Entri yang Diunggulkan

Series Recommendations! đŸŽ„

Hi, happy Wednesday all! So decided to post my own personal series. I usually dont like watching movie, so because i watched those series ...

Senin, 02 Mei 2011

Say good bye for memories

Sebenernya ini udah lama di buat, spesial hari ulangtahun Lintar yang ke 13.

Seorang anak lelaki yang tengah menatap keluar jendela tersenyum tipis ketika titik-titik air perlahan menetes membanjiri bumi, memberikan nuansa sejuk setelah tadi siang matahari begitu terik membakar bumi. Anak lelaki itu menempelkan wajahnya ke jendela restoran, berusaha melihat lebih jelas titik-titik air itu. Mencoba menekan rasa jengah yang sudah menggerogoti tubuhnya karena orang yang dia tunggu tak kunjung datang. Dia hanya memandang keluar dengan tatapan kagum, sangat mengagumi hujan. Hujan yang memberikan kehidupan kepada makhluk hidup di dunia, dan hujan yang selalu menghadirkan pelangi setelahnya.

Setelah merasa puas mengagumi hujan di luar, anak lelaki tersebut akhirnya menoleh menatap sang Mami lalu bertanya pelan “Mih, Papi mana sih? Kok lama banget?” ya, orang yang di tunggunya itu adalah sang papi tercinta.

“Hmmm, Mami gak tahu sayang. Mungkin sebentar lagi, Papih bilang jalanan macet. Sabar ya sayang” jawab maminya, sambil memberikan seulas senyuman.

“Sabar sih sabar, tapi Lintar bosen mih. Udah setengah jam kita disini. Awas aja kalau Papi gak dateng, Lintar omelin entar” keluhnya tiba-tiba, merasa kebosanannya sudah mencapai batas.

“Hush ah, gak boleh begitu. Papikan udah janji mau dateng”

Anak lelaki yang ternyata bernama Lintar itu cengengesan mendengar perkataan maminya “Hehe, bercanda mih. Lintar juga yakin papih bakal dateng. Tapi papih aneh deh, ulang tahun Lintarkan 3 hari yang lalu, eh ini malah dateng sekarang, itu aja harus Lintar paksa buat pulang.” Tatapan Lintar berubah, sedikit misterius dan nanar “Apa papi sebegitu sibuknya sampai gak bisa dateng di acara ulang tahun Lintar ya Mih?”

Mami Lintar sedikit tercekat mendengar penuturan anaknya itu, tapi dia kembali tersenyum “Ih, kamu ini. Papi kerjakan buat kamu sayang, udah ah bentar lagi papi juga pasti dateng” Beliau mengacak lembut puncak kepala Lintar dengan gemasnya.

“Iya mami, tapi gak usah pake acak-acak rambut deh. Lintarkan udah gede, 11 tahun mamih” sungut Lintar kesal sambil merapikan rambutnya, Mami hanya tersenyum menahan tawa melihat ekspresi lucu anaknya.

Setelah itu Lintar kembali mengalihkan pandangannya keluar jendela, menerawang jauh pada mobilnya yang terparkir rapi di sebrang jalan sana (lapangan parkir restoran ini memang cukup jauh, yaitu tepat di sebrang, bukan di pinggir atau belakang seperti restoran kebanyakan. Oleh karena itu orang-orang harus menyebrangi sebuah jalanan yang cukup ramai untuk sampai ke restoran). Hujan di luar masih belum berhenti, malah semakin deras. Senyuman terpeta di bibirnya, ah hujan itu. Kekagumannya pada hujan memang sangat dalam, tetapi dia membenci petir yang seringkali mengiringi hujan indah-nya. Dan benar saja, ketika petir terlihat mulai menyambar-nyambar di langit senyuman Lintar lenyap. Anak lelaki itu malah bergidik, petir yang di bencinya datang bersama dengan firasat dan perasaan buruk yang menyeruak memenuhi hatinya. Entah mengapa dia selalu merasa seperti itu kala petir datang, dia selalu merasa seperti akan ada suatu hal buruk yang terjadi. Tidak, Lintar tidak takut akan petir –tentu saja karena namanya sendiri adalah Halilintar-, dia hanya benar-benar membenci petir yang selalu menyampaikan firasat buruk dalam benaknya.

Lintar membuang nafasnya dengan kasar, kebenciannya akan petir membuat pikiran buruk itu semakin menyentak-nyentak di kepalanya. Apakah akan ada hal buruk yang terjadi? Entahlah, hal itu hanya Tuhan yang tahu. Dia kembali memandangi mobilnya dengan pandangan kosong -tak lagi memandang hujan karena petir sialan itu-. Lalu tiba-tiba saja mata bening Lintar berbinar melihat seorang lelaki paruh baya keluar dari sedan hitam yang baru saja sampai di parkiran, dia berdiri dari kursinya lalu berlari menuju pintu masuk lantas membukanya diikuti sang mami.

“Papi…” panggil Lintar tak sabaran pada lelaki yang tak lain adalah papinya, dia melambaikan tangan dengan ceria seolah mengisyaratkan sang papi untuk segera ketempatnya. Senyuman indah terpeta di bibirnya. Akhirnya, setelah lama menanti papinya itu datang juga.

Papi Lintar menoleh dan membalas lambaian Lintar dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanan memegang payung dan sebuah bingkisan (yang sepertinya hadiah), beliau tersenyum senang menatap anaknya itu lalu bergegas menyebrangi jalan tanpa menoleh kanan kiri. Benaknya hanya di penuhi oleh kerinduan terhadap anak yang sangat di sayanginya itu, bahkan Beliau tak perduli akan kendaraan yang sesekali masih melintasi jalan tersebut. Papi menyebrangi jalan dengan tergesa-gesa, tidak sadar bahwa dari arah selatan sebuah motor yang tampak kehilangan kendali sedang melaju kencang kearahnya.

‘TIN..TIN’ motor tersebut membunyikan klakson tapi tersamarkan oleh bunyi hujan yang kian deras sehingga tabrakanpun tak dapat dihindarkan. BRUKK badan Papi Lintar terpental ke depan, motor itupun oleng dan jatuh di pinggir jalan. Mata Lintar dan Mami terbelalak kaget melihat kejadian tersebut, mereka menerobos hujan hendak menghampiri Papi, tapi ternyata peristiwa naas yang menimpa Papi berlanjut. Sebuah mobil truk dengan cepat melaju kearah tubuh Pak Edi yang baru saja terpental hingga akhirnya mobil itupun kembali menghempaskan badan papi Lintar untuk kedua kalinya..

BRAKKK kali ini badan Pak Edi terpental sejauh delapan meter dari dekat truk, payung hitam yang dibawanya melayang jauh bersama dengan hadiah yang di genggamnya. Tubuhnya kini berlumuran darah merah dengan luka goresan di bagian kening dan kepala, luka itu terlihat menganga lebar, sangat menyeramkan dan ironis. Kemeja biru yang dipakainya kini berubah warna menjadi merah pekat, genangan air yang tadinya berwarna putih kusam kini bercampur darah yang terus mengalir dari tubuh beliau.

Dan waktu berhenti berdetik saat itu juga!

Kejadian yang berlangsung sangat cepat itu telah berhasil membuat jantung mereka –Lintar dan Maminya- serasa berhenti berdetak, sesak perlahan menggerogoti paru-paru mereka membuat mereka kesulitan bernafas. Diam, terpaku, shock, dan tak bergeming. Jiwa mereka seolah pergi dari raga untuk beberapa saat, melayang jauh menembus di mensi waktu hingga akhirnya Lintar menjerit, jiwanya sudah kembali dalam raganya. Dia segera menerobos hujan yang kian lebat untuk menghampiri papinya yang tergeletak tak berdaya. Mati ataukah hidup iapun tak tahu.

“Papi…..”

“Papi… bangun Pi, bangun” Lintar mengguncang-guncang tubuh papinya dengan berlinangan air mata, suaranya yang semula bernada ceria kini bernada lirih, sedikit serak. Dinginnya udara bahkan tak dihiraukannya. Hal buruk yang di bawa petir sialan-nya itu benar-benar terjadi.

“Mas, bangun mas. Mas bilang kangen sama Lintarkan mas? Ini Lintar mas, bangun” Mami ikut mengguncang tubuh Papi dan berkata lirih, air mata yang mengaliri pipinya beradu dengan tetesan hujan yang semakin deras mengguyur bumi, dia tidak menyangka peristiwa naas akan menimpa suaminya seperti ini, apalagi peristiwa itu terjadi bergitu cepat dan di depan matanya.

Sesaat, semua yang berada di sekitarnya hanya bisa memandang mereka pilu, prihatin mungkin. Orang-orang itu membiarkan anak dan Ibu tersebut meluapkan kesedihan mereka sampai akhirnya mereka segera menghampiri Bu Nilda dan Lintar. berusaha menenangkan.

Salah seorang dari mereka mendekati tubuh papi Lintar dan mendekatkan tangannya ke leher beliau, berusaha mencari tanda-tanda kehidupan ditubuhnya. Orang itu menggeleng-geleng sendu, memandang Lintar dan Maminya dengan ekspresi turut-berduka-cita

JDERR kilatan petir sialan itu kembali saling menyambar di langit yang kelam, makin cepat. Saling bersahutan di sertai dengan gemuruh yang terdengar riuh, angin yang berhembus dengan kencang mengiringi kilatan petir tersebut.

“Ibu dan adik yang sabar ya! Bapak ini telah berpulang ke sisi Tuhan”

“Enggakkkkkkkkkk….Papi gak mungkin mati, papi gak mungkin ninggalin Lintar. Papi gak mungkin"

“Dik, adik harus sa…”

“Nggakkkkkkk, Papi……bangun…..papi……”

KRING…KRING….

“Papi…..hah, hah” Lintar terperanjat dari tidurnya sambil berteriak sekeras-kerasnya. Matanya langsung membuka lebar setelah mimpi barusan, dia menatap sekeliling dengan nafas terengah-engah. Ya, semua masih sama, tak ada yang berubah. Lintar masih berada dalam kamarnya, kamar yang begitu luas, mewah dan berfasilitas lengkap. Jantungnya langsung serasa mencelos ketika sadar bahwa barusan dia hanya bermimpi.

KRING… Jam weker di meja kecilnya kembali berbunyi nyaring, kali ini Lintar segera membanting jam tersebut ke dinding dan menutupi wajahnya dengan tangan.

“Shit!! Kenapa gue mimpiin papi lagi sih?” desahnya pelan dan semakin menenggelamkan wajah. Lintar meringis kecil, dadanya selalu perih dan sesak setiap mengingat peristiwa naas itu, peristiwa yang telah merenggut papi yang sangat dia sayangi dari hidupnya dan entah kenapa, hal yang selalu dia mimpikan tentang papinya adalah detik-detik dimana papinya meninggalkan dirinya untuk selamanya.

Papi udah tenang, dan gue gak boleh terus-terusan nangisin beliau, batin Lintar lirih. Selang semenit kemudian Lintar kembali membaringkan kepalanya pada bantal lalu menatap langit-langit dengan pandangan hampa, tapi hanya sebentar karena Lintar segera beralih menatap jam yang baru saja dia lemparkan, jam itu kini hancur seperti hancurnya dia setiap memimpikan papinya. Tak bisa di pungkiri bahwa hatinya kini merindukan sosok sang papi. Dan sekemelut penyesalanpun perlahan-lahan menyusup ke dalam hati kecilnya. Andai saja saat itu Lintar tidak memaksa papinya untuk datang ke Restoran, pasti saat ini beliau masih bisa bersamanya, menemani setiap detik perjalanan hidupnya, dan andai saja waktu bisa di putar kembali, hal pertama yang akan ia lakukan adalah menyuruh papinya tetap di Aussie, lebih baik kehilangan sementara daripada selamanya bukan? Ah, itu hanyalah per-andai-an. Lintar sadar, hal itu adalah mustahil. Dia mencoba menerima dengan lapang dada pada takdir. Jika dia menyalahkan takdir bukankah itu artinya dia menyalahkan Tuhan? Hah, semua yang dihadapinya kini memang serba berat, sangat berat malah. Tapi tetap saja, Lintar merasa bahwa hidup yang dia jalani ini tidak adil. Hei, bukankah hidup memang tak adil? Jadi untuk apa Lintar bersedih, Lintar tersenyum miring sesaat lalu menyeka setetes air mata -yang entah sejak kapan- mengalir di pipinya. Sakit di dadanya semakin menjadi begitu ia hanyut dalam kenangan kelamnya itu, menyentak-nyentak tanpa ampun, tapi sebisa mungkin Lintar mencoba tegar. Bukankah sudah selama dua tahun ini dia tegar? Ataukah dia memang hanya berpura-pura tegar selama dua tahun ini?

Lelaki itu menarik nafas panjang, agak berat tampaknya “Huft, Gue kangen sama papi” keluhnya lalu menyingkap selimut dan duduk di tepi ranjang.

Sinar matahari pagi mulai menyusup masuk ke dalam kamarnya walaupun masih samar karena terhalangi oleh tirai berwarna kuning. Lintar sedikit menyipitkan matanya, baru sadar bahwa hari sudah mulai siang. Lantas, dia beranjak dari duduknya lalu menyibakkan tirai kuningnya, sesaat dia memandang keluar. Memandang hamparan taman hijau yang cukup luas di bawah, taman di depan halaman rumahnya memang cukup luas dan asri, penuh dengan rumput hijau dan pepohonan rindang yang juga hijau. Setelah cukup lama memandang keluar Lintar kembali berjalan ke ranjangnya lalu membuka laci di meja kecilnya, dia mengeluarkan ponselnya yang dari tadi malam dimatikan lalu membantingkan tubuhnya di ranjang dan menghidupkan ponsel itu.

Lintar memandangi LCD ponselnya tanpa ekspresi walaupun di sana tertera dengan jelas bahwa ada 25 missed call dan 19 new messages. 16 missed call dari maminya, 3 dari Ozy, 2 dari Rio, 2 dari Ray dan 2 lagi dari Alvin. Dia hanya memandangi nama-nama tersebut tanpa semangat sedikitpun, dan dia juga tak berniat untuk membalas panggilan tersebut. Tak penting, pikirnya. Lalu dengan malas dia beralih membuka satu pesan pertama yang di terimanya.

Happy Birthday ya, Tar. Moga lo panjang umur, sehat selalu, makin ganteng (tapi gantengan gue deh, :P), makin pinter (kalo yang ini tak ape, jadi guekan bisa nyontek tiap hari, hahaha), terus makin apa lagi ya? Apapun deh yang baik-baik buat lo. Traktirannya jangan lupa, hehe

Sender: Ozy (00:06, 19-03-2011)

Lintar tersenyum kecil membaca sms dari Ozy, sahabatnya yang satu itu memang tak pernah tahu waktu yang tepat untuk bercanda. Tapi tak apalah, berkat Ozy, dia ingat bahwa hari ini dirinya berulang tahun. Ekor matanya sempat melirik calendar di atas meja. Sabtu, 19-03-2011. Rupanya sekarang dia telah menginjak usia 13 tahun, usia untuk seorang remaja bukan? Pikirannya kembali menerawang jauh tapi cepat-cepat dia memfocuskan pikirannya pada ponsel kembali, masih ada 18 sms yang harus dia buka. Sms kedua yang dia buka berasal dari Rio, kakak kelasnya yang sudah seperti kakak kandungnya sendiri.

Lintar Tar Tar Tar, Ciee hari ini lo ultah ya? Wah, selamat aja deh dari gue. Gue do’ain supaya lo bisa dapetin yang lo mau! GBU ya…

Sender: Kak Rio (00:24, 19-03-2011)

Senyum di bibir Lintar memudar, hatinya seperti tertohok. Mendapatkan apa yang dia mau kedengarannya seperti impian semu. Satu-satunya yang dia mau saat ini adalah kehadiran papinya dan dia sadar bahwa itu mustahil maka hal lainnya yang dia mau adalah kehadiran maminya. Tunggu, tunggu, mengapa Lintar menginginkan kehadiran maminya? Jawabannya adalah karena sang mami kini tak lagi bersamanya, sejak papinya meninggal Mami sibuk bekerja mengurus perusahaan mereka menggantikan Papi. Seminggu setelah kematian Papi, Mami pergi ke Aussie untuk mengurus bisnis mereka disana. Awalnya beliau hanya berkata bahwa keadaan tersebut berlangsung untuk sementara, akan tetapi sampai saat inipun Mami Lintar ternyata tak pernah pulang lagi ke rumah. Beliau hanya menelepon setiap dua minggu sekali dan memberikan Lintar uang setiap bulannya.

Sejak saat itu pula Lintar hanya di beri materi, dan dia kehilangan kasih sayang. Bahkan, tahun lalu sang mami tak datang di ulangtahunnya, padahal Lintar sangat mengharapkan kehadiran maminya dan sudah sesumbar pada teman-temannya bahwa sang mami tercinta akan datang, tetapi kenyataannya ternyata tak seperti itu. Maminya tak datang, walaupun ia memohon-mohon malam sebelumnya. Lintar sedih, terluka, hatinya seperti di sayat sembilu, dia berjanji dalam hati untuk tak pernah lagi merayakan ulangtahunnya. Untuk apa merayakan ulangtahunnya, toh ia tetap kehilangan kasih sayang.

Lintar terhenyak, sadar bahwa ia sudah terlalu jauh terjebak dalam masa lalu.. Ia melirik angka di pojok kanan atas ponselnya yang menunjukkan pukul 06:55, jika dia berniat sekolah maka dia pasti akan terlambat. Tapi untuk hari ini Lintar memutuskan untuk libur dari sekolahnya, dia tak ingin mendengar teman-temannya mengucapkan selamat ulangtahun padanya, terlalu sakit baginya mendengar ucapan ‘Selamat ulangtahun’ atau sebangsanya.

Selang beberapa saat kemudian ia kembali focus pada ponselnya dan membuka sms-sms selanjutnya. 16 sms lainnya datang dari Alvin, Nova, Ray, Dea, Nyopon, Acha, Daud, Keke, Irsyad, Deva, Zevana, Rizky, Olivia, Obiet, Debo, dan Patton. Sms-sms tersebut berisi hal yang sama dengan sms dari Ozy dan Rio, yaitu mengucapkan selamat ulangtahun dan sederet harapan-harapan serta do’a-do’a untuk Lintar.

Lintar menghela nafas kecil lalu menatap lama nama pengirim sms terakhirnya, sebelum akhirnya dia membuka sms itu.

Selamat ulangtahun ya sayang. Coba kamu pergi ke bawah, mami punya kejutan buat kamu!

Sender: Mami (05:00, 19-03-2011)

Mata bening Lintar langsung berbinar ketika membaca 5 kata terakhir dari pesan maminya. Kesedidhannya langsung menguap seketika. Mungkinkah? Tanyanya pada dirinya sendiri lalu dengan semangat segera melesat turun ke bawah, berharap bahwa di bawah sana sang mami menyambutnya dengan sebuah pelukan hangat yang sudah lama tak dia dapatkan.

“Bi, mamih udah pulang ya Bi?” teriaknya dari atas lalu segera berlari kearah ruang tamu. Yang di panggilpun segera menghampiri Lintar, wanita paruh baya itu menatap Lintar lama sebelum akhirnya menyunggingkan senyum ganjilnya untuk Lintar.

“Maaf Den, nyonya belum pulang” wajah Lintar berubah murung, senyum yang dari tadi ia kulumpun lenyap begitu saja.

Bi Lastri menatap anak majikannya dengan tatapan penuh arti, mungkin wanita paruh baya itu merasa bersalah karena telah mengikis harapan Lintar.

Lelaki itu mengambil nafas panjang lalu menghembuskannya pelan-pelan. “Oh…”

“Tapi, tadi ada paket buat aden. Itu di meja” Bi Lastri menunjuk kearah meja ruang tamu. Dan benar saja, disana sudah tersimpan manis sebuah bingkisan besar. Dengan langkah malas Lintar mengambil bingkisan itu lantas berjalan ke kamarnya lagi. Mengurung diri seharian di dalam kamar mungkin cara yang terbaik untuk menghabiskan hari ulangtahunnya. Tapi sebenarnya ada satu acara lagi yang ingin dia lakukan di hari ulangtahunnya ini. mengunjungi sang papi.

Bi Lastri menarik nafas dalam sebelum bertanya, “Aden gak siap-siap sekolah?”

Lintar menghentikan langkahnya, lalu tanpa menoleh sedikitpun ia menjawab “Gak Bi, Lintar gak enak badan” jawabnya datar, lagipula ia tak sepenuhnya berbohong. Kepalanya sedikit berdenyut ketika dia bangun tadi.

“Kalau gitu bibi panggilin dokter ya Den?”

“Gak usah, Lintar cuma butuh istirahat aja kok”

“Sarapannya?”

“Nanti aja”

Bi Lastri hanya bisa memandang sedih punggung Lintar yang semakin menjauh. Ada rasa perih di hatinya ketika melihat wajah itu murung dan tak bersemangat. Lintar anak yang baik, akan tetapi nasibnya tak sebaik sifatnya. Di usianya yang masih belia dia harus kehilangan kasih sayang dari kedua orangtuanya. Dan Bi Lastri yang selama ini tinggal bersama Lintar hanya bisa berdo’a dalam hati supaya nasib anak lelaki yang sudah dia anggap sebagai anak kandungnya itu membaik.

+++

Sebuah I-phone dan sebuah laptop keluaran terbaru dari apple-lah isi dari paket berwarna coklat yang baru saja di terimanya. Paket pemberian dari orang yang dia harapkan hadir saat ini. Lintar memandangi dua buah benda mewahnya dengan ekspresi datar, ekspresi yang sangat berbeda dengan kebanyakan orang, biasanya mereka akan tersenyum dan berbunga-bunga ketika dua buah benda mewah itu menjadi milik mereka, tapi sepertinya itu tak berlaku untuk Lintar. Malah dia tak sedikitpun membutuhkan benda itu, yang dia butuhkan saat ini hanya satu. Kasih sayang.

Dia menggeser pelan dua benda itu dari ranjangnya, lalu menarik nafas dalam-dalam sambil menutup kedua matanya rapat. Sesak itu kembali menyeruak di dalam dadanya, semakin bertambah perih setiap detik. Dan denyutan di kepalanya kini semakin cepat, bergerak seirama dengan rasa sesak di dadanya yang kian membesar. Hanya heningnya suasana pagi hari yang menemani pikiran kosongnya.

30 menit dalam keheningan rupanya cukup membuat Lintar merasa jengah, dia sudah terlalu lama merenung (yang membuat dadanya semakin sesak dan kepalanya berdenyut makin kencang). Memikirkan hidupnya yang berantakan memang takkan pernah selesai sampai kapanpun. Lintar melirik jam dinding bulat di pojok kanan kamarnya yang kini sudah merangkak maju pada pukul setengah delapan lebih, matahari sudah mulai berarak ke atas dan ia tahu bahwa sekolahnya sudah masuk 25 menit yang lalu, tepat pukul 07:10

Eyes, Like a sunrise

Like a rainfall, Down my soul

And I wonder

I wonder why you look at me like that

What you're thinking, What's behind

Don't tell me, But it feels like love

I'm gonna take this moment

And make it last forever

I'm gonna give my heart away

And pray we'll stay together

Cause you're the one good reason

You're the only girl that I need

Cause you're more beautiful than I have ever seen

I'm gonna take this night

And make it Evergreen

Potongan lagu evergreen dari westlife yang baru saja Lintar putar membuat ruangan yang sebelumnya seperti tak bernyawa karena hening kini seakan hidup kembali, alunan musik itu mengalun dengan lembut. Lintar tersenyum tipis, sepertinya ia menikmati apa yang baru saja dia putar. Bibirnya perlahan mulai mengalun mengikuti lirik lagu itu. setidaknya masih ada yang bisa dia nikmati dari hidupnya. Lintar memutuskan membutakan matanya dari keadaan yang ada, bahwa hidupnya memang menyedihkan, bahkan mungkin lebih menyedihkan daripada orang-orang miskin yang hidup di kolong jembatan.

+++

Seorang lelaki remaja yang berusia sekitar 13 tahun sedang berdiri di depan sebuah pusara. Pusara yang sekitarnya di beri keramik itu tampak begitu tua tapi terawat, tak ada satupun rumput liar yang tumbuh di sekitarnya. Sangat bersih, mungkin karena selalu di rawat oleh petugas di TPU tersebut. Lelaki itu membawa sebuah keranjang yang didalamnya terdapat kelopak bunga mawar merah dan kelopak bunga mawar putih, sedetik kemudian dia berjongkok di depan pusara, menatap pilu pusara di depannya.

Lintar –lelaki itu- mengelus nisan yang bertuliskan Edi Morgen itu dengan lembut, ada kerinduan yang tersirat dari sorot matanya. Rindu, rindu yang dalam akan kehadiran sang papi di hidupnya, rindu saat-saat sang papi masih menemani hidupnya, rindu keceriaan dan tawa yang selalu sang papi berikan untuknya. Ya, Lintar rindu semua itu. dia sangat merindukan kehangatan dari papinya.

Sesaat kemudian lelaki itu telah menarik ujung-ujung bibirnya keatas membentuk sebuah senyuman tipis, lebih tepatnya getir. Semua yang dia pikirkan tadi hanya masa lalu yang tak bisa di ulang lagi, dan masa depannya kini adalah menerima dengan lapang dada bahwa sejak 2 tahun yang lalu dia telah hidup sendiri, tanpa kasih sayang. Jadi, untuk apa lagi Lintar perduli dengan semua itu? Bukankah ia sudah memutuskan untuk membutakan matanya dari keadaan yang ada?

Masih dengan senyum getirnya, Lintar mulai menaburkan kelopak bunga itu di atas pusara papinya. Menepati janjinya dalam hati untuk datang mengunjungi papinya “Papi yang tenang di sana, Lintar sayang papi” lirih Lintar, matanya mulai berkaca-kaca. Bahkan ia tak sanggup menahan butiran bening itu lebih lama lagi di dalam kelopak matanya dan membiarkan air mata menjatuhi pipinya yang mulus, ada rasa sesak yang lagi-lagi menyusup kedalam hatinya kala itu, sesak dan perih yang begitu mendalam tertoreh di hatinya.

Dan lelaki itu hanya terdiam, menerawang jauh –mengingat semua kenangan indahnya dahulu- sambil tetap membelai nisan papinya. Angin sore mulai berhembus kencang, langit yang semula berwarna jingga kini perlahan-lahan pudar dan di gantikan dengan hitam, menandakan bahwa hari mulai beranjak malam. Entah datang dari mana tapi perlahan rintik-rintik air mulai berjatuhan dari langit, semakin lama semakin deras membuat lelaki itu terkesiap dari lamunan panjangnya. Dia memandang ke sekeliling dengan alis terangkat, baru menyadari bahwa hari beranjak malam, dan dia sendiri, di pemakaman. Lintar bergidik, bulu kuduknya sedikit meremang melihat situasi dan kondisi di pemakaman itu. Dengan terburu-buru Lintar berdiri dan mengusap air matanya yang bercampur hujan, untuk terakhir kalinya dia kembali memandang pusara papinya lalu tersenyum simpul.

“Pi..Udah malem nih, Lintar pulang dulu ya! Tapi Lintar janji kapan-kapan Lintar main lagi kesini” ujarnya, seolah berbicara kepada papinya lalu bergegas meninggalkan pemakaman di iringi hujan yang dahulu begitu ia kagumi, tapi sekarang? Lintar tak lagi menyukai hujan, karena nyatanya petir datang karena ada hujan. Hujan dan petir sialan itu beriringan, membuat dia enggan untuk lama-lama membiarkan tubuhnya di basahi air alam itu.

+++

Lintar menggigil pelan sambil turun dari taksi yang mengantarnya pulang, tadi ia memang naik taksi karena Pak Eman –supir yang sebelumnya mengantarkan dia ke TPU- mendadak ada urusan dan tak bisa menjemputnya. Jam tangan manis yang melingkar di lengannya menunjukkan angka 7, malam. Sebenarnya jarak dari rumahnya ke TPU tak begitu jauh, hanya saja Jakarta yang memang selalu macet membuat waktunya habis begitu saja di jalanan.

Dinginnya udara semakin menggerogoti tubuh Lintar, giginya saling bergemeretuk. Hujan pun makin deras, membuat Lintar harus basah kuyup sebelum masuk ke dalam rumahnya. Dia harus cepat-cepat menghindari hujan. Dengan berlari-lari kecil, lelaki itu membuka gerbang rumahnya yang menjulang tinggi. Suara decitan gerbang yang bergeser terdengar samar di telinga Lintar akibat beradu dengan kerasnya bunyi hujan.

Lelaki itu membuka pintu rumahnya lalu mulai masuk ke dalam sambil memeluk tubuhnya yang kedinginan, pupil matanya langsung mengecil ketika sadar bahwa rumahnya gelap gulita. Lintar meraba-raba dinding sambil memanggil-manggil Bi Lastri –yang menurut Lintar- lupa menyalakan lampu.

“Bi, Bibi dimana? Kok rumah gelap gini sih?” teriak Lintar yang tak mendapat sahutan seperti biasanya, Lintar mendengus lalu mulai mencari-cari saklar lampu yang biasanya ada di dekat pojok ruangan.

Sebuah senyuman terpeta di bibirnya ketika saklar lampu yang di carinya teraba. Klik, lampu menyala seketika. Pupil mata Lintar kembali membesar, sedikit terkejut karena matanya belum bisa berkontraksi dengan baik, dia mengerjap-ngerjapkan matanya perlahan sebelum akhirnya semua terlihat jelas dan lelaki remaja itu begitu terperangah melihat apa yang ada di depannya. Sebuah pemandangan yang tak biasa, yang selama dua tahun ini hilang darinya.

“HAPPY BIRTHDAY TO YOU, HAPPY BIRTHDAY TO YOU. HAPPY BIRTHDAY, HAPPY BIRTHDAY, HAPPY BIRTHDAY LINTAR”

Dinginnya udara malam terasa menguap begitu saja saat orang-orang itu menyanyikan sebuah lagu untuknya, bermimpikah ia? Lintar merasakan sebuah kehangatan luar biasa yang baru saja menyusup tepat kehatinya. Hatinya melonjak kegirangan. Bahagia, terharu, dan terkejut bercampur menjadi satu. Ah, mereka. Lintar membatin, tak mampu berucap sedikitpun. Dia membisu, hanya menatap kerumunan orang itu dengan pandangan takjub. Tapi sesaat kemudian, matanya yang bening kembali berbinar, cerah. Sebuah kejutan lagi hadir di hidupnya. Wanita itu….

“Mami..” panggil Lintar pelan, sedikit tertahan.

A miracle, kata itulah yang pertama kali melintas di otaknya ketika tubuh hangat penuh kasih sayang mendekap tubuhnya erat. Hati Lintar bergemuruh, penuh kebahagian. Tangannya balas memeluk tubuh maminya, sangat erat, mengisyaratkan kerinduan yang tak terbatas, tak ingin kehilangan.. Kerinduan itu kini meletup-letup di dadanya, membuat dia serasa ingin meledak karena kebahagiaan itu.

“Selamat ulang tahun sayang” kata Mami lembut, lalu mengecup pipi anak tercintanya itu. Mami tersenyum manis, menatap lembut anaknya yang masih terpaku lalu mulai merangkul pundak Lintar, membuat pandangan Lintar kini tertuju pada teman-teman sekelasnya dan beberapa kakak kelasnya yang ia kenal, serta Pak Eman dan Bi Lastri. Mereka semua tersenyum menatap Lintar. Hati Lintar terenyuh melihat kerumunan orang di depannya, tak menyangka bahwa ternyata masih banyak orang yang menyayangi dirinya, di dunia ini. Dunia yang semula ia pikir sangat tak adil baginya.

Rio dan Ozy yang memegang sebuah kue ulangtahun besar dengan lilin berbentuk angka 13 di tengahnya menghampiri Lintar yang masih terpaku di tempatnya di ikuti teman-teman yang lainnya. Mereka memamerkan senyuman manis yang mereka kulum sejak tadi, terlihat bahagia. Kejutan ini memang sengaja di rencanakan untuk Lintar, dari semua orang yang menyayangi Lintar dan merasa kasihan karena lelaki baik hati itu selalu terlihat kesepian. Walaupun dia mempunyai teman, tapi sorot kehampaan di matanya mengisyaratkan dengan jelas bahwa lelaki itu memang kesepian, di rumah. Dan dengan persetujuan semuanya, Rio selaku pelopor acara merancang semua kejutan ini dnegan yang lainnya dan suatu kebetulan juga karena saat mereka tiba di rumah Lintar Maminya sudah pulang dan setuju untuk membuat kejutan bersama mereka.

“Di tiup dong sayang lilinnya” suara lembut Mami membuat lelaki itu terkesiap dari keterkagumannya, dia menatap maminya lekat-lekat sebelum akhirnya kembali menatap teman-temannya yang begitu baik itu.

“Iya, di tiup dong Tar. Capek tahu gue megangin dari tadi” Ozy menyahut, terdengar sedikit mengeluh karena sahabatnya itu masih saja terdiam. Anak-anak langsung tertawa mendengar keluhan Ozy, mami Lintar juga menahan tawa melihat tingkah polos Ozy.

“Ish, lo malu-maluin banget sih Zy. Di ketawain tante Nilda tuh” Ray –yang berada di sebelah Ozy- menyikut lengan Ozy keras lalu melempar cengiran pada Mami Lintar yang masih menahan tawanya. Ozy memelototi Ray, yang di balas Ray dengan pelototan juga.

“Childish deh, udah jangan berantem gitu. Tar lilinnya di tiup dong, keburu habis tuh” Rio melerai, sekaligus mengingatkan Lintar untuk segera meniup lilin yang tinggal setengah itu.

Lintar benar-benar merasa bahagia, tubuhnya yang semula berat kini terasa ringan. Bongkahan-bongkahan batu yang dulu menghimpit hatinya kini serasa terangkat semuanya, menciptakan ruang kosong yang terasa begitu hangat. Lintar menarik ujung-ujung bibirnya menjadi sebuah senyuman manis sebelum berkata “Makasih semua” kata Lintar pelan, lalu menghela nafas dalam “Untuk semua kejutan yang indah ini. Makasih karena kalian udah mau capek-capek bikin kejutan kayak gini buat gue, gue gak nyangka ternyata banyak orang yang perduli sama gue, dan menganggap gue sebagai teman. Thanks a lot friends!” Lintar memandang sekelilingnya, tetap mempertahankan senyumannya.

“Dan buat mami..” matanya bralih memandang sang mamih, dengan binar yang sama “Makasih udah mau relain waktu Mami yang berharga buat dateng di hari ulang tahun Lintar. Walaupun sehari, Lintar bener-bener seneng mamih di sini”

Mami Lintar mengerutkan keningnya mendengar penuturan sang anak, lalu wanita cantik itu tersenyum sambil mengusap lembut puncak kepala Lintar. “Sama-sama sayang, lagipula kamu lebih berharga di banding waktu mamih” Mami menghela nafas “Maaf ya nak, karena selama dua tahun ini mami gak ada di samping kamu. Tapi mami janji, mulai sekarang dan selamanya, mami akan terus ada di samping kamu”

Senyum Lintar melebar, matanya membulat dengan ekspresi lucu mendengar penuturan maminya “Beneran Mi?” dan ketika maminya mengangguk, anak lelaki itu langsung menghambur ke pelukan maminya, meluapkan kegembiraan yang tiada terkira. Kebahagiaan itu, kebahagiaan yang akhirnya datang juga kepadanya. Kebahagiaan yang akan mengakhiri rasa sesak yang dua tahun ini sudah di tanggungnya, kenangan perih itu akan lenyap, seperti angin, lenyap dan tak berjejak. Hari-hari menyedihkannya akan berganti dengan hari penuh kebahagiaan dan kehangatan.

“Ehemmm..” deheman kecil dari Alvin membuat anak dan Ibu yang sedang di landa kebahagiaan itu segera sadar bahwa di ruangan yang cukup luas tersebut masih ada orang-orang lain yang menyaksikan haru biru tersebut dengan ekspresi terharu.

“hehehe, Sorry ya. Nostalgia gue” seru Lintar malu sambil menggaruk –garuk kepalanya yang tidak gatal, anak-anak kembali tertawa renyah. Baru kali ini Lintar memperlihatkan ekspresi malu-malu seperti itu.

“Hahaha, udah ah. Buruan tiup lilinnya Tar, udah lumer tuh” Ujar Deva, menunjuk lilin yang tinggal ¼ di kue ulangtahun Lintar.

“Make a wish dulu” Nova menyahut, sambil tersenyum.

Lintar hanya mengangguk, lalu mendekatkan wajahnya di depan kue ulangtahunnya. Dia memejamkan matanya lalu mulai berdo’a dalam hati.

Makasih Ya Allah, karena berkat Engkau aku bisa meraih apa yang aku inginkan di ulantahunku yang ke 13 ini. Makasih buat semua kebahagiaan yang sudah Engkau berikan padaku. Dan buat papi di alam sana, do’ain kebahagiaan Lintar ini berlanjut ya Pi! Do’a Lintar dalam hati lalu dia membuka matanya dan meniup lilin tersebut diiringi tepuk tangan dan sorak sorai dari teman-temannya.

Tak akan ada hidup berat dan penuh kepura-puraan lagi yang harus di jalaninya. Banyak orang di sana, di hidupnya. Banyak orang yang akan dengan senang hati menemani setiap jejak hidupnya. Dan yang paling utama, ada sang Mami di sampingnya. Orang yang dulu begitu dia rindukan dan dambakan kehadirannya itu akan kembali pada hidupannya.

Tak akan ada keperihan dan kepiluan lagi di hatinya, rasa itu langsung terkikis begitu dia sadar bahwa dia tak sendiri. Dia punya orang-orang yang menyayanginya, yang akan menorehkan warna-warna kebahagiaan dalam hidupnya. Yang akan menciptakan tawa dan senyuman baginya.

Dan pada akhirnya, semua kenangan buruk itu menguap kelangit. Menjadi sebuah hal yang tak penting dan berarti. Meninggalkan semua yang buruk tanpa sisa, meninggalkan kenangan kelam dengan cepat, dan memulai kenangan bahagia yang baru akan dimulai! Lelaki itu kini harus menghadapi hidupnya dengan penuh kebahagiaan karena semua yang dia inginkan telah lengkap. Lintar harus menatap masa depannya dengan penuh semangat setelah kejutan di hari ulangtahunnya yang tak terduga. Karena sejak saat itu tak ada lagi hidup berat, kepura-puraan, keperihan ataupun kepiluan di hidupnya! Bahkan semua hal yang selalu membayang-bayangi pikiran dan memberatkan hatinya dulu pun kini tinggal kenangan! Say goodbye for memories!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar