Entri yang Diunggulkan

Series Recommendations! đŸŽ„

Hi, happy Wednesday all! So decided to post my own personal series. I usually dont like watching movie, so because i watched those series ...

Jumat, 24 Februari 2012

Persembahan Untuk Bunda

Kubuka album biru
Penuh debu dan usang
Kupandangi semua gambar diri
Kecil bersih, belum ternoda

***

Sinar matahari yang hangat masuk ke dalam kamar Elang yang masih terlelap dalam tidurnya melalui kisi-kisi jendela membuat Elang membuka matanya dan mengerjapkannya perlahan. Tangannya ia simpan di dekat pelipis guna menghalangi silaunya sinar matahari. Matanya yang masih setengah terbuka menyapu setiap sudut kamar tersebut hingga terhenti di satu titik.
“Huaa, jam setengah 7. Mampus, gue bisa telat nih,” matanya terbelalak begitu melihat jam dinding, dia menyibakkan selimutnya dengan kasar dan segera bergegas ke kamar mandi.
Hanya butuh 5 menit baginya untuk mandi dan memakai seragam sekolahnya. Setelah itu Elang berdiri di depan cermin dan menyisir rambutnya, merasa cukup dia berjalan mendekati kalender di dekat pintu masuk.
"Hmm..Sekarang tanggal 6 Juni, berarti hari ulang tahun Bunda dong. Gue mau bikin kejutan ah buat Bunda," gumam Elang dan beranjak menuju ruang bawah.
Sepanjang jalan Elang bersenandung dengan cerianya, dia bertekad untuk mempersembahkan hadiah yang menarik dari tangannya sendiri. Elang ingin bisa mempersembahkan sesuatu yang merupakan hasil jerih payahnya sendiri sebagai kado ulangtahun Bundanya, karena menurutnya itu akan lebih berkesan untuk sang Bunda.
“Bun, Elang berangkat ya. Udah telat nih, dah Bunda,” Elang segera berlari menuju garasi dan mengambil motor kesayangannya.
"Gak makan dulu sayang?" sayup-sayup terdengar teriakan Bunda Elang dari arah ruang makan, tapi Elang memilih mengabaikannya dan segera melajukan motornya ke sekolah.
Bukannya Elang ingin menjadi anak durhaka, hanya saja ia ingin menemui Bundanya dengan sebuah hadiah ditangannya. Dan seperti niatnya tadi, Elang ingin memberikan kejutan untuk Bundanya. Kejutan yang akan membuat Bundanya sangat bahagia. Lelaki itu jadi tersenyum-senyum sendiri membayangkan tekadnya.
Sepuluh menit kemudian, Elang memarkir sepeda motornya di halaman parkir sekolah dan berjalan menuju kelasnya dengan senyuman yang tiada henti-hentinya menghiasi bibirnya.
“Pagi semua,” sapa Elang ketika dirinya mendapati sahabat-sahabatnya didalam kelas. Kelas sudah lumayan penuh saat itu.
Sahabat-sahabat Elang langsung menatap Elang yang begitu ceria penuh tanda tanya. Heran melihat lelaki itu tak cemberut seperti biasanya.
Ozy, salah satu sahabat Elang mengangkat sebelah alisnya melihat wajah Elang yang berseri-seri. "Pagi Lang, tumben muka lo gak di tekuk," balasnya setengah meledek.
Sebuah delikan sempat Elang hadiahkan untuk Ozy sebelum akhirnya lelaki itu melengos dan memilih duduk di bangkunya. Dia melihat tas Nathan berada disana, tapi tidak dengan Nathan. Hah, anak itu pasti main basket lagi. Pikir Elang. Tak heran sih, disini Nathan memang menjabat sebagai Kapten Basket dan sangat senang bermain basket. Biasanya Nathan akan datang ke sekolah pagi-pagi sekali dan bermain basket di lapangan. Kadang sendirian, kadang di temani oleh Andreteman satu tim basketnya.
“Nathan mana? Main basket lagi?” tanya Elang yang mendapat anggukan dari semuanya.
Elang ikut mengangguk lantas segera duduk di bangkunya dan tampak berpikir keras. Sahabat-sahabatnya yang melihat tingkah aneh Elang mengerutkan kening, tak biasanya Elang tampak berpikir serius, apalagi pagi-pagi begini.
“Lang, lo gak kesambet jin kan?” tanya Rizky sambil terkekeh, lantas melanjutkan ucapannya ketika Elang menatapnya tajam. “Pagi-pagi gini lo udah serius banget, kayak ada hal penting yang lo pikirin gitu,”
Elang menghela nafas, menatap teman-temannya dalam. “Hari ini, hari ulang tahun Bunda gue. Gue pengen kasih sesuatu, tapi yang hasil dari tangan gue sendiri. Kira-kira apa ya?”
Semua tampak terpana mendengar penuturan Elang, tak menyangka lelaki seperti Elang sangat berbakti dan menyayangi Ibunya lebih dari yang mereka bayangkan. Lalu semuanya terdiam, ikut merenung bersama Elang. Berusaha mencari ide yang bagus untuk mewujudkan hadiah yang ingin Elang berikan.
“"Aha, gimana kalau lo bikin kerajinan tangan?” usul Sammy sambil menaik turunkan alisnya.
“Tumben otak lo jalan Sam?” cibir Rizky yang heran dengan ide cemerlang dari Sammy, biasanya otak Sammy kan buntu.
Sammy cengengesan sambil membusungkan dadanya bangga. Dalam urusan yang menyangkut orangtua begini dia kan paling peka dan sangat antusias.
Elang tampak menerawang, lalu seulas sneyum tampak terpeta di bibirnya. “Ide bagus tuh, kalau gitu gue mau buat guci ah,”
Mendengar pernyataan spontan dari Elang, otomatis ke empat pasang mata milik sahabatnya menatap Elang sambil mengernyit.
“Kayak lo bisa aja Lang, lo kan paling gak bisa buat kerajinan,” Lintang mengingatkan dengan senyuman jahil dibibirnya.
Elang mengerucutkan bibirnya, baru teringat ia paling bodoh jika sudah menyangkut urusan kesenian. Apalagi membuat guci. Semua tergelak melihat perubahan ekspresi pada wajah Elang.
Tapi bukan berarti Elang kehabisan akal, lelaki itu kembali tersenyum kala sebuah pemikiran hebat melintas di otaknya.
“Lo jahat banget sih Tang. Maksud gue kan gucinya kalian yang bikin terus gue hias pake manik-manik atau cat gitu,” kata Elang dengan wajah polosnya, gelak tawa kembali menggema didalam ruangan kelas.
“Huuu, gak kreatif banget sih lo. Itu sih sama aja kita yang kerja,” Ozy menoyor kepala Elang pelan setelah tawanya berhenti, ujung-ujungnya, mereka juga yang kena.
“Yee, suka-suka gue dong. Kalian mau bantu kan?” tanya Elang dengan mata berbinar-binar. Alisnya di naik turunkan dengan teratur. Memohon.
Lintang, Ozy, Rizky, dan Sammy saling berpandangan lalu mengangguk serentak membuat senyuman semakin lebar menghiasi wajah tampan Elang.
“Boleh deh,” ujar semuanya hampir serentak.
“Oke, nanti pulang sekolah di ruang kesenian yah?” pinta Elang yang di angguki semuanya. Sepertinya hadiah ini akan sangat spesial, pikirnya bahagia.
***
“Nah, beres deh,” Elang bersorak riang setelah berhasil menyelesaikan hadiah ciptaannya.
Sebuah guci cantik yang dihiasi oleh manik-manik serta cat warna warni dan ditengahnya bertuliskan "Happy Birthday Mam. I LOVE YOU MOM".
Elang tersenyum puas melihat hasil kerjanya tersebuttidak sepenuhnya sih, karena yang membuat guci itu teman-temannya bukan dia, walaupun dia tak pandai dalam membuat sebuah kerajinan akan tetapi hasil kerajinannya kali ini bisa dibilang menakjubkan. Ah, tampaknya usaha Elang tidak sia-sia jika melihat hasil karyanya yang begitu indah ini. Binar di mata Elang tak sedikit pun pudar saat menatap guci tersebut.
“Gue duluan ya,” seru Elang, “Thanks banget sob.” lanjutnya lalu berjalan keluar untuk menjemur gucinya agar cat yang melekat segera kering.
Elang meletakkan gucinya di pinggir lapangan basket yang terik oleh sinar matahari lalu menyeka peluh diwajahnya akibat kelelahan. Lelaki itu duduk di sebelah gucinya untuk menunggunya sampai kering sambil melihat permainan bola basket dilapangan. Nathan dan Andre sedang berlarian memperebutkan bola lalu tiba-tiba saja…
‘Bukk’ bola basket yang Nathan lempar ke ring meleset dan malah menghantam guci manis Elang yang susah payah ia buat. Elang menganga menyaksikan guci buatannya hancur, kini hanya kepingan-kepingan guci yang berserakan dimana-mana.
“Mampus gue,” gumam Nathan merasa bersalah, dia segera menghampiri Elang dengan senyuman kikuknya berharap Elang mau memaafkannya.
“Lang, sorry. Gue gak sengaja,” ujar Nathan tertunduk setelah dia sampai dihadapan Elang.
Elang yang masih ternganga memandangi gucinya segera menatap Nathan tajam, hatinya seperti sedang di bakar di dalam bara api yang panas melihat hasil kerja kerasnya sia-sia. Darahnya mendidih seketika, emosi meluap dari kilatan matanya.
Sorry lo bilang? Lo tahu gak Nat? Gue buat ini dengan susah payah buat Bunda gue. Gue buat guci ini dengan perjuangan, berharap kado ini bisa jadi kado spesial buat Bunda gue. Dan lo, lo dengan gampang ngancurin semua usaha gue,” Maki Elang emosi, ia mencurahkan semua kekesalannya dengan berapi-api sambil menunjuk-nunjuk wajah Nathan dengan telunjuknya.
“Maksud lo?”
“Ini hari ulang tahun Bunda gue, dan ini kado spesial buat dia,” bentak Elang
Nathan tertegun, tak menyangka Elang akan semarah ini padanya, dia tahu bahwa dirinya bersalah dan dia sangat menyesal akan hal itu.
“Maaf Lang, maafin gue. Gue bener-bener gak sengaja,”
“Terlambat Nat, semuanya udah hancur. Dan ini gak bisa di perbaiki lagi. Lo harusnya bisa hargai perasaan gue dong, gue sayang Bunda gue dan gue pengen ngasih sesuatu dari hasil tangan gue,” Elang tak mengacuhkan pembelaan Nathan dan kembali meluapkan kekesalannya, wajahnya memerah akibat kekesalan yang menjadi-jadi. Dia memalingkan wajahnya, menghela nafas lalu kembali menatap Nathan dengan tatapan sinis.
“Oh, ya. Gue tahu lo gak akan ngerti perasaan gue karena lo gak punya Ibu,” seru Elang sinis tanpa menyesal sedikit pun.
Deg!
Nathan tersentak, kata-kata Elang benar-benar menusuk ulu hatinya. Menikam bagian itu tanpa ampun. Dia seperti sedang di kuliti mendengar lontaran kata tajam Elang. Ibu? Iya, dia memang tak mempunyai seorang Ibu, tapi bukan berarti dia tak mengerti perasaan Elang.
Temangu, Nathan mengepalkan tangannya perlahan. Kalau saja dia tak ingat selama ini Elang selalu di sampingnya, maka saat ini juga ia yakin telah melayangkan bogem mentah di wajah Elang. Wajah Nathan ikut memerah, menahan emosi. Lalu dengan kilat, dia balik menatap Elang dengan tatapan yang lebih tajam.
“Lang, gue tahu gue gak punya Ibu. Tapi bukan berarti gue gak ngerti perasaan lo. Gue gak nyangka Lang, lo setega itu sama gue,” seru Nathan menggebu. Nafasnya memburu, teringat kenyataan pahit itu. Sekuat tenaga, Nathan berusaha mengendalikan matanya yang sudah perih lalu tanpa menunggu detik selanjutnya lelaki itu berlari menjauh meninggalkan Elang dan Andre.
Andre yang menyaksikan pertengkaran singkat sepasang sahabat itu temangu saat  Nathan berlari, tahu betul Elang telah menyinggung hal yang sangat sensitive bagi Nathan. Menghela nafas, Andre segera menghampiri Elang lalu menepuk pundak Elang mencoba menenangkan. Dia mengerti Elang sangat emosi tadi, tapi dia tak habis pikir Elang akan melibatkan hal yang benar-benar tak amu di singgung Nathan.
“Lang, lo harusnya gak emosi kayak gitu. Lo liatkan akibatnya? Kenapa lo bawa-bawa Ibu Nathan?” tanya Andre halus.
Elang masih bergeming hingga akhirnya dia merutuki dirinya sendiri yang tak dapat mengontrol emosinya. Elang akhirnya sadar bahwa sikapnya tadi terlalu berlebihan. Dia jadi merasa menyesal telah mengucapkan kata-kata yang pasti menikam hati Nathan. Tadi dia sama sekali tak bermaksud menyinggung Nathan, itu murni karena emosi!
“Gue, gue gak sengaja Dre. Gue tadi terlalu emosi. Duh, gimana nih? Nathan pasti sakit hati banget,” ujar Elang menyesal, Andre tersenyum tipis lalu kembali menepuk pundak Elang pelan.
“Udah, jangan disesali. Yang penting sekarang lo kejar Nathan, minta maaf sama dia,” nasehat Andre bijak, Elang memandang Andre sekilas, berterima kasih atas nasehatnya lalu secepat kilat dia berlari mengejar Nathan.
Elang memutari seluruh sekolah untuk mencari Nathan, tapi dari tadi dia tak kunjung menemukannya hingga Elang pun merasa gelisah. Dia sangat menyesali ucapannya, dan sekarang Elang merasa gundah, takut ucapannya dapat berdampak negatif terhadap Nathan. Dia berjalan gontai menuju kelasnya dan berharap menemukan Nathan disitu.
“Nat, gue..gue..” Elang merasa gugup ketika hendak meminta maaf pada Nathan yang kini menangis dalam diam dibangkunya.
Nathan yang menyadari bahwa Elang berdiri di hadapannya segera menyeka tetes-tetes air mata dari pipinya yang putih, dia membuang wajah. Dia tahu memangis bukanlah hal yang baik mengingat kodratnya sebagai lelaki, tapi bagaimanapun Nathan tak bisa menahan air matanya. Kepedihan akan kata-kata tajam Elang telah menggoyahkan air mata yang selama ini tak pernah luruh.
Sadar Elang masih di situ, Nathan berusaha bersuara. “Apa? Lo bener Lang, anak kayak gue yang gak punya Ibu emang gak bisa ngerasain apa yang lo rasain,” gumam Nathan lirih.
“Nat, gue gak bermaksud ngomong kayak gitu tadi. Bener deh, lagian gue cuma kebawa emosi. Maafin gue,” Elang semakin merasa bersalah saja mendengar kata-kata Nathan yang lirih.
“Lo gak perlu minta maaf,” ketus Nathan, lalu bernjak berdiri. Tapi belum sempat berjalan Elang segera memeluk Nathan dari samping, ribuan kata maaf terucap dari bibirnya.
Please Nat, jangan giniin gue. Lo boleh minta gue ngelakuin apapun asalkan lo mau maafin gue,”
Nathan menghela nafas panjang, tak tega mendengar permohonan Elang yang di dalamnya terselip nada memelas yang dalam. Tak lama, Nathan mendesah pelan, menyunggingkan sebuah senyum di bibirnya.
“Yakin lo apapun?” tanya Nathan memastikan ucapan Elang, Elang mengangguk cepat.
“Apapun,” ulang Elang lalu melepaskan pelukannya, dia menyeka air mata yang entah sejak kapan mengaliri pipinnya lalu memberikan senyuman termanisnya karena ternyata Nathan masih mau memaafkannya.
Nathan tampak berpikir, sedetik kemudian dia tersenyum. :Kalau gitu, gue punya dua permintaan buat lo,”
“Apa?”
“"Pertama, gue juga mau minta maaf soal guci lo. Kalau lo mau, gue mau kok bantuin lo bikin lagi,” ujar Nathan, Elang mengangguk semangat. Apalagi Elang tahu Nathan adalah yang terbaik di kelasnya sola kerajinan tangan.
“Oke, itu sih gampang. Yang kedua apa Nat?”
“Yang kedua, gue mau lo temenin gue ke makam Ibu gue. Gue pengen ketemu sama dia,”
Sungguh, Elang sangat terharu mendengar permintaan kedua yang keluar dari mulut Nathan. Sambil tersenyum hangat, dia kembali mengangguk dengan suka cita.
***
Pikirku pun melayang
Dahulu penuh kasih
Teringat semua cerita orang
Tentang riwayatku
***
Taman Pemakaman Umum (TPU) tempat berbaringnya Ibunda Nathan terasa sangat sunyi. Langit tak begitu cerah, banyak awan di atas sana. Nathan dan Elang berjalan menyusuri jalan setapak hingga akhirnya mereka berhenti di sebuah pusara. Nathan berjongkok, raut wajahnya terlihat sangat merindukan sang Ibunda yang sudah tenang di alamnya.
“Mah, Nathan kangen sama mama. Mama baik-baik aja kan di Surga?” kata Nathan, memulai dialoh sepihaknya sambil tersenyum syahdu.
Nathan menaruh seikat bunga lili putih pada pusara Ibunya, lalu dia mengelus nisan Ibunya penuh kerinduan. Elang yang berdiri di belakang Nathan hanya bisa memandang sahabatnya itu iba, dia bisa merasakan bagaimana sedihnya perasaan Nathan sekarang.
Tadi, seusai membuat guci mereka langsung pergi ke sini setelah sebelumnya tak lupa membeli seikat bunga lili putih, bunga kesukaan alm.Ibu Nathan.
Nathan tertegun cukup lama. Awan tebal semakin menyelimuti langit, menandakan sebentar lagi tangisan alam akan tercurah.
“Mah, kapan Nathan bisa ketemu mama lagi? Nathan pengen kayak dulu lagi mah, Nathan pengen mamah ada di sisi Nathan,” Nathan kembali berbicara sambil menatap pusara Ibunya sendu. Tangannya tak henti-hentinya membelai nisan.
Elang yang sedari tadi memerhatikan dalam diam merasa terenyuh melihat betapa malangnya nasib Nathan dan betapa beruntungnya dirinya. Elang merasa beruntung karena dia masih bisa merasakan kasih sayang dari Bundanya.
Tak lama, Elang mendongak. Menatap langit yang mulai menangis perlahan-lahan, meluruhkan seluruh air alam hingga tubuhnya mulai basah. Elang mendesah, baru beberapa menit mereka disini, tapi tampaknya mereka harus segera pulang.
“Nathan, udah yuk. Ibu lo juga pasti kangen sama lo, dan menurut gue beliau udah bahagia di Surga sana,” Elang menepuk pundak Nathan dan mengajaknya untuk pulang. Nathan yang masih berceloteh segera mendongak dan menatap Elang dengan seulas senyum, dia mengangguk.
“Iya Elang. Ini juga udah,” katanya lalu kembali menatap pusara ibunya untuk terakhir kalinya, sorot mata penuh kerinduan masih tak lepas dari wajah Nathan.
“Mah, Nathan pulang dulu ya. Mama yang tenang di sana. Nathan sayang mamah,” ujar Nathan lalu mengecup nisan Ibunya dan beranjak berdiri.
Hujan mulai bertambah deras.
Elang merangkul pundak Nathan lalu keduanya menatap pusara Ibu Nathan sebelum akhirnya melangkahkan kaki meninggalkan TPU tersebut.
***
Kata mereka diriku slalu dimanja
Kata mereka diriku slalu dtimang
Nada nada yang indah
Slalu terurai darinya
Tangisan nakal dari bibirku
Takkan jadi deritanya
Tangan halus dan suci
Tlah mengangkat diri ini
***
“Bunda, kangen.” Elang memeluk Bundanya dengan manja ketika melihat beliau tengah menyiapkan makan siang untuknya, Nathan membuntuti Elang dari belakang karena tadi dia di paksa Elang untuk ikut.
“Elang, udah pulang nak?” tanya Bunda Elang lembut sambil membelai rambut anak semata wayangnya tersebut dengan penuh kasih sayang membuat hati Nathan terasa teriris, cemburu. Nathan juga ingin seperti Elang.
“Udah dong Bun. Nat, sini dong. Gabung,” ajak Elang melihat Nathan yang tak beranjak dari ambang pintu masuk ruang makan, dia menarik tangan Nathan hingga ke dalam.
“Hallo Tante,” sapa Nathan canggung lalu mengecup tangan Bunda Elang.
Bunda Elang tersenyum, menyambut kedatangan Nathan dengan tangan terbuka.
“Hallo juga Nat, gimana kabarnya? Ikut makan disini ya, tante udah masak banyak,”
“Baik tante. Iya terimakasih,” Nathan tersenyum manis.
Elang tersenyum melihat keakraban Nathan dan Bundanya lalu dia teringat akan guci yang dibuatnya bersama Nathan tadi. Elang menghampiri Bundanya lalu mengeluarkan guci tersebut dari dalam tasnya.
“Selamat ulangtahun, Bunda, ini Elang sama Nathan bikin khusus buat Bunda. Ini adalah persembahan untuk Bunda dari Elang sama Nathan, semoga Bunda suka,” ujar Elang bangga seraya memamerkan guci yang dia buat bersama Nathan. Bunda Elang tersenyum senang lalu mengacak poni Elang halus.
“Makasih ya sayang, ini bagus sekali. Nathan juga, makasih ya Nat.” ujar Bunda Elang sambil mengamati guci tersebut dengan ekspresi takjub.
“Sama-sama tante, Nathan juga mau ngucapin selamat ulang tahun sama tante,” ujar Nathan lirih.
Bunda Elang tersenyum manis, mengusap puncak kepala Nathan lalu beralih menatap Elang. Beliau lalu memeluk Elang erat. Elang balas memeluk Bundanya tersebut lalu berbisik sesuatu.
Nathan tersenyum tipis, tapi dia merasa tak enak telah menganggu waktu yang seharusnya Elang habiskan berdua dengan Bundanya. Nathan membalikkan badannya lalu melangkah menuju pintu, tapi sebuah suara menahannya.
“Nathan, sini nak.” panggil Bunda Elang menghentikan langkah Nathan. Nathan berbalik dengan ekspresi bertanya.
“Ya, ada apa Tante?” tanya Nathan lalu mengahampiri Bunda Elang.
“Mulai sekarang, kamu boleh panggil tante Bunda kayak Elang. Tante udah denger semuanya dari Elang, kalo kamu merasa kekurangan kasih sayang seorang Ibu kamu bisa menganggap Tante Ibu kamu. Tante juga sayang sama kamu, Tante udah nganggap kamu anak kandung tante. Kamu mau kan panggil tante Bunda?”
Nathan terperangah tak percaya mendengar penuturan Bunda Elang, dia memandang Bunda Elang lalu beralih pada Elang yang sedang tersenyum ke arahnya. Ada rasa bahagia yang membuncah tak kentara di hatinya mendengar tawaran tulus dari Bunda Elang. Secuil harapan bisa merasakan kasih sayang seorang Ibu tiba-tiba saja terpeta jelas di hadapannya.
“Beneran tante?”
“Bunda Nathan, lo susah banget sih di bilangin.” Elang menyela ucapan Nathan, dia sedikit jengkel dengan sikap Nathan yang seperti berada di dunia mimpi.
Senyum Nathan mengembang, dia membentangkan tangannya hendak memeluk Bunda Elang tapi dia urungkan karena malu. Nathan menggaruk belakang telinga salah tingkah.
“Mmm,, Nathan boleh meluk Bunda kan?” tanya Nathan malu-malu, Bunda mengangguk lalu tersenyum dan membawa Nathan ke dalam pelukannya. Nathan memeluk Bunda barunya tersebut erat, merasakan kehangatan pelukan yang selama ini sempat hilang dari kehidupannya.
Elang ikut tersenyum melihat betapa bahagianya Nathan, dia lalu ikut memeluk Bundanya bersama Nathan.
“Makasih Bunda, Makasih Elang. Nathan sayang kalian” gumam Nathan bahagia.
“Gue juga sayang sama lo Nat,”
“Iya, Bunda juga sayang kalian. Dua jagoan Bunda. Nah sekarang, ayo makan. Entar makannnya keburu dingin,” Bunda melepaskan pelukannya lalu membelai satu persatu rambut Nathan dan Elang.
“Hehe, iya Bun,” sahut Nathan malu-malu lalu ikut duduk di meja makan.
Untuk pertama kalinya dia merasa sangat bahagia setelah sekian lama tak pernah merasakan kehangatan seorang Ibu, dan dia sangat bersyukur karena hari inisetelah sekian lamadia mendapatkan seorang Ibu baru yang tampaknya akan dengan tulus menyayanginya dan menerimanya kapanpun.
Elang memandang wajah Nathan sambil tersenyum bahagia karena akhirnya Nathan pun bisa merasakan hal yang selama ini Elang rasakan, tak sedikit pun Elang merasa iri atau takut Bundanya akan lebih memperhatikan Nathan daripada dirinya karena Elang ingin berbagi dengan Nathan. Dia ingin, Nathan juga bisa memiliki seorang Ibu sama seperti dirinya. Dia ingin, Nathan merasa bahagia dalam balutan kasih sayang seornag Ibu. Karena Nathan pantas mendapatkannya.
***
Jiwa raga dan seluruh hidup
Rela dia berikan
Oh bunda ada dan tiada dirimu
Kan slalu ada di dalam hatiku
***


TAMAT

Tidak ada komentar:

Posting Komentar