Entri yang Diunggulkan

Series Recommendations! 🎥

Hi, happy Wednesday all! So decided to post my own personal series. I usually dont like watching movie, so because i watched those series ...

Selasa, 21 Agustus 2012

That’s All About Us (series four: Kim Jongwoon)

That’s All About Us (series four: Kim Jongwoon)


Because I Know
Seorang yeoja berjalan riang menuju gedung SMent, hari ini dia akan melaksanakan kegiatan rutinnya─mengantar bekal makan siang untuk namjachingunya yang merupakan trainee di SMent. Senyum tak pernah luntur dari wajah yeoja itu, senandung lirih sesekali terdengar dari mulutnya selagi ia menapaki jalan menuju ruang latihan khusus trainee.

Saat pintu latihan khusus trainee sudah ada di depan matanya, senyum di bibir yeoja itu mengembang semakin lebar. Dia mengintip lewat kaca kecil di bagian atas pintu untuk memastikan apakah namjachingunya ada di dalam atau tidak.

Ada! Tangan yeoja itu baru saja akan terangkat untuk mengetuk pintu saat tawa yang menggelegar pecah dari dalam ruangan. Penasaran, yeoja itu menahan gerakan tangannya dan menempelkan telinga ke daun pintu, berusaha mencari tahu percakapan apa yang sedang dibicarakan oleh Yeonsu─namjachingunya─bersama para trainee lain hingga membuat mereka tertawa seperti itu.

“Kau tahu aku berpacaran dengannya karena taruhan, Kisoon-ah. Cinta? Huh, jangan bercanda.” seru Yeonsu lalu kembali tergelak keras. Yeoja itu melebarkan matanya, pacaran? Taruhan? Apa maksud percakapan mereka?

Terdengar sahutan dari orang yang dipanggil Kisoon, “Jahat sekali kau, bagaimana kalau Tae Young sampai mendengar hal ini?”

“Kalau tidak jahat bukan Yeonsu namanya, Kisoon-ah, haha..” timpal salah satu trainee.

Tawa Yeonsu semakin pecah, “Kalau Tae Young tahu aku berpacaran dengannya gara-gara taruhan, yeoja itu pasti sakit hati. Mungkin akan bunuh diri saking cintanya padaku.”

Brak!

Kotak bekal yang dibawa yeoja itu jatuh begitu saja mendengar percakapan namjachingunya. Air mata perlahan turun membasahi pipinya sebelum yeoja itu berlari menjauhi ruang latihan trainee menuju ke atap gedung SMent dengan membawa semua luka baru yang telah digoreskan oleh orang yang paling dicintainya, Yeonsu sang namjachingu.

***

Aigo, lelah sekali.” keluh Yesung sambil merentangkan tangannya lebar-lebar.

Semua member Suju memang baru menyelesaikan sesi latihan mereka untuk tampil di Music Bank sore ini, jadwal mereka sangat padat sejak comeback beberapa waktu yang lalu. Kegiatan demi kegiatan terus berdatangan hingga setiap member hampir tak punya waktu untuk istirahat. Lelah? Jelas. Tapi demi ELF, para member Super Junior berusaha keras untuk tidak mengeluh dan menampilkan yang terbaik demi fans setia mereka itu.

Sekarang, member Super Junior tengah istirahat sejenak setelah menyelesaikan sesi latihan mereka yang padat─walau hanya 30 menit. Yesung saat ini tengah meniti anak tangga untuk beristirahat di atap gedung SMent, tempat itu adalah satu-satunya tempat yang sangat sepi di jam-jam seperti ini, Yesung ingin mengistirahatkan matanya kembali di tempat sepi itu selama masa istirahatnya berlangsung.

Mata Yesung berkeliling ke sekitar atap, mencari-cari dimana kiranya tempat yang nyaman agar ia bisa tidur dengan lelap. Mata sipit Yesung sontak melebar sempurna begitu melihat seorang yeoja di tepi gedung sana, sedang merentangkan tangannya ke atas dengan kaki hanya berjarak satu langkah dari pembatas gedung.

“Yak! Apa yang kaulakukan, hah? Kau gila?!” bentak Yesung sambil menarik tubuh yeoja itu cepat-cepat.

Yeoja itu tak mengeluarkan sepatah kata pun mendengar bentakan Yesung, dia hanya terdiam sambil memandang lurus ke depan dengan pandangan kosong. Tidak terlihat emosi apapun dari dua bola matanya, hanya kehampaan tak berujung yang terlukis di sana.

Yesung menghela napas panjang, ia terpaksa membatalkan rencana tidurnya karena kasus tiba-tiba ini. Namja itu berjongkok untuk menyamakan tinggi dengan sang yeoja, dia mengulurkan tangannya menyentuh bahu yeoja itu berusaha menyalurkan sebuah ketenangan.

“Apa yang baru saja kaulakukan, agasshi?” tanya Yesung sopan, bola matanya menatap dalam mata yeoja di depannya. Sayangnya pertanyaan Yesung tak mendapat respons apa pun selain tepisan kasar.

Yesung menelan ludah melihat reaksi yeoja di hadapannya ini, yeoja ini tampak begitu depresi jika dilihat dari pandangan matanya. Namja itu juga bingung dengan apa yang harus dilakukannya saat ini, kalau Yesung meninggalkan yeoja ini seorang diri, dia takut yeoja ini akan kembali melakukan hal nekat─mencoba bunuh diri. Kedua orang itu akhirnya terdiam.

Setelah sibuk berdebat dengan pikirannya, Yesung melirik yeoja itu sesekali sambil menghela napas berulang-ulang sebelum akhirnya menarik tangan yeoja itu untuk berdiri. Dia memang sebaiknya membawa yeoja itu ke bawah untuk sementara. Ajaibnya, yeoja itu mengikuti langkah Yesung tanpa melawan sama sekali.

“Siapa namamu?” tanya Yesung tanpa melirik yeoja yang ada di sebelahnya. Yeoja itu terlihat sangat pasrah, dia seperti tak punya keinginan untuk hidup.

Tak ada respons. Yesung rasanya ingin membenturkan kepala ke tembok saking kesalnya melihat yeoja itu sama sekali tak bereaksi dengan segala perkataannya.

Memutuskan untuk tak berucap apa pun lagi, Yesung kembali fokus pada jalannya. Namja itu menghentikan langkahnya saat seorang trainee─yang ia tahu bernama Yeonsu─berjalan ke arahnya. Keningnya berkerut saat merasakan tubuh yeoja di sebelahnya menegang karena kehadiran Yeonsu.

Annyeong haseyo Yesung sunbae..” sapa Yeonsu sopan─dibalas anggukan Yesung─sebelum tatapannya beralih pada Tae Young yang bergeming akan kehadirannya. Namja itu mengulas senyum lembut untuk Tae Young, “Tae Young-ah, aku kira kau tidak datang hari ini. Ayo pergi..” ucapnya kemudian meraih tangan Tae Young yang satunya.

Tae Young mencengkeram tangan Yesung sangat erat begitu Yeonsu menariknya, mata yeoja itu menatap Yeonsu nyalang. “Pergi..” desisnya tajam.

Yesung mengernyit, semakin tak mengerti dengan apa yang tengah terjadi di hadapannya. Sementara Yeonsu juga menatap Tae Young dengan bingung karena reaksi yeojanya yang di luar dugaan.

Chagi, waeyo?” tanya Yeonsu sambil mengangkat tangannya untuk mengelus rambut Tae Young. Keningnya langsung berlipat sempurna begitu Tae Young menepis tangannya dengan tatapan yang semakin menusuk.

“Kau. Bukan. Namjachinguku. Lagi. Mulai. Sekarang!” seru Tae Young dengan penuh penekanan di setiap katanya sebelum yeoja itu menarik tangan Yesung pergi meninggalkan Yeonsu yang masih terlolong tak percaya.

“Hei, Tae Young-ssi, jangan menarikku keras-keras, ini sakit!” protes Yesung yang tangannya masih ditarik kasar oleh Tae Young.

Seakan tersadar, Tae Young bergegas menyentakkan tangan Yesung saat itu juga. Dia membalikkan badannya dan menatap Yesung dengan tatapan yang membekukan. “Kau, Yesung-ssi yang terhormat, kenapa kau menarikku dari gedung itu?” tanyanya dengan suara rendah yang mengintimidasi, Yesung menelan ludah, tak menyangka sikap yeoja itu bisa berbeda seratus delapan puluh derajat dari yang tadi. “Kenapa kau tidak membiarkan aku meloncat, hah?!” teriak Tae Young lagi penuh emosi. Cucuran air mata yang disertai isakan lolos dari bibirnya membuat Yesung kalang-kabut. Namja itu menarik tangan Tae Young cepat-cepat begitu melihat banyak sekali staf yang memandang ke arahnya dengan tatapan menuduh.

Yesung mendudukkan tubuh Tae Young di bangku panjang taman depan SMent, dia memutar bola matanya kesal melihat Tae Young yang masih menangis terisak-isak dengan makian yang tertuju padanya gara-gara ia menyelamatkan nyawa Tae Young. Yesung menarik napas panjang sambil melirik jam tangannya yang hampir menunjukkan jam 10, latihan dimulai kurang dari 10 menit lagi. Sebelum mendudukkan tubuhnya di samping Tae Young, Yesung mendengus sebentar, rasa kasihan juga kemanusiaan yang dimilikinya membuat Yesung tak tega meninggalkan yeoja labil ini sendirian.

“Tae Young-ssi, kau harusnya bersyukur karena aku menyelamatkan nyawamu. Coba kaupikirkan berapa banyak orang di luar sana yang mati karena kelaparan? Sedangkan kau? Kau mau menyia-nyiakan hidupmu hanya gara-gara patah hati? Astaga, jangan bercanda!” ujar Yesung, terdengar keseriusan dari setiap ucapan yang dilontarkan namja itu. Yesung menyunggingkan senyum tipis saat merasa Tae Young mulai terpengaruh ucapannya, terbukti dari isakan tangis yang mulai mereda.

Tae Young memang mau tak mau merasa hatinya tersentuh mendengar ucapan bijaksana yang keluar dari mulut Yesung. “Tapi... namja itu.. aku...” elak Tae Young terbata-bata yang dibalas Yesung dengan tatapan tajam.

“Kautunggu aku selesai latihan, aku akan mengajarimu bagaimana caranya mensyukuri hidup. Jangan kemana-mana!” ancam Yesung sebelum melenggang meninggalkan Tae Young yang tak bisa berkata-kata saking takutnya melihat tatapan Yesung.

***

Hyung, kau mau kemana?” teriak Donghae ketika melihat Yesung bergegas keluar begitu latihan selesai.

“Aku ada urusan, jangan tunggu aku, ne? Dua jam lagi aku akan ada di MuBank langsung.” balas Yesung berteriak sebelum namja itu benar-benar hilang ditelan jarak. Member Suju mendengus serentak melihat kelakuan aneh Yesung.

Sementara di lorong gedung, Yesung berlari-lari agar sampai taman depan segera, dia takut yeoja gila yang diselamatkannya kabur karena menunggu lebih dari dua jam. Dalam hati, Yesung terus merutuki Eunhyuk yang dengan seenak hati menambah waktu latihan hingga jadwal yang harusnya berakhir satu jam lalu jadi berakhir beberapa menit lalu. Sampai di lantai bawah, Yesung mempercepat ayunan kakinya menuju taman.  Langkah tergesa-gesanya memelan begitu ia tak mendapati siapa pun di taman. Yesung menumpukkan kedua tangannya di lutut dengan napas terengah-engah, harusnya dia tahu yeoja itu pasti tak ada, mengapa ia tetap berharap yeoja itu akan menunggunya?

Babo Yesung!” gerutunya disela-sela mengambil napas.

“Yesung-ssi, kenapa kau lama sekali?” suara seorang yeoja yang terdengar ketus membuat Yesung sontak mendongakkan kepala, matanya menatap tak percaya Tae Young yang ternyata masih ada di sini.

Yesung perlahan menegakkan badan setelah merasa lelahnya berkurang, “Mianhae, tadi ada monyet yang menambah jadwal latihan seenak hati.” kata Yesung sambil terkekeh dalam hati dengan ucapannya sendiri, dia menambahkan ucapannya beberapa saat kemudian dengan mimik bingung. “Lagipula aku kira kau sudah pergi.”

Tae Young mendengus, tangannya yang memegang cup moccacino terangkat hingga sedotan cup itu sampai di bibirnya dan ia menyesap cairan di dalamnya dengan santai sebelum menjawab. “Kaugila? Mana mungkin aku pergi begitu saja setelah menunggu lebih dari satu jam? Aku hanya pergi membeli minum karena kesal..” dia menjeda kalimatnya sebentar sebelum kembali melanjutkan dengan suara pelan, “lagipula aku penasaran dengan ucapanmu tadi.”

Senyum tipis terkembang di bibir Yesung, “Kajja, kita pergi sekarang.” ajak Yesung seraya menarik pergelangan tangan Tae Young menuju parkiran.

Mobil Yesung melaju membelah jalanan kota Seoul, suasana di mobil hening, hanya alunan Only One yang menjadi satu-satunya backsound utama di dalam mobil. Baik Yesung maupun Tae Young sama-sama tak bersuara, mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing─Yesung dengan jalanan, sedangkan Tae Young dengan ponselnya, sibuk menghapus segala hal yang berhubungan dengan Yeonsu di ponselnya.

“Kau berencana bunuh diri gara-gara Yeonsu?” Yesung memberanikan diri bertanya.

Tae Young menghentikan tarian jari di layar ponselnya lalu menghela napas panjang, “Nde, mungkin pikiranku terlalu pendek saat itu. Tapi, kau tahu Yesung-ssi? Rasanya sangat sakit, aku sangat mencintai Yeonsu dengan tulus.” ujar Tae Young dengan mata yang mulai berair, suaranya samar-samar terdengar bergetar.

Yesung meringis, agak bingung juga di hadapkan dengan yeoja yang patah hati. Akhirnya dengan sedikit keberanian, namja itu mengelus tangan Tae Young lembut sebelum berkata, “Ceritakanlah, aku akan mendengarkanmu.”

Dengan pandangan yang berkabut, Tae Young mengalihkan tatapannya pada Yesung. Hatinya sedang berdebat apakah dia memang harus bercerita pada namja yang baru dikenalnya ini atau tidak. Setelah lama berdebat dengan hati sendiri, Tae Young menggigit bibir sebelum cerita itu mengalir dengan mulus dari belahan bibirnya.

Yesung sesekali berjengit sambil melirik Tae Young iba, namun mulutnya terkunci rapat, dia tak mengeluarkan sepatah kata pun.

“Tolong jangan ceritakan pada siapapun, Yesung-ssi. Aku pasti akan sangat malu.” pinta Tae Young begitu dia selesai bercerita, diusapnya tetesan air mata yang jatuh mengalir.

Yesung menepikan mobilnya di dekat sebuah kafe, setelah mematikan mesin mobil, namja itu mengulurkan sehelai sapu tangan ke wajah Tae Young. “Arraseo, aku bisa memegang rahasia. Percayalah.” sahut Yesung sambil menampilkan senyum hingga matanya tak terlihat.

Melihat senyum Yesung yang terasa menenangkan, Tae Young ikut menarik kedua sudut bibirnya hingga melengkung walaupun hatinya masih perih memikirkan peristiwa yang terjadi beberapa jam lalu.

“Nah, ayo keluar. Kita harus membeli makanan dulu sebelum pergi ke tempat tujuan.” seru Yesung bersemangat.

***

“Yesung hyung!”
“Yesung oppa!”

Panggilan saling bersahutan itu segera memenuhi gendang telinga Tae Young begitu yeoja itu keluar dari mobil Yesung. Tempat yang ingin Yesung tunjukkan ternyata adalah sebuah panti asuhan, tempat berkumpulnya anak-anak yatim-piatu yang biasanya lalai dari pengamatan masyarakat. Diam-diam, Tae Young memandang Yesung kagum saat namja itu dengan semangat memeluk satu-persatu anak-anak panti. Kantong makanan yang dibawa Yesung tadi di simpan di dekat kakinya selagi namja itu sibuk mengurusi anak-anak yang berebutan ingin memeluknya.

Seulas senyum terukir di bibir Tae Young melihat wajah penuh semangat anak-anak panti. Yesung benar, dia harusnya bersyukur sebab masih banyak anak-anak yang ingin bertahan hidup ditengah kerasnya kehidupan di Seoul ini. Tae Young jadi menyesal karena dia sempat berpikiran untuk mengakhiri hidupnya hanya gara-gara patah hati. Pikirannya sangat dangkal, padahal ia hidup berkecukupan ditengah-tengah keluarga yang menyayanginya.

Eonni cenapa beldiri di citu, ayo macuk..” seorang yeoja kecil berumur 5 tahun menarik-narik ujung kemeja yang digunakan Tae Young saat yeoja itu sibuk melamun dengan pikirannya sendiri.

Tae Young otomatis tersentak dengan sentuhan ringan yeoja kecil tadi, dia buru-buru berjongkok untuk menyeimbangkan tingginya sebelum tersenyum ramah. “Siapa namamu adik manis?” tanya Tae Young sembari mengulurkan tangannya untuk memangku yeoja kecil tadi.

Yeoja kecil tadi tersenyum imut yang membuat Tae Young ingin sekali mencubit pipinya, “Kim Gihwan imnida, eonni..”

“Gihwan! Tidak merindukan oppa, eoh?” seru Yesung yang tiba-tiba saja sudah ada di hadapan Tae Young dan Gihwan.

Gihwan bertepuk tangan riang sambil tertawa-tawa sebelum mengulurkan tangannya kepada Yesung, Tae Young mengerti sehingga dia membiarkan Gihwan beralih ke pangkuan Yesung.

Dongsaengdeul, yeoja di sebelah ini temanku. Namanya Tae Young..” seru Yesung pada anak-anak yang masih bergerombol di dekat badannya, anak-anak itu spontan memutar pandangan kepada Tae Young sebelum berakhir dengan kericuhan akibat anak-anak itu berebutan ingin menyambut Tae Young.

Kericuhan itu berakhir saat Park ahjumma datang, anak-anak yang penuh semangat itu digiring sampai duduk teratur di meja-meja kecil yang ada di taman depan panti. Makanan yang Yesung bawa disambut penuh sorakan oleh anak-anak tersebut, polos. Begitu polos sampai Tae Young tak pernah berhenti tersenyum ketika menatapi cara makan anak-anak itu satu-persatu.

“Bagaimana, sudah belajar sesuatu?” tanya Yesung yang tiba-tiba saja duduk di sebelahnya, ada Gihwan yang masih asyik dengan kue cokelatnya di pangkuan Yesung.

Tae Young menoleh, yeoja itu tidak langsung menjawab pertanyaan Yesung melainkan mengulurkan tangannya untuk mengambil alih Gihwan. “Nde, gomawo Yesung-ssi. Aku mendapatkan banyak pelajaran berharga hari ini..”

Sejenak Yesung terpaku melihat senyum tulus yang terlukis di bibir Tae Young sebelum namja itu ikut tersenyum. “Cheonmaneyo, itu sudah kewajibanku sebagai sesama manusia, Tae Young-ssi.” balas Yesung, tatapannya lalu beralih pada Gihwan. Yesung mengelus rambut yeoja kecil itu penuh sayang, “enak?” tanyanya.

Gihwan yang berada di pangkuan Tae Young mengangguk lucu. “Ne! Tapi Gihwan lebih cuka yang stobelinya oppa.” jawabnya polos.

Tae Young dan Yesung tertawa mendengar pernyataan polos yeoja kecil itu. “Gihwan suka kue stroberi? Nanti eonni buatkan, yah.”

“Waa, eonni bica membuat kue stobeli?” tanya Gihwan dengan mata berbinar.

Tae Young mengangguk membuat Gihwan langsung memeluknya erat. “Gomawo eonni..” serunya lalu melepas pelukan dan memandang ke arah Yesung dengan tatapan memohon, “oppa, Gihwan mau oppa nyanyi.”

Yesung terkekeh, diusapnya poni Gihwan lembut sebelum senandung merdu mengalun dari bibirnya. Namja itu menyanyikan bittersweet dengan sangat indah dan penuh perasaan.

Tae Young tersenyum kecil dalam hati, Yesung telah membuatnya terpesona untuk sekian kali dalam satu hari.

***

Yesung menyembunyikan tangannya di dalam mantel karena cuaca dingin yang sangat menusuk. Namja yang sekarang sedang menggunakan penyamaran lengkap─kacamata dan masker─itu mendongak menatap langit malam yang hitam pekat. Matanya sesekali melirik ke arah jam tangan yang terpasang manis di pergelangan tangannya dan desahan keluar dari bibirnya begitu sadar dia sudah menunggu lebih dari 15 menit.

Bertanya-tanya siapa yang ditunggu Yesung? Jawabannya adalah seorang yeoja bernama Han Tae Young. Sebulan telah berlalu sejak pertemuan pertama keduanya, sejak saat itu Tae Young dan Yesung sering menghabiskan waktu bersama. Kebanyakan karena Tae Young sering sekali meminta saran pada Yesung sebab menurutnya Yesung sangat bijak. Dan fakta bahwa Saera ternyata adalah sahabat Tae Young membuat keduanya tak terlalu susah bertemu sebab Saera selalu membawa Tae Young saat mengunjungi dorm Super Junior─gara-gara fakta ini Tae Young sekarang benar-benar percaya bahwa dunia memang sempit!

Entah sejak kapan, tapi Tae Young dan Yesung pelan-pelan mempunyai ikatan aneh yang sulit untuk diuraikan.

Mianhae, apakah oppa menunggu lama?” tanya Tae Young terengah-engah begitu dia sampai di bangku tempat Yesung duduk. Yeoja itu segera melemparkan tubuhnya di sebelah Yesung seraya mengambil napas sebanyak-banyaknya.

Yesung terkekeh pelan melihat keadaan Tae Young, tangannya terulur dan mengacak rambut Tae Young dengan gemas. Yang sukses membuat Tae Young merajuk dan mengerucutkan bibirnya beberapa senti.

Oppa!” jeritnya tak terima sambil memukuli tangan Yesung dengan barbar.

“Yak! Yak! Berhenti Young-ah, kau mau membuat aku masuk rumah sakit, eoh?” tukas Yesung sambil berusaha menghindari tangan Tae Young yang terus memukulnya. Namja itu memegang kedua pergelangan tangan Tae Young seraya meringis, Tae Young tertawa-tawa melihat ekspresi Yesung, yeoja itu malah menjulurkan lidahnya keluar dengan tatapan mengejek.

“Payah!” cibirnya yang tentu saja membuat Yesung naik darah.

“Yak! Kau ini, sudah membuatku menunggu, sekarang malah mengejek.” omel Yesung tak terima.

Bukannya takut, tawa Tae Young malah terdengar semakin keras terdengar. Tae Young mengguncang-guncang tangan Yesung pelan melihat wajah merajuk yang diperlihatkan Yesung. Menggelikan menurutnya. Yesung hanya sesekali mendelik ke arah Tae Young, bersikeras untuk berpura-pura marah.

Aigo oppa, berapa umurmu sekarang, huh? Berhentilah merajuk seakan-akan kau baru memasuki usia duapuluh lima tahun.” kata Tae Young yang pura-pura mengeluh, Yesung mendelik mendengar perkataan yeoja itu. Tangannya bergerak ke atas kepala Tae Young dan menyentil kening yeoja itu pelan.

“Kau mengataiku, huh?” tanya Yesung ketus.

Tae Young mengusap-ngusap keningnya yang disentil Yesung sambil memberikan tatapan paling memelas yang dimilikinya untuk Yesung. “Oppa, mianhae ne? Kalau kau mau memarahi seseorang karena keterlambatanku, salahkan saja Saera yang memaksaku membantunya mengerjakan tugas kuliah sampai malam begini.”

Yesung menghela napas panjang sebelum menyahut dengan nada pasrah, “Gwaenchana, oppa tidak marah pada siapa pun. Hanya kesal saja.”

Senyum perlahan terkembang di bibir Tae Young, “Jadi, ada apa oppa ingin bertemu denganku?” tanya yeoja itu sambil mengusap-ngusap tangannya yang terasa mulai membeku.

Oppa ingin jalan-jalan denganmu, ada hal yang ingin oppa bicarakan juga.” jawab Yesung seraya mengambil tangan Tae Young dan menempelkannya ke pipinya karena melihat yeoja itu kedinginan.

Tae Young merasakan kedua belah pipinya memanas mendapat perlakuan seperti itu dari Yesung. Dia berusaha melepaskan tangannya yang menempel di pipi Yesung tapi tak berhasil karena dia kalah tenaga.

“Diamlah!” perintah Yesung galak saat merasa Tae Young ingin melepaskan tangannya, “bukankah kau kedinginan? Aku hanya ingin menghangatkanmu.”

Tae Young tersenyum kaku ketika merasa ada getaran aneh yang dirasakan tubuhnya saat manik matanya bertatapan dengan manik hitam milik Yesung. Mata Yesung indah, seperti menenggelamkan jika ditatap terus-menerus seperti ini. Tak ingin terus-terusan terperangkap, Tae Young segera mengalihkan tatapannya ke arah lain dengan pipi yang semakin terasa panas.

Oppa, aku sudah merasa lebih hangat. Bisakah kita pergi sekarang? Eommaku pasti akan memukulmu kalau kau memulangkanku lebih dari jam 10 malam..” cetus Tae Young sambil menarik tangannya lembut dari pipi hangat Yesung.

Yesung mengembuskan napas diam-diam begitu tangan Tae Young tak lagi bertengger di pipinya. Namja itu akhirnya berdiri dan mengulurkan tangan pada Tae Young.

“Aku rasa kau benar, Young-ah. Wajah tampanku bisa biru-biru jika mengingat sifat eommamu.” keluh Yesung, tangannya menggenggam tangan Tae Young erat-erat begitu yeoja itu menerima uluran tangannya. “Ayo bersenang-senang malam ini.” seru Yesung lagi bersemangat.

Tae Young tersenyum melihat kelakuan Yesung malam ini. Yeoja itu mengikuti langkah namja pemilik ‘ikatan aneh’ dengannya itu sambil bercerita panjang lebar mengenai apa saja yang sudah dilaluinya di kampus hari ini. Yesung sesekali memberi komentar-komentar bijak saat Tae Young mulai mengeluh dengan kuliahnya, mereka juga sesekali tertawa bersama jika Tae Young menceritakan hal-hal lucu yang dialaminya.

Yesung membawa Tae Young ke Namsan Tower untuk melihat-lihat keindahan kota Seoul dari atas menara. Walaupun udara terasa begitu dingin saat itu, tapi kehangatan yang mengalir lewat genggaman tangan keduanya membuat mereka berdua tetap merasa hangat.

***

Yesung mematikan mesin mobilnya tepat di depan gerbang rumah Tae Young, matanya melirik ke arah jam digital di dekat dashboard mobilnya yang baru saja menunjukkan pukul 9.30. Namja itu lalu mengamati wajah Tae Young yang tengah tertidur dengan saksama. Senyumnya mengembang melihat ekspresi polos yang ditunjukkan yeoja itu saat tertidur. Tangan Yesung bergerak untuk menyelipkan helaian anak rambut yeoja itu ke belakang telinga, setelah itu dia mengelus pipi yeoja yang diam-diam telah merebut hatinya dengan sangat hati-hati seakan Tae Young adalah porselen yang bisa pecah kapan saja.

“Eung..” erangan kecil yang keluar dari bibir Tae Young berhasil membuat Yesung segera menjauhkan tangannya, namja itu juga bergegas menegakkan kembali tubuhnya seperti semula. “Sudah sampai, oppa?” tanyanya sambil mengerjapkan mata beberapa kali.

Ne..” jawab Yesung singkat, dia sedang menyiapkan kata-kata untuk Tae Young nanti.

Tae Young tersenyum, dia mendekap boneka kura-kura yang tadi dibelikan Yesung semakin erat sebelum berkata. “Kalau begitu aku masuk dulu ya oppa, gomawo atas jalan-jalannya.”

“Young, saranghae.”

Gerakan tangan Tae Young yang akan membuka pintu mobil terhenti, tubuhnya menegang tiba-tiba mendengar perkataan Yesung. Tae Young membeku beberapa detik sebelum akhirnya dia menoleh ke arah Yesung, memandang namja itu dengan tatapan sulit diartikan.

Demi Tuhan, ini terlalu tiba-tiba untuk Tae Young, dia tak menyangka bahwa Yesung akan mengatakan hal seperti ini padanya.

“Op.. oppa.. aku.. aku..” Tae Young berkata dengan terbata-bata, gugup menguasai tubuhnya hingga ia kesulitan berucap.

Yesung tersenyum kecil, “Tidak perlu menjawab sekarang, Young-ah. Oppa akan menunggu jawabanmu tiga hari lagi, sekarang pulanglah.”

Tae Young mengangguk dalam kegamangan yang tiba-tiba saja bersarang di dadanya, yeoja itu bergegas keluar dari mobil Yesung dan buru-buru memasuki gerbang rumahnya tanpa menunggu mobil Yesung pergi. Tae Young menyandarkan tubuhnya di gerbang dengan dada berdebar tak beraturan, yeoja itu mencengkeram bagian kiri dadanya kuat-kuat sambil bertanya-tanya dalam hati apakah debaran ini menggambarkan bahwa ia memiliki perasaan yang sama dengan Yesung atau tidak. Tae Young memejamkan mata sejenak sambil menggigit bibir bagian bawahnya sebelum meloloskan helaan napas panjang dari bibirnya. Yeoja itu semakin mengeratkan dekapannya pada kura-kura pemberian Yesung sebelum melangkah masuk ke dalam rumah.

Tubuhnya kembali menegang hebat melihat Yeonsu duduk di beranda rumahnya dengan membawa sebuket mawar merah.

“Young..” panggil Yeonsu sembari berdiri dari duduknya, namja itu menggaruk tengkuknya gugup sebelum memutuskan untuk menghampiri Tae Young hingga ia berdiri di hadapan Tae Young.

“Untuk apa kau ke sini?” tanya Tae Young dingin begitu kesadaran menamparnya, dekapan pada boneka di dadanya semakin erat.

“Young mianhae, jeongmal mianhae. Aku tahu kau memutuskanku karena kau sudah tau aku pacaran denganmu untuk taruhan..” kata Yeonsu memulai, kata-kata maaf yang diucapkannya terdengar begitu tulus. “Dulu, itu memang benar Young. Aku berpacaran denganmu semata-mata karena taruhan, tapi setelah sebulan ini kau menghilang, aku baru sadar kalau aku sudah terlanjur mencintaimu.”

Namja itu berhenti sejenak melihat tatapan tajam Tae Young yang seolah mengatakan bahwa ia berbohong sebelum kembali melanjutkan, “demi Tuhan Young, kali ini aku tidak berbohong. Aku benar-benar mencintaimu. Nan neomu jeongmal saranghaeyo, Young-ah. Aku mohon kembalilah, kita bisa memulai semuanya dari awal..”

Tae Young merasakan otaknya penuh secara mendadak, yeoja itu menatap mata Yeonsu mencoba mencari kebohongan, namun nihil. Hanya penyesalan dan ketulusan teramat besar yang didapati Tae Young. Tae Young dilema, di satu sisi dia memang masih menyimpan perasaan untuk namja di hadapannya ini, tapi di sisi lain, dia juga tak bisa mengabaikan Yesung begitu saja, entah sejak kapan, tapi Yesung sudah punya bagian sendiri di hatinya.

Tae Young merasa ingin menangis saat ini juga karena di hadapkan pada pilihan seperti ini.

“Pergilah Su-ya, aku tidak bisa menjawabnya sekarang.” Akhirnya hanya kata-kata itu yang bisa keluar dari mulut Tae Young.

Yeonsu mengembuskan napas berat yang sedari tadi ditahannya dan mengulurkan buket bunga itu ke hadapan Tae Young. “Aku akan menunggu jawabanmu, apa pun itu. Terimalah ini..”

Tae Young menatap buket bunga dari Yeonsu yang kini ada di tangannya dengan pandangan kosong sebelum yeoja itu duduk meringkuk dan mulai menangis akibat kegundahan yang tiba-tiba mengaduk-aduk perasaannya dalam satu malam.

***

“Aku dengar dari Yesung oppa eonni tidak menjawab panggilan atau pun membalas pesannya selama tiga hari ini, kenapa eonni?” tanya Saera begitu dia mengempaskan tubuhnya di kursi kantin universitas─tepat di depan Tae Young yang tengah melamun sambil menopang dagu.

Menyadari keberadaaan Saera, Tae Young mengangkat wajah untuk melihat junior yang merupakan sahabat baiknya itu sejenak sebelum menghela napas panjang dan kembali termenung dalam lamunannya. Melihat reaksi Tae Young atas kedatangannya membuat Saera mengenyit heran, keherannya bertambah sebab Tae Young tidak memarahinya gara-gara ia baru saja mencuri jus alpukat yang dipesan yeoja itu─biasanya berakhir dengan ceramah panjang tentang tidak sopannya sikap Saera.

Eonni ada masalah dengan Yesung oppa? Kau bisa bercerita padaku kalau kau mau.” tawar Saera kemudian, tak tega juga melihat Tae Young yang biasanya hyperactive jadi pendiam seperti ini.

Tawaran Saera rupanya cukup dianggap menarik oleh Tae Young, terbukti dengan pandangan matanya yang mulai terlihat fokus pada Saera. “Aku hanya sedang bingung, Saera-ya.”

“Bingung kenapa?” tanya Saera penasaran sambil kembali menyesap jus alpukat milik Tae Young selagi yeoja itu tak sadar.

“Tiga hari yang lalu, Yesung oppa mengatakan perasaannya padaku.” jawab Tae Young membuat mata Saera berbinar semangat, yeoja itu baru saja akan menyahut antusias saat perkataan Tae Young yang selanjutnya berhasil meruntuhkan antusiasmenya. “Tapi di hari yang sama Yeonsu juga mengatakan bahwa dia menyesal telah mempermainkan eonni dan ingin memulai semuanya dari awal dengan eonni. Ini sangat membingungkan untuk eonni, bagaimana menurutmu Saera-ya?”

Saera mengatupkan mulutnya yang ternganga akibat terlalu terkejut dengan perkataan Tae Young. Dia memandang Tae Young tajam berusaha menelisik kebenaran dari bola matanya. Saera meringis dalam hati begitu tahu Tae Young sama sekali tak berbohong.

Eonni sebaiknya ikuti kata hati eonni, siapa di antara Yesung oppa atau Yeonsu oppa yang eonni cintai..”

“Menurutmu seperti itu?” tanyanya tak yakin, Saera mengangguk pasti sambil mengambil sepotong kentang goreng di piring Tae Young. “Waktu dengan Kyuhyun oppa, apakah kau juga sempat merasa seperti ini, Saera-ya?” tanya Tae Young kemudian penasaran.

“Uhuk!” Saera tersedak mendengar pertanyaan Tae Young, wajahnya merona sempurna. “Yak! Eonni! Jangan bicarakan aku dengan si evil itu! Ini masalahmu dengan Yesung oppa!” elaknya ketus.

Tae Young terkekeh pelan mendengar perkataan Saera, “Menurutmu mana yang lebih baik antara Yesung oppa dengan Yeonsu?”

Saera mengedikkan bahunya, “Mana kutahu, yang punya hati kan kau eonni, harusnya kau yang lebih tahu siapa yang terbaik.”

Tae Young mengerucutkan bibirnya mendengar perkataan Saera, otak dan hatinya sedang sibuk berperang tentang siapa yang sebenarnya dicintai oleh Tae Young. Embusan napas berat tak jarang keluar dari bibir Tae Young akibat jalan buntu yang selalu ditemuinya ketika mulai mendebatkan hal ini. Yeonsu dan Yesung punya porsi masing-masing di hatinya, dan dia belum bisa memutuskan siapa di antara kedua orang itu yang mempunyai porsi lebih banyak.

Getaran halus ponsel di sakunya berhasil membuat lamunan Tae Young lenyap dalam sekejap. Yeoja itu bergegas mengeluarkan ponselnya tanpa mempedulikan tatapan penasaran yang diberikan Saera. Ada dua sms yang dikirimkan dalam waktu bersamaan untuknya.

From: ddangkoma appa_Ye oppa^^
Young-ah, aku tak tahu kenapa kau terus menghindariku tiga hari ini. Tapi sesuai perkataanku, hari ini aku menunggu jawabanmu. Jam 16.00 di taman depan kompleks rumahmu.
Jangan menghindar lagi, aku akan menunggu sampai kau datang, saranghae..

From: Yeonsu-ya^^
Aku menunggu jawabanmu. Hari ini di Coffe Beans jam 16.00. Jebal, datanglah..
Saranghae Young-ah..

Tae Young membeku setelah membaca kedua sms itu. Bukan hanya karena waktu yang diajukan sama, tetapi karena Coffe Beans dan taman kompleks rumahnya itu berlawanan arah. Butuh waktu lebih dari 30 menit untuk sampai. Tae Young menenggelamkan kepalanya pada meja untuk meredam emosi campur-aduk yang sekarang sedang bercokol di hatinya.

Melihat Tae Young seperti orang frustasi, Saera mengambil ponsel yeoja itu dan matanya langsung membulat setelah membaca kedua pesan yang dikirimkan oleh dua orang berbeda. “Eonni, kau benar-benar harus memilih salah satu di antara mereka kalau seperti ini..” gumam Saera yang ditanggapi dengan gumamam penuh kegelisahan dari bibir Tae Young.

Tae Young benar-benar bingung menentukan siapa yang harus dipilihnya. Mungkin terdengar egois, tapi… bisakah dia memiliki kedua orang itu sekaligus?

***

“Jangan memasang wajah merana seperti itu hyung, kau membuatku ingin muntah saja!” ejek Kyuhyun begitu dia duduk di hadapan Yesung di ruang makan. Yesung hanya mendelik sekilas pada Kyuhyun sebelum kembali memandang jus jeruk di gelasnya dengan pandangan merana yang sama.

“Kau tidak mengerti Kyu, aku merasa digantung, huft..” tukas Yesung sarkatis.

Kyuhyun─juga Donghae, Sungmin, Eunhyuk, dan Ryeowook yang ada di meja makan─tergelak mendengar ucapan Yesung. Tak menyangka bahwa hyung bijak mereka bisa jadi seperti ini juga jika sudah menyangkut masalah cinta.

“Cinta memang butuh perjuangan hyung, jangan menyerah!” seru Donghae berusaha memberikan semangat, Yesung hanya melirik ke arah Donghae sekilas sebelum mengeluarkan napas kesal dari bibirnya.

“Doakan sajalah..” sahut Yesung pasrah seraya mengambil jaket dan kunci mobilnya untuk berangkat ke taman berhubung 45 menit lagi jam 16.00

Hwaiting hyung!” seru Kyuhyun, Donghae, Sungmin, Eunhyuk, dan Ryeowook bersamaan sebelum Yesung benar-benar keluar dari dorm.

***

Cuaca benar-benar tak bersahabat hari ini. Angin berdesir dengan kencang sepanjang hari, awan putih mulai berarak digantikan awan mendung, hawa dingin yang menusuk sampai ke tulang ikut melengkapi buruknya cuaca sore ini. Terlihat suram, sesuram suasana hati seorang namja yang duduk tak tenang di taman itu.

Yesung merapatkan jaket yang dipakainya sambil sesekali menghela napas, namja itu berulang kali melirik ke arah jam tangan digitalnya yang menunjukkan pukul 17.00. Sudah lewat satu jam dari janji, apa yeoja itu benar-benar tak akan datang? Mencoba menepis pikiran buruk tersebut, Yesung mengisi waktunya dengan bersenandung lirih. Saat udara semakin dingin menusuk, namja itu memejamkan mata berusaha menahan emosi yang bergumul di hatinya. Yesung akan bertahan sampai yeoja itu datang ke hadapannya karena dia percaya seterlambat apa pun yeoja itu, dia akan tetap datang untuk memberinya jawaban.

Yesung merogoh saku jaketnya saat merasa benda elektronik di dalam sana bergetar. Embusan napas yang menjadi kepulan uap lolos begitu saja dari bibirnya saat membaca sederet kalimat yang dikirimkan Saera.

From: Han Sae Ra
Oppa kau masih menunggu Tae Young eonni? Pulanglah, kau salah membuat jadwal bertemu. Yeonsu juga menunggu Tae Young eonni di Coffe Beans tepat jam 16.00, dan eonni memilihnya. Jangan menunggu lagi oppa, pulanglah, aku tak ingin oppa sakit hati. Jebal..

Jadi karena itu, gumam Yesung dalam hati sambil menyimpan ponselnya kembali. Yesung menengadah ke atas langit. Setetes air hujan jatuh ke wajahnya disusul tetes hujan lainnya, tapi Yesung tak beranjak sedikit pun. Namja itu sudah mengukuhkan tekad dalam hati bahwa dia tetap akan menunggu sampai tubuhnya benar-benar tak sanggup lagi untuk menunggu.

Han Tae Young, aku tetap menunggumu. Datanglah...

***

Tae Young melirik rintik-rintik hujan dari jendela taksi yang dinaikinya dengan perasaan tak menentu. Dia mengepalkan tangannya kuat-kuat sambil menyumpahi kebodohannya dalam hati.

Seharusnya dia menyadari arti debaran itu dari dulu-dulu, seharusnya dia tak usah ragu dengan hatinya saat Yeonsu datang lagi, seharusnya dia, seharusnya… argh! Tae Young benar-benar merasa bahwa dirinya sangat bodoh karena ketidakpekaannya selama ini. Jika saja dia sadar lebih awal, mungkin tidak akan begini jadinya.

Ahjussi, bisakah lebih cepat lagi?” tanya Tae Young tak sabaran pada sopir taksi yang ditumpanginya, sopir taksi itu menatap Tae Young sekilas dari balik kaca spion.

Mianhae agasshi, jalanan macet karena hujan.”

Tae Young menggigit bibir mendengar jawaban sopir taksi itu, dia melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 18.30, 2.30 jam terlambat, ditengah hujan, apakah namja itu masih tetap di sana?

Saat taksi yang ditumpanginya berhenti tepat di depan taman, Tae Young dengan terburu-buru merogoh tasnya dan mengeluarkan uang untuk membayar argo taksi. Tanpa payung, yeoja itu segera berlari masuk ke dalam taman. Tubuhnya serasa dilolosi tulang-belulang saat dia melihat Yesung terduduk dengan bibir membiru di salah satu bangku taman.

Air mata yang terkamuflase air hujan perlahan luruh dari mata Tae Young melihat seberapa besar cinta yang Yesung berikan untuknya.

Tak peduli dengan tubuhnya yang basah akibat air hujan, Tae Young kembali berlari dan langsung memeluk Yesung dengan erat. Isakan lolos dari bibir Tae Young. Yeoja itu membenamkan wajahnya di dada Yesung yang telah basah kuyup akibat diguyur hujan 1.30 jam lamanya. Tae Young tak tahu perasaan senang, terharu, atau sedihkah yang saat ini lebih mendominasi hatinya. Yang Tae Young tahu, dengan adanya Yesung di sini, itu artinya dia telah menemukan seorang namja yang pantas ia cintai untuk selamanya. Namja yang rela mengorbankan tubuhnya hanya demi Tae Young. Tae Young bersumpah dalam hati ia tak akan pernah menyia-nyiakan Yesung lagi, dia juga takkan pernah membuat Yesung menunggu lagi. Tak akan.

Cukup tersentak merasakan pelukan tiba-tiba dari seseorang, Yesung menarik kedua sudut bibirnya melengkungkan senyuman saat sadar bahwa yang memeluknya adalah Tae Young, yeoja yang dia tunggu sedari tadi. Tanpa mempedulikan tubuhnya yang sudah mendingin, tangan Yesung merayap dan membalas pelukan Tae Young dengan erat. Dia memang tak salah, yeoja ini pasti datang untuknya. Yesung tak menyesal harus menunggu lebih dari satu jam di bawah guyuran hujan demi yeoja ini, karena pengorbanannya terbukti tidak sia-sia.

“Sstt, uljima Young-ah, uljima..” bisik Yesung parau begitu merasakan tubuh Tae Young bergetar bukan karena dingin, dielusnya rambut yeoja itu dengan lembut sambil terus menggumamkan ‘uljima’ berulang-ulang untuk menenangkannya.

Tae Young mengeratkan pelukannya begitu mendengar perkataan Yesung, yeoja itu mencoba memberikan kehangatan pada tubuh Yesung yang sudah sedingin es.

Babo namja, kenapa tetap menunggu di sini? Bagaimana kalau aku benar-benar tak datang?” katanya dengan suara yang menyamai bisikan. Ada nada marah yang terselip dibisikan lemah itu.

Yesung terkekeh meskipun kepalanya terasa agak pening sekarang, “Karena aku tahu Young-ah, aku tahu kau pasti datang. Karena itulah aku tetap menunggumu di sini.”

Babo! Tubuhmu terasa seperti es batu oppa..” omel Tae Young kemudian sambil memukul punggung Yesung pelan, dalam hati yeoja itu bersyukur hujan pelan-pelan mulai mereda digantikan gerimis kecil sehingga tubuh keduanya tidak harus terguyur air deras lagi.

Yesung tak menyimak perkataan Tae Young barusan, namja itu sekarang sedang asyik menghirup aroma yang menguar dari rambut Tae Young. “Urusanmu dengan Yeonsu sudah selesai?” tanya Yesung mengalihkan pembicaraan. Pelan, Yesung melonggarkan pelukan Tae Young hingga dia bisa melihat wajah sendu yeoja itu yang dihiasi beberapa butir air hujan─juga air matanya sendiri. Tangan dingin Yesung bergerak mengusap butir-butir air hujan yang bersemayam dengan manis di wajah Tae Young.

Tae Young memejamkan matanya merasakan usapan penuh kasih sayang yang diberikan oleh Yesung sebelum mengangguk pelan, “Aku pergi ke Coffe Beans untuk menyelesaikannya, kami bicara cukup lama. Karena itu aku datang sangat terlambat, jalanan juga sangat macet tadi. Mianhae oppa, jeongmal mianhaeyo.” kata Tae Young tulus sembari membuka matanya pelan-pelan. Dia tersenyum kecil saat manik matanya bertubrukan dengan manik mata Yesung yang memandangnya lembut, sangat lembut sampai-sampai Tae Young beranggapan bahwa Yesung adalah salah satu malaikat Tuhan yang kabur dari surga.

Gwaenchana, yang penting sekarang kau sudah ada di sini, Young.” tukas Yesung seraya menahan tangan Tae Young yang baru saja ingin menyentuh pipinya. Yesung menampilkan sebuah senyum menawan di bibirnya sebelum namja itu mengucapkan satu kalimat tulus penuh perasaan. “Young, saranghae. Jeongmal saranghaeyo.”

Tae Young membalas senyum Yesung dengan senyum termanis yang dimilikinya. “Nado oppa, nado saranghaeyo.” balas Tae Young lembut, “oppa kau benar-benar dingin!” seru Tae Young kemudian dengan panik saat tangannya menyentuh pipi Yesung. Benar-benar dingin.

Yesung hanya tersenyum kecil menanggapi kepanikan Tae Young yang masih berdiri berhadapan dengannya. Dia menarik tangan Tae Young hingga yeoja itu jatuh di pangkuannya sebelum berkata dengan nada menggoda, “Kalau begitu, hangatkan aku chagi..”

Dalam hitungan detik, bibir Yesung tiba-tiba saja sudah tertempel sempurna di bibir Tae Young, membuat yeoja itu membelalakkan mata lebar-lebar saat ia ditarik paksa masuk ke dalam dunia milik Yesung.

END
  

oh oke, gue tahu ini aneh banget. Akhiran juga apa banget #perasaan os lo akhirannya ciuman mulu nis -__- / terus masalah buat lo? OS OS gue juga *gila* *tolong abaikan*
jadi intinya ya gitu, iya yang tadi. apaan? ga tau juga sih *stres akut*
maaf ya otak eror, stres sama telkomsel. masa paket ul yg 50 jadi 14 hari? WTH???!!!! *curhat kaan=__=*
Well, ga mau tambah gila. Pokoknya selamat menikmati cerita absurd ini aja ya!! Komennya di tunggu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar