Entri yang Diunggulkan

Series Recommendations! 🎥

Hi, happy Wednesday all! So decided to post my own personal series. I usually dont like watching movie, so because i watched those series ...

Sabtu, 11 Agustus 2012

Brotherhood, Magic, and... Love (Three)


THREE


“H
EI, kau!”

Saera menghentikan langkah di tengah-tengah lorong rumah sakit menuju kamar rawat Sungmin begitu seorang namja memanggil namanya. Yeoja itu memutar kepala ke belakang dengan malas, matanya memicing melihat seorang namja tampan bertubuh tinggi tengah berjalan ke arahnya. Saera tertegun sebentar, merasa tidak asing dengan wajah tampan orang Asia itu. Dia mencoba membongkar laci memori di otaknya. Keningnya berlipat sempurna begitu mengingat bahwa namja di depannya ini adalah namja yang ditemuinya di foodcourt mall kemarin. Hah, pantas saja namja itu memanggilnya menggunakan bahasa Korea.

“Kau memanggilku?” tanya Saera dengan nada tak acuh. Yeoja itu kembali melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda tanpa peduli apakah Kyuhyun mendengar pertanyaannya atau tidak.

“Hei, lihat lawan bicaramu saat berkata. Kau tidak sopan!” dengus Kyuhyun sambil menjajari langkah Saera yang terbilang cepat-cepat itu.

Saera kembali menunda langkahnya dan menatap Kyuhyun garang. “Kita hanya sekali bertemu, jangan bersikap seolah-olah kau mengenalku, Tuan..”

Kyuhyun mengangkat sebelah alisnya tinggi-tinggi melihat sikap Saera yang seratus delapan puluh derajat berbeda dari yang kemarin. Namja itu menggerutu dalam hati mengingat dia membutuhkan yeoja di hadapannya ini─sehingga dia tak bisa menyihirnya menjadi sesuatu akibat sikapnya yang begitu menyebalkan.

“Baik, baik. Aku minta maaf, puas?” seru Kyuhyun terpaksa, dia harus mengambil hati yeoja ini dulu jika ingin rencananya sukses. Saera hanya melirik Kyuhyun sekilas dengan wajah tak peduli, darah Kyuhyun serasa naik ke ubun-ubun melihat perlakuan Saera. Seumur hidup dia tak pernah tak diacuhkan oleh yeoja mana pun, malah biasanya yeoja-yeoja itu yang mencari perhatian padanya. Dan sekarang? Seorang hisami─yang bahkan dia tak ketahui namanya─mengabaikan Kyuhyun begitu saja? Ini gila! “Aku bicara denganmu, agasshi.” seru Kyuhyun lagi.

Saera menghela napas sekilas sebelum akhirnya benar-benar menatap mata Kyuhyun dengan tajam, “Apa maumu?”

Seringaian tipis terpeta di bibir Kyuhyun, tapi dengan lihai namja itu langsung menutupinya dengan melengkungkan senyum manis─tentu saja dibuat-buat─yang sempurna. “Bantu aku, mm..”

“Saera.” sambar Saera cepat begitu merasa Kyuhyun ingin memanggil namanya, “siapa namamu dan apa yang harus kubantu?”

“Kyuhyun, salah satu dari 4 pangeran di Negeri sihir Shappire Blue. Kau tahu, kau itu hisami. Aku memerlukan bantuanmu untuk menghancurkan iblis kegelapan yang lepas dari segelnya. Ikutlah denganku Saera-ssi.”

Mata sipit Saera membulat seketika, yeoja itu memandang tajam ke arah Kyuhyun seolah-olah dia ingin menguluti Kyuhyun saat itu juga. “Kyuhyun-ssi, kau ke rumah sakit ini untuk berobat? Aku rasa kau harusnya berobat ke ahli kejiwaan, bukan rumah sakit umum seperti ini.” saran Saera dengan nada menyindir.

Saera buru-buru meninggalkan Kyuhyun yang tampak akan meledak dan masuk ke dalam kamar Sungmin. Dia menghela napas berulang-ulang, menyesali takdir yang membawanya bertemu lagi dengan manusia tidak waras seperti Kyuhyun.

Namja itu benar-benar gila!” rutuk Saera saat tangannya menutup pintu ruangan Sungmin.

“Siapa yang kausebut gila barusan, Saera-ssi?” Saera menolehkan kepala ke arah kanan, terkejut setengah mati melihat Kyuhyun tiba-tiba saja berdiri di sampingnya dengan kedua alis terangkat tinggi-tinggi.

Saera spontan mundur beberapa langkah hingga menubruk lemari pakaian Sungmin, dia menatap horor ke arah Kyuhyun yang sekarang malah sedang menyeringai.

“Dengar, kau harus ikut denganku. Aku tidak mau bermain-main lagi!” seru Kyuhyun keras.

Saera berjengit ketika melihat kilatan berwarna light blue di mata Kyuhyun. Yeoja itu menutup matanya rapat-rapat mencoba mengusir kilasan masa lalu tentang kecelakaan keluarganya yang tiba-tiba saja berkeliaran di dalam kepalanya kembali.

“Kenapa aku harus ikut denganmu, Kyuhyun-ssi? Aku tidak mengenalmu.” sanggah Saera sambil mengintip Kyuhyun lewat celah kecil matanya.

Kyuhyun merogoh kalung dengan permata merah yang bersinar terang dan menyodorkannya ke arah Saera. “Kaulihat? Kalung ini yang memilihmu, bukan aku.” sahut Kyuhyun tenang lalu berjalan ke arah Sungmin. Namja itu mengamati Sungmin dari atas sampai bawah hingga tangannya menyentuh bahu Sungmin pelan, setelah itu matanya kembali menatap tajam Saera yang sekarang sedang memperhatikannya dengan sikap waspada. “Dan Saera-ssi, adikmu koma bukan semata-mata karena kecelakaan itu. Seorang kakek tua dari Negeri sihir kami─yang mempunyai dendam masa lalu terhadap appamu─yang membuatnya koma, dia menyihir kalian semua dengan sihir jasdion*. Sayangnya kau mempunyai sihir yang melindungimu, dan karena dia berada di sebelahmu, sihir itu hanya mampu membuatnya koma, bukan mati.” jelas Kyuhyun panjang lebar sambil menunjuk Sungmin dengan ibu jarinya.

Lutut Saera terasa lemas saat itu juga. Dia tidak tahu darimana Kyuhyun tahu soal kecelakaan yang menimpa keluarganya. Saera memandang Sungmin nanar, tak percaya bahwa kakek tua yang dilihatnya waktu itu memang benar-benar penyebab kecelakaan keluarganya. Air mata Saera mengintip, siap terjun kapan saja.

“Kau tidak berbohong, Kyuhyun-ssi?” tanyanya lirih.

Kyuhyun menggeleng, dengan sekali gerakan, namja itu menarik tubuh Saera mendekat ke arahnya dengan sihir, dia menyeka setetes air mata yang baru saja meluncur turun dari mata Saera. Pandangannya melembut, dan untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, Kyuhyun tersenyum tulus, sangat tulus. “Tidak, tentu saja. Karena itu, ikutlah denganku. Kalau kau berhasil, aku janji akan menyembuhkan adikmu.”

Saera menatap Kyuhyun dan Sungmin bergantian, keraguan masih menyelimuti hatinya dengan erat. Saera bukan ragu kalau Kyuhyun bisa, namja itu sudah menunjukkan sihirnya dua kali hari ini. Saera hanya ragu untuk meninggalkan Sungmin sendirian.

“Berapa lama?” tanyanya pelan, “dan bagaimana dengan Sungmin?” sambung Saera kemudian dengan mata sendu yang menatap Kyuhyun lurus-lurus.

Kyuhyun sempat terpaku beberapa saat melihat tatapan sendu Saera yang menariknya masuk sebelum menggeleng samar dan menjawab, “Hanya lima hari. Dan..” Kyuhyun memandang sekitar ruangan Sungmin, namja itu terdiam beberapa saat hingga dari tangannya keluar sinar berwarna light blue yang perlahan memenuhi ruangan Sungmin. Sinar itu seperti membuat selaput tipis tak kasat mata di sekeliling kamar Sungmin, warna light bluenya memudar pelan-pelan hingga hilang. “…itu sihir savora*, selama aku belum mencabutnya tidak akan ada yang bisa menyakiti Sungmin.”

Setelah menghela napas panjang, Saera akhirnya duduk di pinggiran tempat tidur Sungmin, dia menyibak poni yang menutupi kening namja itu dan mengecupnya penuh kasih sayang. Ini demi kesembuhanmu, noona menyayangimu, Sungmin-ah..

“Bawa aku, dan kau harus menepati janjimu.” Kyuhyun tersenyum penuh kemenangan, dia memasang kalung itu di leher Saera sebelum menggamit lengan Saera erat dan membawanya berteleportasi ke kota Mokpo di Korea sana. Malam kemarin, dia dan hyung-hyungnya sepakat untuk memanfaatkan lima hari yang tersisa dengan memberikan bekal dasar pada para hisami. Jongwoon juga telah menyediakan rumah khusus untuk mereka.

***

“Kau, aku sudah mencarimu seharian. Ikutlah denganku!”

Tae Young dan Hanni menganga.

Jongwoon tak mempedulikan wajah keduanya, dia menatap lama mata Hanni membuat Hanni merasa menjadi lalat penganggu jika semakin lama berada di sini. Walaupun dia tak mengenal Jongwoon sama sekali, tetapi tatapan ‘mengusir’ yang Jongwoon berikan padanya secara tidak langsung itu membuat Hanni sadar diri dia berada di tempat yang salah.

Hanni mengalihkan pandangannya dari wajah tampan Jongwoon pada Tae Young, yeoja itu menepuk pundak Tae Young lembut membuat Tae Young juga menatapnya. “Eonni pergi dulu, ne? Sepertinya namja itu punya urusan denganmu, Young-ah. Annyeong..”

Tae Young membulatkan matanya kaget, dia berusaha menahan kepergian Hanni namun sayang Jongwoon terlanjur mencekal tangannya terlebih dahulu. Tae Young menatap Jongwoon tajam, dia bahkan tak mengenal namja ini, ada urusan apa mereka berdua?

“Siapa kau? Tolong lepaskan tanganku, aku harus mengejar Hanni eonni.” hardik Tae Young, dia berusaha menciutkan nyali namja di depannya ini dengan memberikan tatapan paling sinis yang pernah dia punya.

Namun Jongwoon sama sekali tak menunjukkan tanda-tanda takut, namja itu malah balik memandang Tae Young dengan pandangan kelewat datar yang seolah menelanjanginya, membuat Tae Young bergidik sendiri. Tae Young bahkan akhirnya rela-rela saja ketika Jongwoon menggeretnya duduk di bangku taman.

“Aku Jongwoon, dan aku memerlukan bantuanmu. Kau harus ikut denganku.” kata Jongwoon tanpa basa-basi setelah Tae Young duduk di kursi taman.

Tae Young memandang Jongwoon aneh, “Mianhae Jongwoon-ssi, aku sama sekali tak mengenalmu. Bagaimana mungkin kau membutuhkan bantuanku jika kita tak saling mengenal?”

Masih dengan wajah tanpa ekspresinya, Jongwoon merogoh saku jaketnya dan menyodorkan sebuah kalung kuning ke hadapan wajah Tae Young. “Ne, kita memang tak saling kenal. Tapi kalung ini telah memilihmu, kau harus ikut denganku.”

Tae Young berdiri, dia merasa hanya dipermainkan oleh namja yang tidak dikenalinya ini. Kalung? Memilih? Permainan macam apa ini? Serius, Tae Young berani bersumpah ini permainan terlucu yang pernah dia mainkan. Sangat lucu sampai-sampai dia merasa ingin melesakkan kepala namja itu ke tanah!

“Kau tidak waras, Jongwoon-ssi.” desis Tae Young sambil melangkah untuk meninggalkan Jongwoon. Tae Young langsung terenyak ketakutan saat tiba-tiba saja tubuhnya terduduk kembali di bangku dengan sendirinya. Dia menatap horor ke arah Jongwoon yang sekarang tengah memandangnya lurus-lurus dengan ekspresi seakan-akan Tae Young adalah ayam yang siap dikukus.

“Dengar, em.. siapa namamu?” Ketakutan yang dimiliki Tae Young berhasil membuat yeoja itu menggumamkan namanya dengan lirih, membuat seulas senyum penuh kemenangan terukir tipis─sangat tipis, bahkan hampir tak terlihat─di wajah Jongwoon. “Ye, Young-ssi. Negeri kami, Negeri sihir Shappire Blue membutuhkan bantuanmu untuk memusnahkan iblis yang lepas dari segelnya. Kau hisami, manusia spesial yang memiliki ilmu sihir terpendam di dalam tubuhmu. Jika kau tidak membantuku, maka Negeriku akan hancur, dan kau akan sangat berdosa sebab mengorbankan begitu banyak nyawa hanya karena keegoisanmu.”

Tae Young membatu, sama sekali tak mengerti dengan semua perkataan yang diucapkan oleh Jongwoon. Satu-satunya yang berhasil dia tangkap dari semua ucapan Jongwoon hanya satu hal, namja di hadapannya ini adalah pengguna ilmu sihir, entah nyata atau tidak.

Mianhae, aku tak mengerti dengan ucapanmu sama sekali, Jongwoon-ssi.”

Jongwoon berdecak, tatapannya menajam sebelum dia berkata, “Kau tidak perlu mengerti, kau hanya perlu ikut dan menuruti semua perintahku.” dengan nada penuh penekanan.

Tae Young yang sedari tadi menunduk akhirnya memberanikan diri menatap lurus pada mata Jongwoon. Mereka saling menatap selama beberapa detik untuk menyelami apa yang ada dipikiran masing-masing, walau hasilnya nihil. “Kau punya sihir bukan, kenapa tidak menghipnotisku saja agar kau tak perlu capek-capek membujuk, hm?” balas Tae Young dengan nada menyindir.

Jongwoon berjengit sebentar, “Kalau aku bisa, aku sudah melakukannya dari pertama aku melihatmu, Tae Young-ssi. Sayang sekali para Hisami sepertimu tidak mempan dengan sihir hipnotis.” sahutnya dengan nada sarkatis, Tae Young langsung meringis mendengarnya. Sepertinya dia baru saja salah bertanya.

“Lalu aku harus bagaimana, Jongwoon-ssi? Aku sama sekali tak tertarik.” Tae Young mencoba berdiri kembali, namun kali ini tubuh Jongwoon yang menahannya. Namja itu melingkarkan tangannya di perut Tae Young hingga wajah mereka hanya terpaut sekian cm. Tatapan super datar yang terasa menelenjangi itu kembali dilontarkan Jongwoon, Tae Young menelan ludah dengan perasaan waswas setengah mati.

“Apa yang kaulakukan? Lepaskan tanganmu, kau tidak sopan!” sentak Tae Young yang malah terdengar seperti cicitan.

“Aku punya satu penawaran menarik kalau kau mau ikut, hanya 5 hari, aku janji.”

Tae Young menggigit bibir merasakan napas hangat Jongwoon yang menyapu wajahnya, “Apa?” tanyanya sambil berusaha melepaskan kaitan tangan Jongwoon di perutnya dengan segenap tenaga.

“Aku akan membuat Sungkyomu merasakan bagaimana rasanya dicampakkan. Dan kalau kau memang masih mencintainya, aku akan membuat namja itu tergila-gila lagi padamu, bagaimana? Menarik, bukan?” tanya Jongwoon santai, dia melepaskan tangannya dari perut Tae Young dan mendorong yeoja itu hingga terduduk di kursi lagi.

Tae Young membulatkan kedua manik matanya mendengar penawaran Jongwoon. Darimana namja itu tahu soal Sungkyo? Shit! Dia penyihir, Young. Ingat! seru hati Tae Young mengingatkan. Tae Young terdiam cukup lama, tawaran yang diberikan Jongwoon memang─harus dia akui─sangat menarik. Tae Young ingin membuat Sungkyo juga merasakan hal yang sama dengannya, perasaan sakit yang begitu membunuh. Dan soal tergila-gila padanya, Tae Young rasa itu juga bukan ide yang buruk. Dia masih sangat mencintai Sungkyo, sejahat apapun namja itu.

Tae Young mendongak untuk menatap mata Jongwoon, “Kau serius dengan ucapanmu barusan?”

Merasa Tae Young tertarik dengan penawarannya, Jongwoon mengangguk mantap. “Aku punya banyak sihir yang bisa membuat hal itu terjadi, Young-ssi. Tentu saja aku serius.”

“Hm…” Tae Young memasang pose berpikir walaupun itu hanya kebohongan karena dia memang sudah memutuskannya dari tadi. “Baiklah, hanya 5 hari bukan? Tapi kalau kau sampai tak menepati janjimu, aku akan menggantungmu di pohon apel dekat apartemenku!” ancamnya.

Jongwoon mendengus menahan tawa mendengar ancaman Tae Young, tentu saja itu adalah hal paling mustahil yang bisa dilakukan yeoja itu kepadanya. Tapi setidaknya dia bersyukur juga karena akhirnya Tae Young berhasil dibujuk.

“Baik, kau boleh menggantungku.” janji Jongwoon, “kemarilah.” Namja itu lalu mengulurkan tangannya yang disambut ragu-ragu oleh Tae Young. Dalam hitungan detik, mereka telah menghilang ke belahan kota lain yang ada di Korea.

***

Hyukjae berjalan tak tentu arah menjelajahi setiap sudut kota Paris yang begitu luas, namja yang telah mengganti pakaiannya dengan celana jins panjang dan jaket itu menghela napas beberapa kali karena kelelahan. Coba saja ini masih di Negerinya, dia pasti tak perlu menggunakan kaki untuk berjalan. Lagipula, yeoja semalam itu sebenarnya ada dimana? Mengapa menemukannya terasa begitu sulit?

“Sial, aku lapar.” maki Hyukjae begitu perutnya berbunyi minta diisi, mata namja itu mengedar ke sekitar untuk mencari penjual makanan terdekat. Dia mengembuskan napas lega saat melihat restoran cepat saji di seberang jalan sana.

Kaki Hyukjae baru saja akan melangkah memasuki restoran saat matanya tanpa sengaja menangkap bayangan seorang yeoja di dekat toko bunga sana. Hyukjae memicingkan matanya, setelah benar-benar yakin bahwa yeoja itu memang yeoja yang semalam, dia mengabaikan bunyi perutnya dan bergegas mengikuti yeoja itu sebelum dia kembali kehilangan jejak.

Hyukjae mengernyitkan keningnya begitu yeoja yang diikutinya berhenti di pemakaman. Namja itu mengusap tengkuknya merasakan hawa penuh duka cita khas pemakaman tercium oleh indera penciumannya. Setelah mendengus sekali dan menyuruh perutnya untuk berhenti berdemo, Hyukjae mengikuti langkah yeoja itu hingga sampai di sebuah makam. Matanya sempat membulat melihat sesuatu di makam itu sebelum kembali berubah normal, Hyukjae meyakinkan dirinya sendiri bahwa itu tidak benar.

“Kenapa kau mengikutiku?”

Hyukjae terenyak saat yeoja itu tiba-tiba saja bertanya padanya tanpa membalikkan badan. Namja itu ragu-ragu ikut berjongkok bersama yeoja tadi, tangannya mengambil segenggam mawar dari keranjang yeoja itu dan ikut menaburkannya di atas makam.

“Aku Hyukjae, siapa namamu?” tanya Hyukjae sambil mengamati yeoja yang dipilih kalungnya dengan saksama, dia sengaja mengabaikan pertanyaan pertama yeoja itu. Hyukjae tak tahu mengapa, tapi dia merasa yeoja di sampingnya ini mempunyai kekuatan sihir yang sangat besar.

Sebelum menjawab pertanyaan Hyukjae, yeoja itu tampak menutup matanya dan berdoa untuk orang yang dimakamkan di sini. Setelah doanya selesai, barulah yeoja itu menjawab pertanyaan Hyukjae. “Hyunmi.. Dan kau belum menja─KAU?!” Hyunmi menjerit lepas begitu melihat wajah Hyukjae sepenuhnya, yeoja itu ingat bahwa Hyukjae adalah namja aneh yang diejeknya gila semalam.

Melihat tatapan terkejut di wajah Hyunmi membuat Hyukjae melepaskan seringaian yang sedari tadi ditahannya. “Terkejut? Masih ingat denganku, hm?”

Hyunmi segera berdiri dari jongkoknya, dia melengkingkan tawa pelan sebelum menyahut dengan santai. “Nde, tentu saja aku ingat denganmu. Mana mungkin aku melupakan namja gila sepertimu. Sudah ya aku harus pergi, annyeong.”

Tepat setelah mengatakan hal itu, Hyunmi melangkah kecil-kecil meninggalkan area pemakaman─dan Hyukjae yang masih terpana dengan sikap menyebalkan yeoja itu. Ketika Hyunmi sudah melewati gerbang pemakaman, Hyukjae baru tersadar dari keterpanaannya. Namja itu memaki dalam hati sebelum melesat untuk mengejar Hyunmi kembali, dia bersyukur yeoja itu belum hilang terlalu jauh hingga Hyukjae berhasil memblokir jalannya.

Hyunmi mengerutkan kening melihat Hyukjae berdiri di hadapannya, yeoja itu berdecak tak suka sambil mencoba berjalan ke arah lain. Hyukjae kembali menghadangnya. Hyunmi menatap Hyukjae tak suka. “Apa maumu hah? Jangan halangi jalanku!” salaknya marah.

Hyukjae membalas tatapan Hyunmi dengan tak kalah tajam, selain masih kesal dengan perlakuan yeoja itu, Hyukjae juga tak suka dibentak seperti itu apalagi oleh seorang yeoja. “Kita perlu bicara, Hyunmi-ssi. Aku membutuhkan bantuanmu.”

Hyunmi menepis tangan Hyukjae yang terulur ke bahunya sambil berusaha mencari celah menghindari namja itu, namun sayang tak berhasil. “Tsk! Menyingkirlah, aku sama sekali tak mengenalmu jadi aku tak mau membantumu.”

“Dengar, bukan hanya aku yang membutuhkan bantuanmu, tapi Negeriku, juga rakyatku!” balas Hyukjae dengan nada jengkel yang begitu kentara. Hyukjae lalu memegang sebelah tangan Hyunmi dengan begitu kuat sementara tangan lainnya mengeluarkan kalung berbandul permata hijau dari saku jinsnya dan menyodorkan kalung itu tepat ke wajah Hyunmi sambil kembali menyambung ucapannya, “lagipula kalung ini yang telah memilihmu, bukan aku.”

Hyunmi menghentikan aktivitasnya─yang tengah berusaha melepaskan genggaman tangan Hyukjae dari tangannya─dan membuka mulutnya lebar-lebar sambil menatap Hyukjae tak mengerti.

“Gila,” desis Hyunmi begitu tersadar, dia kembali menggerakkan tangannya yang masih digenggam Hyukjae. “Aku tidak mengerti perkataanmu, lepaskan aku!” jeritnya tertahan, untung area sekitar taman pemakaman terbilang cukup sepi jadi tak ada satu orang pun yang menatapi mereka dengan aneh.

“Tidak sebelum kau setuju untuk ikut deng─AKH!” Hyukjae memekik kaget saat Hyunmi tiba-tiba saja menggigit tangannya, tatapan Hyukjae berubah marah. “YAK! Apa yang kaulakukan?”

Hyunmi mundur teratur sambil menjulurkan lidahnya mengejek, “Menggigitmu, gila.”

Grep. Hyunmi menelan ludah ngeri saat Hyukjae mendorongnya ke pilar gerbang masuk pemakaman dan mengurung Hyunmi di antara tubuhnya.

“Kau yeoja paling menyebalkan yang pernah aku kenal.” desis Hyukjae dengan suara rendah yang berbahaya, “sayang aku tak bisa menyihirmu karena aku membutuhkan bantuanmu.”

Hyunmi tersentak mendengar perkataan Hyukjae tentang sihir, kata sihir selalu mengingatkannya pada hari dimana eonninya mati. Bola matanya yang berwarna cokelat samar-samar dihiasi warna merah. “Kau, penyihir dari Negeri Shappire Blue?” tanya Hyunmi dengan suara lirih yang terdengar agak parau.

Hyukjae tersentak melihat perubahan yang terjadi di tubuh Hyunmi, aura gelap pelan-pelan dirasakannya. Hyukjae tak tahu apa yang tengah terjadi pada Hyunmi, tapi namja itu akhirnya mengeluarkan sihir calsm* untuk menenangkan Hyunmi hingga perlahan-lahan aura gelap itu menghilang. Hyukjae menjauhkan tubuhnya yang menghimpit tubuh Hyunmi pelan-pelan.

“Hyunmi-ssi, darimana kau tahu tentang Negeriku? Aku belum membicarakannya padamu, bukan?” tanya Hyukjae waspada.

Mata sipit Hyunmi terdongak untuk melihat Hyukjae, tatapan sendu penuh luka yang dipancarkan matanya ketika bersitatap dengan Hyukjae membuat namja itu langsung terperanjat heran. “Seseorang terdekatku dulu mengenal salah satu namja dari bangsamu,” jawab Hyunmi lirih sebelum matanya berubah kosong ketika mengatakan, “dan dia terbunuh karena namja itu.”

Hyukjae termangu mendengar perkataan Hyunmi sebelum helaan napas panjang lolos dari bibir namja itu dan dia membalas perkataan Hyunmi dengan agak tegang, “Aku akan membantumu menemukan namja itu dan membunuhnya jika kau mau ikut denganku.”

Jeongmal? Kau tidak akan mengingkarinya?” tanya Hyunmi dengan matanya yang kembali bercahaya, melihat Hyukjae mengangguk, senyum tipis terpeta di bibir Hyunmi dengan samar-samar, apa pun akan dia lakukan demi membalas dendam pada namja itu, termasuk ikut dengan namja yang bahkan belum cukup dikenalnya. “Berapa lama?”

Hyukjae membalas senyum samar Hyunmi dengan senyum tipis sebelum dia mendekati Hyunmi dan memakaikan kalung di tangannya. Setelah kalung itu terpasang sempurna, dia mengulurkan tangan ke arah Hyunmi dengan perasaan tak keruan. “5 hari, ayo berangkat.” Hyunmi tak mengelak sama sekali ketika Hyukjae menggenggam tangannya dengan lembut. Dia merasa ini adalah jalan tercepat untuk menemukan namja itu. Mereka berdua menghilang disapu angin.

***

Donghae menunggu Hyerin selesai bekerja di halte bis kemarin sambil bersiul-siul riang. Namja itu melirik-lirik ke arah kafe di dekat halte bis sesekali, mengecek apakah Hyerin sudah keluar atau belum. Saat melihat Hyerin melambaikan tangan pada seseorang dan berjalan ke arahnya, senyum Donghae terkembang.

“Hei, kita bertemu lagi.” sapa Donghae basa-basi begitu Hyerin duduk di sebelahnya. Dia tertawa kecil dalam hati mendengar kebohongan yang dibuatnya. Bertemu lagi? Yang benar saja, Donghae bahkan telah mengikuti Hyerin seharian ini.

Hyerin mengerutkan keningnya melihat Donghae, dia tampak mengingat-ingat namja di sebelahnya ini sebelum tersenyum kecil membalas sapaan Donghae. “Nde, senang bertemu denganmu lagi.”

Donghae mengangguk sambil membalas senyum Hyerin dengan sangat manis─walau Donghae tahu Hyerin akan menanggapi senyuman secara biasa saja─lantas menjulurkan tangannya mengajak berkenalan. “Park Donghae imnida, kau?”

Walaupun agak risih dengan Donghae yang menatapnya lekat-lekat, Hyerin tetap menyambut uluran tangan Donghae sambil mempertahankan senyumnya. “Han Hyerin imnida, bangapseumnida, Donghae-ssi.”

Sial! Pikirannya tidak bisa ditembus! sungut Donghae dalam hati.

“Hyerin-ssi,” panggil Donghae.

Ne?” jawab Hyerin sekenanya sambil melempar tatapan ke arah jalanan. Pikiran Hyerin sekarang tengah penuh dengan rencana-rencana yang telah disusun Heesun untuk membuat dia dan Baekhyun dekat, tapi Hyerin sendiri sangat ragu apakah rencana Heesun akan terlaksana baik atau tidak.

Donghae mencebik kesal melihat Hyerin malah memandang ke arah jalan, kalung dengan permata ungu di tangannya dia remas pelan untuk melampiaskan kekesalannya. Hyerin memang berbeda, dia satu-satunya yeoja yang tidak mempan dengan senyuman Donghae. “Lihatlah ke sini..”

Hyerin berdecak tak kentara mendengar suara Donghae, gara-gara namja itu lamunannya tentang Baekhyun jadi hancur dengan sukses sentosa. Baekhyunnya yang sempurna langsung lenyap tak berbekas, sial!

Merasa harus menjaga sopan santun terhadap orang yang baru dikenalnya ini, Hyerin dengan setengah hati menolehkan kepalanya pada donghae. Mata sipit yeoja itu melebar sempurna melihat kalung milik Donghae terpampang jelas di depan wajahnya.

“Apa maksudmu, Donghae-ssi?” tanya yeoja itu sambil menatap Donghae tajam.

Donghae mengedik santai, tangannya meraih tangan Hyerin lantas meletakkan kalung itu di sana. “Itu milikmu Hyerin-ah, kaulihat kalung itu bersinar sangat terang, bukan? Dia telah memilihmu.”

Hyerin mundur teratur dari kursi halte itu, dia melemparkan tatapan ngeri pada Donghae sebelum beralih menatap kalung di tangannya. Dalam hitungan detik, Hyerin telah melempar kalung itu ke arah Donghae kembali.

“Siapa kau sebenarnya?” tanya Hyerin dengan suara seperti dicekik. Tubuhnya semakin mundur hingga ia akhirnya menabrak tiang pembatas kursi halte tersebut.

Donghae menangkap kalung yang Hyerin lempar tanpa melihatnya sebelum bertanya, “Aku?” dengan nada sarkatis sambil menampilkan senyuman manis─yang terlihat sangat mengerikan di mata Hyerin─sebelum beranjak mendekati tubuh Hyerin pelan-pelan, Hyerin semakin merapatkan tubuhnya pada tiang dengan tatapan takut yang begitu kentara dari bola matanya.

Ketika wajah mereka hanya terpaut 10 cm, Donghae melanjutkan ucapannya dengan setengah berbisik. “Aku Park Donghae, salah satu dari 4 Pangeran Negeri sihir Shappire Blue. Dan kau, Han Hyerin, hisami yang telah dipilih kalungku. Kau harus ikut bersamaku.”

Bulu kuduk hyerin meremang seketika, yeoja itu segera mendorong tubuh Donghae yang sudah sangat dekat dengannya sebelum berteriak dengan suara gemetar. “KAU GILA!”

Donghae hanya tersenyum santai melihat Hyerin yang mulai berlari menjauhinya, saat punggung yeoja itu benar-benar sudah tak terlihat, Donghae melakukan teleportasi dan menangkap lengan Hyerin yang masih berlari. Hyerin seketika membeku, ketakutan semakin berkecamuk di dalam hatinya melihat Donghae tiba-tiba saja sudah ada di hadapannya─padahal Hyerin yakin jarak mereka sudah sangat jauh dan Donghae tidak mengejarnya tadi.

“Lepaskan aku Donghae-ssi. Aku mohon,” pinta Hyerin putus asa dengan mata berkaca-kaca, ingin menangis rasanya jika di hadapkan pada situasi seperti ini.

Melihat air mata yang sudah mengawang di pelupuk mata Hyerin membuat Donghae tak tega juga, dia memberikan tatapan lembut pada Hyerin dan melepaskan cengkeramannya hingga yeoja itu langsung mundur beberapa langkah.

“Hyerin-ssi, aku membutuhkanmu demi kelangsungan Negeriku. Hanya 5 hari, ikutlah denganku.” Suara Donghae terdengar melembut, Hyerin malah meringkuk ketakutan. Yeoja itu berjongkok beberapa meter dari Donghae untuk meredam ketakutannya.

“Aku tidak mengerti dengan apa yang kaukatakan Donghae-ssi. Kumohon jangan ganggu aku, tinggalkan aku Donghae-ssi.”

Donghae maju hingga dia hanya berjarak 30 cm dengan Hyerin, namja itu ikut berjongkok di depan Hyerin dan mengelus rambut Hyerin dengan lembut. Kalau saja sihir hipnotis mempan pada Hisami, dia pasti sudah menggunakannya daritadi untuk membawa Hyerin tanpa susah-susah harus membujuknya.

“Hanya 5 hari, Hyerin. Setelah itu aku tak akan menganggumu lagi, tak akan pernah.”

Hyerin mengangkat wajah, bola matanya yang berkaca-kaca membuat Donghae menelan ludah dengan susah payah. Wajah cengeng Hyerin sangat manis, membuat desiran aneh dalam darahnya terasa begitu deras.

Aniyo, aku benar-benar tak ada urusan denganmu, mianhae..” balas Hyerin sambil berdiri.

“Jika kau ikut denganku..” Donghae menjeda kalimatnya, membuat Hyerin menghentikan langkah kelimanya untuk mendengarkan lanjutan perkataan Donghae. Donghae menghela napas sekali sebelum melanjutkan perkataannya, “aku akan membuat Byun Baekhyun tergila-gila padamu.”

Mendengar kata ‘Baekhyun’ dari mulut Donghae membuat Hyerin spontan membalikkan tubuhnya dan menghampiri Donghae dengan wajah penasaran yang mendominasi, ketakutannya perlahan sirna hanya dengan satu nama itu. “Kau pasti berbohong, kau tidak akan bisa melakukannya.”

“Aku bisa, dengan sihir lovayi* Baekhyun akan tergila-gila padamu dan kau bisa memilikinya. Seperti itu bukan keinginanmu dari dulu?” Donghae merasa beruntung juga karena dia sempat membaca pikiran Heesun─sahabat Hyerin.

Hyerin tercenung beberapa saat. Dia merasa tertarik dengan penawaran Donghae, dan tidak alasan untuk tidak mempercayai namja itu karena Hyerin melihat sendiri bagaimana Donghae ada di hadapannya dalam hitungan detik. Hyerin mencoba menepis semua kemungkinan buruk yang akan terjadi nanti dengan mengulurkan tangannya kearah Donghae dan tersenyum lebar. “Aku setuju, deal!”

Donghae menyambut uluran tangan Hyerin dengan senyum tak kalah lebar. “Deal.”


TBC...

 Note+cuap-cuap saya:

1. sihir calsm= nah ini memang sihir nenangin, tapi beda jauh sama punya Yesung. Sihir menenangkan yg Yesung punya lebih bertujuan untuk membuat si korban merasa aman, nyaman, dan damai tanpa paksaan. sedang sihir calsm ini memaksa si korban untuk tenang, emosi si korban ditekan dengan paksa untuk tidak meledak menggunakan sihir ini. jadi jelas perbedaannya, kan? *jelas aja deh yaa*
2. sihir savora= sihir pelindung. yang dilindungi sama sihir ini nggak bakal bisa disakitin siapapun, sekalipun sama penyihir lain. sifatnya universal, artinya selama si penyihir tidak mencabut sihir itu, yang dilindungi akan tetap terlindungi selamanya.
3. sihir jasdion= sihir pembunuh, tapi sihir ini tidak masuk kategori sihir paling berbahaya di Shappire Blue. sihir ini masih bisa diatasi dengan sihir penangkalnya, yaitu sihir osidnion.

annyeong haseyooooo *senyam-senyum* 
aku kembali lagi haha *lirik tanggal* ah baru telat 1 hari kok, mianhae ya, sempat stres gara-gara pr jadinya begini deh *alasan!* 
then, ini aku post dua chap sekaligus, artinya aku post tiga minggu ke depan yah ini kan udah dua chap sekaligus *eaaa*
well gatau mau ngomong apalagi, happy reading aja ne.. aku selalu berusaha membagi tiap plot itu sama rata, moga emang gaada yg kelebihan dan gaada yang kekurangan yaa :)
sampai jumpa tiga minggu lagi *bow*

2 komentar:

  1. keren lah XD :* aku suka part Tae Young :* so sweet so sweet gemanaaa gitu XD

    BalasHapus
  2. aku kasih so sweetnya sebelum aku siksa mereka hahahaha
    Btw ga ngakak lagi kan km? =..=

    BalasHapus