Entri yang Diunggulkan

Series Recommendations! đŸŽ„

Hi, happy Wednesday all! So decided to post my own personal series. I usually dont like watching movie, so because i watched those series ...

Sabtu, 11 Agustus 2012

Brotherhood, Magic, and... Love (Two)


TWO

H
AN Tae Young terdiam di atas ranjangnya dengan mata kosong. Tangannya sesekali mengusap butir-butir air mata yang jatuh begitu saja. Pikirannya melayang, terpecah belah entah menjadi berapa. Memutar kenangan-kenangannya bersama namja ‘itu’. Yeoja yang biasa dipanggil ‘Young’ itu mau tak mau merasa sesak menghimpit dadanya. Sekeras apa pun dia mencoba mengendalikan pikiran, bayangan yang bak roll film itu terus berputar di kepalanya tanpa mau berhenti.

Satu malam telah berlalu sejak kejadian menyakitkan itu, namun tubuh Tae Young tetap menolak untuk beraktivitas seperti biasanya. Dia merasa terlalu lelah menangisi mantan kekasihnya semalam penuh tanpa henti. Fisiknya letih, begitu pun hatinya. Dia juga merasa bodoh telah jatuh terlalu dalam pada namja yang bahkan dengan tega mencampakkannya begitu saja ketika rasa itu memudar.

Namja itu Sungkyo. Mantan kekasih yang telah menjalin hubungan dengan Tae Young hampir lima tahun lamanya. Tapi tadi malam, Sungkyo dengan tega memutuskannya karena yeoja lain. Mungkin bagi kebanyakan orang ini hanyalah sebuah cerita klise yang mudah ditemukan, tapi bagaimana jika kau sendiri di hadapkan pada masalah klise ini? Rasanya akan tetap sakit, bukan? Begitu pun yang kini tengah dirasakan Tae Young, dia jadi menyesal dulu sering mengejek teman-temannya yang patah hati karena dicampakkan kekasih. Tae Young tak pernah tahu bahwa hukum karma akan terjadi padanya. Apakah Tae Young menyesal? Tidak juga, Tae Young tidak mau menyesali apa yang telah berlalu dalam hidupnya, dia sekarang hanya sedikit belum rela.

Belum rela sebab terlalu banyak kenangan indah yang sudah digoreskan namja itu di hatinya.

“Young-ah?” panggilan dari luar diiringi dengan derit pintu yang terbuka itu sama sekali tak membuat Tae Young mengalihkan pandangannya. Tae Young terlalu larut dalam pikiran panjangnya.

Yeoja yang masuk ke kamar Tae Young menghela napas pelan melihat keadaan sahabatnya yang tampak sangat kacau. Semalam Tae Young memang datang mengadu padanya, tapi malam itu dia tidak bisa berbuat banyak sebab sangat sibuk dengan skripsinya, baru sekarang dia bisa datang ke apartemen Tae Young─yang sudah ia hapal passwordnya─untuk memberi penghiburan pada yeoja yang merupakan sahabatnya dan telah dia anggap sebagai adiknya sendiri itu.

“Young-ah, jangan begini. Jangan menangisi namja brengsek itu terus menerus.” hibur Hanni sambil merangkak ke ranjang Tae Young.

Eonni, rasanya sakit..” balas Tae Young ketika Hanni memeluknya dari samping, tangan yeoja itu bergerak menyentuh dada kirinya. “.. di sini, aku seperti kehilangan hati. Kosong.”

“Young, dengar!” Hanni memutar tubuh Tae Young hingga yeoja itu berhadapan dengannya, tangan Hanni memegang pundak Tae Young seraya meremasnya lembut.

“Di luar sana masih banyak namja lain yang jauh lebih baik daripada namja itu, kau tidak boleh terpuruk seperti ini.”

Tae Young mengangkat wajah dan menatap mata Hanni lurus-lurus, yeoja yang tiga tahun lebih tua darinya itu terlihat begitu serius dengan ucapannya. Tae Young kembali menunduk.

“Aku ingin eonni, tapi..”

“Tapi apa?” sela Hanni tak sabar.

Kepala Tae Young tertunduk semakin dalam, dia tidak berani menatap mata Hanni yang berkilat-kilat penuh emosi.

Eonni, kami sudah lima tahun bersama..” bisik Tae Young lirih, “melupakan kenangan selama itu tidak akan cukup dengan satu hari..” imbuhnya dalam bisikan yang semakin lirih.

Hanni melepaskan tangannya yang sedari tadi ada di pundak Tae Young seraya menarik napas dalam-dalam. Dia mengedarkan pandangan ke sekeliling kamar Tae Young dan mendecak kesal melihat berbagai macam hal dari Sungkyo masih mengisi penuh sebagian besar kamar Tae Young.

“Yah, kau memang tidak akan bisa melupakannya kalau semua kenangan kalian masih tersisa di sini.” seru Hanni, dia beranjak dari ranjang Tae Young, tangannya mulai bergerak menempel semua foto-foto Tae Young dan Sungkyo yang tertempel di dinding, lalu semua barang dari Sungkyo juga Hanni ambil dan melesakkannya masuk ke dalam tong sampah di kamar Tae Young.

Tae Young sendiri tak melawan sama sekali, dia hanya menatapi barang-barang yang dibuang oleh Hanni dengan pandangan nanar. Air mata perlahan-lahan kembali menuruni pipinya begitu setiap kenangan dari barang yang Sungkyo berikan terlintas di benaknya.

“Ayo pergi.” ajak Hanni setelah dia selesai dengan semua barang-barang milik Sungkyo. Tangannya mencabut selembar tisu dan menyodorkannya pada Tae Young sebelum menarik paksa tangan Tae Young untuk mengajaknya keluar.

Tae Young lagi-lagi tak melawan perlakuan Hanni, dia mengayunkan kakinya dan berjalan gontai mengikuti setiap langkah Hanni setelah mengusap air matanya asal-asalan. Tae Young percaya pada Hanni, dan apa pun yang dilakukan oleh sosok eonninya itu pastilah mempunyai tujuan yang baik untuk dirinya.

Hari ternyata cepat sekali berlalu, sekarang langit sudah berwarna jingga. Sore menjelang.

Tae Young dan Hanni baru saja tiba di taman saat tiba-tiba saja seorang namja mencekal tangan Tae Young dan menyentaknya hingga yeoja itu berbalik badan karena terkejut.

Mata Tae Young menyipit memandang namja di depannya yang seolah ia pernah melihatnya. Tae Young baru saja akan bertanya kenapa saat namja itu sudah membuka mulut terlebih dahulu.

“Kau, aku sudah mencarimu seharian. Ikutlah denganku!”

Tae Young dan Hanni menganga.

***

Saera menutup buku kedokteran yang dibacanya setelah menguap sekali. Matanya lantas mengedar ke sekeliling ruangan luas berwarna serba putih khas rumah sakit itu, Saera tanpa sadar menghela napas panjang ketika matanya terfokus pada seorang namja berumur 19 tahun yang terbaring di atas ranjang dengan berbagai macam alat kedokteran tertempel di badannya.

Dalam hitungan detik, Saera telah menutup mata saat pisau tak kasat mata mengiris-ngiris hatinya tanpa ampun melihat keadaan namja itu. Namja yang terbaring tak berdaya di atas ranjang itu adalah namdongsaeng Saera sekaligus satu-satunya keluarga yang Saera punya sekarang. Kedua orangtua Saera meninggal setahun yang lalu dalam sebuah kecelakaan yang keluarga Saera alami.

Hari yang merenggut nyawa kedua orangtua Saera sekaligus menyebabkan adiknya dalam keadaan koma seperti ini adalah hari terakhir musim panas. Saera dan keluarganya sedang dalam perjalanan pulang dari salah satu pantai wisata saat mobil yang mereka tumpangi oleng tanpa sebab. Saera sempat melihat bayangan namja tua di ujung jalan─yang menatap tajam ke arah mobilnya─sebelum mobil itu menabrak pembatas jalan dan terjun ke jurang dengan mulus lantas dia kehilangan kesadarannya.

Saat sadar, Saera sudah ada di rumah sakit. Dia juga harus menerima kenyataan pahit bahwa kedua orangtuanya telah meninggal dunia, sedangkan adiknya koma. Saera langsung shock, dia bahkan tak mau makan berminggu-minggu. Saat sadar hal bodoh yang sudah dilakukannya, Saera langsung memutuskan untuk pindah Negara demi pengobatan adiknya. Saera membawa adiknya berobat di Italia atas rekomendasi dokter, namun sayang sampai sekarang pun adiknya seperti sukar membuka mata─untung peninggalan orangtua Saera masih cukup membiayai biaya pengobatan adiknya.

Saera tersentak dari lamunan panjangnya saat buku yang ia pegang jatuh begitu saja, dengan mimik kaget yang tak bisa disembunyikan, Saera buru-buru memungut buku itu dan menajamkan pandangan. Helaan napas lega keluar dari bibirnya saat dia tak menemukan hal mencurigakan apa pun di kamar inap ini.

Angka 14. 00 di sudut mengalihkan perhatian Saera dan membuat yeoja itu refleks membuka matanya lebar-lebar. Saera hampir saja memekik begitu teringat bahwa dia ada jadwal kuliah 15 menit lagi.

Tergesa-gesa, Saera menghampiri ranjang Sungmin─namdongsaengnya─dan mengecup kening namja yang masih tertidur dengan nyenyak itu sekilas.

“Cepatlah sembuh, noona merindukanmu..” bisik Saera lirih sebelum keluar dari ruang rawat Sungmin.

Derap langkah kaki Saera yang terdengar seperti berlari mendominasi suasana hening di lorong rumah sakit itu. Saera mempercepat larinya begitu melihat sebuah bis berhenti di halte, yeoja itu mendesah lega saat berhasil masuk ke dalam bis dan duduk dengan tenang di bangku paling belakang.

“Terlambat, Saera-ya?” Saera mengalihkan tatapannya dari jendela pada yeoja berwajah Asia yang sekarang duduk di sampingnya. Saera mendengus pada Hyoseo─sahabatnya yang sama-sama berasal dari Korea─sebelum menjawab dengan nada jengkel seolah-olah Hyoseo menanyakan letak wilayah Korea yang jelas-jelas ada di Asia.

“Kau tidak lihat, hm?” balas Saera cuek.

Hyoseo meringis mendengar nada suara Saera yang begitu cuek, harusnya dia memang tidak usah basa-basi dengan yeoja seperti Saera ini. “Cuek sekali sih kau ini!” keluh Hyoseo sambil mengecek ponselnya yang berbunyi sekilas. “Omong-omong, bagaimana keadaan Sungmin? Apakah ada kemajuan?” tanyanya setelah menyimpan ponsel itu di saku kembali.

Saera menoleh, kilatan matanya berubah sendu menjawab pertanyaan Hyoseo. “Entahlah Hyo-ya, aku kadang merasa putus asa dengan keadaan Sungmin.”

Hyoseo mendecak kesal mendengar ucapan Saera. “Tsk! Kau mengapa jadi lemah begini, Han Saera?” tanyanya dengan penekanan saat menyebut nama Saera.

Menghela napas sekali, Saera akhirnya mengedik tak acuh sambil kembali menatap keluar jendela sebelum menjawab pertanyaan Hyoseo tadi dengan suara lirih. “Hyo, ini sudah hampir satu tahun. Apa Sungmin tidak bosan tertidur terus-terusan?”

Aniyo, tentu saja dia bosan Saera. Dia hanya perlu waktu untuk membuka mata. Kau jangan lemah seperti ini, Sungmin membutuhkan semangatmu!” seru Hyoseo berapi-api, yeoja itu menyentuh pundak Saera seolah mencoba menyalurkan semangatnya yang membakar.

Yang disentuh terdiam beberapa saat, wajah Sungmin yang sedang tersenyum sangat manis tiba-tiba saja terlintas di otaknya membuat Saera ikut tersenyum tanpa sadar. Dari dulu Saera dan Sungmin memang sangat dekat, rasa sayang yang mereka miliki terhadap satu sama lain tidak bisa dijelaskan seperti apalagi. Yang jelas, perasaan yang mereka miliki begitu tulus dan murni.

Saera mulai berpikir bahwa ucapan Hyoseo benar, semangat yang meredup di dalam jiwanya perlahan bangkit kembali dan mengentak dengan sangat keras menciptakan semangat baru yang meletup-letup untuk kesembuhan Sungmin.

“Hyo-ya, kau benar.” sahut Saera, pemandangan di luar jendela sudah dia tinggalkan demi melihat wajah Hyoseo di sampingnya. “Aku tidak boleh putus asa untuk Sungmin, dia membutuhkanku.”

Hyoseo mengangguk membenarkan dengan senyum yang mengembang lebar. Mereka berdua lalu turun dari bis ketika bis itu berhenti di depan halte tak jauh dari universitas tempat mereka menuntut ilmu.

Mereka berlari-lari kecil memasuki universitas itu mengingat kelas mereka akan dimulai 3 menit lagi.

Tanpa siapa pun sadari, seorang namja tinggi berwajah tampan menyeringai melihat tubuh Saera yang sudah menghilang di gerbang sana. Namja yang sedang duduk di dahan pohon apel itu mengayunkan tangan hingga buah apel berwarna merah marun di dahan yang jauh darinya melayang hingga sampai di tangannya. Namja itu menggigit apel yang didapatnya lamat-lamat dengan seringaian yang tak lepas dari wajah tampannya.

“Kebetulan yang sangat menguntungkan,” desisnya, “I got you.”

***

Kepulan uap dari cangkir yeoja itu mulai menghilang seiring dengan mendinginnya cairan berwarna hijau yang ada di dalamnya. Sang pemilik minuman yang kini sedang berada di kantin salah satu universitas terkenal di Tokyo tampak terlalu larut dalam soal-soal yang harus diisinya hingga mengabaikan minuman yang telah dipesannya dari sejam yang lalu.

Kesal dengan soal yang seolah tak ada habisnya, si yeoja akhirnya mengempaskan punggung di sandaran kursi dengan embusan napas yang sangat panjang. Untuk pertama kalinya sejak memesan minuman, yeoja itu menyesap teh hijaunya sambil sesekali mengedarkan pandangan ke sekeliling kantin yang terlihat lengang.

Ketika matanya tanpa sengaja berhenti di lapangan dekat kantin sana, yeoja yang bernama lengkap Han Hyerin itu mendengus melihat banyaknya mahasiswi yang mengerubungi seorang namja di sana. Hatinya berdenyut kesal melihat pemandangan tersebut, dia bahkan tak sadar bahwa buku-buku jarinya telah memutih akibat kepalan tangannya yang terlalu kuat.

Hyerin sangat cemburu melihat namja yang disukainya di kelilingi banyak yeoja.

Hyerin tahu dia seharusnya tak bersikap begitu karena nyatanya mereka berdua tak mempunyai hubungan apa pun─hubungan? Lucu sekali, kenal saja tidak!─well, Hyerin memang hanya bisa menyukai namja itu diam-diam, dia hanya bisa menjadi pengagum rahasia namja itu tanpa ada usaha sedikit pun untuk benar-benar mengenal namja itu. Bukan Hyerin tak ingin, dia hanya merasa namja itu terlalu tak sepadan dengannya.

Byun Baekhyun terlalu sempurna untuk dia gapai. Pertama, namja itu terkenal, baik di kalangan dosen maupun mahasiswa. Sedangkan Hyerin? Terkenal? Hah, bahkan Hyerin ragu ada yang mengenalnya di kampus ini─selain Heesun dan beberapa teman yang satu fakultas dengannya, tentu saja. Kedua, Baekhyun mudah bergaul. Hampir sebagian besar orang di kampus ini adalah teman baik Baekhyun. Hyerin? Tidak, Hyerin bukan orang kaku dan pendiam, dia hanya lebih senang sendirian daripada harus terlibat pembicaraan panjang-lebar yang tak penting dengan orang lain. Karena benteng kokoh bernama ‘perbedaan’ itulah Hyerin tak pernah berani untuk mendekati namja yang sudah membuatnya jatuh cinta sejak pandangan pertama. Keraguan Hyerin selalu lebih besar dibanding keberaniannya.

Setelah mendesah sekali, Hyerin segera mengalihkan tatapannya sebelum rasa sesak yang menyebalkan itu semakin merajalela. Senyumnya perlahan terkembang melihat Heesun─satu-satunya teman satu Negara Hyerin di universitas ini─tengah memanjangkan leher mencari tempat duduk. Hyerin dengan cepat melambaikan tangannya tinggi-tinggi untuk menyuruh Heesun duduk di mejanya.

“Hyerin-ah, aku mencarimu dari tadi.” cetus Heesun begitu duduk di kursinya. Setelah meletakkan nampannya di meja, yeoja dengan badan kelewat kurus itu kembali melanjutkan. “Kau sudah mendengar berita terbaru mengenai pangeranmu itu?”

Hyerin yang baru saja akan menekuni soal-soal nerakanya lagi mendongak cepat mendengar pertanyaan Heesun, dia melirik ke arah lapang sebentar yang kini telah kosong sebelum kembali memandang Heesun lurus-lurus. “Waeyo dengannya?”

Heesun menyumpit sushinya sebelum menjawab pertanyaan Hyerin dengan nada hati-hati. “Dia semalam berkencan dengan Hikari dari jurusan dance.” Melihat wajah Hyerin yang langsung mengernyit─sakit─Heesun jadi tak tega karena menyampaikan berita ini, tapi Hyerin pasti akan lebih sakit jika mendengar dari orang lain. “Sudah aku bilang kau harus bertindak secepatnya bukan, Hyerin-ah? bagaimana kalau Baekhyun sunbae benar-benar berpacaran dengan yeoja lain? Kau rela?”

Refleks, Hyerin menggeleng mendengar pertanyaan Heesun. Dia tak bisa membayangkan bagaimana nasibnya kelak jika Baekhyun sampai benar-benar menjalin hubungan dengan yeoja lain. Baekhyun bagaimana pun harus menjadi milik Hyerin, hanya itu yang Hyerin mau!  Terdengar egois dan gilakah? Entahlah karena Hyerin tak peduli!

“Aku ingin Sun-ah, tapi kau tahu sendiri aku akan jadi sangat gugup kalau sudah ada di hadapannya, bukan?” seru Hyerin dengan nada sedih.

Heesun menggigit bibir bawahnya miris, dia sudah berulang kali mencoba membuat Hyerin dan Baekhyun berkenalan, tapi selalu berakhir dengan Hyerin yang tiba-tiba saja menghilang entah kemana. “Aku sudah berulang kali mencoba membantumu, kau harus berubah jika ingin memilikinya.”

Kepala Hyerin tertunduk, sesak merajai hatinya hingga ia merasa kesulitan bernapas.

Melihat Hyerin yang malah menundukkan kepala, Heesun mendesah panjang sebelum mulai menekuri makanannya yang langsung menganggur begitu mereka membicarakan masalah Hyerin dan Baekhyun yang seolah tak ada ujungnya.

Hyerin sendiri hampir saja meremas kertas soal begitu mengingat seberapa tak berdayanya ia jika sudah berhadapan langsung dengan Baekhyun, Hyerin selalu merasa kecil jika ia sudah berdiri berhadapan dengan Baekhyun, dia selalu merasa sangat rendah jika dibandingkan Baekhyun. Karena alasan itulah Hyerin sering kabur begitu Heesun─yang memang supel dan lumayan mengenal Baekhyun─merencanakan pertemuan mereka berdua.

Menit demi menit yang terlewat selanjutnya dilalui dengan kesibukan masing-masing. Hyerin sibuk dengan hatinya yang semakin mengecil dan berkecamuk, sedangkan Heesun sibuk dengan sushi yang ada di hadapannya.

“Hyerin-ah..” panggil Heesun begitu dia menelan sushi terakhirnya, Hyerin mengangkat kepala dengan wajah murung yang tak berubah. Heesun memandang sahabatnya itu lurus-lurus dengan tatapan tajam. “Jika kau benar-benar ingin memilikinya, segeralah berubah. Sainganmu bukan hanya satu atau dua orang, tapi puluhan bahkan ratusan.”

Hyerin tercenung mendengar perkataan Heesun, bola matanya bergerak gelisah karena tak nyaman dengan tatapan Heesun yang seolah menekannya. “Aku akan mencoba Sun-ah.”

Heesun menampakkan senyum pada Hyerin sebelum mereka berdua larut dalam “rencana-rencana” yang disusun Heesun untuk Hyerin.

Karena terlalu fokus dengan percakapan yang Hyerin lakoni, yeoja itu sampai tak menyadari bahwa tak jauh dari lapang tempat Baekhyun tadi berada, seorang namja tengah memandanginya lekat-lekat dengan senyum tipis yang tak pernah lepas dari wajah tampannya.

“Aku memang pintar karena bisa menemukanmu dengan mudah..” gumamnya percaya diri, “welcome to my world, agasshi..”

***

Eonni, mau kemana?” Hyunmi menutup majalah yang sedang dibacanya begitu melihat penampilan Ahna─eonninya─yang begitu rapi malam ini. Kening yeoja itu mengernyit saking penasarannya.

Ahna yang tengah bersiap-siap menunggu seseorang menoleh ke arah sofa untuk melihat adiknya. Semburat merah tipis terkembang sempurna di wajah yeoja yang lebih tua dua tahun dari Hyunmi itu begitu dia merasa tengah ketahuan.

Eonni sedang menunggu seseorang.” jawabnya simpel menutupi hatinya yang sekarang sedang ketar-ketir menanti balasan Hyunmi.

Hyunmi mendengus sebelum berjalan menghampiri eonninya. “Namja itu lagi, huh? Yang eonni bilang berasal dari dunia sihir di atas awan sana? Bangunlah eonni, jangan hidup dalam dunia mimpi terus-menerus.” seru Hyunmi tajam.

Perkataan Hyunmi membuat rahang Ahna mengeras, yeoja itu menatap adiknya dengan tatapan tak suka. “Aku tidak hidup di dunia mimpi, Mi-ya! Namja itu benar-benar ada, dia berjanji akan mengenalkanku sebagai calon istrinya begitu aku lulus kuliah.”

Eonni!” sentak Hyunmi muak, dia memegang kedua pundak Ahna hingga yeoja itu mengernyit merasakan cengkeraman Hyunmi yang terlalu kuat. “Sadarlah eonni, itu pasti hanya khayalan eonni.

Ahna menyentakkan tangan Hyunmi dari pundaknya sambil membalas tatapan tajam dongsaeng yang amat disayanginya itu dengan tak kalah tajam. “Dengar, eonni tidak pernah membual sekali pun. Namja itu benar-benar ada, dia tampan dan memang mempunyai ilmu sihir. Eonni akan mengenalkannya padamu mala mini agar kaupercaya pada eonni, Kang Hyunmi.” jelas Ahna dengan penekanan di setiap kata yang diucapkannya.

Hyunmi menghela napas panjang mendengar ucapan Ahna yang sarat emosi. Eonninya itu memang selalu bercerita tentang kekasih dari ‘dunia lainnya’ yang menguasai ilmu sihir dengan sempurna, tapi Hyunmi tak pernah percaya cerita kakaknya itu. Percaya? Yang benar saja, cerita Ahna terlalu di luar nalar!

Hyunmi mendekap tangannya di dada dan memasang wajah menantang pada eonninya itu. “Baik, buktikan padaku kalau semua ucapan eonni selama ini benar.”

Ahna memiringkan kepalanya, tersenyum dengan sikap mengejek. “Kau akan menyesal jika mengetahui kenyataannya, Mi-ya.”

Hyunmi mencibir bertepatan dengan bel yang berbunyi. Wajah Ahna langsung berubah sumringah. Seolah melupakan pertengkarannya dengan Hyunmi tadi, yeoja itu buru-buru menggandeng tangan Hyunmi dan mengajaknya membuka pintu bersama.

“Sebentar chagi..” seru Ahna riang sebelum membuka pintu, Hyunmi memutar bola mata melihat kelakuan eonninya itu.

Nuguseyo?” seru Ahna bingung melihat bahwa yang berdiri di depan pintu rumahnya bukan sang kekasih melainkan yeoja aneh dengan jubah berwarna hitam panjang yang membalut tubuhnya. Yeoja itu mendongakkan kepala, wajahnya sangat cantik, namun sayang tatapan penuh kebencian di mata biru shappirenya membuat yeoja itu tampak mengerikan. Hyunmi menengok dari pundak Ahna, mengernyit melihat yeoja itu.

“Kau, Kang Ahna?” tanya sang yeoja dengan suara parau, Ahna mengangguk ragu-ragu, senyuman yang tadi dikulumnya lenyap begitu saja melihat wajah mengerikan yeoja itu. “Hah, jadi yeoja seperti kau yang dipilih oleh pangeran?” ejeknya kemudian meremehkan.

Ahna membulatkan matanya mendengar ejekan yeoja itu, sedangkan Hyunmi hanya mengernyit tak mengerti dengan percakapan kedua yeoja di depannya ini. “Apa maksudmu?” desis Ahna tak suka.

“Aku mau kaumeninggalkan pangeran, kau tidak pantas sama sekali untuknya.” tegas yeoja itu sambil mengibaskan tangannya, angin kencang seketika masuk ke dalam rumah seiring dengan kibasan tangan yeoja itu. “Atau kau akan merasakan akibatnya.”

“Jika aku tidak mau?” balas Ahna tajam. Hyunmi memegang ujung kemeja yang dikenakan Ahna dengan kuat, ada aura yang begitu gelap dan jahat menguar dari yeoja misterius di hadapannya.

Yeoja itu mengangkat sebelah alisnya melihat sikap menantang Ahna. Dia mengibaskan tangannya hingga Hyunmi terpental ke belakang, Ahna tersentak.

“Apa yang kaulakukan, hah?” teriak Ahna emosi melihat Hyunmi meringis.

“Kau menolak tawaranku, jangan harap kau bisa lepas dariku!” desis yeoja itu sambil kembali mengibaskan tangannya membuat Ahna yang baru saja akan menghampiri Hyunmi terempas ke taman depan rumahnya. Ahna langsung meringis begitu tubuhnya membentur pohon, sementara yeoja itu perlahan mendekati Ahna dengan seringain mengerikan yang terukir di bibirnya. “Kau. Harus. Mati.” teriaknya kemudian sebelum sebuah sinar berwarna merah darah keluar dari tangan yeoja itu dan langsung menghantam tubuh Ahna.

Jeritan kesakitan melengking dari mulut Ahna sebelum darah segar keluar dari telinga, mata, dan mulutnya yang terbuka lebar. Ahna membelalakkan matanya menahan kesakitan yang menyerang tubuhnya bertubi-tubi, yeoja itu merenggang nyawa beberapa saat sebelum akhirnya tergolek tak berdaya dengan nyawa yang telah melayang.

Yeoja yang baru saja membunuh nyawa Ahna itu mendengungkan tawa panjang melihat tubuh terkapar Ahna yang sudah tanpa nyawa, berbeda dengan Hyunmi yang langsung menjerit histeris melihat tubuh eonninya. Cucuran air mata mengalir di pipinya, dia memangku tubuh Ahna yang penuh darah dengan tangisan yang pilu.

“Kau! Aku tidak akan memaafkanmu!” jerit Hyunmi. Matanya yang berwarna cokelat kini berubah menjadi merah darah, kesadaran yang dimiliki Hyunmi perlahan menipis. Hyunmi meninggalkan tubuh eonninya dan menghampiri yeoja misterius itu dengan mata berwarna merah yang berkilat-kilat penuh dendam. Yeoja misterius itu menghentikan tawanya melihat Hyunmi, dia mundur beberapa langkah merasakan aura kegelapan yang begitu pekat dari tubuh Hyunmi.

“AKH!” pekik yeoja misterius itu begitu sinar berwarna dark blue yang memancar dari tubuh Hyunmi melukai pergelangan tangannya.

Sinar lain berwarna hitam melesat dari tubuh Hyunmi menuju yeoja itu. Dalam hitungan detik, yeoja itu telah mengalami nasib yang lebih mengenaskan dari Ahna. Tubuhnya terpotong-potong menjadi bagian-bagian kecil dengan organ dalam yang berceceran.

Mata Hyunmi perlahan-lahan berubah menjadi cokelat kembali. Hyunmi menatap ke arah yeoja yang telah dibunuhnya dengan pandangan ngeri sebelum semuanya berubah menjadi gelap. Dia jatuh pingsan saat itu juga.

EONNI!”

Hyunmi terbangun dari mimpinya, yeoja itu membelalakkan mata lebar-lebar sambil mencoba mengatur napasnya yang terengah-engah. Mimpi itu datang kembali, mimpi dimana pembunuhan Ahna terjadi di depan matanya sendiri. Tak lama, Hyunmi telah menenggelamkan kepalanya di lipatan kaki dengan suara isakan yang mulai terdengar. Itu adalah hari-hari terkelam yang tak pernah ingin dikenangnya lagi.

“Ahna eonni, aku merindukanmu..” isaknya pilu. Kilatan kebencian terlintas di hati Hyunmi membuat yeoja itu membisikkan kata lirih yang sarat kemarahan, “aku akan menemukan namja yang membuatmu kehilangan nyawa eonni, dia juga akan kubunuh seperti yeoja sialan itu!”


TBC

2 komentar:

  1. Daebag! XD Saera adiknya Sungmin? XD asa asa errrr... XD

    BalasHapus
  2. umin adiknya saera ceu =,=
    Aku juga yang masukinnya asa gimanaaaaa gitu, ga rela sebenernya umin punya kakak evil kayak dia #plak!

    BalasHapus