Sesosok tubuh dengan mata sembapnya berlutut disebuah pusara baru yang masih basah. Wajahnya sendu, kentara sekali bahwa sosok itu sangat kehilangan seseorang yang kini ada didalam tanah. Tangan kecilnya perlahan menggapai nisan bertuliskan Ashifa Mutiara itu lalu mengelusnya.
"Shifa," panggil sosok itu yang ternyata seorang gadis, suaranya sangat parau, "kenapa kamu tinggalin aku?"
Setitik air mata kembali terbit disudut matanya, dan gadis itu membiarkannya turun perlahan membasahi pipinya.
"Mana janji kamu Fa?" suaranya semakin lirih, "kamu bilang bakal selalu ada buat aku. Kamu bilang bakal nemenin aku yang cuma sendiri di dunia ini."
Tatapan gadis itu tiba-tiba mengeras, suaranya meninggi.
"Kenapa kamu nggak tepatin janji kamu Fa? Kenapa?!" teriaknya memecah keheningan di pemakaman itu. Gadis itu menarik dirinya menjauh dari pusara Shifa--sahabat satu-satunya, kakinya dilipat dan dia membenamkan wajahnya dilipatan kakinya itu. Merenungi mengapa takdir senang sekali mempermainkannya.
10 tahun yang lalu Ibu kandungnya meninggal akibat kecelakaan. 3 tahun yang lalu ayahnya menikah lagi dengan seorang janda dengan dua anak, hingga ia mempunyai kakak dan adik tiri. 6 bulan yang lalu ayahnya meninggal akibat serangan jantung, dan setelah itu Ibu tirinya mulai bersikap kasar padanya. Beliau tak pernah memperlakukannya dengan baik lagi, setiap hari kerjaannya hanya menyuruh Dilla─gadis itu─mengerjakan serangkain pekerjaan rumah sendirian. Dengan kata lain Dilla dijadikan pembantu sejak ayahnya meninggal. Klise memang, tapi itulah yang terjadi di hidup Dilla.
Dia dapat bertahan hidup 6 bulan belakangan ini pun berkat Shifa, sahabatnya itu yang telah membuat ia mau terus bertahan walau dengan berbagai macam siksaan dari Ibu tirinya. Shifa pernah berjanji akan selalu disamping Dilla. Menemani gadis itu apa pun yang terjadi padanya. Dan Dilla percaya.
Tapi sekarang Shifa pergi. Meninggalkan janji semunya yang tak akan pernah di gapai Dilla. Dilla benci harus kehilangan. Ia benci saat sadar di dunia ini dia benar-benar sendiri.
Gadis itu perlahan mendongakan kepalanya menatap pusara Shifa, ada tatapan kemarahan yang bercampur dengan kepedihan di matanya.
"Kamu bohong! Sahabat macam apa kamu?" katanya pada angin yang berembus. "Aku nggak bakal pernah mau punya sahabat lagi! Sampai kapan pun."
***
"Babu, darimana aja lo?"
Dengan wajah lelah, Dilla menoleh ke asal suara. Di sofa ruang keluarga kini telah duduk kakak tiri dan adik tirinya. Gadis itu menghela napas berulang-ulang lalu menutup pintu masuk dengan pelan.
"Halah, dia paling abis dari makam sahabatnya yang udah mati itu Kak." celetuk adik Dilla santai, "sekarang babu kita kasihan ya kak, nggak punya temen lagi." sindirnya kemudian sangat pedas.
Dilla tak menghiraukan perkataan kakak dan adiknya, gadis itu melangkah menuju kamarnya dengan lesu, bahkan teriakan kakaknya pun tak ia acuhkan.
"Heh, babuuu... Baju gue belum di setrika..."
***
Dua hari kemudian.
Dilla melangkah menuju kelasnya, tatapannya dingin, bibirnya yang biasanya tersenyum sekarang terkatup rapat. Tak ada lagi sapaan-sapaan ramah yang biasanya ia lontarkan pada orang-orang yang di kenalnya.
"Eh, denger-denger Shifa meninggal ya?"
Langkah Dilla terhenti mendengar bisik-bisik beberapa siswa yang berada beberapa meter dari tempatnya berdiri, tapi tak lama gadis itu kembali melangkah sambil mencoba menulikan telinganya walau ternyata bisik-bisik itu tetap terdengar dibawa angin.
"He-eh, katanya gara-gara itu si Dilla jadi berubah banget."
Siswi di sebelahnya terkejut.
"Hah? Berubah gimana?"
"Dilla katanya jadi pendiem, judes, dingin, ya pokoknya bukan Dilla banget deh."
"Wah, kasian banget ya si Dilla."
Dilla tak mendengar perkataan selanjutnya karena ia sudah terlanjur masuk ke dalam kelas. Gadis itu menaruh tasnya di bangku paling pojok lantas duduk. Tak berapa lama ia sudah tenggelam dalam dunianya sendiri. Dilla terpekur dalam bukunya, sama sekali tak peduli dengan keramaian dan sapaan yang datang untuknya.
***
"Kamu ini! Kerja yang bener. Masa nyapu aja masih banyak debunya begini hah!"
Dilla bersimpuh dilantai, sapu yang semula di pegangnya terempas jauh akibat di tendang oleh Ibu tirinya. Gadis itu sama sekali tak melawan, ia hanya terdiam mendengarkan semua cercaan dan makian yang didapatkannya dari Ibu tirinya itu. Dilla menunduk memandangi lantai, membiarkan wanita yang berstatus sebagai Ibunya itu meracau penuh emosi. Dia sudah terlanjur terbiasa dengan apa yang hari ini Ibunya berikan.
Tapi diamnya Dilla malah membuat Ibunya semakin marah. Wanita itu menarik rambut Dilla kasar, membuat Dilla tersentak dari lamunanannya. Gadis itu mengerang sambil mendongak.
"Kalau Ibu ngomong itu dengerin!" bentaknya sebelum melepaskan jambakannya. "Sudah, cepat selesaikan tugas kamu dan kerjakan PR adikmu!" katanya kemudian sambil berlalu.
Dilla kembali tertunduk, air matanya mengalir tanpa bisa ia cegah. Gadis itu teringat Shifa.
Biasanya, disaat seperti ini Shifa selalu datang dan menenangkannya. Tapi sekarang, apa Shifa masih bisa menenangkannya?
Shifaaa, aku nggak kuat kalau nggak ada kamu. Jerit Dilla dalam hati.
***
Jam istirahat kali ini suasana di kantin begitu ricuh, lebih-lebih dari biasanya. Dilla─yang hari ini menyempatkan ke kantin karena sangat lapar--mengeluh melihat sesaknya kantin. Gadis mungil itu berusaha menerobos kerumunan anak-anak dan berjalan menuju gerobak siomay yang dulu menjadi langganannya.
"Mang, siomaynya satu porsi ya." ujar Dilla lirih, pedagang yang sedang sibuk melayani pesanan siswa lain itu menoleh, sedikit terkejut melihat Dilla.
"Eh, Neng Dilla. Kemana aja neng? Udah dua bulan neng nggak beli siomay amang." tutur pedagang itu sambil tersenyum ramah.
Dilla tersenyum tipis, nyaris tak terlihat, ia sedikit canggung mendengar penuturan tukang siomay langganannya itu.
Sadar dengan perubahan raut wajah Dilla, pedagang itu buru-buru berkata lagi, "Maaf neng, ini siomaynya." Pedagang itu mengangsurkan sepiring siomay ke arah Dilla.
Dilla merogoh sakunya, mengeluarkan selembar uang lalu mengambil piring dari tangan si pedagang.
"Makasih mang," setelah mengucapkan dua kata itu Dilla segera mencari tempat duduk yang kosong.
Gadis itu harus rela berdesak-desakan dengan beberapa siswa lainnya hanya demi sebuah meja kosong didekat pintu masuk kantin. Dan setelah berjuang, Dilla akhirnya bisa duduk manis menikmati siomay yang dipesannya. Gadis itu tetap 'anteng' dengan siomaynya walau telinganya jelas-jelas menangkap beberapa pembicaraan tak sedap siswa/i di sekitar yang menyangkut dirinya.
Tak berapa lama gadis itu mendongak begitu sadar ada yang duduk di hadapannya. Keningnya mengerut melihat orang itu. Seorang siswi cantik yang berjilbab. Tapi anehnya siswi itu terasa asing dimatanya. Rasa-rasanya Dilla tak pernah melihat siswi itu di sekolah sebelumnya. Atau, dia saja yang terlalu cuek hingga tak sadar?
"Assalammu'alaikum Dilla." sapa siswi itu sambil tersenyum manis, Dilla mengerutkan keningnya begitu sadar siswi dihadapannya ini tahu namanya.
"Aku boleh duduk disini kan?" tanya siswi itu kemudian dengan sopan, mengaburkan semua bayangan Dilla.
Dengan linglung, Dilla mengangguk ragu. Masih bingung siapa yang ada dihadapannya ini.
"Sori, darimana kamu tahu nama aku?" tanya Dilla datar. Gadis itu kalah oleh rasa penasarannya yang begitu besar walau ia sudah mencoba mengabaikannya.
Gadis dihadapannya itu tersenyum ramah pada Dilla. "Siapa yang nggak tahu kamu di sekolah ini?" katanya balik bertanya, membuat Dilla mengernyit.
"Oke, oke. Ganti pertanyaan, siapa kamu?" tanya Dilla kemudian. Sebenarnya, ia tak pernah bicara dengan siapapun lagi─kecuali guru-guru dan ada keperluan penting dengan seseorang─sejak kematian Shifa dua bulan yang lalu. Tapi entah kenapa, gadis dihadapannya ini membuatnya sangat penasaran hingga ia sampai bersuara.
"Shafa, anak kelas XI IA 2."
Dilla tercenung. Selain karena namanya yang mirip dengan Shifa, gadis itu juga merupakan teman sekelasnya. Tapi..sejak kapan? Seingat Dilla dia tak pernah mempunyai teman sekelas yang bernama Shafa. Atau...
"Aku murid baru di kelas kamu sejak 3 hari yang lalu." kata Shafa kemudian seolah mengerti kebingungan dalam pikiran Dilla. "Aku udah nyoba kenalan sama kamu kok Dil, tapi kamunya cuek banget."
Dilla termenung mendengar ucapan Shafa. Sebegitu cueknya kah ia saat ini?
Sesaat kemudian, gadis itu malah tersenyum sinis dalam hati begitu ingatan masa lalu menampar-nampar hatinya. Apa pedulinya jika ia memang sangat cuek saat ini?
Dilla langsung membuang pandangan dari arah Shafa ke makanannya, walaupun pikiran gadis itu tak sepenuhnya tertuju pada makanan lagi. Di biarkannya Shafa terus mengoceh sana-sini tanpa ia respons sedikitpun. Untuk apa ia respons? Tak penting! Kata otaknya tegas saat hatinya ingin meladeni.
***
"Pagi Dilla."
Dilla tak mengacuhkan sapaan dari Shafa. Gadis itu melengos dan segera bergegas duduk di bangkunya. Ia mengernyit bingung saat mendapati tas orang lain di bangkunya itu. Detik berikutnya, ia menatap tajam pada Shafa, yang masih menatapnya sambil tersenyum.
Dilla mendengus tak kentara, merenggut tas Shafa dengan kasar lalu menghempaskan tas itu di hadapan Shafa. Seisi kelas tercengang, apalagi Shafa yang di perlakukan seperti itu.
"Denger," Dilla mulai bersuara dengan nada yang begitu tajam, "di situ emang kosong, tapi nggak ada yang boleh nempatin bangku itu seorang pun kecuali Shifa. Camkan itu!"
Shafa menatap tubuh Dilla yang berbalik dengan tatapan prihatin, gadis itu lalu menarik napas dalam sebelum memunguti tasnya dan kembali duduk di bangkunya semula. Hah. Tampaknya perjuangannya untuk bisa dekat dengan Dilla akan sangat sulit. Trauma gadis itu terlalu dalam.
"Aku kan udah peringatin kamu Fa," tegur Via teman sebangkunya.
Shafa menoleh, wajah sayunya tersenyum. "Nggak pa-pa Vi, ini emang bakal butuh perjuangan. Tapi aku nggak bakal nyerah, Dilla harus tau bahwa masih banyak orang yang sayang sama dia."
Via menghela napas panjang mendengar penuturan Shafa, lantas mengedik seolah berkata aku-sudah-memperingatkanmu!
***
Sore ini, Dilla melangkahkan kakinya menuju taman pemakaman umum tempat terakhir Shifa beristirahat. Dengan langkah-langkah ringan, gadis itu menapaki setapak demi setapak jalan di depannya. Tangannya berayun kecil mengayunkan keranjang berisi macam-macam kelopak bunga dan sebotol air. Dia sudah sangat rindu ingin bercerita lagi kepada Shifa karena akhir-akhir ini Dilla jarang punya waktu untuk datang ke pemakaman Shifa.
Dilla tiba-tiba saja menghentikan langkahnya saat jaraknya sudah terpaut lima meter dari pusara Shifa. Matanya terfokus pada satu titik di depan sana. Tatapannya mengeras seketika.
Gadis itu diam mematung di tempatnya seolah kakinya terpaku ke tanah. Ia membeku.
Lima meter di depan Dilla, ada seorang gadis lain yang sedang menaburkan kelopak-kelopak bunga pada pusara Shifa. Gadis itu tampak larut dalam pembicaraannya dengan seonggok tanah tak bernyawa itu. Dan yang membuat Dilla membeku adalah pembicaraan sang gadis juga kenyataan bahwa gadis itu adalah...Shafa.
"Dilla itu kayaknya shock banget di tinggal kamu Fa," tutur Shafa kemudian setelah selesai menaburkan kelopak bunga pada pusara Shifa, "dia sampe berubah gitu. Bahkan dia sama sekali ga mau punya sahabat lagi, huft.
"Aku sebenernya capek Fa terus-terusan bujuk dia supaya mau temenan sama aku, tapi kalo inget cerita kamu aku juga nggak tega sama Dilla."
Tangan Shafa meraih botol kaca bening di dekat kakinya, lantas membuka tutup botol dan mengucurkan airnya ke pusara Shifa. Dia menghela napas sejenak, sebelum kembali melanjutkan monolognya.
"Tapi setelah hampir sebulan, aku jadi tau kenapa dulu kamu sangat menyayanginya. Dilla anak yang benar-benar kesepian dan rapuh Fa.
"Maka dari itu, izinkan aku menggantikan posisi kamu buat dia. Sekarang aku bener-bener tulus pengen temenan sama dia Fa, bukan cuma karena permintaan kamu. Aku tulus, pengen jadi salah satu semangat Dilla."
Shafa tersenyum di akhir kalimatnya, di elusnya nisan Shifa dengan lembut. Gadis itu berdiri, memutar badannya hendak beranjak.
Shafa langsung terhenyak melihat Dilla yang berdiri mematung lima meter di hadapannya. Gadis itu tersentak kaget seakan tak percaya. Berbagai pertanyaan bernada waswas bersarang di hatinya, tapi satu pertanyaannya sekarang: sejak kapan Dilla di situ?
"Dil," panggil Shafa kikuk.
Dilla mengerjapkan mata, tersadar dari lamunan panjangnya.
"Apa maksud kata-kata kamu tadi?" tanya Dilla kemudian dengan dingin.
Shafa menghela napas berkali-kali sebelum akhirnya melangkah ke arah Dilla. Dia berhenti satu meter di hadapan Dilla, di sentuhnya pundak Dilla dengan kedua tangannya.
"Aku sepupu Shifa dari Surabaya. Sebelum meninggal Shifa sering banget cerita soal kamu ke aku, dan dia minta aku supaya mau sahabatan sama kamu saat dia udah pergi."
Dilla merasakan tubuhnya seolah di lolosi tulang belulang mendengar penjelasan Shafa, gadis itu merosot jatuh sampai akhirnya bersimpuh di tanah. Tak menyangka Shifa sangat menyayanginya sampai segitunya, bahkan dia sampai mengirimkan sepupunya hanya demi dia. Sedangkan dia tak pernah melakukan apa-apa, bahkan ia sempat-sempatnya marah pada Shifa sampai tak mau memiliki sahabat lagi.
Shifa panik melihat ke adaan Dilla, gadis itu buru-buru berjongkok di depan Dilla dengan perasaan khawatir. Jilbab ungu yang di kenakannya berkibar-kibar tertiup angin.
"Masyaallah Dil, aku minta maaf kalo kata-kata aku ada yang nyinggung kamu. Tapi sumpah ya, sekarang aku emang bener-bener tulus pengen temenan sama kamu."
Mata Shafa mendadak berkaca-kaca, ia khawatir bercampur takut kalau-kalau Dilla membencinya akibat ia yang dulunya mau berteman dengannya hanya karena permintaan Shifa.
"Mungkin awal-awal masuk aku emang cuma mau jalanin amanat Shifa, tapi kesini-sininya aku bener-bener tulus Dil."
Setetes air mata jatuh membasahi pipi Dilla. Gadis itu lalu mengangkat kedua tangannya dan terisak dengan tangan yang menutupi wajahnya.
Shafa semakin panik melihat ke adaan Dilla, "Dil, aduh maafin aku kalo aku udah nyinggung kamu. Jangan nangis dong, plisss."
Bukannya berhenti, tangis Dilla malah semakin deras. Akhirnya, karena bingung Shafa hanya mampu mengelus-ngelus punggung Dilla, menunggu hingga gadis itu tenang.
Setelah agak tenang, Dilla menghapus sisa-sisa air mata di pipinya dengan lembut. Di tatapnya Shafa yang sedang menatapnya khawatir. Tanpa menunggu lama, Dilla langsung menghambur ke pelukan Shafa.
Shafa agak kaget juga menerima pelukan Dilla, tapi gadis itu perlahan tersenyum, tangannya kembali mengusap punggung Dilla dengan lembut.
"Maafin aku ya Sha, aku emang terlalu egois sampe-sampe aku berusaha tutup mata sama kehadiran kamu." suara Dilla terdengar bergetar.
Shafa tak tahu perasaannya sekarang, yang pasti gadis itu merasa senang Dilla berkata seperti itu. Artinya, gadis itu mau menerimanya sekarang.
"Nggak ada yang perlu di maafin kok Dil, kamu nggak salah apa-apa."
Dilla menarik dirinya dari Shafa, di tatapnya gadis itu serius. "Makasih Sha, mulai sekarang aku janji bakal coba terima kamu sebagai sahabat aku."
Shafa tersenyum manis, lantas mengangguk mantap. Dilla balas tersenyum, senyum tulus seorang sahabat baru. Mereka berdua lalu larut dalam suasana persahabatan baru yang begitu manis. Sesekali saling mengejek dan melempar tawa.
Dilla merasa hidupnya tak lagi hampa sekarang, beberapa saat kemudian mereka berdua beranjak pulang meninggalkan TPU.
***
"Dilla..."
Dilla yang sedang bercanda dengan Shafa menoleh kearah sumber suara. Gadis itu menyipitkan matanya dan sedikit terkejut melihat Oom Yudi─adik ayahnya─sedang duduk di teras depan, sedangkan Ibu tirinya tengah duduk sambil menunduk didepan Oom Yudi.
Oom Yudi berdiri menyambut kedatangan Dilla, sementara gadis itu menatap bingung kearahnya.
"Siapa Dil?" tanya Shafa berbisik.
Dilla balas berbisik, "Oom aku Sha, temenin yah." Shafa mengangguk saja, gadis itu menemani langkah Dilla ke teras rumahnya.
Dilla mencium punggung tangan Oomnya setibanya di teras.
"Ada apa Oom?" tanya Dilla bingung sambil tersenyum.
Oomnya balas tersenyum. Sekilas, beliau melirik Ibu tiri Dilla sinis.
"Oom mau jemput kamu sayang."
Alis Dilla hampir bertaut saking bingungnya, "Maksud oom?"
"Oom udah tau kelakuan ibu tiri kamu Dil. Oom mau bawa kamu tinggal sama oom."
Mata Dilla sontak melebar mendengar perkataan Oomnya, di tatapnya oom dan ibu tirinya bergantian.
"Oom serius?" tanya Dilla tak percaya. Oom Yudi mengangguk.
Dilla memekik, akhirnya ia terbebas dari siksaan ibu tirinya. Akhirnya, kisah ala cinderellanya berakhir. Gadis itu langsung menghambur memeluk oomnya senang. Dan hari itu pun, kisah semunya berakhir. Berganti dengan kisah baru berwarna yang akan mewarnai harinya.
***
Seminggu kemudian.
Dilla mengusap lembut nisan Shifa dengan kerinduan yang terpancar, tapi bibir gadis itu tetap mengulum senyuman. Sudah satu minggu berlalu sejak kepindahannya ke rumah Oom Yudi, dan berarti sudah seminggu berlalu pulalah sejak gadis itu menjadi sosok Dilla yang dulu. Ramah, ceria, dan baik.
Dilla benar-benar merasa nyaman dengan kehidupannya yang sekarang. Dia mendapatkan segalanya, kasih sayang dari orangtua─Oom Yudi dan istrinya sangat menyayangi Dilla sampai-sampai menganggap gadis itu anak mereka sendiri, kasih sayang dari sahabat, teman-teman. Ah, Dilla merasa hidupnya sudah lengkap walau dia tahu, jauh di lubuk hatinya masih ada kurang. Kehadiran Shifa.
Tapi bagaimana pun, Dilla sekarang memang harus merelakan kepergian Shifa. Karena itulah sekarang dia ada disini, untuk bercerita sekaligus mengikhlaskan kepergian Shifa dengan sepenuh hati.
"Fa, tau nggak? Sekarang aku udah dapet kehidupan aku yang dulu, sewaktu kamu sama ayah masih disini." Dilla terus bercerita.
"Aku seneeeeeeeng banget Fa. Apalagi Oom Yudi sangat baik sama aku. Aku juga seneng ada Shafa yang nemenin aku.
"Eh, ngomong-ngomong soal Shafa, aku mau berterimakasih banget sama kamu. Karena kamu udah kirim dia buat aku. Tapi kamu tenang aja, kamu nggak bakal terganti kok. Kamu punya tempat tersendiri di hati aku yang nggak bakal bisa di gantiin siapa pun."
"Dil, pulang yuk. Mendung nih," teriakan Shafa yang berdiri di gerbang TPU membuat Dilla menghentikan obrolannya dengan Shifa.
Dilla melongok kearah Shafa dari balik bahunya, gadis itu tersenyum.
"Iyaaa, ini juga udah kok."
Mata gadis itu kembali tertuju pada pusara Shifa,
"Aku pulang dulu ya Fa, makasih udah sempet jadi sahabat aku."
Dilla berdiri, lalu melenggang ke arah Shafa dengan senyum mengembang di bibirnya.
"Yuk pulang," ajaknya, menggandeng tangan Shafa.
Sebelum benar-benar pergi, gadis itu sempat menolehkan kepalanya ke arah pusara Shifa dan tersenyum manis.
Makasih sekali lagi Fa, aku sayang kamu. Kamu sahabat aku dan takkan pernah terganti oleh siapa pun.
SELESAI
Tidak ada komentar:
Posting Komentar