SEVEN: Part A
T
|
AP.
Tap. Tap.
Suara langkah
kaki saling bersahutan menggema di sepanjang lorong kerajaan Shappire Blue.
Para prajurit perang, menteri-menteri juga para rakyat─sebenarnya hanya para namja
yang telah menyelesaikan ilmu sihir minimal tingkat delapannya, sedangkan yang
lain akan dievaluasi ke suatu tempat dan diamankan─sedang sibuk mempersiapkan
penyerangan untuk melindungi Negeri dari iblis kegelapan yang akan dilakukan
limabelas menit lagi.
Kim Youngwoon
tampak tengah mengarahkan prajurit-prajurit perangnya, pedang yang terbuat dari
cahaya warna-warni di tangan para prajurit berkilau, seolah menegaskan seberapa
tajam pedang itu meskipun terbuat dari cahaya. Beberapa prajurit pemanah juga
tampak telah siap dengan panah runcing mereka yang terbuat dari tanduk rusa
disertai lapisan sihir mereka sendiri.
Beribu-ribu pegasus
telah di siapkan di depan istana, siap untuk mengangkut para pejuang ke medan
perang. Tinggal menunggu perintah dari Jungsoo, maka perang pun tak bisa
terhindarkan lagi.
Di sisi lain,
Kibum menunggu kedatangan keempat Pangeran yang telah dihubunginya dengan
cemas. Namja itu berdiri di pinggir lorong, kakinya tak diam di tempat. Namja
itu mondar-mandir sebab waktu yang semakin menipis sementara para Pangeran dan hisami
mereka belum terlihat batang hidungnya sama sekali.
“Donghae Hyung!”
teriak Kibum senang begitu melihat Donghae dan seorang yeoja─yang Kibum
tafsir sebagai hisami Donghae (Hyerin kalau tak salah)─masuk ke dalam
istana. Namja itu segera menghampiri Donghae dengan langkah cepat-cepat.
“Mana yang lain?” tanya Kibum begitu berhadapan dengan Donghae. Kibum mengamati
Hyerin sekilas, dia jelas tahu nama-nama hisami keempat Pangeran itu
sebab beberapa kali bertukar cerita dengan Hyukjae selagi namja itu di
bumi.
Tak sadar
diamati, Hyerin yang ada di samping Donghae tampak menatap sekeliling istana
dengan bingung.
Donghae
mengangkat bahu tanda tak tahu, dia melirik Hyerin sekilas sebelum bertanya
pada Kibum, “Mengapa penyerangan dipercepat Kibum-ah?”
Kibum
memusatkan pandangannya kembali pada Donghae dan mendesah, tampak frustasi.
“Rapat dadakan Hyung, iblis itu juga semakin gencar memusnahkan
satu-persatu Desa kita. Karena itu Yang Mulia memutuskan untuk melakukan penyerangan
sekarang.”
“Pe-penyerangan?”
Hyerin akhirnya mengeluarkan suara dengan raut ketakutan di wajahnya, dia
menjatuhkan pandangan pada Kibum.
Saat itulah
kedua namja di dekatnya memberikan perhatian penuh pada Hyerin, “Ne.
Kau sudah siap, bukan Hyerin-ssi?” tanya Kibum lirih.
Mata Hyerin
membeku. Percakapan dengan Taeyoung, Saera, dan Hyunmi kemarin kembali
berputar-putar di pikirannya. Membuat ketakutan merayap dengan pasti dan
membungkus dinding hatinya seketika. Bagaimana kalau dia mati sebelum tugasnya
selesai?
Donghae, yang
menyadari ketakutan di mata Hyerin, segera meraih tangan Hyerin dan
menggoyangkannya, menyadarkan Hyerin bahwa Donghae ada di sini untuk
melindunginya. “Tenanglah, kau akan baik-baik saja.”
“Kibum,
Donghae!”
Kedua orang
yang tengah memerhatikan Hyerin itu refleks memutar kepala ke belakang, helaan
napas lega lolos dari bibir Kibum begitu melihat Kyuhyun dan Saera berlari ke
arah mereka sambil berpegangan tangan. Mereka bahkan lupa untuk memarahi
Kyuhyun karena teriakan tidak sopannya sebab terlalu lega.
“Penyerangan
dipercepat?” tanya Kyuhyun dengan napas terengah-engah begitu ia sampai, “Aish,
kenapa tidak ada yang memberitahuku untuk mengatur strategi?” rutuk Kyuhyun
kemudian tanpa menunggu jawaban dari Kibum atau pun Donghae.
Kibum menghela
melihat Kyuhyun yang tampak tak berubah meski pun berada di bumi hampir 3 jam.
“Karena kami tidak ingin merepotkanmu, Kyu. Kau cukup konsentrasi dengan tugas
intimu.”
Saera tiba-tiba
saja tersentak mendengar perkataan Kibum, dia mencari-cari mata Hyerin lantas
kedua yeoja itu saling menatap dalam ketakutan. Bayangan mengenai
sosok-sosok yang mencoba mencelakai mereka kembali terbayang. Saera ingin
sekali lari sekarang juga, sosok-sosok itu tampak kuat. Sedangkan ia? Ilmu
sihir yang dikuasainya hanya telepati. Bagaimana mungkin ia bisa melawan
sosok-sosok menyeramkan itu?
Kyuhyun
mencebik, baru ingat mengenai kenyataan itu. “Tenanglah, tidak akan ada yang
menyakitimu, Saera-ya.” ujarnya pada Saera, Kyuhyun tahu yeoja
itu ketakutan sekarang, tak berbeda jauh dengan Hyerin.
“Aku berharap
seperti itu.” sahut Saera, dia balas meremas tangan Kyuhyun yang baru saja
meremas tangannya dengan lembut.
“Hyukjae Hyung!”
Kibum kembali berseru lega saat melihat Hyukjae dan Hyunmi berjalan ke arah
mereka, namun keningnya langsung mengerut heran melihat keadaan Hyukjae, ada
darah kering juga di sudut bibir Hyukjae─yang Kibum duga bekas tamparan keras
atau pukulan.
Hyukjae
membalas sapaan Kibum dengan senyum sekenanya sambil melambaikan tangan, sementara
Hyunmi yang berjalan beberapa langkah di belakangnya memasang wajah dingin,
sama sekali bergeming dengan kericuhan yang tengah terjadi di istana.
“Sudah saatnya ne?”
tanya Hyukjae santai, berbeda jauh dengan hatinya yang tengah dilema hebat
memikirkan nyawa siapa yang akan menjadi tumbal untuk sihir aspagus ini.
“Eonni!”
Hyerin dan Saera berseru nyaring ketika Hyunmi sudah berada beberapa langkah di
dekat mereka, keduanya spontan melepaskan genggaman tangan pada Donghae dan
Kyuhyun lantas menghambur untuk memeluk Hyunmi.
“Eonni,
aku takut.” bisik Hyerin dengan mata berkaca-kaca, Saera mengangguk setuju.
Bayangan tentang kematian yang semakin dekat mengintai mereka membuat keinginan
untuk pergi dari sini semakin kuat. Namun janji yang telah mereka buat berhasil
menahan mereka.
Hyunmi tertegun
beberapa saat begitu mendapat pelukan dari kedua yeoja yang sudah dia
anggap sebagai dongsaeng sendiri sebelum menyunggingkan senyum tipis di
bibirnya dan membalas pelukan keduanya. “Kita berempat akan hidup, percayalah
padaku.” kata Hyunmi lirih, karena satu-satunya yang akan mati adalah namja
itu. sambung Hyunmi kemudian dalam hati sambil memberikan death glare
pada Hyukjae yang membisu.
“Mana Jongwoon Hyung?”
tanya Kibum kemudian, matanya meninggalkan ketiga yeoja yang masih
berpelukan dan kembali menatap satu-persatu pada ketiga namja di
dekatnya.
“Aku bukan babysisternya,
tentu saja aku tak tahu.” Jawaban Kyuhyun seperti biasa terdengar menyebalkan.
Mereka hanya mendecak mendengar perkataan dari bibir Kyuhyun.
“Hyuk, kenapa
dengan bibirmu?” tanya Donghae tiba-tiba begitu ia menyadari bibir Hyukjae
terluka.
Hyukjae
terkesiap namun langsung memasang wajah datar, tangannya menyentuh sudut bibir
yang masih sedikit berdenyut. “Hanya kecelakaan kecil, tidak usah dihiraukan.”
“Maaf telambat,
belum dimulai, bukan?” tanya Jongwoon yang tiba-tiba saja sudah ada di samping
keempat namja itu, dia melepaskan genggaman tangannya pada Taeyoung
lantas merapat ke arah namja-namja itu.
Taeyoung
menggigit bibir melihat sikap Jongwoon sebelum menghampiri ketiga yeoja
di dekat pilar besar berjarak lima langkah darinya.
“Kenapa baru
sampai Eonni?” tanya Saera begitu menyadari kedatangan Taeyoung.
“Tidak apa-apa,
hanya ada yang harus diurus sedikit.” sergah Taeyoung lalu ikut menghambur
dalam pelukan teletubies ketiganya, berharap kalau yang dirasakannya bisa
sedikit berkurang dengan cara seperti itu.
Hyunmi mengurai
pelukan mereka berempat perlahan, ekor matanya melirik kelima namja yang
nampak tengah berdiskusi lantas menatap satu-persatu mata ketiga yeoja
di dekatnya dengan tajam.
Hyunmi
mengembuskan napas sekali sebelum mulai berkata, “Aku tahu Oppadeul hari
ini bersikap sangat manis pada kalian, tapi jangan sampai terjebak. Jangan
sampai jatuh cinta pada mereka, ne?” Hyerin, Taeyoung, dan Saera menutup
mulut mereka rapat-rapat, tak yakin mereka bisa mengiyakan. Gigi Hyunmi
bergemeletuk melihat ia tak mendapat respons apa pun, “aku sudah mengingatkan
kalian. Mereka hanya ingin memanfaatkan kita.”
“Bukankah kita
saling memanfaatkan, Eonni?” seru Taeyoung tiba-tiba, tangannya
mengepal, menahan rasa sakit yang membuncah di dadanya mendengar perkataan
Hyunmi. Yeoja itu benar, namun dia tak ingin mengakuinya, dia tak ingin
mengakui bahwa Jongwoon baik padanya hanya demi memanfaatkan.
“Kendalikan
emosimu Young,” tutur Hyerin sambil menyentuh pundak Taeyoung.
Kemarahan di
mata Taeyoung meredup, yeoja itu menunduk seketika. “Mianhae...”
“Bukan
salahmu.” tukas Hyunmi datar.
Setelah itu,
keempatnya hanya menatap dalam diam suasana istana yang semakin ricuh.
Lambat-laun pikiran mereka mulai tersedot pada saat-saat sebelum mereka berada
di sini.
***
Taman
Hiburan, Tokyo.
Matahari
sudah terbenam sejak sejam yang lalu, namun tak ada pergerakan apa pun yang
dilakukan oleh Donghae dan Hyerin.
Hanya
desiran angin malam yang menemani mereka menjelajahi jauh ke dalam hati
masing-masing.
Hyerin
mengerti dengan sangat jelas kalau Donghae mungkin membencinya sekarang. Dia
telah melupakan Donghae begitu saja karena Baekhyun. Tapi apa salah? Dari awal
tujuannya membantu Donghae adalah untuk mendapatkan Baekhyun, bukan? Dan
mengapa ia harus merasa sakit saat Donghae mengatakan hal itu?
Hyerin
mendesah diam-diam sambil melepaskan kalung kerang pemberian Donghae dari
lehernya, dia menyimpan kalung itu di saku sambil bertanya-tanya dalam hati
mengapa ia harus kabur dari kencannya bersama Baekhyun hanya karena mengingat
Donghae. Bukankah namja itu juga tak peduli padanya? Lalu mengapa ia harus peduli
pada perasaan Donghae? Apa Hyerin mulai berpaling dari Baekhyun?
Hyerin
jelas ingin menjawab pertanyaan di hatinya itu dengan kata tidak, namun ada
sesuatu yang menahannya untuk membiarkan pertanyaan itu menggantung tanpa
jawaban.
Donghae
tahu kata-kata yang dilontarkannya beberapa jam lalu─tentang ia bukan
siapa-siapa Hyerin─pasti terdengar sangat menyakitkan bagi yeoja
itu─karena dia sendiri pun merasa sakit mengatakannya. Namun Donghae tahu apa
yang dikatakannya adalah benar, tidak boleh ada rasa yang tumbuh di hati
mereka. Sebab dari awal, tujuan Donghae hanya satu; membuat Hyerin meminjamkan
sihirnya untuk membantu dia.
Dan
hari ini pun, dia membawa Hyerin ke sini atas dasar hal itu. Tapi sesuatu yang
tak terduga berhasil mengacaukan rencananya, dan Donghae membenci fakta bahwa
dia ingin sekali memukul Baekhyun karena membuat Hyerin melupakannya.
Donghae
bisa mendengar Hyerin menghela napas sebelum suaranya terdengar, “Tiga hari
lagi dan semuanya selesai, kan Oppa?”
Suara
Kibum yang tiba-tiba saja melintas di kepalanya membuat Donghae termenung
beberapa saat. Tak lama kemudian Donghae tertawa, terdengar sinis. “Sepertinya
hari ini pun semuanya akan selesai, kau akan mendapatkan Baekhyunmu besok.”
Donghae
tak sadar bahwa perkataannya baru saja membuat dua hati terluka. Hati Hyerin
dan hatinya.
Arena
Ice Skating, Paris.
Melihat
mata Hyunmi yang pelan-pelan berubah menjadi gelap, Hyukjae tak berpikir dua
kali untuk segera berlari ke arah yeoja itu.
Digenggamnya tangan yeoja itu erat-erat sementara mata Hyunmi berubah
menjadi cokelat kembali.
“Aku
tak akan mengingkari janji. Saat semuanya selesai, kau bisa membunuhku.” tegas
Hyukjae begitu mata Hyunmi menatapnya.
Hyunmi
tertawa sinis lantas menyentakkan tangan Hyukjae dari tangannya dengan kasar, hatinya
terluka. Orang yang diam-diam Hyunmi mulai percayai ternyata tak lebih dari
seorang pembohong. “Bagaimana aku bisa percaya seorang pembunuh sepertimu?”
Godam
raksasa menimpa Hyukjae saat itu juga, namja itu
menunduk, tak berani menatap mata Hyunmi langsung. Pembunuh. Yah, nyatanya,
Hyukjae memang pembunuh. Dialah yang membunuh Ahna secara tak langsung. Kalau
saja dulu dia tidak terlambat datang dan melindungi Ahna baik-baik dari yeoja
sialan yang merupakan sahabatnya sejak kecil─sangat terobsesi padanya, Ahna
pasti sekarang masih ada di sini, menemaninya, menemani Hyunmi.
“Aku
memang yang menyebabkan Ahna terbunuh, tapi aku tak menginginkan itu. Aku
mencintainya.” balas Hyukjae lirih.
Hati
Hyunmi sudah terlanjur diselimuti kebencian untuk mendengarkan perkataan
Hyukjae. “Baik, tunjukkan aku bukti kalau kau benar-benar akan mati setelah
ini.”
Suara
Kibum sudah berdengung di pikirannya sedari tadi, tapi Hyukjae tak mau
menyahut. Hyukjae memejamkan mata sekejap, bayangan wajah Ahna menari-nari di
matanya, namun bayangan itu perlahan menghilang tergantikan bayangan Hyunmi.
“Lihat.”
kata Hyukjae, mengulurkan telepak tangan kanannya ke arah Hyunmi. Tangan kiri
Hyukjae lantas mengeluarkan cahaya putih susu yang langsung membentuk gambar
naga berantai di telapak tangan kanannya. Gambar itu bercahaya beberapa detik
sebelum akhirnya meredup.
Hyunmi
menatap kejadian itu bingung, “Disvolre,
sihir pengikat janji. Selama gambar ini masih ada di tanganku, aku akan mati
dengan sendirinya saat semua sudah berakhir.”
Hyunmi
menatap gambar itu dengan saksama sebelum beralih menatap Hyukjae dingin,
tangannya melayang ke wajah Hyukjae. Dan dalam sekali ayunan kuat, Hyukjae
dapat merasakan sudut bibirnya berdarah.
Plak!
Senyum
dingin Hyunmi terkembang. “Itu tanda bahwa aku memegang janjimu.” Yang
ditanggapi Hyukjae dengan tatapan datar tanpa sepatah kata pun sambil mengusap
sudut bibirnya.
Restoran
Itali, Roma.
Kyuhyun
melepaskan pelukannya saat mendengar suara Kibum dengan tiba-tiba. Rahang namja
itu mengeras, dia langsung meninggalkan Saera sendirian di lantai dansa lantas
kembali ke meja.
Setelah
mengatakan dia akan pergi sebentar lagi pada Kibum, namja
itu mencoba menghubungi saudara-saudaranya yang lain. Namun dia mengurungkan
niatnya, tahu tak akan ada respons yang berarti dari orang-orang itu.
Saera
yang masih berdiri di lantai dansa sendirian langsung memberengut. Sambil
menggerutu dalam hati karena tingkah Kyuhyun yang bisa berubah kapan saja, yeoja
itu menyentakkan kaki dan berjalan ke arah meja mereka.
Yeoja itu
menjatuhkan dirinya dengan bunyi ‘bug’ cukup keras di kursi, sukses
membuat Kyuhyun berpaling dari acara termenungnya.
Kyuhyun
mengerutkan kening, menatap Saera bingung, “Wae?”
Menggeleng,
Saera menyambar Jus Alpukat di atas meja sambil cemberut. Moodnya
sudah hancur berantakan gara-gara Kyuhyun. Namja itu sukses sentosa
menghancurkan hari indahnya hanya karena satu tindakan, benar-benar namja
tak peka!
Kyuhyun
menajamkan pandangan ke arah Saera, membuat yeoja itu
menghentikan aksi merajuknya dan menelan ludah gugup.
“Wae?
Kenapa kau menatapku seperti itu?”
Kyuhyun
mendengus. “Kita harus pergi dari sini.” katanya sambil berdiri.
“MWO?!”
pekik Saera terkejut, “aku bahkan belum menghabiskan makanan ini! Setidaknya
biarkan aku menghabiskan ini dulu.”
Tatapan
Kyuhyun beralih pada makanan yang masih terhidang di atas meja, “Kerajaanku
lebih penting daripada makanan itu.” Tegas, Kyuhyun menyelipkan perintah
tersirat kepada Saera.
Saera
diam. Merasa disiram air es mendengar kata-kata Kyuhyun. Apa dia memang terlalu
egois?
Lalu
bayang-bayang tentang kematian menghampirinya, membuat Saera meremas kedua
tangannya kuat-kuat. Pemikiran mengenai kematian yang semakin dekat dengannya
membuat Saera meragu. Haruskah ia ikut bersama Kyuhyun?
Belum
sempat Saera mengeluarkan pendapat, Kyuhyun sudah terlanjur menarik tangannya
keluar restoran terlebih dahulu.
Sungai
Han, Seoul.
Duar! Duar!
Deg!
Jongwoon
dan Taeyoung terkesiap dari euforia yang mereka buat begitu mendengar suara
letusan kembang api terdengar. Refleks, keduanya langsung memundurkan tubuh
mereka masing-masing dengan gerakan kaku.
Taeyoung
menyelipkan sejumput rambut ke belakang telinga dengan gugup, dia menundukkan
kepala dalam-dalam, menatap ujung sepatu yang dikenakannya dengan gamang.
Batinnya menjerit keras, bertanya tentang apa yang─akan─ia dan Jongwoon lakukan
barusan. Apa akal sehatnya sudah hilang?
Jongwoon
terenyak dalam diam. Kesadaran langsung menamparnya berulang-ulang. Batinnya
berteriak menyuruh ia mengendalikan diri.
Keduanya
terdiam dalam kesunyian yang canggung, hanya letusan kembang api yang terdengar
di atas langit sana. Jongwoon dan Taeyoung sibuk dengan pikiran masing-masing,
berusaha mengingatkan diri sendiri untuk tidak jatuh. Mereka berusaha mengingat
tujuan awal bersama, berusaha memupus rasa aneh yang pelan-pelan menyelinap.
Terutama Jongwoon, dia harus membekukan hatinya kembali secepat mungkin.
“Mianhaeyo
Young, Oppa tadi terbawa suasana.” gumam Jongwoon beberapa menit
kemudian, dia sama sekali tak berani melirik ke arah Taeyoung, karena itulah
dia lebih memilih menatap langit yang bertabur kembang api.
Merasa
tersentak mendengar perkataan Jongwoon, Taeyoung tak urung menahan napas
beberapa detik guna menghilangkan sesak di hatinya. “Gwaenchana,
tidak usah dipikirkan. Kita sama-sama terbawa suasana Oppa.” kilah
Taeyoung, ikut memfokuskan pandangan pada letusan kembang api di langit sana.
Jongwoon
berusaha menahan hatinya yang pelan-pelan meretak saat Kibum melakukan telepati
dengannya. Mata namja itu membulat, tangannya terkepal keras mendengar informasi
yang dikatakan oleh Kibum. Tidak. Tidak sekarang. Jongwoon bergumam dalam hati,
pikirannya langsung suram begitu memikirkan mengenai Negerinya saat ini.
“Kita
harus pergi sekarang.” titah Jongwoon dingin, berdiri, lalu menarik tangan
Taeyoung tanpa memedulikan ekspresi bingung yang terpancar dari wajah yeoja
itu.
***
4 ekor pegasus
berbulu putih cemerlang berjejer dengan rapi di depan Kerajaan, dan tak jauh
dari 4 pegasus itu─tepatnya 20 meter di depan 4 pegasus itu─juga
berjejer ribuan pegasus lain, lengkap dengan prajurit sihir lainnya.
Rakyat-rakyat dengan sihir biasa sudah diamankan oleh pengawal kerajaan.
Semuanya sudah siap, awan hitam yang menyelimuti langit Negeri Shappire Blue
pun seolah mengabarkan bahwa sang iblis kegelapan siap menghadapi serangan
prajurit Shappire Blue.
Tinggal
menghitung menit, dan perang akan dimulai.
“Jadi, yang
perlu kalian lakukan hanya pergi ke bukit suci, pergi ke puncak tertinggi dan
kalian akan menemukan lapangan luas di sana. Satukan kekuatan kalian dan
buatlah pola ziguari di sana, di dalam perkamen ini, semua cara-cara
melakukan pemanggilan tertulis.” Jungsoo memberikan segulung perkamen di tangan
kanannya pada Jongwoon setelah menghela napas panjang. Tangan Jongwoon bergetar
saat mengambil perkamen itu dari Jungsoo. Cemas dan takut berkumpul di hatinya
dalam sekejap.
Hening.
Semuanya larut dalam kegelisahan masing-masing.
Bukan hanya
Jongwoon yang memiliki perasaan cemas dan takut, tapi 3 namja lain juga
4 yeoja lain yang berdiri mengelilingi Jungsoo dan Jongwoon juga
merasakan hal yang sama. Tubuh mereka mulai terasa mati rasa karena ditekan
ketakutan tak berdasar.
Bukit suci,
keempat Pangeran itu mendesah dalam hati. Yang semua rakyat Shappire Blue tahu,
tak ada seorang pun yang pernah benar-benar pergi ke sana. Bukit suci memiliki
pelindung tersendiri, tak ada seorang pun yang pernah mencapai puncak bukit.
Paling jauh hanya tengah, sebab sebelum mereka melangkah lebih jauh, bukit suci
telah melempar tubuh orang itu keluar. Mitos mengatakan bahwa hanya benar-benar
orang yang mempunyai keinginan kuat dan ketulusan hati untuk melindungi orang
lain yang bisa sampai ke atas bukit.
“Yang Mulia,
semua prajurit telah siap. Kami tinggal menunggu perintah Anda.” Menteri
Youngmin membungkuk hormat pada Jungsoo dan yang lainnya sebelum
menginformasikan hal itu.
Semua yang
terpekur mengerjapkan mata mereka sekali, serentak menatap kearah Youngmin yang
berdiri tegak dengan wajah datar.
Jungsoo mengangguk
pada Youngmin, senyum getir yang terlihat menyedihkan terukir di bibirnya. “10
menit lagi kita akan berangkat.”
Youngmin balas
mengangguk patuh lantas meninggalkan 9 orang itu setelah sekali lagi
mengangguk. Mata Jungsoo kembali jatuh pada ke 8 orang yang kini ada di
hadapannya, namja paruh baya itu memandangi wajah mereka satu-persatu,
sesak menyusup dengan cepat ke dalam benaknya.
“Tolong,
kembalilah dengan utuh dan selamat. Negeri ini membutuhkan kalian.” kata Jungsoo,
setengah berbisik. Semuanya menelan ludah, tak yakin dengan jawaban apa yang
harus mereka berikan.
“Aboeji
juga harus berjanji akan baik-baik saja.” Donghae akhirnya bersuara setelah
terpekur lama, namja itu memaksakan senyum di bibirnya. Senyum yang
terlihat pasrah.
Jungsoo menahan
air matanya agar tidak mengalir, dia kali ini tersenyum tulus, namja itu
beranjak kearah putra-putranya dan memeluk mereka satu-persatu. Jungsoo tak
ingin kehilangan siapa pun, tidak di antara keempat putranya. Mereka adalah
satu-satunya yang tersisa, satu-satunya yang diberikan Sora untuknya sebelum yeoja
itu meninggalkan dia mempimpin kerajaan sendirian. Mereka berempat adalah
amanat Sora.
“Jongwoon, jaga
dongsaengmu baik-baik. Kau paling dewasa di antara mereka, tolong
kembali. Negeri membutuhkanmu dan Aboeji menyayangimu..” kata Jungsoo
saat memeluk Jongwoon. Jongwoon mengangguk, balas memeluk ayahnya tercinta.
“Donghae, walau
pun kau sering sekali membuat Aboeji pusing karena sikap playboymu,
Aboeji menyayangimu, kembalilah dengan selamat.” Donghae mengangguk,
menahan air matanya agar tidak jatuh saat mereka berpelukan.
“Kyuhyun, kau
adalah ahli strategi paling hebat yang pernah Aboeji temuimu. Meski pun
sikapmu sangat evil, Aboeji sungguh menyayangimu. Kembalilah
dengan selamat.” Kyuhyun tak tahu harus bereaksi apalagi selain mengangguk dan
balas memeluk Jungsoo dengan erat. Batinnya menjerit, tak menyangka dia akan
mengalami hal seperti ini. Terancam kehilangan semua yang disayanginya.
Jungsoo
berhenti sebentar di depan Hyukjae, lantas memeluknya dengan erat. “Sora
mewariskan penguasaan ilmu sihir yang
cepat dan keingintahuan yang besar padamu, mianhae Aboeji sempat
menyalahkamu. Kembalilah dengan selamat Hyukjae, Aboeji menyayangimu.”
Hyukjae memejamkan mata, membalas pelukan Jungsoo erat, seolah tak ingin
kehilangan.
Jungsoo
mengusap sudut matanya yang sedikit berair sebelum melepaskan pelukannya dari
Hyukjae dan beralih menatap keempat yeoja yang berdiri mematung. Jungsoo
tersenyum, “Untuk kalian, terimakasih sudah mau membantu kami. Kembalilah
dengan selamat.” Menghela napas sekali, Jungsoo kembali berkata, “Kami akan
berangkat terlebih dahulu.” Dan berjalan menuju prajurit-prajurit lain tanpa
menoleh lagi pada anak-anaknya.
Semuanya
membeku. Menatap kalut hingga ribuan pegasus itu melesat tinggi. Pelan
menjauh sampai hilang ditelan awan.
“Kita juga
harus berangkat sekarang.” Jongwoon membuka mulut, memberanikan diri menatap
satu-persatu wajah yang lainnya, matanya berhenti sebentar saat menatap
Taeyoung, tatapannya mendalam, namun Jongwoon langsung berjalan ke arah pegasusnya
setelah itu, tahu ini saatnya. Dan tidak boleh ada hati yang dilibatkan saat
perang ini berlangsung.
Tak sepatah
kata pun keluar dari mulut masing-masing, mereka semua menurut. Berjalan
mendekati pegasus masing-masing bersama para hisami.
Para hisami
baru saja akan naik ke pegasus masing-masing namja yang saat ini
merupakan partnernya saat suara pekikan yeoja terdengar dari
belakang. Keempatnya spontan menghentikan usaha untuk menaiki pegasus itu
lantas menengok ke belakang dan menemukan wajah cantik 4 yeoja yang
langsung menggeser mereka ke pinggir dan memeluk masing-masing namja
yang sudah ada di atas pegasusnya.
Keempat yeoja
yang tersingkir memekik, berseru kesal dalam hati. Mata mereka menatap tajam yeoja-yeoja
itu, tak suka, namun juga tak bisa berkata apa pun. Mereka tentu saja tak punya
hak untuk memarahi yeoja-yeoja itu bukan?
***
“Ugh, Vic.
Jangan terlalu erat, kau membuatku sesak!” erang Kyuhyun sambil melepaskan
pelukan yeoja bernama Victoria itu dari lehernya secara paksa,
ditatapnya Victoria sebentar sebelum menghela napas panjang. Saat ekor matanya
tanpa sengaja menangkap bayangan Saera, Kyuhyun merasa paru-parunya terganjal
melihat tatapan tajam yeoja itu padanya dan Victoria.
Victoria
tersenyum tanpa dosa, memeluk lengan Kyuhyun manja dengan mengabaikan tatapan
mematikan yang seolah menembus punggungnya. “Mianhae, Oppa. Aku hanya
terlalu merindukanmu.”
“Astaga, Vic.
Kita hanya tidak bertemu selama beberapa jam.” keluh Kyuhyun dengan nada
jengah.
Meski pun
sangat enggan mengakui, tapi Saera tak bisa memungkiri bahwa Victoria terlihat
sangat cantik. Wajahnya terlihat seperti putri-putri yang sering diceritakan
hanya ada di Negeri dongeng. Dan Kyuhyun, mata Saera mengamati Kyuhyun sekilas.
Namja itu jelas punya ketampanan dan aura Pangeran yang kuat. Saera
menggigit bibir, merasakan hatinya memanas untuk alasan tak jelas ketika
berpikir bahwa keduanya memang cocok disandingkan sebagai pasangan.
“Bisakah kita
berangkat sekarang?” Suara Saera menyela Victoria yang baru saja akan berbicara
kembali.
Victoria
mengerjap, menatap ke arah Saera seolah baru sadar bahwa yeoja itu
sedari tadi berdiri satu langkah di sampingnya. Senyum manis yang terlihat
memuakkan di mata Saera langsung terpasang otomatis di wajah Victoria. “Annyeong,
kau pasti hisami yang ditemukan Kyuhyun Oppa.” sapanya sok akrab
sembari mengulurkan tangan, Saera menjabatnya dengan enggan.
“Victoria imnida,
yeojachingu Kyuhyun Oppa. Kuharap Kyuhyun Oppa tidak
merepotkanmu selama di bumi.” sambungnya kemudian dengan nada semanis mungkin.
Saera menahan
diri untuk tidak mendengus di depan wajah Victoria. Entah untuk alasan apa,
Saera membenci yeoja ini sejak pertama kali dia memeluk Kyuhyun. Saera
berusaha menaiki pegasus itu tanpa membalas perkataan Victoria, dia
tersenyum tipis saat Kyuhyun mengulurkan tangan dan membantunya naik.
Kyuhyun menatap
Victoria setelah memastikan Saera duduk nyaman di belakangnya. “Vic, kami harus
pergi sekarang.”
“Pastikan kau
kembali tanpa luka sedikit pun, Aboejiku sudah menyusun rencana untuk
pertunangan kita.”
Kyuhyun baru
saja akan membuka mulut untuk menyela perkataan Victoria saat tiba-tiba saja yeoja
itu berjinjit dan menciumnya di depan Saera.
Saera mematung,
dan Kyuhyun merasakan tubuhnya menegang saat sadar dia berciuman di depan mata
Saera.
***
Bodoh,
kenapa kau harus bersikap-sikap seolah pemandangan di hadapanmu sangat
mengerikan?!
Taeyoung
mengutuk dirinya sendiri dalam hati. Sejak yeoja cantik itu berlari ke arah
Jongwoon dengan menyenggolnya tanpa perasaan lantas memeluk namja itu
dengan begitu erat, Taeyoung mendapati dirinya sendiri langsung memalingkan
wajah ke arah lain, seolah menolak melihat pemandangan itu. Dia bisa merasakan
ada sesuatu di dalam dirinya yang menjerit, menyuruh ia menyeret yeoja
itu dari hadapan Jongwoon sekarang jua.
Namun Taeyoung
tentu saja harus memikirkan usul itu ribuan kali, bukan? Pertama, dia ada di
sini karena suatu perjanjian dengan Jongwoon, hanya 5 hari─well,
sekarang hanya tiga hari─dengan janji di dalam diri untuk tidak terjatuh.
Kedua, Taeyoung bukan siapa-siapa Jongwoon, dia tak punya hak untuk melakukan
hal itu.
Taeyoung
menatap ujung sepatunya yang dikenakannya dengan gamang, kembali mencaci
dirinya sendiri begitu tersadar dengan semua pemikirannya. Mengapa Jongwoon
selalu ada di pikirannya beberapa jam terakhir ini? Taeyoung yakin ada sesuatu
yang salah terjadi di otaknya.
Mata Jongwoon
sendiri tampak mengamati Taeyoung dari balik rambut yeoja di pelukannya,
diam-diam mengembuskan napas berat saat melihat bagaimana Taeyoung sama sekali
tak mau menatapnya karena kehadiran yeoja ini. Namun sejurus kemudian,
Jongwoon terenyak. Dan lagi-lagi, namja itu bertanya-tanya dalam hati
mengapa ia harus mencemaskan pendapat Taeyoung mengenai dirinya.
“Kau membuatku
cemas Oppa.” bisik yeoja itu di telinga Jongwoon, mengeratkan
kalungan lengannya di leher Jongwoon.
Jongwoon
terjaga dari pikirannya, namja itu buru-buru melepaskan pelukan yeoja
di depannya sambil mencoba memberikan senyuman lembut. “Aku baik-baik saja,”
tukas Jongwoon, “kembalilah ke ruang perlindungan, Eommamu pasti sangat
mencemaskanmu sekarang, Sooyoung-ah.” imbuh Jongwoon kemudian.
Sooyoung mau
tak mau melepaskan kalungan lengannya di leher Jongwoon, yeoja itu
menatap mata Jongwoon lurus-lurus dengan tatapan lembut. Sudut bibirnya
terangkat membentuk sebuah senyuman. “Aku akan segera kembali ke sana.” katanya,
Jongwoon mengangguk, balas tersenyum, setengah mati berusaha mengabaikan
keinginan untuk menatap Taeyoung. “Pastikan kau selamat Oppa, agar kita
bisa menikah bulan depan sesuai rencana.”
Sret!
Taeyoung
praktis menatap tajam ke arah Jongwoon dan Sooyoung begitu mendengar
perkataannya. Yeoja itu mengatupkan mulutnya rapat-rapat, menahan
teriakan yang akan lepas keluar dari bibirnya.
Namja itu akan menikah di sini, sedangkan di Bumi dia bersikap
sangat manis pada Taeyoung. Apa itu semua hanya palsu? Apa Jongwoon benar-benar
bersikap manis hanya untuk mendapatkan kepercayaannya?
Sial!
Taeyoung buru-buru membuang wajah saat Jongwoon tanpa sengaja menatap ke arahnya,
dia mengulur napas, mencoba mengendalikan emosinya yang mendadak seperti ingin
meledak-ledak.
“Aku harus
pergi sekarang, Soo,” sergah Jongwoon tak mau menjawab, “Taeyoung, ayo naik.” katanya
kemudian pada Taeyoung. Jongwoon menolak gagasan bahwa ia sangat tak nyaman
Sooyoung mengatakan hal itu di depan Taeyoung.
***
“Bogoshippoyo
Oppa..”
Seperti
Barbie, Hyerin bergumam dalam hati begitu melihat wajah yeoja yang
baru saja melepaskan pelukannya pada Donghae. Yeoja itu meremas bajunya
pelan, menahan perasaan aneh entah-apa-itu yang menghimpit dadanya.
Tidak lagi,
desah Hyerin kembali dalam hati, memperingatkan dirinya untuk tidak peduli pada
Donghae. Namja itu sudah menegaskan, dan Baekhyunmu sudah menunggu.
lanjut Hyerin kemudian saat menyaksikan Donghae tengah membelai pipi yeoja
di hadapannya.
Saat mata
Donghae tanpa sengaja menatap ke arahnya, Hyerin segera memalingkan wajah. Tak
ingin Donghae melihatnya, Hyerin tak sanggup menatap mata Donghae untuk saat
ini. Donghae tanpa sadar malah terpekur melihat Hyerin yang memalingkan wajah
darinya. Tangannya menggantung di udara, tak lagi mengelus pipi yeoja di
depannya.
Sang yeoja
mengernyit, mengayunkan tangannya di depan wajah Donghae hingga namja
itu terkesiap pelan. “Waeyo Oppa?” tanyanya khawatir, lalu wajahnya
berubah sedih beberapa detik kemudian, “Kau tidak merindukanku?”
Donghae
langsung berusaha menenangkan hatinya yang mulai kacau lagi dengan memasang
senyum manis, “Aniyo, Yoona-ya, tentu saja Oppa juga
merindukanmu.” elak Donghae sambil membawa Yoona ke dalam pelukannya selama
beberapa detik.
Senyum cerah
tersungging di bibir Yoona mendapat pelukan Donghae, “Syukurlah, aku pikir Oppa
sudah melupakanku.” katanya lega, Yoona lantas menengok ke samping, senyumnya
memudar digantikan raut penyesalan begitu melihat Hyerin. Dia membungkuk, “Ah, mianhae
mendorongmu tadi, aku hanya terlalu senang saat mendengar Donghae Oppa
sudah kembali.” Yoona berdiri tegak kembali dengan senyum manisnya, dan Hyerin
bersikap kikuk dengan mengangguk kaku. “Aku─”
“Yoona yeojachinguku,
Hyerin-ah.” sela Donghae, melirik sekilas ke arah Hyerin sebelum
memusatkan pandangannya pada wajah cantik Yoona lagi. “Apa yang kaulakukan di
sini chagi? Kembalilah ke ruang perlindungan. Aku tidak ingin sesuatu
terjadi padamu.”
Jujur, dulu
Donghae mungkin sangat menyukai melemparkan kata-kata manis untuk yeojachingunya,
namun sekarang, saat Hyerin ada di hadapannya dan menonton mereka berdua,
Donghae merasakan perasaan aneh menyelimuti hatinya. Dan perasaan aneh itu
benar-benar tak menyenangkan, sangat mengganggu, juga sangat menuntut. Menuntut
Donghae mengakui Entah-Apa-Itu yang kini bersemayam di hatinya.
Pipi Yoona
bersemu, dan Hyerin hampir lupa cara bagaimana caranya bernapas saat kedua orang
itu berciuman di depan matanya. “Aku menunggumu, pastikan kau kembali dengan
selamat.”
Donghae tak
menjawab, hanya tersenyum ke arah Yoona sebelum mengelus helai pegasusnya dan
berkata pada Hyerin tanpa meliriknya sama sekali. “Naiklah sekarang Hyerin-ah,
kita harus berangkat.”
Hyerin
mendapati dirinya mematuhi apa yang Donghae katakana dengan hati tersayat.
***
“Demi Tuhan, Oppa!
Apa yang terjadi pada bibirmu?!”
Hyunmi memutar
bola mata malas sembari memalingkan wajah ke arah lain saat mendengar yeoja─yang
baru saja melepaskan pelukannya dari Hyukjae─itu memekik hebat begitu matanya
menatap wajah Hyukjae lekat-lekat.
Hyukjae melirik
ke arah Hyunmi sekilas sebelum menurunkan tangan yeoja yang resmi
dijodohkan dengannya sejak setahun lalu itu dari pipinya, “Gwaenchana
Jina-ya, ini hanya kecelakaan kecil, tak perlu dicemaskan.” tukasnya menenangkan.
Yeoja
bernama Jina itu spontan menyunggingkan senyum manis, “Syukurlah, aku hanya
terlalu khawatir pada Oppa.” balasnya, meraih tangan Hyukjae dan menggenggamnya
erat.
Hyukjae
membalas senyum manis Jina dengan tak kalah manis, dia sama sekali tak berani
melirik ke arah Hyunmi lagi. Yeoja itu pasti berpikir dia telah
berbohong tentang perkataannya beberapa waktu yang lalu sebab kenyataannya,
Hyukjae sudah memiliki yeoja di sini. “Aku akan baik-baik saja Jina,
percayalah.”
Gigi Hyunmi
bergemeletuk begitu menyaksikan bagaimana keduanya saling memandang satu sama
lain. Api kecil menjalar di hatinya perlahan, dan Hyunmi takut api itu akan
berkembang lantas membara.
Masih
mencintainya Ahna katanya? Hyunmi mengejek dalam hati. Cih, namja
itu benar-benar pandai berbohong. Mana ada namja yang masih mencintai yeoja
lain namun sudah mempunyai kekasih yang baru? Lucu sekali. Namun lebih lucu
lagi sebab Hyunmi masih saja mempercayai perkataan namja itu tadi.
Seharusnya Hyukjae tidak mempunyai siapa-siapa di sini agar Hyunmi dapat
mempertimbangkan mengenai kematian itu, seharusnya Hyukjae bisa membuat Hyunmi
percaya bahwa namja itu tulus, seharusnya…. Tunggu! Tunggu! Kenapa ia harus
peduli pada Hyukjae?!
“Bisakah kita
pergi sekarang?” desis Hyunmi dingin membuat kedua orang yang masih seru
bertatapan itu serentak menoleh padanya, Hyunmi membalas pandangan keduanya
dengan tajam. “Kau tidak lihat pegasus ketiga saudaramu sudah melesat?”
imbuhnya terdengar sinis.
Hyukjae
tersentak, “Jina-ya, Oppa sepertinya harus pergi sekarang.
Kembalilah ke tempat perlindungan, jangan biarkan dirimu terluka.” katanya pada
Jina.
“Arraseo.”
angguk Jina, “Jaga diri Oppa baik-baik.” bisiknya sebelum mencium pipi
Hyukjae kilat dan berlari ke dalam istana bersama ketiga yeoja lainnya.
Amarah melonjak-lonjak di hati Hyunmi, namun bukan amarah karena merasa Hyukjae
mengkhianati Ahna lagi, ada sesuatu yang lain, yang mati-matian berusaha Hyunmi
ingkari.
Hyukjae menelan
ludah gugup saat Hyunmi naik ke pegasusnya tanpa bicara sepatah kata
pun. Rasa cemas menyelinap masuk ke dalam hatinya melihat tatapan tajam Hyunmi,
dia cemas yeoja itu salah paham padanya, padahal dia tahu perasaan cemas
seperti itu seharusnya tak ada.
***
Keempat pegasus
itu mengepakkan sayap mereka, terbang tinggi membelah awan gelap Negeri
Shappire Blue dengan pasti. Menuju sebuah tempat bernama bukit suci. Tempat di
mana semua yang ada benar-benar murni, tempat di mana semua keyakinan bisa
menjadi kenyataan, dan tempat di mana, sebuah keajaiban kadang kala tercipta.
8 orang yang
menunggangi pegasus itu terdiam dalam hening, sibuk dalam pikiran
masing-masing yang kian lama kian tak jelas, kian memburam, kian membuat mereka
sibuk melongok ke dalam hati masing-masing untuk mencari tahu kenyataannya.
Namun meskipun
begitu, keempat namja itu sama sekali tetap berpegang teguh pada tujuan
awal mereka. Menyelamatkan Negeri tercinta.
Mereka mungkin
tak pernah tahu apa yang akan menghadang mereka di tengah jalan, namun satu
tekad untuk menyelamatkan Negerinya membuat mereka terus melangkah, tak gentar,
tak peduli pada kematian. Juga susah-payah mencoba tak peduli pada kekalutan di
hati masing-masing, kekalutan yang bukan hanya disebabkan oleh keselamatan
Negeri mereka, tapi juga kekalutan akan kepastian perasaan yang mereka miliki
untuk masing-masing yeoja yang duduk di belakang mereka.
TBC..
cepet ya cepet? iyadoong :P
komen di nanti^^
kece demi Allah maak >//< kereeeenn!!! :'D buruan lanjut. ^o^)/ post juga di wp ih... keyeeen
BalasHapus