NINE PART B
AEYOUNG menghabiskan
waktu 4 jam untuk menceritakan segalanya pada Hanni─minus tentang Negeri
Shappire Blue dan orang-orangnya yang bisa sihir, tentu saja. Yeoja itu
menceritakan setiap detail kejadian yang dilaluinya bersama Jongwoon, yang akan
berakhir dengan dia menangis dipelukan Hanni dan Hanni menghiburnya dengan
sejuta kata-kata bijaksana.
Pikiran dan
hati Taeyoung sekarang lebih tenang setelah ia bercerita. Hanni memberinya
banyak saran yang benar-benar membuka mata Taeyoung. Hanni bukan hanya sekadar
sahabat untuk Taeyoung, dia juga eonni yang mengerti Taeyoung
luar-dalam. Dalam hati, Taeyoung sangat bersyukur ada Hanni di hidupnya.
Setidaknya, ia mempunyai penopang saat ia sedang dilanda kebingungan. Taeyoung
memiliki Hanni sebagai tempat bersandar.
“Eonni,
gomawo sudah mendengarkan..” kata Taeyoung saat dia selesai menceritakan
semua hal pada Hanni, dia mengusap sisa air matanya sambil mengulas senyum.
Hanni ikut
mengulas senyum, membelai rambut Taeyoung penuh kasih sayang. “Gwaenchanayo,
Eonni senang kau datang untuk bercerita. Itu artinya kau masih
menganggapku ada..” balasnya setengah bercanda, “Nah sekarang, pergilah, temui
Jongwoonmu.”
“Eonni,
kau mengusirku?” tanya Taeyoung pura-pura merengut.
Hanni terkekeh
lalu berdiri. “Kau berpikir seperti itu? Baiklah, kita biarkan Jongwoon
menunggu lebih lama di tengah hujan salju saja kalau begitu.”
Mata Taeyoung
membulat panik, “Di luar hujan salju?” tanyanya cemas, dia langsung berdiri dan
berjalan ke arah jendela. “Aigo..” serunya lalu berlari ke arah pintu
masuk dan keluar dengan terburu-buru.
Hanni mengamati
tingkah Taeyoung sambil menggelengkan kepala, memaklumi Taeyoung yang bahkan
tidak berpamitan padanya. Sangat panik mungkin? Hanni kemudian memberesi
gelas-gelas berisi cokelat panas di atas meja, dia terenyak saat seseorang
memeluknya dari belakang. Senyum kecil menghiasi wajahnya begitu menyadari yang
tengah memeluknya adalah Taeyoung. Dia pasti kembali lagi karena mengingat
Hanni.
“Eonni,
aku pergi dulu, ne? Gomawo untuk semuanya, saranghae..”
seru Taeyoung dengan napas agak tersengal-sengal karena ia terpaksa berlari
kembali dari lantai dasar apartemen Hanni.
Setelah Hanni
membalas ucapannya, Taeyoung berlari kembali ke arah lift. Dia memencet tombol
lift dengan tidak sabaran untuk menuju lantai dasar. Begitu lift terbuka,
Taeyoung berlari kembali menuju luar gedung. Langkahnya memelan begitu dia
sampai di tempat Jongwoon berjanji akan menunggunya.
Tidak ada siapa
pun di sana. Jongwoon menghilang. Taeyoung mengedarkan pandangan ke segala
arah, hanya butiran salju yang berjatuhan yang bisa ia temukan. Taeyoung tanpa
sadar menghela napas, mengulurkan tangan untuk merasakan butiran salju yang
berjatuhan ke tangannya sambil meresapi sesak di dalam dada karena Jongwoon
tidak mau menunggunya.
Saat sedang
sibuk dengan pikirannya, Taeyoung tersentak saat sebuah mantel tiba-tiba saja
melingkari pundaknya. Yeoja itu memutar tubuh, terpukau melihat Jongwoon
di hadapannya. Namja itu menepati janjinya, dia menunggunya.
Jongwoon
tersenyum, “Kau berpikir aku meninggalkanmu?” tanyanya pelan, Taeyoung
mengangguk membuat Jongwoon melebarkan senyumnya dan membenarkan mantel di pundak
Taeyoung. “Aku tidak mungkin meninggalkanmu, tenang saja..”
Senyum Taeyoung
mengembang dengan sendirinya. “Kau membuatku cemas, pabo!” rajuknya
membuat Jongwoon terkekeh dan menyentil dahi Taeyoung lembut.
“Kau yang pabo!
Aku menunggumu hampir 4 jam..” balas Jongwoon.
Taeyoung
terkikik, lantas menarik tangan Jongwoon meninggalkan tempat itu.
Keduanya
berjalan sambil berpegangan tangan. Mereka masuk ke sebuah kafe untuk makan
selagi menunggu hujan salju reda dan diselingi obrolan ringan. Taeyoung sesekali
tertawa di sela-sela obrolan mereka, dan Jongwoon tersenyum senang setiap kali
melihat Taeyoung tertawa. Tawa Taeyoung selalu bisa mengusir gundah di hatinya.
Hampir 2 jam
menunggu, hujan salju yang lebat akhirnya berhenti. Keduanya memutuskan keluar
dari kafe dan melewati sisa hari itu dengan berjalan mengelilingi pertokoan di
pinggir jalan. Mereka memasuki toko demi toko dengan bahan obrolan yang seolah
tak pernah habis.
“Oppa,
lihat kura-kura ini! Dia mirip sekali denganmu, bukan?” tanya Taeyoung begitu
mereka memasuki toko boneka, dia mengangkat boneka kura-kura besar yang
ditemukannya dan membandingkannya di hadapan wajah Jongwoon.
Jongwoon
memutar bola mata, mendekatkan wajahnya pada wajah Taeyoung agar yeoja
itu bisa melihatnya dengan saksama dan bertanya dengan suara rendah. “Kau tidak
melihat seberapa tampan aku, Taeyoung-ah?”
Taeyoung
mendorong wajah Jongwoon dengan telapak tangan karena merasa jantungnya akan
meloncat melihat seberapa dekat wajah Jongwoon dengan wajahnya. Yeoja
itu lalu menutupi kegugupannya dengan merengut, bibirnya mengerucut sambil
memandangi boneka kura-kura itu. “Tapi aku suka boneka ini, dia terlihat lucu!”
“Aish, bilang
saja kau ingin aku membelinya untukmu..” decak Jongwoon lantas mengambil boneka
di tangan Taeyoung dan berjalan menuju kasir.
Taeyoung
mengikuti langkah Jongwoon dari belakang sambil terkekeh. Dia segera memeluk
boneka kura-kura itu setelah Jongwoon membayarnya. Jongwoon diam-diam mengamati
senyum di wajah Taeyoung, dalam hati cemas jika senyum itu suatu saat akan
menghilang dan Jongwoon kehilangan senyum favoritnya.
Mereka
melanjutkan perjalanan sambil bercanda satu sama lain, terkadang Jongwoon akan
menjahili Taeyoung yang berakhir dengan teriakan marah Taeyoung sebelum yeoja
itu mencubitnya tanpa ampun, dan kejadian itu akan berakhir dengan gema tawa
dari keduanya, menertawakan tingkah kanak-kanak mereka.
Mereka
melupakan segala masalah yang mereka miliki untuk sejenak, menikmati
detik-detik kebersamaan mereka untuk yang terakhir kalinya. Jongwoon pun tak
segan-segan menunjukkan segala perhatian pada Taeyoung, sebab ia sadar, ini
terakhir kalinya mereka bisa bersikap seperti ini. Karena untuk ke depannya,
akan ada status yang menahan mereka agar berada di ruangan yang berbeda.
Danau adalah
tujuan terakhir mereka saat sore menjelang. Dan begitu matahari hampir terbenam
sepenuhnya, mereka duduk di jembatan yang ada di atas danau. Terdiam menikmati
detik-detik matahari tenggelam. Taeyoung menyandarkan dagunya di kepala boneka
kura-kura dari Jongwoon lalu mendekap boneka tersebut erat-erat dengan satu
tangan sementara tangan lainnya masih digenggam oleh Jongwoon.
“Oppa,
mataharinya akan tenggelam.” ujar
Taeyoung begitu melihat matahari semakin menghilang, “Ayo kita hitung bersama-sama.”
imbuhnya, mengangkat dagu dan menatap Jongwoon penuh harap.
Jongwoon
terkekeh, dia mengayunkan genggaman tangan mereka dan mulai menghitung.
“Lima..” Taeyoung membalas dengan mengatakan “Empat..” disambut Jongwoon yang
mengatakan “Tiga..”
Matahari sudah
semakin tenggelam, Taeyoung melirik ke arah tangan mereka yang masih bertautan
erat sebelum menolehkan kepala ke samping untuk melihat Jongwoon lalu
melanjutkan, “Dua..”
Merasa ditatap,
Jongwoon ikut menoleh ke arah Taeyoung. Saat mata mereka bertemu, Jongwoon tak
bisa menahan diri untuk tak melingkarkan tangannya di bahu Taeyoung dan menarik
yeoja itu mendekat.
Taeyoung mengeratkan
pelukannya pada boneka kura-kura pemberian Jongwoon sambil memejamkan mata saat
embusan napas Jongwoon menerpa wajahnya, jantungnya berdebar semakin kencang
setiap detiknya.
Sebelum bibir
mereka bersentuhan, Jongwoon menggumamkan kata “Satu..” lantas menutup
kesenjangan di antara mereka. Membiarkan tubuh mereka merasakan sensasi asing
namun lembut yang pelan-pelan membuat pikiran mereka buyar.
Saat oksigen
menjadi pengingat, keduanya melepaskan diri dengan napas terengah. Taeyoung
menatap mata Jongwoon lurus dengan tatapan menyendu, “Oppa, apa hubungan
kita sebenarnya?”
***
Hyukjae dan
Hyunmi berjalan mengikuti suster Jung─ya, ini di luar dugaan karena mereka
ternyata tetap pergi setelah insiden pertengkarang Hyukjae dan Jina─mata Hyunmi
sesekali berpendar ke segala arah, hatinya langsung meringis, dia bahkan hampir
menangis melihat orang-orang dengan gangguan mental di sepanjang lorong sedang
melakukan kegiatan mereka; beberapa terlihat waras, beberapa berteriak seperti
kesetanan, dan beberapa tertawa-tawa seolah sedang melihat sesuatu yang sangat
lucu.
Hyukjae yang
menyadarinya mencoba merangkul pundak Hyunmi, namun yeoja itu dengan
cepat mengelak dan berjalan mendahului Hyukjae, membuat Hyukjae bertanya-tanya
apalagi yang terjadi dengan Hyunmi.
Mereka berhenti
di depan sebuah pintu putih yang dikunci, suster Jung segera merogoh kunci di
saku bajunya untuk membuka pintu.
“Waktu Anda
hanya 5 menit, Hyunmi-ssi. Hana-ssi akan menjalani perawatan
rutinnya.” kata suster Jung memberitahu, menyimpan kuncinya kembali di saku.
Hyunmi
mengangguk, dia memutar kenop pintu ke bawah dan termangu. Eommanya
sedang duduk di tepi ranjang, memeluk guling dengan pandangan kosong entah
kemana, mulutnya menggumamkan sesuatu yang sama sekali tak bisa dimengerti
Hyunmi. Hyunmi menguatkan diri, menekan perasaan ingin menangis sekeras
mungkin. Yeoja itu berjalan ke arah eommanya, tersenyum.
“Eomma,
ini Hyunmi. Kau masih mengingatku?” tanya Hyunmi sembari berlutut di hadapan
Kim Hana, yeoja paruh baya itu mengalihkan pandangannya pada Hyunmi,
terkikik kecil sambil menunjuk-nunjuk wajah Hyunmi.
Hyunmi mencoba
mempertahankan senyumnya, dia menggapai tangan Hana dan menggenggamnya erat dan
mulai berbicara. Selang tiga menit, Hyunmi tak kuasa menahan diri lebih lama
lagi untuk mengobrol dengan eommanya, yeoja itu menutup mulut, lantas
keluar ruangan tanpa memedulikan Hyukjae sambil menangis.
Hyukjae
mengurungkan niatnya untuk menyusul Hyunmi, dia lebih memilih menghampiri eomma
Hyunmi lantas berlutut. Hana sedikit menaruh perhatian pada Hyukjae.
“Ahjumma
mungkin tidak mengenalku, tapi... bisakah Ahjumma mengizinkanku untuk
menjaga putri Ahjumma?” tanya Hyukjae sopan.
Hana tertawa
sebentar sebelum wajahnya menyendu mendengar kata “putri” yang diselipkan
Hyukjae di kata-katanya. “Ah..na, Hyun..mi...” gumam Hana kemudian sambil
melihat ke arah langit-langit dengan pandangan kosong.
Hyukjae
mengangguk, mengusap lengan Hana dengan lembut. “Bisakah?”
Hana tak
menjawab, dia hanya kembali menggumamkan “Ahna, Hyunmi” berulang-ulang. Hyukjae
menganggapnya sebagai jawaban iya.
Hyukjae tersenyum,
lalu mulai menceritakan segala hal mengenai Ahna dan Hyunmi kepada Hana yang
tampak diam─Hyukjae beramsumsi bahwa yeoja paruh baya itu sedang menyimak.
Dua menit
kemudian, suster Jung datang kembali bersama beberapa dokter, dia meminta
dengan sopan agar Hyukjae meninggalkan kamar Hana.
Hyukjae
mengangguk, untuk terakhir kali, namja itu menatap Hana hangat.
Lengannya mengusap punggung tangan Hana dan berucap, “Aku akan menjaga Hyunmi, Ahjumma
bisa memercayakannya padaku..” Setelah itu Hyukjae berdiri dan berjalan keluar
ruangan tanpa menoleh lagi pada Hana, dia sama sekali tak tahu kalau Hana─entah
sadar atau tidak─menitikkan air mata dan mengangguk karena ucapannya.
Hyukjae melihat
Hyunmi di bangku taman rumah sakit jiwa, sedang menutup wajah dengan tangan dan
tampak terisak, tubuhnya bergetar hebat. Sesak menelusup masuk ke dalam hati
Hyukjae, namja itu menghela napas sebelum duduk di samping Hyunmi. Dia
menarik paksa kedua tangan Hyunmi hingga matanya yang dipenuhi air mata
terlihat jelas oleh Hyukjae.
“Lepas..” lirih
Hyunmi mencoba memberontak.
Hyukjae menarik
paksa Hyunmi ke dalam pelukannya, namja itu menyandarkan dagunya di atas
kepala Hyunmi sambil mengusap-usap punggung Hyunmi dengan lembut, mencoba
menenangkan yeoja yang saat ini tengah memukul-mukul dadanya.
Merasa usahanya
sia-sia, Hyunmi akhirnya berhenti memberontak. Tangannya yang memukul dada
Hyukjae beralih mencengkeram kaus yang Hyukjae pakai dengan erat, dia
melesakkan kepalanya di dada Hyukjae, terisak kembali.
“Sihir apa yang
bisa digunakan untuk membuat Eommaku kembali normal?” tanya yeoja
itu dengan suara parau.
Hyukjae
terdiam, sama sekali tak tahu harus menjawab apa pada Hyunmi. Di dunia sihir,
memang ada beberapa sihir yang bisa digunakan untuk menyembuhkan penyakit.
Namun tidak ada satu sihir pun yang bisa digunakan untuk pengidap penyakit
kelainan jiwa.
“Tidak ada?”
tebak Hyunmi, meremas kaus Hyukjae semakin erat.
Hyukjae
membiarkan Hyunmi kembali terisak dengan hebat tanpa menjawab satu pun
pertanyaan yeoja itu. Tangannya tetap mengusap punggung Hyunmi sambil
menghela napas berkali-kali.
Mereka betahan
di posisi tersebut selama beberapa menit sebelum Hyunmi akhirnya berhenti
terisak dan melepaskan diri dari dekapan Hyukjae. Dia mengulur napas panjang
sambil mencoba menstabilkan emosi yang sedang bergejolak di hatinya.
Fakta bahwa
tidak ada perkembangan yang berarti pada eommanya membuat hati Hyunmi
terluka. Beberapa tahun ini─apalagi setelah kematian Ahna─Hyunmi memang tak
pernah mengunjungi eommanya lagi, bukan dia tak ingin, Hyunmi hanya
takut akan kecewa seperti sekarang karena eommanya sama sekali tak ada
kemajuan.
Hyukjae yang
mengamati tingkah yeoja itu ikut mengulur napas, dia bisa merasakan
kesedihan dan kekecewaan yang Hyunmi rasakan. Hyukjae beranjak dari duduknya
lantas berlutut di hadapan Hyunmi, dia mengulurkan tangan untuk menyeka
jejak-jejak air mata yang masih tertinggal di mata yeoja itu dengan
lembut.
“Tuhan punya
rencana tersendiri untukmu, Mi-ya, dia sudah menyiapkan kebahagiaan lain
dibalik semua cobaan yang menimpamu.”
Hyunmi menatap
lurus-lurus pada mata Hyukjae yang terlihat sangat teduh, dia lalu menggeleng
sambil memalingkan wajah. “Tidak, Tuhan tidak pernah menyiapkan kebahagiaan
untukku. Dia telah mengambil semuanya, bahkan satu-satunya harapan
kebahagiaanku yang tertinggal dia juga mengambilnya..” Berhenti sebentar,
Hyunmi melanjutkan. “Tidak ada yang menyayangiku lagi. Bisakah aku menyusul Appa
dan Eonniku saja?”
Hyukjae
terkejut, dia menangkup kedua pipi Hyunmi dan memaksa yeoja itu
menatapnya. “Dengar, kau tidak boleh berpikir seperti itu. Masih banyak orang
yang menya─”
“Kau bohong!”
jerit Hyunmi tiba-tiba, “kau bahkan tidak menyayangiku!” Mata Hyunmi refleks
melebar setelah tersadar dengan ucapannya, terkejut karena ia bisa berbicara
sejujur itu di hadapan Hyukjae.
Sudut bibir
Hyukjae perlahan-lahan tertarik membentuk sebuah senyuman, dia menarik leher
Hyunmi dan kembali memeluk yeoja itu. “Kata siapa aku tidak
menyayangimu?”
Hyunmi mendadak
merasa kesulitan bernapas mendengar perkataan Hyukjae, jantungnya bertalu-talu
keras sekali. “Tapi kau bersama Jina..”
Hyukjae
mengendurkan pelukannya di leher Hyunmi hingga keduanya bertatapan dengan jarak
sangat dekat. “Aku berpisah dengannya tadi,” aku namja itu, bibirnya
tertarik semakin ke atas, menciptakan senyuman manis. “selamat karena kau
berhasil membuat Ahna tersingkir dari sini,” Hyukjae menunjuk hatinya, mempertahankan
senyum di bibirnya. “Hyunmi-ya, saranghae, jadilah kekasihku..”
Hyunmi
mengerjap, menatap mata Hyukjae dalam-dalam mencoba menyelami isi hati namja
itu. Saat dia tak menemukan satu kebohongan pun di dalamnya, Hyunmi
menggelengkan kepala tak percaya, merasa dia berhalusinasi. “Leluconmu tida
lucu, Oppa!”
Hyukjae
berdecak, menarik leher Hyunmi kembali hingga wajah mereka semakin dekat. “Apa
aku perlu membuktikannya?” tantang namja itu. Dan sebelum Hyunmi sempat
bereaksi, Hyukjae sudah terlebih dahulu menyatukan bibir mereka.
***
Dokter Louis
memeriksa berkas-berkas di tangannya dengan teliti, ekspresi tak percaya
sesekali mampir di wajahnya saat memeriksa laporan itu di beberapa bagian.
Setelah
selesai, Dokter Louis menyimpan berkas tersebut di atas meja dan menanggalkan
kacamatanya, dia lalu memandang namja dan yeoja yang sedang duduk
tegang di hadapannya.
Dokter Louis
mengulas senyum, “Kondisi Mr. Sungmin sangat baik, dia benar-benar sehat begitu
sadar dari komanya. Mr. Saera dan Mr. Kyuhyun harus banyak bersyukur sebab
Tuhan memberikan keajaiban yang begitu besar untuk Sungmin.” katanya
menjelaskan dalam bahasa Inggris yang fasih.
Saera dan
Kyuhyun serentak menghela napas, mereka saling berpandangan sejenak, tersenyum
satu sama lain, lalu menatap pada Dokter Louis penuh terimakasih. “Terimakasih,
ini semua juga tidak akan terjadi kalau bukan berkat Anda.” balas Saera dengan
bahasa Inggris yang tak kalah fasih.
“Sungmin
mempunyai tekad yang kuat untuk bangun, begitu pun Anda yang mempunyai
kepercayaan besar. Saya hanya membantu sebisa saya.”
Saera tersenyum
bahagia mendengar asumsi Dokter Louis. Sungmin memang namja yang pantang
menyerah. Dia mungkin terlihat sangat manis dan lucu di luar, tapi tekad dan
pendiriannya sangat kuat.
Sekali Sungmin
menginginkan suatu hal, namja itu tak akan pernah menyerah untuk
mendapatkannya. Termasuk kehidupan.
Dulu, 4 bulan
pertama Saera sempat merasa sangat depresi dengan keadaan Sungmin yang tak
kunjung membaik, dia sempat berpikir untuk menghentikan segala pengobatan
Sungmin daripada harus menyiksa Sungmin lebih lama dengan segala macam
peralatan medis.
Tapi Tuhan
sepertinya tak mengizinkan Saera melakukan hal itu, beberapa jam sebelum Saera
menemui Dokter untuk melepaskan peralatan medis Sungmin, yeoja itu
tersadar bahwa Sungmin adalah keluarga dia satu-satunya. Saera bersyukur dia
membatalkan niatnya dan memutuskan untuk tetap mempertahankan Sungmin.
Saera dan
Kyuhyun bahkan sudah menceritakan segala hal kepada Sungmin. Sungmin awalnya
terkejut mengetahui Saera ternyata menguasai sihir, tapi tak berapa lama, namja
itu malah terlihat excited dan meminta Saera untuk mengajaknya ke Negeri
Kyuhyun.
Tersentak dari
alam bawah sadarnya, Saera mengangguk. Setelah mereka berbicara sebentar
mengenai Sungmin yang masih harus di sini sampai malam─untuk menjalani beberapa
pemeriksaan demi memastikan bahwa tidak ada efek apapun dari komanya yang
panjang, Saera dan Kyuhyun pamit dari hadapan Dokter Louis.
“Oppa, gomawo..”
tutur Saera tiba-tiba membuat Kyuhyun berhenti melangkah dan memutar tubuh
menghadap Saera.
Alis namja
itu terangkat, seolah bertanya apa lewat matanya.
Saera
tersenyum, “Kalau bukan karenamu, Sungmin saat ini pasti masih tertidur.”
Melihat sinar
mata Saera yang bercahaya, Kyuhyun tersenyum dalam hati. Bahagia menyusup
begitu saja ke dalam hatinya.
“Ani,
itu juga berkatmu. Kalau hari itu kau tak ikut denganku, Sungmin juga pasti
masih tertidur.” Kyuhyun membalas, tersenyum sangat tipis hingga nyaris tak
terlihat. “Kau yang membuat Sungmin bangun, semua karena usahamu..” lanjut
Kyuhyun, tangannya bergerak menyeka sudut mata Saera yang berair.
Saera
memaksakan diri terkekeh meski pun air mata lagi-lagi mengintip di sudut
matanya. Dia tidak sedih, Saera hanya terlalu bahagia.
“Kau dulu
memaksa Oppa!” tukas Saera sambil tertawa kecil.
Kyuhyun menekuk
wajah, “Jadi kau ikut denganku karena terpaksa?” tanyanya pura-pura kesal
sambil memunggungi Saera.
Saera tersenyum
melihat Kyuhyun merajuk, yeoja itu lalu melingkarkan tangannya di
pinggang Kyuhyun, membuat Kyuhyun terenyak karena Saera tidak pernah memulai
kontak fisik terlebih dahulu dengannya. “Tapi aku tidak menyesal pernah
terpaksa, Oppa..” bisik Saera, menenggelamkan wajahnya di punggung
Kyuhyun.
Kyuhyun
memejamkan mata, menikmati desiran hangat yang merayap ke hatinya. Detik itu, Kyuhyun
baru menyadari bahwa Saera ternyata sudah masuk sangat dalam ke hatinya. Yeoja
itu telah menjadi bagian dari hidup Kyuhyun.
Saera bahkan
membawa banyak perubahan di diri Kyuhyun, dia merasa lebih baik setelah bersama
Saera.
“Aku juga tidak
menyesal pernah memaksamu kalau begitu..” balas Kyuhyun. Melepaskan pelukan
Saera di pinggangnya dan memutar tubuh kembali untuk menatap Saera.
Saera
menatapnya lembut, ketulusan terlihat dari caranya menatap Kyuhyun. Kyuhyun
balas menatap Saera dengan tatapan tak kalah lembut, sinar matanya terlihat
meneduhkan. Mereka terhanyut dalam tatapan masing-masing, tatapan penuh kasih
yang menyejukkan.
Angin musim
dingin berembus pelan membuat rambut Saera terbang terbawa angin, seketika itu
juga kontak mata di antara keduanya terputus. Saera dan Kyuhyun segera
mengalihkan pandangan ke arah lain. Saera merasakan wajahnya memanas, dan ia
yakin seratus persen kalau saat ini pipinya pasti semerah tomat.
Setelah hening
beberapa saat, Kyuhyun akhirnya memberanikan diri menoleh ke arah Saera. Dia
terkekeh kecil melihat rambut yeoja itu yang tak beraturan karena
diterbangkan angin tadi, tangan Kyuhyun refleks terangkat ke atas kepala Saera.
Dia menyelipkan sejumput rambut ke belakang telinga yeoja itu lantas
merapikan rambut Saera dengan telaten.
Saera terkekeh,
“Kau tahu? Aku merasa sangat beruntung karena bertemu denganmu..”
Kyuhyun
tersenyum, setelah memastikan bahwa rambut Saera kembali tertata rapi, namja
itu melingkarkan tangannya di pinggang Saera dan menarik yeoja itu mendekat.
“Begitu pun
aku, terimakasih telah hadir di hidupku..” bisik Kyuhyun.
Saera
mengangguk, lantas menyimpan kedua tangannya di pundak Kyuhyun saat Kyuhyun
semakin gencar mengeliminasi jarak yang tersisa di antara mereka. Dia tersenyum
dalam hati mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya dan buru-buru menutup
mata.
Dua senti dari
wajah Saera, Kyuhyun berhenti. Dia menatap wajah Saera dengan tatapan dalam, merekam
setiap detail wajah yeoja itu di otaknya dan mengagumi bagaimana yeoja
itu terlihat sempurna di matanya.
Puas, Kyuhyun
tersenyum tipis dan melanjutkan apa yang sempat ditundanya. Kyuhyun ikut
memejamkan mata, dan jantungnya berdebar lebih heboh saat bibir mereka akhirnya
bertemu.
Saera tahu ini
bukan ciuman pertama mereka, tapi jauh di dalam hati, dia tetap merasakan
jantungnya yang menggila karena sensasi asing yang menggelitiknya. Beberapa
detik hanya diam, Saera mulai membalas ciuman Kyuhyun.
“YA! HAN SAERA!
PARK KYUHYUN! SAMPAI KAPAN KALIAN AKAN MENINGGALKANKU BERDUA DENGAN BOCAH
KELINCI INI?! DIA SANGAT MENYEBALKAN! CEPAT KEMBALI!”
Keduanya
spontan melepaskan kontak mendengar teriakan Yeonhee bergaung di kepala mereka.
Mereka saling memandang, tak lama, mereka tertawa kecil teringat kejadian
barusan.
“Kurasa Yeonhee
Eonni mulai kehilangan kesabaran, ayo kembali Oppa.” ajak Saera
disela-sela tawanya.
Kyuhyun mendengus
menahan tawa, “Percaya atau tidak, aku merasa Yeonhee akan menyukai Sungmin
cepat atau lambat.” balasnya membuat Saera tersenyum geli.
Kyuhyun lalu mengulurkan
tangannya pada Saera yang disambut yeoja itu tanpa ragu, keduanya
kembali berpandangan untuk sejenak. Terkikik tanpa alasan─seperti kebanyakan
remaja sedang jatuh cinta─lantas berjalan bergandengan menuju kamar Sungmin
dengan hati berbunga.
***
Hyerin
menendang kerikil di sepanjang jalan setapak yang sedang dilaluinya tanpa gairah
hidup, yeoja itu sesekali menghela napas seolah sedang memikirkan
sesuatu.
Menolak
Baekhyun dulu merupakan hal paling mustahil yang ada di dalam pikiran Hyerin.
Namun sekarang, itu merupakan hal pertama yang terlintas di otaknya saat
Baekhyun menyatakan perasaan padanya. Hyerin hanya tak ingin munafik, Baekhyun
bukan lagi namja yang berkuasa di hatinya. Sudah ada namja lain yang
merajai hati Hyerin─meski pun dia sendiri tak tahu apakah namja itu
menyimpan perasaan yang sama atau tidak sama sekali.
Perasaannya
pada Baekhyun telah musnah, dan satu-satunya namja yang ia inginkan
untuk mengucapkan kalimat ‘ajaib’ itu adalah Donghae.
Tapi setelah
direnungkan, Hyerin mulai berpikir bahwa keputusannya salah sebab Donghae
bahkan sama sekali tak terlihat sejak namja itu mengantar Hyerin ke
kampus. Dia juga tak bisa menghubungi Donghae lewat telepati karena Donghae
menutup pikirannya.
Hyerin
menyandarkan tubuhnya di pagar jembatan, tangannya meraba kalung kerang
pemberian Donghae yang dia pakai kembali, Hyerin lantas mengurut pelipisnya
yang serasa berdenyut memikirkan keputusannya beberapa jam yang lalu. “Aish, sebenarnya
dimana Donghae Oppa sekarang?” keluhnya yang hanya ditanggapi oleh udara
kosong, Hyerin mendengus. “Dia bahkan tak tahu aku mengorbankan namja
impianku deminya. Aigo, eotteoke?”
Hyerin
mendesah, lantas memutuskan untuk berhenti mendebat apa yang telah ia pilih
tadi. Yeoja itu membalikkan badan menatap ke arah sungai di bawah
jembatan yang terlihat sangat tenang.
Jika saja
hidupnya setenang air yang mengalir di sungai itu, Hyerin pasti tak perlu
pusing memikirkan dilema hati yang sedang melandanya seperti sekarang. Dia
pasti tak perlu susah-susah memikirkan bagaimana cara menyingkirkan gundah di
hatinya.
“Onee-san..”
Hyerin terenyak
dari dunia kecilnya mendengar panggilan itu. Dia membalikkan badan dan
menemukan seorang yeoja Jepang yang masih kecil dan berpipi chubby
sedang menatapnya polos, Hyerin menoleh ke arah kanan-kiri, memastikan kalau yeoja
kecil itu memang memanggilnya.
Melihat dia
memang satu-satunya orang di sana, Hyerin menekuk lutut untuk menyeimbangkan
tingginya dengan yeoja kecil itu. “Ada apa, adik manis?” tanyanya menjawab
dengan bahasa Jepang lembut sambil melempar senyum.
Yeoja
kecil itu tersenyum lebar hingga giginya yang ompong terlihat lalu mengulurkan
sebuah surat pada Hyerin. “Seorang Onii menyuruhku memberikan itu untuk Onee..”
beritahunya.
Hyerin menerima
surat beramplop biru laut itu dengan kening berlipat. “Siapa? Kau mengenal
orang itu?”
Yeoja
kecil tersebut menggeleng, “Onii bilang Onee-san harus membaca
surat itu, dan kalau Onee-san sudah selesai membaca, berjalanlah ke
taman Rikugien itu. Onee-san akan menemukan jawabannya di taman itu!”
serunya, menunjuk ke arah depan lalu berlari meninggalkan Hyerin sambil
terkikik.
Hyerin
memandang heran ke arah taman yang ditunjuk oleh anak tadi lantas menatap dua
kali lipat lebih heran pada surat di tangannya, sejurus kemudian, yeoja
itu telah membuka amplop tersebut dan mengeluarkan lipatan kertas dari
dalamnya. Hyerin membuka lipatan kertas tersebut dan mulai membaca.
Pernah
bertemu seorang malaikat yang membuatmu berani memilih sesuatu yang berat?
Aku
pernah, dan malaikat itu akan kugapai sebentar lagi..
Otak Hyerin
berputar, mencoba mencerna kata-kata di dalam surat itu, namun selang beberapa
detik dia menyerah dan memutuskan mengikuti perkataan yeoja kecil tadi karena
penasaran.
Hyerin
tersenyum kecil ketika matanya disambut oleh bunga-bunga sakura yang sedang
bermekaran ketika dia masuk ke taman. Yeoja itu memejamkan mata saat
angin berembus membelai wajahnya dan beberapa bunga sakura berguguran ke
arahnya. Suasana seperti ini membangkitkan perasaan damai dan ketenangan yang
membuat jiwa Hyerin menjadi tentram.
Hyerin membuka
mata saat indera pendengarannya tanpa sengaja menangkap bunyi gitar yang
harmonis. Mengikuti insting dan rasa penasaran, yeoja itu spontan
berjalan ke arah datangnya suara. Kelopak sakura kembali jatuh berguguran
mengikuti setiap langkah Hyerin.
Begitu sampai
di sisi lain taman, Hyerin langsung tercekat begitu melihat pemandangan di
depannya. Rumput-rumput bertabur kelopak bunga sakura membentuk gambar hati,
dan ditengah-tengah gambar hati itu, Donghae sedang memangku gitar sambil
menatapnya lembut dan.. bolehkah Hyerin berharap bahwa namja itu juga
menatapnya dengan penuh cinta?
Donghae
tersenyum sekilas lalu kembali memetik gitarnya dan mulai bernyanyi. Lagu My
All Is In You terdengar, Hyerin terpana sampai ia sama sekali tak bisa
mengalihkan pandangan ke arah lain selama Donghae bernyanyi.
Dia baru
tersadar dari keterpanaannya saat Donghae selesai bernyanyi dan segerombolan merpati
putih mengerubunginya, memasangkan tiara dengan butiran-butiran permata biru di
atas kepalanya. Hyerin meraba ke atas kepala begitu merpati-merpati itu meninggalkannya,
buncahan bahagia meluap-luap di hatinya hingga Hyerin takut buncahan itu akan
meluap keluar.
Jantung Hyerin
berdebar tak keruan saat Donghae tiba-tiba saja sudah ada di hadapannya, namja
itu berlutut, menatapnya dengan tatapan penuh arti sebelum menyodorkan sebuket
bunga tulip putih. Bibir Donghae tak pernah berhenti mengulas senyum. Senyum
yang selama ini selalu terbayang di mata Hyerin saat ia akan terlelap, senyum
yang selalu hadir di mimpinya, dan senyum yang sangat ingin dia miliki untuk
dirinya sendiri.
“Aku tidak
berbohong ketika mengatakan bahwa aku pernah bertemu seorang malaikat, karena
malaikat itu sekarang berada di hadapanku. Dia sangat indah..” Donghae terkekeh
di akhir kalimatnya sebelum melanjutkan, “Malaikat itu telah menarikku masuk ke
dalam hidupnya. Membuatku jatuh dalam pesonanya, dan membuatku terjatuh dalam
perasaan aneh yang orang sebut sebagai cinta.”
Hyerin tergugu,
tak mampu berkomentar apapun, dia hanya mampu menunggu perkataan Donghae sambil
menahan napas, matanya tak lepas dari wajah Donghae barang sedetik pun. Hyerin
merasa seperti dihipnotis.
Jika Hyerin
bisa meminta satu hal pada Tuhan, dia hanya ingin waktu berhenti berdetik untuk
saat ini.
“Malaikat itu
kau, Han Hyerin. Saranghamda, bersediakah kau menjadi milikku?”
Hyerin nyaris
lupa untuk berkedip mendengar perkataan Donghae, dia merasa seperti bermimpi,
mimpi yang indah. Hyerin bahkan rela tak bangun jika mimpinya seperti ini.
“A─aku..” Mulai
Hyerin, belum sempat menyelesaikan perkataannya, hantaman keras langsung dia
rasakan ketika teringat Yoona. Hyerin menunduk, merasakan godam raksasa menimpa
hatinya, “Mianhae, kau memiliki Yoona, aku tidak ingin menghancurkan
hubunganmu dengannya, Oppa.” tandasnya, menepis buket yang disodorkan
Donghae.
Di luar dugaan
Hyerin, jawabannya justru membuat Donghae tertawa kecil, “Kau tidak usah cemas,
aku sudah berpisah dengannya.”
Mata Hyerin
melebar tak percaya, “Mwo? Jangan bercanda denganku, Oppa! Ini
tidak lucu!”
Donghae
berdiri, namja itu menjepit hidung Hyerin gemas. “Apa aku terlihat
bercanda? Aku berpisah dengannya karena aku mencintaimu..” jelasnya yang
membuat Hyerin kembali menundukkan kepala─kali ini karena malu, “Jadi, apa
jawaban malaikatku ini?” tanya Donghae, menyelipkan bunga di tangannya pada
tangan Hyerin secara paksa.
Dan tanpa
menunggu jawaban Hyerin, Donghae mengangkat dagu yeoja itu lalu
mendekatkan wajahnya. Hyerin refleks memejamkan mata, aliran listrik langsung
menyengatnya saat bibir Donghae menyentuh bibirnya.
Donghae
tersenyum penuh kemenangan begitu merasakan bahwa Hyerin perlahan membalas
ciumannya. Selang beberapa detik, Donghae melepaskan ciuman mereka, namja
itu melingkarkan tangannya di pinggang Hyerin, membawa yeoja itu merapat
lantas berbisik di telinganya. “Aku sudah menemukan jawabannya barusan, jeongmal
saranghae..” Wajah Hyerin semakin memerah, dia memegang buket bunga dari
Donghae dengan erat. “omong-omong, gomawo telah menolak Baekhyun..”
“Kau
memataiku?” tanya Hyerin terkejut sambil menatap mata Donghae, melihat Donghae
bersikap sok polos, Hyerin mendecak lalu membenamkan wajahnya di dada Donghae,
tangannya mencengkeram kemeja Donghae erat, hatinya sangat senang. Beban jutaan
ton yang selama ini bertumpuk serasa menguap entah kemana. “Dia menyukaiku
karena sihirmu, Oppa..”
Donghae tertawa
pelan, dia mengeratkan pelukannya pada Hyerin sambil mengelus rambut yeoja
itu halus. “Kau tahu, aku sama sekali tak pernah memengaruhi Baekhyun dengan
sihir─tentu saja aku tidak sudi memberikanmu padanya!─dia benar-benar murni
menyukaimu..”
Memang apa
peduli Hyerin jika Baekhyun benar-benar menyukainya? Toh, hatinya sudah milik
Donghae seutuhnya, pikir Hyerin lalu tersenyum, dia memutuskan tak menjawab perkataan
Donghae dan lebih merapatkan diri pada kekasihnya untuk merasakan kehangatan namja
itu.
***
Jongwoon
memandangi pantulan dirinya di cermin ruang tunggu pengantin pria dengan wajah
datar. Setelah memastikan bahwa penampilannya sempurna untuk pernikahannya, namja
itu membanting diri di sofa, menunggu dayang istana datang dan menyuruhnya
untuk pergi ke altar.
Sambil
menunggu, pertanyaan Taeyoung kemarin mengenai hubungan mereka terngiang-ngiang
di pikiran Jongwoon saat dia memejamkan mata untuk menenangkan diri. Pedih
menyusup dengan sendirinya ke hati Jongwoon. Namja itu tanpa sadar
mengepalkan tangannya untuk menahan sakit yang terasa menikamnya tanpa ampun.
Deritan pintu
yang dibuka terdengar, Jongwoon membuka mata sambil mengendurkan kepalan tangannya,
dia memutar mata dan melihat dongsaengnya telah datang lengkap dengan
pakaian rapi. Wajah mereka terlihat prihatin ketika menatap Jongwoon.
“Hyung,
ini belum terlambat..” kata Donghae, duduk di sebelah namja itu. “Aku,
Hyuk, dan Kyu sudah mendapatkan kebahagiaan kami masing-masing. Kau juga harus Hyung,”
Jongwoon mengalihkan pandangan dari Donghae, tak ingin terhasut.
“Aish,
sebenarnya aku tidak terbiasa mengatakan ini, tapi Hyung, aku tidak
ingin kau terluka nantinya, batalkan pernikahan ini sekarang.” timpal Kyuhyun,
seumur hidup baru kali ini dia memanggil Jongwoon dengan sebutan ‘Hyung’.
Melihat
Jongwoon kembali bergeming, yang lain menghela napas.
Hyukjae
berjalan ke arah Jongwoon, menatap namja itu meskipun Jongwoon sama
sekali tak membalas tatapannya lantas berujar, “Kami bukan memprovokasimu Hyung,
kami hanya ingin kau bahagia, dan kami tahu kebahagiaanmu adalah Taeyoung.
Kejar dia Hyung, jangan biarkan dia lari darimu..”
Perkataan
Hyukjae ditanggapi oleh keheningan. Jongwoon hanya terpaku menatap tembok
dengan pandangan kosong selama beberapa saat sebelum mengulur napas panjang dan
memberanikan menatap mata dongsaengnya satu persatu.
“Ini pilihanku,
mianhae..” kata Jongwoon nyaris berbisik.
Setelah
mengatakan itu, Jongwoon berdiri dan keluar dari ruangan menuju altar begitu
melihat beberapa dayang datang.
Jongwoon
berjalan tanpa menoleh, sama sekali tak ingin melihat wajah kecewa para dongsaengnya.
Matanya diam-diam berair, dan setetes air mata jatuh tanpa disadarinya begitu
dia memasuki ruangan tempat pernikahannya berlangsung.