Entri yang Diunggulkan

Series Recommendations! đŸŽ„

Hi, happy Wednesday all! So decided to post my own personal series. I usually dont like watching movie, so because i watched those series ...

Jumat, 28 September 2012

Brotherhood, Magic, and.. Love (Six)


SIX

P
ara menteri-menteri sihir Negeri Shappire Blue kini tengah mengadakan rapat dadakan. Ekspresi tegang tercetak jelas di wajah masing-masing, ruang rapat pun sejenak hening setelah perdebatan panjang yang terjadi di antara mereka.

Beberapa menteri yang tampak tak puas dengan pembicaraan terakhir mereka saling berbisik-bisik, membuahkan suara gaduh kecil di beberapa kerumunan.

Suara ketukan palu yang terdengar menggema sampai ke ujung ruangan berhasil menginterupsi semua kegaduhan. Ruangan itu kembali sunyi dalam sekejap.

Jungsoo yang baru saja mengetukkan palunya menghela napas frustasi. Masalah yang mereka bahas seolah tak ada solusinya karena masing-masing orang selalu kukuh mempertahankan pendapat.

“Tenanglah, masalah ini tidak akan bisa selesai kalau kita tidak mencapai kesepakatan.” ujar Jungsoo mengawali. Semua menteri diam, tak berani berkata-kata lagi setelah mendengar tiap penekanan yang terselip diucapan Jungsoo.

Kim Heechul─menteri Pendidikan sihir─mengacungkan tangan membuat semua mata menatap ke arahnya, termasuk Jungsoo.

“Kau punya solusi lain, Heechul?”

“Percepat waktu penyerangan, Yang Mulia. Aku rasa menunggu 4 jam lagi akan membuat lebih banyak Desa musnah.” saran Heechul dengan nada yang terdengar datar─bahkan cenderung dingin.

Ruangan rapat kembali gaduh karena saran yang diberikan Heechul.

Menteri Perekonomian, Kim Ryeowook, mengacungkan tangan setelah mendengar saran Heechul. “Yang Mulia, aku pikir akan sangat berisiko jika kita mempercepat waktu penyerangan. Lagipula kita juga butuh menunggu kesiapan Para Pangeran dan hisami mereka untuk memusnahkan iblis itu dengan sihir aspagus.”

“Lalu kaupikir kita harus menunggu para hisami itu sampai Negeri terlanjur musnah?” cecar Heechul kembali dengan nada sarkatis.

Berbagai komentar terdengar dari sana-sini begitu perkataan Heechul selesai.

DUAR! Sebuah cahaya ungu meledak di langit ruangan.

“DIAM!” teriak Jungsoo marah, api ungu yang berkobar di tangannya semakin menyala-nyala membuat ruangan rapat seakan membeku, ketakutan pelan-pelan terlintas di wajah mereka.

Melihat ketakutan dari menteri-menteri utamanya, Jungsoo mengembuskan napas sambil mencoba mengatur emosinya agar stabil. Api ungu yang menyala-nyala di tangannya pelan-pelan padam. Jungsoo menolehkan kepalanya ke samping, pada Siwon yang berdiri tegak di sebelahnya dengan wajah mengeras.

“Apa pendapatmu Siwon?”

Siwon mengepalkan tangannya sebelum menjawab, “Aku setuju dengan saran Heechul, Yang Mulia, kita harus mempercepat penyerangan dan memanggil para Pangeran kembali sebelum semakin banyak Desa yang musnah.”

Beberapa menteri terlihat menahan sorakan kemenangan─terutama Heechul─begitu mendengar pendapat Siwon, sedangkan sisanya hanya menahan napas mendengar kalimat yang meluncur mulus dari bibir Siwon.

Jungsoo memutar kepalanya kembali pada menteri-menteri, otaknya berputar keras memikirkan apa yang terbaik untuk Negerinya kini. Jungsoo tertegun beberapa saat sebelum mengembuskan napas panjang yang terlihat mengandung beban batin.

“Baik, siapkan pasukan sekarang. Setengah jam lagi kita akan mengepung Gua Disho tempat iblis itu bersembunyi.” titah Jungsoo tegas, semua menteri mengangguk patuh. “Dan Kibum, tolong panggilkan para Pangeran, mereka harus tiba dalam 15 menit.”

Setelah pengumuman terakhir Jungsoo, rapat berakhir. Menteri-menteri segera keluar ruangan untuk melaksanakan apa yang Jungsoo perintahkan tadi, sementara Kibum─dengan keringat dingin yang keluar dari pelipisnya─segera berlari mencari tempat sepi untuk menghubungi keempat Pangeran yang masih berada di dunia manusia. Kibum sebenarnya kurang setuju dengan keputusan Jungsoo, ini terlalu terburu-buru menurutnya.

Namun Kibum tak punya pilihan lain selain menuruti keputusan Rajanya.

***

Hyerin tertawa riang bersama Baekhyun sepanjang perjalanan menuju salah satu kafe yang ada di taman hiburan. Mereka baru saja memutuskan untuk beristirahat karena kelelahan menaiki beberapa wahana.

Senyum tak pernah pudar dari wajah Hyerin sepanjang dia berjalan bersama Baekhyun. Seperti yang semua orang kenal selama ini, Baekhyun memang orang yang sangat ramah dan mudah sekali bergaul. Namja itu bisa mencairkan kecanggungan yang terjadi di antara mereka dalam hitungan detik, ucapannya juga sangat santun dan manis, tak heran selama ini banyak sekali yeoja yang mengejar-ngejarnya─termasuk Hyerin walau tidak secara terang-terangan.

“Teman-temanmu memang unik Oppa.” komentar Hyerin begitu Baekhyun selesai bercerita mengenai teman-temannya, tawa renyah keluar begitu saja dari mulut Hyerin.

Baekhyun ikut terkekeh, “Bagaimana dengan teman-temanmu?” tanya namja itu penasaran di sela-sela perjalanan mereka.

Raut wajah Hyerin langsung berubah, “Sebenarnya Oppa, temanku hanya Heesun.” akunya dengan suara pelan.

Baekhyun sontak menghentikan langkah, memutar badan hingga menghadap Hyerin lantas memegang pundak yeoja itu dengan ekspresi tak percaya. “Kau serius?” Hyerin hanya menatap Baekhyun bingung, apa perkataannya sangat tidak bisa dipercaya?

“Tentu saja, kenapa Oppa tak percaya padaku?”

Baekhyun melepaskan tangannya dari pundak Hyerin, menggeleng. “Aniyo, aku hanya tidak percaya kalau yeoja menyenangkan sepertimu hanya punya satu teman.” ungkapnya sambil melanjutkan langkah kembali. Hyerin tersipu.

Keduanya duduk saling berhadapan di dalam kafe, obrolan ringan kembali terjadi diselingi tawa beberapa kali saat mereka tengah menunggu makanan siap.

Meski pun Hyerin terlihat ceria sepanjang hari ini, jauh di dalam hatinya yeoja itu tak bisa memungkiri bahwa ada rasa ganjil yang mendesaknya mengingat sesuatu. Sesuatu yang sangat penting yang telah ia lupakan. Namun sayangnya, seberapa keras pun usaha Hyerin untuk mengingat, yeoja itu tak pernah bisa menemukan hal apa yang telah dilupakannya.

Seberapa seringpun ia membuka laci memori di otaknya sepanjang hari ini, hal yang terlupakan itu tak pernah bisa ia ingat.

Arigato..” ucap Baekhyun pada pelayan kafe saat beberapa menit kemudian makanan yang mereka pesan datang. Baekhyun dan Hyerin mulai menyantap hidangan di depan mereka dengan tenang, mata Baekhyun sesekali melirik ke arah Hyerin, sedangkan Hyerin tampak terpekur.

Perasaan tentang melupakan sesuatu benar-benar mengganggu pikirannya. Yeoja itu tanpa sadar mengembuskan napas dengan berat.

Wae? Ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?”

Hyerin tersentak mendengar pertanyaan Baekhyun, yeoja itu mendongak, lantas cepat-cepat menggeleng untuk merespons pertanyaan Baekhyun. Segaris senyum dihadiahkannya untuk Baekhyun.

Baekhyun meminum cappuchino lattenya sebelum menyingkirkan beberapa piring yang masih terisi ke pinggir, ditatapnya Hyerin lurus-lurus. “Kau tidak senang bersamaku hari ini?”

Baekhyun Oppa tersinggung, cetus hati Hyerin langsung begitu mendengar pertanyaan Baekhyun kali ini. “Tentu saja aku senang Oppa.” sangkalnya, lantas menghela napas sekali, “aku hanya merasa melupakan sesuatu, makanya aku melamun tadi.” imbuhnya sambil menundukkan kepala.

Baekhyun terdiam beberapa saat sebelum tersenyum ke arah Hyerin. “Sudahlah Hyerin-ah, jangan terlalu dipikirkan, nanti kau juga akan ingat jika itu benar-benar penting.”

Hyerin tersenyum lalu mengangguk, “Arraseo..”

Baekhyun mengecek ponselnya saat merasakan benda itu bergetar, setelah itu dia menyimpan ponselnya kembali di saku dan mengamati Hyerin yang sedang makan. “Omong-omong Hyerin-ah, namja yang tadi bersamamu siapa?”

Deg!

Ingatan Hyerin langsung berputar cepat layaknya laju kereta api, matanya membulat. Hal yang terlupakan itu akhirnya dia ingat. Park Donghae, ditinggalnya sendirian tanpa pamit. Jantung Hyerin berpacu cepat, sesal merambati hatinya secepat angin bertiup.

Hyerin membatu beberapa saat sebelum akhirnya berdiri, membuahkan kerutan heran di kening Baekhyun. “Oppa, aku baru ingat kalau aku ada janji dengan Heesun. Aku duluan, ne, Oppa?” tanpa menunggu jawaban Baekhyun, Hyerin membungkukkan badannya lantas berlari keluar kafe.

Perasaannya terlalu kacau saat ini, Hyerin benar-benar merasa bodoh karena telah melupakan Donghae yang mengajaknya ke sini. Yang ingin Hyerin lakukan saat ini hanyalah menemukan Donghae secepatnya lantas meminta maaf, saking kacaunya pikiran Hyerin, dia bahkan lupa bahwa ia bisa bertelepati untuk menanyakan dimana Donghae sekarang.

Di sisi lain..

Donghae menendang kerikil-kerikil kecil di sekitar kakinya selama ia berjalan, desahan sesekali terdengar dari bibir namja itu. Berkali-kali ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa tidak ada rasa kecewa yang bersarang di hatinya akibat ditinggal Hyerin begitu saja.

Sudah berjam-jam dia hanya berjalan tak tentu arah memutari taman hiburan ini untuk menunggu Hyerin selesai dengan acara dadakannya bersama Baekhyun, sudah berbagai cara pula dilakukannya demi menghilangkan bosan, namun semuanya tetap tak mempan.

Donghae memasukkan tangannya ke saku celana sebelum akhirnya memutuskan untuk duduk di bangku yang tersedia di taman hiburan itu sebagai tempat beristirahat. Matanya mengedar ke sekitar begitu ia duduk, Donghae mendecak heran melihat begitu banyaknya pasangan yang tengah berkencan di sini. Benar-benar pemandangan yang menyebalkan..

Tak berselang lama, Donghae sudah termenung memikirkan bagaimana Hyerin meninggalkannya tadi. Hyerin adalah yeoja pertama yang berani meninggalkan Donghae sendirian saat mereka sedang jalan-jalan bersama, berbeda sekali dengan para yeoja yang selama ini dikencaninya.

Oppa!”

Suara itu..., Donghae memicingkan mata lurus-lurus ke arah datangnya suara. Secercah bahagia merasuk ke dalam hatinya melihat bayangan Hyerin yang tengah berlari-lari ke arahnya. Perasaan hangat itu kembali menjalari hatinya dengan cepat, tapi begitu akalnya mengingatkan, Donghae segera membuang jauh-jauh perasaan itu.

Wajahnya sangat datar saat Hyerin sudah berdiri di hadapannya dengan kedua tangan bertumpu pada lutut, mengatur napasnya yang tak beraturan.

Setelah merasa napasnya agak teratur, Hyerin mengangkat wajah guna melihat Donghae. Hatinya mencelos melihat ekspresi Donghae yang sangat biasa─berkebalikan dengan dirinya yang sangat panik dan menyesal.

Entah untuk alasan apa, Hyerin merasa sudut hatinya tergores.

Mianhae karena meninggalkanmu sendirian Oppa..” tutur Hyerin yang ditanggapi Donghae dengan senyum kering. “Mianhae kalau aku membuatmu marah.”

Gwaenchana, kau tidak perlu minta maaf padaku.” elak Donghae, Hyerin memberanikan diri untuk melihat wajah Donghae, dia langsung menyesali keputusannya melihat raut wajah Donghae yang terlihat dingin.

Rahang Donghae mengeras melihat pancaran mata Hyerin ke arahnya yang menyiratkan banyak emosi, “Aku justru ikut senang untukmu, tadi itu Baekhyun, kan? Kencan kalian menyenangkan?”

Hyerin tergugu, tak mampu menjawab pertanyaan Donghae yang terdengar sarkatis.

Senyum tipis tanpa makna terpasang di bibir Donghae, “Lagipula Hyerin-ah, aku tak berhak marah karena aku.. bukan siapa-siapamu.”

Plak... Hyerin merasakan hatinya tertampar keras mendengar ucapan terakhir Donghae, yeoja itu kembali tergugu, tak tahu harus merespons apa.

Ujung hatinya diam-diam, meretak.

***

Sungai Han mungkin bukan tempat yang luar biasa untuk dikunjungi banyak orang di siang hari, tapi saat menjelang malam, sungai Han akan menjadi sangat luar biasa. Pesona sungai Han sangat indah dan memikat. Jembatan di tengah-tengahnya yang berlatar kilauan lampu dari gedung-gedung pencakar langit mampu membuat setiap orang larut dalam kesunyian yang damai.

Indah dan tenang..

Kira-kira seperti itulah gambarannya, hampir sama dengan perasaan Taeyoung sekarang. Yeoja yang sedang duduk di salah satu bangku panjang pinggir sungai Han itu menghirup udara dengan lamat, senyum senantiasa bertengger di wajahnya yang manis.

Hari ini berlalu dengan sangat menyenangkan. Taeyoung dan Jongwoon menghabiskan waktu seharian penuh mengunjungi tempat-tempat wisata yang ada di Korea. Dan yang terpenting adalah, sikap Jongwoon hari ini sangat berbeda.

Namja yang biasanya hanya mampu membuat Taeyoung mengepalkan tangan menahan kesal itu hari ini mampu membuatnya merasa melayang karena perlakuan manisnya. Ekspresi yang Jongwoon miliki hari inipun tidak hanya datar, namja itu full ekspresi.

Tapi yang paling Taeyoung sukai tentu saja senyum manisnya.

Taeyoung menggenggam kedua tangannya lantas kembali tersenyum, matanya menatap lurus ke arah air sungai yang memantulkan cahaya lampu. Yeoja itu melirik kiri-kanan beberapa saat kemudian, lantas tiba-tiba saja terpekur melihat banyaknya pasangan kekasih yang tengah berkencan di sini.

Ingatan Taeyoung mundur ke belakang, pada hari-hari dimana Sungkyo masih menjadi kekasihnya. Mereka pernah berkencan beberapa kali ke sini, mengobrol panjang-lebar mengenai hari yang mereka lalui, lalu pulang saat hari sudah larut.

Tapi sekarang? Namja itu pergi, mencampakkannya untuk yeoja lain.

Emosi dan dendam di hati Taeyoung mendadak menyala-nyala. Namun perasaan itu berakhir saat tiba-tiba saja seseorang memegang pundaknya. Taeyoung menengok ke belakang, menemukan Jongwoon dengan senyum tipis, dan tanpa perlu diberitahu lagi, Taeyoung yakin kalau Jongwoonlah yang baru saja membuatnya tenang.

“Kau lama Oppa..” ujar Taeyoung setengah merajuk.

Jongwoon terkekeh sebelum duduk, “Mianhae Young, kau tahu? Aku harus mengantri untuk mendapatkan ini.” balasnya sambil menyodorkan secup kopi hangat ke hadapan Taeyoung.

Taeyoung menerima cup kopi itu dengan senang hati.

“Hati-hati, jangan sampai tanganmu terluka seperti tadi. Mau Oppa tiupkan agar tidak terlalu panas?” tawar Jongwoon khawatir saat Taeyoung mendekatkan kopi panas itu ke bibirnya.

Taeyoung cepat-cepat menggeleng dengan pipi bersemu merah, “Tidak usah Oppa, aku akan berhati-hati kali ini.”

Jongwoon terkekeh melihat tingkah Taeyoung, namja itu mengangguk singkat sebelum ikut memandang lurus-lurus ke arah sungai Han.

Mereka terdiam ditemani keheningan.

Dulu, Taeyoung biasanya sangat membenci keheningan. Namun sejak mengenal Jongwoon, dia mulai menyukai saat-saat diam seperti ini. Bersama Jongwoon, keheningan yang terjadi terasa.. damai.

Awal pertemuannya dengan Jongwoon memang sangat tidak menyenangkan. Pertemuan pertama mereka terkesan buruk, bahkan Taeyoung sama sekali tak menyukai Jongwoon di awal-awal,  dia bahkan sempat berpikir bahwa lebih baik menjadi hisami dari Donghae─yang saat itu terlihat paling ramah jika dibandingkan dengan yang lain─daripada menjadi hisami dari manusia berwajah datar seperti Jongwoon.

Namun seiring berjalannya waktu─meski pun mereka baru 3 hari kenal, Taeyoung mulai merasa nyaman berada di dekat Jongwoon.

Namja itu mungkin terkesan sangat angkuh dan tak peduli, namun dia diam-diam juga bisa bersikap baik dan perhatian. Jongwoon mungkin mempunyai aura aneh di sekelilingnya, namun saat Taeyoung berhasil masuk ke dalam dunianya pelan-pelan, aura aneh itu akan menghilang dengan sendirinya. Tergantikan aura lain, aura ketenangan.

Entah untuk alasan apa, Taeyoung tersenyum memikirkan awal pertemuannya sampai saat ini dengan Jongwoon.

“Ada tempat yang ingin kaukunjungi lagi, Young?” Jongwoon mengusir keheningan di antara mereka dengan melontarkan pertanyaan, ekor matanya yang sudah bosan menatap riak air beralih melirik Taeyoung diam-diam.

Wajah Taeyoung selalu lebih menarik jutaan kali dibanding pemandangan seindah apapun menurut Jongwoon. Jongwoon sendiri tahu bahwa yeoja-yeoja di Negerinya memang berkali-kali lipat lebih cantik dari Taeyoung, namun Taeyoung tetap saja berbeda.

Yeoja itu punya pesona sendiri yang dapat membuat semua orang tertarik kepadanya. Pesona yang tak dapat dijelaskan dengan kata-kata dan hanya akan terlihat saat sudah mengenal Taeyoung beberapa lama.

Sementara yang ditanya tertegun beberapa saat, tampak memikirkan jawaban yang sesuai untuk pertanyaan Jongwoon sebelum menggeleng pelan. “Aku rasa cukup Oppa, terimakasih untuk hari ini. Sangat menyenangkan.” jawabnya sambil menolehkan kepala pada Jongwoon.

Jongwoon menyunggingkan senyum manis lantas mengangguk. “Cheonmaneyo, Oppa juga sangat menikmati hari ini.”

Jongwoon tak sedikitpun berbohong dengan perkataannya tadi. Ini juga hari yang menyenangkan untuk Jongwoon. Dia tak pernah merasa sesenang ini saat berkencan dengan yeoja kecuali Taeyoung.

Sejurus kemudian, Jongwoon tiba-tiba saja tersentak dengan pemikirannya tadi. Berkencan? Apa ia memang menganggap jalan-jalan ini sebagai kencan? Apa ia benar-benar mulai jatuh pada Taeyoung? Apa Taeyoung benar-benar sudah mulai mengukir nama di hatinya? Apa mungkin waktu sesingkat ini dapat melelehkan hatinya?

Shit! Jongwoon langsung menampar pikirannya sendiri. Terlalu banyak pertanyaan diawali kata apa yang berlomba-lomba memengaruhi pikirannya.

Namja itu tanpa sadar menggeleng-gelengkan kepala, menolak gagasannya tadi. Tidak Jongwoon, kau tidak boleh. peringat Jongwoon kepada dirinya sendiri.

Taeyoung mengerutkan kening melihat Jongwoon, dia menyimpan cup kopinya di sebelah cup kopi Jongwoon sebelum meletakkan tangannya di dahi Jongwoon, sekadar mengecek kalau-kalau Jongwoon sedang demam sampai berperilaku aneh.

Gwaenchanayo?” tanyanya lembut.

Jongwoon menoleh, tersihir oleh sentuhan tiba-tiba Taeyoung.

“Hm, kau tidak demam Oppa. Jangan melamun lagi.” tegur Taeyoung sambil menurunkan tangannya dari dahi Jongwoon, namun secepat kilat Jongwoon tiba-tiba saja menahan tangannya.

Taeyoung menatap namja itu heran, tapi tatapan Jongwoon yang sarat makna berhasil membuatnya terdiam. Sibuk menerka-nerka isi pikiran Jongwoon lewat matanya.

Ani, aku memang demam Young,” tukas Jongwoon tiba-tiba, suaranya merendah sebelum mengatakan, “di sini..” sambil membawa tangan Taeyoung ke dadanya, tepat ke jantungnya yang tengah berpacu dengan kencang.

Taeyoung tahu Jongwoon tak sedang menyihirnya, namun dia benar-benar merasa tersihir oleh kata dan tatapan Jongwoon yang semakin melembut setiap saatnya. Saat Jongwoon menarik tubuhnya dan mendekatkan wajah mereka, Taeyoung tak bisa berkutik selain memejamkan mata. Yeoja itu tahu dia bisa saja menolak, namun hatinya tak ingin.

Jongwoon juga sadar betul bahwa apa yang akan dilakukannya saat ini adalah salah, dia seharusnya tak terjebak dalam perasaan abstrak yang tengah dirasakannya untuk Taeyoung. Namun untuk sekarang, Jongwoon tak bisa mengelak lagi dari perasaannya, jadi biarlah kali ini dia menunjukkan perasaannya. Untuk pertama dan terakhir kalinya.

Biarkan Jongwoon merasakan kebahagiaan kecil di hatinya yang sudah membeku selama bertahun-tahun sebelum ia mengakhiri semuanya dengan cepat.

Biarkan Jongwoon merasakan kehangatan di hatinya sebelum organ vital itu kembali membeku dengan sendirinya.

Taeyoung sendiri hanya dapat meletakkan tangannya di dada Jongwoon sementara namja itu terus bergerak untuk mengeliminasi jarak yang tersisa di antara mereka.

***

Saera memandangi restoran Italia di depan matanya dengan wajah tak percaya. Yeoja itu mengernyit sementara perutnya bernyanyi kelaparan.

Saera memang baru saja menyelesaikan acara jalan-jalannya bersama Kyuhyun. Seperti keinginan Saera, mereka pertama-tama pergi ke taman gantung; menikmati keindahan yang tersaji, mengunjungi Sungmin; Saera sempat tidak ingin pergi beberapa saat sebelum Hyoseo akhirnya datang dan menyuruh yeoja itu kembali mengikuti Kyuhyun, tempat terakhir yang mereka kunjungi adalah Disney Land di Hongkong; mereka bermain sepuasnya dengan tawa yang terus terdengar. Saat mereka selesai, siang sudah berganti menjadi malam.

Tuntutan perut yang minta diisi pun memaksa mereka mengakhiri acara jalan-jalan dan pergi ke restoran. Saera tadi memaksa Kyuhyun kembali ke Italia sebab yeoja itu merindukan makanan khas Italia.

Namun yang Saera tidak duga-duga adalah, Kyuhyun membawanya ke restoran Italia paling mewah dengan dekorasi romantis─yang dari luar saja sudah terlihat jelas. Orang-orang yang keluar-masuk restoran ini jelas berpasangan dan mereka pun terlihat sangat berkelas.

Yang namja memakai tuksedo, jas, atau kemeja, sedangkan yang yeoja jelas memakai gaun anggun yang terlihat mahal. Tidak seperti..

Saera mengamati penampilannya dari atas ke bawah. Rambut dikuncir kuda ke belakang, tantop putih dengan luaran kemeja kotak-kotak, jins biru ketat, juga sepatu sneakers. Mata Saera lantas melirik ke arah namja sebelahnya.

Kaus biru laut berlengan pendek dengan tulisan I AM, celana jins hitam yang terlihat belel, juga sneakers. Penampilan Kyuhyun jelas tak berbeda jauh dengannnya, mereka berdua seperti dua orang remaja yang salah tempat.

Waeyo?” tanya Kyuhyun melihat pandangan Saera ke arahnya, risi juga diamati penuh selidik oleh yeoja itu.

Saera menelan ludah, melempar pandangannya pada restoran kembali. “Kau yakin kita akan makan di sini Oppa?”

Bersyukurlah Kyuhyun mempunyai otak yang jenius sehingga dia tidak perlu bertanya mengapa Saera berkata seperti itu, “Tentu saja. Kau ingin makan masakan Italia, bukan?” Saera mengangguk, “kalau begitu ayo masuk.” lanjut Kyuhyun sambil menggenggam tangan Saera menuju ke dalam restoran.

Saera menatap Kyuhyun dan restoran itu bergantian dengan tatapan horor saat keduanya sudah berada di dekat pintu masuk restoran. “Oppa, kau serius kita akan masuk dengan penampilan seperti ini?”

“Astaga..” keluh Kyuhyun menghentikan langkahnya karena Saera ternyata masih mempermasalahkan penampilan mereka berdua. Kyuhyun membalikkan badannya dan menatap tepat ke mata Saera. “Memangnya kenapa kalau kita berpenampilan seperti ini?”

Saera menunduk, tak berani menantang mata Kyuhyun secara langsung. Bukan karena dia takut atau apa, Saera hanya cemas kalau akal sehatnya akan pelan-pelan menghilang jika menatap Kyuhyun terlalu lama. Mata Kyuhyun dapat memerangkap Saera dalam sebuah perasaan tak menentu.

Ani, aku hanya merasa ini sangat tidak sesuai.”

Kyuhyun menghela napas, setelah melirik kiri-kanan yang nampak sepi, tangan namja itu bergerak menuju dagu Saera lantas mengangkatnya hingga mata mereka bertemu. “Arraseo, aku akan merubah penampilan kita kalau itu yang kau mau.”

Kyuhyun menggunakan sihir mirakey, secercah sinar berwarna light blue mengelilingi tubuh mereka, dan dalam beberapa detik, kedua orang itu telah berganti pakaian. Kyuhyun memakai tuksedo hitam─yang menurut penglihatan Saera membuat namja itu jutaan kali lipat lebih tampan─sementara Saera memakai gaun selutut berwarna pink lembut yang tampak sangat indah.

Kyuhyun melepaskan tangannya dari dagu Saera, tersenyum tipis. “Selesai bukan? Nah, ayo masuk.” ajak namja itu kembali, dia mengeratkan genggaman tangannya pada Saera hingga tangan keduanya terlepas begitu mereka duduk di kursi.

Kedatangan mereka disambut oleh alunan nada dari piano yang dimainkan seorang pianis di atas panggung sana. Saera hampir tak bisa berkedip melihat sekeliling restoran, terpesona. Bibirnya melengkung membentuk senyum tipis saat melihat banyaknya pasangan yang tengah berdansa di lantai dansa sana dengan iringan nada piano, semuanya terlihat serasi dan bahagia.

Kyuhyun mengangguk pada setelah pelayan restoran itu menyebutkan pesanannya sekali lagi. Saat pelayan itu pergi dari hadapannya, pandangan Kyuhyun jatuh pada Saera. Tatapannya yang semula dingin langsung menghangat begitu melihat wajah bahagia Saera. Kyuhyun lantas mengikuti arah pandangan Saera, seringaian tiba-tiba saja terpasang otomatis di bibirnya begitu melihat Saera tengah mengamati pasangan dansa di sana juga permainan pianis di atas panggung.

Dia punya rencana.

“Kau menyukainya?” tanya Kyuhyun setelah makanan yang dipesannya datang.

Pertanyaan Kyuhyun sukses membuat Saera terperanjat, yeoja itu cepat-cepat menengok ke arah Kyuhyun. Mengangguk dengan antusias sebelum mulai memakan hidangan yang tersaji di atas meja.

Setelah beberapa saat mengamati cara makan Saera, Kyuhyun berdiri dari duduknya yang berhasil mendapat tatapan heran dari Saera.

“Tunggu di sini,” kata Kyuhyun tanpa menjelaskan apapun.

Saera mengikuti langkah Kyuhyun dengan ekor matanya. Yeoja itu membulatkan saat melihat Kyuhyun berjalan membelah kerumunan para pedansa lantas naik ke atas panggung. Namja itu duduk di kursi piano setelah berbicara beberapa saat dengan pianisnya.

Kyuhyun mendekatkan mulutnya pada mic kecil di samping piano, “Mohon perhatiannya,” tutur namja itu dalam bahasa Italia yang fasih. Orang-orang yang tengah berdansa maupun orang-orang yang sedang makan sambil berbincang sontak menghentikan kegiatan mereka dan menatap ke arah Kyuhyun. Kyuhyun tersenyum begitu melihat semua perhatian kini terpusat padanya, mata namja itu pelan-pelan mencari mata Saera di antara kerumunan lantas memagut mata yeoja itu begitu dia menemukannya. “Lagu ini dipersembahkan untuk seorang yeoja cantik yang hari ini bersedia menemaniku, selamat menikmati..”

Setelah mengatakan hal itu, nada piano mulai terdengar disusul suara merdu Kyuhyun. Seluruh pengunjung langsung terdiam, terhipnotis oleh permainan Kyuhyun. Mata Kyuhyun tak pernah meninggalkan mata Saera sedetik pun, tatapannya sangat lembut dan meluluhkan.

Saera menahan napas, tersedot oleh pesona Kyuhyun. Saat lagu selesai dimainkan dan Kyuhyun berdiri dari duduknya, tepuk tangan membahana di ruangan itu. Kyuhyun membungkuk sekali seraya mengucapkan terimakasih lalu kembali berjalan ke arah Saera. Namja itu tersenyum tipis melihat tatapan kagum Saera sebelum duduk di tempatnya semula.

“Siapa yeoja yang kaumaksud, Oppa?” tanya Saera setelah terjaga dari kekagumannya. Alunan nada piano yang lembut kembali terdengar, pianis itu mulai menjalankan tugasnya lagi dan orang-orang melanjutkan dansa mereka kembali.

Kyuhyun berdecak, meraih tangan Saera dengan senyum yang semakin melebar. “Memangnya ada berapa yeoja yang kuajak jalan-jalan hari ini?”

Saera tak dapat mencegah rona merah yang langsung menjalari pipinya dengan cepat, yeoja itu menolehkan kepalanya ke arah lain, merapal doa dalam hati agar jantungnya baik-baik saja.

Kyuhyun bukan tipe orang yang suka mengumbar senyum, tapi melihat tingkah Saera yang sangat menggemaskan hari ini membuat dia mau tak mau banyak mengumbar senyum.

Kyuhyun melepaskan tangan Saera sebelum berdiri dari duduknya. Namja itu berjalan memutari meja dan mengulurkan tangannya ke arah Saera.

Saera menatap tangan Kyuhyun bingung, “Mau berdansa denganku?”

Saera menggigit bibir, menahan senyum lebar yang pasti akan terpasang di wajahnya mendengar ajakan Kyuhyun. Ragu-ragu, yeoja itu menyambut tangan Kyuhyun lantas mengikuti langkah Kyuhyun ke arah lantai dansa.

Kyuhyun membimbing tangan Saera untuk bertengger di pundaknya sementara tangannya berada di pinggang Saera. Mereka berdansa mengikuti alunan nada yang terdengar dengan khidmat. Mata keduanya saling bertatapan dengan lembut sebelum Kyuhyun akhirnya menarik Saera ke dalam pelukannya.

Saera tersentak, namun tak berapa lama dia menyandarkan kepalanya di dada Kyuhyun sambil terus berdansa. Mereka berdansa sambil berpelukan sepanjang sisa waktu.

***

BUG!

“Aw..”

Hyukjae menghentikan seluncuran kakinya di atas es yang telah membeku begitu mendengar suara jatuh disusul pekikan Hyunmi, wajahnya langsung berubah panik. Namja itu secepat mungkin memutar tubuhnya kembali ke arah Hyunmi, terkejut setengah mati mendapati Hyunmi tangah meringis kesakitan sambil memegang pergelangan kakinya.

Semua orang yang ada di area Ice Skating itu sempat menatap ke arah Hyunmi, beberapa terlihat ingin membantu namun langsung kembali sibuk dengan acara mereka sendiri begitu Hyukjae sudah berjongkok di depan Hyunmi.

“Sudah kubilang untuk berhati-hati bukan, Mi-ya?” tanya Hyukjae cemas saat menyampirkan lengan Hyunmi ke pundaknya dan membantu yeoja itu berjalan ke luar area Ice Skating.

Hyunmi menggigit bibir merasakan pergelangan kakinya perih, dia mengeratkan rangkulan tangannnya di pundak Hyukjae. “Mianhae Oppa, aku ceroboh tadi.”

Hyukjae menolehkan kepalanya ke arah Hyunmi, cemas merambati hatinya begitu ia mendapati Hyunmi meringis menahan sakit beberapa kali. Namja itu menghentikan langkahnya tiba-tiba, dia lantas meraih Hyunmi ke dalam gendongan tangannya dalam sekali gerakan. Saat merasakan posisi Hyunmi sudah nyaman di dalam gendongannya, namja itu kembali melangkah.

Sementara di lain sisi, Hyunmi tersentak dengan gerakan tiba-tiba Hyukjae, yeoja itu refleks mendongak, darahnya berdesir dengan cepat begitu menemukan wajah Hyukjae lebih tinggi beberapa senti dari wajahnya. Wajah Hyunmi memanas, dia tak pernah berpose sedekat ini dengan namja manapun.

Hyunmi memang tidak seperti Ahna yang berpengalaman dalam menjalin kasih. Meskipun dia mempunyai beberapa teman namja yang bisa dibilang dekat, tak ada yang pernah berada sedekat ini dengan Hyunmi.

Rasa sakit yang menyerang Hyunmi akibat kakinya yang terluka membuat dia sadar dari keterkejutannya. Yeoja itu mengerang keras dan spontan melingkarkan tangannya di leher Hyukjae erat berharap dapat mengurangi rasa sakitnya dengan cara seperti itu. Mata Hyunmi mulai berair merasakan kakinya berdenyut-denyut perih.

“Sstt, gwaenchana, kau akan baik-baik saja.” bisik Hyukjae berusaha menenangkan, tidak tega melihat raut kesakitan yang tergambar jelas di wajah Hyunmi.

Dalam hati, Hyukjae mengutuki kebodohannya yang telah menyebabkan Hyunmi terjatuh. Seharusnya tadi dia tak membiarkan Hyunmi berseluncur di belakangnya sendirian, Hyukjae seharusnya ada di samping Hyunmi untuk menghindari terjadinya hal-hal seperti ini, namja itu seharusnya lebih berhati-hati dalam menjaga Hyunmi agar kejadian seperti ini tidak terjadi dan Hyunmi tidak perlu terluka.

Hyukjae mendesah, dia tahu jika pernyataan yang diawali kata ‘seharusnya’ itu akan semakin bertambah banyak menyesaki kepala Hyukjae kalau dia tak menghentikannya sekarang. Penyesalan memang selalu datang di akhir dan sama sekali tak berguna.

Hyukjae mengeratkan gendongannya di tubuh Hyunmi sambil mempercepat langkah, yang diinginkannya saat ini hanya cepat-cepat sampai di bangku panjang yang ada di pinggir lantas mengobati kaki Hyunmi.

Setelah sampai di pinggir area Ice Skating yang terbuka, Hyukjae mendudukkan tubuh Hyunmi di atas bangku panjang, dia berjongkok di hadapan Hyunmi lalu membuka sepatu Ice Skating Hyunmi dengan hati-hati seolah jika dia ceroboh sedikit saja, Hyunmi akan merasakan sakit yang luar biasa.

“Sshh..” Hyunmi mendesis merasakan perih yang kembali menyengatnya saat Hyukjae membuka sepatu Ice Skatingnya. Yeoja itu memejamkan mata, berusaha menenangkan diri sekaligus mengusir perih yang masih bersemayam di kakinya.

Hyukjae semakin hati-hati saat membuka sepatu yang dikenakan Hyunmi. Ketika sepatu itu sudah terlepas, mata namja itu terbelalak mendapati darah di pergelangan kaki Hyunmi.

Kepala Hyukjae spontan terdongak ke atas untuk menatap wajah Hyunmi, “Perih?” tanyanya dengan nada khawatir yang begitu kentara.

Hyunmi pelan-pelan membuka mata mendengar suara Hyukjae. Saat matanya bertubrukan dengan mata milik Hyukjae, sesuatu di dalam diri Hyunmi bergetar.

Melihat tatapan Hyukjae padanya yang menyiratkan berjuta-juta rasa khawatir mau tak mau membuat Hyunmi terenyuh, hatinya tersentuh. Sekian lama hidup di dunia, hanya ada dua orang yang pernah menatapnya dengan cemas seperti itu. Pertama Ahna, dan kedua Hyukjae.

Gwaenchana Oppa, aku hanya butuh istirahat.” sahut Hyunmi berusaha menenangkan Hyukjae sembari memberikan seulas senyum untuk namja itu.

Hyukjae tahu Hyunmi berbohong, namun namja itu memutuskan untuk tak berkomentar apapun. Hyukjae menundukkan kepalanya kembali, mengamati pergelangan kaki Hyunmi yang lecet dan mengeluarkan darah sambil membayangkan seberapa besar rasa sakit yang tengah dirasakan Hyunmi.

Dalam diam, Hyukjae kali ini mengutuk kenyataan tentang tidak adanya sihir yang mampu mengobati luka kecil seperti ini.

“Tunggu di sini, aku akan membeli obat merah dan perban.” titah Hyukjae sambil berdiri dari posisi jongkoknya. Setelah mendapatkan anggukan dari Hyunmi, namja itu mengganti sepatu Ice Skating dengan sepatu biasa terlebih dahulu lantas beranjak meninggalkan area Ice Skating.

Mata Hyunmi mengikuti tubuh Hyukjae yang perlahan menghilang dengan tatapan kalut. Sejak pertama kali Hyukjae meminta bantuannya dengan imbalan yang menggiurkan, yeoja itu sudah bertekad dalam hati untuk tak terlibat perasaan apapun dengan namja itu. Namun perhatian yang Hyukjae berikan padanya pelan-pelan mengikis tekad yang sudah terbentuk sejak awal. Hyunmi benar-benar kalut, pikirannya menyuruh ia untuk mengusir rasa yang masih sebesar biji jagung itu, namun hatinya menyuruh ia membiarkannya tumbuh subur.

“Ah, mianhae, aku lupa sesuatu..” suara Hyukjae berhasil membuat Hyunmi tersentak kaget. Yeoja itu buru-buru mendongak dan menemukan Hyukjae telah kembali ke hadapannya dengan wajah menyesal. “Pakai ini, cuaca sangat dingin Mi-ya. Jangan sampai kau sakit.” kata Hyukjae beberapa saat kemudian, dia memakaikan jaketnya ke badan Hyunmi sambil melempar senyum lembut untuk yeoja itu.

Hyukjae langsung memeluk dirinya sendiri begitu angin malam yang terasa sangat menusuk kulit berembus, kakinya terayun meninggalkan Hyunmi yang mematung tak percaya sebab Hyukjae kembali hanya untuk memberikan jaketnya. Membiarkan dirinya sendiri ditusuk-tusuk oleh hawa dingin.

Sejak malam dimana dia dan ketiga saudaranya yang lain memutuskan untuk mengubah strategi dan berupaya bersikap manis pada para Hisami, Hyukjae tahu dia sangat wajar untuk berpura-pura cemas pada setiap hal yang menimpa Hyunmi.

Namun kecemasan yang ditunjukkannya tadi bukan pura-pura. Itu benar-benar murni sebab entah untuk alasan apa, Hyukjae tak ingin melihat Hyunmi terluka sedikitpun. Hyukjae tahu perasaan yang dimilikinya saat ini masih belum jelas, namun dia tetap saja takut jika suatu saat dia terjatuh kepada Hyunmi dan mengulangi kesalahan untuk yang kedua kalinya.

Saat angin malam kembali berembus dan tubuh Hyukjae benar-benar sudah tak terlihat, Hyunmi mengerjap, yeoja itu lantas mengeratkan jaket yang Hyukjae pakaikan kepadanya. Pikiran Hyunmi mendadak penuh seketika, perlakuan Hyukjae sejak tadi pagi benar-benar membuatnya kacau.

Aroma Hyukjae tertinggal di jaketnya. Seulas senyum terkembang di bibir Hyunmi dengan sendirinya, dia menghirup aroma tubuh Hyukjae dalam-dalam sebelum keningnya berkerut saat menemukan selembar kertas keras─yang Hyunmi duga sebagai foto─di dalam saku jaket Hyukjae.

Hyunmi mengeluarkan foto itu dengan perlahan dari saku jaket Hyukjae, matanya terbuka lebar melihat potret siapa yang ada di dalam foto itu. Air mata pelan-pelan mengalir dengan sendirinya, Hyunmi langsung menutup mulut dengan sebelah tangan untuk menahan isakan yang akan keluar.

“Mi-ya, mianhae Oppa lama, Oppa─” Hyukjae langsung menghentikan ucapannya saat melihat Hyunmi tengah menangis sambil menatap matanya tajam, giginya langsung bergemeretak begitu melihat selembar foto yang ada di tangan Hyunmi.

Hyunmi mengacungkan foto itu ke wajah Hyukjae, menatap Hyukjae dengan tatapan marah, “Kenapa kau tidak pernah bercerita kalau kau adalah namja yang dimaksud Eonniku?”

Hyukjae tergugu, tak mampu menjawab.


TBC...

Mian baru post, karena telat aku post dua part sekaligus.. Komentar ditunggu^^
Semoga chapter ini memuaskan.
PS: aku gatau mau post kapan lagi :P

1 komentar: