Entri yang Diunggulkan

Series Recommendations! 🎥

Hi, happy Wednesday all! So decided to post my own personal series. I usually dont like watching movie, so because i watched those series ...

Selasa, 21 Agustus 2012

That’s All About Us (series six: Kim Ryeowook)


That’s All About Us (series six: Kim Ryeowook)


 Namjaphobia

 
Seorang yeoja keluar dari pesawat sambil menenteng koper besar di tangannya. Yeoja yang mengenakan jins panjang, hoodie bergambar animasi doraemon, syal berwarna biru lembut, juga kacamata hitam yang membingkai mata sipitnya yang jernih itu melangkahkan kakinya menuju lorong bandara.

Begitu sampai di lorong bandara, yeoja itu memanjangkan lehernya guna mencari seseorang. Dengusan pelan keluar dari bibirnya saat sadar bahwa orang yang dicari tak ada.

Mianhae agasshi, apa Anda mencari seseorang?”

Yeoja itu sontak mundur beberapa langkah begitu seorang namja paruh baya bertanya dalam jarak yang sangat dekat dengannya, keringat sebesar biji jagung mulai bermunculan dari kening yeoja itu saat sang yeoja menggelengkan kepalanya kuat-kuat.

Gwaenchanayo, ahjussi. Nae chingu sedang di jalan.” jawab yeoja itu sambil tetap melangkah mundur lantas menarik koper dan berjalan keluar bandara. Setibanya di luar bandara si sosok yeoja segera mengelus dadanya yang berdebar tak beraturan akibat kejadian tadi. Setelah agak tenang, dia segera mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi sepupunya yang nampak lupa menjemput dia di bandara.

Yeoboseyo Jisoo-ya? Neo eodiga?” tanya yeoja itu lirih.

Terdengar suara gaduh dari seberang sana disusul pekikan. “OMO! CHA KIHWANG! AKU LUPA MENJEMPUTMU. TUNGGU AKU, JANGAN KEMANA-MANA!” Dan telepon terputus.

Kihwang segera menjauhkan ponsel dari telinganya mendengar pekikan Jisoo. Sambil mengusap-ngusap telinga yang terasa berdengung, Kihwang menggerutu dengan nada sebal. “Aish, kapan yeoja itu akan berubah?”

Kihwang berjalan menuju bangku panjang terdekat yang ada di depan bandara dan duduk di sana.

30 menit menunggu dalam kekesalan, Kihwang akhirnya menghela napas lega saat akhirnya mobil Jisoo berhenti tepat di hadapannya. Tanpa mengucapkan salam karena kesal yang sudah mengakar, Kihwang membuka pintu penumpang lantas menyimpan kopernya di sana sebelum dia mengempaskan pantatnya di sebelah kursi kemudi. Jisoo nyengir lebar menyambut wajah masam Kihwang.

“Hwangie, jangan marah ne?” rengek Jisoo sambil menarik-narik ujung hoodie yang dikenakan Kihwang.

Kihwang melirik Jisoo lewat ekor matanya, “Lupa padaku, eo?” katanya menyindir.

Jisoo meringis, ekspresinya tambah memelas melihat sepupu jauhnya merajuk seperti ini. “Mianhae Hwangie, aku benar-benar lupa.”

Wajah Kihwang yang sedari tadi datar akhirnya berekspresi juga, yeoja itu terkikik kecil sembari menggerakkan tangannya untuk memeluk tubuh Jisoo.

Gwaenchana Jisoo-ya, aku hanya bercanda.” seloroh Kihwang membuat Jisoo mendengus pelan, tapi yeoja itu tak lama membalas pelukan Kihwang dengan erat. “Bogoshippoyo..” imbuh Kihwang setelah melepaskan pelukannya.

Nado.” balas Jisoo lalu mulai menyalakan mesin mobil, “bagaimana Jepang? Aku lihat 3 tahun di sana tak membuatmu berubah.”

Kihwang menyandarkan punggung ke sandaran jok, matanya mulai terpejam. Di pesawat dia memang sudah tidur, namun tetap saja matanya memberat. Jetlag. “Tidak begitu buruk, hanya saja aku rindu Korea. Dan apa maksudmu aku tidak berubah?”

Pertanyaan terakhir yang dilempar Kihwang membuat Jisoo terkekeh. “Aniyo. Kau sensitif sekali dengan candaanku.”

Kihwang membuka sedikit matanya untuk melihat Jisoo, “Kau masih bersahabat dengan Sungmin oppa?” tanya yeoja itu tiba-tiba.

Pipi Jisoo spontan bersemu merah, “Aniyo!” tukasnya dengan warna merah yang semakin menyala, Kihwang tersenyum kecil menyadari apa arti dari reaksi Jisoo.

Nde, kalian sudah berganti status menjadi sepasang kekasih. Jinja?”

“Aish! Berhenti menggodaku, Cha Kihwang! Tidurlah! Kau kelihatan lelah.” suruh Jisoo sebal.

Kihwang melepaskan tawa kecil selama beberapa saat, Jisoo terlihat sangat lucu kalau sedang tersipu seperti ini. Namun tak lama, kantuk yang hebat menyerang matanya hingga Kihwang pelan-pelan terlelap. Jisoo tersenyum kecil melihat wajah polos Kihwang yang sedang terlelap.

Mobil yang dikendarai Jisoo melaju membelah jalanan kota Seoul dengan kecepatan rata-rata diiringi senandung merdu lagu ‘From U’. Bibir yeoja itu bergerak mengikuti alunan nada dengan mata tetap terfokus ke depan. Deringan yang berasal dari ponselnya membuat Jisoo menghentikan gerakan bibirnya, tangan yeoja itu merayap ke dashboard mobil untuk mengambil ponselnya.

Yeoboseyo Young-ah, waeyo?” sapa Jisoo langsung begitu tahu bahwa Taeyoung yang meneleponnya. “Ke dorm Suju? Sekarang?” tanyanya dengan nada mengeluh, “tapi aku sedang bersama sepupuku, eotteoke?” imbuh Jisoo sambil memberhentikan mobil di pinggir jalan karena percakapan di telepon ini mengganggu konsentrasinya. “MWOYA?! Bawa ke dorm? Young jangan bercanda, Hwangie itu─”

Tuuutt... tuuutt...

“Astaga! Kenapa dia selalu bersikap seperti ini?” kesal Jisoo yang sambungan teleponnya di putus secara sepihak oleh Taeyoung. Jisoo mendesah sebentar kemudian mengalihkan pandangannya pada Kihwang yang masih tertidur lelap, setelah menimbang-nimbang, yeoja itu akhirnya memutuskan untuk pergi ke dorm Suju dengan membawa Kihwang. “Hwangie, mianhae, tapi sepertinya kau harus ikut.”

***

Cha Kihwang mengerjap-ngerjapkan mata beberapa kali guna menyesuaikan cahaya yang masuk ke retina matanya, setelah bayangan perlahan-lahan menjelas, Kihwang mengalihkan tatapannya pada Jisoo yang masih mengguncang-nguncang lengannya, yeoja itu menguap sekali sambil membenarkan posisi duduknya.

“Kita sudah sampai?” tanya yeoja itu sambil mengucek matanya agar tidak mengantuk lagi.

Jisoo menggigit bibir sebelum menggeleng, “Kita ke dorm Suju dulu, ne, Hwangie?” pintanya setengah tak yakin.

Mata Kihwang membelalak sempurna mendengar permintaan Jisoo. Wajahnya langsung tampak pias. “Maksudmu Super Junior? Boybandnya Sungmin oppa? 13 namja─oke, sekarang hanya 10 namja?” repet Kihwang beruntun, nada suaranya bergetar, terdengar takut.

Ne, Hwangie.”

“Tapi aku─”

“Yak! Song Jisoo! Keluar dari mobil!” teriakan seorang yeoja menginterupsi perkataan Kihwang. Kedua yeoja yang masih ada di dalam mobil sontak melempar pandangan keluar jendela. Kihwang mengernyit tak heran melihat yeoja itu─dia tak kenal─sedangkan Jisoo malah memelototi yeoja itu dengan sepenuh hati.

“Yak! Panggil aku eonni, babo!” pekik Jisoo kesal sambil keluar dari mobil.

Saera─yeoja yang tadi berteriak─menunjukkan cengiran lima jarinya, kemudian dagunya menunjuk ke arah mobil, “yeoja itu siapa, eonni?” tanyanya dengan nada dimanis-maniskan.

“Cha Kihwang, sepupuku.” jawab Jisoo singkat, “Hwangie, ayo masuk. Kita bisa membicarakannya di dalam.”

Mata Kihwang tambah membelalak panik, “Jisoo-ya, aku tunggu di sini saja, ne?”

“Aish. Eonni kalau kau di sini nanti kau diganggu para trainee genit!  Ayo masuk.” sela Saera tiba-tiba sambil menarik lengan Kihwang keluar dari mobil. Mata Kihwang seolah hendak meloncat keluar begitu ia mulai memasuki gedung SMent dengan diseret Saera. Kihwang melemparkan tatapan memohon pada Jisoo agar yeoja itu menghentikan Saera.

Jisoo yang bingung ditatap seperti itu oleh Kihwang hanya bisa membalas dengan tatapan ‘turuti saja dulu, Saera menyeramkan’.

Mengetahui Jisoo sama sekali tak bisa membantu, Kihwang menelan ludahnya yang terasa pahit berulang kali dengan gugup. Keringat makin banyak mengucur dari pelipisnya, wajah yeoja itu juga semakin pias setiap langkahnya, dan tubuhnya mulai bergetar ketika mereka sudah sampai di depan pintu masuk dorm.

“Yang lain juga benar sedang ada di sini, Saera-ya?” tanya Jisoo sambil merangkul pundak Kihwang. Sekadar menenangkan.

Saera mengangguk, “Ne, oppadeul baru pulang SM Town, mereka tampaknya lelah jadi para eonnideul berinisiatif untuk memasak.”

Tak lama pintu dorm terbuka menampilkan sosok seorang yeoja dengan apron di dadanya. “Annyeong Saera-ya, Jisoo-ya, eum─”

“Kihwang eonni, Cha Kihwang..” sambar Jisoo cepat begitu sadar bahwa Hana ingin menyapa Kihwang tetapi tidak mengetahui namanya.

“Ah, nde. Kihwang-ah, ayo masuk.” tutur Hana tersenyum ramah lalu membukakan pintu lebih lebar.

Kihwang seolah mati rasa saat matanya menangkap beberapa namja yang sedang bersantai di ruang tengah. Jantungnya berdebar sangat cepat seolah ia baru saja lari marathon. Dan sekarang tangannya bahkan sudah sedingin es, membuat Saera keheranan.

“Yak! Kau kenapa eonni? Terpesona karena bisa bertemu oppadeul Suju?”

Sreet! Perkataan Saera yang lebih terdengar seperti teriakan itu membuat para member Suju yang sedang sibuk sendiri-sendiri serentak menoleh ke arah Kihwang. Semuanya menyambut Kihwang dengan senyuman walau pun ekspresi penasaran sangat terlihat jelas di wajah-wajah lelah mereka.

“Siapa dia, Saera-ya?” tanya Leeteuk, leader Super Junior itu berdiri untuk menyambut tamunya, begitu pun para member lain hingga dalam sekejap semua member telah mengerubungi Kihwang dan Saera─Jisoo dan Hana langsung ke dapur jadi mereka tidak ada di dekat Kihwang dan Saera.

Eonni, perkenalkan dirimu.” suruh Saera sambil menoel bahu Kihwang yang tampak bergeming.

Agasshi, kau pucat. Apakah kau baik-baik saja?” tanya Ryeowook ramah, namja itu bergerak maju hingga jaraknya dengan Kihwang hanya terpaut 50 senti dan langsung menempelkan tangannya di dahi Kihwang.

Kihwang melotot, dalam hitungan detik suaranya melengking mengisi keheningan di dorm. “Aaa...”

Bruk! Semua orang di ruangan itu menganga menyaksikan Kihwang roboh di hadapan mereka, beruntung Kangin sempat menahan tubuh yeoja itu sebelum menyentuh lantai.

“Yak! Apa yang kalian perbuat terhadap Hwangie?” seru Jisoo panik yang baru tiba di ruang tengah bersama Hana, Taeyoung, dan Hyerin.

Ryeowook─yang dihadiahi tatapan menuduh semua member Suju juga Saera─menggeleng panik. “Jisoo-ya, demi Tuhan aku tidak melakukan apa pun pada yeoja ini. Aku hanya menempelkan tanganku untuk mengecek suhu tubuhnya karena ia terlihat pucat,” jelas Ryeowook.

Mata Jisoo membulat panik. Dia segera menghampiri Kihwang yang sekarang sudah dibaringkan di sofa lantas menepuk-nepuk pipi yeoja itu pelan. “Hwangie, Hwangie, bangunlah. Mianhae aku membawamu ke sini.” ujar Jisoo takut. Sungmin segera menghampiri yeojachingunya itu dan menepuk pundaknya pelan.

“Soo-ya, tenanglah. Apa ini yang namanya Kihwang? Apa dia memang belum sembuh?” Sedikit-banyak Sungmin memang tahu tentang Kihwang karena Jisoo sering bercerita padanya. Tapi karena ia tidak pernah melihat wajah Kihwang sebelumnya, ia tidak mengenali yeoja itu tadi hingga ia merasa penasaran seperti yang lain.

Jisoo menoleh dengan mata berkaca-kaca, “Ne, dia Kihwang oppa. Dan aku bahkan berpikir dia tambah parah melihat reaksinya kali ini oppa.”

“Song Jisoo, jangan membuat kami mati penasaran. Jelaskan sesuatu tentang yeoja ini pada kami.” kata Hyerin mutlak diamini anggukan semua orang di ruangan itu.

Saat itulah Jisoo sadar bahwa bukan hanya ia dan Sungmin yang ada di ruangan. Jisoo memutar kepala ke belakang dan menemukan wajah penasaran campur panik pada semua orang. Jisoo menghela napas lamat-lamat, ketenangan yang disalurkan Sungmin lewat genggaman tangannya membuat dia merasa paniknya perlahan menghilang.

Yeoja ini sepupuku, Cha Kihwang, 3 tahun menetap di Jepang setelah orangtuanya bercerai. Karena dia sering mengalami kekerasan oleh appanya, Kihwang jadi.. phobia pada namja.” jelas Jisoo yang berhasil membuat semua orang di ruangan itu terlolong tak percaya.

“Kenapa kau tidak bilang dari awal? Kalau tahu begitu aku tak akan memaksamu ke sini.” tutur Taeyoung membuat semua orang terjaga.

Jisoo melirik Taeyoung sebal, “Siapa yang mematikan sambungan telepon tiba-tiba?” Dibalas ringisan oleh Taeyoung.

“Kasihan sekali.” celetuk Eunhyuk tiba-tiba, “pernah coba untuk terapi? Phobia seperti ini menyusahkan lho. Kalau aku boleh saran, Kihwang-ssi harus didekatkan pada satu namja selama bertahap.”

“Hyuk-ah, kau tidak salah minum obat pagi tadi, kan?” tanya Donghae dengan kening mengerut, Eunhyuk menggeleng polos membuat kerutan di kening Donghae makin banyak. “Lalu kenapa kau tiba-tiba jadi pintar?”

Gelak tawa spontan memenuhi ruangan yang tadinya sunyi itu mendengar pertanyaan Donghae─bahkan Hana yang notabene kekasih Eunhyuk pun tak bisa menahan tawanya─menyisakan Eunhyuk yang sekarang merengut karena pelecehan yang ditunjukkan secara terang-terangan oleh sahabat dekatnya.

“Tapi aku setuju dengan idenya Eunhyuk, Jisoo-ya, cobalah cari satu namja untuk terapi Kihwang.” papar Yesung setelah gema tawa berhenti.

Jisoo tampak terdiam menimang-nimang, “Baiklah, aku rasa bukan ide yang buruk.” Yeoja itu lalu menoleh pada Sungmin, “menurut oppa, di antara oppadeul Suju siapa yang pantas jadi penerapi Kihwang?”

MWORAGO?” seru seluruh member Suju serempak─minus Sungmin, tentu saja─begitu mendengar pertanyaan Jisoo.

Tanpa mempedulikan tatapan tajam hyung dan dongsaengnya yang seakan-akan berkata ‘jangan pilih aku!’, Sungmin mengamati satu persatu wajah mereka dengan pose berpikir yang berlebihan. “Chagi, aku rasa Ryeowook.”

MWOYA?!” Ryeowook langsung menjerit histeris dengan suara tenornya.

“Yak! Ryeowook-ah, terimalah kenyataan, lagipula di antara semua member kau yang paling bersifat keibuan. Dan sebagai leader aku memerintahkanmu untuk membantu Cha Kihwang sampai sembuh.”

“Jadi, Ryeowook oppa─”
ANDWAE!”

***

“Kau sudah sadar?”

Kihwang yang baru saja sadar spontan mundur teratur saat melihat Ryeowook berada dalam jarak 1 meter dari tempatnya tidur sekarang. Yeoja itu mencengkeram erat selimut yang menyelimuti tubuhnya ketika mundur sampai punggung Kihwang akhirnya menabrak dipan. Keringat dingin langsung memenuhi pelipisnya dalam sekejap begitu ia sadar hanya ada dia dan Ryeowook di kamar ini.

Ryeowook menghela napas pelan melihat respons yang ditunjukkan Kihwang. Namja itu merutuk member Suju yang seenak dengkul memilihnya untuk jadi bahan terapi Kihwang. Dia lantas mengangkat wajah, ringisan langsung keluar dari bibirnya melihat Kihwang tampak ketakutan. Tangan yeoja itu bahkan mencengkeram selimutnya dengan begitu kuat─well, Kihwang memang dipindahkan ke kamar Yesung dan Ryeowook sebab yeoja itu lama sekali sadarnya, dan Ryeowook, dengan sangat amat terpaksa menemaninya akibat ide tentang ‘terapi namja’.

“Kihwang-ssi, tidak usah takut. Aku bukan orang jahat, aku teman sepupumu.” jelas Ryeowook dengan lembut.

Kihwang menggigit bibirnya gugup, “Ne, aku tahu. Ryeowook-ssi, tapi mianhae, aku takut pada namja.”

Ryeowook mengangguk-angguk seraya menebar senyum, “Ye, aku tahu kau phobia pada namja. Jisoo memberitahuku─ani, memberitahu kami maksudku.” Mata Kihwang melebar, kalau saja tidak ada Ryeowook di hadapannya, ia pasti sudah meloncat dari kasur dan mencecar Jisoo dengan berbagai pertanyaan. “Dan panggil aku oppa saja, aku juga boleh mamanggilmu Kihwang-ah, kan?” tanya Ryeowook kemudian.

Masih tetap menggigit bibir, Kihwang mengangguk pelan. “Ne, eum, oppa, bisakah kau keluar? Aku ingin keluar mencari Jisoo.”

“Eum, sebenarnya Hwang-ah, Jisoo menyuruhku agar selalu ada di dekatmu.” papar Ryeowook ragu-ragu.

Kihwang menghela napas panjang, matanya sudah melotot maksimal hingga ia tak tahu harus memberikan reaksi apalagi selain pasrah. “Dia ingin aku terapi denganmu, oppa?” Ryeowook mengangguk. Kihwang mengeratkan cengkeramannya pada selimut Ryeowook dengan pikiran kacau. Jujur, dia belum siap untuk melakukan terapi semacam ini. Waktu di Jepang pun, eommanya sudah berulang kali menyuruh ia melakukan terapi, tapi Kihwang selalu menolak dengan alasan yang sama. Belum siap.

Sialnya, saat ia pergi ke Korea sang sepupu yang sangat baik hati malah membuat ia harus melakukan hal yang paling dihindarinya.

“Hwang-ah, jangan mencengkeram sekuat itu, tanganmu bisa sakit.” Perkataan Ryeowook membuat Kihwang spontan melepaskan cengkeraman tangannya. Yeoja itu menunduk memandangi tangannya yang sudah merah dengan sesekali menghela napas, Ryeowook menelan ludah. “Dalam jarak berapa kau sanggup berhadapan dengan namja?”

Kihwang mengangkat wajah, memandang Ryeowook dengan pandangan tak yakin. “30 senti sepertinya aku masih bisa bertahan, tapi kalau sudah disentuh aku─”

Arraseo.” sela Ryeowook cepat sambil buru-buru mengambil penggaris di meja, “kita mulai dari 30 senti.” jelas namja itu sambil mulai mendekati Kihwang dan menjadikan penggaris sepanjang 30 senti itu sebagai pembatas jarak. Kihwang menggenggam tangannya yang sudah sangat dingin, dia merapal doa dalam hati untuk menenangkan jantungnya yang sedang berdebar ketakutan. “Nah, seperti inikan?” tanya Ryeowook kemudian sambil menyingkirkan penggaris yang jadi pembatas.

Kihwang menoleh ke arah Ryeowook lalu mengangguk ragu-ragu. “Aku bisa menahannya oppa.”

“Kalau begitu mulai sekarang kita pelan-pelan akan memperkecil jarak─tidak ada kontak fisik, tenang saja.” seru Ryeowook tersenyum, “ayo keluar, makanan sepertinya sudah siap.”

Kihwang mati-matian memaksa kakinya yang lemas untuk berjalan, Ryeowook berjalan di sampingnya dengan jarak 30 senti. Lambat-laun─entah karena apa─Kihwang mulai merasakan tubuhnya merileks walau pun Ryeowook masih berjalan di sampingnya dengan jarak sangat dekat.

***

“Kemarin sampai di 5 senti, ne?” tanya Ryeowook dengan penggaris teracung di tangannya. Kihwang yang sedang duduk di kursi depan Ryeowook mengangguk kecil, serius menunggu apa kira-kira terapi selanjutnya yang akan diberikan Ryeowook. “Jadi hari ini, bagaimana kalau mulai bersentuhan, Hwangie?” tanya Ryeowook dengan nada hati-hati.

Deg! Kihwang tergugu.

Mereka memang sudah menjalani ‘terapi namja’ ini selama dua minggu. Demi memupus jarak 5 senti, mereka harus menghabiskan harus menghabiskan waktu 2-3 hari karena Kihwang kadangkala menjerit histeris meminta Ryeowook menjauh, yeoja itu juga kerap kali menangis─mulai dari tangisan tanpa suara sampai tangisan meraung-raung─kalau Ryeowook tak mau menjauh. Dan selama dua minggu ini, tak jarang Kihwang juga sampai pingsan saat Ryeowook tak sengaja menyenggol atau menyentuhnya, terhitung 5 kali sejak mereka memulai terapi aneh ini. Kihwang sepertinya memang belum sanggup untuk tahap menyentuh.

Namun sampai sejauh ini terapi Kihwang bisa dibilang berhasil, setidaknya meski pun masih tidak bisa lebih dari 5 senti, Kihwang sudah tidak berdebar ketakutan lagi saat berbicara dengan para namja, jantungnya sudah normal. Dia juga tak berkeringat, panas-dingin, dan pucat lagi. Kabar ini tentu saja disambut gembira oleh semua orang, Ryeowook juga tentu saja ikut gembira karena ia berhasil, rasa lelah karena harus menyempatkan diri bertemu dengan Kihwang disela-sela jadwalnya yang padat rasanya terbayar impas sebab hasilnya memuaskan walau pun memakan waktu cukup lama. Mereka biasanya menghabiskan waktu terapi dengan mengobrol panjang-lebar mengenai segala hal, sebab itulah Kihwang dan Ryeowook seperti sudah mengenal lama. Mereka sangat dekat sekarang. Ryeowook bahkan ikut memanggil Kihwang dengan sebutan ‘Hwangie’.

“Hwangie? Kau keberatan?”

Suara Ryeowook berhasil menyentak Kihwang kembali ke alam sadar. Yeoja itu mengerjap, menatap Ryeowook ragu-ragu. Entahlah, sampai saat ini Kihwang sendiri masih tak yakin untuk tahap menyentuh.

“Eum, mollayo oppa.” jawab Kihwang ambigu.

Ryeowook menyimpan penggaris di tangannya di atas meja makan rumah Kihwang, dia menghela napas panjang sebelum menyesap moccacino yang disuguhkan Kihwang padanya. Matanya tak henti memandangi Kihwang yang juga sedang memandangnya tak enak. Ryeowook menyingkirkan canggir moccacino dari hadapannya lantas tersenyum menenangkan.  “Hwangie, ini tes terakhir kita lho. Aku yakin kau pasti bisa, eotteoke?”

Keraguan merayap ke hati Kihwang membuat yeoja itu termenung beberapa saat untuk menimbang-nimbang pilihan apa yang sebaiknya dia ambil. Mencoba menepis keraguan yang seakan menghasutnya, Kihwang menatap senyum menenangkan Ryeowook yang selalu berhasil menumbuhkan keyakinan di hatinya. Lambat laun, Kihwang mengangguk.

Ryeowook tak bisa menyembunyikan senyumannya yang bertambah lebar melihat anggukan Kihwang. “Geurae. Pegangan tangan saja, ne?” tanyanya memberikan pilihan, melihat Kihwang kembali mengangguk, Ryeowook menyiapkan hatinya yang mulai berdebar. “Simpan tanganmu di meja, aku akan melakukannya pelan-pelan.”

Kihwang menurut. Walau masih ada ragu yang sedikit tertinggal, yeoja itu mengangkat tangan dan menyimpannya di atas meja makan. Kecemasan memayungi dia saat tangan Ryeowook juga mulai terangkat mendekati tangannya, Kihwang menutup mata erat-erat. Takut kalau dia sampai pingsan. Saat tangan Ryeowook benar-benar sudah menyatu dengan tangannya, Kihwang tersentak merasakan aliran listrik jutaan volt mengalir ke darahnya, dan anehnya, yeoja itu sama sekali tidak merasa ketakutan atau pingsan. Justru sebaliknya, genggaman Ryeowook terasa menenangkan meski pun dia merasakan perasaan aneh menyelimuti hatinya.

Pelan, Kihwang membuka mata untuk membuktikan bahwa dia benar-benar berhasil mengatasi phobianya. Begitu terbuka, matanya langsung bertubrukan dengan mata Ryeowook yang juga sedang menatapnya dalam. Keduanya diam terpaku, menikmati waktu yang bergulir dengan saling memandang seakan sedang menyelami isi hati masing-masing. Desiran halus merayap ke jantung mereka membuat jantung itu berdebar dengan tak normal.

Kembali Kihwang merasa aneh, debaran yang dirasakannya untuk Ryeowook bukanlah debaran ketakutan yang biasa. Debaran ini, bagaimana menyebutnya? Menggairahkan? Atau menyenangkan?

Chukkae.” bisikan lirih Ryeowook menyudahi kegiatan saling memandang keduanya. Ryeowook sedikit meremas tangan Kihwang untuk meyakinkan, sedang Kihwang segera menundukkan wajahnya yang serasa terbakar.

Gomawo oppa..” balas Kihwang tak kalah lirih, setelah merasa panas di pipinya menghilang, yeoja itu mengangkat wajah lantas tersenyum.

Ryeowook tersenyum kecil, sebelah tangannya yang bebas bergerak menyentuh pipi Kihwang lalu mencubitnya gemas. Namja itu melebarkan senyumnya begitu melihat Kihwang baik-baik saja mendapat skinsip mendadak darinya. “Lihat, kau benar-benar sembuh Hwangie. Aku turut bahagia.” serunya antusias.

Kihwang memegang pipinya yang baru saja dicubit Ryeowook sambil ikut tersenyum lebar. “Ne oppa! Aku tidak pingsan! Aaa, akhirnya!” pekik yeoja itu lepas karena senang.

Ryeowook tertawa melihat ekspresi bahagia Kihwang. “Besok malam kita makan di kafe untuk merayakannya, ne?” pinta Ryeowook meminta persetujuan Kihwang.

Walau pun euforia kebahagiannya terganggu karena permintaan Ryeowook, Kihwang tetap merespons dengan memberikan anggukan.

Ryeowook kembali meremas tangan Kihwang lembut melihat respons yeoja itu, “Untuk benar-benar memastikan, aku boleh memelukmu, kan?” Tanpa menunggu jawaban Kihwang, Ryeowook memutari meja makan bundar itu tanpa melepas genggaman tangannya dan langsung meraih tubuh mungil Kihwang kedekapannya.

Ryeowook menghirup aroma rambut Kihwang sambil merapal doa dalam hati agar jantungnya tak meloncat keluar, sedangkan Kihwang meremas baju Ryeowook sebagai pelampiasan atas rasa aneh yang menghimpit dadanya. Keduanya terdiam menikmati kehangatan yang menjalar ke tubuh mereka.

Dan hati kecil Ryeowook berbisik bahwa ia telah jatuh cinta pada yeoja didekapannya.

***

Kafe H&G malam ini terlihat lengang, hanya ada segelintir orang yang menghabiskan malam mereka di kafe itu, termasuk dua sejoli yang sedang tertawa bersama di meja paling sudut yang ada di H&G. Kim Ryeowook dan Cha Kihwang.

Ryeowook ternyata benar-benar menepati janjinya, sore tadi namja itu menjemput Kihwang di rumahnya untuk merayakan kesembuhan Kihwang dengan makan malam. Dan di sinilah mereka berakhir, di H&G kafe dengan dua piring bulgogi serta jus mangga sambil membicarakan respons orang-orang terhadap berita kesembuhan Kihwang.

“...haha, Jisoo benar-benar tidak berhenti berteriak?” tanya Ryeowook tergelak.

Kihwang di hadapannya ikut tertawa begitu reaksi Jisoo ketika ia mengabarkan kesembuhannya terputar di memori otak. “Ne, dia bahkan tak berhenti memelukku sambil melonjak-lonjak kegirangan. Tsk! Yeoja itu memang berlebihan.”

Oppa bisa membayangkannya.” sahut Ryeowook disela-sela tawanya. “Bagaimana reaksi eommamu, Hwangie?” tanya namja itu kemudian, penasaran tentang reaksi sosok ahjumma selalu menyambut kedatangannya dengan ramah di rumah Kihwang.

Wajah Kihwang berbinar, dia mengeratkan genggaman tangan keduanya sambil tak henti menebar senyum. “Eomma benar-benar senang oppa! Beliau sampai mengucapkan syukur berkali-kali. Eomma juga mengucapkan terimakasih padamu,” jelas yeoja itu dengan nada riang. “Dan ah, datanglah ke rumah lagi. Eomma bilang ia ingin memasak untukmu sebagai rasa terimakasih.” imbuh Kihwang, matanya menatap bola mata Ryeowook dengan tatapan lembut.

Ryeowook menggaruk tengkuk dengan sebelah tangan karena salah tingkah diberi tatapan selembut itu oleh Kihwang. “Nde, aku akan mampir kalau ada waktu, Hwangie.”

Kihwang mengangguk seraya mengedot jus mangga yang tinggal setengah.

“Omong-omong, bagaimana dengan appamu? Kau sudah memaafkannya, bukan?”

“Uhuk!” Kihwang tersedak jus yang diminumnya mendengar pertanyaan tiba-tiba dari Ryeowook, yeoja itu melepaskan tautan tangan keduanya dengan cepat lalu melempar tatapan tajam pada Ryeowook.

Kihwang benci. Dia sangat benci kalau ada orang yang mengungkit-ngungkit tentang namja brengsek yang secara biologis resmi sebagai appanya! Jika saja membunuh tak dilarang agama dan hukum, yeoja itu pasti sudah nekat membunuh ‘appanya’ yang selama bertahun-tahun telah menyiksa eomma dan dirinya.

Oppa! Aku sudah pernah bilang untuk tidak mengungkit tentang dia, kan?” seru yeoja itu dengan nada tajam.

Ryeowook mengembuskan napas berat dari hidungnya, namja itu memandang Kihwang lembut, mencoba memberi pengertian. “Hwangie, kau tidak bisa terus-terusan membencinya. Bagaimana pun dia appa kandungmu.” jelas Ryeowook. Tangannya terangkat untuk mengelus rambut Kihwang, namun yeoja itu dengan sigap menepisnya.

“Dan appa kandungku itu yang menyebabkan aku phobia terhadap namja, oppa.” desis Kihwang, terdengar menusuk.

Ryeowook menurunkan tangannya yang baru saja ditepis Kihwang dan menatap yeoja itu nanar. “Terkadang manusia bisa melakukan kesalahan, dan kita harus belajar memaafkan. Maafkan dia Hwangie, Tuhan saja Maha Pemaaf. Mengapa kita sebagai hamba─”

“YAK! OPPA! TERUS SAJA MEMBELA NAMJA BRENGSEK ITU! KAU MEMANG TIDAK PERNAH MENGERTI!” teriak Kihwang berapi-api. Emosinya sudah mencapai ubun-ubun hingga ia tidak bisa mengendalikannya lagi. Kihwang bahkan tak mempedulikan tatapan seluruh pengunjung kafe padanya. Dia sudah muak. Benar-benar muak karena Ryeowook menyuruhnya memaafkan namja itu.

Ryeowook terperanjat mendengar Kihwang tiba-tiba saja berteriak padanya. Namja itu bangkit mencoba meraih tangan Kihwang untuk ia tenangkan, namun lagi-lagi hanya sebuah tepisan yang diterimanya. Ryeowook menggeleng dengan wajah memohon. “Hwangie, tenanglah. Duduk dulu, oppa bukan bermaksud membela appamu, oppa hanya─”

“Kau membelanya oppa.” sela Kihwang dengan suara yang mulai bergetar, matanya berkaca-kaca, bisa dipastikan dalam sekali kedip air mata akan mengucur dari sana. “Ah, gwaenchana. Kau memang bukan siapa-siapaku, pantas saja kau tidak mengerti bagaimana kondisiku yang sebenarnya.” tandas Kihwang tiba-tiba sambil menyeka air mata yang mulai bergulir dari matanya, yeoja itu lantas berlalu meninggalkan Ryeowook yang berdiri mematung.

Begitu duduk di dalam taksi, Kihwang langsung menangis tanpa suara saat ingatannya berputar antara appanya dan juga Ryeowook yang jelas-jelas membela appanya. Kihwang merasakan perasaannya hancur. Sangat sakit mendengar pembelaan Ryeowook untuk orang yang paling dibencinya. Dadanya sesak hingga ia merasakan kesulitan bernapas.

Sedangkan di kafe, Ryeowook merasakan jantungnya langsung mencelos mendengar pernyataan tentang ‘dia bukan siapa-siapanya Kihwang’ dari mulut yeoja itu langsung. Ryeowook terduduk di bangku kafe dengan tatapan shock. Iya, Kihwang benar, dia memang bukan siapa-siapanya yeoja itu, tidak seharusnya dia sok tahu dengan menyuruh Kihwang memaafkan appanya.

Ryeowook menenggelamkan wajahnya di meja begitu sadar dia memang tak terikat hubungan apa pun dengan Kihwang. Tubuhnya terasa lemas, bahkan kalau saja dia dibanting saat ini, Ryeowook pasti tidak akan merasakan sakitnya. Karena sakit yang sesungguhnya telah ia rasakan di dalam hatinya. Tepat di seonggok daging yang selama ini dia jaga baik-baik agar tak hancur.

Tapi malam ini, sekeping hati yang telah ia jaga baik-baik selama hidupnya hancur hingga menjadi debu. Kim Ryeowook... patah hati.

***

“Sampai jumpa besok malam di acara yang sama, annyeong.”

Sungmin melepaskan earphone yang dipakainya selama siaran radio lantas mengempaskan punggungnya ke sandaran kursi. Namja itu lalu memutar kepala ke samping untuk melihat Ryeowook, malam ini namja itu terlihat lebih banyak diam dan murung. Entah kenapa.

“Ryeowook-ah, waeyo? Kau terlihat murung hari ini.” celetuk Sungmin membuat Ryeowook menoleh.

Wajah sendunya terlihat begitu menyedihkan. “Aniyo hyung, gwaenchanayo.” tukasnya lirih.

Sungmin mencibir, “Kihwang, ne? Ada apa dengannya?”

Mata Ryeowook membulat mendengar tebakan Sungmin, bagaimana hyungnya ini tahu? “Hyung, darimana hyung tahu aku ada masalah dengan Kihwang?”

Sungmin mengetuk dahi Ryeowook pelan, “Di sini tertulis dengan jelas. Jadi ada masalah apa?”

Ryeowook menghela napas panjang lalu menyingkirkan tangan Sungmin dari dahinya, “Saat merayakan kesembuhannya kemarin, kami bertengkar hyung. Aku membahas appanya dan meminta Kihwang agar memaafkannya, tapi Kihwang malah menuduhku membela appanya.” tutur namja itu panjang lebar, wajahnya terlihat merana. Jelas sekali kalau bertengkar dengan Kihwang adalah hal yang paling tak diinginkan terjadi dalam hidup Ryeowook.

OMO! Kau membahas appanya? Ya Tuhan, dia sangat membenci appanya Ryeowook-ah. Kau harus meminta maaf.” sahut Sungmin dengan mata membulat.

Ryeowook meringis. “Niatku saat itu kan baik hyung,” belanya, Ryeowook kemudian meloloskan udara dari dalam mulutnya sebelum kembali bersuara. “Apa dia akan memaafkanku, hyung?”

Sungmin mengedikkan bahu, “Coba saja dulu. Kalau kau beruntung Kihwang akan memaafkanmu.”

Ryeowook menggigit bibir sebelum mengangguk lemah. “Arraseo, aku akan minta maaf sekarang.” katanya sambil mengambil jaket dan melenggang dari hadapan Sungmin.

Sungmin memandang Ryeowook horor. “Kim Ryeowook! Sekarang sudah jam 1 pagi!” Yang sialnya sama sekali tak ditanggapi oleh Ryeowook.

***

Cha Kihwang berguling di ranjangnya berulang kali. Matanya terbuka dan menutup dengan gelisah. Setelah bergelung dalam ketidaknyamanannya, Kihwang akhirnya terduduk di pinggir ranjang sambil mengembuskan napas panjang dari bibirnya.

Satu malam sudah berlalu sejak pertengkarannya dengan Ryeowook, tapi otaknya tak pernah berhenti memikirkan namja itu. Saat dia akan menutup mata atau melakukan apa pun, ekspresi shock Ryeowook karena dibentak olehnya selalu terbayang. Ada sesak yang menyelip ke dalam hati saat bayangan itu memenuhi kepalanya. Menyebabkan matanya memanas tanpa sebab hingga berakhir dengan lelehan air mata di pipinya.

Sebelumnya Kihwang tak pernah semarah ini pada siapa pun yang mengungkit-ungkit soal appanya. Yeoja itu selalu bisa mengatur emosinya. Namun saat Ryeowook yang mengungkit, entahlah, dia hanya merasa sangat kecewa karena Ryeowook ternyata tak memahaminya hingga emosinya meledak begitu saja.

Cukup lama bergelung dalam ketidakpastian di dalam pikirannya, Kihwang akhirnya terjaga. Yeoja itu melirik jam di nakas yang menunjukkan pukul setengah dua pagi sebelum akhirnya memutuskan untuk ke dapur. Membuat secangkir latte mungkin tidak ada salahnya, Kihwang tahu dia takkan bisa tidur─yah seperti malam kemarin setelah pertengkarannya dengan Ryeowook.

Aigo, eomma menginap di rumah Jisoo. Aku sendiri di sini.” keluh yeoja itu saat mengaduk latte buatannya di dapur.

Kihwang membawa cangkir lattenya menaiki tangga saat bel rumahnya berbunyi. Kihwang menghentikan langkahnya lantas mengerutuk siapa pun dalam hati yang dini hari begini berkunjung ke rumahnya. Yeoja itu menyimpan lattenya di meja ruang tamu lalu mengayunkan kaki menuju pintu depan.

Begitu pintu terbuka, Kihwang yang baru saja akan menyemburkan ceramah tentang tidak sopannya bertamu malam-malam terpaksa menelan kembali semua kata-kta ceramah yang sudah tersusun di otaknya saat melihat bahwa Ryeowooklah yang bertamu. Kihwang membelalakkan mata sebelum menggerakkan pintu agar menutup kembali, sayangnya Ryeowook lebih cepat menahan gerakan menutup pintu itu dengan kakinya membuat Kihwang mendelik malas.

Waeyo? Kalau tidak penting aku tidak bisa menerimamu.” kata Kihwang dengan nada dingin.

Ryeowook menggaruk tengkuknya mendengar nada dingin Kihwang yang terdengar jelas saat yeoja itu berucap, “Hwangie kita perlu bicara. Biarkan aku masuk.”

Kihwang memaki jantungnya yang mulai berdebar heboh karena kedatangan namja di hadapannya sebelum mengembuskan napas dan membiarkan pintu terbuka. “Lima menit, dan kau harus segera pulang.” jelasnya memberi tenggat waktu seraya beranjak ke dapur untuk membuatkan secangkir latte.

Kihwang menyimpan latte untuk Ryeowook di hadapan namja itu sebelum dia sendiri duduk di sofa yang berseberangan dengannya sambil menyesap lattenya sesekali. “5 menit dimulai dari sekarang.” seru yeoja yang mengenakan piama doraemon itu datar.

Ryeowook menghela napas panjang, latte buatan Kihwang yang tampak menggoda pun terpaksa ia abaikan karena beban di hatinya yang masih menumpuk. “Hwangie, mianhae. Aku mungkin tak mengerti mengenai keadaanmu, tapi aku hanya tidak mau kau menjadi manusia pendendam. Hanya itu.”

“Ooh, lalu?” tanya yeoja itu kemudian berpura-pura tak acuh, padahal Kihwang tak bisa menahan kebahagian yang membuncah di dadanya karena Ryeowook rela ke rumahnya hanya untuk minta maaf dini hari seperti ini─meski Kihwang tahu bahwa namja itu pasti lelah sekali dengan jadwalnya yang sangat padat.

Ryeowook tergugu mendengar jawaban Kihwang, padahal ia sudah merelakan waktu istirahatnya yang sangat sedikit demi yeoja ini. Tapi respons yang diterimanya? Astaga, sebegitu bencinyakah Kihwang padanya sekarang? Hanya karena malam itu? “Hwangie, jeongmal mianhaeyo. Kau tidak mau memaafkanku?” tanya Ryeowook sambil mendesah pasrah.

Kihwang menggigit bibir, lattenya dia simpan di tempat semula. Meski pun dia sangat ingin memaafkan Ryeowook, tapi kata-katanya malam itu selalu berhasil membuat hati Kihwang mengeras. Dia terlanjur sakit hati dengan semua kata-kata namja itu.

Melihat Kihwang yang termangu atas pernyataan maafnya, Ryeowook meloloskan embusan napas pasrah dari bibirnya lantas berdiri.

Geurae, aku tak memaksamu untuk memaafkanku. Tapi aku benar-benar minta maaf atas malam itu Hwangie, aku benar-benar tak bermaksud mengungkit luka lamamu. Aku pulang.”

Saat Ryeowook bersiap untuk beranjak, Kihwang terjaga. Matanya menatap Ryeowook dengan tatapan sulit di artikan. Meski pun masih ada keraguan yang menyelinap memasuki ruang di hatinya, yeoja itu tetap tak bisa menahan diri untuk tidak bersuara.

“Jadi hanya seperti itu perjuanganmu oppa?” tanyanya lirih.

Ryeowook mematung, berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa perkataan Kihwang barusan bukanlah ilusi semata. “Hwangie, kau mau memaafkan oppa?” tutur Ryeowook kemudian, kakinya dengan cepat melangkah mendekati Kihwang dan berlutut di hadapan yeoja itu. Mata Ryeowook berbinar, ada harapan yang sangat kentara terlukis di sana.

Kihwang memandang ke arah lain, tak ingin langsung luluh karena tatapan Ryeowook yang begitu lembut. “Mollayo, aku masih sakit hati.” balas yeoja itu membuat senyum Ryeowook meluntur.

Kihwang tersentak saat Ryeowook tiba-tiba saja menggenggam tangannya, yeoja itu refleks memandang ke arah Ryeowook dan dia langsung merasa tenggelam dalam kedua manik Ryeowook yang seakan menyedotnya ke dalam.

“Dengar. Aku tidak akan mengulanginya, jadi maafkan aku, ne?” pinta Ryeowook setengah memaksa.

Kihwang memicingkan mata dengan bibir yang mengulas senyuman. “Kau meminta atau memaksa, oppa?”

Ryeowook tak bisa menahan bibirnya untuk tidak tertarik ke atas melihat Kihwang tersenyum. “Apa pun, asal kau mau memaafkanku.” sahutnya.

Kihwang melepaskan genggaman tangan Ryeowook seraya memasang pose berpikir─yang membuat Ryeowook gemas ingin mencubit pipinya. “Jangan mengulanginya lagi, ne?” kata yeoja itu memberi syarat.

Ryeowook tak perlu berpikir dua kali untuk menganggukkan kepalanya dan membawa Kihwang ke dalam pelukan hangat.

***

Gomawo lattenya, maaf oppa berkunjung malam-malam, Hwangie.” pamit Ryeowook di depan pintu masuk sambil tersenyum hangat.

Kihwang mengangguk dengan pipi merona melihat senyum Ryeowook. “Gwaenchana. Hati-hati di jalan oppa.”

Ryeowook mengangguk. Setelah mengelus pipi Kihwang sebentar, namja itu membalikkan tubuhnya dan mulai melangkah menuju mobil.

Tangan Kihwang yang masih memegang kenop pintu dengan erat beralih memegang dada kirinya. Senyum teretas di bibirnya saat yeoja itu merasakan debaran jantungnya yang menggila. Kihwang mungkin masih awam mengenai perasaan yang tengah dirasakannya untuk Ryeowook, tapi ia tahu bahwa perasaan ini bukanlah rasa takut karena phobianya pada namja─Kihwang yakin seratus persen ia sudah sembuh. Dan satu-satunya option yang tersisa untuk menjelaskan debaran ini adalah, Kihwang telah terperangkap dalam pesona Ryeowook. Namja itu entah sejak kapan sudah memenuhi sebagian besar tempat di hatinya. Namanya kini telah terpahat sempurna di hati Kihwang.

“Eum, Hwangie?”

Kihwang yang masih memegang dada kirinya sambil melamun sontak terenyak kaget begitu mendengar Ryeowook memanggilnya, yeoja itu lebih kaget lagi saat mendapati Ryeowook sudah ada tepat di hadapannya. Sangat dekat hingga Kihwang bisa merasakan napas teratur namja itu membentur wajahnya.

“N.. ne oppa?” sahut Kihwang gugup, yeoja itu memundurkan wajah agar jarak keduanya tidak terlalu dekat. Darah mengalir lebih banyak ke kepalanya hingga Kihwang bisa merasakan pipinya memerah.

Ryeowook terkekeh kecil melihat rona merah yang ada di pipi Kihwang. Dia tadi baru saja ingin membuka pintu mobil saat dia sadar bahwa harus ada satu hal yang diselesaikannya hari ini juga. Perasaannya.

Ryeowook menahan tubuh Kihwang yang akan mundur lagi dengan tangannya lantas namja itu memajukan kembali wajahnya hingga hanya sedikit jarak yang memisahkan keduanya. Ryeowook memiringkan kepalanya sambil menatap mata Kihwang lekat-lekat sedangkan yeoja itu menahan napas melihat tatapan Ryeowook.

Tersenyum, Ryeowook mulai memupus kesenjangan di antara keduanya, Kihwang menuruti intuisinya untuk menutup mata hingga sedetik kemudian dia bisa merasakan sensasi lembut yang luar biasa di bibirnya.

Hanya beberapa detik karena Ryeowook langsung melepas ciuman mereka. Namja itu menyunggingkan senyum lembut di bibirnya. “Saranghae..”

Kihwang tersenyum malu-malu, “Nado saranghae oppa.”

END

mianhae mianhae mianhae *bow* ini os kayaknya maksa bangeeeeeeet yah T.T
ryeowook oppa, hwangie mianhae *nangis dipojokan*
Yak ending os ini diakhiri dengan adegan kissing lagi *bener-bener ga kreatif lo nis/ Berisik!!!*
happy reading os absurd ini aja yah, seabsurd-absurdnya ff gue, komen kalian tetep di tunggu..
Dan aaa Hyukjae makin ganteng, SM Town kemarin dia ganteng banget, pengen karungin bawa ke rumah deeeh haha *melenceng woooy/ EGP!*
terus terus... *berisik* keluar aja deh ya, pokoknya klo ada kritik jgn segan-segan krn itu membangun lhoo buat daku :D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar