NINE PART A
Cinta
memberikan pilihan, dan pilihan memerlukan tanggung jawab.
Saat
akhirnya kau berani memilih, maka saat itu juga kau harus berani bertanggung
jawab.
***
M
|
ENDUNG menggantung
di langit kota Tokyo saat Hyerin dan Donghae tiba. Keduanya berjalan bersisian
menuju kampus Hyerin tanpa berucap sepatah katapun, sibuk ditelan pikiran masing-masing.
Jalanan kota Tokyo terlihat lengang, pejalan kaki hanya terlihat satu-dua
berkeliaran. Orang-orang sibuk dengan sekolah dan pekerjaan mereka.
Donghae
mengerang dalam hati, tidak menyukai kesunyian yang terjadi di antara mereka
berdua. Namja itu menghentikan langkah, menggapai tangan Hyerin untuk
membuat yeoja itu berhenti dan menatapnya tepat di mata.
“Hyerin-ah,
berhentilah mengacuhkanku!” kata Donghae setengah berteriak.
Hyerin menghela
napas, menepis tangan Donghae dan menatap namja itu dengan wajah datar,
“Itu hanya perasaanmu saja, Oppa.” jawabnya tak acuh lalu kembali
berjalan, gerbang kampus sudah terlihat di depan. Dan Hyerin baru menyadari
bahwa dia sungguh merindukan suasana kampus meskipun hanya Heesun satu-satunya
sahabat yang dimilikinya.
Donghae menatap
punggung Hyerin dengan tatapan terluka, beberapa saat hanya diam, Donghae lekas
membawa kakinya mengikuti kemana Hyerin berjalan. Pikirannya penuh dengan
berbagai cara agar Hyerin mau bersikap seperti biasanya padanya hingga Donghae
tidak sadar dia sudah memasuki area kampus.
Donghae
mengulum senyum kecil saat melihat Heesun tengah memeluk Hyerin, namja
itu baru saja akan menghampiri keduanya saat melihat Baekhyun berjalan ke arah
Hyerin. Dan tanpa terhitung waktu, namja itu sekarang telah menggantikan
posisi Heesun yang memeluk Hyerin. Tangan Donghae terkepal dengan sendirinya,
dia membalikkan badan, menolak melihat pemandangan seperti itu.
Jadi,
kau benar-benar mencintai Baekhyunmu itu? bisik Donghae
dalam hati, dia menahan napas beberapa detik sebelum memejamkan mata, meresapi
sesak yang perlahan memenuhi sudut demi sudut hatinya. Apakah aku harus
melepasmu setelah aku menyadari perasaan ini dan memilihmu daripada Yoona?
“Hyerin-ah!”
Hyerin
mengerjap mendengar panggilan Baekhyun tepat di samping telinganya, yeoja
itu lekas melepaskan diri dari Baekhyun, memalingkan wajah sebentar untuk menghapus
setitik air mata yang lolos begitu saja dari matanya melihat Donghae berjalan
meninggalkan kampusnya. Hyerin merasa bodoh karena ia sempat berharap Donghae
akan terus membujuknya dan memilih ia daripada Yoona, kenyataannya, Donghae
pasti tak akan pernah bersikap sesuai harapannya.
“Ye, waeyo,
Oppa?” tanya Hyerin sambil mencoba tersenyum.
Baekhyun
menatapnya dengan pandangan penuh pertanyaan sebelum memutuskan menggeleng dan
tersenyum.
“Ya! Hyerin-ah,
kemana saja kau hampir dua bulan ini?!” tanya Heesun sambil memukul lengan
Hyerin pelan, mencerminkan kekhawatiran dan kekesalan sekaligus.
Hampir dua
bulan? Bukannya Hyerin baru dua hari berada di Negeri Donghae? Hyerin
mengerutkan dahi, tampak berpikir. Tak berapa lama, dia tersenyum kecil begitu
teringat perbedaan waktu antara dunia manusia dan Negeri Donghae. 1 jam di sana
sama dengan 1 hari di sini, bukan? “Mianhae, Sun-ah, aku ada
keperluan di luar kota.” kata Hyerin sungguh-sungguh sambil merangkul Heesun.
Heesun menghela
napas, menekan kekesalannya hingga ke dasar. “Kau ini! Aku mencemaskanmu.”
Hyerin terkekeh
kecil, “Aigo, kau mencemaskanku? Manis sekali.”
Heesun langsung
mengerucutkan bibir, “Lagipula bukan hanya aku yang mencemaskanmu, babo!
Baekhyun Oppa lebih cemas, dia selalu menanyakan kabarmu setiap hari
padaku, benar-benar berisik!” adu Heesun, mengerling pada Baekhyun yang
langsung nampak kesal.
“Ya! Heesun-ah,
kenapa kau harus memberitahukannya?”
Heesun tertawa,
senang menggoda Baekhyun, apalagi melihat Baekhyun tampak salah tingkah pada
Hyerin, ini merupakan hiburan yang sangat menyenangkan baginya. Sedangkan
Hyerin hanya bisa tersenyum tipis mendengarnya.
Andai saja
Hyerin masih seperti dulu, andai saja Donghae belum hadir, andai saja rasa ini
belum tumbuh, Hyerin pasti akan dengan senang setengah mati mendengar perkataan
Heesun. Yah, andai saja...
“Omong-omong,
sejak kapan kalian berdua akrab?” tanya Heesun membuat pikiran Hyerin yang
sedang bercabang kemana-mana terurai seketika. Hyerin melirik ke arah Baekhyun
yang tampak tersenyum kecil.
“Ingat sewaktu
aku dan yang lainnya mengajakmu ke taman hiburan?” tanya Baekhyun yang disambut
anggukan Heesun. “Aku bertemu Hyerin di sana..”
“Dan kalian
menghabiskan waktu bersama?” tebak Heesun, “Ya! Kalian berkencan!” teriak Heesun
heboh membuat Hyerin terpaksa mencubit lengannya karena banyak mahasiswa
melihat ke arah mereka sekarang. “Appo, aku kan hanya terlalu senang,
Hyerin-ah. Kau jahat sekali!” dengus Heesun merengut.
Baekhyun
tertawa, “Tapi kau terlalu berisik Heesun-ah.” katanya meledek, Heesun
mendelik namun tak berkomentar apa pun karena ia kini sibuk menyeret Hyerin ke
kantin untuk ditanyai berbagai macam pertanyaan. Baekhyun mendesah, tapi
mengikuti keduanya dari belakang. Dia sangat senang melihat Hyerin di sini
lagi. Dia senang bisa merasakan debaran hangat ini lagi, debaran yang hanya
bisa tercipta jika ada Hyerin di sampingnya.
Saat sampai di meja
Hyerin dan Heesun, Baekhyun mendecak heran melihat Heesun yang tampak tak bisa
berhenti bicara. Namja itu lalu duduk di depan keduanya, ikut
mendengarkan cerita Heesun dengan mata yang tak lepas dari wajah Hyerin.
Hyerin
sebenarnya tahu bahwa Baekhyun mengamatinya sedari tadi, namun ia berpura-pura
tak peduli. Lantas memang kenapa kalau Baekhyun memerhatikannya? Lagipula rasa
itu pun telah musnah karena kehadiran Donghae.
“Kau tahu?
Dosen Kamikaze menjadi sangat seram akhir-akhir ini, anak-anak menduga itu
semua karena dia kehilangan murid kesayangannya, Han Hyerin tersayang.” Heesun
tertawa setelah menyelesaikan kalimatnya, Baekhyun ikut tertawa sementara
Hyerin mendengus kecil, Heesun tampak senang sekali menggodanya. “Aigo,
aku ada kelas 5 menit lagi!” seru Heesun panik beberapa detik kemudian saat
matanya tanpa sengaja melirik ke arah jam tangan, “Hyerin-ah, aku masuk
dulu, ne? Jangan kemana-mana, kau berhutang banyak cerita padaku! Dan
kau Oppa, tolong jaga Hyerin.” kata Heesun dalam sekali tarikan napas
sambil membenahi barang-barangnya, yeoja itu keluar kantin dengan
berlari setelah memeluk Hyerin sekilas.
“Bagaimana
kabarmu?”
Hyerin
mengalihkan pandangannya dari arah pintu kantin pada Baekhyun, dia tersenyum
kecil dan menjawab, “Baik-baik saja, terimakasih sudah mencemaskanku, Oppa.”
Baekhyun
membalas senyum kecil Hyerin dengan senyum manis yang sempurna, namja
itu mengulurkan tangan untuk menyentuh tangan Hyerin yang ada di atas meja. “Gwaenchanayo,
aku senang kau baik-baik saja..”
Hyerin
memandangi tangan Baekhyun yang mengusap tangannya dengan tatapan sayu. Apa
sikap Baekhyun yang sangat manis seperti ini akibat sihir cinta yang Donghae
janjikan? Kalau begitu, mengapa tak ada yang bisa menyayanginya dengan tulus
tanpa bantuan sihir?
“Ah, kau pasti
lapar! Biar Oppa pesankan sesuatu, ne?” tawar Baekhyun yang
melihat Hyerin tertegun. Hyerin terkesiap, dia mengangkat wajah untuk
melontarkan penolakan, namun sayang Baekhyun sudah terlebih dahulu berjalan ke
stand makanan.
Sambil menunggu
kedatangan Baekhyun, Hyerin mendesah samar lantas merogoh saku bajunya. Senyum
miris tersungging di bibir Hyerin melihat kalung kerang yang diberikan Donghae
sewaktu mereka di pantai. Kalau boleh, Hyerin ingin sekali kembali ke masa itu
agar dia bisa mencegah dirinya supaya tidak jatuh cinta pada Donghae seperti
ini. Karena sekarang, sangat sulit baginya untuk lepas dari bayang-bayang
Donghae. Namja itu, telah membuatnya terjebak begitu dalam.
Selang beberapa
menit, Baekhyun telah kembali dengan membawa nampan makanan. Namja itu
menyimpan nampan makanan di depan Hyerin, sementara ia sendiri berdiri di
sebelah yeoja itu, seolah menunggu sesuatu.
“Oppa,
kenapa kau tidak duduk?” tanya Hyerin heran sembari menggeser nampan itu agar
lebih dekat padanya, dia mengenyitkan dahinya saat sadar bahwa makanan yang
dibawakan oleh Baekhyun diberi tudung sehingga ia tak tahu makanan apa yang ada
di dalamnya. “Makanan apa yang ada di dalam tudung ini?” tanya Hyerin, menatap
Baekhyun yang masih setia berdiri di sebelahnya dengan keheranan yang memuncak.
Baekhyun
tersenyum misterius, “Bukalah jika kau ingin tahu..”
Tangan kanan
Hyerin bergerak membuka tudung yang terbuat dari logam itu, dia langsung
mencengkeram kalung kerang pemberian Donghae di tangan kirinya dengan kuat.
Hyerin kembali memandang Baekhyun tak menyangka, “Oppa, ini..”
Baekhyun
mengangguk, dia mengambil sebuah cincin emas putih dengan berlian berwarna biru
di piring itu lantas berlutut di hadapan Hyerin. Baekhyun menghela napas, lalu
mendongak dan menatap Hyerin dengan tatapan paling teduh yang pernah Hyerin
lihat.
“Aku tahu ini
mungkin terlalu cepat, kita tidak pernah akrab sebelumnya, tapi aku selalu
memperhatikanmu dari jauh. Dan aku, aku mencintaimu. Jeongmal saranghae,
Han Hyerin, jadilah kekasihku.” pinta Baekhyun sungguh-sungguh, menggenggam
tangan kanan Hyerin erat sambil menyodorkan cincin tersebut.
Hyerin
mengatupkan mulutnya rapat-rapat. Dia memejamkan mata tak berani melihat pada
Baekhyun. Sorakan riuh dari mahasiswa lain yang ada di kantin
kampus─menyuruhnya untuk menerima Baekhyun─memenuhi gendang telinganya.
Keraguan mulai memprovokasi Hyerin. Haruskah Hyerin tetap menunggu Donghae atau
kembali membuka hati untuk Baekhyun?
Cengkeraman
tangan kiri Hyerin pada kalung kerang semakin menguat─membuat buku jarinya
memutih─saat ia membuka mata untuk menatap mata Baekhyun yang dipenuhi binar
penuh harapan.
Dia sudah
memilih, semoga pilihannya ini memang yang terbaik.
Hyerin
mengembuskan napas, membuka mulut untuk menjawab, membuat suasana kantin
mendadak hening, tegang menunggu jawaban yang akan keluar dari bibir yeoja
itu, begitupun dengan Baekhyun yang sudah mengeluarkan keringat dingin.
***
Wajah-wajah
Eropa yang penasaran disertai beberapa bisikan mengikuti langkah Saera,
Kyuhyun, dan Yeonhee saat ketiganya menyusuri lorong rumah sakit
Fatebenefratelli di Roma menuju kamar VIP nomor 20 dimana Sungmin berada.
Yeonhee
menggerak-gerakkan matanya tak nyaman sebab merasa diawasi, dia benci saat ada
banyak mata yang menatapnya, dia juga benci saat bisikan-bisikan itu terdengar
sampai ke telinganya. Tidak bisakah orang-orang itu mengabaikan mereka saja?
“Aish, Saera-ya,
apa kita terlalu aneh bagi mereka?” tanya Yeonhee dengan suara rendah pada
Saera di sampingnya, nada sebal jelas terdengar dari perkataannya.
Saera terkekeh
pelan lalu menjawab dengan santai, “Tenanglah Eonni, mereka tidak akan
menculikmu meskipun mereka tengah membicarakanmu.”
Yeonhee
mendengus, ekor matanya melirik sinis pada Kyuhyun yang bersiul-siul tenang
seolah tak terjadi apapun dengan tangan yang melingkari pinggang Saera dengan
nyaman. Kenapa namja itu harus memaksanya ikut? Kenapa bukan Kihwang
saja? Cho Kyuhyun kadang memang keterlaluan, kalau saja Yeonhee tak ingat namja
itu Pangeran, dia pasti tak akan sudi menuruti perintahnya!
“Aku tahu aku
tampan, tapi berhentilah menatapku seperti itu karena aku sudah punya Saera,
Yeonhee-ya.” celetuk Kyuhyun tiba-tiba yang membuahkan tawa renyah dari
Saera dan pelototan dari Yeonhee.
“Ya! Oppa,
kau mempelajari kata-kata semanis itu dari siapa?” tanya Saera pura-pura
curiga, matanya memicing pada Kyuhyun dengan mimik lucu.
Kyuhyun tak
langsung menjawab, namja itu berhenti di depan pintu kamar rawat
Sungmin, menangkup kedua pipi Saera dan mencubitnya dengan lembut. “Tentu saja
darimu, dasar babo..” ledek Kyuhyun kemudian tertawa melihat Saera
menggembungkan pipinya sebal, Yeonhee mengamati sepasang kekasih itu dengan
jengah. Inilah hal yang tidak disukainya jika bepergian dengan sepasang
kekasih, ia pasti akan diabaikan habis-habisan!
“Kau mengataiku
babo lagi, aku membencimu!” seru Saera kesal.
Kyuhyun
terkekeh kecil, “Nado saranghae..” balasnya ringan.
Pipi Saera
bersemu merah, Kyuhyun jadi sangat suka menggodanya saat mereka sudah menjadi
sepasang kekasih. Menyebalkan memang, tapi hal ini juga menyenangkan bagi
Saera, karena dia senang melihat Kyuhyun tertawa saat Saera tersipu. Setidaknya
dengan menggoda Saera, Kyuhyun menjadi lebih banyak tertawa.
“Kau manis saat
tersipu seperti ini,” bisik Kyuhyun di telinga Saera, membuat rona merah di pipi
Saera sontak semakin kentara.
Kyuhyun
tersenyum puas melihat bagaimana kata-katanya bisa membuat Saera semerah ini,
dia mendekatkan wajah untuk mengecup bibir yeojanya saat Yeonhee tiba-tiba saja
berteriak.
“Ya! Ya!
Berhentilah berlovey dovey di hadapanku! Kalian menodai mata suciku!” Saera
terkikik melihat wajah sebal Kyuhyun karena Yeonhee berhasil membatalkan
niatnya, dia lalu berjalan masuk ke dalam kamar Sungmin.
“Kau
benar-benar berisik, Song Yeonhee..” desis Kyuhyun dan mengikuti Saera masuk. Langkahnya
langsung terhenti seketika begitu melihat Saera tengah duduk di kursi dekat
ranjang Sungmin, membelai rambut namja itu dengan tatapan penuh rindu.
Kyuhyun tanpa sadar tersenyum, senang melihat seberapa besar kasih sayang Saera
untuk dongsaengnya.
“Saera
sepertinya Noona yang baik.” komentar Yeonhee saat dia sudah berdiri di
samping Kyuhyun yang masih memerhatikan Saera.
Tanpa menoleh,
Kyuhyun merespons. “Tentu, Sungmin keluarga Saera satu-satunya. Yeoja
itu sangat menyayangi Sungmin. Sungmin salah satu kebahagiannya.”
Yeonhee
tertegun, baru kali ini melihat Kyuhyun menampakkan perhatian yang besar untuk
seseorang. “Oppa, kau... sangat mencintainya?” tanya Yeonhee hati-hati.
Kyuhyun
akhirnya menatap pada Yeonhee, matanya berbinar penuh ketulusan. “Kau tidak
akan tahu seberapa sayangnya aku pada Saera, karena itu tolong kembalikan
Sungmin.”
Yeonhee
terpekur menatap mata Kyuhyun, dia langsung tercekat begitu menemukan
kesungguhan di mata namja itu. Kyuhyun, orang yang selama ini ia kenal
tak pernah menunjukkan rasa sayang sebesar ini pada siapapun sebelumnya. Tak
urung, Yeonhee menyunggingkan senyum hangat, cinta memang bisa mengubah apa
saja.
“Baiklah,
mungkin aku bisa melakukan sesuatu untuk menanggalkan sihir itu.” sahut
Yeonhee, berjalan ke arah ranjang Sungmin dan ikut mengamati namja itu
seperti yang tengah Saera lakukan.
“Dia bisa
membuka mata kembali, kan, Eonni?” tanya Saera begitu menyadari
keberadaan Yeonhee di sisinya, nada bicaranya penuh dengan harapan.
Yeonhee
mengulurkan tangan untuk mengusap pundak Saera lembut, “Aku akan berusaha.”
Kyuhyun
menghampiri Saera, mengulurkan tangan agar yeoja itu berdiri dan membiarkan
Yeonhee memeriksa Sungmin. Saera mengecup pelipis Sungmin sebentar lalu
menerima uluran tangan Kyuhyun, mereka berdua berjalan ke sisi lain ranjang
Sungmin agar Yeonhee bisa lebih leluasa memeriksa Sungmin. Kyuhyun kemudian
melingkarkan tangannya pada pundak Saera, memaksa Saera untuk bersandar di
dadanya.
Namja itu
mendekatkan bibirnya pada telinga Saera, berbisik dengan suara rendah yang
entah mengapa mampu membuat Saera merasa tenang, “Dia akan baik-baik saja,
Yeonhee tabib yang hebat..”
Saera mengusap
tangan Kyuhyun yang melingkari lehernya dengan mata yang tak lepas dari
Sungmin, “Aku berharap seperti itu, Oppa.”
Cahaya ungu
muda keluar dari tangan Yeonhee saat yeoja itu memeriksa keadaan Sungmin
dari ujung kaki hingga ujung kepala, matanya berkilat keunguan dan wajahnya
terlihat sangat serius. Saat cahaya di tangannya perlahan memudar, Yeonhee
menyingkarkan poni Sungmin agar tak menghalangi wajah namja itu. Dia
sejenak terpaku melihat wajah tampan Sungmin yang terlihat begitu damai di
tidurnya, selang beberapa detik, Yeonhee lantas menggeleng menolak pemikirannya
barusan.
Yeonhee
mengambil tangan Sungmin untuk memeriksa denyut nadinya, setelah itu dia meletakkan
kedua tangannya di depan dada Sungmin. Matanya kembali berubah ungu seiring
dengan keluarnya cahaya ungu yang menembus dada Sungmin, tubuh Sungmin bergetar
pelan.
Saera
mengamatinya dengan tegang, tangannya meremas tangan Kyuhyun dengan kuat,
Kyuhyun balik meremas tangan Saera untuk memberinya kekuatan.
“Engg..” erang
Sungmin, matanya pelan-pelan terbuka. Sungmin mengerjapkan matanya beberapa
kali, menyesuaikan cahaya yang masuk ke retina matanya. Saera menahan napas, “Noona?”
panggil Sungmin ragu ketika matanya menangkap wajah Saera.
“Sungmin-ah!”
seru Saera sambil menghambur memeluk Sungmin, air matanya mengalir begitu saja,
Saera terlalu bahagia melihat Sungmin membuka matanya.
Saera telah
menunggu setahun penuh untuk saat-saat ini, sudah begitu banyak rintangan yang
ia lewati seorang diri tanpa kehadiran Sungmin. Sudah banyak manis-pahitnya
kehidupan yang ia arungi dengan bayang-bayang kematian dongsaeng
satu-satunya.
Air mata Saera
mengalir semakin deras saat semua kenangan itu berputar di otaknya, dia terisak
pelan sambil menikmati belaian tangan Sungmin di rambutnya. Saera sekarang
benar-benar merasa sempurna. Ada Sungmin, dongsaeng yang sangat ia
sayangi, dan ada Kyuhyun, namja yang sangat ia cintai.
Yeonhee segera
mengusap air mata yang mengalir di pipinya begitu dia terjaga dari lamunan,
Yeonhee memang gampang tersentuh, dan melihat momen mengharukan seperti ini tak
ayal membuat dia ikut menangis. Sementara Kyuhyun hanya mampu berdiri di
tempatnya dengan wajah penuh kelegaan, dia lega karena akhirnya Sungmin
terbangun, dan dia lega melihat wajah Saera yang benar-benar tanpa beban lagi
sekarang.
“Bogoshippoyo,
Sungmin-ah..” bisik Saera di sela-sela isakannya.
Sungmin
melepaskan pelukan Saera dengan perlahan, diusapnya air mata di pipi noonanya
itu dengan lembut, Sungmin menyunggingkan senyum tipis sebelum berkata, “Nado
bogoshippo, Noona. Berhentilah menangis, kau terlihat jelek saat menangis,
lagipula sekarang aku sudah bangun, bukan?”
Saera memukul
bahu Sungmin pelan sembari mencoba untuk tersenyum, “Babo, kau membuatku
hampir mati putus asa setahun ini!” serunya dengan nada marah yang dibuat-buat,
Sungmin terkekeh pelan.
“Tapi kau tidak
mati putus asa, bukan, Noona?” balas Sungmin menggoda, kelegaan
merambati hatinya melihat Saera ternyata baik-baik saja selama ia tertidur.
Tak berselang
lama, Kyuhyun berdeham. Dehaman Kyuhyun sontak membuat Saera dan Sungmin
menoleh ke arahnya. Saera tertawa kecil, seolah baru tersadar bahwa Kyuhyun
berada di sini. Yeoja itu lekas mengusap sisa-sisa air mata di pipinya
dan menggamit tangan Kyuhyun, tersenyum manis.
“Sungmin-ah,
ini namjachinguku. Park Kyuhyun,” beritahu Saera, Sungmin tersenyum
ramah menyambut uluran tangan Kyuhyun yang dibalas Kyuhyun dengan senyuman tak
kalah ramah.
“Terimakasih
karena telah menjaga Noonaku, Hyung. Dia tidak merepotkan,
bukan?” tanya Sungmin yang membuat Kyuhyun tertawa renyah.
Saera memutar
bola matanya mendengar pertanyaan Sungmin, dia lalu menatap pada Yeonhee, “Ah,
Sungmin-ah, yeoja di sebelah kananmu itu Song Yeonhee, dia yang
telah membuatmu bangun. Ucapkan terimakasih padanya.”
Sungmin yang
mendengar perkataan Saera segera memutar kepala ke arah kanan, tertegun ketika
matanya dan mata Yeonhee bertemu. Namja itu tak lama mengulas senyum, “Bidadari...”
bisiknya riang yang membuat Yeonhee tergugu, Sungmin cepat-cepat memutar
kepalanya ke arah Saera dan Kyuhyun lagi dengan wajah berbinar. “Noona,
sepertinya aku sudah menemukan calon adik ipar untukmu!”
Tawa Kyuhyun
meledak mendengar perkataan Sungmin, Saera mendecak, sementara Yeonhee hanya
mampu ternganga sambil memandang tak percaya pada Sungmin.
***
“Kenapa aku
tidak bisa ikut?!” tanya Jina setengah berteriak, wajahnya memerah memancarkan
amarah yang bergumul di dadanya.
Saat tahu
Hyukjae akan pergi ke Seoul berdua dengan Hyunmi, yeoja itu langsung
merasakan darahnya naik ke ubun-ubun. Sejak awal, meskipun dia tak terlalu
mengenal Hyunmi, Jina memang sudah tak menyukai yeoja itu. Dia hanya
takut bahwa suatu saat nanti Hyukjae akan menemukan keberanian untuk melepaskan
ikatan dengannya karena yeoja itu.
Jina hanya
takut, apalagi ditambah dengan fakta bahwa Kyuhyun dan Donghae pun berani
berpisah dari Victoria dan Yoona hanya karena yeoja-yeoja dari dunia
manusia itu. Jina hanya takut, dia takut perjuangannya selama ini─bahkan hingga
mengemis dan merendahkan harga dirinya di hadapan Hyukjae─akan berakhir sia-sia
hanya dalam hitungan detik jika dia tak mengawasi Hyukjae dan Hyunmi.
Jina hanya
terlalu mencintai Hyukjae, dan dia juga tak mau mengalah untuk yang ketiga
kalinya dari yeoja manapun.
Jina pernah
mengalah dua kali, dia sudah menelan pahitnya sakit hati selama masa itu.
Berulang kali dia harus menangis diam-diam dan tersenyum palsu saat bertemu
dengan kekasih Hyukjae. Dan saat ini, Jina ingin egois. Dia ingin memiliki
Hyukjae untuk dirinya sendiri, sekali saja, sekali seumur hidupnya.
Di sisi lain, Hyukjae
mengacak rambutnya frustasi melihat sikap Jina. Setelah sarapan selesai, yeoja
itu langsung menodongnya dengan berbagai pertanyaan, dia bahkan harus
meninggalkan meja makan terlebih dahulu─juga menyuruh Hyunmi menunggunya di
taman jika yeoja itu sudah menyelesaikan sarapannya─dan berdebat hampir
satu jam dengan Jina di sini. Hal apa yang sebenarnya Jina pikirkan hingga ia benar-benar
posesif akhir-akhir ini?
“Jina-ya,
mengertilah. Kami akan mengunjungi Eomma Hyunmi, ja─”
“Jadi aku tidak
bisa ikut maksudmu? Agar aku tidak menghancurkan kencan kalian setelahnya?!” sela
yeoja itu penuh emosi.
Hyukjae
menggertakkan gigi, berusaha sekuat tenaga agar tak membentak Jina. “Ada apa
denganmu, Choi Jina?!” desis namja itu, suaranya nyaris terdengar
menggeram.
Jina
mengepalkan tangan, “Aku hanya tidak ingin kehilanganmu Oppa, aku tidak
mau berkorban untuk yang ketiga kalinya.” seru yeoja itu tegas.
Dia muak jika
harus mengalah sekali lagi untuk yeoja lain. Dia juga ingin bahagia, dan
kebahagiannya hanya Hyukjae.
“Kau..” Hyukjae
kehabisan kata-kata, namja itu memandang Jina tak percaya dan
membalikkan badan. “Kita akan bicara lagi setelah kepalamu dingin. Aku akan
tetap berangkat dengan Hyunmi, dia pasti sudah menungguku di taman.” sambung
Hyukjae. Dia baru saja akan melangkah saat Jina tiba-tiba saja menyentakkan
tubuhnya berbalik dan yeoja itu menarik leher Hyukjae lalu menempelkan
bibir mereka.
Tak jauh dari
tempat Hyukjae dan Jina, Hyunmi membatu dengan sendirinya. Tubuhnya mendadak
tak bisa digerakkan melihat apa yang terjadi di depannya.
Tadinya,
setelah menunggu Hyukjae satu jam di taman tanpa tanda-tanda kemunculan namja
itu, Hyunmi berencana menyusul Hyukjae yang sedang bersama Jina. Namun begitu
dia menemukan kedua orang itu, keduanya sedang bertengkar. Hyunmi terpaksa
mengurungkan niatnya untuk memanggil Hyukjae saat mendengar Jina
menyebut-nyebut namanya, dan dia akhirnya menguping pembicaraan keduanya.
Namun yang
tidak Hyunmi sangka, perdebatan Hyukjae dan Jina dapat membuat perasaannya
sekacau ini. Hatinya terasa disayat tipis-tipis. Yeoja itu menggigit
bibir bawahnya, menahan teriakan yang akan lolos, Hyunmi segera berlari
meninggalkan tempat itu dengan setengah kesadaran yang tertinggal.
Tidak ada air
mata yang jatuh ke pipinya meskipun Hyunmi dapat merasakan hatinya meretak dan seolah
terbagi dua seketika itu juga. Ia terduduk di bangku taman sambil menatap
kosong pada bunga-bunga mawar yang bermekaran─seolah sedang mengejeknya.
Lama berdiam
ditelan perasaan sakit tak berdasar, Hyunmi akhirnya mengerjapkan mata,
tersadar. Dia menghela napas, memaksakan diri untuk berdiri. Kakinya melangkah
gontai menuju bangunan tamu, Hyukjae mungkin saja membatalkan rencana mereka
hari ini, jadi tak ada gunanya yeoja itu menunggu Hyukjae lebih lama
lagi. Dia lebih baik menghabiskan waktunya di kamar, seorang diri, merenungi
perasaan yang seharusnya tak tumbuh di hatinya.
Mungkin, dengan
merenung, Hyunmi juga dapat membunuh perasaan itu pelan-pelan.
Tapi, retakan
di hatinya semakin melebar begitu Hyunmi baru saja mencapai lorong di dekat
perpustakaan Istana. Yeoja itu sekuat tenaga mendorong kakinya yang
terasa lemas untuk melangkah, namun semakin jauh melangkah, kaki Hyunmi semakin
terasa susah digerakkan.
Yeoja itu
kembali menghela napas, berusaha membalas senyum ramah yang dilemparkan para
dayang Istana. Hyunmi memaki dalam hati ketika air mata yang daritadi berhasil
ia bendung perlahan mengintip lewat sudut matanya. Hyunmi menggelengkan kepala,
menolak gagasan tentang ia menangis di hadapan banyak orang.
Saat air
matanya semakin susah dibendung, Hyunmi segera masuk ke salah satu ruangan di
dekat perpustakaan. Dia langsung merosot di dekat pintu masuk dan menangis
tanpa suara.
Kepingan hati yang
Hyunmi jaga baik-baik selama ini, hancur menjadi debu begitu saja hanya karena
seorang namja yang bahkan baru dia kenal selama beberapa hari. Tangannya
refleks terangkat menyentuh dada, dan tangisnya semakin deras merasakan perih
itu kembali menyerangnya tanpa ampun.
Suara langkah
kaki yang mendekat ke arah ruangan tempatnya berada sekarang membuat wajah
Hyunmi yang dipenuhi air mata mendadak panik, dia tidak ingin ditemukan oleh
siapapun dalam keadaan kacau seperti ini. Sekali pun mungkin oleh pelayan.
Hyunmi
mengedarkan pandangan ke segala arah untuk mencari tempat bersembunyi, dan saat
itulah dia baru sadar bahwa dia telah masuk ke ruangan berdoa bagi bangsawan
maupun keluarga kerajaan yang telah meninggal terlebih dahulu─terlihat dari
berbagai macam foto yang ada.
Hyunmi
mengabaikan foto-foto itu dan lekas bersembunyi di balik lemari tak jauh
darinya. Tak berapa lama, pintu berderit terbuka, Hyunmi menyeka jejak air mata
di pipinya hingga tak berbekas dan semakin merapatkan diri pada lemari, berusaha
keras untuk tak terlihat oleh siapa pun yang baru saja masuk.
“Eonni,
apa yang harus kulakukan sekarang?” tanya orang itu.
Hyunmi menahan
napas saat mengenali suara tersebut adalah suara Jina. Hatinya menyesak, tapi
rasa penasaran tentang siapa orang yang baru saja dipanggil eonni oleh
Jina membuat Hyunmi menyembulkan kepalanya sedikit. Hyunmi langsung termangu
melihat Jina menangis sembari memandangi sebuah foto.
“Aku sudah
pernah melepasnya untukmu karena kau Eonniku─meskipun Eonni tiri,
aku juga sudah pernah melepasnya untuk yeoja dari dunia manusia itu. Tapi
sekarang, apa aku harus melepasnya lagi? Aku sudah banyak berkorban untuk bisa
berada di sampingnya seperti saat ini, Eonni.”
Apa
orang yang dimaksud Jina adalah Hyukjae? Dan siapa eonni
juga yeoja yang Jina maksud? batin Hyunmi tercenung, tamparan keras
tiba-tiba saja dirasakan Hyunmi saat melihat wajah yeoja di dalam foto
yang dipegang oleh Jina. Bukankah itu...
“Yeoja
di dalam foto itu, Eonnimu?”
Jina langsung
terperanjat, dia menoleh ke arah lemari dan mematung menemukan Hyunmi di sana,
wajah yeoja itu terlihat kacau, penuh dengan kebingungan tak berujung.
Jantung Jina berdebar dua kali lipat lebih cepat dari biasanya, apa Hyunmi
mengenal eonninya? “Memang mengapa kalau dia Eonniku?”
Hyunmi
bergeming, tangannya langsung terkepal kuat, dan Jina dapat merasakan aura
kebencian dari Hyunmi. “Pembunuh..”
“MWO?”
Jina langsung mencengkeram bahu Hyunmi keras mendengar perkataan yeoja
itu, “Katakan sekali lagi jika kau berani!” gertaknya tak terima.
Hyunmi balas
menatap Jina tepat di mata, dan Jina sempat tercekat melihat mata Hyunmi yang
berisi kekosongan, gelap. “Kau tahu? Eonnimulah yang membunuh Eonniku,
Eonnimulah yang menyebabkan aku mempunyai dendam seperti ini, dan..”
Hyunmi menjeda, menggantungkan kata-kata yang diucapkannya dengan nada sendu
tersebut, Hyunmi menghela lalu melanjutkan, “kalau tidak karena Eonnimu,
aku tak mungkin terjebak pada perasaan sial ini!”
Deg!
Jina tergugu
mendengar perkataan Hyunmi, tubuhnya kaku seketika, bahkan ketika Hyunmi
melewatinya sambil menyenggol bahu Jina keras, yeoja itu sama sekali tak
merasakan apa pun. Fakta yang baru saja diterimanya membuat ia seolah tersambar
petir.
Otak Jina
berusaha menolak kata-kata Hyunmi, namun hatinya mencerna kata-kata itu dengan
terlalu baik, Jina mendekap foto Eunjin di dadanya dengan kuat.
“Eonni,
kenapa kau melakukan ini padaku?” tanya Jina entah pada siapa.
Jina lalu
menatap foto yeoja cantik itu dengan saksama, berusaha mencari jawaban
atas pertanyaannya. Tak lama, Jina tersenyum miring, merasa bodoh karena
menunggu jawaban dari benda mati.
Jina masih
terdiam beberapa saat, memikirkan kejadian yang baru saja terjadi beberapa
menit yang lalu sebelum mendesah samar dan menyimpan kembali foto Eunjin. Dia
memejamkan mata dan berdoa, setelah itu, Jina melangkah keluar dengan pikiran
penuh.
Saat akan
mencapai gerbang Istana, yeoja itu tiba-tiba saja terkesiap begitu satu
pemikiran melintas di otaknya. Jina dengan cepat memutar langkah, setengah
berlari ke arah kamar Hyukjae.
Dia berhenti
begitu menemukan bayangan Hyukjae, Jina dengan cepat mencekal tangan Hyukjae,
memaksa namja itu berbalik dan menatapnya. Mata mereka bertemu, saling
menatap tajam satu sama lain.
Hyukjae
mendesah malas, “Apalagi yang ingin kau─”
Jina langsung
menyela dengan penekanan di setiap katanya, “Siapa sebenarnya yang kau cintai
sekarang, Oppa? Eunjin, aku, Ahna, atau... Hyunmi?”
***
Sooyoung
menutup pintu utama ruang Raja dengan senyum lebar di bibirnya. Yeoja
itu baru saja mendiskusikan konsep pernikahannya dan Jongwoon dengan Jungsoo,
dan dia cukup puas dengan konsep yang Jungsoo berikan. Dan sekarang, dia akan
pergi bersama para dayang untuk melihat baju pengantin untuk besok.
Tangan Sooyoung
masih berada di kenop pintu saat matanya tanpa sengaja menatap ke depan,
senyumnya langsung menghilang melihat Jongwoon dan Taeyoung sedang berjalan
bersisian sambil berpegangan tangan. Hati Sooyoung terbakar.
“Oppa!”
Keduanya
menoleh, tersentak dan langsung melepaskan genggaman tangan mereka. Sooyoung
segera memasang senyum manis ketika dia menghampiri keduanya dan bergelayut manja
di lengan Jongwoon.
“Kalian berdua
akan pergi ke dunia manusia?” tanyanya dengan nada semanis mungkin, Taeyoung
mengangguk enggan sedangkan Jongwoon hanya diam. “Taeyoung-ah, bisakah
aku meminjam calon suamiku sebentar sebelum kalian berangkat?” tanyanya
kemudian dengan nada manis, namun matanya menatap tajam pada Taeyoung.
Taeyoung
terdiam, tak tahu harus menjawab apa karena hatinya jelas-jelas meneriakkan
kata tidak. Mengapa ia harus meminjamkan Jongwoon untuk Sooyoung? Toh pada
akhirnya Sooyoung yang pasti akan memiliki Jongwoon.
Jongwoon hanya
dapat mendesah atas kedatangan Sooyoung yang tiba-tiba, dalam hati ia berpikir
mengapa Sooyoung harus mengacaukan hari terakhirnya bersama Taeyoung. “Apa yang
ingin kaubicarakan, Sooyoung-ah?” tanyanya malas.
Sooyoung
beralih menatap Jongwoon, memasang puppy eyes─yang demi Tuhan membuat
Taeyoung ingin sekali muntah─terbaiknya. “Oppa, aku perlu pendapatmu
untuk gaun pengantin. Tolong?”
Jongwoon
menghela napas, dia tidak bisa menolak. “Baik, tapi tidak lebih dari satu jam, ne?”
Ditanggapi anggukan antusias oleh Sooyoung, “tunggu aku di kursi itu, ne,
Youngie?” tanya Jongwoon kemudian pada Taeyoung, tangannya menunjuk sebuah
kursi panjang tak jauh dari tempat mereka berdiri sekarang.
Taeyoung
membuang wajah ke arah lain, “Aku sudah bilang kalau aku bisa berangkat
sendiri...” tandas Taeyoung, matanya berkaca-kaca. Jongwoon bahkan sama sekali
tak menolak keinginan Sooyoung, apa Taeyoung benar-benar tak mempunyai
kesempatan untuk berada di hati namja itu?
Jongwoon
termangu sejenak, otak dan hatinya sibuk berdebat. Hatinya berbisik agar
Jongwoon tetap tinggal dan menemani Taeyoung sekarang juga, namun otaknya
menyuruh Jongwoon untuk pergi bersama Sooyoung, demi Negara. Dan akhirnya, otak
Jongwoon menang.
Namja itu
mengulur napas diam-diam. “Aku sudah bilang akan mengantarmu, jangan
kemana-mana..” tegas namja itu pada Taeyoung lalu menyeret Sooyoung
meninggalkan Taeyoung.
Taeyoung
menghela napas panjang, setelah berpikir beberapa saat, dia lalu melangkah
menuju kursi terdekat yang ditunjuk Jongwoon tadi. Yeoja itu duduk di
sana dan tercenung, mereka ulang semua kejadian yang baru-baru ini terjadi di
hidupnya.
Taeyoung tak
tahu mengapa, namun semakin hari, dia merasa hidupnya semakin sulit. Dulu
sewaktu Taeyoung mencintai Sungkyo, dia tak pernah merasa hidupnya sesulit ini.
Taeyoung diam-diam berpikir bahwa hidupnya benar-benar sulit dimengerti.
“Hwangie, bogosippoyo..”
“Aish, Oppa.
Kita baru saja bertemu beberapa jam yang lalu, bagaimana bisa kau sudah
merindukanku, lagi?”
“Tentu saja
bisa!” Terdengar rengutan, lalu suara cekikan dari sang yeoja.
“Arraseo,
arraseo, kau tidak usah merengut, benar-benar jelek!”
“Ya! Kau ini!
Cepat kemari, aku ingin memelukmu.”
Lamunan
Taeyoung otomatis buyar mendengar suara berisik dari arah kiri, yeoja
itu refleks melihat ke arah kiri. Tersenyum iri melihat Kihwang─salah satu
tabib Istana berusia sama dengannya yang ia kenal lewat Jongwoon─sedang bersama
kekasihnya, Ryeowook─salah satu menteri yang usianya bahkan lebih muda dari
Hyukjae.
Senyum Taeyoung
tanpa sadar melebar ketika melihat Ryeowook merentangkan tangannya dan Kihwang
menghampiri namja itu dengan sikap malu-malu. Ryeowook mendekap Kihwang
erat, matanya memancarkan kasih sayang. Keduanya terlihat sangat manis, pikir
Taeyoung tak habis pikir.
Taeyoung lalu
melihat Ryeowook melepaskan pelukannya kemudian berbisik di telinga Kihwang
yang membuat Kihwang tersipu karena bisikannya. Dan setelah mengecup bibir
Kihwang sekejap, Ryeowook segera berlalu dengan senyum lebar di wajahnya.
Kihwang tampak
terkejut mendapat kecupan dari Ryeowook, namun tak berapa lama dia tersenyum
lebar dengan pipi merona. Taeyoung tersenyum geli melihat ekspresi Kihwang
meskipun dia benar-benar iri setengah mati karena keharmonisan hubungan Kihwang
dan Ryeowook.
Setelah melihat
Kihwang mengerjap dan menyadari keberadaannya, Taeyoung melambaikan tangan
untuk menyapa Kihwang.
“Youngie?
Kenapa masih di sini?” tanya Kihwang heran sambil duduk di sebelah Taeyoung.
“Bukannya kau dan Jongwoon Oppa akan pergi ke duniamu?” imbuhnya
kemudian heran.
Menunduk,
Taeyoung lantas mendesah samar. “Dia mengantar Sooyoung Eonni memilih
gaun.”
Ekspresi
Kihwang langsung berubah, dia terlihat menyesal telah bertanya. “Mianhae,
aku tidak tahu.” katanya sembari menggenggam tangan Taeyoung.
Taeyoung
mendongak, memaksakan senyum di bibirnya. “Gwaenchana, lagipula Sooyoung
Eonni lebih berhak atas Jongwoon Oppa.”
“Kau tidak
boleh memaksakan diri berpura-pura senang, Young.” sergah Kihwang prihatin, dia
mengeratkan genggamannya pada Taeyoung.
“Lalu aku harus
bersikap seperti apa, Hwangie? Apa aku harus marah dan berteriak kalau aku
mencintainya, hah? Begitu?” tanya Taeyoung penuh emosi.
Kihwang terkejut,
dia lantas mengusap-usap punggung Taeyoung mencoba menenangkan. “Mian,
aku memang tidak mengerti perasaanmu, tapi Young, ketahuilah, Jongwoon Oppa mempunyai
perasaan yang sama denganmu.”
Taeyoung
refleks menatap pada Kihwang, kepalanya menggeleng pelan. “Tak usah
menghiburku, jika Jongwoon Oppa mempunyai perasaan yang sama, namja
itu pasti tak akan menikah dengan Sooyoung Eonni besok.”
Kihwang
mendesah, “Dia punya alasan Young..”
Taeyoung baru
saja akan membalas perkataan Kihwang saat seseorang tiba-tiba saja memanggil yeoja
itu, Kihwang menoleh dan mengisyaratkan kata tunggu.
“Youngie, mianhae
aku tidak bisa menemanimu lebih lama, Shindong Oppa sepertinya butuh
bantuan untuk menangani prajurit yang terluka.” Taeyoung mengangguk dan Kihwang
berdiri, yeoja itu tersenyum pada Taeyoung dan melanjutkan perkataannya
dengan nada lembut. “Tapi Young, ingatlah, Jongwoon Oppa tahu yang
terbaik untuk kalian, apapun pilihannya.”
Taeyoung memutuskan
untuk mempercayai perkataan Kihwang. Jika Jongwoon memang tahu pilihan yang
terbaik bagi mereka berdua, Taeyoung akan belajar menerima apapun pilihannya
mulai dari sekarang. Taeyoung akan belajar merelakan jika pada akhirnya namja
itu memang tidak memilihnya.
Tapi hari ini,
sebelum Jongwoon benar-benar menjadi milik orang lain, Taeyoung ingin
menghabiskan waktunya bersama namja itu. Menikmati detik-detik terakhir
kebersamaan mereka yang di hari selanjutnya pasti tak bisa dia rasakan.
30 menit
kemudian, Jongwoon akhirnya menampakkan diri. Wajah namja itu terlihat
datar seperti biasa, namun saat melihat Taeyoung, dia menyunggingkan senyum
manis.
“Lama?”
Taeyoung
berdiri, membalas senyum Jongwoon dengan senyum tipis. Tekadnya sudah bulat
untuk melupakan semua masalah hatinya untuk sementara. “Tidak, kau lebih cepat
15 menit.” tukas Taeyoung, Jongwoon terkekeh, mengacak poni Taeyoung dengan
lembut.
“Baiklah, jadi,
kita akan menemui siapa tepatnya?” tanya Jongwoon sambil menggenggam tangan yeoja
itu, tapi dia segera melepaskan genggaman tangannya begitu teringat perjanjian
mereka di awal pertemuan. Jongwoon langsung menatap Taeyoung serius. “Youngie,
kau tidak akan menagih janjiku waktu dulu, ne? Kau tidak akan kembali
pada namja itu, kan?”
Taeyoung
termangu, bahkan pikiran untuk menghancurkan hidup Sungkyo dan membuat namja
itu mengemis cinta padanya lagi sudah menghilang sejak lama. Bagaimana
mungkin Taeyoung bisa meminta hal itu sementara dia sama sekali tak
menginginkannya sekarang?
“Aniyo,
tentu saja tidak.” Jawab Taeyoung yang membuahkan senyum lega di wajah
Jongwoon, Taeyoung tak bisa menahan hatinya yang melonjak kegirangan
mendapatkan senyum Jongwoon. “Lagipula aku mendapatkan banyak pelajaran
berharga sejak bertemu denganmu, dan aku sadar kalau balas dendam bukan hal
yang baik.”
“Aku senang
mendengarnya,” tanggap Jongwoon sambil kembali meraih tangan Taeyoung dan mulai
berjalan bersama yeoja itu. “Jadi, apa yang ingin kau minta sebagai
ganti permintaan pertamamu?”
Taeyoung
berpikir sejenak. Bagaimana kalau dirimu? Taeyoung sebenarnya ingin
sekali menanyakan hal tersebut, namun dia mengurungkan niatnya dan mencibir
dalam hati. Taeyoung sepertinya bermimpi terlalu tinggi kalau meminta hal
tersebut. “Entahlah Oppa, akan kupikirkan nanti..”
Jongwoon
memutuskan tak memaksa, “Geurae, jadi siapa yang ingin kau temui?”
Mereka berhenti di ujung lorong, Jongwoon membalikkan badan dan menatap
Taeyoung hangat.
Taeyoung
memberanikan diri balas menatap mata Jongwoon dengan tatapan tak kalah hangat
sebelum menjawab, “Aku ingin menemui Hanni Eonni. Banyak hal yang ingin
aku ceritakan padanya..” Jongwoon mengangguk, dan dalam hitungan detik keduanya
telah menghilang disapu angin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar