That’s All About Us (series four: Kim Jongwoon)
Because I Know
Seorang yeoja berjalan riang
menuju gedung SMent, hari ini dia akan melaksanakan kegiatan rutinnya─mengantar
bekal makan siang untuk namjachingunya yang merupakan trainee di
SMent. Senyum tak pernah luntur dari wajah yeoja itu, senandung lirih
sesekali terdengar dari mulutnya selagi ia menapaki jalan menuju ruang latihan
khusus trainee.
Saat pintu latihan khusus trainee
sudah ada di depan matanya, senyum di bibir yeoja itu mengembang semakin
lebar. Dia mengintip lewat kaca kecil di bagian atas pintu untuk memastikan apakah
namjachingunya ada di dalam atau tidak.
Ada! Tangan yeoja itu baru
saja akan terangkat untuk mengetuk pintu saat tawa yang menggelegar pecah dari
dalam ruangan. Penasaran, yeoja itu menahan gerakan tangannya dan
menempelkan telinga ke daun pintu, berusaha mencari tahu percakapan apa yang
sedang dibicarakan oleh Yeonsu─namjachingunya─bersama para trainee
lain hingga membuat mereka tertawa seperti itu.
“Kau tahu aku berpacaran dengannya
karena taruhan, Kisoon-ah. Cinta? Huh, jangan bercanda.” seru Yeonsu
lalu kembali tergelak keras. Yeoja itu melebarkan matanya, pacaran?
Taruhan? Apa maksud percakapan mereka?
Terdengar sahutan dari orang yang
dipanggil Kisoon, “Jahat sekali kau, bagaimana kalau Tae Young sampai mendengar
hal ini?”
“Kalau tidak jahat bukan Yeonsu
namanya, Kisoon-ah, haha..” timpal salah satu trainee.
Tawa Yeonsu semakin pecah, “Kalau
Tae Young tahu aku berpacaran dengannya gara-gara taruhan, yeoja itu
pasti sakit hati. Mungkin akan bunuh diri saking cintanya padaku.”
Brak!
Kotak bekal yang dibawa yeoja
itu jatuh begitu saja mendengar percakapan namjachingunya. Air mata
perlahan turun membasahi pipinya sebelum yeoja itu berlari menjauhi
ruang latihan trainee menuju ke atap gedung SMent dengan membawa semua
luka baru yang telah digoreskan oleh orang yang paling dicintainya, Yeonsu sang
namjachingu.
***
“Aigo, lelah sekali.” keluh
Yesung sambil merentangkan tangannya lebar-lebar.
Semua member Suju memang
baru menyelesaikan sesi latihan mereka untuk tampil di Music Bank sore ini,
jadwal mereka sangat padat sejak comeback beberapa waktu yang lalu.
Kegiatan demi kegiatan terus berdatangan hingga setiap member hampir tak
punya waktu untuk istirahat. Lelah? Jelas. Tapi demi ELF, para member
Super Junior berusaha keras untuk tidak mengeluh dan menampilkan yang terbaik
demi fans setia mereka itu.
Sekarang, member Super
Junior tengah istirahat sejenak setelah menyelesaikan sesi latihan mereka yang
padat─walau hanya 30 menit. Yesung saat ini tengah meniti anak tangga untuk
beristirahat di atap gedung SMent, tempat itu adalah satu-satunya tempat yang
sangat sepi di jam-jam seperti ini, Yesung ingin mengistirahatkan matanya
kembali di tempat sepi itu selama masa istirahatnya berlangsung.
Mata Yesung berkeliling ke sekitar
atap, mencari-cari dimana kiranya tempat yang nyaman agar ia bisa tidur dengan
lelap. Mata sipit Yesung sontak melebar sempurna begitu melihat seorang yeoja
di tepi gedung sana, sedang merentangkan tangannya ke atas dengan kaki hanya
berjarak satu langkah dari pembatas gedung.
“Yak! Apa yang kaulakukan, hah? Kau
gila?!” bentak Yesung sambil menarik tubuh yeoja itu cepat-cepat.
Yeoja itu tak mengeluarkan sepatah
kata pun mendengar bentakan Yesung, dia hanya terdiam sambil memandang lurus ke
depan dengan pandangan kosong. Tidak terlihat emosi apapun dari dua bola
matanya, hanya kehampaan tak berujung yang terlukis di sana.
Yesung menghela napas panjang, ia
terpaksa membatalkan rencana tidurnya karena kasus tiba-tiba ini. Namja itu
berjongkok untuk menyamakan tinggi dengan sang yeoja, dia mengulurkan
tangannya menyentuh bahu yeoja itu berusaha menyalurkan sebuah
ketenangan.
“Apa yang baru saja kaulakukan, agasshi?”
tanya Yesung sopan, bola matanya menatap dalam mata yeoja di depannya.
Sayangnya pertanyaan Yesung tak mendapat respons apa pun selain tepisan kasar.
Yesung menelan ludah melihat reaksi
yeoja di hadapannya ini, yeoja ini tampak begitu depresi jika
dilihat dari pandangan matanya. Namja itu juga bingung dengan apa yang
harus dilakukannya saat ini, kalau Yesung meninggalkan yeoja ini seorang
diri, dia takut yeoja ini akan kembali melakukan hal nekat─mencoba bunuh
diri. Kedua orang itu akhirnya terdiam.
Setelah sibuk berdebat dengan
pikirannya, Yesung melirik yeoja itu sesekali sambil menghela napas
berulang-ulang sebelum akhirnya menarik tangan yeoja itu untuk berdiri.
Dia memang sebaiknya membawa yeoja itu ke bawah untuk sementara.
Ajaibnya, yeoja itu mengikuti langkah Yesung tanpa melawan sama sekali.
“Siapa namamu?” tanya Yesung tanpa
melirik yeoja yang ada di sebelahnya. Yeoja itu terlihat sangat
pasrah, dia seperti tak punya keinginan untuk hidup.
Tak ada respons. Yesung rasanya
ingin membenturkan kepala ke tembok saking kesalnya melihat yeoja itu
sama sekali tak bereaksi dengan segala perkataannya.
Memutuskan untuk tak berucap apa pun
lagi, Yesung kembali fokus pada jalannya. Namja itu menghentikan
langkahnya saat seorang trainee─yang ia tahu bernama Yeonsu─berjalan ke
arahnya. Keningnya berkerut saat merasakan tubuh yeoja di sebelahnya
menegang karena kehadiran Yeonsu.
“Annyeong haseyo Yesung sunbae..”
sapa Yeonsu sopan─dibalas anggukan Yesung─sebelum tatapannya beralih pada Tae
Young yang bergeming akan kehadirannya. Namja itu mengulas senyum lembut
untuk Tae Young, “Tae Young-ah, aku kira kau tidak datang hari ini. Ayo
pergi..” ucapnya kemudian meraih tangan Tae Young yang satunya.
Tae Young mencengkeram tangan
Yesung sangat erat begitu Yeonsu menariknya, mata yeoja itu menatap
Yeonsu nyalang. “Pergi..” desisnya tajam.
Yesung mengernyit, semakin tak
mengerti dengan apa yang tengah terjadi di hadapannya. Sementara Yeonsu juga
menatap Tae Young dengan bingung karena reaksi yeojanya yang di luar
dugaan.
“Chagi, waeyo?” tanya Yeonsu
sambil mengangkat tangannya untuk mengelus rambut Tae Young. Keningnya langsung
berlipat sempurna begitu Tae Young menepis tangannya dengan tatapan yang
semakin menusuk.
“Kau. Bukan. Namjachinguku.
Lagi. Mulai. Sekarang!” seru Tae Young dengan penuh penekanan di setiap katanya
sebelum yeoja itu menarik tangan Yesung pergi meninggalkan Yeonsu yang
masih terlolong tak percaya.
“Hei, Tae Young-ssi, jangan
menarikku keras-keras, ini sakit!” protes Yesung yang tangannya masih ditarik
kasar oleh Tae Young.
Seakan tersadar, Tae Young bergegas
menyentakkan tangan Yesung saat itu juga. Dia membalikkan badannya dan menatap
Yesung dengan tatapan yang membekukan. “Kau, Yesung-ssi yang terhormat, kenapa
kau menarikku dari gedung itu?” tanyanya dengan suara rendah yang
mengintimidasi, Yesung menelan ludah, tak menyangka sikap yeoja itu bisa
berbeda seratus delapan puluh derajat dari yang tadi. “Kenapa kau tidak
membiarkan aku meloncat, hah?!” teriak Tae Young lagi penuh emosi. Cucuran air
mata yang disertai isakan lolos dari bibirnya membuat Yesung kalang-kabut. Namja
itu menarik tangan Tae Young cepat-cepat begitu melihat banyak sekali staf yang
memandang ke arahnya dengan tatapan menuduh.
Yesung mendudukkan tubuh Tae Young
di bangku panjang taman depan SMent, dia memutar bola matanya kesal melihat Tae
Young yang masih menangis terisak-isak dengan makian yang tertuju padanya
gara-gara ia menyelamatkan nyawa Tae Young. Yesung menarik napas panjang sambil
melirik jam tangannya yang hampir menunjukkan jam 10, latihan dimulai kurang
dari 10 menit lagi. Sebelum mendudukkan tubuhnya di samping Tae Young, Yesung
mendengus sebentar, rasa kasihan juga kemanusiaan yang dimilikinya membuat
Yesung tak tega meninggalkan yeoja labil ini sendirian.
“Tae Young-ssi, kau harusnya
bersyukur karena aku menyelamatkan nyawamu. Coba kaupikirkan berapa banyak
orang di luar sana yang mati karena kelaparan? Sedangkan kau? Kau mau
menyia-nyiakan hidupmu hanya gara-gara patah hati? Astaga, jangan bercanda!”
ujar Yesung, terdengar keseriusan dari setiap ucapan yang dilontarkan namja
itu. Yesung menyunggingkan senyum tipis saat merasa Tae Young mulai terpengaruh
ucapannya, terbukti dari isakan tangis yang mulai mereda.
Tae Young memang mau tak mau merasa
hatinya tersentuh mendengar ucapan bijaksana yang keluar dari mulut Yesung.
“Tapi... namja itu.. aku...” elak Tae Young terbata-bata yang dibalas
Yesung dengan tatapan tajam.
“Kautunggu aku selesai latihan, aku
akan mengajarimu bagaimana caranya mensyukuri hidup. Jangan kemana-mana!” ancam
Yesung sebelum melenggang meninggalkan Tae Young yang tak bisa berkata-kata
saking takutnya melihat tatapan Yesung.
***
“Hyung, kau mau kemana?”
teriak Donghae ketika melihat Yesung bergegas keluar begitu latihan selesai.
“Aku ada urusan, jangan tunggu aku,
ne? Dua jam lagi aku akan ada di MuBank langsung.” balas Yesung
berteriak sebelum namja itu benar-benar hilang ditelan jarak. Member
Suju mendengus serentak melihat kelakuan aneh Yesung.
Sementara di lorong gedung, Yesung
berlari-lari agar sampai taman depan segera, dia takut yeoja gila yang
diselamatkannya kabur karena menunggu lebih dari dua jam. Dalam hati, Yesung
terus merutuki Eunhyuk yang dengan seenak hati menambah waktu latihan hingga
jadwal yang harusnya berakhir satu jam lalu jadi berakhir beberapa menit lalu.
Sampai di lantai bawah, Yesung mempercepat ayunan kakinya menuju taman. Langkah tergesa-gesanya memelan begitu ia tak
mendapati siapa pun di taman. Yesung menumpukkan kedua tangannya di lutut
dengan napas terengah-engah, harusnya dia tahu yeoja itu pasti tak ada,
mengapa ia tetap berharap yeoja itu akan menunggunya?
“Babo Yesung!” gerutunya
disela-sela mengambil napas.
“Yesung-ssi, kenapa kau lama
sekali?” suara seorang yeoja yang terdengar ketus membuat Yesung sontak
mendongakkan kepala, matanya menatap tak percaya Tae Young yang ternyata masih
ada di sini.
Yesung perlahan menegakkan badan
setelah merasa lelahnya berkurang, “Mianhae, tadi ada monyet yang
menambah jadwal latihan seenak hati.” kata Yesung sambil terkekeh dalam hati
dengan ucapannya sendiri, dia menambahkan ucapannya beberapa saat kemudian
dengan mimik bingung. “Lagipula aku kira kau sudah pergi.”
Tae Young mendengus, tangannya yang
memegang cup moccacino terangkat hingga sedotan cup itu sampai di
bibirnya dan ia menyesap cairan di dalamnya dengan santai sebelum menjawab.
“Kaugila? Mana mungkin aku pergi begitu saja setelah menunggu lebih dari satu
jam? Aku hanya pergi membeli minum karena kesal..” dia menjeda kalimatnya
sebentar sebelum kembali melanjutkan dengan suara pelan, “lagipula aku
penasaran dengan ucapanmu tadi.”
Senyum tipis terkembang di bibir
Yesung, “Kajja, kita pergi sekarang.” ajak Yesung seraya menarik
pergelangan tangan Tae Young menuju parkiran.
Mobil Yesung melaju membelah
jalanan kota Seoul, suasana di mobil hening, hanya alunan Only One yang menjadi
satu-satunya backsound utama di dalam mobil. Baik Yesung maupun Tae
Young sama-sama tak bersuara, mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing─Yesung
dengan jalanan, sedangkan Tae Young dengan ponselnya, sibuk menghapus segala
hal yang berhubungan dengan Yeonsu di ponselnya.
“Kau berencana bunuh diri gara-gara
Yeonsu?” Yesung memberanikan diri bertanya.
Tae Young menghentikan tarian jari
di layar ponselnya lalu menghela napas panjang, “Nde, mungkin pikiranku
terlalu pendek saat itu. Tapi, kau tahu Yesung-ssi? Rasanya sangat sakit,
aku sangat mencintai Yeonsu dengan tulus.” ujar Tae Young dengan mata yang
mulai berair, suaranya samar-samar terdengar bergetar.
Yesung meringis, agak bingung juga
di hadapkan dengan yeoja yang patah hati. Akhirnya dengan sedikit
keberanian, namja itu mengelus tangan Tae Young lembut sebelum berkata,
“Ceritakanlah, aku akan mendengarkanmu.”
Dengan pandangan yang berkabut, Tae
Young mengalihkan tatapannya pada Yesung. Hatinya sedang berdebat apakah dia
memang harus bercerita pada namja yang baru dikenalnya ini atau tidak.
Setelah lama berdebat dengan hati sendiri, Tae Young menggigit bibir sebelum
cerita itu mengalir dengan mulus dari belahan bibirnya.
Yesung sesekali berjengit sambil
melirik Tae Young iba, namun mulutnya terkunci rapat, dia tak mengeluarkan
sepatah kata pun.
“Tolong jangan ceritakan pada
siapapun, Yesung-ssi. Aku pasti akan sangat malu.” pinta Tae Young
begitu dia selesai bercerita, diusapnya tetesan air mata yang jatuh mengalir.
Yesung menepikan mobilnya di dekat sebuah
kafe, setelah mematikan mesin mobil, namja itu mengulurkan sehelai sapu
tangan ke wajah Tae Young. “Arraseo, aku bisa memegang rahasia.
Percayalah.” sahut Yesung sambil menampilkan senyum hingga matanya tak
terlihat.
Melihat senyum Yesung yang terasa
menenangkan, Tae Young ikut menarik kedua sudut bibirnya hingga melengkung
walaupun hatinya masih perih memikirkan peristiwa yang terjadi beberapa jam
lalu.
“Nah, ayo keluar. Kita harus
membeli makanan dulu sebelum pergi ke tempat tujuan.” seru Yesung bersemangat.
***
“Yesung hyung!”
“Yesung oppa!”
Panggilan saling bersahutan itu
segera memenuhi gendang telinga Tae Young begitu yeoja itu keluar dari
mobil Yesung. Tempat yang ingin Yesung tunjukkan ternyata adalah sebuah panti
asuhan, tempat berkumpulnya anak-anak yatim-piatu yang biasanya lalai dari
pengamatan masyarakat. Diam-diam, Tae Young memandang Yesung kagum saat namja
itu dengan semangat memeluk satu-persatu anak-anak panti. Kantong makanan yang
dibawa Yesung tadi di simpan di dekat kakinya selagi namja itu sibuk
mengurusi anak-anak yang berebutan ingin memeluknya.
Seulas senyum terukir di bibir Tae
Young melihat wajah penuh semangat anak-anak panti. Yesung benar, dia harusnya
bersyukur sebab masih banyak anak-anak yang ingin bertahan hidup ditengah
kerasnya kehidupan di Seoul ini. Tae Young jadi menyesal karena dia sempat
berpikiran untuk mengakhiri hidupnya hanya gara-gara patah hati. Pikirannya
sangat dangkal, padahal ia hidup berkecukupan ditengah-tengah keluarga yang
menyayanginya.
“Eonni cenapa beldiri di
citu, ayo macuk..” seorang yeoja kecil berumur 5 tahun menarik-narik
ujung kemeja yang digunakan Tae Young saat yeoja itu sibuk melamun
dengan pikirannya sendiri.
Tae Young otomatis tersentak dengan
sentuhan ringan yeoja kecil tadi, dia buru-buru berjongkok untuk
menyeimbangkan tingginya sebelum tersenyum ramah. “Siapa namamu adik manis?”
tanya Tae Young sembari mengulurkan tangannya untuk memangku yeoja kecil
tadi.
Yeoja kecil tadi tersenyum
imut yang membuat Tae Young ingin sekali mencubit pipinya, “Kim Gihwan imnida,
eonni..”
“Gihwan! Tidak merindukan oppa,
eoh?” seru Yesung yang tiba-tiba saja sudah ada di hadapan Tae Young dan
Gihwan.
Gihwan bertepuk tangan riang sambil
tertawa-tawa sebelum mengulurkan tangannya kepada Yesung, Tae Young mengerti
sehingga dia membiarkan Gihwan beralih ke pangkuan Yesung.
“Dongsaengdeul, yeoja
di sebelah ini temanku. Namanya Tae Young..” seru Yesung pada anak-anak yang
masih bergerombol di dekat badannya, anak-anak itu spontan memutar pandangan
kepada Tae Young sebelum berakhir dengan kericuhan akibat anak-anak itu berebutan
ingin menyambut Tae Young.
Kericuhan itu berakhir saat Park ahjumma
datang, anak-anak yang penuh semangat itu digiring sampai duduk teratur di
meja-meja kecil yang ada di taman depan panti. Makanan yang Yesung bawa
disambut penuh sorakan oleh anak-anak tersebut, polos. Begitu polos sampai Tae
Young tak pernah berhenti tersenyum ketika menatapi cara makan anak-anak itu
satu-persatu.
“Bagaimana, sudah belajar sesuatu?”
tanya Yesung yang tiba-tiba saja duduk di sebelahnya, ada Gihwan yang masih
asyik dengan kue cokelatnya di pangkuan Yesung.
Tae Young menoleh, yeoja itu
tidak langsung menjawab pertanyaan Yesung melainkan mengulurkan tangannya untuk
mengambil alih Gihwan. “Nde, gomawo Yesung-ssi. Aku
mendapatkan banyak pelajaran berharga hari ini..”
Sejenak Yesung terpaku melihat senyum
tulus yang terlukis di bibir Tae Young sebelum namja itu ikut tersenyum.
“Cheonmaneyo, itu sudah kewajibanku sebagai sesama manusia, Tae Young-ssi.”
balas Yesung, tatapannya lalu beralih pada Gihwan. Yesung mengelus rambut yeoja
kecil itu penuh sayang, “enak?” tanyanya.
Gihwan yang berada di pangkuan Tae
Young mengangguk lucu. “Ne! Tapi Gihwan lebih cuka yang stobelinya
oppa.” jawabnya polos.
Tae Young dan Yesung tertawa
mendengar pernyataan polos yeoja kecil itu. “Gihwan suka kue stroberi? Nanti eonni
buatkan, yah.”
“Waa, eonni bica membuat kue
stobeli?” tanya Gihwan dengan mata berbinar.
Tae Young mengangguk membuat Gihwan
langsung memeluknya erat. “Gomawo eonni..” serunya lalu melepas pelukan
dan memandang ke arah Yesung dengan tatapan memohon, “oppa, Gihwan mau oppa
nyanyi.”
Yesung terkekeh, diusapnya poni
Gihwan lembut sebelum senandung merdu mengalun dari bibirnya. Namja itu
menyanyikan bittersweet dengan sangat indah dan penuh perasaan.
Tae Young tersenyum kecil dalam
hati, Yesung telah membuatnya terpesona untuk sekian kali dalam satu hari.
***
Yesung menyembunyikan tangannya di
dalam mantel karena cuaca dingin yang sangat menusuk. Namja yang
sekarang sedang menggunakan penyamaran lengkap─kacamata dan masker─itu
mendongak menatap langit malam yang hitam pekat. Matanya sesekali melirik ke
arah jam tangan yang terpasang manis di pergelangan tangannya dan desahan
keluar dari bibirnya begitu sadar dia sudah menunggu lebih dari 15 menit.
Bertanya-tanya siapa yang ditunggu
Yesung? Jawabannya adalah seorang yeoja bernama Han Tae Young. Sebulan
telah berlalu sejak pertemuan pertama keduanya, sejak saat itu Tae Young dan
Yesung sering menghabiskan waktu bersama. Kebanyakan karena Tae Young sering
sekali meminta saran pada Yesung sebab menurutnya Yesung sangat bijak. Dan
fakta bahwa Saera ternyata adalah sahabat Tae Young membuat keduanya tak
terlalu susah bertemu sebab Saera selalu membawa Tae Young saat mengunjungi dorm
Super Junior─gara-gara fakta ini Tae Young sekarang benar-benar percaya bahwa
dunia memang sempit!
Entah sejak kapan, tapi Tae Young
dan Yesung pelan-pelan mempunyai ikatan aneh yang sulit untuk diuraikan.
“Mianhae, apakah oppa
menunggu lama?” tanya Tae Young terengah-engah begitu dia sampai di bangku
tempat Yesung duduk. Yeoja itu segera melemparkan tubuhnya di sebelah
Yesung seraya mengambil napas sebanyak-banyaknya.
Yesung terkekeh pelan melihat
keadaan Tae Young, tangannya terulur dan mengacak rambut Tae Young dengan
gemas. Yang sukses membuat Tae Young merajuk dan mengerucutkan bibirnya
beberapa senti.
“Oppa!” jeritnya tak terima
sambil memukuli tangan Yesung dengan barbar.
“Yak! Yak! Berhenti Young-ah,
kau mau membuat aku masuk rumah sakit, eoh?” tukas Yesung sambil
berusaha menghindari tangan Tae Young yang terus memukulnya. Namja itu
memegang kedua pergelangan tangan Tae Young seraya meringis, Tae Young
tertawa-tawa melihat ekspresi Yesung, yeoja itu malah menjulurkan
lidahnya keluar dengan tatapan mengejek.
“Payah!” cibirnya yang tentu saja
membuat Yesung naik darah.
“Yak! Kau ini, sudah membuatku
menunggu, sekarang malah mengejek.” omel Yesung tak terima.
Bukannya takut, tawa Tae Young
malah terdengar semakin keras terdengar. Tae Young mengguncang-guncang tangan
Yesung pelan melihat wajah merajuk yang diperlihatkan Yesung. Menggelikan
menurutnya. Yesung hanya sesekali mendelik ke arah Tae Young, bersikeras untuk
berpura-pura marah.
“Aigo oppa, berapa umurmu
sekarang, huh? Berhentilah merajuk seakan-akan kau baru memasuki usia duapuluh
lima tahun.” kata Tae Young yang pura-pura mengeluh, Yesung mendelik mendengar
perkataan yeoja itu. Tangannya bergerak ke atas kepala Tae Young dan
menyentil kening yeoja itu pelan.
“Kau mengataiku, huh?” tanya Yesung
ketus.
Tae Young mengusap-ngusap keningnya
yang disentil Yesung sambil memberikan tatapan paling memelas yang dimilikinya
untuk Yesung. “Oppa, mianhae ne? Kalau kau mau memarahi seseorang karena
keterlambatanku, salahkan saja Saera yang memaksaku membantunya mengerjakan
tugas kuliah sampai malam begini.”
Yesung menghela napas panjang
sebelum menyahut dengan nada pasrah, “Gwaenchana, oppa tidak
marah pada siapa pun. Hanya kesal saja.”
Senyum perlahan terkembang di bibir
Tae Young, “Jadi, ada apa oppa ingin bertemu denganku?” tanya yeoja itu
sambil mengusap-ngusap tangannya yang terasa mulai membeku.
“Oppa ingin jalan-jalan
denganmu, ada hal yang ingin oppa bicarakan juga.” jawab Yesung seraya
mengambil tangan Tae Young dan menempelkannya ke pipinya karena melihat yeoja
itu kedinginan.
Tae Young merasakan kedua belah
pipinya memanas mendapat perlakuan seperti itu dari Yesung. Dia berusaha
melepaskan tangannya yang menempel di pipi Yesung tapi tak berhasil karena dia
kalah tenaga.
“Diamlah!” perintah Yesung galak
saat merasa Tae Young ingin melepaskan tangannya, “bukankah kau kedinginan? Aku
hanya ingin menghangatkanmu.”
Tae Young tersenyum kaku ketika
merasa ada getaran aneh yang dirasakan tubuhnya saat manik matanya bertatapan
dengan manik hitam milik Yesung. Mata Yesung indah, seperti menenggelamkan jika
ditatap terus-menerus seperti ini. Tak ingin terus-terusan terperangkap, Tae
Young segera mengalihkan tatapannya ke arah lain dengan pipi yang semakin
terasa panas.
“Oppa, aku sudah merasa
lebih hangat. Bisakah kita pergi sekarang? Eommaku pasti akan memukulmu
kalau kau memulangkanku lebih dari jam 10 malam..” cetus Tae Young sambil
menarik tangannya lembut dari pipi hangat Yesung.
Yesung mengembuskan napas diam-diam
begitu tangan Tae Young tak lagi bertengger di pipinya. Namja itu akhirnya
berdiri dan mengulurkan tangan pada Tae Young.
“Aku rasa kau benar, Young-ah.
Wajah tampanku bisa biru-biru jika mengingat sifat eommamu.” keluh
Yesung, tangannya menggenggam tangan Tae Young erat-erat begitu yeoja
itu menerima uluran tangannya. “Ayo bersenang-senang malam ini.” seru Yesung
lagi bersemangat.
Tae Young tersenyum melihat
kelakuan Yesung malam ini. Yeoja itu mengikuti langkah namja
pemilik ‘ikatan aneh’ dengannya itu sambil bercerita panjang lebar mengenai apa
saja yang sudah dilaluinya di kampus hari ini. Yesung sesekali memberi
komentar-komentar bijak saat Tae Young mulai mengeluh dengan kuliahnya, mereka
juga sesekali tertawa bersama jika Tae Young menceritakan hal-hal lucu yang
dialaminya.
Yesung membawa Tae Young ke Namsan
Tower untuk melihat-lihat keindahan kota Seoul dari atas menara. Walaupun udara
terasa begitu dingin saat itu, tapi kehangatan yang mengalir lewat genggaman
tangan keduanya membuat mereka berdua tetap merasa hangat.
***
Yesung mematikan mesin mobilnya
tepat di depan gerbang rumah Tae Young, matanya melirik ke arah jam digital di
dekat dashboard mobilnya yang baru saja menunjukkan pukul 9.30. Namja
itu lalu mengamati wajah Tae Young yang tengah tertidur dengan saksama.
Senyumnya mengembang melihat ekspresi polos yang ditunjukkan yeoja itu
saat tertidur. Tangan Yesung bergerak untuk menyelipkan helaian anak rambut yeoja
itu ke belakang telinga, setelah itu dia mengelus pipi yeoja yang
diam-diam telah merebut hatinya dengan sangat hati-hati seakan Tae Young adalah
porselen yang bisa pecah kapan saja.
“Eung..” erangan kecil yang keluar
dari bibir Tae Young berhasil membuat Yesung segera menjauhkan tangannya, namja
itu juga bergegas menegakkan kembali tubuhnya seperti semula. “Sudah sampai, oppa?”
tanyanya sambil mengerjapkan mata beberapa kali.
“Ne..” jawab Yesung singkat,
dia sedang menyiapkan kata-kata untuk Tae Young nanti.
Tae Young tersenyum, dia mendekap
boneka kura-kura yang tadi dibelikan Yesung semakin erat sebelum berkata.
“Kalau begitu aku masuk dulu ya oppa, gomawo atas
jalan-jalannya.”
“Young, saranghae.”
Gerakan tangan Tae Young yang akan
membuka pintu mobil terhenti, tubuhnya menegang tiba-tiba mendengar perkataan
Yesung. Tae Young membeku beberapa detik sebelum akhirnya dia menoleh ke arah
Yesung, memandang namja itu dengan tatapan sulit diartikan.
Demi Tuhan, ini terlalu tiba-tiba
untuk Tae Young, dia tak menyangka bahwa Yesung akan mengatakan hal seperti ini
padanya.
“Op.. oppa.. aku.. aku..”
Tae Young berkata dengan terbata-bata, gugup menguasai tubuhnya hingga ia
kesulitan berucap.
Yesung tersenyum kecil, “Tidak
perlu menjawab sekarang, Young-ah. Oppa akan menunggu jawabanmu
tiga hari lagi, sekarang pulanglah.”
Tae Young mengangguk dalam kegamangan
yang tiba-tiba saja bersarang di dadanya, yeoja itu bergegas keluar dari
mobil Yesung dan buru-buru memasuki gerbang rumahnya tanpa menunggu mobil
Yesung pergi. Tae Young menyandarkan tubuhnya di gerbang dengan dada berdebar
tak beraturan, yeoja itu mencengkeram bagian kiri dadanya kuat-kuat
sambil bertanya-tanya dalam hati apakah debaran ini menggambarkan bahwa ia
memiliki perasaan yang sama dengan Yesung atau tidak. Tae Young memejamkan mata
sejenak sambil menggigit bibir bagian bawahnya sebelum meloloskan helaan napas
panjang dari bibirnya. Yeoja itu semakin mengeratkan dekapannya pada kura-kura
pemberian Yesung sebelum melangkah masuk ke dalam rumah.
Tubuhnya kembali menegang hebat
melihat Yeonsu duduk di beranda rumahnya dengan membawa sebuket mawar merah.
“Young..” panggil Yeonsu sembari
berdiri dari duduknya, namja itu menggaruk tengkuknya gugup sebelum
memutuskan untuk menghampiri Tae Young hingga ia berdiri di hadapan Tae Young.
“Untuk apa kau ke sini?” tanya Tae
Young dingin begitu kesadaran menamparnya, dekapan pada boneka di dadanya
semakin erat.
“Young mianhae, jeongmal
mianhae. Aku tahu kau memutuskanku karena kau sudah tau aku pacaran
denganmu untuk taruhan..” kata Yeonsu memulai, kata-kata maaf yang diucapkannya
terdengar begitu tulus. “Dulu, itu memang benar Young. Aku berpacaran denganmu
semata-mata karena taruhan, tapi setelah sebulan ini kau menghilang, aku baru
sadar kalau aku sudah terlanjur mencintaimu.”
Namja itu berhenti sejenak
melihat tatapan tajam Tae Young yang seolah mengatakan bahwa ia berbohong
sebelum kembali melanjutkan, “demi Tuhan Young, kali ini aku tidak berbohong.
Aku benar-benar mencintaimu. Nan neomu jeongmal saranghaeyo, Young-ah.
Aku mohon kembalilah, kita bisa memulai semuanya dari awal..”
Tae Young merasakan otaknya penuh
secara mendadak, yeoja itu menatap mata Yeonsu mencoba mencari kebohongan,
namun nihil. Hanya penyesalan dan ketulusan teramat besar yang didapati Tae
Young. Tae Young dilema, di satu sisi dia memang masih menyimpan perasaan untuk
namja di hadapannya ini, tapi di sisi lain, dia juga tak bisa
mengabaikan Yesung begitu saja, entah sejak kapan, tapi Yesung sudah punya
bagian sendiri di hatinya.
Tae Young merasa ingin menangis
saat ini juga karena di hadapkan pada pilihan seperti ini.
“Pergilah Su-ya, aku tidak
bisa menjawabnya sekarang.” Akhirnya hanya kata-kata itu yang bisa keluar dari
mulut Tae Young.
Yeonsu mengembuskan napas berat
yang sedari tadi ditahannya dan mengulurkan buket bunga itu ke hadapan Tae
Young. “Aku akan menunggu jawabanmu, apa pun itu. Terimalah ini..”
Tae Young menatap buket bunga dari
Yeonsu yang kini ada di tangannya dengan pandangan kosong sebelum yeoja
itu duduk meringkuk dan mulai menangis akibat kegundahan yang tiba-tiba
mengaduk-aduk perasaannya dalam satu malam.
***
“Aku dengar dari Yesung oppa
eonni tidak menjawab panggilan atau pun membalas pesannya selama tiga hari
ini, kenapa eonni?” tanya Saera begitu dia mengempaskan tubuhnya di
kursi kantin universitas─tepat di depan Tae Young yang tengah melamun sambil
menopang dagu.
Menyadari keberadaaan Saera, Tae
Young mengangkat wajah untuk melihat junior yang merupakan sahabat baiknya itu
sejenak sebelum menghela napas panjang dan kembali termenung dalam lamunannya.
Melihat reaksi Tae Young atas kedatangannya membuat Saera mengenyit heran,
keherannya bertambah sebab Tae Young tidak memarahinya gara-gara ia baru saja
mencuri jus alpukat yang dipesan yeoja itu─biasanya berakhir dengan
ceramah panjang tentang tidak sopannya sikap Saera.
“Eonni ada masalah dengan
Yesung oppa? Kau bisa bercerita padaku kalau kau mau.” tawar Saera
kemudian, tak tega juga melihat Tae Young yang biasanya hyperactive jadi
pendiam seperti ini.
Tawaran Saera rupanya cukup
dianggap menarik oleh Tae Young, terbukti dengan pandangan matanya yang mulai
terlihat fokus pada Saera. “Aku hanya sedang bingung, Saera-ya.”
“Bingung kenapa?” tanya Saera
penasaran sambil kembali menyesap jus alpukat milik Tae Young selagi yeoja
itu tak sadar.
“Tiga hari yang lalu, Yesung oppa
mengatakan perasaannya padaku.” jawab Tae Young membuat mata Saera berbinar
semangat, yeoja itu baru saja akan menyahut antusias saat perkataan Tae
Young yang selanjutnya berhasil meruntuhkan antusiasmenya. “Tapi di hari yang
sama Yeonsu juga mengatakan bahwa dia menyesal telah mempermainkan eonni
dan ingin memulai semuanya dari awal dengan eonni. Ini sangat
membingungkan untuk eonni, bagaimana menurutmu Saera-ya?”
Saera mengatupkan mulutnya yang
ternganga akibat terlalu terkejut dengan perkataan Tae Young. Dia memandang Tae
Young tajam berusaha menelisik kebenaran dari bola matanya. Saera meringis
dalam hati begitu tahu Tae Young sama sekali tak berbohong.
“Eonni sebaiknya ikuti kata
hati eonni, siapa di antara Yesung oppa atau Yeonsu oppa
yang eonni cintai..”
“Menurutmu seperti itu?” tanyanya
tak yakin, Saera mengangguk pasti sambil mengambil sepotong kentang goreng di
piring Tae Young. “Waktu dengan Kyuhyun oppa, apakah kau juga sempat
merasa seperti ini, Saera-ya?” tanya Tae Young kemudian penasaran.
“Uhuk!” Saera tersedak mendengar
pertanyaan Tae Young, wajahnya merona sempurna. “Yak! Eonni! Jangan
bicarakan aku dengan si evil itu! Ini masalahmu dengan Yesung oppa!”
elaknya ketus.
Tae Young terkekeh pelan mendengar
perkataan Saera, “Menurutmu mana yang lebih baik antara Yesung oppa
dengan Yeonsu?”
Saera mengedikkan bahunya, “Mana
kutahu, yang punya hati kan kau eonni, harusnya kau yang lebih tahu
siapa yang terbaik.”
Tae Young mengerucutkan bibirnya
mendengar perkataan Saera, otak dan hatinya sedang sibuk berperang tentang
siapa yang sebenarnya dicintai oleh Tae Young. Embusan napas berat tak jarang
keluar dari bibir Tae Young akibat jalan buntu yang selalu ditemuinya ketika
mulai mendebatkan hal ini. Yeonsu dan Yesung punya porsi masing-masing di
hatinya, dan dia belum bisa memutuskan siapa di antara kedua orang itu yang
mempunyai porsi lebih banyak.
Getaran halus ponsel di sakunya
berhasil membuat lamunan Tae Young lenyap dalam sekejap. Yeoja itu
bergegas mengeluarkan ponselnya tanpa mempedulikan tatapan penasaran yang
diberikan Saera. Ada dua sms yang dikirimkan dalam waktu bersamaan untuknya.
From: ddangkoma appa_Ye oppa^^
Young-ah, aku tak tahu
kenapa kau terus menghindariku tiga hari ini. Tapi sesuai perkataanku, hari ini
aku menunggu jawabanmu. Jam 16.00 di taman depan kompleks rumahmu.
Jangan menghindar lagi, aku akan
menunggu sampai kau datang, saranghae..
From: Yeonsu-ya^^
Aku menunggu jawabanmu. Hari ini
di Coffe Beans jam 16.00. Jebal, datanglah..
Saranghae Young-ah..
Tae Young membeku setelah membaca
kedua sms itu. Bukan hanya karena waktu yang diajukan sama, tetapi karena Coffe
Beans dan taman kompleks rumahnya itu berlawanan arah. Butuh waktu lebih dari
30 menit untuk sampai. Tae Young menenggelamkan kepalanya pada meja untuk
meredam emosi campur-aduk yang sekarang sedang bercokol di hatinya.
Melihat Tae Young seperti orang
frustasi, Saera mengambil ponsel yeoja itu dan matanya langsung membulat
setelah membaca kedua pesan yang dikirimkan oleh dua orang berbeda. “Eonni,
kau benar-benar harus memilih salah satu di antara mereka kalau seperti ini..”
gumam Saera yang ditanggapi dengan gumamam penuh kegelisahan dari bibir Tae
Young.
Tae Young benar-benar bingung
menentukan siapa yang harus dipilihnya. Mungkin terdengar egois, tapi… bisakah
dia memiliki kedua orang itu sekaligus?
***
“Jangan memasang wajah merana
seperti itu hyung, kau membuatku ingin muntah saja!” ejek Kyuhyun begitu
dia duduk di hadapan Yesung di ruang makan. Yesung hanya mendelik sekilas pada
Kyuhyun sebelum kembali memandang jus jeruk di gelasnya dengan pandangan merana
yang sama.
“Kau tidak mengerti Kyu, aku merasa
digantung, huft..” tukas Yesung sarkatis.
Kyuhyun─juga Donghae, Sungmin,
Eunhyuk, dan Ryeowook yang ada di meja makan─tergelak mendengar ucapan Yesung.
Tak menyangka bahwa hyung bijak mereka bisa jadi seperti ini juga jika
sudah menyangkut masalah cinta.
“Cinta memang butuh perjuangan hyung,
jangan menyerah!” seru Donghae berusaha memberikan semangat, Yesung hanya
melirik ke arah Donghae sekilas sebelum mengeluarkan napas kesal dari bibirnya.
“Doakan sajalah..” sahut Yesung
pasrah seraya mengambil jaket dan kunci mobilnya untuk berangkat ke taman
berhubung 45 menit lagi jam 16.00
“Hwaiting hyung!” seru
Kyuhyun, Donghae, Sungmin, Eunhyuk, dan Ryeowook bersamaan sebelum Yesung
benar-benar keluar dari dorm.
***
Cuaca benar-benar tak bersahabat
hari ini. Angin berdesir dengan kencang sepanjang hari, awan putih mulai
berarak digantikan awan mendung, hawa dingin yang menusuk sampai ke tulang ikut
melengkapi buruknya cuaca sore ini. Terlihat suram, sesuram suasana hati
seorang namja yang duduk tak tenang di taman itu.
Yesung merapatkan jaket yang dipakainya
sambil sesekali menghela napas, namja itu berulang kali melirik ke arah
jam tangan digitalnya yang menunjukkan pukul 17.00. Sudah lewat satu jam dari
janji, apa yeoja itu benar-benar tak akan datang? Mencoba menepis
pikiran buruk tersebut, Yesung mengisi waktunya dengan bersenandung lirih. Saat
udara semakin dingin menusuk, namja itu memejamkan mata berusaha menahan
emosi yang bergumul di hatinya. Yesung akan bertahan sampai yeoja itu
datang ke hadapannya karena dia percaya seterlambat apa pun yeoja itu,
dia akan tetap datang untuk memberinya jawaban.
Yesung merogoh saku jaketnya saat
merasa benda elektronik di dalam sana bergetar. Embusan napas yang menjadi
kepulan uap lolos begitu saja dari bibirnya saat membaca sederet kalimat yang
dikirimkan Saera.
From: Han Sae Ra
Oppa kau masih menunggu Tae
Young eonni? Pulanglah, kau salah membuat jadwal bertemu. Yeonsu juga
menunggu Tae Young eonni di Coffe Beans tepat jam 16.00, dan eonni
memilihnya. Jangan menunggu lagi oppa, pulanglah, aku tak ingin oppa
sakit hati. Jebal..
Jadi karena itu, gumam
Yesung dalam hati sambil menyimpan ponselnya kembali. Yesung menengadah ke atas
langit. Setetes air hujan jatuh ke wajahnya disusul tetes hujan lainnya, tapi
Yesung tak beranjak sedikit pun. Namja itu sudah mengukuhkan tekad dalam
hati bahwa dia tetap akan menunggu sampai tubuhnya benar-benar tak sanggup lagi
untuk menunggu.
Han Tae Young, aku tetap
menunggumu. Datanglah...
***
Tae Young melirik rintik-rintik
hujan dari jendela taksi yang dinaikinya dengan perasaan tak menentu. Dia
mengepalkan tangannya kuat-kuat sambil menyumpahi kebodohannya dalam hati.
Seharusnya dia menyadari arti
debaran itu dari dulu-dulu, seharusnya dia tak usah ragu dengan hatinya saat
Yeonsu datang lagi, seharusnya dia, seharusnya… argh! Tae Young benar-benar
merasa bahwa dirinya sangat bodoh karena ketidakpekaannya selama ini. Jika saja
dia sadar lebih awal, mungkin tidak akan begini jadinya.
“Ahjussi, bisakah lebih
cepat lagi?” tanya Tae Young tak sabaran pada sopir taksi yang ditumpanginya,
sopir taksi itu menatap Tae Young sekilas dari balik kaca spion.
“Mianhae agasshi, jalanan
macet karena hujan.”
Tae Young menggigit bibir mendengar
jawaban sopir taksi itu, dia melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul
18.30, 2.30 jam terlambat, ditengah hujan, apakah namja itu masih tetap
di sana?
Saat taksi yang ditumpanginya
berhenti tepat di depan taman, Tae Young dengan terburu-buru merogoh tasnya dan
mengeluarkan uang untuk membayar argo taksi. Tanpa payung, yeoja itu
segera berlari masuk ke dalam taman. Tubuhnya serasa dilolosi tulang-belulang
saat dia melihat Yesung terduduk dengan bibir membiru di salah satu bangku
taman.
Air mata yang terkamuflase air
hujan perlahan luruh dari mata Tae Young melihat seberapa besar cinta yang Yesung
berikan untuknya.
Tak peduli dengan tubuhnya yang
basah akibat air hujan, Tae Young kembali berlari dan langsung memeluk Yesung
dengan erat. Isakan lolos dari bibir Tae Young. Yeoja itu membenamkan
wajahnya di dada Yesung yang telah basah kuyup akibat diguyur hujan 1.30 jam
lamanya. Tae Young tak tahu perasaan senang, terharu, atau sedihkah yang saat
ini lebih mendominasi hatinya. Yang Tae Young tahu, dengan adanya Yesung di
sini, itu artinya dia telah menemukan seorang namja yang pantas ia
cintai untuk selamanya. Namja yang rela mengorbankan tubuhnya hanya demi
Tae Young. Tae Young bersumpah dalam hati ia tak akan pernah menyia-nyiakan
Yesung lagi, dia juga takkan pernah membuat Yesung menunggu lagi. Tak akan.
Cukup tersentak merasakan pelukan
tiba-tiba dari seseorang, Yesung menarik kedua sudut bibirnya melengkungkan
senyuman saat sadar bahwa yang memeluknya adalah Tae Young, yeoja yang
dia tunggu sedari tadi. Tanpa mempedulikan tubuhnya yang sudah mendingin,
tangan Yesung merayap dan membalas pelukan Tae Young dengan erat. Dia memang
tak salah, yeoja ini pasti datang untuknya. Yesung tak menyesal harus
menunggu lebih dari satu jam di bawah guyuran hujan demi yeoja ini,
karena pengorbanannya terbukti tidak sia-sia.
“Sstt, uljima Young-ah,
uljima..” bisik Yesung parau begitu merasakan tubuh Tae Young bergetar
bukan karena dingin, dielusnya rambut yeoja itu dengan lembut sambil
terus menggumamkan ‘uljima’ berulang-ulang untuk menenangkannya.
Tae Young mengeratkan pelukannya
begitu mendengar perkataan Yesung, yeoja itu mencoba memberikan
kehangatan pada tubuh Yesung yang sudah sedingin es.
“Babo namja, kenapa tetap
menunggu di sini? Bagaimana kalau aku benar-benar tak datang?” katanya dengan
suara yang menyamai bisikan. Ada nada marah yang terselip dibisikan lemah itu.
Yesung terkekeh meskipun kepalanya
terasa agak pening sekarang, “Karena aku tahu Young-ah, aku tahu kau
pasti datang. Karena itulah aku tetap menunggumu di sini.”
“Babo! Tubuhmu terasa
seperti es batu oppa..” omel Tae Young kemudian sambil memukul punggung
Yesung pelan, dalam hati yeoja itu bersyukur hujan pelan-pelan mulai
mereda digantikan gerimis kecil sehingga tubuh keduanya tidak harus terguyur
air deras lagi.
Yesung tak menyimak perkataan Tae
Young barusan, namja itu sekarang sedang asyik menghirup aroma yang
menguar dari rambut Tae Young. “Urusanmu dengan Yeonsu sudah selesai?” tanya
Yesung mengalihkan pembicaraan. Pelan, Yesung melonggarkan pelukan Tae Young
hingga dia bisa melihat wajah sendu yeoja itu yang dihiasi beberapa butir
air hujan─juga air matanya sendiri. Tangan dingin Yesung bergerak mengusap
butir-butir air hujan yang bersemayam dengan manis di wajah Tae Young.
Tae Young memejamkan matanya
merasakan usapan penuh kasih sayang yang diberikan oleh Yesung sebelum mengangguk
pelan, “Aku pergi ke Coffe Beans untuk menyelesaikannya, kami bicara cukup
lama. Karena itu aku datang sangat terlambat, jalanan juga sangat macet tadi. Mianhae
oppa, jeongmal mianhaeyo.” kata Tae Young tulus sembari membuka matanya
pelan-pelan. Dia tersenyum kecil saat manik matanya bertubrukan dengan manik
mata Yesung yang memandangnya lembut, sangat lembut sampai-sampai Tae Young
beranggapan bahwa Yesung adalah salah satu malaikat Tuhan yang kabur dari
surga.
“Gwaenchana, yang penting
sekarang kau sudah ada di sini, Young.” tukas Yesung seraya menahan tangan Tae
Young yang baru saja ingin menyentuh pipinya. Yesung menampilkan sebuah senyum
menawan di bibirnya sebelum namja itu mengucapkan satu kalimat tulus
penuh perasaan. “Young, saranghae. Jeongmal saranghaeyo.”
Tae Young membalas senyum Yesung
dengan senyum termanis yang dimilikinya. “Nado oppa, nado saranghaeyo.”
balas Tae Young lembut, “oppa kau benar-benar dingin!” seru Tae Young
kemudian dengan panik saat tangannya menyentuh pipi Yesung. Benar-benar dingin.
Yesung hanya tersenyum kecil
menanggapi kepanikan Tae Young yang masih berdiri berhadapan dengannya. Dia
menarik tangan Tae Young hingga yeoja itu jatuh di pangkuannya sebelum
berkata dengan nada menggoda, “Kalau begitu, hangatkan aku chagi..”
Dalam hitungan detik, bibir Yesung
tiba-tiba saja sudah tertempel sempurna di bibir Tae Young, membuat yeoja
itu membelalakkan mata lebar-lebar saat ia ditarik paksa masuk ke dalam dunia
milik Yesung.
END
oh oke, gue tahu ini aneh banget. Akhiran juga apa banget #perasaan os lo akhirannya ciuman mulu nis -__- / terus masalah buat lo? OS OS gue juga *gila* *tolong abaikan*
jadi intinya ya gitu, iya yang tadi. apaan? ga tau juga sih *stres akut*
maaf ya otak eror, stres sama telkomsel. masa paket ul yg 50 jadi 14 hari? WTH???!!!! *curhat kaan=__=*
Well, ga mau tambah gila. Pokoknya selamat menikmati cerita absurd ini aja ya!! Komennya di tunggu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar