Rio, Vina, Vino, Nova, Alvin, Ane, Raka dan Silla memandang sebuah villa megah di hadapan mereka dengan tatapan penuh kengerian, sebuah villa yang berplang ‘VIOLENCE’. Mereka berdiri mematung di halaman villa tersebut tanpa sedikit pun beranjak, tubuh mereka seakan mati rasa melihat bertapa seramnya villa yang akan mereka tempati untuk menghabiskan liburan sekolah yang hanya dua minggu.
Villa yang berada di kawasan puncak dengan gaya Belanda yang amat memukau itu tak dapat menutupi perasaan ganjil dari ke delapan orang anak remaja yang baru saja naik ke kelas XII. Entah kenapa ada hal ganjil yang mereka rasakan ketika melihat villa violence, villa itu seperti mengandung sebuah misteri yang sangat menyeramkan untuk dapat di ungkap. Hembusan angin yang sepoi-sepoi menggelitik tengkuk mereka membuat mereka semua bergidik ngeri. Rasa ganjil itu benar-benar terasa kuat, pekat, tanpa sekat apa pun.
Cukup lama diam dalam balutan kegelisahan, Vino akhirnya bertanya dengan nada pelan, “Yo. Lo yakin ini villanya?”
Vino menoleh pada Rio yang berada tepat di sampingnya, karena Vino merasa sangat terganggu dengan hawa villa yang terasa mencekam. Tangan kanannya mengusap tengguk yang disapa angin tadi. Entah mengapa, angin itu meninggalkan hawa tak menyenangkan untuknya.
Sementara yang ditanya balas menoleh dengan wajah yang sama gelisahnya dengan Vino, dia pun merasakan sesuatu yang tak wajar dari villa milik pamannya tersebut. Dan sempat heran juga mengapa pamannya masih memelihara villa menyeramkan seperti ini, padahal pamannya bilang dia sama sekali tak pernah menempati villa itu lagi sejak beberapa tahun yang lalu. Mengapa tak di jual saja? Pikirnya.
Yang lainnya ikut menatap Rio dengan berbagai macam ekspresi. Silla menunjukkan ekspresi ketakutan sehingga dia mendekap tangan Raka─yang merupakan kekasihnya─erat, begitupun Vina dan Nova, mereka saling berpegangan tangan karena takut. Sedangkan Ane dan Alvin tampak lebih santai walaupun dalam hati mereka sama gelisahnya dengan yang lain. Mereka berdua hanya tampak santai agar tak menambah beban gelisah yang lainnya.
Rio menelan ludah sebelum menjawab pertanyaan Vino karena dari tadi dia merasakan ada sesuatu yang mengganjal tenggorokannya sehingga tidak bisa bersuara.
“Ini memang villanya, No. Paman gue gak mungkin salah kasih alamat,” jawab Rio lebih pelan dari suara Vino tadi, nyaris tak terdengar.
“Lo salah kali Yo, ini villa kayak gak pernah di urus deh,” Vina mendesis, terganggu dengan hawa villa yang tak menyenangkan.
“Nggak Vina, alamatnya jelas-jelas sama,” Rio kembali memandangi secarik kertas yang berisikan alamat dari pamannya, dia mencocokkan dengan nomor villa dan hasilnya sama.
“Ya udahlah, kita masuk aja dulu. Kata lo villa ini ada penjaganya kan? Nah siapa tahu penjaganya didalam,” Alvin mencoba menenangkan teman-temannya yang tampak begitu tegang, dia berjalan perlahan menuju pintu masuk villa.
“Yap, Alvin bener. Udahlah gausah pada cemas gitu,” Ane mengikuti Alvin yang kini berada tepat di beranda villa.
Rio, Vino, Vina, Nova, Raka dan Silla saling berpandangan tapi sejurus kemudian mereka mengikuti langkah Alvin dan Ane hingga kini ke delapan anak tersebut berdiri ragu-ragu di depan pintu.
“Ketuk Yo, siapa tahu aja penjaganya di dalem,” perintah Raka mencoba tenang, dia merapikan poninya yang tertiup angin.
Rio sempat ragu, tapi akhirnya dia mengangguk.
“TOK..TOK..TOK” Suara ketukan di pintu yang cukup keras sepertinya tak menghasilkan apapun, seberapa lamanya Rio mengetuk pintu pun tetap tak ada jawaban dari dalam. Tetap hening, seolah memang hanya ada angin di sana.
“Udahlah, kita balik aja yuk. Kayaknya villa ini emang kosong,” usul Nova.
Rio menengok ke arah Nova, memandangi gadis itu sekejap lalu mengangguk setuju. “Ya udahlah, kayaknya Nova bener. Mending kita balik,” tegas Rio kemudian, lantas berbalik menatap semuanya meminta pendapat dan tanpa di sangka semua mengangguk setuju.
Mereka semua berjalan meninggalkan beranda villa, tapi sebuah suara aneh menghentikan langkah mereka.
Wussshh. Angin kembali menggelitik tengguk, mereka semua merapat dan saling berpandangan dengan ekspresi ketakutan. Apa lagi nih? Pkir mereka kalut.
Srekk. Suara lain dari balik semak-semak membuat kedelapan anak itu diam tak berkutik, ketakutan sudah berhasil menguasai tubuh mereka.
“Apaan tuh Yo?” Silla bertanya dengan suara yang terdengar bergetar, dia mempererat dekapannya pada Raka, meminta perlindungan pada kekasihnya tersebut. Raka balas mendekap Silla erat, tatapannya penuh pengertian dan menenangkan.
Tanpa mengalihkan perhatian dari semak-semak yang bergetar-getar, Rio menggeleng pelan, dia berusaha mengendalikan tubuhnya agar tidak bergetar.
Srekk, Srekk. Suara itu terdengar semakin mendekat, para gadis menutup mata mereka. Sumpah demi apapun, Silla, Vina, Nova, dan Ane pasti lebih memilih jalan-jalan di mall daripada harus merasakan ke takutan seperti ini.
“Aaaaaaaaaa…..” semua berteriak ketika sesosok tubuh menghampiri mereka dengan terseok-seok, tangan kanannya membawa sebuah celurit seolah ingin mencincang mereka satu persatu.
“Aduh, jangan teriak-teriak. Ini saya Pak Ucup,” sosok itu terlihat bingung ketika anak-anak di hadapannya berteriak.
Rio yang pertama kali mendengar ucapan sosok tersebut langsung melempar cengiran kakunya pada Pak Ucup di depannya.
“Bapak beneran Pak Ucup yang jaga villa ini?” tanya Rio memastikan, dia memandang Pak Ucup dari atas sampai bawah lalu menghela nafas lega karena ternyata kaki Pak Ucup masih menginjak tanah.
Pak Ucup mengangguk walau dia masih bingung dengan ekspresi anak-anak remaja di depannya. “Ini nak Rio dan teman-temannya kan? Ayo masuk, saya antar,” katanya kemudian dengan sangat ramah lantas memimpin di depan, beliau membuka pintu villa perlahan sambil membantu membawakan beberapa barang bawaan Rio dan yang lainnya.
Mereka semua langsung terperangah ketika melihat seisi ruangan villa yang tampak ‘wah’. Setiap sudut ruangan di penuhi oleh lukisan-lukisan bergaya klasik jaman dulu, lukisan-lukisan itu tampak indah walau beberapa diantaranya menimbulkan kesan mistis. Banyak lukisan yang bergambar wajah-wajah yang tampak gagah dan anggun. Rio sendiri pun ikut terpana, dia baru pertama kali menginjakkan kaki di villa ini.
Eh tunggu, pertama kali? Kepala Rio tiba-tiba saja berdenyut, bayangan-bayangan hitam tiba-tiba saja berputar di kepalanya. Villa ini, gadis itu, ada sesuatu yang dia lupakan di masa kecil. Rio meringis kecil, denyutan di kepalanya semakin bertambah parah dan bayangan-bayangan yang mungkin masa lalunya itu semakin berputar cepat di kepalanya. Apa ini? apa yang ia lupakan?
Brakk. Sebuah lukisan seorang gadis tiba-tiba saja jatuh kelantai membuat semua yang ada di situ terkejut, termasuk Rio yang sudah mulai bisa mengendalikan dirinya.
“Astagfirullahal’azim,” seru mereka semua─kecuali Rio─hampir bersamaan, mereka mengelus dada masing-masing. Pak Ucup segera menoleh begitu mendengar keributan.
“Ada apa den?” tanyanya tapi matanya segera terbelalak melihat lukisan seorang gadis jatuh, Pak Ucup segera mengambil lukisan itu dan mengembalikannya ke tempat semula. Yang lain masih kaget. “Maaf den, disini anginnya emang suka besar. Mari saya antar ke kamar kalian,” lanjut Pak Ucup yang tampak gugup.
“Ya ampun Yo, tadi itu apaan?” tanya Vina dengan ekspresi ngeri, Rio mengedikkan bahunya walau dia masih bingung dengan sekelebat memori yang baru saja melintasi otaknya.
“Gak tau, mending kita ikutin Pak Ucup aja. Yang tadi lupain aja,”
Mereka semua menurut dan mengikuti langkah Pak Ucup yang berjalan menuju lantai dua. Angin kembali menyapa tengkuk mereka membuat mereka mempercepat langkah menuju lantai atas tapi tidak dengan Vino, lelaki itu malah sempat memerhatikan lukisan yang baru saja jatuh.
Lukisan yang menarik, batin Vino. Disana tergambar seorang gadis cantik yang sedang tersenyum dengan anggunnya. Wajah gadis itu seperti gadis blasteran indo-belanda, di lehernya tergantung sebuah kalung cantik berbandul berlian hitam. Dagunya yang terangkat jelas menunjukkan bahwa dia adalah orang yang angkuh.
Merasa tertarik, Vino berjalan mendekati lukisan tersebut, setelah cukup dekat dia sedikit terkejut begitu mendapati segurat garis berwarna merah seperti darah di sudut bibirnya. Kejanggalan kembali dirasakannya seiring dengan angin yang semakin kencang mengusap tengkuknya.
“No, buruan naik,” seruan Alvin menghentikan tangan Vino yang baru saja akan menyentuh lukisan tersebut, dia menoleh pada Alvin lalu bergegas menaiki anak tangga.
“Iye, ini gue juga naik,” sahut Vino, lalu beranjak naik menyusul yang lainnya.
Tiba-tiba saja gadis dalam lukisan itu menolehkan kepalanya mengamati langkah Vino, tangannya menyeka darah segar disudut bibirnya lalu dia tersenyum sinis. Menatap anak-anak itu dengan tatapan tajam seolah penuh dendam kesumat.
***
“Yo, gadis di lukisan itu siapa lo?” tanya Vino membuka percakapan.
Mereka berempat─Rio, Vino, Alvin, Raka─kini sedang duduk di sofa ruang tamu menikmati malam dengan segelas coklat panas, sementara gadis-gadis sedang berada di dapur.
Rio yang sedang membaca buku menoleh pada Vino dengan alis yang saling bertaut. Sedikit heran karena Vino tampaknya sangat tertarik dengan lukisan-lukisan di villa ini.
“Maksud lo yang mana?” Rio balik bertanya sambil memperhatikan sekeliling ruangan yang di penuhi oleh lukisan orang-orang berwajah blasteran yang Rio yakini sebagai nenek moyangnya. Ibu Rio memang berasal dari Belanda, sedangkan ayahnya orang Manado.
Raka dan Alvin yang sedang mengobrol berdua ikut menoleh pada Vino karena merasa tertarik. Vino menunjuk sebuah lukisan seorang gadis cantik, tepatnya lukisan yang tadi pagi terjatuh. Rio mengikuti arah telunjuk Vino dan sedikit mengerutkan keningnya, begitupun Raka dan Alvin.
Rio memalingkan wajahnya lalu kembali sibuk dengan bukunya sebelum berkata, “Gue gak tau,”
Raka menaikkan sebelah alisnya melihat Vino memerhatikan lukisan itu dengan serius, “Emang ada apaan sih sama lukisan itu?”
“Hah? Bukan apa-apa kok Ka, gue cuman ngerasa tertarik aja,”
“Ngerasa tertarik kok gitu banget, tadi pagi aja lo mandangin lukisan itu lama banget,” komentar Alvin dengan wajah datar.
Raka meletakkan tangannyanya di dagu, mengusap-ngusap dagunya dan bergaya seperti detektif, senyum jahil langsung menghiasi wajahnya yang tampan. “Hmm,, jangan-jangan lo naksir lagi sama cewek di lukisan itu.. Hahaha, parah banget lo,” katanya berasumsi sambil tertawa ber high five ria dengan Alvin.
“Hati-hati lo No, nanti Nova ngambek lagi.” Rio ikut menggoda temannya itu dan tertawa riang bersama Alvin dan Raka lalu juga ber-high five ria bersama.
“Mmm, mungkin,” sahut Vino dengan nada kering, lantas ikut tertawa walaupun terdengar sumbang. Matanya berkali-kali melirik lukisan itu.
Baiklah, mungkin Vino sedikit paranoid karena daritadi dia merasa gadis dalam lukisan tersebut memerhatikan mereka dengan saksama dan itu membuat bulu kuduknya kembali berdiri, dia tak bisa menutupi kejanggalan yang begitu kuat dirasakannya.
“Yo, Pak Ucup mana?” tanya Ane yang baru saja muncul bersama Silla, Nova dan Vina dari arah dapur, mereka membawa semangkuk popcorn dan makanan kecil lainnnya.
Rio menoleh, acuh tak acuh akan pertanyaan Ane barusan. “Oh, tadi katanya mau pulang. Besok balik lagi ke sini,”
Ane hanya ber-oh ria sebelum akhirnya duduk didekat teman-temannya.
“Eh, kalung gue baguskan?” Silla memamerkan sebuah kalung berbandul berlian hitam di lehernya membuat semua menoleh padanya.
“Wah, bagus banget Sill. Dapet dari mana lo?” Nova dan Vina terkagum-kagum melihat kalung yang dipakai Silla, mereka tak pernah menemukan kalung seindah itu. Kalung itu sepertinya pesanan khusus.
“Iya say, kalung dari mana? Perasaan gue belum pernah liat kalung itu deh,” Silla hanya tersenyum mendengar pertanyaan dari Raka.
“Kalung ini gue nemu di laci salah satu kamar, karena bagus gue ambil deh. Hehe,” jawabnya sambil nyengir kuda.
“Heh, lo itu sembarangan banget sih Sill. Gimana kalau kalung itu punya nenek moyang Rio,” tegur Alvin.
Silla cemberut mendengar teguran Alvin, sementara Rio dan Vino memandang kalung di leher Silla dengan saksama. Sekelebat bayangan kembali mampir di otak Rio, tapi sedetik kemudian bayangan itu kembali menghilang. Sial, Rio mengerang dalam hati. Padahal dia sangat penasaran dengan bayangan yang selalu berkelebat di kepalanya sejak berada di sini.
“Ya sorry, habis kalungnya bagus sih makanya gue ambil.”
“Ya udahlah, gak papa kali Vin. Palingan kalung nenek atau nyokap gue yang gak kepake,” tanggap Rio sekenanya, dia tidak begitu peduli dengan kalung yang dipakai Silla dan tidak terlalu ambil pusing dengan sikap Silla yang seenaknya. Lagipula, apa salahnya sekali-kali membahagiakan temannya yang cerewet itu.
“Wah, berarti ini boleh buat gue dong Yo? Thanks ya,” seru Silla senang, dia mengusap kalungnya dengan lembut.
Tanpa menoleh─karena masih sibuk dengan bukunya, Rio mengangguk pelan. Sedangkan Vino yang duduk di sebelahnya tampak berpikir keras melihat kalung Silla, dia merasa tak asing dengan kalung yang dipakai Silla, dia merasa pernah melihatnya tapi masalahnya dimana dia pernah melihatnya?
“Lo kenapa No? Kok ngelamun gitu?” tegur Ane
Vino tersentak. Lelaki itu memutar bola matanya menatap Ane lalu menggeleng. Sebenarnya kalung itu memang terasa familiar, tapi entah mengapa memori yang menyimpan tentang kalung itu serasa hilang entah kemana.
“Apaan sih lo, gue gak apa-apa juga,” sergahnya, lantas tersenyum.
Dan selang beberapa menit kemudian kedelapan remaja itupun terlibat dalam obrolan ringan dan hangat. Mereka terlalu asyik sampai-sampai tak sadar bahwa sedari tadi ada sepasang mata yang terus memerhatikan mereka dengan sorot mata tajam penuh kebencian dan dendam terutama pada Silla dan Rio.
***
Hari-hari pun berlalu tanpa ada masalah yang cukup berarti, mereka menikmati liburan mereka dengan penuh canda dan tawa. Kegembiraan menyelimuti mereka walaupun hal-hal ganjil seringkali mereka rasakan terutama ketika menjelang tengah malam. Kadangkala mereka mendengar tangisan seorang gadis di tengah malam, suara-suara lolongan serigala serta derap langkah kaki di tangga. Tapi mereka tak memedulikannya karena menurut mereka selama itu tidak mengganggu, mereka tak mempermasalahkannya. Hingga suatu malam, tepatnya malam Jum’at hal ganjil itu semakin pekat dirasakan. Hal yang benar-benar tak bisa di elakkan lagi jika di sebut tak masalah.
“Hiks..hiks..hiks,”
Rio menghela nafas, merasa bosan dengan tangisan pilu yang begitu menyayat itu. Lelaki itu memutar bola matanya sekilas, lalu melirik jam dinding, pukul 20.00. Belum terlalu malam tapi tangisan itu sudah mulai terdengar. Ke adaan yang hening menyebabkan tangisan tersebut satu-satunya suara yang menemani malam mereka. Rio merinding, tiba-tiba saja merasakan feeling tak enak.
Yang lainpun tak kalah bosannya dengan Rio, mereka juga merasakan kebosanan─juga ketakutan yang semakin menguar kala suara-suara tak di undang mulai mengisi malam.
Merasa jengah dengan keheningan yang mencekam, Ane lalu berkata sambil menatap satu persatu teman-temannya.. “Tuhkan apa gue bilang. Dari kamar pojok atas itu selalu ada cewek yang nangis, kita harus selidikin,” yang mendapat tanggapan ekspresi macam-macam dari teman-temannya, tapi toh mereka tetap diam.
Silla tertegun, akhir-akhir ini dia mulai merasakan ketakutan yang amat sangat karena tangisan dari kamar itu. Kamar tempat dulu dia menemukan kalung yang sekarang masih dipakainya. Mati-matian, Silla berusaha menepis firasat tak enak tentang dirinya jika kalung itu masih dia pakai. Tanpa sadar, tangannya mengelus kalung di lehernya itu, seolah tak ingin kehilangan.
“Udahlah Ne, lo jangan cari masalah. Gue ngeri tau,”
“Nova bener Ne. Sebaiknya kita cuek aja, selama itu gak ngenganggu gak apa-apa kali,” tanggap Vina membenarkan ucapan Nova, dia tak mau cari masalah dengan sesuatu yang kata orang ‘gaib’.
“Tapi gue sebenernya setuju sama Ane. Kita harus selidikin, masa hampir tiap tengah malam gue denger suara itu apalagi sekarang kan belum tengah malam,”
“Lo gak usah sok berani Alvin. Gue setuju sama Vina dan Nova. Udahlah kita gak usah ngurusin, lagian kan setiap villa pasti ada penghuninya,” seru Raka cukup keras, emosinya hampir saja meledak melihat sikap sok berani Alvin dan Ane.
Wusshhh. Angin berhembus kencang setelah Raka mengucapkan kata penghuni. Mereka semua saling berpandangan satu sama lain sambil mengusap tengkuk masing-masing, angin itu tampak tak wajar karena diluar pepohonan tak bergerak sedikit pun. Suasana mulai mencekam, tangisan itu semakin bertambah kencang diiringi lolongan serigala yang terdengar jelas di telinga mereka.
“Apa gue bilang? Gak usah cari masalah,” bentak Raka sambil memandang Ane dan Alvin tajam, mereka duduk merapat. Sedang yang lain tak berkomentar apapun mereka hanya ikut merapatkan tubuh satu sama lainnya. Tapi dalam hati masing-masing mereka sudah menduga bahwa akan terjadi hal tak terduga setelah ini.
Brakk, Brakkk, Brakk. Semua pintu dan jendela yang terbuka di terpa angin kencang dan langsung tertutup rapat.
“Ya Tuhan, ada apa ini?” ujar Vina gemetar, ketakutan mulai menjalari setiap inci bagian tubuhnya. Dia memang sering menemukan hal tak wajar di villa ini, tapi baru kali ini hal tak wajar itu begitu terasa pekat dan sedahsyat ini.
Silla hampir saja menangis, entah mengapa dia mempunyai feeling tak enak. Dia merasa akan ada sesuatu yang terjadi padanya. Dia takut. Yang lain hanya menggigit bibir, berusaha menenangkan diri mereka sambil merapal doa dalam hati agar ke takutan mereka ini hanya ketakutan tak beralasan dan tidak terjadi apapun pada mereka.
“Rio, ini bener-bener udah keterlaluan. Sebenernya ada apa sama villa ini?” bisik Vino pada Rio yang berada disampingnya, Rio yang sedang berdoa beralih menatap Vino sambil menggeleng kecil.
“Gue gak tau No, ini pertama kalinya gue kesini,”
Vino bergeming, pandangannya lurus ke depan, matanya tengah terpaku pada lukisan gadis itu yang menatap mereka tajam. Kemudian selang sedetik kemudian sesosok gadis melayang dari arah lantai dua dengan melewati tangga. Dia melayang perlahan-lahan dengan rambut yang terurai panjang, matanya merah mengkilat dengan darah yang mengalir seperti air mata. Kukunya panjang, bibirnya pucat pasi, sangat kontras dengan baju berwarna hijau cerah di penuhi darah yang dikenakannnya. Tangan kirinya menggenggam pisau, dia menatap semua di ruangan itu dengan tatapan membunuh.
“I..tu si..apa?” tanya Vino terbata.
Rio mengerutkan keningnya melihat ekspresi Vino yang begitu ketakutan, dia mengikuti arah pandangan Vino dan ikut terpaku melihat apa yang ada di hadapannya.
Raka, Alvin, Silla, Ane, Nova dan Vina memandang Vino dan Rio bingung lalu mengikuti arah pandangan mereka dan sama terpakunya dengan Rio.
“Se..se…tan,” teriak Nova, Ane, Silla dan Vina serempak mereka ingin sekali berlari pergi tapi tubuh mereka seolah mati rasa. Mereka sama sekali tak bergerak akibat shock melihat makhluk di depan mereka. Tubuh mereka juga serasa lemas seketika.
“Aaaaaaaaa….tolongggg,” teriak mereka lagi.
“Heh, diam kalian,” sosok setan itu membentak Nova, Ane, Silla dan Vina membuat ke empat gadis itu seketika diam. Sosok itu terus melayang ringan ke arah mereka. Pisau yang di genggamnya dia arahkan pada ke empat gadis itu sambil tersenyum, sinis.
“Lo.. si..apa?” tanya Alvin begitu sosok yang di yakini setan itu tinggal beberapa meter lagi menuju sofa tempat mereka terpaku.
Sosok setan itu tak memedulikan pertanyaan Alvin. Dan tanpa di duga sosok itu melayang mendekati Rio yang masih terpaku ketakutan. Mata Vino terbelalak ketika sosok itu begitu jelas di hadapannya.
“Kamu benar-benar tak ingat pernah kesini Mario?” tanya sosok itu sinis sambil menempelkan pisau di tangannya pada pipi Rio.
Rio ketakutan, tangannya mencengkram baju Vino kuat. Tak sepatah katapun mampu ia keluarkan dari mulutnya.
“Lo…gadis di lukisan itu,” ceplos Vino, sosok itu mengalihkan pandangannya pada Vino dan menggeser pisau di pipi Rio membuat pipi Rio tergores dan berdarah, Rio meringis kesakitan sambil memandang setan itu dengan tatapan tak terlukiskan.
“Rio….” seru yang lainnya khawatir.
“Ya, kamu benar. Aku gadis di lukisan yang sering kamu amati itu,”
Vino terperanjat saat setan itu kini mendekatkan dirinya ke arah Vino, dan Vino lebih terperanjat lagi saat ekor matanya tak sengaja melirik kalung yang di pakai Silla. Dia sekarang ingat pernah melihat kalung itu dimana, itu adalah kalung setan yang kini jarak wajah dengannya tak lebih dari 10 cm di lukisan itu.
“Ma..mau apa lo?” tanya Vino bergetar.
Setan itu tiba-tiba saja tersenyum manis, lalu menggapai leher Vino dengan tangannya yang tak memegang pisau. Vino bergidik, ingin mendorong tapi takut pisau di tangan kiri setan itu melayang pada lehernya. Hati Vino ketar ketir melihat setan itu semakin mempererat rangkulan tangan di lehernya. Jangan-jangan, dia mau di cekik lagi? Dia melirik teman-temannya yang nampak mematung.
“Aku, mau nyawa kalian,” bisik setan itu tepat di telinga Vino.
Untuk kesekian kalinya, Vino terperanjat, di tatapnya setan yang sekarang mulai menjauhinya. Senyum manis yang tadi tersungging di bibirnya kini kembali berganti menjadi senyum sinis, penuh dendam.
Lantas tanpa beban, setan itu kembali melayang di tengah-tengah. “Aku, mau nyawa kalian semua,” dia mengulangi kata-kata yang sempat di bisikkan pada Vino membuat semua tersentak kaget. Suasana begitu mencekam saat ini.
“Kenapa? Apa salah kami?” tanya Silla waswas, dia telah berhasil meredam shocknya dan ingin segera berlari dari sini.
“Kau? Kau bersalah karena telah lancang mengambil kalungku. Kalian harus mati karena telah berani datang kemari, kalian telah berani menganggu kediamanku,” bentaknya dengan tatapan yang sangat tajam.
Silla terenyak sambil memerhatikan kalung berbandul berlian hitam yang di pakainya. Rasa tak rela kehilangan kalung itu telah membutakan nalarnya hingga ia memutuskan untuk tak pernah memberikan kalung ini pada siapapun, termasuk setan itu! Dengan segenap keberanian yang masih tersisa di dalam dirinya, Silla berdiri lantas berlari menuju pintu tapi…
Clebbb. Pisau yang sedari tadi di genggam sosok itu kini dia lemparkan ke arah Silla tanpa ampun dan tepat mengenai dadanya. Darah segar mengalir melalui dada dan mulutnya, Silla langsung roboh dan mati, mengenaskan.
Jerit histeris langsung menggema di ruangan luas itu.
“Silla…” semua berteriak histeris, Raka yang kaget segera berlari menghampiri Silla dengan beruraian air mata. Tidak, tidak boleh ada yang memperlakukan Silla seperti ini. Raka sudah berjanji untuk melindungi gadis ini.
“Silla,” lirih Raka lalu mencabut pisau di dada Silla, dia mengelus rambut mayat Silla penuh sayang. Lantas matanya mendelik tajam pada setan yang baru saja membunuh kekasih yang amat dicintainya.
“Lo, lo harus bertanggung jawab atas kematian Silla. Lo juga harus mati,” bentak Raka dan dia berlari ke arah sosok setan itu. Dia mengarahkan pisau tadi lurus ke arah setan itu. Tanpa peduli resiko apapun lagi, bahkan dia tak mengacuhkan kemungkinan bahwa dia akan mati mengingat sosok di hadapannya bukan makhluk sembarangan.
Setan itu tertawa, yang lain bergidik tanpa dapat berbuat apapun. “Hahahaha…..kau menantangku?” tanya setan tersebut sambil melayang ringan menghampiri Raka.
Clebbb. Raka menusukkan pisau itu pada setan di hadapannya, naasnya bukan setan itu yang tertusuk malah dirinya sendiri yang tertusuk. Darah segar mengalir dari perutnya, Raka menggelepar-gelepar di lantai dengan mata melotot sampai akhirnya dia mati mengenaskan menyusul Silla. Dan, jerit histeris pun kembali menggema.
“Rakaaaaaa…”
“Hahahaha. Itulah akibatnya jika kalian menantangku…” setan itu kembali tertawa nyaring dan melayang ringan menuju ke arah sofa lagi. Dia menekankan kukunya yang panjang pada pipi Rio yang tidak tergores pisau tadi sambil kembali memandang Rio lekat-lekat. Rio menutup matanya takut, yang lain hanya bisa terdiam karena mereka sama-sama di cekam ketakutan.
“Kau masih tak mengingatku?” tanyanya sambil kembali menggores pipi Rio dengan kukunya, Rio kembali meringis. Tapi toh, apa yang bisa ia perbuat saat ini selain diam?
Dalam ringisannya bayangan itu kembali berkelebat di kepalanya. Perampokan, pembunuhan, villa ini, gadis itu. Rio terenyak. Dia ingat semuanya, dia ingat siapa sosok di hadapannya.
“Kak Zahra..” lirih Rio sambil membuka matanya, dia memandang sosok setan yang ternyata bernama Zahra itu sedih.
Zahra tersenyum sinis, dia menjauhkan wajahnya dari Rio dan melayang-layang di sekitar ke enam remaja yang sangat ketakutan itu.
“Ternyata kau ingat juga Rio, adikku sayang,”
“Adik…?”
“Ceritanya panjang,” ujar Rio lalu kembali memandang Zahra, tak memedulikan tatapan heran teman-temannya yang masih bersisa. “Kenapa kakak lakuin ini ke Rio? Apa salah Rio kak?” tanya Rio sambil bangkit dari duduknya.
Zahra berhenti tepat di hadapan Rio. Tatapan matanya tetap saja sinis dan menusuk.
“Salah kamu? Kamu bersalah karena membiarkan mayat kakak disini selama bertahun-tahun tanpa sekalipun kembali untuk sekedar mengambil mayatku,”
“Tapi Rio bener-bener gak ingat kak, Rio shock. Rio, kehilangan ingatan,” Zahra melengos mendengar perkataan Rio.
Yang lain hanya terdiam, tak mengerti tapi tak sedikitpun berani berkomentar. Lantas, mereka─Vino, Alvin, Nova, Ane dan Vina─ikut berdiri di samping Rio, mereka saling berpegangan tangan dan berusaha meredam ketakutan akan sosok setan di hadapan mereka.
“Heh, kau pikir aku percaya?”
“Lariiiiiiiiii…….” Vino memberi komando pada teman-temannya untuk berlari ke arah pintu, dia menarik tangan Rio sehingga Rio ikut berlari bersama mereka.
Zahra mengernyit melihat anak-anak itu lari tunggang langgang, tapi tak lama senyum sinis yang terkesan meremehkan kembali terukir di wajahnya.
Vino menoleh kebelakang melihat setan yang─kata Rio─bernama Zahra itu melayang santai mengejar mereka, lalu entah mendapat insting darimana, dia menyempatkan diri untuk mengambil kalung yang masih melingkar di leher Silla saat tak ada yang melihatnya.
Brakk, pintu di dobrak.
“Hahahaha, kalian takkan ku biarkan lepas begitu saja,” Zahra mengejar dari belakang masih dengan melayang-layang.
“Vino, kita mau kemana?” tanya Alvin, mereka berenam masih berlari beriringan, mencoba lepas dari sosok setan yang terus mengejar mereka.
“Sudahlah, lari saja. Kita harus menemukan tempat untuk bersembunyi,”
“Gue takut…hikss..” Vina berhenti berlari dan menangis membuat semuanya terpaksa harus ikut berhenti, mereka menoleh ke belakang pada Zahra yang masih lumayan jauh dari mereka.
“Na, ayolah..kita harus bergegas agar selamat,” Ane mencoba menenangkan Vina
“Vina cepat, kita tak punya waktu banyak,” seru Nova sambil terus-terusan melirik ke belakang, Zahra semakin mendekat.
“Kalian pergilah, gue yang bakal nahan kak Zahra disini. Ini masalah gue, kalian gak ada sangkut pautnya,” ujar Rio sambil menatap teman-temannya satu persatu.
Vino menggeram. Matanya menatap Rio nyalang, kalau dia tak ingat mereka sedang di mana sekarang, tangannya pasti sudah menghantam perut Rio. Kesal sekali ia dengan sikap Rio yang sok-sok ingin jadi pahlawan. Memangnya dengan mengorbankan Rio setan itu akan berhenti mengejar mereka apa?
“Justru karena ini salah lo kita semua harus selamat. Sudah cukup Raka dan Silla yang menjadi korban,”
“Tapi..”
“Ayo lari…” Alvin menyela ucapan Rio lalu kembali menarik tangan mereka karena Zahra sudah semakin mendekat. Vina pun terpaksa harus kembali berlari.
***
“Riooo, mana kampung penduduk itu? Mengapa semuanya sekarang berubah menjadi hutan?” tanya Ane bingung dengan nafas yang terengah-engah.
Mereka kini tengah bersembunyi di balik semak-semak untuk mengumpulkan kekuatan agar bisa berlari kembali. Mereka semua tampak heran dengan sekeliling villa yang kini adalah hutan lebat, kemana rumah-rumah penduduk yang sebelumnya mereka lihat? Mengapa kini rumah-rumah itu menghilang? Berbagai pertanyaan menyerbu otak mereka tanpa sedikitpun di temukan jawabannya.
Rio hanya bisa menggeleng tanda tak tahu pada Ane. Vina dan Nova sudah menangis merenungi nasib mereka yang begitu naas, kematian kini membayangi mereka semua. Mungkinkah mereka selamat dan kembali ke Jakarta? Mereka masih ingin hidup. Masih banyak impian-impian mereka yang belum terkabul. Mereka masih terlalu muda untuk mati!
“Gue mau pulang..gue mau pulang,” isak Vina dan Nova pilu, mereka menutupi wajah dengan kedua tangan.
“Stttt, diem. Suara kalian nanti kedengaran itu setan,” tegur Alvin waswas, dia meletakkan telunjuknya di bibir.
Vino mengamati kalung berbandul berlian hitam yang baru saja di ambilnya dari leher Silla. Vino tertegun, kalung ini. Entah mengapa ia yakin bisa berguna, tapi tak berapa lama kemudian kalung itu segera di masukkan kesakunya kembali. Vino mengintip keluar dari celah semak-semak yang kecil, dia melihat Zahra masih melayang-layang sambil tertawa sangar di sekitar mereka.
“Kalian takkan ku lepaskan, aku pasti menemukan kalian tikus-tikusku,” teriaknya bergema di seluruh hutan. Membuat tubuh keenam orang anak itu bergetar hebat
“Gue gak tau apa yang terjadi sama rumah-rumah penduduk itu tapi yang pasti kita harus segera keluar dari hutan ini,” ujar Vino pada teman-temannya. Mereka semua saling bertatapan bingung.
“Ada baiknya kita berpencar supaya setan itu bingung,” usul Ane
“Tidak, kita tak boleh berpencar. Kita harus terus bersama dan keluar dari hutan ini dengan selamat” sanggah Rio yang baru berbicara untuk pertama kalinya. Vina dan Nova menghapus air mata yang mengalir di pipi mereka.
“Rio bener, kita harus terus bersama. Gimana kalian udah gak terlalu capek lagi kan? Kita harus berlari kembali,” tutur Vino lalu memandang wajah sayu teman-temannya yang sudah sangat tegang, mereka semua mengangguk kecil.
“Oke, hitungan ketiga kita lari. Ikutin gue,” perintah Vino, dia berjongkok paling depan. “1…2…3.. lariiii,” mereka semua keluar dari semak-semak lalu berlari kearah utara. Zahra melihat mereka sambil tersenyum sinis.
“Disana rupanya kalian. Akan kupastikan kalian mati di hutan ini,” seru Zahra lalu melayang cepat mengejar enam anak itu.
“Percepat lari kalian,” bentak Rio pada Ane, Vina, dan Nova.
“Pssttt,” Alvin dan Vino mendengar sebuah suara yang berasal dari dekat pohon besar, mereka menoleh dan mendapati Pak Ucup disana. Senyum merekah di bibir mereka ketika Pak Ucup melambaikan tangannya pada mereka.
“Ayo kesana, itu ada Pak Ucup,” Alvin menunjuk sebuah pohon besar, dan mereka pun bergegas menuju pohon itu.
“Hash, hosh.. Pak siapa hantu itu?” tanya Vino begitu mereka berada di balik pohon bersama pak Ucup
“Itu hantu majikan saya den, non Zahra kakaknya den Rio,” jawab Pak Ucup membuat semua mata memandang Rio, tatapan yang menuntut penjelasan.
“Gimana ceritanya?” desak Ane
“Sudahlah jangan ributkan itu, yang penting kalian harus keluar dari hutan ini sekarang juga. Berlarilah ke arah barat dan kalian akan menemukan jalan raya,” lerai Pak Ucup Sambil sesekali menengok ke balik pohon.
“Pak Ucup bener. Kita harus segera berlari. Ayo semua,” kata Vina dan Nova bergetar, semuanya mengangguk setuju kecuali Vino
“Nggak, kita gak bisa meninggalkan mayat Silla dan Raka begitu saja,”
“Tapi Vino…”
“Jadi non Silla dan den Raka meninggal?” Pak Ucup memotong perkataan Alvin dengan ekspresi terkejut, semua mengangguk lesu.
“Iya Pak, mereka di bunuh kak Zahra,” lirih Rio merasa bersalah.
“Kenapa bapak tak pernah bilang kalau villa itu berhantu?” Alvin teringat ketika mereka pertama kali bertemu dan Pak Ucup sama sekali tak mengatakan apapun pada mereka.
“Maaf anak-anak, bapak di ancam non Zahra saat itu. Yang terpenting sekarang kalian harus segera pergi dari sini. Biarkan non Silla dan den Raka menjadi urusan bapak, yang penting kalian semua selamat,”
“Kita tak akan pergi tanpa mereka Pak,” bentak Vino keras.
Wusshh, angin kencang kembali menyapa tengkuk mereka dan ketika mereka mengintip kebelakang pohon Zahra sudah tak ada. Mereka bernafas lega, akan tetapi angin semakin berhembus kencang menerbangkan dedaunan di sekeliling mereka. Mereka membalikkan badan dan terkejut bercampur takut ketika melihat Zahra di hadapan mereka.
“Jadi disini rupanya kalian bersembunyi. Hahaha, sudah kubilang aku takkan melepaskan kalian,” katanya sangar, matanya lalu beralih menatap Pak Ucup yang ketakutan. “Heh Ucup, apa yang kau lakukan hah? Mencoba menyelamatkan mereka? Kau mengkhianatiku, dan kau harus mati,” bentak Zahra pada Pak Ucup yang bergetar.
Zahra semakin melayang dekat di antara mereka. Kini pakaiannya compang-camping seperti bekas sayatan pisau, setengah ususnya keluar dari perut, baunya menyengat. Bajunya yang semula hijau bercampur merah darah kini menjadi merah seutuhnya. Di tangannya penuh dengan luka bekas sayatan pisau, tangannya berlumuran darah di tambah belatung-belatung yang asalnya tak ada. Wajahnya juga penuh luka sayatan dan juga belatung-belatung yang hampir sama dengan yang terdapat di tangannya, matanya yang merah mengkilat memandang anak-anak itu tajam. Dan parahnya kini setan itu tak mempunyai kaki. Dia melayang dengan setengah tubuhnya. Menyeramkan.
“Non hentikan, jangan ganggu anak-anak ini. Terserah non mau apakan saya, tapi jangan anak-anak ini,” kata Pak Ucup tegas walaupun hatinya sudah ketar ketir melihat sosok asli Zahra. Selama ini Zahra tak pernah memperlihatkan sosok aslinya yang seperti ini. paling-paling dia berwujud seperti manusia dengan berlumuran darah ketika bertemu dengannya.
Zahra tertawa nyaring. “Mudah sekali kau berbicara. Aku takkan melepaskan siapapun,”
“Apa tak ada cara lain untuk memusnahkannya Pak?” tanya Ane pada Pak Ucup yang berada tepat di sampingnya. Mereka semua terdesak, tak ada celah untuk lari. Angin semakin bertiup dengan kencangnya seirama dengan tawa Zahra.
Pak Ucup tampak berpikir lalu sesaat kemudian dia menjentikkan jarinya, “Hanya ada satu cara. Orang yang sedarah dengan non Zahra harus memusnahkan kalung berbandul berlian hitam milik non Zahra, tepat di berlian hitamnya,”
“Berarti lo dong Yo, tapi kalungnya kan masih dipakai Silla,” ujar Vina kecewa, harapannya tipis untuk selamat.
Vino teringat sesuatu, dia merogoh sakunya dan mengeluarkan kalung yang tadi di ambilnya kemudian disodorkannya pada Rio.
“Nih Yo, cuma lo yang bisa musnahin setan itu,” kata Vino, mata Zahra semakin mengkilat melihat kalung itu.
“Pencuri. Jadi kau yang mengambil kalungku lagi?” Zahra melayang cepat ke arah Vino dan mencengkram baju Vino.
Vino meronta ketakutan melihat kilat merah di mata Zahra, dia melemparkan kalung itu pada Rio yang sama sekali bergeming. Ada apa dengan Rio?
“Vino…. Rio, cepat musnahkan kalung itu,” perintah Nova dengan tubuh yang bergetar, dia tak tega melihat Vino di perlakukan seperti itu. Mana mungkin ada gadis yang tega melihat orang yang begitu ia cintai harus menderita.
Dugghh. Tubuh Vino terhempas ke sebuah pohon besar di sebelah kawan-kawannya, Vino merintih kesakitan apalagi ketika tangannya tergores batu tajam disana. Ekor matanya menatap Rio yang masih bergeming, bahkan Rio sama sekali tak menyentuh kalung itu. Dadanya tiba-tiba saja sesak ketika satu pemikiran melintas di benaknya. Mana mungkin Rio tega membunuh kakaknya sendiri?
“Kau.. padahal aku sempat berpikir untuk melepaskanmu,” ujar Zahra. Vino diam, termangu menghadapi suatu kemungkinan instingnya tidak akan menyelamatkan dia.
“Tapi sekarang, kau orang pertama yang akan kubunuh sebelum teman-temanmu,” bentak Zahra sambil kembali melayang menghampiri Vino yang masih meringis. Dia melayang-layang sambil tertawa-tawa penuh kemenangan, diringi dedaunan yang beterbangan berputar mengelilingi Zahra.
“Rio…cepat hancurkan kalung itu,” Alvin menyodorkan kalung yang tadi Vino lemparkan pada Rio dan menjejalkannya ke tangan Rio.
“Cepat…lo mau melihat Vino mati?” bentak Ane lalu menyodorkan sebuah batu yang lumayan besar juga untuk menghancurkan kalung itu.
Rio masih bergeming, dia menatap kalung berbandul berlian hitam itu nanar. Pikirannya berkecamuk antara menghancurkan kakaknya atau menyelamatkan sahabatnya. Jelas-jelas keduanya adalah pilihan yang sulit.
“Rio…” desis Vina pelan melihat Rio sama sekali bergeming. Nova sudah menangis sesenggukan, dia tak mau Vino sampai mati. Tidak, ingin tak menginginkan itu!
“Gue mohon Yo,” lirih Nova sambil menangis di pelukan Vina.
Zahra semakin mendekat kearah Vino, tangannya memegang sebilah pedang panjang─yang entah sejak kapan ada di tangannya. Vino tak berdaya, dia hanya bisa pasrah menanti pedang itu menyabet tubuhnya. Atau mungkin saja dia akan di cincang habis menggunakan pedang itu, pikirnya sarkatis. Vino tersenyum miring, tampaknya harapan hidupnya hanya 0,99 %.
“Den Rio,” semua sudah putus asa melihat Rio.
Vino di bantai dan Rio sama sekali bergeming. Rio menatap ke arah Vino dan Zahra bergantian, pikirannya masih kacau tapi ia juga tak tega membiarkan sahabatnya di bunuh oleh kakaknya sendiri. Siapa yang harus ia pilih? Vino atau kakaknya?
Zahra mengibas-ngibaskan pedangnya di hadapan Vino.
Rio memejamkan mata. Bugghh, dia menghantam kalung berbadul berlian hitam itu dengan batu membuat berlian hitam yang menghiasinya hancur seketika.
Maafkan Rio kak, Rio nggak mungkin ngebiarin sahabat Rio mati.
Seketika langkah Zahra terhenti, dia menoleh pada Rio dengan tatapan tajam.
“Kau, kau ternyata memang seorang pengkhianat Rio,”
Tubuh Zahra melayang ke udara sambil mengeluarkan cahaya hijau yang menyilaukan mata. Semakin lama cahaya itu semakin terang, mereka menyipitkan mata tak kuat menantang cahaya hijau tersebut.
Blassh, cahaya hijau itu hilang bersamaan dengan terhempasnya tulang-tulang dari atas, tulang Zahra, dia telah musnah. Pepohonan di hutan itu lenyap seketika, berganti dengan rumah-rumah warga yang langsung berhamburan keluar mendengar keributan.
Mereka semua shock dengan apa yang baru saja terjadi, Rio berlari menghampiri Vino dan memeluk sahabatnya itu hangat.
“Maafin gue No, gue sempet ragu buat milih lo,”
“Hehehe, gak papa Yo. Yang penting lo kan udah ngelakuin hal yang bener,”
“Rio, Vino.. kita selamat,” Alvin, Nova, Ane, dan Vina ikut menghampur berpelukan bersama Vino dan Rio. Mereka meluapkan kegembiraan mereka.
“Ada apa ini Pak Ucup?” tanya seorang lelaki yang berpakaian seperti kepala desa, Pak Ucup yang ikut larut dalam kebahagiaan anak-anak remaja itu menoleh pada kepala desa dan menceritakan semua yang ia tahu dengan sedetail-detailnya.
“Syukurlah anak-anak kalian selamat, villa itu memang terkenal angker. Bapak turut berduka cita atas meninggalnya teman kalian. Sekarang sebaiknya kalian ikut bapak, nanti orangtua kalian bapak telepon.” ujar kepala desa itu menghentikan acara haru biru mereka.
Senyum bahagia yang tadinya merekah di bibir mereka hilang seketika mengingat Raka dan Silla telah tiada, akhirnya mereka pun hanya menurut dan mengikuti langkah kepala desa yang berjalan menuju rumahnya.
***
Linangan air mata mengantar kepergian Raka dan Silla. Rio, Vino, Ane, Nova, Alvin dan Vina menatap miris pusara sahabat mereka yang meninggal dengan tragis. Suasana duka menyelimuti hati mereka, entah berapa liter air mata yang telah mereka keluarkan untuk menangisi Silla dan Raka. Suasana TPU itu kini sunyi senyap karena sebagian orang telah pulang terlebih dahulu. Orangtua Silla dan Raka yang mendengar semua keterangan dari kepala desa waktu itu hanya bisa pasrah dan ikhlas atas kepergian buah hati mereka yang tak wajar, mereka juga tak menyalahkan siapapun atas kematian Raka dan Silla, sungguh orangtua yang bijak.
“Gue gak nyangka liburan kita berakhir maut,” ujar Vina pelan memecah keheningan sore itu.
“Gue juga gak nyangka tapi.. Gue masih bingung sama setan itu. Yo dia kakak lo-kan? Gimana ceritanya?”
Rio menoleh pada Alvin ketika Alvin menuntut penjelasan tentang Zahra. Dia menarik nafas panjang lalu menghembuskannya. “Iya, dia kakak gue. Kakak yang tega gue dan ortu gue tinggalin saat terjadi perampokan di villa itu. Saat itu gue yang masih kecil sangat ketakutan ketika para perampok itu mengacungkan pisau kehadapan gue dan gue nurut aja waktu bonyok gue bawa gue kabur saat perampok itu lengah. Kita lupa sama kak Zahra dan ninggalin dia tanpa sekali pun kembali buat ngambil mayatnya. Gue terlalu shock sampai ingatan gue sempet hilang sebagian,” jelas Rio lirih, hatinya miris mengingat kejadian di masa lalu. Tapi syukurlah sekarang Zahra sudah benar-benar pergi ke alamnya, tulang belulang Zahra di makamkan di halaman villa dan rencananya villa tersebut akan segera di jual.
Vino, Ane, Nova, Alvin dan Vina ikut tertunduk mendengar cerita Rio, pantas saja Zahra begitu dendam pada Rio. Mereka ikut pedih jika membayangkan hal itu.
Vino menepuk-nepuk pundak Rio pelan, “Sabar ya Yo. Dan gue harap lo gak nyesel udah milih ngancurin kakak lo ketimbang gue, hehe.”
“Ish lo ini. Jelaslah lo kan sobat gue, lagian itu bukan kak Zahra, dia pasti udah tenang di alam sana,”
“Pasti itu Yo, itu bukan kakak lo tapi setan yang menjelma jadi kakak lo,” timpal Ane sambil tersenyum.
“Yap, pasti itu. Tapi kalau di pikir-pikir yang sebenernya nyelametin kita dari kematian itu lo lagi No,”
“Hah? Emang gue ngapain?”
“Lo kan udah nyuri kalung itu, kalo lo gak nyuri gak tau deh,” Vino membusungkan dadanya bangga, baru saja dia akan berkata Rio sudah menyela. “Lo pantes deh jadi maling, hahaha,” sela Rio sambil tertawa riang bersama Ane, Nova, Alvin dan Vina
“Hahahaha, betul itu. Lo pindah propesi aja No. Jadi maling, hahaha,” sahut Alvin ikut meledek.
Vino merengut, dia tadinya berpikir kalau dia akan mendapatkan semacam penghargaan dari teman-temannya, tapi nyatanya? Dia mendapatkan hinaan. Catat, hinaan. Vino tak henti-hentinya mendumel dalam hati.
“Sialan lo pada”,
“Udah dong, jangan di ketawain terus Vino gue,”
“Huuuuuuuu…dasar lo Va,” kor Rio, Alvin, Ane dan Vina serempak.
Nova dan Vino cengengesan tak jelas di soraki seperti itu oleh sahabat-sahabatnya. Selang beberapa menit kemudian mereka tertawa bersama sambil saling berangkulan.
“Ini adalah pengalaman paling mengerikan yang pernah gue jalanin, yang juga ngorbanin dua sahabat kita.” ujar Ane sambil memandang pusara Raka dan Silla bergantian
“Gue setuju, semoga mereka berdua tenang di alam sana,” timpal Alvin pelan
“Tapi kita harusnya bersyukur karena kita masih hidup.” komentar Vina
“Hehehe, iya sih,”
“Lagipula kita sebagai manusia hanya bisa merencanakan, yang menentukan itu Tuhan.” kata Nova bijak
“Kita harus bisa mengambil hikmah dari setiap peristiwa,” Rio memandang langit yang mulai gelap.
“Yang terpenting sekarang kita harus saling melindungi dan menjaga. Bukan saatnya kita natap masa lalu, kita harus mulai natap masa depan,” Vino melanjutkan kata-kata Rio diiringi anggukan dari semuanya.
Hujan rintik-rintik mulai berjatuhan dari langit yang kelam, angin sore berhembus pelan menghempaskan dedaunan dari pohonnya. Pertama hanya rintik-rintik kecil hingga akhirnya hujan bertambah deras di iringi kilat yang saling menyambar dilangit.
“Gue laper nih, pulang yuk.” usul Alvin
“Ya udah yuk, lagian cuaca juga udah gini bange,t” Vina setuju, mereka berenam meninggalkan TPU dengan saling berangkulan satu sama lain. Sebelum mereka menghilang di balik pintu masuk, mereka sempat menoleh pada pusara Raka dan Silla sambil tersenyum hangat.
“Selamat jalan, Raka, Silla.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar