That’s All About Us (series six: Kim Ryeowook)
Namjaphobia
Seorang yeoja keluar dari
pesawat sambil menenteng koper besar di tangannya. Yeoja yang mengenakan
jins panjang, hoodie bergambar animasi doraemon, syal berwarna biru
lembut, juga kacamata hitam yang membingkai mata sipitnya yang jernih itu
melangkahkan kakinya menuju lorong bandara.
Begitu sampai di lorong bandara, yeoja
itu memanjangkan lehernya guna mencari seseorang. Dengusan pelan keluar dari
bibirnya saat sadar bahwa orang yang dicari tak ada.
“Mianhae agasshi, apa Anda
mencari seseorang?”
Yeoja itu sontak mundur
beberapa langkah begitu seorang namja paruh baya bertanya dalam jarak
yang sangat dekat dengannya, keringat sebesar biji jagung mulai bermunculan
dari kening yeoja itu saat sang yeoja menggelengkan kepalanya
kuat-kuat.
“Gwaenchanayo, ahjussi. Nae
chingu sedang di jalan.” jawab yeoja itu sambil tetap melangkah
mundur lantas menarik koper dan berjalan keluar bandara. Setibanya di luar
bandara si sosok yeoja segera mengelus dadanya yang berdebar tak
beraturan akibat kejadian tadi. Setelah agak tenang, dia segera mengeluarkan
ponselnya untuk menghubungi sepupunya yang nampak lupa menjemput dia di
bandara.
“Yeoboseyo Jisoo-ya? Neo
eodiga?” tanya yeoja itu lirih.
Terdengar suara gaduh dari seberang
sana disusul pekikan. “OMO! CHA KIHWANG! AKU LUPA MENJEMPUTMU. TUNGGU
AKU, JANGAN KEMANA-MANA!” Dan telepon terputus.
Kihwang segera menjauhkan ponsel
dari telinganya mendengar pekikan Jisoo. Sambil mengusap-ngusap telinga yang
terasa berdengung, Kihwang menggerutu dengan nada sebal. “Aish, kapan yeoja
itu akan berubah?”
Kihwang berjalan menuju bangku
panjang terdekat yang ada di depan bandara dan duduk di sana.
30 menit menunggu dalam kekesalan,
Kihwang akhirnya menghela napas lega saat akhirnya mobil Jisoo berhenti tepat
di hadapannya. Tanpa mengucapkan salam karena kesal yang sudah mengakar,
Kihwang membuka pintu penumpang lantas menyimpan kopernya di sana sebelum dia
mengempaskan pantatnya di sebelah kursi kemudi. Jisoo nyengir lebar menyambut
wajah masam Kihwang.
“Hwangie, jangan marah ne?”
rengek Jisoo sambil menarik-narik ujung hoodie yang dikenakan Kihwang.
Kihwang melirik Jisoo lewat ekor
matanya, “Lupa padaku, eo?” katanya menyindir.
Jisoo meringis, ekspresinya tambah
memelas melihat sepupu jauhnya merajuk seperti ini. “Mianhae Hwangie,
aku benar-benar lupa.”
Wajah Kihwang yang sedari tadi
datar akhirnya berekspresi juga, yeoja itu terkikik kecil sembari
menggerakkan tangannya untuk memeluk tubuh Jisoo.
“Gwaenchana Jisoo-ya,
aku hanya bercanda.” seloroh Kihwang membuat Jisoo mendengus pelan, tapi yeoja
itu tak lama membalas pelukan Kihwang dengan erat. “Bogoshippoyo..”
imbuh Kihwang setelah melepaskan pelukannya.
“Nado.” balas Jisoo lalu
mulai menyalakan mesin mobil, “bagaimana Jepang? Aku lihat 3 tahun di sana tak
membuatmu berubah.”
Kihwang menyandarkan punggung ke
sandaran jok, matanya mulai terpejam. Di pesawat dia memang sudah tidur, namun
tetap saja matanya memberat. Jetlag. “Tidak begitu buruk, hanya saja aku
rindu Korea. Dan apa maksudmu aku tidak berubah?”
Pertanyaan terakhir yang dilempar
Kihwang membuat Jisoo terkekeh. “Aniyo. Kau sensitif sekali dengan
candaanku.”
Kihwang membuka sedikit matanya
untuk melihat Jisoo, “Kau masih bersahabat dengan Sungmin oppa?” tanya yeoja
itu tiba-tiba.
Pipi Jisoo spontan bersemu merah, “Aniyo!”
tukasnya dengan warna merah yang semakin menyala, Kihwang tersenyum kecil
menyadari apa arti dari reaksi Jisoo.
“Nde, kalian sudah berganti
status menjadi sepasang kekasih. Jinja?”
“Aish! Berhenti menggodaku, Cha
Kihwang! Tidurlah! Kau kelihatan lelah.” suruh Jisoo sebal.
Kihwang melepaskan tawa kecil
selama beberapa saat, Jisoo terlihat sangat lucu kalau sedang tersipu seperti
ini. Namun tak lama, kantuk yang hebat menyerang matanya hingga Kihwang
pelan-pelan terlelap. Jisoo tersenyum kecil melihat wajah polos Kihwang yang
sedang terlelap.
Mobil yang dikendarai Jisoo melaju
membelah jalanan kota Seoul dengan kecepatan rata-rata diiringi senandung merdu
lagu ‘From U’. Bibir yeoja itu bergerak mengikuti alunan nada dengan
mata tetap terfokus ke depan. Deringan yang berasal dari ponselnya membuat
Jisoo menghentikan gerakan bibirnya, tangan yeoja itu merayap ke dashboard
mobil untuk mengambil ponselnya.
“Yeoboseyo Young-ah, waeyo?”
sapa Jisoo langsung begitu tahu bahwa Taeyoung yang meneleponnya. “Ke dorm
Suju? Sekarang?” tanyanya dengan nada mengeluh, “tapi aku sedang bersama
sepupuku, eotteoke?” imbuh Jisoo sambil memberhentikan mobil di pinggir
jalan karena percakapan di telepon ini mengganggu konsentrasinya. “MWOYA?!
Bawa ke dorm? Young jangan bercanda, Hwangie itu─”
Tuuutt... tuuutt...
“Astaga! Kenapa dia selalu bersikap
seperti ini?” kesal Jisoo yang sambungan teleponnya di putus secara sepihak
oleh Taeyoung. Jisoo mendesah sebentar kemudian mengalihkan pandangannya pada
Kihwang yang masih tertidur lelap, setelah menimbang-nimbang, yeoja itu
akhirnya memutuskan untuk pergi ke dorm Suju dengan membawa Kihwang. “Hwangie,
mianhae, tapi sepertinya kau harus ikut.”
***
Cha Kihwang mengerjap-ngerjapkan
mata beberapa kali guna menyesuaikan cahaya yang masuk ke retina matanya,
setelah bayangan perlahan-lahan menjelas, Kihwang mengalihkan tatapannya pada
Jisoo yang masih mengguncang-nguncang lengannya, yeoja itu menguap
sekali sambil membenarkan posisi duduknya.
“Kita sudah sampai?” tanya yeoja
itu sambil mengucek matanya agar tidak mengantuk lagi.
Jisoo menggigit bibir sebelum
menggeleng, “Kita ke dorm Suju dulu, ne, Hwangie?” pintanya
setengah tak yakin.
Mata Kihwang membelalak sempurna
mendengar permintaan Jisoo. Wajahnya langsung tampak pias. “Maksudmu Super
Junior? Boybandnya Sungmin oppa? 13 namja─oke, sekarang
hanya 10 namja?” repet Kihwang beruntun, nada suaranya bergetar,
terdengar takut.
“Ne, Hwangie.”
“Tapi aku─”
“Yak! Song Jisoo! Keluar dari
mobil!” teriakan seorang yeoja menginterupsi perkataan Kihwang. Kedua yeoja
yang masih ada di dalam mobil sontak melempar pandangan keluar jendela. Kihwang
mengernyit tak heran melihat yeoja itu─dia tak kenal─sedangkan Jisoo
malah memelototi yeoja itu dengan sepenuh hati.
“Yak! Panggil aku eonni, babo!”
pekik Jisoo kesal sambil keluar dari mobil.
Saera─yeoja yang tadi
berteriak─menunjukkan cengiran lima jarinya, kemudian dagunya menunjuk ke arah
mobil, “yeoja itu siapa, eonni?” tanyanya dengan nada
dimanis-maniskan.
“Cha Kihwang, sepupuku.” jawab
Jisoo singkat, “Hwangie, ayo masuk. Kita bisa membicarakannya di dalam.”
Mata Kihwang tambah membelalak
panik, “Jisoo-ya, aku tunggu di sini saja, ne?”
“Aish. Eonni kalau kau di
sini nanti kau diganggu para trainee genit! Ayo masuk.” sela Saera tiba-tiba sambil
menarik lengan Kihwang keluar dari mobil. Mata Kihwang seolah hendak meloncat
keluar begitu ia mulai memasuki gedung SMent dengan diseret Saera. Kihwang
melemparkan tatapan memohon pada Jisoo agar yeoja itu menghentikan
Saera.
Jisoo yang bingung ditatap seperti
itu oleh Kihwang hanya bisa membalas dengan tatapan ‘turuti saja dulu, Saera
menyeramkan’.
Mengetahui Jisoo sama sekali tak
bisa membantu, Kihwang menelan ludahnya yang terasa pahit berulang kali dengan
gugup. Keringat makin banyak mengucur dari pelipisnya, wajah yeoja itu
juga semakin pias setiap langkahnya, dan tubuhnya mulai bergetar ketika mereka
sudah sampai di depan pintu masuk dorm.
“Yang lain juga benar sedang ada di
sini, Saera-ya?” tanya Jisoo sambil merangkul pundak Kihwang. Sekadar
menenangkan.
Saera mengangguk, “Ne, oppadeul
baru pulang SM Town, mereka tampaknya lelah jadi para eonnideul berinisiatif
untuk memasak.”
Tak lama pintu dorm terbuka
menampilkan sosok seorang yeoja dengan apron di dadanya. “Annyeong Saera-ya,
Jisoo-ya, eum─”
“Kihwang eonni, Cha
Kihwang..” sambar Jisoo cepat begitu sadar bahwa Hana ingin menyapa Kihwang
tetapi tidak mengetahui namanya.
“Ah, nde. Kihwang-ah,
ayo masuk.” tutur Hana tersenyum ramah lalu membukakan pintu lebih lebar.
Kihwang seolah mati rasa saat
matanya menangkap beberapa namja yang sedang bersantai di ruang tengah.
Jantungnya berdebar sangat cepat seolah ia baru saja lari marathon. Dan
sekarang tangannya bahkan sudah sedingin es, membuat Saera keheranan.
“Yak! Kau kenapa eonni?
Terpesona karena bisa bertemu oppadeul Suju?”
Sreet! Perkataan Saera yang
lebih terdengar seperti teriakan itu membuat para member Suju yang
sedang sibuk sendiri-sendiri serentak menoleh ke arah Kihwang. Semuanya
menyambut Kihwang dengan senyuman walau pun ekspresi penasaran sangat terlihat
jelas di wajah-wajah lelah mereka.
“Siapa dia, Saera-ya?” tanya
Leeteuk, leader Super Junior itu berdiri untuk menyambut tamunya, begitu
pun para member lain hingga dalam sekejap semua member telah
mengerubungi Kihwang dan Saera─Jisoo dan Hana langsung ke dapur jadi mereka
tidak ada di dekat Kihwang dan Saera.
“Eonni, perkenalkan dirimu.”
suruh Saera sambil menoel bahu Kihwang yang tampak bergeming.
“Agasshi, kau pucat. Apakah
kau baik-baik saja?” tanya Ryeowook ramah, namja itu bergerak maju
hingga jaraknya dengan Kihwang hanya terpaut 50 senti dan langsung menempelkan
tangannya di dahi Kihwang.
Kihwang melotot, dalam hitungan
detik suaranya melengking mengisi keheningan di dorm. “Aaa...”
Bruk! Semua orang di ruangan
itu menganga menyaksikan Kihwang roboh di hadapan mereka, beruntung Kangin
sempat menahan tubuh yeoja itu sebelum menyentuh lantai.
“Yak! Apa yang kalian perbuat
terhadap Hwangie?” seru Jisoo panik yang baru tiba di ruang tengah bersama
Hana, Taeyoung, dan Hyerin.
Ryeowook─yang dihadiahi tatapan
menuduh semua member Suju juga Saera─menggeleng panik. “Jisoo-ya, demi
Tuhan aku tidak melakukan apa pun pada yeoja ini. Aku hanya menempelkan
tanganku untuk mengecek suhu tubuhnya karena ia terlihat pucat,” jelas Ryeowook.
Mata Jisoo membulat panik. Dia
segera menghampiri Kihwang yang sekarang sudah dibaringkan di sofa lantas
menepuk-nepuk pipi yeoja itu pelan. “Hwangie, Hwangie, bangunlah. Mianhae
aku membawamu ke sini.” ujar Jisoo takut. Sungmin segera menghampiri yeojachingunya
itu dan menepuk pundaknya pelan.
“Soo-ya, tenanglah. Apa ini
yang namanya Kihwang? Apa dia memang belum sembuh?” Sedikit-banyak Sungmin
memang tahu tentang Kihwang karena Jisoo sering bercerita padanya. Tapi karena
ia tidak pernah melihat wajah Kihwang sebelumnya, ia tidak mengenali yeoja
itu tadi hingga ia merasa penasaran seperti yang lain.
Jisoo menoleh dengan mata
berkaca-kaca, “Ne, dia Kihwang oppa. Dan aku bahkan berpikir dia
tambah parah melihat reaksinya kali ini oppa.”
“Song Jisoo, jangan membuat kami
mati penasaran. Jelaskan sesuatu tentang yeoja ini pada kami.” kata
Hyerin mutlak diamini anggukan semua orang di ruangan itu.
Saat itulah Jisoo sadar bahwa bukan
hanya ia dan Sungmin yang ada di ruangan. Jisoo memutar kepala ke belakang dan
menemukan wajah penasaran campur panik pada semua orang. Jisoo menghela napas
lamat-lamat, ketenangan yang disalurkan Sungmin lewat genggaman tangannya
membuat dia merasa paniknya perlahan menghilang.
“Yeoja ini sepupuku, Cha
Kihwang, 3 tahun menetap di Jepang setelah orangtuanya bercerai. Karena dia
sering mengalami kekerasan oleh appanya, Kihwang jadi.. phobia
pada namja.” jelas Jisoo yang berhasil membuat semua orang di ruangan
itu terlolong tak percaya.
“Kenapa kau tidak bilang dari awal?
Kalau tahu begitu aku tak akan memaksamu ke sini.” tutur Taeyoung membuat semua
orang terjaga.
Jisoo melirik Taeyoung sebal, “Siapa
yang mematikan sambungan telepon tiba-tiba?” Dibalas ringisan oleh Taeyoung.
“Kasihan sekali.” celetuk Eunhyuk
tiba-tiba, “pernah coba untuk terapi? Phobia seperti ini menyusahkan
lho. Kalau aku boleh saran, Kihwang-ssi harus didekatkan pada satu namja
selama bertahap.”
“Hyuk-ah, kau tidak salah
minum obat pagi tadi, kan?” tanya Donghae dengan kening mengerut, Eunhyuk
menggeleng polos membuat kerutan di kening Donghae makin banyak. “Lalu kenapa
kau tiba-tiba jadi pintar?”
Gelak tawa spontan memenuhi ruangan
yang tadinya sunyi itu mendengar pertanyaan Donghae─bahkan Hana yang notabene
kekasih Eunhyuk pun tak bisa menahan tawanya─menyisakan Eunhyuk yang sekarang
merengut karena pelecehan yang ditunjukkan secara terang-terangan oleh sahabat
dekatnya.
“Tapi aku setuju dengan idenya
Eunhyuk, Jisoo-ya, cobalah cari satu namja untuk terapi Kihwang.”
papar Yesung setelah gema tawa berhenti.
Jisoo tampak terdiam
menimang-nimang, “Baiklah, aku rasa bukan ide yang buruk.” Yeoja itu
lalu menoleh pada Sungmin, “menurut oppa, di antara oppadeul Suju
siapa yang pantas jadi penerapi Kihwang?”
“MWORAGO?” seru seluruh member
Suju serempak─minus Sungmin, tentu saja─begitu mendengar pertanyaan Jisoo.
Tanpa mempedulikan tatapan tajam hyung
dan dongsaengnya yang seakan-akan berkata ‘jangan pilih aku!’, Sungmin
mengamati satu persatu wajah mereka dengan pose berpikir yang berlebihan. “Chagi,
aku rasa Ryeowook.”
“MWOYA?!” Ryeowook langsung
menjerit histeris dengan suara tenornya.
“Yak! Ryeowook-ah, terimalah
kenyataan, lagipula di antara semua member kau yang paling bersifat
keibuan. Dan sebagai leader aku memerintahkanmu untuk membantu Cha Kihwang
sampai sembuh.”
“Jadi, Ryeowook oppa─”
“ANDWAE!”
***
“Kau sudah sadar?”
Kihwang yang baru saja sadar
spontan mundur teratur saat melihat Ryeowook berada dalam jarak 1 meter dari
tempatnya tidur sekarang. Yeoja itu mencengkeram erat selimut yang
menyelimuti tubuhnya ketika mundur sampai punggung Kihwang akhirnya menabrak
dipan. Keringat dingin langsung memenuhi pelipisnya dalam sekejap begitu ia
sadar hanya ada dia dan Ryeowook di kamar ini.
Ryeowook menghela napas pelan
melihat respons yang ditunjukkan Kihwang. Namja itu merutuk member
Suju yang seenak dengkul memilihnya untuk jadi bahan terapi Kihwang. Dia lantas
mengangkat wajah, ringisan langsung keluar dari bibirnya melihat Kihwang tampak
ketakutan. Tangan yeoja itu bahkan mencengkeram selimutnya dengan begitu
kuat─well, Kihwang memang dipindahkan ke kamar Yesung dan Ryeowook sebab
yeoja itu lama sekali sadarnya, dan Ryeowook, dengan sangat amat
terpaksa menemaninya akibat ide tentang ‘terapi namja’.
“Kihwang-ssi, tidak usah
takut. Aku bukan orang jahat, aku teman sepupumu.” jelas Ryeowook dengan
lembut.
Kihwang menggigit bibirnya gugup, “Ne,
aku tahu. Ryeowook-ssi, tapi mianhae, aku takut pada namja.”
Ryeowook mengangguk-angguk seraya
menebar senyum, “Ye, aku tahu kau phobia pada namja. Jisoo
memberitahuku─ani, memberitahu kami maksudku.” Mata Kihwang melebar,
kalau saja tidak ada Ryeowook di hadapannya, ia pasti sudah meloncat dari kasur
dan mencecar Jisoo dengan berbagai pertanyaan. “Dan panggil aku oppa
saja, aku juga boleh mamanggilmu Kihwang-ah, kan?” tanya Ryeowook
kemudian.
Masih tetap menggigit bibir,
Kihwang mengangguk pelan. “Ne, eum, oppa, bisakah kau keluar? Aku
ingin keluar mencari Jisoo.”
“Eum, sebenarnya Hwang-ah,
Jisoo menyuruhku agar selalu ada di dekatmu.” papar Ryeowook ragu-ragu.
Kihwang menghela napas panjang,
matanya sudah melotot maksimal hingga ia tak tahu harus memberikan reaksi
apalagi selain pasrah. “Dia ingin aku terapi denganmu, oppa?” Ryeowook
mengangguk. Kihwang mengeratkan cengkeramannya pada selimut Ryeowook dengan
pikiran kacau. Jujur, dia belum siap untuk melakukan terapi semacam ini. Waktu
di Jepang pun, eommanya sudah berulang kali menyuruh ia melakukan
terapi, tapi Kihwang selalu menolak dengan alasan yang sama. Belum siap.
Sialnya, saat ia pergi ke Korea
sang sepupu yang sangat baik hati malah membuat ia harus melakukan hal yang
paling dihindarinya.
“Hwang-ah, jangan
mencengkeram sekuat itu, tanganmu bisa sakit.” Perkataan Ryeowook membuat
Kihwang spontan melepaskan cengkeraman tangannya. Yeoja itu menunduk
memandangi tangannya yang sudah merah dengan sesekali menghela napas, Ryeowook
menelan ludah. “Dalam jarak berapa kau sanggup berhadapan dengan namja?”
Kihwang mengangkat wajah, memandang
Ryeowook dengan pandangan tak yakin. “30 senti sepertinya aku masih bisa
bertahan, tapi kalau sudah disentuh aku─”
“Arraseo.” sela Ryeowook
cepat sambil buru-buru mengambil penggaris di meja, “kita mulai dari 30 senti.”
jelas namja itu sambil mulai mendekati Kihwang dan menjadikan penggaris
sepanjang 30 senti itu sebagai pembatas jarak. Kihwang menggenggam tangannya
yang sudah sangat dingin, dia merapal doa dalam hati untuk menenangkan
jantungnya yang sedang berdebar ketakutan. “Nah, seperti inikan?” tanya
Ryeowook kemudian sambil menyingkirkan penggaris yang jadi pembatas.
Kihwang menoleh ke arah Ryeowook
lalu mengangguk ragu-ragu. “Aku bisa menahannya oppa.”
“Kalau begitu mulai sekarang kita
pelan-pelan akan memperkecil jarak─tidak ada kontak fisik, tenang saja.” seru
Ryeowook tersenyum, “ayo keluar, makanan sepertinya sudah siap.”
Kihwang mati-matian memaksa kakinya
yang lemas untuk berjalan, Ryeowook berjalan di sampingnya dengan jarak 30
senti. Lambat-laun─entah karena apa─Kihwang mulai merasakan tubuhnya merileks
walau pun Ryeowook masih berjalan di sampingnya dengan jarak sangat dekat.
***
“Kemarin sampai di 5 senti, ne?”
tanya Ryeowook dengan penggaris teracung di tangannya. Kihwang yang sedang
duduk di kursi depan Ryeowook mengangguk kecil, serius menunggu apa kira-kira
terapi selanjutnya yang akan diberikan Ryeowook. “Jadi hari ini, bagaimana
kalau mulai bersentuhan, Hwangie?” tanya Ryeowook dengan nada hati-hati.
Deg! Kihwang tergugu.
Mereka memang sudah menjalani ‘terapi
namja’ ini selama dua minggu. Demi memupus jarak 5 senti, mereka harus
menghabiskan harus menghabiskan waktu 2-3 hari karena Kihwang kadangkala
menjerit histeris meminta Ryeowook menjauh, yeoja itu juga kerap kali
menangis─mulai dari tangisan tanpa suara sampai tangisan meraung-raung─kalau
Ryeowook tak mau menjauh. Dan selama dua minggu ini, tak jarang Kihwang juga
sampai pingsan saat Ryeowook tak sengaja menyenggol atau menyentuhnya,
terhitung 5 kali sejak mereka memulai terapi aneh ini. Kihwang sepertinya
memang belum sanggup untuk tahap menyentuh.
Namun sampai sejauh ini terapi
Kihwang bisa dibilang berhasil, setidaknya meski pun masih tidak bisa lebih
dari 5 senti, Kihwang sudah tidak berdebar ketakutan lagi saat berbicara dengan
para namja, jantungnya sudah normal. Dia juga tak berkeringat,
panas-dingin, dan pucat lagi. Kabar ini tentu saja disambut gembira oleh semua
orang, Ryeowook juga tentu saja ikut gembira karena ia berhasil, rasa lelah
karena harus menyempatkan diri bertemu dengan Kihwang disela-sela jadwalnya
yang padat rasanya terbayar impas sebab hasilnya memuaskan walau pun memakan
waktu cukup lama. Mereka biasanya menghabiskan waktu terapi dengan mengobrol
panjang-lebar mengenai segala hal, sebab itulah Kihwang dan Ryeowook seperti
sudah mengenal lama. Mereka sangat dekat sekarang. Ryeowook bahkan ikut
memanggil Kihwang dengan sebutan ‘Hwangie’.
“Hwangie? Kau keberatan?”
Suara Ryeowook berhasil menyentak
Kihwang kembali ke alam sadar. Yeoja itu mengerjap, menatap Ryeowook
ragu-ragu. Entahlah, sampai saat ini Kihwang sendiri masih tak yakin untuk
tahap menyentuh.
“Eum, mollayo oppa.” jawab
Kihwang ambigu.
Ryeowook menyimpan penggaris di
tangannya di atas meja makan rumah Kihwang, dia menghela napas panjang sebelum
menyesap moccacino yang disuguhkan Kihwang padanya. Matanya tak henti
memandangi Kihwang yang juga sedang memandangnya tak enak. Ryeowook
menyingkirkan canggir moccacino dari hadapannya lantas tersenyum
menenangkan. “Hwangie, ini tes terakhir
kita lho. Aku yakin kau pasti bisa, eotteoke?”
Keraguan merayap ke hati Kihwang
membuat yeoja itu termenung beberapa saat untuk menimbang-nimbang
pilihan apa yang sebaiknya dia ambil. Mencoba menepis keraguan yang seakan
menghasutnya, Kihwang menatap senyum menenangkan Ryeowook yang selalu berhasil
menumbuhkan keyakinan di hatinya. Lambat laun, Kihwang mengangguk.
Ryeowook tak bisa menyembunyikan
senyumannya yang bertambah lebar melihat anggukan Kihwang. “Geurae.
Pegangan tangan saja, ne?” tanyanya memberikan pilihan, melihat Kihwang
kembali mengangguk, Ryeowook menyiapkan hatinya yang mulai berdebar. “Simpan
tanganmu di meja, aku akan melakukannya pelan-pelan.”
Kihwang menurut. Walau masih ada
ragu yang sedikit tertinggal, yeoja itu mengangkat tangan dan menyimpannya
di atas meja makan. Kecemasan memayungi dia saat tangan Ryeowook juga mulai
terangkat mendekati tangannya, Kihwang menutup mata erat-erat. Takut kalau dia
sampai pingsan. Saat tangan Ryeowook benar-benar sudah menyatu dengan
tangannya, Kihwang tersentak merasakan aliran listrik jutaan volt mengalir
ke darahnya, dan anehnya, yeoja itu sama sekali tidak merasa ketakutan atau
pingsan. Justru sebaliknya, genggaman Ryeowook terasa menenangkan meski pun dia
merasakan perasaan aneh menyelimuti hatinya.
Pelan, Kihwang membuka mata untuk
membuktikan bahwa dia benar-benar berhasil mengatasi phobianya. Begitu
terbuka, matanya langsung bertubrukan dengan mata Ryeowook yang juga sedang
menatapnya dalam. Keduanya diam terpaku, menikmati waktu yang bergulir dengan
saling memandang seakan sedang menyelami isi hati masing-masing. Desiran halus
merayap ke jantung mereka membuat jantung itu berdebar dengan tak normal.
Kembali Kihwang merasa aneh,
debaran yang dirasakannya untuk Ryeowook bukanlah debaran ketakutan yang biasa.
Debaran ini, bagaimana menyebutnya? Menggairahkan? Atau menyenangkan?
“Chukkae.” bisikan lirih
Ryeowook menyudahi kegiatan saling memandang keduanya. Ryeowook sedikit meremas
tangan Kihwang untuk meyakinkan, sedang Kihwang segera menundukkan wajahnya
yang serasa terbakar.
“Gomawo oppa..” balas
Kihwang tak kalah lirih, setelah merasa panas di pipinya menghilang, yeoja
itu mengangkat wajah lantas tersenyum.
Ryeowook tersenyum kecil, sebelah
tangannya yang bebas bergerak menyentuh pipi Kihwang lalu mencubitnya gemas. Namja
itu melebarkan senyumnya begitu melihat Kihwang baik-baik saja mendapat skinsip
mendadak darinya. “Lihat, kau benar-benar sembuh Hwangie. Aku turut bahagia.”
serunya antusias.
Kihwang memegang pipinya yang baru
saja dicubit Ryeowook sambil ikut tersenyum lebar. “Ne oppa! Aku tidak
pingsan! Aaa, akhirnya!” pekik yeoja itu lepas karena senang.
Ryeowook tertawa melihat ekspresi
bahagia Kihwang. “Besok malam kita makan di kafe untuk merayakannya, ne?”
pinta Ryeowook meminta persetujuan Kihwang.
Walau pun euforia kebahagiannya
terganggu karena permintaan Ryeowook, Kihwang tetap merespons dengan memberikan
anggukan.
Ryeowook kembali meremas tangan
Kihwang lembut melihat respons yeoja itu, “Untuk benar-benar memastikan,
aku boleh memelukmu, kan?” Tanpa menunggu jawaban Kihwang, Ryeowook memutari
meja makan bundar itu tanpa melepas genggaman tangannya dan langsung meraih
tubuh mungil Kihwang kedekapannya.
Ryeowook menghirup aroma rambut
Kihwang sambil merapal doa dalam hati agar jantungnya tak meloncat keluar,
sedangkan Kihwang meremas baju Ryeowook sebagai pelampiasan atas rasa aneh yang
menghimpit dadanya. Keduanya terdiam menikmati kehangatan yang menjalar ke
tubuh mereka.
Dan hati kecil Ryeowook berbisik
bahwa ia telah jatuh cinta pada yeoja didekapannya.
***
Kafe H&G malam ini terlihat
lengang, hanya ada segelintir orang yang menghabiskan malam mereka di kafe itu,
termasuk dua sejoli yang sedang tertawa bersama di meja paling sudut yang ada
di H&G. Kim Ryeowook dan Cha Kihwang.
Ryeowook ternyata benar-benar
menepati janjinya, sore tadi namja itu menjemput Kihwang di rumahnya
untuk merayakan kesembuhan Kihwang dengan makan malam. Dan di sinilah mereka
berakhir, di H&G kafe dengan dua piring bulgogi serta jus mangga
sambil membicarakan respons orang-orang terhadap berita kesembuhan Kihwang.
“...haha, Jisoo benar-benar tidak
berhenti berteriak?” tanya Ryeowook tergelak.
Kihwang di hadapannya ikut tertawa
begitu reaksi Jisoo ketika ia mengabarkan kesembuhannya terputar di memori otak.
“Ne, dia bahkan tak berhenti memelukku sambil melonjak-lonjak
kegirangan. Tsk! Yeoja itu memang berlebihan.”
“Oppa bisa membayangkannya.”
sahut Ryeowook disela-sela tawanya. “Bagaimana reaksi eommamu, Hwangie?”
tanya namja itu kemudian, penasaran tentang reaksi sosok ahjumma
selalu menyambut kedatangannya dengan ramah di rumah Kihwang.
Wajah Kihwang berbinar, dia
mengeratkan genggaman tangan keduanya sambil tak henti menebar senyum. “Eomma
benar-benar senang oppa! Beliau sampai mengucapkan syukur berkali-kali. Eomma
juga mengucapkan terimakasih padamu,” jelas yeoja itu dengan nada
riang. “Dan ah, datanglah ke rumah lagi. Eomma bilang ia ingin memasak
untukmu sebagai rasa terimakasih.” imbuh Kihwang, matanya menatap bola mata
Ryeowook dengan tatapan lembut.
Ryeowook menggaruk tengkuk dengan
sebelah tangan karena salah tingkah diberi tatapan selembut itu oleh Kihwang. “Nde,
aku akan mampir kalau ada waktu, Hwangie.”
Kihwang mengangguk seraya mengedot
jus mangga yang tinggal setengah.
“Omong-omong, bagaimana dengan appamu?
Kau sudah memaafkannya, bukan?”
“Uhuk!” Kihwang tersedak jus yang
diminumnya mendengar pertanyaan tiba-tiba dari Ryeowook, yeoja itu
melepaskan tautan tangan keduanya dengan cepat lalu melempar tatapan tajam pada
Ryeowook.
Kihwang benci. Dia sangat benci
kalau ada orang yang mengungkit-ngungkit tentang namja brengsek yang
secara biologis resmi sebagai appanya! Jika saja membunuh tak dilarang
agama dan hukum, yeoja itu pasti sudah nekat membunuh ‘appanya’
yang selama bertahun-tahun telah menyiksa eomma dan dirinya.
“Oppa! Aku sudah pernah
bilang untuk tidak mengungkit tentang dia, kan?” seru yeoja itu dengan
nada tajam.
Ryeowook mengembuskan napas berat
dari hidungnya, namja itu memandang Kihwang lembut, mencoba memberi
pengertian. “Hwangie, kau tidak bisa terus-terusan membencinya. Bagaimana pun
dia appa kandungmu.” jelas Ryeowook. Tangannya terangkat untuk mengelus
rambut Kihwang, namun yeoja itu dengan sigap menepisnya.
“Dan appa kandungku itu yang
menyebabkan aku phobia terhadap namja, oppa.” desis Kihwang,
terdengar menusuk.
Ryeowook menurunkan tangannya yang
baru saja ditepis Kihwang dan menatap yeoja itu nanar. “Terkadang
manusia bisa melakukan kesalahan, dan kita harus belajar memaafkan. Maafkan dia
Hwangie, Tuhan saja Maha Pemaaf. Mengapa kita sebagai hamba─”
“YAK! OPPA! TERUS SAJA MEMBELA
NAMJA BRENGSEK ITU! KAU MEMANG TIDAK PERNAH MENGERTI!” teriak Kihwang
berapi-api. Emosinya sudah mencapai ubun-ubun hingga ia tidak bisa
mengendalikannya lagi. Kihwang bahkan tak mempedulikan tatapan seluruh
pengunjung kafe padanya. Dia sudah muak. Benar-benar muak karena Ryeowook
menyuruhnya memaafkan namja itu.
Ryeowook terperanjat mendengar
Kihwang tiba-tiba saja berteriak padanya. Namja itu bangkit mencoba
meraih tangan Kihwang untuk ia tenangkan, namun lagi-lagi hanya sebuah tepisan
yang diterimanya. Ryeowook menggeleng dengan wajah memohon. “Hwangie,
tenanglah. Duduk dulu, oppa bukan bermaksud membela appamu, oppa
hanya─”
“Kau membelanya oppa.” sela
Kihwang dengan suara yang mulai bergetar, matanya berkaca-kaca, bisa dipastikan
dalam sekali kedip air mata akan mengucur dari sana. “Ah, gwaenchana.
Kau memang bukan siapa-siapaku, pantas saja kau tidak mengerti bagaimana
kondisiku yang sebenarnya.” tandas Kihwang tiba-tiba sambil menyeka air mata
yang mulai bergulir dari matanya, yeoja itu lantas berlalu meninggalkan
Ryeowook yang berdiri mematung.
Begitu duduk di dalam taksi,
Kihwang langsung menangis tanpa suara saat ingatannya berputar antara appanya
dan juga Ryeowook yang jelas-jelas membela appanya. Kihwang merasakan
perasaannya hancur. Sangat sakit mendengar pembelaan Ryeowook untuk orang yang
paling dibencinya. Dadanya sesak hingga ia merasakan kesulitan bernapas.
Sedangkan di kafe, Ryeowook
merasakan jantungnya langsung mencelos mendengar pernyataan tentang ‘dia bukan
siapa-siapanya Kihwang’ dari mulut yeoja itu langsung. Ryeowook terduduk
di bangku kafe dengan tatapan shock. Iya, Kihwang benar, dia memang
bukan siapa-siapanya yeoja itu, tidak seharusnya dia sok tahu dengan
menyuruh Kihwang memaafkan appanya.
Ryeowook menenggelamkan wajahnya di
meja begitu sadar dia memang tak terikat hubungan apa pun dengan Kihwang.
Tubuhnya terasa lemas, bahkan kalau saja dia dibanting saat ini, Ryeowook pasti
tidak akan merasakan sakitnya. Karena sakit yang sesungguhnya telah ia rasakan
di dalam hatinya. Tepat di seonggok daging yang selama ini dia jaga baik-baik
agar tak hancur.
Tapi malam ini, sekeping hati yang
telah ia jaga baik-baik selama hidupnya hancur hingga menjadi debu. Kim
Ryeowook... patah hati.
***
“Sampai jumpa besok malam di acara
yang sama, annyeong.”
Sungmin melepaskan earphone
yang dipakainya selama siaran radio lantas mengempaskan punggungnya ke sandaran
kursi. Namja itu lalu memutar kepala ke samping untuk melihat Ryeowook,
malam ini namja itu terlihat lebih banyak diam dan murung. Entah kenapa.
“Ryeowook-ah, waeyo?
Kau terlihat murung hari ini.” celetuk Sungmin membuat Ryeowook menoleh.
Wajah sendunya terlihat begitu
menyedihkan. “Aniyo hyung, gwaenchanayo.” tukasnya lirih.
Sungmin mencibir, “Kihwang, ne?
Ada apa dengannya?”
Mata Ryeowook membulat mendengar
tebakan Sungmin, bagaimana hyungnya ini tahu? “Hyung, darimana hyung
tahu aku ada masalah dengan Kihwang?”
Sungmin mengetuk dahi Ryeowook
pelan, “Di sini tertulis dengan jelas. Jadi ada masalah apa?”
Ryeowook menghela napas panjang
lalu menyingkirkan tangan Sungmin dari dahinya, “Saat merayakan kesembuhannya
kemarin, kami bertengkar hyung. Aku membahas appanya dan meminta
Kihwang agar memaafkannya, tapi Kihwang malah menuduhku membela appanya.”
tutur namja itu panjang lebar, wajahnya terlihat merana. Jelas sekali
kalau bertengkar dengan Kihwang adalah hal yang paling tak diinginkan terjadi
dalam hidup Ryeowook.
“OMO! Kau membahas appanya?
Ya Tuhan, dia sangat membenci appanya Ryeowook-ah. Kau harus
meminta maaf.” sahut Sungmin dengan mata membulat.
Ryeowook meringis. “Niatku saat itu
kan baik hyung,” belanya, Ryeowook kemudian meloloskan udara dari dalam
mulutnya sebelum kembali bersuara. “Apa dia akan memaafkanku, hyung?”
Sungmin mengedikkan bahu, “Coba
saja dulu. Kalau kau beruntung Kihwang akan memaafkanmu.”
Ryeowook menggigit bibir sebelum
mengangguk lemah. “Arraseo, aku akan minta maaf sekarang.” katanya
sambil mengambil jaket dan melenggang dari hadapan Sungmin.
Sungmin memandang Ryeowook horor. “Kim
Ryeowook! Sekarang sudah jam 1 pagi!” Yang sialnya sama sekali tak ditanggapi
oleh Ryeowook.
***
Cha Kihwang berguling di ranjangnya
berulang kali. Matanya terbuka dan menutup dengan gelisah. Setelah bergelung
dalam ketidaknyamanannya, Kihwang akhirnya terduduk di pinggir ranjang sambil
mengembuskan napas panjang dari bibirnya.
Satu malam sudah berlalu sejak
pertengkarannya dengan Ryeowook, tapi otaknya tak pernah berhenti memikirkan namja
itu. Saat dia akan menutup mata atau melakukan apa pun, ekspresi shock
Ryeowook karena dibentak olehnya selalu terbayang. Ada sesak yang menyelip ke
dalam hati saat bayangan itu memenuhi kepalanya. Menyebabkan matanya memanas
tanpa sebab hingga berakhir dengan lelehan air mata di pipinya.
Sebelumnya Kihwang tak pernah
semarah ini pada siapa pun yang mengungkit-ungkit soal appanya. Yeoja
itu selalu bisa mengatur emosinya. Namun saat Ryeowook yang mengungkit,
entahlah, dia hanya merasa sangat kecewa karena Ryeowook ternyata tak
memahaminya hingga emosinya meledak begitu saja.
Cukup lama bergelung dalam
ketidakpastian di dalam pikirannya, Kihwang akhirnya terjaga. Yeoja itu
melirik jam di nakas yang menunjukkan pukul setengah dua pagi sebelum akhirnya
memutuskan untuk ke dapur. Membuat secangkir latte mungkin tidak ada
salahnya, Kihwang tahu dia takkan bisa tidur─yah seperti malam kemarin setelah
pertengkarannya dengan Ryeowook.
“Aigo, eomma menginap di
rumah Jisoo. Aku sendiri di sini.” keluh yeoja itu saat mengaduk latte
buatannya di dapur.
Kihwang membawa cangkir lattenya
menaiki tangga saat bel rumahnya berbunyi. Kihwang menghentikan langkahnya
lantas mengerutuk siapa pun dalam hati yang dini hari begini berkunjung ke
rumahnya. Yeoja itu menyimpan lattenya di meja ruang tamu lalu
mengayunkan kaki menuju pintu depan.
Begitu pintu terbuka, Kihwang yang
baru saja akan menyemburkan ceramah tentang tidak sopannya bertamu malam-malam terpaksa
menelan kembali semua kata-kta ceramah yang sudah tersusun di otaknya saat
melihat bahwa Ryeowooklah yang bertamu. Kihwang membelalakkan mata sebelum
menggerakkan pintu agar menutup kembali, sayangnya Ryeowook lebih cepat menahan
gerakan menutup pintu itu dengan kakinya membuat Kihwang mendelik malas.
“Waeyo? Kalau tidak penting
aku tidak bisa menerimamu.” kata Kihwang dengan nada dingin.
Ryeowook menggaruk tengkuknya
mendengar nada dingin Kihwang yang terdengar jelas saat yeoja itu
berucap, “Hwangie kita perlu bicara. Biarkan aku masuk.”
Kihwang memaki jantungnya yang mulai
berdebar heboh karena kedatangan namja di hadapannya sebelum
mengembuskan napas dan membiarkan pintu terbuka. “Lima menit, dan kau harus
segera pulang.” jelasnya memberi tenggat waktu seraya beranjak ke dapur untuk
membuatkan secangkir latte.
Kihwang menyimpan latte
untuk Ryeowook di hadapan namja itu sebelum dia sendiri duduk di sofa
yang berseberangan dengannya sambil menyesap lattenya sesekali. “5 menit
dimulai dari sekarang.” seru yeoja yang mengenakan piama doraemon itu
datar.
Ryeowook menghela napas panjang, latte
buatan Kihwang yang tampak menggoda pun terpaksa ia abaikan karena beban di
hatinya yang masih menumpuk. “Hwangie, mianhae. Aku mungkin tak mengerti
mengenai keadaanmu, tapi aku hanya tidak mau kau menjadi manusia pendendam.
Hanya itu.”
“Ooh, lalu?” tanya yeoja itu
kemudian berpura-pura tak acuh, padahal Kihwang tak bisa menahan kebahagian
yang membuncah di dadanya karena Ryeowook rela ke rumahnya hanya untuk minta
maaf dini hari seperti ini─meski Kihwang tahu bahwa namja itu pasti lelah
sekali dengan jadwalnya yang sangat padat.
Ryeowook tergugu mendengar jawaban
Kihwang, padahal ia sudah merelakan waktu istirahatnya yang sangat sedikit demi
yeoja ini. Tapi respons yang diterimanya? Astaga, sebegitu bencinyakah
Kihwang padanya sekarang? Hanya karena malam itu? “Hwangie, jeongmal
mianhaeyo. Kau tidak mau memaafkanku?” tanya Ryeowook sambil mendesah
pasrah.
Kihwang menggigit bibir, lattenya
dia simpan di tempat semula. Meski pun dia sangat ingin memaafkan Ryeowook,
tapi kata-katanya malam itu selalu berhasil membuat hati Kihwang mengeras. Dia
terlanjur sakit hati dengan semua kata-kata namja itu.
Melihat Kihwang yang termangu atas
pernyataan maafnya, Ryeowook meloloskan embusan napas pasrah dari bibirnya
lantas berdiri.
“Geurae, aku tak memaksamu
untuk memaafkanku. Tapi aku benar-benar minta maaf atas malam itu Hwangie, aku
benar-benar tak bermaksud mengungkit luka lamamu. Aku pulang.”
Saat Ryeowook bersiap untuk
beranjak, Kihwang terjaga. Matanya menatap Ryeowook dengan tatapan sulit di
artikan. Meski pun masih ada keraguan yang menyelinap memasuki ruang di
hatinya, yeoja itu tetap tak bisa menahan diri untuk tidak bersuara.
“Jadi hanya seperti itu
perjuanganmu oppa?” tanyanya lirih.
Ryeowook mematung, berusaha
meyakinkan dirinya sendiri bahwa perkataan Kihwang barusan bukanlah ilusi
semata. “Hwangie, kau mau memaafkan oppa?” tutur Ryeowook kemudian,
kakinya dengan cepat melangkah mendekati Kihwang dan berlutut di hadapan yeoja
itu. Mata Ryeowook berbinar, ada harapan yang sangat kentara terlukis di sana.
Kihwang memandang ke arah lain, tak
ingin langsung luluh karena tatapan Ryeowook yang begitu lembut. “Mollayo,
aku masih sakit hati.” balas yeoja itu membuat senyum Ryeowook meluntur.
Kihwang tersentak saat Ryeowook
tiba-tiba saja menggenggam tangannya, yeoja itu refleks memandang ke
arah Ryeowook dan dia langsung merasa tenggelam dalam kedua manik Ryeowook yang
seakan menyedotnya ke dalam.
“Dengar. Aku tidak akan
mengulanginya, jadi maafkan aku, ne?” pinta Ryeowook setengah memaksa.
Kihwang memicingkan mata dengan
bibir yang mengulas senyuman. “Kau meminta atau memaksa, oppa?”
Ryeowook tak bisa menahan bibirnya
untuk tidak tertarik ke atas melihat Kihwang tersenyum. “Apa pun, asal kau mau
memaafkanku.” sahutnya.
Kihwang melepaskan genggaman tangan
Ryeowook seraya memasang pose berpikir─yang membuat Ryeowook gemas ingin
mencubit pipinya. “Jangan mengulanginya lagi, ne?” kata yeoja itu
memberi syarat.
Ryeowook tak perlu berpikir dua
kali untuk menganggukkan kepalanya dan membawa Kihwang ke dalam pelukan hangat.
***
“Gomawo lattenya, maaf oppa
berkunjung malam-malam, Hwangie.” pamit Ryeowook di depan pintu masuk sambil
tersenyum hangat.
Kihwang mengangguk dengan pipi
merona melihat senyum Ryeowook. “Gwaenchana. Hati-hati di jalan oppa.”
Ryeowook mengangguk. Setelah
mengelus pipi Kihwang sebentar, namja itu membalikkan tubuhnya dan mulai
melangkah menuju mobil.
Tangan Kihwang yang masih memegang
kenop pintu dengan erat beralih memegang dada kirinya. Senyum teretas di
bibirnya saat yeoja itu merasakan debaran jantungnya yang menggila. Kihwang
mungkin masih awam mengenai perasaan yang tengah dirasakannya untuk Ryeowook,
tapi ia tahu bahwa perasaan ini bukanlah rasa takut karena phobianya
pada namja─Kihwang yakin seratus persen ia sudah sembuh. Dan satu-satunya
option yang tersisa untuk menjelaskan debaran ini adalah, Kihwang telah
terperangkap dalam pesona Ryeowook. Namja itu entah sejak kapan sudah
memenuhi sebagian besar tempat di hatinya. Namanya kini telah terpahat sempurna
di hati Kihwang.
“Eum, Hwangie?”
Kihwang yang masih memegang dada
kirinya sambil melamun sontak terenyak kaget begitu mendengar Ryeowook
memanggilnya, yeoja itu lebih kaget lagi saat mendapati Ryeowook sudah
ada tepat di hadapannya. Sangat dekat hingga Kihwang bisa merasakan napas
teratur namja itu membentur wajahnya.
“N.. ne oppa?” sahut Kihwang
gugup, yeoja itu memundurkan wajah agar jarak keduanya tidak terlalu
dekat. Darah mengalir lebih banyak ke kepalanya hingga Kihwang bisa merasakan
pipinya memerah.
Ryeowook terkekeh kecil melihat
rona merah yang ada di pipi Kihwang. Dia tadi baru saja ingin membuka pintu
mobil saat dia sadar bahwa harus ada satu hal yang diselesaikannya hari ini
juga. Perasaannya.
Ryeowook menahan tubuh Kihwang yang
akan mundur lagi dengan tangannya lantas namja itu memajukan kembali
wajahnya hingga hanya sedikit jarak yang memisahkan keduanya. Ryeowook
memiringkan kepalanya sambil menatap mata Kihwang lekat-lekat sedangkan yeoja
itu menahan napas melihat tatapan Ryeowook.
Tersenyum, Ryeowook mulai memupus
kesenjangan di antara keduanya, Kihwang menuruti intuisinya untuk menutup mata hingga
sedetik kemudian dia bisa merasakan sensasi lembut yang luar biasa di bibirnya.
Hanya beberapa detik karena
Ryeowook langsung melepas ciuman mereka. Namja itu menyunggingkan senyum
lembut di bibirnya. “Saranghae..”
Kihwang tersenyum malu-malu, “Nado saranghae oppa.”
END
mianhae mianhae mianhae *bow* ini os kayaknya maksa bangeeeeeeet yah T.T
ryeowook oppa, hwangie mianhae *nangis dipojokan*
Yak ending os ini diakhiri dengan adegan kissing lagi *bener-bener ga kreatif lo nis/ Berisik!!!*
happy reading os absurd ini aja yah, seabsurd-absurdnya ff gue, komen kalian tetep di tunggu..
Dan aaa Hyukjae makin ganteng, SM Town kemarin dia ganteng banget, pengen karungin bawa ke rumah deeeh haha *melenceng woooy/ EGP!*
terus terus... *berisik* keluar aja deh ya, pokoknya klo ada kritik jgn segan-segan krn itu membangun lhoo buat daku :D

Tidak ada komentar:
Posting Komentar