Entri yang Diunggulkan

Series Recommendations! 🎥

Hi, happy Wednesday all! So decided to post my own personal series. I usually dont like watching movie, so because i watched those series ...

Sabtu, 15 Desember 2012

Brotherhood, Magic, and.. Love (Nine Part B)


NINE PART B
T

AEYOUNG menghabiskan waktu 4 jam untuk menceritakan segalanya pada Hanni─minus tentang Negeri Shappire Blue dan orang-orangnya yang bisa sihir, tentu saja. Yeoja itu menceritakan setiap detail kejadian yang dilaluinya bersama Jongwoon, yang akan berakhir dengan dia menangis dipelukan Hanni dan Hanni menghiburnya dengan sejuta kata-kata bijaksana.

Pikiran dan hati Taeyoung sekarang lebih tenang setelah ia bercerita. Hanni memberinya banyak saran yang benar-benar membuka mata Taeyoung. Hanni bukan hanya sekadar sahabat untuk Taeyoung, dia juga eonni yang mengerti Taeyoung luar-dalam. Dalam hati, Taeyoung sangat bersyukur ada Hanni di hidupnya. Setidaknya, ia mempunyai penopang saat ia sedang dilanda kebingungan. Taeyoung memiliki Hanni sebagai tempat bersandar.

Eonni, gomawo sudah mendengarkan..” kata Taeyoung saat dia selesai menceritakan semua hal pada Hanni, dia mengusap sisa air matanya sambil mengulas senyum.

Hanni ikut mengulas senyum, membelai rambut Taeyoung penuh kasih sayang. “Gwaenchanayo, Eonni senang kau datang untuk bercerita. Itu artinya kau masih menganggapku ada..” balasnya setengah bercanda, “Nah sekarang, pergilah, temui Jongwoonmu.”

Eonni, kau mengusirku?” tanya Taeyoung pura-pura merengut.

Hanni terkekeh lalu berdiri. “Kau berpikir seperti itu? Baiklah, kita biarkan Jongwoon menunggu lebih lama di tengah hujan salju saja kalau begitu.”

Mata Taeyoung membulat panik, “Di luar hujan salju?” tanyanya cemas, dia langsung berdiri dan berjalan ke arah jendela. “Aigo..” serunya lalu berlari ke arah pintu masuk dan keluar dengan terburu-buru.

Hanni mengamati tingkah Taeyoung sambil menggelengkan kepala, memaklumi Taeyoung yang bahkan tidak berpamitan padanya. Sangat panik mungkin? Hanni kemudian memberesi gelas-gelas berisi cokelat panas di atas meja, dia terenyak saat seseorang memeluknya dari belakang. Senyum kecil menghiasi wajahnya begitu menyadari yang tengah memeluknya adalah Taeyoung. Dia pasti kembali lagi karena mengingat Hanni.

Eonni, aku pergi dulu, ne? Gomawo untuk semuanya, saranghae..” seru Taeyoung dengan napas agak tersengal-sengal karena ia terpaksa berlari kembali dari lantai dasar apartemen Hanni.

Setelah Hanni membalas ucapannya, Taeyoung berlari kembali ke arah lift. Dia memencet tombol lift dengan tidak sabaran untuk menuju lantai dasar. Begitu lift terbuka, Taeyoung berlari kembali menuju luar gedung. Langkahnya memelan begitu dia sampai di tempat Jongwoon berjanji akan menunggunya.

Tidak ada siapa pun di sana. Jongwoon menghilang. Taeyoung mengedarkan pandangan ke segala arah, hanya butiran salju yang berjatuhan yang bisa ia temukan. Taeyoung tanpa sadar menghela napas, mengulurkan tangan untuk merasakan butiran salju yang berjatuhan ke tangannya sambil meresapi sesak di dalam dada karena Jongwoon tidak mau menunggunya.

Saat sedang sibuk dengan pikirannya, Taeyoung tersentak saat sebuah mantel tiba-tiba saja melingkari pundaknya. Yeoja itu memutar tubuh, terpukau melihat Jongwoon di hadapannya. Namja itu menepati janjinya, dia menunggunya.

Jongwoon tersenyum, “Kau berpikir aku meninggalkanmu?” tanyanya pelan, Taeyoung mengangguk membuat Jongwoon melebarkan senyumnya dan membenarkan mantel di pundak Taeyoung. “Aku tidak mungkin meninggalkanmu, tenang saja..”

Senyum Taeyoung mengembang dengan sendirinya. “Kau membuatku cemas, pabo!” rajuknya membuat Jongwoon terkekeh dan menyentil dahi Taeyoung lembut.

“Kau yang pabo! Aku menunggumu hampir 4 jam..” balas Jongwoon.

Taeyoung terkikik, lantas menarik tangan Jongwoon meninggalkan tempat itu.

Keduanya berjalan sambil berpegangan tangan. Mereka masuk ke sebuah kafe untuk makan selagi menunggu hujan salju reda dan diselingi obrolan ringan. Taeyoung sesekali tertawa di sela-sela obrolan mereka, dan Jongwoon tersenyum senang setiap kali melihat Taeyoung tertawa. Tawa Taeyoung selalu bisa mengusir gundah di hatinya.

Hampir 2 jam menunggu, hujan salju yang lebat akhirnya berhenti. Keduanya memutuskan keluar dari kafe dan melewati sisa hari itu dengan berjalan mengelilingi pertokoan di pinggir jalan. Mereka memasuki toko demi toko dengan bahan obrolan yang seolah tak pernah habis.

Oppa, lihat kura-kura ini! Dia mirip sekali denganmu, bukan?” tanya Taeyoung begitu mereka memasuki toko boneka, dia mengangkat boneka kura-kura besar yang ditemukannya dan membandingkannya di hadapan wajah Jongwoon.

Jongwoon memutar bola mata, mendekatkan wajahnya pada wajah Taeyoung agar yeoja itu bisa melihatnya dengan saksama dan bertanya dengan suara rendah. “Kau tidak melihat seberapa tampan aku, Taeyoung-ah?”

Taeyoung mendorong wajah Jongwoon dengan telapak tangan karena merasa jantungnya akan meloncat melihat seberapa dekat wajah Jongwoon dengan wajahnya. Yeoja itu lalu menutupi kegugupannya dengan merengut, bibirnya mengerucut sambil memandangi boneka kura-kura itu. “Tapi aku suka boneka ini, dia terlihat lucu!”

“Aish, bilang saja kau ingin aku membelinya untukmu..” decak Jongwoon lantas mengambil boneka di tangan Taeyoung dan berjalan menuju kasir.

Taeyoung mengikuti langkah Jongwoon dari belakang sambil terkekeh. Dia segera memeluk boneka kura-kura itu setelah Jongwoon membayarnya. Jongwoon diam-diam mengamati senyum di wajah Taeyoung, dalam hati cemas jika senyum itu suatu saat akan menghilang dan Jongwoon kehilangan senyum favoritnya.

Mereka melanjutkan perjalanan sambil bercanda satu sama lain, terkadang Jongwoon akan menjahili Taeyoung yang berakhir dengan teriakan marah Taeyoung sebelum yeoja itu mencubitnya tanpa ampun, dan kejadian itu akan berakhir dengan gema tawa dari keduanya, menertawakan tingkah kanak-kanak mereka.

Mereka melupakan segala masalah yang mereka miliki untuk sejenak, menikmati detik-detik kebersamaan mereka untuk yang terakhir kalinya. Jongwoon pun tak segan-segan menunjukkan segala perhatian pada Taeyoung, sebab ia sadar, ini terakhir kalinya mereka bisa bersikap seperti ini. Karena untuk ke depannya, akan ada status yang menahan mereka agar berada di ruangan yang berbeda.

Danau adalah tujuan terakhir mereka saat sore menjelang. Dan begitu matahari hampir terbenam sepenuhnya, mereka duduk di jembatan yang ada di atas danau. Terdiam menikmati detik-detik matahari tenggelam. Taeyoung menyandarkan dagunya di kepala boneka kura-kura dari Jongwoon lalu mendekap boneka tersebut erat-erat dengan satu tangan sementara tangan lainnya masih digenggam oleh Jongwoon.

Oppa, mataharinya akan tenggelam.”  ujar Taeyoung begitu melihat matahari semakin menghilang, “Ayo kita hitung bersama-sama.” imbuhnya, mengangkat dagu dan menatap Jongwoon penuh harap.

Jongwoon terkekeh, dia mengayunkan genggaman tangan mereka dan mulai menghitung. “Lima..” Taeyoung membalas dengan mengatakan “Empat..” disambut Jongwoon yang mengatakan “Tiga..”

Matahari sudah semakin tenggelam, Taeyoung melirik ke arah tangan mereka yang masih bertautan erat sebelum menolehkan kepala ke samping untuk melihat Jongwoon lalu melanjutkan, “Dua..”

Merasa ditatap, Jongwoon ikut menoleh ke arah Taeyoung. Saat mata mereka bertemu, Jongwoon tak bisa menahan diri untuk tak melingkarkan tangannya di bahu Taeyoung dan menarik yeoja itu mendekat.

Taeyoung mengeratkan pelukannya pada boneka kura-kura pemberian Jongwoon sambil memejamkan mata saat embusan napas Jongwoon menerpa wajahnya, jantungnya berdebar semakin kencang setiap detiknya.

Sebelum bibir mereka bersentuhan, Jongwoon menggumamkan kata “Satu..” lantas menutup kesenjangan di antara mereka. Membiarkan tubuh mereka merasakan sensasi asing namun lembut yang pelan-pelan membuat pikiran mereka buyar.

Saat oksigen menjadi pengingat, keduanya melepaskan diri dengan napas terengah. Taeyoung menatap mata Jongwoon lurus dengan tatapan menyendu, “Oppa, apa hubungan kita sebenarnya?”

***

Hyukjae dan Hyunmi berjalan mengikuti suster Jung─ya, ini di luar dugaan karena mereka ternyata tetap pergi setelah insiden pertengkarang Hyukjae dan Jina─mata Hyunmi sesekali berpendar ke segala arah, hatinya langsung meringis, dia bahkan hampir menangis melihat orang-orang dengan gangguan mental di sepanjang lorong sedang melakukan kegiatan mereka; beberapa terlihat waras, beberapa berteriak seperti kesetanan, dan beberapa tertawa-tawa seolah sedang melihat sesuatu yang sangat lucu.

Hyukjae yang menyadarinya mencoba merangkul pundak Hyunmi, namun yeoja itu dengan cepat mengelak dan berjalan mendahului Hyukjae, membuat Hyukjae bertanya-tanya apalagi yang terjadi dengan Hyunmi.

Mereka berhenti di depan sebuah pintu putih yang dikunci, suster Jung segera merogoh kunci di saku bajunya untuk membuka pintu.

“Waktu Anda hanya 5 menit, Hyunmi-ssi. Hana-ssi akan menjalani perawatan rutinnya.” kata suster Jung memberitahu, menyimpan kuncinya kembali di saku.

Hyunmi mengangguk, dia memutar kenop pintu ke bawah dan termangu. Eommanya sedang duduk di tepi ranjang, memeluk guling dengan pandangan kosong entah kemana, mulutnya menggumamkan sesuatu yang sama sekali tak bisa dimengerti Hyunmi. Hyunmi menguatkan diri, menekan perasaan ingin menangis sekeras mungkin. Yeoja itu berjalan ke arah eommanya, tersenyum.

Eomma, ini Hyunmi. Kau masih mengingatku?” tanya Hyunmi sembari berlutut di hadapan Kim Hana, yeoja paruh baya itu mengalihkan pandangannya pada Hyunmi, terkikik kecil sambil menunjuk-nunjuk wajah Hyunmi.

Hyunmi mencoba mempertahankan senyumnya, dia menggapai tangan Hana dan menggenggamnya erat dan mulai berbicara. Selang tiga menit, Hyunmi tak kuasa menahan diri lebih lama lagi untuk mengobrol dengan eommanya, yeoja itu menutup mulut, lantas keluar ruangan tanpa memedulikan Hyukjae sambil menangis.

Hyukjae mengurungkan niatnya untuk menyusul Hyunmi, dia lebih memilih menghampiri eomma Hyunmi lantas berlutut. Hana sedikit menaruh perhatian pada Hyukjae.

Ahjumma mungkin tidak mengenalku, tapi... bisakah Ahjumma mengizinkanku untuk menjaga putri Ahjumma?” tanya Hyukjae sopan.

Hana tertawa sebentar sebelum wajahnya menyendu mendengar kata “putri” yang diselipkan Hyukjae di kata-katanya. “Ah..na, Hyun..mi...” gumam Hana kemudian sambil melihat ke arah langit-langit dengan pandangan kosong.

Hyukjae mengangguk, mengusap lengan Hana dengan lembut. “Bisakah?”

Hana tak menjawab, dia hanya kembali menggumamkan “Ahna, Hyunmi” berulang-ulang. Hyukjae menganggapnya sebagai jawaban iya.

Hyukjae tersenyum, lalu mulai menceritakan segala hal mengenai Ahna dan Hyunmi kepada Hana yang tampak diam─Hyukjae beramsumsi bahwa yeoja paruh baya itu sedang menyimak.

Dua menit kemudian, suster Jung datang kembali bersama beberapa dokter, dia meminta dengan sopan agar Hyukjae meninggalkan kamar Hana.

Hyukjae mengangguk, untuk terakhir kali, namja itu menatap Hana hangat. Lengannya mengusap punggung tangan Hana dan berucap, “Aku akan menjaga Hyunmi, Ahjumma bisa memercayakannya padaku..” Setelah itu Hyukjae berdiri dan berjalan keluar ruangan tanpa menoleh lagi pada Hana, dia sama sekali tak tahu kalau Hana─entah sadar atau tidak─menitikkan air mata dan mengangguk karena ucapannya.

Hyukjae melihat Hyunmi di bangku taman rumah sakit jiwa, sedang menutup wajah dengan tangan dan tampak terisak, tubuhnya bergetar hebat. Sesak menelusup masuk ke dalam hati Hyukjae, namja itu menghela napas sebelum duduk di samping Hyunmi. Dia menarik paksa kedua tangan Hyunmi hingga matanya yang dipenuhi air mata terlihat jelas oleh Hyukjae.

“Lepas..” lirih Hyunmi mencoba memberontak.

Hyukjae menarik paksa Hyunmi ke dalam pelukannya, namja itu menyandarkan dagunya di atas kepala Hyunmi sambil mengusap-usap punggung Hyunmi dengan lembut, mencoba menenangkan yeoja yang saat ini tengah memukul-mukul dadanya.

Merasa usahanya sia-sia, Hyunmi akhirnya berhenti memberontak. Tangannya yang memukul dada Hyukjae beralih mencengkeram kaus yang Hyukjae pakai dengan erat, dia melesakkan kepalanya di dada Hyukjae, terisak kembali.

“Sihir apa yang bisa digunakan untuk membuat Eommaku kembali normal?” tanya yeoja itu dengan suara parau.

Hyukjae terdiam, sama sekali tak tahu harus menjawab apa pada Hyunmi. Di dunia sihir, memang ada beberapa sihir yang bisa digunakan untuk menyembuhkan penyakit. Namun tidak ada satu sihir pun yang bisa digunakan untuk pengidap penyakit kelainan jiwa.

“Tidak ada?” tebak Hyunmi, meremas kaus Hyukjae semakin erat.

Hyukjae membiarkan Hyunmi kembali terisak dengan hebat tanpa menjawab satu pun pertanyaan yeoja itu. Tangannya tetap mengusap punggung Hyunmi sambil menghela napas berkali-kali.

Mereka betahan di posisi tersebut selama beberapa menit sebelum Hyunmi akhirnya berhenti terisak dan melepaskan diri dari dekapan Hyukjae. Dia mengulur napas panjang sambil mencoba menstabilkan emosi yang sedang bergejolak di hatinya.

Fakta bahwa tidak ada perkembangan yang berarti pada eommanya membuat hati Hyunmi terluka. Beberapa tahun ini─apalagi setelah kematian Ahna─Hyunmi memang tak pernah mengunjungi eommanya lagi, bukan dia tak ingin, Hyunmi hanya takut akan kecewa seperti sekarang karena eommanya sama sekali tak ada kemajuan.

Hyukjae yang mengamati tingkah yeoja itu ikut mengulur napas, dia bisa merasakan kesedihan dan kekecewaan yang Hyunmi rasakan. Hyukjae beranjak dari duduknya lantas berlutut di hadapan Hyunmi, dia mengulurkan tangan untuk menyeka jejak-jejak air mata yang masih tertinggal di mata yeoja itu dengan lembut.

“Tuhan punya rencana tersendiri untukmu, Mi-ya, dia sudah menyiapkan kebahagiaan lain dibalik semua cobaan yang menimpamu.”

Hyunmi menatap lurus-lurus pada mata Hyukjae yang terlihat sangat teduh, dia lalu menggeleng sambil memalingkan wajah. “Tidak, Tuhan tidak pernah menyiapkan kebahagiaan untukku. Dia telah mengambil semuanya, bahkan satu-satunya harapan kebahagiaanku yang tertinggal dia juga mengambilnya..” Berhenti sebentar, Hyunmi melanjutkan. “Tidak ada yang menyayangiku lagi. Bisakah aku menyusul Appa dan Eonniku saja?”

Hyukjae terkejut, dia menangkup kedua pipi Hyunmi dan memaksa yeoja itu menatapnya. “Dengar, kau tidak boleh berpikir seperti itu. Masih banyak orang yang menya─”

“Kau bohong!” jerit Hyunmi tiba-tiba, “kau bahkan tidak menyayangiku!” Mata Hyunmi refleks melebar setelah tersadar dengan ucapannya, terkejut karena ia bisa berbicara sejujur itu di hadapan Hyukjae.

Sudut bibir Hyukjae perlahan-lahan tertarik membentuk sebuah senyuman, dia menarik leher Hyunmi dan kembali memeluk yeoja itu. “Kata siapa aku tidak menyayangimu?”

Hyunmi mendadak merasa kesulitan bernapas mendengar perkataan Hyukjae, jantungnya bertalu-talu keras sekali. “Tapi kau bersama Jina..”

Hyukjae mengendurkan pelukannya di leher Hyunmi hingga keduanya bertatapan dengan jarak sangat dekat. “Aku berpisah dengannya tadi,” aku namja itu, bibirnya tertarik semakin ke atas, menciptakan senyuman manis. “selamat karena kau berhasil membuat Ahna tersingkir dari sini,” Hyukjae menunjuk hatinya, mempertahankan senyum di bibirnya. “Hyunmi-ya, saranghae, jadilah kekasihku..”

Hyunmi mengerjap, menatap mata Hyukjae dalam-dalam mencoba menyelami isi hati namja itu. Saat dia tak menemukan satu kebohongan pun di dalamnya, Hyunmi menggelengkan kepala tak percaya, merasa dia berhalusinasi. “Leluconmu tida lucu, Oppa!”

Hyukjae berdecak, menarik leher Hyunmi kembali hingga wajah mereka semakin dekat. “Apa aku perlu membuktikannya?” tantang namja itu. Dan sebelum Hyunmi sempat bereaksi, Hyukjae sudah terlebih dahulu menyatukan bibir mereka.

***

Dokter Louis memeriksa berkas-berkas di tangannya dengan teliti, ekspresi tak percaya sesekali mampir di wajahnya saat memeriksa laporan itu di beberapa bagian.

Setelah selesai, Dokter Louis menyimpan berkas tersebut di atas meja dan menanggalkan kacamatanya, dia lalu memandang namja dan yeoja yang sedang duduk tegang di hadapannya.

Dokter Louis mengulas senyum, “Kondisi Mr. Sungmin sangat baik, dia benar-benar sehat begitu sadar dari komanya. Mr. Saera dan Mr. Kyuhyun harus banyak bersyukur sebab Tuhan memberikan keajaiban yang begitu besar untuk Sungmin.” katanya menjelaskan dalam bahasa Inggris yang fasih.

Saera dan Kyuhyun serentak menghela napas, mereka saling berpandangan sejenak, tersenyum satu sama lain, lalu menatap pada Dokter Louis penuh terimakasih. “Terimakasih, ini semua juga tidak akan terjadi kalau bukan berkat Anda.” balas Saera dengan bahasa Inggris yang tak kalah fasih.

“Sungmin mempunyai tekad yang kuat untuk bangun, begitu pun Anda yang mempunyai kepercayaan besar. Saya hanya membantu sebisa saya.”

Saera tersenyum bahagia mendengar asumsi Dokter Louis. Sungmin memang namja yang pantang menyerah. Dia mungkin terlihat sangat manis dan lucu di luar, tapi tekad dan pendiriannya sangat kuat.

Sekali Sungmin menginginkan suatu hal, namja itu tak akan pernah menyerah untuk mendapatkannya. Termasuk kehidupan.

Dulu, 4 bulan pertama Saera sempat merasa sangat depresi dengan keadaan Sungmin yang tak kunjung membaik, dia sempat berpikir untuk menghentikan segala pengobatan Sungmin daripada harus menyiksa Sungmin lebih lama dengan segala macam peralatan medis.

Tapi Tuhan sepertinya tak mengizinkan Saera melakukan hal itu, beberapa jam sebelum Saera menemui Dokter untuk melepaskan peralatan medis Sungmin, yeoja itu tersadar bahwa Sungmin adalah keluarga dia satu-satunya. Saera bersyukur dia membatalkan niatnya dan memutuskan untuk tetap mempertahankan Sungmin.

Saera dan Kyuhyun bahkan sudah menceritakan segala hal kepada Sungmin. Sungmin awalnya terkejut mengetahui Saera ternyata menguasai sihir, tapi tak berapa lama, namja itu malah terlihat excited dan meminta Saera untuk mengajaknya ke Negeri Kyuhyun.

Tersentak dari alam bawah sadarnya, Saera mengangguk. Setelah mereka berbicara sebentar mengenai Sungmin yang masih harus di sini sampai malam─untuk menjalani beberapa pemeriksaan demi memastikan bahwa tidak ada efek apapun dari komanya yang panjang, Saera dan Kyuhyun pamit dari hadapan Dokter Louis.

Oppa, gomawo..” tutur Saera tiba-tiba membuat Kyuhyun berhenti melangkah dan memutar tubuh menghadap Saera.

Alis namja itu terangkat, seolah bertanya apa lewat matanya.

Saera tersenyum, “Kalau bukan karenamu, Sungmin saat ini pasti masih tertidur.”

Melihat sinar mata Saera yang bercahaya, Kyuhyun tersenyum dalam hati. Bahagia menyusup begitu saja ke dalam hatinya.

Ani, itu juga berkatmu. Kalau hari itu kau tak ikut denganku, Sungmin juga pasti masih tertidur.” Kyuhyun membalas, tersenyum sangat tipis hingga nyaris tak terlihat. “Kau yang membuat Sungmin bangun, semua karena usahamu..” lanjut Kyuhyun, tangannya bergerak menyeka sudut mata Saera yang berair.

Saera memaksakan diri terkekeh meski pun air mata lagi-lagi mengintip di sudut matanya. Dia tidak sedih, Saera hanya terlalu bahagia.

“Kau dulu memaksa Oppa!” tukas Saera sambil tertawa kecil.

Kyuhyun menekuk wajah, “Jadi kau ikut denganku karena terpaksa?” tanyanya pura-pura kesal sambil memunggungi Saera.

Saera tersenyum melihat Kyuhyun merajuk, yeoja itu lalu melingkarkan tangannya di pinggang Kyuhyun, membuat Kyuhyun terenyak karena Saera tidak pernah memulai kontak fisik terlebih dahulu dengannya. “Tapi aku tidak menyesal pernah terpaksa, Oppa..” bisik Saera, menenggelamkan wajahnya di punggung Kyuhyun.

Kyuhyun memejamkan mata, menikmati desiran hangat yang merayap ke hatinya. Detik itu, Kyuhyun baru menyadari bahwa Saera ternyata sudah masuk sangat dalam ke hatinya. Yeoja itu telah menjadi bagian dari hidup Kyuhyun.

Saera bahkan membawa banyak perubahan di diri Kyuhyun, dia merasa lebih baik setelah bersama Saera.

“Aku juga tidak menyesal pernah memaksamu kalau begitu..” balas Kyuhyun. Melepaskan pelukan Saera di pinggangnya dan memutar tubuh kembali untuk menatap Saera.

Saera menatapnya lembut, ketulusan terlihat dari caranya menatap Kyuhyun. Kyuhyun balas menatap Saera dengan tatapan tak kalah lembut, sinar matanya terlihat meneduhkan. Mereka terhanyut dalam tatapan masing-masing, tatapan penuh kasih yang menyejukkan.

Angin musim dingin berembus pelan membuat rambut Saera terbang terbawa angin, seketika itu juga kontak mata di antara keduanya terputus. Saera dan Kyuhyun segera mengalihkan pandangan ke arah lain. Saera merasakan wajahnya memanas, dan ia yakin seratus persen kalau saat ini pipinya pasti semerah tomat.

Setelah hening beberapa saat, Kyuhyun akhirnya memberanikan diri menoleh ke arah Saera. Dia terkekeh kecil melihat rambut yeoja itu yang tak beraturan karena diterbangkan angin tadi, tangan Kyuhyun refleks terangkat ke atas kepala Saera. Dia menyelipkan sejumput rambut ke belakang telinga yeoja itu lantas merapikan rambut Saera dengan telaten.

Saera terkekeh, “Kau tahu? Aku merasa sangat beruntung karena bertemu denganmu..”

Kyuhyun tersenyum, setelah memastikan bahwa rambut Saera kembali tertata rapi, namja itu melingkarkan tangannya di pinggang Saera dan menarik yeoja itu mendekat.

“Begitu pun aku, terimakasih telah hadir di hidupku..” bisik Kyuhyun.

Saera mengangguk, lantas menyimpan kedua tangannya di pundak Kyuhyun saat Kyuhyun semakin gencar mengeliminasi jarak yang tersisa di antara mereka. Dia tersenyum dalam hati mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya dan buru-buru menutup mata.

Dua senti dari wajah Saera, Kyuhyun berhenti. Dia menatap wajah Saera dengan tatapan dalam, merekam setiap detail wajah yeoja itu di otaknya dan mengagumi bagaimana yeoja itu terlihat sempurna di matanya.

Puas, Kyuhyun tersenyum tipis dan melanjutkan apa yang sempat ditundanya. Kyuhyun ikut memejamkan mata, dan jantungnya berdebar lebih heboh saat bibir mereka akhirnya bertemu.

Saera tahu ini bukan ciuman pertama mereka, tapi jauh di dalam hati, dia tetap merasakan jantungnya yang menggila karena sensasi asing yang menggelitiknya. Beberapa detik hanya diam, Saera mulai membalas ciuman Kyuhyun.

“YA! HAN SAERA! PARK KYUHYUN! SAMPAI KAPAN KALIAN AKAN MENINGGALKANKU BERDUA DENGAN BOCAH KELINCI INI?! DIA SANGAT MENYEBALKAN! CEPAT KEMBALI!”

Keduanya spontan melepaskan kontak mendengar teriakan Yeonhee bergaung di kepala mereka. Mereka saling memandang, tak lama, mereka tertawa kecil teringat kejadian barusan.

“Kurasa Yeonhee Eonni mulai kehilangan kesabaran, ayo kembali Oppa.” ajak Saera disela-sela tawanya.

Kyuhyun mendengus menahan tawa, “Percaya atau tidak, aku merasa Yeonhee akan menyukai Sungmin cepat atau lambat.” balasnya membuat Saera tersenyum geli.

Kyuhyun lalu mengulurkan tangannya pada Saera yang disambut yeoja itu tanpa ragu, keduanya kembali berpandangan untuk sejenak. Terkikik tanpa alasan─seperti kebanyakan remaja sedang jatuh cinta─lantas berjalan bergandengan menuju kamar Sungmin dengan hati berbunga.

***

Hyerin menendang kerikil di sepanjang jalan setapak yang sedang dilaluinya tanpa gairah hidup, yeoja itu sesekali menghela napas seolah sedang memikirkan sesuatu.

Menolak Baekhyun dulu merupakan hal paling mustahil yang ada di dalam pikiran Hyerin. Namun sekarang, itu merupakan hal pertama yang terlintas di otaknya saat Baekhyun menyatakan perasaan padanya. Hyerin hanya tak ingin munafik, Baekhyun bukan lagi namja yang berkuasa di hatinya. Sudah ada namja lain yang merajai hati Hyerin─meski pun dia sendiri tak tahu apakah namja itu menyimpan perasaan yang sama atau tidak sama sekali.

Perasaannya pada Baekhyun telah musnah, dan satu-satunya namja yang ia inginkan untuk mengucapkan kalimat ‘ajaib’ itu adalah Donghae.

Tapi setelah direnungkan, Hyerin mulai berpikir bahwa keputusannya salah sebab Donghae bahkan sama sekali tak terlihat sejak namja itu mengantar Hyerin ke kampus. Dia juga tak bisa menghubungi Donghae lewat telepati karena Donghae menutup pikirannya.

Hyerin menyandarkan tubuhnya di pagar jembatan, tangannya meraba kalung kerang pemberian Donghae yang dia pakai kembali, Hyerin lantas mengurut pelipisnya yang serasa berdenyut memikirkan keputusannya beberapa jam yang lalu. “Aish, sebenarnya dimana Donghae Oppa sekarang?” keluhnya yang hanya ditanggapi oleh udara kosong, Hyerin mendengus. “Dia bahkan tak tahu aku mengorbankan namja impianku deminya. Aigo, eotteoke?”

Hyerin mendesah, lantas memutuskan untuk berhenti mendebat apa yang telah ia pilih tadi. Yeoja itu membalikkan badan menatap ke arah sungai di bawah jembatan yang terlihat sangat tenang.

Jika saja hidupnya setenang air yang mengalir di sungai itu, Hyerin pasti tak perlu pusing memikirkan dilema hati yang sedang melandanya seperti sekarang. Dia pasti tak perlu susah-susah memikirkan bagaimana cara menyingkirkan gundah di hatinya.

Onee-san..”

Hyerin terenyak dari dunia kecilnya mendengar panggilan itu. Dia membalikkan badan dan menemukan seorang yeoja Jepang yang masih kecil dan berpipi chubby sedang menatapnya polos, Hyerin menoleh ke arah kanan-kiri, memastikan kalau yeoja kecil itu memang memanggilnya.

Melihat dia memang satu-satunya orang di sana, Hyerin menekuk lutut untuk menyeimbangkan tingginya dengan yeoja kecil itu. “Ada apa, adik manis?” tanyanya menjawab dengan bahasa Jepang lembut sambil melempar senyum.

Yeoja kecil itu tersenyum lebar hingga giginya yang ompong terlihat lalu mengulurkan sebuah surat pada Hyerin. “Seorang Onii menyuruhku memberikan itu untuk Onee..” beritahunya.

Hyerin menerima surat beramplop biru laut itu dengan kening berlipat. “Siapa? Kau mengenal orang itu?”

Yeoja kecil tersebut menggeleng, “Onii bilang Onee-san harus membaca surat itu, dan kalau Onee-san sudah selesai membaca, berjalanlah ke taman Rikugien itu. Onee-san akan menemukan jawabannya di taman itu!” serunya, menunjuk ke arah depan lalu berlari meninggalkan Hyerin sambil terkikik.

Hyerin memandang heran ke arah taman yang ditunjuk oleh anak tadi lantas menatap dua kali lipat lebih heran pada surat di tangannya, sejurus kemudian, yeoja itu telah membuka amplop tersebut dan mengeluarkan lipatan kertas dari dalamnya. Hyerin membuka lipatan kertas tersebut dan mulai membaca.

Pernah bertemu seorang malaikat yang membuatmu berani memilih sesuatu yang berat?
Aku pernah, dan malaikat itu akan kugapai sebentar lagi..

Otak Hyerin berputar, mencoba mencerna kata-kata di dalam surat itu, namun selang beberapa detik dia menyerah dan memutuskan mengikuti perkataan yeoja kecil tadi karena penasaran.

Hyerin tersenyum kecil ketika matanya disambut oleh bunga-bunga sakura yang sedang bermekaran ketika dia masuk ke taman. Yeoja itu memejamkan mata saat angin berembus membelai wajahnya dan beberapa bunga sakura berguguran ke arahnya. Suasana seperti ini membangkitkan perasaan damai dan ketenangan yang membuat jiwa Hyerin menjadi tentram.

Hyerin membuka mata saat indera pendengarannya tanpa sengaja menangkap bunyi gitar yang harmonis. Mengikuti insting dan rasa penasaran, yeoja itu spontan berjalan ke arah datangnya suara. Kelopak sakura kembali jatuh berguguran mengikuti setiap langkah Hyerin.

Begitu sampai di sisi lain taman, Hyerin langsung tercekat begitu melihat pemandangan di depannya. Rumput-rumput bertabur kelopak bunga sakura membentuk gambar hati, dan ditengah-tengah gambar hati itu, Donghae sedang memangku gitar sambil menatapnya lembut dan.. bolehkah Hyerin berharap bahwa namja itu juga menatapnya dengan penuh cinta?

Donghae tersenyum sekilas lalu kembali memetik gitarnya dan mulai bernyanyi. Lagu My All Is In You terdengar, Hyerin terpana sampai ia sama sekali tak bisa mengalihkan pandangan ke arah lain selama Donghae bernyanyi.

Dia baru tersadar dari keterpanaannya saat Donghae selesai bernyanyi dan segerombolan merpati putih mengerubunginya, memasangkan tiara dengan butiran-butiran permata biru di atas kepalanya. Hyerin meraba ke atas kepala begitu merpati-merpati itu meninggalkannya, buncahan bahagia meluap-luap di hatinya hingga Hyerin takut buncahan itu akan meluap keluar.

Jantung Hyerin berdebar tak keruan saat Donghae tiba-tiba saja sudah ada di hadapannya, namja itu berlutut, menatapnya dengan tatapan penuh arti sebelum menyodorkan sebuket bunga tulip putih. Bibir Donghae tak pernah berhenti mengulas senyum. Senyum yang selama ini selalu terbayang di mata Hyerin saat ia akan terlelap, senyum yang selalu hadir di mimpinya, dan senyum yang sangat ingin dia miliki untuk dirinya sendiri.

“Aku tidak berbohong ketika mengatakan bahwa aku pernah bertemu seorang malaikat, karena malaikat itu sekarang berada di hadapanku. Dia sangat indah..” Donghae terkekeh di akhir kalimatnya sebelum melanjutkan, “Malaikat itu telah menarikku masuk ke dalam hidupnya. Membuatku jatuh dalam pesonanya, dan membuatku terjatuh dalam perasaan aneh yang orang sebut sebagai cinta.”

Hyerin tergugu, tak mampu berkomentar apapun, dia hanya mampu menunggu perkataan Donghae sambil menahan napas, matanya tak lepas dari wajah Donghae barang sedetik pun. Hyerin merasa seperti dihipnotis.

Jika Hyerin bisa meminta satu hal pada Tuhan, dia hanya ingin waktu berhenti berdetik untuk saat ini.

“Malaikat itu kau, Han Hyerin. Saranghamda, bersediakah kau menjadi milikku?”

Hyerin nyaris lupa untuk berkedip mendengar perkataan Donghae, dia merasa seperti bermimpi, mimpi yang indah. Hyerin bahkan rela tak bangun jika mimpinya seperti ini.

“A─aku..” Mulai Hyerin, belum sempat menyelesaikan perkataannya, hantaman keras langsung dia rasakan ketika teringat Yoona. Hyerin menunduk, merasakan godam raksasa menimpa hatinya, “Mianhae, kau memiliki Yoona, aku tidak ingin menghancurkan hubunganmu dengannya, Oppa.” tandasnya, menepis buket yang disodorkan Donghae.

Di luar dugaan Hyerin, jawabannya justru membuat Donghae tertawa kecil, “Kau tidak usah cemas, aku sudah berpisah dengannya.”

Mata Hyerin melebar tak percaya, “Mwo? Jangan bercanda denganku, Oppa! Ini tidak lucu!”

Donghae berdiri, namja itu menjepit hidung Hyerin gemas. “Apa aku terlihat bercanda? Aku berpisah dengannya karena aku mencintaimu..” jelasnya yang membuat Hyerin kembali menundukkan kepala─kali ini karena malu, “Jadi, apa jawaban malaikatku ini?” tanya Donghae, menyelipkan bunga di tangannya pada tangan Hyerin secara paksa.

Dan tanpa menunggu jawaban Hyerin, Donghae mengangkat dagu yeoja itu lalu mendekatkan wajahnya. Hyerin refleks memejamkan mata, aliran listrik langsung menyengatnya saat bibir Donghae menyentuh bibirnya.

Donghae tersenyum penuh kemenangan begitu merasakan bahwa Hyerin perlahan membalas ciumannya. Selang beberapa detik, Donghae melepaskan ciuman mereka, namja itu melingkarkan tangannya di pinggang Hyerin, membawa yeoja itu merapat lantas berbisik di telinganya. “Aku sudah menemukan jawabannya barusan, jeongmal saranghae..” Wajah Hyerin semakin memerah, dia memegang buket bunga dari Donghae dengan erat. “omong-omong, gomawo telah menolak Baekhyun..”

“Kau memataiku?” tanya Hyerin terkejut sambil menatap mata Donghae, melihat Donghae bersikap sok polos, Hyerin mendecak lalu membenamkan wajahnya di dada Donghae, tangannya mencengkeram kemeja Donghae erat, hatinya sangat senang. Beban jutaan ton yang selama ini bertumpuk serasa menguap entah kemana. “Dia menyukaiku karena sihirmu, Oppa..”

Donghae tertawa pelan, dia mengeratkan pelukannya pada Hyerin sambil mengelus rambut yeoja itu halus. “Kau tahu, aku sama sekali tak pernah memengaruhi Baekhyun dengan sihir─tentu saja aku tidak sudi memberikanmu padanya!─dia benar-benar murni menyukaimu..”

Memang apa peduli Hyerin jika Baekhyun benar-benar menyukainya? Toh, hatinya sudah milik Donghae seutuhnya, pikir Hyerin lalu tersenyum, dia memutuskan tak menjawab perkataan Donghae dan lebih merapatkan diri pada kekasihnya untuk merasakan kehangatan namja itu.

***

Jongwoon memandangi pantulan dirinya di cermin ruang tunggu pengantin pria dengan wajah datar. Setelah memastikan bahwa penampilannya sempurna untuk pernikahannya, namja itu membanting diri di sofa, menunggu dayang istana datang dan menyuruhnya untuk pergi ke altar.

Sambil menunggu, pertanyaan Taeyoung kemarin mengenai hubungan mereka terngiang-ngiang di pikiran Jongwoon saat dia memejamkan mata untuk menenangkan diri. Pedih menyusup dengan sendirinya ke hati Jongwoon. Namja itu tanpa sadar mengepalkan tangannya untuk menahan sakit yang terasa menikamnya tanpa ampun.

Deritan pintu yang dibuka terdengar, Jongwoon membuka mata sambil mengendurkan kepalan tangannya, dia memutar mata dan melihat dongsaengnya telah datang lengkap dengan pakaian rapi. Wajah mereka terlihat prihatin ketika menatap Jongwoon.

Hyung, ini belum terlambat..” kata Donghae, duduk di sebelah namja itu. “Aku, Hyuk, dan Kyu sudah mendapatkan kebahagiaan kami masing-masing. Kau juga harus Hyung,” Jongwoon mengalihkan pandangan dari Donghae, tak ingin terhasut.

“Aish, sebenarnya aku tidak terbiasa mengatakan ini, tapi Hyung, aku tidak ingin kau terluka nantinya, batalkan pernikahan ini sekarang.” timpal Kyuhyun, seumur hidup baru kali ini dia memanggil Jongwoon dengan sebutan ‘Hyung’.

Melihat Jongwoon kembali bergeming, yang lain menghela napas.

Hyukjae berjalan ke arah Jongwoon, menatap namja itu meskipun Jongwoon sama sekali tak membalas tatapannya lantas berujar, “Kami bukan memprovokasimu Hyung, kami hanya ingin kau bahagia, dan kami tahu kebahagiaanmu adalah Taeyoung. Kejar dia Hyung, jangan biarkan dia lari darimu..”

Perkataan Hyukjae ditanggapi oleh keheningan. Jongwoon hanya terpaku menatap tembok dengan pandangan kosong selama beberapa saat sebelum mengulur napas panjang dan memberanikan menatap mata dongsaengnya satu persatu.

“Ini pilihanku, mianhae..” kata Jongwoon nyaris berbisik.

Setelah mengatakan itu, Jongwoon berdiri dan keluar dari ruangan menuju altar begitu melihat beberapa dayang datang.

Jongwoon berjalan tanpa menoleh, sama sekali tak ingin melihat wajah kecewa para dongsaengnya. Matanya diam-diam berair, dan setetes air mata jatuh tanpa disadarinya begitu dia memasuki ruangan tempat pernikahannya berlangsung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar