Entri yang Diunggulkan

Series Recommendations! đŸŽ„

Hi, happy Wednesday all! So decided to post my own personal series. I usually dont like watching movie, so because i watched those series ...

Sabtu, 15 Desember 2012

Brotherhood, Magic, and.. Love (Nine Part A)


NINE PART A

Cinta memberikan pilihan, dan pilihan memerlukan tanggung jawab.

Saat akhirnya kau berani memilih, maka saat itu juga kau harus berani bertanggung jawab.

***
M

ENDUNG menggantung di langit kota Tokyo saat Hyerin dan Donghae tiba. Keduanya berjalan bersisian menuju kampus Hyerin tanpa berucap sepatah katapun, sibuk ditelan pikiran masing-masing. Jalanan kota Tokyo terlihat lengang, pejalan kaki hanya terlihat satu-dua berkeliaran. Orang-orang sibuk dengan sekolah dan pekerjaan mereka.

Donghae mengerang dalam hati, tidak menyukai kesunyian yang terjadi di antara mereka berdua. Namja itu menghentikan langkah, menggapai tangan Hyerin untuk membuat yeoja itu berhenti dan menatapnya tepat di mata.

“Hyerin-ah, berhentilah mengacuhkanku!” kata Donghae setengah berteriak.

Hyerin menghela napas, menepis tangan Donghae dan menatap namja itu dengan wajah datar, “Itu hanya perasaanmu saja, Oppa.” jawabnya tak acuh lalu kembali berjalan, gerbang kampus sudah terlihat di depan. Dan Hyerin baru menyadari bahwa dia sungguh merindukan suasana kampus meskipun hanya Heesun satu-satunya sahabat yang dimilikinya.

Donghae menatap punggung Hyerin dengan tatapan terluka, beberapa saat hanya diam, Donghae lekas membawa kakinya mengikuti kemana Hyerin berjalan. Pikirannya penuh dengan berbagai cara agar Hyerin mau bersikap seperti biasanya padanya hingga Donghae tidak sadar dia sudah memasuki area kampus.

Donghae mengulum senyum kecil saat melihat Heesun tengah memeluk Hyerin, namja itu baru saja akan menghampiri keduanya saat melihat Baekhyun berjalan ke arah Hyerin. Dan tanpa terhitung waktu, namja itu sekarang telah menggantikan posisi Heesun yang memeluk Hyerin. Tangan Donghae terkepal dengan sendirinya, dia membalikkan badan, menolak melihat pemandangan seperti itu.

Jadi, kau benar-benar mencintai Baekhyunmu itu? bisik Donghae dalam hati, dia menahan napas beberapa detik sebelum memejamkan mata, meresapi sesak yang perlahan memenuhi sudut demi sudut hatinya. Apakah aku harus melepasmu setelah aku menyadari perasaan ini dan memilihmu daripada Yoona?

“Hyerin-ah!”

Hyerin mengerjap mendengar panggilan Baekhyun tepat di samping telinganya, yeoja itu lekas melepaskan diri dari Baekhyun, memalingkan wajah sebentar untuk menghapus setitik air mata yang lolos begitu saja dari matanya melihat Donghae berjalan meninggalkan kampusnya. Hyerin merasa bodoh karena ia sempat berharap Donghae akan terus membujuknya dan memilih ia daripada Yoona, kenyataannya, Donghae pasti tak akan pernah bersikap sesuai harapannya.

Ye, waeyo, Oppa?” tanya Hyerin sambil mencoba tersenyum.

Baekhyun menatapnya dengan pandangan penuh pertanyaan sebelum memutuskan menggeleng dan tersenyum.

“Ya! Hyerin-ah, kemana saja kau hampir dua bulan ini?!” tanya Heesun sambil memukul lengan Hyerin pelan, mencerminkan kekhawatiran dan kekesalan sekaligus.

Hampir dua bulan? Bukannya Hyerin baru dua hari berada di Negeri Donghae? Hyerin mengerutkan dahi, tampak berpikir. Tak berapa lama, dia tersenyum kecil begitu teringat perbedaan waktu antara dunia manusia dan Negeri Donghae. 1 jam di sana sama dengan 1 hari di sini, bukan? “Mianhae, Sun-ah, aku ada keperluan di luar kota.” kata Hyerin sungguh-sungguh sambil merangkul Heesun.

Heesun menghela napas, menekan kekesalannya hingga ke dasar. “Kau ini! Aku mencemaskanmu.”

Hyerin terkekeh kecil, “Aigo, kau mencemaskanku? Manis sekali.”

Heesun langsung mengerucutkan bibir, “Lagipula bukan hanya aku yang mencemaskanmu, babo! Baekhyun Oppa lebih cemas, dia selalu menanyakan kabarmu setiap hari padaku, benar-benar berisik!” adu Heesun, mengerling pada Baekhyun yang langsung nampak kesal.

“Ya! Heesun-ah, kenapa kau harus memberitahukannya?”

Heesun tertawa, senang menggoda Baekhyun, apalagi melihat Baekhyun tampak salah tingkah pada Hyerin, ini merupakan hiburan yang sangat menyenangkan baginya. Sedangkan Hyerin hanya bisa tersenyum tipis mendengarnya.

Andai saja Hyerin masih seperti dulu, andai saja Donghae belum hadir, andai saja rasa ini belum tumbuh, Hyerin pasti akan dengan senang setengah mati mendengar perkataan Heesun. Yah, andai saja...

“Omong-omong, sejak kapan kalian berdua akrab?” tanya Heesun membuat pikiran Hyerin yang sedang bercabang kemana-mana terurai seketika. Hyerin melirik ke arah Baekhyun yang tampak tersenyum kecil.

“Ingat sewaktu aku dan yang lainnya mengajakmu ke taman hiburan?” tanya Baekhyun yang disambut anggukan Heesun. “Aku bertemu Hyerin di sana..”

“Dan kalian menghabiskan waktu bersama?” tebak Heesun, “Ya! Kalian berkencan!” teriak Heesun heboh membuat Hyerin terpaksa mencubit lengannya karena banyak mahasiswa melihat ke arah mereka sekarang. “Appo, aku kan hanya terlalu senang, Hyerin-ah. Kau jahat sekali!” dengus Heesun merengut.

Baekhyun tertawa, “Tapi kau terlalu berisik Heesun-ah.” katanya meledek, Heesun mendelik namun tak berkomentar apa pun karena ia kini sibuk menyeret Hyerin ke kantin untuk ditanyai berbagai macam pertanyaan. Baekhyun mendesah, tapi mengikuti keduanya dari belakang. Dia sangat senang melihat Hyerin di sini lagi. Dia senang bisa merasakan debaran hangat ini lagi, debaran yang hanya bisa tercipta jika ada Hyerin di sampingnya.

Saat sampai di meja Hyerin dan Heesun, Baekhyun mendecak heran melihat Heesun yang tampak tak bisa berhenti bicara. Namja itu lalu duduk di depan keduanya, ikut mendengarkan cerita Heesun dengan mata yang tak lepas dari wajah Hyerin.

Hyerin sebenarnya tahu bahwa Baekhyun mengamatinya sedari tadi, namun ia berpura-pura tak peduli. Lantas memang kenapa kalau Baekhyun memerhatikannya? Lagipula rasa itu pun telah musnah karena kehadiran Donghae.

“Kau tahu? Dosen Kamikaze menjadi sangat seram akhir-akhir ini, anak-anak menduga itu semua karena dia kehilangan murid kesayangannya, Han Hyerin tersayang.” Heesun tertawa setelah menyelesaikan kalimatnya, Baekhyun ikut tertawa sementara Hyerin mendengus kecil, Heesun tampak senang sekali menggodanya. “Aigo, aku ada kelas 5 menit lagi!” seru Heesun panik beberapa detik kemudian saat matanya tanpa sengaja melirik ke arah jam tangan, “Hyerin-ah, aku masuk dulu, ne? Jangan kemana-mana, kau berhutang banyak cerita padaku! Dan kau Oppa, tolong jaga Hyerin.” kata Heesun dalam sekali tarikan napas sambil membenahi barang-barangnya, yeoja itu keluar kantin dengan berlari setelah memeluk Hyerin sekilas.

“Bagaimana kabarmu?”

Hyerin mengalihkan pandangannya dari arah pintu kantin pada Baekhyun, dia tersenyum kecil dan menjawab, “Baik-baik saja, terimakasih sudah mencemaskanku, Oppa.”

Baekhyun membalas senyum kecil Hyerin dengan senyum manis yang sempurna, namja itu mengulurkan tangan untuk menyentuh tangan Hyerin yang ada di atas meja. “Gwaenchanayo, aku senang kau baik-baik saja..”

Hyerin memandangi tangan Baekhyun yang mengusap tangannya dengan tatapan sayu. Apa sikap Baekhyun yang sangat manis seperti ini akibat sihir cinta yang Donghae janjikan? Kalau begitu, mengapa tak ada yang bisa menyayanginya dengan tulus tanpa bantuan sihir?

“Ah, kau pasti lapar! Biar Oppa pesankan sesuatu, ne?” tawar Baekhyun yang melihat Hyerin tertegun. Hyerin terkesiap, dia mengangkat wajah untuk melontarkan penolakan, namun sayang Baekhyun sudah terlebih dahulu berjalan ke stand makanan.

Sambil menunggu kedatangan Baekhyun, Hyerin mendesah samar lantas merogoh saku bajunya. Senyum miris tersungging di bibir Hyerin melihat kalung kerang yang diberikan Donghae sewaktu mereka di pantai. Kalau boleh, Hyerin ingin sekali kembali ke masa itu agar dia bisa mencegah dirinya supaya tidak jatuh cinta pada Donghae seperti ini. Karena sekarang, sangat sulit baginya untuk lepas dari bayang-bayang Donghae. Namja itu, telah membuatnya terjebak begitu dalam.

Selang beberapa menit, Baekhyun telah kembali dengan membawa nampan makanan. Namja itu menyimpan nampan makanan di depan Hyerin, sementara ia sendiri berdiri di sebelah yeoja itu, seolah menunggu sesuatu.

Oppa, kenapa kau tidak duduk?” tanya Hyerin heran sembari menggeser nampan itu agar lebih dekat padanya, dia mengenyitkan dahinya saat sadar bahwa makanan yang dibawakan oleh Baekhyun diberi tudung sehingga ia tak tahu makanan apa yang ada di dalamnya. “Makanan apa yang ada di dalam tudung ini?” tanya Hyerin, menatap Baekhyun yang masih setia berdiri di sebelahnya dengan keheranan yang memuncak.

Baekhyun tersenyum misterius, “Bukalah jika kau ingin tahu..”

Tangan kanan Hyerin bergerak membuka tudung yang terbuat dari logam itu, dia langsung mencengkeram kalung kerang pemberian Donghae di tangan kirinya dengan kuat. Hyerin kembali memandang Baekhyun tak menyangka, “Oppa, ini..”

Baekhyun mengangguk, dia mengambil sebuah cincin emas putih dengan berlian berwarna biru di piring itu lantas berlutut di hadapan Hyerin. Baekhyun menghela napas, lalu mendongak dan menatap Hyerin dengan tatapan paling teduh yang pernah Hyerin lihat.

“Aku tahu ini mungkin terlalu cepat, kita tidak pernah akrab sebelumnya, tapi aku selalu memperhatikanmu dari jauh. Dan aku, aku mencintaimu. Jeongmal saranghae, Han Hyerin, jadilah kekasihku.” pinta Baekhyun sungguh-sungguh, menggenggam tangan kanan Hyerin erat sambil menyodorkan cincin tersebut.

Hyerin mengatupkan mulutnya rapat-rapat. Dia memejamkan mata tak berani melihat pada Baekhyun. Sorakan riuh dari mahasiswa lain yang ada di kantin kampus─menyuruhnya untuk menerima Baekhyun─memenuhi gendang telinganya. Keraguan mulai memprovokasi Hyerin. Haruskah Hyerin tetap menunggu Donghae atau kembali membuka hati untuk Baekhyun?

Cengkeraman tangan kiri Hyerin pada kalung kerang semakin menguat─membuat buku jarinya memutih─saat ia membuka mata untuk menatap mata Baekhyun yang dipenuhi binar penuh harapan.

Dia sudah memilih, semoga pilihannya ini memang yang terbaik.

Hyerin mengembuskan napas, membuka mulut untuk menjawab, membuat suasana kantin mendadak hening, tegang menunggu jawaban yang akan keluar dari bibir yeoja itu, begitupun dengan Baekhyun yang sudah mengeluarkan keringat dingin.

***

Wajah-wajah Eropa yang penasaran disertai beberapa bisikan mengikuti langkah Saera, Kyuhyun, dan Yeonhee saat ketiganya menyusuri lorong rumah sakit Fatebenefratelli di Roma menuju kamar VIP nomor 20 dimana Sungmin berada.

Yeonhee menggerak-gerakkan matanya tak nyaman sebab merasa diawasi, dia benci saat ada banyak mata yang menatapnya, dia juga benci saat bisikan-bisikan itu terdengar sampai ke telinganya. Tidak bisakah orang-orang itu mengabaikan mereka saja?

“Aish, Saera-ya, apa kita terlalu aneh bagi mereka?” tanya Yeonhee dengan suara rendah pada Saera di sampingnya, nada sebal jelas terdengar dari perkataannya.

Saera terkekeh pelan lalu menjawab dengan santai, “Tenanglah Eonni, mereka tidak akan menculikmu meskipun mereka tengah membicarakanmu.”

Yeonhee mendengus, ekor matanya melirik sinis pada Kyuhyun yang bersiul-siul tenang seolah tak terjadi apapun dengan tangan yang melingkari pinggang Saera dengan nyaman. Kenapa namja itu harus memaksanya ikut? Kenapa bukan Kihwang saja? Cho Kyuhyun kadang memang keterlaluan, kalau saja Yeonhee tak ingat namja itu Pangeran, dia pasti tak akan sudi menuruti perintahnya!

“Aku tahu aku tampan, tapi berhentilah menatapku seperti itu karena aku sudah punya Saera, Yeonhee-ya.” celetuk Kyuhyun tiba-tiba yang membuahkan tawa renyah dari Saera dan pelototan dari Yeonhee.

“Ya! Oppa, kau mempelajari kata-kata semanis itu dari siapa?” tanya Saera pura-pura curiga, matanya memicing pada Kyuhyun dengan mimik lucu.

Kyuhyun tak langsung menjawab, namja itu berhenti di depan pintu kamar rawat Sungmin, menangkup kedua pipi Saera dan mencubitnya dengan lembut. “Tentu saja darimu, dasar babo..” ledek Kyuhyun kemudian tertawa melihat Saera menggembungkan pipinya sebal, Yeonhee mengamati sepasang kekasih itu dengan jengah. Inilah hal yang tidak disukainya jika bepergian dengan sepasang kekasih, ia pasti akan diabaikan habis-habisan!

“Kau mengataiku babo lagi, aku membencimu!” seru Saera kesal.

Kyuhyun terkekeh kecil, “Nado saranghae..” balasnya ringan.

Pipi Saera bersemu merah, Kyuhyun jadi sangat suka menggodanya saat mereka sudah menjadi sepasang kekasih. Menyebalkan memang, tapi hal ini juga menyenangkan bagi Saera, karena dia senang melihat Kyuhyun tertawa saat Saera tersipu. Setidaknya dengan menggoda Saera, Kyuhyun menjadi lebih banyak tertawa.

“Kau manis saat tersipu seperti ini,” bisik Kyuhyun di telinga Saera, membuat rona merah di pipi Saera sontak semakin kentara.

Kyuhyun tersenyum puas melihat bagaimana kata-katanya bisa membuat Saera semerah ini, dia mendekatkan wajah untuk mengecup bibir yeojanya saat Yeonhee tiba-tiba saja berteriak.

“Ya! Ya! Berhentilah berlovey dovey di hadapanku! Kalian menodai mata suciku!” Saera terkikik melihat wajah sebal Kyuhyun karena Yeonhee berhasil membatalkan niatnya, dia lalu berjalan masuk ke dalam kamar Sungmin.

“Kau benar-benar berisik, Song Yeonhee..” desis Kyuhyun dan mengikuti Saera masuk. Langkahnya langsung terhenti seketika begitu melihat Saera tengah duduk di kursi dekat ranjang Sungmin, membelai rambut namja itu dengan tatapan penuh rindu. Kyuhyun tanpa sadar tersenyum, senang melihat seberapa besar kasih sayang Saera untuk dongsaengnya.

“Saera sepertinya Noona yang baik.” komentar Yeonhee saat dia sudah berdiri di samping Kyuhyun yang masih memerhatikan Saera.

Tanpa menoleh, Kyuhyun merespons. “Tentu, Sungmin keluarga Saera satu-satunya. Yeoja itu sangat menyayangi Sungmin. Sungmin salah satu kebahagiannya.”

Yeonhee tertegun, baru kali ini melihat Kyuhyun menampakkan perhatian yang besar untuk seseorang. “Oppa, kau... sangat mencintainya?” tanya Yeonhee hati-hati.

Kyuhyun akhirnya menatap pada Yeonhee, matanya berbinar penuh ketulusan. “Kau tidak akan tahu seberapa sayangnya aku pada Saera, karena itu tolong kembalikan Sungmin.”

Yeonhee terpekur menatap mata Kyuhyun, dia langsung tercekat begitu menemukan kesungguhan di mata namja itu. Kyuhyun, orang yang selama ini ia kenal tak pernah menunjukkan rasa sayang sebesar ini pada siapapun sebelumnya. Tak urung, Yeonhee menyunggingkan senyum hangat, cinta memang bisa mengubah apa saja.

“Baiklah, mungkin aku bisa melakukan sesuatu untuk menanggalkan sihir itu.” sahut Yeonhee, berjalan ke arah ranjang Sungmin dan ikut mengamati namja itu seperti yang tengah Saera lakukan.

“Dia bisa membuka mata kembali, kan, Eonni?” tanya Saera begitu menyadari keberadaan Yeonhee di sisinya, nada bicaranya penuh dengan harapan.

Yeonhee mengulurkan tangan untuk mengusap pundak Saera lembut, “Aku akan berusaha.”

Kyuhyun menghampiri Saera, mengulurkan tangan agar yeoja itu berdiri dan membiarkan Yeonhee memeriksa Sungmin. Saera mengecup pelipis Sungmin sebentar lalu menerima uluran tangan Kyuhyun, mereka berdua berjalan ke sisi lain ranjang Sungmin agar Yeonhee bisa lebih leluasa memeriksa Sungmin. Kyuhyun kemudian melingkarkan tangannya pada pundak Saera, memaksa Saera untuk bersandar di dadanya.

Namja itu mendekatkan bibirnya pada telinga Saera, berbisik dengan suara rendah yang entah mengapa mampu membuat Saera merasa tenang, “Dia akan baik-baik saja, Yeonhee tabib yang hebat..”

Saera mengusap tangan Kyuhyun yang melingkari lehernya dengan mata yang tak lepas dari Sungmin, “Aku berharap seperti itu, Oppa.”

Cahaya ungu muda keluar dari tangan Yeonhee saat yeoja itu memeriksa keadaan Sungmin dari ujung kaki hingga ujung kepala, matanya berkilat keunguan dan wajahnya terlihat sangat serius. Saat cahaya di tangannya perlahan memudar, Yeonhee menyingkarkan poni Sungmin agar tak menghalangi wajah namja itu. Dia sejenak terpaku melihat wajah tampan Sungmin yang terlihat begitu damai di tidurnya, selang beberapa detik, Yeonhee lantas menggeleng menolak pemikirannya barusan.

Yeonhee mengambil tangan Sungmin untuk memeriksa denyut nadinya, setelah itu dia meletakkan kedua tangannya di depan dada Sungmin. Matanya kembali berubah ungu seiring dengan keluarnya cahaya ungu yang menembus dada Sungmin, tubuh Sungmin bergetar pelan.

Saera mengamatinya dengan tegang, tangannya meremas tangan Kyuhyun dengan kuat, Kyuhyun balik meremas tangan Saera untuk memberinya kekuatan.

“Engg..” erang Sungmin, matanya pelan-pelan terbuka. Sungmin mengerjapkan matanya beberapa kali, menyesuaikan cahaya yang masuk ke retina matanya. Saera menahan napas, “Noona?” panggil Sungmin ragu ketika matanya menangkap wajah Saera.

“Sungmin-ah!” seru Saera sambil menghambur memeluk Sungmin, air matanya mengalir begitu saja, Saera terlalu bahagia melihat Sungmin membuka matanya.

Saera telah menunggu setahun penuh untuk saat-saat ini, sudah begitu banyak rintangan yang ia lewati seorang diri tanpa kehadiran Sungmin. Sudah banyak manis-pahitnya kehidupan yang ia arungi dengan bayang-bayang kematian dongsaeng satu-satunya.

Air mata Saera mengalir semakin deras saat semua kenangan itu berputar di otaknya, dia terisak pelan sambil menikmati belaian tangan Sungmin di rambutnya. Saera sekarang benar-benar merasa sempurna. Ada Sungmin, dongsaeng yang sangat ia sayangi, dan ada Kyuhyun, namja yang sangat ia cintai.

Yeonhee segera mengusap air mata yang mengalir di pipinya begitu dia terjaga dari lamunan, Yeonhee memang gampang tersentuh, dan melihat momen mengharukan seperti ini tak ayal membuat dia ikut menangis. Sementara Kyuhyun hanya mampu berdiri di tempatnya dengan wajah penuh kelegaan, dia lega karena akhirnya Sungmin terbangun, dan dia lega melihat wajah Saera yang benar-benar tanpa beban lagi sekarang.

Bogoshippoyo, Sungmin-ah..” bisik Saera di sela-sela isakannya.

Sungmin melepaskan pelukan Saera dengan perlahan, diusapnya air mata di pipi noonanya itu dengan lembut, Sungmin menyunggingkan senyum tipis sebelum berkata, “Nado bogoshippo, Noona. Berhentilah menangis, kau terlihat jelek saat menangis, lagipula sekarang aku sudah bangun, bukan?”

Saera memukul bahu Sungmin pelan sembari mencoba untuk tersenyum, “Babo, kau membuatku hampir mati putus asa setahun ini!” serunya dengan nada marah yang dibuat-buat, Sungmin terkekeh pelan.

“Tapi kau tidak mati putus asa, bukan, Noona?” balas Sungmin menggoda, kelegaan merambati hatinya melihat Saera ternyata baik-baik saja selama ia tertidur.

Tak berselang lama, Kyuhyun berdeham. Dehaman Kyuhyun sontak membuat Saera dan Sungmin menoleh ke arahnya. Saera tertawa kecil, seolah baru tersadar bahwa Kyuhyun berada di sini. Yeoja itu lekas mengusap sisa-sisa air mata di pipinya dan menggamit tangan Kyuhyun, tersenyum manis.

“Sungmin-ah, ini namjachinguku. Park Kyuhyun,” beritahu Saera, Sungmin tersenyum ramah menyambut uluran tangan Kyuhyun yang dibalas Kyuhyun dengan senyuman tak kalah ramah.

“Terimakasih karena telah menjaga Noonaku, Hyung. Dia tidak merepotkan, bukan?” tanya Sungmin yang membuat Kyuhyun tertawa renyah.

Saera memutar bola matanya mendengar pertanyaan Sungmin, dia lalu menatap pada Yeonhee, “Ah, Sungmin-ah, yeoja di sebelah kananmu itu Song Yeonhee, dia yang telah membuatmu bangun. Ucapkan terimakasih padanya.”

Sungmin yang mendengar perkataan Saera segera memutar kepala ke arah kanan, tertegun ketika matanya dan mata Yeonhee bertemu. Namja itu tak lama mengulas senyum, “Bidadari...” bisiknya riang yang membuat Yeonhee tergugu, Sungmin cepat-cepat memutar kepalanya ke arah Saera dan Kyuhyun lagi dengan wajah berbinar. “Noona, sepertinya aku sudah menemukan calon adik ipar untukmu!”

Tawa Kyuhyun meledak mendengar perkataan Sungmin, Saera mendecak, sementara Yeonhee hanya mampu ternganga sambil memandang tak percaya pada Sungmin.

***

“Kenapa aku tidak bisa ikut?!” tanya Jina setengah berteriak, wajahnya memerah memancarkan amarah yang bergumul di dadanya.

Saat tahu Hyukjae akan pergi ke Seoul berdua dengan Hyunmi, yeoja itu langsung merasakan darahnya naik ke ubun-ubun. Sejak awal, meskipun dia tak terlalu mengenal Hyunmi, Jina memang sudah tak menyukai yeoja itu. Dia hanya takut bahwa suatu saat nanti Hyukjae akan menemukan keberanian untuk melepaskan ikatan dengannya karena yeoja itu.

Jina hanya takut, apalagi ditambah dengan fakta bahwa Kyuhyun dan Donghae pun berani berpisah dari Victoria dan Yoona hanya karena yeoja-yeoja dari dunia manusia itu. Jina hanya takut, dia takut perjuangannya selama ini─bahkan hingga mengemis dan merendahkan harga dirinya di hadapan Hyukjae─akan berakhir sia-sia hanya dalam hitungan detik jika dia tak mengawasi Hyukjae dan Hyunmi.

Jina hanya terlalu mencintai Hyukjae, dan dia juga tak mau mengalah untuk yang ketiga kalinya dari yeoja manapun.

Jina pernah mengalah dua kali, dia sudah menelan pahitnya sakit hati selama masa itu. Berulang kali dia harus menangis diam-diam dan tersenyum palsu saat bertemu dengan kekasih Hyukjae. Dan saat ini, Jina ingin egois. Dia ingin memiliki Hyukjae untuk dirinya sendiri, sekali saja, sekali seumur hidupnya.

Di sisi lain, Hyukjae mengacak rambutnya frustasi melihat sikap Jina. Setelah sarapan selesai, yeoja itu langsung menodongnya dengan berbagai pertanyaan, dia bahkan harus meninggalkan meja makan terlebih dahulu─juga menyuruh Hyunmi menunggunya di taman jika yeoja itu sudah menyelesaikan sarapannya─dan berdebat hampir satu jam dengan Jina di sini. Hal apa yang sebenarnya Jina pikirkan hingga ia benar-benar posesif akhir-akhir ini?

“Jina-ya, mengertilah. Kami akan mengunjungi Eomma Hyunmi, ja─”

“Jadi aku tidak bisa ikut maksudmu? Agar aku tidak menghancurkan kencan kalian setelahnya?!” sela yeoja itu penuh emosi.

Hyukjae menggertakkan gigi, berusaha sekuat tenaga agar tak membentak Jina. “Ada apa denganmu, Choi Jina?!” desis namja itu, suaranya nyaris terdengar menggeram.

Jina mengepalkan tangan, “Aku hanya tidak ingin kehilanganmu Oppa, aku tidak mau berkorban untuk yang ketiga kalinya.” seru yeoja itu tegas.

Dia muak jika harus mengalah sekali lagi untuk yeoja lain. Dia juga ingin bahagia, dan kebahagiannya hanya Hyukjae.

“Kau..” Hyukjae kehabisan kata-kata, namja itu memandang Jina tak percaya dan membalikkan badan. “Kita akan bicara lagi setelah kepalamu dingin. Aku akan tetap berangkat dengan Hyunmi, dia pasti sudah menungguku di taman.” sambung Hyukjae. Dia baru saja akan melangkah saat Jina tiba-tiba saja menyentakkan tubuhnya berbalik dan yeoja itu menarik leher Hyukjae lalu menempelkan bibir mereka.

Tak jauh dari tempat Hyukjae dan Jina, Hyunmi membatu dengan sendirinya. Tubuhnya mendadak tak bisa digerakkan melihat apa yang terjadi di depannya.

Tadinya, setelah menunggu Hyukjae satu jam di taman tanpa tanda-tanda kemunculan namja itu, Hyunmi berencana menyusul Hyukjae yang sedang bersama Jina. Namun begitu dia menemukan kedua orang itu, keduanya sedang bertengkar. Hyunmi terpaksa mengurungkan niatnya untuk memanggil Hyukjae saat mendengar Jina menyebut-nyebut namanya, dan dia akhirnya menguping pembicaraan keduanya.

Namun yang tidak Hyunmi sangka, perdebatan Hyukjae dan Jina dapat membuat perasaannya sekacau ini. Hatinya terasa disayat tipis-tipis. Yeoja itu menggigit bibir bawahnya, menahan teriakan yang akan lolos, Hyunmi segera berlari meninggalkan tempat itu dengan setengah kesadaran yang tertinggal.

Tidak ada air mata yang jatuh ke pipinya meskipun Hyunmi dapat merasakan hatinya meretak dan seolah terbagi dua seketika itu juga. Ia terduduk di bangku taman sambil menatap kosong pada bunga-bunga mawar yang bermekaran─seolah sedang mengejeknya.

Lama berdiam ditelan perasaan sakit tak berdasar, Hyunmi akhirnya mengerjapkan mata, tersadar. Dia menghela napas, memaksakan diri untuk berdiri. Kakinya melangkah gontai menuju bangunan tamu, Hyukjae mungkin saja membatalkan rencana mereka hari ini, jadi tak ada gunanya yeoja itu menunggu Hyukjae lebih lama lagi. Dia lebih baik menghabiskan waktunya di kamar, seorang diri, merenungi perasaan yang seharusnya tak tumbuh di hatinya.

Mungkin, dengan merenung, Hyunmi juga dapat membunuh perasaan itu pelan-pelan.

Tapi, retakan di hatinya semakin melebar begitu Hyunmi baru saja mencapai lorong di dekat perpustakaan Istana. Yeoja itu sekuat tenaga mendorong kakinya yang terasa lemas untuk melangkah, namun semakin jauh melangkah, kaki Hyunmi semakin terasa susah digerakkan.

Yeoja itu kembali menghela napas, berusaha membalas senyum ramah yang dilemparkan para dayang Istana. Hyunmi memaki dalam hati ketika air mata yang daritadi berhasil ia bendung perlahan mengintip lewat sudut matanya. Hyunmi menggelengkan kepala, menolak gagasan tentang ia menangis di hadapan banyak orang.

Saat air matanya semakin susah dibendung, Hyunmi segera masuk ke salah satu ruangan di dekat perpustakaan. Dia langsung merosot di dekat pintu masuk dan menangis tanpa suara.

Kepingan hati yang Hyunmi jaga baik-baik selama ini, hancur menjadi debu begitu saja hanya karena seorang namja yang bahkan baru dia kenal selama beberapa hari. Tangannya refleks terangkat menyentuh dada, dan tangisnya semakin deras merasakan perih itu kembali menyerangnya tanpa ampun.

Suara langkah kaki yang mendekat ke arah ruangan tempatnya berada sekarang membuat wajah Hyunmi yang dipenuhi air mata mendadak panik, dia tidak ingin ditemukan oleh siapapun dalam keadaan kacau seperti ini. Sekali pun mungkin oleh pelayan.

Hyunmi mengedarkan pandangan ke segala arah untuk mencari tempat bersembunyi, dan saat itulah dia baru sadar bahwa dia telah masuk ke ruangan berdoa bagi bangsawan maupun keluarga kerajaan yang telah meninggal terlebih dahulu─terlihat dari berbagai macam foto yang ada.

Hyunmi mengabaikan foto-foto itu dan lekas bersembunyi di balik lemari tak jauh darinya. Tak berapa lama, pintu berderit terbuka, Hyunmi menyeka jejak air mata di pipinya hingga tak berbekas dan semakin merapatkan diri pada lemari, berusaha keras untuk tak terlihat oleh siapa pun yang baru saja masuk.

Eonni, apa yang harus kulakukan sekarang?” tanya orang itu.

Hyunmi menahan napas saat mengenali suara tersebut adalah suara Jina. Hatinya menyesak, tapi rasa penasaran tentang siapa orang yang baru saja dipanggil eonni oleh Jina membuat Hyunmi menyembulkan kepalanya sedikit. Hyunmi langsung termangu melihat Jina menangis sembari memandangi sebuah foto.

“Aku sudah pernah melepasnya untukmu karena kau Eonniku─meskipun Eonni tiri, aku juga sudah pernah melepasnya untuk yeoja dari dunia manusia itu. Tapi sekarang, apa aku harus melepasnya lagi? Aku sudah banyak berkorban untuk bisa berada di sampingnya seperti saat ini, Eonni.”

Apa orang yang dimaksud Jina adalah Hyukjae? Dan siapa eonni juga yeoja yang Jina maksud? batin Hyunmi tercenung, tamparan keras tiba-tiba saja dirasakan Hyunmi saat melihat wajah yeoja di dalam foto yang dipegang oleh Jina. Bukankah itu...

Yeoja di dalam foto itu, Eonnimu?”

Jina langsung terperanjat, dia menoleh ke arah lemari dan mematung menemukan Hyunmi di sana, wajah yeoja itu terlihat kacau, penuh dengan kebingungan tak berujung. Jantung Jina berdebar dua kali lipat lebih cepat dari biasanya, apa Hyunmi mengenal eonninya? “Memang mengapa kalau dia Eonniku?”

Hyunmi bergeming, tangannya langsung terkepal kuat, dan Jina dapat merasakan aura kebencian dari Hyunmi. “Pembunuh..”

MWO?” Jina langsung mencengkeram bahu Hyunmi keras mendengar perkataan yeoja itu, “Katakan sekali lagi jika kau berani!” gertaknya tak terima.

Hyunmi balas menatap Jina tepat di mata, dan Jina sempat tercekat melihat mata Hyunmi yang berisi kekosongan, gelap. “Kau tahu? Eonnimulah yang membunuh Eonniku, Eonnimulah yang menyebabkan aku mempunyai dendam seperti ini, dan..” Hyunmi menjeda, menggantungkan kata-kata yang diucapkannya dengan nada sendu tersebut, Hyunmi menghela lalu melanjutkan, “kalau tidak karena Eonnimu, aku tak mungkin terjebak pada perasaan sial ini!”

Deg!

Jina tergugu mendengar perkataan Hyunmi, tubuhnya kaku seketika, bahkan ketika Hyunmi melewatinya sambil menyenggol bahu Jina keras, yeoja itu sama sekali tak merasakan apa pun. Fakta yang baru saja diterimanya membuat ia seolah tersambar petir.

Otak Jina berusaha menolak kata-kata Hyunmi, namun hatinya mencerna kata-kata itu dengan terlalu baik, Jina mendekap foto Eunjin di dadanya dengan kuat.

Eonni, kenapa kau melakukan ini padaku?” tanya Jina entah pada siapa.

Jina lalu menatap foto yeoja cantik itu dengan saksama, berusaha mencari jawaban atas pertanyaannya. Tak lama, Jina tersenyum miring, merasa bodoh karena menunggu jawaban dari benda mati.

Jina masih terdiam beberapa saat, memikirkan kejadian yang baru saja terjadi beberapa menit yang lalu sebelum mendesah samar dan menyimpan kembali foto Eunjin. Dia memejamkan mata dan berdoa, setelah itu, Jina melangkah keluar dengan pikiran penuh.

Saat akan mencapai gerbang Istana, yeoja itu tiba-tiba saja terkesiap begitu satu pemikiran melintas di otaknya. Jina dengan cepat memutar langkah, setengah berlari ke arah kamar Hyukjae.

Dia berhenti begitu menemukan bayangan Hyukjae, Jina dengan cepat mencekal tangan Hyukjae, memaksa namja itu berbalik dan menatapnya. Mata mereka bertemu, saling menatap tajam satu sama lain.

Hyukjae mendesah malas, “Apalagi yang ingin kau─”

Jina langsung menyela dengan penekanan di setiap katanya, “Siapa sebenarnya yang kau cintai sekarang, Oppa? Eunjin, aku, Ahna, atau... Hyunmi?”

***

Sooyoung menutup pintu utama ruang Raja dengan senyum lebar di bibirnya. Yeoja itu baru saja mendiskusikan konsep pernikahannya dan Jongwoon dengan Jungsoo, dan dia cukup puas dengan konsep yang Jungsoo berikan. Dan sekarang, dia akan pergi bersama para dayang untuk melihat baju pengantin untuk besok.

Tangan Sooyoung masih berada di kenop pintu saat matanya tanpa sengaja menatap ke depan, senyumnya langsung menghilang melihat Jongwoon dan Taeyoung sedang berjalan bersisian sambil berpegangan tangan. Hati Sooyoung terbakar.

Oppa!”

Keduanya menoleh, tersentak dan langsung melepaskan genggaman tangan mereka. Sooyoung segera memasang senyum manis ketika dia menghampiri keduanya dan bergelayut manja di lengan Jongwoon.

“Kalian berdua akan pergi ke dunia manusia?” tanyanya dengan nada semanis mungkin, Taeyoung mengangguk enggan sedangkan Jongwoon hanya diam. “Taeyoung-ah, bisakah aku meminjam calon suamiku sebentar sebelum kalian berangkat?” tanyanya kemudian dengan nada manis, namun matanya menatap tajam pada Taeyoung.

Taeyoung terdiam, tak tahu harus menjawab apa karena hatinya jelas-jelas meneriakkan kata tidak. Mengapa ia harus meminjamkan Jongwoon untuk Sooyoung? Toh pada akhirnya Sooyoung yang pasti akan memiliki Jongwoon.

Jongwoon hanya dapat mendesah atas kedatangan Sooyoung yang tiba-tiba, dalam hati ia berpikir mengapa Sooyoung harus mengacaukan hari terakhirnya bersama Taeyoung. “Apa yang ingin kaubicarakan, Sooyoung-ah?” tanyanya malas.

Sooyoung beralih menatap Jongwoon, memasang puppy eyes─yang demi Tuhan membuat Taeyoung ingin sekali muntah─terbaiknya. “Oppa, aku perlu pendapatmu untuk gaun pengantin. Tolong?”

Jongwoon menghela napas, dia tidak bisa menolak. “Baik, tapi tidak lebih dari satu jam, ne?” Ditanggapi anggukan antusias oleh Sooyoung, “tunggu aku di kursi itu, ne, Youngie?” tanya Jongwoon kemudian pada Taeyoung, tangannya menunjuk sebuah kursi panjang tak jauh dari tempat mereka berdiri sekarang.

Taeyoung membuang wajah ke arah lain, “Aku sudah bilang kalau aku bisa berangkat sendiri...” tandas Taeyoung, matanya berkaca-kaca. Jongwoon bahkan sama sekali tak menolak keinginan Sooyoung, apa Taeyoung benar-benar tak mempunyai kesempatan untuk berada di hati namja itu?

Jongwoon termangu sejenak, otak dan hatinya sibuk berdebat. Hatinya berbisik agar Jongwoon tetap tinggal dan menemani Taeyoung sekarang juga, namun otaknya menyuruh Jongwoon untuk pergi bersama Sooyoung, demi Negara. Dan akhirnya, otak Jongwoon menang.

Namja itu mengulur napas diam-diam. “Aku sudah bilang akan mengantarmu, jangan kemana-mana..” tegas namja itu pada Taeyoung lalu menyeret Sooyoung meninggalkan Taeyoung.

Taeyoung menghela napas panjang, setelah berpikir beberapa saat, dia lalu melangkah menuju kursi terdekat yang ditunjuk Jongwoon tadi. Yeoja itu duduk di sana dan tercenung, mereka ulang semua kejadian yang baru-baru ini terjadi di hidupnya.

Taeyoung tak tahu mengapa, namun semakin hari, dia merasa hidupnya semakin sulit. Dulu sewaktu Taeyoung mencintai Sungkyo, dia tak pernah merasa hidupnya sesulit ini. Taeyoung diam-diam berpikir bahwa hidupnya benar-benar sulit dimengerti.

“Hwangie, bogosippoyo..”

“Aish, Oppa. Kita baru saja bertemu beberapa jam yang lalu, bagaimana bisa kau sudah merindukanku, lagi?”

“Tentu saja bisa!” Terdengar rengutan, lalu suara cekikan dari sang yeoja.

Arraseo, arraseo, kau tidak usah merengut, benar-benar jelek!”

“Ya! Kau ini! Cepat kemari, aku ingin memelukmu.”

Lamunan Taeyoung otomatis buyar mendengar suara berisik dari arah kiri, yeoja itu refleks melihat ke arah kiri. Tersenyum iri melihat Kihwang─salah satu tabib Istana berusia sama dengannya yang ia kenal lewat Jongwoon─sedang bersama kekasihnya, Ryeowook─salah satu menteri yang usianya bahkan lebih muda dari Hyukjae.

Senyum Taeyoung tanpa sadar melebar ketika melihat Ryeowook merentangkan tangannya dan Kihwang menghampiri namja itu dengan sikap malu-malu. Ryeowook mendekap Kihwang erat, matanya memancarkan kasih sayang. Keduanya terlihat sangat manis, pikir Taeyoung tak habis pikir.

Taeyoung lalu melihat Ryeowook melepaskan pelukannya kemudian berbisik di telinga Kihwang yang membuat Kihwang tersipu karena bisikannya. Dan setelah mengecup bibir Kihwang sekejap, Ryeowook segera berlalu dengan senyum lebar di wajahnya.

Kihwang tampak terkejut mendapat kecupan dari Ryeowook, namun tak berapa lama dia tersenyum lebar dengan pipi merona. Taeyoung tersenyum geli melihat ekspresi Kihwang meskipun dia benar-benar iri setengah mati karena keharmonisan hubungan Kihwang dan Ryeowook.

Setelah melihat Kihwang mengerjap dan menyadari keberadaannya, Taeyoung melambaikan tangan untuk menyapa Kihwang.

“Youngie? Kenapa masih di sini?” tanya Kihwang heran sambil duduk di sebelah Taeyoung. “Bukannya kau dan Jongwoon Oppa akan pergi ke duniamu?” imbuhnya kemudian heran.

Menunduk, Taeyoung lantas mendesah samar. “Dia mengantar Sooyoung Eonni memilih gaun.”

Ekspresi Kihwang langsung berubah, dia terlihat menyesal telah bertanya. “Mianhae, aku tidak tahu.” katanya sembari menggenggam tangan Taeyoung.

Taeyoung mendongak, memaksakan senyum di bibirnya. “Gwaenchana, lagipula Sooyoung Eonni lebih berhak atas Jongwoon Oppa.”

“Kau tidak boleh memaksakan diri berpura-pura senang, Young.” sergah Kihwang prihatin, dia mengeratkan genggamannya pada Taeyoung.

“Lalu aku harus bersikap seperti apa, Hwangie? Apa aku harus marah dan berteriak kalau aku mencintainya, hah? Begitu?” tanya Taeyoung penuh emosi.

Kihwang terkejut, dia lantas mengusap-usap punggung Taeyoung mencoba menenangkan. “Mian, aku memang tidak mengerti perasaanmu, tapi Young, ketahuilah, Jongwoon Oppa mempunyai perasaan yang sama denganmu.”

Taeyoung refleks menatap pada Kihwang, kepalanya menggeleng pelan. “Tak usah menghiburku, jika Jongwoon Oppa mempunyai perasaan yang sama, namja itu pasti tak akan menikah dengan Sooyoung Eonni besok.”

Kihwang mendesah, “Dia punya alasan Young..”

Taeyoung baru saja akan membalas perkataan Kihwang saat seseorang tiba-tiba saja memanggil yeoja itu, Kihwang menoleh dan mengisyaratkan kata tunggu.

“Youngie, mianhae aku tidak bisa menemanimu lebih lama, Shindong Oppa sepertinya butuh bantuan untuk menangani prajurit yang terluka.” Taeyoung mengangguk dan Kihwang berdiri, yeoja itu tersenyum pada Taeyoung dan melanjutkan perkataannya dengan nada lembut. “Tapi Young, ingatlah, Jongwoon Oppa tahu yang terbaik untuk kalian, apapun pilihannya.”

Taeyoung memutuskan untuk mempercayai perkataan Kihwang. Jika Jongwoon memang tahu pilihan yang terbaik bagi mereka berdua, Taeyoung akan belajar menerima apapun pilihannya mulai dari sekarang. Taeyoung akan belajar merelakan jika pada akhirnya namja itu memang tidak memilihnya.

Tapi hari ini, sebelum Jongwoon benar-benar menjadi milik orang lain, Taeyoung ingin menghabiskan waktunya bersama namja itu. Menikmati detik-detik terakhir kebersamaan mereka yang di hari selanjutnya pasti tak bisa dia rasakan.

30 menit kemudian, Jongwoon akhirnya menampakkan diri. Wajah namja itu terlihat datar seperti biasa, namun saat melihat Taeyoung, dia menyunggingkan senyum manis.

“Lama?”

Taeyoung berdiri, membalas senyum Jongwoon dengan senyum tipis. Tekadnya sudah bulat untuk melupakan semua masalah hatinya untuk sementara. “Tidak, kau lebih cepat 15 menit.” tukas Taeyoung, Jongwoon terkekeh, mengacak poni Taeyoung dengan lembut.

“Baiklah, jadi, kita akan menemui siapa tepatnya?” tanya Jongwoon sambil menggenggam tangan yeoja itu, tapi dia segera melepaskan genggaman tangannya begitu teringat perjanjian mereka di awal pertemuan. Jongwoon langsung menatap Taeyoung serius. “Youngie, kau tidak akan menagih janjiku waktu dulu, ne? Kau tidak akan kembali pada namja itu, kan?”

Taeyoung termangu, bahkan pikiran untuk menghancurkan hidup Sungkyo dan membuat namja itu mengemis cinta padanya lagi sudah menghilang sejak lama. Bagaimana mungkin Taeyoung bisa meminta hal itu sementara dia sama sekali tak menginginkannya sekarang?

Aniyo, tentu saja tidak.” Jawab Taeyoung yang membuahkan senyum lega di wajah Jongwoon, Taeyoung tak bisa menahan hatinya yang melonjak kegirangan mendapatkan senyum Jongwoon. “Lagipula aku mendapatkan banyak pelajaran berharga sejak bertemu denganmu, dan aku sadar kalau balas dendam bukan hal yang baik.”

“Aku senang mendengarnya,” tanggap Jongwoon sambil kembali meraih tangan Taeyoung dan mulai berjalan bersama yeoja itu. “Jadi, apa yang ingin kau minta sebagai ganti permintaan pertamamu?”

Taeyoung berpikir sejenak. Bagaimana kalau dirimu? Taeyoung sebenarnya ingin sekali menanyakan hal tersebut, namun dia mengurungkan niatnya dan mencibir dalam hati. Taeyoung sepertinya bermimpi terlalu tinggi kalau meminta hal tersebut. “Entahlah Oppa, akan kupikirkan nanti..”

Jongwoon memutuskan tak memaksa, “Geurae, jadi siapa yang ingin kau temui?” Mereka berhenti di ujung lorong, Jongwoon membalikkan badan dan menatap Taeyoung hangat.

Taeyoung memberanikan diri balas menatap mata Jongwoon dengan tatapan tak kalah hangat sebelum menjawab, “Aku ingin menemui Hanni Eonni. Banyak hal yang ingin aku ceritakan padanya..” Jongwoon mengangguk, dan dalam hitungan detik keduanya telah menghilang disapu angin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar