Entri yang Diunggulkan

Series Recommendations! đŸŽ„

Hi, happy Wednesday all! So decided to post my own personal series. I usually dont like watching movie, so because i watched those series ...

Jumat, 03 Agustus 2012

Brotherhood, Magic, and... Love {One}


One


Ruangan rapat utama kerajaan Shappire Blue itu tampak mencekam, Jungsoo yang berada di kursi tunggal paling ujung tengah mengurut keningnya yang berdenyut memikirkan masalah serius yang akan dihadapi oleh Negerinya. Namja yang masih terlihat muda di usianya yang hampir ke 100 itu sesekali menghela napas sebelum memandang putra-putranya satu persatu, dari wajahnya, kentara sekali dia sangat lelah dengan masalah kali ini.

Jungsoo sekali lagi menghela napas sebelum meletakkan tangannya di meja. “Park Hyukjae, sudah berapa kali aku bilang padamu agar tak belajar ilmu sihir yang berbahaya?” tanya Jungsoo dengan suara rendah.

Hyukjae menelan ludah, dia memandang pada saudara-saudaranya meminta pertolongan, tapi tatapan puas saudara-saudaranya membuat Hyukjae ingin sekali memeraktekkan sihir ulian* pada mereka.

Aboeji, aku tidak tahu kalau sihir gervaros* seberbahaya itu.” bela Hyukjae pelan.

“Astaga, Hyukjae!” Nada suara Jungsoo meninggi mendengar pembelaan polos Hyukjae, “kau tidak tahu kalau kakekmu harus berkorban nyawa hanya demi menyegel iblis itu?” bentaknya keras.

Tatapan puas di wajah Jongwoon, Donghae, dan Kyuhyun memudar mendengar bentakan Jungsoo. Ini pertama kalinya ayah mereka yang bijaksana dan sabar itu membentak. Wajah mereka langsung mengerut, nyali mereka juga langsung ciut seketika melihat tubuh ayah mereka seolah di kelilingi warna hitam.

“A… aboeji..” kata Hyukjae terbata-bata, kaget dengan bentakan Jungsoo. Dia bahkan merasa ingin menangis saat ini juga.

Jungsoo kembali mengurut keningnya melihat putra-putranya ketakutan, “Kau tahu, aku terkadang ingin sekali memusnahkan sihirmu.” gumamnya pelan, “kau namja Hyukjae. Jangan menangis!” serunya kemudian melihat Hyukjae mulai menangis.

Aboeji tidak pernah membentakku sebelumnya!” balas Hyukjae keras.

“Hyuk..” tegur Donghae dengan suara lirih.

Aboeji, sudah jangan memarahi Hyukjae lagi. Ini bukan sepenuhnya salah Hyukjae, aku juga salah karena tidak bisa mengawasinya dengan baik.” Jongwoon akhirnya angkat bicara karena tak tega melihat Hyukjae.

Tatapan Jungsoo mengarah pada Jongwoon, “Kau baru sadar kalau kau juga salah? Kemana saja kau sampai tidak tahu apa yang adikmu lakukan?”

Jongwoon terdiam. Nyalinya 100 kali lipat mengkerut mendengar nada suara ayahnya yang terdengar penuh ancaman.

Hanya Kyuhyun yang terlihat agak santai di sana, namja itu memandangi hyung-hyungnya satu persatu sebelum melirik diam-diam ke arah Jungsoo. Dia lebih baik tak berbicara sepatah kata pun daripada harus berurusan dengan kemarahan Jungsoo. Tapi diamnya Kyuhyun justru membuat Jungsoo menatapnya.

“Kau, Kyuhyun.” panggil Jungsoo membuat Kyuhyun menelan ludah, “mengapa kau meminta Hyukjae mengajarkan sihir itu padamu? Bagaimana mungkin seorang ahli strategi sepertimu tidak tahu bahayanya sihir gesvaros?”

Kyuhyun terdiam lama dengan ketakutan yang memeluk erat tubuhnya sebelum menggeleng ragu-ragu, “Mianhaeyo aboeji, aku benar-benar tidak tahu.”

Aboeji, aku akan menyegel iblis itu lagi. Katakan padaku mantra apa yang bisa menyegelnya kembali.” usul Donghae serius.

“Kau terdengar sangat meremehkan iblis itu Donghae.” desis Jungsoo tajam, Donghae meringis dalam hati karena tampaknya dia salah berucap.

Aboeji, bagaimana kalau kita meminta tolong pada dewa-dewi saja?” Jongwoon kembali membuka suara setelah mengumpulkan keberaniannya.

“Dan membuat dewa-dewi itu menghanguskan Negeri kita karena kita dianggap tidak sanggup menjaganya, Jongwoon?”

Demi semua game yang pernah Kyuhyun mainkan, dia ingin keluar dari ruangan ini secepat mungkin!

“Lalu aboeji mau apa? Membunuhku?” tanya Hyukjae setelah menghapus air matanya dengan kasar.

Perkataan Hyukjae yang terbilang berani membuat semua orang di ruangan itu terkejut, menteri-menteri sihir yang sedari tadi mendengarkan percakapan mereka dari belakang pun sampai melebarkan mata mereka.

Jungsoo tak kalah terkejutnya, dia menatap Hyukjae dengan tajam. “Atas dasar apa aku ingin membunuhmu?”

Aboeji ingin memusnahkan sihirku, bukan? Aku lebih baik mati daripada tidak mempunyai sihir!”

“Jangan bercanda!” teriak Jungsoo emosi.

Mianhae, Yang Mulia.” Penasihat kerajaan─Siwon─terpaksa menginterupsi pertengkaran keluarga itu. “Lebih baik kalian bicarakan hal ini dengan kepala dingin, jika kalian saling emosi masalah ini tidak akan pernah selesai.”

Jungsoo mengembuskan napas mendengar perkataan Siwon, dia membenarkan ucapan Siwon dalam hati. Pelan-pelan Jungsoo mulai mencoba mengontrol emosinya yang hampir lepas kendali. Dia hanya benar-benar takut dengan kelangsungan Negeri ini jika iblis itu sudah mulai bertindak lebih jauh, sekarang saja satu Desa sudah musnah karena serangan iblis itu ketika pertama kali terlepas dari segelnya.

Mianhae, aboeji hanya terlalu emosi.” seru Jungsoo akhirnya, tatapannya melembut ketika dia menatap anaknya satu persatu. “Aboeji hanya terlalu cemas dengan Negeri kita nantinya.”

Keempat Pangeran itu terdiam, sibuk dengan pemikiran masing-masing.

Aboeji, apa tidak ada cara menghentikan iblis itu?”

Harusnya pertanyaan tadi dicatat dalam sejarah kerajaan Shappire Blue, karena apa? Kyuhyunlah yang bertanya! Itu suatu keajaiban dan kejadian langka sepanjang Kyuhyun hidup.

“Sihir aspagus*, Kyuhyun.” jawab Jungsoo.

Semua mengernyitkan kening, “Sihir apa itu aboeji?” tanya Donghae tak mengerti diamini anggukan yang lainnya.

Jungsoo meraup udara. “Sihir terkuat yang ada di muka bumi ini, sihir yang dapat memusnahkan apa saja. Tapi aboeji tidak yakin, kakek kalian saja tidak bisa menguasainya, karena itu dia menyegel dengan nyawanya sendiri sebagai taruhan.”

Aboeji, aku akan menebus kesalahanku. Ajari aku sihir itu─atau paling tidak berikan aku buku tentang sihir itu.” kata Hyukjae tanpa keraguan.

Jungsoo tersenyum kecil melihat tekad di mata Hyukjae, tapi dia lalu menggeleng. “Kau tidak akan bisa menguasainya tanpa bantuan orang lain.”

“Kalau begitu, biarkan kami membantu Hyukjae aboeji.” sergah Jongwoon yang mendapat anggukan dari Donghae dan Kyuhyun.

“Tidak, maksudku kalian tidak bisa menguasainya hanya sendiri. Sihir itu digunakan oleh 4 orang dengan bantuan hisami*, mereka akan membentuk pola ziguari* dan memanggil iblis itu langsung.”

Aboeji, kami berempat dan aku pikir menemukan hisami tidak akan begitu sulit.” seru Kyuhyun semangat, jika dipikir-pikir hal ini mungkin tampak menarik bagi Kyuhyun yang suka dengan peperangan. Ini mungkin akan terlihat seperti game fantasi yang sering dia mainkan di PSPnya.

Aboeji tidak ingin mengambil risiko, sihir aspagus itu belum pernah digunakan siapa pun, bagaimana jika sihir itu ternyata berisiko?” tolak Jungsoo cemas. Semenyebalkan apapun putra-putranya, mereka tetaplah darah daging yang perlu dijaga oleh Jungsoo. Jungsoo juga sangat menyayangi mereka, dia tidak ingin mengambil risiko sedikit pun.

Aboeji, kau boleh menahan yang lainnya, tapi kumohon jangan menahanku. Bagaimana pun ini salahku, setidaknya biarkan aku bertanggungjawab.” pinta Hyukjae.

“Hyukjae, apa maksudmu? Kita bersaudara, kita harus menanggung masalah ini bersama-sama.” tukas Donghae tajam.

“Donghae benar. Aboeji, izinkan kami bertanggung jawab.” timpal Jongwoon setuju.

Jungsoo termenung. Ketakutan berbondong-bondong mengisi hatinya. Berbagai pikiran buruk berseliweran di otaknya hingga Jungsoo merasa otaknya seolah akan pecah. Putra-putranya sangat berharga, dia tidak ingin hal buruk menimpa putra-putranya. Tetapi bagaimana dengan Negeri ini? Jungsoo juga tak ingin Negeri ini hancur di tangan iblis yang telah merenggut nyawa ayahnya.

Agak lama termenung, Jungsoo akhirnya menunjukkan tanda-tanda kehidupan dengan mengambil napas panjang. Dia menoleh pada Siwon yang berdiri di sampingnya. “Bagaimana menurutmu, Siwon?”

Yang ditanya tak langsung menjawab, Siwon tampak berpikir keras sambil memandangi para Pangeran yang cemas menanti perkataannya. “Aku rasa kita memang harus mencobanya Yang Mulia. Iblis itu harus segera dihentikan.”

Jungsoo mendesah keras. “Baik jika itu pendapatmu.” Tatapan Jungsoo beralih pada putra-putranya yang masih memandang lurus padanya dengan mulut terkatup rapat. “Kalian hanya punya waktu tujuh jam untuk menemukan hisami.”

Jungsoo menggumamkan sesuatu dan dalam hitungan detik di tangannya sudah ada empat kalung dengan bandul permata yang berbeda warna─kuning, hijau, ungu, dan merah. Dia menyimpan kalung itu di meja sebelum berujar, “Kalung ini akan bercahaya jika hisami ada di dekat kalian, carilah mereka di dunia manusia. Aboeji mendoakan kalian.”

Diam sebentar, Jungsoo menghela napas pelan sebelum kembali berkata. “Ingatlah, satu jam di sini berarti satu hari di sana. Kalian punya waktu tujuh jam dan selama itu kalian harus meyakinkan para hisami lalu membawa mereka ke sini. Aboeji sudah merencanakan penyerangan jam 9 malam nanti.”

Keempat Pangeran itu melirik jam dinding di belakang Jungsoo yang baru menunjukkan pukul 12 siang, itu artinya ada dua jam bagi mereka untuk melatih para hisami menggunakan kekuatannya─memang singkat, tapi dengan bantuan sihir deaski*, beberapa menit pun bisa.

Ne, kami akan berangkat aboeji.” pamit Jongwoon sambil berdiri diikuti ketiga saudaranya. Keempatnya membungkuk sesaat pada Jungsoo sebelum dalam hitungan detik mereka menghilang disapu angin.

Jungsoo menghela napas melihat melihat kepergian putra-putranya, batinnya merapal doa berulang-ulang untuk keselamatan para namja itu.

“Berjuanglah, aboeji harap kalian benar-benar bisa menguasai sihir paling terlarang itu..”

***

Jongwoon muncul di sebuah gang gelap nan kecil di pinggiran kota Seoul. Namja itu memegang kalung berwarna kuning di tangannya sebelum menghela napas dalam-dalam. Dia lalu melirik pakaiannya yang pasti terlihat aneh di sini sebelum menggumamkan sihir mirakey* dan dalam hitungan detik dia telah berganti memakai baju kasual.

Sebelumnya Jongwoon tak pernah berpikir bahwa dia akan terlibat masalah berbahaya seperti ini. Dia juga tak pernah ingin terlibat dalam hal ini. Tapi sekarang, karena kelalaiannya dalam mengawasi dongsaengnya, dia harus bertanggung jawab dan memusnahkan iblis itu.

Jongwoon memang tahu apa itu hisami, tapi dia tidak pernah berurusan dengan hisami sebelumnya, jadi dia tak tahu hisami seperti apa yang akan berjodoh dengan kalungnya.

Mata Jongwoon mengedar memandang ujung gang yang tampak bercahaya, dia mendecih begitu sadar bahwa tak bisa menggunakan sihir sesuka hatinya lagi jika berada di dunia ini. Dengan pelan, kakinya mulai melangkah menyusuri jalan hingga ia keluar dari gang tadi. Jongwoon memutuskan untuk mencari tempat tinggal terlebih dahulu untuk tujuh hari ke depan. Kakinya berhenti di sebuah hotel cukup mewah.

“Aku mohon jangan begini. Kita hanya berpisah, berhentilah bersikap seolah-olah besok kau akan mati.”

Suara seorang namja berhasil mengalihkan perhatian Jongwoon, dia mengalihkan pandangannya pada namja dan yeoja yang ada di bawah pohon sana. Sang namja terlihat sedang menenangkan sang yeoja yang menangis. Cerita klasik, cibir Jongwoon dalam hati.

“Tapi kau pernah berjanji tidak akan meninggalkanku, Sungkyo.”

Oke, kadang Jongwoon sangat membenci indera pendengaran yang dimilikinya sebab terlalu tajam, bahkan ketika sudah masuk ke hotel untuk memesan kamar pun dia masih bisa mendengar percakapan bodoh sepasang kekasih itu.

Mianhae, aku hanya tidak mau melihatmu tambah sakit hati jika kita semakin lama bersama. Aku harus pergi sekarang, hiduplah dengan baik. Selamat tinggal.”

Jongwoon memutuskan untuk tidak mempedulikan suara-suara yang ia dengar, dia tetap melangkah memesan kamar hotel.

“Hotel kami penuh tuan.”

Mengumpat dalam hati mendengar ucapan resepsionis itu, Jongwoon melangkah keluar untuk mencari hotel lain. Langkahnya terhenti melihat yeoja tadi masih duduk di bawah pohon dengan isakan yang cukup keras.

Jongwoon mati-matian memperingatkan dirinya sendiri untuk tidak ikut campur, maka dia berjalan dengan cuek meninggalkan hotel itu. Ternyata, yeoja tadi juga segera melangkah berlawanan arah dengan Jongwoon beberapa detik kemudian.

Deg!

Jongwoon melirik saat yeoja itu berpapasan dengannya, ada perasaan aneh menggelitiknya saat yeoja itu sudah jauh dari pandangan. Tersentak, Jongwoon langsung merogoh kalungnya buru-buru. Dia hampir saja memaki keras sekali saat melihat kalung itu bersinar terang akibat berpapasan dengan yeoja tadi.

Secepat kilat Jongwoon berlari mencoba mencari keberadaan yeoja tadi, dia masuk ke gang besar yang tadi dimasuki yeoja itu berharap bisa menemukannya kembali. Tapi nihil.

Joongwoon mencoba menerawang keberadaan yeoja tadi dengan sihir szais*, sayangnya Joongwoon lupa kalau hisami tidak bisa ditemukan dengan sihir.

Dengan kekesalan yang bercokol di hati, Jongwoon melangkah mencari hotel lain. Dalam hati dia berjanji tidak akan pernah melepas yeoja itu jika mereka bertemu lagi.

***

Hyukjae berdiri di samping menara Eiffel dengan wajah muram, namja itu sesekali mengusap wajahnya dengan lelah karena frustasi memikirkan bagaimana nasib Negerinya kelak.

Hyukjae menyesal, jelas. Keingintahuan dan penguasaan ilmu sihirnya yang melebihi orang lain membuat ia sampai tidak bisa mengontrol diri, berbekal penasaran berlebihan, Hyukjae dengan mudah memanggil sang iblis keluar. Hyukjae tercenung lama sekali, banyak hal yang dipikirkan namja itu sampai-sampai dia tidak tahu apa saja itu. Helaan napas berat beberapa kali keluar dari bibirnya.

“Hei, orang aneh!”

Seruan seorang yeoja di belakangnya─menggunakan bahasa Korea─sama sekali tak membuat Hyukjae menoleh, namja itu tetap asyik memandangi menara Eiffel dengan mata kosongnya.

Saat yeoja itu menepuk bahunya keras, barulah Hyukjae tersadar. Tersentak kaget, Hyukjae langsung menolehkan kepalanya ke belakang dan menemukan seorang yeoja berwajah Asia di belakangnya. Alis Hyukjae terangkat sebelah melihat yeoja itu.

Waeyo?” tanyanya dengan nada datar.

Yeoja tadi berjengit, lalu memasang wajah menyebalkan pada Hyukjae. “Kau orang Korea? Kenapa bajumu aneh sekali?”

Tanpa sadar Hyukjae meringis pelan, Negeri Shappire Blue memang berbahasa Korea karena penciptanya adalah orang Korea yang beri kekuatan sihir oleh Dewa Zeus sebab keberaniannya menyelamatkan Desa dari amukan troll yang lepas dari khayangan.

“Apa pedulimu?” balas Hyukjae dingin.

Yeoja itu mendengus sebelum mengedikkan bahu santai, “Aku hanya kasihan melihatmu yang seperti orang gila di Negeri asing. Kau terlihat…” yeoja itu menyunggingkan senyum meremehkan pada Hyukjae─membuat Hyukjae ingin sekali menyihirnya jadi seekor gurita─lalu menjinjitkan kakinya hingga bibirnya bisa menjangkau telinga Hyukjae sebelum meneruskan kalimatnya yang tadi. “… benar-benar tidak waras, babo namja!

Hyukjae menganga. Terlalu terkejut dengan keberanian yeoja tadi, saat dia baru saja tersadar dari keterkejutannya, yeoja itu sudah melesat meninggalkan Hyukjae dengan tawa yang mengalun menyebalkan.

Hyukjae memaki dalam hati, tangannya baru saja terangkat untuk menggunakan satu sihir demi menyihir yeoja itu menjadi sesuatu yang menjijikkan, sayangnya niat mulia Hyukjae terpaksa dibatalkan melihat orang-orang sedang menatap aneh ke arahnya. Namja itu mengucapkan kata sabar berulang-ulang dalam hati, dia baru ingat kalau dia tidak bisa menggunakan sihir sesuka hatinya di dunia manusia.

Setelah mendesah sekali dan memberikan tatapan sinis pada orang-orang yang menatapnya, Hyukjae merogoh saku jubahnya─saat itu dia sadar kalau dia memang belum berganti baju─dan mengeluarkan sebuah kalung dengan permata hijau yang bersinar terang.

Yah, bersinar. lirih Hyukjae dalam hati.

1 detik..
5 detik..
10 detik..
1 menit..

Aigo! Yeoja tadi hisami!” jerit Hyukjae setelah sekian lama terdiam.

Tanpa mempedulikan orang-orang yang kembali menatapnya aneh, Hyukjae melesat mencari keberadaan yeoja tadi yang sialnya benar-benar hilang seolah ditelan bumi.

“Aish, bagaimana mungkin yeoja menyebalkan seperti itu bisa menjadi seorang hisami?” rutuk Hyukjae keras sebelum akhirnya menyerah untuk mencari, hari sudah terlalu larut dan Hyukjae butuh istirahat, karena itu dia memutuskan untuk mencari yeoja tadi besok pagi saja.

Dengan langkah gontai, Hyukjae berjalan mencari hotel tanpa ada niatan sedikit pun untuk mengubah pakaiannya.

***

Donghae mengamati tempatnya muncul dengan kening berkerut. Rasa-rasanya, dia tadi menggumamkan kata Taiwan, mengapa sekarang ia malah tersesat ditengah kota Tokyo? Setelah mengedik tak peduli, Donghae mulai melangkahkan kakinya menyusuri jalanan besar kota Tokyo, dia sama sekali tak mempedulikan tatapan aneh orang-orang yang mungkin penasaran dengan jubah beludru berwarna biru shappirenya─sangat mewah dan berkelas walaupun benar-benar terlihat aneh dan mencolok.

Di depan sebuah restoran Korea, Donghae menghentikan langkahnya. Dia lalu mengusap perutnya yang sudah berbunyi minta diisi. Donghae memasuki restoran itu, setelah duduk dan memesan bulgogi, dia mengamati jalanan kota Tokyo dari balik jendela.

Pikiran Donghae melayang pada percakapannya dengan Jungsoo dan yang lain beberapa menit yang lalu. Namja itu menghirup udara dengan berat sebelum mengeluarkannya perlahan. Demi segala ikan cantik yang ada di Negerinya, Donghae sama sekali tak menyalahkan Hyukjae atas kecelakaan ini. Dia tahu Hyukjae bersalah, tapi Donghae juga tak mau munafik jika dia hanya menyalahkan Hyukjae. Secara tidak langsung dia juga ikut bertanggungjawab sebab tidak bisa ada saat Hyukjae memulai eksperimennya lagi, Donghae tidak ada saat Hyukjae mulai memeraktekkan ilmu sihirnya yang aneh-aneh lagi, dan Donghae tidak bisa mencegah Hyukjae saat namja itu benar-benar menggunakan ilmu sihirnya. Mereka keluarga, seharusnya bisa saling menjaga, kan? Dan Donghae sadar ia telah gagal menjaga hyungnya agar tidak berbuat hal-hal aneh. Fakta itulah yang membuat Donghae dengan suka rela ikut mempertanggungjawabkan hal ini.

Donghae terenyak pelan saat makanan yang dia pesan sudah tersaji di hadapannya. Namja itu mendongak, terpana beberapa saat melihat wajah pelayan yang mengantarkan pesanannya. Sadar dari keterpanaannya, Donghae melempar senyum sejuta watt miliknya pada yeoja tadi. Oke, sambil menyelam minum air tak apa, kan? Apa salahnya menyelangi pencarian dengan berbagi sedikit pesona?

Sayang, Donghae harus menelan harga dirinya bulat-bulat saat yeoja itu menanggapi senyum melelehkan Donghae dengan kernyitan di dahi sebelum berlalu kembali ke dapur.

Donghae memanyunkan bibir, sejenak melupakan masalah yang tengah menghimpit pikirannya karena yeoja tadi malah tak mengacuhkan senyumnya sama sekali.

Setelah menyelesaikan makan malamnya dengan hati dongkol, Donghae menggumamkan sihir mnacs* hingga saat ia membuka tangannya, beberapa lembar yen ada di sana. Donghae tersenyum puas dan berjalan menuju kasir untuk membayar makanannya.

Beberapa saat kemudian, Donghae sudah terduduk di halte bis sambil menengadahkan kepalanya menatap langit, memandangi bintang-bintang yang bersinar tidak seberapa jika dibandingkan di Negerinya. Dia tersenyum kecil saat buliran air mulai berjatuhan dari langit, hujan datang.

Oni-san, aku pulang dulu!” teriakan seorang yeoja di belakangnya berhasil membuat Donghae menolehkan kepala.

Wajahnya langsung masam melihat pelayan yang tadi tak menanggapi senyumnya berjalan ke sini dan duduk tepat di sebelahnya.

“Maaf, bisakah kaubergeser sedikit lagi?” tanya yeoja itu dengan bahasa Jepang yang agak terbata.

Donghae menoleh malas pada yeoja itu, “Kenapa aku harus bergeser?” tanyanya sebal dengan bahasa Jepang yang jauh lebih baik dari yeoja tadi.

Yeoja tadi tersenyum tipis─Donghae berani bersumpah senyum yeoja di depannya jutaan kali lebih indah dari senyum semua mantan kekasihnya─sebelum berkata, “Kau tidak melihat hujannya sangat deras?”

Donghae menelan ludahnya sebelum terpaksa bergeser sedikit.

“Wajahmu tidak mirip orang Jepang, kau orang Korea?” yeoja tadi memulai percakapan dengan suara pelan.

Donghae menoleh, “Wae? Kau juga seperti orang Korea.” balas Donghae tak kalah pelan, kali ini dia menggunakan bahasa Korea.

Ne, aku memang orang Korea. Senang rasanya bertemu orang yang satu Negara denganku di sini.” sahutnya sambil menoleh pada Donghae.

Darah Donghae berdesir melihat tatapan teduh yeoja itu.

“Ah, mianhaeyo aku harus pergi. Bisnya sudah datang.”

Mata Donghae menatapi jejak yeoja itu yang hilang ditelan pintu bis, setelah bis melaju cukup jauh dan berbelok di persimpangan jalan, Donghae meraba dadanya yang berdebar keras.

Terdiam cukup lama menelaah debaran apa yang tengah dirasakannya, Donghae menghela napas panjang sebelum merogoh kalung dengan permata ungu miliknya.

Donghae tercekat melihat kalung itu bersinar terang, “Yeoja tadi… hisami..”

***

Park Kyuhyun memasuki sebuah mall mewah di kawasan Roma setelah sebelumnya berganti pakaian memakai jins dan kemeja kotak-kotak, mata namja itu berkeliaran mencari toko elektronik untuk membeli PSP baru. Mungkin terdengar aneh karena di saat hyung-hyungnya sibuk mencari hisami, namja itu malah dengan santai berpikir untuk membeli PSP terlebih dahulu.

Pertama, Kyuhyun memang tidak ingin terlalu mengambil pusing masalah ini─bukan karena tidak peduli (dia justru sangat peduli karena sangat sadar dia ikut bertanggung jawab dalam melepaskan iblis itu), Kyuhyun hanya yakin kalau hisami itu akan mendatanginya dengan sukarela. Kedua, panik dan tergesa bukan sifatnya, Kyuhyun lebih suka bersikap santai dan mencari pelan-pelan. Dan ketiga, PSP Kyuhyun yang kemarin sukses hancur saat Choco melemparnya dari puncak menara─kadang Kyuhyun benar-benar ingin menyihir anjing milik Hyukjae itu menjadi guci, serius!

Kyuhyun sedang melihat-lihat PSP terbaru ketika matanya bertubrukan dengan mata seorang yeoja berwajah Korea yang sedang bersama teman-temannya. Beberapa detik mereka saling bertatapan sampai di detik kelima keduanya serentak melempar pandangan ke arah lain. Yeoja tadi langsung asyik mengobrol lagi bersama teman-temannya, sedangkan Kyuhyun langsung kembali melihat-lihat PSP di hadapannya. Kyuhyun tak tahu mengapa, tapi dia merasa mata yeoja itu seakan menyedotnya raganya saat pandangan mereka bertubrukan. Ada rasa aneh yang menyelinap ke dalam hatinya, perasaan yang benar-benar abstrak, Kyuhyun sendiri bingung bagaimana mendeskripsikannya.

Mencoba melupakan kejadian aneh tadi, Kyuhyun mengambil dua buah PSP hitam beserta beberapa CD game terbaru. Setelah menciptakan uang menggunakan sihir mnacs, namja itu berjalan guna membayar barang-barang yang dia beli.

30 menit kemudian Kyuhyun telah berada di sebuah foodcourt, namja itu kembali melihat yeoja yang tadi bertemu pandang dengannya sedang duduk di meja paling pojok seorang diri. Entah karena rasa penasaran─atau tertarik?, Kyuhyun akhirnya membawa makanan yang sudah ia beli ke meja yeoja itu dan duduk di depannya dengan cuek.

Yeoja itu mendelik ke arah Kyuhyun sebentar sebelum sibuk dengan makanannya sendiri. Kyuhyun sesekali mencuri pandang pada yeoja di hadapannya saat mereka tengah sibuk sendiri-sendiri.

Bosan dengan aksi saling diam yang ternyata cukup lama, Kyuhyun akhirnya mencoba membuka pembicaraan. “Hei, kau orang Korea?”

Sorry?” tukas yeoja itu dengan mimik bingung, Kyuhyun menggunakan bahasa Itali saat berbicara dengannya, jelas saja ia tak mengerti. Satu-satunya yang dia pahaminya dari perkataan Kyuhyun adalah ‘Korea’.

“Ah,” Kyuhyun mendesah, seolah baru sadar bahwa yeoja itu sama sekali tak mengerti ucapannya. Namja itu akhirnya memutuskan untuk menggunakan bahasa Korea saja. “Aku tadi bertanya, kau orang Korea, bukan?”

Walau merasa Kyuhyun terlalu sok akrab, yeoja itu terpaksa menjawab demi menjaga kesopanan yang sangat dijunjung tinggi orang Asia. “Ne, aku orang Korea. Sedang kuliah di sini.”

“Ooh,” balas Kyuhyun sambil lalu. “Kenapa tadi kaumenatapku seperti itu?” tanya Kyuhyun penasaran beberapa saat kemudian. Ingatannya kembali berputar pada kejadian tadi.

Yeoja di hadapannya─yang tengah sibuk membereskan beberapa lembar kertas─mendongak menatap Kyuhyun sepersekian detik sebelum menjawab tanpa ekspresi. “Aniyo. Aku hanya merasa pernah melihatmu, entah di mana.”

Jawaban yang terdengar ganjil itu membuat Kyuhyun semakin penasaran, ada sesuatu yang menariknya untuk mengenal yeoja itu lebih jauh, tapi ingatan tentang Negerinya yang terancam musnah membuat Kyuhyun terpaksa menelan bulat-bulat rasa penasarannya.

Mianhae, teman-temanku sudah menunggu. Annyeong haseyo.” pamit yeoja tadi, dia membungkukkan badannya sekilas sebelum berlari menghampiri teman-temannya yang sudah menunggu di luar.

Kyuhyun memandangi yeoja itu sampai hilang ditemani kerumunan, saat matanya tanpa sengaja melirik ke arah leher─dimana kalung dari ayahnya tersembunyi di balik baju─Kyuhyun tersentak, tangannya buru-buru bergerak untuk mengeluarkan kalung itu.

Sambil merapalkan sumpah serapah dalam hati, Kyuhyun memandang kalung yang kini berada di tangannya. Kalung dengan permata semerah darah itu bersinar terang, sesuai dugaannya. Yeoja tadi... hisami.

TBC


Note+cuap-cuap cewek ababil ini:
1. sihir ulian= sihir pembunuh, menyerang otak langsung tapi sihirnya bekerja secara lambat sehingga si penerima sihir akan merasakan kesakitan yang luar biasa sebelum kematian menjemputnya. Orang-orang beranggapan lebih baik mati langsung daripada mati dengan sihir ulian yang sangat menyiksa. Salah satu dari 5 sihir terlarang yang paling berbahaya, sedikit orang yang tahu tentang sihir ini.
2. sihir gervaros= salah satu dari 5 sihir terlarang paling berbahaya di Shappire Blue. Satu-satunya sihir yang bisa melepaskan segel nyawa─segel nyawa sendiri sangat kuat, tidak ada satu pun yang bisa melepaskan segel nyawa kecuali sihir ini─karena itulah keberadaan sihir gervaros sangat dirahasiakan. Satu-satunya petunjuk tentang sihir ini adalah buku kusam di perpustakaan Jungsoo.
3. Sihir aspagus= sihir ini juga sihir rahasia sebenarnya, belum pernah digunakan karena tingkat penguasaannya yang begitu sulit. Ini adalah sihir paling terlarang nomor satu, sihir pemusnah yang memanggil si objek yang ingin kita hancurkan secara langsung lalu memusnahkannya dengan sekali kedip. Tidak ada yang bisa menandangi sihir ini, bahkan dewa-dewipun tidak bisa menghentikan efek dari sihir ini. Digunakan oleh empat orang dengan bantuan hisami karena sihir ini tidak bisa digunakan oleh seorang diri.
4. Hisami= manusia dengan kekuatan sihir besar yang tersembunyi di dalam tubuhnya.
5. Ziguari= pola segiempat yang dalam sihir aspagus, yang sudah berada dalam pola ini tidak akan bisa keluar, langsung hancur!
sihir deaski= sihir pengajar agar si objek bisa menerima apa yang sihir yang diajarkan dalam sekali ajar─sihir ini berlaku hanya untuk tingkat 6 ke bawah, sedangkan sihir tingkat 7-10 tidak bisa menggunakan sihir ini sehingga menyelesaikan tingkat 7-10 sangat sulit.
6. sihir mirakey= sihir yang bisa menggantikan baju yang sedang dipakai dalam hitungan detik.
7. sihir mnacs= sihir yang bisa menciptakan uang.
8. sihir szais= sihir untuk mencari keberadaan seseorang lewat pikiran.

Well akhirnya chap 1 jadi juga, sebenernya target kemarin itu paling lambat hari Rabu, tapi gara-gara pulang malem terus jadi ga kesampaian deh :p
Hasilnya? Mm, no comment sih dari aku mah. Soalnya aku juga ga ngerasa ini bagus -__-‘
Maaf kalau banyak kesalahan, terutama dalam penguasaan bahasa, maklumlah aku masih belajar *nyengir*
Segitu dulu deh, semoga ga tambah garing J *btw ada yg mau bikini poster ga? Hahaha*

Army,

Anis

2 komentar:

  1. ngakak gokil thor XD buruan post lanjutannya! selalu bagus da tulisan kamu mah :p tinggl semangat tulis *biar cepet*nya aja yg harus diasah.

    BalasHapus
  2. aku ga tau bagian gokilnya dimana put =,=
    gomawo udah mampir neeeee XD
    aku bukan ga semangat nulis, cuma ide sama kondisi ga memungkinkan untuk post cepet-cepet *alibi* hahaha

    BalasHapus