Persahabatan. Satu kata, berjuta makna. Kata yang sering di definisikan ketika dua orang manusia (atau lebih) saling menyayangi layaknya saudara. Saling mengasihi, dan peduli satu sama lainnya. Kata yang membuat seseorang merasa ada, merasa di butuhkan. Kata yang mampu membuat seseorang bisa teralih sejenak dari masalahnya. Kata yang membuat seseorang bisa berbagi suka dan duka, mengeluarkan keluh kesahnya dan berbagi kebahagiaan. Juga kata yang begitu indah di dengar bagi mereka yang merasakannya.
Itulah persahabatan. Kata yang sampai saat ini pun tidak bisa aku rasakan. Aku mungkin bisa menerangkan arti persahabatan dengan jelas, tapi jika ditanya apakah aku merasakannya jawabannya adalah tidak. Selama hampir 15 tahun aku hidup, tak pernah sedetik pun aku merasakan apa yang namanya persahabatan. Bukan, bukan karena aku tak punya sahabat atau teman. Aku memilikinya. Aku memiliki sahabat, juga banyak teman. Aku hanya tak pernah merasakan nikmatnya persahabatan. Mereka hanya berstatus sebagai sebagai sahabat tanpa pernah menyentuh hatiku dengan goresan-goresan indah persahabatan. Aku seperti semu di mata mereka, ada tapi cenderung seperti halusinasi semata. Mereka memang peduli padaku, tapi bukan atas dasar persahabatan melainkan kasihan. Sejak kecil hidupku memang penuh kasihani.
Menyedihkan memang. Tapi itulah kenyataan. Mereka mau bersahabat denganku hanya karena kasihan, juga atas dasar kemanusiaan─mungkin. Mereka tak pernah menganggapku sahabat sebagaimana apa adanya aku. Mereka selalu menganggapku sahabat karena ada apanya denganku. Kasihan bagiku juga bukan berarti kasihan karena hidupku yang kurang beruntung dan tak memiliki kehidupan yang layak. Tidak, aku tidak pernah kesusahan secara material, bahkan aku bisa di bilang berlebih. Ayahku adalah seorang pengusaha yang cukup sukses di Indonesia, ibuku juga seorang desainer ternama. Kasihan bagiku adalah saat dimana orang-orang menatapku dengan tatapan prihatin yang begitu dalam. Saat dimana mereka berbisik-bisik tentang penyakitku yang sangat menyedihkan. Saat dimana mereka berbondong-bondong menghampiriku karena merasa nasibku begitu malang. Ya, itulah arti kasihan bagiku. Karena penyakitku, kanker limfositik yang sudah aku derita sejak kecil. Yang telah menyebabkanku mendapatkan sahabat yang tidak benar-benar tulus mau berteman denganku karena menyayangiku. Seperti yang sudah aku katakan, aku memang memiliki banyak sahabat dan teman. Tapi mereka mau bersahabat denganku karena kasihan akan penyakit yang kuderita, kasihan pada gadis sepertiku yang tinggal menghitung bulan (bahkan hari) menuju kematian.
Kanker limfositik yang kuderita memang sudah akut. Aku mengidap penyakit ini sejak kecil. Orangtuaku bukannya tidak peduli pada penyakit yang kuderita ini. Mereka sangat peduli. Sudah berpuluh-puluh kali aku melakukan pengobatan tapi nyatanya penyakit itu selalu datang lagi hingga akhirnya aku memutuskan untuk menyerah. Aku sudah lelah mencoba berbagai pengobatan, dan kini aku ingin menikmati saat-saat terakhir hidupku dengan merasakan bagaimana rasanya persahabatan yang begitu tulus tanpa memandangku karena kasihan.
Hah. Aku mendesah mengingat persahabatan macam apa yang sedang kujalani. Dan karena desahan itu pula lah lima pasang mata di pinggir lapangan basket sekolah langsung beralih menatapku. Tatapan mereka seperti biasanya, sarat keprihatinan.
“Lo gak kenapa-napa kan Cy? Penyakit lo gak kambuhkan?” tanya Nadin─salah seorang dari lima pasang mata itu, terselip nada lirih yang penuh keibaan dalam pertanyaannya. Nada yang paling aku benci. Selalu penuh keibaan, bukan ke khawatiran!
Lama hanya memandangi mereka akhirnya aku mengangguk juga. Anggukan pilu yang selalu ku sertai dengan senyuman kepedihan. Kulihat, mereka ikut tersenyum. Ah, kapan sih mereka akan berhenti mengasihaniku seperti ini?
“Huh. Bagus deh. Gue kasihan kalau sampai penyakit lo kambuh lagi,” Sisi membuat hatiku mencelos mendengar pernyataannya. Lihatkan, mereka hanya mengasihaniku! Dan lagi-lagi, bukannya mengutarakan isi hatiku aku malah kembali tersenyum pedih.
“Eh, Cy. Kita main basket dulu ya. Lo tunggu aja disini, nanti kecapekan lagi,” pamit Deana. Mengomando yang lain untuk mengikuti langkahnya menuju lapangan basket.
Aku hanya bisa mengangguk pasrah walau pun hatiku sangat ingin ikut dalam permainan basket itu. Aku menyukai basket, tapi aku tak pernah punya kesempatan untuk bermain basket. Saat ini, kelasku memang sedang pelajaran olahraga. Dan aku hanya bisa duduk manis menonton teman-temanku yang sedang berolahraga. Ya, beginilah keseharianku di sekolah. Karena penyakitku ini aku terbebas dari pelajaran olahraga. Guru olahragaku selalu melarang saat aku ingin bergabung dengan yang lainnya. Alasannya apalagi kalau bukan kasihan melihatku kesulitan bernafas sehabis berolahraga.
Aku tersenyum getir, mengamati teman-temanku yang nampak begitu senang dalam permainan basket mereka. Kenapa aku selalu di bedakan sih? Mengapa aku tak bisa hidup normal saja? Mengapa mereka juga tak bisa menganggapku normal saja? Aku memejamkan mata sejenak, mencoba menahan gejolak kepedihan di dalam hatiku yang terus meraung-raung.
“Hei, lo gak papa?” suara selembut beludru itu menyapa pendengaraanku. Dengan segera ku buka mataku dan menoleh cepat ke arahnya.
Seorang gadis duduk di sampingku, memandangku dengan tatapan…khawatir? Aku terenyak, itu adalah ekspresi yang selama ini ku inginkan. Ekspresi sarat perhatian bukan keibaan. Siapa gadis ini? Dia memandangku begitu karena belum tahu tentang penyakitku atau apa? Diam-diam aku mengulum bibirku, tersenyum menenangkan. Gadis itu balas tersenyum, lantas duduk di sampingku dan ikut memperhatikan anak-anak yang sedang bermain basket. Kalau di lihat-lihat gadis ini memang cantik, apalagi ada segaris senyum yang selalu mengembang di bibirnya yang manis.
Kami terdiam, mata kami sama-sama mengamati anak-anak yang berlarian kesana kemari untuk merebut bola. Jujur, aku iri melihat mereka bisa berlarian kesana kemari sesuka mereka. Hal yang tak pernah bisa aku lakukan.
“Eh, lo ngapain jam pelajaran disini?” ah, akhirnya gadis itu bersuara lagi.
“Ini kelasku, sekarang emang jam olahraga. Kamu sendiri ngapain disini?” jawabku, menoleh sekilas padanya lalu kembali menatap lapangan.
“Oh. Itu, kelas gue gak ada gurunya,” jawabnya. Aku hanya tersenyum kecil. “Lah, terus kenapa lo sendiri gak ikut olahraga?”
Aku menggeleng, tak berani menatapnya. “Aku emang gak pernah di bolehin ikut pelajaran olahraga,”
Tanpa menoleh pun bisa kupastikan bahwa wajahnya yang cantik pasti telah di penuhi oleh guratan-guratan kebingungan. “Lo sakit? Kok kesannya dari dulu lo gak pernah ikut olahraga?”
Tanpa sadar, aku menghela nafas panjang berulang kali. Mencoba tegar memberitahu penyakitku, sekaligus berharap bahwa sikapnya tak akan berubah menjadi kasihan saat tahu penyakitku nanti. Aku tidak ingin orang-orang yang kasihan padaku bertambah banyak. Cukup segini, jangan bertambah lagi.
“Aku kena kanker limfositik sejak umur 7 tahun, itu sebabnya aku dilarang olahraga,” kataku pelan, kembali menghela nafas.
Gadis itu menoleh padaku, menatapku dengan tatapan tak terbaca. Sial, apa dia juga akan mengucapkan kata-kata yang sering kudengar yang di awali kata kasian?. Aku meringis, tapi dugaanku menguap seketika saat bibirnya mengulum senyuman yang semakin lebar.
“Oh, sabar ya,” ujarnya dengan nada lembut yang menghanyutkan. “Lo gak pernah berobat emangnya?” tanyanya kemudian, terselip nada penuh hati-hati dalam pertanyaannya ini.
“Aku udah berpuluh-puluh kali berobat, tapi itu gak ngaruh. Buktinya kanker itu selalu tumbuh lagi. Jadi aku mutusin untuk berhenti berobat, aku nyerah.”
Sesaat, aku dapat melihatnya mendelik tajam tapi buru-buru dia membuang wajah. “Ckck, seharusnya lo gak boleh nyerah gitu. Hidup itu di tangan Tuhan.”
“Aku tau,” sambarku cepat, “tapi aku udah bener-bener gak mau berobat lagi, percuma. Lagi pula itu gak bakalan ngubah apa pun, aku tetep gak bakal di ijinin maen basket.”
“Pikiran lo sempit banget, padahal kalau lo suka kenapa gak lo lakuin aja? Selama lo ngerasa baik ya lakuin aja hobi lo itu, toh yang tahu keadaan lo kan lo sendiri,”
Aku terenyak, merasa bahwa mungkin saja arti sahabat yang sebenarnya dapat aku temukan melalui gadis cantik ini.
“Kamu gak bakal kasian sama aku gara-gara ini kan? Aku gak mau di kasihani,” tanyaku, entah mengapa lebih terdengar memohon.
Gadis itu mengangguk, menepuk bahuku dua kali. “Oh, ya. Gue lupa ngenalin diri, hehe,” cengirnya lucu, “nama gue Salsa, lo?”
Aku buru-buru menjabat tangan gadis yang mengaku bernama Salsa itu, lantas menarik ujung-ujung bibirku ke atas membentuk senyum sumringah. “Aku Alicya, cukup panggil aku Licy aja,”
***
Sejak aku mengenal Salsa aku mulai merasakan perasaan yang selama ini aku inginkan. Gadis itu berbeda dengan semua teman-temanku yang selalu melarangku melakukan ini itu. Salsa justru mendukung setiap kegiatan positif yang kulakukan. Bukannya dia tidak peduli pada kesehatanku, justru dia sangat peduli. Salsa selalu menjagaku di setiap kegiatan yang selama ini tidak pernah aku lakukan, seperti saat aku ingin bermain basket. Salsa selalu menemaniku bermain juga─aku tahu─dia diam-diam memerhatikanku agar tidak terlalu kelelahan. Yah, dia menjagaku. Salsa selalu ada di sampingku, menemaniku, dan kami selalu bertukar banyak cerita mengenai berbagai hal.
Ada sesuatu yang berbeda dari Salsa, pikiran dan pendapatnya tentang kehidupan sangat jernih. Gadis itu selalu mengutarakan sesuatu yang positif mengenai kehidupan. Dan ada satu hal dari kata-katanya yang selalu terngiang di telingaku. Itu pendapatnya, tentang penyakit yang ku derita ini. Menurutnya kehidupan seseorang juga di tentukan oleh semangatnya untuk bertahan hidup. Dia percaya, segala sesuatu yang tidak mungkin dapat menjadi mungkin bila kita percaya pada kuasa Tuhan dan punya semangat untuk tetap bertahan hidup. Salsa yakin aku bisa terus bertahan melawan penyakit ganas ini jika aku mempunyai semangat hidup, itulah sebabnya dia selalu mendukung apa pun yang ku inginkan─selama itu positif. Diam-diam, keyakinannya itu mulai tersalur padaku. Aku mulai mempunyai semangat untuk terus berjuang hidup. Aku mulai berpikiran jernih mengenai penyakit ini. Yah, dokter mungkin bisa memvonis jika umurku tidak lama lagi, tapi siapa tahu Tuhan berkehendak lain? Dan masih mengizinkanku berada di dunia ini untuk beberapa lama. Yah, semoga .
Salsa juga mengajarkanku tentang arti hidup yang sebenarnya. Aku yang selama ini hanya bisa mengeluh atas hidupku─yang dulu kurasa menyedihkan─kini mulai bisa bersyukur. Setidaknya di kehidupanku, aku masih punya kedua orangtua yang menyayangiku juga Salsa dan teman-temanku yang lain (belakangan aku mulai sadar bahwa mereka juga menyayangiku, bukan hanya sebatas rasa kasihan semata─Salsa jugalah yang menyadarkanku).
Kadang aku berpikir bahwa Salsa memang seorang bidadari cantik yang dikirimkan Tuhan untukku, agar aku bisa membuka mata dan lebih bersyukur pada hidup yang telah di tasbihkan Tuhan untukku. Banyak hal yang bisa ku pelajari dari Salsa. Dia adalah sahabat terbaik yang pernah ku miliki. Aku menyayangi, dan rasanya benar-benar tak ingin meninggalkan sahabatku itu sendirian. Semangat untuk tetap hidup itu muncul dengan menggebu-gebu, menyuruhku untuk tidak patah semangat dan tetap bertahan hidup. Dan karena semangat itulah, pengobatan yang dulu sempat ku hentikan kini ku lanjutkan kembali.
Seperti hari ini, aku di antar mama dan Salsa pergi ke rumah sakit untuk berobat. Sebulan setelah aku mengenal Salsa dan aku mengutarakan keinginanku untuk kembali berobat pada mama dan papa, mereka senang bukan main. Sehingga sudah sebulan terakhir ini aku rajin melakukan pengobatan yang di sebut kemoterapi.
“Cy, gue tunggu di luar ya. Gue gak tahan sama bau obatnya,” pinta Salsa memelas ketika kami sampai di ruangan kemo. Aku menoleh padanya. Ah, selalu saja begini. Setiap aku menjalani kemo Salsa tak pernah masuk ke dalam, tampaknya dia memang benar-benar tak suka pada bau obat-obatan yang terlalu menyengat di rumah sakit.
“Iya deh, kebiasaan deh kamu,” tanggapku datar lantas mengikuti langkah mama yang sudah masuk ke ruangan lebih dulu.
***
Apa? Tak ada perubahan? Yang benar saja. Sudah sebulan lamanya aku berusaha menguatkan diri menjalani kemo tapi hasilnya? Nol besar. Aku mengigit bibirku kuat-kuat, mencoba menahan laju air mata yang seolah ingin berlomba-lomba keluar dari tempatnya. Kenapa harus begini? Apa semangat dan usahaku untuk bertahan kurang besar sehingga Tuhan sama sekali tak memberikan perubahan padaku?
“Kami sudah berusaha semaksimal mungkin Bu, kemo sebenarnya hanya bertujuan untuk membuat penderita lebih lama bertahan. Bukan untuk menyembuhkan,” tanpa sadar, aku malah menahan nafas sedari tadi mendengar kata-kata dokter Indra─dokter yang menanganiku. Tajam dan menghujam, perkataan dokter Indra barusan tak ubahnya seperti sebilah pisau tajam yang mencingcang hatiku kecil-kecil. Aku menghela nafas berkali-kali, mencoba menguatkan diri untuk mendengar rentetan kata berikutnya dari mulut dokter Indra.
Mungkin, aku sudah gila. Jika orang lain yang mengalaminya dan mendengar perkataan menyakitkan seperti itu mereka pasti akan cepat berlari menjauh, tapi aku tidak. Walau pun nyeri tiada terkira menghentak kala kata-kata menyakitkan itu keluar, aku tak ingin sedetik pun ketinggalan informasi mengenai keadaanku saat ini. Tubuhku semakin merapat ke pintu ruang kerja dokter Indra, dan aku kembali menajamkan telinga agar dapat mendengar dengan jelas percakapan di ruangan itu.
“Apa sudah separah itu, Dok? Tak adakah cara lain untuk menyembuhkan anak saya?” Mama, batinku. Aku hafal betul suara mama. Tanpa aku melihat pun aku yakin saat ini wajah mama begitu sedih, dia pasti terpukul mendengar perkataan dokter Indra.
“Kanker limfositik yang di derita Licy sudah menyebar kemana-mana, walau pun kita melakukan operasi sumsum tulang belakang, itu takkan berpengaruh lagi.
“Mungkin selama ini Licy tak pernah mengeluh kesakitan atau kambuh, tapi saya yakin setiap malam sebelum tidur Licy selalu merasa sesak nafas,” itu benar, ujarku dalam hati. Dokter Indra tidak meleset sedikitpun, aku memang selalu merasa sesak nafas saat malam, itulah sebabnya kadang aku memilih untuk bergadang saja. Aku takut, ketika aku tidur ke esokkan harinya ku tidak bisa lagi membuka mataku.
“Bu, maaf karena saya harus mengatakan ini. Jujur saja saya rasa kesempatan Licy untuk bertahan hidup itu tak lebih dari dua minggu lagi. Saya tahu segala sesuatu itu tergantung kehendak Tuhan, akan tetapi perkiraan kami jarang sekali meleset kecuali jika Tuhan benar-benar berkehendak lain,”
Hatiku mencelos saat itu juga, kurasakan air mata yang sedari tadi ku tahan kini meleleh di pipiku. Tapi walaupun sudah beruraian air mata, tak ada sedikit pun niatku untuk beranjak meski hanya secenti dari tempatku sekarang. Ada sesuatu yang mendorongku untuk tetap bertahan disini, aku ingin mendengar kenyataan tentang hidupku lebih lama lagi. Meski itu akan mengoyak mentalku secara perlahan. Aku tersenyum miris dalam tangisku. Ah, dua minggu? Cukup apa hanya dalam dua minggu?
“Cy, kok lo nangis?”
Mendengar suara yang tak asing bagiku, cepat-cepat ku seka air mataku lantas mencoba tersenyum. Aku tak ingin membuat Salsa khawatir dengan keadaanku. Tak berapa lama, Salsa sudah berdiri di hadapanku membuatku terpaksa menghentikan aktifitas mengupingku dan membawanya menjauh dari ruangan Dokter Indra.
Kami sekarang duduk di bangku panjang taman rumah sakit, bisa ku lihat dengan jelas bahwa sekarang Salsa sedang menatapiku aneh. Sementara aku sendiri berpura-pura tidak melihat ke arahnya, melainkan menatap bunga-bunga di depanku.
“Lo kenapa sih Cy? Kenapa tadi lo nangis?” Salsa kembali bertanya. Mau tak mau aku terpaksa menengok ke arahnya, tapi hanya sebentar karena aku langsung membuang muka. Aku tak bisa berbohong sambil menatap matanya, itu sangat sulit. Mata bening Salsa selalu membuat pertahananku luruh.
“Aku gak papa,”
Bisa ku dengar helaan nafas lelah dari Salsa sebelum gadis itu berkata, “Jangan bohong Cy, walau gue baru kenal lo sebulan terakhir tapi gue udah hafal banget tabiat lo.”
Tiba-tiba saja buncahan air mata itu kembali merembes tak kentara. Aku terisak. Pedih jika harus mengingat vonis dokter tadi. Semangat yang dulu sempat mengobar itu kini perlahan padam kembali. Tuhan, aku masih ingin disini. Batinku meraung, meminta sesuatu yang─entah mengapa─terasa sulit untuk terwujud. Salahkah aku karena menginginkan perpanjangan umur?
“Cy, cy. Yah, kok lo nangis lagi sih? Kenapa? Gue salah ngomong ya, aduh… Maaf deh Cy, maaf banget.” Salsa panik, dia mengatupkan kedua telapak tangannya sambil memohon-mohon menghadapku. Sementara aku sendiri hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalaku tanpa bisa mencegah air mataku untuk berhenti.
Tiba-tiba saja setetes darah segar mengalir dari hidungku, kental, merah.
“Cy, Licy. Lo mimisan Cy, Licy,”
Tapi aku tak bisa berucap apa-apa karena setelah itu kepalaku berputar, lalu nyeri yang teramat menghentak-hentak dengan keras di dalam kepalaku. Aku meringis, sakit. Ya Tuhan, apa lagi yang terjadi padaku? Belum cukup sampai disitu ternyata, ketika aku meringis kesakitan menahan nyeri di kepalaku─dengan Salsa yang terus memanggil namaku─aku merasakan dadaku sesak. Aku kesulitan bernafas. Aku megap-megap, berusaha bernafas sambil memegang dadaku. Dunia kembali serasa berputar, lebih cepat. Dan setelah itu, semuanya gelap.
***
Kata-kata Salsa ketika aku pertama kali membuka mata masih terngiang dengan jelas di benakku. Yah, Salsa benar-benar hebat. Walau aku tahu dia juga sedih menghadapi kenyataan bahwa sahabatnya ini akan pergi sebentar lagi, tapi tak sedetik pun dia kehilangan pikiran positif nan jernihnya itu.
‘Ternyata Tuhan itu sayang banget sama lo Cy. Dia pengen lo cepet-cepet ada di samping-Nya. Jadi lo gak usah mikir macem-macem, Tuhan pasti punya rencana lain di Surga buat lo,’
Aku tersenyum tipis teringat kata-kata Salsa. Ah, Salsa. Mengapa gadis itu sangat tahu caranya membuat aku tidak terpuruk lagi sih? Jadi sekarang, karena umurku yang tak banyak lagi, aku ingin melakukan sesuatu yang dapat membuatku di kenang. Aku ingin melakukan hal yang bermanfaat untuk orang-orang di sekitarku.
“Cy,” aku menoleh pada asal suara yang baru saja memanggilku. Ternyata mama.
“Kamu yakin mau pulang sekarang sayang?” tanya mama, ada raut cemas yang tergurat di wajahnya.
Saat ini aku memang masih berada di rumah sakit, 5 hari berselang sejak pingsannya aku di taman rumah sakit. Dan setelah 5 hari penuh aku merenungi kata-kata Salsa akhirnya aku ikhlas jika Tuhan memang ingin segera memanggilku, dan seperti kataku tadi. Di saat-saat terakhir hidupku, aku ingin melakukan hal yang berguna bagi orang lain. Aku ingin segera keluar dari rumah sakit ini dan kembali ikut mengajar anak-anak jalanan bersama Salsa.
Ah, ya. Aku belum cerita ya kalau Salsa mengajari anak-anak jalanan membaca, menulis, dan menghitung? Salsa memang mengajari anak-anak jalanan dengan dalih anak-anak itu juga berhak mendapatkan pengetahuan yang sama dengan anak-anak di sekolahan, bagaimana pun mereka adalah generasi penerus bangsa. Dalih Salsa itu memang terdengar masuk akal, dan itulah salah satu factor mengapa aku sangat mengagumi Salsa. Jiwa sosialnya sangat tinggi. Lalu dari anak-anak jalanan itu pulalah aku mengerti makna hidup yang sebenarnya.
Senyumku makin mengembang kala teringat anak-anak kecil yang penuh semangat itu. Well, anak jalanan adalah orang-orang yang hebat. Mereka polos, tapi penuh semangat dan tanggung jawab. Mereka hidup bukan hanya memikirkan diri mereka sendiri, tapi juga keluarga mereka. Bahkan ketika pertama kali aku bertemu mereka, aku merasa sangat malu. Aku seperti rendah jika di bandingkan dengan bocah-bocah kecil itu. Terutama dengan Putra. Bocah kecil dengan mata bening yang selalu bersinar─menyiratkan semangat tak kentara. Ketiga adik perempuannya menjadi tanggung jawabnya sekarang akibat sang ayah dan ibunya meninggal dalam kecelakaan bus. Hidupnya sangat susah, tapi dia selalu menjalaninya dengan senyuman. Ah, bocah yang luar biasa.
“Cy, kamu gak denger pertanyaan mama?” aku terkesiap dari lamunanku mendengar suara mama, lantas sedetik kemudian tersenyum.
“Licy yakin ma, lagian ada yang mau Licy urus sebelum Licy di panggil Tuhan,”
Mama menangis, lantas langsung menghambur memelukku. Aduh, kalau begini aku jadi merasa bersalah telah mengucapkan kata-kata─kenyataan─yang menikam hati mama.
“Jangan ngomong gitu sayang, jangan ngomong gitu,”
***
“KPK dari 12 dan 60 Berapa hayo? Ada yang bisa?”
Aku tertawa kecil melihat Salsa yang begitu semangat mengajar bocah-bocah jalanan itu. Walaupun aku hanya bisa menonton dari kursi roda, tapi aku sangat bahagia berada disini. Di tempat Salsa biasanya mengajar anak-anak jalanan.
“Aku kak, aku,” seorang bocah lelaki mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Bocah favoritku, Putra.
“Ya, Putra. Ayo maju”
Salsa menyingkir dari white board dan berjalan ke arahku. Dia berdiri disampingku, menoleh sekilas lantas kembali menatap Putra yang kini sedang berkutat dengan soal di depannya.
“Sa,” panggilku pelan. Salsa tak menjawab, hanya menoleh dan tersenyum seolah menungguku melanjutkan kata-kataku. “Aku bahagia karena sempat mengenalmu di detik terakhirku,” kataku lirih.
Ku lihat, mata Salsa berkaca-kaca dia merangkul pundakku lantas berkata, “Gu..gue juga seneng sempet kenal sama lo Cy, gue seneng banget.”
Aku tersenyum miris, lalu menatap satu persatu anak-anak jalanan yang memperhatikan Putra mengerjakan soal di depan. Mereka masih tampak sama, sangat bersemangat tanpa kenal lelah. Ah, andai saja mereka bisa belajar secara resmi dan mempunyai tempat hidup yang layak. Aha, tiba-tiba saja sebuah ide melintas dengan cepat di kepalaku. Senyumku mengembang, senyum kebahagiaan.
Bodohnya aku tak menyadari hal ini sedari dulu. Mama dan Papa punya banyak rumah di setiap wilayah Jakarta, termasuk di Jakarta pusat ini saja mereka punya tiga. Luas dan besar lagi. Mengapa aku tak pernah berpikir untuk menjadikannya panti? Soal biaya hidup, toh aku yakin butikku─yang dulu di hadiahkan mama saat ulangtahun yang ke 13─dapat menampung semua kebutuhan anak-anak. O, ya. Rasanya aku juga bisa meminta Papa menyekolahkan mereka, kalau pun Papa tak sanggup aku bisa meminta mereka belajar menjahit dan mengelola butikku sehingga omset lebih besar dan mereka bisa sekolah. Ya Tuhan, kenapa aku tak menyadari ini dari dulu? Inikan sangat bermanfaat bagi mereka. Hah, dasar Licy bodoh!
“Wah, pintar. Seratus untuk Putra,” aku tersentak saat mendengar bunyi tepuk tangan yang riuh. Setelah melongok apa yang terjadi aku baru sadar kalau Putra ternyata baru saja selesai menjawab dengan hasil yang memuaskan. Senyumku terkembang makin lebar.
“Sa,” panggilku membuat semua mata kini memandang ke arahku. “Aku pulang duluan ya.” pamitku lalu beralih menatap anak-anak, “Adek-adek, Kak Licy pamit ya,”
“Ya, kok Kak Licy pulang sih?” keluh anak-anak lalu serentak mengelilingiku, aku tersenyum di buatnya.
“Kakak ada urusan, nanti kalau urusannya udah beres kakak balik lagi deh. Janji,” ujarku sambil mengangkat jari tengah dan telunjuk bersamaan.
Anak-anak jalanan itu tersenyum, lalu setelah mengucapkan kata-kata selamat tinggal aku pulang dengan sopirku yang sedari tadi menunggu di mobil. Sepanjang perjalanan pikiranku penuh dengan rencana-rencana untuk anak-anak jalanan tersebut. Aku ingin segera merealisasikan rencanaku, aku ingin segera melihat anak-anak jalanan itu hidup sebagaimana mestinya anak seumuran mereka. Dan mungkin dengan itu, aku bisa tenang karena setidaknya di detik terakhirku aku bisa berguna untuk orang-orang di sekitarku.
***
“Impian lo, udah terwujud,” bisik Salsa di telingaku.
Sebuah senyum tersungging dengan lebar di wajahku. Ah, memang benar. Impianku kini telah terwujud. Syukurlah waktu aku mengajukan ide ini pada mama dan papa, mereka sama sekali tak menolak malah justru mendukungku 100 %. Aku senang, kini aku bisa melihat dengan mata kepalaku bagaimana binar mata anak-anak jalanan itu saat mengetahui mereka akan punya rumah, dan lihatlah sekarang. Mereka sedang berlarian, berkejaran satu sama lain dengan senyum indah yang tak pernah pudar dari wajah mereka.
Rumah yang berukuran cukup luas ini terdapat di Jakarta pusat dan di beri nama panti asuhan ‘Bunda’. Sengaja ku beri nama seperti itu untuk mengenang jasa mama. Aku juga sekarang tinggal disini dan sudah lebih dari seminggu anak-anak jalanan itu mendapat rumah yang layak, juga itu artinya sudah hampir dua minggu lebih aku bertahan hidup. Dan waktuku untuk hidup semakin berkurang, tapi tak apa. Jika pun sekarang aku di panggil Tuhan, aku ikhlas. Tuhan memang terlalu menyayangiku sehingga dia ingin segera bertemu dengan ku dan menghapus semua rasa sakit yang menggerogoti tubuhku.
“Sa, kalau aku mati. Aku mau kamu yang ngurusin panti ini. Kelola juga butik aku biar mereka tetap berkecukupan,” pesanku pada Salsa, entah mengapa feelingku mengatakan bahwa malam ini aku benar-benar akan pergi untuk selamanya.
Salsa mengangguk mantap, walau dari raut wajahnya tersimpan kepedihan yang mendalam. “Tenang aja Cy, gue pasti bakal ngelakuin itu,”
Aku tersenyum tapi hanya sesaat karena tiba-tiba saja kepalaku berputar hebat. Aw, sial. Sakit sekali rasanya. Seperti ada yang menghentak-hentak keras di dalam batok kepalaku. Aku meringis sepelan mungkin agar Salsa tak curiga lantas setelah sedikit berhasil mengatasi rasa pusingku aku segera pamit untuk ke kamar.
Perutku terasa sangat mual ketika sampai di kamar. Rasanya seperti ada jutaan kupu-kupu yang beterbangan disana. Darah segar mengalir dari hidungku di sertai sakit di kepala yang kembali menghentak. Ah, apa ini? Bagaimana caranya bernafas? Astaga, nafasku tersengal. Serasa sangat sulit untuk memasukkan udara ke dalam paru-paruku. Sesak sekali.
Ya Tuhan, apakah sekarang? Sebelum terlambat aku segera mengambil pena dan selembar kertas. Aku berniat menulis surat, untuk semua orang yang kusayangi. Tanganku bergetar ketika ku paksa untuk menulis, tapi aku toh tak peduli. Ku paksakan jariku untuk menulis, surat terakhirku.
Jika kalian baca surat ini itu artinya aku sudah tidak ada, tapi kalian tak usah cemas karena aku benar-benar ikhlas jika harus pergi. Ada beberapa hal yang mau aku sampaikan dalam surat ini.
Pertama untuk mama dan papa. Ma, Pa, makasih ya karena selama ini mama dan papa sudah menjaga dan merawat Licy dengan baik. Makasih karena kalian sudah tulus menyayangi Licy dan mau melakukan apapun untuk Licy─terutama karena mama dan papa mau mengabulkan keinginan Licy untuk menampung anak-anak jalanan itu. Maaf bila selama ini Licy merepotkan, dan tolong jangan nangisin kepergian Licy ya? Licy gak pengen di tangisin. Licy pengen kalian selalu tersenyum untuk Licy. Licy sayang kalian, selamanya.
Kedua untuk Salsa. Sa, selama hidupku kamu adalah sahabat terbaik yang pernah aku milikin. Aku belajar banyak dari kamu Sa, tentang kehidupan. Kamu bener-bener gadis yang hebat, aku salut sama kamu Sa dan mungkin aku gak bakal pernah bisa kayak kamu. O ya, kalau aku gak ada, jangan lupa sama janji kamu untuk jaga mereka ya? Makasih. Aku sayang kamu Sa.
Ketiga, untuk semua teman-teman dan orang yang mengenal Licy. Licy sangat berterimakasih sama kalian karena mau berteman dengan anak seperti Licy apalagi kalian juga menyayangi Licy dengan tulus. Makasih ya? Licy juga sayang kalian.
Dan yang terakhir buat adek-adek semua, Kakak harap adek-adek semua betah di sini ya? Kejar terus cita….
Arrghh, sakit sekali. Aku belum menyelesaikan suratku tapi sakit ini telah menyiksaku lebih dulu. Aku mengerang, pena itu terjatuh begitu saja. Kepalaku semakin berdenyut tak enak, juga nafasku yang semakin tersengal-sengal. Darah dari hidungku pun menetes pada kertas. Ah, tampaknya memang sudah saatnya aku pergi. Sambil mencoba untuk tenang, aku memejamkan mataku lantas tersenyum. Selamat tinggal dunia!
Selesai
Tidak ada komentar:
Posting Komentar