Entri yang Diunggulkan

Series Recommendations! đŸŽ„

Hi, happy Wednesday all! So decided to post my own personal series. I usually dont like watching movie, so because i watched those series ...

Sabtu, 17 November 2012

Brotherhood, Magic, and.. Love (Eight)

So, hampir tiga minggu ya? Mau tamat itu hawanya wegah tau T.T
mana kemarin si bebeh skandal lagi, untung itu skandal ga gede-gede amat. kalo gede nanti dia dikirim wamil, gue menderita. ANDWAE!!!
Eh, oke jangan abaikan yang di atas haha..
Oh, tau ga tau? kemarin aku ke gedeh lhoo
Hallo !! Aku Deput teman Anis! *abaikan*
oh ada tuyul nongol pemirsa, dia ngetik sendiri lho haha
Gamau panjang lebar ah, langsung aja yaa. Maaf beribu maaf kalo mengecewakan, lagi dilema gatau kenapa haha..


EIGHT

Adakalanya pilihan mengenai cinta dan pengabdian menguar ke permukaan. Membelit tubuh dalam ketidakpastian akan apa yang harus mereka pilih. Membuat mereka terombang-ambing terbawa arus yang bergejolak. Membuat mereka harus berhenti dan berpikir saat melihat dua jalan di hadapan mereka. Satu lurus, dan yang satunya lagi berbelok-belok. Mana yang harus mereka pilih ketika dihadapkan pada jalan itu?

Haruskah mereka tetap berada di jalan yang lurus demi kebahagiaan semua orang... atau memilih jalan yang berbelok demi kebahagiaan diri sendiri?

***
R

ICUH masih terdengar di setiap sudut ruangan itu, namun bagi Taeyoung dan Jongwoon, yang ada hanya kesunyian yang tak berdasar yang menyelimuti mereka. Hanya ada mereka berdua yang ditelan kelamnya kehidupan hingga ke akar.

Setelah sekian lama terlarut dalam kesunyian, Taeyoung akhirnya tersadar, yeoja itu mengerjapkan mata sekali lalu mengulum senyum pahit. Hatinya langsung berdenyut nyeri saat itu juga, Taeyoung menarik napas panjang dengan senyum pahit yang senantiasa ia pertahankan.

Chukkae Oppa..” serunya dengan nada ceria yang dibuat-buat kepada Jongwoon, Jongwoon meringis dalam hati saat Taeyoung kembali berucap, “Ah, tapi sepertinya aku harus kembali ke kamar sekarang. Lelah sekali..” Taeyoung sambil menarik kursi, membungkuk sesaat sebelum berjalan terhuyung-huyung keluar seolah jiwanya sedang tak berada di tempat. Senyum yang tadi dikulumnya lenyap begitu saja.

“YA! Oppa! Kenapa tidak mengejarnya?” tegur Hyerin keras membuat Jongwoon yang sedang menatap kepergian Taeyoung hampir saja mencelat dari duduknya.

Jongwoon memasang wajah datar untuk menutupi emosi yang ada di hatinya sekarang. “Memang kenapa aku harus mengejarnya?”

Saera memukul lengan Jongwoon hingga Jongwoon meringis dan memelototinya. “Kau mencintainya, kan, Oppa? Setidaknya berikan dia penjelasan.”

“Seperti itu yang kalian pikirkan, eh?” tukas Jongwoon mendengar perkataan Saera, dia lekas memandang lurus ke arah panggung lagi untuk menghindari tatapan penuh selidik semuanya. “Bagaimana dengan kalian sendiri? Kalian saling menyukai tapi sama sekali tak mau bertindak.” imbuhnya dengan suara rendah namun penuh intimidasi. Setelah mengatakan hal tersebut, Jongwoon lalu berjalan ke luar ruangan.

Hyerin dan Saera hanya bisa menggigit bibir mendengar balasan dari Jongwoon, mereka sama sekali tak berani mengangkat wajah untuk menatap wajah Donghae dan Kyuhyun yang sama-sama mengeras. Menyesal dalam hati mengapa mereka harus mengundang Jongwoon untuk menanyakan pertanyaan menyakitkan seperti itu.

Beberapa menit berlalu tetap tanpa satu pun suara dari keempatnya, hingga Hyerin dan Saera memutuskan untuk keluar tanpa menoleh pada Donghae dan Kyuhyun. Mereka perlu menata hati juga membenahi perasaan yang mereka miliki. Pertanyaan yang Jongwoon lemparkan tadi mungkin sederhana, namun pertanyaan itu adalah pertanyaan yang paling sulit dijawab oleh Saera maupun Hyerin.

Mereka mulai mempertanyakan kebenaran ucapan Jongwoon. Bertanya-tanya seperti apakah bentuk hubungan mereka dengan Donghae dan Kyuhyun untuk ke depannya. Dan bertanya-tanya apakah mereka benar-benar sudah jatuh untuk para Pangeran itu atau belum.

Mungkin saat ini, tak ada satupun dari keempat hati itu yang sanggup menjawab. Namun waktu akan menguak semuanya, bukan?

***

Suara ketukan pelan yang dilakukan berulang kali di pintu kamarnya membuat Hyukjae terbangun, namja itu menguap sekali sebelum menyerukan kata “masuk.” tanpa beranjak sesenti pun dari ranjangnya. Tubuhnya benar-benar masih lemah, lelah serasa menggerogoti tubuhnya hingga dari kemarin ia bahkan tak kemana-mana. Tapi setidaknya Hyukjae masih hidup, dan dia sangat bersyukur mengingat kenyataan itu. Mitos tentang bukit suci memang bukan bualan semata. Asal ada ketulusan dari semua orang, segala hal bisa terjadi.

Deritan pintu terdengar pelan, Hyukjae segera menengok ke arah pintu. Senyum lembut terpasang secara otomatis di bibirnya melihat Hyunmi yang menjenguknya. Yeoja itu tampak gugup karena tangannya tak berhenti meremas ujung baju. Hyukjae mendudukkan dirinya dengan sihir, kepalanya bersandar di kepala ranjang dengan mata yang tak lepas dari wajah Hyunmi. Hyukjae terkekeh dalam hati melihat bagaimana gugupnya Hyunmi saat ini.

“Hei,” sapa Hyukjae begitu Hyunmi mendongak, “bagaimana pestanya?” tanya namja itu kemudian sambil melambaikan tangan, menyuruh Hyunmi untuk duduk di tepi ranjangnya yang lalu dituruti Hyunmi dengan ragu-ragu.

Hyunmi menggigit bibir bawahnya, miris melihat Hyukjae masih bisa tersenyum padanya setelah apa yang dilakukannya, betapa jahatnya ia karena dulu menginginkan kematian Hyukjae. “Baik, rakyat tampak menikmati pestanya,” jawabnya pelan, “bagaimana keadaanmu?” tanya Hyunmi kemudian, dia lalu memperbaiki bantal yang menyangga tubuh Hyukjae agar lebih nyaman.

Senyum Hyukjae bertambah lebar melihat perhatian Hyunmi, “Besok aku pasti sudah sehat seperti semula, tak usah terlalu khawatir Mi-ya..” kata Hyukjae lembut, dia meraih satu tangan Hyunmi dan mengusapnya dengan lembut. “Rasanya senang sekali melihat kau di sini, khawatir padaku.” Hyunmi menahan napas mendengarnya, “Dan gomawo sudah memaafkanku.” lanjut Hyukjae.

Ah, Hyukjae bahkan berterimakasih padanya padahal Hyunmi hampir membuat Hyukjae mati. Hyunmi mendesah, merasa buruk tiba-tiba. “Kau tak perlu berterimakasih, justru akulah yang harusnya meminta maaf. Aku benar-benar jahat, ne?” tanya Hyunmi sambil tertawa miris, menertawakan dirinya sendiri. Sudut matanya mulai berair.

Tangan Hyukjae mengusap sudut mata Hyunmi yang berair, “Sstt, kau tidak jahat. Aku juga pasti melakukannya kalau saudaraku yang mengalaminya.”

“Benarkah?” tanya Hyunmi dengan mata berbinar.

Hyukjae tertawa renyah, menikmati ekspresi senang yeoja itu. “Tentu saja tidak.”

Wajah Hyunmi langsung berubah 180° mendengar jawaban Hyukjae, “YA! Kau membohongiku!” seru Hyunmi kesal sambil cemberut.

Tawa Hyukjae mengeras. “Aigo, Mi-ya, aku tidak tahu kalau yeoja sepertimu bisa merajuk juga!” seru Hyukjae senang, Hyunmi mendelik, membuat Hyukjae buru-buru menutup mulutnya agar berhenti tertawa. “Geurae, geurae, aku tidak akan tertawa lagi.” Janji Hyukjae, tersenyum hingga matanya tinggal segaris lalu menyatukan jemari mereka selagi Hyunmi diam. “Omong-omong, kau besok ingin kemana?”

Hyunmi mengamati jemarinya dan jemari Hyukjae yang terlihat sempurna saat bertautan sekilas, jantungnya mulai berdebar abnormal, membuat Hyunmi harus berdoa dalam hati agar jantungnya tak meloncat keluar. Otaknya lalu berputar sebentar. “Sebenarnya aku ingin menemuimu seseorang di Jeju..” bisik Hyunmi dengan raut yang berubah sedih, Hyukjae menatapnya dalam, meminta penjelasan lebih lanjut. “Eommaku..” lanjut Hyunmi dengan kepala tertunduk.

Hyukjae terpekur. Ingatannya berputar ke beberapa tahun yang lalu. Ahna pernah bercerita bahwa aboejinya mati ditangan saingan bisnis, eommanya lalu menjadi depresi karena sedih yang berlebihan dan dikirim ke rumah sakit jiwa. Ahna dan Hyunmi pun terpaksa diamankan ke Paris untuk menghindari serangan dari  pesaing bisnis. Perusahaan diambil alih oleh Paman mereka sementara hingga Ahna cukup umur─25 tahun. Seharusnya tahun ini Ahna sudah bisa mengambil alih perusahaan, tapi karena... Hyukjae menghela napas tanpa sadar. Karena Ahna sudah menyusul sang aboeji, Hyunmi menjadi satu-satunya pewaris tunggal. Itupun harus menunggu 3 tahun lagi.

Sesak menghimpit dada Hyukjae ketika pemikiran bahwa secara tidak langsung dialah yang sudah membunuh Ahna terlintas.

Yoon Eunjin, sahabatnya sejak kecillah yang membunuh Ahna. Yeoja yang direncanakan akan ditunangkan dengan Hyukjae begitu Hyukjae menginjak usia 23 tahun. Namun sebulan sebelum pertunangan dilaksanakan, Hyukjae bertemu Ahna dan langsung jatuh cinta.

Hyukjae mendapatkan yeoja itu setelah selama beberapa minggu mendekatinya. Hyukjae bahkan langsung menemui Jungsoo untuk membatalkan pertunangannya saat ia dan Ahna resmi menjadi sepasang kekasih. Jungsoo menyetujuinya─Eunjin saat itu juga terlihat tidak masalah meskipun dia jelas-jelas menyimpan perasaan pada Hyukjae.

Hubungan Ahna dan Hyukjae berjalan baik selama dua tahun. Namun setelah itulah masalah dimulai. Eunjin mulai menunjukkan tanda-tanda benci pada Ahna. Dia sering memfitnah Anha yang tidak-tidak hingga keduanya hampir setiap hari bertengkar, beruntung karena rasa sayang yang begitu besar, keduanya tidak pernah bertengkar lebih dari sehari. Hingga pada suatu malam─saat Ahna berencana mengenalkan Hyukjae pada dongsaengnya─Eunjin datang dan membunuh Ahna terlebih dahulu. Jika ditanya bagaimana perasaan Hyukjae saat itu, Hyukjae sama sekali tak mempunyai jawaban karena sejujurnya ia ingin sekali menyusul Ahna saat itu juga. Namun pemikiran mengenai keluarga dan rakyat membuat dia mengenyahkan pemikiran tersebut.

Hyukjae mendesah samar begitu ingatannya tertarik kembali ke masa kini, dilihatnya Hyunmi yang masih menundukkan kepala dengan mata berkaca-kaca, dan Hyukjae merasa hatinya ikut sakit. “Aku akan menemanimu, tenanglah..” bisiknya lalu mengangkat dagu Hyunmi hingga mata mereka bertatapan.

Hyunmi tersenyum, dia memberanikan diri menatap mata Hyukjae lurus-lurus. Hyukjae terpaku menatap wajah Hyunmi, tersadar bahwa Hyunmi memiliki mata cokelat yang indah─mirip dengan Ahna. Mereka bertatapan beberapa lama hingga buncahan perasaan asing meledak-ledak dalam diri masing-masing. Seolah ada magnet di antara keduanya, mereka perlahan saling mendekat, memupus jarak yang tersisa sedikit demi sedikit dengan pasti.

Oppa! Saatnya makan malam..”

Hyunmi langsung mendorong tubuh Hyukjae pelan ketika mendengar teriakan melengking itu dari luar─mengabaikan ringisan sekaligus ekspresi sebal Hyukjae. Dia buru-buru berdiri, membungkuk pada Jina yang baru saja masuk dengan nampan makanan di tangannya.

Wajah Jina langsung mengerut melihat Hyunmi, sekilas, karena Jina langsung menyimpan nampan di nakas dan duduk di tepi ranjang Hyukjae, tersenyum manis sekali. “Bagaimana keadaan Oppa sekarang?”

Hyukjae membalas senyum Jina dengan ragu-ragu sambil sesekali melirik Hyunmi. “Mm, sekarang sudah lebih baik..”

“Cepatlah sembuh, aku mengkhawatirkanmu..” sahut Jina sambil mengelus pipi Hyukjae penuh kasih sayang.

Sial! Emosi macam apa ini?! “Aku pamit sekarang, semoga cepat sembuh Oppa.”

Hyunmi sama sekali tak memandang ke arah Hyukjae saat dia keluar, matanya terus-terusan menatap ke bawah hingga ia keluar dari kamar tidur Hyukjae. Hyunmi menyandarkan punggungnya ke pintu, mengatur emosinya yang tiba-tiba saja seperti akan meledak-ledak. Perkataan Kibum beberapa jam yang lalu terngiang, membuat emosi di hati Hyunmi surut sedikit demi sedikit.

“Hyukjae dijodohkan dengan Jina, Hyunmi-ya. Kau tahu dia Pangeran, bukan? Pangeran tidak bisa tidak memiliki pedamping, karena itu walaupun Hyukjae sama sekali tak mencintai Jina, dia harus menerima Jina..”

Perjodohan bodoh! umpat Hyunmi dalam hati lalu mulai melangkah ke arah kamarnya dengan kaki dihentak-hentak.

***

Taeyoung mengulur napas sambil memandangi kolam ikan di depannya dengan pandangan menerawang. Hatinya menyesak mengingat setiap perkataan Jungsoo tadi. Sekarang, Taeyoung mulai menyesali kesanggupannya pada Jungsoo kemarin. Mengapa Taeyoung tak menolak untuk tinggal di sini lebih lama? Apa karena ia ingin bersama Jongwoon lebih lama juga?

Semenjak mengenal Jongwoon, hidup Taeyoung berubah 360°. Jongwoon membuat hidupnya kacau, membuat dia bingung dengan perasaan aneh yang selalu hadir saat dia bersama Jongwoon, dan Taeyoung membenci fakta bahwa dia sama sekali tak bisa mengenyahkan perasaan aneh itu walau hanya sedetik. Taeyoung juga membenci fakta bahwa semakin hari perasaan anehnya itu semakin kuat untuk Jongwoon.

Taeyoung kembali mengulur napas saat seseorang tiba-tiba saja menepuk bahunya lembut. Yeoja itu memutar kepala ke belakang, merasakan hatinya untuk kesekian kali berdenyut nyeri melihat Sooyoung, dia memaksakan diri menarik sudut bibirnya membentuk lengkungan senyum.

Eonni boleh ikut duduk di sini?” tanya Sooyoung.

Pikiran Taeyoung sibuk dengan berbagai macam pertimbangan sebelum akhirnya mengangguk singkat sebagai jawaban. Yeoja itu menggeser duduknya ke samping hingga Sooyoung bisa duduk di sampingnya. Dan yang terjadi selanjutnya hanya diam, keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing.

“Kenapa Eonni tidak menghadiri pesta?” tanya Taeyoung memecah suasana canggung di antara keduanya.

Sooyoung tersenyum kecil tanpa menoleh ke arah Taeyoung. “Ah, itu karena aku dan yang lainnya terlalu seru membicarakan masalah pernikahan.” jawabnya dengan nada ceria, “Kau tahu? Aku sangat senang bisa menjadi pendamping Jongwoon Oppa, dia orang yang sangat baik...”

Taeyoung menelan ludah dan bertanya-tanya dalam hati mengapa ludahnya terasa pahit. “Ne, aku bisa melihatnya.” Jeda sebentar, keduanya sama-sama terdiam, lalu Taeyoung bertanya dengan nada hati-hati, “Eonni mencintainya?”

Sooyoung tampak terkesiap pelan mendengar pertanyaan Taeyoung, tapi wajahnya langsung berubah normal lagi setelah beberapa saat. Seulas senyum tulus terpeta di bibirnya, Taeyoung entah untuk alasan apa merasa dia sangat membenci senyum tulus Sooyoung.

“Kami sudah dijodohkan sejak kecil. Aku hanya punya Jongwoon Oppa dan Jongwoon Oppa hanya punya aku.” Diam, Sooyoung mengangkat wajah menatap langit, tampak menerawang. “Mungkin karena sejak kecil hanya mengenal Jongwoon Oppa, ketika aku beranjak remaja, rasa itu muncul begitu saja.”

Taeyoung tak menyela, hatinya diam-diam teriris mendengar kata demi kata yang meluncur mulus dari bibir Sooyoung. Sial! Kenapa dia harus menanyakan pertanyaan bodoh seperti itu? Dan kenapa dia merasa ingin sekali menangis saat ini juga?

“Mungkin terdengar konyol, tapi sekarang, aku benar-benar sudah jatuh terlalu dalam untuk Jongwoon Oppa.” Suara Sooyoung terdengar kembali, Taeyoung mencengkeram kaus yang dipakainya erat. Lalu terdengar kekehan dari Sooyoung sebelum dia melanjutkan, “Aku... mungkin tidak dapat hidup tanpa Jongwoon Oppa.”

Sooyoung, jelas sangat mencintai Jongwoon. Taeyoung hampir berpikir bahwa jantungnya berhenti berdetak untuk beberapa detik mendengar perkataan Sooyoung.

“Bagaimana kalau Jongwoon Oppa tidak mencintai Eonni?” tanya Taeyoung kemudian dengan nada sarkatis, ada perasaan asing meluap-luap yang membuatnya berani menanyakan hal tersebut.

Sooyoung menatap Taeyoung tajam selama beberapa detik sebelum tersenyum lembut─terlihat seperti dibuat-buat dalam pandangan Taeyoung, “Aku tidak akan melepaskan Jongwoon Oppa meski pun begitu,” serunya yakin, “lagipula, Taeyoung-ah, cinta itu bisa tumbuh seiring berjalannya waktu.”

Ekspresi Taeyoung mengeras, namun ia memilih tak berkomentar apapun. Sooyoung juga tampaknya tak mau susah-susah memulai pembicaraan lagi dengan Taeyoung karena ia juga bungkam. Sejak pertama kali Sooyoung melihat Taeyoung, dia memang sudah merasa yeoja ini akan jadi orang yang berbahaya dalam hubungannya.

“Sooyoung-ah, sedang apa kau di sini?”

Baik Sooyoung maupun Taeyoung sama-sama tersentak mendengar pertanyaan entah-dari-siapa itu dari belakang mereka. Keduanya serentak memutar kepala ke belakang dan menemukan Jongwoon di sana, sedang menatap mereka heran dengan sebelah alis terangkat.

Sooyoung cepat-cepat berdiri dan tersenyum pada Jongwoon, dia memeluk Jongwoon sekilas dan berkata, “Aku hanya berbincang-bincang dengan salah satu pahlawan kita Oppa,” serunya lalu melirik Taeyoung sekejap, tersenyum puas melihat Taeyoung tampak memalingkan wajahnya. “Tapi kami sudah selesai. Aku kembali ke kamar, ne, Oppa? Sampai bertemu di altar.” lanjut Sooyoung kemudian ceria, setelah mengecup bibir Jongwoon sekilas yeoja itu berlalu dengan senyum penuh kemenangan terulas di wajah cantiknya.

Jongwoon mengusap bibirnya sambil menatapi kepergian Sooyoung lalu mendesah samar. Dia mendudukkan diri di samping Taeyoung, dengusan keluar dari bibirnya saat Taeyoung malah berdiri seolah akan pergi. Jongwoon cepat-cepat menarik tangan Taeyoung untuk duduk di sampingnya kembali.

“Hei, ada apa denganmu, Yongie?” tanya Jongwoon bingung sembari menatapi wajah Taeyoung dengan lekat-lekat, tak melewatkan satu detik pun waktu yang dimilikinya demi menikmati lekukan wajah Taeyoung yang terlihat manis di matanya.

“Tidak apa-apa,” sahut Taeyoung dengan nada malas.

Jongwoon menghela napas, tahu bahwa Taeyoung sedang tidak baik-baik saja. “Kemarilah,” bisik Jongwoon dengan suara pelan.

Taeyoung menatapnya dengan pandangan setengah bingung setengah kesal, “Apa?”

“Cuaca dingin, kau bisa sakit, Youngie.” kata Jongwoon tanpa menjawab pertanyaan Taeyoung sembari menyampirkan jubahnya di pundak yeoja itu. Tak lama, Jongwoon lalu melingkarkan tangannya di pundak Taeyoung dan menarik yeoja itu lebih dekat padanya. “Kau itu terkadang babo, memakai kaus di cuaca sedingin ini.” omel Jongwoon kemudian sambil menyandarkan kepala Taeyoung di pundaknya.

Kekesalan dan api di hati Taeyoung menguap seketika, sikap Jongwoon terlalu manis untuk ia hadapi dengan rengutan. Dan lagi-lagi ia harus membenci dirinya yang tidak bisa mengabaikan Jongwoon begitu saja.

“Aku tidak babo,” rajuk Taeyoung, tersenyum kecil merasakan kehangatan yang diberikan Jongwoon. Rasanya sangat nyaman kalau ia boleh jujur.

Geurae, geurae. Kau tidak babo, hanya sedikit kurang pintar.” ledek Jongwoon kemudian.

“YA!” pekik Taeyoung tak terima.

Jongwoon tertawa renyah, mengusap-ngusap rambut Taeyoung dengan lembut. “Aku hanya bercanda Youngie,” katanya beralasan. Taeyoung tersenyum kecil.

Beberapa saat kemudian, Jongwoon mulai menyenandungkan beberapa lagu. Suaranya terdengar lembut dan merdu. Senyum di bibir Taeyoung makin melebar saat ketenangan mulai merambati hatinya sedikit demi sedikit. Taeyoung lalu merasakan kantuk yang hebat menderanya, dan beberapa saat kemudian, dia sudah terbuai ke alam mimpi.

Menyadari uluran napas teratur seseorang di dekat bahunya, Jongwoon menengok ke arah bahunya, senyum hangat menghiasi bibirnya seketika. Namja itu menarikan jemarinya menelusuri semua lekuk wajah Taeyoung dengan hati-hati seolah Taeyoung adalah patung porselen yang mudah pecah.

“Aku sudah lama berada di jalan yang lurus, dan sekarang kau tiba-tiba saja masuk, menciptakan jalan berbelok yang terlihat indah. Kau tahu? Aku bingung harus memilih jalan yang mana, tapi tanggung jawab menahanku untuk tetap berada di jalan yang lurus..” Jongwoon bermonolog, ekspresi dan nadanya menyendu.

“Young, mianhae, saranghae..” bisik Jongwoon lirih sebelum mendekatkan wajahnya dan mencium bibir Taeyoung lembut.

Seolah mendengar apa yang Jongwoon katakan, Taeyoung menitikkan air mata dalam tidurnya.

***

Suara ketukan sepatu yang beradu dengan lantai menjadi satu-satunya backsound utama di lorong itu. Sang pemilik sepatu tampak berjalan tanpa semangat ke arah kamar tamu di ujung lorong bagian Timur Istana. Wajahnya tampak resah, seperti ada beban berat tak kasat mata yang bertumpuk di bahunya.

Saat dia baru saja akan berbelok di lorong terakhir menuju kamarnya, matanya tanpa sengaja melihat ke arah langit. Dan yeoja itu tiba-tiba saja mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam kamar melihat bulan dan bintang yang bersinar cerah.

Yeoja itu menipiskan bibirnya lantas berjalan menuju pembatas, dia menumpukkan sikunya di pagar pembatas itu, matanya menatap ke langit namun otaknya tengah berkelana ke dunia lain.

Yeoja itu terenyak pelan saat seseorang tiba-tiba saja menutup kedua matanya dari belakang, namun dia langsung tertawa kecil ketika tahu siapa yang tengah menutup matanya.

“Aku tahu ini kau, Donghae Oppa..” ujarnya yang mendapat decakan heran dari Donghae.

Donghae lekas melepaskan kedua tangannya yang menutupi mata Hyerin dan ikut menumpukkan siku di pembatas. “Kenapa kau tahu aku yang menutup matamu?”

Hyerin kembali tertawa kecil, “Aku hapal baumu, Oppa.” jawabnya yang membuat mata Donghae berbinar, “Bau ikan!” imbuh Hyerin lantas tergelak melihat ekspresi Donghae yang langsung berubah seketika.

Donghae menatap Hyerin jengkel sementara Hyerin malah menjulurkan lidahnya ke arah Donghae dengan tawa yang tetap mengalun. “Aish, Hyerin-ah, berhentilah tertawa!” seru Donghae sebal.

Hyerin menutup mulutnya mencoba menahan tawa, “Oppa, wajahmu tadi lucu sekali!” kata Hyerin setelah berhasil mengendalikan tawanya.

Donghae memutar bola mata kesal sekali lalu menatap lurus pada taman bunga di bawah sana. Hyerin memandang wajah Donghae selama beberapa saat kemudian ikut mengikuti arah pandangan Donghae.

“Itu, taman yang dibangun Eomma sebelum dia pergi.” cerita Donghae setelah lama terdiam, dia memejamkan mata berusaha mengorek kenangan yang sudah lama terkubur. Bayangan wajah cantik seorang yeoja paruh baya tergambar.

“Dia pasti wanita yang cantik.” sahut Hyerin, tersenyum kecil membayangkan bagaimana wajah asli eomma Donghae.

Donghae menoleh ke arah Hyerin, menatap yeoja itu intens selama beberapa detik kemudian tertawa. “Tentu saja dia cantik, kalau tidak, mana mau Aboeji menikah dengannya.”

Jeda sebentar, Donghae dan Hyerin sama-sama terdiam menikmati kesunyian yang mereka ciptakan. Karena bagi mereka, berdiri bersisian tanpa sepatah kata pun terasa nyaman. Mereka menikmati angin malam yang bertiup lembut, menikmati instrumen alam yang diciptakan binatang-binatang malam.

Hyerin menghela napas, melirik Donghae sekilas, “Oppa, sepertinya aku perlu tidur sekarang.”

Saat akan melangkah, Hyerin langsung membeku begitu Donghae memeluknya dari belakang. Hyerin menggigit bibir, merasakan tubuhnya merinding saat embusan napas Donghae menggelitik lehernya. Dan jika ditanya bagaimana keadaan jantung Hyerin sekarang, jawabannya, organ dalam itu tidak sedang baik-baik saja.

Oppa, apa yang kaulakukan?” bisik Hyerin lirih, kesadaran bahwa Donghae mempunyai yeoja lain di sini menamparnya berulang-ulang. Perih merayap begitu saja.

Pertanyaan Hyerin tak langsung Donghae jawab, namja itu malah memejamkan mata, dan wajah Yoona seketika itu juga terputar di kepalanya, namun saat ini, Donghae memang hanya menginginkan Hyerin. “Sebentar saja..”

Kenapa kau membuat ini semakin sulit, Oppa? Hyerin bertanya dalam hati, merasa Donghae seakan mempermainkan hatinya. Hyerin memejamkan mata, merasakan dilema hebat tiba-tiba saja menyergapnya dari berbagai sisi.

Keduanya diam menikmati detik demi detik yang berlalu dengan mata terpejam, meresapi ketenangan yang mengalir melewati darah mereka ke seluruh tubuh hanya karena pelukan ringan ini.

Sret.. Plak!

“Aw!” Hyerin mengaduh ketika tubuhnya tiba-tiba saja ditarik secara paksa dari tubuh Donghae, lengkap dengan tamparan manis yang dihadiahkan orang yang menariknya. Lengan Hyerin secara refleks memegang pipinya yang terasa perih. Matanya menatap hampa pada orang itu, tersisip rasa bersalah sekaligus luka yang dalam.

Amarah Donghae langsung meledak melihat Hyerin mundur beberapa langkah dengan tangan memegang pipi. Donghae mencengkeram tangan Yoona kasar, matanya menatap tajam yeoja itu seolah tatapannya bisa memotong tubuh Yoona menjadi bagian kecil-kecil.

“Apa yang kaupikir kau lakukan, Im Yoon Ah?!” tanya Donghae dengan suara rendah yang menusuk.

Yoona tak gentar sedikit pun, dia balas menatap Donghae tajam sebelum tatapannya beralih pada Hyerin, menatapnya merendahkan seolah Hyerin adalah hewan paling menjijikkan yang pernah dia temui. “Apa aku salah karena menampar seorang yeoja yang ingin merebut kekasihku, Oppa?” tanyanya pedas dengan mata tak lepas dari wajah Hyerin.

Hyerin menunduk sambil memegang pipinya, semakin tak berani mendongak karena tatapan tajam Yoona. Lubang di hatinya menganga semakin lebar, perih merambat dengan cepat hingga berujung dengan matanya yang terasa berair.

“Jaga bicaramu, Yoona! Sejak kapan kau mempunyai attitude buruk seperti ini?” tukas Donghae tajam sambil menggeram, amarah masih meledak-ledak di dadanya.

Mata Yoona kini beralih menatap Donghae, ada gurat sakit dan cemburu yang jelas sekali tergambar di bola matanya saat menantang Donghae bertatapan. “Kau tidak sadar aku bersikap begini karena siapa, Oppa? Aku─”

“Yoona-ssi, tolong jangan marah pada Donghae Oppa..” Hyerin menyela pembicaraan Yoona setelah menghapus air matanya yang jatuh, dia memandang lurus pada Yoona yang seperti sangat ingin membunuhnya. “Ini murni salahku, aku benar-benar minta maaf. Mianhae, jeongmal mianhaeyo..” sambung Hyerin sambil membungkuk berulang-ulang sebelum membalikkan badan. Setetes air mata kembali lolos dari pelupuk matanya yang disusul tetesan lain, Hyerin memejamkan mata sekejap, sama sekali tak berniat menghapus air matanya. Lantas tak berapa lama, Hyerin menuju kamarnya dengan setengah berlari sambil membawa semua luka di hatinya.

“Hyerin-ah!” panggil Donghae setelah sadar dari lamunannya begitu mendengar perkataan Hyerin, kaki Donghae baru saja akan bergerak mengejar Hyerin saat Yoona mencekal tangannya. “Lepaskan aku!” desis Donghae sambil menyentak tangan Yoona kasar dan melanjutkkan keinginannya yang sempat tertunda tadi.

Yoona menatap tubuh Donghae yang semakin menjauh dengan pandangan nanar, “Kalau Oppa mengejarnya…” kata Yoona dengan suara pelan namun masih bisa terdengar oleh Donghae, dan Donghae langsung berhenti berlari mendengar suara Yoona. Namun ia sama sekali tak memiliki keinginan untuk membalikkan badan dan menatap Yoona. Yoona menghela napas panjang dengan mata berkaca-kaca, “…hubungan kita berakhir sampai di sini..”

Donghae mengepalkan tangan, resah  menyerangnya. Yoona, yeoja yang sangat baik dibanding mantan kekasihnya yang lain, dan yang paling penting adalah, aboeji juga sangat menyukai yeoja itu untuk menjadi pendamping Donghae. Namun Hyerin… yeoja itu bisa mengalihkan dunianya walaupun mereka baru beberapa hari bertemu, Hyerin bisa membuat Donghae merasakan perasaan ingin melindungi dan setia, yeoja itu…

Dan Donghae memutuskan untuk berlari, membiarkan Yoona yang langsung terduduk di lantai dengan isak tangis pilu yang lolos dengan mudah lewat bibirnya.

***

Saera menggigit bibir melihat adegan yang baru saja dilakoni Hyerin, Donghae, dan Yoona terjadi di depan matanya. Dia menyandarkan punggungnya di tiang besar yang sedari tadi digunakannya untuk mengintip dengan perasaan tak keruan. Yeoja itu membeku di tempatnya, tak menyangka semua akan berakhir seperti ini. Saera mengerti perasaan Hyerin sekarang, eonninya itu pasti sedang merasa hancur. Saera ingin sekali menyusul Hyerin, memeluk dan menenangkannya, namun ia tahu Hyerin saat ini butuh waktu sendiri─bahkan Hyerin pasti akan mengunci diri di kamar dan menolak Donghae yang mengejarnya.

“Berhenti mengintip, ayo pergi..”

Saera menatap kosong pada Kyuhyun yang tiba-tiba saja datang dan mengulurkan tangan padanya. Dia menatap uluran tangan Kyuhyun tanpa respons yang berarti membuat Kyuhyun berdecak dan menggenggam tangan Saera secara paksa, tak peduli dengan penolakan yang mungkin akan didapatkannya nanti.

Di luar dugaan, Saera sama sekali tak menepis tangan Kyuhyun, dia membiarkan dirinya ditarik oleh namja itu menjauhi bangunan khusus tamu. Setelah lama terpekur akibat kejadian yang baru saja dilihatnya, Saera akhirnya mengembuskan napas panjang dan bergumam, “Apa mereka akan baik-baik saja?”

“Tentu saja, Hae sangat berpengalaman dalam urusan wanita. Dia pasti bisa mengurus semuanya..” sahut Kyuhyun santai.

Saera terkesiap, seakan-akan dia baru saja menyadari keberadaan Kyuhyun. Yeoja itu mendelik, “Ya! Apa maksudmu dengan berpengalaman?”

Kyuhyun tersenyum tipis saat Saera akhirnya terbangun dari dunianya sendiri. “Kau tidak tahu kalau Hae itu playboy?” Saera membelalakkan mata, dan dia baru saja akan menyahut saat Kyuhyun menyela dengan yakin, “Tapi tenang saja, aku rasa sifat Donghae akan berubah jika dia bersama Hyerin. Berhentilah memikirkan masalah orang lain.”

Saera tak menyahut, hanya bisa berharap memang kenyataannya akan seperti itu. Lagipula, sepanjang pengamatannya, Donghae memang sudah terlanjur jatuh cinta pada Hyerin. Hubungan mereka sebentar lagi pasti akan baik-baik saja, tidak seperti... Saera melirik Kyuhyun, namun langsung menggelengkan kepalanya. Apa yang baru saja dipikirkannya? Saera mendesah samar, sepertinya dia memang harus berhenti memikirkan masalah orang lain atau pikirannya akan semakin kacau.

“Lalu kau akan membawaku kemana, Oppa?” tanya Saera kemudian saat melihat ke sekitar yang ternyata sudah memasuki wilayah taman Istana. Kyuhyun mengedik tak acuh membuat Saera mendengus.

Saera mengikuti kemana Kyuhyun membawa tubuhnya dengan pikiran yang setengah melayang, namun remasan tangan Kyuhyun pada genggaman tangan mereka berhasil menyentak Saera ke dunia nyata. Yeoja itu terkesiap selama beberapa detik, lantas menatap Kyuhyun dengan pandangan bertanya.

“Berhentilah melamun..” peringat Kyuhyun, walau tidak begitu yakin, Saera melihat gurat kecemasan di wajah tampan namja itu, dan itu membuatnya tersenyum dalam hati.

“Aku tidak melamun Oppa..” elak Saera, memilih melempar pandangan ke arah kakinya.

Kyuhyun diam-diam tersenyum tipis melihat tingkah Saera, melirik sekilas pada tangannya dan tangan Saera yang saling menggenggam. Kyuhyun merasa lengkap, dan hanya saat Saera berada di sisinyalah dia merasakan hal seperti ini.

Saera menatap lurus-lurus saat mereka sudah berhenti berjalan. Dia langsung terpana melihat pemandangan yang tersaji di depannya. Hamparan danau yang luas, dihiasi lilin di atas daun teratai yang menyala terang, membuat danau terlihat berkilau karena cahayanya. Indah, sangat indah. Bahkan untuk beberapa saat, Saera hampir lupa bagaimana caranya berkedip.

“Indah..” bisik Saera pada udara, Kyuhyun yang mendengarnya tertawa kecil membuat Saera segera menatapnya dengan tatapan tak percaya. “Kau yang menyiapkan ini?”

Kyuhyun mengangkat tangannya dan mengelus pipi Saera dengan lembut, tak urung membuat Saera tersenyum lembut merasakan jutaan kupu-kupu beterbangan di perutnya. “Kau tidak percaya, hm?” Saera menggeleng pelan, menggenggam tangan Kyuhyun yang masih mengelus pipinya dengan lembut. Keduanya saling menatap dalam, seolah sedang menyelami hati masing-masing lewat tatapan mata.

“YA! PARK KYUHYUN!”

Kyuhyun mengerang dalam hati mendengar suara yang sudah bisa ia pastikan milik siapa, sementara Saera merasa kesal tiba-tiba saja mengepungnya. Bagaimana bisa dia lupa bahwa Park Kyuhyun memiliki kekasih? Saera menurunkan tangannya, luka bertubi-tubi datang seketika.

Waeyo?” tanya Kyuhyun tak berminat begitu Victoria sudah berada di hadapannya dengan wajah marah, mata yeoja itu berkilat-kilat penuh emosi.

Victoria menampar Kyuhyun yang hanya bisa mengatupkan rahangnya rapat-rapat agar tidak melukai yeoja itu, Saera bergeming di tempatnya─tahu bahwa ia memang tidak seharusnya terlibat dalam pertengkaran sepasang kekasih di hadapannya.

“Bagaimana kau bisa memutuskanku secara sepihak?” tanya Victoria penuh emosi.

Kyuhyun mendengus, mendorong bahu Victoria hingga yeoja itu mundur beberapa langkah. “Dari awal aku tidak pernah mencintaimu, Vic. Kau yang memaksaku, jadi jangan salahkan aku jika saat ini tiba. Aku sudah benar-benar muak denganmu!”

Mata Victoria tampak berkilat keunguan, tangannya pelan-pelan dirambati aliran api berwarna biru. Victoria mengalihkan tatapannya dari Kyuhyun pada Saera, membuat Saera terenyak. “Kau!” pekik Victoria sambil berjalan ke arah Saera dan mengacungkan bola api padanya, “Aku tidak akan memaafkanmu!”

“Berani kau menyentuhnya seujung jari pun, aku akan membuatmu menyusul iblis itu di neraka.” desis Kyuhyun tajam sambil mencengkeram kedua tangan Victoria yang masih mengeluarkan api dengan keras, yeoja itu meringis kesakitan hingga api di tangannya perlahan padam. “Pergi sekarang Vic, atau aku kehilangan kendali.”

Air mata mengaliri pipi Victoria tanpa bisa ia cegah, yeoja itu sempat melemparkan tatapan benci pada Saera sebelum ia pergi dari danau itu dengan berlari. Kyuhyun mendesah, setelah bayangan Victoria benar-benar tak terlihat, namja itu memutar tubuh dan mendapati Saera yang menatapnya kosong, tubuhnya diam tak bergerak sama sekali. Kyuhyun berjalan ke arah Saera, mendekap yeoja itu dalam sekali gerakan.

Saera tersadar dari alam bawah sadarnya begitu merasakan pelukan Kyuhyun yang hangat, yeoja itu balas memeluk Kyuhyun sambil membenamkan wajahnya di dada Kyuhyun guna mendapatkan ketenangan yang biasa. Dia sangat takut dengan sikap Victoria tadi, kalau saja tak ada Kyuhyun, Saera sangat yakin kalau saat ini dia pasti sudah tak berada di dunia. “Kenapa kau berpisah dengannya?” tanya Saera lirih.

Kyuhyun melepaskan pelukan mereka, memegang kedua pipi Saera hingga mata mereka bertatapan. Tanpa menjawab, dia mendekatkan wajahnya pada Saera dan mencium bibir Saera dengan lembut. Saera awalnya terkejut, namun tak berapa lama kemudian dia melingkarkan tangannya di leher Kyuhyun dan membalas ciuman namja itu dengan tak kalah lembut.

Keduanya melepaskan pagutan bibir mereka beberapa detik kemudian, Kyuhyun mengusap bibir Saera sambil tersenyum, sementara Saera menatapnya penuh tanda tanya. “Mendongaklah..”

Saera menutup mulut tak percaya saat melihat ratusan kunang-kunang di atas langit sana, berbaris rapi membentuk rangkaian kata yang berbunyi. “Nan neomu saranghae Han Saera. Would you want be my girl?”

***

Next day..

Saera tak bisa menyembunyikan senyum di wajahnya saat dia dan Kyuhyun masuk ke ruang makan dengan berpegangan tangan, yeoja itu melirik ke sekitar dan menemukan Eonnideul serta 3 Pangeran lainnya sedang menikmati makanan mereka dalam diam. Senyum di wajah Saera menipis dengan sendirinya, dia menghela napas.

“Mereka terlihat canggung pagi ini..” komentar Kyuhyun sambil membawa Saera untuk duduk di sampingnya. Namja itu menarik kursi untuk Saera duduki, dan hal itu sontak membuat wajah Saera merona sementara yang lain menatap mereka tak percaya. “Wae?” tanya Kyuhyun polos begitu ia duduk di kursinya dan menyadari tatapan orang-orang masih pada mereka.

“Sejak kapan kau bersama Saera?” tanya Hyukjae tanpa basa-basi.

Kyuhyun tersenyum─menyeringai tepatnya, “Semalam. Aku tidak lambat seperti kalian, asal kalian tahu.” jawabnya yang mendapat rengutan dari semua orang.

“Jangan menggoda mereka, Oppa!” seru Saera jengah.

Kyuhyun terkekeh, mengusap rambut panjang Saera sekilas. “Arraseo, cepat makan. Hari ini kita akan menemui Sungmin, bukan?”

Mata Saera langsung berbinar mendengar nama Sungmin, akhirnya, setelah sekian lama dia bisa melihat Sungmin membuka mata kembali.

“Jadi, kalian akan pergi ke dunia manusia?” Jongwoon membuka suara, pertanyaannya bukan hanya dimaksudkan untuk satu orang, tapi semua orang.

Ye, aku dan Hyunmi akan pergi ke Seoul untuk menjenguk Eomma Hyunmi..” sahut Hyukjae yang ditanggapi anggukan Hyunmi. “Bagaimana dengan Hyung dan kau, Hae?”

Donghae menyimpan sendoknya di sebelah piring, menatap Hyerin yang menunduk sekilas kemudian menghela napas. Malam kemarin ia sama sekali tak bisa menemui Hyerin, yeoja itu mengurung dirinya di kamar sementara Donghae tak bisa menggunakan telepatinya untuk masuk ke kamar Hyerin─setiap kamar di Istana diberi sihir pelindung. “Entalah,” jawab Donghae sambil mengedik, lalu menatap pada Hyerin. “Bagaimana menurutmu, Hyerin-ah?”

Hyerin mencengkeram sendok di tangannya lebih kuat, “Aku ingin menemui Hyosun.”

“Itu artinya kami juga akan berangkat.”

Jongwoon menghela napas, “Sebenarnya ada beberapa hal yang perlu diselesaikan untuk urusan pernikahanku..” Semuanya langsung menatap Taeyoung, merutuki Jongwoon dalam hati yang telah mengungkit-ungkit masalah pernikahan. “Tapi Taeyoung kemarin mengatakan ia ingin pulang, jadi... seperti kami juga pergi.”

“Tidak usah.” sela Taeyoung lirih, “Kalau Oppa memang ingin mengurusi masalah pernikahan besok, kita tidak perlu kemana-mana..”

“Youngie, kau ingin ikut denganku?” tanya Hyerin, sedikit berharap dia tak akan berdua saja dengan Donghae.

“Kami akan tetap berangkat Hyerin-ah,” kata Jongwoon final. Ini hari terakhirnya sebelum ia terikat dengan Sooyoung, setidaknya Jongwoon ingin menghabiskan hari ini dengan Taeyoung.

Taeyoung mengatupkan mulut, tak menerima maupun menyanggah. Sementara yang lain hanya diam menikmati makanan mereka. Suasana sarapan itu berjalan sangat canggung, bahkan bagi Kyuhyun dan Saera yang jelas-jelas tak mempunyai masalah.




























Tidak ada komentar:

Posting Komentar