That’s All About Us (series five: Lee Sungmin)
Fiveteen Years
“Jangan lupa makan Hee-ya. Annyeong..”
Klik. Sungmin memutuskan
sambungan telepon kemudian mengembuskan napas berat dari hidungnya. Namja
itu membantingkan tubuhnya ke kasur sambil memandangi wallpaper
ponselnya yang bergambarkan seorang yeoja sedang tersenyum lebar dengan
memegang gulali besar. Senyum miris terukir di bibir Sungmin melihat yeoja
itu, yeoja yang amat dikasihinya. Yeoja yang ditunggunya selama
15 tahun belakangan.
Song Yeonhee, sahabat kecilnya
sekaligus kekasih Choi Siwon, dongsaengnya di Super Junior.
Sungmin memejamkan mata perlahan
ketika teringat fakta itu, dia mengulur napas mencoba mengurangi sesak yang
selalu berlomba-lomba mengisi hatinya saat pikirannya penuh dengan Yeonhee.
Penantiannya selama 15 tahun entah mengapa selalu berakhir sia-sia. Saat Yeonhee
putus dengan kekasihnya, Sungmin selalu kalah oleh namja lain dalam
mengungkapkan perasaannya pada Yeonhee. Bahkan saat 3 bulan yang lalu pun, dia
harus kalah oleh Siwon padahal Yeonhee lebih dulu bercerita padanya bahwa dia
sudah berpisah dengan namjachingunya. Tragis memang. Sungmin selalu jadi
orang pertama yang diberitahu Yeonhee segala hal, tetapi dia selalu kalah cepat
oleh namja lain ketika masalah kejujuran hati.
Dan sekarang, Sungmin harus kembali
memendam perasaannya pada Yeonhee sebab yeoja itu sudah dimiliki oleh
Siwon. Selalu begitu, entah sampai kapan Sungmin sanggup menahan sakitnya.
“Masih memikirkan Yeonhee, hyung?”
Sungmin membuka matanya saat suara
Kyuhyun yang disusul deritan pintu terdengar. “Hm, bagaimana menurutmu?” balas
Sungmin sambil duduk di kasur dan mengantongi ponselnya. Kyuhyun adalah
satu-satunya orang yang tahu bahwa Sungmin menyukai Yeonhee. Itu juga suatu
kebetulan karena Sungmin sangat lihai menyembunyikan perasaannya.
Kyuhyun menyambar PSP di nakas
sebelum menyahut dengan santai, “Menurutku hyung harus mengatakannya
pada Yeonhee. Secepatnya.”
Sungmin mengembuskan napas panjang
mendengar jawaban santai Kyuhyun, namja itu memandangi Kyuhyun yang
tengah asyik dengan PSPnya sejenak sebelum mengambil gitar dan memetiknya asal.
“Kalau segampang itu, aku sudah mengatakannya sejak dulu.”
“Masih takut Yeonhee membencimu dan
kau dianggap ingin merusak hubungannya dengan Siwon hyung?” sergah
Kyuhyun tak acuh dengan mata yang tak lepas dari layar hitam PSPnya.
Gitar Sungmin mulai membentuk
melodi indah saat tangan namja itu memetiknya dengan benar. “Nde,
itu selalu jadi alasan utama kenapa aku diam.”
Kyuhyun mempause gamenya
lalu menatap Sungmin sejenak. “Cepat atau lambat, Yeonhee pasti tahu perasaanmu
hyung. Tinggal tunggu waktu bicara saja.” ujar Kyuhyun sebelum keluar
dari kamar meninggalkan Sungmin yang tercenung di kasurnya.
***
Song Yeonhee melirik ke arah jalan
di depannya sambil sesekali mendengus kesal. Sudah 30 menit berlalu, tapi Siwon
yang berjanji akan menjemputnya belum juga terlihat. Ini memang sudah
seringkali terjadi, 3 bulan menjalin hubungan dengan Siwon membuat Yeonhee
mengerti betul bahwa Siwon tak pernah tepat waktu saat ada janji dengannya.
Yeonhee mendengus sekali lagi
sebelum matanya tanpa sengaja melihat Taeyoung di dekat gerbang, tanpa pikir
panjang, Yeonhee melambaikan tangannya menyuruh Taeyoung mendekat.
“Kau belum pulang?” tanya Taeyoung
begitu sampai di hadapan Yeonhee.
Yeonhee memutar bola matanya sekali
sebelum menjawab, “Nde, Siwon oppa sepertinya lupa kalau dia
harus menjemputku.”
Taeyoung tertawa sembari menepuk
pundak Yeonhee pelan, “Yak! Sudah kubilang kau itu tidak cocok dengan Siwon oppa,
dia selalu menjadikanmu nomor kesekian.”
Yeonhee mendelik tajam, “Memangnya
Yesung oppa tidak begitu?”
Tawa Tae Young memudar digantikan
senyuman lebar. “Ne. Tentu saja tidak, justru aku yang selalu di tunggu
Yesung oppa.” serunya riang. Sejurus kemudian, senyum Taeyoung hilang
melihat wajah Yeonhee yang semakin masam, yeoja itu mendesah samar. “Sebenarnya
aku lebih setuju kau dengan Sungmin oppa, kalian terlihat cocok.”
Mata Yeonhee membulat selama
beberapa detik, terkejut dengan ucapan Taeyoung yang sangat frontal. Yeoja
itu diam, sama sekali tak memiliki keinginan untuk membalas ucapan Tae Young.
Hati kecil Yeonhee membenarkan, seandainya memang Sungmin yang menjadi namjachingunya,
dia pasti tak akan─akh! Yeonhee segera menampar pipinya pelan begitu
pikirannya melantur kemana-mana. Yeoja itu menggelengkan kepala berulang
kali untuk menepis gagasan tak masuk akal itu. Dia dan Sungmin? Hah, yang benar
saja. Sungmin sepertinya hanya menganggap Yeonhee sebagai adik, tak lebih.
Tin.. Tin..
Yeonhee tersentak dari lamunannya
tentang Sungmin, yeoja itu memutar bola matanya ke arah Taeyoung lantas
tersenyum sambil balas melambaikan tangan saat Taeyoung pamit karena Yesung
sudah datang. Yeonhee menurunkan tangannya saat mobil Yesung sudah jauh dari
titik fokus matanya, air wajah yeoja itu langsung berubah murung. Jujur,
dia iri dengan Taeyoung, Saera, Hyerin, bahkan Hana. Mereka selalu terlihat
bahagia dengan pasangan masing-masing, dijemput tepat waktu, kencan di malam
minggu, dan merayakan hari penting bersama-sama. Pasti menyenangkan,
pikir Yeonhee.
Yeonhee mengeluarkan suara “puuh”
pelan dari mulutnya sebelum merogoh ponsel untuk menghubungi Siwon. Yeonhee mendial
nomor Siwon begitu menemukan nama Siwon di phonebooknya.
“Yeoboseyo oppa..” sapa Yeonhee
begitu sambungan telepon terhubung, “oppa dimana? Jadi menjemputku, kan?”
tanya Yeonhee pelan, mulut Yeonhee sontak terkatup rapat saat mendengar jawaban
Siwon. “Shooting iklan? Kenapa tidak memberitahuku dari awal, oppa?
Kau senang membuatku menunggu hampir satu jam?” repet Yeonhee dengan nada kesal
yang tak bisa disembunyikannya. “Keundae jika itu maumu, annyeong
oppa.” kata Yeonhee kemudian sambil memutuskan sambungan telepon karena
kesal. Yeonhee segera melesakkan ponselnya ke dalam tas sambil mengomel
panjang-pendek tentang nomor keberapakah ia di kehidupan Siwon.
Dengan langkah yang
dihentak-hentakkan karena kesal, Yeonhee berjalan menuju halte bis tak jauh
dari tempatnya berdiri.
Suara klakson mobil yang
seolah-olah ditujukan kepadanya membuat langkah Yeonhee terhenti, yeoja
itu menengok ke belakang dan menemukan mobil Sungmin di sana. Senyum perlahan
terkembang di bibirnya, yeoja itu cepat-cepat menghampiri mobil Sungmin
dan masuk ke dalam.
“Annyeong oppa!” sapa Yeonhee
bersemangat sambil menunjukkan senyum cerianya.
Sungmin terkekeh melihat tingkah Yeonhee
sebelum tangannya mengacak rambut yeoja itu dengan gemas. “Annyeong
Hee-ya!”
“Oppa!” rengek Yeonhee tak
terima, Sungmin memeletkan lidahnya membuat Yeonhee langsung merengut. “Omong-omong,
kenapa oppa bisa ada di sini?” tanya Yeonhee beberapa saat kemudian, dia
memutuskan untuk menghentikan aksi merengutnya sebab Sungmin tampak tak
terpengaruh sama sekali.
“Oppa baru saja pulang dari
musikal, kebetulan lewat jalan sini dan melihat seorang yeoja yang
sedang mengomel di pinggir jalan.” jawab Sungmin sambil tertawa dalam hati
mendengar perkataannya tadi. Kebetulan? Tidak ada yang namanya kebetulan dalam
kamus Sungmin, faktanya, jalan dari tempat musikalnya itu berlawanan arah
dengan jalan ke kampus Yeonhee. Sungmin tentu saja sengaja melewati jalan ini
meskipun harus berputar jauh karena ingin menjemput Yeonhee.
“Meledekku, eo?” cibir Yeonhee
dengan bibir mengerucut.
Sungmin terkikik, “Geurae.
Ada apa denganmu sampai mengomel seperti itu Hee-ya?”
Mendengar pertanyaan Sungmin
membuat Yeonhee mengembuskan napas dengan ekspresi nelangsa yang dramatis, “Siwon
oppa mengingkari janjinya lagi, dia bilang mau menjemput tapi malah
membatalkannya tanpa memberitahuku. Namja itu menyebalkan!” keluh Yeonhee.
Sungmin menahan dirinya sendiri
untuk tidak memperlihatkan ekspresi terluka meskipun perkataan Yeonhee barusan
tak ubahnya anak panah yang langsung menancap di jantungnya.
“Hei, jangan memasang wajah seperti
itu. Kau terlihat jelek!” seru Sungmin seraya mencubit hidung Yeonhee sekilas, “bagaimana
kalau oppa meneraktirmu es krim asal kau tersenyum?”
“Jinja?” sahut Yeonhee
antusias, wajahnya langsung berbinar ceria mendengar kata es krim dari mulut
Sungmin. Melihat Sungmin mengangguk, Yeonhee segera memasang senyum lebar di
wajahnya. “Arrachi, ayo ke kedai es krim oppa!”
Sungmin tak tahu sampai kapan ia
bisa bertahan dengan semua kepalsuan yang dibangunnya selama ini, tapi melihat Yeonhee
bisa tersenyum karenanya sudah cukup membuat Sungmin senang.
***
Semua member Suju sedang
berkumpul di dorm lantai sebelas malam ini. Mereka semua tengah
merayakan kesuksesan mv ‘spy’ yang berhasil memperoleh triple crown di Youtube
dalam waktu kurang dari dua jam. Berbagai macam snack dan minuman kaleng
bertebaran di meja, semuanya larut dalam kebahagiaan.
Sungmin sedang meminum colanya
sambil menertawai lelucon yang dibuat Shindong saat bell dorm tiba-tiba
saja berbunyi. Tanpa diperintah siapa pun, namja itu bergegas pergi ke
depan untuk membukakan pintu. Sungmin mengernyit─walau pun dia tak bisa
mengelak ada kebahagiaan yang menyusup ke hatinya─saat melihat lewat interkom
bahwa Yeonhee-lah sang pelaku pemencet bell.
“Annyeong Hee-ya,”
sapa Sungmin ramah begitu dia membuka pintu.
“Annyeong oppa, Siwon oppa
ada?” balas Yeonhee tanpa basa-basi, kesabarannya sudah di ambang batas untuk namja
bernama Choi Siwon.
Air wajah Sungmin sedikit berubah
mendengar pertanyaan Yeonhee, tapi namja itu segera menyunggingkan
senyuman dan mengangguk sekali. “Ye, dia ada di dalam. Masuk saja, Hee,
Siwon pasti senang melihatmu.”
Yeonhee melemparkan senyum tipis
pada Sungmin, ada ketenangan tersendiri yang menyelip ke hatinya saat melihat
wajah Sungmin. Selalu seperti itu, Sungmin punya aura ketenangan untuknya. “Gomawo
ne, oppa. Aku masuk.”
Yeonhee melangkah masuk diiringi
tatapan nanar Sungmin. Yeoja itu berjalan ke ruang tamu dan melihat
Siwon sedang tertawa-tawa bersama member Suju lainnya. Amarah Yeonhee
langsung terkumpul di ubun-ubun.
“Siwon oppa, melupakan
sesuatu?” tanya Yeonhee dengan suara rendah penuh penekanan.
Gema tawa itu terhenti seketika
begitu mendengar suara Yeonhee. Semua member Suju memutar bola mata ke
arah Yeonhee dan menelan ludah berjamaah melihat ekspresi siap menerkam yang yeoja
itu tunjukkan.
Siwon tersenyum gugup merasakan
aura gelap dari Yeonhee, padahal ia tak tahu apa yang sudah ia perbuat hingga yeoja
itu bisa berekspresi seperti itu. Siwon perlahan berdiri untuk menghampiri Yeonhee,
dia mengulurkan tangannya untuk menggenggam tangan Yeonhee. Mata Siwon langsung
membulat sempurna saat Yeonhee menepis tangannya dengan kasar.
“Chagi, wae?” tanya Siwon
hati-hati yang dibalas tatapan tajam Yeonhee.
“Kaulupa janjimu oppa! Kau
tahu aku menunggu tiga jam di sungai Han dan kau sama sekali tak datang, hah?”
seru Yeonhee dengan emosi yang meluap-luap.
Member Suju menutup mulut
mereka rapat-rapat sementara Siwon langsung meringis. Dia melongok kota
memorinya dan memang menemukan janji bertemu di sungai Han tiga jam lalu─yang
benar-benar tak diingatnya. Siwon berusaha menggapai tangan Yeonhee walau
selalu gagal.
“Chagi, mianhae, oppa
tadi benar-benar─”
“Sampai kapan oppa mau
membuatku menunggu terus?” sela Yeonhee cepat dengan nada lirih dan ekspresi
sendu. Siwon baru saja akan mengajukan pembelaan saat Yeonhee kembali
berbicara, “sampai kapan oppa terus menjadikanku nomor kesekian? Sampai
kapan oppa membatalkan janji tanpa pemberitahuan tiba-tiba? Sampai kapan
oppa? JAWAB AKU!” Yeonhee berteriak di akhir kalimatnya sambil mundur
menjauhi Siwon. Dipandanginya Siwon dengan tatapan sedih.
“Chagi, aku.. aku.. jebal,
kita bicarakan baik-baik. Jangan dengan emosi seperti ini.” sahut Siwon
berusaha membuat Yeonhee tenang.
Yeonhee menggelengkan kepalanya
kuat-kuat, air mata pelan-pelan mengucur deras dari kedua bola matanya yang
cokelat. “Aku lelah oppa, aku lelah selalu kau abaikan. Kau tahu
rasanya?” Yeonhee menghentikan kalimatnya sejenak, dadanya naik turun menahan
amarah juga kecewa yang bergumul di hatinya. “RASANYA SAKIT! CUKUP CHOI SIWON,
CUKUP!” teriak Yeonhee kemudian dengan kalap, dia segera berlari keluar dorm
begitu selesai mengatakan hal itu. Meninggalkan Siwon dan member Suju
lainnya yang menganga hebat menyaksikan adegan pertengkaran Siwon dan Yeonhee.
“Aku membiarkannya berpacaran
denganmu bukan untuk kausakiti, Choi Siwon.” desisan lirih penuh emosi yang
dilontarkan Sungmin berhasil membawa kesadaran semua penghuni dorm.
Saat Siwon baru saja akan membalas,
Sungmin telah menghilang dari pandangannya untuk mengejar Yeonhee.
***
“Hee..”
Yeonhee membelakangi Sungmin sambil menyembunyikan
wajah penuh air matanya di balik tangan. Pertahanan Yeonhee menghadapi Siwon
sudah sampai pada batasnya malam ini, Yeonhee terlalu sering menelan pahit yang
disebabkan oleh Siwon, dan dia sudah benar-benar tak sanggup lagi menahannya.
Sungmin sendiri mati-matian menahan
perih yang mengiris hatinya melihat Yeonhee menangis untuk Siwon. Sakit? Jelas.
Terluka? Dari dulu hal itu tidak perlu dipertanyakan, bukan? Marah? Tentu saja,
Sungmin merelakan Yeonhee untuk Siwon karena berpikir namja itu bisa
membuat ‘Hee-nya’ bahagia.
Dengan langkah pelan sembari
menahan sayatan belati tajam tak kasat mata di hatinya, Sungmin menghampiri Yeonhee
dan membawa tubuh yeoja itu ke dalam dekapannya. Demi yeoja ini,
Sungmin mengabaikan segala rasa yang saling berhimpitan di hatinya. Saat ini,
asal Yeonhee bisa tenang, Sungmin rela menelan lebih banyak luka.
“Hee, sudahlah, jangan menangis
lagi. Air matamu terlalu berharga untuk namja itu.” hibur Sungmin seraya
mengusap-ngusap punggung Yeonhee yang bergetar hebat.
Yeonhee tak menjawab, yeoja
itu membenamkan kepalanya makin dalam ke dada Sungmin. Isak tangisnya masih
terdengar walau samar-samar. Yeoja itu terlalu lelah untuk sekadar
mengucapkan sepatah-dua patah kata. Yang diinginkannya saat ini hanya
ketenangan agar ia bisa berpikiran jernih─dan pelukan Sungmin pelan tapi pasti
berhasil membawanya dalam sebuah ketenangan yang damai. Sudah Yeonhee bilang
bahwa selalu ada ketenangan yang menyelip ke hatinya saat melihat Sungmin,
bukan?
“Hee..” panggil Sungmin lagi lirih.
“Sstt, biarkan seperti ini oppa.
Jangan bicara apa pun, kumohon..” balas Yeonhee lebih lirih. Isakannya sudah
berhenti seiring berjalannya waktu. Yeoja itu memejamkan matanya
merasakan kehangatan yang disalurkan tubuh Sungmin, dihirupnya dalam-dalam
aroma maskulin bercampur parfum yang menguar dari tubuh Sungmin. Bibir Yeonhee
perlahan-lahan tertarik ke atas begitu sadar selama 15 tahun, Sungmin tak
pernah mengganti parfumnya, namja itu tetap memakai parfum yang
dipilihkannya sewaktu ia berumur 7 tahun.
Sungmin makin mengeratkan
pelukannya mendengar perkataan Yeonhee, dia menempelkan bibirnya di puncak
kepala yeoja itu─sekadar menyalurkan kasih sayang yang selama ini
terpendam jauh di lubuk hatinya.
“Yeonhee-ya..” Tubuh Yeonhee
menegang mendengar suara Siwon tak jauh dari tempatnya duduk saat ini. Sungmin
juga tampaknya menyadari keberadaan Siwon hingga namja itu perlahan
mengurai pelukannya di badan Yeonhee─padahal Yeonhee berharap mereka bisa
berpelukan lebih lama lagi.
Sungmin melemparkan tatapan tajam
pada Siwon, “Mau apalagi kau ke sini?” tanyanya dengan nada menusuk.
Siwon menatap Sungmin sekilas
sebelum dia menatap Yeonhee dengan tatapan memohon. Melihat tatapan memohon
yang Siwon berikan membuat Yeonhee menghela napas panjang lalu mengusap tangan
Sungmin halus. “Gwaenchana oppa, kami memang harus bicara.”
Rahang Sungmin mengeras, lukanya
yang menganga bagai disiram air cuka mendengar perkataan Yeonhee. Sungmin
memasukkan kepalan tangannya ke dalam saku jins, lalu tanpa memandang Yeonhee
mau pun Siwon, Sungmin lantas berdiri dan meninggalkan keduanya.
Yeonhee menatap punggung Sungmin
yang semakin menjauh sebelum memfokuskan pandangannya pada Siwon yang duduk di
sebelahnya.
“Mianhae Yeonhee-ya, oppa
tahu mungkin selama ini oppa─”
“Gwaenchana.” sela Yeonhee
setelah memejamkan matanya beberapa saat, “mungkin aku memang tak bisa mengerti
pekerjaan oppa. Aku hanya terlalu emosi tadi.”
Siwon memandang Yeonhee takjub,
lantas tanpa terhitung detik, namja itu mencium bibir Yeonhee dengan
sangat lembut tanpa mempedulikan sepasang mata yang memandang mereka tajam
dengan tatapan penuh luka.
Ciuman mereka hanya berlangsung
beberapa detik karena Yeonhee langsung mendorong pundak Siwon keras, yeoja
itu menggigit bibirnya sambil bertanya-tanya dalam hati mengapa ia tak pernah
merasa berdebar saat melakukan kontak fisik dengan Siwon.
***
Cklek!
Semua member Suju
mengalihkan pandangan mereka dari tivi ke arah pintu masuk dorm, mereka
berlomba-lomba menghampiri Sungmin untuk menanyakan bagaimana nasib hubungan Yeonhee
dan Siwon selanjutnya. Seluruh member Suju harus menelan bulat-bulat
rasa penasaran mereka sebab Sungmin tak menjawab satu pun pertanyaan yang
mereka ajukan. Namja itu malah melengos ke kamarnya dan keluar dengan
membawa kunci mobil serta jaket tebal.
“Sungmin-ah, kau mau kemana?”
tanya Leeteuk mewakili yang lainnya.
“Mencari angin, mungkin sampai
pagi. Tak usah mencariku, hyung.” jawab Sungmin.
Namja itu mengemudikan
mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata ditemani segala rasa sesak yang
seolah tak pernah lelah untuk singgah di hatinya.
***
Yeonhee baru saja keluar dari kamar
mandi saat ponselnya berdering, yeoja itu menyimpan handuk yang digunakan
untuk mengeringkan rambutnya sebelum menolehkan kepala ke arah jam dinding di
sudut kiri kamarnya. Yeonhee mendesah melihat waktu sudah menunjukkan pukul 1
dini hari. Dalam hati ia mengeluh tentang siapa orang yang dini hari seperti
ini─dengan kurang kerjaan─meneleponnya. Yeonhee menelan kembali semua makian
yang akan ia lontarkan pada si penelepon melihat nama ‘Sungmin oppa’lah yang
tertera di layar ponselnya.
“Yeoboseyo..” Mata Yeonhee
melebar mendengar sederetan kalimat yang diucapkan oleh orang di seberang sana─bukan
Sungmin. Setelah sambungan terputus, tanpa pikir panjang Yeonhee segera
menyambar mantel juga kunci mobilnya dari atas lemari.
Mobil yang Yeonhee kendarai
berhenti tepat di depan sebuah bar. Yeonhee turun dari mobil dengan rasa
cemas yang mengisi penuh hatinya. Walau agak enggan, Yeonhee tetap melangkah
memasuki bar itu untuk menjemput Sungmin. Yeoja itu mendengus tak
suka saat matanya menangkap pemandangan yang biasa ada di bar; orang
menari erotis dimana-mana, orang mabuk, bahkan sampai tindakan-tindakan tidak
senonoh. Yeonhee mempercepat langkah menuju meja bartender yang
meneleponnya tadi. Pekikan kecil keluar dari bibirnya melihat Sungmin yang
sudah mabuk berat.
“Kau Song Yeonhee?” tanya bartender
itu begitu melihat Yeonhee mencoba mengangkat Sungmin. Yeonhee mengangguk
kecil, “Sungmin-ssi mabuk berat, dan dia selalu meracaukan namamu setiap
saat. Bawalah dia pulang.” ujar bartender itu seraya menyodorkan ponsel
Sungmin.
Setelah menggumamkan terimakasih, Yeonhee
menyampirkan tangan Sungmin di pundaknya dan mulai berjalan dengan susah payah.
“Bukannya kau pemabuk handal oppa?
Mengapa bisa sampai hilang kesadaran seperti ini? Berapa banyak yang kauminum?”
omel Yeonhee selama membawa Sungmin menuju mobilnya─yang tentu saja tak
ditanggapi oleh namja itu. Yeonhee membuka pintu mobil lantas
mendudukkan Sungmin di sana. Yeoja itu mengambil ponselnya di dashboard
mobil lantas menghubungi nomor Kyuhyun agar menjemput Sungmin. Setelah
mengatakan alamatnya dimana dan Kyuhyun setuju, Yeonhee duduk di kursi kemudi
untuk menunggu kedatangan Kyuhyun.
Yeonhee mengulur napas
perlahan-lahan, tatapannya yang semula lurus ke depan sekarang terfokus di
wajah Sungmin. Yeoja itu mengamati setiap lekuk wajah Sungmin beberapa
saat sebelum mengambil sehelai tisu lalu mencondongkan tubuhnya ke arah Sungmin
guna menyeka keringat di dahi namja itu dengan hati-hati.
Sungmin oppa memang
tampan, batin Yeonhee yang tanpa sadar malah menatapi wajah Sungmin.
Yeonhee tersentak kaget saat
tiba-tiba saja Sungmin membuka sedikit matanya. Yeoja itu baru saja akan
memundurkan badan agar duduk di tempat semula saat tangan Sungmin menarik
pinggangnya hingga hidung mereka bersentuhan. Yeonhee menatap mata sayu Sungmin
yang juga menatapnya dengan debaran jantung yang tak keruan. Yeoja itu
menahan napas saat wajah Sungmin makin mendekat, dia lantas memejamkan matanya
erat-erat begitu jarak di antara mereka semakin lama semakin menipis.
“Hee, saranghaeyo..” bisik
Sungmin sebelum dia benar-benar mengeliminasi jarak di antara keduanya hingga
bibir mereka bersentuhan.
Bagai digodam palu raksasa, satu
sentakan besar dirasakan Yeonhee saat mendengar pernyataan Sungmin. Yeonhee
terkejut setengah mati, dia tak menyangka bahwa Sungmin selama ini bukan
menyayanginya seperti seorang adik, tapi mencintainya. Perasaan sakral yang
merupakan anugerah dari Tuhan.
Yeonhee buru-buru memundurkan badan
saat tangan Sungmin yang melingkar di pinggangnya terlepas dan mata namja
itu telah tertutup kembali. Sambil mengatur napasnya yang terengah-engah akibat
ciuman tadi, Yeonhee memegang jantungnya yang masih berdebam-debum heboh dengan
pikiran berkecamuk. Tangannya lalu merayap menyentuh bibir, pipi yeoja
itu merona merah begitu membayangkan apa yang baru saja ia dan Sungmin lakukan.
Dan rasanya... kenapa Yeonhee bisa merasa sesenang dan seberdebar ini hanya
karena berciuman dengan Sungmin? Sekalipun namja itu dalam keadaan tidak
sadar?
***
Yeonhee sedang termangu sembari
memainkan sedotan cup strawberry juicenya saat Taeyoung tiba-tiba saja
datang dan mengagetkannya. Yeoja itu mendelik sekilas pada Taeyoung
sebelum mengusap dadanya karena kaget.
Taeyoung tertawa sebentar sebelum
ikut duduk di samping Yeonhee, dia menyingkirkan tas Yeonhee ke bawah agar bisa
duduk lebih leluasa tanpa mempedulikan mata Yeonhee yang seolah ingin
menelannya bulat-bulat.
“Jangan memandangiku seperti itu,
aku tidak mempan dengan pandanganmu itu Yeonhee-ya..” ledek Taeyoung
kemudian kembali tertawa melihat ekspresi malas yang dikeluarkan Yeonhee.
“Tsk!” decak Yeonhee sebal.
“Kemana Saera? Tumben dia tidak ada.” cetus Yeonhee kemudian lalu mengalihkan
pandangannya dari air mancur di depan sana pada Taeyoung yang sekarang sedang
sibuk dengan ponselnya seraya tersenyum-senyum sendiri. Yeonhee mendengus dalam
hati, pasti Yesung.
“Bocah itu ada kelas, Yeonhee-ya.”
sahut Taeyoung saat dia sudah selesai dengan urusan ‘ponselnya’.
Yeonhee mengangguk sekali mendengar
penjelasan Taeyoung, matanya kembali terpaku pada air mancur di depan sana.
Bukan air mancur itu menarik, hanya saja Yeonhee tidak ingin terlalu terlihat
melamun jika tidak memandang air mancur itu.
Sudah lima hari berlalu sejak
insiden di dalam mobil itu, tapi hubungannya dengan Sungmin masih tetap
canggung. Paginya, Sungmin memang menghubungi Yeonhee karena peristiwa semalam─namja
itu tampaknya mengingat detail peristiwa semalam begitu sadar dari mabuknya─dan
langsung meminta maaf sekaligus meminta Yeonhee tak terlalu memikirkan
ucapannya karena Sungmin sadar diri Yeonhee sudah memiliki kekasih. Yeonhee
memang memaafkan Sungmin karena nyatanya ia sama sekali tak marah atas ucapan
dan perbuatan Sungmin malam itu, namun Sungmin sepertinya terlalu memikirkan
hal tersebut hingga ia selalu bersikap canggung jika sudah berduaan dengan Yeonhee.
Akibatnya mereka sekarang terlihat seperti dua orang yang baru saling mengenal.
Hubungan Yeonhee dan Siwon pun
kembali berjalan normal walau akhir-akhir ini Yeonhee sudah tak terlalu peduli
lagi dengan status mereka. Otak Yeonhee selalu sibuk berpikir tentang siapa
sebenarnya orang yang dia cintai. Siwon? Ataukah Sungmin?
“Yak! Kau melamun!” kata Taeyoung
setengah berteriak tepat di hadapan wajah Yeonhee.
Yeonhee memukul pundak Taeyoung
pelan begitu dia terjaga dari lamunannya. “Yak! Jangan berteriak di depan
wajahku, Young-ah!” seru yeoja itu kesal.
Taeyoung pura-pura memasang wajah
kesakitan sembari mengelus pundaknya pelan-pelan. “Appo, kau kejam
sekali.”
Yeonhee mengibaskan tangannya di
depan wajah Taeyoung dengan wajah malas. “Sudah Young, aktingmu benar-benar
buruk.” Sukses membuat Taeyoung merengut. Yeonhee menghela napas sekali, dia
pasti akan mengejek wajah merengut Taeyoung kalau pikirannya tidak kalut saat
ini. “Young, apa memang tidak pernah ada persahabatan murni antara namja
dan yeoja?”
Taeyoung mengernyit mendengar
pertanyaan dari Yeonhee, tapi tak urung yeoja itu tetap menjawab. “Pasti
ada, hanya saja hal itu memang jarang terjadi. Persahabatan antara namja
dan yeoja itu jarang ada yang murni, pasti salah satu dari kedua─ketiga
atau seterus─nya akan ada yang jatuh cinta. Eum, tapi itu hanya pendapatku,”
jawabnya panjang lebar, Taeyoung lalu menatap Yeonhee penuh selidik. “Kenapa
kau tiba-tiba bertanya seperti itu, Yeonhee-ya?”
Yeonhee menghindari tatapan
Taeyoung sambil menelan ludah gugup, “An─aniyo! Aku hanya bertanya!”
tandasnya cepat-cepat lalu berdiri. “Aku pergi dulu ya Young-ah, aku
harus menemui seseorang.” pamit Yeonhee kemudian lalu membereskan tas dan
bawaannya.
Taeyoung mengerutkan kening, “Seseorang?
Tapi malam ini kau akan pergi ke festival kembang api, bukan?” tanyanya
setengah berteriak karena Yeonhee sudah jauh.
Yeonhee membalikkan tubuhnya untuk
melihat Taeyoung dan mengacungkan jempolnya sebagai jawaban. Taeyoung
menggumamkan kata ‘aneh’ melihat sikap Yeonhee hari ini sebelum yeoja
itu mengedikkan bahunya.
***
“Jadi... kenapa menemuiku, chagi?”
Choi Siwon akhirnya membuka percakapan di antara ia dan Yeonhee setelah lama
mereka berdua larut dalam keheningan. Sedikit heran memang karena Yeonhee
tiba-tiba saja ada di dekat lokasi shootingnya dan meminta waktu bicara
sebentar, Siwon bisa merasakan ada suatu perasaan aneh yang menyelimutinya saat
pertama kali melihat Yeonhee ada di sini─firasat buruk.
Yeonhee terperanjat mendengar
pertanyaan Siwon, setelah meyakinkan hatinya bahwa dia memang memilih keputusan
yang benar, yeoja itu mengangkat kepala sampai maniknya bertubrukan
dengan manik Siwon. Yeonhee menggigit bibir lantas menghela napas panjang. “Oppa,
bisakah kita akhiri hubungan ini?”
Deg!
Siwon merasakan jutaan batu
dijatuhkan kepadanya hingga ia merasa terhimpit dan tenggelam. Namja itu
mengepalkan tangannya yang tersembunyi di bawah meja sembari mengulur napas
dengan perlahan.
“Waeyo? Kenapa tiba-tiba?”
tanya Siwon lembut, Yeonhee bergeming membuat Siwon merasa tertampar saat satu
pemikiran melintas di otaknya. “Karena Sungmin hyung?” tanya Siwon
telak.
Yeonhee membulatkan matanya kaget.
Namun yeoja itu memilih diam tak menanggapi pertanyaan Siwon.
Diamnya Yeonhee membuat Siwon
tersenyum saru dan mengusap wajahnya sekali. “Gwaenchana, Yeonhee-ya.
Dari awal berpacaran denganmu, aku memang sudah tahu kau sama sekali tak
mencintaiku, hanya sebatas suka.” kata Siwon, “mungkin kau baru sadar sekarang,
tapi sejak dulu kau hanya melihat Sungmin hyung Yeonhee-ya. Dan
Sungmin hyung juga hanya melihatmu.”
Yeonhee tercengang mendengar
perkataan Siwon. Bahkan orang lainpun sadar, apa ia begitu tak peka akan
perasaannya sendiri? “Oppa, mian, aku tak bermak─”
“Nde, gwaenchana. Kau berhak
mendapatkan kebahagiaanmu, lagipula aku sudah tahu cepat atau lambat hal ini
pasti terjadi.” tukas Siwon, namja itu menyunggingkan senyum lembut
hingga lesung pipinya terlihat. “Kejarlah Sungmin hyung, ne? Jangan
sampai kau menyesal.” Nasehat Siwon sebelum melenggang pergi setelah mengusap
rambut Yeonhee sebelumnya.
Siwon memang sakit hati mengetahui
bahwa usahanya membuat Yeonhee agar mencintainya harus berakhir tanpa hasil,
tapi namja itu juga tak mau menahan Yeonhee lebih lama lagi. Dia tak
ingin bersikap egois, apalagi sampai mengorban hati Yeonhee dan hati Sungmin
sekaligus.
Di lain sisi, Yeonhee masih
termangu dengan segala perkataan Siwon saat ponselnya tiba-tiba saja bergetar. Yeoja
itu tersentak kecil lantas buru-buru merogoh saku jinsnya. Senyum terlukis
dalam hitungan detik saat Yeonhee mengetahui siapa si pengirim pesan.
From: Sungmin oppa
Melihat festival kembang api
bersamaku, ne? Jam 7 malam di taman biasa. Datanglah, oppa juga
ingin membicarakan sesuatu.
Tanpa membalas pesan dari Sungmin,
jemari Yeonhee menari menuliskan pesan baru untuk Taeyoung.
To: Taeyoung young
Young, aku pergi ke festival
kembang api bersama Sungmin oppa. Kau tak usah menungguku,
bersenang-senanglah bersama Yesung oppa. Arraseo?^^
***
Sungmin mengembuskan napas hingga
menjadi uap sambil sesekali mengecek jam yang melingkar di tangannya. Masih jam
7 kurang 10 sebenarnya, tapi namja itu sangat gelisah kalau Yeonhee tak
datang karena yeoja itu sama sekali tak membalas pesannya. Hubungannya
dengan Yeonhee memang merenggang begitu saja ketika Sungmin tersadar dari
mabuknya, Sungmin terlalu takut dan malu untuk bersikap biasa saja pada Yeonhee
walaupun yeoja itu telah memaafkannya.
Tapi hari ini, Sungmin ingin
memperbaiki hubungannya dengan yeoja itu. Kalau pun Yeonhee memang tidak
bisa membalas perasaannya, paling tidak mereka tetap bisa bertahan sebagai
sahabat.
Sahabat. Apa susahnya
mengkamuflasekan kembali sebuah perasaan dalam ikatan persahabatan? Sungmin
sudah bertahan selama 15 tahun dalam kepalsuan, apa susahnya bertahan lebih
lama lagi sampai ia bisa benar-benar melihat orang lain?
Tapi apa mungkin? Hati kecil
Sungmin berbisik sangsi, 15 tahun bukan waktu yang sebentar, dan selama itupula
Sungmin tidak pernah bisa melihat orang lain walau dia sudah berulang kali
mencoba. Sehancur apa pun hatinya karena Yeonhee, namja itu tetap tidak
bisa memupus rasa yang terlanjur dalam di hatinya. Bodoh mungkin mengingat
Sungmin adalah seorang figur idola, namun dia juga manusia biasa yang bisa
menjadi sangat bodoh hanya karena satu hal. Cinta.
“Aku tidak telat, kan oppa?”
Sungmin terjaga dari pikiran
kacaunya saat mendengar suara Yeonhee. Namja itu memutar kepala ke
samping dan menemukan Yeonhee sedang tersenyum dalam balutan hanbok modern
yang begitu indah melekat di tubuhnya. Sungmin tercekat, dia merasa suaranya
tersangkut di tenggorokan sampai-sampai ia tidak bisa membalas perkataan Yeonhee
tadi.
Cukup lama mengumpulkan keberanian,
Sungmin akhirnya memberi senyum dan menggeser duduknya sedikit hingga Yeonhee
bisa duduk. “Aniyo, kau tidak terlambat sama sekali Hee-ya.”
Yeonhee tersenyum sekali lagi untuk
menutupi debaran jantungnya yang menggila. Yeoja itu duduk di sebelah
Sungmin lantas menunduk mengamati jari-jari tangannya─yang sebenarnya sama
sekali tak menarik.
Sungmin menelan ludah, sesekali
melirik ke arah Yeonhee yang tengah menunduk. Namja itu mengutuk suasana
yang tiba-tiba saja jadi canggung kembali. Bagaimana cara mencairkannya?
Sebelum Yeonhee mengetahui perasaannya, mereka tak pernah kehabisan bahan
obrolan sekali pun. Namun Sungmin tak bisa menyesali kejadian yang telah
berlalu, saat itu takdir yang berbicara. Seperti kata Kyuhyun, cepat atau
lambat Yeonhee pasti memang mengetahui perasaannya.
“Hee?” panggil Sungmin seraya
mati-matian menekan kegugupannya hingga ke tingkat paling dasar.
“Ne?” sahut Yeonhee lirih, yeoja
itu makin gencar mengamati kuku-kuku jari agar jantungnya tak meledak saat itu
juga.
Sungmin meloloskan embusan napas
panjang. “Mianhae atas kejadian malam itu, Hee. Oppa tidak
bermaksud merusak persahabatan kita yang sudah terjalin sejak kecil. Oppa
hanya tidak bisa menahan perasaan oppa lebih lama lagi.”
Diam sebentar. Sungmin
menengadahkan kepalanya ke atas langit berusaha menikmati indahnya taburan
bintang di atas sana. Tangannya terkepal kuat dan otaknya tengah sibuk mengolah
kata-kata agar ia tak salah berucap dan mengakibatkan hubungan keduanya lebih
jauh lagi.
“Limabelas tahun, Hee..” gumam
Sungmin kemudian yang selemah tiupan angin.
Walau pun diucapkan dengan sangat
lemah, Yeonhee tetap dapat menangkap apa yang Sungmin ucapkan sebab yeoja
itu ada di sebelahnya. Yeonhee perlahan mengangkat wajah lantas memutar kepala
ke samping untuk menatap Sungmin. Waktu seakan berhenti berdetik saat Yeonhee
melihat mata Sungmin yang menyiratkan banyak luka tengah menatapnya. Perasaan
bersalah langsung berlomba-lomba memenuhi hati Yeonhee. Dia, tak pernah melihat
Sungmin memperlihatkan ekspresi serapuh ini sebelumnya.
Melihat tatapan Yeonhee membuat
keberanian Sungmin jadi berkali-kali lipat, namja itu tanpa ragu-ragu
meraih tangan Yeonhee dan menyimpannya di dada, tepat dimana jantungnya sedang
berdetak abnormal, hanya untuk yeoja itu.
“Kaudengar detakan jantung oppa?”
tanya Sungmin, Yeonhee mengangguk. “Detak jantung seperti ini hanya untukmu Hee.
Limabelas tahun oppa memendam perasaan ini sendiri, oppa tidak
pernah punya keberanian untuk maju dan mengatakannya padamu, kalau saja malam
itu oppa tidak mabuk, perasaan itu mungkin akan tetap terpendam untuk
beberapa tahun ke depan.”
Yeonhee merasakan matanya memanas.
Limabelas tahun? Selama itukah? “Waeyo oppa? Kenapa oppa lebih
memilih menyiksa diri sendiri daripada mengatakannya padaku?”
Tangan Sungmin bergerak menyeka
setetes air mata yang baru saja meluncur dari pelupuk mata Yeonhee, tatapan namja
itu kian melembut seiring bergulirnya waktu. “Oppa hanya takut, oppa
takut kau membenciku. Oppa takut kau tak bisa menerima perasaan oppa
karena─”
“Sstt..” bisik Yeonhee sambil
meletakkan tangannya di bibir Sungmin, menyuruh namja itu untuk tak
berbicara lagi. “Ketakutanmu terlalu berlebihan oppa. Kau harusnya lebih
memikirkan perasaanmu! Apa kau tidak sakit hati tiap melihat aku pacaran dengan
namja lain?”
Sungmin tersenyum lemah, “Oppa
bohong kalau oppa jawab ‘aniyo’ Hee-ya. Tapi selama ini,
asal kau masih bisa tersenyum saat bersama oppa, itu sudah cukup meski pun
hati oppa harus mati.”
Yeonhee membiarkan buliran air mata
turun membasahi pipinya mendengar penuturan Sungmin. Dia menahan tangan Sungmin
yang ingin kembali menyeka air matanya sembari menggeleng. Demi Tuhan, Yeonhee
merasa sangat jahat membiarkan namja berhati malaikat seperti Sungmin
menahan luka selama bertahun-tahun tanpa ia tahu sekali pun.
Menahan kepingan hatinya yang
semakin tak berbentuk, Sungmin membawa Yeonhee ke dalam pelukannya dengan
cepat. “Hee, uljima, jangan menangis. Kalau kau tak bisa membalas
perasaan oppa tak apa, oppa tetap akan merasa senang meskipun
kita hanya menjadi sahabat.”
“Lee Sungmin baboya!” sentak
Yeonhee parau, dia mendorong bahu Sungmin hingga pelukan keduanya terlepas.
Terkejut, Sungmin menatap Yeonhee
yang sedang mengusap air matanya dengan sedih. “Hee..”
“Kenapa kau tidak menyadarkanku
dari dulu dan malah membiarkan aku menjadi orang jahat oppa?”
“Hee, apa maksudmu?”
Yeonhee menahan air mata yang
mendesak keluar sekuat tenaganya. “Aku jahat membiarkanmu terus-terusan terluka
oppa, mian aku baru sadar sekarang.”
Sungmin mendesah tak kentara
mendengar perkataan Yeonhee, digenggamnya tangan Yeonhee dengan erat sambil
menatap bola mata Yeonhee dalam-dalam. “Hee, ini bukan salahmu. Oppa
sudah bilang tak masalah jika kau tidak bisa membalas perasaan oppa,
kan?”
Yeonhee mengerutkan kening, “Oppa,
kau tidak mengerti aku berbicara apa sedari tadi?” tanya yeoja itu heran
membuat Sungmin ternganga. Tawa Yeonhee meledak begitu sadar bahwa sedari tadi
Sungmin sama sekali tak mengerti kemana arah pembicaraan mereka, kesedihannya
menguap digantikan rasa geli. Sungmin ini polos atau memang bodoh? “Yak! Kau
benar-benar babo oppa!” seru Yeonhee kemudian dengan tawa yang masih
berdengung.
Lipatan di kening Sungmin makin
banyak, “Yak! Berhenti mengataiku babo, dan berhenti tertawa! Jelaskan
sesuatu padaku!”
Setelah susah-payah menghentikan
tawa, Yeonhee menangkup wajah Sungmin dan memandang namja itu serius.
“Aku minta maaf karena aku baru sadar sekarang kalau aku juga mencintai oppa,
arraseo?”
“HAH?!” teriak Sungmin spontan
mendengar perkataan Yeonhee barusan. Matanya membulat dengan ekspresi tak
percaya berlebihan, Yeonhee menahan tawanya lagi melihat wajah Sungmin. Sungmin
mencubit tangannya untuk memastikan ia tidak bermimpi, namja itu
meringis pelan merasakan perih dari hasil cubitannya.
Yeonhee berdiri dari duduknya
begitu melihat kembang api yang mulai bermunculan di atas langit, Sungmin segera
menahan tangannya. “Hee, bagaimana dengan Siwon?” tanyanya begitu terjaga dari
keterkejutan.
“Siwon oppa yang
menyadarkanku hal ini. Kami sudah berakhir.” jawab Yeonhee diiringi seulas
senyum manis yang berhasil membuat Sungmin meleleh.
Sungmin tersenyum lebar. Sesak yang
dulu selalu bergumul di hatinya menghilang dalam sekejap mendengar perkataan Yeonhee.
“Oppa, ayo ke sana. Nanti
kembang apinya terlanjur habis.” rengek Yeonhee melihat Sungmin masih setia
dengan senyum lebarnya. Yeonhee mendengus kemudian melepaskan tangan Sungmin
dan berjalan sendiri ke arah kerumunan tempat orang-orang melihat kembang api.
“Hee, kau yeojachinguku
mulai sekarang?” teriak Sungmin begitu tersadar bahwa Yeonhee meninggalkannya. Namja
itu bergegas menyusul Yeonhee cepat-cepat.
“Mollayo oppa!” balas Yeonhee
tak acuh meskipun bibirnya menyunggingkan senyum lebar.
Sungmin mendengus sambil
mempercepat langkahnya. Dipeluknya Yeonhee dari belakang dengan senyum lebar di
wajahnya. “Song Yeonhee, saranghae!”
Yeonhee memejamkan mata sambil
menggenggam tangan Sungmin yang melingkar di pinggangnya, senyum bahagia
tersungging di bibir yeoja itu sebelum dia menjawab pernyataan Sungmin
dengan nada lembut. “Nado oppa.”
END
Sungmin oppa perasaan merana banget yaaa. Oppa daripada ga jelas sama Jisoo mending sama aku aja yuuuk *kedip-kedip* *digorok hyukjae*
kalo mau protes gara-gara sungminnya menderita banget, jgn lupa bawa kue lebaran sekalian *oke ini gaje* sorry kalo feelnya ga dapet, tokoh maksa, ending maksa, segala maksa. Mianhaeeee *Hae bikin galau mulu nih dari kemarin/ bias lo siapa sih -___-*
Finally, selamat menikmati cerita absurd ini yah! dan akhirnya gue berhasil bikin os yg akhirannya ga kissing muahaha *joget sfs*
komen di tunggu ne, maaf lagi gila ><

Tidak ada komentar:
Posting Komentar