesuatu, Hyerin segera melepaskan tangannya dari genggaman tangan Donghae lantas berjalan ke arah Baekhyun. Meninggalkan Donghae yang hanya dapat menatap tangannya yang kini sudah kosong dengan ekspresi terluka. Mata Donghae menatap lurus ke arah Hyerin dan Baekhyun dengan wajah mengeras.

Oppa sedang apa di sini?” tanya Hyerin, meskipun mereka tinggal di Jepang, Baekhyun orang Korea. Setidaknya sekali-kali Hyerin memang seharusnya mengucapkan terimakasih pada Heesun sebab karena yeoja itulah dia dan Baekhyun saling mengenal─meskipun masih sebatas nama.

Baekhyun terkekeh, manis sekali. “Sedang jalan-jalan bersama teman, tapi tampaknya aku ditinggalkan.” jawabnya lalu menggaruk tengkuk, “ehm, kau mau menemaniku?”

Ne, tentu saja aku mau Oppa.” kata Hyerin tanpa pikir panjang. Keduanya segera berjalan berdampingan meninggalkan tempat itu. Dalam hati Hyerin merasa ada yang mengganjal, ada yang terlupa, namun dia benar-benar tak tahu apa itu. Hyerin memutuskan untuk tak memedulikan perasaan ganjil itu.

***

Sunrise.
Taeyoung menatap tanpa kedip keindahan alam yang terbentang di depan matanya. Seumur hidup, memang baru kali ini Taeyoung melihat sunrise dari atas Namsan Tower. Hasilnya benar-benar indah, membuat ia sama sekali tak menyesal harus mandi pagi-pagi dan mengikuti Jongwoon ke sini.

Tadinya, Taeyoung berpikir bahwa Jongwoon akan kembali melatihnya ilmu sihir saat jam setengah 6 pagi namja itu sudah ada di depan ranjangnya. Namun dugaan Taeyoung ternyata salah, Jongwoon justru mengajaknya jalan-jalan hari ini. Taeyoung tentu saja tak bisa menolak, dia butuh refreshing untuk berhenti memikirkan tentang maut yang setiap saat mengintainya.

“Katupkan mulutmu Young, nanti ada lalat yang masuk.” Suara Jongwoon menarik Taeyoung ke alam nyata lagi, yeoja itu menatap Jongwoon dengan bibir cemberut.

Jongwoon terkekeh melihat ekspresi Taeyoung, tangannya tergerak ke wajah Taeyoung lantas menyelipkan sejumput rambut Taeyoung ke belakang telinga membuat Taeyoung mematung mendapatkan perlakuan lembut seperti ini dari Jongwoon.

“Ini, minumlah.” tawar Jongwoon kemudian setelah selesai dengan rambut Taeyoung, diangsurkannya secup kopi panas ke arah Taeyoung.

Setengah terkesiap, Taeyoung lekas mengambil kopi itu sambil menggumamkan kata “Gomawo” sebelum dia kembali berbalik untuk menatap sunrise yang belum muncul sepenuhnya.

Jongwoon mengamati Taeyoung sejenak sebelum akhirnya ikut menyandarkan tubuh di pembatas menara, menatap lurus-lurus ke arah timur. Benar, sunrise memang selalu terlihat indah, namun..─Jongwoon melirik ke arah Taeyoung, tersenyum kecil─ekspresi bahagia di wajah Taeyoung jauh lebih indah dari pemandangan di depannya.

Sadar ada yang mengamatinya, Taeyoung memutar kepala ke arah Jongwoon. “Ada yang salah dengan wajahku, Oppa?” tanyanya heran.

Jongwoon menggeleng, tersenyum lembut. Matanya memandang tepat ke mata Taeyoung, menyedotnya masuk ke dalam. “Ani, aku hanya baru sadar kalau kau ternyata manis.”

Deg!
Taeyoung tahu dia seharusnya tak terbuai dengan kata-kata yang dilontarkan Jongwoon (hei, dia di sini karena sebuah perjanjian!), namun dia juga tak ingin bersikap munafik, hatinya senang mendengar pujian dari Jongwoon. Detakan di jantungnya bertambah cepat seiring dengan tatapan Jongwoon yang semakin dalam.

Tak ingin terlarut semakin jauh, Taeyoung buru-buru melepaskan kontak mata dengan Jongwoon dan kembali menatap sunrise. Pipinya tanpa sadar merona.

Jongwoon kembali tersenyum melihat tingkah Taeyoung, tahu betul kalau dia bersikap seperti ini karena misi yang mereka bicarakan kemarin, namun dia tak bisa mengelak bahwa dia juga menikmati semua tingkah Taeyoung.

Sadar tidak sadar, semua tingkah Taeyoung juga pelan-pelan mengubah tingkah Jongwoon. Entah bagaimana caranya, Taeyoung berhasil mengikis kebekuan yang selama ini menyelimuti hatinya. Melihat wajah bahagia Taeyoung bisa membuat Jongwoon tersenyum. Untuk pertama kalinya dalam hidup, ada seorang yeoja yang berhasil membuat dia merasakan kehangatan. Tapi begitu teringat bahwa semua ini dilakukan hanya untuk mendapatkan kepercayaan, Jongwoon merasa dia tak lebih dari seorang pecundang.

“Aw!” Jongwoon langsung terjaga dari lamunannya begitu mendengar suara Taeyoung. Namja itu membulatkan matanya melihat Taeyoung mengibas-ngibaskan tangannya yang tersiram kopi panas.

Cemas merambati hati Jongwoon melihatnya. Tanpa bicara sepatah katapun, Jongwoon meraih tangan Taeyoung lantas meniupnya dengan hati-hati. Taeyoung melihat aksi Jongwoon dengan mata membelalak.

Jongwoon benar-benar memerhatikannya, dan itu membuat Taeyoung diam-diam menyimpan debaran untuknya.


TBC...

2 komentar:

  1. yeah!!! gue reader dan penjejak pertama! hahaha. Ok, Good. cuman gue kurang suka sama part Saera. sekian.

    BalasHapus
  2. haha, oke cukup. Syirik? Maaf yee :P

    BalasHapus