TWO
H
|
AN Tae Young
terdiam di atas ranjangnya dengan mata kosong. Tangannya sesekali mengusap
butir-butir air mata yang jatuh begitu saja. Pikirannya melayang, terpecah
belah entah menjadi berapa. Memutar kenangan-kenangannya bersama namja
‘itu’. Yeoja yang biasa dipanggil ‘Young’ itu mau tak mau merasa sesak
menghimpit dadanya. Sekeras apa pun dia mencoba mengendalikan pikiran, bayangan
yang bak roll film itu terus berputar di kepalanya tanpa mau berhenti.
Satu malam
telah berlalu sejak kejadian menyakitkan itu, namun tubuh Tae Young tetap
menolak untuk beraktivitas seperti biasanya. Dia merasa terlalu lelah menangisi
mantan kekasihnya semalam penuh tanpa henti. Fisiknya letih, begitu pun
hatinya. Dia juga merasa bodoh telah jatuh terlalu dalam pada namja yang
bahkan dengan tega mencampakkannya begitu saja ketika rasa itu memudar.
Namja itu
Sungkyo. Mantan kekasih yang telah menjalin hubungan dengan Tae Young hampir
lima tahun lamanya. Tapi tadi malam, Sungkyo dengan tega memutuskannya karena yeoja
lain. Mungkin bagi kebanyakan orang ini hanyalah sebuah cerita klise yang mudah
ditemukan, tapi bagaimana jika kau sendiri di hadapkan pada masalah klise ini?
Rasanya akan tetap sakit, bukan? Begitu pun yang kini tengah dirasakan Tae
Young, dia jadi menyesal dulu sering mengejek teman-temannya yang patah hati
karena dicampakkan kekasih. Tae Young tak pernah tahu bahwa hukum karma akan
terjadi padanya. Apakah Tae Young menyesal? Tidak juga, Tae Young tidak mau
menyesali apa yang telah berlalu dalam hidupnya, dia sekarang hanya sedikit
belum rela.
Belum rela
sebab terlalu banyak kenangan indah yang sudah digoreskan namja itu di
hatinya.
“Young-ah?”
panggilan dari luar diiringi dengan derit pintu yang terbuka itu sama sekali
tak membuat Tae Young mengalihkan pandangannya. Tae Young terlalu larut dalam
pikiran panjangnya.
Yeoja
yang masuk ke kamar Tae Young menghela napas pelan melihat keadaan sahabatnya
yang tampak sangat kacau. Semalam Tae Young memang datang mengadu padanya, tapi
malam itu dia tidak bisa berbuat banyak sebab sangat sibuk dengan skripsinya,
baru sekarang dia bisa datang ke apartemen Tae Young─yang sudah ia hapal passwordnya─untuk
memberi penghiburan pada yeoja yang merupakan sahabatnya dan telah dia
anggap sebagai adiknya sendiri itu.
“Young-ah,
jangan begini. Jangan menangisi namja brengsek itu terus menerus.” hibur
Hanni sambil merangkak ke ranjang Tae Young.
“Eonni,
rasanya sakit..” balas Tae Young ketika Hanni memeluknya dari samping, tangan yeoja
itu bergerak menyentuh dada kirinya. “.. di sini, aku seperti kehilangan hati.
Kosong.”
“Young,
dengar!” Hanni memutar tubuh Tae Young hingga yeoja itu berhadapan
dengannya, tangan Hanni memegang pundak Tae Young seraya meremasnya lembut.
“Di luar sana
masih banyak namja lain yang jauh lebih baik daripada namja itu,
kau tidak boleh terpuruk seperti ini.”
Tae Young
mengangkat wajah dan menatap mata Hanni lurus-lurus, yeoja yang tiga
tahun lebih tua darinya itu terlihat begitu serius dengan ucapannya. Tae Young
kembali menunduk.
“Aku ingin eonni,
tapi..”
“Tapi apa?”
sela Hanni tak sabar.
Kepala Tae
Young tertunduk semakin dalam, dia tidak berani menatap mata Hanni yang
berkilat-kilat penuh emosi.
“Eonni,
kami sudah lima tahun bersama..” bisik Tae Young lirih, “melupakan kenangan
selama itu tidak akan cukup dengan satu hari..” imbuhnya dalam bisikan yang
semakin lirih.
Hanni
melepaskan tangannya yang sedari tadi ada di pundak Tae Young seraya menarik
napas dalam-dalam. Dia mengedarkan pandangan ke sekeliling kamar Tae Young dan
mendecak kesal melihat berbagai macam hal dari Sungkyo masih mengisi penuh
sebagian besar kamar Tae Young.
“Yah, kau
memang tidak akan bisa melupakannya kalau semua kenangan kalian masih tersisa
di sini.” seru Hanni, dia beranjak dari ranjang Tae Young, tangannya mulai
bergerak menempel semua foto-foto Tae Young dan Sungkyo yang tertempel di
dinding, lalu semua barang dari Sungkyo juga Hanni ambil dan melesakkannya
masuk ke dalam tong sampah di kamar Tae Young.
Tae Young
sendiri tak melawan sama sekali, dia hanya menatapi barang-barang yang dibuang
oleh Hanni dengan pandangan nanar. Air mata perlahan-lahan kembali menuruni
pipinya begitu setiap kenangan dari barang yang Sungkyo berikan terlintas di
benaknya.
“Ayo pergi.” ajak
Hanni setelah dia selesai dengan semua barang-barang milik Sungkyo. Tangannya
mencabut selembar tisu dan menyodorkannya pada Tae Young sebelum menarik paksa
tangan Tae Young untuk mengajaknya keluar.
Tae Young
lagi-lagi tak melawan perlakuan Hanni, dia mengayunkan kakinya dan berjalan
gontai mengikuti setiap langkah Hanni setelah mengusap air matanya asal-asalan.
Tae Young percaya pada Hanni, dan apa pun yang dilakukan oleh sosok eonninya
itu pastilah mempunyai tujuan yang baik untuk dirinya.
Hari ternyata
cepat sekali berlalu, sekarang langit sudah berwarna jingga. Sore menjelang.
Tae Young dan
Hanni baru saja tiba di taman saat tiba-tiba saja seorang namja mencekal
tangan Tae Young dan menyentaknya hingga yeoja itu berbalik badan karena
terkejut.
Mata Tae Young
menyipit memandang namja di depannya yang seolah ia pernah melihatnya.
Tae Young baru saja akan bertanya kenapa saat namja itu sudah membuka
mulut terlebih dahulu.
“Kau, aku sudah
mencarimu seharian. Ikutlah denganku!”
Tae Young dan
Hanni menganga.
***
Saera menutup
buku kedokteran yang dibacanya setelah menguap sekali. Matanya lantas mengedar
ke sekeliling ruangan luas berwarna serba putih khas rumah sakit itu, Saera tanpa
sadar menghela napas panjang ketika matanya terfokus pada seorang namja
berumur 19 tahun yang terbaring di atas ranjang dengan berbagai macam alat
kedokteran tertempel di badannya.
Dalam hitungan
detik, Saera telah menutup mata saat pisau tak kasat mata mengiris-ngiris
hatinya tanpa ampun melihat keadaan namja itu. Namja yang
terbaring tak berdaya di atas ranjang itu adalah namdongsaeng Saera sekaligus
satu-satunya keluarga yang Saera punya sekarang. Kedua orangtua Saera meninggal
setahun yang lalu dalam sebuah kecelakaan yang keluarga Saera alami.
Hari yang
merenggut nyawa kedua orangtua Saera sekaligus menyebabkan adiknya dalam
keadaan koma seperti ini adalah hari terakhir musim panas. Saera dan
keluarganya sedang dalam perjalanan pulang dari salah satu pantai wisata saat
mobil yang mereka tumpangi oleng tanpa sebab. Saera sempat melihat bayangan namja
tua di ujung jalan─yang menatap tajam ke arah mobilnya─sebelum mobil itu
menabrak pembatas jalan dan terjun ke jurang dengan mulus lantas dia kehilangan
kesadarannya.
Saat sadar,
Saera sudah ada di rumah sakit. Dia juga harus menerima kenyataan pahit bahwa
kedua orangtuanya telah meninggal dunia, sedangkan adiknya koma. Saera langsung
shock, dia bahkan tak mau makan berminggu-minggu. Saat sadar hal bodoh
yang sudah dilakukannya, Saera langsung memutuskan untuk pindah Negara demi
pengobatan adiknya. Saera membawa adiknya berobat di Italia atas rekomendasi
dokter, namun sayang sampai sekarang pun adiknya seperti sukar membuka
mata─untung peninggalan orangtua Saera masih cukup membiayai biaya pengobatan
adiknya.
Saera tersentak
dari lamunan panjangnya saat buku yang ia pegang jatuh begitu saja, dengan
mimik kaget yang tak bisa disembunyikan, Saera buru-buru memungut buku itu dan
menajamkan pandangan. Helaan napas lega keluar dari bibirnya saat dia tak
menemukan hal mencurigakan apa pun di kamar inap ini.
Angka 14. 00 di
sudut mengalihkan perhatian Saera dan membuat yeoja itu refleks membuka
matanya lebar-lebar. Saera hampir saja memekik begitu teringat bahwa dia ada
jadwal kuliah 15 menit lagi.
Tergesa-gesa,
Saera menghampiri ranjang Sungmin─namdongsaengnya─dan mengecup kening namja
yang masih tertidur dengan nyenyak itu sekilas.
“Cepatlah
sembuh, noona merindukanmu..” bisik Saera lirih sebelum keluar dari
ruang rawat Sungmin.
Derap langkah
kaki Saera yang terdengar seperti berlari mendominasi suasana hening di lorong
rumah sakit itu. Saera mempercepat larinya begitu melihat sebuah bis berhenti
di halte, yeoja itu mendesah lega saat berhasil masuk ke dalam bis dan
duduk dengan tenang di bangku paling belakang.
“Terlambat, Saera-ya?”
Saera mengalihkan tatapannya dari jendela pada yeoja berwajah Asia yang
sekarang duduk di sampingnya. Saera mendengus pada Hyoseo─sahabatnya yang
sama-sama berasal dari Korea─sebelum menjawab dengan nada jengkel seolah-olah
Hyoseo menanyakan letak wilayah Korea yang jelas-jelas ada di Asia.
“Kau tidak lihat,
hm?” balas Saera cuek.
Hyoseo meringis
mendengar nada suara Saera yang begitu cuek, harusnya dia memang tidak usah
basa-basi dengan yeoja seperti Saera ini. “Cuek sekali sih kau ini!”
keluh Hyoseo sambil mengecek ponselnya yang berbunyi sekilas. “Omong-omong,
bagaimana keadaan Sungmin? Apakah ada kemajuan?” tanyanya setelah menyimpan
ponsel itu di saku kembali.
Saera menoleh,
kilatan matanya berubah sendu menjawab pertanyaan Hyoseo. “Entahlah Hyo-ya,
aku kadang merasa putus asa dengan keadaan Sungmin.”
Hyoseo mendecak
kesal mendengar ucapan Saera. “Tsk! Kau mengapa jadi lemah begini, Han
Saera?” tanyanya dengan penekanan saat menyebut nama Saera.
Menghela napas
sekali, Saera akhirnya mengedik tak acuh sambil kembali menatap keluar jendela
sebelum menjawab pertanyaan Hyoseo tadi dengan suara lirih. “Hyo, ini sudah
hampir satu tahun. Apa Sungmin tidak bosan tertidur terus-terusan?”
“Aniyo,
tentu saja dia bosan Saera. Dia hanya perlu waktu untuk membuka mata. Kau
jangan lemah seperti ini, Sungmin membutuhkan semangatmu!” seru Hyoseo
berapi-api, yeoja itu menyentuh pundak Saera seolah mencoba menyalurkan
semangatnya yang membakar.
Yang disentuh
terdiam beberapa saat, wajah Sungmin yang sedang tersenyum sangat manis
tiba-tiba saja terlintas di otaknya membuat Saera ikut tersenyum tanpa sadar.
Dari dulu Saera dan Sungmin memang sangat dekat, rasa sayang yang mereka miliki
terhadap satu sama lain tidak bisa dijelaskan seperti apalagi. Yang jelas,
perasaan yang mereka miliki begitu tulus dan murni.
Saera mulai
berpikir bahwa ucapan Hyoseo benar, semangat yang meredup di dalam jiwanya perlahan
bangkit kembali dan mengentak dengan sangat keras menciptakan semangat baru yang
meletup-letup untuk kesembuhan Sungmin.
“Hyo-ya,
kau benar.” sahut Saera, pemandangan di luar jendela sudah dia tinggalkan demi
melihat wajah Hyoseo di sampingnya. “Aku tidak boleh putus asa untuk Sungmin,
dia membutuhkanku.”
Hyoseo
mengangguk membenarkan dengan senyum yang mengembang lebar. Mereka berdua lalu turun
dari bis ketika bis itu berhenti di depan halte tak jauh dari universitas
tempat mereka menuntut ilmu.
Mereka
berlari-lari kecil memasuki universitas itu mengingat kelas mereka akan dimulai
3 menit lagi.
Tanpa siapa pun
sadari, seorang namja tinggi berwajah tampan menyeringai melihat tubuh
Saera yang sudah menghilang di gerbang sana. Namja yang sedang duduk di
dahan pohon apel itu mengayunkan tangan hingga buah apel berwarna merah marun
di dahan yang jauh darinya melayang hingga sampai di tangannya. Namja
itu menggigit apel yang didapatnya lamat-lamat dengan seringaian yang tak lepas
dari wajah tampannya.
“Kebetulan yang
sangat menguntungkan,” desisnya, “I got you.”
***
Kepulan uap
dari cangkir yeoja itu mulai menghilang seiring dengan mendinginnya
cairan berwarna hijau yang ada di dalamnya. Sang pemilik minuman yang kini
sedang berada di kantin salah satu universitas terkenal di Tokyo tampak terlalu
larut dalam soal-soal yang harus diisinya hingga mengabaikan minuman yang telah
dipesannya dari sejam yang lalu.
Kesal dengan
soal yang seolah tak ada habisnya, si yeoja akhirnya mengempaskan
punggung di sandaran kursi dengan embusan napas yang sangat panjang. Untuk
pertama kalinya sejak memesan minuman, yeoja itu menyesap teh hijaunya
sambil sesekali mengedarkan pandangan ke sekeliling kantin yang terlihat
lengang.
Ketika matanya
tanpa sengaja berhenti di lapangan dekat kantin sana, yeoja yang bernama
lengkap Han Hyerin itu mendengus melihat banyaknya mahasiswi yang mengerubungi
seorang namja di sana. Hatinya berdenyut kesal melihat pemandangan
tersebut, dia bahkan tak sadar bahwa buku-buku jarinya telah memutih akibat
kepalan tangannya yang terlalu kuat.
Hyerin sangat
cemburu melihat namja yang disukainya di kelilingi banyak yeoja.
Hyerin tahu dia
seharusnya tak bersikap begitu karena nyatanya mereka berdua tak mempunyai
hubungan apa pun─hubungan? Lucu sekali, kenal saja tidak!─well, Hyerin
memang hanya bisa menyukai namja itu diam-diam, dia hanya bisa menjadi
pengagum rahasia namja itu tanpa ada usaha sedikit pun untuk benar-benar
mengenal namja itu. Bukan Hyerin tak ingin, dia hanya merasa namja
itu terlalu tak sepadan dengannya.
Byun Baekhyun
terlalu sempurna untuk dia gapai. Pertama, namja itu terkenal, baik di
kalangan dosen maupun mahasiswa. Sedangkan Hyerin? Terkenal? Hah, bahkan Hyerin
ragu ada yang mengenalnya di kampus ini─selain Heesun dan beberapa teman yang
satu fakultas dengannya, tentu saja. Kedua, Baekhyun mudah bergaul. Hampir
sebagian besar orang di kampus ini adalah teman baik Baekhyun. Hyerin? Tidak,
Hyerin bukan orang kaku dan pendiam, dia hanya lebih senang sendirian daripada
harus terlibat pembicaraan panjang-lebar yang tak penting dengan orang lain.
Karena benteng kokoh bernama ‘perbedaan’ itulah Hyerin tak pernah berani untuk
mendekati namja yang sudah membuatnya jatuh cinta sejak pandangan
pertama. Keraguan Hyerin selalu lebih besar dibanding keberaniannya.
Setelah
mendesah sekali, Hyerin segera mengalihkan tatapannya sebelum rasa sesak yang
menyebalkan itu semakin merajalela. Senyumnya perlahan terkembang melihat
Heesun─satu-satunya teman satu Negara Hyerin di universitas ini─tengah
memanjangkan leher mencari tempat duduk. Hyerin dengan cepat melambaikan
tangannya tinggi-tinggi untuk menyuruh Heesun duduk di mejanya.
“Hyerin-ah,
aku mencarimu dari tadi.” cetus Heesun begitu duduk di kursinya. Setelah
meletakkan nampannya di meja, yeoja dengan badan kelewat kurus itu
kembali melanjutkan. “Kau sudah mendengar berita terbaru mengenai pangeranmu
itu?”
Hyerin yang
baru saja akan menekuni soal-soal nerakanya lagi mendongak cepat mendengar
pertanyaan Heesun, dia melirik ke arah lapang sebentar yang kini telah kosong
sebelum kembali memandang Heesun lurus-lurus. “Waeyo dengannya?”
Heesun
menyumpit sushinya sebelum menjawab pertanyaan Hyerin dengan nada
hati-hati. “Dia semalam berkencan dengan Hikari dari jurusan dance.”
Melihat wajah Hyerin yang langsung mengernyit─sakit─Heesun jadi tak tega karena
menyampaikan berita ini, tapi Hyerin pasti akan lebih sakit jika mendengar dari
orang lain. “Sudah aku bilang kau harus bertindak secepatnya bukan, Hyerin-ah?
bagaimana kalau Baekhyun sunbae benar-benar berpacaran dengan yeoja
lain? Kau rela?”
Refleks, Hyerin
menggeleng mendengar pertanyaan Heesun. Dia tak bisa membayangkan bagaimana
nasibnya kelak jika Baekhyun sampai benar-benar menjalin hubungan dengan yeoja
lain. Baekhyun bagaimana pun harus menjadi milik Hyerin, hanya itu yang Hyerin
mau! Terdengar egois dan gilakah?
Entahlah karena Hyerin tak peduli!
“Aku ingin Sun-ah,
tapi kau tahu sendiri aku akan jadi sangat gugup kalau sudah ada di hadapannya,
bukan?” seru Hyerin dengan nada sedih.
Heesun
menggigit bibir bawahnya miris, dia sudah berulang kali mencoba membuat Hyerin
dan Baekhyun berkenalan, tapi selalu berakhir dengan Hyerin yang tiba-tiba saja
menghilang entah kemana. “Aku sudah berulang kali mencoba membantumu, kau harus
berubah jika ingin memilikinya.”
Kepala Hyerin
tertunduk, sesak merajai hatinya hingga ia merasa kesulitan bernapas.
Melihat Hyerin
yang malah menundukkan kepala, Heesun mendesah panjang sebelum mulai menekuri
makanannya yang langsung menganggur begitu mereka membicarakan masalah Hyerin
dan Baekhyun yang seolah tak ada ujungnya.
Hyerin sendiri
hampir saja meremas kertas soal begitu mengingat seberapa tak berdayanya ia
jika sudah berhadapan langsung dengan Baekhyun, Hyerin selalu merasa kecil jika
ia sudah berdiri berhadapan dengan Baekhyun, dia selalu merasa sangat rendah
jika dibandingkan Baekhyun. Karena alasan itulah Hyerin sering kabur begitu
Heesun─yang memang supel dan lumayan mengenal Baekhyun─merencanakan pertemuan
mereka berdua.
Menit demi
menit yang terlewat selanjutnya dilalui dengan kesibukan masing-masing. Hyerin
sibuk dengan hatinya yang semakin mengecil dan berkecamuk, sedangkan Heesun
sibuk dengan sushi yang ada di hadapannya.
“Hyerin-ah..”
panggil Heesun begitu dia menelan sushi terakhirnya, Hyerin mengangkat
kepala dengan wajah murung yang tak berubah. Heesun memandang sahabatnya itu
lurus-lurus dengan tatapan tajam. “Jika kau benar-benar ingin memilikinya,
segeralah berubah. Sainganmu bukan hanya satu atau dua orang, tapi puluhan
bahkan ratusan.”
Hyerin
tercenung mendengar perkataan Heesun, bola matanya bergerak gelisah karena tak
nyaman dengan tatapan Heesun yang seolah menekannya. “Aku akan mencoba Sun-ah.”
Heesun
menampakkan senyum pada Hyerin sebelum mereka berdua larut dalam “rencana-rencana”
yang disusun Heesun untuk Hyerin.
Karena terlalu
fokus dengan percakapan yang Hyerin lakoni, yeoja itu sampai tak
menyadari bahwa tak jauh dari lapang tempat Baekhyun tadi berada, seorang namja
tengah memandanginya lekat-lekat dengan senyum tipis yang tak pernah lepas dari
wajah tampannya.
“Aku memang
pintar karena bisa menemukanmu dengan mudah..” gumamnya percaya diri, “welcome
to my world, agasshi..”
***
“Eonni,
mau kemana?” Hyunmi menutup majalah yang sedang dibacanya begitu melihat
penampilan Ahna─eonninya─yang begitu rapi malam ini. Kening yeoja
itu mengernyit saking penasarannya.
Ahna
yang tengah bersiap-siap menunggu seseorang menoleh ke arah sofa untuk melihat
adiknya. Semburat merah tipis terkembang sempurna di wajah yeoja
yang lebih tua dua tahun dari Hyunmi itu begitu dia merasa tengah ketahuan.
“Eonni
sedang menunggu seseorang.” jawabnya simpel menutupi hatinya yang sekarang
sedang ketar-ketir menanti balasan Hyunmi.
Hyunmi
mendengus sebelum berjalan menghampiri eonninya. “Namja
itu lagi, huh? Yang eonni bilang berasal dari dunia sihir di atas awan
sana? Bangunlah eonni, jangan hidup dalam dunia mimpi terus-menerus.” seru Hyunmi
tajam.
Perkataan
Hyunmi membuat rahang Ahna mengeras, yeoja itu
menatap adiknya dengan tatapan tak suka. “Aku tidak hidup di dunia mimpi, Mi-ya!
Namja itu benar-benar ada, dia berjanji akan mengenalkanku sebagai calon
istrinya begitu aku lulus kuliah.”
“Eonni!”
sentak Hyunmi muak, dia memegang kedua pundak Ahna hingga yeoja itu
mengernyit merasakan cengkeraman Hyunmi yang terlalu kuat. “Sadarlah eonni,
itu pasti hanya khayalan eonni.”
Ahna
menyentakkan tangan Hyunmi dari pundaknya sambil membalas tatapan tajam dongsaeng
yang amat disayanginya itu dengan tak kalah tajam. “Dengar, eonni tidak
pernah membual sekali pun. Namja itu benar-benar ada, dia tampan dan
memang mempunyai ilmu sihir. Eonni akan mengenalkannya padamu mala mini
agar kaupercaya pada eonni, Kang Hyunmi.” jelas Ahna dengan penekanan di
setiap kata yang diucapkannya.
Hyunmi
menghela napas panjang mendengar ucapan Ahna yang sarat emosi. Eonninya
itu memang selalu bercerita tentang kekasih dari ‘dunia lainnya’ yang menguasai
ilmu sihir dengan sempurna, tapi Hyunmi tak pernah percaya cerita kakaknya itu.
Percaya? Yang benar saja, cerita Ahna terlalu di luar nalar!
Hyunmi
mendekap tangannya di dada dan memasang wajah menantang pada eonninya
itu. “Baik, buktikan padaku kalau semua ucapan eonni selama ini benar.”
Ahna
memiringkan kepalanya, tersenyum dengan sikap mengejek. “Kau akan menyesal jika
mengetahui kenyataannya, Mi-ya.”
Hyunmi
mencibir bertepatan dengan bel yang berbunyi. Wajah Ahna langsung berubah
sumringah. Seolah melupakan pertengkarannya dengan Hyunmi tadi, yeoja
itu buru-buru menggandeng tangan Hyunmi dan mengajaknya membuka pintu bersama.
“Sebentar
chagi..” seru Ahna riang sebelum membuka pintu, Hyunmi memutar
bola mata melihat kelakuan eonninya itu.
“Nuguseyo?”
seru Ahna bingung melihat bahwa yang berdiri di depan pintu rumahnya bukan sang
kekasih melainkan yeoja aneh dengan jubah berwarna hitam panjang yang
membalut tubuhnya. Yeoja itu mendongakkan kepala, wajahnya sangat
cantik, namun sayang tatapan penuh kebencian di mata biru shappirenya
membuat yeoja itu tampak mengerikan. Hyunmi menengok dari pundak Ahna,
mengernyit melihat yeoja itu.
“Kau,
Kang Ahna?” tanya sang yeoja dengan suara parau, Ahna
mengangguk ragu-ragu, senyuman yang tadi dikulumnya lenyap begitu saja melihat
wajah mengerikan yeoja itu. “Hah, jadi yeoja seperti kau yang
dipilih oleh pangeran?” ejeknya kemudian meremehkan.
Ahna
membulatkan matanya mendengar ejekan yeoja itu,
sedangkan Hyunmi hanya mengernyit tak mengerti dengan percakapan kedua yeoja
di depannya ini. “Apa maksudmu?” desis Ahna tak suka.
“Aku
mau kaumeninggalkan pangeran, kau tidak pantas sama sekali untuknya.” tegas yeoja
itu sambil mengibaskan tangannya, angin kencang seketika masuk ke dalam rumah
seiring dengan kibasan tangan yeoja itu. “Atau kau akan merasakan
akibatnya.”
“Jika
aku tidak mau?” balas Ahna tajam. Hyunmi memegang ujung kemeja yang dikenakan
Ahna dengan kuat, ada aura yang begitu gelap dan jahat menguar dari yeoja
misterius di hadapannya.
Yeoja itu
mengangkat sebelah alisnya melihat sikap menantang Ahna. Dia mengibaskan
tangannya hingga Hyunmi terpental ke belakang, Ahna tersentak.
“Apa
yang kaulakukan, hah?” teriak Ahna emosi melihat Hyunmi meringis.
“Kau
menolak tawaranku, jangan harap kau bisa lepas dariku!” desis yeoja
itu sambil kembali mengibaskan tangannya membuat Ahna yang baru saja akan
menghampiri Hyunmi terempas ke taman depan rumahnya. Ahna langsung meringis
begitu tubuhnya membentur pohon, sementara yeoja itu perlahan mendekati
Ahna dengan seringain mengerikan yang terukir di bibirnya. “Kau. Harus. Mati.” teriaknya
kemudian sebelum sebuah sinar berwarna merah darah keluar dari tangan yeoja
itu dan langsung menghantam tubuh Ahna.
Jeritan
kesakitan melengking dari mulut Ahna sebelum darah segar keluar dari telinga,
mata, dan mulutnya yang terbuka lebar. Ahna membelalakkan matanya menahan
kesakitan yang menyerang tubuhnya bertubi-tubi, yeoja
itu merenggang nyawa beberapa saat sebelum akhirnya tergolek tak berdaya dengan
nyawa yang telah melayang.
Yeoja yang
baru saja membunuh nyawa Ahna itu mendengungkan tawa panjang melihat tubuh
terkapar Ahna yang sudah tanpa nyawa, berbeda dengan Hyunmi yang langsung
menjerit histeris melihat tubuh eonninya. Cucuran air mata mengalir di
pipinya, dia memangku tubuh Ahna yang penuh darah dengan tangisan yang pilu.
“Kau!
Aku tidak akan memaafkanmu!” jerit Hyunmi. Matanya yang berwarna cokelat kini
berubah menjadi merah darah, kesadaran yang dimiliki Hyunmi perlahan menipis.
Hyunmi meninggalkan tubuh eonninya dan menghampiri yeoja
misterius itu dengan mata berwarna merah yang berkilat-kilat penuh dendam. Yeoja
misterius itu menghentikan tawanya melihat Hyunmi, dia mundur beberapa langkah
merasakan aura kegelapan yang begitu pekat dari tubuh Hyunmi.
“AKH!”
pekik yeoja misterius itu begitu sinar berwarna dark blue yang
memancar dari tubuh Hyunmi melukai pergelangan tangannya.
Sinar
lain berwarna hitam melesat dari tubuh Hyunmi menuju yeoja
itu. Dalam hitungan detik, yeoja itu telah mengalami nasib yang lebih
mengenaskan dari Ahna. Tubuhnya terpotong-potong menjadi bagian-bagian kecil
dengan organ dalam yang berceceran.
Mata
Hyunmi perlahan-lahan berubah menjadi cokelat kembali. Hyunmi menatap ke arah yeoja
yang telah dibunuhnya dengan pandangan ngeri sebelum semuanya berubah menjadi
gelap. Dia jatuh pingsan saat itu juga.
“EONNI!”
Hyunmi
terbangun dari mimpinya, yeoja itu membelalakkan mata lebar-lebar sambil
mencoba mengatur napasnya yang terengah-engah. Mimpi itu datang kembali, mimpi
dimana pembunuhan Ahna terjadi di depan matanya sendiri. Tak lama, Hyunmi telah
menenggelamkan kepalanya di lipatan kaki dengan suara isakan yang mulai
terdengar. Itu adalah hari-hari terkelam yang tak pernah ingin dikenangnya
lagi.
“Ahna eonni,
aku merindukanmu..” isaknya pilu. Kilatan kebencian terlintas di hati Hyunmi
membuat yeoja itu membisikkan kata lirih yang sarat kemarahan, “aku akan
menemukan namja yang membuatmu kehilangan nyawa eonni, dia juga
akan kubunuh seperti yeoja sialan itu!”
TBC
Daebag! XD Saera adiknya Sungmin? XD asa asa errrr... XD
BalasHapusumin adiknya saera ceu =,=
BalasHapusAku juga yang masukinnya asa gimanaaaaa gitu, ga rela sebenernya umin punya kakak evil kayak dia #plak!