TEN (ENDING)
D
|
IAM. Sunyi.
Senyap.
Ketiga namja
yang masih terduduk di ruang tunggu itu mengerjapkan mata mereka sembari
mengalihkan pandangan dari pintu tempat Jongwoon menghilang, sama sekali tak
menyangka jika namja itu benar-benar mengambil keputusan yang akan
menghancurkan dirinya sendiri.
“Jadi
bagaimana?” tanya Kyuhyun setelah tersadar, dia menatap kedua saudaranya yang
juga tampak sama frustasi dengannya sebelum menghela napas panjang. Jongwoon
memang terlalu keras kepala, dia selalu mementingkan kepentingan Negara sekali
pun itu mengorbankan kebahagiaannya. Kadang Kyuhyun tak habis pikir otak
Jongwoon terbuat dari apa.
Dua orang yang
ditanya Kyuhyun akhirnya mengerjap dan tersadar, mereka berpandangan, mendesah
samar lantas mengangkat bahu.
Hyukjae
menjawab dengan nada pasrah, “Entahlah, Kyu. Kau tahu sendiri bagaimana keras
kepalanya Jongwoon Hyung.”
Donghae
mengangguk setuju, “Kadang aku benar-benar ingin mencuci otaknya agar dia
sekali saja memikirkan kebahagiannya!” komentar Donghae serius.
Dua lainnya
menatap wajah serius Donghae dengan tatapan aneh namun tak berkata apa pun.
Setelah percakapan singkat itu, ketiganya kembali diam, sibuk ditelan pikiran
masing-masing.
Selang beberapa
detik, suara hentakan kaki yang berlari ke arah ruangan mereka terdengar.
Ketiganya terenyak, namun senyum langsung tersungging di bibir mereka melihat
bagaimana cantiknya yeoja masing-masing dalam balutan gaun yang mereka
pilihkan kemarin.
Hyukjae segera
berjalan ke arah Hyunmi yang memakai gaun silver selutut─terlihat sederhana
namun cantik─dan segera meraih tangan Hyunmi. “Gaun ini benar-benar cocok
untukmu, kau cantik, Mi-ya…” bisik Hyukjae yang membuat pipi Hyunmi
memerah.
Donghae
mendecak dalam hati melihat tingkah Hyukjae, dia mengikuti langkah Hyukjae dan
menghampiri Hyerin yang memakai gaun biru selutut tanpa lengan, tersenyum
manis. “Seperti dugaanku, gaun ini sangat sempurna untukmu, cantik sekali..”
Hyerin tersipu dengan pipi memerah.
“Aku tidak
aneh, bukan?” tanya Saera tanpa basa-basi ketika Kyuhyun berdiri di hadapannya
dan mengamati yeoja itu dari ujung kepala sampai ujung kaki.
Kyuhyun
terkekeh, berpikir bagaimana Saera bisa terlihat aneh dengan gaun hijau
secantik ini di tubuhnya? “Tentu saja tidak aneh, Saera-ya. Gaun
pilihanku benar-benar sesuai untukmu, yeojaku ini sangat cantik..” Saera
menunduk agar Kyuhyun tak melihat rona merah di pipinya.
Setelah
bercanda sedikit dengan yeoja masing-masing, keenamnya kini duduk di
sofa, wajah mereka langsung keruh saat membahas Jongwoon dan Taeyoung kembali.
“Jadi, kalian
tidak bisa membujuk Jongwoon Oppa?” tanya Hyerin setelah mendengarkan
cerita para namja.
“Mianhae,
Jongwoon Hyung terlalu keras kepala.” jawab Donghae, “Bagaimana dengan
Taeyoung?” tanyanya kemudian yang mendapat gelengan serempak dari ketiga yeoja
itu.
“Dia bersikeras
hadir..” jawab Saera.
“Mereka sama-sama
keras kepala kalau begitu,” sahut Kyuhyun.
Hyukjae
mendesah, “Aku tetap berharap Jongwoon Hyung berubah pikiran..”
“Kita semua
berharap seperti itu, Oppa..” respons Hyunmi.
Semuanya saling
berpandangan dan menghela napas serentak, “Pasangan bodoh..” gumam mereka
bersamaan.
***
Pintu ruangan
tempat pernikahan berlangsung terbuka. Para tamu undangan menahan napas melihat
kecantikan pengantin wanita hari ini, namun tatapan Jongwoon sama sekali tak
tertuju pada si pengantin wanita, matanya malah sibuk mengamati seseorang di
bangku paling depan yang juga tengah menatapnya.
Ekspresi penuh
luka dan kecewa yang terpancar dari wajah yeoja itu membuat Jongwoon
merasa bagai dicambuk, dia ingin mengalihkan pandangan ke arah lain─mungkin
pada Sooyoung yang sebentar lagi akan menjadi istrinya─tapi Jongwoon tak bisa.
Matanya sudah dibutakan oleh Taeyoung─yang Demi Tuhan terlihat sangat cantik dengan
gaun putih panjangnya di mata Jongwoon!
“Youngie,
berhenti menatap ke arah Jongwoon Oppa..” bisik Hyunmi sambil menyenggol
bahu Taeyoung ketika Taeyoung tak juga mengalihkan tatapannya.
Taeyoung
bergeming.
Hyerin dan
Saera merangkul pundak Taeyoung mencoba membuat perhatian yeoja itu
teralihkan, tapi Taeyoung benar-benar bergeming, raganya seolah sudah tak
berada di sana. Taeyoung dan Jongwoon hanya saling menatap dengan tatapan yang
hanya bisa diartikan oleh mereka berdua, bergeming terhadap segala hal yang ada
di sana seolah hanya mereka berdualah satu-satunya penghuni ruangan itu.
“OPPA!”
kata Sooyoung berteriak pelan.
Jongwoon
terkesiap, dia akhirnya mengalihkan tatapan dari Taeyoung pada Sooyoung.
Wajahnya langsung berubah datar.
Sebelum berdiri
di samping Jongwoon, Sooyoung mengedarkan pandangan ke sekitar. Saat matanya
menangkap wajah Taeyoung, Sooyoung tiba-tiba merasa jahat, apalagi ditambah
tatapan tajam dari ketiga Pangeran dan pasangan mereka masing-masing. Sooyoung
mendesah, membulatkan tekad lantas naik ke altar.
Upacara itu
berlangsung khidmat, semuanya tampak larut dalam acara sacral tersebut.
“Aku
bersedia..” jawab Sooyoung tegas saat gilirannya mengucapkan janji tiba.
Jongwoon
tersentak, dia terlalu sibuk dengan pikirannya hingga tidak sadar bahwa
sekarang gilirannya mengucapkan kata sakral itu. Jongwoon mencuri pandang ke
arah Taeyoung, jantungnya mencelos saat melihat Taeyoung berdiri dari duduknya,
lantas keluar dari ruangan dengan air mata yang menggenang. Jongwoon menunduk seketika,
pikirannya kembali dipenuhi sosok Taeyoung.
Bangku paling
depan terdengar ribut. Telinga Jongwoon bahkan dapat menangkap keributan kecil
yang terjadi di antara para dongsaengnya dengan pasangan mereka─para yeoja
pasti ingin mengejar Taeyoung sementara para namja menahannya─yang
berakhir dengan keheningan beberapa detik kemudian.
Seisi ruangan
langsung hening secara mendadak, tegang menunggu Jongwoon mengucapkan janjinya.
“A-aku..”
Jongwoon menahan bibirnya untuk meloloskan sumpah yang akan mengikat dia dan
Sooyoung menjadi sepasang suami-istri sejenak. Dia memejamkan mata merasakan
lidahnya yang tiba-tiba saja kelu saat akan mengatakan hal tersebut.
“Oppa..”
panggil Sooyoung lirih di sebelahnya.
Beberapa saat
kemudian, Jongwoon membuka mata, menatap Sooyoung di sampingnya lalu berkata,
“Aku bersedia,”
Senyum Sooyoung
terkembang, namun langsung memudar digantikan air mata detik itu juga ketika
Jongwoon melanjutkan. “Aku ingin sekali bersedia, Sooyoung-ah, tapi aku
tidak bisa. Mianhae, aku mencintai Taeyoung..”
Jongwoon
membungkuk pada Sooyoung, setelah itu dia membalikkan badan dan membungkuk pada
tamu. Bayang-bayang Taeyoung kembali memenuhi pikiran Jongwoon, dan saat ia
tersadar, namja itu sudah berlari meninggalkan altar tanpa memedulikan
reaksi para tamu undangan─termasuk Jungsoo dan aboeji Sooyoung─yang
terperangah melihat kejadian itu.
“Han Taeyoung!”
teriak Jongwoon saat menemukan bayangan Taeyoung di taman.
Taeyoung yang
baru saja menyeka air mata di pipi merasakan tubuhnya langsung membeku
mendengar suara Jongwoon, dan melihat kesempatan itu, Jongwoon mempercepat
larinya lantas berlutut di hadapan Taeyoung.
Jongwoon bahkan
tak membiarkan dirinya menghirup udara barang sejenak ketika mengatakan, “Aku
kabur dari pernikahanku untukmu. Taeyoung-ah, saranghae, saranghae,
saranghae! menikahlah denganku!” Dengan sekali tarikan napas sembari
menyodorkan kotak cincin berlian pada Taeyoung.
Taeyoung tak
berpikir dua kali untuk menghambur ke tubuh Jongwoon membuat mereka jatuh
berguling di atas rumput. Jongwoon meloloskan tawa bahagia dari bibirnya saat
ia balas melingkarkan tangannya di pinggang yeoja itu. “Apa aku bisa
mengartikannya sebagai “iya”?”
Taeyoung
menahan isakan bahagianya sembari memukul pundak Jongwoon pelan, “Keurom!
Nado saranghae, Oppa! Aku menunggumu mengatakannya dari dulu, pabo
Jongwoon!”
***
“Harapan kita
terkabul..” gumam Hyunmi melihat kejadian itu dari jauh, Hyukjae berada di
sebelahnya, ikut memandang lurus pada Taeyoung dan Jongwoon.
Setelah
tersadar dari keterkejutan mereka akan aksi Jongwoon, mereka memang memutuskan
untuk mengejar Jongwoon keluar. Dan apa yang diharapkan mereka terjadi ternyata
benar-benar terjadi. Hyerin-Donghae, Saera-Kyuhyun, Yeonhee-Sungmin (ya, Yeonhee
mulai terbiasa menerima kehadiran Sungmin, dia pikir Sungmin bukan namja
yang begitu buruk), dan Kihwang-Ryeowook pun berdiri tak jauh dari mereka, ikut
menyaksikan momen pasangan baru di kerajaan ini.
Hyukjae
mengalihkan pandangan dari depan pada yeojanya mendengar perkataan
Hyunmi yang sepertinya hanya didengar oleh dia, namja itu merangkul
pundak Hyunmi sambil tersenyum lebar. “Ne, tentu saja terkabul. Tuhan
pasti mengabulkan harapan dari namja tampan sepertiku!” kata Hyukjae
percaya diri yang dihadiahi lirikan tajam yeoja itu.
“Kau mulai
menyebalkan lagi Oppa,” dengus Hyunmi sambil berusaha menyentak tangan
Hyukjae dari bahunya.
Hyukjae tertawa
kecil, dia mencubit kedua pipi Hyunmi lembut saking gemasnya melihat tingkah yeoja
itu. “Aigo, aku hanya bercanda, Mi-ya, berhentilah bersikap
serius!”
“Aku tidak
bersikap serius!” elak Hyunmi, cemberut sembari mengusap-usap pipinya.
“Arraseo!
Arraseo!” kata Hyukjae menyerah, dia merentangkan tangan dan membawa
Hyunmi ke dalam pelukannya. Hyukjae membenamkan wajahnya di perpotongan leher
Hyunmi, membuat yeoja itu bergidik merasakan terpaan napas Hyukjae di
kulit lehernya. “Saranghae, jangan pergi dariku, ne?”
Hyunmi
merasakan pipinya memanas, dia bersyukur Hyukjae tak dapat melihatnya. “Aku
tidak akan pergi darimu. Nado saranghae, Oppa.” balas yeoja
itu sambil membalas pelukan Hyukjae.
Hyukjae
terkekeh senang mendengarnya, “Aku jadi ingin menyusul Jongwoon Hyung.
Bagaimana kalau besok kita menikah?”
***
Hyerin
menyunggingkan senyum lega di wajahnya melihat bagaimana Taeyoung akhirnya
mendapat kebahagiaan, yeoja itu menyandarkan kepalanya di dada Donghae
dengan mata tak lepas dari arah depan.
Donghae secara
otomatis melingkarkan tangannya di perut Hyerin, memperkecil kemungkinan jarak
yang masih tersisa di antara tubuh mereka.
“Jongwoon Hyung
lambat sekali,” komentar Donghae tiba-tiba yang membuahkan kekehan dari Hyerin.
“Setidaknya,
Taeyoung dan Jongwoon Oppa akhirnya bersatu.” tanggap Hyerin, mengangkat
wajah sedikit untuk menatap Donghae. “Aku ikut bahagia untuk mereka, Oppa..”
bisiknya lirih.
Donghae
menunduk dan memagut mata Hyerin, mereka berbagi tatapan penuh kasih sebelum
Donghae kembali bersuara.
“Aku juga,
Hyerin-ah.” balasnya, satu tangan Donghae yang melingkari perut Hyerin
kini beralih membelai pipi yeoja itu. Ia mengeluarkan senyum sejuta
pesona yang dimilikinya lalu melanjutkan, “Dan aku lebih bahagia karena kau ada
di sisiku, saranghae..”
Hyerin
memejamkan mata menikmati belaian tangan Donghae di pipinya, setelah puas, dia
membuka mata untuk menatap Donghae kembali.
Hyerin
tersenyum, menurunkan tangan Donghae yang masih membelai pipinya lantas memutar
tubuh hingga mereka kini berpelukan.
Hyerin lalu
melingkarkan tangannya di pundak Donghae lantas menjawab, “Nado Oppa, nado
saranghae..”
Senyum Donghae
melebar dengan sendirinya. Sambil mempererat pelukan mereka, namja itu
mendekatkan bibirnya pada telinga Hyerin lantas berbisik. “Kapan kita menyusul
Jongwoon Hyung dan Taeyoung menikah, chagi?”
***
Saera
mengedipkan mata beberapa kali saat terjaga dari lamunannya. Dia menatap
lekat-lekat pada Taeyoung dan Jongwoon yang masih asyik berpelukan, senyum
lantas terkembang di bibirnya.
“Hah, lega
sekali rasanya melihat Taeyoung Eonni akhirnya bahagia!” ujar Saera
membuat Kyuhyun menipiskan bibir, menyetujui ucapan yeojanya itu dalam
hati.
“Mereka
terlihat manis saat bersama..” kata Saera tiba-tiba yang langsung membuat
Kyuhyun menoleh ke arahnya.
Kening namja
itu mengernyit, “Apa kita tidak terlihat manis sampai kau berkata seperti itu?”
tanyanya, diam-diam menyelipkan tangan pada pinggang Saera dari samping.
Mendengar
pertanyaan Kyuhyun, giliran kening Saera yang mengernyit sekarang. “Apa kita
terlihat manis? Aku bahkan sangsi memikirkannya.” jawab yeoja itu.
Kyuhyun
mendengus, “Setidaknya kita pasangan evil maknae yang sempurna,” serunya
bangga.
Saera tertawa
pelan mendengarnya, “Ya! Tidak adakah sebutan lain yang lebih manis?”
Kyuhyun mengeratkan
rangkulannya di pinggang Saera sambil membawa yeoja itu lebih dekat
untuk ia dekap.
Namja itu
menyandarkan dagunya di atas kepala Saera lalu menyahut. “Ani, aku
menyukainya.” Jeda sesaat sebelum Kyuhyun melanjutkan, “Saera-ya, aku
mungkin bukan tipe orang yang pandai berkata-kata. Tapi, tetap di sampingku
selamanya, ne? Saranghae..”
Saera bisa
merasakan jantungnya yang berdetak semakin cepat mendengar perkataan Kyuhyun. Namja
ini… Saera tak bisa mendefinisikan seberapa besar cintanya untuk Kyuhyun.
Saera
menyandarkan kepalanya di dada Kyuhyun, tersenyum mendengar detak jantung namja.
“Tanpa diminta pun, aku akan. Nado Oppa, nado saranghaeyo..”
Kyuhyun tertawa
senang mendengarnya, “Kalau begitu, kau tidak keberatan jika aku ingin
menikahimu secepatnya, bukan?”
***
“Aku berharap
para Pangeran benar-benar bahagia dengan pilihan mereka kali ini.” kata Kihwang
tulus, menatap satu-persatu pasangan yang sedang larut dalam dunia mereka
masing-masing sebelum menatap pada Ryeowook.
Ryeowook
tersenyum, memuji betapa murni hati kekasihnya ini dalam hati, bahkan pada
teman-teman yang belum lama ia kenal. Ryeowook lantas menautkan jemarinya
bersama jemari Kihwang, menatap Kihwang lembut. “Aku juga berharap seperti itu,
Hwangie. Para pangeran temanku sejak kecil, bahkan sudah kuanggap seperti
saudara. Tentu saja aku juga menginginkan mereka bahagia.”
Kihwang
tersenyum, tangannya balas menggenggam tangan Ryeowook dengan tak kalah erat,
seolah takut kehilangan. “Aku juga menginginkan kebahagiaan untuk kita.” tutur
Kihwang kemudian.
Senyum di bibir
Ryeowook terkembang semakin lebar, dia menarik Kihwang untuk bersandar di
bahunya dan menyahut. “Kita akan Hwangie, kita akan bahagia selamanya. Aku
berjanji akan membawa kebahagiaan yang abadi di hubungan kita, saranghae..”
“Aku memegang
janjimu, dan nado Oppa, nado saranghae..”
***
Yeonhee melirik
pasangan-pasangan yang asyik bermesraan lantas mendesah. Well, Yeonhee
memang ikut bahagia dengan semuanya, tapi jauh di lubuk hatinya ia juga merasa
ada rasa iri yang menelusup masuk. Yeonhee lalu menghela napas, saat tanpa
sengaja melihat ke arah kiri, dia melihat Sungmin sedang menatapnya intens
sambil tersenyum. Yeonhee mulai merasakan debaran kecil merambat ke hatinya
melihat senyum Sungmin.
“Wae?”
tanyanya berdebar.
Sungmin
menggeleng, meraih tangan Yeonhee dan menggenggamnya erat. “Ani, aku
hanya berpikir kapan kita bisa berbagi kemesraan seperti mereka. Mungkin kau
bosan mendengarnya. Tapi aku serius Hee-ya, aku jatuh cinta pada
pandangan pertama denganmu. Saranghae..”
Jantung Yeonhee
bergemuruh, entah apa yang dipikirkannya ketika dia tiba-tiba saja mendekat dan
menyandarkan kepalanya di bahu Sungmin dengan kedua tangannya yang melingkar di
perut Sungmin. “Aku memang belum yakin dengan perasaanku padamu. Kita baru
bertemu beberapa jam, tapi, Sungmin-ah, aku merasa mulai menyukaimu.
Ajari aku untuk mengembangkan rasa suka ini menjadi cinta..”
Meskipun
terkejut, Sungmin kemudian mengusap tangan Yeonhee yang melingkari perutnya
dengan satu tangan, sementara tangan lain mengelus rambut Yeonhee sambil
tersenyum lebar. “Aku akan, percayalah!”
***
Beberapa saat
hanya terdiam memandangi putra-putranya yang tampak bahagia dengan pasangan
masing-masing, Jungsoo akhirnya mengalihkan tatapan pada Perdana Menteri─yang
sekaligus merupakan aboeji Sooyoung sambil tersenyum penuh penyesalan.
“Mianhaeyo
atas kejadian tidak mengenakkan ini, Perdana Menteri Choi, aku benar-benar
tidak menyangka bahwa Jongwoon akan melakukan hal memalukan seperti ini.”
Perdana Menteri
Choi tersenyum tipis, “Gwaenchanayo, Yang Mulia. Saya juga tidak bisa
memaksakan kehendak Pangeran Jongwoon, justru saya lega Pangeran Jongwoon
membatalkannya sekarang. Saya tidak bisa membayangkan kalau Pangeran Jongwoon
menyadarinya saat dia sudah menikah dengan Sooyoung.”
Jungsoo
mengangguk. Dia sama sekali tak membenci putra-putranya karena telah
membatalkan perjodohan mereka seenaknya, Jungsoo sadar dia tidak bisa
memaksakan perasaan anak-anaknya.
“Yang Mulia,
jika sudah tak ada yang bisa dibicarakan saya pamit. Sooyoung sepertinya butuh
seseorang..” pamit Perdana Menteri Choi beberapa saat kemudian.
Jungsoo kembali
mengangguk tanpa menoleh, dia lalu mengedarkan pandangannya pada arah depan
kembali. Tepat pada putra-putranya yang tengah bercanda riang bersama kekasih
mereka, Ryeowook, Yeonhee, Kihwang, dan Sungmin─yang dia ketahui sebagai adik
Saera─bahkan ikut larut dalam suasana bahagia tersebut. Sudut bibir Jungsoo
tanpa sadar membentuk sebuah senyuman.
“Siwon-ah,
Kibum-ah!” panggil Jungsoo pada penasehatnya dan juga Kibum yang berada
beberapa langkah di belakangnya.
Kedua orang
yang dipanggil itu sontak menghampiri Jungsoo dengan segera. “Nde, Yang
Mulia? Anda menginginkan sesuatu?” tanya Siwon mewakili Kibum.
Tanpa
mengalihkan tatapannya dari arah depan, Jungsoo menjawab, “Siapkan pesta
pernikahan untuk Jongwoon besok, juga pesta pertunangan untuk ketiga Pangeran
lainnya. Aku ingin menyatukan kedua pesta itu sekaligus. Setelah pengucapan
janji di altar, aku menginginkan acara pertunangan segera dilaksanakan, dan
perayaan pesta dilakukan bersama-sama, mengerti?”
Kibum diam-diam
tersenyum mendengarnya, dia dan Siwon membungkuk setelah menyatakan bahwa
mereka mengerti dan segera berlalu untuk melaksanakan apa yang Jungsoo
perintahkan.
Begitu langkah kaki
Siwon dan Kibum menghilang, Jungsoo menengadah menatap langit, senyum di
wajahnya bertambah lebar, dia lalu berbisik pada udara kosong yang berembus.
“Sora-ya, lihat putra-putramu sekarang, mereka sudah menemukan
kebahagiaan masing-masing. Kau bahagia, bukan?”
Jungsoo lalu
menutup matanya menikmati semilir angin yang membelai-belai wajahnya, “Andai
kau masih di sini, pasti kebahagiaan mereka akan bertambah lengkap. Sora-ya,
bogosippoyo..”
***
“HAH? Akhirnya
hanya seperti itu?” teriak Hyunmi tak puas saat Saera mengeluarkan sebuah DVD
dari DVD room.
Semua di
ruangan itu menatap Hyunmi heran, Hyerin bahkan sampai menghentikan elusan
tangannya di rambut Donghae yang sedang berbaring di pahanya, begitu pun Yesung
yang langsung mengangkat kepalanya yang sedang bersandar di bahu Taeyoung.
Kyuhyun yang baru saja ditinggalkan Saera untuk mengeluarkan DVD langsung
memutar bola mata mendengar teriakan Hyunmi.
“Memang kau
ingin film ini berakhir seperti apa, Hyunmi-ya?” tanya Kyuhyun sarkatis.
“Ya! Kyuhyun-ah,
sopanlah sedikit pada kekasihku!” sahut Eunhyuk tiba-tiba sambil memelototi
Kyuhyun, Kyuhyun mendengus tapi tak menjawab.
Hyerin mengelus
dadanya, “Aku pikir kau kenapa Eonni,” desah yeoja itu lega
membuat Donghae tak urung tersenyum melihat bagaimana ekspresi lega yang
ditunjukkan oleh Hyerin.
Taeyoung
mendecak kemudian terkekeh, “Eonni, jangan terlalu berharap lebih pada endingnya,
aku kan sudah bercerita padamu..” jelas Taeyoung, Yesung hanya tersenyum
melihat bagaimana cara kekasihnya itu menjelaskan, terlihat menggemaskan.
Hyunmi
merengut. “Ya, aku kan hanya mengira akan ada hal yang lain yang terjadi di
akhir film, tapi.. aish, lupakan!” katanya, kembali duduk di samping
Eunhyuk─membuat Eunhyuk secara otomatis kembali bersandar pada yeoja
itu.
Hyunmi lalu
mengedarkan pandangan ke sekeliling dorm Super Junior yang terlihat
sepi. Wajar saja dorm sepi jika mengingat Leeteuk telah pergi wamil
sementara Shindong, Kangin, dan Siwon sedang sibuk dengan jadwal mereka, hanya
Eunhyuk, Donghae, Yesung, Kyuhyun, Sungmin, dan Ryeowook yang tidak mempunyai
jadwal hari ini, karena itu keenam namja super sibuk tersebut memutuskan
menghubungi kekasih mereka untuk menonton film bersama.
“Omong-omong,
kemana dua pasangan itu? Pergi ke supermarket saja lama sekali.” ujar Hyunmi
tiba-tiba pada semua yang ada di ruangan.
“Kihwang dan
Yeonhee Eonni bilang mereka sebentar lagi sampai.” sahut Saera tak acuh.
“Annyeong..
Kami pulang..” teriak Yeonhee dan Kihwang beberapa saat kemudian, keduanya
langsung berbaur dengan para yeoja lain, sementara Sungmin dan Ryeowook
mengikuti dari belakang dengan membawa beberapa kantung belanjaan.
“Ya! Kalian
menonton film tanpa kami?” protes Yeonhee tiba-tiba melihat kaset DVD yang
berantakan.
Hyunmi, Hyerin,
Taeyoung, dan Saera terkikik tanpa merasa rasa bersalah sama sekali.
“Kalian lama,
Yeonhee-ya, Kihwang-ah. Jadi, jangan salahkan kami kalau kami
menonton duluan.” balas Donghae.
Yesung lalu
terkekeh tiba-tiba dan berkata. “Kalian berdua tahu? Nama pemeran utama di film
ini seperti nama kita, kebetulan yang lucu sekali!”
Kihwang dan
Yeonhee menghela napas serentak.
“Kalau begitu,
ayo menonton lagi! Aku dan Yeonhee kan belum menonton!” seru Kihwang semangat.
“Ya! Ya! Kalian
melupakan kami, huh?” teriak Sungmin tiba-tiba dari arah dapur sambil membawa
beberapa camilan dan meletakkannya ditengah-tengah.
Camilan itu
langsung diserbu dalam hitungan detik oleh semua orang, membuat Sungmin
terjatuh ke belakang dan semuanya tertawa─termasuk Yeonhee meskipun dia
akhirnya mengulurkan tangan untuk membantu Sungmin berdiri.
Ryeowook yang
baru saja kembali dengan membawa minuman buatannya langsung ikut tertawa
melihat keadaan Sungmin, dia lantas meletakkan minuman itu di atas meja dan
berjalan ke arah tivi, dia memasukkan DVD tersebut kepada DVD room kembali dan
berjalan ke arah Kihwang dengan membawa remote di tangannya.
“Ayo menonton
kembali semuanya!” seru Ryeowook dengan nada ceria lantas menekan tombol play
di remote.
Semua orang
tertawa beberapa saat dengan camilan di tangan masing-masing sebelum
memfokuskan mata menatap layar tivi 50 inci di hadapan mereka, menyaksikan
dengan saksama bagaimana judul film tersebut perlahan muncul dan bertuliskan,
“Brotherhood,
Magic, and… Love.”
ENDING
ayooo bikin FF kaya gini lagi ahjumma kangeeen :*
BalasHapus