Entri yang Diunggulkan

Series Recommendations! 🎥

Hi, happy Wednesday all! So decided to post my own personal series. I usually dont like watching movie, so because i watched those series ...

Selasa, 21 Agustus 2012

That’s All About Us (series five: Lee Sungmin)

That’s All About Us (series five: Lee Sungmin) 



Fiveteen Years




“Jangan lupa makan Hee-ya. Annyeong..”

Klik. Sungmin memutuskan sambungan telepon kemudian mengembuskan napas berat dari hidungnya. Namja itu membantingkan tubuhnya ke kasur sambil memandangi wallpaper ponselnya yang bergambarkan seorang yeoja sedang tersenyum lebar dengan memegang gulali besar. Senyum miris terukir di bibir Sungmin melihat yeoja itu, yeoja yang amat dikasihinya. Yeoja yang ditunggunya selama 15 tahun belakangan.

Song Yeonhee, sahabat kecilnya sekaligus kekasih Choi Siwon, dongsaengnya di Super Junior.

Sungmin memejamkan mata perlahan ketika teringat fakta itu, dia mengulur napas mencoba mengurangi sesak yang selalu berlomba-lomba mengisi hatinya saat pikirannya penuh dengan Yeonhee. Penantiannya selama 15 tahun entah mengapa selalu berakhir sia-sia. Saat Yeonhee putus dengan kekasihnya, Sungmin selalu kalah oleh namja lain dalam mengungkapkan perasaannya pada Yeonhee. Bahkan saat 3 bulan yang lalu pun, dia harus kalah oleh Siwon padahal Yeonhee lebih dulu bercerita padanya bahwa dia sudah berpisah dengan namjachingunya. Tragis memang. Sungmin selalu jadi orang pertama yang diberitahu Yeonhee segala hal, tetapi dia selalu kalah cepat oleh namja lain ketika masalah kejujuran hati.

Dan sekarang, Sungmin harus kembali memendam perasaannya pada Yeonhee sebab yeoja itu sudah dimiliki oleh Siwon. Selalu begitu, entah sampai kapan Sungmin sanggup menahan sakitnya.

“Masih memikirkan Yeonhee, hyung?”

Sungmin membuka matanya saat suara Kyuhyun yang disusul deritan pintu terdengar. “Hm, bagaimana menurutmu?” balas Sungmin sambil duduk di kasur dan mengantongi ponselnya. Kyuhyun adalah satu-satunya orang yang tahu bahwa Sungmin menyukai Yeonhee. Itu juga suatu kebetulan karena Sungmin sangat lihai menyembunyikan perasaannya.

Kyuhyun menyambar PSP di nakas sebelum menyahut dengan santai, “Menurutku hyung harus mengatakannya pada Yeonhee. Secepatnya.”

Sungmin mengembuskan napas panjang mendengar jawaban santai Kyuhyun, namja itu memandangi Kyuhyun yang tengah asyik dengan PSPnya sejenak sebelum mengambil gitar dan memetiknya asal. “Kalau segampang itu, aku sudah mengatakannya sejak dulu.”

“Masih takut Yeonhee membencimu dan kau dianggap ingin merusak hubungannya dengan Siwon hyung?” sergah Kyuhyun tak acuh dengan mata yang tak lepas dari layar hitam PSPnya.

Gitar Sungmin mulai membentuk melodi indah saat tangan namja itu memetiknya dengan benar. “Nde, itu selalu jadi alasan utama kenapa aku diam.”

Kyuhyun mempause gamenya lalu menatap Sungmin sejenak. “Cepat atau lambat, Yeonhee pasti tahu perasaanmu hyung. Tinggal tunggu waktu bicara saja.” ujar Kyuhyun sebelum keluar dari kamar meninggalkan Sungmin yang tercenung di kasurnya.

***

Song Yeonhee melirik ke arah jalan di depannya sambil sesekali mendengus kesal. Sudah 30 menit berlalu, tapi Siwon yang berjanji akan menjemputnya belum juga terlihat. Ini memang sudah seringkali terjadi, 3 bulan menjalin hubungan dengan Siwon membuat Yeonhee mengerti betul bahwa Siwon tak pernah tepat waktu saat ada janji dengannya.

Yeonhee mendengus sekali lagi sebelum matanya tanpa sengaja melihat Taeyoung di dekat gerbang, tanpa pikir panjang, Yeonhee melambaikan tangannya menyuruh Taeyoung mendekat.

“Kau belum pulang?” tanya Taeyoung begitu sampai di hadapan Yeonhee.

Yeonhee memutar bola matanya sekali sebelum menjawab, “Nde, Siwon oppa sepertinya lupa kalau dia harus menjemputku.”

Taeyoung tertawa sembari menepuk pundak Yeonhee pelan, “Yak! Sudah kubilang kau itu tidak cocok dengan Siwon oppa, dia selalu menjadikanmu nomor kesekian.”

Yeonhee mendelik tajam, “Memangnya Yesung oppa tidak begitu?”

Tawa Tae Young memudar digantikan senyuman lebar. “Ne. Tentu saja tidak, justru aku yang selalu di tunggu Yesung oppa.” serunya riang. Sejurus kemudian, senyum Taeyoung hilang melihat wajah Yeonhee yang semakin masam, yeoja itu mendesah samar. “Sebenarnya aku lebih setuju kau dengan Sungmin oppa, kalian terlihat cocok.”

Mata Yeonhee membulat selama beberapa detik, terkejut dengan ucapan Taeyoung yang sangat frontal. Yeoja itu diam, sama sekali tak memiliki keinginan untuk membalas ucapan Tae Young. Hati kecil Yeonhee membenarkan, seandainya memang Sungmin yang menjadi namjachingunya, dia pasti tak akan─akh! Yeonhee segera menampar pipinya pelan begitu pikirannya melantur kemana-mana. Yeoja itu menggelengkan kepala berulang kali untuk menepis gagasan tak masuk akal itu. Dia dan Sungmin? Hah, yang benar saja. Sungmin sepertinya hanya menganggap Yeonhee sebagai adik, tak lebih.

Tin.. Tin..

Yeonhee tersentak dari lamunannya tentang Sungmin, yeoja itu memutar bola matanya ke arah Taeyoung lantas tersenyum sambil balas melambaikan tangan saat Taeyoung pamit karena Yesung sudah datang. Yeonhee menurunkan tangannya saat mobil Yesung sudah jauh dari titik fokus matanya, air wajah yeoja itu langsung berubah murung. Jujur, dia iri dengan Taeyoung, Saera, Hyerin, bahkan Hana. Mereka selalu terlihat bahagia dengan pasangan masing-masing, dijemput tepat waktu, kencan di malam minggu, dan merayakan hari penting bersama-sama. Pasti menyenangkan, pikir Yeonhee.

Yeonhee mengeluarkan suara “puuh” pelan dari mulutnya sebelum merogoh ponsel untuk menghubungi Siwon. Yeonhee mendial nomor Siwon begitu menemukan nama Siwon di phonebooknya.

Yeoboseyo oppa..” sapa Yeonhee begitu sambungan telepon terhubung, “oppa dimana? Jadi menjemputku, kan?” tanya Yeonhee pelan, mulut Yeonhee sontak terkatup rapat saat mendengar jawaban Siwon. “Shooting iklan? Kenapa tidak memberitahuku dari awal, oppa? Kau senang membuatku menunggu hampir satu jam?” repet Yeonhee dengan nada kesal yang tak bisa disembunyikannya. “Keundae jika itu maumu, annyeong oppa.” kata Yeonhee kemudian sambil memutuskan sambungan telepon karena kesal. Yeonhee segera melesakkan ponselnya ke dalam tas sambil mengomel panjang-pendek tentang nomor keberapakah ia di kehidupan Siwon.

Dengan langkah yang dihentak-hentakkan karena kesal, Yeonhee berjalan menuju halte bis tak jauh dari tempatnya berdiri.

Suara klakson mobil yang seolah-olah ditujukan kepadanya membuat langkah Yeonhee terhenti, yeoja itu menengok ke belakang dan menemukan mobil Sungmin di sana. Senyum perlahan terkembang di bibirnya, yeoja itu cepat-cepat menghampiri mobil Sungmin dan masuk ke dalam.

Annyeong oppa!” sapa Yeonhee bersemangat sambil menunjukkan senyum cerianya.

Sungmin terkekeh melihat tingkah Yeonhee sebelum tangannya mengacak rambut yeoja itu dengan gemas. “Annyeong Hee-ya!”

Oppa!” rengek Yeonhee tak terima, Sungmin memeletkan lidahnya membuat Yeonhee langsung merengut. “Omong-omong, kenapa oppa bisa ada di sini?” tanya Yeonhee beberapa saat kemudian, dia memutuskan untuk menghentikan aksi merengutnya sebab Sungmin tampak tak terpengaruh sama sekali.

Oppa baru saja pulang dari musikal, kebetulan lewat jalan sini dan melihat seorang yeoja yang sedang mengomel di pinggir jalan.” jawab Sungmin sambil tertawa dalam hati mendengar perkataannya tadi. Kebetulan? Tidak ada yang namanya kebetulan dalam kamus Sungmin, faktanya, jalan dari tempat musikalnya itu berlawanan arah dengan jalan ke kampus Yeonhee. Sungmin tentu saja sengaja melewati jalan ini meskipun harus berputar jauh karena ingin menjemput Yeonhee.

“Meledekku, eo?” cibir Yeonhee dengan bibir mengerucut.

Sungmin terkikik, “Geurae. Ada apa denganmu sampai mengomel seperti itu Hee-ya?”

Mendengar pertanyaan Sungmin membuat Yeonhee mengembuskan napas dengan ekspresi nelangsa yang dramatis, “Siwon oppa mengingkari janjinya lagi, dia bilang mau menjemput tapi malah membatalkannya tanpa memberitahuku. Namja itu menyebalkan!” keluh Yeonhee.

Sungmin menahan dirinya sendiri untuk tidak memperlihatkan ekspresi terluka meskipun perkataan Yeonhee barusan tak ubahnya anak panah yang langsung menancap di jantungnya.

“Hei, jangan memasang wajah seperti itu. Kau terlihat jelek!” seru Sungmin seraya mencubit hidung Yeonhee sekilas, “bagaimana kalau oppa meneraktirmu es krim asal kau tersenyum?”

Jinja?” sahut Yeonhee antusias, wajahnya langsung berbinar ceria mendengar kata es krim dari mulut Sungmin. Melihat Sungmin mengangguk, Yeonhee segera memasang senyum lebar di wajahnya. “Arrachi, ayo ke kedai es krim oppa!”

Sungmin tak tahu sampai kapan ia bisa bertahan dengan semua kepalsuan yang dibangunnya selama ini, tapi melihat Yeonhee bisa tersenyum karenanya sudah cukup membuat Sungmin senang.

***

Semua member Suju sedang berkumpul di dorm lantai sebelas malam ini. Mereka semua tengah merayakan kesuksesan mv ‘spy’ yang berhasil memperoleh triple crown di Youtube dalam waktu kurang dari dua jam. Berbagai macam snack dan minuman kaleng bertebaran di meja, semuanya larut dalam kebahagiaan.

Sungmin sedang meminum colanya sambil menertawai lelucon yang dibuat Shindong saat bell dorm tiba-tiba saja berbunyi. Tanpa diperintah siapa pun, namja itu bergegas pergi ke depan untuk membukakan pintu. Sungmin mengernyit─walau pun dia tak bisa mengelak ada kebahagiaan yang menyusup ke hatinya─saat melihat lewat interkom bahwa Yeonhee-lah sang pelaku pemencet bell.

Annyeong Hee-ya,” sapa Sungmin ramah begitu dia membuka pintu.

Annyeong oppa, Siwon oppa ada?” balas Yeonhee tanpa basa-basi, kesabarannya sudah di ambang batas untuk namja bernama Choi Siwon.

Air wajah Sungmin sedikit berubah mendengar pertanyaan Yeonhee, tapi namja itu segera menyunggingkan senyuman dan mengangguk sekali. “Ye, dia ada di dalam. Masuk saja, Hee, Siwon pasti senang melihatmu.”

Yeonhee melemparkan senyum tipis pada Sungmin, ada ketenangan tersendiri yang menyelip ke hatinya saat melihat wajah Sungmin. Selalu seperti itu, Sungmin punya aura ketenangan untuknya. “Gomawo ne, oppa. Aku masuk.”

Yeonhee melangkah masuk diiringi tatapan nanar Sungmin. Yeoja itu berjalan ke ruang tamu dan melihat Siwon sedang tertawa-tawa bersama member Suju lainnya. Amarah Yeonhee langsung terkumpul di ubun-ubun.

“Siwon oppa, melupakan sesuatu?” tanya Yeonhee dengan suara rendah penuh penekanan.

Gema tawa itu terhenti seketika begitu mendengar suara Yeonhee. Semua member Suju memutar bola mata ke arah Yeonhee dan menelan ludah berjamaah melihat ekspresi siap menerkam yang yeoja itu tunjukkan.

Siwon tersenyum gugup merasakan aura gelap dari Yeonhee, padahal ia tak tahu apa yang sudah ia perbuat hingga yeoja itu bisa berekspresi seperti itu. Siwon perlahan berdiri untuk menghampiri Yeonhee, dia mengulurkan tangannya untuk menggenggam tangan Yeonhee. Mata Siwon langsung membulat sempurna saat Yeonhee menepis tangannya dengan kasar.

Chagi, wae?” tanya Siwon hati-hati yang dibalas tatapan tajam Yeonhee.

“Kaulupa janjimu oppa! Kau tahu aku menunggu tiga jam di sungai Han dan kau sama sekali tak datang, hah?” seru Yeonhee dengan emosi yang meluap-luap.

Member Suju menutup mulut mereka rapat-rapat sementara Siwon langsung meringis. Dia melongok kota memorinya dan memang menemukan janji bertemu di sungai Han tiga jam lalu─yang benar-benar tak diingatnya. Siwon berusaha menggapai tangan Yeonhee walau selalu gagal.

Chagi, mianhae, oppa tadi benar-benar─”

“Sampai kapan oppa mau membuatku menunggu terus?” sela Yeonhee cepat dengan nada lirih dan ekspresi sendu. Siwon baru saja akan mengajukan pembelaan saat Yeonhee kembali berbicara, “sampai kapan oppa terus menjadikanku nomor kesekian? Sampai kapan oppa membatalkan janji tanpa pemberitahuan tiba-tiba? Sampai kapan oppa? JAWAB AKU!” Yeonhee berteriak di akhir kalimatnya sambil mundur menjauhi Siwon. Dipandanginya Siwon dengan tatapan sedih.

Chagi, aku.. aku.. jebal, kita bicarakan baik-baik. Jangan dengan emosi seperti ini.” sahut Siwon berusaha membuat Yeonhee tenang.

Yeonhee menggelengkan kepalanya kuat-kuat, air mata pelan-pelan mengucur deras dari kedua bola matanya yang cokelat. “Aku lelah oppa, aku lelah selalu kau abaikan. Kau tahu rasanya?” Yeonhee menghentikan kalimatnya sejenak, dadanya naik turun menahan amarah juga kecewa yang bergumul di hatinya. “RASANYA SAKIT! CUKUP CHOI SIWON, CUKUP!” teriak Yeonhee kemudian dengan kalap, dia segera berlari keluar dorm begitu selesai mengatakan hal itu. Meninggalkan Siwon dan member Suju lainnya yang menganga hebat menyaksikan adegan pertengkaran Siwon dan Yeonhee.

“Aku membiarkannya berpacaran denganmu bukan untuk kausakiti, Choi Siwon.” desisan lirih penuh emosi yang dilontarkan Sungmin berhasil membawa kesadaran semua penghuni dorm.

Saat Siwon baru saja akan membalas, Sungmin telah menghilang dari pandangannya untuk mengejar Yeonhee.

***

“Hee..”

Yeonhee  membelakangi Sungmin sambil menyembunyikan wajah penuh air matanya di balik tangan. Pertahanan Yeonhee menghadapi Siwon sudah sampai pada batasnya malam ini, Yeonhee terlalu sering menelan pahit yang disebabkan oleh Siwon, dan dia sudah benar-benar tak sanggup lagi menahannya.

Sungmin sendiri mati-matian menahan perih yang mengiris hatinya melihat Yeonhee menangis untuk Siwon. Sakit? Jelas. Terluka? Dari dulu hal itu tidak perlu dipertanyakan, bukan? Marah? Tentu saja, Sungmin merelakan Yeonhee untuk Siwon karena berpikir namja itu bisa membuat ‘Hee-nya’ bahagia.

Dengan langkah pelan sembari menahan sayatan belati tajam tak kasat mata di hatinya, Sungmin menghampiri Yeonhee dan membawa tubuh yeoja itu ke dalam dekapannya. Demi yeoja ini, Sungmin mengabaikan segala rasa yang saling berhimpitan di hatinya. Saat ini, asal Yeonhee bisa tenang, Sungmin rela menelan lebih banyak luka.

“Hee, sudahlah, jangan menangis lagi. Air matamu terlalu berharga untuk namja itu.” hibur Sungmin seraya mengusap-ngusap punggung Yeonhee yang bergetar hebat.

Yeonhee tak menjawab, yeoja itu membenamkan kepalanya makin dalam ke dada Sungmin. Isak tangisnya masih terdengar walau samar-samar. Yeoja itu terlalu lelah untuk sekadar mengucapkan sepatah-dua patah kata. Yang diinginkannya saat ini hanya ketenangan agar ia bisa berpikiran jernih─dan pelukan Sungmin pelan tapi pasti berhasil membawanya dalam sebuah ketenangan yang damai. Sudah Yeonhee bilang bahwa selalu ada ketenangan yang menyelip ke hatinya saat melihat Sungmin, bukan?

“Hee..” panggil Sungmin lagi lirih.

“Sstt, biarkan seperti ini oppa. Jangan bicara apa pun, kumohon..” balas Yeonhee lebih lirih. Isakannya sudah berhenti seiring berjalannya waktu. Yeoja itu memejamkan matanya merasakan kehangatan yang disalurkan tubuh Sungmin, dihirupnya dalam-dalam aroma maskulin bercampur parfum yang menguar dari tubuh Sungmin. Bibir Yeonhee perlahan-lahan tertarik ke atas begitu sadar selama 15 tahun, Sungmin tak pernah mengganti parfumnya, namja itu tetap memakai parfum yang dipilihkannya sewaktu ia berumur 7 tahun.

Sungmin makin mengeratkan pelukannya mendengar perkataan Yeonhee, dia menempelkan bibirnya di puncak kepala yeoja itu─sekadar menyalurkan kasih sayang yang selama ini terpendam jauh di lubuk hatinya.

“Yeonhee-ya..” Tubuh Yeonhee menegang mendengar suara Siwon tak jauh dari tempatnya duduk saat ini. Sungmin juga tampaknya menyadari keberadaan Siwon hingga namja itu perlahan mengurai pelukannya di badan Yeonhee─padahal Yeonhee berharap mereka bisa berpelukan lebih lama lagi.

Sungmin melemparkan tatapan tajam pada Siwon, “Mau apalagi kau ke sini?” tanyanya dengan nada menusuk.

Siwon menatap Sungmin sekilas sebelum dia menatap Yeonhee dengan tatapan memohon. Melihat tatapan memohon yang Siwon berikan membuat Yeonhee menghela napas panjang lalu mengusap tangan Sungmin halus. “Gwaenchana oppa, kami memang harus bicara.”

Rahang Sungmin mengeras, lukanya yang menganga bagai disiram air cuka mendengar perkataan Yeonhee. Sungmin memasukkan kepalan tangannya ke dalam saku jins, lalu tanpa memandang Yeonhee mau pun Siwon, Sungmin lantas berdiri dan meninggalkan keduanya.

Yeonhee menatap punggung Sungmin yang semakin menjauh sebelum memfokuskan pandangannya pada Siwon yang duduk di sebelahnya.

Mianhae Yeonhee-ya, oppa tahu mungkin selama ini oppa─”

Gwaenchana.” sela Yeonhee setelah memejamkan matanya beberapa saat, “mungkin aku memang tak bisa mengerti pekerjaan oppa. Aku hanya terlalu emosi tadi.”

Siwon memandang Yeonhee takjub, lantas tanpa terhitung detik, namja itu mencium bibir Yeonhee dengan sangat lembut tanpa mempedulikan sepasang mata yang memandang mereka tajam dengan tatapan penuh luka.

Ciuman mereka hanya berlangsung beberapa detik karena Yeonhee langsung mendorong pundak Siwon keras, yeoja itu menggigit bibirnya sambil bertanya-tanya dalam hati mengapa ia tak pernah merasa berdebar saat melakukan kontak fisik dengan Siwon.

***

Cklek!

Semua member Suju mengalihkan pandangan mereka dari tivi ke arah pintu masuk dorm, mereka berlomba-lomba menghampiri Sungmin untuk menanyakan bagaimana nasib hubungan Yeonhee dan Siwon selanjutnya. Seluruh member Suju harus menelan bulat-bulat rasa penasaran mereka sebab Sungmin tak menjawab satu pun pertanyaan yang mereka ajukan. Namja itu malah melengos ke kamarnya dan keluar dengan membawa kunci mobil serta jaket tebal.

“Sungmin-ah, kau mau kemana?” tanya Leeteuk mewakili yang lainnya.

“Mencari angin, mungkin sampai pagi. Tak usah mencariku, hyung.” jawab Sungmin.

Namja itu mengemudikan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata ditemani segala rasa sesak yang seolah tak pernah lelah untuk singgah di hatinya.

***

Yeonhee baru saja keluar dari kamar mandi saat ponselnya berdering, yeoja itu menyimpan handuk yang digunakan untuk mengeringkan rambutnya sebelum menolehkan kepala ke arah jam dinding di sudut kiri kamarnya. Yeonhee mendesah melihat waktu sudah menunjukkan pukul 1 dini hari. Dalam hati ia mengeluh tentang siapa orang yang dini hari seperti ini─dengan kurang kerjaan─meneleponnya. Yeonhee menelan kembali semua makian yang akan ia lontarkan pada si penelepon melihat nama ‘Sungmin oppa’lah yang tertera di layar ponselnya.

Yeoboseyo..” Mata Yeonhee melebar mendengar sederetan kalimat yang diucapkan oleh orang di seberang sana─bukan Sungmin. Setelah sambungan terputus, tanpa pikir panjang Yeonhee segera menyambar mantel juga kunci mobilnya dari atas lemari.

Mobil yang Yeonhee kendarai berhenti tepat di depan sebuah bar. Yeonhee turun dari mobil dengan rasa cemas yang mengisi penuh hatinya. Walau agak enggan, Yeonhee tetap melangkah memasuki bar itu untuk menjemput Sungmin. Yeoja itu mendengus tak suka saat matanya menangkap pemandangan yang biasa ada di bar; orang menari erotis dimana-mana, orang mabuk, bahkan sampai tindakan-tindakan tidak senonoh. Yeonhee mempercepat langkah menuju meja bartender yang meneleponnya tadi. Pekikan kecil keluar dari bibirnya melihat Sungmin yang sudah mabuk berat.

“Kau Song Yeonhee?” tanya bartender itu begitu melihat Yeonhee mencoba mengangkat Sungmin. Yeonhee mengangguk kecil, “Sungmin-ssi mabuk berat, dan dia selalu meracaukan namamu setiap saat. Bawalah dia pulang.” ujar bartender itu seraya menyodorkan ponsel Sungmin.

Setelah menggumamkan terimakasih, Yeonhee menyampirkan tangan Sungmin di pundaknya dan mulai berjalan dengan susah payah.

“Bukannya kau pemabuk handal oppa? Mengapa bisa sampai hilang kesadaran seperti ini? Berapa banyak yang kauminum?” omel Yeonhee selama membawa Sungmin menuju mobilnya─yang tentu saja tak ditanggapi oleh namja itu. Yeonhee membuka pintu mobil lantas mendudukkan Sungmin di sana. Yeoja itu mengambil ponselnya di dashboard mobil lantas menghubungi nomor Kyuhyun agar menjemput Sungmin. Setelah mengatakan alamatnya dimana dan Kyuhyun setuju, Yeonhee duduk di kursi kemudi untuk menunggu kedatangan Kyuhyun.

Yeonhee mengulur napas perlahan-lahan, tatapannya yang semula lurus ke depan sekarang terfokus di wajah Sungmin. Yeoja itu mengamati setiap lekuk wajah Sungmin beberapa saat sebelum mengambil sehelai tisu lalu mencondongkan tubuhnya ke arah Sungmin guna menyeka keringat di dahi namja itu dengan hati-hati.

Sungmin oppa memang tampan, batin Yeonhee yang tanpa sadar malah menatapi wajah Sungmin.

Yeonhee tersentak kaget saat tiba-tiba saja Sungmin membuka sedikit matanya. Yeoja itu baru saja akan memundurkan badan agar duduk di tempat semula saat tangan Sungmin menarik pinggangnya hingga hidung mereka bersentuhan. Yeonhee menatap mata sayu Sungmin yang juga menatapnya dengan debaran jantung yang tak keruan. Yeoja itu menahan napas saat wajah Sungmin makin mendekat, dia lantas memejamkan matanya erat-erat begitu jarak di antara mereka semakin lama semakin menipis.

“Hee, saranghaeyo..” bisik Sungmin sebelum dia benar-benar mengeliminasi jarak di antara keduanya hingga bibir mereka bersentuhan.

Bagai digodam palu raksasa, satu sentakan besar dirasakan Yeonhee saat mendengar pernyataan Sungmin. Yeonhee terkejut setengah mati, dia tak menyangka bahwa Sungmin selama ini bukan menyayanginya seperti seorang adik, tapi mencintainya. Perasaan sakral yang merupakan anugerah dari Tuhan.

Yeonhee buru-buru memundurkan badan saat tangan Sungmin yang melingkar di pinggangnya terlepas dan mata namja itu telah tertutup kembali. Sambil mengatur napasnya yang terengah-engah akibat ciuman tadi, Yeonhee memegang jantungnya yang masih berdebam-debum heboh dengan pikiran berkecamuk. Tangannya lalu merayap menyentuh bibir, pipi yeoja itu merona merah begitu membayangkan apa yang baru saja ia dan Sungmin lakukan. Dan rasanya... kenapa Yeonhee bisa merasa sesenang dan seberdebar ini hanya karena berciuman dengan Sungmin? Sekalipun namja itu dalam keadaan tidak sadar?

***

Yeonhee sedang termangu sembari memainkan sedotan cup strawberry juicenya saat Taeyoung tiba-tiba saja datang dan mengagetkannya. Yeoja itu mendelik sekilas pada Taeyoung sebelum mengusap dadanya karena kaget.

Taeyoung tertawa sebentar sebelum ikut duduk di samping Yeonhee, dia menyingkirkan tas Yeonhee ke bawah agar bisa duduk lebih leluasa tanpa mempedulikan mata Yeonhee yang seolah ingin menelannya bulat-bulat.

“Jangan memandangiku seperti itu, aku tidak mempan dengan pandanganmu itu Yeonhee-ya..” ledek Taeyoung kemudian kembali tertawa melihat ekspresi malas yang dikeluarkan Yeonhee.

Tsk!” decak Yeonhee sebal. “Kemana Saera? Tumben dia tidak ada.” cetus Yeonhee kemudian lalu mengalihkan pandangannya dari air mancur di depan sana pada Taeyoung yang sekarang sedang sibuk dengan ponselnya seraya tersenyum-senyum sendiri. Yeonhee mendengus dalam hati, pasti Yesung.

“Bocah itu ada kelas, Yeonhee-ya.” sahut Taeyoung saat dia sudah selesai dengan urusan ‘ponselnya’.

Yeonhee mengangguk sekali mendengar penjelasan Taeyoung, matanya kembali terpaku pada air mancur di depan sana. Bukan air mancur itu menarik, hanya saja Yeonhee tidak ingin terlalu terlihat melamun jika tidak memandang air mancur itu.

Sudah lima hari berlalu sejak insiden di dalam mobil itu, tapi hubungannya dengan Sungmin masih tetap canggung. Paginya, Sungmin memang menghubungi Yeonhee karena peristiwa semalam─namja itu tampaknya mengingat detail peristiwa semalam begitu sadar dari mabuknya─dan langsung meminta maaf sekaligus meminta Yeonhee tak terlalu memikirkan ucapannya karena Sungmin sadar diri Yeonhee sudah memiliki kekasih. Yeonhee memang memaafkan Sungmin karena nyatanya ia sama sekali tak marah atas ucapan dan perbuatan Sungmin malam itu, namun Sungmin sepertinya terlalu memikirkan hal tersebut hingga ia selalu bersikap canggung jika sudah berduaan dengan Yeonhee. Akibatnya mereka sekarang terlihat seperti dua orang yang baru saling mengenal.

Hubungan Yeonhee dan Siwon pun kembali berjalan normal walau akhir-akhir ini Yeonhee sudah tak terlalu peduli lagi dengan status mereka. Otak Yeonhee selalu sibuk berpikir tentang siapa sebenarnya orang yang dia cintai. Siwon? Ataukah Sungmin?

“Yak! Kau melamun!” kata Taeyoung setengah berteriak tepat di hadapan wajah Yeonhee.

Yeonhee memukul pundak Taeyoung pelan begitu dia terjaga dari lamunannya. “Yak! Jangan berteriak di depan wajahku, Young-ah!” seru yeoja itu kesal.

Taeyoung pura-pura memasang wajah kesakitan sembari mengelus pundaknya pelan-pelan. “Appo, kau kejam sekali.”

Yeonhee mengibaskan tangannya di depan wajah Taeyoung dengan wajah malas. “Sudah Young, aktingmu benar-benar buruk.” Sukses membuat Taeyoung merengut. Yeonhee menghela napas sekali, dia pasti akan mengejek wajah merengut Taeyoung kalau pikirannya tidak kalut saat ini. “Young, apa memang tidak pernah ada persahabatan murni antara namja dan yeoja?”

Taeyoung mengernyit mendengar pertanyaan dari Yeonhee, tapi tak urung yeoja itu tetap menjawab. “Pasti ada, hanya saja hal itu memang jarang terjadi. Persahabatan antara namja dan yeoja itu jarang ada yang murni, pasti salah satu dari kedua─ketiga atau seterus─nya akan ada yang jatuh cinta. Eum, tapi itu hanya pendapatku,” jawabnya panjang lebar, Taeyoung lalu menatap Yeonhee penuh selidik. “Kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu, Yeonhee-ya?”

Yeonhee menghindari tatapan Taeyoung sambil menelan ludah gugup, “An─aniyo! Aku hanya bertanya!” tandasnya cepat-cepat lalu berdiri. “Aku pergi dulu ya Young-ah, aku harus menemui seseorang.” pamit Yeonhee kemudian lalu membereskan tas dan bawaannya.

Taeyoung mengerutkan kening, “Seseorang? Tapi malam ini kau akan pergi ke festival kembang api, bukan?” tanyanya setengah berteriak karena Yeonhee sudah jauh.

Yeonhee membalikkan tubuhnya untuk melihat Taeyoung dan mengacungkan jempolnya sebagai jawaban. Taeyoung menggumamkan kata ‘aneh’ melihat sikap Yeonhee hari ini sebelum yeoja itu mengedikkan bahunya.

***

“Jadi... kenapa menemuiku, chagi?” Choi Siwon akhirnya membuka percakapan di antara ia dan Yeonhee setelah lama mereka berdua larut dalam keheningan. Sedikit heran memang karena Yeonhee tiba-tiba saja ada di dekat lokasi shootingnya dan meminta waktu bicara sebentar, Siwon bisa merasakan ada suatu perasaan aneh yang menyelimutinya saat pertama kali melihat Yeonhee ada di sini─firasat buruk.

Yeonhee terperanjat mendengar pertanyaan Siwon, setelah meyakinkan hatinya bahwa dia memang memilih keputusan yang benar, yeoja itu mengangkat kepala sampai maniknya bertubrukan dengan manik Siwon. Yeonhee menggigit bibir lantas menghela napas panjang. “Oppa, bisakah kita akhiri hubungan ini?”

Deg!

Siwon merasakan jutaan batu dijatuhkan kepadanya hingga ia merasa terhimpit dan tenggelam. Namja itu mengepalkan tangannya yang tersembunyi di bawah meja sembari mengulur napas dengan perlahan.

Waeyo? Kenapa tiba-tiba?” tanya Siwon lembut, Yeonhee bergeming membuat Siwon merasa tertampar saat satu pemikiran melintas di otaknya. “Karena Sungmin hyung?” tanya Siwon telak.

Yeonhee membulatkan matanya kaget. Namun yeoja itu memilih diam tak menanggapi pertanyaan Siwon.

Diamnya Yeonhee membuat Siwon tersenyum saru dan mengusap wajahnya sekali. “Gwaenchana, Yeonhee-ya. Dari awal berpacaran denganmu, aku memang sudah tahu kau sama sekali tak mencintaiku, hanya sebatas suka.” kata Siwon, “mungkin kau baru sadar sekarang, tapi sejak dulu kau hanya melihat Sungmin hyung Yeonhee-ya. Dan Sungmin hyung juga hanya melihatmu.”

Yeonhee tercengang mendengar perkataan Siwon. Bahkan orang lainpun sadar, apa ia begitu tak peka akan perasaannya sendiri? “Oppa, mian, aku tak bermak─”

Nde, gwaenchana. Kau berhak mendapatkan kebahagiaanmu, lagipula aku sudah tahu cepat atau lambat hal ini pasti terjadi.” tukas Siwon, namja itu menyunggingkan senyum lembut hingga lesung pipinya terlihat. “Kejarlah Sungmin hyung, ne? Jangan sampai kau menyesal.” Nasehat Siwon sebelum melenggang pergi setelah mengusap rambut Yeonhee sebelumnya.

Siwon memang sakit hati mengetahui bahwa usahanya membuat Yeonhee agar mencintainya harus berakhir tanpa hasil, tapi namja itu juga tak mau menahan Yeonhee lebih lama lagi. Dia tak ingin bersikap egois, apalagi sampai mengorban hati Yeonhee dan hati Sungmin sekaligus.

Di lain sisi, Yeonhee masih termangu dengan segala perkataan Siwon saat ponselnya tiba-tiba saja bergetar. Yeoja itu tersentak kecil lantas buru-buru merogoh saku jinsnya. Senyum terlukis dalam hitungan detik saat Yeonhee mengetahui siapa si pengirim pesan.

From: Sungmin oppa
Melihat festival kembang api bersamaku, ne? Jam 7 malam di taman biasa. Datanglah, oppa juga ingin membicarakan sesuatu.

Tanpa membalas pesan dari Sungmin, jemari Yeonhee menari menuliskan pesan baru untuk Taeyoung.

To: Taeyoung young
Young, aku pergi ke festival kembang api bersama Sungmin oppa. Kau tak usah menungguku, bersenang-senanglah bersama Yesung oppa. Arraseo?^^

***

Sungmin mengembuskan napas hingga menjadi uap sambil sesekali mengecek jam yang melingkar di tangannya. Masih jam 7 kurang 10 sebenarnya, tapi namja itu sangat gelisah kalau Yeonhee tak datang karena yeoja itu sama sekali tak membalas pesannya. Hubungannya dengan Yeonhee memang merenggang begitu saja ketika Sungmin tersadar dari mabuknya, Sungmin terlalu takut dan malu untuk bersikap biasa saja pada Yeonhee walaupun yeoja itu telah memaafkannya.

Tapi hari ini, Sungmin ingin memperbaiki hubungannya dengan yeoja itu. Kalau pun Yeonhee memang tidak bisa membalas perasaannya, paling tidak mereka tetap bisa bertahan sebagai sahabat.

Sahabat. Apa susahnya mengkamuflasekan kembali sebuah perasaan dalam ikatan persahabatan? Sungmin sudah bertahan selama 15 tahun dalam kepalsuan, apa susahnya bertahan lebih lama lagi sampai ia bisa benar-benar melihat orang lain?

Tapi apa mungkin? Hati kecil Sungmin berbisik sangsi, 15 tahun bukan waktu yang sebentar, dan selama itupula Sungmin tidak pernah bisa melihat orang lain walau dia sudah berulang kali mencoba. Sehancur apa pun hatinya karena Yeonhee, namja itu tetap tidak bisa memupus rasa yang terlanjur dalam di hatinya. Bodoh mungkin mengingat Sungmin adalah seorang figur idola, namun dia juga manusia biasa yang bisa menjadi sangat bodoh hanya karena satu hal. Cinta.

“Aku tidak telat, kan oppa?”

Sungmin terjaga dari pikiran kacaunya saat mendengar suara Yeonhee. Namja itu memutar kepala ke samping dan menemukan Yeonhee sedang tersenyum dalam balutan hanbok modern yang begitu indah melekat di tubuhnya. Sungmin tercekat, dia merasa suaranya tersangkut di tenggorokan sampai-sampai ia tidak bisa membalas perkataan Yeonhee tadi.

Cukup lama mengumpulkan keberanian, Sungmin akhirnya memberi senyum dan menggeser duduknya sedikit hingga Yeonhee bisa duduk. “Aniyo, kau tidak terlambat sama sekali Hee-ya.”

Yeonhee tersenyum sekali lagi untuk menutupi debaran jantungnya yang menggila. Yeoja itu duduk di sebelah Sungmin lantas menunduk mengamati jari-jari tangannya─yang sebenarnya sama sekali tak menarik.

Sungmin menelan ludah, sesekali melirik ke arah Yeonhee yang tengah menunduk. Namja itu mengutuk suasana yang tiba-tiba saja jadi canggung kembali. Bagaimana cara mencairkannya? Sebelum Yeonhee mengetahui perasaannya, mereka tak pernah kehabisan bahan obrolan sekali pun. Namun Sungmin tak bisa menyesali kejadian yang telah berlalu, saat itu takdir yang berbicara. Seperti kata Kyuhyun, cepat atau lambat Yeonhee pasti memang mengetahui perasaannya.

“Hee?” panggil Sungmin seraya mati-matian menekan kegugupannya hingga ke tingkat paling dasar.

Ne?” sahut Yeonhee lirih, yeoja itu makin gencar mengamati kuku-kuku jari agar jantungnya tak meledak saat itu juga.

Sungmin meloloskan embusan napas panjang. “Mianhae atas kejadian malam itu, Hee. Oppa tidak bermaksud merusak persahabatan kita yang sudah terjalin sejak kecil. Oppa hanya tidak bisa menahan perasaan oppa lebih lama lagi.”

Diam sebentar. Sungmin menengadahkan kepalanya ke atas langit berusaha menikmati indahnya taburan bintang di atas sana. Tangannya terkepal kuat dan otaknya tengah sibuk mengolah kata-kata agar ia tak salah berucap dan mengakibatkan hubungan keduanya lebih jauh lagi.

“Limabelas tahun, Hee..” gumam Sungmin kemudian yang selemah tiupan angin.

Walau pun diucapkan dengan sangat lemah, Yeonhee tetap dapat menangkap apa yang Sungmin ucapkan sebab yeoja itu ada di sebelahnya. Yeonhee perlahan mengangkat wajah lantas memutar kepala ke samping untuk menatap Sungmin. Waktu seakan berhenti berdetik saat Yeonhee melihat mata Sungmin yang menyiratkan banyak luka tengah menatapnya. Perasaan bersalah langsung berlomba-lomba memenuhi hati Yeonhee. Dia, tak pernah melihat Sungmin memperlihatkan ekspresi serapuh ini sebelumnya.

Melihat tatapan Yeonhee membuat keberanian Sungmin jadi berkali-kali lipat, namja itu tanpa ragu-ragu meraih tangan Yeonhee dan menyimpannya di dada, tepat dimana jantungnya sedang berdetak abnormal, hanya untuk yeoja itu.

“Kaudengar detakan jantung oppa?” tanya Sungmin, Yeonhee mengangguk. “Detak jantung seperti ini hanya untukmu Hee. Limabelas tahun oppa memendam perasaan ini sendiri, oppa tidak pernah punya keberanian untuk maju dan mengatakannya padamu, kalau saja malam itu oppa tidak mabuk, perasaan itu mungkin akan tetap terpendam untuk beberapa tahun ke depan.”

Yeonhee merasakan matanya memanas. Limabelas tahun? Selama itukah? “Waeyo oppa? Kenapa oppa lebih memilih menyiksa diri sendiri daripada mengatakannya padaku?”

Tangan Sungmin bergerak menyeka setetes air mata yang baru saja meluncur dari pelupuk mata Yeonhee, tatapan namja itu kian melembut seiring bergulirnya waktu. “Oppa hanya takut, oppa takut kau membenciku. Oppa takut kau tak bisa menerima perasaan oppa karena─”

“Sstt..” bisik Yeonhee sambil meletakkan tangannya di bibir Sungmin, menyuruh namja itu untuk tak berbicara lagi. “Ketakutanmu terlalu berlebihan oppa. Kau harusnya lebih memikirkan perasaanmu! Apa kau tidak sakit hati tiap melihat aku pacaran dengan namja lain?”

Sungmin tersenyum lemah, “Oppa bohong kalau oppa jawab ‘aniyo’ Hee-ya. Tapi selama ini, asal kau masih bisa tersenyum saat bersama oppa, itu sudah cukup meski pun hati oppa harus mati.”

Yeonhee membiarkan buliran air mata turun membasahi pipinya mendengar penuturan Sungmin. Dia menahan tangan Sungmin yang ingin kembali menyeka air matanya sembari menggeleng. Demi Tuhan, Yeonhee merasa sangat jahat membiarkan namja berhati malaikat seperti Sungmin menahan luka selama bertahun-tahun tanpa ia tahu sekali pun.

Menahan kepingan hatinya yang semakin tak berbentuk, Sungmin membawa Yeonhee ke dalam pelukannya dengan cepat. “Hee, uljima, jangan menangis. Kalau kau tak bisa membalas perasaan oppa tak apa, oppa tetap akan merasa senang meskipun kita hanya menjadi sahabat.”

“Lee Sungmin baboya!” sentak Yeonhee parau, dia mendorong bahu Sungmin hingga pelukan keduanya terlepas.

Terkejut, Sungmin menatap Yeonhee yang sedang mengusap air matanya dengan sedih. “Hee..”

“Kenapa kau tidak menyadarkanku dari dulu dan malah membiarkan aku menjadi orang jahat oppa?”

“Hee, apa maksudmu?”

Yeonhee menahan air mata yang mendesak keluar sekuat tenaganya. “Aku jahat membiarkanmu terus-terusan terluka oppa, mian aku baru sadar sekarang.”

Sungmin mendesah tak kentara mendengar perkataan Yeonhee, digenggamnya tangan Yeonhee dengan erat sambil menatap bola mata Yeonhee dalam-dalam. “Hee, ini bukan salahmu. Oppa sudah bilang tak masalah jika kau tidak bisa membalas perasaan oppa, kan?”

Yeonhee mengerutkan kening, “Oppa, kau tidak mengerti aku berbicara apa sedari tadi?” tanya yeoja itu heran membuat Sungmin ternganga. Tawa Yeonhee meledak begitu sadar bahwa sedari tadi Sungmin sama sekali tak mengerti kemana arah pembicaraan mereka, kesedihannya menguap digantikan rasa geli. Sungmin ini polos atau memang bodoh? “Yak! Kau benar-benar babo oppa!” seru Yeonhee kemudian dengan tawa yang masih berdengung.

Lipatan di kening Sungmin makin banyak, “Yak! Berhenti mengataiku babo, dan berhenti tertawa! Jelaskan sesuatu padaku!”

Setelah susah-payah menghentikan tawa, Yeonhee menangkup wajah Sungmin dan memandang namja itu serius. “Aku minta maaf karena aku baru sadar sekarang kalau aku juga mencintai oppa, arraseo?”

“HAH?!” teriak Sungmin spontan mendengar perkataan Yeonhee barusan. Matanya membulat dengan ekspresi tak percaya berlebihan, Yeonhee menahan tawanya lagi melihat wajah Sungmin. Sungmin mencubit tangannya untuk memastikan ia tidak bermimpi, namja itu meringis pelan merasakan perih dari hasil cubitannya.

Yeonhee berdiri dari duduknya begitu melihat kembang api yang mulai bermunculan di atas langit, Sungmin segera menahan tangannya. “Hee, bagaimana dengan Siwon?” tanyanya begitu terjaga dari keterkejutan.

“Siwon oppa yang menyadarkanku hal ini. Kami sudah berakhir.” jawab Yeonhee diiringi seulas senyum manis yang berhasil membuat Sungmin meleleh.

Sungmin tersenyum lebar. Sesak yang dulu selalu bergumul di hatinya menghilang dalam sekejap mendengar perkataan Yeonhee.

Oppa, ayo ke sana. Nanti kembang apinya terlanjur habis.” rengek Yeonhee melihat Sungmin masih setia dengan senyum lebarnya. Yeonhee mendengus kemudian melepaskan tangan Sungmin dan berjalan sendiri ke arah kerumunan tempat orang-orang melihat kembang api.

“Hee, kau yeojachinguku mulai sekarang?” teriak Sungmin begitu tersadar bahwa Yeonhee meninggalkannya. Namja itu bergegas menyusul Yeonhee cepat-cepat.

Mollayo oppa!” balas Yeonhee tak acuh meskipun bibirnya menyunggingkan senyum lebar.

Sungmin mendengus sambil mempercepat langkahnya. Dipeluknya Yeonhee dari belakang dengan senyum lebar di wajahnya. “Song Yeonhee, saranghae!”

Yeonhee memejamkan mata sambil menggenggam tangan Sungmin yang melingkar di pinggangnya, senyum bahagia tersungging di bibir yeoja itu sebelum dia menjawab pernyataan Sungmin dengan nada lembut. “Nado oppa.”

END

Sungmin oppa perasaan merana banget yaaa. Oppa daripada ga jelas sama Jisoo mending sama aku aja yuuuk *kedip-kedip* *digorok hyukjae*
kalo mau protes gara-gara sungminnya menderita banget, jgn lupa bawa kue lebaran sekalian *oke ini gaje* sorry kalo feelnya ga dapet, tokoh maksa, ending maksa, segala maksa. Mianhaeeee *Hae bikin galau mulu nih dari kemarin/ bias lo siapa sih -___-*
Finally, selamat menikmati cerita absurd ini yah! dan akhirnya gue berhasil bikin os yg akhirannya ga kissing muahaha *joget sfs*
komen di tunggu ne, maaf lagi gila ><

Tidak ada komentar:

Posting Komentar