One
Ruangan rapat
utama kerajaan Shappire Blue itu tampak mencekam, Jungsoo yang berada di kursi
tunggal paling ujung tengah mengurut keningnya yang berdenyut memikirkan
masalah serius yang akan dihadapi oleh Negerinya. Namja yang masih
terlihat muda di usianya yang hampir ke 100 itu sesekali menghela napas sebelum
memandang putra-putranya satu persatu, dari wajahnya, kentara sekali dia sangat
lelah dengan masalah kali ini.
Jungsoo sekali
lagi menghela napas sebelum meletakkan tangannya di meja. “Park Hyukjae, sudah
berapa kali aku bilang padamu agar tak belajar ilmu sihir yang berbahaya?” tanya
Jungsoo dengan suara rendah.
Hyukjae menelan
ludah, dia memandang pada saudara-saudaranya meminta pertolongan, tapi tatapan
puas saudara-saudaranya membuat Hyukjae ingin sekali memeraktekkan sihir ulian*
pada mereka.
“Aboeji,
aku tidak tahu kalau sihir gervaros* seberbahaya itu.” bela Hyukjae pelan.
“Astaga,
Hyukjae!” Nada suara Jungsoo meninggi mendengar pembelaan polos Hyukjae, “kau
tidak tahu kalau kakekmu harus berkorban nyawa hanya demi menyegel iblis itu?”
bentaknya keras.
Tatapan puas di
wajah Jongwoon, Donghae, dan Kyuhyun memudar mendengar bentakan Jungsoo. Ini
pertama kalinya ayah mereka yang bijaksana dan sabar itu membentak. Wajah
mereka langsung mengerut, nyali mereka juga langsung ciut seketika melihat
tubuh ayah mereka seolah di kelilingi warna hitam.
“A… aboeji..”
kata Hyukjae terbata-bata, kaget dengan bentakan Jungsoo. Dia bahkan merasa
ingin menangis saat ini juga.
Jungsoo kembali
mengurut keningnya melihat putra-putranya ketakutan, “Kau tahu, aku terkadang
ingin sekali memusnahkan sihirmu.” gumamnya pelan, “kau namja Hyukjae.
Jangan menangis!” serunya kemudian melihat Hyukjae mulai menangis.
“Aboeji
tidak pernah membentakku sebelumnya!” balas Hyukjae keras.
“Hyuk..” tegur
Donghae dengan suara lirih.
“Aboeji,
sudah jangan memarahi Hyukjae lagi. Ini bukan sepenuhnya salah Hyukjae, aku
juga salah karena tidak bisa mengawasinya dengan baik.” Jongwoon akhirnya
angkat bicara karena tak tega melihat Hyukjae.
Tatapan Jungsoo
mengarah pada Jongwoon, “Kau baru sadar kalau kau juga salah? Kemana saja kau
sampai tidak tahu apa yang adikmu lakukan?”
Jongwoon
terdiam. Nyalinya 100 kali lipat mengkerut mendengar nada suara ayahnya yang
terdengar penuh ancaman.
Hanya Kyuhyun
yang terlihat agak santai di sana, namja itu memandangi hyung-hyungnya
satu persatu sebelum melirik diam-diam ke arah Jungsoo. Dia lebih baik tak
berbicara sepatah kata pun daripada harus berurusan dengan kemarahan Jungsoo.
Tapi diamnya Kyuhyun justru membuat Jungsoo menatapnya.
“Kau, Kyuhyun.”
panggil Jungsoo membuat Kyuhyun menelan ludah, “mengapa kau meminta Hyukjae
mengajarkan sihir itu padamu? Bagaimana mungkin seorang ahli strategi sepertimu
tidak tahu bahayanya sihir gesvaros?”
Kyuhyun terdiam
lama dengan ketakutan yang memeluk erat tubuhnya sebelum menggeleng ragu-ragu,
“Mianhaeyo aboeji, aku benar-benar tidak tahu.”
“Aboeji,
aku akan menyegel iblis itu lagi. Katakan padaku mantra apa yang bisa
menyegelnya kembali.” usul Donghae serius.
“Kau terdengar
sangat meremehkan iblis itu Donghae.” desis Jungsoo tajam, Donghae meringis
dalam hati karena tampaknya dia salah berucap.
“Aboeji,
bagaimana kalau kita meminta tolong pada dewa-dewi saja?” Jongwoon kembali
membuka suara setelah mengumpulkan keberaniannya.
“Dan membuat
dewa-dewi itu menghanguskan Negeri kita karena kita dianggap tidak sanggup
menjaganya, Jongwoon?”
Demi semua game
yang pernah Kyuhyun mainkan, dia ingin keluar dari ruangan ini secepat mungkin!
“Lalu aboeji
mau apa? Membunuhku?” tanya Hyukjae setelah menghapus air matanya dengan kasar.
Perkataan
Hyukjae yang terbilang berani membuat semua orang di ruangan itu terkejut,
menteri-menteri sihir yang sedari tadi mendengarkan percakapan mereka dari
belakang pun sampai melebarkan mata mereka.
Jungsoo tak
kalah terkejutnya, dia menatap Hyukjae dengan tajam. “Atas dasar apa aku ingin
membunuhmu?”
“Aboeji
ingin memusnahkan sihirku, bukan? Aku lebih baik mati daripada tidak mempunyai
sihir!”
“Jangan
bercanda!” teriak Jungsoo emosi.
“Mianhae,
Yang Mulia.” Penasihat kerajaan─Siwon─terpaksa menginterupsi pertengkaran
keluarga itu. “Lebih baik kalian bicarakan hal ini dengan kepala dingin, jika
kalian saling emosi masalah ini tidak akan pernah selesai.”
Jungsoo
mengembuskan napas mendengar perkataan Siwon, dia membenarkan ucapan Siwon
dalam hati. Pelan-pelan Jungsoo mulai mencoba mengontrol emosinya yang hampir
lepas kendali. Dia hanya benar-benar takut dengan kelangsungan Negeri ini jika
iblis itu sudah mulai bertindak lebih jauh, sekarang saja satu Desa sudah
musnah karena serangan iblis itu ketika pertama kali terlepas dari segelnya.
“Mianhae,
aboeji hanya terlalu emosi.” seru Jungsoo akhirnya, tatapannya melembut
ketika dia menatap anaknya satu persatu. “Aboeji hanya terlalu cemas
dengan Negeri kita nantinya.”
Keempat
Pangeran itu terdiam, sibuk dengan pemikiran masing-masing.
“Aboeji,
apa tidak ada cara menghentikan iblis itu?”
Harusnya
pertanyaan tadi dicatat dalam sejarah kerajaan Shappire Blue, karena apa?
Kyuhyunlah yang bertanya! Itu suatu keajaiban dan kejadian langka sepanjang
Kyuhyun hidup.
“Sihir aspagus*,
Kyuhyun.” jawab Jungsoo.
Semua
mengernyitkan kening, “Sihir apa itu aboeji?” tanya Donghae tak mengerti
diamini anggukan yang lainnya.
Jungsoo meraup
udara. “Sihir terkuat yang ada di muka bumi ini, sihir yang dapat memusnahkan
apa saja. Tapi aboeji tidak yakin, kakek kalian saja tidak bisa
menguasainya, karena itu dia menyegel dengan nyawanya sendiri sebagai taruhan.”
“Aboeji,
aku akan menebus kesalahanku. Ajari aku sihir itu─atau paling tidak berikan aku
buku tentang sihir itu.” kata Hyukjae tanpa keraguan.
Jungsoo
tersenyum kecil melihat tekad di mata Hyukjae, tapi dia lalu menggeleng. “Kau
tidak akan bisa menguasainya tanpa bantuan orang lain.”
“Kalau begitu,
biarkan kami membantu Hyukjae aboeji.” sergah Jongwoon yang mendapat
anggukan dari Donghae dan Kyuhyun.
“Tidak, maksudku
kalian tidak bisa menguasainya hanya sendiri. Sihir itu digunakan oleh 4 orang
dengan bantuan hisami*,
mereka akan membentuk pola ziguari* dan memanggil
iblis itu langsung.”
“Aboeji,
kami berempat dan aku pikir menemukan hisami tidak akan begitu sulit.” seru
Kyuhyun semangat, jika dipikir-pikir hal ini mungkin tampak menarik bagi
Kyuhyun yang suka dengan peperangan. Ini mungkin akan terlihat seperti game
fantasi yang sering dia mainkan di PSPnya.
“Aboeji
tidak ingin mengambil risiko, sihir aspagus itu belum pernah digunakan siapa
pun, bagaimana jika sihir itu ternyata berisiko?” tolak Jungsoo cemas.
Semenyebalkan apapun putra-putranya, mereka tetaplah darah daging yang perlu
dijaga oleh Jungsoo. Jungsoo juga sangat menyayangi mereka, dia tidak ingin
mengambil risiko sedikit pun.
“Aboeji,
kau boleh menahan yang lainnya, tapi kumohon jangan menahanku. Bagaimana pun
ini salahku, setidaknya biarkan aku bertanggungjawab.” pinta Hyukjae.
“Hyukjae, apa
maksudmu? Kita bersaudara, kita harus menanggung masalah ini bersama-sama.” tukas
Donghae tajam.
“Donghae benar.
Aboeji, izinkan kami bertanggung jawab.” timpal Jongwoon setuju.
Jungsoo
termenung. Ketakutan berbondong-bondong mengisi hatinya. Berbagai pikiran buruk
berseliweran di otaknya hingga Jungsoo merasa otaknya seolah akan pecah.
Putra-putranya sangat berharga, dia tidak ingin hal buruk menimpa
putra-putranya. Tetapi bagaimana dengan Negeri ini? Jungsoo juga tak ingin
Negeri ini hancur di tangan iblis yang telah merenggut nyawa ayahnya.
Agak lama
termenung, Jungsoo akhirnya menunjukkan tanda-tanda kehidupan dengan mengambil
napas panjang. Dia menoleh pada Siwon yang berdiri di sampingnya. “Bagaimana
menurutmu, Siwon?”
Yang ditanya
tak langsung menjawab, Siwon tampak berpikir keras sambil memandangi para
Pangeran yang cemas menanti perkataannya. “Aku rasa kita memang harus
mencobanya Yang Mulia. Iblis itu harus segera dihentikan.”
Jungsoo
mendesah keras. “Baik jika itu pendapatmu.” Tatapan Jungsoo beralih pada
putra-putranya yang masih memandang lurus padanya dengan mulut terkatup rapat.
“Kalian hanya punya waktu tujuh jam untuk menemukan hisami.”
Jungsoo
menggumamkan sesuatu dan dalam hitungan detik di tangannya sudah ada empat
kalung dengan bandul permata yang berbeda warna─kuning, hijau, ungu, dan merah.
Dia menyimpan kalung itu di meja sebelum berujar, “Kalung ini akan bercahaya
jika hisami ada di dekat kalian, carilah mereka di dunia manusia. Aboeji mendoakan
kalian.”
Diam sebentar,
Jungsoo menghela napas pelan sebelum kembali berkata. “Ingatlah, satu jam di
sini berarti satu hari di sana. Kalian punya waktu tujuh jam dan selama itu
kalian harus meyakinkan para hisami lalu membawa mereka ke sini. Aboeji
sudah merencanakan penyerangan jam 9 malam nanti.”
Keempat
Pangeran itu melirik jam dinding di belakang Jungsoo yang baru menunjukkan
pukul 12 siang, itu artinya ada dua jam bagi mereka untuk melatih para hisami
menggunakan kekuatannya─memang singkat, tapi dengan bantuan sihir deaski*,
beberapa menit pun bisa.
“Ne,
kami akan berangkat aboeji.” pamit Jongwoon sambil berdiri diikuti
ketiga saudaranya. Keempatnya membungkuk sesaat pada Jungsoo sebelum dalam hitungan
detik mereka menghilang disapu angin.
Jungsoo
menghela napas melihat melihat kepergian putra-putranya, batinnya merapal doa
berulang-ulang untuk keselamatan para namja itu.
“Berjuanglah, aboeji
harap kalian benar-benar bisa menguasai sihir paling terlarang itu..”
***
Jongwoon muncul
di sebuah gang gelap nan kecil di pinggiran kota Seoul. Namja itu
memegang kalung berwarna kuning di tangannya sebelum menghela napas
dalam-dalam. Dia lalu melirik pakaiannya yang pasti terlihat aneh di sini
sebelum menggumamkan sihir mirakey* dan dalam hitungan detik dia telah berganti
memakai baju kasual.
Sebelumnya
Jongwoon tak pernah berpikir bahwa dia akan terlibat masalah berbahaya seperti
ini. Dia juga tak pernah ingin terlibat dalam hal ini. Tapi sekarang, karena
kelalaiannya dalam mengawasi dongsaengnya, dia harus bertanggung jawab
dan memusnahkan iblis itu.
Jongwoon memang
tahu apa itu hisami, tapi dia tidak pernah berurusan dengan hisami sebelumnya,
jadi dia tak tahu hisami seperti apa yang akan berjodoh dengan kalungnya.
Mata Jongwoon
mengedar memandang ujung gang yang tampak bercahaya, dia mendecih begitu sadar
bahwa tak bisa menggunakan sihir sesuka hatinya lagi jika berada di dunia ini.
Dengan pelan, kakinya mulai melangkah menyusuri jalan hingga ia keluar dari
gang tadi. Jongwoon memutuskan untuk mencari tempat tinggal terlebih dahulu
untuk tujuh hari ke depan. Kakinya berhenti di sebuah hotel cukup mewah.
“Aku mohon
jangan begini. Kita hanya berpisah, berhentilah bersikap seolah-olah besok kau
akan mati.”
Suara seorang namja
berhasil mengalihkan perhatian Jongwoon, dia mengalihkan pandangannya pada namja
dan yeoja yang ada di bawah pohon sana. Sang namja terlihat
sedang menenangkan sang yeoja yang menangis. Cerita klasik, cibir
Jongwoon dalam hati.
“Tapi kau
pernah berjanji tidak akan meninggalkanku, Sungkyo.”
Oke, kadang
Jongwoon sangat membenci indera pendengaran yang dimilikinya sebab terlalu
tajam, bahkan ketika sudah masuk ke hotel untuk memesan kamar pun dia masih
bisa mendengar percakapan bodoh sepasang kekasih itu.
“Mianhae,
aku hanya tidak mau melihatmu tambah sakit hati jika kita semakin lama bersama.
Aku harus pergi sekarang, hiduplah dengan baik. Selamat tinggal.”
Jongwoon
memutuskan untuk tidak mempedulikan suara-suara yang ia dengar, dia tetap
melangkah memesan kamar hotel.
“Hotel kami
penuh tuan.”
Mengumpat dalam
hati mendengar ucapan resepsionis itu, Jongwoon melangkah keluar untuk mencari
hotel lain. Langkahnya terhenti melihat yeoja tadi masih duduk di bawah
pohon dengan isakan yang cukup keras.
Jongwoon
mati-matian memperingatkan dirinya sendiri untuk tidak ikut campur, maka dia
berjalan dengan cuek meninggalkan hotel itu. Ternyata, yeoja tadi juga
segera melangkah berlawanan arah dengan Jongwoon beberapa detik kemudian.
Deg!
Jongwoon
melirik saat yeoja itu berpapasan dengannya, ada perasaan aneh
menggelitiknya saat yeoja itu sudah jauh dari pandangan. Tersentak,
Jongwoon langsung merogoh kalungnya buru-buru. Dia hampir saja memaki keras
sekali saat melihat kalung itu bersinar terang akibat berpapasan dengan yeoja
tadi.
Secepat kilat
Jongwoon berlari mencoba mencari keberadaan yeoja tadi, dia masuk ke
gang besar yang tadi dimasuki yeoja itu berharap bisa menemukannya
kembali. Tapi nihil.
Joongwoon
mencoba menerawang keberadaan yeoja tadi dengan sihir szais*, sayangnya
Joongwoon lupa kalau hisami tidak bisa ditemukan dengan sihir.
Dengan
kekesalan yang bercokol di hati, Jongwoon melangkah mencari hotel lain. Dalam
hati dia berjanji tidak akan pernah melepas yeoja itu jika mereka
bertemu lagi.
***
Hyukjae berdiri
di samping menara Eiffel dengan wajah muram, namja itu sesekali mengusap
wajahnya dengan lelah karena frustasi memikirkan bagaimana nasib Negerinya
kelak.
Hyukjae
menyesal, jelas. Keingintahuan dan penguasaan ilmu sihirnya yang melebihi orang
lain membuat ia sampai tidak bisa mengontrol diri, berbekal penasaran
berlebihan, Hyukjae dengan mudah memanggil sang iblis keluar. Hyukjae tercenung
lama sekali, banyak hal yang dipikirkan namja itu sampai-sampai dia
tidak tahu apa saja itu. Helaan napas berat beberapa kali keluar dari bibirnya.
“Hei, orang
aneh!”
Seruan seorang yeoja
di belakangnya─menggunakan bahasa Korea─sama sekali tak membuat Hyukjae
menoleh, namja itu tetap asyik memandangi menara Eiffel dengan mata
kosongnya.
Saat yeoja itu
menepuk bahunya keras, barulah Hyukjae tersadar. Tersentak kaget, Hyukjae
langsung menolehkan kepalanya ke belakang dan menemukan seorang yeoja
berwajah Asia di belakangnya. Alis Hyukjae terangkat sebelah melihat yeoja
itu.
“Waeyo?”
tanyanya dengan nada datar.
Yeoja
tadi berjengit, lalu memasang wajah menyebalkan pada Hyukjae. “Kau orang Korea?
Kenapa bajumu aneh sekali?”
Tanpa sadar
Hyukjae meringis pelan, Negeri Shappire Blue memang berbahasa Korea karena
penciptanya adalah orang Korea yang beri kekuatan sihir oleh Dewa Zeus sebab keberaniannya
menyelamatkan Desa dari amukan troll yang lepas dari khayangan.
“Apa pedulimu?”
balas Hyukjae dingin.
Yeoja itu
mendengus sebelum mengedikkan bahu santai, “Aku hanya kasihan melihatmu yang
seperti orang gila di Negeri asing. Kau terlihat…” yeoja itu menyunggingkan
senyum meremehkan pada Hyukjae─membuat Hyukjae ingin sekali menyihirnya jadi
seekor gurita─lalu menjinjitkan kakinya hingga bibirnya bisa menjangkau telinga
Hyukjae sebelum meneruskan kalimatnya yang tadi. “… benar-benar tidak waras, babo
namja!”
Hyukjae
menganga. Terlalu terkejut dengan keberanian yeoja tadi, saat dia baru
saja tersadar dari keterkejutannya, yeoja itu sudah melesat meninggalkan
Hyukjae dengan tawa yang mengalun menyebalkan.
Hyukjae memaki
dalam hati, tangannya baru saja terangkat untuk menggunakan satu sihir demi
menyihir yeoja itu menjadi sesuatu yang menjijikkan, sayangnya niat
mulia Hyukjae terpaksa dibatalkan melihat orang-orang sedang menatap aneh ke arahnya.
Namja itu mengucapkan kata sabar berulang-ulang dalam hati, dia baru
ingat kalau dia tidak bisa menggunakan sihir sesuka hatinya di dunia manusia.
Setelah
mendesah sekali dan memberikan tatapan sinis pada orang-orang yang menatapnya,
Hyukjae merogoh saku jubahnya─saat itu dia sadar kalau dia memang belum
berganti baju─dan mengeluarkan sebuah kalung dengan permata hijau yang bersinar
terang.
Yah,
bersinar. lirih Hyukjae dalam hati.
1 detik..
5 detik..
10 detik..
1 menit..
“Aigo! Yeoja
tadi hisami!” jerit Hyukjae setelah sekian lama terdiam.
Tanpa
mempedulikan orang-orang yang kembali menatapnya aneh, Hyukjae melesat mencari
keberadaan yeoja tadi yang sialnya benar-benar hilang seolah ditelan
bumi.
“Aish,
bagaimana mungkin yeoja menyebalkan seperti itu bisa menjadi seorang
hisami?” rutuk Hyukjae keras sebelum akhirnya menyerah untuk mencari, hari
sudah terlalu larut dan Hyukjae butuh istirahat, karena itu dia memutuskan
untuk mencari yeoja tadi besok pagi saja.
Dengan langkah
gontai, Hyukjae berjalan mencari hotel tanpa ada niatan sedikit pun untuk
mengubah pakaiannya.
***
Donghae
mengamati tempatnya muncul dengan kening berkerut. Rasa-rasanya, dia tadi
menggumamkan kata Taiwan, mengapa sekarang ia malah tersesat ditengah kota
Tokyo? Setelah mengedik tak peduli, Donghae mulai melangkahkan kakinya
menyusuri jalanan besar kota Tokyo, dia sama sekali tak mempedulikan tatapan
aneh orang-orang yang mungkin penasaran dengan jubah beludru berwarna biru
shappirenya─sangat mewah dan berkelas walaupun benar-benar terlihat aneh dan
mencolok.
Di depan sebuah
restoran Korea, Donghae menghentikan langkahnya. Dia lalu mengusap perutnya
yang sudah berbunyi minta diisi. Donghae memasuki restoran itu, setelah duduk
dan memesan bulgogi, dia mengamati jalanan kota Tokyo dari balik jendela.
Pikiran Donghae
melayang pada percakapannya dengan Jungsoo dan yang lain beberapa menit yang
lalu. Namja itu menghirup udara dengan berat sebelum mengeluarkannya
perlahan. Demi segala ikan cantik yang ada di Negerinya, Donghae sama sekali
tak menyalahkan Hyukjae atas kecelakaan ini. Dia tahu Hyukjae bersalah, tapi
Donghae juga tak mau munafik jika dia hanya menyalahkan Hyukjae. Secara tidak
langsung dia juga ikut bertanggungjawab sebab tidak bisa ada saat Hyukjae
memulai eksperimennya lagi, Donghae tidak ada saat Hyukjae mulai memeraktekkan
ilmu sihirnya yang aneh-aneh lagi, dan Donghae tidak bisa mencegah Hyukjae saat
namja itu benar-benar menggunakan ilmu sihirnya. Mereka keluarga,
seharusnya bisa saling menjaga, kan? Dan Donghae sadar ia telah gagal menjaga hyungnya
agar tidak berbuat hal-hal aneh. Fakta itulah yang membuat Donghae dengan suka
rela ikut mempertanggungjawabkan hal ini.
Donghae
terenyak pelan saat makanan yang dia pesan sudah tersaji di hadapannya. Namja
itu mendongak, terpana beberapa saat melihat wajah pelayan yang mengantarkan
pesanannya. Sadar dari keterpanaannya, Donghae melempar senyum sejuta watt
miliknya pada yeoja tadi. Oke, sambil menyelam minum air tak apa, kan?
Apa salahnya menyelangi pencarian dengan berbagi sedikit pesona?
Sayang, Donghae
harus menelan harga dirinya bulat-bulat saat yeoja itu menanggapi senyum
melelehkan Donghae dengan kernyitan di dahi sebelum berlalu kembali ke dapur.
Donghae
memanyunkan bibir, sejenak melupakan masalah yang tengah menghimpit pikirannya
karena yeoja tadi malah tak mengacuhkan senyumnya sama sekali.
Setelah
menyelesaikan makan malamnya dengan hati dongkol, Donghae menggumamkan sihir
mnacs* hingga saat ia membuka tangannya, beberapa lembar yen ada di sana.
Donghae tersenyum puas dan berjalan menuju kasir untuk membayar makanannya.
Beberapa saat
kemudian, Donghae sudah terduduk di halte bis sambil menengadahkan kepalanya
menatap langit, memandangi bintang-bintang yang bersinar tidak seberapa jika
dibandingkan di Negerinya. Dia tersenyum kecil saat buliran air mulai
berjatuhan dari langit, hujan datang.
“Oni-san,
aku pulang dulu!” teriakan seorang yeoja di belakangnya berhasil membuat
Donghae menolehkan kepala.
Wajahnya
langsung masam melihat pelayan yang tadi tak menanggapi senyumnya berjalan ke
sini dan duduk tepat di sebelahnya.
“Maaf, bisakah
kaubergeser sedikit lagi?” tanya yeoja itu dengan bahasa Jepang yang
agak terbata.
Donghae menoleh
malas pada yeoja itu, “Kenapa aku harus bergeser?” tanyanya sebal dengan
bahasa Jepang yang jauh lebih baik dari yeoja tadi.
Yeoja
tadi tersenyum tipis─Donghae berani bersumpah senyum yeoja di depannya
jutaan kali lebih indah dari senyum semua mantan kekasihnya─sebelum berkata,
“Kau tidak melihat hujannya sangat deras?”
Donghae menelan
ludahnya sebelum terpaksa bergeser sedikit.
“Wajahmu tidak
mirip orang Jepang, kau orang Korea?” yeoja tadi memulai percakapan
dengan suara pelan.
Donghae
menoleh, “Wae? Kau juga seperti orang Korea.” balas Donghae tak kalah
pelan, kali ini dia menggunakan bahasa Korea.
“Ne, aku
memang orang Korea. Senang rasanya bertemu orang yang satu Negara denganku di
sini.” sahutnya sambil menoleh pada Donghae.
Darah Donghae
berdesir melihat tatapan teduh yeoja itu.
“Ah, mianhaeyo
aku harus pergi. Bisnya sudah datang.”
Mata Donghae
menatapi jejak yeoja itu yang hilang ditelan pintu bis, setelah bis
melaju cukup jauh dan berbelok di persimpangan jalan, Donghae meraba dadanya
yang berdebar keras.
Terdiam cukup
lama menelaah debaran apa yang tengah dirasakannya, Donghae menghela napas
panjang sebelum merogoh kalung dengan permata ungu miliknya.
Donghae
tercekat melihat kalung itu bersinar terang, “Yeoja tadi… hisami..”
***
Park Kyuhyun
memasuki sebuah mall mewah di kawasan Roma setelah sebelumnya berganti
pakaian memakai jins dan kemeja kotak-kotak, mata namja itu berkeliaran
mencari toko elektronik untuk membeli PSP baru. Mungkin terdengar aneh karena
di saat hyung-hyungnya sibuk mencari hisami, namja itu malah
dengan santai berpikir untuk membeli PSP terlebih dahulu.
Pertama,
Kyuhyun memang tidak ingin terlalu mengambil pusing masalah ini─bukan karena
tidak peduli (dia justru sangat peduli karena sangat sadar dia ikut bertanggung
jawab dalam melepaskan iblis itu), Kyuhyun hanya yakin kalau hisami itu akan
mendatanginya dengan sukarela. Kedua, panik dan tergesa bukan sifatnya, Kyuhyun
lebih suka bersikap santai dan mencari pelan-pelan. Dan ketiga, PSP Kyuhyun yang
kemarin sukses hancur saat Choco melemparnya dari puncak menara─kadang Kyuhyun
benar-benar ingin menyihir anjing milik Hyukjae itu menjadi guci, serius!
Kyuhyun sedang
melihat-lihat PSP terbaru ketika matanya bertubrukan dengan mata seorang yeoja
berwajah Korea yang sedang bersama teman-temannya. Beberapa detik mereka saling
bertatapan sampai di detik kelima keduanya serentak melempar pandangan ke arah
lain. Yeoja tadi langsung asyik mengobrol lagi bersama teman-temannya,
sedangkan Kyuhyun langsung kembali melihat-lihat PSP di hadapannya. Kyuhyun tak
tahu mengapa, tapi dia merasa mata yeoja itu seakan menyedotnya raganya
saat pandangan mereka bertubrukan. Ada rasa aneh yang menyelinap ke dalam
hatinya, perasaan yang benar-benar abstrak, Kyuhyun sendiri bingung bagaimana
mendeskripsikannya.
Mencoba
melupakan kejadian aneh tadi, Kyuhyun mengambil dua buah PSP hitam beserta
beberapa CD game terbaru. Setelah menciptakan uang menggunakan sihir
mnacs, namja itu berjalan guna membayar barang-barang yang dia beli.
30 menit
kemudian Kyuhyun telah berada di sebuah foodcourt, namja itu
kembali melihat yeoja yang tadi bertemu pandang dengannya sedang duduk
di meja paling pojok seorang diri. Entah karena rasa penasaran─atau tertarik?,
Kyuhyun akhirnya membawa makanan yang sudah ia beli ke meja yeoja itu
dan duduk di depannya dengan cuek.
Yeoja itu
mendelik ke arah Kyuhyun sebentar sebelum sibuk dengan makanannya sendiri.
Kyuhyun sesekali mencuri pandang pada yeoja di hadapannya saat mereka
tengah sibuk sendiri-sendiri.
Bosan dengan
aksi saling diam yang ternyata cukup lama, Kyuhyun akhirnya mencoba membuka
pembicaraan. “Hei, kau orang Korea?”
“Sorry?”
tukas yeoja itu dengan mimik bingung, Kyuhyun menggunakan bahasa Itali
saat berbicara dengannya, jelas saja ia tak mengerti. Satu-satunya yang dia
pahaminya dari perkataan Kyuhyun adalah ‘Korea’.
“Ah,” Kyuhyun
mendesah, seolah baru sadar bahwa yeoja itu sama sekali tak mengerti
ucapannya. Namja itu akhirnya memutuskan untuk menggunakan bahasa Korea
saja. “Aku tadi bertanya, kau orang Korea, bukan?”
Walau merasa
Kyuhyun terlalu sok akrab, yeoja itu terpaksa menjawab demi menjaga
kesopanan yang sangat dijunjung tinggi orang Asia. “Ne, aku orang Korea.
Sedang kuliah di sini.”
“Ooh,” balas
Kyuhyun sambil lalu. “Kenapa tadi kaumenatapku seperti itu?” tanya Kyuhyun
penasaran beberapa saat kemudian. Ingatannya kembali berputar pada kejadian
tadi.
Yeoja di
hadapannya─yang tengah sibuk membereskan beberapa lembar kertas─mendongak
menatap Kyuhyun sepersekian detik sebelum menjawab tanpa ekspresi. “Aniyo.
Aku hanya merasa pernah melihatmu, entah di mana.”
Jawaban yang
terdengar ganjil itu membuat Kyuhyun semakin penasaran, ada sesuatu yang
menariknya untuk mengenal yeoja itu lebih jauh, tapi ingatan tentang
Negerinya yang terancam musnah membuat Kyuhyun terpaksa menelan bulat-bulat
rasa penasarannya.
“Mianhae,
teman-temanku sudah menunggu. Annyeong haseyo.” pamit yeoja tadi,
dia membungkukkan badannya sekilas sebelum berlari menghampiri teman-temannya
yang sudah menunggu di luar.
Kyuhyun
memandangi yeoja itu sampai hilang ditemani kerumunan, saat matanya tanpa
sengaja melirik ke arah leher─dimana kalung dari ayahnya tersembunyi di balik
baju─Kyuhyun tersentak, tangannya buru-buru bergerak untuk mengeluarkan kalung
itu.
Sambil
merapalkan sumpah serapah dalam hati, Kyuhyun memandang kalung yang kini berada
di tangannya. Kalung dengan permata semerah darah itu bersinar terang, sesuai
dugaannya. Yeoja tadi... hisami.
TBC
Note+cuap-cuap
cewek ababil ini:
1. sihir ulian=
sihir pembunuh, menyerang otak langsung tapi sihirnya bekerja secara lambat
sehingga si penerima sihir akan merasakan kesakitan yang luar biasa sebelum
kematian menjemputnya. Orang-orang beranggapan lebih baik mati langsung
daripada mati dengan sihir ulian yang sangat menyiksa. Salah satu dari 5 sihir
terlarang yang paling berbahaya, sedikit orang yang tahu tentang sihir ini.
2. sihir
gervaros= salah satu dari 5 sihir terlarang paling berbahaya di Shappire Blue.
Satu-satunya sihir yang bisa melepaskan segel nyawa─segel nyawa sendiri sangat
kuat, tidak ada satu pun yang bisa melepaskan segel nyawa kecuali sihir
ini─karena itulah keberadaan sihir gervaros sangat dirahasiakan. Satu-satunya
petunjuk tentang sihir ini adalah buku kusam di perpustakaan Jungsoo.
3. Sihir
aspagus= sihir ini juga sihir rahasia sebenarnya, belum pernah digunakan karena
tingkat penguasaannya yang begitu sulit. Ini adalah sihir paling terlarang
nomor satu, sihir pemusnah yang memanggil si objek yang ingin kita hancurkan
secara langsung lalu memusnahkannya dengan sekali kedip. Tidak ada yang bisa
menandangi sihir ini, bahkan dewa-dewipun tidak bisa menghentikan efek dari
sihir ini. Digunakan oleh empat orang dengan bantuan hisami karena sihir ini
tidak bisa digunakan oleh seorang diri.
4. Hisami=
manusia dengan kekuatan sihir besar yang tersembunyi di dalam tubuhnya.
5. Ziguari=
pola segiempat yang dalam sihir aspagus, yang sudah berada dalam pola ini tidak
akan bisa keluar, langsung hancur!
sihir deaski=
sihir pengajar agar si objek bisa menerima apa yang sihir yang diajarkan dalam
sekali ajar─sihir ini berlaku hanya untuk tingkat 6 ke bawah, sedangkan sihir
tingkat 7-10 tidak bisa menggunakan sihir ini sehingga menyelesaikan tingkat
7-10 sangat sulit.
6. sihir
mirakey= sihir yang bisa menggantikan baju yang sedang dipakai dalam hitungan
detik.
7. sihir mnacs=
sihir yang bisa menciptakan uang.
8. sihir szais=
sihir untuk mencari keberadaan seseorang lewat pikiran.
Well akhirnya
chap 1 jadi juga, sebenernya target kemarin itu paling lambat hari Rabu, tapi
gara-gara pulang malem terus jadi ga kesampaian deh :p
Hasilnya? Mm,
no comment sih dari aku mah. Soalnya aku juga ga ngerasa ini bagus -__-‘
Maaf kalau
banyak kesalahan, terutama dalam penguasaan bahasa, maklumlah aku masih belajar
*nyengir*
Segitu dulu
deh, semoga ga tambah garing J *btw ada yg
mau bikini poster ga? Hahaha*
Army,
Anis
ngakak gokil thor XD buruan post lanjutannya! selalu bagus da tulisan kamu mah :p tinggl semangat tulis *biar cepet*nya aja yg harus diasah.
BalasHapusaku ga tau bagian gokilnya dimana put =,=
BalasHapusgomawo udah mampir neeeee XD
aku bukan ga semangat nulis, cuma ide sama kondisi ga memungkinkan untuk post cepet-cepet *alibi* hahaha