Entri yang Diunggulkan

Series Recommendations! đŸŽ„

Hi, happy Wednesday all! So decided to post my own personal series. I usually dont like watching movie, so because i watched those series ...

Senin, 27 Februari 2012

Destiny

Ini prolog cerbung aku, mungkin ceritanya picisan, ababil, apa banget, dsb. Tapi mudah-mudahan suka deh, because it's my first ff.
Komentar dan saran sangat di tunggu :) *pede banget ada yang baca #plak

Destiny
There’s about our feeling and God’s plan

Prolog


            Luire, nama yang tidak asing sama sekali di telinga anak-anak SMA Diarana, mereka malah sangat mengenal siapa yang di sebut Luire Ya, sangat. Luire adalah nama geng─exactly mereka tidak membentuk geng sama sekali, hanya saja karena mereka berempat bersahabat sangat dekat dan kemana-mana hampir selalu bersama, anak-anak satu sekolah menjuluki Luire─yang artinya bersinar dalam bahasa Perancis─dan mereka tampak tak keberatan sehingga nama itu melekat sampai sekarang─paling terkenal di SMA Diarana. Jika kalian pikir bahwa Luire adalah geng berandalan yang hobi berkelahi, maka kalian salah.

Luire bukanlah geng anak-anak berandalan yang terkenal karena sering dipanggil ke ruang BP akan tetapi mereka adalah geng anak-anak lelaki yang terkenal karena prestasi dan latar belakang keluarga mereka, mereka sangat bersinar di SMA Diarana. Wajah yang tampan juga merupakan salah satu faktor yang menyebabkan mereka sangat terkenal di sekolah. Inilah personil Luire yang sangat digilai anak-anak cewek satu sekolah:

Yang pertama adalah Revano Halilintar Diarana, ketua OSIS SMA Diarana yang merupakan anak pemilik SMA Diarana sendiri─selain perusahaan tekstil keluarganya yang sudah tersebar hingga luar Negeri. Sedikit cuek, agak menyebalkan, tapi sangat baik jika akrab, dan pintar. Revan─panggilan akrabnya─merupakan juara umum di sekolahnya, banyak sekali prestasi akademik yang sudah ia raih selama di SMA Diarana, kemampuannya di bidang non akademik pun tak kalah baik, membuatnya menjadi “most wanted boy” nomer 1 di SMA Diarana, SMAnya sendiri.

Yang kedua adalah Vino Sebastian Putra Wiguna, kapten tim basket yang merupakan sepupu Revan sendiri. Banyak sekali kejuaraan basket yang telah Vino dan anak-anak basket lainnya menangkan untuk sekolah mereka. Anak yang sangat lembut dan berpendirian kuat.

Yang ketiga adalah Raka Pratama Rusmana, dia merupakan anak dari kolega bisnis Ayah Revan. Salah satu anak emas juga di sekolah, dia adalah ketua kelas musik (suatu kelas khusus sepulang sekolah bagi anak-anak yang berbakat di bidang musik). Berbagai perlombaan musik─baik itu bernyanyi atau pun bermain alat musik─telah ia menangkan untuk sekolah. Tipikal anak yang ceria, ramah pada siapa pun, dan tidak sombong dengan bakatnya.

Dan yang terakhir adalah Alvin F. Jonathan, kapten tim sepak bola yang merupakan anak dari kolega bisnis Ayah Revan juga. Berkat Alvin, tim sepak bola yang semula tak di perhitungkan anak-anak kini menjadi salah satu eskul favorite. Alvin telah membangkitkan tim sepak bola dan menyumbangkan berbagai piala dari lomba yang dia dan timnya ikuti. Alvin orang yang cuek, cool, tapi sangat asyik bila berada di dekat teman-temannya.

            Ya, keempat cowok itulah yang dijuluki Luire. Cowok-cowok keren yang menyita banyak perhatian di SMA Diarana. Hampir semua cewek di sekolah itu tertarik dengan mereka, akan tetapi belum ada satu pun dari keempat cowok itu yang memiliki kekasih. Alasan mereka sangat simpel jika ditanya mengapa, just because no one girl that made them fall in love.

Tapi itu sama sekali tak berlaku untuk Nova. Cewek yang merupakan salah satu “most wanted girl”-nya SMA Diarana itu sama sekali tak tertarik pada salah satu pun dari anak-anak Luire. Bahkan cewek yang menjabat sebagai ketua eskul KIR dan juga juara umum kedua─dibawah Revan─itu  tak pernah habis pikir apa yang menyebabkan semua cewek di sekolahnya menggilai Luire bahkan sampai memuja mereka secara berlebihan.

Bisa dibilang, Nova tak terlalu menyukai Luire. Bagi Nova  Luire hanya sekumpulan cowok tajir dengan modal tampang yang oke. Tapi dia memberikan pengecualian untuk Raka, karena menurutnya Raka berbeda dengan anggota Luire lainnya. Dan yang paling Nova benci dari Luire adalah Revan! Cowok songong sok cool yang menyebabkan ia harus selalu mendengarkan celotehan Fira─adiknya yang satu tingkatan dibawahnya─tentangnya karena Fira yang sangat tergila-gila pada cowok itu. Selain karena Revan menyebabkan Fira tergila-gila, Nova juga tak menyukai Revan karena cowok itu selalu menghalanginya menjadi juara umum, bahkan di setiap lomba pun ia harus selalu bersaing dengan cowok itu.

Tapi, siapa sangka Nova malah akan terlibat dengan cowok yang paling dibencinya itu suatu saat nanti?
Jadi, apakah Nova akan mengubah pemikirannya sekali lagi setelah kenal dekat dengan cowok-cowok itu? Dan apakah yang akan terjadi pada cewek itu dan cowok yang paling dibencinya? Just a destiny can answer that.

Jumat, 24 Februari 2012

Detik Terakhirku

Persahabatan. Satu kata, berjuta makna. Kata yang sering di definisikan ketika dua orang manusia (atau lebih) saling menyayangi layaknya saudara. Saling mengasihi, dan peduli satu sama lainnya. Kata yang membuat seseorang merasa ada, merasa di butuhkan. Kata yang mampu membuat seseorang bisa teralih sejenak dari masalahnya. Kata yang membuat seseorang bisa berbagi suka dan duka, mengeluarkan keluh kesahnya dan berbagi kebahagiaan. Juga kata yang begitu indah di dengar bagi mereka yang merasakannya.
Itulah persahabatan. Kata yang sampai saat ini pun tidak bisa aku rasakan. Aku mungkin bisa menerangkan arti persahabatan dengan jelas, tapi jika ditanya apakah aku merasakannya jawabannya adalah tidak. Selama hampir 15 tahun aku hidup, tak pernah sedetik pun aku merasakan apa yang namanya persahabatan. Bukan, bukan karena aku tak punya sahabat atau teman. Aku memilikinya. Aku memiliki sahabat, juga banyak teman. Aku hanya tak pernah merasakan nikmatnya persahabatan. Mereka hanya berstatus sebagai sebagai sahabat tanpa pernah menyentuh hatiku dengan goresan-goresan indah persahabatan. Aku seperti semu di mata mereka, ada tapi cenderung seperti halusinasi semata. Mereka memang peduli padaku, tapi bukan atas dasar persahabatan melainkan kasihan. Sejak kecil hidupku memang penuh kasihani.
Menyedihkan memang. Tapi itulah kenyataan. Mereka mau bersahabat denganku hanya karena kasihan, juga atas dasar kemanusiaanmungkin. Mereka tak pernah menganggapku sahabat sebagaimana apa adanya aku. Mereka selalu menganggapku sahabat karena ada apanya denganku. Kasihan bagiku juga bukan berarti kasihan karena hidupku yang kurang beruntung dan tak memiliki kehidupan yang layak. Tidak, aku tidak pernah kesusahan secara material, bahkan aku bisa di bilang berlebih. Ayahku adalah seorang pengusaha yang cukup sukses di Indonesia, ibuku juga seorang desainer ternama. Kasihan bagiku adalah saat dimana orang-orang menatapku dengan tatapan prihatin yang begitu dalam. Saat dimana mereka berbisik-bisik tentang penyakitku yang sangat menyedihkan. Saat dimana mereka berbondong-bondong menghampiriku karena merasa nasibku begitu malang. Ya, itulah arti kasihan bagiku. Karena penyakitku, kanker limfositik yang sudah aku derita sejak kecil. Yang telah menyebabkanku mendapatkan sahabat yang tidak benar-benar tulus mau berteman denganku karena menyayangiku. Seperti yang sudah aku katakan, aku memang memiliki banyak sahabat dan teman. Tapi mereka mau bersahabat denganku karena kasihan akan penyakit yang kuderita, kasihan pada gadis sepertiku yang tinggal menghitung bulan (bahkan hari) menuju kematian.
Kanker limfositik yang kuderita memang sudah akut. Aku mengidap penyakit ini sejak kecil. Orangtuaku bukannya tidak peduli pada penyakit yang kuderita ini. Mereka sangat peduli. Sudah berpuluh-puluh kali aku melakukan pengobatan tapi nyatanya penyakit itu selalu datang lagi hingga akhirnya aku memutuskan untuk menyerah. Aku sudah lelah mencoba berbagai pengobatan, dan kini aku ingin menikmati saat-saat terakhir hidupku dengan merasakan bagaimana rasanya persahabatan yang begitu tulus tanpa memandangku karena kasihan.
Hah. Aku mendesah mengingat persahabatan macam apa yang sedang kujalani. Dan karena desahan itu pula lah lima pasang mata di pinggir lapangan basket sekolah langsung beralih menatapku. Tatapan mereka seperti biasanya, sarat keprihatinan.
“Lo gak kenapa-napa kan Cy? Penyakit lo gak kambuhkan?” tanya Nadinsalah seorang dari lima pasang mata itu, terselip nada lirih yang penuh keibaan dalam pertanyaannya. Nada yang paling aku benci. Selalu penuh keibaan, bukan ke khawatiran!
Lama hanya memandangi mereka akhirnya aku mengangguk juga. Anggukan pilu yang selalu ku sertai dengan senyuman kepedihan. Kulihat, mereka ikut tersenyum. Ah, kapan sih mereka akan berhenti mengasihaniku seperti ini?
“Huh. Bagus deh. Gue kasihan kalau sampai penyakit lo kambuh lagi,” Sisi membuat hatiku mencelos mendengar pernyataannya. Lihatkan, mereka hanya mengasihaniku! Dan lagi-lagi, bukannya mengutarakan isi hatiku aku malah kembali tersenyum pedih.
“Eh, Cy. Kita main basket dulu ya. Lo tunggu aja disini, nanti kecapekan lagi,” pamit Deana. Mengomando yang lain untuk mengikuti langkahnya menuju lapangan basket.
Aku hanya bisa mengangguk pasrah walau pun hatiku sangat ingin ikut dalam permainan basket itu. Aku menyukai basket, tapi aku tak pernah punya kesempatan untuk bermain basket. Saat ini, kelasku memang sedang pelajaran olahraga. Dan aku hanya bisa duduk manis menonton teman-temanku yang sedang berolahraga. Ya, beginilah keseharianku di sekolah. Karena penyakitku ini aku terbebas dari pelajaran olahraga. Guru olahragaku selalu melarang saat aku ingin bergabung dengan yang lainnya. Alasannya apalagi kalau bukan kasihan melihatku kesulitan bernafas sehabis berolahraga.
Aku tersenyum getir, mengamati teman-temanku yang nampak begitu senang dalam permainan basket mereka. Kenapa aku selalu di bedakan sih? Mengapa aku tak bisa hidup normal saja? Mengapa mereka juga tak bisa menganggapku normal saja? Aku memejamkan mata sejenak, mencoba menahan gejolak kepedihan di dalam hatiku yang terus meraung-raung.
“Hei, lo gak papa?” suara selembut beludru itu menyapa pendengaraanku. Dengan segera ku buka mataku dan menoleh cepat ke arahnya.
Seorang gadis duduk di sampingku, memandangku dengan tatapan…khawatir? Aku terenyak, itu adalah ekspresi yang selama ini ku inginkan. Ekspresi sarat perhatian bukan keibaan. Siapa gadis ini? Dia memandangku begitu karena belum tahu tentang penyakitku atau apa? Diam-diam aku mengulum bibirku, tersenyum menenangkan. Gadis itu balas tersenyum, lantas duduk di sampingku dan ikut memperhatikan anak-anak yang sedang bermain basket. Kalau di lihat-lihat gadis ini memang cantik, apalagi ada segaris senyum yang selalu mengembang di bibirnya yang manis.
Kami terdiam, mata kami sama-sama mengamati anak-anak yang berlarian kesana kemari untuk merebut bola. Jujur, aku iri melihat mereka bisa berlarian kesana kemari sesuka mereka. Hal yang tak pernah bisa aku lakukan.
“Eh, lo ngapain jam pelajaran disini?” ah, akhirnya gadis itu bersuara lagi.
“Ini kelasku, sekarang emang jam olahraga. Kamu sendiri ngapain disini?” jawabku, menoleh sekilas padanya lalu kembali menatap lapangan.
“Oh. Itu, kelas gue gak ada gurunya,” jawabnya. Aku hanya tersenyum kecil. “Lah, terus kenapa lo sendiri gak ikut olahraga?”
Aku menggeleng, tak berani menatapnya. “Aku emang gak pernah di bolehin ikut pelajaran olahraga,”
Tanpa menoleh pun bisa kupastikan bahwa wajahnya yang cantik pasti telah di penuhi oleh guratan-guratan kebingungan. “Lo sakit? Kok kesannya dari dulu lo gak pernah ikut olahraga?”
Tanpa sadar, aku menghela nafas panjang berulang kali. Mencoba tegar memberitahu penyakitku, sekaligus berharap bahwa sikapnya tak akan berubah menjadi kasihan saat tahu penyakitku nanti. Aku tidak ingin orang-orang yang kasihan padaku bertambah banyak. Cukup segini, jangan bertambah lagi.
“Aku kena kanker limfositik sejak umur 7 tahun, itu sebabnya aku dilarang olahraga,” kataku pelan, kembali menghela nafas.
Gadis itu menoleh padaku, menatapku dengan tatapan tak terbaca. Sial, apa dia juga akan mengucapkan kata-kata yang sering kudengar yang di awali kata kasian?. Aku meringis, tapi dugaanku menguap seketika saat bibirnya mengulum senyuman yang semakin lebar.
“Oh, sabar ya,” ujarnya dengan nada lembut yang menghanyutkan. “Lo gak pernah berobat emangnya?” tanyanya kemudian, terselip nada penuh hati-hati dalam pertanyaannya ini.
“Aku udah berpuluh-puluh kali berobat, tapi itu gak ngaruh. Buktinya kanker itu selalu tumbuh lagi. Jadi aku mutusin untuk berhenti berobat, aku nyerah.”
Sesaat, aku dapat melihatnya mendelik tajam tapi buru-buru dia membuang wajah. “Ckck, seharusnya lo gak boleh nyerah gitu. Hidup itu di tangan Tuhan.”
“Aku tau,” sambarku cepat, “tapi aku udah bener-bener gak mau berobat lagi, percuma. Lagi pula itu gak bakalan ngubah apa pun, aku tetep gak bakal di ijinin maen basket.”
“Pikiran lo sempit banget, padahal kalau lo suka kenapa gak lo lakuin aja? Selama lo ngerasa baik ya lakuin aja hobi lo itu, toh yang tahu keadaan lo kan lo sendiri,”
Aku terenyak, merasa bahwa mungkin saja arti sahabat yang sebenarnya dapat aku temukan melalui gadis cantik ini.
“Kamu gak bakal kasian sama aku gara-gara ini kan? Aku gak mau di kasihani,” tanyaku, entah mengapa lebih terdengar memohon.
Gadis itu mengangguk, menepuk bahuku dua kali. “Oh, ya. Gue lupa ngenalin diri, hehe,” cengirnya lucu, “nama gue Salsa, lo?”
Aku buru-buru menjabat tangan gadis yang mengaku bernama Salsa itu, lantas menarik ujung-ujung bibirku ke atas membentuk senyum sumringah. “Aku Alicya, cukup panggil aku Licy aja,”
***

Sejak aku mengenal Salsa aku mulai merasakan perasaan yang selama ini aku inginkan. Gadis itu berbeda dengan semua teman-temanku yang selalu melarangku melakukan ini itu. Salsa justru mendukung setiap kegiatan positif yang kulakukan. Bukannya dia tidak peduli pada kesehatanku, justru dia sangat peduli. Salsa selalu menjagaku di setiap kegiatan yang selama ini tidak pernah aku lakukan, seperti saat aku ingin bermain basket. Salsa selalu menemaniku bermain jugaaku tahudia diam-diam memerhatikanku agar tidak terlalu kelelahan. Yah, dia menjagaku. Salsa selalu ada di sampingku, menemaniku, dan kami selalu bertukar banyak cerita mengenai berbagai hal.
Ada sesuatu yang berbeda dari Salsa, pikiran dan pendapatnya tentang kehidupan sangat jernih. Gadis itu selalu mengutarakan sesuatu yang positif mengenai kehidupan. Dan ada satu hal dari kata-katanya yang selalu terngiang di telingaku. Itu pendapatnya, tentang penyakit yang ku derita ini. Menurutnya kehidupan seseorang juga di tentukan oleh semangatnya untuk bertahan hidup. Dia percaya, segala sesuatu yang tidak mungkin dapat menjadi mungkin bila kita percaya pada kuasa Tuhan dan punya semangat untuk tetap bertahan hidup. Salsa yakin aku bisa terus bertahan melawan penyakit ganas ini jika aku mempunyai semangat hidup, itulah sebabnya dia selalu mendukung apa pun yang ku inginkanselama itu positif. Diam-diam, keyakinannya itu mulai tersalur padaku. Aku mulai mempunyai semangat untuk terus berjuang hidup. Aku mulai berpikiran jernih mengenai penyakit ini. Yah, dokter mungkin bisa memvonis jika umurku tidak lama lagi, tapi siapa tahu Tuhan berkehendak lain? Dan masih mengizinkanku berada di dunia ini untuk beberapa lama. Yah, semoga .
Salsa juga mengajarkanku tentang arti hidup yang sebenarnya. Aku yang selama ini hanya bisa mengeluh atas hidupkuyang dulu kurasa menyedihkankini mulai bisa bersyukur.  Setidaknya di kehidupanku, aku masih punya kedua orangtua yang menyayangiku juga Salsa dan teman-temanku yang lain (belakangan aku mulai sadar bahwa mereka juga menyayangiku, bukan hanya sebatas rasa kasihan semataSalsa jugalah yang menyadarkanku).
Kadang aku berpikir bahwa Salsa memang seorang bidadari cantik yang dikirimkan Tuhan untukku, agar aku bisa membuka mata dan lebih bersyukur pada hidup yang telah di tasbihkan Tuhan untukku. Banyak hal yang bisa ku pelajari dari Salsa. Dia adalah sahabat terbaik yang pernah ku miliki. Aku menyayangi, dan rasanya benar-benar tak ingin meninggalkan sahabatku itu sendirian. Semangat untuk tetap hidup itu muncul dengan menggebu-gebu, menyuruhku untuk tidak patah semangat dan tetap bertahan hidup. Dan karena semangat itulah, pengobatan yang dulu sempat ku hentikan kini ku lanjutkan kembali.
Seperti hari ini, aku di antar mama dan Salsa pergi ke rumah sakit untuk berobat. Sebulan setelah aku mengenal Salsa dan aku mengutarakan keinginanku untuk kembali berobat pada mama dan papa, mereka senang bukan main. Sehingga sudah sebulan terakhir ini aku rajin melakukan pengobatan yang di sebut kemoterapi.
“Cy, gue tunggu di luar ya. Gue gak tahan sama bau obatnya,”  pinta Salsa memelas ketika kami sampai di ruangan kemo. Aku menoleh padanya. Ah, selalu saja begini. Setiap aku menjalani kemo Salsa tak pernah masuk ke dalam, tampaknya dia memang benar-benar tak suka pada bau obat-obatan yang terlalu menyengat di rumah sakit.
“Iya deh, kebiasaan deh kamu,” tanggapku datar lantas mengikuti langkah mama yang sudah masuk ke ruangan lebih dulu.
***
Apa? Tak ada perubahan? Yang benar saja. Sudah sebulan lamanya aku berusaha menguatkan diri menjalani kemo tapi hasilnya? Nol besar. Aku mengigit bibirku kuat-kuat, mencoba menahan laju air mata yang seolah ingin berlomba-lomba keluar dari tempatnya. Kenapa harus begini? Apa semangat dan usahaku untuk bertahan kurang besar sehingga Tuhan sama sekali tak memberikan perubahan padaku?
“Kami sudah berusaha semaksimal mungkin Bu, kemo sebenarnya hanya bertujuan untuk membuat penderita lebih lama bertahan. Bukan untuk menyembuhkan,” tanpa sadar, aku malah menahan nafas sedari tadi mendengar kata-kata dokter Indradokter yang menanganiku. Tajam dan menghujam, perkataan dokter Indra barusan tak ubahnya seperti sebilah pisau tajam yang mencingcang hatiku kecil-kecil. Aku menghela nafas berkali-kali, mencoba menguatkan diri untuk mendengar rentetan kata berikutnya dari mulut dokter Indra.
Mungkin, aku sudah gila. Jika orang lain yang mengalaminya dan mendengar perkataan menyakitkan seperti itu mereka pasti akan cepat berlari menjauh, tapi aku tidak. Walau pun nyeri tiada terkira menghentak kala kata-kata menyakitkan itu keluar, aku tak ingin sedetik pun ketinggalan informasi mengenai keadaanku saat ini.  Tubuhku semakin merapat ke pintu ruang kerja dokter Indra, dan aku kembali menajamkan telinga agar dapat mendengar dengan jelas percakapan di ruangan itu.
“Apa sudah separah itu, Dok? Tak adakah cara lain untuk menyembuhkan anak saya?” Mama, batinku. Aku hafal betul suara mama. Tanpa aku melihat pun aku yakin saat ini wajah mama begitu sedih, dia pasti terpukul mendengar perkataan dokter Indra.
“Kanker limfositik yang di derita Licy sudah menyebar kemana-mana, walau pun kita melakukan operasi sumsum tulang belakang, itu takkan berpengaruh lagi.
“Mungkin selama ini Licy tak pernah mengeluh kesakitan atau kambuh, tapi saya yakin setiap malam sebelum tidur Licy selalu merasa sesak nafas,” itu benar, ujarku dalam hati. Dokter Indra tidak meleset sedikitpun, aku memang selalu merasa sesak nafas saat malam, itulah sebabnya kadang aku memilih untuk bergadang saja. Aku takut, ketika aku tidur ke esokkan harinya ku tidak bisa lagi membuka mataku.
“Bu, maaf karena saya harus mengatakan ini. Jujur saja saya rasa kesempatan Licy untuk bertahan hidup itu tak lebih dari dua minggu lagi. Saya tahu segala sesuatu itu tergantung kehendak Tuhan, akan tetapi perkiraan kami jarang sekali meleset kecuali jika Tuhan benar-benar berkehendak lain,”
Hatiku mencelos saat itu juga, kurasakan air mata yang sedari tadi ku tahan kini meleleh di pipiku. Tapi walaupun sudah beruraian air mata, tak ada sedikit pun niatku untuk beranjak meski hanya secenti dari tempatku sekarang. Ada sesuatu yang mendorongku untuk tetap bertahan disini, aku ingin mendengar kenyataan tentang hidupku lebih lama lagi. Meski itu akan mengoyak mentalku secara perlahan. Aku tersenyum miris dalam tangisku. Ah, dua minggu? Cukup apa hanya dalam dua minggu?
“Cy, kok lo nangis?”
Mendengar suara yang tak asing bagiku, cepat-cepat ku seka air mataku lantas mencoba tersenyum. Aku tak ingin membuat Salsa khawatir dengan keadaanku. Tak berapa lama, Salsa sudah berdiri di hadapanku membuatku terpaksa menghentikan aktifitas mengupingku dan membawanya menjauh dari ruangan Dokter Indra.
Kami sekarang duduk di bangku panjang taman rumah sakit, bisa ku lihat dengan jelas bahwa sekarang Salsa sedang menatapiku aneh. Sementara aku sendiri berpura-pura tidak melihat ke arahnya, melainkan menatap bunga-bunga di depanku.
“Lo kenapa sih Cy? Kenapa tadi lo nangis?” Salsa kembali bertanya. Mau tak mau aku terpaksa menengok ke arahnya, tapi hanya sebentar karena aku langsung membuang muka.  Aku tak bisa berbohong sambil menatap matanya, itu sangat sulit. Mata bening Salsa selalu membuat pertahananku luruh.
“Aku gak papa,”
Bisa ku dengar helaan nafas lelah dari Salsa sebelum gadis itu berkata, “Jangan bohong Cy, walau gue baru kenal lo sebulan terakhir tapi gue udah hafal banget tabiat lo.”
Tiba-tiba saja buncahan air mata itu kembali merembes tak kentara. Aku terisak. Pedih jika harus mengingat vonis dokter tadi. Semangat yang dulu sempat mengobar itu kini perlahan padam kembali. Tuhan, aku masih ingin disini. Batinku meraung, meminta sesuatu yangentah mengapaterasa sulit untuk terwujud. Salahkah aku karena menginginkan perpanjangan umur?
“Cy, cy. Yah, kok lo nangis lagi sih? Kenapa? Gue salah ngomong ya, aduh… Maaf deh Cy, maaf banget.” Salsa panik, dia mengatupkan kedua telapak tangannya sambil memohon-mohon menghadapku. Sementara aku sendiri hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalaku tanpa bisa mencegah air mataku untuk berhenti.
Tiba-tiba saja setetes darah segar mengalir dari hidungku, kental, merah.
“Cy, Licy. Lo mimisan Cy, Licy,”
Tapi aku tak bisa berucap apa-apa karena setelah itu kepalaku berputar, lalu nyeri yang teramat menghentak-hentak dengan keras di dalam kepalaku. Aku meringis, sakit. Ya Tuhan, apa lagi yang terjadi padaku? Belum cukup sampai disitu ternyata, ketika aku meringis kesakitan menahan nyeri di kepalakudengan Salsa yang terus memanggil namakuaku merasakan dadaku sesak. Aku kesulitan bernafas.  Aku megap-megap, berusaha bernafas sambil memegang dadaku. Dunia kembali serasa berputar, lebih cepat. Dan setelah itu, semuanya gelap.
***
Kata-kata Salsa ketika aku pertama kali membuka mata masih terngiang dengan jelas di benakku. Yah, Salsa benar-benar hebat. Walau aku tahu dia juga sedih menghadapi kenyataan bahwa sahabatnya ini akan pergi sebentar lagi, tapi tak sedetik pun dia kehilangan pikiran positif nan jernihnya itu.
‘Ternyata Tuhan itu sayang banget sama lo Cy. Dia pengen lo cepet-cepet ada di samping-Nya. Jadi lo gak usah mikir macem-macem, Tuhan pasti punya rencana lain di Surga buat lo,’
Aku tersenyum tipis teringat kata-kata Salsa. Ah, Salsa. Mengapa gadis itu sangat tahu caranya membuat aku tidak terpuruk lagi sih? Jadi sekarang, karena umurku yang tak banyak lagi, aku ingin melakukan sesuatu yang dapat membuatku di kenang. Aku ingin melakukan hal yang bermanfaat untuk orang-orang di sekitarku.
“Cy,” aku menoleh pada asal suara yang baru saja memanggilku. Ternyata mama.
“Kamu yakin mau pulang sekarang sayang?” tanya mama, ada raut cemas yang tergurat di wajahnya.
Saat ini aku memang masih berada di rumah sakit, 5 hari berselang sejak pingsannya aku di taman rumah sakit. Dan setelah 5 hari penuh aku merenungi kata-kata Salsa akhirnya aku ikhlas jika Tuhan memang ingin segera memanggilku, dan seperti kataku tadi. Di saat-saat terakhir hidupku, aku ingin melakukan hal yang berguna bagi orang lain. Aku ingin segera keluar dari rumah sakit ini dan kembali ikut mengajar anak-anak jalanan bersama Salsa.
Ah, ya. Aku belum cerita ya kalau Salsa mengajari anak-anak jalanan membaca, menulis, dan menghitung? Salsa memang mengajari anak-anak jalanan dengan dalih anak-anak itu juga berhak mendapatkan pengetahuan yang sama dengan anak-anak di sekolahan, bagaimana pun mereka adalah generasi penerus bangsa. Dalih Salsa itu memang terdengar masuk akal, dan itulah salah satu factor mengapa aku sangat mengagumi Salsa. Jiwa sosialnya sangat tinggi. Lalu dari anak-anak jalanan itu pulalah aku mengerti  makna hidup yang sebenarnya.
Senyumku makin mengembang kala teringat anak-anak kecil yang penuh semangat itu. Well, anak jalanan adalah orang-orang yang hebat. Mereka polos, tapi penuh semangat dan tanggung jawab. Mereka hidup bukan hanya memikirkan diri mereka sendiri, tapi juga keluarga mereka. Bahkan ketika pertama kali aku bertemu mereka, aku merasa sangat malu. Aku seperti rendah jika di bandingkan dengan bocah-bocah kecil itu. Terutama dengan Putra. Bocah kecil dengan mata bening yang selalu bersinarmenyiratkan semangat tak kentara. Ketiga adik perempuannya menjadi tanggung jawabnya sekarang akibat sang ayah dan ibunya meninggal dalam kecelakaan bus. Hidupnya sangat susah, tapi dia selalu menjalaninya dengan senyuman. Ah, bocah yang luar biasa.
“Cy, kamu gak denger pertanyaan mama?” aku terkesiap dari lamunanku mendengar suara mama, lantas sedetik kemudian tersenyum.
“Licy yakin ma, lagian ada yang mau Licy urus sebelum Licy di panggil Tuhan,”
Mama menangis, lantas langsung menghambur memelukku. Aduh, kalau begini aku jadi merasa bersalah telah mengucapkan kata-katakenyataanyang menikam hati mama.
“Jangan ngomong gitu sayang, jangan ngomong gitu,”
***
“KPK dari  12 dan 60 Berapa hayo? Ada yang bisa?”
Aku tertawa kecil melihat Salsa yang begitu semangat mengajar bocah-bocah jalanan itu. Walaupun aku hanya bisa menonton dari kursi roda, tapi aku sangat bahagia berada disini. Di tempat Salsa biasanya mengajar anak-anak jalanan.
“Aku kak, aku,” seorang bocah lelaki mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Bocah favoritku, Putra.
“Ya, Putra. Ayo maju”
Salsa menyingkir dari white board dan berjalan ke arahku. Dia berdiri disampingku, menoleh sekilas lantas kembali menatap Putra yang kini sedang berkutat dengan soal di depannya.
“Sa,” panggilku pelan. Salsa tak menjawab, hanya menoleh dan tersenyum seolah menungguku melanjutkan kata-kataku. “Aku bahagia karena sempat mengenalmu di detik terakhirku,” kataku lirih.
Ku lihat, mata Salsa berkaca-kaca dia merangkul pundakku lantas berkata, “Gu..gue juga seneng sempet kenal sama lo Cy, gue seneng banget.”
Aku tersenyum miris, lalu menatap satu persatu anak-anak jalanan yang memperhatikan Putra mengerjakan soal di depan. Mereka masih tampak sama, sangat bersemangat tanpa kenal lelah. Ah, andai saja mereka bisa belajar secara resmi dan mempunyai tempat hidup yang layak. Aha, tiba-tiba saja sebuah ide melintas dengan cepat di kepalaku. Senyumku mengembang, senyum kebahagiaan.
Bodohnya aku tak menyadari hal ini sedari dulu. Mama dan Papa punya banyak rumah di setiap wilayah Jakarta, termasuk di Jakarta pusat ini saja mereka punya tiga. Luas dan besar lagi. Mengapa aku tak pernah berpikir untuk menjadikannya panti? Soal biaya hidup, toh aku yakin butikkuyang dulu di hadiahkan mama saat ulangtahun yang ke 13dapat menampung semua kebutuhan anak-anak. O, ya. Rasanya aku juga bisa meminta Papa menyekolahkan mereka, kalau pun Papa tak sanggup aku bisa meminta mereka belajar menjahit dan mengelola butikku sehingga omset lebih besar dan mereka bisa sekolah. Ya Tuhan, kenapa aku tak menyadari ini dari dulu? Inikan sangat bermanfaat bagi mereka. Hah, dasar Licy bodoh!
“Wah, pintar. Seratus untuk Putra,” aku tersentak saat mendengar bunyi tepuk tangan yang riuh. Setelah melongok apa yang terjadi aku baru sadar kalau Putra ternyata baru saja selesai menjawab dengan hasil yang memuaskan. Senyumku terkembang makin lebar.
“Sa,” panggilku membuat semua mata kini memandang ke arahku. “Aku pulang duluan ya.” pamitku lalu beralih menatap anak-anak, “Adek-adek, Kak Licy pamit ya,”
“Ya, kok Kak Licy pulang sih?” keluh anak-anak lalu serentak mengelilingiku, aku tersenyum di buatnya.
“Kakak ada urusan, nanti kalau urusannya udah beres kakak balik lagi deh. Janji,” ujarku sambil mengangkat jari tengah dan telunjuk bersamaan.
Anak-anak jalanan itu tersenyum, lalu setelah mengucapkan kata-kata selamat tinggal aku pulang dengan sopirku yang sedari tadi menunggu di mobil. Sepanjang perjalanan pikiranku penuh dengan rencana-rencana untuk anak-anak jalanan tersebut. Aku ingin segera merealisasikan rencanaku, aku ingin segera melihat anak-anak jalanan itu hidup sebagaimana mestinya anak seumuran mereka. Dan mungkin dengan itu, aku bisa tenang karena setidaknya di detik terakhirku aku bisa berguna untuk orang-orang di sekitarku.
***

“Impian lo, udah terwujud,” bisik Salsa di telingaku.
Sebuah senyum tersungging dengan lebar di wajahku. Ah, memang benar. Impianku kini telah terwujud. Syukurlah waktu aku mengajukan ide ini pada mama dan papa, mereka sama sekali tak menolak malah justru mendukungku 100 %. Aku senang, kini aku bisa melihat dengan mata kepalaku bagaimana binar mata anak-anak jalanan itu saat mengetahui mereka akan punya rumah, dan lihatlah sekarang. Mereka sedang berlarian, berkejaran satu sama lain dengan senyum indah yang tak pernah pudar dari wajah mereka.
Rumah yang berukuran cukup luas ini terdapat di Jakarta pusat dan di beri nama panti asuhan ‘Bunda’. Sengaja ku beri nama seperti itu untuk mengenang jasa mama. Aku juga sekarang tinggal disini dan sudah lebih dari seminggu anak-anak jalanan itu mendapat rumah yang layak, juga itu artinya sudah hampir dua minggu lebih aku bertahan hidup. Dan waktuku untuk hidup semakin berkurang, tapi tak apa. Jika pun sekarang aku di panggil Tuhan, aku ikhlas. Tuhan memang terlalu menyayangiku sehingga dia ingin segera bertemu dengan ku dan menghapus semua rasa sakit yang menggerogoti tubuhku.
“Sa, kalau aku mati. Aku mau kamu yang ngurusin panti ini. Kelola juga butik aku biar mereka tetap berkecukupan,” pesanku pada Salsa, entah mengapa feelingku mengatakan bahwa malam ini aku benar-benar akan pergi untuk selamanya.
Salsa mengangguk mantap, walau dari raut wajahnya tersimpan kepedihan yang mendalam. “Tenang aja Cy, gue pasti bakal ngelakuin itu,”
Aku tersenyum tapi hanya sesaat karena tiba-tiba saja kepalaku berputar hebat. Aw, sial. Sakit sekali rasanya. Seperti ada yang menghentak-hentak keras di dalam batok kepalaku. Aku meringis sepelan mungkin agar Salsa tak curiga lantas setelah sedikit berhasil mengatasi rasa pusingku aku segera pamit untuk ke kamar.
Perutku terasa sangat mual ketika sampai di kamar. Rasanya seperti ada jutaan kupu-kupu yang beterbangan disana. Darah segar mengalir dari hidungku di sertai sakit di kepala yang kembali menghentak. Ah, apa ini? Bagaimana caranya bernafas? Astaga, nafasku tersengal. Serasa sangat sulit untuk memasukkan udara ke dalam paru-paruku. Sesak sekali.
Ya Tuhan, apakah sekarang? Sebelum terlambat aku segera mengambil pena dan selembar kertas. Aku berniat menulis surat, untuk semua orang yang kusayangi. Tanganku bergetar ketika ku paksa untuk menulis, tapi aku toh tak peduli. Ku paksakan jariku untuk menulis, surat terakhirku.
Jika kalian baca surat ini itu artinya aku sudah tidak ada, tapi kalian tak usah cemas karena aku benar-benar ikhlas jika harus pergi. Ada beberapa hal yang mau aku sampaikan dalam surat ini.
Pertama untuk mama dan papa. Ma, Pa, makasih ya karena selama ini mama dan papa sudah menjaga dan merawat Licy dengan baik. Makasih karena kalian sudah tulus menyayangi Licy dan mau melakukan apapun untuk Licyterutama karena mama dan papa mau mengabulkan keinginan Licy untuk menampung anak-anak jalanan itu. Maaf bila selama ini Licy merepotkan, dan tolong jangan nangisin kepergian Licy ya? Licy gak pengen di tangisin. Licy pengen kalian selalu tersenyum untuk Licy. Licy sayang kalian, selamanya.
Kedua untuk Salsa. Sa, selama hidupku kamu adalah sahabat terbaik yang pernah aku milikin. Aku belajar banyak dari kamu Sa, tentang kehidupan. Kamu bener-bener gadis yang hebat, aku salut sama kamu Sa dan mungkin aku gak bakal pernah bisa kayak kamu. O ya, kalau aku gak ada, jangan lupa sama janji kamu untuk jaga mereka ya? Makasih. Aku sayang kamu Sa.
Ketiga, untuk semua teman-teman dan orang yang mengenal Licy. Licy sangat berterimakasih sama kalian karena mau berteman dengan anak seperti Licy apalagi kalian juga menyayangi Licy dengan tulus. Makasih ya? Licy juga sayang kalian.
Dan yang terakhir buat adek-adek semua, Kakak harap adek-adek semua betah di sini ya? Kejar terus cita….
Arrghh, sakit sekali. Aku belum menyelesaikan suratku tapi sakit ini telah menyiksaku lebih dulu. Aku mengerang, pena itu terjatuh begitu saja. Kepalaku semakin berdenyut tak enak, juga nafasku yang semakin tersengal-sengal. Darah dari hidungku pun menetes pada kertas. Ah, tampaknya memang sudah saatnya aku pergi. Sambil mencoba untuk tenang, aku memejamkan mataku lantas tersenyum. Selamat tinggal dunia!


 Selesai

Persembahan Untuk Bunda

Kubuka album biru
Penuh debu dan usang
Kupandangi semua gambar diri
Kecil bersih, belum ternoda

***

Sinar matahari yang hangat masuk ke dalam kamar Elang yang masih terlelap dalam tidurnya melalui kisi-kisi jendela membuat Elang membuka matanya dan mengerjapkannya perlahan. Tangannya ia simpan di dekat pelipis guna menghalangi silaunya sinar matahari. Matanya yang masih setengah terbuka menyapu setiap sudut kamar tersebut hingga terhenti di satu titik.
“Huaa, jam setengah 7. Mampus, gue bisa telat nih,” matanya terbelalak begitu melihat jam dinding, dia menyibakkan selimutnya dengan kasar dan segera bergegas ke kamar mandi.
Hanya butuh 5 menit baginya untuk mandi dan memakai seragam sekolahnya. Setelah itu Elang berdiri di depan cermin dan menyisir rambutnya, merasa cukup dia berjalan mendekati kalender di dekat pintu masuk.
"Hmm..Sekarang tanggal 6 Juni, berarti hari ulang tahun Bunda dong. Gue mau bikin kejutan ah buat Bunda," gumam Elang dan beranjak menuju ruang bawah.
Sepanjang jalan Elang bersenandung dengan cerianya, dia bertekad untuk mempersembahkan hadiah yang menarik dari tangannya sendiri. Elang ingin bisa mempersembahkan sesuatu yang merupakan hasil jerih payahnya sendiri sebagai kado ulangtahun Bundanya, karena menurutnya itu akan lebih berkesan untuk sang Bunda.
“Bun, Elang berangkat ya. Udah telat nih, dah Bunda,” Elang segera berlari menuju garasi dan mengambil motor kesayangannya.
"Gak makan dulu sayang?" sayup-sayup terdengar teriakan Bunda Elang dari arah ruang makan, tapi Elang memilih mengabaikannya dan segera melajukan motornya ke sekolah.
Bukannya Elang ingin menjadi anak durhaka, hanya saja ia ingin menemui Bundanya dengan sebuah hadiah ditangannya. Dan seperti niatnya tadi, Elang ingin memberikan kejutan untuk Bundanya. Kejutan yang akan membuat Bundanya sangat bahagia. Lelaki itu jadi tersenyum-senyum sendiri membayangkan tekadnya.
Sepuluh menit kemudian, Elang memarkir sepeda motornya di halaman parkir sekolah dan berjalan menuju kelasnya dengan senyuman yang tiada henti-hentinya menghiasi bibirnya.
“Pagi semua,” sapa Elang ketika dirinya mendapati sahabat-sahabatnya didalam kelas. Kelas sudah lumayan penuh saat itu.
Sahabat-sahabat Elang langsung menatap Elang yang begitu ceria penuh tanda tanya. Heran melihat lelaki itu tak cemberut seperti biasanya.
Ozy, salah satu sahabat Elang mengangkat sebelah alisnya melihat wajah Elang yang berseri-seri. "Pagi Lang, tumben muka lo gak di tekuk," balasnya setengah meledek.
Sebuah delikan sempat Elang hadiahkan untuk Ozy sebelum akhirnya lelaki itu melengos dan memilih duduk di bangkunya. Dia melihat tas Nathan berada disana, tapi tidak dengan Nathan. Hah, anak itu pasti main basket lagi. Pikir Elang. Tak heran sih, disini Nathan memang menjabat sebagai Kapten Basket dan sangat senang bermain basket. Biasanya Nathan akan datang ke sekolah pagi-pagi sekali dan bermain basket di lapangan. Kadang sendirian, kadang di temani oleh Andreteman satu tim basketnya.
“Nathan mana? Main basket lagi?” tanya Elang yang mendapat anggukan dari semuanya.
Elang ikut mengangguk lantas segera duduk di bangkunya dan tampak berpikir keras. Sahabat-sahabatnya yang melihat tingkah aneh Elang mengerutkan kening, tak biasanya Elang tampak berpikir serius, apalagi pagi-pagi begini.
“Lang, lo gak kesambet jin kan?” tanya Rizky sambil terkekeh, lantas melanjutkan ucapannya ketika Elang menatapnya tajam. “Pagi-pagi gini lo udah serius banget, kayak ada hal penting yang lo pikirin gitu,”
Elang menghela nafas, menatap teman-temannya dalam. “Hari ini, hari ulang tahun Bunda gue. Gue pengen kasih sesuatu, tapi yang hasil dari tangan gue sendiri. Kira-kira apa ya?”
Semua tampak terpana mendengar penuturan Elang, tak menyangka lelaki seperti Elang sangat berbakti dan menyayangi Ibunya lebih dari yang mereka bayangkan. Lalu semuanya terdiam, ikut merenung bersama Elang. Berusaha mencari ide yang bagus untuk mewujudkan hadiah yang ingin Elang berikan.
“"Aha, gimana kalau lo bikin kerajinan tangan?” usul Sammy sambil menaik turunkan alisnya.
“Tumben otak lo jalan Sam?” cibir Rizky yang heran dengan ide cemerlang dari Sammy, biasanya otak Sammy kan buntu.
Sammy cengengesan sambil membusungkan dadanya bangga. Dalam urusan yang menyangkut orangtua begini dia kan paling peka dan sangat antusias.
Elang tampak menerawang, lalu seulas sneyum tampak terpeta di bibirnya. “Ide bagus tuh, kalau gitu gue mau buat guci ah,”
Mendengar pernyataan spontan dari Elang, otomatis ke empat pasang mata milik sahabatnya menatap Elang sambil mengernyit.
“Kayak lo bisa aja Lang, lo kan paling gak bisa buat kerajinan,” Lintang mengingatkan dengan senyuman jahil dibibirnya.
Elang mengerucutkan bibirnya, baru teringat ia paling bodoh jika sudah menyangkut urusan kesenian. Apalagi membuat guci. Semua tergelak melihat perubahan ekspresi pada wajah Elang.
Tapi bukan berarti Elang kehabisan akal, lelaki itu kembali tersenyum kala sebuah pemikiran hebat melintas di otaknya.
“Lo jahat banget sih Tang. Maksud gue kan gucinya kalian yang bikin terus gue hias pake manik-manik atau cat gitu,” kata Elang dengan wajah polosnya, gelak tawa kembali menggema didalam ruangan kelas.
“Huuu, gak kreatif banget sih lo. Itu sih sama aja kita yang kerja,” Ozy menoyor kepala Elang pelan setelah tawanya berhenti, ujung-ujungnya, mereka juga yang kena.
“Yee, suka-suka gue dong. Kalian mau bantu kan?” tanya Elang dengan mata berbinar-binar. Alisnya di naik turunkan dengan teratur. Memohon.
Lintang, Ozy, Rizky, dan Sammy saling berpandangan lalu mengangguk serentak membuat senyuman semakin lebar menghiasi wajah tampan Elang.
“Boleh deh,” ujar semuanya hampir serentak.
“Oke, nanti pulang sekolah di ruang kesenian yah?” pinta Elang yang di angguki semuanya. Sepertinya hadiah ini akan sangat spesial, pikirnya bahagia.
***
“Nah, beres deh,” Elang bersorak riang setelah berhasil menyelesaikan hadiah ciptaannya.
Sebuah guci cantik yang dihiasi oleh manik-manik serta cat warna warni dan ditengahnya bertuliskan "Happy Birthday Mam. I LOVE YOU MOM".
Elang tersenyum puas melihat hasil kerjanya tersebuttidak sepenuhnya sih, karena yang membuat guci itu teman-temannya bukan dia, walaupun dia tak pandai dalam membuat sebuah kerajinan akan tetapi hasil kerajinannya kali ini bisa dibilang menakjubkan. Ah, tampaknya usaha Elang tidak sia-sia jika melihat hasil karyanya yang begitu indah ini. Binar di mata Elang tak sedikit pun pudar saat menatap guci tersebut.
“Gue duluan ya,” seru Elang, “Thanks banget sob.” lanjutnya lalu berjalan keluar untuk menjemur gucinya agar cat yang melekat segera kering.
Elang meletakkan gucinya di pinggir lapangan basket yang terik oleh sinar matahari lalu menyeka peluh diwajahnya akibat kelelahan. Lelaki itu duduk di sebelah gucinya untuk menunggunya sampai kering sambil melihat permainan bola basket dilapangan. Nathan dan Andre sedang berlarian memperebutkan bola lalu tiba-tiba saja…
‘Bukk’ bola basket yang Nathan lempar ke ring meleset dan malah menghantam guci manis Elang yang susah payah ia buat. Elang menganga menyaksikan guci buatannya hancur, kini hanya kepingan-kepingan guci yang berserakan dimana-mana.
“Mampus gue,” gumam Nathan merasa bersalah, dia segera menghampiri Elang dengan senyuman kikuknya berharap Elang mau memaafkannya.
“Lang, sorry. Gue gak sengaja,” ujar Nathan tertunduk setelah dia sampai dihadapan Elang.
Elang yang masih ternganga memandangi gucinya segera menatap Nathan tajam, hatinya seperti sedang di bakar di dalam bara api yang panas melihat hasil kerja kerasnya sia-sia. Darahnya mendidih seketika, emosi meluap dari kilatan matanya.
Sorry lo bilang? Lo tahu gak Nat? Gue buat ini dengan susah payah buat Bunda gue. Gue buat guci ini dengan perjuangan, berharap kado ini bisa jadi kado spesial buat Bunda gue. Dan lo, lo dengan gampang ngancurin semua usaha gue,” Maki Elang emosi, ia mencurahkan semua kekesalannya dengan berapi-api sambil menunjuk-nunjuk wajah Nathan dengan telunjuknya.
“Maksud lo?”
“Ini hari ulang tahun Bunda gue, dan ini kado spesial buat dia,” bentak Elang
Nathan tertegun, tak menyangka Elang akan semarah ini padanya, dia tahu bahwa dirinya bersalah dan dia sangat menyesal akan hal itu.
“Maaf Lang, maafin gue. Gue bener-bener gak sengaja,”
“Terlambat Nat, semuanya udah hancur. Dan ini gak bisa di perbaiki lagi. Lo harusnya bisa hargai perasaan gue dong, gue sayang Bunda gue dan gue pengen ngasih sesuatu dari hasil tangan gue,” Elang tak mengacuhkan pembelaan Nathan dan kembali meluapkan kekesalannya, wajahnya memerah akibat kekesalan yang menjadi-jadi. Dia memalingkan wajahnya, menghela nafas lalu kembali menatap Nathan dengan tatapan sinis.
“Oh, ya. Gue tahu lo gak akan ngerti perasaan gue karena lo gak punya Ibu,” seru Elang sinis tanpa menyesal sedikit pun.
Deg!
Nathan tersentak, kata-kata Elang benar-benar menusuk ulu hatinya. Menikam bagian itu tanpa ampun. Dia seperti sedang di kuliti mendengar lontaran kata tajam Elang. Ibu? Iya, dia memang tak mempunyai seorang Ibu, tapi bukan berarti dia tak mengerti perasaan Elang.
Temangu, Nathan mengepalkan tangannya perlahan. Kalau saja dia tak ingat selama ini Elang selalu di sampingnya, maka saat ini juga ia yakin telah melayangkan bogem mentah di wajah Elang. Wajah Nathan ikut memerah, menahan emosi. Lalu dengan kilat, dia balik menatap Elang dengan tatapan yang lebih tajam.
“Lang, gue tahu gue gak punya Ibu. Tapi bukan berarti gue gak ngerti perasaan lo. Gue gak nyangka Lang, lo setega itu sama gue,” seru Nathan menggebu. Nafasnya memburu, teringat kenyataan pahit itu. Sekuat tenaga, Nathan berusaha mengendalikan matanya yang sudah perih lalu tanpa menunggu detik selanjutnya lelaki itu berlari menjauh meninggalkan Elang dan Andre.
Andre yang menyaksikan pertengkaran singkat sepasang sahabat itu temangu saat  Nathan berlari, tahu betul Elang telah menyinggung hal yang sangat sensitive bagi Nathan. Menghela nafas, Andre segera menghampiri Elang lalu menepuk pundak Elang mencoba menenangkan. Dia mengerti Elang sangat emosi tadi, tapi dia tak habis pikir Elang akan melibatkan hal yang benar-benar tak amu di singgung Nathan.
“Lang, lo harusnya gak emosi kayak gitu. Lo liatkan akibatnya? Kenapa lo bawa-bawa Ibu Nathan?” tanya Andre halus.
Elang masih bergeming hingga akhirnya dia merutuki dirinya sendiri yang tak dapat mengontrol emosinya. Elang akhirnya sadar bahwa sikapnya tadi terlalu berlebihan. Dia jadi merasa menyesal telah mengucapkan kata-kata yang pasti menikam hati Nathan. Tadi dia sama sekali tak bermaksud menyinggung Nathan, itu murni karena emosi!
“Gue, gue gak sengaja Dre. Gue tadi terlalu emosi. Duh, gimana nih? Nathan pasti sakit hati banget,” ujar Elang menyesal, Andre tersenyum tipis lalu kembali menepuk pundak Elang pelan.
“Udah, jangan disesali. Yang penting sekarang lo kejar Nathan, minta maaf sama dia,” nasehat Andre bijak, Elang memandang Andre sekilas, berterima kasih atas nasehatnya lalu secepat kilat dia berlari mengejar Nathan.
Elang memutari seluruh sekolah untuk mencari Nathan, tapi dari tadi dia tak kunjung menemukannya hingga Elang pun merasa gelisah. Dia sangat menyesali ucapannya, dan sekarang Elang merasa gundah, takut ucapannya dapat berdampak negatif terhadap Nathan. Dia berjalan gontai menuju kelasnya dan berharap menemukan Nathan disitu.
“Nat, gue..gue..” Elang merasa gugup ketika hendak meminta maaf pada Nathan yang kini menangis dalam diam dibangkunya.
Nathan yang menyadari bahwa Elang berdiri di hadapannya segera menyeka tetes-tetes air mata dari pipinya yang putih, dia membuang wajah. Dia tahu memangis bukanlah hal yang baik mengingat kodratnya sebagai lelaki, tapi bagaimanapun Nathan tak bisa menahan air matanya. Kepedihan akan kata-kata tajam Elang telah menggoyahkan air mata yang selama ini tak pernah luruh.
Sadar Elang masih di situ, Nathan berusaha bersuara. “Apa? Lo bener Lang, anak kayak gue yang gak punya Ibu emang gak bisa ngerasain apa yang lo rasain,” gumam Nathan lirih.
“Nat, gue gak bermaksud ngomong kayak gitu tadi. Bener deh, lagian gue cuma kebawa emosi. Maafin gue,” Elang semakin merasa bersalah saja mendengar kata-kata Nathan yang lirih.
“Lo gak perlu minta maaf,” ketus Nathan, lalu bernjak berdiri. Tapi belum sempat berjalan Elang segera memeluk Nathan dari samping, ribuan kata maaf terucap dari bibirnya.
Please Nat, jangan giniin gue. Lo boleh minta gue ngelakuin apapun asalkan lo mau maafin gue,”
Nathan menghela nafas panjang, tak tega mendengar permohonan Elang yang di dalamnya terselip nada memelas yang dalam. Tak lama, Nathan mendesah pelan, menyunggingkan sebuah senyum di bibirnya.
“Yakin lo apapun?” tanya Nathan memastikan ucapan Elang, Elang mengangguk cepat.
“Apapun,” ulang Elang lalu melepaskan pelukannya, dia menyeka air mata yang entah sejak kapan mengaliri pipinnya lalu memberikan senyuman termanisnya karena ternyata Nathan masih mau memaafkannya.
Nathan tampak berpikir, sedetik kemudian dia tersenyum. :Kalau gitu, gue punya dua permintaan buat lo,”
“Apa?”
“"Pertama, gue juga mau minta maaf soal guci lo. Kalau lo mau, gue mau kok bantuin lo bikin lagi,” ujar Nathan, Elang mengangguk semangat. Apalagi Elang tahu Nathan adalah yang terbaik di kelasnya sola kerajinan tangan.
“Oke, itu sih gampang. Yang kedua apa Nat?”
“Yang kedua, gue mau lo temenin gue ke makam Ibu gue. Gue pengen ketemu sama dia,”
Sungguh, Elang sangat terharu mendengar permintaan kedua yang keluar dari mulut Nathan. Sambil tersenyum hangat, dia kembali mengangguk dengan suka cita.
***
Pikirku pun melayang
Dahulu penuh kasih
Teringat semua cerita orang
Tentang riwayatku
***
Taman Pemakaman Umum (TPU) tempat berbaringnya Ibunda Nathan terasa sangat sunyi. Langit tak begitu cerah, banyak awan di atas sana. Nathan dan Elang berjalan menyusuri jalan setapak hingga akhirnya mereka berhenti di sebuah pusara. Nathan berjongkok, raut wajahnya terlihat sangat merindukan sang Ibunda yang sudah tenang di alamnya.
“Mah, Nathan kangen sama mama. Mama baik-baik aja kan di Surga?” kata Nathan, memulai dialoh sepihaknya sambil tersenyum syahdu.
Nathan menaruh seikat bunga lili putih pada pusara Ibunya, lalu dia mengelus nisan Ibunya penuh kerinduan. Elang yang berdiri di belakang Nathan hanya bisa memandang sahabatnya itu iba, dia bisa merasakan bagaimana sedihnya perasaan Nathan sekarang.
Tadi, seusai membuat guci mereka langsung pergi ke sini setelah sebelumnya tak lupa membeli seikat bunga lili putih, bunga kesukaan alm.Ibu Nathan.
Nathan tertegun cukup lama. Awan tebal semakin menyelimuti langit, menandakan sebentar lagi tangisan alam akan tercurah.
“Mah, kapan Nathan bisa ketemu mama lagi? Nathan pengen kayak dulu lagi mah, Nathan pengen mamah ada di sisi Nathan,” Nathan kembali berbicara sambil menatap pusara Ibunya sendu. Tangannya tak henti-hentinya membelai nisan.
Elang yang sedari tadi memerhatikan dalam diam merasa terenyuh melihat betapa malangnya nasib Nathan dan betapa beruntungnya dirinya. Elang merasa beruntung karena dia masih bisa merasakan kasih sayang dari Bundanya.
Tak lama, Elang mendongak. Menatap langit yang mulai menangis perlahan-lahan, meluruhkan seluruh air alam hingga tubuhnya mulai basah. Elang mendesah, baru beberapa menit mereka disini, tapi tampaknya mereka harus segera pulang.
“Nathan, udah yuk. Ibu lo juga pasti kangen sama lo, dan menurut gue beliau udah bahagia di Surga sana,” Elang menepuk pundak Nathan dan mengajaknya untuk pulang. Nathan yang masih berceloteh segera mendongak dan menatap Elang dengan seulas senyum, dia mengangguk.
“Iya Elang. Ini juga udah,” katanya lalu kembali menatap pusara ibunya untuk terakhir kalinya, sorot mata penuh kerinduan masih tak lepas dari wajah Nathan.
“Mah, Nathan pulang dulu ya. Mama yang tenang di sana. Nathan sayang mamah,” ujar Nathan lalu mengecup nisan Ibunya dan beranjak berdiri.
Hujan mulai bertambah deras.
Elang merangkul pundak Nathan lalu keduanya menatap pusara Ibu Nathan sebelum akhirnya melangkahkan kaki meninggalkan TPU tersebut.
***
Kata mereka diriku slalu dimanja
Kata mereka diriku slalu dtimang
Nada nada yang indah
Slalu terurai darinya
Tangisan nakal dari bibirku
Takkan jadi deritanya
Tangan halus dan suci
Tlah mengangkat diri ini
***
“Bunda, kangen.” Elang memeluk Bundanya dengan manja ketika melihat beliau tengah menyiapkan makan siang untuknya, Nathan membuntuti Elang dari belakang karena tadi dia di paksa Elang untuk ikut.
“Elang, udah pulang nak?” tanya Bunda Elang lembut sambil membelai rambut anak semata wayangnya tersebut dengan penuh kasih sayang membuat hati Nathan terasa teriris, cemburu. Nathan juga ingin seperti Elang.
“Udah dong Bun. Nat, sini dong. Gabung,” ajak Elang melihat Nathan yang tak beranjak dari ambang pintu masuk ruang makan, dia menarik tangan Nathan hingga ke dalam.
“Hallo Tante,” sapa Nathan canggung lalu mengecup tangan Bunda Elang.
Bunda Elang tersenyum, menyambut kedatangan Nathan dengan tangan terbuka.
“Hallo juga Nat, gimana kabarnya? Ikut makan disini ya, tante udah masak banyak,”
“Baik tante. Iya terimakasih,” Nathan tersenyum manis.
Elang tersenyum melihat keakraban Nathan dan Bundanya lalu dia teringat akan guci yang dibuatnya bersama Nathan tadi. Elang menghampiri Bundanya lalu mengeluarkan guci tersebut dari dalam tasnya.
“Selamat ulangtahun, Bunda, ini Elang sama Nathan bikin khusus buat Bunda. Ini adalah persembahan untuk Bunda dari Elang sama Nathan, semoga Bunda suka,” ujar Elang bangga seraya memamerkan guci yang dia buat bersama Nathan. Bunda Elang tersenyum senang lalu mengacak poni Elang halus.
“Makasih ya sayang, ini bagus sekali. Nathan juga, makasih ya Nat.” ujar Bunda Elang sambil mengamati guci tersebut dengan ekspresi takjub.
“Sama-sama tante, Nathan juga mau ngucapin selamat ulang tahun sama tante,” ujar Nathan lirih.
Bunda Elang tersenyum manis, mengusap puncak kepala Nathan lalu beralih menatap Elang. Beliau lalu memeluk Elang erat. Elang balas memeluk Bundanya tersebut lalu berbisik sesuatu.
Nathan tersenyum tipis, tapi dia merasa tak enak telah menganggu waktu yang seharusnya Elang habiskan berdua dengan Bundanya. Nathan membalikkan badannya lalu melangkah menuju pintu, tapi sebuah suara menahannya.
“Nathan, sini nak.” panggil Bunda Elang menghentikan langkah Nathan. Nathan berbalik dengan ekspresi bertanya.
“Ya, ada apa Tante?” tanya Nathan lalu mengahampiri Bunda Elang.
“Mulai sekarang, kamu boleh panggil tante Bunda kayak Elang. Tante udah denger semuanya dari Elang, kalo kamu merasa kekurangan kasih sayang seorang Ibu kamu bisa menganggap Tante Ibu kamu. Tante juga sayang sama kamu, Tante udah nganggap kamu anak kandung tante. Kamu mau kan panggil tante Bunda?”
Nathan terperangah tak percaya mendengar penuturan Bunda Elang, dia memandang Bunda Elang lalu beralih pada Elang yang sedang tersenyum ke arahnya. Ada rasa bahagia yang membuncah tak kentara di hatinya mendengar tawaran tulus dari Bunda Elang. Secuil harapan bisa merasakan kasih sayang seorang Ibu tiba-tiba saja terpeta jelas di hadapannya.
“Beneran tante?”
“Bunda Nathan, lo susah banget sih di bilangin.” Elang menyela ucapan Nathan, dia sedikit jengkel dengan sikap Nathan yang seperti berada di dunia mimpi.
Senyum Nathan mengembang, dia membentangkan tangannya hendak memeluk Bunda Elang tapi dia urungkan karena malu. Nathan menggaruk belakang telinga salah tingkah.
“Mmm,, Nathan boleh meluk Bunda kan?” tanya Nathan malu-malu, Bunda mengangguk lalu tersenyum dan membawa Nathan ke dalam pelukannya. Nathan memeluk Bunda barunya tersebut erat, merasakan kehangatan pelukan yang selama ini sempat hilang dari kehidupannya.
Elang ikut tersenyum melihat betapa bahagianya Nathan, dia lalu ikut memeluk Bundanya bersama Nathan.
“Makasih Bunda, Makasih Elang. Nathan sayang kalian” gumam Nathan bahagia.
“Gue juga sayang sama lo Nat,”
“Iya, Bunda juga sayang kalian. Dua jagoan Bunda. Nah sekarang, ayo makan. Entar makannnya keburu dingin,” Bunda melepaskan pelukannya lalu membelai satu persatu rambut Nathan dan Elang.
“Hehe, iya Bun,” sahut Nathan malu-malu lalu ikut duduk di meja makan.
Untuk pertama kalinya dia merasa sangat bahagia setelah sekian lama tak pernah merasakan kehangatan seorang Ibu, dan dia sangat bersyukur karena hari inisetelah sekian lamadia mendapatkan seorang Ibu baru yang tampaknya akan dengan tulus menyayanginya dan menerimanya kapanpun.
Elang memandang wajah Nathan sambil tersenyum bahagia karena akhirnya Nathan pun bisa merasakan hal yang selama ini Elang rasakan, tak sedikit pun Elang merasa iri atau takut Bundanya akan lebih memperhatikan Nathan daripada dirinya karena Elang ingin berbagi dengan Nathan. Dia ingin, Nathan juga bisa memiliki seorang Ibu sama seperti dirinya. Dia ingin, Nathan merasa bahagia dalam balutan kasih sayang seornag Ibu. Karena Nathan pantas mendapatkannya.
***
Jiwa raga dan seluruh hidup
Rela dia berikan
Oh bunda ada dan tiada dirimu
Kan slalu ada di dalam hatiku
***


TAMAT