Entri yang Diunggulkan

Series Recommendations! đŸŽ„

Hi, happy Wednesday all! So decided to post my own personal series. I usually dont like watching movie, so because i watched those series ...

Sabtu, 15 Desember 2012

Surat Untuk Istri Lee Hyuk Jae di Masa Depan

Siapapun kau, gadis yang kelak akan menjadi istri Hyukjae di masa depan.
Tolong sayangi dan jaga Hyukjae dengan seluruh jiwa dan ragamu. Tolong rawat dia saat dia lelah, tolong lukiskan senyum di wajahnya setiap kesedihan menyelubunginya, tolong tuntun dia menuju kebahagiaan yang selama ini belum ia gapai secara sempurna.

Untukmu, istri Hyukjae di masa depan.
Bagaimanapun rupamu, bagaimanapun sifatmu, dan bagaimanapun dirimu, tolong tetaplah berada di sisi Hyukjae apapun yang terjadi nanti. Jangan pernah tinggalkan dia seorang diri, sebab, seberapa tegarnya pun Hyukjae terlihat, jauh di dalam dirinya ia orang yang rapuh. Yang mudah menangis dan tersentuh oleh hal-hal kecil, yang selalu mementingkan perasaan orang lain daripada perasaannya sendiri, yang selalu memilih menyimpan luka sendiri daripada membuat orang lain cemas. Beradalah di sisinya, hibur dia, berikan dia kata-kata penuh kasih sayang, dan berikan dia kata-kata penuh ketenangan. Berikan dia kehangatan saat dirinya mulai merapuh, tunjukkan dia kasih sayang saat luka mendatanginya. Jangan biarkan Hyukjae tenggelam seorang diri dalam kejamnya kehidupan. Temani ia, lalui semua rintangan kehidupan bersama, kuatkan dia karena semua cobaan yang singgah di hidupnya.

Siapapun kau, istri Hyukjae di masa depan.
Aku berharap bahwa kalian akan bahagia, membangun keluarga kecil yang penuh tawa dan keceriaan. Tolong jangan pernah sakiti Hyukjae bagaimana pun keadaannya nanti, karena, meskipun aku hanya mengenalnya dari jauh, aku tahu Hyukjae sudah banyak mengalami pahitnya kehidupan. Dia sudah mengecap berbagai rasa, dia sudah melalui macam-macam ironi kehidupan, dia sudah melalui berbagai macam kecaman dan pujian. Dia sudah banyak meneteskan air mata hanya karena kesalahpahaman semua orang.
Hyukjae berhati polos, bersenyum tulus meskipun secara pikiran dia sudah dewasa. Hatinya murni, ia mudah sekali tersakiti oleh hal-hal kecil. Tolong jangan biarkan hal itu terjadi lagi dihidupnya, tolong berikan dia kebahagiaan dalam kehidupan rumah tangga kalian.

Untukmu, istri Hyukjae di masa depan.
Berikanlah Hyukjae anak-anak yang lucu, yang menyayangi dan menghormatinya sebagai ayah. Berikan dia buah hati yang kelak akan berbakti padanya, membahagiakannya saat masa tua menjelang.
Jangan biarkan Hyukjae tersenyum palsu, jangan biarkan Hyukjae merasakan kesedihan.
Karena, meskipun aku tidak tahu bagaimana kehidupan Hyukjae sebenarnya, melihat Hyukjae bersedih membuatku tak urung merasa sedih. Hyukjae orang yang baik, yang selalu berusaha tegar untuk semua orang, yang berusaha tak menangis meskipun sering kali dia gagal, yang memiliki hati terlalu lembut hingga ia sering tersakiti.

Untukmu istri Hyukjae di masa depan.
Berikan dia alasan untuk tetap tersenyum dan tertawa, berikan dia alasan untuk tetap melangkah dengan badan tegap, berikan dia alasan untuk selalu bersyukur dalam hidupnya.

Untukmu, istri Hyukjae di masa depan, yang aku percayai bahwa kau pilihan terbaik untuk Hyukjae, yang aku percayai sebagai cinta sejati Hyukjae.
Tolong jaga lelaki itu, rawatlah ia sebaik yang kau bisa, sayangi ia setulus hatimu, kasihi ia dengan jiwa dan ragamu, dan jangan pernah sakiti ia sekecil apapun bentuknya.

Untukmu, istri Hyukjae di masa depan.
Tolong dengarlah permintaan sederhana dari seseorang fans sepertiku, yang hanya menginginkan kebahagiaan sejati untuk seorang Lee Hyuk Jae, Our Precious Jewel, Our Monkey Prince...

Dari seorang fans biasa yang hanya berharap untuk kebahagiaan biasnya :")

Brotherhood, Magic, and.. Love (Ten-Ending)


TEN (ENDING)
D

IAM. Sunyi. Senyap.

Ketiga namja yang masih terduduk di ruang tunggu itu mengerjapkan mata mereka sembari mengalihkan pandangan dari pintu tempat Jongwoon menghilang, sama sekali tak menyangka jika namja itu benar-benar mengambil keputusan yang akan menghancurkan dirinya sendiri.

“Jadi bagaimana?” tanya Kyuhyun setelah tersadar, dia menatap kedua saudaranya yang juga tampak sama frustasi dengannya sebelum menghela napas panjang. Jongwoon memang terlalu keras kepala, dia selalu mementingkan kepentingan Negara sekali pun itu mengorbankan kebahagiaannya. Kadang Kyuhyun tak habis pikir otak Jongwoon terbuat dari apa.

Dua orang yang ditanya Kyuhyun akhirnya mengerjap dan tersadar, mereka berpandangan, mendesah samar lantas mengangkat bahu.

Hyukjae menjawab dengan nada pasrah, “Entahlah, Kyu. Kau tahu sendiri bagaimana keras kepalanya Jongwoon Hyung.”

Donghae mengangguk setuju, “Kadang aku benar-benar ingin mencuci otaknya agar dia sekali saja memikirkan kebahagiannya!” komentar Donghae serius.

Dua lainnya menatap wajah serius Donghae dengan tatapan aneh namun tak berkata apa pun. Setelah percakapan singkat itu, ketiganya kembali diam, sibuk ditelan pikiran masing-masing.

Selang beberapa detik, suara hentakan kaki yang berlari ke arah ruangan mereka terdengar. Ketiganya terenyak, namun senyum langsung tersungging di bibir mereka melihat bagaimana cantiknya yeoja masing-masing dalam balutan gaun yang mereka pilihkan kemarin.

Hyukjae segera berjalan ke arah Hyunmi yang memakai gaun silver selutut─terlihat sederhana namun cantik─dan segera meraih tangan Hyunmi. “Gaun ini benar-benar cocok untukmu, kau cantik, Mi-ya…” bisik Hyukjae yang membuat pipi Hyunmi memerah.

Donghae mendecak dalam hati melihat tingkah Hyukjae, dia mengikuti langkah Hyukjae dan menghampiri Hyerin yang memakai gaun biru selutut tanpa lengan, tersenyum manis. “Seperti dugaanku, gaun ini sangat sempurna untukmu, cantik sekali..” Hyerin tersipu dengan pipi memerah.

“Aku tidak aneh, bukan?” tanya Saera tanpa basa-basi ketika Kyuhyun berdiri di hadapannya dan mengamati yeoja itu dari ujung kepala sampai ujung kaki.

Kyuhyun terkekeh, berpikir bagaimana Saera bisa terlihat aneh dengan gaun hijau secantik ini di tubuhnya? “Tentu saja tidak aneh, Saera-ya. Gaun pilihanku benar-benar sesuai untukmu, yeojaku ini sangat cantik..” Saera menunduk agar Kyuhyun tak melihat rona merah di pipinya.

Setelah bercanda sedikit dengan yeoja masing-masing, keenamnya kini duduk di sofa, wajah mereka langsung keruh saat membahas Jongwoon dan Taeyoung kembali.

“Jadi, kalian tidak bisa membujuk Jongwoon Oppa?” tanya Hyerin setelah mendengarkan cerita para namja.

Mianhae, Jongwoon Hyung terlalu keras kepala.” jawab Donghae, “Bagaimana dengan Taeyoung?” tanyanya kemudian yang mendapat gelengan serempak dari ketiga yeoja itu.

“Dia bersikeras hadir..” jawab Saera.

“Mereka sama-sama keras kepala kalau begitu,” sahut Kyuhyun.

Hyukjae mendesah, “Aku tetap berharap Jongwoon Hyung berubah pikiran..”

“Kita semua berharap seperti itu, Oppa..” respons Hyunmi.

Semuanya saling berpandangan dan menghela napas serentak, “Pasangan bodoh..” gumam mereka bersamaan.

***

Pintu ruangan tempat pernikahan berlangsung terbuka. Para tamu undangan menahan napas melihat kecantikan pengantin wanita hari ini, namun tatapan Jongwoon sama sekali tak tertuju pada si pengantin wanita, matanya malah sibuk mengamati seseorang di bangku paling depan yang juga tengah menatapnya.

Ekspresi penuh luka dan kecewa yang terpancar dari wajah yeoja itu membuat Jongwoon merasa bagai dicambuk, dia ingin mengalihkan pandangan ke arah lain─mungkin pada Sooyoung yang sebentar lagi akan menjadi istrinya─tapi Jongwoon tak bisa. Matanya sudah dibutakan oleh Taeyoung─yang Demi Tuhan terlihat sangat cantik dengan gaun putih panjangnya di mata Jongwoon!

“Youngie, berhenti menatap ke arah Jongwoon Oppa..” bisik Hyunmi sambil menyenggol bahu Taeyoung ketika Taeyoung tak juga mengalihkan tatapannya.

Taeyoung bergeming.

Hyerin dan Saera merangkul pundak Taeyoung mencoba membuat perhatian yeoja itu teralihkan, tapi Taeyoung benar-benar bergeming, raganya seolah sudah tak berada di sana. Taeyoung dan Jongwoon hanya saling menatap dengan tatapan yang hanya bisa diartikan oleh mereka berdua, bergeming terhadap segala hal yang ada di sana seolah hanya mereka berdualah satu-satunya penghuni ruangan itu.

OPPA!” kata Sooyoung berteriak pelan.

Jongwoon terkesiap, dia akhirnya mengalihkan tatapan dari Taeyoung pada Sooyoung. Wajahnya langsung berubah datar.

Sebelum berdiri di samping Jongwoon, Sooyoung mengedarkan pandangan ke sekitar. Saat matanya menangkap wajah Taeyoung, Sooyoung tiba-tiba merasa jahat, apalagi ditambah tatapan tajam dari ketiga Pangeran dan pasangan mereka masing-masing. Sooyoung mendesah, membulatkan tekad lantas naik ke altar.

Upacara itu berlangsung khidmat, semuanya tampak larut dalam acara sacral tersebut.

“Aku bersedia..” jawab Sooyoung tegas saat gilirannya mengucapkan janji tiba.

Jongwoon tersentak, dia terlalu sibuk dengan pikirannya hingga tidak sadar bahwa sekarang gilirannya mengucapkan kata sakral itu. Jongwoon mencuri pandang ke arah Taeyoung, jantungnya mencelos saat melihat Taeyoung berdiri dari duduknya, lantas keluar dari ruangan dengan air mata yang menggenang. Jongwoon menunduk seketika, pikirannya kembali dipenuhi sosok Taeyoung.

Bangku paling depan terdengar ribut. Telinga Jongwoon bahkan dapat menangkap keributan kecil yang terjadi di antara para dongsaengnya dengan pasangan mereka─para yeoja pasti ingin mengejar Taeyoung sementara para namja menahannya─yang berakhir dengan keheningan beberapa detik kemudian.

Seisi ruangan langsung hening secara mendadak, tegang menunggu Jongwoon mengucapkan janjinya.

“A-aku..” Jongwoon menahan bibirnya untuk meloloskan sumpah yang akan mengikat dia dan Sooyoung menjadi sepasang suami-istri sejenak. Dia memejamkan mata merasakan lidahnya yang tiba-tiba saja kelu saat akan mengatakan hal tersebut.

Oppa..” panggil Sooyoung lirih di sebelahnya.

Beberapa saat kemudian, Jongwoon membuka mata, menatap Sooyoung di sampingnya lalu berkata, “Aku bersedia,”

Senyum Sooyoung terkembang, namun langsung memudar digantikan air mata detik itu juga ketika Jongwoon melanjutkan. “Aku ingin sekali bersedia, Sooyoung-ah, tapi aku tidak bisa. Mianhae, aku mencintai Taeyoung..”

Jongwoon membungkuk pada Sooyoung, setelah itu dia membalikkan badan dan membungkuk pada tamu. Bayang-bayang Taeyoung kembali memenuhi pikiran Jongwoon, dan saat ia tersadar, namja itu sudah berlari meninggalkan altar tanpa memedulikan reaksi para tamu undangan─termasuk Jungsoo dan aboeji Sooyoung─yang terperangah melihat kejadian itu.

“Han Taeyoung!” teriak Jongwoon saat menemukan bayangan Taeyoung di taman.

Taeyoung yang baru saja menyeka air mata di pipi merasakan tubuhnya langsung membeku mendengar suara Jongwoon, dan melihat kesempatan itu, Jongwoon mempercepat larinya lantas berlutut di hadapan Taeyoung.

Jongwoon bahkan tak membiarkan dirinya menghirup udara barang sejenak ketika mengatakan, “Aku kabur dari pernikahanku untukmu. Taeyoung-ah, saranghae, saranghae, saranghae! menikahlah denganku!” Dengan sekali tarikan napas sembari menyodorkan kotak cincin berlian pada Taeyoung.

Taeyoung tak berpikir dua kali untuk menghambur ke tubuh Jongwoon membuat mereka jatuh berguling di atas rumput. Jongwoon meloloskan tawa bahagia dari bibirnya saat ia balas melingkarkan tangannya di pinggang yeoja itu. “Apa aku bisa mengartikannya sebagai “iya”?”

Taeyoung menahan isakan bahagianya sembari memukul pundak Jongwoon pelan, “Keurom! Nado saranghae, Oppa! Aku menunggumu mengatakannya dari dulu, pabo Jongwoon!”

***

“Harapan kita terkabul..” gumam Hyunmi melihat kejadian itu dari jauh, Hyukjae berada di sebelahnya, ikut memandang lurus pada Taeyoung dan Jongwoon.

Setelah tersadar dari keterkejutan mereka akan aksi Jongwoon, mereka memang memutuskan untuk mengejar Jongwoon keluar. Dan apa yang diharapkan mereka terjadi ternyata benar-benar terjadi. Hyerin-Donghae, Saera-Kyuhyun, Yeonhee-Sungmin (ya, Yeonhee mulai terbiasa menerima kehadiran Sungmin, dia pikir Sungmin bukan namja yang begitu buruk), dan Kihwang-Ryeowook pun berdiri tak jauh dari mereka, ikut menyaksikan momen pasangan baru di kerajaan ini.

Hyukjae mengalihkan pandangan dari depan pada yeojanya mendengar perkataan Hyunmi yang sepertinya hanya didengar oleh dia, namja itu merangkul pundak Hyunmi sambil tersenyum lebar. “Ne, tentu saja terkabul. Tuhan pasti mengabulkan harapan dari namja tampan sepertiku!” kata Hyukjae percaya diri yang dihadiahi lirikan tajam yeoja itu.

“Kau mulai menyebalkan lagi Oppa,” dengus Hyunmi sambil berusaha menyentak tangan Hyukjae dari bahunya.

Hyukjae tertawa kecil, dia mencubit kedua pipi Hyunmi lembut saking gemasnya melihat tingkah yeoja itu. “Aigo, aku hanya bercanda, Mi-ya, berhentilah bersikap serius!”

“Aku tidak bersikap serius!” elak Hyunmi, cemberut sembari mengusap-usap pipinya.

Arraseo! Arraseo!” kata Hyukjae menyerah, dia merentangkan tangan dan membawa Hyunmi ke dalam pelukannya. Hyukjae membenamkan wajahnya di perpotongan leher Hyunmi, membuat yeoja itu bergidik merasakan terpaan napas Hyukjae di kulit lehernya. “Saranghae, jangan pergi dariku, ne?”

Hyunmi merasakan pipinya memanas, dia bersyukur Hyukjae tak dapat melihatnya. “Aku tidak akan pergi darimu. Nado saranghae, Oppa.” balas yeoja itu sambil membalas pelukan Hyukjae.

Hyukjae terkekeh senang mendengarnya, “Aku jadi ingin menyusul Jongwoon Hyung. Bagaimana kalau besok kita menikah?”

***

Hyerin menyunggingkan senyum lega di wajahnya melihat bagaimana Taeyoung akhirnya mendapat kebahagiaan, yeoja itu menyandarkan kepalanya di dada Donghae dengan mata tak lepas dari arah depan.

Donghae secara otomatis melingkarkan tangannya di perut Hyerin, memperkecil kemungkinan jarak yang masih tersisa di antara tubuh mereka.

“Jongwoon Hyung lambat sekali,” komentar Donghae tiba-tiba yang membuahkan kekehan dari Hyerin.

“Setidaknya, Taeyoung dan Jongwoon Oppa akhirnya bersatu.” tanggap Hyerin, mengangkat wajah sedikit untuk menatap Donghae. “Aku ikut bahagia untuk mereka, Oppa..” bisiknya lirih.

Donghae menunduk dan memagut mata Hyerin, mereka berbagi tatapan penuh kasih sebelum Donghae kembali bersuara.

“Aku juga, Hyerin-ah.” balasnya, satu tangan Donghae yang melingkari perut Hyerin kini beralih membelai pipi yeoja itu. Ia mengeluarkan senyum sejuta pesona yang dimilikinya lalu melanjutkan, “Dan aku lebih bahagia karena kau ada di sisiku, saranghae..”

Hyerin memejamkan mata menikmati belaian tangan Donghae di pipinya, setelah puas, dia membuka mata untuk menatap Donghae kembali.

Hyerin tersenyum, menurunkan tangan Donghae yang masih membelai pipinya lantas memutar tubuh hingga mereka kini berpelukan.

Hyerin lalu melingkarkan tangannya di pundak Donghae lantas menjawab, “Nado Oppa, nado saranghae..”

Senyum Donghae melebar dengan sendirinya. Sambil mempererat pelukan mereka, namja itu mendekatkan bibirnya pada telinga Hyerin lantas berbisik. “Kapan kita menyusul Jongwoon Hyung dan Taeyoung menikah, chagi?”

***

Saera mengedipkan mata beberapa kali saat terjaga dari lamunannya. Dia menatap lekat-lekat pada Taeyoung dan Jongwoon yang masih asyik berpelukan, senyum lantas terkembang di bibirnya.

“Hah, lega sekali rasanya melihat Taeyoung Eonni akhirnya bahagia!” ujar Saera membuat Kyuhyun menipiskan bibir, menyetujui ucapan yeojanya itu dalam hati.

“Mereka terlihat manis saat bersama..” kata Saera tiba-tiba yang langsung membuat Kyuhyun menoleh ke arahnya.

Kening namja itu mengernyit, “Apa kita tidak terlihat manis sampai kau berkata seperti itu?” tanyanya, diam-diam menyelipkan tangan pada pinggang Saera dari samping.

Mendengar pertanyaan Kyuhyun, giliran kening Saera yang mengernyit sekarang. “Apa kita terlihat manis? Aku bahkan sangsi memikirkannya.” jawab yeoja itu.

Kyuhyun mendengus, “Setidaknya kita pasangan evil maknae yang sempurna,” serunya bangga.

Saera tertawa pelan mendengarnya, “Ya! Tidak adakah sebutan lain yang lebih manis?”

Kyuhyun mengeratkan rangkulannya di pinggang Saera sambil membawa yeoja itu lebih dekat untuk ia dekap.

Namja itu menyandarkan dagunya di atas kepala Saera lalu menyahut. “Ani, aku menyukainya.” Jeda sesaat sebelum Kyuhyun melanjutkan, “Saera-ya, aku mungkin bukan tipe orang yang pandai berkata-kata. Tapi, tetap di sampingku selamanya, ne? Saranghae..”

Saera bisa merasakan jantungnya yang berdetak semakin cepat mendengar perkataan Kyuhyun. Namja ini… Saera tak bisa mendefinisikan seberapa besar cintanya untuk Kyuhyun.

Saera menyandarkan kepalanya di dada Kyuhyun, tersenyum mendengar detak jantung namja. “Tanpa diminta pun, aku akan. Nado Oppa, nado saranghaeyo..”

Kyuhyun tertawa senang mendengarnya, “Kalau begitu, kau tidak keberatan jika aku ingin menikahimu secepatnya, bukan?”

***

“Aku berharap para Pangeran benar-benar bahagia dengan pilihan mereka kali ini.” kata Kihwang tulus, menatap satu-persatu pasangan yang sedang larut dalam dunia mereka masing-masing sebelum menatap pada Ryeowook.

Ryeowook tersenyum, memuji betapa murni hati kekasihnya ini dalam hati, bahkan pada teman-teman yang belum lama ia kenal. Ryeowook lantas menautkan jemarinya bersama jemari Kihwang, menatap Kihwang lembut. “Aku juga berharap seperti itu, Hwangie. Para pangeran temanku sejak kecil, bahkan sudah kuanggap seperti saudara. Tentu saja aku juga menginginkan mereka bahagia.”

Kihwang tersenyum, tangannya balas menggenggam tangan Ryeowook dengan tak kalah erat, seolah takut kehilangan. “Aku juga menginginkan kebahagiaan untuk kita.” tutur Kihwang kemudian.

Senyum di bibir Ryeowook terkembang semakin lebar, dia menarik Kihwang untuk bersandar di bahunya dan menyahut. “Kita akan Hwangie, kita akan bahagia selamanya. Aku berjanji akan membawa kebahagiaan yang abadi di hubungan kita, saranghae..”

“Aku memegang janjimu, dan nado Oppa, nado saranghae..”

***

Yeonhee melirik pasangan-pasangan yang asyik bermesraan lantas mendesah. Well, Yeonhee memang ikut bahagia dengan semuanya, tapi jauh di lubuk hatinya ia juga merasa ada rasa iri yang menelusup masuk. Yeonhee lalu menghela napas, saat tanpa sengaja melihat ke arah kiri, dia melihat Sungmin sedang menatapnya intens sambil tersenyum. Yeonhee mulai merasakan debaran kecil merambat ke hatinya melihat senyum Sungmin.

Wae?” tanyanya berdebar.

Sungmin menggeleng, meraih tangan Yeonhee dan menggenggamnya erat. “Ani, aku hanya berpikir kapan kita bisa berbagi kemesraan seperti mereka. Mungkin kau bosan mendengarnya. Tapi aku serius Hee-ya, aku jatuh cinta pada pandangan pertama denganmu. Saranghae..”

Jantung Yeonhee bergemuruh, entah apa yang dipikirkannya ketika dia tiba-tiba saja mendekat dan menyandarkan kepalanya di bahu Sungmin dengan kedua tangannya yang melingkar di perut Sungmin. “Aku memang belum yakin dengan perasaanku padamu. Kita baru bertemu beberapa jam, tapi, Sungmin-ah, aku merasa mulai menyukaimu. Ajari aku untuk mengembangkan rasa suka ini menjadi cinta..”

Meskipun terkejut, Sungmin kemudian mengusap tangan Yeonhee yang melingkari perutnya dengan satu tangan, sementara tangan lain mengelus rambut Yeonhee sambil tersenyum lebar. “Aku akan, percayalah!”

***

Beberapa saat hanya terdiam memandangi putra-putranya yang tampak bahagia dengan pasangan masing-masing, Jungsoo akhirnya mengalihkan tatapan pada Perdana Menteri─yang sekaligus merupakan aboeji Sooyoung sambil tersenyum penuh penyesalan.

Mianhaeyo atas kejadian tidak mengenakkan ini, Perdana Menteri Choi, aku benar-benar tidak menyangka bahwa Jongwoon akan melakukan hal memalukan seperti ini.”

Perdana Menteri Choi tersenyum tipis, “Gwaenchanayo, Yang Mulia. Saya juga tidak bisa memaksakan kehendak Pangeran Jongwoon, justru saya lega Pangeran Jongwoon membatalkannya sekarang. Saya tidak bisa membayangkan kalau Pangeran Jongwoon menyadarinya saat dia sudah menikah dengan Sooyoung.”

Jungsoo mengangguk. Dia sama sekali tak membenci putra-putranya karena telah membatalkan perjodohan mereka seenaknya, Jungsoo sadar dia tidak bisa memaksakan perasaan anak-anaknya.

“Yang Mulia, jika sudah tak ada yang bisa dibicarakan saya pamit. Sooyoung sepertinya butuh seseorang..” pamit Perdana Menteri Choi beberapa saat kemudian.

Jungsoo kembali mengangguk tanpa menoleh, dia lalu mengedarkan pandangannya pada arah depan kembali. Tepat pada putra-putranya yang tengah bercanda riang bersama kekasih mereka, Ryeowook, Yeonhee, Kihwang, dan Sungmin─yang dia ketahui sebagai adik Saera─bahkan ikut larut dalam suasana bahagia tersebut. Sudut bibir Jungsoo tanpa sadar membentuk sebuah senyuman.

“Siwon-ah, Kibum-ah!” panggil Jungsoo pada penasehatnya dan juga Kibum yang berada beberapa langkah di belakangnya.

Kedua orang yang dipanggil itu sontak menghampiri Jungsoo dengan segera. “Nde, Yang Mulia? Anda menginginkan sesuatu?” tanya Siwon mewakili Kibum.

Tanpa mengalihkan tatapannya dari arah depan, Jungsoo menjawab, “Siapkan pesta pernikahan untuk Jongwoon besok, juga pesta pertunangan untuk ketiga Pangeran lainnya. Aku ingin menyatukan kedua pesta itu sekaligus. Setelah pengucapan janji di altar, aku menginginkan acara pertunangan segera dilaksanakan, dan perayaan pesta dilakukan bersama-sama, mengerti?”

Kibum diam-diam tersenyum mendengarnya, dia dan Siwon membungkuk setelah menyatakan bahwa mereka mengerti dan segera berlalu untuk melaksanakan apa yang Jungsoo perintahkan.

Begitu langkah kaki Siwon dan Kibum menghilang, Jungsoo menengadah menatap langit, senyum di wajahnya bertambah lebar, dia lalu berbisik pada udara kosong yang berembus. “Sora-ya, lihat putra-putramu sekarang, mereka sudah menemukan kebahagiaan masing-masing. Kau bahagia, bukan?”

Jungsoo lalu menutup matanya menikmati semilir angin yang membelai-belai wajahnya, “Andai kau masih di sini, pasti kebahagiaan mereka akan bertambah lengkap. Sora-ya, bogosippoyo..”

***

“HAH? Akhirnya hanya seperti itu?” teriak Hyunmi tak puas saat Saera mengeluarkan sebuah DVD dari DVD room.

Semua di ruangan itu menatap Hyunmi heran, Hyerin bahkan sampai menghentikan elusan tangannya di rambut Donghae yang sedang berbaring di pahanya, begitu pun Yesung yang langsung mengangkat kepalanya yang sedang bersandar di bahu Taeyoung. Kyuhyun yang baru saja ditinggalkan Saera untuk mengeluarkan DVD langsung memutar bola mata mendengar teriakan Hyunmi.

“Memang kau ingin film ini berakhir seperti apa, Hyunmi-ya?” tanya Kyuhyun sarkatis.

“Ya! Kyuhyun-ah, sopanlah sedikit pada kekasihku!” sahut Eunhyuk tiba-tiba sambil memelototi Kyuhyun, Kyuhyun mendengus tapi tak menjawab.

Hyerin mengelus dadanya, “Aku pikir kau kenapa Eonni,” desah yeoja itu lega membuat Donghae tak urung tersenyum melihat bagaimana ekspresi lega yang ditunjukkan oleh Hyerin.

Taeyoung mendecak kemudian terkekeh, “Eonni, jangan terlalu berharap lebih pada endingnya, aku kan sudah bercerita padamu..” jelas Taeyoung, Yesung hanya tersenyum melihat bagaimana cara kekasihnya itu menjelaskan, terlihat menggemaskan.

Hyunmi merengut. “Ya, aku kan hanya mengira akan ada hal yang lain yang terjadi di akhir film, tapi.. aish, lupakan!” katanya, kembali duduk di samping Eunhyuk─membuat Eunhyuk secara otomatis kembali bersandar pada yeoja itu.

Hyunmi lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling dorm Super Junior yang terlihat sepi. Wajar saja dorm sepi jika mengingat Leeteuk telah pergi wamil sementara Shindong, Kangin, dan Siwon sedang sibuk dengan jadwal mereka, hanya Eunhyuk, Donghae, Yesung, Kyuhyun, Sungmin, dan Ryeowook yang tidak mempunyai jadwal hari ini, karena itu keenam namja super sibuk tersebut memutuskan menghubungi kekasih mereka untuk menonton film bersama.

“Omong-omong, kemana dua pasangan itu? Pergi ke supermarket saja lama sekali.” ujar Hyunmi tiba-tiba pada semua yang ada di ruangan.

“Kihwang dan Yeonhee Eonni bilang mereka sebentar lagi sampai.” sahut Saera tak acuh.

Annyeong.. Kami pulang..” teriak Yeonhee dan Kihwang beberapa saat kemudian, keduanya langsung berbaur dengan para yeoja lain, sementara Sungmin dan Ryeowook mengikuti dari belakang dengan membawa beberapa kantung belanjaan.

“Ya! Kalian menonton film tanpa kami?” protes Yeonhee tiba-tiba melihat kaset DVD yang berantakan.

Hyunmi, Hyerin, Taeyoung, dan Saera terkikik tanpa merasa rasa bersalah sama sekali.

“Kalian lama, Yeonhee-ya, Kihwang-ah. Jadi, jangan salahkan kami kalau kami menonton duluan.” balas Donghae.

Yesung lalu terkekeh tiba-tiba dan berkata. “Kalian berdua tahu? Nama pemeran utama di film ini seperti nama kita, kebetulan yang lucu sekali!”

Kihwang dan Yeonhee menghela napas serentak.

“Kalau begitu, ayo menonton lagi! Aku dan Yeonhee kan belum menonton!” seru Kihwang semangat.

“Ya! Ya! Kalian melupakan kami, huh?” teriak Sungmin tiba-tiba dari arah dapur sambil membawa beberapa camilan dan meletakkannya ditengah-tengah.

Camilan itu langsung diserbu dalam hitungan detik oleh semua orang, membuat Sungmin terjatuh ke belakang dan semuanya tertawa─termasuk Yeonhee meskipun dia akhirnya mengulurkan tangan untuk membantu Sungmin berdiri.

Ryeowook yang baru saja kembali dengan membawa minuman buatannya langsung ikut tertawa melihat keadaan Sungmin, dia lantas meletakkan minuman itu di atas meja dan berjalan ke arah tivi, dia memasukkan DVD tersebut kepada DVD room kembali dan berjalan ke arah Kihwang dengan membawa remote di tangannya.

“Ayo menonton kembali semuanya!” seru Ryeowook dengan nada ceria lantas menekan tombol play di remote.

Semua orang tertawa beberapa saat dengan camilan di tangan masing-masing sebelum memfokuskan mata menatap layar tivi 50 inci di hadapan mereka, menyaksikan dengan saksama bagaimana judul film tersebut perlahan muncul dan bertuliskan,

Brotherhood, Magic, and… Love.”

ENDING

Brotherhood, Magic, and.. Love (Nine Part B)


NINE PART B
T

AEYOUNG menghabiskan waktu 4 jam untuk menceritakan segalanya pada Hanni─minus tentang Negeri Shappire Blue dan orang-orangnya yang bisa sihir, tentu saja. Yeoja itu menceritakan setiap detail kejadian yang dilaluinya bersama Jongwoon, yang akan berakhir dengan dia menangis dipelukan Hanni dan Hanni menghiburnya dengan sejuta kata-kata bijaksana.

Pikiran dan hati Taeyoung sekarang lebih tenang setelah ia bercerita. Hanni memberinya banyak saran yang benar-benar membuka mata Taeyoung. Hanni bukan hanya sekadar sahabat untuk Taeyoung, dia juga eonni yang mengerti Taeyoung luar-dalam. Dalam hati, Taeyoung sangat bersyukur ada Hanni di hidupnya. Setidaknya, ia mempunyai penopang saat ia sedang dilanda kebingungan. Taeyoung memiliki Hanni sebagai tempat bersandar.

Eonni, gomawo sudah mendengarkan..” kata Taeyoung saat dia selesai menceritakan semua hal pada Hanni, dia mengusap sisa air matanya sambil mengulas senyum.

Hanni ikut mengulas senyum, membelai rambut Taeyoung penuh kasih sayang. “Gwaenchanayo, Eonni senang kau datang untuk bercerita. Itu artinya kau masih menganggapku ada..” balasnya setengah bercanda, “Nah sekarang, pergilah, temui Jongwoonmu.”

Eonni, kau mengusirku?” tanya Taeyoung pura-pura merengut.

Hanni terkekeh lalu berdiri. “Kau berpikir seperti itu? Baiklah, kita biarkan Jongwoon menunggu lebih lama di tengah hujan salju saja kalau begitu.”

Mata Taeyoung membulat panik, “Di luar hujan salju?” tanyanya cemas, dia langsung berdiri dan berjalan ke arah jendela. “Aigo..” serunya lalu berlari ke arah pintu masuk dan keluar dengan terburu-buru.

Hanni mengamati tingkah Taeyoung sambil menggelengkan kepala, memaklumi Taeyoung yang bahkan tidak berpamitan padanya. Sangat panik mungkin? Hanni kemudian memberesi gelas-gelas berisi cokelat panas di atas meja, dia terenyak saat seseorang memeluknya dari belakang. Senyum kecil menghiasi wajahnya begitu menyadari yang tengah memeluknya adalah Taeyoung. Dia pasti kembali lagi karena mengingat Hanni.

Eonni, aku pergi dulu, ne? Gomawo untuk semuanya, saranghae..” seru Taeyoung dengan napas agak tersengal-sengal karena ia terpaksa berlari kembali dari lantai dasar apartemen Hanni.

Setelah Hanni membalas ucapannya, Taeyoung berlari kembali ke arah lift. Dia memencet tombol lift dengan tidak sabaran untuk menuju lantai dasar. Begitu lift terbuka, Taeyoung berlari kembali menuju luar gedung. Langkahnya memelan begitu dia sampai di tempat Jongwoon berjanji akan menunggunya.

Tidak ada siapa pun di sana. Jongwoon menghilang. Taeyoung mengedarkan pandangan ke segala arah, hanya butiran salju yang berjatuhan yang bisa ia temukan. Taeyoung tanpa sadar menghela napas, mengulurkan tangan untuk merasakan butiran salju yang berjatuhan ke tangannya sambil meresapi sesak di dalam dada karena Jongwoon tidak mau menunggunya.

Saat sedang sibuk dengan pikirannya, Taeyoung tersentak saat sebuah mantel tiba-tiba saja melingkari pundaknya. Yeoja itu memutar tubuh, terpukau melihat Jongwoon di hadapannya. Namja itu menepati janjinya, dia menunggunya.

Jongwoon tersenyum, “Kau berpikir aku meninggalkanmu?” tanyanya pelan, Taeyoung mengangguk membuat Jongwoon melebarkan senyumnya dan membenarkan mantel di pundak Taeyoung. “Aku tidak mungkin meninggalkanmu, tenang saja..”

Senyum Taeyoung mengembang dengan sendirinya. “Kau membuatku cemas, pabo!” rajuknya membuat Jongwoon terkekeh dan menyentil dahi Taeyoung lembut.

“Kau yang pabo! Aku menunggumu hampir 4 jam..” balas Jongwoon.

Taeyoung terkikik, lantas menarik tangan Jongwoon meninggalkan tempat itu.

Keduanya berjalan sambil berpegangan tangan. Mereka masuk ke sebuah kafe untuk makan selagi menunggu hujan salju reda dan diselingi obrolan ringan. Taeyoung sesekali tertawa di sela-sela obrolan mereka, dan Jongwoon tersenyum senang setiap kali melihat Taeyoung tertawa. Tawa Taeyoung selalu bisa mengusir gundah di hatinya.

Hampir 2 jam menunggu, hujan salju yang lebat akhirnya berhenti. Keduanya memutuskan keluar dari kafe dan melewati sisa hari itu dengan berjalan mengelilingi pertokoan di pinggir jalan. Mereka memasuki toko demi toko dengan bahan obrolan yang seolah tak pernah habis.

Oppa, lihat kura-kura ini! Dia mirip sekali denganmu, bukan?” tanya Taeyoung begitu mereka memasuki toko boneka, dia mengangkat boneka kura-kura besar yang ditemukannya dan membandingkannya di hadapan wajah Jongwoon.

Jongwoon memutar bola mata, mendekatkan wajahnya pada wajah Taeyoung agar yeoja itu bisa melihatnya dengan saksama dan bertanya dengan suara rendah. “Kau tidak melihat seberapa tampan aku, Taeyoung-ah?”

Taeyoung mendorong wajah Jongwoon dengan telapak tangan karena merasa jantungnya akan meloncat melihat seberapa dekat wajah Jongwoon dengan wajahnya. Yeoja itu lalu menutupi kegugupannya dengan merengut, bibirnya mengerucut sambil memandangi boneka kura-kura itu. “Tapi aku suka boneka ini, dia terlihat lucu!”

“Aish, bilang saja kau ingin aku membelinya untukmu..” decak Jongwoon lantas mengambil boneka di tangan Taeyoung dan berjalan menuju kasir.

Taeyoung mengikuti langkah Jongwoon dari belakang sambil terkekeh. Dia segera memeluk boneka kura-kura itu setelah Jongwoon membayarnya. Jongwoon diam-diam mengamati senyum di wajah Taeyoung, dalam hati cemas jika senyum itu suatu saat akan menghilang dan Jongwoon kehilangan senyum favoritnya.

Mereka melanjutkan perjalanan sambil bercanda satu sama lain, terkadang Jongwoon akan menjahili Taeyoung yang berakhir dengan teriakan marah Taeyoung sebelum yeoja itu mencubitnya tanpa ampun, dan kejadian itu akan berakhir dengan gema tawa dari keduanya, menertawakan tingkah kanak-kanak mereka.

Mereka melupakan segala masalah yang mereka miliki untuk sejenak, menikmati detik-detik kebersamaan mereka untuk yang terakhir kalinya. Jongwoon pun tak segan-segan menunjukkan segala perhatian pada Taeyoung, sebab ia sadar, ini terakhir kalinya mereka bisa bersikap seperti ini. Karena untuk ke depannya, akan ada status yang menahan mereka agar berada di ruangan yang berbeda.

Danau adalah tujuan terakhir mereka saat sore menjelang. Dan begitu matahari hampir terbenam sepenuhnya, mereka duduk di jembatan yang ada di atas danau. Terdiam menikmati detik-detik matahari tenggelam. Taeyoung menyandarkan dagunya di kepala boneka kura-kura dari Jongwoon lalu mendekap boneka tersebut erat-erat dengan satu tangan sementara tangan lainnya masih digenggam oleh Jongwoon.

Oppa, mataharinya akan tenggelam.”  ujar Taeyoung begitu melihat matahari semakin menghilang, “Ayo kita hitung bersama-sama.” imbuhnya, mengangkat dagu dan menatap Jongwoon penuh harap.

Jongwoon terkekeh, dia mengayunkan genggaman tangan mereka dan mulai menghitung. “Lima..” Taeyoung membalas dengan mengatakan “Empat..” disambut Jongwoon yang mengatakan “Tiga..”

Matahari sudah semakin tenggelam, Taeyoung melirik ke arah tangan mereka yang masih bertautan erat sebelum menolehkan kepala ke samping untuk melihat Jongwoon lalu melanjutkan, “Dua..”

Merasa ditatap, Jongwoon ikut menoleh ke arah Taeyoung. Saat mata mereka bertemu, Jongwoon tak bisa menahan diri untuk tak melingkarkan tangannya di bahu Taeyoung dan menarik yeoja itu mendekat.

Taeyoung mengeratkan pelukannya pada boneka kura-kura pemberian Jongwoon sambil memejamkan mata saat embusan napas Jongwoon menerpa wajahnya, jantungnya berdebar semakin kencang setiap detiknya.

Sebelum bibir mereka bersentuhan, Jongwoon menggumamkan kata “Satu..” lantas menutup kesenjangan di antara mereka. Membiarkan tubuh mereka merasakan sensasi asing namun lembut yang pelan-pelan membuat pikiran mereka buyar.

Saat oksigen menjadi pengingat, keduanya melepaskan diri dengan napas terengah. Taeyoung menatap mata Jongwoon lurus dengan tatapan menyendu, “Oppa, apa hubungan kita sebenarnya?”

***

Hyukjae dan Hyunmi berjalan mengikuti suster Jung─ya, ini di luar dugaan karena mereka ternyata tetap pergi setelah insiden pertengkarang Hyukjae dan Jina─mata Hyunmi sesekali berpendar ke segala arah, hatinya langsung meringis, dia bahkan hampir menangis melihat orang-orang dengan gangguan mental di sepanjang lorong sedang melakukan kegiatan mereka; beberapa terlihat waras, beberapa berteriak seperti kesetanan, dan beberapa tertawa-tawa seolah sedang melihat sesuatu yang sangat lucu.

Hyukjae yang menyadarinya mencoba merangkul pundak Hyunmi, namun yeoja itu dengan cepat mengelak dan berjalan mendahului Hyukjae, membuat Hyukjae bertanya-tanya apalagi yang terjadi dengan Hyunmi.

Mereka berhenti di depan sebuah pintu putih yang dikunci, suster Jung segera merogoh kunci di saku bajunya untuk membuka pintu.

“Waktu Anda hanya 5 menit, Hyunmi-ssi. Hana-ssi akan menjalani perawatan rutinnya.” kata suster Jung memberitahu, menyimpan kuncinya kembali di saku.

Hyunmi mengangguk, dia memutar kenop pintu ke bawah dan termangu. Eommanya sedang duduk di tepi ranjang, memeluk guling dengan pandangan kosong entah kemana, mulutnya menggumamkan sesuatu yang sama sekali tak bisa dimengerti Hyunmi. Hyunmi menguatkan diri, menekan perasaan ingin menangis sekeras mungkin. Yeoja itu berjalan ke arah eommanya, tersenyum.

Eomma, ini Hyunmi. Kau masih mengingatku?” tanya Hyunmi sembari berlutut di hadapan Kim Hana, yeoja paruh baya itu mengalihkan pandangannya pada Hyunmi, terkikik kecil sambil menunjuk-nunjuk wajah Hyunmi.

Hyunmi mencoba mempertahankan senyumnya, dia menggapai tangan Hana dan menggenggamnya erat dan mulai berbicara. Selang tiga menit, Hyunmi tak kuasa menahan diri lebih lama lagi untuk mengobrol dengan eommanya, yeoja itu menutup mulut, lantas keluar ruangan tanpa memedulikan Hyukjae sambil menangis.

Hyukjae mengurungkan niatnya untuk menyusul Hyunmi, dia lebih memilih menghampiri eomma Hyunmi lantas berlutut. Hana sedikit menaruh perhatian pada Hyukjae.

Ahjumma mungkin tidak mengenalku, tapi... bisakah Ahjumma mengizinkanku untuk menjaga putri Ahjumma?” tanya Hyukjae sopan.

Hana tertawa sebentar sebelum wajahnya menyendu mendengar kata “putri” yang diselipkan Hyukjae di kata-katanya. “Ah..na, Hyun..mi...” gumam Hana kemudian sambil melihat ke arah langit-langit dengan pandangan kosong.

Hyukjae mengangguk, mengusap lengan Hana dengan lembut. “Bisakah?”

Hana tak menjawab, dia hanya kembali menggumamkan “Ahna, Hyunmi” berulang-ulang. Hyukjae menganggapnya sebagai jawaban iya.

Hyukjae tersenyum, lalu mulai menceritakan segala hal mengenai Ahna dan Hyunmi kepada Hana yang tampak diam─Hyukjae beramsumsi bahwa yeoja paruh baya itu sedang menyimak.

Dua menit kemudian, suster Jung datang kembali bersama beberapa dokter, dia meminta dengan sopan agar Hyukjae meninggalkan kamar Hana.

Hyukjae mengangguk, untuk terakhir kali, namja itu menatap Hana hangat. Lengannya mengusap punggung tangan Hana dan berucap, “Aku akan menjaga Hyunmi, Ahjumma bisa memercayakannya padaku..” Setelah itu Hyukjae berdiri dan berjalan keluar ruangan tanpa menoleh lagi pada Hana, dia sama sekali tak tahu kalau Hana─entah sadar atau tidak─menitikkan air mata dan mengangguk karena ucapannya.

Hyukjae melihat Hyunmi di bangku taman rumah sakit jiwa, sedang menutup wajah dengan tangan dan tampak terisak, tubuhnya bergetar hebat. Sesak menelusup masuk ke dalam hati Hyukjae, namja itu menghela napas sebelum duduk di samping Hyunmi. Dia menarik paksa kedua tangan Hyunmi hingga matanya yang dipenuhi air mata terlihat jelas oleh Hyukjae.

“Lepas..” lirih Hyunmi mencoba memberontak.

Hyukjae menarik paksa Hyunmi ke dalam pelukannya, namja itu menyandarkan dagunya di atas kepala Hyunmi sambil mengusap-usap punggung Hyunmi dengan lembut, mencoba menenangkan yeoja yang saat ini tengah memukul-mukul dadanya.

Merasa usahanya sia-sia, Hyunmi akhirnya berhenti memberontak. Tangannya yang memukul dada Hyukjae beralih mencengkeram kaus yang Hyukjae pakai dengan erat, dia melesakkan kepalanya di dada Hyukjae, terisak kembali.

“Sihir apa yang bisa digunakan untuk membuat Eommaku kembali normal?” tanya yeoja itu dengan suara parau.

Hyukjae terdiam, sama sekali tak tahu harus menjawab apa pada Hyunmi. Di dunia sihir, memang ada beberapa sihir yang bisa digunakan untuk menyembuhkan penyakit. Namun tidak ada satu sihir pun yang bisa digunakan untuk pengidap penyakit kelainan jiwa.

“Tidak ada?” tebak Hyunmi, meremas kaus Hyukjae semakin erat.

Hyukjae membiarkan Hyunmi kembali terisak dengan hebat tanpa menjawab satu pun pertanyaan yeoja itu. Tangannya tetap mengusap punggung Hyunmi sambil menghela napas berkali-kali.

Mereka betahan di posisi tersebut selama beberapa menit sebelum Hyunmi akhirnya berhenti terisak dan melepaskan diri dari dekapan Hyukjae. Dia mengulur napas panjang sambil mencoba menstabilkan emosi yang sedang bergejolak di hatinya.

Fakta bahwa tidak ada perkembangan yang berarti pada eommanya membuat hati Hyunmi terluka. Beberapa tahun ini─apalagi setelah kematian Ahna─Hyunmi memang tak pernah mengunjungi eommanya lagi, bukan dia tak ingin, Hyunmi hanya takut akan kecewa seperti sekarang karena eommanya sama sekali tak ada kemajuan.

Hyukjae yang mengamati tingkah yeoja itu ikut mengulur napas, dia bisa merasakan kesedihan dan kekecewaan yang Hyunmi rasakan. Hyukjae beranjak dari duduknya lantas berlutut di hadapan Hyunmi, dia mengulurkan tangan untuk menyeka jejak-jejak air mata yang masih tertinggal di mata yeoja itu dengan lembut.

“Tuhan punya rencana tersendiri untukmu, Mi-ya, dia sudah menyiapkan kebahagiaan lain dibalik semua cobaan yang menimpamu.”

Hyunmi menatap lurus-lurus pada mata Hyukjae yang terlihat sangat teduh, dia lalu menggeleng sambil memalingkan wajah. “Tidak, Tuhan tidak pernah menyiapkan kebahagiaan untukku. Dia telah mengambil semuanya, bahkan satu-satunya harapan kebahagiaanku yang tertinggal dia juga mengambilnya..” Berhenti sebentar, Hyunmi melanjutkan. “Tidak ada yang menyayangiku lagi. Bisakah aku menyusul Appa dan Eonniku saja?”

Hyukjae terkejut, dia menangkup kedua pipi Hyunmi dan memaksa yeoja itu menatapnya. “Dengar, kau tidak boleh berpikir seperti itu. Masih banyak orang yang menya─”

“Kau bohong!” jerit Hyunmi tiba-tiba, “kau bahkan tidak menyayangiku!” Mata Hyunmi refleks melebar setelah tersadar dengan ucapannya, terkejut karena ia bisa berbicara sejujur itu di hadapan Hyukjae.

Sudut bibir Hyukjae perlahan-lahan tertarik membentuk sebuah senyuman, dia menarik leher Hyunmi dan kembali memeluk yeoja itu. “Kata siapa aku tidak menyayangimu?”

Hyunmi mendadak merasa kesulitan bernapas mendengar perkataan Hyukjae, jantungnya bertalu-talu keras sekali. “Tapi kau bersama Jina..”

Hyukjae mengendurkan pelukannya di leher Hyunmi hingga keduanya bertatapan dengan jarak sangat dekat. “Aku berpisah dengannya tadi,” aku namja itu, bibirnya tertarik semakin ke atas, menciptakan senyuman manis. “selamat karena kau berhasil membuat Ahna tersingkir dari sini,” Hyukjae menunjuk hatinya, mempertahankan senyum di bibirnya. “Hyunmi-ya, saranghae, jadilah kekasihku..”

Hyunmi mengerjap, menatap mata Hyukjae dalam-dalam mencoba menyelami isi hati namja itu. Saat dia tak menemukan satu kebohongan pun di dalamnya, Hyunmi menggelengkan kepala tak percaya, merasa dia berhalusinasi. “Leluconmu tida lucu, Oppa!”

Hyukjae berdecak, menarik leher Hyunmi kembali hingga wajah mereka semakin dekat. “Apa aku perlu membuktikannya?” tantang namja itu. Dan sebelum Hyunmi sempat bereaksi, Hyukjae sudah terlebih dahulu menyatukan bibir mereka.

***

Dokter Louis memeriksa berkas-berkas di tangannya dengan teliti, ekspresi tak percaya sesekali mampir di wajahnya saat memeriksa laporan itu di beberapa bagian.

Setelah selesai, Dokter Louis menyimpan berkas tersebut di atas meja dan menanggalkan kacamatanya, dia lalu memandang namja dan yeoja yang sedang duduk tegang di hadapannya.

Dokter Louis mengulas senyum, “Kondisi Mr. Sungmin sangat baik, dia benar-benar sehat begitu sadar dari komanya. Mr. Saera dan Mr. Kyuhyun harus banyak bersyukur sebab Tuhan memberikan keajaiban yang begitu besar untuk Sungmin.” katanya menjelaskan dalam bahasa Inggris yang fasih.

Saera dan Kyuhyun serentak menghela napas, mereka saling berpandangan sejenak, tersenyum satu sama lain, lalu menatap pada Dokter Louis penuh terimakasih. “Terimakasih, ini semua juga tidak akan terjadi kalau bukan berkat Anda.” balas Saera dengan bahasa Inggris yang tak kalah fasih.

“Sungmin mempunyai tekad yang kuat untuk bangun, begitu pun Anda yang mempunyai kepercayaan besar. Saya hanya membantu sebisa saya.”

Saera tersenyum bahagia mendengar asumsi Dokter Louis. Sungmin memang namja yang pantang menyerah. Dia mungkin terlihat sangat manis dan lucu di luar, tapi tekad dan pendiriannya sangat kuat.

Sekali Sungmin menginginkan suatu hal, namja itu tak akan pernah menyerah untuk mendapatkannya. Termasuk kehidupan.

Dulu, 4 bulan pertama Saera sempat merasa sangat depresi dengan keadaan Sungmin yang tak kunjung membaik, dia sempat berpikir untuk menghentikan segala pengobatan Sungmin daripada harus menyiksa Sungmin lebih lama dengan segala macam peralatan medis.

Tapi Tuhan sepertinya tak mengizinkan Saera melakukan hal itu, beberapa jam sebelum Saera menemui Dokter untuk melepaskan peralatan medis Sungmin, yeoja itu tersadar bahwa Sungmin adalah keluarga dia satu-satunya. Saera bersyukur dia membatalkan niatnya dan memutuskan untuk tetap mempertahankan Sungmin.

Saera dan Kyuhyun bahkan sudah menceritakan segala hal kepada Sungmin. Sungmin awalnya terkejut mengetahui Saera ternyata menguasai sihir, tapi tak berapa lama, namja itu malah terlihat excited dan meminta Saera untuk mengajaknya ke Negeri Kyuhyun.

Tersentak dari alam bawah sadarnya, Saera mengangguk. Setelah mereka berbicara sebentar mengenai Sungmin yang masih harus di sini sampai malam─untuk menjalani beberapa pemeriksaan demi memastikan bahwa tidak ada efek apapun dari komanya yang panjang, Saera dan Kyuhyun pamit dari hadapan Dokter Louis.

Oppa, gomawo..” tutur Saera tiba-tiba membuat Kyuhyun berhenti melangkah dan memutar tubuh menghadap Saera.

Alis namja itu terangkat, seolah bertanya apa lewat matanya.

Saera tersenyum, “Kalau bukan karenamu, Sungmin saat ini pasti masih tertidur.”

Melihat sinar mata Saera yang bercahaya, Kyuhyun tersenyum dalam hati. Bahagia menyusup begitu saja ke dalam hatinya.

Ani, itu juga berkatmu. Kalau hari itu kau tak ikut denganku, Sungmin juga pasti masih tertidur.” Kyuhyun membalas, tersenyum sangat tipis hingga nyaris tak terlihat. “Kau yang membuat Sungmin bangun, semua karena usahamu..” lanjut Kyuhyun, tangannya bergerak menyeka sudut mata Saera yang berair.

Saera memaksakan diri terkekeh meski pun air mata lagi-lagi mengintip di sudut matanya. Dia tidak sedih, Saera hanya terlalu bahagia.

“Kau dulu memaksa Oppa!” tukas Saera sambil tertawa kecil.

Kyuhyun menekuk wajah, “Jadi kau ikut denganku karena terpaksa?” tanyanya pura-pura kesal sambil memunggungi Saera.

Saera tersenyum melihat Kyuhyun merajuk, yeoja itu lalu melingkarkan tangannya di pinggang Kyuhyun, membuat Kyuhyun terenyak karena Saera tidak pernah memulai kontak fisik terlebih dahulu dengannya. “Tapi aku tidak menyesal pernah terpaksa, Oppa..” bisik Saera, menenggelamkan wajahnya di punggung Kyuhyun.

Kyuhyun memejamkan mata, menikmati desiran hangat yang merayap ke hatinya. Detik itu, Kyuhyun baru menyadari bahwa Saera ternyata sudah masuk sangat dalam ke hatinya. Yeoja itu telah menjadi bagian dari hidup Kyuhyun.

Saera bahkan membawa banyak perubahan di diri Kyuhyun, dia merasa lebih baik setelah bersama Saera.

“Aku juga tidak menyesal pernah memaksamu kalau begitu..” balas Kyuhyun. Melepaskan pelukan Saera di pinggangnya dan memutar tubuh kembali untuk menatap Saera.

Saera menatapnya lembut, ketulusan terlihat dari caranya menatap Kyuhyun. Kyuhyun balas menatap Saera dengan tatapan tak kalah lembut, sinar matanya terlihat meneduhkan. Mereka terhanyut dalam tatapan masing-masing, tatapan penuh kasih yang menyejukkan.

Angin musim dingin berembus pelan membuat rambut Saera terbang terbawa angin, seketika itu juga kontak mata di antara keduanya terputus. Saera dan Kyuhyun segera mengalihkan pandangan ke arah lain. Saera merasakan wajahnya memanas, dan ia yakin seratus persen kalau saat ini pipinya pasti semerah tomat.

Setelah hening beberapa saat, Kyuhyun akhirnya memberanikan diri menoleh ke arah Saera. Dia terkekeh kecil melihat rambut yeoja itu yang tak beraturan karena diterbangkan angin tadi, tangan Kyuhyun refleks terangkat ke atas kepala Saera. Dia menyelipkan sejumput rambut ke belakang telinga yeoja itu lantas merapikan rambut Saera dengan telaten.

Saera terkekeh, “Kau tahu? Aku merasa sangat beruntung karena bertemu denganmu..”

Kyuhyun tersenyum, setelah memastikan bahwa rambut Saera kembali tertata rapi, namja itu melingkarkan tangannya di pinggang Saera dan menarik yeoja itu mendekat.

“Begitu pun aku, terimakasih telah hadir di hidupku..” bisik Kyuhyun.

Saera mengangguk, lantas menyimpan kedua tangannya di pundak Kyuhyun saat Kyuhyun semakin gencar mengeliminasi jarak yang tersisa di antara mereka. Dia tersenyum dalam hati mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya dan buru-buru menutup mata.

Dua senti dari wajah Saera, Kyuhyun berhenti. Dia menatap wajah Saera dengan tatapan dalam, merekam setiap detail wajah yeoja itu di otaknya dan mengagumi bagaimana yeoja itu terlihat sempurna di matanya.

Puas, Kyuhyun tersenyum tipis dan melanjutkan apa yang sempat ditundanya. Kyuhyun ikut memejamkan mata, dan jantungnya berdebar lebih heboh saat bibir mereka akhirnya bertemu.

Saera tahu ini bukan ciuman pertama mereka, tapi jauh di dalam hati, dia tetap merasakan jantungnya yang menggila karena sensasi asing yang menggelitiknya. Beberapa detik hanya diam, Saera mulai membalas ciuman Kyuhyun.

“YA! HAN SAERA! PARK KYUHYUN! SAMPAI KAPAN KALIAN AKAN MENINGGALKANKU BERDUA DENGAN BOCAH KELINCI INI?! DIA SANGAT MENYEBALKAN! CEPAT KEMBALI!”

Keduanya spontan melepaskan kontak mendengar teriakan Yeonhee bergaung di kepala mereka. Mereka saling memandang, tak lama, mereka tertawa kecil teringat kejadian barusan.

“Kurasa Yeonhee Eonni mulai kehilangan kesabaran, ayo kembali Oppa.” ajak Saera disela-sela tawanya.

Kyuhyun mendengus menahan tawa, “Percaya atau tidak, aku merasa Yeonhee akan menyukai Sungmin cepat atau lambat.” balasnya membuat Saera tersenyum geli.

Kyuhyun lalu mengulurkan tangannya pada Saera yang disambut yeoja itu tanpa ragu, keduanya kembali berpandangan untuk sejenak. Terkikik tanpa alasan─seperti kebanyakan remaja sedang jatuh cinta─lantas berjalan bergandengan menuju kamar Sungmin dengan hati berbunga.

***

Hyerin menendang kerikil di sepanjang jalan setapak yang sedang dilaluinya tanpa gairah hidup, yeoja itu sesekali menghela napas seolah sedang memikirkan sesuatu.

Menolak Baekhyun dulu merupakan hal paling mustahil yang ada di dalam pikiran Hyerin. Namun sekarang, itu merupakan hal pertama yang terlintas di otaknya saat Baekhyun menyatakan perasaan padanya. Hyerin hanya tak ingin munafik, Baekhyun bukan lagi namja yang berkuasa di hatinya. Sudah ada namja lain yang merajai hati Hyerin─meski pun dia sendiri tak tahu apakah namja itu menyimpan perasaan yang sama atau tidak sama sekali.

Perasaannya pada Baekhyun telah musnah, dan satu-satunya namja yang ia inginkan untuk mengucapkan kalimat ‘ajaib’ itu adalah Donghae.

Tapi setelah direnungkan, Hyerin mulai berpikir bahwa keputusannya salah sebab Donghae bahkan sama sekali tak terlihat sejak namja itu mengantar Hyerin ke kampus. Dia juga tak bisa menghubungi Donghae lewat telepati karena Donghae menutup pikirannya.

Hyerin menyandarkan tubuhnya di pagar jembatan, tangannya meraba kalung kerang pemberian Donghae yang dia pakai kembali, Hyerin lantas mengurut pelipisnya yang serasa berdenyut memikirkan keputusannya beberapa jam yang lalu. “Aish, sebenarnya dimana Donghae Oppa sekarang?” keluhnya yang hanya ditanggapi oleh udara kosong, Hyerin mendengus. “Dia bahkan tak tahu aku mengorbankan namja impianku deminya. Aigo, eotteoke?”

Hyerin mendesah, lantas memutuskan untuk berhenti mendebat apa yang telah ia pilih tadi. Yeoja itu membalikkan badan menatap ke arah sungai di bawah jembatan yang terlihat sangat tenang.

Jika saja hidupnya setenang air yang mengalir di sungai itu, Hyerin pasti tak perlu pusing memikirkan dilema hati yang sedang melandanya seperti sekarang. Dia pasti tak perlu susah-susah memikirkan bagaimana cara menyingkirkan gundah di hatinya.

Onee-san..”

Hyerin terenyak dari dunia kecilnya mendengar panggilan itu. Dia membalikkan badan dan menemukan seorang yeoja Jepang yang masih kecil dan berpipi chubby sedang menatapnya polos, Hyerin menoleh ke arah kanan-kiri, memastikan kalau yeoja kecil itu memang memanggilnya.

Melihat dia memang satu-satunya orang di sana, Hyerin menekuk lutut untuk menyeimbangkan tingginya dengan yeoja kecil itu. “Ada apa, adik manis?” tanyanya menjawab dengan bahasa Jepang lembut sambil melempar senyum.

Yeoja kecil itu tersenyum lebar hingga giginya yang ompong terlihat lalu mengulurkan sebuah surat pada Hyerin. “Seorang Onii menyuruhku memberikan itu untuk Onee..” beritahunya.

Hyerin menerima surat beramplop biru laut itu dengan kening berlipat. “Siapa? Kau mengenal orang itu?”

Yeoja kecil tersebut menggeleng, “Onii bilang Onee-san harus membaca surat itu, dan kalau Onee-san sudah selesai membaca, berjalanlah ke taman Rikugien itu. Onee-san akan menemukan jawabannya di taman itu!” serunya, menunjuk ke arah depan lalu berlari meninggalkan Hyerin sambil terkikik.

Hyerin memandang heran ke arah taman yang ditunjuk oleh anak tadi lantas menatap dua kali lipat lebih heran pada surat di tangannya, sejurus kemudian, yeoja itu telah membuka amplop tersebut dan mengeluarkan lipatan kertas dari dalamnya. Hyerin membuka lipatan kertas tersebut dan mulai membaca.

Pernah bertemu seorang malaikat yang membuatmu berani memilih sesuatu yang berat?
Aku pernah, dan malaikat itu akan kugapai sebentar lagi..

Otak Hyerin berputar, mencoba mencerna kata-kata di dalam surat itu, namun selang beberapa detik dia menyerah dan memutuskan mengikuti perkataan yeoja kecil tadi karena penasaran.

Hyerin tersenyum kecil ketika matanya disambut oleh bunga-bunga sakura yang sedang bermekaran ketika dia masuk ke taman. Yeoja itu memejamkan mata saat angin berembus membelai wajahnya dan beberapa bunga sakura berguguran ke arahnya. Suasana seperti ini membangkitkan perasaan damai dan ketenangan yang membuat jiwa Hyerin menjadi tentram.

Hyerin membuka mata saat indera pendengarannya tanpa sengaja menangkap bunyi gitar yang harmonis. Mengikuti insting dan rasa penasaran, yeoja itu spontan berjalan ke arah datangnya suara. Kelopak sakura kembali jatuh berguguran mengikuti setiap langkah Hyerin.

Begitu sampai di sisi lain taman, Hyerin langsung tercekat begitu melihat pemandangan di depannya. Rumput-rumput bertabur kelopak bunga sakura membentuk gambar hati, dan ditengah-tengah gambar hati itu, Donghae sedang memangku gitar sambil menatapnya lembut dan.. bolehkah Hyerin berharap bahwa namja itu juga menatapnya dengan penuh cinta?

Donghae tersenyum sekilas lalu kembali memetik gitarnya dan mulai bernyanyi. Lagu My All Is In You terdengar, Hyerin terpana sampai ia sama sekali tak bisa mengalihkan pandangan ke arah lain selama Donghae bernyanyi.

Dia baru tersadar dari keterpanaannya saat Donghae selesai bernyanyi dan segerombolan merpati putih mengerubunginya, memasangkan tiara dengan butiran-butiran permata biru di atas kepalanya. Hyerin meraba ke atas kepala begitu merpati-merpati itu meninggalkannya, buncahan bahagia meluap-luap di hatinya hingga Hyerin takut buncahan itu akan meluap keluar.

Jantung Hyerin berdebar tak keruan saat Donghae tiba-tiba saja sudah ada di hadapannya, namja itu berlutut, menatapnya dengan tatapan penuh arti sebelum menyodorkan sebuket bunga tulip putih. Bibir Donghae tak pernah berhenti mengulas senyum. Senyum yang selama ini selalu terbayang di mata Hyerin saat ia akan terlelap, senyum yang selalu hadir di mimpinya, dan senyum yang sangat ingin dia miliki untuk dirinya sendiri.

“Aku tidak berbohong ketika mengatakan bahwa aku pernah bertemu seorang malaikat, karena malaikat itu sekarang berada di hadapanku. Dia sangat indah..” Donghae terkekeh di akhir kalimatnya sebelum melanjutkan, “Malaikat itu telah menarikku masuk ke dalam hidupnya. Membuatku jatuh dalam pesonanya, dan membuatku terjatuh dalam perasaan aneh yang orang sebut sebagai cinta.”

Hyerin tergugu, tak mampu berkomentar apapun, dia hanya mampu menunggu perkataan Donghae sambil menahan napas, matanya tak lepas dari wajah Donghae barang sedetik pun. Hyerin merasa seperti dihipnotis.

Jika Hyerin bisa meminta satu hal pada Tuhan, dia hanya ingin waktu berhenti berdetik untuk saat ini.

“Malaikat itu kau, Han Hyerin. Saranghamda, bersediakah kau menjadi milikku?”

Hyerin nyaris lupa untuk berkedip mendengar perkataan Donghae, dia merasa seperti bermimpi, mimpi yang indah. Hyerin bahkan rela tak bangun jika mimpinya seperti ini.

“A─aku..” Mulai Hyerin, belum sempat menyelesaikan perkataannya, hantaman keras langsung dia rasakan ketika teringat Yoona. Hyerin menunduk, merasakan godam raksasa menimpa hatinya, “Mianhae, kau memiliki Yoona, aku tidak ingin menghancurkan hubunganmu dengannya, Oppa.” tandasnya, menepis buket yang disodorkan Donghae.

Di luar dugaan Hyerin, jawabannya justru membuat Donghae tertawa kecil, “Kau tidak usah cemas, aku sudah berpisah dengannya.”

Mata Hyerin melebar tak percaya, “Mwo? Jangan bercanda denganku, Oppa! Ini tidak lucu!”

Donghae berdiri, namja itu menjepit hidung Hyerin gemas. “Apa aku terlihat bercanda? Aku berpisah dengannya karena aku mencintaimu..” jelasnya yang membuat Hyerin kembali menundukkan kepala─kali ini karena malu, “Jadi, apa jawaban malaikatku ini?” tanya Donghae, menyelipkan bunga di tangannya pada tangan Hyerin secara paksa.

Dan tanpa menunggu jawaban Hyerin, Donghae mengangkat dagu yeoja itu lalu mendekatkan wajahnya. Hyerin refleks memejamkan mata, aliran listrik langsung menyengatnya saat bibir Donghae menyentuh bibirnya.

Donghae tersenyum penuh kemenangan begitu merasakan bahwa Hyerin perlahan membalas ciumannya. Selang beberapa detik, Donghae melepaskan ciuman mereka, namja itu melingkarkan tangannya di pinggang Hyerin, membawa yeoja itu merapat lantas berbisik di telinganya. “Aku sudah menemukan jawabannya barusan, jeongmal saranghae..” Wajah Hyerin semakin memerah, dia memegang buket bunga dari Donghae dengan erat. “omong-omong, gomawo telah menolak Baekhyun..”

“Kau memataiku?” tanya Hyerin terkejut sambil menatap mata Donghae, melihat Donghae bersikap sok polos, Hyerin mendecak lalu membenamkan wajahnya di dada Donghae, tangannya mencengkeram kemeja Donghae erat, hatinya sangat senang. Beban jutaan ton yang selama ini bertumpuk serasa menguap entah kemana. “Dia menyukaiku karena sihirmu, Oppa..”

Donghae tertawa pelan, dia mengeratkan pelukannya pada Hyerin sambil mengelus rambut yeoja itu halus. “Kau tahu, aku sama sekali tak pernah memengaruhi Baekhyun dengan sihir─tentu saja aku tidak sudi memberikanmu padanya!─dia benar-benar murni menyukaimu..”

Memang apa peduli Hyerin jika Baekhyun benar-benar menyukainya? Toh, hatinya sudah milik Donghae seutuhnya, pikir Hyerin lalu tersenyum, dia memutuskan tak menjawab perkataan Donghae dan lebih merapatkan diri pada kekasihnya untuk merasakan kehangatan namja itu.

***

Jongwoon memandangi pantulan dirinya di cermin ruang tunggu pengantin pria dengan wajah datar. Setelah memastikan bahwa penampilannya sempurna untuk pernikahannya, namja itu membanting diri di sofa, menunggu dayang istana datang dan menyuruhnya untuk pergi ke altar.

Sambil menunggu, pertanyaan Taeyoung kemarin mengenai hubungan mereka terngiang-ngiang di pikiran Jongwoon saat dia memejamkan mata untuk menenangkan diri. Pedih menyusup dengan sendirinya ke hati Jongwoon. Namja itu tanpa sadar mengepalkan tangannya untuk menahan sakit yang terasa menikamnya tanpa ampun.

Deritan pintu yang dibuka terdengar, Jongwoon membuka mata sambil mengendurkan kepalan tangannya, dia memutar mata dan melihat dongsaengnya telah datang lengkap dengan pakaian rapi. Wajah mereka terlihat prihatin ketika menatap Jongwoon.

Hyung, ini belum terlambat..” kata Donghae, duduk di sebelah namja itu. “Aku, Hyuk, dan Kyu sudah mendapatkan kebahagiaan kami masing-masing. Kau juga harus Hyung,” Jongwoon mengalihkan pandangan dari Donghae, tak ingin terhasut.

“Aish, sebenarnya aku tidak terbiasa mengatakan ini, tapi Hyung, aku tidak ingin kau terluka nantinya, batalkan pernikahan ini sekarang.” timpal Kyuhyun, seumur hidup baru kali ini dia memanggil Jongwoon dengan sebutan ‘Hyung’.

Melihat Jongwoon kembali bergeming, yang lain menghela napas.

Hyukjae berjalan ke arah Jongwoon, menatap namja itu meskipun Jongwoon sama sekali tak membalas tatapannya lantas berujar, “Kami bukan memprovokasimu Hyung, kami hanya ingin kau bahagia, dan kami tahu kebahagiaanmu adalah Taeyoung. Kejar dia Hyung, jangan biarkan dia lari darimu..”

Perkataan Hyukjae ditanggapi oleh keheningan. Jongwoon hanya terpaku menatap tembok dengan pandangan kosong selama beberapa saat sebelum mengulur napas panjang dan memberanikan menatap mata dongsaengnya satu persatu.

“Ini pilihanku, mianhae..” kata Jongwoon nyaris berbisik.

Setelah mengatakan itu, Jongwoon berdiri dan keluar dari ruangan menuju altar begitu melihat beberapa dayang datang.

Jongwoon berjalan tanpa menoleh, sama sekali tak ingin melihat wajah kecewa para dongsaengnya. Matanya diam-diam berair, dan setetes air mata jatuh tanpa disadarinya begitu dia memasuki ruangan tempat pernikahannya berlangsung.