So, hampir tiga minggu ya? Mau tamat itu hawanya wegah tau T.T
mana kemarin si bebeh skandal lagi, untung itu skandal ga gede-gede amat. kalo gede nanti dia dikirim wamil, gue menderita. ANDWAE!!!
Eh, oke jangan abaikan yang di atas haha..
Oh, tau ga tau? kemarin aku ke gedeh lhoo
Hallo !! Aku Deput teman Anis! *abaikan*
oh ada tuyul nongol pemirsa, dia ngetik sendiri lho haha
Gamau panjang lebar ah, langsung aja yaa. Maaf beribu maaf kalo mengecewakan, lagi dilema gatau kenapa haha..
mana kemarin si bebeh skandal lagi, untung itu skandal ga gede-gede amat. kalo gede nanti dia dikirim wamil, gue menderita. ANDWAE!!!
Eh, oke jangan abaikan yang di atas haha..
Oh, tau ga tau? kemarin aku ke gedeh lhoo
Hallo !! Aku Deput teman Anis! *abaikan*
oh ada tuyul nongol pemirsa, dia ngetik sendiri lho haha
Gamau panjang lebar ah, langsung aja yaa. Maaf beribu maaf kalo mengecewakan, lagi dilema gatau kenapa haha..
EIGHT
Adakalanya
pilihan mengenai cinta dan pengabdian menguar ke permukaan. Membelit tubuh
dalam ketidakpastian akan apa yang harus mereka pilih. Membuat mereka
terombang-ambing terbawa arus yang bergejolak. Membuat mereka harus berhenti
dan berpikir saat melihat dua jalan di hadapan mereka. Satu lurus, dan yang
satunya lagi berbelok-belok. Mana yang harus mereka pilih ketika dihadapkan
pada jalan itu?
Haruskah
mereka tetap berada di jalan yang lurus demi kebahagiaan semua orang... atau
memilih jalan yang berbelok demi kebahagiaan diri sendiri?
***
R
|
ICUH masih
terdengar di setiap sudut ruangan itu, namun bagi Taeyoung dan Jongwoon, yang
ada hanya kesunyian yang tak berdasar yang menyelimuti mereka. Hanya ada mereka
berdua yang ditelan kelamnya kehidupan hingga ke akar.
Setelah sekian
lama terlarut dalam kesunyian, Taeyoung akhirnya tersadar, yeoja itu
mengerjapkan mata sekali lalu mengulum senyum pahit. Hatinya langsung berdenyut
nyeri saat itu juga, Taeyoung menarik napas panjang dengan senyum pahit yang
senantiasa ia pertahankan.
“Chukkae
Oppa..” serunya dengan nada ceria yang dibuat-buat kepada Jongwoon,
Jongwoon meringis dalam hati saat Taeyoung kembali berucap, “Ah, tapi
sepertinya aku harus kembali ke kamar sekarang. Lelah sekali..” Taeyoung sambil
menarik kursi, membungkuk sesaat sebelum berjalan terhuyung-huyung keluar
seolah jiwanya sedang tak berada di tempat. Senyum yang tadi dikulumnya lenyap
begitu saja.
“YA! Oppa!
Kenapa tidak mengejarnya?” tegur Hyerin keras membuat Jongwoon yang sedang menatap
kepergian Taeyoung hampir saja mencelat dari duduknya.
Jongwoon
memasang wajah datar untuk menutupi emosi yang ada di hatinya sekarang. “Memang
kenapa aku harus mengejarnya?”
Saera memukul
lengan Jongwoon hingga Jongwoon meringis dan memelototinya. “Kau mencintainya,
kan, Oppa? Setidaknya berikan dia penjelasan.”
“Seperti itu
yang kalian pikirkan, eh?” tukas Jongwoon mendengar perkataan Saera, dia lekas
memandang lurus ke arah panggung lagi untuk menghindari tatapan penuh selidik
semuanya. “Bagaimana dengan kalian sendiri? Kalian saling menyukai tapi sama
sekali tak mau bertindak.” imbuhnya dengan suara rendah namun penuh intimidasi.
Setelah mengatakan hal tersebut, Jongwoon lalu berjalan ke luar ruangan.
Hyerin dan
Saera hanya bisa menggigit bibir mendengar balasan dari Jongwoon, mereka sama
sekali tak berani mengangkat wajah untuk menatap wajah Donghae dan Kyuhyun yang
sama-sama mengeras. Menyesal dalam hati mengapa mereka harus mengundang
Jongwoon untuk menanyakan pertanyaan menyakitkan seperti itu.
Beberapa menit
berlalu tetap tanpa satu pun suara dari keempatnya, hingga Hyerin dan Saera
memutuskan untuk keluar tanpa menoleh pada Donghae dan Kyuhyun. Mereka perlu
menata hati juga membenahi perasaan yang mereka miliki. Pertanyaan yang
Jongwoon lemparkan tadi mungkin sederhana, namun pertanyaan itu adalah
pertanyaan yang paling sulit dijawab oleh Saera maupun Hyerin.
Mereka mulai
mempertanyakan kebenaran ucapan Jongwoon. Bertanya-tanya seperti apakah bentuk
hubungan mereka dengan Donghae dan Kyuhyun untuk ke depannya. Dan
bertanya-tanya apakah mereka benar-benar sudah jatuh untuk para Pangeran itu
atau belum.
Mungkin saat
ini, tak ada satupun dari keempat hati itu yang sanggup menjawab. Namun waktu
akan menguak semuanya, bukan?
***
Suara ketukan
pelan yang dilakukan berulang kali di pintu kamarnya membuat Hyukjae terbangun,
namja itu menguap sekali sebelum menyerukan kata “masuk.” tanpa beranjak
sesenti pun dari ranjangnya. Tubuhnya benar-benar masih lemah, lelah serasa
menggerogoti tubuhnya hingga dari kemarin ia bahkan tak kemana-mana. Tapi
setidaknya Hyukjae masih hidup, dan dia sangat bersyukur mengingat kenyataan
itu. Mitos tentang bukit suci memang bukan bualan semata. Asal ada ketulusan
dari semua orang, segala hal bisa terjadi.
Deritan pintu
terdengar pelan, Hyukjae segera menengok ke arah pintu. Senyum lembut terpasang
secara otomatis di bibirnya melihat Hyunmi yang menjenguknya. Yeoja itu
tampak gugup karena tangannya tak berhenti meremas ujung baju. Hyukjae
mendudukkan dirinya dengan sihir, kepalanya bersandar di kepala ranjang dengan
mata yang tak lepas dari wajah Hyunmi. Hyukjae terkekeh dalam hati melihat
bagaimana gugupnya Hyunmi saat ini.
“Hei,” sapa
Hyukjae begitu Hyunmi mendongak, “bagaimana pestanya?” tanya namja itu
kemudian sambil melambaikan tangan, menyuruh Hyunmi untuk duduk di tepi
ranjangnya yang lalu dituruti Hyunmi dengan ragu-ragu.
Hyunmi
menggigit bibir bawahnya, miris melihat Hyukjae masih bisa tersenyum padanya
setelah apa yang dilakukannya, betapa jahatnya ia karena dulu menginginkan
kematian Hyukjae. “Baik, rakyat tampak menikmati pestanya,” jawabnya pelan,
“bagaimana keadaanmu?” tanya Hyunmi kemudian, dia lalu memperbaiki bantal yang
menyangga tubuh Hyukjae agar lebih nyaman.
Senyum Hyukjae
bertambah lebar melihat perhatian Hyunmi, “Besok aku pasti sudah sehat seperti
semula, tak usah terlalu khawatir Mi-ya..” kata Hyukjae lembut, dia
meraih satu tangan Hyunmi dan mengusapnya dengan lembut. “Rasanya senang sekali
melihat kau di sini, khawatir padaku.” Hyunmi menahan napas mendengarnya, “Dan gomawo
sudah memaafkanku.” lanjut Hyukjae.
Ah, Hyukjae
bahkan berterimakasih padanya padahal Hyunmi hampir membuat Hyukjae mati.
Hyunmi mendesah, merasa buruk tiba-tiba. “Kau tak perlu berterimakasih, justru
akulah yang harusnya meminta maaf. Aku benar-benar jahat, ne?” tanya
Hyunmi sambil tertawa miris, menertawakan dirinya sendiri. Sudut matanya mulai
berair.
Tangan Hyukjae
mengusap sudut mata Hyunmi yang berair, “Sstt, kau tidak jahat. Aku juga pasti
melakukannya kalau saudaraku yang mengalaminya.”
“Benarkah?”
tanya Hyunmi dengan mata berbinar.
Hyukjae tertawa
renyah, menikmati ekspresi senang yeoja itu. “Tentu saja tidak.”
Wajah Hyunmi
langsung berubah 180° mendengar jawaban Hyukjae, “YA! Kau membohongiku!” seru
Hyunmi kesal sambil cemberut.
Tawa Hyukjae
mengeras. “Aigo, Mi-ya, aku tidak tahu kalau yeoja
sepertimu bisa merajuk juga!” seru Hyukjae senang, Hyunmi mendelik, membuat
Hyukjae buru-buru menutup mulutnya agar berhenti tertawa. “Geurae, geurae,
aku tidak akan tertawa lagi.” Janji Hyukjae, tersenyum hingga matanya tinggal
segaris lalu menyatukan jemari mereka selagi Hyunmi diam. “Omong-omong, kau
besok ingin kemana?”
Hyunmi
mengamati jemarinya dan jemari Hyukjae yang terlihat sempurna saat bertautan sekilas,
jantungnya mulai berdebar abnormal, membuat Hyunmi harus berdoa dalam hati agar
jantungnya tak meloncat keluar. Otaknya lalu berputar sebentar. “Sebenarnya aku
ingin menemuimu seseorang di Jeju..” bisik Hyunmi dengan raut yang berubah
sedih, Hyukjae menatapnya dalam, meminta penjelasan lebih lanjut. “Eommaku..”
lanjut Hyunmi dengan kepala tertunduk.
Hyukjae
terpekur. Ingatannya berputar ke beberapa tahun yang lalu. Ahna pernah
bercerita bahwa aboejinya mati ditangan saingan bisnis, eommanya lalu
menjadi depresi karena sedih yang berlebihan dan dikirim ke rumah sakit jiwa.
Ahna dan Hyunmi pun terpaksa diamankan ke Paris untuk menghindari serangan
dari pesaing bisnis. Perusahaan diambil
alih oleh Paman mereka sementara hingga Ahna cukup umur─25 tahun. Seharusnya
tahun ini Ahna sudah bisa mengambil alih perusahaan, tapi karena... Hyukjae
menghela napas tanpa sadar. Karena Ahna sudah menyusul sang aboeji,
Hyunmi menjadi satu-satunya pewaris tunggal. Itupun harus menunggu 3 tahun
lagi.
Sesak
menghimpit dada Hyukjae ketika pemikiran bahwa secara tidak langsung dialah
yang sudah membunuh Ahna terlintas.
Yoon Eunjin,
sahabatnya sejak kecillah yang membunuh Ahna. Yeoja yang direncanakan
akan ditunangkan dengan Hyukjae begitu Hyukjae menginjak usia 23 tahun. Namun
sebulan sebelum pertunangan dilaksanakan, Hyukjae bertemu Ahna dan langsung
jatuh cinta.
Hyukjae
mendapatkan yeoja itu setelah selama beberapa minggu mendekatinya. Hyukjae
bahkan langsung menemui Jungsoo untuk membatalkan pertunangannya saat ia dan
Ahna resmi menjadi sepasang kekasih. Jungsoo menyetujuinya─Eunjin saat itu juga
terlihat tidak masalah meskipun dia jelas-jelas menyimpan perasaan pada
Hyukjae.
Hubungan Ahna
dan Hyukjae berjalan baik selama dua tahun. Namun setelah itulah masalah dimulai.
Eunjin mulai menunjukkan tanda-tanda benci pada Ahna. Dia sering memfitnah Anha
yang tidak-tidak hingga keduanya hampir setiap hari bertengkar, beruntung
karena rasa sayang yang begitu besar, keduanya tidak pernah bertengkar lebih
dari sehari. Hingga pada suatu malam─saat Ahna berencana mengenalkan Hyukjae
pada dongsaengnya─Eunjin datang dan membunuh Ahna terlebih dahulu. Jika
ditanya bagaimana perasaan Hyukjae saat itu, Hyukjae sama sekali tak mempunyai
jawaban karena sejujurnya ia ingin sekali menyusul Ahna saat itu juga. Namun
pemikiran mengenai keluarga dan rakyat membuat dia mengenyahkan pemikiran
tersebut.
Hyukjae
mendesah samar begitu ingatannya tertarik kembali ke masa kini, dilihatnya
Hyunmi yang masih menundukkan kepala dengan mata berkaca-kaca, dan Hyukjae
merasa hatinya ikut sakit. “Aku akan menemanimu, tenanglah..” bisiknya lalu
mengangkat dagu Hyunmi hingga mata mereka bertatapan.
Hyunmi
tersenyum, dia memberanikan diri menatap mata Hyukjae lurus-lurus. Hyukjae
terpaku menatap wajah Hyunmi, tersadar bahwa Hyunmi memiliki mata cokelat yang
indah─mirip dengan Ahna. Mereka bertatapan beberapa lama hingga buncahan
perasaan asing meledak-ledak dalam diri masing-masing. Seolah ada magnet di
antara keduanya, mereka perlahan saling mendekat, memupus jarak yang tersisa
sedikit demi sedikit dengan pasti.
“Oppa!
Saatnya makan malam..”
Hyunmi langsung
mendorong tubuh Hyukjae pelan ketika mendengar teriakan melengking itu dari
luar─mengabaikan ringisan sekaligus ekspresi sebal Hyukjae. Dia buru-buru berdiri,
membungkuk pada Jina yang baru saja masuk dengan nampan makanan di tangannya.
Wajah Jina
langsung mengerut melihat Hyunmi, sekilas, karena Jina langsung menyimpan
nampan di nakas dan duduk di tepi ranjang Hyukjae, tersenyum manis sekali.
“Bagaimana keadaan Oppa sekarang?”
Hyukjae
membalas senyum Jina dengan ragu-ragu sambil sesekali melirik Hyunmi. “Mm,
sekarang sudah lebih baik..”
“Cepatlah
sembuh, aku mengkhawatirkanmu..” sahut Jina sambil mengelus pipi Hyukjae penuh
kasih sayang.
Sial!
Emosi macam apa ini?! “Aku pamit sekarang, semoga cepat sembuh Oppa.”
Hyunmi sama
sekali tak memandang ke arah Hyukjae saat dia keluar, matanya terus-terusan
menatap ke bawah hingga ia keluar dari kamar tidur Hyukjae. Hyunmi menyandarkan
punggungnya ke pintu, mengatur emosinya yang tiba-tiba saja seperti akan
meledak-ledak. Perkataan Kibum beberapa jam yang lalu terngiang, membuat emosi
di hati Hyunmi surut sedikit demi sedikit.
“Hyukjae
dijodohkan dengan Jina, Hyunmi-ya. Kau
tahu dia Pangeran, bukan? Pangeran tidak bisa tidak memiliki pedamping, karena
itu walaupun Hyukjae sama sekali tak mencintai Jina, dia harus menerima Jina..”
Perjodohan
bodoh! umpat Hyunmi dalam hati lalu mulai melangkah ke arah kamarnya
dengan kaki dihentak-hentak.
***
Taeyoung
mengulur napas sambil memandangi kolam ikan di depannya dengan pandangan
menerawang. Hatinya menyesak mengingat setiap perkataan Jungsoo tadi. Sekarang,
Taeyoung mulai menyesali kesanggupannya pada Jungsoo kemarin. Mengapa Taeyoung
tak menolak untuk tinggal di sini lebih lama? Apa karena ia ingin bersama
Jongwoon lebih lama juga?
Semenjak
mengenal Jongwoon, hidup Taeyoung berubah 360°. Jongwoon membuat hidupnya
kacau, membuat dia bingung dengan perasaan aneh yang selalu hadir saat dia
bersama Jongwoon, dan Taeyoung membenci fakta bahwa dia sama sekali tak bisa
mengenyahkan perasaan aneh itu walau hanya sedetik. Taeyoung juga membenci
fakta bahwa semakin hari perasaan anehnya itu semakin kuat untuk Jongwoon.
Taeyoung
kembali mengulur napas saat seseorang tiba-tiba saja menepuk bahunya lembut. Yeoja
itu memutar kepala ke belakang, merasakan hatinya untuk kesekian kali berdenyut
nyeri melihat Sooyoung, dia memaksakan diri menarik sudut bibirnya membentuk
lengkungan senyum.
“Eonni
boleh ikut duduk di sini?” tanya Sooyoung.
Pikiran
Taeyoung sibuk dengan berbagai macam pertimbangan sebelum akhirnya mengangguk
singkat sebagai jawaban. Yeoja itu menggeser duduknya ke samping hingga
Sooyoung bisa duduk di sampingnya. Dan yang terjadi selanjutnya hanya diam,
keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing.
“Kenapa Eonni
tidak menghadiri pesta?” tanya Taeyoung memecah suasana canggung di antara
keduanya.
Sooyoung
tersenyum kecil tanpa menoleh ke arah Taeyoung. “Ah, itu karena aku dan yang
lainnya terlalu seru membicarakan masalah pernikahan.” jawabnya dengan nada
ceria, “Kau tahu? Aku sangat senang bisa menjadi pendamping Jongwoon Oppa,
dia orang yang sangat baik...”
Taeyoung
menelan ludah dan bertanya-tanya dalam hati mengapa ludahnya terasa pahit. “Ne,
aku bisa melihatnya.” Jeda sebentar, keduanya sama-sama terdiam, lalu Taeyoung
bertanya dengan nada hati-hati, “Eonni mencintainya?”
Sooyoung tampak
terkesiap pelan mendengar pertanyaan Taeyoung, tapi wajahnya langsung berubah
normal lagi setelah beberapa saat. Seulas senyum tulus terpeta di bibirnya,
Taeyoung entah untuk alasan apa merasa dia sangat membenci senyum tulus
Sooyoung.
“Kami sudah
dijodohkan sejak kecil. Aku hanya punya Jongwoon Oppa dan Jongwoon Oppa
hanya punya aku.” Diam, Sooyoung mengangkat wajah menatap langit, tampak
menerawang. “Mungkin karena sejak kecil hanya mengenal Jongwoon Oppa,
ketika aku beranjak remaja, rasa itu muncul begitu saja.”
Taeyoung tak
menyela, hatinya diam-diam teriris mendengar kata demi kata yang meluncur mulus
dari bibir Sooyoung. Sial! Kenapa dia harus menanyakan pertanyaan bodoh seperti
itu? Dan kenapa dia merasa ingin sekali menangis saat ini juga?
“Mungkin
terdengar konyol, tapi sekarang, aku benar-benar sudah jatuh terlalu dalam
untuk Jongwoon Oppa.” Suara Sooyoung terdengar kembali, Taeyoung
mencengkeram kaus yang dipakainya erat. Lalu terdengar kekehan dari Sooyoung
sebelum dia melanjutkan, “Aku... mungkin tidak dapat hidup tanpa Jongwoon Oppa.”
Sooyoung, jelas
sangat mencintai Jongwoon. Taeyoung hampir berpikir bahwa jantungnya berhenti
berdetak untuk beberapa detik mendengar perkataan Sooyoung.
“Bagaimana
kalau Jongwoon Oppa tidak mencintai Eonni?” tanya Taeyoung
kemudian dengan nada sarkatis, ada perasaan asing meluap-luap yang membuatnya
berani menanyakan hal tersebut.
Sooyoung
menatap Taeyoung tajam selama beberapa detik sebelum tersenyum lembut─terlihat
seperti dibuat-buat dalam pandangan Taeyoung, “Aku tidak akan melepaskan
Jongwoon Oppa meski pun begitu,” serunya yakin, “lagipula, Taeyoung-ah,
cinta itu bisa tumbuh seiring berjalannya waktu.”
Ekspresi
Taeyoung mengeras, namun ia memilih tak berkomentar apapun. Sooyoung juga
tampaknya tak mau susah-susah memulai pembicaraan lagi dengan Taeyoung karena
ia juga bungkam. Sejak pertama kali Sooyoung melihat Taeyoung, dia memang sudah
merasa yeoja ini akan jadi orang yang berbahaya dalam hubungannya.
“Sooyoung-ah,
sedang apa kau di sini?”
Baik Sooyoung
maupun Taeyoung sama-sama tersentak mendengar pertanyaan entah-dari-siapa itu
dari belakang mereka. Keduanya serentak memutar kepala ke belakang dan
menemukan Jongwoon di sana, sedang menatap mereka heran dengan sebelah alis
terangkat.
Sooyoung
cepat-cepat berdiri dan tersenyum pada Jongwoon, dia memeluk Jongwoon sekilas
dan berkata, “Aku hanya berbincang-bincang dengan salah satu pahlawan kita Oppa,”
serunya lalu melirik Taeyoung sekejap, tersenyum puas melihat Taeyoung tampak
memalingkan wajahnya. “Tapi kami sudah selesai. Aku kembali ke kamar, ne,
Oppa? Sampai bertemu di altar.” lanjut Sooyoung kemudian ceria, setelah
mengecup bibir Jongwoon sekilas yeoja itu berlalu dengan senyum penuh
kemenangan terulas di wajah cantiknya.
Jongwoon
mengusap bibirnya sambil menatapi kepergian Sooyoung lalu mendesah samar. Dia
mendudukkan diri di samping Taeyoung, dengusan keluar dari bibirnya saat
Taeyoung malah berdiri seolah akan pergi. Jongwoon cepat-cepat menarik tangan
Taeyoung untuk duduk di sampingnya kembali.
“Hei, ada apa
denganmu, Yongie?” tanya Jongwoon bingung sembari menatapi wajah Taeyoung dengan
lekat-lekat, tak melewatkan satu detik pun waktu yang dimilikinya demi
menikmati lekukan wajah Taeyoung yang terlihat manis di matanya.
“Tidak
apa-apa,” sahut Taeyoung dengan nada malas.
Jongwoon
menghela napas, tahu bahwa Taeyoung sedang tidak baik-baik saja. “Kemarilah,”
bisik Jongwoon dengan suara pelan.
Taeyoung
menatapnya dengan pandangan setengah bingung setengah kesal, “Apa?”
“Cuaca dingin,
kau bisa sakit, Youngie.” kata Jongwoon tanpa menjawab pertanyaan Taeyoung
sembari menyampirkan jubahnya di pundak yeoja itu. Tak lama, Jongwoon
lalu melingkarkan tangannya di pundak Taeyoung dan menarik yeoja itu
lebih dekat padanya. “Kau itu terkadang babo, memakai kaus di cuaca
sedingin ini.” omel Jongwoon kemudian sambil menyandarkan kepala Taeyoung di pundaknya.
Kekesalan dan
api di hati Taeyoung menguap seketika, sikap Jongwoon terlalu manis untuk ia
hadapi dengan rengutan. Dan lagi-lagi ia harus membenci dirinya yang tidak bisa
mengabaikan Jongwoon begitu saja.
“Aku tidak babo,”
rajuk Taeyoung, tersenyum kecil merasakan kehangatan yang diberikan Jongwoon.
Rasanya sangat nyaman kalau ia boleh jujur.
“Geurae,
geurae. Kau tidak babo, hanya sedikit kurang pintar.” ledek Jongwoon
kemudian.
“YA!” pekik
Taeyoung tak terima.
Jongwoon
tertawa renyah, mengusap-ngusap rambut Taeyoung dengan lembut. “Aku hanya
bercanda Youngie,” katanya beralasan. Taeyoung tersenyum kecil.
Beberapa saat
kemudian, Jongwoon mulai menyenandungkan beberapa lagu. Suaranya terdengar
lembut dan merdu. Senyum di bibir Taeyoung makin melebar saat ketenangan mulai
merambati hatinya sedikit demi sedikit. Taeyoung lalu merasakan kantuk yang
hebat menderanya, dan beberapa saat kemudian, dia sudah terbuai ke alam mimpi.
Menyadari
uluran napas teratur seseorang di dekat bahunya, Jongwoon menengok ke arah
bahunya, senyum hangat menghiasi bibirnya seketika. Namja itu menarikan
jemarinya menelusuri semua lekuk wajah Taeyoung dengan hati-hati seolah
Taeyoung adalah patung porselen yang mudah pecah.
“Aku sudah lama
berada di jalan yang lurus, dan sekarang kau tiba-tiba saja masuk, menciptakan
jalan berbelok yang terlihat indah. Kau tahu? Aku bingung harus memilih jalan
yang mana, tapi tanggung jawab menahanku untuk tetap berada di jalan yang
lurus..” Jongwoon bermonolog, ekspresi dan nadanya menyendu.
“Young, mianhae,
saranghae..” bisik Jongwoon lirih sebelum mendekatkan wajahnya dan mencium
bibir Taeyoung lembut.
Seolah
mendengar apa yang Jongwoon katakan, Taeyoung menitikkan air mata dalam
tidurnya.
***
Suara ketukan
sepatu yang beradu dengan lantai menjadi satu-satunya backsound utama di
lorong itu. Sang pemilik sepatu tampak berjalan tanpa semangat ke arah kamar
tamu di ujung lorong bagian Timur Istana. Wajahnya tampak resah, seperti ada
beban berat tak kasat mata yang bertumpuk di bahunya.
Saat dia baru
saja akan berbelok di lorong terakhir menuju kamarnya, matanya tanpa sengaja
melihat ke arah langit. Dan yeoja itu tiba-tiba saja mengurungkan
niatnya untuk masuk ke dalam kamar melihat bulan dan bintang yang bersinar
cerah.
Yeoja itu
menipiskan bibirnya lantas berjalan menuju pembatas, dia menumpukkan sikunya di
pagar pembatas itu, matanya menatap ke langit namun otaknya tengah berkelana ke
dunia lain.
Yeoja itu
terenyak pelan saat seseorang tiba-tiba saja menutup kedua matanya dari
belakang, namun dia langsung tertawa kecil ketika tahu siapa yang tengah
menutup matanya.
“Aku tahu ini
kau, Donghae Oppa..” ujarnya yang mendapat decakan heran dari Donghae.
Donghae lekas
melepaskan kedua tangannya yang menutupi mata Hyerin dan ikut menumpukkan siku
di pembatas. “Kenapa kau tahu aku yang menutup matamu?”
Hyerin kembali
tertawa kecil, “Aku hapal baumu, Oppa.” jawabnya yang membuat mata
Donghae berbinar, “Bau ikan!” imbuh Hyerin lantas tergelak melihat ekspresi
Donghae yang langsung berubah seketika.
Donghae menatap
Hyerin jengkel sementara Hyerin malah menjulurkan lidahnya ke arah Donghae
dengan tawa yang tetap mengalun. “Aish, Hyerin-ah, berhentilah tertawa!”
seru Donghae sebal.
Hyerin menutup
mulutnya mencoba menahan tawa, “Oppa, wajahmu tadi lucu sekali!” kata
Hyerin setelah berhasil mengendalikan tawanya.
Donghae memutar
bola mata kesal sekali lalu menatap lurus pada taman bunga di bawah sana.
Hyerin memandang wajah Donghae selama beberapa saat kemudian ikut mengikuti
arah pandangan Donghae.
“Itu, taman
yang dibangun Eomma sebelum dia pergi.” cerita Donghae setelah lama
terdiam, dia memejamkan mata berusaha mengorek kenangan yang sudah lama
terkubur. Bayangan wajah cantik seorang yeoja paruh baya tergambar.
“Dia pasti
wanita yang cantik.” sahut Hyerin, tersenyum kecil membayangkan bagaimana wajah
asli eomma Donghae.
Donghae menoleh
ke arah Hyerin, menatap yeoja itu intens selama beberapa detik kemudian
tertawa. “Tentu saja dia cantik, kalau tidak, mana mau Aboeji menikah
dengannya.”
Jeda sebentar,
Donghae dan Hyerin sama-sama terdiam menikmati kesunyian yang mereka ciptakan.
Karena bagi mereka, berdiri bersisian tanpa sepatah kata pun terasa nyaman.
Mereka menikmati angin malam yang bertiup lembut, menikmati instrumen alam yang
diciptakan binatang-binatang malam.
Hyerin menghela
napas, melirik Donghae sekilas, “Oppa, sepertinya aku perlu tidur
sekarang.”
Saat akan
melangkah, Hyerin langsung membeku begitu Donghae memeluknya dari belakang.
Hyerin menggigit bibir, merasakan tubuhnya merinding saat embusan napas Donghae
menggelitik lehernya. Dan jika ditanya bagaimana keadaan jantung Hyerin
sekarang, jawabannya, organ dalam itu tidak sedang baik-baik saja.
“Oppa,
apa yang kaulakukan?” bisik Hyerin lirih, kesadaran bahwa Donghae mempunyai yeoja
lain di sini menamparnya berulang-ulang. Perih merayap begitu saja.
Pertanyaan
Hyerin tak langsung Donghae jawab, namja itu malah memejamkan mata, dan wajah
Yoona seketika itu juga terputar di kepalanya, namun saat ini, Donghae memang
hanya menginginkan Hyerin. “Sebentar saja..”
Kenapa
kau membuat ini semakin sulit, Oppa?
Hyerin bertanya dalam hati, merasa Donghae seakan mempermainkan hatinya. Hyerin
memejamkan mata, merasakan dilema hebat tiba-tiba saja menyergapnya dari
berbagai sisi.
Keduanya diam
menikmati detik demi detik yang berlalu dengan mata terpejam, meresapi
ketenangan yang mengalir melewati darah mereka ke seluruh tubuh hanya karena
pelukan ringan ini.
Sret.. Plak!
“Aw!” Hyerin
mengaduh ketika tubuhnya tiba-tiba saja ditarik secara paksa dari tubuh
Donghae, lengkap dengan tamparan manis yang dihadiahkan orang yang menariknya.
Lengan Hyerin secara refleks memegang pipinya yang terasa perih. Matanya
menatap hampa pada orang itu, tersisip rasa bersalah sekaligus luka yang dalam.
Amarah Donghae
langsung meledak melihat Hyerin mundur beberapa langkah dengan tangan memegang
pipi. Donghae mencengkeram tangan Yoona kasar, matanya menatap tajam yeoja
itu seolah tatapannya bisa memotong tubuh Yoona menjadi bagian kecil-kecil.
“Apa yang
kaupikir kau lakukan, Im Yoon Ah?!” tanya Donghae dengan suara rendah yang
menusuk.
Yoona tak
gentar sedikit pun, dia balas menatap Donghae tajam sebelum tatapannya beralih
pada Hyerin, menatapnya merendahkan seolah Hyerin adalah hewan paling
menjijikkan yang pernah dia temui. “Apa aku salah karena menampar seorang yeoja
yang ingin merebut kekasihku, Oppa?” tanyanya pedas dengan mata tak
lepas dari wajah Hyerin.
Hyerin menunduk
sambil memegang pipinya, semakin tak berani mendongak karena tatapan tajam
Yoona. Lubang di hatinya menganga semakin lebar, perih merambat dengan cepat
hingga berujung dengan matanya yang terasa berair.
“Jaga bicaramu,
Yoona! Sejak kapan kau mempunyai attitude buruk seperti ini?” tukas
Donghae tajam sambil menggeram, amarah masih meledak-ledak di dadanya.
Mata Yoona kini
beralih menatap Donghae, ada gurat sakit dan cemburu yang jelas sekali
tergambar di bola matanya saat menantang Donghae bertatapan. “Kau tidak sadar
aku bersikap begini karena siapa, Oppa? Aku─”
“Yoona-ssi,
tolong jangan marah pada Donghae Oppa..” Hyerin menyela pembicaraan
Yoona setelah menghapus air matanya yang jatuh, dia memandang lurus pada Yoona
yang seperti sangat ingin membunuhnya. “Ini murni salahku, aku benar-benar
minta maaf. Mianhae, jeongmal mianhaeyo..” sambung Hyerin sambil
membungkuk berulang-ulang sebelum membalikkan badan. Setetes air mata kembali
lolos dari pelupuk matanya yang disusul tetesan lain, Hyerin memejamkan mata
sekejap, sama sekali tak berniat menghapus air matanya. Lantas tak berapa lama,
Hyerin menuju kamarnya dengan setengah berlari sambil membawa semua luka di
hatinya.
“Hyerin-ah!”
panggil Donghae setelah sadar dari lamunannya begitu mendengar perkataan
Hyerin, kaki Donghae baru saja akan bergerak mengejar Hyerin saat Yoona
mencekal tangannya. “Lepaskan aku!” desis Donghae sambil menyentak tangan Yoona
kasar dan melanjutkkan keinginannya yang sempat tertunda tadi.
Yoona menatap
tubuh Donghae yang semakin menjauh dengan pandangan nanar, “Kalau Oppa
mengejarnya…” kata Yoona dengan suara pelan namun masih bisa terdengar oleh
Donghae, dan Donghae langsung berhenti berlari mendengar suara Yoona. Namun ia
sama sekali tak memiliki keinginan untuk membalikkan badan dan menatap Yoona.
Yoona menghela napas panjang dengan mata berkaca-kaca, “…hubungan kita berakhir
sampai di sini..”
Donghae
mengepalkan tangan, resah menyerangnya.
Yoona, yeoja yang sangat baik dibanding mantan kekasihnya yang lain, dan
yang paling penting adalah, aboeji juga sangat menyukai yeoja itu
untuk menjadi pendamping Donghae. Namun Hyerin… yeoja itu bisa
mengalihkan dunianya walaupun mereka baru beberapa hari bertemu, Hyerin bisa
membuat Donghae merasakan perasaan ingin melindungi dan setia, yeoja
itu…
Dan Donghae
memutuskan untuk berlari, membiarkan Yoona yang langsung terduduk di lantai
dengan isak tangis pilu yang lolos dengan mudah lewat bibirnya.
***
Saera menggigit
bibir melihat adegan yang baru saja dilakoni Hyerin, Donghae, dan Yoona terjadi
di depan matanya. Dia menyandarkan punggungnya di tiang besar yang sedari tadi
digunakannya untuk mengintip dengan perasaan tak keruan. Yeoja itu
membeku di tempatnya, tak menyangka semua akan berakhir seperti ini. Saera
mengerti perasaan Hyerin sekarang, eonninya itu pasti sedang merasa
hancur. Saera ingin sekali menyusul Hyerin, memeluk dan menenangkannya, namun
ia tahu Hyerin saat ini butuh waktu sendiri─bahkan Hyerin pasti akan mengunci
diri di kamar dan menolak Donghae yang mengejarnya.
“Berhenti
mengintip, ayo pergi..”
Saera menatap
kosong pada Kyuhyun yang tiba-tiba saja datang dan mengulurkan tangan padanya.
Dia menatap uluran tangan Kyuhyun tanpa respons yang berarti membuat Kyuhyun
berdecak dan menggenggam tangan Saera secara paksa, tak peduli dengan penolakan
yang mungkin akan didapatkannya nanti.
Di luar dugaan,
Saera sama sekali tak menepis tangan Kyuhyun, dia membiarkan dirinya ditarik
oleh namja itu menjauhi bangunan khusus tamu. Setelah lama terpekur
akibat kejadian yang baru saja dilihatnya, Saera akhirnya mengembuskan napas
panjang dan bergumam, “Apa mereka akan baik-baik saja?”
“Tentu saja,
Hae sangat berpengalaman dalam urusan wanita. Dia pasti bisa mengurus
semuanya..” sahut Kyuhyun santai.
Saera
terkesiap, seakan-akan dia baru saja menyadari keberadaan Kyuhyun. Yeoja
itu mendelik, “Ya! Apa maksudmu dengan berpengalaman?”
Kyuhyun
tersenyum tipis saat Saera akhirnya terbangun dari dunianya sendiri. “Kau tidak
tahu kalau Hae itu playboy?” Saera membelalakkan mata, dan dia baru saja
akan menyahut saat Kyuhyun menyela dengan yakin, “Tapi tenang saja, aku rasa
sifat Donghae akan berubah jika dia bersama Hyerin. Berhentilah memikirkan
masalah orang lain.”
Saera tak
menyahut, hanya bisa berharap memang kenyataannya akan seperti itu. Lagipula,
sepanjang pengamatannya, Donghae memang sudah terlanjur jatuh cinta pada
Hyerin. Hubungan mereka sebentar lagi pasti akan baik-baik saja, tidak
seperti... Saera melirik Kyuhyun, namun langsung menggelengkan kepalanya. Apa
yang baru saja dipikirkannya? Saera mendesah samar, sepertinya dia memang harus
berhenti memikirkan masalah orang lain atau pikirannya akan semakin kacau.
“Lalu kau akan
membawaku kemana, Oppa?” tanya Saera kemudian saat melihat ke sekitar
yang ternyata sudah memasuki wilayah taman Istana. Kyuhyun mengedik tak acuh
membuat Saera mendengus.
Saera mengikuti
kemana Kyuhyun membawa tubuhnya dengan pikiran yang setengah melayang, namun
remasan tangan Kyuhyun pada genggaman tangan mereka berhasil menyentak Saera ke
dunia nyata. Yeoja itu terkesiap selama beberapa detik, lantas menatap
Kyuhyun dengan pandangan bertanya.
“Berhentilah
melamun..” peringat Kyuhyun, walau tidak begitu yakin, Saera melihat gurat
kecemasan di wajah tampan namja itu, dan itu membuatnya tersenyum dalam
hati.
“Aku tidak
melamun Oppa..” elak Saera, memilih melempar pandangan ke arah kakinya.
Kyuhyun
diam-diam tersenyum tipis melihat tingkah Saera, melirik sekilas pada tangannya
dan tangan Saera yang saling menggenggam. Kyuhyun merasa lengkap, dan hanya
saat Saera berada di sisinyalah dia merasakan hal seperti ini.
Saera menatap
lurus-lurus saat mereka sudah berhenti berjalan. Dia langsung terpana melihat
pemandangan yang tersaji di depannya. Hamparan danau yang luas, dihiasi lilin
di atas daun teratai yang menyala terang, membuat danau terlihat berkilau
karena cahayanya. Indah, sangat indah. Bahkan untuk beberapa saat, Saera hampir
lupa bagaimana caranya berkedip.
“Indah..” bisik
Saera pada udara, Kyuhyun yang mendengarnya tertawa kecil membuat Saera segera
menatapnya dengan tatapan tak percaya. “Kau yang menyiapkan ini?”
Kyuhyun
mengangkat tangannya dan mengelus pipi Saera dengan lembut, tak urung membuat
Saera tersenyum lembut merasakan jutaan kupu-kupu beterbangan di perutnya. “Kau
tidak percaya, hm?” Saera menggeleng pelan, menggenggam tangan Kyuhyun yang
masih mengelus pipinya dengan lembut. Keduanya saling menatap dalam, seolah
sedang menyelami hati masing-masing lewat tatapan mata.
“YA! PARK
KYUHYUN!”
Kyuhyun
mengerang dalam hati mendengar suara yang sudah bisa ia pastikan milik siapa,
sementara Saera merasa kesal tiba-tiba saja mengepungnya. Bagaimana bisa dia
lupa bahwa Park Kyuhyun memiliki kekasih? Saera menurunkan tangannya, luka
bertubi-tubi datang seketika.
“Waeyo?”
tanya Kyuhyun tak berminat begitu Victoria sudah berada di hadapannya dengan
wajah marah, mata yeoja itu berkilat-kilat penuh emosi.
Victoria
menampar Kyuhyun yang hanya bisa mengatupkan rahangnya rapat-rapat agar tidak
melukai yeoja itu, Saera bergeming di tempatnya─tahu bahwa ia memang
tidak seharusnya terlibat dalam pertengkaran sepasang kekasih di hadapannya.
“Bagaimana kau
bisa memutuskanku secara sepihak?” tanya Victoria penuh emosi.
Kyuhyun
mendengus, mendorong bahu Victoria hingga yeoja itu mundur beberapa
langkah. “Dari awal aku tidak pernah mencintaimu, Vic. Kau yang memaksaku, jadi
jangan salahkan aku jika saat ini tiba. Aku sudah benar-benar muak denganmu!”
Mata Victoria
tampak berkilat keunguan, tangannya pelan-pelan dirambati aliran api berwarna
biru. Victoria mengalihkan tatapannya dari Kyuhyun pada Saera, membuat Saera
terenyak. “Kau!” pekik Victoria sambil berjalan ke arah Saera dan mengacungkan
bola api padanya, “Aku tidak akan memaafkanmu!”
“Berani kau
menyentuhnya seujung jari pun, aku akan membuatmu menyusul iblis itu di
neraka.” desis Kyuhyun tajam sambil mencengkeram kedua tangan Victoria yang
masih mengeluarkan api dengan keras, yeoja itu meringis kesakitan hingga
api di tangannya perlahan padam. “Pergi sekarang Vic, atau aku kehilangan
kendali.”
Air mata
mengaliri pipi Victoria tanpa bisa ia cegah, yeoja itu sempat
melemparkan tatapan benci pada Saera sebelum ia pergi dari danau itu dengan
berlari. Kyuhyun mendesah, setelah bayangan Victoria benar-benar tak terlihat, namja
itu memutar tubuh dan mendapati Saera yang menatapnya kosong, tubuhnya diam tak
bergerak sama sekali. Kyuhyun berjalan ke arah Saera, mendekap yeoja itu
dalam sekali gerakan.
Saera tersadar
dari alam bawah sadarnya begitu merasakan pelukan Kyuhyun yang hangat, yeoja
itu balas memeluk Kyuhyun sambil membenamkan wajahnya di dada Kyuhyun guna
mendapatkan ketenangan yang biasa. Dia sangat takut dengan sikap Victoria tadi,
kalau saja tak ada Kyuhyun, Saera sangat yakin kalau saat ini dia pasti sudah
tak berada di dunia. “Kenapa kau berpisah dengannya?” tanya Saera lirih.
Kyuhyun
melepaskan pelukan mereka, memegang kedua pipi Saera hingga mata mereka
bertatapan. Tanpa menjawab, dia mendekatkan wajahnya pada Saera dan mencium
bibir Saera dengan lembut. Saera awalnya terkejut, namun tak berapa lama
kemudian dia melingkarkan tangannya di leher Kyuhyun dan membalas ciuman namja
itu dengan tak kalah lembut.
Keduanya
melepaskan pagutan bibir mereka beberapa detik kemudian, Kyuhyun mengusap bibir
Saera sambil tersenyum, sementara Saera menatapnya penuh tanda tanya.
“Mendongaklah..”
Saera menutup
mulut tak percaya saat melihat ratusan kunang-kunang di atas langit sana,
berbaris rapi membentuk rangkaian kata yang berbunyi. “Nan neomu saranghae
Han Saera. Would you want be my girl?”
***
Next
day..
Saera tak bisa
menyembunyikan senyum di wajahnya saat dia dan Kyuhyun masuk ke ruang makan
dengan berpegangan tangan, yeoja itu melirik ke sekitar dan menemukan Eonnideul
serta 3 Pangeran lainnya sedang menikmati makanan mereka dalam diam. Senyum di
wajah Saera menipis dengan sendirinya, dia menghela napas.
“Mereka
terlihat canggung pagi ini..” komentar Kyuhyun sambil membawa Saera untuk duduk
di sampingnya. Namja itu menarik kursi untuk Saera duduki, dan hal itu
sontak membuat wajah Saera merona sementara yang lain menatap mereka tak
percaya. “Wae?” tanya Kyuhyun polos begitu ia duduk di kursinya dan
menyadari tatapan orang-orang masih pada mereka.
“Sejak kapan
kau bersama Saera?” tanya Hyukjae tanpa basa-basi.
Kyuhyun
tersenyum─menyeringai tepatnya, “Semalam. Aku tidak lambat seperti kalian, asal
kalian tahu.” jawabnya yang mendapat rengutan dari semua orang.
“Jangan
menggoda mereka, Oppa!” seru Saera jengah.
Kyuhyun
terkekeh, mengusap rambut panjang Saera sekilas. “Arraseo, cepat makan.
Hari ini kita akan menemui Sungmin, bukan?”
Mata Saera
langsung berbinar mendengar nama Sungmin, akhirnya, setelah sekian lama dia
bisa melihat Sungmin membuka mata kembali.
“Jadi, kalian
akan pergi ke dunia manusia?” Jongwoon membuka suara, pertanyaannya bukan hanya
dimaksudkan untuk satu orang, tapi semua orang.
“Ye, aku
dan Hyunmi akan pergi ke Seoul untuk menjenguk Eomma Hyunmi..” sahut
Hyukjae yang ditanggapi anggukan Hyunmi. “Bagaimana dengan Hyung dan kau, Hae?”
Donghae
menyimpan sendoknya di sebelah piring, menatap Hyerin yang menunduk sekilas
kemudian menghela napas. Malam kemarin ia sama sekali tak bisa menemui Hyerin, yeoja
itu mengurung dirinya di kamar sementara Donghae tak bisa menggunakan
telepatinya untuk masuk ke kamar Hyerin─setiap kamar di Istana diberi sihir
pelindung. “Entalah,” jawab Donghae sambil mengedik, lalu menatap pada Hyerin.
“Bagaimana menurutmu, Hyerin-ah?”
Hyerin
mencengkeram sendok di tangannya lebih kuat, “Aku ingin menemui Hyosun.”
“Itu artinya
kami juga akan berangkat.”
Jongwoon
menghela napas, “Sebenarnya ada beberapa hal yang perlu diselesaikan untuk
urusan pernikahanku..” Semuanya langsung menatap Taeyoung, merutuki Jongwoon
dalam hati yang telah mengungkit-ungkit masalah pernikahan. “Tapi Taeyoung
kemarin mengatakan ia ingin pulang, jadi... seperti kami juga pergi.”
“Tidak usah.”
sela Taeyoung lirih, “Kalau Oppa memang ingin mengurusi masalah
pernikahan besok, kita tidak perlu kemana-mana..”
“Youngie, kau
ingin ikut denganku?” tanya Hyerin, sedikit berharap dia tak akan berdua saja
dengan Donghae.
“Kami akan
tetap berangkat Hyerin-ah,” kata Jongwoon final. Ini hari terakhirnya
sebelum ia terikat dengan Sooyoung, setidaknya Jongwoon ingin menghabiskan hari
ini dengan Taeyoung.
Taeyoung
mengatupkan mulut, tak menerima maupun menyanggah. Sementara yang lain hanya
diam menikmati makanan mereka. Suasana sarapan itu berjalan sangat canggung,
bahkan bagi Kyuhyun dan Saera yang jelas-jelas tak mempunyai masalah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar