Entri yang Diunggulkan

Series Recommendations! đŸŽ„

Hi, happy Wednesday all! So decided to post my own personal series. I usually dont like watching movie, so because i watched those series ...

Sabtu, 15 Desember 2012

Brotherhood, Magic, and.. Love (Ten-Ending)


TEN (ENDING)
D

IAM. Sunyi. Senyap.

Ketiga namja yang masih terduduk di ruang tunggu itu mengerjapkan mata mereka sembari mengalihkan pandangan dari pintu tempat Jongwoon menghilang, sama sekali tak menyangka jika namja itu benar-benar mengambil keputusan yang akan menghancurkan dirinya sendiri.

“Jadi bagaimana?” tanya Kyuhyun setelah tersadar, dia menatap kedua saudaranya yang juga tampak sama frustasi dengannya sebelum menghela napas panjang. Jongwoon memang terlalu keras kepala, dia selalu mementingkan kepentingan Negara sekali pun itu mengorbankan kebahagiaannya. Kadang Kyuhyun tak habis pikir otak Jongwoon terbuat dari apa.

Dua orang yang ditanya Kyuhyun akhirnya mengerjap dan tersadar, mereka berpandangan, mendesah samar lantas mengangkat bahu.

Hyukjae menjawab dengan nada pasrah, “Entahlah, Kyu. Kau tahu sendiri bagaimana keras kepalanya Jongwoon Hyung.”

Donghae mengangguk setuju, “Kadang aku benar-benar ingin mencuci otaknya agar dia sekali saja memikirkan kebahagiannya!” komentar Donghae serius.

Dua lainnya menatap wajah serius Donghae dengan tatapan aneh namun tak berkata apa pun. Setelah percakapan singkat itu, ketiganya kembali diam, sibuk ditelan pikiran masing-masing.

Selang beberapa detik, suara hentakan kaki yang berlari ke arah ruangan mereka terdengar. Ketiganya terenyak, namun senyum langsung tersungging di bibir mereka melihat bagaimana cantiknya yeoja masing-masing dalam balutan gaun yang mereka pilihkan kemarin.

Hyukjae segera berjalan ke arah Hyunmi yang memakai gaun silver selutut─terlihat sederhana namun cantik─dan segera meraih tangan Hyunmi. “Gaun ini benar-benar cocok untukmu, kau cantik, Mi-ya…” bisik Hyukjae yang membuat pipi Hyunmi memerah.

Donghae mendecak dalam hati melihat tingkah Hyukjae, dia mengikuti langkah Hyukjae dan menghampiri Hyerin yang memakai gaun biru selutut tanpa lengan, tersenyum manis. “Seperti dugaanku, gaun ini sangat sempurna untukmu, cantik sekali..” Hyerin tersipu dengan pipi memerah.

“Aku tidak aneh, bukan?” tanya Saera tanpa basa-basi ketika Kyuhyun berdiri di hadapannya dan mengamati yeoja itu dari ujung kepala sampai ujung kaki.

Kyuhyun terkekeh, berpikir bagaimana Saera bisa terlihat aneh dengan gaun hijau secantik ini di tubuhnya? “Tentu saja tidak aneh, Saera-ya. Gaun pilihanku benar-benar sesuai untukmu, yeojaku ini sangat cantik..” Saera menunduk agar Kyuhyun tak melihat rona merah di pipinya.

Setelah bercanda sedikit dengan yeoja masing-masing, keenamnya kini duduk di sofa, wajah mereka langsung keruh saat membahas Jongwoon dan Taeyoung kembali.

“Jadi, kalian tidak bisa membujuk Jongwoon Oppa?” tanya Hyerin setelah mendengarkan cerita para namja.

Mianhae, Jongwoon Hyung terlalu keras kepala.” jawab Donghae, “Bagaimana dengan Taeyoung?” tanyanya kemudian yang mendapat gelengan serempak dari ketiga yeoja itu.

“Dia bersikeras hadir..” jawab Saera.

“Mereka sama-sama keras kepala kalau begitu,” sahut Kyuhyun.

Hyukjae mendesah, “Aku tetap berharap Jongwoon Hyung berubah pikiran..”

“Kita semua berharap seperti itu, Oppa..” respons Hyunmi.

Semuanya saling berpandangan dan menghela napas serentak, “Pasangan bodoh..” gumam mereka bersamaan.

***

Pintu ruangan tempat pernikahan berlangsung terbuka. Para tamu undangan menahan napas melihat kecantikan pengantin wanita hari ini, namun tatapan Jongwoon sama sekali tak tertuju pada si pengantin wanita, matanya malah sibuk mengamati seseorang di bangku paling depan yang juga tengah menatapnya.

Ekspresi penuh luka dan kecewa yang terpancar dari wajah yeoja itu membuat Jongwoon merasa bagai dicambuk, dia ingin mengalihkan pandangan ke arah lain─mungkin pada Sooyoung yang sebentar lagi akan menjadi istrinya─tapi Jongwoon tak bisa. Matanya sudah dibutakan oleh Taeyoung─yang Demi Tuhan terlihat sangat cantik dengan gaun putih panjangnya di mata Jongwoon!

“Youngie, berhenti menatap ke arah Jongwoon Oppa..” bisik Hyunmi sambil menyenggol bahu Taeyoung ketika Taeyoung tak juga mengalihkan tatapannya.

Taeyoung bergeming.

Hyerin dan Saera merangkul pundak Taeyoung mencoba membuat perhatian yeoja itu teralihkan, tapi Taeyoung benar-benar bergeming, raganya seolah sudah tak berada di sana. Taeyoung dan Jongwoon hanya saling menatap dengan tatapan yang hanya bisa diartikan oleh mereka berdua, bergeming terhadap segala hal yang ada di sana seolah hanya mereka berdualah satu-satunya penghuni ruangan itu.

OPPA!” kata Sooyoung berteriak pelan.

Jongwoon terkesiap, dia akhirnya mengalihkan tatapan dari Taeyoung pada Sooyoung. Wajahnya langsung berubah datar.

Sebelum berdiri di samping Jongwoon, Sooyoung mengedarkan pandangan ke sekitar. Saat matanya menangkap wajah Taeyoung, Sooyoung tiba-tiba merasa jahat, apalagi ditambah tatapan tajam dari ketiga Pangeran dan pasangan mereka masing-masing. Sooyoung mendesah, membulatkan tekad lantas naik ke altar.

Upacara itu berlangsung khidmat, semuanya tampak larut dalam acara sacral tersebut.

“Aku bersedia..” jawab Sooyoung tegas saat gilirannya mengucapkan janji tiba.

Jongwoon tersentak, dia terlalu sibuk dengan pikirannya hingga tidak sadar bahwa sekarang gilirannya mengucapkan kata sakral itu. Jongwoon mencuri pandang ke arah Taeyoung, jantungnya mencelos saat melihat Taeyoung berdiri dari duduknya, lantas keluar dari ruangan dengan air mata yang menggenang. Jongwoon menunduk seketika, pikirannya kembali dipenuhi sosok Taeyoung.

Bangku paling depan terdengar ribut. Telinga Jongwoon bahkan dapat menangkap keributan kecil yang terjadi di antara para dongsaengnya dengan pasangan mereka─para yeoja pasti ingin mengejar Taeyoung sementara para namja menahannya─yang berakhir dengan keheningan beberapa detik kemudian.

Seisi ruangan langsung hening secara mendadak, tegang menunggu Jongwoon mengucapkan janjinya.

“A-aku..” Jongwoon menahan bibirnya untuk meloloskan sumpah yang akan mengikat dia dan Sooyoung menjadi sepasang suami-istri sejenak. Dia memejamkan mata merasakan lidahnya yang tiba-tiba saja kelu saat akan mengatakan hal tersebut.

Oppa..” panggil Sooyoung lirih di sebelahnya.

Beberapa saat kemudian, Jongwoon membuka mata, menatap Sooyoung di sampingnya lalu berkata, “Aku bersedia,”

Senyum Sooyoung terkembang, namun langsung memudar digantikan air mata detik itu juga ketika Jongwoon melanjutkan. “Aku ingin sekali bersedia, Sooyoung-ah, tapi aku tidak bisa. Mianhae, aku mencintai Taeyoung..”

Jongwoon membungkuk pada Sooyoung, setelah itu dia membalikkan badan dan membungkuk pada tamu. Bayang-bayang Taeyoung kembali memenuhi pikiran Jongwoon, dan saat ia tersadar, namja itu sudah berlari meninggalkan altar tanpa memedulikan reaksi para tamu undangan─termasuk Jungsoo dan aboeji Sooyoung─yang terperangah melihat kejadian itu.

“Han Taeyoung!” teriak Jongwoon saat menemukan bayangan Taeyoung di taman.

Taeyoung yang baru saja menyeka air mata di pipi merasakan tubuhnya langsung membeku mendengar suara Jongwoon, dan melihat kesempatan itu, Jongwoon mempercepat larinya lantas berlutut di hadapan Taeyoung.

Jongwoon bahkan tak membiarkan dirinya menghirup udara barang sejenak ketika mengatakan, “Aku kabur dari pernikahanku untukmu. Taeyoung-ah, saranghae, saranghae, saranghae! menikahlah denganku!” Dengan sekali tarikan napas sembari menyodorkan kotak cincin berlian pada Taeyoung.

Taeyoung tak berpikir dua kali untuk menghambur ke tubuh Jongwoon membuat mereka jatuh berguling di atas rumput. Jongwoon meloloskan tawa bahagia dari bibirnya saat ia balas melingkarkan tangannya di pinggang yeoja itu. “Apa aku bisa mengartikannya sebagai “iya”?”

Taeyoung menahan isakan bahagianya sembari memukul pundak Jongwoon pelan, “Keurom! Nado saranghae, Oppa! Aku menunggumu mengatakannya dari dulu, pabo Jongwoon!”

***

“Harapan kita terkabul..” gumam Hyunmi melihat kejadian itu dari jauh, Hyukjae berada di sebelahnya, ikut memandang lurus pada Taeyoung dan Jongwoon.

Setelah tersadar dari keterkejutan mereka akan aksi Jongwoon, mereka memang memutuskan untuk mengejar Jongwoon keluar. Dan apa yang diharapkan mereka terjadi ternyata benar-benar terjadi. Hyerin-Donghae, Saera-Kyuhyun, Yeonhee-Sungmin (ya, Yeonhee mulai terbiasa menerima kehadiran Sungmin, dia pikir Sungmin bukan namja yang begitu buruk), dan Kihwang-Ryeowook pun berdiri tak jauh dari mereka, ikut menyaksikan momen pasangan baru di kerajaan ini.

Hyukjae mengalihkan pandangan dari depan pada yeojanya mendengar perkataan Hyunmi yang sepertinya hanya didengar oleh dia, namja itu merangkul pundak Hyunmi sambil tersenyum lebar. “Ne, tentu saja terkabul. Tuhan pasti mengabulkan harapan dari namja tampan sepertiku!” kata Hyukjae percaya diri yang dihadiahi lirikan tajam yeoja itu.

“Kau mulai menyebalkan lagi Oppa,” dengus Hyunmi sambil berusaha menyentak tangan Hyukjae dari bahunya.

Hyukjae tertawa kecil, dia mencubit kedua pipi Hyunmi lembut saking gemasnya melihat tingkah yeoja itu. “Aigo, aku hanya bercanda, Mi-ya, berhentilah bersikap serius!”

“Aku tidak bersikap serius!” elak Hyunmi, cemberut sembari mengusap-usap pipinya.

Arraseo! Arraseo!” kata Hyukjae menyerah, dia merentangkan tangan dan membawa Hyunmi ke dalam pelukannya. Hyukjae membenamkan wajahnya di perpotongan leher Hyunmi, membuat yeoja itu bergidik merasakan terpaan napas Hyukjae di kulit lehernya. “Saranghae, jangan pergi dariku, ne?”

Hyunmi merasakan pipinya memanas, dia bersyukur Hyukjae tak dapat melihatnya. “Aku tidak akan pergi darimu. Nado saranghae, Oppa.” balas yeoja itu sambil membalas pelukan Hyukjae.

Hyukjae terkekeh senang mendengarnya, “Aku jadi ingin menyusul Jongwoon Hyung. Bagaimana kalau besok kita menikah?”

***

Hyerin menyunggingkan senyum lega di wajahnya melihat bagaimana Taeyoung akhirnya mendapat kebahagiaan, yeoja itu menyandarkan kepalanya di dada Donghae dengan mata tak lepas dari arah depan.

Donghae secara otomatis melingkarkan tangannya di perut Hyerin, memperkecil kemungkinan jarak yang masih tersisa di antara tubuh mereka.

“Jongwoon Hyung lambat sekali,” komentar Donghae tiba-tiba yang membuahkan kekehan dari Hyerin.

“Setidaknya, Taeyoung dan Jongwoon Oppa akhirnya bersatu.” tanggap Hyerin, mengangkat wajah sedikit untuk menatap Donghae. “Aku ikut bahagia untuk mereka, Oppa..” bisiknya lirih.

Donghae menunduk dan memagut mata Hyerin, mereka berbagi tatapan penuh kasih sebelum Donghae kembali bersuara.

“Aku juga, Hyerin-ah.” balasnya, satu tangan Donghae yang melingkari perut Hyerin kini beralih membelai pipi yeoja itu. Ia mengeluarkan senyum sejuta pesona yang dimilikinya lalu melanjutkan, “Dan aku lebih bahagia karena kau ada di sisiku, saranghae..”

Hyerin memejamkan mata menikmati belaian tangan Donghae di pipinya, setelah puas, dia membuka mata untuk menatap Donghae kembali.

Hyerin tersenyum, menurunkan tangan Donghae yang masih membelai pipinya lantas memutar tubuh hingga mereka kini berpelukan.

Hyerin lalu melingkarkan tangannya di pundak Donghae lantas menjawab, “Nado Oppa, nado saranghae..”

Senyum Donghae melebar dengan sendirinya. Sambil mempererat pelukan mereka, namja itu mendekatkan bibirnya pada telinga Hyerin lantas berbisik. “Kapan kita menyusul Jongwoon Hyung dan Taeyoung menikah, chagi?”

***

Saera mengedipkan mata beberapa kali saat terjaga dari lamunannya. Dia menatap lekat-lekat pada Taeyoung dan Jongwoon yang masih asyik berpelukan, senyum lantas terkembang di bibirnya.

“Hah, lega sekali rasanya melihat Taeyoung Eonni akhirnya bahagia!” ujar Saera membuat Kyuhyun menipiskan bibir, menyetujui ucapan yeojanya itu dalam hati.

“Mereka terlihat manis saat bersama..” kata Saera tiba-tiba yang langsung membuat Kyuhyun menoleh ke arahnya.

Kening namja itu mengernyit, “Apa kita tidak terlihat manis sampai kau berkata seperti itu?” tanyanya, diam-diam menyelipkan tangan pada pinggang Saera dari samping.

Mendengar pertanyaan Kyuhyun, giliran kening Saera yang mengernyit sekarang. “Apa kita terlihat manis? Aku bahkan sangsi memikirkannya.” jawab yeoja itu.

Kyuhyun mendengus, “Setidaknya kita pasangan evil maknae yang sempurna,” serunya bangga.

Saera tertawa pelan mendengarnya, “Ya! Tidak adakah sebutan lain yang lebih manis?”

Kyuhyun mengeratkan rangkulannya di pinggang Saera sambil membawa yeoja itu lebih dekat untuk ia dekap.

Namja itu menyandarkan dagunya di atas kepala Saera lalu menyahut. “Ani, aku menyukainya.” Jeda sesaat sebelum Kyuhyun melanjutkan, “Saera-ya, aku mungkin bukan tipe orang yang pandai berkata-kata. Tapi, tetap di sampingku selamanya, ne? Saranghae..”

Saera bisa merasakan jantungnya yang berdetak semakin cepat mendengar perkataan Kyuhyun. Namja ini… Saera tak bisa mendefinisikan seberapa besar cintanya untuk Kyuhyun.

Saera menyandarkan kepalanya di dada Kyuhyun, tersenyum mendengar detak jantung namja. “Tanpa diminta pun, aku akan. Nado Oppa, nado saranghaeyo..”

Kyuhyun tertawa senang mendengarnya, “Kalau begitu, kau tidak keberatan jika aku ingin menikahimu secepatnya, bukan?”

***

“Aku berharap para Pangeran benar-benar bahagia dengan pilihan mereka kali ini.” kata Kihwang tulus, menatap satu-persatu pasangan yang sedang larut dalam dunia mereka masing-masing sebelum menatap pada Ryeowook.

Ryeowook tersenyum, memuji betapa murni hati kekasihnya ini dalam hati, bahkan pada teman-teman yang belum lama ia kenal. Ryeowook lantas menautkan jemarinya bersama jemari Kihwang, menatap Kihwang lembut. “Aku juga berharap seperti itu, Hwangie. Para pangeran temanku sejak kecil, bahkan sudah kuanggap seperti saudara. Tentu saja aku juga menginginkan mereka bahagia.”

Kihwang tersenyum, tangannya balas menggenggam tangan Ryeowook dengan tak kalah erat, seolah takut kehilangan. “Aku juga menginginkan kebahagiaan untuk kita.” tutur Kihwang kemudian.

Senyum di bibir Ryeowook terkembang semakin lebar, dia menarik Kihwang untuk bersandar di bahunya dan menyahut. “Kita akan Hwangie, kita akan bahagia selamanya. Aku berjanji akan membawa kebahagiaan yang abadi di hubungan kita, saranghae..”

“Aku memegang janjimu, dan nado Oppa, nado saranghae..”

***

Yeonhee melirik pasangan-pasangan yang asyik bermesraan lantas mendesah. Well, Yeonhee memang ikut bahagia dengan semuanya, tapi jauh di lubuk hatinya ia juga merasa ada rasa iri yang menelusup masuk. Yeonhee lalu menghela napas, saat tanpa sengaja melihat ke arah kiri, dia melihat Sungmin sedang menatapnya intens sambil tersenyum. Yeonhee mulai merasakan debaran kecil merambat ke hatinya melihat senyum Sungmin.

Wae?” tanyanya berdebar.

Sungmin menggeleng, meraih tangan Yeonhee dan menggenggamnya erat. “Ani, aku hanya berpikir kapan kita bisa berbagi kemesraan seperti mereka. Mungkin kau bosan mendengarnya. Tapi aku serius Hee-ya, aku jatuh cinta pada pandangan pertama denganmu. Saranghae..”

Jantung Yeonhee bergemuruh, entah apa yang dipikirkannya ketika dia tiba-tiba saja mendekat dan menyandarkan kepalanya di bahu Sungmin dengan kedua tangannya yang melingkar di perut Sungmin. “Aku memang belum yakin dengan perasaanku padamu. Kita baru bertemu beberapa jam, tapi, Sungmin-ah, aku merasa mulai menyukaimu. Ajari aku untuk mengembangkan rasa suka ini menjadi cinta..”

Meskipun terkejut, Sungmin kemudian mengusap tangan Yeonhee yang melingkari perutnya dengan satu tangan, sementara tangan lain mengelus rambut Yeonhee sambil tersenyum lebar. “Aku akan, percayalah!”

***

Beberapa saat hanya terdiam memandangi putra-putranya yang tampak bahagia dengan pasangan masing-masing, Jungsoo akhirnya mengalihkan tatapan pada Perdana Menteri─yang sekaligus merupakan aboeji Sooyoung sambil tersenyum penuh penyesalan.

Mianhaeyo atas kejadian tidak mengenakkan ini, Perdana Menteri Choi, aku benar-benar tidak menyangka bahwa Jongwoon akan melakukan hal memalukan seperti ini.”

Perdana Menteri Choi tersenyum tipis, “Gwaenchanayo, Yang Mulia. Saya juga tidak bisa memaksakan kehendak Pangeran Jongwoon, justru saya lega Pangeran Jongwoon membatalkannya sekarang. Saya tidak bisa membayangkan kalau Pangeran Jongwoon menyadarinya saat dia sudah menikah dengan Sooyoung.”

Jungsoo mengangguk. Dia sama sekali tak membenci putra-putranya karena telah membatalkan perjodohan mereka seenaknya, Jungsoo sadar dia tidak bisa memaksakan perasaan anak-anaknya.

“Yang Mulia, jika sudah tak ada yang bisa dibicarakan saya pamit. Sooyoung sepertinya butuh seseorang..” pamit Perdana Menteri Choi beberapa saat kemudian.

Jungsoo kembali mengangguk tanpa menoleh, dia lalu mengedarkan pandangannya pada arah depan kembali. Tepat pada putra-putranya yang tengah bercanda riang bersama kekasih mereka, Ryeowook, Yeonhee, Kihwang, dan Sungmin─yang dia ketahui sebagai adik Saera─bahkan ikut larut dalam suasana bahagia tersebut. Sudut bibir Jungsoo tanpa sadar membentuk sebuah senyuman.

“Siwon-ah, Kibum-ah!” panggil Jungsoo pada penasehatnya dan juga Kibum yang berada beberapa langkah di belakangnya.

Kedua orang yang dipanggil itu sontak menghampiri Jungsoo dengan segera. “Nde, Yang Mulia? Anda menginginkan sesuatu?” tanya Siwon mewakili Kibum.

Tanpa mengalihkan tatapannya dari arah depan, Jungsoo menjawab, “Siapkan pesta pernikahan untuk Jongwoon besok, juga pesta pertunangan untuk ketiga Pangeran lainnya. Aku ingin menyatukan kedua pesta itu sekaligus. Setelah pengucapan janji di altar, aku menginginkan acara pertunangan segera dilaksanakan, dan perayaan pesta dilakukan bersama-sama, mengerti?”

Kibum diam-diam tersenyum mendengarnya, dia dan Siwon membungkuk setelah menyatakan bahwa mereka mengerti dan segera berlalu untuk melaksanakan apa yang Jungsoo perintahkan.

Begitu langkah kaki Siwon dan Kibum menghilang, Jungsoo menengadah menatap langit, senyum di wajahnya bertambah lebar, dia lalu berbisik pada udara kosong yang berembus. “Sora-ya, lihat putra-putramu sekarang, mereka sudah menemukan kebahagiaan masing-masing. Kau bahagia, bukan?”

Jungsoo lalu menutup matanya menikmati semilir angin yang membelai-belai wajahnya, “Andai kau masih di sini, pasti kebahagiaan mereka akan bertambah lengkap. Sora-ya, bogosippoyo..”

***

“HAH? Akhirnya hanya seperti itu?” teriak Hyunmi tak puas saat Saera mengeluarkan sebuah DVD dari DVD room.

Semua di ruangan itu menatap Hyunmi heran, Hyerin bahkan sampai menghentikan elusan tangannya di rambut Donghae yang sedang berbaring di pahanya, begitu pun Yesung yang langsung mengangkat kepalanya yang sedang bersandar di bahu Taeyoung. Kyuhyun yang baru saja ditinggalkan Saera untuk mengeluarkan DVD langsung memutar bola mata mendengar teriakan Hyunmi.

“Memang kau ingin film ini berakhir seperti apa, Hyunmi-ya?” tanya Kyuhyun sarkatis.

“Ya! Kyuhyun-ah, sopanlah sedikit pada kekasihku!” sahut Eunhyuk tiba-tiba sambil memelototi Kyuhyun, Kyuhyun mendengus tapi tak menjawab.

Hyerin mengelus dadanya, “Aku pikir kau kenapa Eonni,” desah yeoja itu lega membuat Donghae tak urung tersenyum melihat bagaimana ekspresi lega yang ditunjukkan oleh Hyerin.

Taeyoung mendecak kemudian terkekeh, “Eonni, jangan terlalu berharap lebih pada endingnya, aku kan sudah bercerita padamu..” jelas Taeyoung, Yesung hanya tersenyum melihat bagaimana cara kekasihnya itu menjelaskan, terlihat menggemaskan.

Hyunmi merengut. “Ya, aku kan hanya mengira akan ada hal yang lain yang terjadi di akhir film, tapi.. aish, lupakan!” katanya, kembali duduk di samping Eunhyuk─membuat Eunhyuk secara otomatis kembali bersandar pada yeoja itu.

Hyunmi lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling dorm Super Junior yang terlihat sepi. Wajar saja dorm sepi jika mengingat Leeteuk telah pergi wamil sementara Shindong, Kangin, dan Siwon sedang sibuk dengan jadwal mereka, hanya Eunhyuk, Donghae, Yesung, Kyuhyun, Sungmin, dan Ryeowook yang tidak mempunyai jadwal hari ini, karena itu keenam namja super sibuk tersebut memutuskan menghubungi kekasih mereka untuk menonton film bersama.

“Omong-omong, kemana dua pasangan itu? Pergi ke supermarket saja lama sekali.” ujar Hyunmi tiba-tiba pada semua yang ada di ruangan.

“Kihwang dan Yeonhee Eonni bilang mereka sebentar lagi sampai.” sahut Saera tak acuh.

Annyeong.. Kami pulang..” teriak Yeonhee dan Kihwang beberapa saat kemudian, keduanya langsung berbaur dengan para yeoja lain, sementara Sungmin dan Ryeowook mengikuti dari belakang dengan membawa beberapa kantung belanjaan.

“Ya! Kalian menonton film tanpa kami?” protes Yeonhee tiba-tiba melihat kaset DVD yang berantakan.

Hyunmi, Hyerin, Taeyoung, dan Saera terkikik tanpa merasa rasa bersalah sama sekali.

“Kalian lama, Yeonhee-ya, Kihwang-ah. Jadi, jangan salahkan kami kalau kami menonton duluan.” balas Donghae.

Yesung lalu terkekeh tiba-tiba dan berkata. “Kalian berdua tahu? Nama pemeran utama di film ini seperti nama kita, kebetulan yang lucu sekali!”

Kihwang dan Yeonhee menghela napas serentak.

“Kalau begitu, ayo menonton lagi! Aku dan Yeonhee kan belum menonton!” seru Kihwang semangat.

“Ya! Ya! Kalian melupakan kami, huh?” teriak Sungmin tiba-tiba dari arah dapur sambil membawa beberapa camilan dan meletakkannya ditengah-tengah.

Camilan itu langsung diserbu dalam hitungan detik oleh semua orang, membuat Sungmin terjatuh ke belakang dan semuanya tertawa─termasuk Yeonhee meskipun dia akhirnya mengulurkan tangan untuk membantu Sungmin berdiri.

Ryeowook yang baru saja kembali dengan membawa minuman buatannya langsung ikut tertawa melihat keadaan Sungmin, dia lantas meletakkan minuman itu di atas meja dan berjalan ke arah tivi, dia memasukkan DVD tersebut kepada DVD room kembali dan berjalan ke arah Kihwang dengan membawa remote di tangannya.

“Ayo menonton kembali semuanya!” seru Ryeowook dengan nada ceria lantas menekan tombol play di remote.

Semua orang tertawa beberapa saat dengan camilan di tangan masing-masing sebelum memfokuskan mata menatap layar tivi 50 inci di hadapan mereka, menyaksikan dengan saksama bagaimana judul film tersebut perlahan muncul dan bertuliskan,

Brotherhood, Magic, and… Love.”

ENDING

1 komentar: