THREE
“H
|
EI, kau!”
Saera
menghentikan langkah di tengah-tengah lorong rumah sakit menuju kamar rawat
Sungmin begitu seorang namja memanggil namanya. Yeoja itu memutar
kepala ke belakang dengan malas, matanya memicing melihat seorang namja
tampan bertubuh tinggi tengah berjalan ke arahnya. Saera tertegun sebentar,
merasa tidak asing dengan wajah tampan orang Asia itu. Dia mencoba membongkar
laci memori di otaknya. Keningnya berlipat sempurna begitu mengingat bahwa namja
di depannya ini adalah namja yang ditemuinya di foodcourt mall
kemarin. Hah, pantas saja namja itu memanggilnya menggunakan bahasa
Korea.
“Kau memanggilku?”
tanya Saera dengan nada tak acuh. Yeoja itu kembali melanjutkan
langkahnya yang sempat tertunda tanpa peduli apakah Kyuhyun mendengar
pertanyaannya atau tidak.
“Hei, lihat
lawan bicaramu saat berkata. Kau tidak sopan!” dengus Kyuhyun sambil menjajari
langkah Saera yang terbilang cepat-cepat itu.
Saera kembali
menunda langkahnya dan menatap Kyuhyun garang. “Kita hanya sekali bertemu,
jangan bersikap seolah-olah kau mengenalku, Tuan..”
Kyuhyun
mengangkat sebelah alisnya tinggi-tinggi melihat sikap Saera yang seratus
delapan puluh derajat berbeda dari yang kemarin. Namja itu menggerutu
dalam hati mengingat dia membutuhkan yeoja di hadapannya ini─sehingga
dia tak bisa menyihirnya menjadi sesuatu akibat sikapnya yang begitu
menyebalkan.
“Baik, baik.
Aku minta maaf, puas?” seru Kyuhyun terpaksa, dia harus mengambil hati yeoja
ini dulu jika ingin rencananya sukses. Saera hanya melirik Kyuhyun sekilas
dengan wajah tak peduli, darah Kyuhyun serasa naik ke ubun-ubun melihat
perlakuan Saera. Seumur hidup dia tak pernah tak diacuhkan oleh yeoja
mana pun, malah biasanya yeoja-yeoja itu yang mencari perhatian padanya.
Dan sekarang? Seorang hisami─yang bahkan dia tak ketahui namanya─mengabaikan
Kyuhyun begitu saja? Ini gila! “Aku bicara denganmu, agasshi.” seru Kyuhyun
lagi.
Saera menghela
napas sekilas sebelum akhirnya benar-benar menatap mata Kyuhyun dengan tajam,
“Apa maumu?”
Seringaian
tipis terpeta di bibir Kyuhyun, tapi dengan lihai namja itu langsung
menutupinya dengan melengkungkan senyum manis─tentu saja dibuat-buat─yang
sempurna. “Bantu aku, mm..”
“Saera.” sambar
Saera cepat begitu merasa Kyuhyun ingin memanggil namanya, “siapa namamu dan
apa yang harus kubantu?”
“Kyuhyun, salah
satu dari 4 pangeran di Negeri sihir Shappire Blue. Kau tahu, kau itu hisami.
Aku memerlukan bantuanmu untuk menghancurkan iblis kegelapan yang lepas dari
segelnya. Ikutlah denganku Saera-ssi.”
Mata sipit
Saera membulat seketika, yeoja itu memandang tajam ke arah Kyuhyun
seolah-olah dia ingin menguluti Kyuhyun saat itu juga. “Kyuhyun-ssi, kau
ke rumah sakit ini untuk berobat? Aku rasa kau harusnya berobat ke ahli
kejiwaan, bukan rumah sakit umum seperti ini.” saran Saera dengan nada
menyindir.
Saera buru-buru
meninggalkan Kyuhyun yang tampak akan meledak dan masuk ke dalam kamar Sungmin.
Dia menghela napas berulang-ulang, menyesali takdir yang membawanya bertemu
lagi dengan manusia tidak waras seperti Kyuhyun.
“Namja
itu benar-benar gila!” rutuk Saera saat tangannya menutup pintu ruangan
Sungmin.
“Siapa yang kausebut
gila barusan, Saera-ssi?” Saera menolehkan kepala ke arah kanan,
terkejut setengah mati melihat Kyuhyun tiba-tiba saja berdiri di sampingnya
dengan kedua alis terangkat tinggi-tinggi.
Saera spontan
mundur beberapa langkah hingga menubruk lemari pakaian Sungmin, dia menatap
horor ke arah Kyuhyun yang sekarang malah sedang menyeringai.
“Dengar, kau
harus ikut denganku. Aku tidak mau bermain-main lagi!” seru Kyuhyun keras.
Saera berjengit
ketika melihat kilatan berwarna light blue di mata Kyuhyun. Yeoja
itu menutup matanya rapat-rapat mencoba mengusir kilasan masa lalu tentang
kecelakaan keluarganya yang tiba-tiba saja berkeliaran di dalam kepalanya
kembali.
“Kenapa aku
harus ikut denganmu, Kyuhyun-ssi? Aku tidak mengenalmu.” sanggah Saera
sambil mengintip Kyuhyun lewat celah kecil matanya.
Kyuhyun merogoh
kalung dengan permata merah yang bersinar terang dan menyodorkannya ke arah
Saera. “Kaulihat? Kalung ini yang memilihmu, bukan aku.” sahut Kyuhyun tenang
lalu berjalan ke arah Sungmin. Namja itu mengamati Sungmin dari atas
sampai bawah hingga tangannya menyentuh bahu Sungmin pelan, setelah itu matanya
kembali menatap tajam Saera yang sekarang sedang memperhatikannya dengan sikap
waspada. “Dan Saera-ssi, adikmu koma bukan semata-mata karena kecelakaan
itu. Seorang kakek tua dari Negeri sihir kami─yang mempunyai dendam masa lalu
terhadap appamu─yang membuatnya koma, dia menyihir kalian semua dengan
sihir jasdion*. Sayangnya kau mempunyai sihir yang melindungimu, dan karena dia
berada di sebelahmu, sihir itu hanya mampu membuatnya koma, bukan mati.” jelas Kyuhyun
panjang lebar sambil menunjuk Sungmin dengan ibu jarinya.
Lutut Saera
terasa lemas saat itu juga. Dia tidak tahu darimana Kyuhyun tahu soal
kecelakaan yang menimpa keluarganya. Saera memandang Sungmin nanar, tak percaya
bahwa kakek tua yang dilihatnya waktu itu memang benar-benar penyebab
kecelakaan keluarganya. Air mata Saera mengintip, siap terjun kapan saja.
“Kau tidak
berbohong, Kyuhyun-ssi?” tanyanya lirih.
Kyuhyun
menggeleng, dengan sekali gerakan, namja itu menarik tubuh Saera
mendekat ke arahnya dengan sihir, dia menyeka setetes air mata yang baru saja
meluncur turun dari mata Saera. Pandangannya melembut, dan untuk pertama
kalinya sejak mereka bertemu, Kyuhyun tersenyum tulus, sangat tulus. “Tidak,
tentu saja. Karena itu, ikutlah denganku. Kalau kau berhasil, aku janji akan
menyembuhkan adikmu.”
Saera menatap
Kyuhyun dan Sungmin bergantian, keraguan masih menyelimuti hatinya dengan erat.
Saera bukan ragu kalau Kyuhyun bisa, namja itu sudah menunjukkan
sihirnya dua kali hari ini. Saera hanya ragu untuk meninggalkan Sungmin
sendirian.
“Berapa lama?”
tanyanya pelan, “dan bagaimana dengan Sungmin?” sambung Saera kemudian dengan
mata sendu yang menatap Kyuhyun lurus-lurus.
Kyuhyun sempat
terpaku beberapa saat melihat tatapan sendu Saera yang menariknya masuk sebelum
menggeleng samar dan menjawab, “Hanya lima hari. Dan..” Kyuhyun memandang
sekitar ruangan Sungmin, namja itu terdiam beberapa saat hingga dari
tangannya keluar sinar berwarna light blue yang perlahan memenuhi
ruangan Sungmin. Sinar itu seperti membuat selaput tipis tak kasat mata di
sekeliling kamar Sungmin, warna light bluenya memudar pelan-pelan hingga
hilang. “…itu sihir savora*, selama aku belum mencabutnya tidak akan ada yang
bisa menyakiti Sungmin.”
Setelah
menghela napas panjang, Saera akhirnya duduk di pinggiran tempat tidur Sungmin,
dia menyibak poni yang menutupi kening namja itu dan mengecupnya penuh
kasih sayang. Ini demi kesembuhanmu, noona menyayangimu, Sungmin-ah..
“Bawa aku, dan kau
harus menepati janjimu.” Kyuhyun tersenyum penuh kemenangan, dia memasang
kalung itu di leher Saera sebelum menggamit lengan Saera erat dan membawanya
berteleportasi ke kota Mokpo di Korea sana. Malam kemarin, dia dan hyung-hyungnya
sepakat untuk memanfaatkan lima hari yang tersisa dengan memberikan bekal dasar
pada para hisami. Jongwoon juga telah menyediakan rumah khusus untuk mereka.
***
“Kau, aku sudah
mencarimu seharian. Ikutlah denganku!”
Tae Young dan
Hanni menganga.
Jongwoon tak
mempedulikan wajah keduanya, dia menatap lama mata Hanni membuat Hanni merasa
menjadi lalat penganggu jika semakin lama berada di sini. Walaupun dia tak
mengenal Jongwoon sama sekali, tetapi tatapan ‘mengusir’ yang Jongwoon berikan
padanya secara tidak langsung itu membuat Hanni sadar diri dia berada di tempat
yang salah.
Hanni
mengalihkan pandangannya dari wajah tampan Jongwoon pada Tae Young, yeoja
itu menepuk pundak Tae Young lembut membuat Tae Young juga menatapnya. “Eonni
pergi dulu, ne? Sepertinya namja itu punya urusan denganmu, Young-ah.
Annyeong..”
Tae Young
membulatkan matanya kaget, dia berusaha menahan kepergian Hanni namun sayang
Jongwoon terlanjur mencekal tangannya terlebih dahulu. Tae Young menatap
Jongwoon tajam, dia bahkan tak mengenal namja ini, ada urusan apa mereka
berdua?
“Siapa kau?
Tolong lepaskan tanganku, aku harus mengejar Hanni eonni.” hardik Tae
Young, dia berusaha menciutkan nyali namja di depannya ini dengan
memberikan tatapan paling sinis yang pernah dia punya.
Namun Jongwoon
sama sekali tak menunjukkan tanda-tanda takut, namja itu malah balik
memandang Tae Young dengan pandangan kelewat datar yang seolah menelanjanginya,
membuat Tae Young bergidik sendiri. Tae Young bahkan akhirnya rela-rela saja
ketika Jongwoon menggeretnya duduk di bangku taman.
“Aku Jongwoon,
dan aku memerlukan bantuanmu. Kau harus ikut denganku.” kata Jongwoon tanpa
basa-basi setelah Tae Young duduk di kursi taman.
Tae Young
memandang Jongwoon aneh, “Mianhae Jongwoon-ssi, aku sama sekali
tak mengenalmu. Bagaimana mungkin kau membutuhkan bantuanku jika kita tak
saling mengenal?”
Masih dengan
wajah tanpa ekspresinya, Jongwoon merogoh saku jaketnya dan menyodorkan sebuah
kalung kuning ke hadapan wajah Tae Young. “Ne, kita memang tak saling
kenal. Tapi kalung ini telah memilihmu, kau harus ikut denganku.”
Tae Young
berdiri, dia merasa hanya dipermainkan oleh namja yang tidak dikenalinya
ini. Kalung? Memilih? Permainan macam apa ini? Serius, Tae Young berani
bersumpah ini permainan terlucu yang pernah dia mainkan. Sangat lucu
sampai-sampai dia merasa ingin melesakkan kepala namja itu ke tanah!
“Kau tidak
waras, Jongwoon-ssi.” desis Tae Young sambil melangkah untuk
meninggalkan Jongwoon. Tae Young langsung terenyak ketakutan saat tiba-tiba
saja tubuhnya terduduk kembali di bangku dengan sendirinya. Dia menatap horor
ke arah Jongwoon yang sekarang tengah memandangnya lurus-lurus dengan ekspresi
seakan-akan Tae Young adalah ayam yang siap dikukus.
“Dengar, em..
siapa namamu?” Ketakutan yang dimiliki Tae Young berhasil membuat yeoja
itu menggumamkan namanya dengan lirih, membuat seulas senyum penuh kemenangan
terukir tipis─sangat tipis, bahkan hampir tak terlihat─di wajah Jongwoon. “Ye,
Young-ssi. Negeri kami, Negeri sihir Shappire Blue membutuhkan bantuanmu
untuk memusnahkan iblis yang lepas dari segelnya. Kau hisami, manusia spesial
yang memiliki ilmu sihir terpendam di dalam tubuhmu. Jika kau tidak membantuku,
maka Negeriku akan hancur, dan kau akan sangat berdosa sebab mengorbankan
begitu banyak nyawa hanya karena keegoisanmu.”
Tae Young
membatu, sama sekali tak mengerti dengan semua perkataan yang diucapkan oleh
Jongwoon. Satu-satunya yang berhasil dia tangkap dari semua ucapan Jongwoon
hanya satu hal, namja di hadapannya ini adalah pengguna ilmu sihir,
entah nyata atau tidak.
“Mianhae,
aku tak mengerti dengan ucapanmu sama sekali, Jongwoon-ssi.”
Jongwoon
berdecak, tatapannya menajam sebelum dia berkata, “Kau tidak perlu mengerti,
kau hanya perlu ikut dan menuruti semua perintahku.” dengan nada penuh
penekanan.
Tae Young yang
sedari tadi menunduk akhirnya memberanikan diri menatap lurus pada mata Jongwoon.
Mereka saling menatap selama beberapa detik untuk menyelami apa yang ada
dipikiran masing-masing, walau hasilnya nihil. “Kau punya sihir bukan, kenapa
tidak menghipnotisku saja agar kau tak perlu capek-capek membujuk, hm?” balas
Tae Young dengan nada menyindir.
Jongwoon
berjengit sebentar, “Kalau aku bisa, aku sudah melakukannya dari pertama aku
melihatmu, Tae Young-ssi. Sayang sekali para Hisami sepertimu tidak
mempan dengan sihir hipnotis.” sahutnya dengan nada sarkatis, Tae Young
langsung meringis mendengarnya. Sepertinya dia baru saja salah bertanya.
“Lalu aku harus
bagaimana, Jongwoon-ssi? Aku sama sekali tak tertarik.” Tae Young
mencoba berdiri kembali, namun kali ini tubuh Jongwoon yang menahannya. Namja
itu melingkarkan tangannya di perut Tae Young hingga wajah mereka hanya terpaut
sekian cm. Tatapan super datar yang terasa menelenjangi itu kembali dilontarkan
Jongwoon, Tae Young menelan ludah dengan perasaan waswas setengah mati.
“Apa yang
kaulakukan? Lepaskan tanganmu, kau tidak sopan!” sentak Tae Young yang malah
terdengar seperti cicitan.
“Aku punya satu
penawaran menarik kalau kau mau ikut, hanya 5 hari, aku janji.”
Tae Young
menggigit bibir merasakan napas hangat Jongwoon yang menyapu wajahnya, “Apa?”
tanyanya sambil berusaha melepaskan kaitan tangan Jongwoon di perutnya dengan
segenap tenaga.
“Aku akan
membuat Sungkyomu merasakan bagaimana rasanya dicampakkan. Dan kalau kau
memang masih mencintainya, aku akan membuat namja itu tergila-gila lagi
padamu, bagaimana? Menarik, bukan?” tanya Jongwoon santai, dia melepaskan
tangannya dari perut Tae Young dan mendorong yeoja itu hingga terduduk
di kursi lagi.
Tae Young
membulatkan kedua manik matanya mendengar penawaran Jongwoon. Darimana namja
itu tahu soal Sungkyo? Shit! Dia penyihir, Young. Ingat! seru hati
Tae Young mengingatkan. Tae Young terdiam cukup lama, tawaran yang diberikan
Jongwoon memang─harus dia akui─sangat menarik. Tae Young ingin membuat Sungkyo
juga merasakan hal yang sama dengannya, perasaan sakit yang begitu membunuh.
Dan soal tergila-gila padanya, Tae Young rasa itu juga bukan ide yang buruk.
Dia masih sangat mencintai Sungkyo, sejahat apapun namja itu.
Tae Young
mendongak untuk menatap mata Jongwoon, “Kau serius dengan ucapanmu barusan?”
Merasa Tae
Young tertarik dengan penawarannya, Jongwoon mengangguk mantap. “Aku punya
banyak sihir yang bisa membuat hal itu terjadi, Young-ssi. Tentu saja
aku serius.”
“Hm…” Tae Young
memasang pose berpikir walaupun itu hanya kebohongan karena dia memang sudah
memutuskannya dari tadi. “Baiklah, hanya 5 hari bukan? Tapi kalau kau sampai
tak menepati janjimu, aku akan menggantungmu di pohon apel dekat apartemenku!”
ancamnya.
Jongwoon
mendengus menahan tawa mendengar ancaman Tae Young, tentu saja itu adalah hal
paling mustahil yang bisa dilakukan yeoja itu kepadanya. Tapi setidaknya
dia bersyukur juga karena akhirnya Tae Young berhasil dibujuk.
“Baik, kau
boleh menggantungku.” janji Jongwoon, “kemarilah.” Namja itu lalu
mengulurkan tangannya yang disambut ragu-ragu oleh Tae Young. Dalam hitungan
detik, mereka telah menghilang ke belahan kota lain yang ada di Korea.
***
Hyukjae
berjalan tak tentu arah menjelajahi setiap sudut kota Paris yang begitu luas, namja
yang telah mengganti pakaiannya dengan celana jins panjang dan jaket itu
menghela napas beberapa kali karena kelelahan. Coba saja ini masih di
Negerinya, dia pasti tak perlu menggunakan kaki untuk berjalan. Lagipula, yeoja
semalam itu sebenarnya ada dimana? Mengapa menemukannya terasa begitu sulit?
“Sial, aku
lapar.” maki Hyukjae begitu perutnya berbunyi minta diisi, mata namja
itu mengedar ke sekitar untuk mencari penjual makanan terdekat. Dia
mengembuskan napas lega saat melihat restoran cepat saji di seberang jalan
sana.
Kaki Hyukjae
baru saja akan melangkah memasuki restoran saat matanya tanpa sengaja menangkap
bayangan seorang yeoja di dekat toko bunga sana. Hyukjae memicingkan
matanya, setelah benar-benar yakin bahwa yeoja itu memang yeoja
yang semalam, dia mengabaikan bunyi perutnya dan bergegas mengikuti yeoja
itu sebelum dia kembali kehilangan jejak.
Hyukjae mengernyitkan
keningnya begitu yeoja yang diikutinya berhenti di pemakaman. Namja
itu mengusap tengkuknya merasakan hawa penuh duka cita khas pemakaman tercium oleh
indera penciumannya. Setelah mendengus sekali dan menyuruh perutnya untuk berhenti
berdemo, Hyukjae mengikuti langkah yeoja itu hingga sampai di sebuah
makam. Matanya sempat membulat melihat sesuatu di makam itu sebelum kembali
berubah normal, Hyukjae meyakinkan dirinya sendiri bahwa itu tidak benar.
“Kenapa kau
mengikutiku?”
Hyukjae terenyak
saat yeoja itu tiba-tiba saja bertanya padanya tanpa membalikkan badan. Namja
itu ragu-ragu ikut berjongkok bersama yeoja tadi, tangannya mengambil
segenggam mawar dari keranjang yeoja itu dan ikut menaburkannya di atas
makam.
“Aku Hyukjae,
siapa namamu?” tanya Hyukjae sambil mengamati yeoja yang dipilih
kalungnya dengan saksama, dia sengaja mengabaikan pertanyaan pertama yeoja
itu. Hyukjae tak tahu mengapa, tapi dia merasa yeoja di sampingnya ini
mempunyai kekuatan sihir yang sangat besar.
Sebelum menjawab
pertanyaan Hyukjae, yeoja itu tampak menutup matanya dan berdoa untuk
orang yang dimakamkan di sini. Setelah doanya selesai, barulah yeoja itu
menjawab pertanyaan Hyukjae. “Hyunmi.. Dan kau belum menja─KAU?!” Hyunmi menjerit
lepas begitu melihat wajah Hyukjae sepenuhnya, yeoja itu ingat bahwa
Hyukjae adalah namja aneh yang diejeknya gila semalam.
Melihat tatapan
terkejut di wajah Hyunmi membuat Hyukjae melepaskan seringaian yang sedari tadi
ditahannya. “Terkejut? Masih ingat denganku, hm?”
Hyunmi segera
berdiri dari jongkoknya, dia melengkingkan tawa pelan sebelum menyahut dengan
santai. “Nde, tentu saja aku ingat denganmu. Mana mungkin aku melupakan namja
gila sepertimu. Sudah ya aku harus pergi, annyeong.”
Tepat setelah
mengatakan hal itu, Hyunmi melangkah kecil-kecil meninggalkan area pemakaman─dan
Hyukjae yang masih terpana dengan sikap menyebalkan yeoja itu. Ketika Hyunmi
sudah melewati gerbang pemakaman, Hyukjae baru tersadar dari keterpanaannya. Namja
itu memaki dalam hati sebelum melesat untuk mengejar Hyunmi kembali, dia
bersyukur yeoja itu belum hilang terlalu jauh hingga Hyukjae berhasil
memblokir jalannya.
Hyunmi
mengerutkan kening melihat Hyukjae berdiri di hadapannya, yeoja itu
berdecak tak suka sambil mencoba berjalan ke arah lain. Hyukjae kembali
menghadangnya. Hyunmi menatap Hyukjae tak suka. “Apa maumu hah? Jangan halangi
jalanku!” salaknya marah.
Hyukjae membalas
tatapan Hyunmi dengan tak kalah tajam, selain masih kesal dengan perlakuan yeoja
itu, Hyukjae juga tak suka dibentak seperti itu apalagi oleh seorang yeoja.
“Kita perlu bicara, Hyunmi-ssi. Aku membutuhkan bantuanmu.”
Hyunmi menepis
tangan Hyukjae yang terulur ke bahunya sambil berusaha mencari celah
menghindari namja itu, namun sayang tak berhasil. “Tsk! Menyingkirlah,
aku sama sekali tak mengenalmu jadi aku tak mau membantumu.”
“Dengar, bukan
hanya aku yang membutuhkan bantuanmu, tapi Negeriku, juga rakyatku!” balas
Hyukjae dengan nada jengkel yang begitu kentara. Hyukjae lalu memegang sebelah
tangan Hyunmi dengan begitu kuat sementara tangan lainnya mengeluarkan kalung
berbandul permata hijau dari saku jinsnya dan menyodorkan kalung itu tepat ke
wajah Hyunmi sambil kembali menyambung ucapannya, “lagipula kalung ini yang
telah memilihmu, bukan aku.”
Hyunmi menghentikan
aktivitasnya─yang tengah berusaha melepaskan genggaman tangan Hyukjae dari
tangannya─dan membuka mulutnya lebar-lebar sambil menatap Hyukjae tak mengerti.
“Gila,” desis
Hyunmi begitu tersadar, dia kembali menggerakkan tangannya yang masih digenggam
Hyukjae. “Aku tidak mengerti perkataanmu, lepaskan aku!” jeritnya tertahan,
untung area sekitar taman pemakaman terbilang cukup sepi jadi tak ada satu
orang pun yang menatapi mereka dengan aneh.
“Tidak sebelum
kau setuju untuk ikut deng─AKH!” Hyukjae memekik kaget saat Hyunmi tiba-tiba
saja menggigit tangannya, tatapan Hyukjae berubah marah. “YAK! Apa yang kaulakukan?”
Hyunmi mundur
teratur sambil menjulurkan lidahnya mengejek, “Menggigitmu, gila.”
Grep. Hyunmi
menelan ludah ngeri saat Hyukjae mendorongnya ke pilar gerbang masuk pemakaman
dan mengurung Hyunmi di antara tubuhnya.
“Kau yeoja
paling menyebalkan yang pernah aku kenal.” desis Hyukjae dengan suara rendah
yang berbahaya, “sayang aku tak bisa menyihirmu karena aku membutuhkan
bantuanmu.”
Hyunmi tersentak
mendengar perkataan Hyukjae tentang sihir, kata sihir selalu mengingatkannya
pada hari dimana eonninya mati. Bola matanya yang berwarna cokelat
samar-samar dihiasi warna merah. “Kau, penyihir dari Negeri Shappire Blue?” tanya
Hyunmi dengan suara lirih yang terdengar agak parau.
Hyukjae tersentak
melihat perubahan yang terjadi di tubuh Hyunmi, aura gelap pelan-pelan
dirasakannya. Hyukjae tak tahu apa yang tengah terjadi pada Hyunmi, tapi namja
itu akhirnya mengeluarkan sihir calsm* untuk menenangkan Hyunmi hingga
perlahan-lahan aura gelap itu menghilang. Hyukjae menjauhkan tubuhnya yang
menghimpit tubuh Hyunmi pelan-pelan.
“Hyunmi-ssi,
darimana kau tahu tentang Negeriku? Aku belum membicarakannya padamu, bukan?” tanya
Hyukjae waspada.
Mata sipit
Hyunmi terdongak untuk melihat Hyukjae, tatapan sendu penuh luka yang
dipancarkan matanya ketika bersitatap dengan Hyukjae membuat namja itu
langsung terperanjat heran. “Seseorang terdekatku dulu mengenal salah satu namja
dari bangsamu,” jawab Hyunmi lirih sebelum matanya berubah kosong ketika
mengatakan, “dan dia terbunuh karena namja itu.”
Hyukjae termangu
mendengar perkataan Hyunmi sebelum helaan napas panjang lolos dari bibir namja
itu dan dia membalas perkataan Hyunmi dengan agak tegang, “Aku akan membantumu
menemukan namja itu dan membunuhnya jika kau mau ikut denganku.”
“Jeongmal?
Kau tidak akan mengingkarinya?” tanya Hyunmi dengan matanya yang kembali
bercahaya, melihat Hyukjae mengangguk, senyum tipis terpeta di bibir Hyunmi
dengan samar-samar, apa pun akan dia lakukan demi membalas dendam pada namja
itu, termasuk ikut dengan namja yang bahkan belum cukup dikenalnya. “Berapa
lama?”
Hyukjae
membalas senyum samar Hyunmi dengan senyum tipis sebelum dia mendekati Hyunmi dan
memakaikan kalung di tangannya. Setelah kalung itu terpasang sempurna, dia
mengulurkan tangan ke arah Hyunmi dengan perasaan tak keruan. “5 hari, ayo
berangkat.” Hyunmi tak mengelak sama sekali ketika Hyukjae menggenggam
tangannya dengan lembut. Dia merasa ini adalah jalan tercepat untuk menemukan namja
itu. Mereka berdua menghilang disapu angin.
***
Donghae menunggu
Hyerin selesai bekerja di halte bis kemarin sambil bersiul-siul riang. Namja
itu melirik-lirik ke arah kafe di dekat halte bis sesekali, mengecek apakah
Hyerin sudah keluar atau belum. Saat melihat Hyerin melambaikan tangan pada
seseorang dan berjalan ke arahnya, senyum Donghae terkembang.
“Hei, kita
bertemu lagi.” sapa Donghae basa-basi begitu Hyerin duduk di sebelahnya. Dia
tertawa kecil dalam hati mendengar kebohongan yang dibuatnya. Bertemu lagi?
Yang benar saja, Donghae bahkan telah mengikuti Hyerin seharian ini.
Hyerin
mengerutkan keningnya melihat Donghae, dia tampak mengingat-ingat namja
di sebelahnya ini sebelum tersenyum kecil membalas sapaan Donghae. “Nde,
senang bertemu denganmu lagi.”
Donghae
mengangguk sambil membalas senyum Hyerin dengan sangat manis─walau Donghae tahu
Hyerin akan menanggapi senyuman secara biasa saja─lantas menjulurkan tangannya
mengajak berkenalan. “Park Donghae imnida, kau?”
Walaupun agak
risih dengan Donghae yang menatapnya lekat-lekat, Hyerin tetap menyambut uluran
tangan Donghae sambil mempertahankan senyumnya. “Han Hyerin imnida, bangapseumnida,
Donghae-ssi.”
Sial!
Pikirannya tidak bisa ditembus! sungut Donghae
dalam hati.
“Hyerin-ssi,”
panggil Donghae.
“Ne?”
jawab Hyerin sekenanya sambil melempar tatapan ke arah jalanan. Pikiran Hyerin
sekarang tengah penuh dengan rencana-rencana yang telah disusun Heesun untuk
membuat dia dan Baekhyun dekat, tapi Hyerin sendiri sangat ragu apakah rencana
Heesun akan terlaksana baik atau tidak.
Donghae
mencebik kesal melihat Hyerin malah memandang ke arah jalan, kalung dengan
permata ungu di tangannya dia remas pelan untuk melampiaskan kekesalannya.
Hyerin memang berbeda, dia satu-satunya yeoja yang tidak mempan dengan
senyuman Donghae. “Lihatlah ke sini..”
Hyerin berdecak
tak kentara mendengar suara Donghae, gara-gara namja itu lamunannya
tentang Baekhyun jadi hancur dengan sukses sentosa. Baekhyunnya yang
sempurna langsung lenyap tak berbekas, sial!
Merasa harus
menjaga sopan santun terhadap orang yang baru dikenalnya ini, Hyerin dengan
setengah hati menolehkan kepalanya pada donghae. Mata sipit yeoja itu melebar
sempurna melihat kalung milik Donghae terpampang jelas di depan wajahnya.
“Apa maksudmu,
Donghae-ssi?” tanya yeoja itu sambil menatap Donghae tajam.
Donghae
mengedik santai, tangannya meraih tangan Hyerin lantas meletakkan kalung itu di
sana. “Itu milikmu Hyerin-ah, kaulihat kalung itu bersinar sangat
terang, bukan? Dia telah memilihmu.”
Hyerin mundur
teratur dari kursi halte itu, dia melemparkan tatapan ngeri pada Donghae
sebelum beralih menatap kalung di tangannya. Dalam hitungan detik, Hyerin telah
melempar kalung itu ke arah Donghae kembali.
“Siapa kau
sebenarnya?” tanya Hyerin dengan suara seperti dicekik. Tubuhnya semakin mundur
hingga ia akhirnya menabrak tiang pembatas kursi halte tersebut.
Donghae
menangkap kalung yang Hyerin lempar tanpa melihatnya sebelum bertanya, “Aku?” dengan
nada sarkatis sambil menampilkan senyuman manis─yang terlihat sangat mengerikan
di mata Hyerin─sebelum beranjak mendekati tubuh Hyerin pelan-pelan, Hyerin
semakin merapatkan tubuhnya pada tiang dengan tatapan takut yang begitu kentara
dari bola matanya.
Ketika wajah
mereka hanya terpaut 10 cm, Donghae melanjutkan ucapannya dengan setengah
berbisik. “Aku Park Donghae, salah satu dari 4 Pangeran Negeri sihir Shappire
Blue. Dan kau, Han Hyerin, hisami yang telah dipilih kalungku. Kau harus ikut
bersamaku.”
Bulu kuduk
hyerin meremang seketika, yeoja itu segera mendorong tubuh Donghae yang
sudah sangat dekat dengannya sebelum berteriak dengan suara gemetar. “KAU GILA!”
Donghae hanya
tersenyum santai melihat Hyerin yang mulai berlari menjauhinya, saat punggung yeoja
itu benar-benar sudah tak terlihat, Donghae melakukan teleportasi dan menangkap
lengan Hyerin yang masih berlari. Hyerin seketika membeku, ketakutan semakin
berkecamuk di dalam hatinya melihat Donghae tiba-tiba saja sudah ada di
hadapannya─padahal Hyerin yakin jarak mereka sudah sangat jauh dan Donghae
tidak mengejarnya tadi.
“Lepaskan aku
Donghae-ssi. Aku mohon,” pinta Hyerin putus asa dengan mata
berkaca-kaca, ingin menangis rasanya jika di hadapkan pada situasi seperti ini.
Melihat air
mata yang sudah mengawang di pelupuk mata Hyerin membuat Donghae tak tega juga,
dia memberikan tatapan lembut pada Hyerin dan melepaskan cengkeramannya hingga yeoja
itu langsung mundur beberapa langkah.
“Hyerin-ssi,
aku membutuhkanmu demi kelangsungan Negeriku. Hanya 5 hari, ikutlah denganku.”
Suara Donghae terdengar melembut, Hyerin malah meringkuk ketakutan. Yeoja
itu berjongkok beberapa meter dari Donghae untuk meredam ketakutannya.
“Aku tidak
mengerti dengan apa yang kaukatakan Donghae-ssi. Kumohon jangan ganggu
aku, tinggalkan aku Donghae-ssi.”
Donghae maju
hingga dia hanya berjarak 30 cm dengan Hyerin, namja itu ikut berjongkok
di depan Hyerin dan mengelus rambut Hyerin dengan lembut. Kalau saja sihir
hipnotis mempan pada Hisami, dia pasti sudah menggunakannya daritadi untuk
membawa Hyerin tanpa susah-susah harus membujuknya.
“Hanya 5 hari,
Hyerin. Setelah itu aku tak akan menganggumu lagi, tak akan pernah.”
Hyerin
mengangkat wajah, bola matanya yang berkaca-kaca membuat Donghae menelan ludah
dengan susah payah. Wajah cengeng Hyerin sangat manis, membuat desiran aneh
dalam darahnya terasa begitu deras.
“Aniyo,
aku benar-benar tak ada urusan denganmu, mianhae..” balas Hyerin sambil
berdiri.
“Jika kau ikut
denganku..” Donghae menjeda kalimatnya, membuat Hyerin menghentikan langkah
kelimanya untuk mendengarkan lanjutan perkataan Donghae. Donghae menghela napas
sekali sebelum melanjutkan perkataannya, “aku akan membuat Byun Baekhyun
tergila-gila padamu.”
Mendengar kata
‘Baekhyun’ dari mulut Donghae membuat Hyerin spontan membalikkan tubuhnya dan
menghampiri Donghae dengan wajah penasaran yang mendominasi, ketakutannya
perlahan sirna hanya dengan satu nama itu. “Kau pasti berbohong, kau tidak akan
bisa melakukannya.”
“Aku bisa,
dengan sihir lovayi* Baekhyun akan tergila-gila padamu dan kau bisa memilikinya.
Seperti itu bukan keinginanmu dari dulu?” Donghae merasa beruntung juga karena
dia sempat membaca pikiran Heesun─sahabat Hyerin.
Hyerin
tercenung beberapa saat. Dia merasa tertarik dengan penawaran Donghae, dan
tidak alasan untuk tidak mempercayai namja itu karena Hyerin melihat
sendiri bagaimana Donghae ada di hadapannya dalam hitungan detik. Hyerin
mencoba menepis semua kemungkinan buruk yang akan terjadi nanti dengan
mengulurkan tangannya kearah Donghae dan tersenyum lebar. “Aku setuju, deal!”
Donghae
menyambut uluran tangan Hyerin dengan senyum tak kalah lebar. “Deal.”
TBC...
Note+cuap-cuap saya:
1. sihir calsm= nah ini memang sihir nenangin, tapi beda jauh sama punya Yesung. Sihir menenangkan yg Yesung punya lebih bertujuan untuk membuat si korban merasa aman, nyaman, dan damai tanpa paksaan. sedang sihir calsm ini memaksa si korban untuk tenang, emosi si korban ditekan dengan paksa untuk tidak meledak menggunakan sihir ini. jadi jelas perbedaannya, kan? *jelas aja deh yaa*
2. sihir savora= sihir pelindung. yang dilindungi sama sihir ini nggak bakal bisa disakitin siapapun, sekalipun sama penyihir lain. sifatnya universal, artinya selama si penyihir tidak mencabut sihir itu, yang dilindungi akan tetap terlindungi selamanya.
3. sihir jasdion= sihir pembunuh, tapi sihir ini tidak masuk kategori sihir paling berbahaya di Shappire Blue. sihir ini masih bisa diatasi dengan sihir penangkalnya, yaitu sihir osidnion.
annyeong haseyooooo *senyam-senyum*
aku kembali lagi haha *lirik tanggal* ah baru telat 1 hari kok, mianhae ya, sempat stres gara-gara pr jadinya begini deh *alasan!*
then, ini aku post dua chap sekaligus, artinya aku post tiga minggu ke depan yah ini kan udah dua chap sekaligus *eaaa*
well gatau mau ngomong apalagi, happy reading aja ne.. aku selalu berusaha membagi tiap plot itu sama rata, moga emang gaada yg kelebihan dan gaada yang kekurangan yaa :)
sampai jumpa tiga minggu lagi *bow*
keren lah XD :* aku suka part Tae Young :* so sweet so sweet gemanaaa gitu XD
BalasHapusaku kasih so sweetnya sebelum aku siksa mereka hahahaha
BalasHapusBtw ga ngakak lagi kan km? =..=