Seorang gadis yang baru saja turun dari mobilnya mendongak menatap langit yang mulai mendung, semendung hatinya yang kini terpaksa harus jalan-jalan sendirian, tanpa sang kekasih yang biasa menemaninya. Gadis itu tersenyum kecut sambil melangkahkan kakinya memasuki sebuah kafe yang tak jauh dari mall tempat dia belanja tadi. Perlahan tangannya mendorong pintu masuk kafe, bunyi khas lonceng yang berdering pun menyapa pendengarannya kala pintu terbuka.
Setelah pintu terbuka gadis itu berdiri dan meliarkan pandangannya ke sekitar ruangan, kafe mulai ramai oleh pengunjung. Wajar saja, sekarang jam mulai menunjukkan pukul 2 siang, jam-jam dimana orang-orang yang bekerja di kantor istirahat dan makan siang. Sang gadis menghela nafas lantas mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam setelah cukup lama dia terdiam di ambang pintu. Tapi dilangkahnya yang─kira-kira─ke sepuluh, gadis itu berhenti. Pandangannya menatap lurus ke sudut ruangan yang sepertinya di tempati oleh orang yang ia kenal. Gadis itu memicingkan matanya, mencoba memperjelas pandangannya.
Seketika matanya terbelalak melihat siapa yang berada di sudut ruangan sana, darahnya memanas menyaksikan kemesraan mereka berdua. Dengan wajah merah padam─menahan emosi─gadis itu melangkah gusar mendekati meja tersebut, tatapan matanya bahkan setajam mata elang.
Brakkkk. Meja kafe itu di gebrak kuat oleh sang gadis, tatapannya yang tajam berkilat penuh kebencian dan kemarahan. Menciptakan desisan-desisan tak suka dari pengunjung lain, tapi toh gadis itu tak peduli. Tatapan matanya yang tajam menatap lurus pada dua orang lain di depannya.
Dua orang itu─seorang lelaki dan seorang perempuan─yang sedang duduk di meja tersebut pun tersentak kaget. Mereka menoleh, dan lebih kaget lagi melihat gadis itu disini dengan wajah penuh amarah. Wajah keduanya memucat, seolah mereka baru saja tertangkap basah telah melakukan sebuah kejahatan.
“Li..Lita,” ujar lelaki yang duduk di sana dengan sedikit terbata.
Lita tersenyum sinis, memandang bergantian dua orang di depannya dengan tatapan tajam yang menusuk. Sekuat tenaga gadis itu berusaha mengendalikan cairan bening yang sudah siap untuk terjun bebas kapan pun. Hatinya meringis, sakit. Betapa tidak, dua orang yang kini berada di hadapannya adalah dua orang yang sangat berarti dalam hidupnya, yang sangat ia kasihi, yang sangat ia percaya, juga sangat ia sayangi. Tapi, apa balasan yang telah mereka lakukan? Lita benar-benar tak percaya bahwa mereka tega menusuknya dari belakang, menghancurkan benteng kepercayaan yang selama ini berdiri kokoh untuk mereka.
Kepedihan dan keperihan yang tiada terkira tiba-tiba saja menyergapnya, memeluk gadis itu dalam balutan kebencian. Dan tanpa sadar cairan bening yang sudah berusaha ia tahan sekuat tenaga pun akhirnya luruh juga. Jatuh perlahan membasahi pipinya yang mulus. Lita miris melihat kedua orang itu, yang selama ini ternyata diam-diam bekerja sama untuk menikamnya. Dan yang lebih menyakitkan, ternyata sikap manis keduanya selama ini hanyalah sebuah kamuflase atas kejahatan hati yang mereka lakukan.
Senyum sinis Lita makin mengembang (walau bertolak belakang dengan air mata yang semakin deras mengalir di pipinya), bahkan ketika lelaki dihadapannya bangkit dan berusaha menggapai tangannya, Lita segera menepisnya dengan kasar.
“Lit, tunggu ini gak seperti yang kamu bayangin,” ujar lelaki itu dengan nada memohon, “Please, dengerin penjelasan aku dulu.”
Lita mendelik mendengar perkataan lelaki itu, penjelasan bohong macam apalagi yang ingin disampaikan lelaki itu? Dengan satu gerakan kasar, gadis itu segera menyeka cairan bening yang luruh di pipinya. Sudahlah, untuk apa menangisi orang-orang brengsek seperti mereka, ia membatin pedih.
“Jadi, ini yang lo bilang urusan basket, Dio?” bentak Lita dalam konteks serius, “bermesraan dengan Acha di depan umum?” Lanjutnya, nada sinis masih terselip rapi dalam ucapannya. Bahkan dia tak lagi menggunakan ‘aku-kamu’ saat berbicara dengan lelaki yang notabene─masih─berstatus sebagai kekasihnya itu. Dalih lelaki itu yang─katanya─ada urusan dengan klub basket sehingga membatalkan acara mereka hari ini ternyata bohong belaka. Lelaki itu hanya mencari-cari alasan agar bisa berselingkuh dengan sahabatnya─ups, maksudnya mantan sahabat.
Saat itu, berpuluh-puluh pasang mata masih menatap Lita, Dio, dan Acha dengan berbagai ekspresi. Walau begitu, tak ada satu pun dari puluhan pasang mata itu yang berani bersuara. Pemandangan seperti ini sudah biasa mereka temui, toh ini bukan urusan mereka, sehingga semua kembali seperti biasa, cuek dengan aktifitasnya masing-masing.
Jika Lita dan Dio masih berdebat hebat, maka lain lagi dengan Acha. Gadis itu bergeming sedikit pun, tubuhnya kaku, seolah ada yang memaku tubuhnya di kursi itu. Tapi dalam ke bergemingannya, gadis itu menatap Lita penuh penyesalan dan dia pun ikut menangis dalam diam, tak menyangka Lita akan berpikiran sepicik itu tentangnya. Padahal apa yang Lita lihat tidaklah seperti apa yang dia pikirkan, ada suatu masalah yang menyebabkan Acha harus bertemu Dio. Masalah itu mungkin adalah suatu masalah yang dapat.., ah sudahlah. Acha tak ingin memikirkan hal itu saat ini, lagi pula dia sangsi apakah Lita masih peduli dengannya atau tidak.
Dio menghela nafas, menatap Lita lelah. “Lit, sekali lagi aku tegesin. KAMU SALAH PAHAM!” ujar Dio keras sambil menekan beberapa kata di akhir kalimatnya. Tapi melihat Lita yang malah melengos, lelaki itu tahu bahwa menjelaskan apapun pada gadis itu saat ini adalah percuma.
“Udahlah, gue muak dengan sangkalan lo.” ujar Lita tak kalah keras, emosi sedang menguasai dirinya sehingga ia kalap seperti ini.
Dio melotot, emosinya lama-lama tersulut juga jika Lita tetap seperti ini. “Lit, kamu ini…”
“Oke, lo gak perlu ngomong apapun lagi karena mulai detik ini kita putus, jangan pernah temuin gue lagi,” sela Lita cepat, tatapan matanya yang tajam beralih pada Acha yang masih menunduk. “Dan lo,” Lita mendorong tubuhnya ke dekat Acha, lalu berbisik tajam di telinganya. “Bukan sahabat gue lagi.”
Lantas, setelah itu Lita kembali berdiri tegak dan beranjak keluar dari kafe (setelah beberapa detik melayangkan tatapan penuh kebencian pada Dio dan Acha). Bahkan, Lita terus berjalan dengan tegak, berusaha tak memedulikan teriakan Dio yang memanggil-manggil namanya. Berusaha mengabaikan sebagian isi hatinya yang meminta ia untuk kembali dan mendengarkan pembelaan dari kedua orang itu. Dan berusaha untuk menutupi luka di hatinya yang perlahan menganga lebar.
Kepergian Lita membuat hati Dio mencelos. Kecewa, tak menyangka kepercayaan Lita padanya begitu mudah di patahkan. Lelaki itu mendesah tak kentara, lantas kembali duduk di bangkunya dan menyeruput jusnya lamat-lamat. Ekor matanya lalu melirik Acha yang masih bergeming setelah insiden barusan. Sepertinya, gadis itu benar-benar shock dengan sikap Lita. Apalagi pernyataan yang samara-samar ia dengar tadi, bahwa Lita juga memutuskan hubungan persahabatannya dengan Acha.
“Cha, are you oke?” tanya Dio khawatir sambil melambaikan tangannya di depan wajah Acha.
Acha terkesiap, sambil tertunduk dia menyeka air mata yang mengaliri pipinya dengan lembut. “Maafin gue Di, semua salah gue.” lirih Acha
Dio menggeleng pelan sambil menatap lembut kedua bola mata Acha, lantas menyunggingkan senyuman sebelum berujar, “Bukan salah lo kok Cha, Lita cuma salah paham. Ntar dia juga sadar,”
Tatapan mata Dio yang begitu meyakinkan membuat Acha akhirnya bisa tersenyum tipis. Dio sendiri masih mencoba tersenyum meyakinkan walau sebenarnya dia benar-benar tak yakin Lita mau mendengar penjelasannya nanti.
Lalu, keduanya terdiam. Hening yang menusuk menyelimuti mereka, canda tawa yang sedari tadi tercipta akhirnya sirna seketika. Mereka terhanyut dalam bayang-bayang semu kemarahan Lita. Hanya sesekali terdengar desahan nafas keduanya.
***
Lita membanting tubuhnya di ranjang, pikirannya sekarang benar-benar kacau. Ia tak habis pikir dengan sikap sang kekasih juga sahabatnya yang tega bermain api di belakangnya. Jujur, dia hancur. Pengkhianatan yang dia lihat dengan mata kepalanya sendiri telah mengiris lapis demi lapis hatinya dan mengoyak semua rasa didalamnya. Dan di kamarnya ini, cairan bening itu pun kembali luruh. Lita tak sanggup lagi menampung air itu dalam kelopak matanya, dia tak sanggup lagi berpura-pura tegar seperti di kafe tadi. Dia tak sanggup lagi menutup-nutupi luka yang menganga semakin lebar di hatinya, yang di torehkan Dio.
“Arrgghhhh…..Sial. kenapa gue bisa percaya sama mereka sih? Lita bodoh!” umpat Lita sambil mengacak-acak rambutnya frustasi.
Gadis itu lalu duduk di tepi ranjangnya, dia meremas kuat seprai sampai akhirnya Lita bangkit dan mengacak-ngacak ranjangnya. Dia melempar seprai, guling dan bantal ke sembarang arah. Lita mengamuk, ya, mungkin itulah deskripsi yang tepat untuk saat ini. Setelah mengobrak-abrik ranjangnya, Lita beralih pada meja rias di sampingnya, ia melempar semua barang yang berada disana hingga matanya tertuju pada sebuah foto, foto dirinya dan Dio.
Foto dimana Dio sedang merangkul Lita dan keduanya tersenyum bahagia, foto itu diambil 2 bulan yang lalu saat mereka berdua pergi kepantai. Disana gurat kebahagiaannya tergambar jelas di wajah keduanya, tapi sekarang? Semuanya serasa bertolak belakang.
“Kamu jahat Di, kamu bilang gak akan pernah khianatin aku. Tapi nyatanya? Semua itu bullshit tahu gak?” ujar Lita sambil mengelus foto tersebut, tak sadar sudut bibirnya kini terangkat tipis mengingat kenangan-kenangan indahnya bersama Dio hingga akhirnya…
Prangg… Lita membanting foto tersebut pada dinding hingga hancur berkeping-keping, pecahan kaca dimana-mana. Kamarnya yang semula rapi dan bersih sekarang lebih mirip dengan kapal pecah.
Lita terisak, dia menenggelamkan wajahnya pada kedua lutut yang ditekuk, menangis sejadi-jadinya disana. Dalam hati Lita terus merutuki dirinya sendiri yang menurutnya begitu bodoh. Mau mempercayai dua orang yang sama sekali tak pantas di percayai.
“Lo jahat, lo jahat,” racau Lita tak jelas. Tenggelam dalam tangisnya.
Krekk, pintu kamar Lita di buka seseorang. Lita tak peduli, dia masih duduk sambil menekuk lutut di sudut kamarnya. Bahkan, saking tidak pedulinya Lita sama sekali tak mendongak untuk melihat siapa yang masuk ke kamarnya.
“Ya ampun Lita,” seru orang itu kaget. Dia Viana, kakak Lita satu-satunya. Viana benar-benar tampak kaget dengan perubahan kamar Lita, tak pernah Lita seperti ini sebelumnya.
Viana mendesah pelan, “Lita, lo kenapa sih? Kamar lo kayak kapal pecah tau gak?” omel Viana sambil berjinjit melewati beberapa barang Lita yang menghalangi jalannya, dia berniat menghampiri Lita yang masih menekuk lutut di sudut kamar.
Sedangkan Lita masih saja bergeming mendengar omelan Viana, dia masih sibuk dengan aktifitasnya bahkan ketika Viana sudah berjongkok dihadapannya pun Lita tak mau menganggkat wajahnya. Viana memandang adik kesayangannya lekat-lekat, lalu tangannya mengelus rambut Lita penuh kasih sayang
“Lo kenapa Lit?” Tanya Viana akhirnya, dia tak sanggup lagi menyaksikan Lita seperti ini.
Perlahan, Lita mengangkat wajahnya, matanya terlihat sembap dan sayu, ah, menyedihkan. Gurat kesedihan, keperihan, dan kebencian tergambar jelas dari ekspresi wajahnya.
“Dio Kak,” gumam Lita pelan dan kembali menenggelamkan wajahnya pada lutut.
Viana tak tega, ia merengkuh Lita kedalam pelukannya dan menepuk-nepuk pundak Lita pelan, mencoba menenangkan.
“Cup, cup. Udah jangan nangis Lit. Lo bisa cerita sama gue kok,” ujar Viana pengertian, dia tahu Lita pasti akan bercerita padanya jika sudah merasa baikan. Lita tak menjawab, hatinya masih terasa sakit untuk menceritakan masalah Dio.
***
“Lita tunggu,” Dio meraih tangan Lita yang hendak masuk ke kelasnya.
Hari ini dia memang sengaja menunggu kedatangan Lita untuk menjelaskan semuanya, bahwa yang kemarin hanyalah salah paham antara mereka. Dio berharap sekarang perasaan Lita lebih tenang sehingga bisa mendengarkan penjelasannya dengan baik.
Lita berbalik dan menepis tangan Dio dengan kasar, sorot matanya masih memancarkan kebencian yang dalam pada makhluk di hadapannya.
“Apaan sih lo, gue gak ada waktu buat lo,” decak Lita kasar.
Dio menghela nafas, mencoba tak terpancing emosi lalu memberikan senyuman termanisnya. Lita malah bersikap tak acuh dan berusaha untuk masuk, tapi lagi-lagi Dio menghalangi langkahnya dengan cara membentangkan tangannya.
“Lit, please dengerin aku dulu. Aku perlu jelasin semuanya, yang kemarin cuma salah paham,” ujar Dio dengan sabarnya, yang di sambut cibiran Lita.
“Apa lagi yang mau lo jelasin, semuanya udah jelas kan Di?” sahut Lita menggebu-gebu penuh emosi, dia membuang wajahnya supaya tak menatap mata Dio. Ah, Lita pasti akan luluh tiap menatap mata Dio yang selalu memancarkan kedamaian, hal pertama yang membuatnya jatuh cinta pada Dio.
Dio mulai habis kesabaran melihat sikap Lita, “Gak pake emosi bisa kali ya?”
“Maksud lo? Terserah gue dong, gue mau ngomong sama lo aja udah untung.” balas Lita tak terima, matanya mulai berani menatap mata Dio, menantang.
Dio naik pitam mendengar ucapan Lita, dia balik menatap Lita tajam. “Lit, tadinya gue mau ngomong baik-baik sama lo. Tapi tau gini mending gak usah,”
“So what? Emang gue peduli?”
“Lo egois banget sih? Lo gak taukan kalau kemarin Acha itu cuma…”
“Selingkuh sama lo, gitu?” sela Lita cepat
“Arrgghh……Lo tuh ya,” geram Dio sambil menunjuk-nunjuk wajah Lita, dia benar-benar tak habis pikir dengan sikap Lita yang sungguh kekanak-kanakan. Bahkan tak ada rasa peduli sedikitpun terhadap Acha yang…, ah, lupakan, Lita pasti tak peduli.
“Gue emang egois, kenapa? Baru tahu lo?”
Dio semakin terbakar emosi mendengar perkataan Lita dan ia memutuskan untuk pergi dari situ karena pertengkaran pasti akan terus berlanjut jika tidak ada yang mau mundur.
“Jangan pernah temuin gue lagi, gue benci sama lo!” teriak Lita pada Dio yang semakin menjauh, di kejauhan Dio mengedikkan bahunya tak peduli hingga akhirnya dia menghilang ditikungan dekat kelas X.
Lita menghembuskan nafas berat lalu menyandarkan tubuhnya pada dinding. Dia menggigit bibir bawahnya teringat pertengkarannya dengan Dio barusan. Kalau boleh jujur mungkin Lita merasa─sedikit, ya hanya sedikit─menyesal karena telah bersikap egois terhadap Dio, tapi dia masih terlalu sakit untuk mendengarkan kata-kata Dio.
“Lita?” panggil seseorang tiba-tiba.
Lita terlonjak kaget, matanya beralih menatap ke arah sumber suara yang memanggilnya barusan dan dia segera melotot tajam ketika mengetahui siapa yang memanggilnya, Acha.
“Mau apa lo? Gue gak mau ngomong sama lo,” seru Lita ketus.
Baru saja Acha akan berbicara Lita sudah melengos masuk ke kelasnya dan membanting pintu kelas tersebut dengan kerasnya membuat Acha hanya bisa mengelus dadanya melihat sikap Lita yang masih belum berubah.
“Maafin gue Lit, lo harusnya dengerin gue.” gumam Acha lirih lalu melangkah pergi dari kelas Lita menuju kelasnya.
Sementara di kelas XI IPA 1, semua murid yang sudah datang memandang Lita aneh. Heran mengapa Lita membanting pintu. Tak biasanya Lita membanting pintu seperti itu, tapi lagi-lagi Lita mencoba tak acuh dengan tatapan aneh teman-temannya dan segera duduk di kursinya. Setidaknya ia bisa bernafas lega karena kelasnya dengan Dio dan Acha berbeda.
Tak lama setelah Lita duduk, bel masuk berbunyi. Tapi sepanjang pelajaran Lita tak bisa konsentrasi sama sekali, pikirannya masih di penuhi oleh Dio dan Acha. Ah, sebenarnya Lita ingin sekali mendengarkan penjelasan mereka, tapi egonya terlalu tinggi untuk mendengarkan mereka padahal Viana pun sudah menasehatinya untuk tidak bersikap seperti tadi, tapi yah, semua diluar dugaan. Tampaknya nasihat Viana hilang di telan ego saat dia bertemu Dio dan Acha tadi.
***
Sudah seminggu berlalu sejak pertengkaran hebat antara Dio dan Lita, bahkan hingga saat ini pun mereka masih belum berbaikan. Mereka masih sama-sama mementingkan ego masing-masing.
Dan mengenai Acha, dia sudah berulang kali mencoba bicara pada Lita, tapi selalu gagal karena Lita selalu menghindar darinya. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk menyerah. Semenjak 3 hari yang lalu pula kabar mengenai Acha tak pernah terdengar lagi di sekolah, entahlah, tapi yang pasti Lita tak peduli. Apalagi SMA Lita sedang sibuk menyambut hari ulang tahun sekolah yang ke-15, maka dari itu Lita merasa cukup beruntung karena dia merupakan bagian dari OSIS yang mengurus semuanya. Seperti hari ini, dia dan para pengurus OSIS lainnya sedang mengadakan rapat. Dan yang membuat rapat kali ini berbeda adalah kehadiran Dio. Lita memang sempat kaget, bahkan ekspresi wajahnya terang-terangan menyiratkan rasa tak suka yang dalam. Tapi sudahlah, Lita mencoba tak mengacuhkan kehadiran Dio dengan memilih mendengarkan pengarahan baik-baik dari ketua OSIS tahun ini, Guntur.
“Oke, sebelum rapat di mulai gue sengaja ngundang Dio karena dalam pesta ulangtahun kali ini kita kekurangan panitia sehingga harus menambah dari luar dan gue milih Dio. Kalau ada yang keberatan, silakan acungkan tangan,” ucap Guntur membuka suara sebelum rapat di mulai, semua anggota OSIS saling berpandangan mempertimbangkan usulan Guntur yang memasukkan Dio sebagai tambahan panitia, tanpa izin anggota OSIS yang lain sebelumnya.
Mereka sebenarnya tidak heran mengapa Guntur memilih Dio─tentu saja karena Dio adalah sahabat baiknya─lalu semuanya mengangguk setuju kecuali Lita, dia ingin sekali menolak tapi menurutnya itu mustahil karena toh dia pasti kalah suara.
Guntur mengulum senyuman, “Kalau semua setuju, rapat kita mulai. Seperti tahun-tahun sebelumnya, tahun inipun kita akan merayakan hari jadi sekolah kita. Kalau tahun lalu kita merayakannya dengan lomba gimana kalau tahun ini kita adain pesta kostum?”
“Menurut gue seru juga, tapi gimana kalau kita juga ngadain lomba dansa disana dan pemenangnya kita kasih voucer gratis makan di kafe. Yang minat pasti banyak,” usul Stev memberikan pendapatnya yang sukses mendapat anggukan setuju dari anggota OSIS lainnya.
Rapat pun terus berlanjut hingga akhirnya diputuskan bahwa akan diadakan pesta kostum dengan beberapa macam lomba berpasangan di dalamnya.
“Keputusan udah final.. Berarti yang urusin masalah dekorasi Stev, Angga, Manda, dan Rizky. Sisanya persiapan acara gue serahin sama Oliv, Fira, Ray dan Fauzy. Buat makanan gue serahin sama Dio dan Lita, sedangkan gue sama Nisya ngurusin masalah biaya dan lain-lain. Yang udah tahu tugas masing-masing bisa keluar dari ruangan kecuali Nisya, Ray, Stev dan Fauzy.” tegas Guntur membuat yang sudah tak berkepentingan segera keluar, tapi tidak dengan Dio dan Lita, walaupun mereka tak di minta tetap tinggal tapi pembagian tugas yang di berikan Guntur membuat mereka tetap tinggal untuk protes.
“Gue gak mau ngurusin makanan sama dia, gue gak setuju.” protes Lita tak terima, dia mendelik ke arah Dio.
“Heh, gue juga gak mau kerja bareng lo,” sahut Dio balas mendelik ke arah Lita.
“Gue gak mau terima alasan apapun dari kalian, keputusan gue udah bulat gak bisa di ganggu gugat lagi,” tegas Guntur yang sukses membuat Dio dan Lita menganga.
“Tapi Tur, gue gak mau sama Lita. Dia egois, mana mungkin dia gue bisa kerja sama bareng dia,”
“Eh, elo juga egois. Jadi apa bedanya elo sama gue?”
“Elo,”
“Elo,”
“Elo,”
“Elo,”
Guntur naik pitam melihat Lita dan Dio malah berdebat tak penting. “Stop, gue gak mau tahu kalian ada masalah apa. Yang jelas gue mau semua beres sebelum hari jadi sekolah kita. Kalian berdua childish banget sih, profesional dikit bisa kan?”
“Pokoknya gue gak mau,” seru Lita keras kepala
“Udahlah Tur, kalau Lita gak mau sama Dio biar gue aja yang sama dia,” bela Nisya yang sukses membuat Lita dan Dio menyunggingkan senyuman lega.
“Nggak bisa, keputusan gue udah final. Gue gak peduli kalian saling benci sekalipun, yang penting semua harus beres. Gue gak suka anggota OSIS sifatnya childish,” semuanya diam. Guntur lalu menatap Dio tajam, “terutama lo Di, walau pun lo bukan anggota OSIS tapi gue udah memberikan kepercayaan ini sama lo.”
“Udahlah Di, terima aja napa. Sebelum si Guntur ngamuk,” bisik Ray di sebelah Dio, Dio merengut tapi akhirnya mengangguk pasrah
“Oke, gue mau,”
“Lo?” Lita memandang satu persatu orang diruangan itu sampai akhirnya dia mengangguk pasrah. Memangnya apa lagi yang bisa ia lakukan selain pasrah?
“Nah gitu dong, kalian boleh keluar,”
“Eh, ngusir nih?” cibir Dio
“Gue masih ada rapat, udah sana. Bicarain tuh masalah makanan, yang enak-enak,”
Akhirnya sambil cemberut mereka keluar dari ruangan OSIS tersebut. Sepanjang perjalanan ke kelas keduanya sama-sama bungkam. Lita? Jangan ditanya, dia masih kesal dengan acara pengkhianatan Dio walau sebenarnya hatinya masih belum bisa melupakan lelaki yang kini berada disampingnya. Dio pun sama, dia sebenarnya masih sangat menyayangi Lita, tapi dia ingin memberi sedikit pelajaran pada Lita untuk menghilangkan sikap egoisnya dan agar Lita bisa lebih percaya pada dirinya juga Acha yang sekarang… dalam masalah.
Lama dalam diam, Lita akhirnya menghela nafas panjang.
“Gue tunggu lo di rumah gue jam 4 sore. Kita hunting makanan,” seru Lita kemudian dengan nada ketus sambil mempercepat langkahnya menuju kelas.
Dio memandang punggung Lita yang semakin menjauh dengan tatapan bingung, tapi tak lama, bibirnya mengulum senyum. Setidaknya dia mungkin bisa memperbaiki hubungannya dengan Lita dan membicarakan masalah Acha dengan baik-baik.
***
Sudah setengah jam berlalu tapi Lita belum selesai berpakaian juga, sedari tadi dia terus memilah-milah pakaian yang cocok untuk pergi bersama Dio sore ini. Lita bahkan sampai mengeluarkan semua koleksi pakaiannya dari dalam lemari, tapi tak satupun yang menurutnya cocok. Lita sadar bahwa dia sangat berlebihan, dia juga sadar kali ini dia pergi bersama Dio hanya sebagai satu tim, tapi entah kenapa dia ingin sekali tampil sempurna di depan Dio.
Lita menipiskan bibirnya, sepertinya dia mulai menyadari sikapnya yang terlalu egois dan kekanak-kanakan. Lalu sedetik kemudian Lita memejamkan matanya sejenak, merasa bahwa apa yang Viana katakan tempo hari mulai meresap di pikirannya. Tampaknya Lita mulai bisa menelaah setiap kata-kata bijak Viana.
Tiinn…Tinn, suara klakson motor membuat Lita terenyak dan mengambil pakaian seadanya. Dia memilih celana jins biru selutut dengan atasan kaos spongebob yang di padukan dengan cardigan biru, setelah selesai Lita pun mematut dirinya di cermin sekilas lalu bergegas menyambar tas kuningnya lalu turun ke bawah.
“Kak, Lita pergi dulu ya.” pamit Lita pada kakaknya yang sedang asyik menonton TV di temani sang kekasih. Kevin.
Viana menoleh, mengangkat sebelah alisnya lalu tersenyum menggoda. “Mau kemana Lit? Tumben rapi bener,” sindir Viana melihat penampilan Lita, Lita hanya tersenyum tipis mendengar celotehan kakaknya tersebut.
“Di jemput Dio ya Lit? Ciee yang udah baikan,” Kevin ikut meledek.
Selain berstatus sebagai kekasih Viana, Kevin juga merupakan kakak sepupu dari Dio yang selalu menjadi tempat curhat Dio tentang cinta. Jadi otomatis, apapun hal yang bersangkutan dengan Dio dan Lita dia akan tahu.
Lita merengut, “Ih apaan sih Kak Kevin, siapa juga yang baikan. Gue jalan sama Dio juga kepaksa,”
Viana dan Kevin saling pandang lalu terkekeh pelan melihat sikap jaim Lita. Padahal, jelas-jelas sikap Lita tengah menunjukkan dia senang bisa jalan dengan Dio, tapi gadis itu masih saja berusaha mengelak.
“Udahlah Lit, gak usah jaim gitu. Lagian omongan Kakak benerkan. Dio gak mungkin selingkuh sama Acha,”
Lita melengos, kali ini dia memilih tak memedulikan kata-kata kakaknya. Tapi dalam hati Lita mengakui kalimat pertama yang Viana ucapkan memang benar adanya, dia terlalu jaim untuk mengakui sesuatu, apalagi hal-hal yang menyangkut Dio.
“Lit, oleh-olehnya.” teriak Viana sebelum Lita benar-benar keluar dari rumah.
Lita menoleh dan mengacungkan jempolnya sambil tersenyum manis.
“Sori gue lama,” ucap Lita dingin pada Dio yang masih bertengger di atas motornya. Dio menoleh, seulas senyum manis tercipta dari bibirnya.
“Gak papa, dari dulu lo emang ngaret.” Sahut Dio santai. Lita terpana sekejap.
“Jalan sekarang?” tanya Dio kemudian memakai helmnya, mengangsurkan sebuah helm pada Lita lalu mulai menstarter motornya.
Diam-diam Lita tersenyum. Dia sangat senang bahwa ternyata Dio masih sangat mengingat sifatnya walaupun yang Dio ingat rata-rata sikapnya yang tak baik.
“Mau kemana nih?” Tanya Dio ketika motornya sudah cukup jauh meninggalkan rumah Lita.
“Terserah lo, yang penting cateringannya murah dan makanannya enak.” jawab Lita sekenanya, dia tak mau ambil pusing soal makanan itu. Sebenarnya jika boleh memilih Lita akan lebih senang kalau dia di tugaskan untuk mendekor aula daripada mencari makanan seperti ini.
Dio tertegun memikirkan tempat yang sesuai dengan keinginan Lita hingga akhirnya dia tersenyum dan melajukan motornya lebih cepat membuat Lita terpaksa harus berpegangan pada Dio.
“Gila lo, gak kira-kira kalau ngebut. Gimana kalau gue jatuh,” omel Lita ketika motor Dio telah menepi di tempat parkir sebuah restoran. Tangan Lita bergerak cepat melepas helm sebelum dia turun dari motor Dio sambil mengelus-ngelus dadanya, masih shock. Dio yang baru saja melepas helmnya langsung memberikan cengiran khasnya pada Lita yang misuh-misuh tak jelas.
“Sorry, sorry. Tapi lo gak jatuh kan? Yaudah, masuk yuk,” kata Dio santai dan langsung mendahului Lita masuk ke dalam restoran tersebut.
Lita yang masih diam di tempat akhirnya mengikuti langkah Dio tapi langkahnya kembali terhenti melihat restoran yang dipilih Dio. Senyum Lita pun merekah melihat papan nama yang bertuliskan “Pelangi” di atas restoran tersebut. Dia lagi-lagi terpana.
Pelangi adalah restoran berisi banyak kenangan─antara dirinya dan Dio─yang sudah hampir satu bulan ini tidak Lita kunjungi, padahal dia sangat senang dengan makanan dan semua hal di restoran tersebut. Restoran yang menyimpan banyak kenangan indah juga saksi bisu ketika Dio menyatakan cintanya pada Lita.
“Lit, buruan.” seru Dio yang sadar bahwa Lita tak mengikuti langkahnya.
Lita tersentak dari lamunannya, dengan senyum yang masih terkembang ia berlari-lari kecil menghampiri Dio.
Selama di dalam mereka terus memilih-milih makanan dan minuman, setelah kurang lebih satu jam mereka sudah memutuskan dan memesan semuanya untuk tanggal 5 Juli nanti. Kini mereka sedang duduk di salah satu meja dan menikmati makan sore, hening. Mereka berdua sama-sama gugup, canggung rasanya kembali makan berdua seperti itu, apalagi suasana restoran yang dari dulu tak pernah berubah, tetap dengan suasana romantisnya. Lita menunduk sambil terus memutar-mutar spaghettinya tak berselera, Dio pun begitu, tapi sesekali dia masih sering melirik ke arah Lita.
“Eh,” Dio dan Lita tersentak ketika tangan mereka saling bertumpuk karena ingin mengambil saus secara bersamaan.
Lita mendongak, menatap sang pemilik tangan yang tak kunjung melepaskan tangannya dari tangan Lita. Pandangan mereka beradu, membuat keduanya diam tak berkutik. Sama-sama memandang tatapan yang sudah seminggu ini mereka rindukan. Terhanyut dalam dunia yang seolah hanya ada mereka didalamnya. Larut dalam kehangatan tatapan yang membuat keduanya pertama kali saling mencintai.
Takkan selamanya
Raga ini menjagamu
Dio dan Lita sama-sama terkesiap saat tiba-tiba saja ponsel Dio berdering menandakan bahwa baru saja ada sebuah panggilan yang masuk. Tangan keduanya pun segera terlepas dan hal itu cukup membuat pipi Lita merona, ia kembali menunduk.
“Sori…” ucap Dio gugup. Lelaki itu segera merogoh ponselnya di saku celananya lantas menerima panggilan tersebut.
“Halo, ya. Apa? Acha? Baik, saya segera kesana.” wajah Dio mendadak panik setelah pembicaraan singkat tersebut.
Lita yang masih menunduk kini mengangkat kepalanya dan menatap Dio tajam, ah, baru saja rasanya dia ingin memercayai Dio sekarang Dio sudah bersikap seperti ini lagi membuat Lita kembali harus menelan kekecewaannya.
“Sori, Lit. Acha…”
“Ya,ya,ya. Gue tahu, urusin aja selingkuhan lo itu,” sela Lita ketus.
Dio menatap Lita tak percaya. Pikirannya tentang sifat Lita yang mungkin berubah kini harus musnah melihat reaksi Lita, Dio rasa ia sudah cukup menyimpan semuanya sendiri.
“Lit, please dengerin gue. Lo salah paham tentang hubungan gue dan Acha. Acha itu sakit parah, dia sekarat,” seru Dio menggebu-gebu.
Mata Lita melotot tak percaya, “Maksud lo?” tanyanya mulai khawatir
“Denger, waktu itu Acha cuma mau minta saran sama gue gimana caranya kasih tahu lo tentang penyakitnya yang sudah sangat parah. Dia takut lo sedih dan gak terima, makanya dia nyamperin gue. Dan lo, lo malah salah paham dan ngebuat dia drop dengan semua tuduhan lo. Dan sekarang, sekarang dia sedang koma dirumah sakit. Puas lo?” seru Dio panjang lebar menjelaskan semuanya.
Tak terasa setetes air bening pun meluncur dari sudut mata Lita tanpa bisa ia bendung mendengar pengakuan Dio. Dia merasa begitu bodoh telah mementingkan egonya, dia bersalah karena tak memercayai dua orang yang disayanginya. Dia..dia menyesal telah tak memedulikan Acha.
“Lo.. bohongkan?” Tanya Lita memastikan dengan suaranya yang mulai bergetar.
“Gue serius,” jawab Dio dengan nada melembut sembari menyeka air mata Lita yang terus berjatuhan, Lita terguncang. Dio tersenyum miris, lantas menyambung ucapannya. “Belum terlambat Lit, kita kerumah sakit sekarang,”
***
Lita dan Dio melangkah cepat melewati koridor-koridor rumah sakit yang lengang akan pengunjung. Langkah mereka terkesan tergesa-gesa dengan nafas yang memburu. Sampai akhirnya mereka tiba di sebuah kamar, Dio dan Lita dapat mendengar isakan tangis. Orang ramai berkumpul di depan kamar yang sebelumnya tak pernah Lita masuki. Air matanya sudah meluncur deras sejak tadi, dia tak bisa membendungnya dan memang tak ingin membendungnya.
Dengan perasaan cemas, Dio dan Lita menyelinap di antara kerumunan orang-orang tersebut. Seorang gadis manis terbujur kaku disana, pucat, wajahnya pucat. Lita menjerit, tak kuasa melihat siapa yang kini ada di hadapannya. Acha. Lita histeris, dia memegang tangan Acha tapi segera di lepaskannya kembali, dingin.
“Acha, ini Lita. Maafin Lita Cha, maaf Lita gak percaya sama Acha,” ucap Lita terisak, dia menutup wajahnya dengan kedua tangan hingga akhirnya Lita merasakan seseorang menyentuh pundaknya. Lita berbalik, dan menatap orang tersebut nanar.
Sementara Dio─orang yang baru saja menyentuh pundaknya─merengkuh Lita kedalam pelukannya mencoba menenangkan gadis tersebut (walaupun hasilnya sia-sia karena tangis Lita tak kunjung berhenti, malah semakin menjadi seiring dengan di tutupnya wajah Acha dengan kain berwarna putih). Pandangan Lita mengabur, semakin lama semakin kabur hingga akhirnya ia tak bisa merasakan apapun lagi, semuanya gelap.
****
Hari ini adalah hari ulangtahun sekolah Dio dan Lita. Sekarang alunan musik yang merdu mulai bergema di seluruh ruangan aula SMA tersebut. Siswa/I yang berada di dalamnya pun mulai asyik dengan pasangan masing-masing. Ada yang bersenda gurau, mengobrol-ngobrol ringan dan sebagainya. Malam ini mereka semua terlihat bahagia dengan kostum masing-masing, semuanya larut menikmati indahnya pesta hari ulangtahun sekolah mereka.
Tapi tampaknya tak semua orang menikmati pesta malam ini, salah satunya adalah seorang gadis manis yang memakai gaun panjang berwarna putih dengan rambut panjang terurai yang hanya dihiasi bando─bak Cinderella. Ya, dialah Lita. Gadis itu masih di rundung duka, dia masih tak bisa menerima kepergian Acha yang menurutnya begitu cepat─apalagi Lita belum sempat mengucapkan maaf pada Acha yang kini tenang di alamnya. Ditangannya dia menggenggam sebuah minuman yang hanya dia putar-putar dengan tidak selera. Matanya menatap lurus kepada teman-temannya yang terlihat begitu bahagia, tapi pandangannya kosong. Lita terhanyut dalam dunianya sendiri hingga tak menyadari sesosok lelaki tampan─dengan setelan jas putih yang menawan-baru saja memasuki aula tersebut dan berjalan menghampirinya. Orang itu kemudian duduk di samping Lita tanpa gadis itu sadari, dia menatap Lita sebentar lalu beralih pada panggung yang mulai di isi pembawa acara. Dialah, Dio.
“Lit, sudahlah. Acha pasti udah maafin lo kok, lagian dia udah tenang di alam sana,” serunya tiba-tiba membuat pikiran Lita yang sedang menembus dimensi waktu kembali terhempas ke dunia nyata.
Lita mendongak dan menatap orang itu dengan seulas senyum tipis di bibirnya. “Gue tahu Di, cuma gue masih butuh waktu buat menerima ini semua,”
Dio menghela nafas pelan, memandang Lita sekilas lantas ikut tersenyum. “Tapi jangan kelamaan ya,”
Lita tak menjawab. Lalu, keduanya terdiam. Hening menyelimuti. Mereka, sama-sama tak tahu harus berbicara apa sebelum akhirnya Dio kembali bersuara.
“Eh, lo mau disini? Kita ke tengah yuk,” ajak Dio memecah keheningan
Lita menggeleng, “Lo aja Di, gue mau disini.” jawabnya, tak lupa menyelipkan seulas senyum di wajah manisnya.
“Ya udah, gue nemenin lo deh,” Lita hanya mengangguk sekilas. Matanya kembali menatap lurus pada panggung, Dio mengikuti.
“Oke, sekarang kita masuk pada lomba dansa. Yang sudah terdaftar silakan masuk ke tengah aula dan ikuti musik,” ujar seorang MC yang membuat bergerombol-gerombol orang segera berdiri di tengah aula. Iringan musik merdu mulai mengiringi setiap langkah pasangan-pasangan tersebut.
Take my hand, take a breath
Pull me close and take one step
Keep your eyes locked on mine,
And let the music be your guide.
Dio melirik Lita yang tampak asyik menikmati iringan musik dan mengamati beberapa pasang yang sedang berdansa, perlahan tangannya mencari tangan Lita dan menggenggamnya.
Won't you promise me (now won't you promise me, that you'll never forget)
We'll keep dancing (to keep dancing) wherever we go next
It's like catching lightning the chances of finding someone like you
It's one in a million, the chances of feeling the way we do
And with every step together, we just keep on getting better
So can I have this dance (can I have this dance)
Can I have this dance
Sempat kaget karena tangannya tiba-tiba di genggam tanpa izin, Lita menatap Dio penuh tanda tanya, tapi ketika senyum Dio merekah Lita pun hanya bisa terdiam, membiarkan kehangatan yang menimbulkan debaran di hatinya tersalur lewat genggaman kokoh jemari Dio.
Take my hand, I'll take the lead
And every turn will be safe with me
Don't be afraid, afraid to fall
You know I'll catch you threw it all
And you can't keep us apart (even a thousand miles, can't keep us apart)
Cause my heart is (cause my heart is) wherever you are
Lagu mengalun semakin merdu. Dio berdiri, tatapan matanya seolah mengajak Lita berdansa. Lita menggeleng tapi tangan Dio dengan cepat menariknya ke tengah aula. Lita merengut, dia merasa Dio terlalu memaksanya. Tapi akhirnya dia mengikuti alunan musik yang mengiringi dan mulai ikut berdansa, bersama Dio.
Dio melangkahkan kakinya ke kiri dan ke kanan mengikuti alunan musik, Lita pun begitu. Awalnya, mereka merasa kikuk, tapi semakin lama langkah mereka semakin terarah dan akhirnya keduanya larut dalam dansa mereka. Sebuah dansa yang indah dari pasangan yang tengah berusaha untuk merajut asmara kembali.
It's like catching lightning the chances of finding someone like you
It's one in a million, the chances of feeling the way we do
And with every step together, we just keep on getting better
So can I have this dance (can I have this dance)
Can I have this dance
Tiba-tiba saja Dio berlutut di hadapan Lita membuat semua mata kini memerhatikan mereka, diiringi alunan musik yang tetap terdengar. Lita menatap Dio heran, tapi Dio malah tersenyum. Lelaki itu menggenggam tangan Lita semakin erat lalu dia mengeluarkan sesuatu dari balik jasnya, sebuah cincin. Lita terperangah, walau dia bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya, tapi dia tetap saja gugup.
“Lit, would you be my girl, again?” Tanya Dio membuat keringat dingin mengalir di pelipis Lita.
Suasana yang semula syahdu dan damai berubah ricuh, semua orang yang menyaksikan meneriaki mereka berdua dengan teriakan menggoda.
“Terima..terima..terima,” teriak mereka dengan kompaknya.
Dio menatap Lita dengan tatapan berharap. Lita yang semula terdiam kini tersenyum dan mengangguk perlahan. Ekspresi Dio berubah senang, dia segera melingkarkan cincin tersebut di jari manis Lita, mengecupnya dan kembali berdiri. Semuanya semakin ricuh melihat keromantisan Dio dan Lita, tapi toh mereka tak peduli.
Guntur tertawa geli melihat sikap Dio, “Ciee, romantisnya sobat gue,” cibirnya.
Dio sempat menoleh pada Guntur lantas memeletkan lidahnya, “Syirik aja lo,”
Oh no mountains too high enough, oceans too wide
Cause together or not, our dance won't stop
Let it rain, let it pour
What we have is worth fighting for
You know I believe, that we were meant to be
(chorus)
It's like catching lightning the chances of finding someone like you (like you)
It's one in a million, the chances of feeling the way we do (way we do)
And with every step together, we just keep on getting better
So can I have this dance (can I have this dance)
Can I have this dance
Can I have this dance
Can I have this dance
(Can I have this dance-Vanessa Hudgens-OST High School Musical 3)
Alunan musik yang masih bergema membuat semuanya kembali pada kegiatan dansa mereka hingga akhirnya alunan musik terhenti. Kini tengah aula─yang tadi dipakai berdansa─mendadak kosong. Semuanya menyingkir ke pinggir dengan harap-harap cemas menunggu keputusan dewan juri yang tengah berdiskusi.
Sementara pasangan-pasangan lain tengah menanti pengumuman, Lita dan Dio malah duduk-duduk santai di taman sekolah sambil menatap indahnya langit malam yang bertabur bintang.
Senyum hangat tak pernah sedetik pun pudar dari wajah Dio, dia sangat senang karena Lita ternyata masih menyayanginya dan mau menerimanya kembali. Lelaki itu menoleh pada Lita lalu berujar pelan. “Thanks for giving me the opportunity,”
Lita balas menoleh ke arah Dio, lantas tersenyum manis. “With pleasure,” jawabnya, “Dear.” tambah Lita malu-malu.
Dio terkekeh, lalu dengan satu gerakan dia merangkul pundak kecil Lita. “Aku gak mau kamu salah paham lagi, mulai sekarang aku mau kamu percaya seutuhnya padaku,”
Lita mengangguk, tapi tiba-tiba saja dia meringis mengingat bahwa ia telah menanggalkan kepercayaannya pada Dio beberapa waktu yang lalu. Lebih tepatnya pada Dio dan Acha. Ah, Acha. Penyesalan kembali menyergap Lita kala mengingat Acha.
“Aku udah bilangkan, Acha pasti maafin kamu.” bisik Dio lembut seolah mengerti jalan pikiran Lita.
Lita terkesiap, memandang Dio heran. Kok lelaki ini tau apa yang sedang di pikirkannya sih? “Kok tau?”
Dio terkekeh, melepas rangkulannya lantas menepuk puncak kepala Lita penuh sayang. “Tau aja. Eh, mulai sekarang janji deh sama aku,”
“Janji apa?”
“Promise to fully trust me no matter what happens later,”
Lita mengangguk, “Lagian, aku kapok gak percaya sepenuhnya sama kamu,” setelah itu, Lita mendekatkan bibirnya ke telinga Dio. “And last, I don’t want to lose you again.”
“Me too,” Senyum Dio melebar, dia mendekatkan tubuhnya hendak memeluk Lita kala sebuah suara menganggu atmosfir romantis yang─sudah dengan susah payah─berusaha ia bangun.
“Di, Lit,”
Dio mendelik, Guntur rupanya. “Apaan sih lo? Lagi romantis-romantisnya juga,”
Guntur tergelak sebentar, tapi tak lama ia tersenyum menggoda, “Kalian menang tuh, hadiahnya gak mau di ambil?”
“Menang apaan sih?” kali ini Lita yang bersuara
“Lomba dansalah,” jawab Guntur seadanya
Lita dan Dio mengernyit bingung, rasa-rasanya mereka tak pernah mendaftarkan diri untuk mengikuti lomba dansa itu. Selang semenit kemudian mereka dengan kompak menatap tajam Guntur.
Guntur cengengesan, tahu apa arti tatapan Lita dan Dio. “Hehe, gue yang daftarin kalian,” melihat tatapan keduanya masih sama, Guntur buru-buru menambahkan. “Tapi bukan berarti gue yang ngatur supaya kalian menang juga. Juri-juri yang mutusin kalin menang, karena adegan romantis di dansa tadi,”
Tatapan tajam mereka memudar. Dio dan Lita saling berpandangan lalu tertawa bersama, tak menyangka akan memenangkan lomba yang sama sekali tak mereka minati.
“Wah, jail lo.” komentar Dio pelan
“Haha, tapi masa sih kita yang menang? Iya deh. Kita kesana”
Kekesalan Dio akan kejahilan tak terduga yang di buat Guntur menguap mendengar kabar tak terduga yang di bawa sahabatnya itu, dia mengulurkan tangannya yang kemudian dia sambut Lita dengan senang hati. Mereka berjalan kembali ke aula dengan tangan saling bertautan. Dengan hati yang kembali bersatu di saksikan bintang dan bulan. Dan dengan senyuman kebahagian yang seolah tak pernah lelah tersungging di wajah keduanya.
-SELESAI-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar