Entri yang Diunggulkan

Series Recommendations! đŸŽ„

Hi, happy Wednesday all! So decided to post my own personal series. I usually dont like watching movie, so because i watched those series ...

Kamis, 09 Februari 2012

Selamat tinggal cinta


Desau angin yang berembus di antara kedua cowok itu sama sekali tak menyurutkan ketegangan yang tersirat di raut masing-masing, keduanya masih sama-sama bergeming di tempat tanpa bergerak sama sekali.

Deru napas yang memburu di antara keduanya kontan membuat keadaan bertambah suram. Mata mereka saling menatap, dengan tajam, dengan kebencian yang sangat kuat menguar dari salah seorangnya--seorang cowok dengan rambut gondrong.

Mereka terus begitu, tanpa ada sesuatu hal yang berarti. Akhirnya, bosan dengan kesunyian yang terasa begitu memuakkan, si cowok berambut gondrong itu akhirnya berkata datar tapi dengan nada yang tajam, "Oh, jadi ini yang waktu itu lo sembunyiin dari gue?"

Si cowok lain dihadapannya langsung membuang wajah  walau hal itu sama sekali tak berarti apa-apa, menyurutkan emosinya yang mulai terpancing karena melihat kekeras kepalaan sepupunya pun--yang terus menyalahkannya--tidak.

Tidak. Sama. Sekali!

"Gue nggak pernah nyembunyiin apa-apa dari lo." balas cowok itu dengan penekanan di setiap katanya, sambil berusaha mengendalikan emosinya.

Si gondrong tertawa mengejek, "Oh, ya?" nada suaranya meninggi, "TERUS KENAPA LO NGGAK PERNAH CERITA SAMA GUE HAH? BAHKAN WAKTU GUE TANYA KENAPA LO MALAH DIEMMM?!"

Si cowok satunya itu terdiam, sama sekali tak berniat menanggapi ucapan penuh emosi dari cowok dihadapannya yang nyatanya adalah sepupunya sendiri itu. Terlalu banyak pikiran yang berkecamuk dalam kepalanya sekarang. Cowok itu mendongak, menatap lurus-lurus pada sepupunya, berharap--untuk kali ini saja--sepupunya itu bisa membaca hatinya lewat tatapan itu. Karena terkadang, tatapan mata selalu berkata lebih banyak daripada lisan.

Cowok gondrong yang bernama Ray itu terdiam, mencoba meredam emosinya dan menyelami isi pikiran Lintar--sepupunya. Tak berselang lama, dia mendengus kasar, maju lebih dekat ke arah Lintar. Bug! Satu bogem mentah yang sudah lama di tahannya akhirnya lepas juga. Lintar tersungkur seketika, badannya membentur tiang basket di belakangnya dengan keras, menimbulkan bunyi gedebug yang memilukan. Lintar mengerang, merasakan perih di sekitar wajahnya yang baru saja di hajar Ray dan ngilu diantara tulang punggungnya yang membentur tiang. Satu pukulan barusan benar-benar tercipta dengan segenap kebencian dan emosi, dan Ray melakukannya dengan suka rela.

Tapi seolah buta dan tuli, Ray sama sekali tak memedulikan erangan dan keadaan Lintar. Cowok itu dengan beringas kembali melayangkan pukulan bertubi-tubi pada sekujur tubuh Lintar, sambil meracau penuh emosi.

"Kenapa gue harus tau dari ortu gue hah?! Kenapa gue harus tau disaat gue udah terlanjur cinta sama dia?"

Lintar berusaha menghindar dari pukulan bertubi-tubi cowok itu, tapi dia merasa terlalu lemas, bahkan untuk sekadar menangkis saja dia merasa tak berdaya. Tatapan penuh emosi yang tadi menyinggahi matanya pun menghilang seketika, berganti dengan tatapan kepiluan yang dalam dari matanya.

"Sori..." ujar Lintar lirih.

Satu tinju berikutnya yang hendak dihadiahkan Ray tertahan,  tangannya tiba-tiba saja terkulai. Ray terduduk lemas, menahan sekuat tenaga goncangan perasaan yang hancur lebur dalam jiwanya. Cowok itu menekuk lututnya, lantas membenamkan wajah dalam lekukan lututnya sambil terus menyesali apa yang kini terjadi padanya.

Mengapa saat ia mulai bisa merasakan manisnya cinta─yang sudah lama tak dirasakannya─kenyataan itu datang dan merenggut semua manis itu? Mengapa takdir seolah tak mengizinkannya untuk mengecap manisnya cinta, lagi?

Tubuh Ray menegang, tapi lalu berguncang pelan, hingga akhirnya, air mata yang sejak awal ia tahan luruh seketika. Ray terisak. Tak peduli sekalipun ia adalah seorang cowok, yang ditakdirkan dengan kelenjar air mata yang sedikit, yang harusnya tak gampang menangis begitu saja.

Lintar yang sedang tertunduk, menengok ke arah Ray seketika begitu mendengar isak tangis. Rasanya, ia seperti di paksa memakan pil pahit besar bulat-bulat tanpa air putih. Sakit, perih, dan sedih melihat keadaan Ray.

"Ini takdir Ray." bisik Lintar pelan. Ray sama sekali tak merespons walau Lintar tahu cowok itu bisa mendengar bisikannya.

Lintar tercenung di tempatnya, sejurus kemudian mendongakkan kepala menatap langit yang mendung. Sebuah senyum miris terpeta di bibirnya sebelum ia akhirnya larut dalam putaran memori yang telah membuat Ray terjebak dalam keadaan seperti ini.

***

Minggu pagi yang cerah di bulan Agustus itu dihabiskan Ray dan Lintar dengan bermain PS (Play Station). Walau mereka hanya terhubung oleh garis sepupu, tapi Lintar dan Ray memang sangat akrab dan dekat. Apalagi mereka memang tinggal seatap. Ya,  sejak kecil Lintar memang sudah tinggal di rumah Ray karena kedua orangtuanya sudah meninggal saat ia berumur 5 tahun.

"Gue menang lagi..." sorak Ray girang, membuat Lintar memajukan bibirnya tak terima.

"Jangan main balap mobil napa Ray?" tanya Lintar jengkel, "gue kan kalah mulu kalo mobil mah." lanjut Lintar kemudian dengan nada jengkel yang tak berubah.

Ray memeletkan lidahnya, mendengus menahan tawa.

"Sekali kalah tetep aja kalah, nggak usah cari alasan." ejeknya lalu melepaskan tawanya yang renyah. Lintar mendengus sebal, tapi tak lama ia malah ikut tertawa bersama Ray.

Suara tawa yang menggema itu memecah keheningan pagi di rumah mewah yang mereka tempati. Keceriaan, canda, dan tawa berbaur menjadi satu dalam hidup mereka. Satu tertawa, maka yang lain pun akan tertawa. Itulah mereka.

Tapi gema tawa itu segera berhenti seketika saat bunyi ceklik dari pintu yang dibuka terdengar, pintu depan.

"Bonyok lo pulang kayaknya." terka Lintar yang kini mengarahkan pandangan pada pintu masuk ruang TV--tempat mereka sekarang berada. Dan benar saja, tak lama setelah itu seorang pria dan seorang wanita berhambur masuk dengan senyum dikulum. Tunggu! Bukan hanya kedua pasang suami-istri itu yang nampak, tapi juga seorang gadis manis dalam balutan short dress berwarna biru yang bersembunyi takut-takut di belakang pasangan suami-istri tersebut.

Adik angkat Ray! Seru Lintar dalam hati begitu ia bisa menyimpulkan.

Oom dan Tantenya memang pernah bercerita bahwa mereka akan mengadopsi anak, dan ternyata, pilihan Oom dan Tantenya jatuh pada gadis itu. Lintar segera menengok ke arah Ray untuk melihat ekspresi macam apakah yang akan diberikan Ray. Penolakankah?

Tapi ekspresi Ray benar-benar jauh diluar dugaan. Lintar melihat cowok itu memandang lurus-lurus ke arah gadis didepan mereka. matanya mengamati dari atas sampai bawah dengan teliti, dan walaupun tidak tersenyum, Lintar bisa melihat mata Ray─yang biasanya mengkilat penuh kebencian jika bertemu dengan cewek─karena trauma masa lalu─kini  berbinar cerah. Seperti ia tak pernah mempunyai dendam dan trauma pada cewek.

Lintar mengernyit, jelas heran dengan sikap yang diberikan Ray pada adik adopsinya itu. dia bermaksud membuka mulutnya untuk berucap sesuatu, tapi segera mengatupkannya kembali saat mendengar suara Ray.

“Mah, itu siapa?” tanya Ray, nada suaranya terdengar sangat riang, menambah keheranan dalam benak Lintar.

Mama Ray tersenyum, merangkul pundak gadis manis itu sebelum berujar, “Ray, Lintar, gadis manis ini mulai sekarang adik kalian. Namanya Acha, Larissa Safanah Arif.”

Ray melengkungkan bibirnya membentuk sbeuah sneyuman manis. Sebaris kemudian, cowok itu sudha berdiri dihadapan gadis bernama Acha yang dibawa orangtuanya itu. ray mengulurkan tanga sambil tersneyum lebar.

“Hai, gue Ray. Selamat datang di keluarga kami ya Cha..” kata Ray ramah, menyambut dnegan suka cita.

Ragu-ragu, Acha menjabat tangan Ray dan membalas senyum cowok itu dengan sedikit kikuk.

“Makasih Kak Ray.”

Lintar ternganga melihat kelakuan Ray, tapi suara lembut yang berasal dari Tantenya membuat ia terpaksa harus menyudahi adegan ternganganya.

“Lintar, kamu nggak mau kenalan sama Acha sayang?”

Tahu-tahu, Lintar sudah berdiri disamping Ray, gentian mengulurkan tangan pada Acha.

“Lintar..” kata Lintar sambil meringis kecil ketika menyebutkan namanya, membuat Acha tertawa kecil.

“Acha kak.”

***

Hari-hari berikutnya, Ray dan Acha banyak menghabiskan waktu bersama, membuat mereka sangat lengket, layaknya surat dan prangko saja. Dimana ada Acha, disitu juga ada Ray. Kemana-mana mereka selalu bersama.

Bahkan sekarang, untuk pertama kalinya Lintar merasa benar-benar tak diacuhkan oleh Ray. Untuk hal apapun, sekarang Ray pasti lebih mementingkan Acha. Acha, Acha, dan Acha. Kini hanya nama itu yang ada di benak Ray.

Sebenarnya, Lintar tak pernah keberatan kalo akhirnya ia tersingkir dari hidup Ray. Karena toh, melihat Ray bahagia dan tak lagi membenci wanita pun membuat ia turut bahagia. Tapi, bagi Lintar sikap Ray pada Acha cenderung terlalu berlebihan, serasa ganjil.

Ray terlalu perhatian jika ia memang hanya menganggap Acha sebagai seorang adik cewek. Sikap Ray pada Acha malah terlihat seperti seorang cowok yang memerlakukan cewek yang di...

Sial! Lintar tersentak sendiri dari pemikirannya barusan. Mengapa bisa-bisanya ia berpikiran kalau Ray itu naksir Acha sih?

“Argh. Kenapa gue jadi mikirin yang macem-macem tentang mereka sih?” ujar Lintar sarkatis. “Plis deh Lintar. Nggak usah mikir yang macem-macem!” katanya kemudian pada diri sendiri sambil mengacak rambut.

Ia sendiri heran mengapa dirinya bisa menyimpulkan hal seperti itu, padahal Acha baru tinggal satu minggu dirumah. Terlalu cepat untuk menyimpulkan!

Lintar beranjak dari ranjangnya, melirik jam dinding lalu mendesah keras. Jam 1 siang. Ray sekarang sedang menemani Acha belanja ke mall, dan pasti mereka akan pulang sore─atau bisa dibilang malam. Detik berikutnya, cowok itu bergegas keluar dari kamar, berniat mengambil sekaleng softdrink dari kulkas.

Setelah mendapatkan apa yang dicarinya, Lintar kembali ke kamarnya lantas membuka laptopnya. Menyambung ke internet dan membuka situs jejaring sosial yang sedang nge-trend. Twitter. Mungkin, sedikit bercanda dengan teman-temannya di twitter bisa membuat ia melupakan pemikiran negatifnya tentang Ray dan Acha. Walau mungkin hanya sebentar. Begitu sign in, Lintar langsung di suguhi tweet-tweet terbaru teman-temannya.

@Ozy_A.Fauzi.A otw to bandara soekarno hatta. Gue ke aussie dulu ye temn-temen, jgn kngen gue :p

@RioMario Waktunya beli chitatooo. Gue mau beli banyak-banyak ah. Buat cadangan entar.

@alvinjonathan ish, si @Zevanarga rese bgt sih?

@ashillazhrtiara sedih dia ga sms :''(

Dan sederet tweet-tweet lain yang membuat Lintar menahan tawanya. Lintar lalu mulai mengklik ikon reply pada setiap tweet temannya.

HalilintarMorgen Idih, geer amit. Sono jauh2 lo, jgn blik sekalian RT@Ozy_A.Fauzi.A otw to bandara soekarno hatta. Gue ke aussie dulu ye temn-temn

HalilintarMorgen Elah, yg lo urusin cuma chitatooo aja RT @RioMario Waktunya beli chitatooo. Gue mau beli banyak-banyak ah. Buat cadangan.

HalilintarMorgen menurut gue resean lo dr si zeva vin, haha RT@alvinjonathan ish, si @Zevanarga rese bgt sih?

HalilintarMorgen Nanti gue sms kok, ga ush sedih gitu :D RT@ashillazhrtiara sedih dia ga sms :''(

Tak lama menunggu, teman-temannya sudah membalas.

@RioMario mending gue chitato, drpd lo mikirin si nopaa mulu hahaRT@HalilintarMorgen Elah, yg lo urusin cuma chitatooo aja RT @RioMario

Lintar meringis melihat balasan Rio, lalu memutuskan untuk melihat balasan yg lainnya dulu.

@Ozy_A.Fauzi.A gausah muna lo, kmrin aja nangis bombay gue pamitan RT@HalilintarMorgen Idih, geer amit. Sono jauh2 lo, jgn blik sekalian RT

 Lintar menenggak isi softdrinknya sampai habis sebelum membaca rentetan tweet lainnya.

@ashillazhrtiara bukan elooo. Krg kerjaan bgt gue nungguin sms lo d: RT@HalilintarMorgen Nanti gue sms kok, ga ush sedih gitu :D RT

@alvinjonathan sorry, gue ganteng :bRT@HalilintarMorgen menurut gue resean lo dr si zeva vin, haha RT@alvinjonathan

Lintar terkikik melihat balasan Alvin yang sama sekali nggak nyambung. Cowok itu menggerakkan kursor keatas untuk membalas tweet Rio dulu. Ia baru saja akan mengklik tulisan 'tweet' saat telinganya mendengar suara gaduh di kamar Oom dan Tantenya. Penasaran, cowok itu keluar kamar dan mengendap-ngendap menuju kamar Oom dan Tantenya yang hanya berjarak dua ruangan dari kamarnya. Lintar melongok kedalam kamar lewat celah pintu yang terbuka sedikit sambil membatin dalam hati. Maaf Oom, Tan, Lintar nggak maksud ngintip, cuma Lintar penasaran, hehe.

“Hasil tes ini pasti bener Pah!” suara Tante Ema yang biasanya terdengar lembut kini melengking penuh emosi, membuat  Lintar sampai tersentak sesaat.

“Tapi kita harus mencari bukti lain untuk lebih meyakinkan Mah. Ini terlalu kebetulan.”

“Bukti apa lagi Pah? Apa Papa nggak seneng sama kenyataan ini?” Lintar dapat melihat bahu Tantenya berguncang, entah menahan apa. Detik berikutnya, Oom Hadi telah mendekap Tante Ema dengan lembut.

“Bukan begitu Mah, Papah hanya masih sedikit ragu. Puluhan tahun kita mencarinya tanpa hasil, dan sekarang, tiba-tiba saja kita menemukannya,” Oom Hadi menghela napas panjang, “Papa, hanya merasa terkejut dan...belum siap.”

Dibalik pintu, Lintar mengerutkan dahinya bingung mendengar percakapan Oom dan Tantenya, tapi entah mengapa ia merasa sangat tertarik dan memutuskan untuk menguping sampai akhir. Pelan-pelan, Lintar melongokan kepalanya semakin kedalam untuk bisa melihat dan mendengar lebih jelas lagi.
Tante Ema menarik tubuhnya dari pelukan sang suami, lalu dari balik matanya yang berkabut, wanita itu menatap Oom Hadi tajam.

“Papa cuma nggak mau ngerti!” bentak wanita itu penuh emosi.

“Bahkan saking nggak mau ngertinya Papa sampai ngeraguin hasil tes DNA RS paling bagus di Indonesia!”

Oom Hadi kehilangan kata-kata.

Tante Ema menutup wajah dengan kedua tangannya, kembali terisak. Tak lama kemudian, wanita itu kembali berujar dengan pelan tapi menusuk.

“Kenapa Papa nggak mau ngakuin kalo Acha itu anak kandung kita Pah? Kenapa?”

Lintar terperanjat dari tempatnya mengintip. Begitu terkejut mendengar penuturan dari Tante Ema yang benar-benar tak disangkanya. Jadi...jadi...

Cowok itu melongo di tempat, masih berusaha mencerna apa yang baru saja dikatakan oleh Tantenya.
Tangannya yang masih bertengger di kenop pintu tanpa sadar mendorong pintu hingga terbuka sempurna.

“Jadi, Acha itu adik kandung Ray?” ceplos Lintar begitu saja ketika kesadaran menampar nalarnya berulang-ulang.

Tante Ema dan Oom Hadi terhenyak mendengar suara Lintar yang lirih, sontak pasangan suami-istri itu menengok ke arah Lintar dan semakin terkejutlah mereka. Tante Ema buru-buru menghapus air mata yang berjejak di pipinya. Detik berikutnya wanita itu sudah berdiri sambil tersenyum pada Lintar, berusaha bersikap bahwa tak terjadi apa pun barusan.

“Eh, Lintar. Sejak kapan kamu disana nak?” tanyanya lalu berjalan menghampiri Lintar.

Wajah Lintar menegang begitu Tante Ema hanya berjarak 4 meter dari tempatnya berada sekarang.
Lintar bergeming ditempatnya, tapi tak lama suaranya terdengar. Lantang, keras, dan menuntut penjelasan,

“Jawab Lintar Tante! Nggak usah pura-pura!”

Tante Ema terkesiap mendengar nada suara Lintar. Ia lalu menghela napas panjang, melanjutkan langkahnya dan memegang pundak Lintar dengan kedua tangannya.

“Kamu mendengar semuanya, Lintar?”

Lintar mengangguk, walau ada keraguan di kedua bola matanya.

Tante Ema hanya tersenyum, lalu melongok suaminya dari balik bahu, seolah meminta pendapat. Ketika dilihatnya Oom Hadi mengangguk, Tante Ema menuntun Lintar untuk duduk di sofa kamar mereka. Kemudian, beliau duduk di sebelah kiri Lintar. Oom Hadi pun ikut duduk di samping istrinya.

"Acha memang adik kandung Ray..." Lintar menatap Tantenya itu dengan pandangan mendakwa, yang di balas sang Tante dengan senyuman.

Baru saja Lintar akan menyela saat sang Tante kembali berkata,

"Ketika Ray berumur dua tahun, Tante melahirkan seorang anak perempuan yang kami beri nama Selvia Maharani Prasetya," Tante Ema mengambil napas sejenak. Perlahan, setitik air mata jatuh dan di susul titik lain. "Tetapi, belum genap berumur 2 bulan bayi Tante telah hilang, entah kemana."

Lintar menahan napas mendengar cerita Tantenya, sedangkan Oom Hadi hanya bisa merangkul pundak istrinya itu untuk sedikit menenangkan.

"Hilangnya Selvia itu kesalahan Tante Tar. Dulu, Tante sempat meninggalkan Selvia seorang diri di gerbang rumah hanya karena suara tangisan Ray yang bangun dari tidurnya. Dan ketika Tante kembali, Selvia...Selvia sudah hilang.

Menurut seorang pemuda yang melihat sekilas, ada orang gila yang menggendong Selvia dan membawanya kabur tanpa bisa di kejar."

Isakan tangis Tante Ema mulai terdengar, itu berarti beliau sudah tak sanggup lagi menahan guncangan perasaan yang menghantam batin dan jiwanya. Disebelahnya, Oom Hadi menghela napas dalam-dalam lalu merangkul Tante Ema hingga Tante Ema menangis dalam dekapannya.

Lintar tercenung mendengar cerita tantenya itu. Alangkah mirisnya nasib Acha─jika ia memang Selvia─selama ini. Belasan tahun Acha hidup tanpa orangtua kandungnya. Tapi ketika benaknya menampilkan wajah Ray saat pertama kali menyambut datangnya Acha, Lintar merasa─dalam hal ini─Ray lah yang paling patut dikasihani. Jika tebakannya benar, ada kemungkinan Ray memang menyukai Acha. Lebih dari sebatas adik angkat.

"Apa setelah hilangnya Selvia Oom sama Tante nggak berusaha nyari?" tanya Lintar kemudian dengan lirih dan amat berhati-hati, takut menyinggung perasaan Oom dan Tantenya yang sudah seperti orangtuanya sendiri.

Kembali, Oom Hadi menghela napas dalam-dalam, matanya yang sayu menatap mata Lintar sendu.

"Tentu saja tidak Lintar. Setelah hilangnya Selvia kami mencarinya kemana-mana. Mulai dari melaporkan ke polisi sampai menyewa detektif. Tapi kami tak menemukan apapun. Selvia sudah tidak bersama orang gila yang membawanya saat kami berhasil menemukan orang gila itu." Oom Hadi terdiam sejenak, seperti berusaha mengumpulkan memori masa lalunya yang begitu sulit.

"Dua tahun penuh kami mencari, dan setelah selama itu tak menemukan apa-apa kami memutuskan untuk menyerah."

Mendadak suasana berubah senyap setelah Oom Hadi selesai bersuara. Lintar tak lagi berkomentar apa-apa. Dia sibuk merenungi setiap cerita yang telah didengarnya─walau ia masih penasaran mengapa tiba-tiba Oom dan Tantenya bisa menemukan Acha. Keningnya berkerut tanda ia sedang berpikir keras.

"Setahun lalu, ada orang misterius yang tiba-tiba saja menelepon dan mengabarkan bahwa ia tau dimana Selvia sekarang." Seakan bisa membaca kebingungan Lintar, Oom Hadi tiba-tiba kembali bersuara membuat Lintar menoleh kaget.

"Oom dan Tante senang, tapi tak lantas percaya. Kami menyelidiki orang misterius itu sambil tetap menuruti setiap kata-katanya. Hingga ia menuntun kami ke sebuah panti asuhan, tempat dimana kami menemukan Acha.

"Kami memutuskan untuk melakukan tes DNA, tapi terlebih dahulu mengadopsi  Acha.─"

"Dan hari ini tes DNA yang menyatakan bahwa Acha adalah anak kandung kalian keluarkan?" sela Lintar, nada suaranya masih terdengar lirih.

"Ya, tapi Oom kamu masih saja memperdebatkan kebenarannya!" kata Tante Ema yang langsung menarik diri dan memandang suaminya tajam. Oom Hadi mendesah samar.

"Lalu, orang misterius itu siapa?" Lintar seakan tak memedulikan perkataan Tante Ema yang tajam.

"Anak dari orang gila tersebut." jawab Oom Hadi cepat, Lintar membulatkan bibirnya membentuk 'oh' tanpa suara.

Meski masih agak kaget dengan fakta yang baru didengarnya, Lintar tetap bersuara menyampaikan asumsinya.

"Terus, apa yang Oom masih ragukan jika tes DNA sudah menyatakan iya?"

Oom Hadi terdiam sesaat, seakan ragu membalas. "Oom tidak ragu..."─Tante Ema mencibirkan bibirnya─"...hanya masih agak kaget."

Lintar tersenyum, "Lintar jauh lebih kaget lagi Oom. Tapi Lintar masih bisa berpikiran jernih dan menerima semuanya, Oom juga harus."


Tante Ema menyeka air matanya seraya tersenyum, merasa dibela.

"Tuh, Pah. Dengerin kata Lintar. Anak kayak Lintar aja mau ngerti, kenapa Papa nggak?"
Oom Hadi memandang Tante Ema dan Lintar bergantian, mendesah keras sambil mengedik.

“Well. I think, I was lose.”

"Jadi Papa mau percaya?" Tante Ema terpekik senang, sedangkan Oom Hadi mengangguk perlahan.
Lintar menyeringai lebar.

"Eh, tapi...kapan Oom dan Tante mau bilang sama Ray dan Acha tentang ini?"

***

Lintar mengembuskan napas lamat-lamat sambil melempar dirinya di kasur. Seminggu berlalu sejak dia mengetahui tentang hal itu. Cowok itu lalu memandang langit-langit kamar dan termenung, teringat percakapannya dengan Oom dan Tantenya, yang benar-benar membuat pikirannya campur aduk.

"Eh, tapi...kapan Oom dan Tante mau bilang sama Ray dan Acha tentang ini?"

Wajah Oom Hadi dan Tante Ema yang semula rileks langsung berubah tegang. Bulir-bulir keringat sebesar biji jagung mendadak bermunculan di pelipis keduanya. Dan itu cukup membuat Lintar yakin kalau kedua orang dewasa dihadapannya ini sama sekali belum berpikiran sampai kesana. Lintar mendecakkan lidah. Dasar!

"Kalau kalian nggak mau bilang sama Acha dan Ray, biar Lintar yang bilangin." usul Lintar dengan mengusahakan agar senyumnya terlihat manis.

Kontan, raut wajah Oom Hadi dan Tante Ema makin tegang. Mereka menatap Lintar waswas sebelum akhirnya saling menatap satu sama lain, seolah saling berbicara lewat tatapan mata.

Setelah lama diam, Oom Hadi akhirnya kembali menatap Lintar dengan pandangan ragu. Beliau menarik napas panjang dan mengembuskannya lamat-lamat.

"Kami pasti akan menceritakannya sayang, tapi tidak sekarang." Lintar menyipitkan mata dengan pandangan menuduh.

"Kami butuh waktu sebentar lagi Lintar, tolong mengertilah."
Sekarang, gantian Lintar yang menarik napas panjang.

"Tapi sampai kapan Oom? Mereka berhak tau." kata Lintar lirih.

Kening Oom Hadi mengerut tanda beliau sedang berpikir keras.

"Saat ulangtahun Ray yang ke tujuhbelas dua minggu lagi." Tante Ema memicingkan mata ke arah Oom Hadi seakan tak setuju, tapi ia sama sekali tak berkata apa-apa. Sedangkan Lintar malah kembali menarik napas. Gundah.

"Tolong simpan rahasia ini sampai hari itu ya, Tar. Oom sama Tante percaya sama kamu."

Tapi Lintar nggak tau bisa nggak tau nggak Oom, Tan. Bisik Lintar dalam hati, ia meringis, tapi kepalanya malah mengangguk seakan ia setuju.

Oom Hadi tersenyum, kemudian ikut mengangguk. "Baguslah, ini pasti akan menjadi hadiah terindah untuk Ray." atau, hadiah terburuk, lanjut Lintar sarkatis. Berarti dia harus menjaga rahasia menyebalkan ini sampai dua minggu kedepan.

Tok...tok...

Ketukan di pintu menyadarkan Lintar dari acara melamunnya. Cowok itu menoleh pada pintu masuk, lalu berteriak menyerukan kata "masuk." karena ia malas beranjak dari kasurnya. Saat dilihatnya Ray yang melenggang masuk, Lintar mendadak gugup. Sial! Mengapa orang yang paling ia hindari malah muncul sekarang sih? Lintar kembali memfokuskan pandangannya pada langit-langit, berharap ia bisa tak acuh pada keberadaan Ray. Seminggu lagi Tar! Kata hatinya memperingatkan.

"Hai, Tar!" sapa Ray riang lalu mengempaskan tubuhnya disamping Lintar, ikut memandang langit-langit kamar cowok itu. Untuk beberapa lama, Ray tak bersuara, membuat Lintar memaksa kan kepalanya menengok ke arah Ray. Lintar mencelos seketika melihat senyum Ray, senyum penuh cinta. Yang terakhir kali dilihatnya saat Olivia belum mengkhianatinya.

Lintar memalingkan wajah, berusaha mengabaikan ekspresi Ray yang tampak sangat hidup.

"Tumben lo nggak sama Acha." ujar Lintar tanpa maksud apa pun, tapi sadar atau tidak nada suaranya malah terdengar sinis.

Ray sedikit tersentak, tapi hanya sebentar karena selanjutnya, cowok itu kembali mengulum senyum.

"Dia lagi pergi sama temennya."

"Ooh." respons Lintar tanpa minat, Ray menoleh heran.

"Kenapa lo? Lagi PMS?" canda Ray yang malah mendapatkan pelototan Lintar.

"Sial." desis Lintar, Ray tertawa.

"Haha, kidding bro. Lagian lo kenapa sih sinis banget sama gue?"

Lintar mengedik, seakan tak terjadi apa pun, matanya kembali menatap kosong langit-langit.

Ray ikut mengedik, terserah cowok itulah. Lagipula, kadang ia memang tak bisa mengerti jalan pikiran Lintar.

"Elo lagi ada masalah ya?" tebak Ray kemudian, seberapa pun tak acuhnya ia pada Lintar, Ray tetap peduli pada orang yang dari dulu jadi sahabatnya itu. Dan dari atmosfer yang tercipta antara dirinya dan Lintar sedari tadi, Ray bisa menangkap kegelisahan dalam gerak-geriknya, yang menandakan Lintar tengah menyembunyikan sesuatu.

Lintar memutar bola matanya sekali, berusaha mengenyahkan kegugupannya. "Ng...nggak!"

Helaan napas panjang keluar dari bibir Ray. Ray tahu Lintar berbohong, ada yang disembunyikan cowok itu. Tapi dia menghargai keputusan Lintar yang memilih tidak memberitahunya. Itu haknya, dari kecil Lintar memang senang menyembunyikan sesuatu padanya, toh pada akhirnya dia akan tahu juga. Ray kembali menghela napas, setelah itu ia tertegun. Tersedot dalam pikirannya. Ray tercenung, banyak hal yang berseliweran di otaknya. Tapi ketika bayangan Acha yang terlintas, senyumnya makin lebar. Ray meloncat dari kasur, lalu duduk menyamping. Menatap Lintar dengan mata berbinarnya yang membuat Lintar muak! Mata itu, dia tahu artinya!

Jangan katakan!

"Gue jatuh cinta, Tar. Sama Acha!"

***

Kafe mewah bergaya klasik di daerah Jakarta Selatan yang bernama Victoria ini menjadi pilihan Ray untuk melaksanakan ulangtahunnya yang ke17. Dan di sofa yang berada di pojokan sana, duduk Ray─yang malam ini memakai kemeja kotak-kotak dengan lengannya yang di gulung sampai siku─dan Acha─memakai dress coklat simpel yang anggun─yang sedang mengobrol hangat dan penuh canda tawa. Dengan mata Ray, yang seperti biasa, berbinar penuh cinta. Dan tak jauh dari di depannya, Lintar─yang mengenakan kaus kuning dan celana jins biru─menatap Ray dengan pandangan berat. Ya, hari ini adalah puncaknya. Dimana Ray akan mengetahui semuanya. Lintar mati-matian meyakinkan dirinya bahwa semua akan baik-baik saja, tapi hati kecilnya tetap saja berbisik dia telah melukai perasaan Ray.

Lintar mendesah keras-keras, kakinya melangkah ke sofa dengan terseok-seok. Setelah menyerahkan hadiah ditangannya, ia akan langsung pergi dari sini. Mungkin pergi ke Gedung Olahraga (GOR) diseberang kafe dan bermain basket untuk melampiaskan stress.

Lintar berusaha tersenyum saat dilihatnya Ray berdiri untuk menyambutnya. Cowok itu lalu menjabat tangan Ray dengan akrab.

"HBD Ray. Moga lo tambah tinggi, hehe." Lintar cengengesan diakhir kalimatnya, membuat satu jitakan mau tak mau bersarang di kepalanya.

"Nggak ikhlas banget lo!" gerutu Ray sambil tersenyum geli, Lintar mengedik lalu menyodorkan hadiah dalam kotak persegi itu kepada Ray.

"Gue ikhlas kok Ray."

Ray menimang-nimang hadiah dari Lintar dengan ekspresi yang di buat seragu mungkin.

"Isinya bukan bom kan?" celetuk cowok itu kemudian sambil memicing. Lintar kembali mengedik, memasukkan kedua tangannya ke saku.

"Gue cabut dulu ya Ray, disini sumpek."

Ekspresi Ray berubah heran.

"Mau kemana lo? Nggak mau ngeliat gue niup lilin?"

Lintar mencibir, "Kayak cewek lo. Kalau potongan pertama buat gue baru gue tinggal."

Ray melengos, "Yeh, ngarep! Ya udah, tapi lo mau kemana?"

Setelah berpikir beberapa detik, Lintar menjawab. "GOR depan." Ray mengacungkan tangannya walau Lintar bisa menangkap raut kecewa dari wajahnya.

Setelah itu, Lintar bergegas pergi, meninggalkan Ray yang mungkin saja akan mengejarnya setelah Oom Hadi dan Tante Ema memberitahukan semuanya. Apapun risikonya, Lintar sudah siap!

***

Angin yang berembus mengusap wajah Lintar spontan membuat cowok itu sadar dari lamunannya tentang awal mulanya Ray bisa menjadi seperti ini. Lintar mengerang pelan kala efek dari tonjokkan Ray yang bertubi-tubi di wajahnya terasa. Sial! Padahal ia sudah siap dengan dampak ini, tapi mengapa masih saja terasa sakit?

"Apa yang harus gue lakuin Tar?" suara lirih Ray yang sayup-sayup didengarnya, membuat Lintar mendongak ke  arah Ray, sambil mati-matian menahan rasa sakit diwajahnya.

Sebelum menjawab, Lintar terlebih dahulu beringsut mendekati Ray dan menyeka tetesan darah segar dari sudut bibirnya.

"Semua tergantung lo, Ray. Karena elo yang ngejalaninnya." ujar Lintar perlahan, berharap Ray tak lagi meminta pendapatnya karena ia sendiri pun tak tahu harus memberikan saran apa terhadap masalah Ray ini.

Cinta terlarang! Cinta yang datang tanpa permisi pada orang yang salah. Cinta memang datang tanpa bisa di cegah siapa pun, tapi kala cinta yang datang bukan cinta yang diingini, maka semuanya akan menjadi rumit.

Apalagi bagi Ray. Cowok yang sudah lama menanduskan hatinya akibat luka di masa lalu. Dan sekarang, ketika cinta itu datang lagi mengetuk pintu hatinya, Ray harus kembali merasakan sakit dan menghancurkannya.

"Gue nggak tau Tar..."

Ray mengangkat wajahnya, air mata sudah berhenti mengalir walau jejaknya masih terlihat dipipinya. Ray terceguk sekali, langit malam yang hitam pekat─tanpa taburan bintang satupun─seolah menggambarkan suasana hatinya sekarang.

Apa yang harus ia lakukan sekarang? Hah, pertanyaan bodoh! Tentu saja ia harus melupakan Acha, melupakan cewek pertama yang mampu menyentuh hatinya setelah sekian lama kering. Ray tak mungkin memperjuangkan cintanya, bagaimana pun Acha memang adiknya. ADIK KANDUNG!

Disebelahnya, Lintar menatap Ray iba. Untuk kedua kalinya ia melihat Ray sehancur ini.

Maafin gue Ray, maaf.

Saat Ray menoleh ke arah Lintar, cowok itu langsung meringis melihat wajah Lintar yang babak belur. Kenapa dia harus menghajar sepupunya sampai seperti itu sih? Ini kan bukan sepenuhnya salah Lintar.

"Muka lo ancur banget Tar, Sori..." kata Ray penuh sesal.

Lintar menyeringai, "Gue maafin, gue juga salah kok." Ray membalas seringaian Lintar dengan senyuman.

Mungkin, ada baiknya gue terima tawaran bonyok. batin Ray kemudian, dia kembali menatap langit sambil memaksa otaknya berhenti memutar memorinya bersama Acha.

***

Ray berjalan lunglai ke dalam kamar orangtuanya. Pikirannya kacau, walau tak sekacau tadi. Cowok itu mengetuk pintu kamar orangtuanya. Berharap keputusan yang di ambilnya tepat dan tidak merugikan siapapun.

Ketika pintu kamar terbuka, Ray tahu ia takkan bisa mundur lagi.

"Lho, Ray? Ada apa?" tanya Mamanya sambil tersenyum.

Setelah menarik napas dalam-dalam, Ray lantas berujar,

"Ada yang mau Ray omongin sama kalian."

Sontak, kedua orangtuanya mengernyit bingung.

"Yaudah, masuk dulu yuk sayang."

Ray mengangguk, lalu mengikuti langkah orangtuanya dan duduk di sofa.

Mama dan Papanya ikut duduk dengan kebingungan yang tak berkurang.

"Jadi, ada apa sayang?"

"Apa tawaran Mama dan Papa masih berlaku buat Ray?" tanya Ray lirih.

***

Keesokan harinya...

Ray masuk ke kamar Acha pagi-pagi buta, untung saja Acha tidak sedang ganti baju atau apa. Dengan senyum lebar dan tanpa dosa, cowok itu mengempaskan tubuhnya di sofa empuk berwarna pink dekat tempat tidur Acha. Wajah Ray tampak ceria, seperti tidak pernah terjadi apa pun sebelumnya. Acha menyambut Ray dengan senyuman. Cewek yang sedang menelungkupkan tubuhnya di atas kasur itu segera berdiri dan mematikan laptop yang sedang dimainkannya. Dia turun dari kasur lantas ikut mengempaskan tubuhnya disebelah Ray.

"Ada apa Kak?"

Ray mengulurkan tangannya dan mengusap rambut Acha dengan lembut.

"Kakak mau nerusin belajar ke Aussie, Cha." ujar Ray lirih.

Suara Ray yang sangat lirih sama saja seperti bisikan angin yang sepintas, membuat Acha mengernyit.

"Kakak ngomong apa barusan?" Ray meringis melihat Acha seperti tak mendengar perkataannya, padahal ia sudah dengan susah payah mengucapkan kalimat tersebut.

"Kakak mau ngelanjutin sekolah di Aussie Cha. Lusa kakak berangkat." ujar Ray lebih keras membuat Acha terhenyak.

Cewek itu melebarkan matanya dengan ekspresi tak percaya.

"Ke..kenapa kak?" tanya Acha tertahan, genangan air mata sudah terbentuk di sudut matanya dan sewaktu-waktu bisa saja meluncur bebas. Pasalnya, selama di rumah ini hanya Ray yang perhatian dan menyayanginya sepenuh hati. Hanya dengan Ray ia akrab. Ya, hanya Ray. Kakak kandungnya sendiri. Awalnya, Acha juga  kaget, tapi setelah mengetahui itu dia malah senang. Karena dalam pikirannya, jika mereka saudara kandung, ia dan Ray mungkin akan lebih akrab. Tapi ternyata, Ray malah berniat meninggalkannya.

Bukan apa-apa sebenarnya, Acha hanya tak yakin ia bisa akrab dengan Lintar. Cowok yang satu itu memang tak menunjukkan tanda-tanda bahwa ia membencinya, hanya saja Lintar selalu bersikap dingin dengannya, dan tatapannya seakan-akan Acha telah melakukan sebuah kesalahan besar.

"Apa gara-gara Acha disini kak?" pertanyaan itu tiba-tiba saja tercetus dari bibir Acha secara spontan, Ray langsung menggeleng-gelengkan kepalanya.

Ini karena kakak Cha, bukan kamu.

Perlahan, Ray menarik tubuh mungil Acha kedalam pelukannya, didekapnya erat dengan sepenuh hati. Karena mungkin, inilah terakhir kalinya ia dapat memeluk Acha.

"Kakak emang udah rencanain ini dari dulu Cha," dusta Ray seraya mengusap-ngusap rambut  Acha dengan lembut. Acha terisak, tapi ia tetap mendengarkan kata demi kata yang terlontar dari mulut Ray.

"Jangan nangis, ini demi impian kakak." dan demi ngelupain kamu.

Acha ingat impian Ray, menjadi dokter jantung terbaik di dunia. Perlahan Acha mengangguk di pelukan Ray.

***

Dua hari kemudian, bandara soekarno-hatta...

Lintar berdiri gelisah dikoridor bandara, cemas menunggu Ray yang tak kunjung kembali dari toilet, padahal jadwal take off Ray 10 menit lagi. Cowok itu lalu melirik Oom dan Tantenya yang juga tampak gelisah, lalu pandangannya beralih pada Acha yang tampak sedih. Lintar menghela napas panjang, lalu duduk disamping Acha dengan segan.

"Cha," panggil Lintar, membuat Acha yang sedang menunduk mendongak. "Gimana perasaan lo yang sebenernya sama Ray?"

Acha tampak bingung dengan pertanyaan Lintar. Sama sekali tak mengerti dengan apa yang ditanyakan Lintar. Maksudnya? Tanya Acha bingung dalam hati, tapi setelah berpikir sejenak ia akhirnya menjawab.

"Aku sayang sama kak Ray," jawab cewek itu tanpa ragu. Lintar melotot, masa sih Acha juga ikut-ikutan jatuh cinta sama kakak kandungnya sendiri?

"Ma...maksud lo sayang kayak apa?" Lintar mendadak terbata di awal kalimatnya. Shock dengan pengakuan Acha tadi.

Acha tambah bingung melihat Lintar seperti orang linglung yang bodoh, setahunya, Lintar pinter deh. Kok mendadak cowok ini jadi kayak orang bodoh ya? Acha segera menggeleng begitu sadar ia telah mengatai Lintar dengan sebutan tak pantas seperti itu.

"Kenapa lo geleng-geleng gitu?" tanya Lintar datar yang sontak membuat Acha terperanjat kaget.

"Ng..nggak apa-apa kok Kak." kilah Acha, bibirnya melengkungkan sebuah senyuman tipis.

"Jadi, kesimpulannya apa?" tanya Lintar kemudian dengan nada mendesak.

Acha kembali mengernyit, tapi tak lama senyum di bibirnya makin terkembang.

"Kak Ray itu, kakak yang Acha idam-idamkan selama ini Kak. Jadi, tentu aja Acha sayang sama kak Ray. Apalagi setelah Acha tau kak Ray itu kakak kandung Acha, Acha bener-bener seneng kak. Dan Acha tambah sayang sama kak Ray." jelas Acha panjang lebar, membuat Lintar tertegun. Acha tak mempunyai perasaan lebih untuk Ray. Ray bertepuk sebelah tangan.

Sedang 5 meter dari mereka, Ray berdiri dengan tatapan terluka. Dia mendengar semua penuturan Acha barusan, dan dugaannya benar. Cewek mungil itu tak pernah punya perasaan apa-apa padanya. Hanya perasaan sebatas adik kepada kakaknya. Ray menggigit bibir, akhirnya ia harus kembali merasakan kepahitan ini. Dan Ray makin yakin bahwa keputusan yang diambilnya ini benar. Dengan senyum yang di buat-buat Ray menghampiri Lintar, Acha, dan kedua orangtuanya yang langsung lega melihat kedatangan Ray.

"Ray, 5 menit lagi kita take off." ujar Papanya mengingatkan, beliau menarik kopernya dan juga koper istrinya dari bawah kursi.

Setelah berbicara dengan Lintar dan Acha, Mama dan Papa Ray akhirnya berjalan menuju security check.

"Ray, cepet nyusul ya." pesan Mamanya sebelum menghilang di balik pintu, Ray mengangguk samar.

"Gue harus pergi..." ucapnya dengan berat hati.

Lintar mengangguk, sementara Acha tampak menahan air matanya agar tidak jatuh. Ray tersenyum kecil pada Acha, cowok itu lalu mengulurkan tangannya dan menyeka setetes air mata yang meluncur mulus dari pipi cewek itu.

"Kakak pasti balik lagi kok Cha, nggak usah sedih gitu."

Acha mengangguk, lalu menyeka air mata yang mengalir di pipinya saat tangan Ray tak lagi bertengger disana. Cewek itu berusaha tersenyum, walau hasilnya senyum Acha terlihat aneh.

Ray ikut tersenyum. Setelah mengacak rambut Acha pelan, pandangan cowok itu terarah pada Lintar yang hanya menatapnya datar. Ray tersenyum pada Lintar, yang di balas ringisan dari cowok itu.

"Gue nggak bakal nangis walau lo kasih senyum kayak gitu Ray." tukasnya yang membuat Ray terkekeh. Lintar kemudian tersenyum lebar, dan mereka pun berpelukan ala cowok.

"Jagain Acha ya!" bisik Ray yang disambut anggukan Lintar.

"Cha, kakak pergi dulu." kali ini, giliran Acha yang di peluk Ray, Acha mengangguk tak rela sambil mati-matian menahan tangis.

"Sampai kapan kakak di Aussie?" tanya Acha lirih begitu Ray tak lagi memeluknya.
Ray menggaruk tengkuknya bingung. Sampai kakak bisa ngelupain kamu, cetus hati Ray.

"Perhatian-perhatian. Untuk penumpang jurusan Australia di harapkan segera memasuki pesawat karena pesawat akan lepas landas sebentar lagi." suara operator itu menyelamatkan Ray dari pertanyaan Acha yang harus di jawabnya. Cowok itu tersenyum lebar. Kemudian menarik kopernya lebih dekat.

"Gue pergi ya, jaga diri kalian baik-baik." seru cowok itu lalu mulai berbalik dan melangkah meninggalkan mereka, meninggalkan cintanya.

Lintar dan Acha menatap kepergian Ray dengan hati yang─diusahakan─seikhlas-ikhlasnya.

Sebelum menghilang dibalik pintu, Ray membalikkan badannya lalu melambai ke arah Lintar dan Acha yang balas melambai.

Ray tersenyum pahit saat matanya menangkap siluet Acha, ia lalu bergumam pelan, "Selamat tinggal cinta..."

-SELESAI-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar